Anda di halaman 1dari 543

M A H K A M A H A G U N G RI

2 0 0 8
BAGIR MANAN
ILMUW AN & P E N E G A K HUKUM

Milik
Perpustakaan
Mahkamah A g u n g - R)

MAHKAMAH AGUNG - RI
2 0 0 8
TIM PENULIS BIOGRAFI DAN KENANGAN
PROF. DR. H. BAGIR MANAN, SH.,MCL.

1. Bapak Prof. Dr. Paulus Effendi Lotulung, SH Penasihat


2. Bapak Dr. H. Abdurrahman, SH.,M.PI. Ketua
3. Bapak Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, SH. Anggota
4. Bapak Prof. Dr. H. Abdul Manan, SH.,S.IP.,M.Hum Anggota
5. Ibu Prof. Dr. Mieke Komar, SH.,MCL. Anggota
6. Bapak Prof. Dr. H. Muchsin, SH. Anggota
7. Ibu Prof. Rehngena Purba, SH.,MS. Anggota
8. Bapak H.M. Imron Anwari, SH.,SPN.,M.H. Anggota
9. Sdr. Sarehwiyono M., SPI.,MH. Anggota
10. Sdr. Dermawan S. Djamian, SPI.,MH.CN. Tim Sekretariat
11. Sdr. Nurhadi, SH.,MH. Tim Sekretariat
12. Sdr. Drs. Hasbi Hasan, MH. Tim Sekretariat
13. Sdr. Drs. H.M. Fauzan, SH.M.M.,M.H. Tim Sekretariat
14. Sdr. Dandy Wilarso, SH.,M.H. Tim Sekretariat
15. Sdr. Baharuddin Siagian, SH.,M.Hum. Tim Sekretariat

Mi l i k
Perpustakaan
M ahkamah A bimg -

i d _ p,_2cU?
tanggal I . ' .......-
No. Inrt'ik : ..........................
No. K'*&*
MA-

11
KATA PENGANTAR

Himpunan tulisan yang diberi judul "BAGIR MANAN


ILMUWAN & PENEGAK HUKUM (Kenangan Sebuah Pengabdian)"
disusun dalam rangka peringatan Ulang Tahun ke-67 Prof. Dr. Bagir
Manan, SH.MCL. tanggal 6 Oktober 2008 yang bersamaan saatnya
beliau memasuki masa purna tugas sebagai Hakim Agung dan Ketua
Mahkamah Agung RI.
Ada dua kelompok tulisan yang dihimpun disini. Yang pertama
adalah tulisan dalam bentuk kenangan dari kolega dan staf selama
bertugas di Mahkamah Agung maupun dalam kenangan khusus
dalam pengalaman dan sebagainya. Sedangkan yang kedua adalah
berupa kontribusi tulisan ilmiah tentang berbagai persoalan. Ada 10
penulis yang menyumbang untuk bagian yang pertama dan 18 penulis
yang memberi kontribusi untuk bagian kedua.
Dapat diterbitkannya himpunan tulisan ini adalah disamping
adanya sumbangan tulisan yang diberikan oleh penyumbang secara
sukarela, bantuan dan fasilitas yang diberikan oleh pimpinan dan
kesekretariatan Mahkamah Agung juga didukung oleh kerja keras
semua anggota Tim Penyusun. Untuk itu semua kami menyampaikan
penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya, semoga
himpunan tulisan ini memberikan manfaat untuk kita semua.
Terima kasih.

Jakarta, 16 Oktober 2008


Ketua Tim Penyusun

Ttd.

Drs. H. Abdurrahman, SH.MH.

m
IV
DAFTAR ISI

Tim Penulis Biografi dan Kenangan.................................................. ii


Kata Pengantar...................................................................................... iii
Daftar Is i................................................................................................ v
BAGIAN I
KEPRIBADIAN DAN KEPEMIMPINAN BAGIR MAN AN
1. Keteladanan, Kepribadian dan Kepemimpinan Prof.
Dr. H. Bagir Manan, SH.MCL.
Oleh : Drs. H. Ahmad Kamil, SH.M.Hum..:........................... 1
2. Bagir Manan : Dari Pendidik Hingga Ketua Mahkamah
Agung
Oleh : Dr. H. Abdurrahman, SH.,MH..................................... 9
3. Prof. Bagir Manan, The Crusading Justice
Oleh : HM. Laica Marzuki....................................................... 19
4. Paradigma Baru Peradilan Agama Dalam Era
Bagir Manan
Oleh : Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, SH .......................... 25
5. Kesan dan Pesan
Oleh : H. Dirwoto, SH.............................................................. 31
6. Beberapa Catatan Kecil Tentang Figur Prof. Dr. Bagir
Manan, SH.MCL. di Mata Seorang Bawahan
Oleh : Abbas Said, SH............................................................. 33
7. Kontribusi Prof. Dr. Bagir Manan, SH.MCL Dalam
Pengembangan Kelembagaan Mahkamah Agung RI
Oleh : Drs. H. Muhammad Rum Nessa, SH.MH.................... 37
8. Kesan dan Kenangan Dalam Kunjungan ke Beberapa
Negara Bersama Prof. Dr. Bagir Manan, SH.MCL.
Oleh : Drs. Hasbi Hasan, MH................................................. 51
9. Pak Bagir Patut Menjadi Teladan
Oleh : Drs. H. Habiburrahman, MHum.................................. 57
10. Bagir Manan yang Saya Kenal
Oleh : Prof. Dr. Kaimuddin Saleh, SH.MH............................ 83

v
BAGIAN II
KONTRIBUSI PEMIKIRAN ILMIAH
11. Melalui Pembaruan Menuju Pada Modernisasi
Pengadilan
Oleh : Prof. Dr. Paulus Effendie Lotulung, SH...................... 85
12. Proses Pengadilan Anak Litmas Sebagai Bahan
Pertimbangan Putusan Oleh Hakim Dalam Sidang
Pengadilan Anak
Oleh : Prof. Rehngena Purba, SH.MS..................................... 91
13. Tempat Kedudukan Hukum Atau Seat Suatu Arbitrase
Internasional
Oleh : Prof. HA Mieke Komar K ............................................ 123
14. Analisis Konten : Penerapannya Dalam Praktek
Peradilan
Oleh : ValerineJ. L. Kriekhoff................................................ 133
15. Hukum Adat Bagaikan Embun, Terbit Matahari Akan
Hilang dan Muncul Kembali di Waktu Malam
Oleh : Prof. Dr. Kaimuddin Salle, SH..................................... 145
16. Beberapa Variabel yang Mempengaruhi Kinerja Hakim
Oleh : H.M. Zaharuddin Utama.............................................. 179
17. Peran Hakim Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding)
dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era
Reformasi dan Transformasi
Oleh : M. Hatta Ali, SH.MH...:............................................ 195
18. Manajemen Kritik
Oleh : Mukhtar Zamzami........................................................ 207
19. Beberapa Catatan Sekitar Kompilasi Hukum Ekonomi
Syariah
Oleh : Dr. H. Abdurrahman, SH.,MH..................................... 225
20. Sistem Peradilan Sudan
Oleh : Dr. Rifyal Ka'bah......................................................... 255
21. Realita Dan Prospek Penegakan Hukum Di Indonesia
Oleh : Dr. Artidjo Alkostar, SH, LLM................................... 265
22. Hukum Investasi Perspektif Syariah
Oleh : Prof. Dr. H. Abdul Manan, S.H.,S.IP.,M.Hum......... 283
23. Masa Depan Hukum Islam Di Indonesia
Oleh : Prof. Dr. H. Muchsin, S.H.......................................... 343

vi
24. Problem Formulasi Dan Empiris Penerapan "Qanun
Khalwat" Di Nanggroe Aceh Darussalam
Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, SH., M.A.................... 365
25. Pembaruan Hukum Pada Peradilan Agama Di
Indonesia
Oleh : H. Andi Syamsu Alam................................................ 385
26. Acara Pemeriksaan Perkara Persaingan Usaha
Oleh : Dr. Susanti Adi Nugroho, S H. MH................................ 395
27. Politik Hukum Kebijakan Legislasi Pembalikan Beban
Pembuktian dalam Tindak Pidana Korupsi
Oleh : Dr. Lilik Mulyadi, SH.MH............................................ 421
28. Memperkokoh Integritas Kualitas Kinerja Hakim
Sebagai Salah Satu Pilar Aparat Peradilan
Oleh : Drs. H. Muhammad Rum Nessa, SH.MH.................... 459
29. Pertanggung Jawaban Yuridis Terhadap Diskresi
Pejabat Pemerintah dalam Perspektif Hukum
Administrasi Negara dan Asas-Asas Umum
Pemerintahan Yang Baik (AAUPB)
Oleh : Supandi.......................................................................... 467
30. Penerapan HAM Dalam Tugas Operasi Militer
Oleh : Brigjen TNI Drs. Burhan Dahlan, SH.MH................... 481

vii
BAGIAN I

KEPRIBADIAN DAN
KEPEMIMPINAN
BAGIR MANAN
5 .\
KETELADANAN KEPRIBADIAN DAN KEPEMIMPINAN
PROF. DR. H. BAGIR MANAN, SH./M CL.
Oleh:
(Drs. H. Ahmad Kamil, SH., M.Hum)*

A. Pendahuluan
"Pengalaman adalah guru yang paling baik". Sepenggal
kata hikmah tersebut menunjukkan gambaran betapa banyak
pikiran dan prilaku sehari-hari kita baik sebagai individu
maupun sebagai pemimpin, ternyata banyak dipengaruhi oleh
pengalaman yang terekam melalui penglihatan, pendengaran,
kejadian-kejadian, dan pergaulan.
Pergaulan sehari-hari seorang staf dengan atasan, seorang
hakim dengan hakim lainnya, termasuk unsur pimpinan
Mahkamah Agung dengan Ketua Mahkamah Agung, ternyata
meninggalkan rekaman alamiah yang melekat dan ikut
mewarnai pola pikir, pola tindak dan mengubah kepribadian
seseorang tanpa disadari. Selama saya sebagai Ketua Muda
Pembinaan, dan membantu Beliau Prof. Dr. Bagir Manan, SH.,
MCL sebagai Ketua Mahkamah Agung RI, ada hal-hal penting
dalam kepribadian dan kepemimpinan Beliau yang patut
diteladani.
Uraian sederhana ini, akan mencoba mereplay kembali sisi-
sisi positif dari diri Beliau yang menjadi pengalaman menarik
pribadi saya selama mendampingi Beliau menjalankan tugas-
tugas yudikatif di saat situasi tenang maupun di saat situasi
tegang karena persoalan-persoalan lintas lembaga maupun
internal. Uraian hanya akan disajikan secara general agar dapat
menghindari pandangan-pandangan inter-subjektif.

* Hakim Agung/Ketua Muda Pembinaan Mahkamah Agung RI.

1
B. Sebagai Guru
Latar belakang Beliau sebagai seorang akademisi, bisa
diduga di saat Beliau memberikan arahan-arahan dalam forum
formal maupun informal. Tutur kata dan tulisan-tulisan dalam
kata sambutan, tidak lepas dari nilai-nilai ajaran (doktrin) yang
hendak ditanamkan kepada peserta dalam forum, dan di sinilah
karakteristik Beliau sebagai seorang guru yang berkewajiban
mentransformasikan ilmunya kepada bawahan di lingkungan
peradilan.
Hal menarik yang perlu diteladani, walaupun sebenarnya
Beliau sedang mendoktrin tentang suatu ajaran keadilan,
kebenaran, teori, atau filsafat, tetapi orang lain para guru besar
itu tidak merasa digurui, tidak merasa diajari, sehingga forum
terkesan tidak menjenuhkan, dan orang lain merasa memperoleh
sesuatu ilmu setelah memperoleh arahan dari Beliau. Tutur
bahasa, dan tata cara pemilihan kata yang tepat menjadi poin
keindahan bahasa Beliau. Bahasanya yang mengalir indah, dan
berkwalitas menjadikan pendengar tertegun dan situasi menjadi
hening.
Saya sebagai seorang pembantu Beliau, termasuk orang
yang mengagumi kepribadian Beliau yang mencerminkan
seorang guru atau pendidik. Beliau selalu menampilkan sosok
pribadi guru yang diharapkan dapat dijadikan sebagai teladan
bagi murid dan orang lain. Dalam kultur masyarakat Madura,
ada falsafat "Bupak, Guru, dan Rato" artinya bahwa
penghormatan terhadap seseorang secara kronologis adalah
pertama Ibu/Bapak, kedua Guru, dan ketiga baru pejabat. Saya
sebagai orang Madura, menghormati Beliau karena kepribadian
Beliau sebagai seorang Guru.

C. Sebagai Orang Tua


Kepribadian lain yang bisa saya tarik dari Beliau, adalah
terkadang tutur bahasa dan cara memecahkan masalah secara
kolektif yang muncul dari diri Beliau adalah kata-kata dan cara-
cara yang dilakukan orang tua yang terpelajar terhadap
anaknya. Sehingga kelihatan bahwa marah Beliau adalah seperti

2
marahnya orang tua terhadap anak yang nakal atau bandel, cara
menegurnya juga seperti cara-cara yang lazim berlaku di
kalangan orang tua terhadap anak-anaknya.
Harapan sebagai orang tua terhadap anak-anaknya sering
beliau utarakan dengan penuh harap agar para hakim dan
pegawai Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di bawahnya
menjadi hakim dan pegawai yang baik, sehingga ke depan
lembaga ini akan menjadi lembaga yang dipercaya dan dihormati
masyarakat. Ungkapan ini sering Beliau ulangi dalam berbagai
kesempatan, sehingga seolah menjadi wasiat yang ditinggalkan
orang tua terhadap anak-anaknya. Kegalauan Beliau sebagai
seorang ayah nampak jelas, jikalau mendengar ada oknum
pegawai Mahkamah Agung atau pengadilan yang melakukan
perbuatan tercela dan harus berurusan dengan hukum atau
tindakan skorsing dan pemecatan.

D. Sebagai Kawan
Beliau juga suka bergurau yang membawa tawa, tetapi
gurauan dan ketawaan yang bermutu, tidak berlebihan.
Mungkin Beliau sadar bahwa gurauan dan ketawaan terbahak-
bahak yang berlebihan itu justru akan merendahkan harkat dan
martabat serta menurunkan wibawa. Gurauan dan tawa Beliau
sengaja diciptakan untuk mengusir ketegangan dan
menciptakan keakraban. Di sinilah terlihat, bahwa sosok pribadi
Beliau terkadang menampilkan diri sebagai kawan yang
menunjukkan keakraban, sehingga tidak jarang Beliau
memanggil hakim agung yang senior dengan panggilan
namanya tanpa diawali dengan "Pak".

E. Sebagai Politisi
Jika melenceng mohon diluruskan, karena mungkin kesan
saya yang keliru. Saya selalu mengamati substansi ucapan dan
logika bicaranya yang menyamai gaya bicara dan logika seorang
politikus. Dalam beberapa pembicaraan penting, menyangkut
pemecahan problem, atau kerjasama, sering membuat kepala

3
saya terangguk karena kepiawaian dan kelihaian pemecahan
dari aspek politis, sehingga dalam beberapa wawancara dengan
wartawan, tidak jarang terjadi jeda waktu lama karena jawaban
Beliau yang membuat pewawancara tidak berkutik.
Perspektif politik perjuangan system peradilan satu atap di
bawah Mahkamah Agung RI, Beliau bangun dengan
menunjukkan fakta-fakta politis, dan akademis sehingga mampu
meyakinkan legislatif dan eksekutif untuk menyetujui
perjuangan tersebut. Hal ini juga tidak lepas dari wibawa Beliau
yang menguasai teori politik dan implimentasi politis. Atas
dasar kesan tersebut, saya berpendirian bahwa Beliau juga
sebagai seorang yang menguasai politik, sehingga wajar jika kita
sebut juga sosok pribadi yang politis.

