Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sumber pendapatan negara Indonesia yang terbesar diantaranya
berasal dari sektor pajak yang di bayar masyarakat kepada negara.
Pendapatan dari sektor pajak dalam negeri diantaranya di dapat dari Pajak
Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
(BPHTB), Cukai, dan pajak lainnya (Nota Keuangan dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara, 2014). Pendapatan tersebut digunakan
untuk mendukung dan melaksanakan kegiatan pembangunan nasional
agar dapat berjalan dengan baik demi mensejahterahkan kehidupan
seluruh rakyat Indonesia. Selain itu pendapatan pajak juga dijadikan
tumpuan terbesar bagi APBN Indonesia, maka karena peran pajak sangat
besar bagi negara, pemerintah berupaya untuk meningkatkan penerimaan
dari sektor pajak.
Dalam menetapkan target penerimaannya Direktorat Jenderal
Pajak (DJP) berpedoman pada pertumbuhan potensi pajak yang ada. Hal
ini menggambarkan bahwa pemerintah sangat mengandalkan sumber
penerimaan dari sektor pajak. Ketergantungan pemerintah terhadap
penerimaan pajak, ternyata belum didukung secara maksimal oleh
masyarakat sebagai pembayar pajak. Tax rasio Indonesia tahun 2018
menunjukkan angka 11,6%. Angka ini masih sangat rendah dibandingkan
negara-negara Asean lainnya. Hal ini membuktikan belum maksimalnya
peran masyarakat dalam membayar pajak. Rendahnya tax ratio Indonesia
mengindikasi adanya tingkat penghindaran pajak yang tinggi. Indikator
lain ditunjukkan dengan besarnya perbedaan tax ratio Indonesia dengan
negara-negara Asia yang lain. Penghindaran pajak memiliki dampak yang
luas bagi negara dan masyarakat. Banyak perusahaan di Indonesia yang
melakukan penghindaran pajak. Berdasarkan survey yang dilakukan

1
penyidik IMF Ernesto Crivelly tahun 2016, dianalisa kembali oleh
Universitas PBB menggunakan database International Center for Policy
and Research (ICTD), dan International Center for Taxation and
Development (ICTD) terhadap perusahaan di 30 negara. Indonesia
menjadi peringkat 11 dari 30 negara dengan kerugian sekitar U$6,48
milliar akibat perusahaan yang melakukan penghindaran pajak. Praktik
penghindaraan pajak yang dilakukan perusahaan di Indonesia berdampak
pada penurunan pencapaian penerimaan pajak. Penurunan persentase
pencapaian penerimaan pajak dipicu oleh banyaknya perusahaan yang
melakukan penghindaran pajak. Pajak menjadi beban perusahaan karena
dapat mengurangi laba bersih. Oleh karena itu, melakukan penghindaran
pajak menjadi cara perusahaan untuk mengurangi pembayaran pajaknya
ke kas negara (Kurniasih & Sari, 2013). Pada awal tahun 2019 penerimaan
pajak dari sektor manufaktur tumbuh negatif. Padahal sektor ini
berkontribusi sebesar 20,8% terhadap penerimaan pajak tahun
sebelumnya. Penerimaan sektor manufaktur tercatat turun sebesar Rp
16,77 triliun atau 16,2% year on year.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi penghindaran pajak pada
perusahaan sektor manufaktur ?
2. Bagaimana bentuk penghindaran pajak pada perusahaan sektor
manufaktur ?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan makalah
sebagai berikut.
1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penghindaran pajak pada
perusahaan sektor manufaktur.

2
2. Mengetahui bentuk penghidaran pajak pada perusahaan sektor
manufaktur.

1.4 Manfaat Penulisan


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut:

1. Kegunaan Teoritis
Makalah ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi rekan lainnya
yang membutuhkan materi sejenis untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan bagi perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan
khususnya dibidang Manajemen Perpajakan.

