Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama, kita


telah diciptakan sederajat walaupun berbeda – beda apapun jenis kelamin,
penampilan, kesehatan, atau kemampuan berfungsi, kita telah diciptakan ke
dalam satu masyarakat, penting untuk diakui bahwa sebuah masyarakat
normal ditandai oleh keragaman dan keserbaragaman bukan oleh
keseragaman akan tetapi pada kenyataannya anak – anak dan orang dewasa
yang berbeda dalam kebutuhannya dari kebutuhan kebanyakan orang telah
dipisahkan dengan alasan yang beragam untuk waktu yang cukup lama semua
alasan tersebut tidak adil.

Hak pendidikan adalah merupakan bagian dari Hak Ekosob (Ekonomi,


Sosial, Budaya). Termasuk hak pendidikan untuk penyandang cacat. Pada
pasal 28 C Undang-undang Dasar 1945 pun dikatakan bahwa setiap orang
berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak
mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan
teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi
kesejahteraan umat manusia, sehingga jelas disini kewajiban generic negara
dalam pemenuhan hak pendidikan adalah memfasilitasi (to facilitate),
memajukan (to promote), menyediakan (to provide) Sunanto (2010:22).

Jika berbicara tentang hak penting digarisbawahi bahwa orang


penyandang cacat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap
orang lain dan masyarakat seperti layaknya orang lain pada umumnya. UU
No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak, khususnya Pasal. 51 yang berbunyi
’anak yang menyandang cacat fisik dan/atau mental diberikan kesempatan

1
yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan biasa dan
pendidikan luar biasa.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah pendidikan inklusif
2. Apa tujuan pendidikan inklusif
3. Bagaimana prinsip penyelenggaraan pendidikan inklusif
4. Bagaimana kesamaan dan sisi positif pendidikan inklusif

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui sejarah pendidikan inklusif
2. Untuk mengetahui apa tujuan pendidikan inklusif
3. Untuk mengetahui bagaimana prinsip penyelenggaraan pendidikan
inklusif
4. Untuk mengetahui bagaimana kesamaan dan sisi positif pendidikan
inklusif

BAB II
PEMBAHASAN

2
A. Sejarah Perkembangan Pendidikan Inklusif

Sejarah perkembangan inklusif di dunia pada mulanya diprakarsai dan diawali


dari negara-negara Scandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia). Di Amerika Serikat
pada tahun 1960-an oleh Presiden Kennedy mengirimkan pakar-pakar Pendidikan
Luar biasa ke Scandinavia untuk mempelajari mainstreaming dan Least restrictive
environment, yang ternyata cocok untuk diterapkan di Amerika Serikat. Selanjutnya
di Inggris dalam Ed.Act. 1991 mulai memperkenalkan adanya konsep pendidikan
inklusif dengan ditandai adanya pergeseran model pendidikan untuk anak kebutuhan
khusus dari segregatif ke intergratif. Tuntutan penyelenggaraan pendidikan inklusif di
dunia semakin nyata terutama sejak diadakannya konvensi dunia tentang hak anak
pada tahun 1989 dan konferensi dunia tentang pendidikan tahun 1991 di Bangkok
yang menghasilkan deklarasi ‘Education for All.’ Implikasi dari statement ini
mengikat bagi semua anggota konferensi agar semua anak tanpa kecuali (termasuk
anak berkebutuhan khusus ) mendapatkan layanan pendidikan secara memadai.(
2005 ,‫)اتحادية‬

Sebagai tindak lanjut deklarasi Bangkok, pada tahun 1994 diselenggarakan


konvensi pendidikan di Salamanca Spanyol yang mencetuskan perlunya pendidikan
inklusif yang selanjutnya dikenal dengan “the Salamanca statement on inclusive
education.” Sejalan dengan kecenderungan tuntutan perkembangan dunia tentang
pendidikan inklusif, Indonesia pada tahun 2004 menyelenggarakan konvensi nasional
dengan menghasilkan Deklarasi Bandung dengan komitmen Indonesia menuju
pendidikan inklusif. Untuk memperjuangkan hak-hak anak dengan hambatan belajar,
pada tahun 2005 diadakan simposium internasional di Bukittinggi dengan
menghasilkan Rekomendasi Bukittinggi yang isinya antara lain menekankan perlunya
terus dikembangkan program pendidikan inklusif sebagai salah satu cara menjamin
bahwa semua anak benar-benar memperoleh pendidikan dan pemeliharaan yang
berkualitas dan layak. Berdasarkan perkembangan sejarah pendidikan inklusif dunia
tersebut, maka Pemerintah Republik Indonesia sejak awal tahun 2000