Sebagai Birokrat
Birokrasi adalah system pemerintahan yang dijalankan oleh
pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hirarkhi dan
jenjang jabatan. Sedangkan birokrat yaitu seorang yang menjadi
bagian dari birokrasi, dimaksudkan sebagai seorang birokrat
karena Beliau bukan hanya menjadi bagian dari sebuah system
birokrasi pemerintahan, tetapi Beliau bahkan telah mengen­
dalikan system birokrasi, sehingga kemampuan Beliau benar-
benar ahli di bidang birokrasi.
Pengalaman mengendalikan birokrasi di salah satu Ditjen
Departemen Kehakiman, menjadikan Beliau tidak canggung lagi
dalam memimpin birokrasi Mahkamah Agung dan lembaga
peradilan di bawahnya dalam system peradilan satu atap.
Prestasi birokrasi yang telah Beliau raih antara lain
penyatuan organisasi system peradilan satu atap, meningkatnya
daya anggaran, semakin lengkapnya sarana dan prasarana
keempat lingkungan peradilan, keberhasilan diterapkannya
tunjangan remunerasi kinerja peradilan, berkurangnya
tunggakan perkara seiiring meningkatnya kinerja peradilan,
tersedianya sumber daya manusia peradilan, berhasil
dibangunnya pusat pendidikan dan latihan hukum dan
peradilan setelah menunggu hamper 60 tahun, berhasil
dirumuskannya Pedoman Prilaku Hakim, dan lain sebagainya.
Kesemuanya itu terealisasi di saat kepemimpinan Bagir Manan.
Atas dasar itulah, maka saya berpendirian bahwa Beliau adalah
seorang "Birokrat sejati" yang mampu membawa perubahan
peradilan ke arah yang lebih modem.

G. Mempromosikan MA di Luar Negeri.


Sebagian rekan sejawat dan orang lain, kurang memahami
misi kunjungan Beliau ke beberapa Negara di luar negeri.
Bahkan dipersepsikan hanya jalan-jalan tanpa tujuan yang tidak
membawa manfaat untuk lembaga.
Kunjungan Bagir Manan ke beberapa Negara, sejatinya
membawa misi kelembagaan untuk memperkenalkan
Mahkamah Agung RI yang dipimpinnya kepada dunia
Internasional. Konsep Indonesia sebagai Negara hukum,
hubungan Mahkamah Agung dengan lembaga Negara lain, dan
isu besar lainnya disampaikan Beliau dalam forum internasional.
Kekuatan landasan filsafat, teori hukum, kelugasan gaya bicara,
dan penguasaan bidang hukum tata Negara, menjadikan daya
tarik tersendiri bagi Negara-negara yang dikunjunginya.
Ketertarikan Negara lain tersebut, kemudian direspon
dengan berbagai bentuk kerjasama yang terjalin antar Negara di
bidang hukum, SDM peradilan, pelatihan, bantuan donor, dan
lainnya, yang semuanya menguntungan bagi Mahkamah Agung
dalam konteks menjadikan peradilan Indonesia yang modern
dan maju. Kunjungan balasan dari Ketua Mahkamah Agung
atau Hakim Agung dari Negara-negara yang pernah
dikunjunginya-pun silih berganti. Hal itu memberikan
kontribusi dalam menjadikan Mahkamah Agung RI semakin
dikenal di dunia Internasional.

H. Kepemimpinan
John Maxwel adalah seorang penulis yang paling
produktif dalam bidang kepemimpinan di Amerika. Menurut
Maxwel, seorang pemimpin haruslah cukup besar untuk
mengakui kesalahan-kesalahannya, cukup cerdas untuk

5
memetik pelajaran darinya, dan cukup kuat untuk melakukan
tindakan perbaikan.
Kepemimpinan adalah pengaruh. Kepemimpinan bukan
persoalan gelar, jabatan atau kedudukan dalam struktur
organisasi, melainkan soal kiat mempengaruhi orang lain. Di
dunia ini ada dua tipe, yaitu pemikir dan pelaku. Para pemikir
perlu lebih banyak berbuat, dan para pelaku perlu lebih banyak
berpikir. Seorang pemimpin yang mampu menggabungkan
kedua tipe tersebut, maka kemungkinan gagal dari apa yang
diperjuangkan menjadi sangat kecil. Kepemimpinan adalah
kapasitas untuk menerjemahkan visi menjadi kenyataan.
Seorang pemimpin harus hidup bersama orang-orang untuk
mengetahui masalah-masalah mereka, dan dekat dengan Tuhan
Allah SWT untuk memecahkannya. Kepemimpina yang paling
efektif adalah kepemimpinan yang dibangun di atas
keteladanan, bukan lewat pendidikan.
Prinsip-prinsip kepemimpinan modern tersebut, nyaris
sempurna ada pada diri Bagir Manan. Keingin tahuan persoalan
gedung peradilan agama yang sangat menyedihkan yang
didengarnya dari penelitian Daniel S. Lev, Beliau kejar sampai
ke pelosok-pelosok tempat kantor pengadilan agama di seluruh
Indonesia. Kesimpulan seloroh Beliau "Kalau kendaraan yang
ditumpangi masuk ke lorong-lorong sempit yang berliku, maka
pasti menuju kantor pengadilan agama". Keingin tahuan Beliau
lebih dekat terhadap persoalan makro yang sedang dihadapi
lembaga, patut menjadi teladan, sehingga Beliau bukanlah tipe
pemimpin di belakang meja, sehingga pemecahan persoalan
menjadi tepat.
Kecerdasan Beliau dalam menerjemahkan visi Mahkamah
Agung dan Pengadilan, telah Beliau lakukan sejak awal
kepemimpinannya. Visi keinginan untuk memulihkan citra
wibawa Mahkamah Agung dan lembaga pengadilan sebagai
lembaga yang dihormati masyarakat, Beliau terjemahkan
dengan buku cetak biru, berbagai kerjasama perubahan,
dikeluarkan keputusan-keputusan Mahkamah Agung yang
strategis. Sehingga berbagai kemajuan di bidang organisasi,

6
administrasi, financial dan teknis peradilan mengalami
kemajuan pesat.
Hubungan suami-isteri dalam konsepsi Islam, bagaikan
sebuah ikatan yang amat kuat Mitsaqan Ghalidhan. Konsepsi ini
menjadi penting dalam perspektif kesaksesan seseorang yang
harus dilihat secara utuh, artinya bahwa kesaksesan seorang
suami dalam meniti karier atau jabatan tertentu, tidak dapat
dipisahkan dari peran campur tangan isteri.
Dalam catatan ini, saya secara khusus menyampaikan
apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ibu Bagir yang
berperan luar biasa dalam ikut menghantarkan Bapak Bagir ke
puncak karier tertinggi di lembaga Yudikatif Mahkamah Agung
RI. Kesetiaan Ibu Bagir mendampingi Bapak Bagir dalam suka
dan duka, ketenangan Beliau dalam menghadapi situasi sulit
yang menegangkan, menjadikan energi kekuatan tersendiri yang
menambah percaya diri dan kekuatan tak tergoyahkan bagi
Bapak Bagir Manan dalam menjalankan tugas kedinasan dan
memecahkan problem kedinasan. Oleh karena itu saya
berpendirian bahwa peranan Ibu Bagir dalam menghantarkan
karier Bapak Bagir harus diapresiasi dengan penghargaan yang
setinggi-tingginya.
Saya tahu persis aktifitas Ibu Bagir dalam mendorong Ibu-
Ibu Hakim dan Pegawai Mahkamah Agung serta Peradilan
untuk memberikan pemahaman agar gigih dalam memberikan
dorongan moril dan materiil para suami yang menjalankan
tugas kedinasan. Karena Beliau menyadari betul bahwa
keharmonisan hubungan suami-isteri dalam rumah tangga yang
kondusif, diyakini menjadi variable penentu keberhasilan tugas
kedinasan suami.
Menyadari pentingnya peranan istri dalam mendukung
tugas, maka Ibu Bagir Manan telah berjasa meletakkan dasar-
dasar organisasi Dharmayukti Karini, yang kemudian
diresmikannya menjadi organisasi Isteri dan karyawati
Mahkamah Agung serta lembaga peradilan di bawahnya.
Semoga organisasi ini akan terus memberikan dharma baktinya
bagi kemajuan kinerja lembaga peradilan.

7
Sebagai manusia, sudah barang tentu segi-segi kekurangan
dipastikan ada, tetapi dalam sebuah ucapan pengantar purna
tugas, hal tersebut dipandang kurang tepat untuk diuraikan,
disamping tidak ada urgensinya. Bukankah menteladani
seseorang itu yang terbaik hanyalah pada sisi positifnya saja.
Uraian tersebut, merupakan goresan empiris kehidupan
Beliau Prof Dr. Bagir Manan, SH., MCL sebagai pribadi dan
Pimpinan Mahkamah Agung RI, dengan harapan do'a semoga
semua darma bakti Beliau menjadi amal saleh, dan ilmunya
menjadi ilmu bermanfaah yang membahagiakan Beliau beserta
Keluarga di dunia fana dan di alam baqa.
Saya sebagai insan yang amat dhaif, memohon maaf atas
segala kekhilafan dan kekurangan selama saya membantu Beliau
menjalankan tugas-tugas Ketua Muda Pembinaan. Dengan berat
hati serta perasaan haru saya melepas Bapak penuh hormat dan
ta'dzim atas momentum mengakhiri perjuangan sebagian hidup
dengan Khusnul Khatimah.
BAGIR MANAN :
DARI PENIDIDIK SAMPAI PENEGAK HUKUM
(Sebuah Biografi Singkat)
Oleh:
Dr. H. Abdurrahman, SH.,MH. *

Jenjang karir seseorang memang berbeda-beda, ada yang


berhasil dengan baik, ada yang biasa-biasa saja, bahkan banyak juga
yang dianggap gagal. Ada yang keberhasilannya hanya sesaat tetapi
ada pula yang cukup langgeng dan terus meningkat. Sehingga ada
yang mengatakan semua itu tergantung pada "garis tangan" masing-
masing atau dalam bahasa agama semuanya merupakan suratan
takdir tetapi juga tidak lepas dari usaha dan ikhtiar.
Bagaimana dengan Pak Bagir Manan? Kiranya semua kita akan
sependapat bahwa beliau termasuk yang "berhasil dengan baik".
Lelaki kelahiran Kalibalangan Lampung Utara tanggal 6 Oktober
1941 yang sebagian hidupnya dihabiskan di Jawa Barat memang
termasuk "unik", karena dalam proses yang tidak terlalu panjang
dari seorang pendidik — seorang dosen melejit menjadi Ketua
Mahkamah Agung. Memang beliau bukan akademisi yang pertama
menjadi Ketua Mahkamah Agung. Sebelumnya sudah pernah
menjadi Ketua Mahkamah Agung aim. Prof. Subekti, SH., dan Prof.
Oemar Senoadji, SH., yang berasal dari Guru Besar Universitas
Indonesia. Namun sekali lagi Bagir Manan terhitung orang yang
cukup banyak melakukan "Pembaharuan" di Mahkamah Agung di
bawah kepemimpman beliau yang berlangsung selama tujuh tahun
(2001-2008).
Pendidikan dasar dan pendidikan menengah diselesaikan di
kampung halamannya, sedangkan pendidikan tinggi ditempuh di
Fakultas Hukum Universitas Pajajaran Bandung. Dalam kaitan
dengan kegiatan akademik ada dua hal yang patut dicatat di sini :

Dr. H. Abdurrahman, Hakim Agung pada Mahkamah Agung RI.

9
1. Sebagai seorang Mahasiswa Muslim ditunjukkannya dalam
aktivitas sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia
(HMI) sebuah organisasi kemahasiswaan dengan orientasi
keislaman yang mempersiapkan kader-kader cendekiawan
muslim. Pada masa di penghujung kekuasaan orde lama (1962-
1965) orgamsasi ini sering dituduh sebagai organisasi militan
keislaman yang selalu berhadapan dengan organisasi yang
berhaluan kiri seperti CGMI dan GMNT.
2. Dalam penghujung masa studinya (1965-1967) terutama
menjelang jatuhnya orde lama dan kebangkitan orde baru.
Bagir Manan juga tercatat sebagai aktivitas Angkatan 66 dan
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang dianggap
cukup berjasa menjatuhkan pemerintahan orde baru dan
berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.

Dalam masa-masa itulah Bagir Manan menyelesaikan studinya


di Fakultas Hukum Universitas Pajajaran pada tahun 1967 dalam
bidang studi Hukum Adat. Namun dalam perkembangan karir
akademiknya bidang hukum tersebut kelihatannya tidak begitu
diminatinya — hampir tidak ada karya ilmiah tentang hukum adat
yang dibuatnya dan semua orang mengenalnya sebagai pakar dan
Guru Besar Hukum Tata Negara. Dan pada masa-masa akhir
jabatannya sebagai Hakim Agung, ia juga menunjukkan sikap yang
cukup "revolusioner" tentang hukum adat dalam berbagai
keputusan dari Majelis yang dipimpinnya sejalan dengan prinsip
tugas hakim untuk "membimbing" perkembangan hukum tidak
tertulis/hukum adat untuk disesuaikan dengan perkembangan dan
kemajuan.
Perkembangan karir akademik dan bidang studi yang
digelutinya terlihat semakin meningkat, sejak mahasiswa ia sudah
menjadi asisten di perguruan tingginya (1964) dan memang pada
saat-saat itu lazim terjadi pada berbagai Perguruan Tinggi. Setelah
meraih gelar Sarjana Hukum (1967) ia diangkat sebagai dosen tetap
pada Fakultas Hukum Universitas Pajajaran, tetapi semangatnya
untuk belajar tetap tinggi terbukti ia kemudian melanjutkan studmya
di Southern Metodisht University Law School Dallas — Texas

Milik.
10
Perpustakaan
Mahkamah A g u n g - RI
dengan meraih gelar Master of Comparative Law (MCL) pada tahun
1981. Tahun 1990 ia meraih gelar Doktor di bidang Ilmu Hukum,
sekalipun demikian ia masih tetap belajar antara lain mengikuti
"Program of Government and Analysis of Govermnent System The
Academy for Education Development, Washington DC. USA (1993)" dan
"De Studie Van Admimstratief Rechter Voorbreiding van een
Praoefschrift, Nederlandes Voor Juridische Samenwerking met
Indonesia, Leiden Belanda (1997-1998).
Aktivitas di Fakultas Hukum Unpad lebih banyak dilakukan di
Lingkungan Jurusan Hukum Tata Negara. Pada tahun 1974-1977 ia
menjabat sebagai Sekretaris Departemen Hukum Tata Negara
Fakultas Hukum UNPAD dan pada tahun 1945-1999 menjabat
sebagai Ketua Bagian/Ketua Jurusan Ilmu Hukum Tata Negara
Fakultas Hukum UNPAD, sehingga kegiatan ilmiah yang digelutinya
umumnya adalah di bidang Hukum Tata Negara atau yang berkaitan
dengan Hukum Tata Negara dalam arti luas.
Selain sebagai dosen di Almamatery Fakultas Hukum
Universitas Pajajaran ia juga merupakan staf pengajar pada Fakultas
Hukum Universitas Islam Bandung (IJNISBA) sebuah perguruan
tinggi yang mengemban missi keislaman di Jawa Barat. Pada tahun
1977-1979 ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum UNISBA,
kemudian menjadi Pembantu Rektor (1981-1984) dan Pejabat Rektor
(1984-1986) pada Universitas tersebut dan terakhir sebagai Ketua
Umum Yayasan Pendidikan Islam UNISBA (1997-2000).
Keberadaannya sebagai tenaga akademisi di UNISBA cukup
memberikan kepribadian pada Bagir Manan sebagai sarjana yang
berjiwa keagamaan.
Pada tanggal 24 September 1990 Bagir Manan berhasil meraih
gelar Doktor dalam bidang Hukum Tata Negara setelah berhasil
mempertahankan disertasinya yang berjudul "Hubungan Antara
Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945" di hadapan Sidang Terbuka
Senat Guru Besar Universitas pajajaran dengan Promotor Prof. Dr. R.
Soemantri Mertosuwignyo, SH. (Guru Besar Fakultas Hukum
Unpad) dengan didampingi dua orang Co Promotor masing-masing
Prof. Dr. Komar Kantaatmadja, SH.,LLM (Unpad) dan Prof. Dr.
N.J.M Ten Bergh (Universitas Utrecht — Belanda). Disertasi ini