2. Kegunaan Praktik
Bagi bidang Manajemen perpajakan, hasil penulisan dapat
dijadikan pedoman dan bahan evaluasi dan juga diharapkan dapat
digunakan sebagai pedoman untuk mengetahui faktor dan bentuk dari
penghindaran pajak pada perusahaan sektor manufaktur.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Manajemen Perpajakan


Manajemen dapat dikatakan sebagai proses perencanaan
(Planning), pengorganisasian (Organizing), pengarahan (Actuating) dan
pengawasan (Controlling) usaha-usaha para anggota organisasi dan
penggunaan sumber daya sumber daya organisasi lainnya agar mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Manajemen juga merupakan Ilmu
tentang upaya manusia untuk memanfaatkan semua sumber daya yang
dimilikinya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Pajak merupakan biaya bagi sebuah perusahaan, meminimalkan
beban pajak ialah salah satu fungsi manajement keuangan yang mematuhi
semua peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan. Sehingga manajemen
pajak juga dapat diartikan seperti berikut:
1. Suatu strategi manajemen untuk mengendalikan, mengorganisasian
aspek-aspek perpajakan dari sisi yang dapat menguntungkan.
2. Sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar, tetapi
jumlah pajak yang dibayar dapat ditekan serendah mungkin untuk
memperoleh keuntungan.
Fungsi dari melakukan manajemen pajak secara umum adalah
dapat melakukan perhitungan dan pembayaran pajak dan usaha secara
efisien. Tujuan manajemen pajak untuk mencapai laba, efisiensi
pembayaran pajak, dan melakukan pembayaran pajak dengan tepat waktu.
Tax Planning merupakan tahap awal dari manajemen pajak,
dimana dilakukan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar diseleksi
jenis dan tindakan pajak yang akan dilakukan. Untuk dapat
meminimumkan kewajiban pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara
baik yang masih memenuhi ketentuan perpajakan (lawful) maupun yang
melanggar peraturan perpajakan (unlawful) seperti tax avoidance dan tax
evasion. Perencanaan perpajakan umumnya selalu dimulai dengan

4
meyakinkan apakah suatu transaksi atau fenomena terkena pajak. Kalau
fenomena tersebut terkena pajak, apakah dapat diupayakan untuk
dikecualikan atau dikurangi jumlah pajaknya (PBS, 2013).
Menurut Erly Suandy, setidak-tidaknya terdapat 3 hal yang harus
diperhatikan dalam suatu perencanaan pajak :
1. Tidak melanggar ketentuan perpajakan
2. Secara bisnis masuk akal, karena perencanaan pajak merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari global strategy perusahaan baik jangka
panjang maupun jangka pendek.
3. Bukti – bukti pendukungnya memadai, contoh : agreement, invoice,
accounting treatment.
Dalam menyusun tax planning yang tidak melanggar aturan pajak,
paling tidak ada lima persyaratan yang harus dipenuhi :
1. Mengerti peraturan perpajakan atau peraturan yang terkait.
2. Menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam tax planning.
3. Harus dipahami karakkter usaha wajib pajak.
4. Memahami tingkat kewajaran transaksi yang diatur tax planning.
5. Tax planning harus didukung oleh kebijakan akuntansi dan didukung
bukti memadai, seperti faktur, perjanjian, dan sebagainya

2.2 Penghindaran Pajak

Penghindaran pajak telah menjadi perhatian utama hampir seluruh


negara, terutama atas transaksi bisnis lintas negara yang dilakukan oleh
perusahaan yang memiliki hubungan istimewa. Secara hukum pajak,
penghindaran pajak tidak dilarang meskipun seringkali mendapat sorotan
yang kurang baik dari kantor pajak karena dianggap memiliki konotasi
yang negative. (Sari, 2014).
Menurut Annisa, (2015) penghindaran Pajak adalah penataan
transaksi yang dilakukan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan
pajak, manfaat atau pengurangan dengan cara yang dimaksudkan oleh
hukum pajak tanpa melanggar aturan perpajakan yang berlaku.

5
Sedangkan menurut Mardiasmo (2016:11) penghindaran pajak (tax
avoidance) adalah tindakan yang tidak melanggar undang-undang
perpajakan dengan tujuan meringankan beban pajak. Oleh karena itu,
penghindaran pajak tidak dianggap salah dalam rangka untuk mengurangi,
menghindari, meringankan beban pajak selama tidak melanggar undang-
undang yang berlaku.