3
mengembangkan program pendidikan inklusif. Program ini merupakan kelanjutan
program pendidikan terpadu yang sesungguhnya pernah diluncurkan di Indonesia
pada tahun 1980-an, tetapi kemudian kurang berkembang, dan baru mulai tahun 2000
dimunculkan kembali dengan mengikuti kecenderungan dunia, menggunakan konsep
pendidikan inklusif.

B. Tujuan Pendidikan Inklusif

Tujuan pendidikan inklusi antara lain:

1) Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik yang


memiliki kelaian fisik, sosial, emosional, mental, maupun peserta didik
yang memiliki kecerdasan atau bakat istimewa untuk memperoleh
pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

2) Mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai


keanekaragaman dan tidak diskriminasi bagi semua peserta didik (Smith,
2006: 41).

Menurut pendapat Smith di atas, pendidikan inklusi bertujuan memberikan


kesempatan yang seluas-luasnya dalam pendidikan kepada peserta didik yang
memiliki kebutuhan tanpa diskriminasi sehingga mendapatkan pelayanan sesuai
kebutuhannya dan melaksanakn pendidikan yang menekankan pada keberagaman.
Dalam pelaksanaan pendidikan inklusi pihak sekolah harus melakukan penyesuaian
baik dari segi kurikulum, sarana prasarana pembelajaran, sistem pembelajaran
maupun lingkungan pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan individu
peserta didik (anak). Pendidikan inklusi berusaha mengakomodasi segala bentuk
perbedaan dari anak, memberikan penghargaan dan kesempatan serta peluang yang
sama kepada setiap anak untuk mendapatkan layanan pendidikan yang layak dan
berkualitas untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak.

4
Penyelenggaraan program pendidikan inklusi di Indonesia diatur didalam
Undang-Undang. Tujuan pendidikan inklusi di Indonesia diataur oleh Departemen
Pendidikan Nasional. Adapaun tujuan penyelenggaraan pendidikan inklusi di
Indonesia (Depdiknas: 2009, 10-11) yaitu:

1) Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua anak


(termasuk anak berkebutuhan khusus) mendapatkan pendidikan yang layak
sesuai dengan kebutuhannya.

2) Membantu mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar.

3) Membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan


menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah.

4) Menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak


diskriminatif, serta ramah terhadap pembelajaran.

5) Memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945 khususnya Pasal 32 ayat 1,


UU no. 20 tahun 2003 khususnya Pasal 5 ayat 1, UU No. 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak, Pasal 51.

Selanjutnya (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Pusat Layanan Difabel,


2017) memaparkan mengenai tujuan pendidikan inklusi menurut Raschake dan
Bronson (Lay Kekeh Marthan, 2007: 189-190), terbagi menjadi 3 yakni bagi anak
berkebutuhan khusus, bagi pihak sekolah, bagi guru, dan bagi masyarakat, lebih
jelasnya adalah sebagai berikut:

a) Bagi anak berkebutuhan khusus


1) Anak akan merasa menjadi bagian dari masyarakat pada umumnya.
2) Anak akan memperoleh bermacam-macam sumber untuk belajar dan
bertumbuh.
3) Meningkatkan harga diri anak.
4) Anak memperoleh kesempatan untuk belajar dan menjalin persahabatan
bersama teman yang sebaya.

5
b) Bagi pihak sekolah
1) Memperoleh pengalaman untuk mengelola berbagai perbedaan dalam
satu kelas.
2) Mengembangkan apresiasi bahwa setiap orang memiliki keunikan dan
kemampuan yang berbeda satu dengan lainnya.
3) Meningkatkan kepekaan terhadap keterbatasan orang lain dan rasa
empati pada keterbatasan anak.
4) Meningkatkan kemempuan untuk menolong dan mengajar semua anak
dalam kelas

c) Bagi guru
1) Membantu guru untuk menghargai perbedaan pada setiap anak dan
mengakui bahwa anak berkebutuhan khusus juga memiliki kemampuan
2) Menciptakan kepedulian bagi setiap guru terhadap pentingnya
pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
3) Guru akan merasa tertantang untuk menciptakan metode-metode baru
dalam pembelajaran dan mengembangkan kerjasama dalam
memecahkan masalah.
4) Meredam kejenuhan guru dalam mengajar.

d) Bagi masyarakat
1) Meningkatkan kesetaraan sosial dan kedamaian dalam masyarakat.
2) Mengajarkan kerjasama dalam masyarakat dan mengajarkan setiap
anggota masyarakat tentang proses demokrasi.
3) Membangun rasa saling mendukung dan saling membutuhkan antar
anggota masyarakat.