11
membahas tentang masalah otonomi daerah yang pada saat disertasi
ditulis kita menganut "otonomi nyata dan bertanggung jawab".
Namun dalam disertasi tersebut ia sudah mencanangkan "otonomi
seluas-luasnya sebagai pencerminan kebebasan berprakarsa". Yang
baru dimasukkan ke dalam konstitusi setelah dilakukan amandemen
pada era reformasi, walaupun menurut Bagir Manan otonomi seluas-
luasnya bukanlah penyerahan sebanyak-banyaknya urusan pemerin­
tahan kepada daerah, melainkan pengakuan atas kebebasan daerah
untuk berprakarsa mengatur dan mengurus urusan Pemerintahan
sesuai dengan tata cara dan pembatasan-pembatasan yang
ditentukan oleh undang-undang.
Dalam disertasi itu juga ia secara tegas menyatakan Undang-
Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di
Daerah — yang menjadi landasan pelaksanaan pemerintahan pada
masa orde baru — sebagai undang-undang yang mengandung
konsepsi yang tidak taat asas dan belum mencerminkan secara tepat
asas desentralisasi menurut Undang-Undang Dasar 1945. Pendapat
ini ternyata disetujui pada era reformasi sebagaimana dicabut dan
digantikannya Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 dengan Undang-
Undang No. 22 Tahun 1999 dan selanjutnya digantikan lagi dengan
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
sesuai dengan ide yang dilontarkan Bagir Manan dalam disertasinya
tahun 1990.
Satu bidang yang harus dicatat sebagai bidang keahlian Bagir
Manan adalah "Ilmu Perundang-undangan" Karena itu wajar
bilamana ia pada tahun 1991-1995 diangkat sebagai Ketua
Perkumpulan Ahli Perundang-undangan Indonesia. Hal ini mungkin
disebabkan kedekatannya dengan Departemen Kehakiman (pada
saat itu, sekarang Departemen Hukum dan PIAM) yang merupakan
dapur dari pembuatan perundang-undangan di negara kita sejak dari
jabatan sebagai Staf Ahli Menteri Kehakiman (1974-1976), Direktur
Perundang-undangan Ditjen Hukum dan Perundang-undangan
Departemen Kehakiman (1990-1995) dan sebagai Direktur Jenderal
Hukum dan Perundang-undangan Departemen Kehakiman RI (1995-
Mei 1998). Selain itu ia juga aktif pada berbagai Tim Kerja dan

12
Penelitian Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen
Kehakiman.
Dalam salah satu tulisannya "Dasar-Dasar Perundang-undangan
Indonesia" (1992) Bagir Manan mengemukakan makna besarnya
peraturan perundang-undangan. Hal ini terjadi karena beberapa h a l:
a. Peraturan Perundang-undangan merupakan kaidah hukum
yang mudah dikenali (diidentifikasi) mudah ditemukan
kembali, dan mudah ditelusuri sebagai kaidah hukum tertulis,
bentuk, jenis dan tempatnya jelas. Begitu pula pembuatnya.
b. Peraturan perundang-undangan memberikan kepastian hukum
yang lebih nyata karena kaidah-kaidahnya mudah diidentifikasi
dan mudah ditemukan kembali.
c. Struktur dan sistematika peraturan perundang-undangan lebih
jelas sehingga memungkinkan untuk diperiksa kembali dan diuji
baik segi-segi formal maupun materi muatannya.
d. Pembentukan dan pengembangan peratunan perundang-
undangan dapat direncanakan. Faktor ini sangat penting bagi
negara yang sedang membangun untuk membangun sistem
hukum baru yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
masyarakat (Manan, 1992.8).

Akan tetapi disadarinya juga bahwa keberadaan suatu peraturan


perundang-undangan bukannya tanpa permasalahan. Disebutkan
salah satu masalahnya yang kemudian ternyata berkaitan erat
dengan fungsi dan peranan hakim yang baru digelutinya sejak tahun
2000, dikatakan bahwa peraturan perundang-undangan tidak pernah
lengkap untuk memenuhi segala peristiwa hukum atau tuntutan
hukum, dan ini menimbulkan apa yang lazim disebut kekosongan
hukum atau "rechtsvacuum". Barangkali yang tepat adalah
kekosongan peraturan perundang-undangan (zvetsvacuum) bukan
kekosongan hukum (rechtsvacuum). Hal ini sesuai dengan ajaran
Cicero — "ubi societas ibi irus" — maka tidak akan pernah ada
kekosongan hukum. Setiap masyarakat mempunyai mekanisme
untuk menciptakan kaidah-kaidah hukum apabila "hukum resmi"
tidak memadai atau tidak ada (Manan, 1992. 8-9).

13
Dijelaskan lebih jauh bahwa cara untuk mengatasi kekurangan
peraturan perundang-undangan adalah dengan memperbesar
peranan Hakim. Hakim bukan sekedar "mulut" undang-undang,
tetapi sebagai yang mempertimbangkan baik buruk, manfaat,
mudharat suatu peraturan perundang-undangan agar hukum tetap
terlaksana dengan adil dan memberikan manfaat yang sebesar-
besarnya bagi kehidupan masyarakat. Untuk itu Hakim harus
menafsirkan, melakukan analogi, melakukan penghalusan hukum
(rechtsvervijning) atau argumentum a contrario. Lebih jauh dari itu
bila diperlukan, hakim harus menciptakan hukum untuk memutus
suatu perkara (Manan, 1992: 9).
Bidang kajian lain yang menjadi perhatiannya adalah tentang
Ilak Asasi Manusia (Human Right). Hal ini tampak dalam
kedudukannya sebagai Ketua Paguyuban Hak Asasi Manusia
(PAHAM) Fakultas Hukum UNPAD (sejak 1998) dan juga sebagai
Anggota Komisi Nasional Ombudsman (1998-2000). Salah stau hal
yang menarik ialah penelitian yang dilakukan oleh Paguyuban
Hak Asasi Manusia (PAHAM) bekerjasama dengan Yayasan Hak
Asasi Manusia, Demokrasi dan Supremasi Hukum (YHDS) tentang
"Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan Hak Asasi Manusia di
Indonesia" (2001) yang membuahkan beberapa saran :
1. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa HAM di Indonesia
bukanlah merupakan suatu hal yang baru. Hal ini sebaiknya
terus dipertahankan dan ditindak lanjuti terus dipertahankan
dan ditindak lanjuti dengan mengembangkan upaya
perlindungan dan pemajuan HAM di Indonesia oleh pihak-
pihak yang terkait.
2. Upaya Perlindungan dan Pemajuan HAM di Indonesia sebaik­
nya dimulai sejak dini, yaitu antara lain dengan memasukkan
materi pendidikan HAM ke dalam kurikulum pendidikan
dasar.
3. Pemerintah perlu mengambil langkah konkrit dalam mengatasi
masalah degradasi HAM di bidang ekonomi, sosial dan budaya
yang diakibatkan oleh ketidakpastian situasi politik dan
ekonomi di Indonesia akhir-akhir ini (Manan, 2001.226).

14
Puncak karirnya di bidang akademik adalah dengan
dikukuhkannya sebagai Guru Besar tetap Hukum Tata Negara
Universitas Pajajaran. Selain itu ia juga menjabat sebagai Guru Besar
Luar Biasa pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia
(Jakarta), Universitas Muhammadiyah (Jakarta), Universitas Islam
Indonesia (Yogyakarta), Universitas Gajah Mada (Yogyakarta),
Universitas Lampung (Bandar Lampung) dan Universitas Islam
Bandung (UNISBA). Puluhan buku ilmiah tentang hukum telah
ditulisnya dan ratusan artikel dan makalah yang sudah dipublikasi
atau dibahas pada berbagai pertemuan ilmiah. Puluhan doktor telah
berhasil dibimbingnya dalam kapasitas sebagai promotor dalam
penulisan disertasinya. Hal ini semua menunjukkan Bagir Manan
adalah seorang pendidik dan akademisi yang telah berkiprah dalam
waktu yang cukup panjang untuk tampil sebagai ahli hukum yang
mumpuni.
Ada satu dua hal lagi yang patut dicatat dalam perkembangan
karir Bagir Manan. Ia juga pernah berkiprah di bidang legislatif
sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
Kotamadya Bandung (Wakil Sekber Golkar) (1968-1971) walaupun
kiprahnya di bidang ini tidak banyak terungkap. Pada waktu yang
sama (1968-1971) ia juga merangkap sebagai anggota Panitia
Penyelesaian Sengketa Perumahan Kotamadya Bandung. Dan
sebagaimana lazimnya tenaga akademisi pada zaman Orde Baru
beliau juga menjadi Penatar Pedoman Penghayatan Pengamalan
Pancasila (P4) tingkat Provinsi, Kotamadya, Kabupaten dan
Kecamatan Jawa Barat.
Pada tahun 2000 Bagir Manan diangkat sebagai Hakim Agung
pada Mahkamah Agung RI dari jalur non karir bersama-sama
dengan beberapa pakar hukum lainnya seperti Prof. Dr. Muladi, SH.
(Undip), Prof. Dr. Valerine J.L. Kriekhoff, SH.,MA. (UI), Prof. Dr.
Laica Marzuki, SH. (Unhas), Abdul Rahman Saleh, SH (LBH), Prof.
Dr. Muchsin, SH. (DPR), Artidjo Al-Kostar, SH (LBH) dan Dr. Rifyal
Ka'bah, MA. Semenjak itu ia mulai berkiprah di dunia peradilan
pada lembaga peradilan tertinggi di negara kita sehingga dengan
demikian lengkaplah kiprahnya di samping di bidang akademis, juga

15
di bidang legislatif, eksekutif dan yudikatif sehingga ia juga dapat
disebut sebagai pakar hukum yang bersifat multi dimensional.
Selanjutnya dengan Surat Keputusan Presiden tanggal 5 Mei
2001 No. 133/M Tahun 2001 terhitung mulai tanggal 18 Mei 2001
beliau terpilih sebagai Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
yang kesebelas memimpin Lembaga Peradilan Negara Tertinggi
tersebut (Para Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
sebelumnya adalah Dr. Mr Kusumaatmadja, Prof. Dr. Wirjono
Prodjodikoro, SH, Surjadi, SH., Prof. Subekti, SH., Prof. Oemar
Senoadji, SH., Moedjono, SH., Au Said, SH., Poerwoto Gandasubrata,
SH., Soerjono, SR. dan Sarwata, SH.). Kemudian pada tahun 2006
beliau terpilih kembali secara aklamasi untuk masa jabatan kedua
(2006-2011) oleh para Hakim Agung pada Mahkamah Agung RI.
Peran Utama dari kepemimpinan Bagir Manan di Mahkamah
Agung adalah menindak lanjuti upaya pembaharuan peradilan yang
mulai digulirkan semenjak era reformasi. Dalam rangka kemandirian
peradilan diwujudkan sistem "peradilan satu atap" (one roof judiciary
system) yang mulai dilaksanakan sejak tahun 2004 dengan segala
konsekwensinya. Salah satu komitmen Bagir Manan sebagaimana
dinyatakan dalam tulisan dan pernyataannya untuk mewujudkan
sistem peradilan yang berwibawa dan menciptakan hakim yang baik.
Untuk itu dilaksanakan berbagai upaya untuk lebih
meningkatkan fungsi dan peranan hakim serta lembaga peradilan
pada umumnya termasuk apa yang disebutnya "Peranan Hakim
dalam dekalonisasi Hukum" (Manan, 2002:6) dalam rangka
memperbaharui hukum-hukum yang berasal dari masa kolonial.
Upaya pembaharuan Mahkamah Agung dan Lembaga Peradilan
yang ada di bawah ini terus dilakukan secara terus menerus secara
simultan bersamaan dengan peningkatan kerja dan peningkatan
kualitas sumber daya manusia.
Program ini masih belum dapat diwujudkan sepenuhnya, akan
tetapi langkah awal dan fondasi penopangnya telah diletakkan oleh
Bagir Manan bersama dengan unsur pimpinan, para Hakim Agung
dan seluruh struktur yang ada. Bangunan yang diimpikan
diharapkan dalam tampak secara nyata bila dilanjutkan oleh para
pelanjut berikutnya. Penghargaan untuk perintis awal dan yang

16
meletakkan fondasi harus kita berikan dan salah satu di antaranya
adalah untuk Prof. Dr. Bagir Manan, SH.,MCL. yang memasuki
purna tugas tanggal 6 Oktober 2008.

17
PR O F. B A G IR M A N A N ,
THE CRUSADING JUSTICE
Oleh:
HM. Laica Marzuki*

Serius, Namun Penuh Canda


Prof. Bagir Manan, S.H., MCL, adalah salah seorang hakim non
karir, bersama saya diangkat hakim agung di kala bulan September
2000. Prof. Bagir dan saya berasal dari kaum akademisi. Beliau
mengajar di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung, saya
mengajar di Universitas Hasanuddin, Makassar. Kami mengasuh
mata kuliah yang sama, hukum tata negara dan hukum administrasi.
Kami menempuh studi doktor (S3) di UNPAD, Bandung.
Pada tahun 1989, kami terlibat dalam kegiatan penulisan buku
hukum administrasi, bersama Prof. Sri Soemantri, Dr. Philipus
Hadjon dan empat guru besar administratief recht di Rijksuniversitetil
Utrecht, Nederland.
Orangnya sangat serius, kalau sedang belajar di perpustakaan
universitas, nyaris tidak bisa diganggu. Dia amat tekun, bagai
pertapa yang tengah bersemadi. Di tempatnya menginap, Bagir tidak
kurang tekunnya. Tidak terasa, kompornya nyaris meledak di dapur
apartemen.
Namun Prof. Bagir bukan pribadi yang kaku (een droge man),
orangnya juga penuh canda. Anekdot yang diangkat beliau, baharu
menggelitik tawa kita apabila diselami kandungan filsafati di balik
candanya itu. Lelucon-leluconnya berdimensi intelektual, namun
tidak melukai perasaan orang yang menjadi sasaran candanya.
Selaku mantan aktivis kampus dan tapol, kalau saya mengangkat
lelucon-lelucon politik tentang penguasa lama, keluarga dan kroni-
kroninya, biasanya beliau mengalihkan ke pembicaraan lain. Masih
teringat oleh saya, tawa beliau yang terkekeh-kekeh, kadangkala
lepas berderai.

Mantan Hakim Konstitusi Republik Indonesia.

19
Jujur, dan Selalu Mengajak Orong Lain Berperilaku Jujur
Di kala kami berkantor di Medan Merdeka Utara, kami
ditugaskan di bawah ketua tim, Prof. Dr. Paulus Effendy Lotulung.
Prof. Bagir sering mampir di ruang kerja saya, kadang berjam-jam.
Beliau selalu berpesan, agar kami senantiasa berperilaku jujur, jangan
sampai hakim-hakim 'nakal' menganggap kami sama saja dengan
mereka. Prof. Bagir dalam pelbagai kesempatan selalu mengajak
orang berperilaku jujur (honest).
Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Agung di DPR di
kala itu, berlangsung alot dan berlarut-larut. Saya masih ingat, Prof.
Bagir Manan terpilih selaku Ketua Mahkamah Agung di kala tanggal
5 Mei 2001. Hari itu, tepat saya berusia 60 tahun. "Aduh, sahabatku
kini ketua Mahkamah Agung", kata saya membatin.
Jarang sekali kami berbeda pendapat, di kala rapat
permusyawaratan hakim (rph). Adviesblad kami memuat pendapat
yang sama, manakala saya dan beliau berada pada majelis yang
sama. Misalnya, kami berdua sama sependapat, bahwa hakim kasasi
bisa mengubah strafmaat yang dijatuhkan judex facti. Tidak jarang,
majelis kami memperberat pidana terdahulu, namun kadangkala
mengurangi bahkan membebaskannya atau menyatakan onslag van
rechtsvervolging. Berkas-berkas perkara yang tertumpuk bagai de
-papieren muur, sedikit demi sedikit kian berkurang secara signifikan
di masa Ketua, Prof. Bagir Manan, tanpa mengurangi esensi kualitas
(hukum) dari perkara-perkara itu. Kesemua ini dapat ditelaah dalam
buku-buku yurisprudensi MA-RI yang diterbitkan secara teratur dan
annually.
Prof. Bagir benar, kami orangnya anti susah. Kami bekerja dan
mengabdi dengan penuh keikhlasan, tanpa beban ganjalan. Kami
menikmati masa-masa kebersamaan di kala itu. We love every minute
of it.

Saat Harus Berpisah


Di kala Perubahan Ketiga UUD 1945 (= 9 November 2001),
dibentuk Mahkamah Konstitusi RI. Saya merasa terpanggil
mengabdikan diri di mahkamah baru itu.