Suatu transaksi diindikasikan sebagai tax avoidance apablla dalam


pelaksanaannya terdapat tindakan berikut:

1. Wajib Pajak/Perusahaan berusaha membayar pajak lebih sedikit atau


kurang dari yang seharusnya terutang dengan memanfaatkan kewajaran
interpretasi hukum pajak.
2. Wajib Pajak berupaya melakukan penundaan pembayaran pajak.
3. Wajib Pajak berusaha agar pengenaan pajak bukan atas keuntungan
sebenarnya yang diperoleh.

Penghindaran pajak dilakukan dengan 3 cara, yaitu:


1. Menahan Diri
Yang dimaksud dengan menahan diri yaitu wajib pajak tidak
melakukan sesuatu yang bisa dikenai pajak. Contoh:
 Tidak merokok agar terhindar dari cukai tembakau
 Tidak menggunakan ikat pinggang dari kulit ular atau buaya agar
terhindar dari pajak atas pemakaian barang tersebut. Sebagai
gantinya, menggunakan ikat pinggang dari plastik.
2. Pindah Lokasi
Memindahkan lokasi usaha atau domisili dari lokasi yang tarif
pajaknya tinggi ke lokasi yang tarif pajaknya rendah.
Contoh: Di Indonesia, diberikan keringanan bagi investor yang ingin
menanamkan modalnya di Indonesia Timur. Namun, pindah lokasi
tidak semudah itu dilakukan oleh wajib pajak. Mereka harus
memikirkan tentang transportasi, akomodasi, SDM, SDA, serta

6
fasilitas-fasilitas yang menunjang usaha mereka. Hal ini harus sesuai
dengan keuntungan yang akan mereka dapatkan dan keringanan pajak
yang mereka peroleh. Biasanya, hal ini jarang terjadi. Yang terjadi
hanya pada pengusaha yang baru membuka usaha, atau perusahaan
yang akan membuka cabang baru. Mereka membuka cabang baru di
tempat yang tarif pajaknya lebih rendah.
3. Penghindaran Pajak Secara Yuridis
Perbuatan dengan cara sedemikian rupa sehingga perbuatan-perbuatan
yang dilakukan tidak terkena pajak. Biasanya dilakukan dengan
memanfaatkan kekosongan atau ketidakjelasan undang-undang. Hal
inilah yang memberikan dasar potensial penghindaran pajak secara
yuridis. Contoh:
1. Penetapan pajak khusus untuk tempat dansa umum di Belanda.
Pemerintah negeri Belanda menetapkan pajak khusus untuk tempat
dansa umum. Karena pengenaan pajak ini, keuntungan pengusaha
jadi berkurang. Untuk menghindari hal ini, mereka mengubah
status tempat dansa umum tersebut menjadi tempat dansa khusus
anggota yang keanggotaannya terbuka untuk umum. Dengan
demikian, mereka terbebas dari pengenaan pajak untuk tempat
dansa umum.
2. Di Belanda dan di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda,
pemilik bioskop menyediakan sederet kursi gratis di barisan
terdepan khusus untuk wartawan. Dengan asumsi, setelah
menonton wartawan tersebut akan menulis review tentang film
tersebut dan memuat di koran/majalah mereka. Oleh pemerintah,
ini dianggap iklan gratis. Maka dari itu, diterapkanlah pajak untuk
kursi gratis tersebut. Pemilik bioskop menghindari pengenaan pajak
ini dengan cara mengenakan tarif masuk yang sangat murah khusus
untuk wartawan.
3. Di Indonesia, untuk pegawai diberi tunjangan beras (in natura).
Menurut undang-undang yang berlaku, hal ini tidak boleh

7
dibebankan sebagai biaya. Penghindarannya dengan cara:
perusahaan bekerjasama dengan yayasan dalam penyaluran
tunjangan ini. Perusahaan memberi uang kepada yayasan, dan
yayasan menyalurkannya ke pegawai dalam bentuk beras. Jadi,
pegawai tetap dapat beras dan hal itu dibebankan sebagai biaya
sehingga pajaknya berkurang.