Fungsi pendidikan inklusi adalah untuk menjamin semua peserta didik


berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan dan akses yang sama untuk
memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya dan bermutu
diberbagai jalur, jenis, dan jenjang pendidikan serta menciptakan lingkungan
pendidikan yang kondusif bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk
mengembangkan potensinya secara optimal (Kustawan, 2013: 16).

6
Selain memiliki fungsi, pendidikan inklusi juga memberikan manfaat kepada
berbagai pihak, antara lain: peserta didik berkebutuhan khusus, peserta didik pada
umumnya, orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat. Allen dan Schwartz
mengungkapakan manfaat lingkungan yang inklusif untuk anak yang memiliki
kebutuhan, antara lain:

1) Lebih merangsang, memiliki keberagaman dan reponsif.


2) Memungkinkan perkembangan kurikulum.
3) Memberikan kesempatan pada anak berkebutuhan khusus untuk
berinteraksi dengan anak lain dan meningkatkan kemampuannya.
4) Memberikan kesempatan anak berkebutuhan khusus untuk belajar
akademis dari teman sebaya (Smith, 2006: 424).

Manfaat pendidikan inklusi untuk peserta didik berkebutuhan khusus adalah


dapat meningkatkan rasa percaya diri, memiliki kesempatan menyesuaikan diri, dan
memiliki kesiapan dalam menghadapi kehidupan di masyarakat, sedangkan peserta
didik pada umumnya dapat belajar mengenai keterbatasan, kelebihan, dan keunikan
tertentu pada temannya sehingga dapat mengembangkan keterampilan sosial,
menumbuhkan rasa empati dan simpati terhadap orang lain (Kustawan, 2013: 18).

C. Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif

Penyelenggaraan pendidikan inklusif terdapat beberapa prinsip, yaitu:

1) Program inklusi akan berjalan dengan baik melalui jalinan kerjasama dan
komunikasi secara terbuka dengan keluarga anak untuk mengetahui
informasi pribadi, keluarga ABK
2) Penanganan ABK di luar guru, atau keterlibatan pihak lain untuk
membantu menangani kesulitan dan hambatan ABK membutuhkan
persetujuan orang tua agar kerjasama dapat berjalan sesuai rencana

7
3) Keterlibatan secara aktif untuk mempromosikan kesempatan dan praktik
anti-bias yang sama, sehingga semua anak dan keluarga merasa termasuk
dan dihargai.
4) Memiliki kebijakan dan prosedur yang kuat tentang kebijakan inklusi
dimana kebijakan yang memberikan kesempatan yang sama
5) Mengakui dan menilai bahwa semua anak unik dan akan berkembang serta
belajar sesuai perkembangan mereka sendiri
6) Memanfaatkan program inklusi untuk memenuhi kebutuhan anak dan
menyadari bahwa tidak semua anak dengan cacat akan membutuhkan
dukungan tambahan. Dari sinilah dukungan terhadap anak ABK diberikan
pada saat anak benar-benar membutuhkan
7) Mendorong anak untuk mengenali kualitas masing-masing dan
karakteristik yang mereka bagikan dengan teman sebayanya
8) Melibatkan anak secara aktif dalam mengambil keputusan tentang
pembelajaran mereka sendiri
9) Menghormati keragaman anak, keluarga dan masyarakat dalam
memberikan layanan pada mereka sepanjang masa kanak-kanak
10) Memahami bahwa anak memiliki kebutuhan, pandangan, budaya dan
kepercayaan individu, yang perlu diperlakukan dengan hormat pada saat
program berlangsung
11) Merefleksikan sikap dan nilai Anda sendiri. Departemen of Children and
Youth Affairs Ireland (2016 :p.4)

D. Kesamaan dan Sisi Positif Pendidikan Inklusif

Pentingnya pendidikan inklusif terus- menerus dikembangkan karena memiliki


kelebihan dan manfaat. Menurut Staub dan Peck (1994/ 1995) ada lima manfaat atau
kelebihan program inklusif yaitu :

1. Berdasarkan hasil wawancara dengan anak non ABK di sekolah


menengah, hilangnya rasa takut pada anak berkebutuhan khusus akibat
sering berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus.
2. Anak non ABK menjadi semakin toleran pada orang lain setelah
memahami kebutuhan individu teman ABK.