20
Constitutie is de hoogste wet ! Semua peraturan perundang-
undangan harus merujuk pada UUD 1945. Tidak boleh terdapat
peraturan perundang-undangan (algemene verbindende voorschriften)
yang menyimpangi konstitusi. Penegakan konstitusi bermakna
mewujudkan demokrasi yang hakiki, de ware democratie.
Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 berbunyi, 'Kedaulatan berada di
tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD'. Pasal UUD ini
mengatur hal konstitusionalisme. Mengawal konstitusi bermakna
berada di garis terdepan mengawal rakyat banyak selaku pemegang
kedaulatan.
Ketika itu, kadangkala saya bertemu dengan Prof. Jimly
Asshiddiqie, pakar hukum tata negara UI, di ruang kerja saya. Kami
sepakat, bahwasanya di MK lah habitat kami sesungguhnya. Wij zijn
van staatsrecht en constitutioneele recht. Kami sepakat berkiprah di MK
manakala dicalonkan kelak. Prof. Jimly bakal dicolonkan DPR,
sedangkan saya berupaya direkrut oleh MA-RI.
Prof. Bagir Manan semula tidak setuju mencalonkan saya. 'Masa
Bung mau meninggalkan saya', kata beliau. 'Prof. Bagir izinkan saya
membaktikan diri di sana, mengisi sisa-sisa hidup saya di dunia
peradilan', kata saya. Akhirnya, beliau mencalonkan saya,
Soedarsono dan Maruarar Siahaan selaku hakim konstitusi. Berat
nian perpisahan ini. Berkali-kali, Prof. Bagir mengatakan bahwa ia
kehilangan seorang sahabat. Saya pun demikian, saya sungguh
kehilangan di kala meninggalkan kantor Medan Merdeka Utara. Air
mata saya menitik tatkala merangkulnya.
Saat saya dilantik di Istana Merdeka, saya didorong dengan
menggunakan kursi roda. Presiden Megawati menyongsong
kedatangan saya. Saya sedang diopname di rumah sakit MMC,
menjalani operosi pengangkatan empedu.
Saat disumpah, saya memaksakan diri dalam posisi berdiri.
Ketua Mahkamah Agung, Bagir Manan, berada di antara para
pejabat yang hadir. Saya tidak ingin menanamkan rasa belas kasihan
orang terhadap diri saya. Kepada Prof. Bagir, saya seolah ingin
berkata, 'Bagir, hier sta ik !'
Di MK-RI ini, kelak saya terpilih selaku Wakil Ketua MK RI
pertama, selama dua periode.

21
Guruh Menggelegar Di Medan Merdeka Utara
Di kala Prof. Bagir Manan memegang pucuk pimpinan
mahkamah, dunia peradilan mengalami krisis kepercayaan (trust less)
masyarakat, situasi yang telah ada di masa kepemimpinan MA-RI
sebelumnya. Publik amat reaktif dalam mengantisipasi permasalahan
peradilan, kesemuanya justru pada ketika Prof. Bagir dan teman-
temannya memulai melakukan penertiban internal.
Tidak ringan beban Ketua Muda Bidang Pengawasan, Mariana
Sutadi dalam melakukan upaya pembenahan itu. Beberapa hakim
dan panitera mulai diperiksa, dan banyak sudah dikenakan non job.
Sesungguhnya hakim-hakim yang baik dan jujur jauh lebih banyak,
dibanding hakim-hakim yang bermasalah. Saya sempat
menyaksikan, banyak hakim di daerah naik ojek menuju tempat
kerjanya. Prof. Bagir dan teman-teman mulai menyusun program
kesejahteraan hakim (dan panitera), serta menetapkan sanksi bagi
hakim-hakim nakal. Namun, kurang lebih dua tahun kemudian,
ketika saya tidak lagi di MA-RI, muncul kasus Harini yang
mengguncang Medan Merdeka Utara. Wanita pensiunan hakim
tinggi di Yogyakarta tersebut, diduga menebar uang sejumlah
milyaran ke majelis kasasi, yang dipimpin Prof. Bagir, melalui
beberapa oknum bawahan mahkamah. Wanita berusia lanjut ini
dilaporkan melakukan penyuapan dalam kaitan perkara kasasi
pengusaha Probosutedjo. Hal dimaksud seketika mengundang
dugaan ('opini') publik bahwa anggota majelis kasasi, termasuk Prof.
Bagir, menerima uang melalui oknum-oknum pegawai bawahannya.
Pers don segenap media elektronik mengekspose peristiwa itu. Inilah
mungkin, merupakan salah satu momen yang paling kritis dalam
lembaran kehidupan Prof. Bagir.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah ruang kerja
Ketua Mahkamah Agung selama dua hari, konon sempat membawa
surat-surat penting, termasuk beberapa adviesblad.
Saya mendatangi Prof. Bagir, menanyakan hal penggeledahan di
ruang kerja beliau. Saya katakan, bahwa penggeledahan yang
diadakan merupakan kejadian pertama di dunia. Di negara Afrika
sekalipun tidak pernah terjadi.

22
Prof. Bagir menjawab, situasi yang dihadapi mahkamah pada
saat ini serba salah, publik nyaris tidak berpihak kepadanya. Satu-
satunya jalan penyelesaian adalah menunjukkan kepada publik
bahwa dirinya bersih dan tiada bersalah. Prof. Bagir (dan teman-
teman) bagai induk macan melindungi mahkamah seraya memasang
badan. He is really the crusading justice. Ia berada di garis terdepan!
Kelak hasil penyelidikan menunjukkan bahwa Prof. Bagir
Manan tidak menerima suap.
Harini dan terdakwa-terdakwa lainnya dijatuhi pidana penjara
selama beberapa tahun.

Prof. Bagir Manan Terpilih Kembali Sebagai Ketua Mahkamah


Agung
Setelah Prof. Bagir Manan melaksanakan tugas sebagai Ketua
Mahkamah Agung RI selama 5 tahun, pada tanggal 2 Mei 2006,
berlangsung rapat paripurna pemilihan Ketua Mahkamah Agung RI.
Berdasarkan ketentuan Pasal 8 ayat (4) Undang-Undang Nomor 5
Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14
Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI, Ketua dan Wakil Ketua
Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim agung dan diangkat
oleh Presiden. Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004
menetapkan Pimpinan Mahkamah Agung terdiri atas 1 (satu) orang
Ketua, 2 (dua) orang Wakil Ketua dan beberapa orang Ketua Muda.
Pemilihan yang berlangsung secara bebas, langsung dan rahasia,
berhasil memilih Prof. Bagir Manan sebagai Ketua Mahkamah Agung
dengan memperoleh 44 suara, yakni seluruh hakim agung di kala itu.
Hasil pemilihan dinyatakan dalam Keputusan Panitia Pemilihan
Ketua Mahkamah Agung RI Nomor SK/01/PPKMA/V/2006,
tanggal 2 Mei 2006 tentang Pengesahan Hasil Pemilihan Ketua
Mahkamah Agung RI.
Terpilihnya kembali Prof. Bagir Manan selaku Ketua Mahkamah
Agung sempat mengundang reaksi, menuding Prof. Bagir
memperpanjang sendiri masa jabatan ketuanya. Hal dimaksud tidak
benar. Semua SK yang dikeluarkan, berdasarkan pemilihan itu,
merupakan beschikkingen yang absah, dan tidak bercacat hukum (geen
juridische gebreken) menurut hukum administrasi. Terpilihnya Prof.

23
memperpanjang sendiri masa jabatan ketuanya. Hal dimaksud tidak
benar. Semua SK yang dikeluarkan, berdasarkan pemilihan itu,
merupakan beschikkingen yang absah, dan tidak bercacat hukum (geen
juridische gebreken) menurut hukum administrasi. Terpilihnya Prof.
Bagir Manan kembali, menunjukkan kepemimpinannya selama ini
mendapat dukungan dari semua hakim agung.
Dalam Laporan Tahunan Mahkamah Agung RI Tahun 2007,
dikemukakan bahwa selama tahun 2006, telah dijatuhkan hukuman
disiplin terhadap 51 personil, termasuk 15 orong hakim.

Catatan Akhir
Di kala saya bersama Prof. Bagir di Utrecht, Nederland pada
tahun 1989, kami acapkali minum kopi ('een kople koffie') di sebuah
kedai kecil, di tempat yang agak berbukit, tidak jauh dari gedung
afdeling administratiefrecht, Rijksuniversiteit Utrecht. Pemiliknya
seorang nyonya tua yang amat ramah pada kami.
Beberapa tahun kemudian, saya datang lagi ke kedai kecil
langganan kami itu. Saya beritahu, bahwa /... uw gast is flu de
voorzichter van onze hoge raad'. Tamu nyonya kini ketua Mahkamah
Agung di negeri kami. Matanya berkaca-kaca, penuh keharuan. 'Oh,
mudah-mudahan, suatu ketika kami masih dapat bertemu', katanya.
Prof. Bagir tidak sempat lagi ke kedai kecil itu. Menunggu Prof. Bagir
yang amat sibuk bagai menunggu datangnya sang Godot yang tak
kunjung datang.
Prof. Bagir, sahabatku, sebentar lagi Anda memasuki masa
purnabhakti, menikmati kemerdekaan seperti saya. Wij zijn al oud
geioorden, tinggal menimang-nimang dan membelai cucu-cucu.
Namun sejarah peradilan di negeri ini tidak bakal melupakan anda.
Anda tidak bakal pensiun dalam kenangan para hakim.

24
P A R A D IG M A B A R U P E R A D IL A N A G A M A
D A L A M ER A B A G IR M A N A N
Oleh:
Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, SH.*

Usaha memperkuat prinsip kekuasaan kehakiman yang


merdeka sesuai dengan tuntutan reformasi di bidang hukum, perlu
mendapat jaminan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang
merdeka, bebas dari pengaruh kekuasaan lainnya untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan. Bahwa kekuasaan kehakiman pada saat prinsip tadi
hendak diperkuat, masih berlaku UU No. 14 Tahun 1970 yang
mengatur ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Merespon usaha
tersebut, politik hukum nasional melakukan perubahan terhadap UU
No. 14 Tahun 1970 tersebut dengan diterbitkannya UU No. 35 Tahun
1999.
UU No. 35 Tahun 1999 menetapkan satu garis politik hukum
mengenai kekuasaan kehakiman, bahwa pembinaan badan peradilan
umum, badan peradilan agama, badan peradilan militer dan badan
peradilan tata usaha negara berada dibawah Mahkamah Agung,
yang kadang-kadang disebut dengan politik satu atap.
Satu catatan penting dari rangkaian politik satu atap itu ialah bahwa
mengingat sejarah panjang perkembangan peradilan agama yang
sangat spesifik ketika dikaitkan dengan sistem peradilan nasional,
politik satu atap sepanjang berkaitan dengan pembinaan peradilan
dilakukan dengan memperhatikan saran dan pendapat Menteri
Agama dan Majelis Ulama Indonesia. Catatan itu pada dasarnya
menggambarkan bahwa pelaksanaan tugas pokok pengadilan dalam
lingkungan peradilan agama tidak semata untuk memenuhi tuntutan
sistem peradilan nasional, semata berkaitan penyelesaian
permasalahan hukum dalam ranah hubungan manusia dengan
manusia. Akan tetapi yang lebih penting adalah bahwa pelaksanaan
tugas pokoknya harus berkait dengan pertanggungjawaban secara

*
Hakim Agung Republik Indonesia.

25
langsung kepada Allah SWT. Dengan demikian bahwa persoalan
yang melingkupi peradilan agama bukanlah persoalan yuridis
semata, tetapi juga persoalan religiusitas yang bersifat ilahiyah yang
berpangkal pada persoalan imaniyah dan ubudiyah. Dapat dikatakan
bahwa persoalan ubudiyah dapat dilakukan oleh semua lingkungan
peradilan, dan secara spesifik persoalan imaniyah dimungkinkan
untuk dikatakan berkoherensi dengan pelaksanaan tugas peradilan
agama. Persoalan ini juga yang mendasari dan saya katakan
paradigma hukum perjuangan para penegak peradilan agama pada
masa kolonial yang selanjutnya adalah paradigma perjuangan
sehingga seakan-akan ditempatkan peradilan agama sebagai tempat
dan/atau alat perjuangan penegakan hukum Islam. Konstatasi itu
pulalah yang secara hipotetik pengadilan agama kadang-kadang
dominan dipandang masyarakat Islam sebagai kantor agama karena
selalu berurusan dengan perkara yang dilandaskan penyelesaiannya
dengan prinsip dan hukum Syari'at Islam. Hal itu sebagai kantor
agama diperkuat oleh realitas empirik ketika pembinaan peradilan
agama berada dibawah Departemen Agama.
Kembali kepada rangkaian hikmah dan pelaksanaan politik satu
atap, Mahkamah Agung secara konseptual memahami secara tepat
bagaimana merubah paradigma kantor agama. Sebelum dilanjutkan
perlu juga dikonstatasikan sekilas bagaimana wajah paradigma
kantor agama agar dapat dilihat secara jelas perbedaan paradigma
kantor agama dengan penerapan politik satu atap. Pada awal
pembicaraan mengenai politik satu atap, terdapat keraguan yang
kuat mengenai eksistensi peradilan dalam ranah satu atap, ketika
dikaitkan dengan persoalan religiusitas yang bersifat ilahiyah dengan
pangkal pada persoalan imaniyah dan ubudiyah. Keraguan itu
terletak pada pertanyaan apakah peradilan agama akan dibawa
kedalam arena sekularistik atas dasar pemikiran hipotetik dimana
arena sekularistik itu menjadi tempat bermukimnya peradilan
keduniaan semata seperti peradilan umum, peradilan militer dan
peradilan tata usaha negara.
Mungkin pemikiran itu wajar saja. Akan tetapi ketika dilihat dari segi
penampilan dalam kasat mata, dapat dilihat bahwa peradilan agama
dengan karakteristik dan spesifikasi seperti tadi, secara empirik

26
dulunya: (1) ada yang berkantor di serambi masjid sehingga
dikatakan pengadilan surambi, (2) jika tidak, kantornya selalu
dipinggir jalan kedi atau dipojok jalan dan jarang ada yang jalan
utama, dengan gedung kantor yang serba pas-pasan dan bangunan
kedi, (3) di antara hakimnya dalam berbagai kesempatan menghadiri
undangan kadang-kadang selalu memilih duduk di kursi barisan
belakang, (4) banyak juga yang masih memakai sarung dalam
menghadiri acara resmi, (5) dijumpai adanya hakim honorer/hakim
tidak tetap - bukan hakim ad hoc - pada Pengadilan Agama atau
pengadilan tingkat bandingnya.
Setelah politik satu atap berjalan efektif, mulai dilakukan
pembinaan secara saksama dengan dukungan anggaran
pembangunan yang memadai, sehingga pembinaan administrasi,
finansial dan organisasi dilakukan. Konseptual pembangunan
gedung kantor pengadilan dilakukan dengan standarisasi bentuk
dan tipe gedung pengadilan sehingga dapat dijumpai bahwa gedung
kantor pengadilan agama seperti halnya pengadilan negeri kadang
kadang menjadi gedung yang termegah dan terbaik di wilayah
kabupaten atau kotamadya tertentu, suatu perubahan yang mengitari
derajat seratus dibanding dengan gedung sebelumnya. Keadaan itu
turut berpengaruh pada pola penampilan hakim dan karyawan
lainnya, kebersihannya, kesadaran untuk gedung bersih dan tampil
rapi ketika berkantor dan lain-lain implikasi yang diperoleh. Satu hal
penting lainnya yang perlu dicatat, bahwa dengan penerapan politik
satu atap, pengadilan dalam lingkungan peradilan agama berada
dalam satu pembinaan yang secara tidak langsung membangun
sikap atau pandangan yang menyetarakan dengan pengadilan dalam
lingkungan badan peradilan yang lain. Para hakimnya telah dapat
dengan persepsi yang sama sebagai hakim negara telah dengan
penuh percaya diri duduk berdampingan dengan hakim dari
lingkungan peradilan yang lain. Masih banyak lagi implikasi yang
tumbuh dan berkembang sebagai hikmah dari politik hukum negara
dalam soal politik satu atap pada Mahkamah Agung Republik
Indonesia.
Lahirnya UU No. 3 Tahun 2006 yang merubah UU No. 7 Tahun
1989 tentang Peradilan Agama telah membawa perubahan

27
institusional peradilan agama. Tidak heran apabila dikatakan oleh
kalangan bahwa peradilan agama adalah tidak lain dan pengadilan
keluarga, karena kompetensinya memang sekitar persoalan atau
sengketa mengenai hukum keluarga. Peradilan agama yang
dilekatkan dengan paradigma pengadilan keluarga telah diubah
dengan penambahan kompetensi yang meliputi sengketa ekonomi
syari'ah yang melingkupi kegiatan usaha yang dilakukan
berdasarkan prinsip syari'ah. Adalah menjadi kenyataan normatif
bahwa di samping kompetensi sebagaimana yang yang diatur di
dalam UU No. 3 Tahun 2006 di atas, juga sebagaimana yang diatur
oleh UU No. 9 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syari'ah Negara,
dan UU No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syari'ah. Ketentuan
demikian maka sengketa yang dilingkupi oleh pengertian ekonomi
syari'ah menjadi dasar pemikiran mengapa paradigma baru telah
menyelimuti peradilan agama.
Secara yuridis, dapat dikatakan bahwa telah terjadi perubahan
dari paradigma pengadilan keluarga menuju dan telah sampai pada
paradigma pengadilan niaga syari’ah. Paradigma ini tidak begitu perlu
untuk dikembangkan dalam tataran normatif, dan sudah cukup pada
tataran yuridis atau pada tataran legalistik. Untuk menjadi pengadilan
niaga syari’ah dibutuhkan amandemen satu pasal dan UU Kepailitan
agar menjadikan pengadilan itu berada pada tataran legistik. Menurut
pandangan saya tidak cukup perlu untuk dilakukan, karena dilihat dari
segi hukum formil yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan
peradilan agama sudah secara legistik berlaku hukum acara yang
berlaku pada pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. Catatan
penting adalah bahwa paradigma baru peradilan agama pada
sekarang ini secara legalistik dengan berlandaskan makna yuridis
dan ketentuan hukum yang mengatur kompetensi pengadilan dalam
lingkungan peradilan agama, cukup berlasan memiliki paradigma
baru yaitu pengadilan niaga syari'ah. Ia adalah pengadilan keluarga
dan pada saat yang bersamaan adalah juga pengadilan niaga
syari'ah.
Sebenarnya soal paradigma baru itu, tidak perlu dikemukakan
disini, dan mungkin sedikit manfaatnya dengan tidak berarti banyak
mudharatnya. Akan tetapi satu hal yang perlu dicatat dan manfaat