2.3 Penghindaran Pajak pada perusahaan manufaktur


Perusahaan manufaktur merupakan salah satu jenis perusahaan.
Perusahaan-perusahaan sektor manufaktur di Indonesia terhitung sebagai
salah satu penyumbang pajak yang cukup besar. Di Indonesia Wajib Pajak
diberi keleluasaan penuh untuk menghitung, membayar dan melaporkan
sendiri kewajiban perpajakannya karena Indonesia menganut sistem self
assessment dalam sistem pemungutan pajak. Sistem self assessment diatur
dalam pasal 12 Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan. Penerapan
undang-undang perpajakan ini seakan-akan memberikan kesempatan bagi
wajib pajak, dalam hal ini perusahaan untuk mengurangi jumlah pajak
yang harus dibayar dengan cara menekan biaya perusahaan, termasuk
didalamnya beban pajak. Menurut Brian dan Martani (2014).
Dengan begitu akan ada celah penghindaran pajak yang akan
dilakukan oleh perusahaan selaku wajib pajak tak terkecuali perusahaan
manufaktur. Pada dasarnya penghindaran pajak sebetulnya
diperkenannkan jika cara yang digunakan legal artinya tidak melanggar
peraturan yang ada. Namun kurangnya peraturan yang jelas mengenai
penghindaran pajak menimbulkan persepsi yang berbeda-beda antara
pemerintah dan wajib pajak tersebut. Penghindaran pajak yang terjadi
diIndonesia banyak dilakukan oleh perusahaan manufaktur salah satu
contohnya adalah pada tahun 2014, PT Toyota Manufacturing Indonesia
telah melakukan praktik penghindaran pajak dengan mengekspor ribuan
mobil dengan nilai ekspor lebih kecil dari biaya penjualan.

8
2.3.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi Penghindaran Pajak pada
Perusahaan Manufaktur
Penghindaran pajak merupakan upaya untuk meminimalkan beban
pajak yang dilakukan oleh perusahaan yang salah satunya dipengaruhi
melalui kebijakan yang diambil oleh pemimpin perusahaan. Tak terkecuali
perusahaan manufaktur, banyak hal yang dapat mempengaruhi perusahaan
manufaktur dalam melakukan penghindaran pajak diantaranya adalah
Tingkat keuntungan atau Profitabilitas, Ukuran perusahaan dan Tanggung
Jawab Sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Tingkat keuntungan atau Profitabilitas adalah salah satu indikator
kinerja manajemen perusahaan dalam mengelola kekayaan perusahaan
yang ditunjukan pada seberapa besar laba yang dapat dihasilkan oleh
perusahaan pada periode tertentu (Ifanda, 2016). Tingkat keuntungan
diukur dengan rasio profitabilitas. Rasio Profitabilitas biasanya diukur
oleh Return on Assets (ROA) yang berguna untuk mengukur sejauh mana
efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber daya yang
dimilikinya. Rasio Profitabilitas yang tinggi menunjukan bahwa
perusahaan mampu mendapatkan laba yang maksimal. Semakin tinggi
laba perusahaan maka semakin tinggi beban pajaknya. Hal ini mendorong
perusahaan untuk melakukan tindakan penghindaran pajak. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan Yulyanah, dan Sri Yani Kusumastuti 2016,
Tingkat Keuntungan (ROA) berpengaruh positif terhadap penghindaran
pajak pada perusahaan manufaktur sektor industri barang dan konsumsi
sub sektor makanan dan minuman periode 2013 sampai 2017 yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Semakin tinggi tingkat keuntungan
perusahaan maka semakin tinggi tingkat penghindaran pajaknya. Hasil
penelitiannya sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Putri
dan Putra, 2017.
Selain itu ada Ukuran perusahaan yang merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi penghindaran pajak pada perusahaan manufaktur.
Ukuran perusahaan merupakan suatu skala yang menggambarkan besar