8
3. Banyak anak non ABK yang mengakui peningkatan selfesteem sebagai
akibat pergaulannya dengan ABK yaitu dapat meningkatkan status mereka
di kelas dan sekolah
4. Anak non ABK mengalami perkembangan dan komitmen pada moral
pribadi dan prinsip-prinsip etika.
5. Anak non ABK yang tidak menolak ABK mengatakan bahwa mereka
merasa bahagia bersahabat dengan anak ABK

Dengan demikian orangtua murid yang tidak memiliki anak dengan


kebutuhan khusus tidak perlu khawatir bahwa pendidikan inklusi dapat merugikan
pendidikan anaknya justru malah akan menguntungkan.

Keistimewaan pendidikan inklusi itu diantaranya bagi anak berkebutuhan


khusus, akan terhindar dari label negatif. Hal ini karena anak difabel, difabel
merupakan pengindonesiaan dari kependekan istilah different abilities people (orang
dengan kemampuan yang berbeda bisa bersosialisasi secara luas di sekolah umum
yang mempunyai tingkat keragaman yang berbeda-beda (yusuf,2007).

Menurut Raharjo (2009) memiliki kesamaan menyesuaikan diri. Dengan


bersekolah di sekolah umum, siswa difabel mempunyai kesempatan untuk
bersosialisasi dengan civitas akademika sekolah secara lebih luas dan mempunyai
lebih banyak teman. Dengan demikian kesempatan untuk dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan dapat optimal dan mempunyai tingkat kematangan sosial yang
lebih baik dari pada bersekolah ekslusi.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sejarah perkembangan pendidikan inklusif di dunia pada mulanya
diprakarsai dan diawali dari negara-negara Scandinavia (Denmark, Norwegia,
Swedia). Di Amerika Serikat pada tahun1960-an oleh Presiden Kennedy
mengirimkan pakar-pakar Pendidikan Luar Biasa ke Scandinavia untuk
mempelajari mainstreaming dan Least restrictive environment, yang ternyata
cocok untuk diterapkan di Amerika Serikat. Tujuan pendidikan inklusi adalah:

10
1. Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua anak
(termasuk anak berkebutuhan khusus) mendapatkan pendidikan yang
layak sesuai dengan kebutuhannya.
2. Membantu mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar
3. Membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan
menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah.
4. Menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak
diskriminatif, serta ramah terhadap pembelajaran.
5. Memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945 khususnya Pasal. 32
ayat1

B. Saran

Dalam pembuatan makalah ini tentunya tidak terlepas dari


kekurangan, jadi kami sangat mengharapkan kritik,,masukan dan saran dari
pembaca agar bisa melengkapi kekurangan dari makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Hajar, Siti dan Mulyani. 2017. Analisis Kajian Teoritis Perbedaan, Persamaan dan
Inklusi dalam Pelayanan Pendidikan Dasar bagi Anak Berkebutuhan Khusus
(ABK). Jurnal Ilmiah Mitra Swara Ganesha. Vol.4, No.2, Hal.37-48.

Kusuma, Nurul. 2017. Manfaat Program Pendidikan Inklusi Untuk AUD. Jurnal
Pendidikan Anak. 6(I), 12-19.

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Pusat Layanan Difabel, M. (2017)


‘Inklusi.’, Inklusi, 4(2), pp. 271–296. Available at:
http://ejournal.uinsuka.ac.id/pusat/inklusi/article/view/040206/pdf.

11
‫‪’, pp. 1–16.‬هيئة التحكيم الثالثة ‪ ‘No Title‬اتحادية‪ ,‬ا‪ .‬ب‪ .‬ش‪ .‬م‪ .‬خ‪ .‬و‪(2005) .‬‬

‫‪12‬‬