28
pengungkapan ini yaitu kalau ditarik garis lurus dari awal lahirnya
paradigma perjuangan pada peradilan agama seperti yang diuraikan
di atas tadi, menuju paradigma niaga syari'ah, akan memberikan
makna lain dan apa yang diperjuangkan oleh political performance
yang dilakukan oleh gerakan politik dalam pengalaman politik
nasional, terutama dalam kaitannya dengan kehendak perubahan
lafaz Pasal 29 UUD. Melihat pengalaman politik hukum nasional
yang berkembang pada sepuluh tahun terakhir, akan menunjukkan
betapa gerakan politik yang demikian hanya merupakan untaian
politik yang menghias political performance dan tidak substantial.
Adalah menjadi satu topik pengkajian dan penelitian yang
mendalam apabila studi hukum melirik fenomena demikian tadi.
Demikian juga menjadi catatan dalam sejarah pertumbuhan
paradigma peradilan agama, bahwa memang paradigma baru,
paradigma pengadilan niaga syari'ah disamping paradigma
pengadilan keluarga menjadi kebanggaan tersendiri tatkala itu dapat
dipahami sebagai kenyataan dalam masa sepuluh tahun terakhir.
Mungkin Allah Tuhan Yang Maha Kuasa telah mencatat bahwa
sesuai dengan norma ideal yang terkandung di dalam Pasal 55 ayat
(3) UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari'ah, sehingga'
Mahkamah Agung menempatkan paradigma baru tadi sebagai
kebutuhan yuridis yang legistik sesuai dengan ketentuan hukum di
atas dengan memberikan arahan amaliyah yang legalistik melalui
Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 02 Tahun
2008 Tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah yang
ditandatangani oleh Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Ketulusan dan keihklasan Bagir Manan selama melaksanakan tugas
dan tanggung jawab jabatan hingga lahirnya amaliyah tadi semoga
akan mengantarkan seluruh kiprahnya menjadi amal bhakti kepada
bangsa dan negara, dan amal ibadah kepada Allah yang Maha Kuasa.
Amin Ya Rabbal alamin. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

29
KESAN DAN PESA N
O leh :
H. Dirwoto, SH.*

Beberapa waktu lalu, ketika saya menerima dan membaca


edaran surat yang isinya, antara lain kepada Hakim-hakim Agung
agar dapat menuliskan kesan-kesan selama berkumpul bersama
Bapak Ketua Mahkamah Agung, Bapak Bagir Manan, sejenak saya
merenung, dari mana saya akan memulainya. Karena sebelum
berkarir di Gedung MA, ketika masih bertugas di daerah Jogyakarta
saya bertemu beliau, saya mengenal, mengagumi dan selalu terkesan
dengan tulisan, ceramah ataupun berupa sambutan, dalam setiap kali
diadakan pertemuan dimana ada kehadiran beliau.
Setiap kali berbicara beliau selalu menyampaikan dengan kata-
kata yang santun dan penuh makna, membuat kita selalu senang
mendengarkannya.
Seakan waktu berjalan begitu cepat, sekitar tahun 2003, saya
mendapat kehormatan diberi kesempatan oleh yang Maha Kuasa
untuk mengemban tugas sebagai Hakim Agung. Maka sejak tahun
2003, sayapun berkantor di Mahkamah Agung RI. dengan pimpinan,
Bapak Bagir manan.
Selama bertugas di Mahkamah agung ini, saya merasa semakin
dekat dengan Bapak Ketua, hal ini saya rasakan ketika diajak dalam
perjalanan dinas ke Banjarmasin dan Bengkulu bersama beliau.
Selama dalam perjalanan, Bapak Ketua selalu saja dapat
menghangatkan suasana dengan membicarakan topik-topik yang
sedang hangat di masyarakat, meskipun pada intinya serius, namun
selalu diselingi dengan canda dan tawa yang menyenangkan sampai-
sampai tak terasa kita sudah sampai ke tempat tujuan.
Bapak ketua selalu menyapa rombongan untuk hal-hal yang
kecil, seperti "Bagaimana khabarnya, apakah baik semua ?. Di sini

’ Hakim Agung Republik Indonesia.

31
saya merasakan kesan yang mendalam, betapa beliau menunjukkan
sebagai seorang Bapak. Bapak yang memperhatikan anak-anaknya.
Begitu pula ketika saya bersama dengan Bapak Ketua ke
Bengkulu untuk acara peresmian Gedung pengadilan. Beliau
memperkenalkan saya kepada Muspida, dimana beberapa waktu
yang silam, saya pernah bertugas sebagai KPT di Bengkulu.
Hari-hari yang dijalani bersama dengan Bapak Ketua adalah
waktu bersidang. Meskipun perkara yang sedang diperiksa, suatu
hal yang perlu perhatian serius, namun ketika bermusyawarah,
Bapak Ketua selalu memimpin tidak emosionil dan berwibawa,
beliau adalah seorang yang berkarakter kuat. Saya salut dengan
keteguhan hatinya.
Seandainya saja waktu bisa di putar ulang, saya akan berusaha
mengikuti jejaknya untuk perbaikan bangsa tercinta ini, karena
walau telah usia lanjut, ia selalu bersemangat menjalankan
aktivitasnya.
Beliaupun telah menorehkan namanya dengan tinta emas pada
catatan sejarah sebagai Ketua Mahkamah Agung yang arif lagi
bijaksana.
Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, tak ada
pesta yang tak usai, maka saya pada kesempatan ini dengan sepuluh
jemari memohon maaf atas kekhilafan dan terima kasih atas hari-hari
yang telah kita jalani bersama Bapak Ketua.

32
B E B E R A P A C A T A T A N K E C IL T E N T A N G FIG U R
PR O F. D R . B A G IR M A N A N , SH , M C L D IM A T A
SEO RA N G BA W A H A N
Oleh:
Abbas Said, SH.*

Pertama kali saya mengenal Beliau, ketika kami Hakim Tinggi


Jakarta diundang oleh Gubernur DKI di Ancol pada tahun 2000
dalam rangka acara makan malam bersama dan juga dihadiri oleh
beberapa Hakim Agung. Tanpa terasa 8 tahun telah berlalu dan saya
pun sudah mulai mengenal Beliau lebih dekat sebagai seorang
atasan.
Bapak Prof. Dr. Bagir Manan SH, MCL adalah seorang
pemimpin yang demokrat, cakap dalam berfikir, cendekiawan/
terpelajar, tawadhu, dan tidak tinggi hati. Semakin terasa pada diri
saya dan keluarga ketika saya menikahkan putri saya di Jambi,
Beliau berkenan untuk menghadirinya dan sekaligus menjadi saksi
dalam acara yang sangat berbahagia tersebut. Setelah saya amati,
nampaknya Beliau senang meluangkan waktunya untuk datang pada
acara suka maupun duka. Apabila Beliau diundang, dan tidak ada
halangan, Insya Allah Beliau akan meluangkan waktu untuk hadir.
Beliau dalam hal seperti tersebut diatas tidak pernah membeda-
bedakan apakah keluarga Hakim Agung ataupun keluarga para
hakim dan Panitera. Rasa Keakraban, kekeluargaan, dan keseder­
hanaan yang Beliau nampakkan, tidaklah menurunkan rasa hormat
seorang bawahan terhadap Beliau sebagai seorang atasan, malah
sebaliknya Beliau mendapatkan respek dari bawahannya. Dalam
acara makan bersama, disetiap kesempatan baik dikantor maupun
diluar, Beliau selalu menyempatkan diri berpindah-pindah tempat
duduk sambil bergabung dengan siapa saja, untuk bertukar
informasi dan bercanda walaupun Beliau sudah disediakan tempat
khusus.

*
Hakim Agung Republik Indonesia.

33
Begitu pula pengamatan saya Sebagai seorang muslim, bapak
Bagir Manan sangat taat menjalankan agamanya. Sehingga rasa
humanismenya (kemanusiaannya) dapat dirasakan oleh setiap orang.
Beliau Selalu bersedia mendengarkan pandangan-pandangan orang.
Selalu memberi kesempatan pada orang untuk memberikan
pandangan dan pendapatnya, begitu juga dalam mengambil
keputusan nampak bahwa beliau seorang yang demokrat. Dalam
persidangan Beliau tidak pernah memaksakan kehendaknya. Dalam
keseharian, Beliau tidak pernah menunjukkan sikap keangkuhan
yang biasa dimiliki seorang pemimpin. Dimana dalam sambutan
pada setiap acara, maupun dalam tulisannya selalu menampakkan
kepakarannya yang sungguh luar biasa. Beliau adalah seorang
cendekiawan yang arif, bijaksana dan santun dalam tutur bahasanya.
Pada acara-acara tertentu, apakah pada saat sidang pleno, atau pada
acara rapat-rapat yang lainnya, lazimnya kami para bawahan yang
terlebih dahulu mendatangi para pemimpin untuk berjabatan tangan,
namun untuk Beliau malah sebaliknya, Beliaulah yang terlebih
dahulu mendatangi kami satu persatu diiringi canda dan senyum
khasnya.
Demikian pula pada setiap sholat jumat yang dilaksanakan
dikantor, Beliau selalu mengambil posisi pada saf kedua atau ketiga
pada ujung sebelah selatan. Namun sejak tahun 2007 Beliau telah
pindah posisi pada saf kedua ketiga sebelah utara dekat tangga,
dengan menggunakan pakaian khas baju koko dan kain sarung.
Adalagi hal yang luar biasa yang ada pada diri Beliau. Walaupun
Beliau diguncang, dihujat, dicaci maki dikoran dan dimedia TV,
seperti dibedah editorial di Metro TV, malah pada akhir masa
jabatannya ini semakin bertambah lagi, kita yang membaca atau
mendengarkan cercaan, hujatan dan sebagainya, sungguh-sungguh
merasa sangat geram dan sakit hati karena sangat jauh dari
kenyataan, namun Beliau sangat tabah dan sabar menerimanya
dengan ikhlas, malahan Beliau mendoakan semoga mereka
mendapat petunjuk dari Allah SWT. Mungkin banyak diantara
mereka yang berkomentar tetapi hanya mengenal dari luar sosok
pribadi Bagir Manan. Seandainya mereka dapat mengenal lebih
dekat sosok pribadi seorang Bagir Manan secara utuh, saya yakin

34
mereka akan memberikan pendapat yang lebih sesuai dengan
kenyataan.
Dalam setiap kesempatan, Beliau tiada henti-hentinya selalu
mengajak warga pengadilan untuk mengembalikan citra, wibawa
dan kehormatan Lembaga Peradilan. Beliau selalu mengajak orang-
orang untuk memperbaiki diri dengan memiliki integritas moral
yang tinggi sebagai wanga Peradilan. Sehingga saya berkesimpulan
bahwa Beliau sudah terhindar dari apa yang disinyalir Tuhan dalam
Firmannya:
" K a b u r a m a k t a n I n d a lla h i a n ta k u lu m a la a t a f a l u u n "

Yang maknanya:
''Sangat besar murka Allah SWT pada orang yang pandai
berbicara/menasehati orang lain, tetapi dia sendiri tidak melaksanakan
apa yang disampaikannya" (satunya kata dalam perbuatan).

Bagir Manan, adalah seorang pemimpin yang tawadhu, tidak


tinggi hati, selalu ikhlas, dan istiqomah dalam pendiriannya. Sosok
seperti ini, sangat sulit untuk ditemukan.
Oleh karena itu didalam hati, saya tetap selalu berdoa semoga
bapak Bagir Manan dan keluarga selalu dalam lindungan dan
mendapatkan Ridho dari Allah SWT, Amin Ya Rabbal Alamin....

35
K O N T R IB U S I P R O F. D R . B A G IR M A N A N , S .H ., M C L
DALAM PEN G EM BA N G A N K ELEM BA G A A N
M A H K A M A H A G U N G RI
O leh :

Drs. H. Muhammad Rum Nessa, SH.MH.*

Muqoddimah
Seiring dengan bergulirnya r e f o r m a s i di segala bidang
kehidupan di Indoensia, pada tahun 2004 dalam bidang yudikatif
tejadi m o n u m en ta l history. Monumental history ditandai dengan di
Undangkannya Undang-undang Nomor 35 tahun 1999 tentang
Perubahan atas Undang-undang Nomor 14 tahun 1970 tentang
Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman memberikan dasar hukum
atas bertambahnya kewenangan dan tanggungjawab Mahkamah
Agung. Sesuai Undang-undang tersebut, disamping Mahkamah
Agung RI melakukan pembinaan secara organisatoris, administratif
dan finansial terhadap empat lingkungan peradilan, yang selama ini
berada dalam pembinaan Departemen Kehakiman, Departemen
Agama dan Departemen Pertahanan, juga mempunyai tugas
pembinaan bidang tehnis yustisial, selanjutnya dikenal dengan
s is t e m p e r a d i l a n s a t u a t a p (o n e r o o f s y s t e m ) d i b a w a h M a h k a m a h
A gung.
Atas dasar itulah dilakukan a m a nd em en terhadap beberapa
perundang-undangan seperti Undang-undang Nomor 5 tahun 2004
tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 14 tahun 1985
tentang Mahkamah Agung Undang-undang Nomor 4 tahun 2004
tentang Kekuasaaan kehakiman, Undang-undang Nomor 8 tahun
2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 tahun 1986
tentang Peradilan Umum dan Undang-undang Nomor 9 tahun 2004
tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 5 tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Sekretaris Mahkamah Agung RI

37
Kemudian terbitlah Keputusan Presiden Nomor 21 tahun 2004
tentang pengalihan organisasi, administrasi dan finansial di
lingkungan Peradilan umum, Peradilan Agama dan Peradilan Tata
Usaha Negara ke Mahkamah Agung dan Keputusan Presiden Nomor
56 tahun 2004 tentang pengalihan organisasi, administrasi dan
finansial Peradilan Militer dari Markas Besar Tentara Nasional
Indonesia ke Mahkamah Agung.
Sebagai konsekuensi logis dari perubahan tersebut, Mahkamah
Agung RI melakukan pengem bangan/restrukturisasi organisasi
M ahkam ah Agung menyesuaikan dengan beban tugas yang semakin
berat dan luas namun mulia. Dalam bidang administratif, Mahkamah
Agung RI harus melakukan pembinaan antara lain, bidang
kepegawaian; baik tenaga tehnis maupun non tehnis, pakaian dinas
pegawai peradilan, stempel, logo, pembentukan pengadilan baru dan
lainnya. Dalam bidang finansial/anggaran, MA menyusun anggaran
untuk kegiatan MA sendiri dan anggaran bagi kegiatan ke-empat
lingkungan peradilan di seluruh Indonesia, sesuai dengan amanat
Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Sesungguhnya sistem peradilan satu atap telah membawa
perubahan yang signifikan dalam tubuh MA dan empat lingkungan
peradilan khususnya dalam bidang organisasi, finansial dan
administratif. Perubahan tersebut pada pokoknya yaitu :

I. Bidang organisasi
A. Struktur organisasi MA sebelum satu atap
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang
Mahkamah Agung susunan MA terdiri atas :
1. Pimpinan
• Ketua Mahkamah Agung RI
• Wakil Ketua Mahkamah Agung RI
• Ketua Muda Mahkamah Agung RI yang terdiri dari:
• Ketua Muda Mahkamah Agung Hukum Perdata
Tertulis
• Ketua Muda Bidang Hukum Pidana Umum
• Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Agama

38
• Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Tata Usaha
Negara
• Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Militer
• Ketua Muda Bidang Pembinaan dan Pengawasan
2. Hakim Agung
3. Pejabat Eselon I
• Panitera/Sekretaris Jenderal
• Wakil Panitera
• Wakil Sekretaris Jenderal
Berdasarkan Keppres Nomor 75 Tahun 1985 tentang
Organisasi Kepaniteraan Sekretariat Jenderal Mahkamah
Agung RI ditindaklanjuti dengan Keputusan Panitera/
Sekretaris Jenderal Mahkamah Agung No. MA/PANSEK/
02/SK/Tahun 1986 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kepaniteraan/Sekretariat Jenderal Mahkamah Agung RI.