9
kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah
penjualan, rata–rata total penjualan dan rata–rata total aktiva. Pada
umumnya, perusahaan dibagi menjadi 3 kategori yaitu perusahaan
besar, perusahaan sedang dan perusahaan kecil. Penentuan ukuran
perusahaan didasarkan kepada total asset perusahaan. Semakin besar
ukuran suatu perusahaan, maka akan memungkinkan perusahaan untuk
memanfaatkan celah-celah yang ada untuk melakukan tindakan tax
avoidance. Tax avoidance memiliki unsur-unsur kerahasiaan yang
mengurangi transparansi suatu perusahaan, oleh sebab itu sangat perlu
untuk ditetapkan tata kelola perusahaan yang baik. Berdasarkan penelitian
yang dilakukan Jasmine Ulfa 2017, ukuran perusahaan berpengaruh
terhadap penghindaran pajak (tax avoidance). Semakin besar total aset
mengindikasikan semakin besar pula ukuran perusahaan, dan setiap
peningkatan ukuran perusahaan akan meningkatkan penghindaran pajak.
Hal tersebut dimungkinkan karena perusahaan yang besar mampu untuk
mengatur perpajakan dengan melakukan tax planning sehingga dapat
tercapai tax saving yang optimal. Hasil penelitiannya sejalan dengan hasil
penelitian Hardelia (2015).
Leverage juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
penghindaran pajak perusahaan manufaktur karena perusahaan
dimungkinkan menggunakan utang untuk memenuhi kebutuhan
operasional dan investasi perusahaan. Akan tetapi, utang akan
menimbulkan beban tetap (fixed rate of return) yang disebut dengan
bunga. Beban bunga merupakan biaya yang dapat dikurangkan (deductible
expense) terhadap penghasilan kena pajak sehingga menyebabkan laba
kena pajak perusahaan menjadi berkurang dan pada akhirnya akan
mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar oleh perusahaan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Eny Suprapti 2017, leverage
berpengaruh positif terhadap penghindaran pajak , hasil penelitiannya
sejalan dengan (Waluyo et al, 2015) yang membuktikan leverage
berpengaruh terhadap penghindaran pajak.

10
2.4 Bentuk Penghindaran Pajak pada Perusahaan Manufaktur
Penghidaran pajak yang dilakukan perusahaan manufaktur akan
memperhatikan pada celah-celah mana yang perusahaan tersebut miliki
untuk memperkecil jumlah pajak yang harus dibayar. Dengan begitu maka
aka nada berbagai bentuk dari penghindaran pajak yang dilakukan oleh
perusahaan manufaktur. Beberapa bentuk penghindaran pajak perusahaan
manufaktur diantaranya memanfaatkan prosedur penyusutan aset. Pada
kenyataannya, aset tidak mengalami penyusutan yang signifikan, atau
bahkan meningkat nilainya. Namun dengan memanfaatkan sistem tersebut,
perusahaan bisa menghindari kewajiban pajak yang menempel pada
pertambahan nilai aset yang dimiliki. Selain itu perusahaan bisa saja
sengaja membuat-buat transaksi bisnis untuk menghindari tanggung jawab
pajak. Secara praktis, transaksi ‘fiktif’ ini tidak memiliki signifikansi pada
proses bisnis yang dilakukan oleh pengusaha. Namun, dalam rangka
menghindari kewajiban pajak yang dimiliki transaksi ini sengaja dibuat
dan dicatatkan, serta dilaporkan untuk menghindari kewajiban pajak yang
seharusnya dimiliki.
Transfer Pricing merupakan bentuk penghindaran pajak yang
cukup populer dalam kalangan perusahaan karena banyak perusahaan
manufaktur tingkat multinasional yang tidak asing lagi dengan praktek
transfer pricing tersebut. Pada dasarnya transfer pricing adalah kegiatan
yang legal bila tidak merugikan negara, namun faktanya masih banyak
kegiatan transfer pricing yang merugikan neraga. Berikut adalah contoh
kasus transfer pricing perusahaan multinasional yang pernah terjadi seperti
kasus Google, Starbucks, dan Amazon. Starbucks Inggris misalnya
mempergunakan beberapa taktik untuk memanipulasi laba dengan
mentransfer keuntungan ke luar negeri. Taktik pertama adalah dengan
melakukan offshore licencing. Starbucks Inggris mengklaim bahwa
mereka tidak memiliki kekayaan intelektual atas lisensi resep, logo, dan
desain. Hak kekayaan intelektual tersebut dipegang oleh perusahaan asal
Belanda bernama Starbucks Coffee EMEA BV. Oleh karena itu, tiap tahun