Dalam perjalanannya dirubah sesuai kebutuhan dengan


Keputusan Panitera/Sekretaris Jenderal Mahkamah Agung No.
MA/PANSEK/007/SK/IV/Tahun 2001 tentang Perubahan atas
Keputusan Panitera/Sekretaris Jenderal Mahkamah Agung RI
No. MA/PANSEK/02/SK/Tahun 1986 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kepaniteraan/Sekretariat Jenderal Mahkamah
Agung RI yang menyebutkan :
Panitera/Sekretaris Jenderal membawahi:
• Direktorat Perdata
• Direktorat Perdata Agama
• Direktorat Perdata Niaga
• Direktorat Tata Usaha Negara
• Direktorat Pidana
• Direktorat Tata Usaha Negara
• Direktorat Pidana
• Direktorat Pidana Militer dan Tata Usaha Militer
• Direktorat Hukum dan Peradilan
• Biro Perencanaan dan Organisasi
• Biro Umum

■39
• Biro Keuangan
• Biro Kepegawaian
• Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai
• Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan
• Kelompok fungsional terdiri dari:
• Tenaga ahli
• Hakim Yustisial

Struktur Organisasi Mahkamah Agung pasca satu atap


Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 tahun 2004 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang
Mahkamah Agung disebutkan Struktur organisasi Mahkamah
Agung terdiri atas :
• Ketua Mahkamah Agung dibantu dua orang Wakil Ketua
yaitu Wakil Ketua Bidang Yudisial dan Wakil Ketua Bidang
Non Yudisial. Wakil Ketua Bidang Yudisial memberikan
saran pertimbangan kepada Ketua Mahkamah Agung
dalam rangka penyelesaian masalah yang menyangkut
yudisial karenanya membawahi Ketua Muda Perdata,
Ketua Muda Perdata Niaga, Ketua Muda Pidana, Ketua
Muda Pidana khusus, Ketua Muda Militer, Ketua Muda
Agama, Ketua Muda Tata Usaha Negara.
• Wakil Ketua Non Yudisial memberikan saran pertimbangan
kepada Ketua Mahkamah Agung dalam rangka
penyelesaian masalah yang menyangkut bidang non
yudisial, karenanya membawahi Ketua Muda Bidang
Pengawasan dan Ketua Muda Bidang Pembinaan.
• Selanjutnya Ketua Mahkamah Agung membawahi
langsung Sekretariat Mahkamah Agung yang dipimpin oleh
Sekretaris (Pejabat Eselon Ia) dan Kepaniteraan Mahkamah
Agung yang dipimpin oleh seorang Panitera (Pejabat
fungsional setingkat Ia).

Sekretariat dan Kepaniteraan Mahkamah Agung diatur lebih


lanjut dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 13 tahun
2005 tentang Sekretariat Mahkamah Agung dan Peraturan
Presiden No 14 tahun 2005 tentang Kepaniteraan Mahkamah
Agung. Selanjutnya ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya
Keputusan Ketua Mahkamah Agung No. KMA/018/SK/
III/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepaniteraan
Mahkamah Agung dan Keputusan Sekretaris Mahkamah Agung
No MA/SEK/0 7 / S K / m / 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Sekretariat Mahkamah Agung mempunyai tugas membantu
Ketua Mahkamah Agung dalam menyelenggarakan koordinasi
dan pembinaan dukungan tehnis, administrasi organisasi dan
finansial kepada seluruh unsure di lingkungan Mahkamah
Agung dan Pengadilan di semua lingkungan peradilan.
S e k r e t a r i a t M a h k a m a h A g u n g t e r d ir i d a r i :
• Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum
• Direktorat Jenderal Badan Peradilan Militer dan Peradilan
Tata Usaha Negara
• Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama
• Badan Pengawasan
• Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan
Pelatihan dan Hukum dan Peradilan
• Badan Urusan Administrasi (s t r u k t u r o r g a n i s a s i n y a
le n g k a p t e r la m p ir )

Kepaniteraan Mahkamah Agung mempunyai tugas


melaksanakan pemberian dukungan di bidang tehnis dan
administrasi justisial kepada Majelis Hakim Agung dalam
memeriksa, mengadili dan memutus perkara, serta
melaksanakan administrasi penyelesaian putusan
Mahkamah Agung.
Kepaniteraan Mahkamah Agung terdiri atas Sekretariat
Kepaniteraan, Para Panitera Muda, Panitera Pengganti dan
Kelompok Jabatan Fungsional, (struktur organisasi lengkap
terlampir)

41
I I . Bidang Anggaran
A. Sebelum Satu Atap
A n g g a r a n y a n g d it e r im a M a h k a m a h A g u n g p a d a t a h u n 2 0 0 4
(belum mencakup anggaran untuk peradilan di bawahnya) sebesar
Rp 153.928.539.000,- terdiri atas :
Anggaran rutin sebesar Rp 58.022.070.000,-
Anggaran Pembangunan Rp 95.926.469.000,-

B. Setelah sistem peradilan satu atap


I. Anggaran Mahkamah Agung sebesar tahun 2005 Rp.
1.208.417.200.000,- (Satu triliun dua ratus delapan milyar empat
ratus tujuh belas juta dua ratus ribu rupiah) Bila dibandingkan
dengan anggaran Mahkamah Agung tahun 2004 terdapat
kenaikan 87,26 sebesar Rp.1.054.488.661.000.
Diakoalisasi kedalam program-program sebagai berikut:
a. Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan
Kepemerintahan Rp.70.702.660.000
b. Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur
Rp. 9.677.036.000,-
c. Program Perencanaan Hukum Rp. 5.000.000.000,-
d. Program Pembinaan dan Pengembangan Hukum dan
HAM Rp. 535.685.549.000,-
e. Program Pelayanan dan Bantuan hukum
Rp.250.000.000,-
f. Program Penegagkan Hukum dan IIAM
Rp.9.077.347.000,-
g. Program Profesi hukum Rp. 15.667.595.000,-
h. Program Pembinaan Sarana dan Prasarana Hukum
Rp.219.065.689.000,-
i. Program Pembinaan Peradilan Rp. 330.291.324.000,-
j. Program penguatan kelembagaan pengarustamaan
gender dan anak. Rp. 1.000.000.000,-

II. sesuai Undang-


A n g g a ra n M a h k a m a h A g u n g ta h u n 2 0 0 6
undang Nomor 13 tahun 2005 tentang APBN tahun 2006

42
sebesar Rp. 2.202.196.000.000,- (bila dibandingkan dengan
anggaran Mahkamah Agung tahun 2005 terdapat kenaikan
45,69 % sebesar Rp 1.006.221.200.000,-
Dialokasikan ke dalam program-program sebagai berikut:
a. Program Penyelenggraan Pimpinan Kenegaraan dan
Kepemerintahan Rp. 133.124.030.000,-
b. Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur
Rp. 4.877.622.000,-
c. Program Perencanaan Hukum Rp. 7.982.685.000,-
d. Program Pembentukan Hukum Rp. 3.788.970.000,-
e. Program Peningkatan Kinerja Lembaga Peradilan dan
Lembaga Penegakan Hukum lainnya
Rp.2.007.413.269.000,-
f. Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan HAM.
Rp. 19.300.942.000,-
g. Program Peningkatan Pelayanan dan Bantuan Hukum
Rp. 1.775.650.000,-
h. Program Peningkatan Kinerja Lembaga Peradilan dan
Lembaga Penegak Hukum Lainnya. Rp. 4.937.952.000,-
i. Program Penegakan Hukum dan HAM Rp.
17.994880.000,-
j. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan
Gender dan Anak Rp. 1.000.000.000,-

3. Anggaran M ahkam ah Agung tahun 2007 sesuai dengan


Undang-undang Nomor 18 tahun 2006 tentang APBN 2007
sebesar Rp 3.091.726.309.000 (bila dibandingkan dengan
anggaran Mahkamah Agung Tahun 2006 terdapat kenaikan
28,77% sebesar Rp 889.530.309.000).

4. Anggaran Mahkamah Agung tahun 2008 sebesar


Rp. 6.454.081.211.000,- (bila dibandingkan dengan
anggaran Mahkamah Agung tahun 2007 terdapat kenaikan.
52,.09%. Sebesar Rp.3.362.354.902.000,-, kenaikan yang
signifikan ini karena adanya tunjangan kinerja/ remunerasi

43
bagi pegawai dilingkungan Mahkamah Agung sebesar
Rp. 3.002.600.000,-).
Dialokasikan kedalam program-program sebagai berikut :
(program I - II)
a. Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas
Aparatur Negara........................ Rp 5.000.000.000,-
b. Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia
Aparatur...................................... Rp 7.291.000.000,-
c. Program Perencanaan Hukum.. Rp 15.000.000.000,-
d. Program Pembentukan Hukum Rp 3.000.000.000,-
e. Program Peningkatan Kesadaran
Hukum dan HAM................... Rp 2.000.000.000,-
f. Program Peningkatan Pelayanan dan
Bantuan Hukum...................... Rp 5.000.000.000,-
g. Program Peningkatan Kinerja Lembaga
Peradilan Dan Lembaga Penegakan
Hukum Lainnya...................... Rp 1.132.111.100.000,-
h. Program Penegakan Hukum dan
H AM ......................................... Rp 22.000.000.000,-
i. Program Peningkatan Kualitas
Profesi Hukum......................... Rp 12.000.000.000,-
j. Program Penguatan Kelembagaan
Pengarusutamaan Gender dan
Anak.......................................... Rp 1.000.000.000,-
k. Program Penyelenggaraan
Pimpinan Kenegaraan dan
Kepemerintahan....................... Rp 1.887.324.209.000,-

Anggaran Mahkamah Agung tahun 2009 berdasarkan Surat


Edaran Menteri Keuangan RI Nomor SE-852/MK02/2008
Tentang Pagu Sementara Kementrian Negara/lembaga tahun
2009 Rp. 5.694.984.640.000,- (bila dibandingkan dengan anggaran
tahun 2008 terdapat penurunan anggaran 11,76% sebesar Rp.
759.096.511.000,-, penurunan ini karena adanya pengurangan
alokasi tunjangan khusus kinerja/ remunerasi dari anggaran
yang telah dianggarkan tahun 2008).
Dialokasikan ke dalam program-program sebagai berikut
a. Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas
Aparatur Negara................................. .Rp 10.000.000.000,-
b. Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia
Aparatur................................................ .Rp 7.291.000.000,-
c. Program Perencanaan Hukum......... .Rp 16.000.000.000,-
d. Program Pembentukan Hukum....... .Rp 3.250.000.000,-
e. Program Peningkatan Kesadaran
Hukum dan HAM.............................. .Rp 2.500.000.000,-
f. Program Peningkatan Pelayanan dan
Bantuan Hukum.................................. .Rp 5.628.856.000,-
8- Program Peningkatan Kinerja Lembaga
Peradilan Dan Lembaga Penegakan
Hukum Lainnya................................... .Rp 1.104.044.700.000,-
h. Program Penegakan Hukum dan
HAM...................................................... .Rp 119.766.874.000,-
i. Program Peningkatan Kualitas Profesi
Hukum.................................................. .Rp 58.900.000.000,-
j. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan
Gender dan Anak............................... Rp 1.000.000.000,-
k. Program Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan
Kepemerintahan...................................Rp 5.125.699.781.000,-

III. Bidang Sarana dan Prasarana Pengadilan


Dalam mendukung kelancaran pelaksanaan tugas Mahkamah
Agung dan Badan Peradilan dibawahnya, salah satu prioritas
kebijakan yang dilakukan adalah peningkatan sarana dan
prasarana Mahkamah Agung dan Badan Peradilan dibawahnya.
Peningkatana Sarana Prasarana antara lain :
Pengadaan Tanah gedung kantor = 170 Lokasi
Pengadaan Tanah Rumah Dinas = 11 Lokasi
Pembangunan gedung Kantor = 177 Lokasi
Lanjutan Pembangunan gedung Kantor 8 Lokasi
Perluasan gedung kantor = 181 Lokasi
Rehab gedung Kantor = 182 Lokasi

45
Pembangunan Rumah dinas = 303 Lokasi
Rehab Rumah dinas = 553 Lokasi
Pembangunan gedung satu atap (multi years) = 1 Lokasi
Pembangunan gedung arsip (multi year) = 1 Lokasi
Pembangunan gedung Pusdiklat = 1 Lokasi
Gedung kantor yang telah diresmikan = 55 Lokasi
Gedung Kantor yang akan diresmikan = 5 Lokasi
Gedung Kantor yang akan dibangun dalam proses
Pembentukan Keppres = 18 Lokasi
Pembentukan Pengadilan yang telah ada Keppres = 46 PN
Kendaraan Roda 6 (Bus) = 12 Unit
Mini Bus = 4 Unit-
Kendaraan Roda 4 = 950 Unit
Kendaraan roda 2 = 1.101 Unit
Speed Boat = 1 Unit

Catatan
Satu lokasi tanah di NAD, dari Anggaran BRR
Pembangunan gedung kantor kantor Dilmil NAD, 1 lokasi
dari anggaran BRR
Pembangunan Rumah dinas Dilmil NAD, 1 Unit dari
Anggaran BRR

TAHUN 2009
Sesuai prioritas Mahkamah Agung pada Pagu sementara Tahun
2009,. direncanakan Peningkatan Sarana dan Prasarana meliputi:
• Pengadaan 237 Sarana Transportasi (kendaraan operasional
pengadilan)
• Pengadaan 250.000 m2 tanah
• Pembangunan 58 gedung.
• 250 rehab sarana.

46
TAHUN 2005 - 2008 antara lain :
A. Atribut Pengadilan
Sebelum berlakunya system peradilan satu atap, atribut
pengadilan seperti stempel, logo, papan nama, pakaian dinas,
bendera peradilan "berbeda" antara peradilan satu dengan yang
lainnya, sesuai dengan hasil pembinaan departemen tekhnis
masing-masing, sehingga tidak ada keseragaman dan kesatuan
administrasi organisasi peradilan.
Berlakunya system peradilan satu atap di bawah Mahkamah
Agung dilakukan kebijakan untuk menciptakan keseragaman
atau keterpaduan terhadap hal tersebut, dengan dikeluarkannya
Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung No KMA/033/V/
2004 tanggal 11 Mei 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan penggu­
naan stempel, logo, papan nama, pakaian dinas dan bendera
pengadilan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan tugas.
B. Teknologi Informasi
Untuk mendukung kinerja organisasi dan meningkatkan
layanan kepada masyarakat khususnya para pencari keadilan,
Mahkamah Agung Republik Indonesia, telah menerapkan
teknologi Informasi (TI) pada operasional dan fungsi mena-
jemennya melalui sebuah Sistem Informasi pada Mahkamah
Agung RI yang dikenal dengan nama "Simari".
Jaringan komputer yang terbangun di Mahkamah Agung
berjumlah 150 titik (node) yang tersebar keseluruh pimpinan
MA, Hakim Agung dan kebeberapa petugas administrasi semua
unit kerja yang ada pada Mahkamah Agung Pusat.
Sejak tahun 2005 kebijakan pengembangan sistem informasi
Mahkamah Agung diperluas ke pengadilan-pengadilan daerah
dengan membangun Simari peradilan di 12 pengadilan di
wilayah DKI Jakarta serta p ilot p rojek yaitu :
Pengadilan Tinggi Jakarta, 5 Pengadilan Negeri yang ada di
Jakarta, Pengadilan Tinggi Agama Jakarta, dan 5 Pengadilan
Agama yang ada Jakarta dengan kondisi terbatasnya hardware
pendukung. Kemudian pada tahun 2006 dan 2007 ditambah 25
pengadilan lagi yang tersebar di kota Serang, Bandung,
Semarang, dan Surabaya.

47
Sehingga sampai saat ini jumlah pengadilan yang terpasang aplikasi
Simari Peradilan menjadi 37 pengadilan yang hanya berkisar 4,78%
dari 773 pengadilan yang tersebar diseluruh Indonesia.
Selain sistem yang dikembangkan oleh pusat dibeberapa
pengadilan percontohan ini, beberapa unit kerja dibawah MA
seperti Direktorat Jenderal dan pengadilan ditingkat pertama
maupun banding dengan inisiatif masing-masing maupun dengan
dukungan donor telah melakukan pengembangan teknologi
informasi mulai dari yang sederhana hingga yang cukup maju.
Salah satu pengembangan teknologi informasi ini misalnya Dirjen
Badan Peradilan Agama dan jajaran peradilan dibawahnya yang
memiliki Sistem Informasi Administrasi Perkara Peradilan Agama
(SIAPPA) dan Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG). Demikian
pula halnya dengan Pengadilan-pengadilan di daerah banyak yang
sudah mengembangkan sistem informasi manajemen peradilan
yang baik seperti PN Bitung, PN Bangka Belitung, PN Takengon,
dan lain-lain.
Dalam rangka memberikan pelayan kepada pengguna baik ma­
syarakat pada umumnya maupun karyawan (Pimpinan, hakim,
panitera, dan staf) di lingkungan MA khususnya, maka pada
Simari telah disediakan 4 (empat) media akses informasi yaitu:
1. Touch screen pada meja informasi yang ditempatkan pada
lobby MA dan Pengadilan Daerah.
2. Portal Website Mahkamah Agung RI dengan domain:
http:/ /www.mahkamahagung.go.id
3. SMS (short messageing service) dengan nomor : 085691119999
4. IVR (Interactive Voice Response) dengan nomor: 021 3849999

Peran dunia maya atau internet dalam memberikan informasi


pengadilan kepada masyarakat luas tentunya tidakm dapat
dihindari lagi. Saat ini masyarakat dapat mengakses berbagai
informasi mengenai Mahkah Agung melalui portal w ebsite
Mahkamah Agung RI.
Informasi yang tersedia antara lain seputar info aktual kegiatan
Mahkamah Agung, pengumuman, profil organisasi Mahkamag

48
Agung, direktori pengadilan hingga beberapa peraturan internal
yang perlu diketahui oleh masyarakat.

Dengan disahkanya Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung (SK


KMA) No. 144/KMA/SK/VIII/2007 mengenai Keterbukaan Infor­
masi di Pengadilan, tantangan penyediaan pengadilan bagi
masyarakat semakin meningkat. Mahkamah Agung bekerja sama
dengan Hukumonline dan dibantu donor dari MCC-ICCP
(Millenium Challenge Corporation/Indonesia Control of Corruption)
mengembangan Direktori Putusan Elektronik yaitu suatu sistem
informasi putusan pengadilan berbasis web. Sistem ini
dikembangkan untuk mendukung SK KMA 144 yang sudah
diterbitkan, agar semua putusan perkara di Mahkamah Agung yang
sudah berkekuatan hukum dapat diketahui oleh masyarakat baik
melalui situs mahkamah agung www.mahkamahagung.eo.id atau
langsung pada direktori tersebut yaitu situs www.putusan.net.
Direktori Putusan inilah yang selanjutnya akan membimbing user
untuk memilih putusan yang diinginkan.
Program penerapan Teknologi Informasi sebagai program unggulan
dalam Reformasi Birokrasi, maka akan terus dikembangkan
penyempurnaan tehnologinya maupun kuantitasnya sampai kepada
semua pengadilan nantinya.

C. BIDANG REFORMASI BIROKRASI


Program ini dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan
kinerja pengadilan, yang diawali pada tanggal 28 Juni 2007
penyampaian 5 (lima) program Quick Wins yaitu :
Transparansi putusan
Manajemen Tehnologi informasi
Pilatihan kode etik Hakim
Pendapatan Negara Bukan Pajak
Manajemen Sumber daya manusia.
Pada tahun 2008 terjadinya tonggak sejarah baru, dengan
direalisasikannya pembayaran tunjangan kinerja bagi pegawai
dilingkungan Mahkamah Agung dengan Pengadilan empat
lingkungan peradilan terhitung mulai bulan September sampai

49
dengan bulan Desember 2007, sebagai tindak lanjut atas
peraturan Presiden No.19 tahun 2008 tanggal 10 maret 2008
tentang Tunjangan khusus kinerja Hakim dan pegawai negeri
dilingkungan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan dibawah-
nya, untuk pegawai negeri dilingkungannya Mahkamah Agung
diatur dengan SK KMA No.070/KMA/SK/V/2008 tanggal 14
Mei 2008 tentang tunjangan khusus kinerja pegawai negeri
dilingkungan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang
berada dibawahnya.
Pengadilan pada empat lingkungan perdilan terhitung mulai
bulan September sampai dengan bulan Desember 2007, sebagai
tindak lanjut atas peraturan Presiden No.19 tahun 2008 tanggal
10 Maret 2008 tentang tunjangan khusus kinerja Hakim dan
pegawai negeri dilingkungan Mahkamah Agung dan Badan
Peradilan yang berada dibawahnya.
Ditindak lanjuti dengan SK KMA tanggal 14 Mei 2008
Nomor 071/KMA/SK/V/2008/ tentang ketentuan penegakan
Disiplin kerja dalam pelaksanaan pemberian tunjangan khusus
kinerja Hakim dan Pegawai Negeri pada Mahkamah Agung dan
Badan Peradilan yang berada dibawahnya, dan surat Sekretaris
Mahkamah Agung tanggal 30 Juni 2008 Nomor 595/SEK/01/
V/2008 perihal Penegakkan Disiplin Kerja.
Saat ini sedang disiapkan peraturan pelaksanaanya yang lebih
mendetail untuk memperlancar pelaksanaan reward dan
punishment dalam program reformasi birokrasi.

Khatimah
Berbagai macam upaya telah dilakukan oleh Mahkamah Agung
RI, hal ini tidak terlepas dari peran dan kontribusi kepemimpinan
Bagir Manan era 2001-2008. Deskripsi di atas menggambarkan betapa
sesungguhnya penguatan secara kelembagaan di bawah
kepemimpinan beliau patut dicatat sebagai prestasi yang sangat luar
biasa dan mengagumkan.

50
KESAN D AN KEN AN G A N D ALAM
K U N JU N G A N K E B E B E R E P A N E G A R A B E R S A M A
P R O F. D R . B A G IR M A N A N , S H , M C L
O leh :
Drs. Hasbi Hasan, MH.*

Suatu saat di penghujung tahun 2007 Bapak Ketua Muda


Pembinaan Mahkamah Agung RI Drs. H. Ahmad kamil, SH, M.Hum
dan Sekretaris Mahkamah Agung Drs. H. M. Rum Nessa, SH, MH
dalam waktu yang terpisah memanggil penulis agar bersiap-siap dan
mempersiapkan diri untuk mendampingi Ketua Mahkamah RI
dalam rangka menghadiri konprensi internasional Ketua-Ketua
Mahkamah Agung se-negara Muslim di Teheran-Iran. Sejak itulah
penulis mengenal Sosok Prof. Dr. Bagir Manan, SH, MCL secara
dekat, dan sejak itu diakhir-akhir masa jabatan beliau penulis sering
diajak mendampingi beliau mengadiri konprensi maupun kunjungan
ke beberapa negara. Awalnya penulis hanya mengenal beliau sebagai
Ketua Mahkamah Agung RI sekaligus sebagai tokoh nasional yang
senantiasa menghiasi berbagai macam mas media dan elektronika.
Pada acara konprensi Internasional Ketua-Ketua Mahkamah
Agung se negara Muslim di Teheran-Iran, di samping mendampingi
Ketua Mahkamah Agung penulis juga mendampingi Ketua Muda
Pembinaan Mahkamah Agung RI, suatu tugas yang tidak mudah
untuk dilaksanakan. Sungguhpun demikian penulis tidak pernah
merasa terbebani atau bahkan khawatir dalam mendampingi kedua
pejabat Mahkamah Agung tersebut, sebab beliau berdua dikenal
sebagai pejabat yang sangat santun, bijak dan jauh dari kesan
protokoler. Selama dalam perjalanan saya mencoba mendampingi
beliau sesuai standar protokol tetap Mahkamah Agung RI, meskipun
di dalam banyak hal beliau lebih suka melakukan pekerjaan sendiri,
misalnya beliau lebih suka mengangkat dan menjinjing koper (tas)
beliau sendiri ketimbang diserahkan kepada ajudan atau yang
mendampingi beliau, hal semacam itu jarang dilakukan oleh banyak

* Kabag Sespim D Mahkamah Agung RI.

51
pejabat di Indonesia. Kemandirian yang ditanamkan beliau tersebut,
barang kali karena beliau memang lama mengenyam pendidikan di
luar negeri, sehingga praktek dan kebiasaan yang ada di sana ingin
diterapkan beliau di Indonesia. Pernah satu saat ketika rombongan
kami transit di Singapura menuju Abu Dhabi, pihak maskapai
penerbangan Singapura Airlines yang sangat familiar dengan wajah
beliau menawarkan jasa untuk mengantar beliau sampai ke tempat
transit: Do you need asssitance? beliau dengan halus menjawab: no
thanks. Begitulah gambaran sosok beliau yang mempunyai prinsip
selagi masih dapat dilakukan sendiri kenapa mesti harus meminta
pertolongna orang lain.
Banyak hal yang membuat penulis sangat mengagumi sosok ini,
selain sebagai akademisi, birokrat dan politisi, yang berpengalaman,
beliau juga sangat retorik dan menarik dalam menyampaikan pidato
dan sambutan. Hampir di setiap pidato beliau mengandung ide-ide
baru, tajam, kritis dan menarik untuk diimplementasikan aparat
peradilan dalam rangka meningkatkatkan kualitas, integritas dan
kinerja aparat peradilan serta menjadikan peradilan yang bermar­
tabat, terhormat dan dihormati. Belakangan saya tahu, ternyata
dalam menuangkan setiap tulisan, baik itu dalam menyusun naskah
pidato (sambutan), menyusun naskah buku maupun makalah, setiap
kata atau kalimat beliau pertimbangkan dengan cermat, hati-hati dan
telititi. Dalam mempertimbangkan kata dan kalimat dalam setiap
tulisan, beliau menghindarkan kata-kata bersayap yang dapat
menimbulkan misinterpretasi, dalam ungkapan lain beliau tulisan-
tulisan beliau tersebut dipertimbangkan secara filosofis dan
bernuansa falsafah.
Hampir di setiap even konprensi internasional beliau menjadi
pusat perhatian, bahkan di Teheran selain belaiu diberi
berkesempatan untuk memperesentasikan mengenai sistem hukum
Indonesia, beliau juga diangkat sebagai wakil ketua sidang
konprensi, serta didaulat utuk memberikan sambutan pada acara
ramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Iran Tertinggi Ali
Khamenei. Jarang sekali terjadi, dan tidak banyak pejabat tinggi
dalam satu kunjungan diberi kasempatan tiga kali memberikan
sambutan, presentasi sekaligus pimpinan sidang konprensi.

52
Dalam kesempatan lain, ketika menghadiri konprensi
Internasional di Abu Dhabi dan Konprensi Internasional Ketua-Ketua
Mahkamah Agung Seputar Hak Kekayaan Intelektual di Karthoum-
Sudan, beliau di beri kesempatan yang sama untuk menyumbangkan
kontribusi pemikiran serta informasi seputar pengalaman Indonesia
mengenai isue-isue terkait yang ada relevansinya dengan tema
konprensi. Ini menunujukkan betapa sesungguhnya reputasi
Mahkamah Agung RI dimata internasional di bawah kepemimpinan
beliau mendapatkan apresiasi yang tinggi. Itulah sebabnya Ketika
beliau berhalangan untuk hadir pada pertemuan Asosiasi Ketua-
Ketua Mahkamah Agung Republik di Teheran-Iran pada bulan April
2008, sebagai tidak lanjut dari konprensi Internasional di penghujung
Desember 2007 pihak kedutaan Iran untuk Indonesia terkesan agak
sedikit memaksakan kehadiran Pak Bagir, karena menurut pihak
kedutaan Iran untuk Indonesia, tanpa kehadiran beliau sebagai
pribadi dan tanpa kehadiran delegasi Indonesia, dikhawatirkan
pertemuan tersebut kurang bermakna, bahkan mempengaruhi
reputasi Republik Iran di mata dunia Islam akan berkurang.
Dalam keseharian beliau berpenampilan tenang, datar, lembut
dan sederhana. Setiap yang berbicara dengan beliau merasa senang
dan puas, karena pasti ditanggapi dan direspon beliau dengan baik.
Para diplomat dan duta besar di beberapa negara yang sempat
dikunjungi beliau dengan penulis antara lain, Iran, Abu Dhabi,
Saudi Arabia, Dubai, Sudan, Inggeris, Prancis dan Belanda sangat
terkesan dengan sikap beliau itu. Pernah suatu saat beliau berpesan
kepada saya, "Hasbi" begitu pangilan akrab beliau kepada saya,
nanti ketika kita berada di negara yang kita kunjungi, kita ikut aturan
main dan protokoler yang ditetapkan oleh mereka" jangan sampai
karena keinginan-keinginan kita, mereka melakukan hal-hal yang
menyimpang, apalagi petugas tersebut sampai dimarahi dan
mendapat sanksi dari atasannya. Hal ini terjadi ketika suatu saat kita
ingin melanjutkan perjalanan dari Inggeris ke Prancis, lazimnya
protokoler tetap di suatu negara, bila pejabat tinggi negara
melakukan check in cukup diselesaikan oleh pihak kedutaan
setempat, namun apa yang terjadi, pihak bandara heatrow-Inggeris
meminta agar passenger dalam hal ini Bagir Manan selaku Ketua

53
Mahkamah Agung RI diminta datang ke counter check in untuk
keperluan konfirmasi, menyikapi hal tersebut beliau dengan
tenangnya mengatakan "kita ikut aturan, jangan sampai karena ulah
kita, orang lain menjadi sasaran kemarahan atasannya, apalagi
sampai ia dipecat, kita telah melakukan kenzhaliman". Demikian
melekatnya dasar-dasar kemanusiaan dan nilai-nilai ke-Islaman yang
tertanam dalam pribadi beliau.
"Kesederhanaan", dalam bahasa lain "kebersihan" beliau
tampak sekali dari kebiasaan beliau sehari-hari, dalam beberapa
kunjungan keluar negeri dengan penulis, beliau tidak berlebihan
dalam membelanjakan uang, beliau hanya membeli kebutuhan-
kebutuhan pribadi untuk keperluan selama dalam perjalanan yang
tidak seberapa dan tidak ada nilainya bila dikaitkan dengan jabatan
dan status beliau. Jangan pernah heran jika ternyata beliau tidak
memiliki Hand Phone, maka sangat mengherankan jika ada oknum
yang sering mengaku dapat mengakses beliau untuk keperluan suatu
urusan, apalagi yang berurusan dengan perkara. Pernah suatu saat
ketika kita ingin melakukan kunjungan ke Inggeris, penulis
menghadap beliau untuk meminta potokofi buku tabungan bank
sebagai salah satu syarat pembuatan visa, sangat mencengangkan
ternyata beliau tidak mempunyai buku tabungan bank apapun.
Ketika itu beliau mengatakan "hasbi" saya sejak lama tidak
mempunyai rekening bank, kalaupun pernah ada dulu ketika saya
masih mengajar di Univrsitas Pajajaran, itupun saya tidak tahu
apakah rekening bank tersebut masih ada, coba telesuri jika tidak ada
refrensi bank, mudah-mudahan tidak menghalangi kita untuk
berpergian ke Inggeris. Sekali lagi saya igin menegaskan begitulah
gambaran kesederhanaan beliau.
Sebagai akademisi, hari-hari beliau dalam perjalanan ke luar
negeri tidak terlepas dari buku, ada saja yang dikerkajaknan selain
membaca, beliau sudah terbiasa membuat catatan-catatan kecil dan
tidak jarang juga mengoreksi sutau naskah, padahal perjalan panjang
dan kadang melelahkan dan membosankan, tetapi beliau tiak pernah
kelihatan merasa keletihan.
Bukan bermaksud untuk mengkultus beliau, namun tampaknya
tidak terlalu salah sekedar mengungkap kesan dan kenangan,

54
khususnya selama penulis mendampingi beliau dalam beberapa
kunjungan ke luar negeri, banyak pengalaman yang sangat berharga,
ilmu pengetahuan yang dapat ditimba, kesalehan, keasejukan,
kesederhanaan, kebapakan (good father), kesederhanaan yang patut
diteladani. Tidak banyak pejabat tinggi rendah hati, santun tetapi
seteguh hati beliau.