11
Starbucks Inggris membayar biaya lisensi yang cukup besar padahal hal
tersebut dilakukan adalah untuk mentransfer keuntungan ke Belanda. Oleh
perusahaan Belanda, pemasukan dari Inggris itu tergolong royalti dan
dikenai pajak sangat kecil berdasarkan peraturan perpajakan Belanda.
Taktik yang kedua yang dilakukan Starbucks berkaitan dengan pembelian
kopi. Starbucks Inggris membeli bijih kopi dari unit Starbucks yang
berkedudukan di Swiss. Oleh karena itu, Starbucks Inggris mengeluarkan
biaya pembelian untuk bijih kopi tersebut. Padahal sesungguhnya apa yang
telah dilakukan Starbucks Inggris tersebut adalah cara mereka untuk
melakukan manajemen pajak perusahaan mereka. Oleh Starbucks Swiss,
transfer bijih kopi tersebut dikategorikan sebagai penjualan komoditas
dimana berdasarkan peraturan pajak Swiss hanya dikenai tarif 2%
(Saraswati dan Sujana 2017).
Selain transfer pricing yang menjadi cara populer untuk
penghindaran pajak, terdapat cara lain yang pernah juga menjadi kasus
besar di Indonesia adalah transaksi dengan melibatkan negara yang dikenal
sebagai tax heaven. Negara seperti ini memberikan banyak keringanan
pajak berbagai jenis pajak yang seharusnya dikenakan, sehingga
pengusaha tidak memiliki kewajiban pajak yang seharusnya dilaksanakan
jika bisnis tersebut dilakukan di Indonesia. Itulah beberapa bentuk
penghidaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur.

2.5 Kasus Penghindaran Pajak


Tak dapat dipungkiri bahwa praktek penghindaran pajak dapat
menjadi praktek penghidaran pajak yang ilegal karena banyak wajib pajak
yang hanya focus pada meminimalkan pajak sekecil mungkin dan kurang
memperhatikan rambu-rambu dan peraturan dalam melakukan
penghindaran pajak. Berikut ini salah satu kasus penghindaran pajak di
Indonesia.

12
https://investasi.kontan.co.id/news/ini-penjelasan-bentoel-group-
tentang-dugaan-penghindaran-pajak

PT Bentoel International Investama Tbk (Bentoel Group)


dilaporkan oleh lembaga Tax Justice Network tentang adanya dugaan
praktik penghindaraan pajak di Indonesia. Salah satu cara penghindaran
pajak tersebut adalah melalui pinjaman intra-perusahaan (inter-company
loan). Sebagai informasi, Bentoel Group mendapat pinjaman sebesar Rp
5,3 triliun atau setara US$ 434 juta pada Agustus 2013 dan Rp 6,7 triliun
atau setara US$ 549 juta pada 2015 dari perusahaan terkait di Belanda,
yakni Rothmans Far East BV. Utang ini digunakan untuk pembiayaan
ulang utang bank dan membayar mesin dan peralatan. Pembayaran bunga
atas pinjaman tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan kena pajak
perusahaan di Indonesia. Akan tetapi, rekening perusahaan Belanda ini
menunjukkan bahwa dana yang dipinjamkan kepada Bentoel Group
berasal dari perusahaan grup BAT lainnya, yakni Pathway 4 (jersey)
Limited yang berpusat di Inggris. Pinjaman dari Jersey ke Belanda
diberikan dalam mata uang rupiah yang menjelaskan bahwa uang itu untuk
dipinjamkan ke RMBA.

13
BAT memperoleh pinjaman yang berasal dari Jersey melalui
perusahaan di Belanda terutama untuk menghindari potongan pajak untuk
pembayaran bunga kepada non-penduduk. Indonesia menerapkan
pemotongan pajak tersebut sebesar 20%. Namun, karena ada perjanjian
dengan Belanda maka pajaknya menjadi 0%. Sementara itu, pinjaman asli
tidak langsung berasal dari perusahaan di Jersey karena Indonesia dan
Inggris tidak memiliki perjanjian serupa. Indonesia-Inggris memiliki
perjanjian dengan penetapan tarif pajak atas bunga sebesar 10%.
Dari strategi tersebut, Indonesia kehilangan pendapatan bagi negara
sebesar US$ 11 juta per tahun. Pasalnya, dari utang US$ 164 juta
Indonesia harusnya bisa mengenakan pajak 20% atau US$ 33 juta atau
US$ 11 juta per tahun. Dalam kasus tersebut ada perbedaan pandangan
antara lembaga Tax Justice Network dan PT Bentoel International
Investama Tbk dari keterangan diatas maka menurut saya perlu adanya
perundingan mengenai hal tersebut untuk mempertemukan dan
mendiskusikan hal-hal yang dimiliki oleh masing-masing entitas yaitu Tax
Justice Network dan PT Bentoel International Investama Tbk agar sama-
sama bisa ditelusuri untuk mencapai kepada kebenarannya agar tidak
merugikan pihak-pihak yang terkait.

14
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas penulis dapat menarik sebuah
kesimpulan bahwa penghindaran pajak merupakan kegiatan yang
diperkenankan bila tidak melanggar peraturan yang berlaku dan tidak
merugikan negara. Namun pada kenyataannya banyak perusahaan di
Indonesia termasuk perusahaan manufaktur kurang memperhatikan
peraturan yang ada, bahkan hanya fokus pada peminimalan jumlah pajak
yang dibayar.

3.2 Saran
Penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan, sehingga masih
diperlukan tambahan perbaikan – perbaikan untuk menghasilkan makalah
yang lebih baik lagi dan lengkap. Adapun saran dari penyusun adalah

15
DAFTAR PUSTAKA

Anisa. 2015. The Effect of Exercises on Primary Dysmenorrhea. J Mayority.


Vol.4. No.2. Jan 2015.

Ifanda, B. A. (2016). Analisis Pengaruh Profitabilitas, Leverage, dan Kompensasi


Rugi Fiskal terhadap Tax Avoidance. Bandar Lampung: Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Lampung.

Jasmine, Ulfa (2017). Pengaruh Leverage, Kepemilikan Institusonal, Ukuran


Perusahaan dan Profitabilitas terhadap Penghindaran Pajak (Studi pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2012-2014). JOM
Fekon Vol.4 No.1(Februari) 2017.

https://klikpajak.id/blog/pajak-bisnis/tax-avoidance-sebagai-pelanggaran-hukum-
perpajakan/ /. [15 Januari 2020].

Mardiasmo. (2016). Perpajakan Edisi Terbaru. Yogyakarta: Andi Ofset.

Saraswati, G. A. R. S., dan I. K. Sujana. 2017. Pengaruh Pajak, Mekanisme


Bonus, dan Tunneling Incentive pada Indikasi Melakukan Transfer
pricing. E-JURNAL AKUNTANSI Universitas Udayana 19 (2): 2

Sari, G. M. (2014). Pengaruh Corporate Governance, Ukuran Perusahaan,


Kompensasi Rugi Fiskal dan Struktur Kepemilikan Terhadap Tax
Avoidance. Artikel. Universitas Negeri Padang.

Suandy, Erly. (2017). Hukum Pajak. Jakarta: Salemba Empat

Sugiharto. (2014). Prahara Pajak Raja Otomotif. Tersedia:


https://investigasitempo.co/. [15 Januari 2020].

Yulyandah, & Kusumastuti, S.Y. (2019). Tax avoidance pada perusahaan


manufaktur sektor industri barang dan konsumsi sub sektor makanan dan
minuman yang terdaftar di bursa efek indonesia . Media Ekonomi Vol. 27
No. 1 April 2019.

16