55
P A K B A G IR P A T U T M E N JA D I T E L A D A N
Oleh:
Drs. H. Habiburrahman, M.Hum.*

Sulit rasanya dari mana tulisan ini harus dimulai dan materi apa
yang hendak diisi, awalnya terlintas dibenak, saya akan meresume
kembali tulisan-tulisan beliau yang dimuat dalam majalah Varia
Peradilan, setelah dicoba ternyata hampir tidak ada bagian yang bisa
dihilangkan dari tulisan beliau, karena dari awal hingga akhir setiap
artikel atau sari dari pidato beliau sambung menyambung menjadi
satu, untuk memuat kembali sepenuhnya tulisan beliau hal yang
tidak mungkin karena sebagiannya telah dicetak oleh IKADIN.
Akhirnya kami menulis serba serbi berikut in i:

Kepemimpinan
- Secara rutin dilakukan rapat Pimpinan Mahkamah Agung, dan
bila ada hal penting beliau secara mendadak memanggil para
Pimpinan untuk duduk bersama mengambil langkah,
memecahkan persoalan, memutuskan tentang sesuatu, hal ini
menggam-barkan sikap demokratik beliau, guna menghindari
One Man Show (otoriter);
- Secara periodik tiga atau empat kali setahun diadakan rapat
pleno (para Pimpinan MA, Hakim Agung, Pejabat eselon I dan
II, Pejabat Kepaniteraan) membicarakan hal-hal penting :
* Tentang hujatan dari luar, pengaduan terhadap aparat
penegak hukum;
• Tentang tunggakan perkara;
• Tentang pola administrasi perkara, minutasi, dan
koreksi putusan-putusan;
• Tentang kerjasama dengan luar negeri;
• Dan lain-lain yang berkaitan dengan administrasi
dalam arti luas.
- Beliau respon terhadap LSM, wartawan, dan masyarakat;

* Hakim Agung Republik Indonesia.

57
Kerjasama yang baik dengan Lembaga/Instansi lain di
Indonesia dan dengan Luar Negeri;
- Beliau adalah sosok Pimpinan yang tangguh, tak tergoyahkan
oleh hantaman ombak dan gelombang hujatan, pelecehan,
penghinaan, dan hal-hal yang lebih sadis lagi, ibarat karang
ditengah laut yang tetap kokoh dan kuat meskipun dihantam
oleh gelombang besar.

Karya Tulis
- Berdasarkan informasi rang-orang yang dekat dengan beliau
menceritakan bagaimana kedisiplinan beliau dengan waktu,
antara lain :
• Bangun dini hari kemudian shalat, jalan pagi, dan menulis -
untuk shalat dan jalan pagi tidak terlalu asing karena lazim
dilakukan-, akan tetapi setiap pagi menulis adalah hal yang
luar biasa;
IKAHI merespon petunjuk-petunjuk Pak Bagir, khususnya
bagaimana seharusnya majalah Varia Peradilan dimanage
dengan benar, dipolakan kembali bentuk dan isinya, dan
terlebih-lebih untuk dijadikan media komunikasi - saling isi
diantara sesama hakim. Terkait dengan Munas IKAHI Oktober
2004 di Semarang merumuskan hal itu didalam salah satu
programnya; Realisasi serah terima kepengurusan redaksi Varia
Peradilan dan Pak Ali Boediarto, SH. kepada kami terlaksana
pada bulan Mei 2005. Pengurus redaksi baru tersebut, untuk
pertama kalinya baru dapat menerbitkan majalah Varia
Peradilan pada bulan Juli 2005, setiap terbit beliau Pak Bagir
secara rutin mengirim tulisan kepada redaktur untuk dimuat.
Menurut hemat kami, melonjaknya permintaan untuk mendapat
kiriman majalah Varia Peradilan, semula hanya mencetak 9000
eksemplar sama sebagaimana melanjutkan tradisi yang
dilakukan oleh Pengurus lama (Pak Ali Boediarto, SH) menjadi
10.500 eksemplaar setiap bulannya - tidak terlepas dari minat
pembaca mengikuti isi tulisan-tulisan beliau yang padat dan
sangat bermanfaat, baik dan segi menejemen Peradilan dan
akhlak Pemimpin Pengadilan, mengenai tehnis (Hukum

58
Acara/Formil), Hukum Materiil, administrasi peradilan,
administrasi umum, Ilmu Pengetahuan, dan menggugah
cakrawala berpikir, kami redaktur Varia Peradilan
menghaturkan ribuan terima kasih atas perhatian beliau;
- Dan redaktur Varia Peradilan sekarang sedang mencetak Buku
yang berisikan Pidato-pidato beliau dalam acara Pembukaan
dan Penutupan Rakernas, sejak tahun 2001 sampai dengan 2008
- Insya Allah akan diluncurkan di malam perpisahan dengan
beliau;

Kesan Khusus Berkaitan dengan Kerjasama


• Banyak sekali kerjasama yang beliau jalin, baik sesama Lembaga
Negara, Perguruan Tinggi, LSM maupun dengan Luar Negeri;
• Keberhasilan beliau mengundang Presiden - RI;
Sebelum periode kepemimpinan Pak Bagir, pernah pada tanggal
10 Agustus 1989, Presiden - RI : H.M. Soeharto ke Mahkamah
Agung dalam rangka peresmian Gedung Mahkamah Agung di
Jalan Merdeka Utara yang sekarang ini.
Lain halnya kehadiran Presiden - RI : DR. H. Susilo Bambang
Yudhoyono, yang sengaja diundang oleh Ketua Mahkamah
Agung — RI (Pak Bagir), untuk bertatap muka dengan seluruh
aparat Kekuasaan Kehakiman baik di Pusat maupun di Daerah
(untuk daerah diwakili oleh Pimpinan Pengadilan Tingkat
Banding):
- Pertama : Pada hari Selasa, Tanggal 20 Desember 2005;
beliau menyampaikan kata sambutan yang inti antara lain
sebagai berikut:

Yth. Presiden Republik Indonesia


Atas nama seluruh warga pengadilan, saya ucapkan
selamat datang dan terima kasih atas keluangan waktu Bapak
Presiden untuk berkunjung ke Mahkamah Agung sebagai
pemegang kekuasaan peradilan tertinggi di Negara Republik,
Soeharto pernah berada di sini tetapi hanya untuk meresmikan
pemakaian gedung ini bukan untuk suatu kunjungan apa lagi
bertemu wicara dengan para Hakim.

59
Bukan saja karena kami memahami kesibukan-kesibukan
Presiden, tetapi kunjung berkunjung antara pimpinan tertinggi
kekuasaan eksekutif dan yudikatif mudah sekali menimbulkan
berbagai interpretasi dan salah pengertian. Sebenarnya
memperhatikan kesejajaran kedudukan antara Lembaga
Kepresidenan dengan Mahkamah Agung, dan jaminan-jaminan
konstitusi serta berbagai peraturan perundang-undangan yang
ada, semestinya kunjung mengunjungi itu tidak perlu
menimbulkan interprestasi-interprestasi yang sama sekali
berada di luar maksud pertemuan itu sendiri. Tetapi sejarah
masa lalu memang mudah menimbulkan rasa khawatir, karena
suatu saat praktek ketatanegaraan kita menempatkan kekuasaan
eksekutif sebagai "the strongest power" yang dominant
mempengaruhi cabang-cabang kekuasaan lain banyak diantara
kita yang tidak begitu menyadari, baik secara normatif, praktek
ketatanegaraan, maupun akademik bahwa salah satu capaian
terbesar reformasi adalah keberhasilan kita meletakkan prinsip
"checks and balances" hubungan-hubungan antar penyelenggara
Negara, termasuk antara kekuasaan eksekutif dan yudikatif.
Bagi kekuasaan yudikatif, capaian "checks and balances" ini
sangat nyata. Pada saat ini, kekuasaan yudikatif sangat
menikmati independensinya dalam hubungan dengan seluruh
cabang kekuasaan Negara lainnya. Hal ini dapat terjadi karena
tumbuhnya keyakinan yang sangat dalam dari cabang-cabang
kekuasaan eksekutif - bahwa menjamin, melindungi, memeli­
hara dan membiarkan kekuasaan yudikatif yang independen
merupakan sebuah kemestian, merupakan "condition sine
quanon" bagi berkembang dan terpeliharanya Negara hukum
yang demokratis. Tanpa kekuasaan kehakiman yang merdeka
dan Hakim yang bebas, maka harapan bagi tumbuhnya
demokratis dan Negara hukum yang sehat merupakan angan-
angan belaka. Karena itu, kita tidak boleh membiarkan capaian
yang mendasar itu ter "reducer" oleh tujuan-tujuan jangka
pendek atau semata-mata tergoda oleh peristiwa-peristiwa yang
tidak memuaskan kita semua apalagi karena dorongan
kekuasaan belaka. Harus diakui, masih banyak yang harus
dikerjakan. Masih banyak yang belum memuaskan bahwa

60
mengecewakan. Tetapi perlu disadari, bahwa sedang kita
kerjakan tidak sekedar memperbaharui mekanisme atau teknik
bekerja melainkan memperbaharui sistem yang membutuhkan
ketelitian, kesabaran, kesungguhan, dan kerja keras. Inilah
pendekatan yang sedang kita lakukan dalam pembaharuan
peradilan. Peluang sangat besar. Bukan saja karena suasana baru
yang kondusif, tetapi perhatian nyata terima kasih kepada DPR
dan Pemerintah yang mulai memberikan perhatian yang
sungguh-sungguh mengenai pembaharuan peradilan.

Bapak presiden dan hadirin yang saya hormati,


Meskipun masa reformasi telah bergulir sejak tahun 1998,
tetapi langkah-langkah pembaharuan peradilan khususnya
Mahkamah Agung dimulai akhir tahun 2001, yaitu pada waktu
DPR mengusulkan kepada Presiden mengangkat 19 Hakim
Agung baru dan yang diangkat 18 orang. Pada waktu itu
pengangkatan itu diperlukan, karena jumlah Hakim Agung
berkurang cukup banyak dalam waktu yang hampir serentak
karena memasuki masa purna bhakti. Peristiwa serupa terjadi
lagi pada tahun 2004, sehingga ada pengangkatan Hakim Agung
baru sebanyak 14 orang berkurangnya jumlah ini sangat
mempengaruhi produktivitas dalam memutus permohonan
kasasi dan peninjauan kembali. Pada saat ini, ada 49 Hakim
Agung. Dengan jumlah tersebut telah menampakkan
produktivitas yang tinggi dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya. Misalnya antara Januari sampai akhir Oktober
2005, telah diputus permohonan kasasi dan peninjauan kembali
sebanyak 9432 perkara. Kalau dihitung sampai hari ini jumlah
yang telah diputus tahun 2005 telah melebihi 10.000
permohonan kasasi dan peninjauan kembali.

Bapak Presiden dan hadirin yang saya hormati.


Upaya awal pembaharuan peradilan dilakukan dengan
menyusun pola strategi pembaharuan yang dirangkum dalam
bermacam-macam cetak biru (blue prints) yang selesai disusun
tahun 2003. Sejak itu segala rencana dan program pembaharuan

61
didasarkan pada cetak biru. Baik pada saat menyusun pola
dasar pembaharuan, menyusun perencanaan, dan program,
selain dipotong oleh APBN, juga dibantu oleh berbagai Lembaga
Swadaya Masyarakat, dan bantuan donor-donor internasional
baik melalui badan-badan internasional maupun langsung
dengan pemerintah Negara yang bersangkutan. Perlu saya
sampaikan kepada Bapak Presiden bahwa Mahkamah Agung
menetapkan kebijakan tidak menerima bantuan donor dalam
bentuk menerima uang, melainkan menawarkan program-
program yang dibiayai orang yang bersangkutan, pelaksanaan
program dilaksanakan lembaga-lembaga dari Negara-negara
tertentu, lembaga swadaya masyarakat, atau ahli-ahli yang
disepakati bersama.
Walaupun dan tahun ke tahun didapati kenaikan anggaran
dan APBN dan berbagai bantuan donor, dibandingkan dengan
keinginan mempercepat pembaharuan, anggaran yang tersedia
belum memadai. Lebih-lebih setelah satu atap. Untuk anggaran
tahun 2006, Mahkamah Agung mengajukan anggaran sebesar
5,5 triliyun rupiah, tetapi akan dipakai untuk anggaran rutin
terutama gaji. Seandainya Mahkamah Agung mendapatkan 5,5
triliyun, itupun baru akan memberikan peluang yang lebih besar
merehabilitasi pengadilan-pengadilan yang ada. Sedikit sekali
yang dapat dipakai untuk investasi baru seperti percepatan
pengembangan sistem informasi atau UIT dan berbagai fasilitas
baru lainnya. Perlu saya sampaikan kepada Bapak Presiden,
sebgaian besar gedung dan fasilitas pengadilan yang ada
sekarang ini dibangun dan disediakan dalam tahun anggaran
1982 atau 23 tahun yang lalu. Setiap tahun hanya sebagian kecil
yang dapat direhab atau dibangun. Belum lagi menyangkut
upaya meningkatkan kesejahteraan. Sama sekali belum dapat
disentuh dari anggaran yang tersedia. Akhir-akhir ini akibat
pertambahan pertambahan propinsi, kabupaten atau kota,
semuanya meminta agar segera didirikan pengadilan yang baru
mengikuti kehadiran kantor kejaksaan atau kepolisian.

62
Bapak Presiden dan hadirin yang saya hormati.
Penyelenggaraan administrasi peradilan satu atap baru
dimulai akhir tahun 2004, meskipun Undang-undang tentang
satu atap telah ditetapkan tahun 1999. Akibatnya, pembaharuan
peradilan yang dapat dilakukan Mahkamah Agung sangat yaitu
hanya menyangkut pembinaan teknis peradilan, sedangkan
pembinaan dan pengawasan ketenagaan, pembinaan organisasi
dan anggaran dilakukan oleh pemerintah melalui Departemen
dan MABES TNI. Baru pada tahun 2005 ini, Mahkamah Agung
menyelenggarakan secara penuh administrasi peradilan. Itupun
untuk beberapa bulan pertama diisi dengan kegiatan pengalihan
status personil, assets, administrasi keuangan dan lain-lain.
Karena terbatasnya fasilitas di lingkungan Mahkamah Agung,
meskipun badan-badan peradilan tersebut dialihkan, tetapi
masih menempati gedung dalam lingkungan Departemen dan
MABES TNI. Bahkan semua Pengadilan Militer di daerah masih
menempati gedung-gedung milik MABES TNI atau KODAM.
Contoh lain yang dapat saya sebutkan adalah Kantor Direktorat
Jenderal Peradilan Umum, hingga saat ini masih menempati
gedung dalam lingkungan Departemen Hukum dan HAM. Atas
kebaikan hati Bapak Kehakiman di Jalan Hayam Wuruk, yang
sampai beberapa waktu yang lalu dipergunakan oleh BPKP.
Seandainya gedung tersebut dapat diserahkan kepada
Mahkamah Agung, maka beberapa tidak lagi perlu berkantor di
lingkungan Departemen atau MABES TNI. Contoh lain adalah
gedung-gedung Pengadilan Negeri di Jakarta. Bukan tidak
representative melainkan sangat tidak memadai.

Bapak Presiden yang terhormat.


Kalau beberapa contoh tersebut saya sampaikan, sama
sekali tidak dimaksudkan menghadap kunjungan Bapak yang
amat bersejarah ini dengan berbagai kesulitan Mahkamah
Agung mempercepat pembaharuan peradilan. Namun,
kehadiran Bapak sebagai Kepala Negara di lingkungan
peradilan, saya yakini akan memberi makna luar biasa dalam
upaya memaksimalkan fungsi lembaga-lembaga Negara dalam

63
sistem penyelenggaraan Negara yang makin sehat untuk
mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran dan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bapak Presiden dan hadirin yang saya hormati.


Ada berbagai komponen yang diperlukan dalam
pembaharuan peradilan antara lain masalah ketenagaan. Ada
beberapa aspek penting yang menyangkut pembaharuan
ketenagaan yaitu kesejahteraan, mutu dan, kendali atau
pengawasan. Sekiranya ke tiga hal tersebut dapat menjadi
prioritas, maka dapat diperkirakan dalam waktu yang tidak
begitu lama, pengadilan akan memiliki tenaga-tenaga yang lebih
banyak dalam menunjang upaya mewujud tata keadilan yang
benar, adil dan berwibawa.
Selama ini sudah diupayakan dengan prioritas tinggi yaitu
upaya memperbaiki mutu hakim melalui berbagai pendidikan
dan latihan di dalam atau di luar negeri. Demikian pula
pengawasan. Dengan satu atap pengawasan dapat dilakukan
lebih efektif sehingga berbagai tindakan telah dilakukan. Harus
diakui, usaha-usaha tersebut belum maksimal, antara lain
karena dimensi persoalan sangat banyak dan dalam
pelaksanaannya, juga perlu dengan sungguh memperhatikan
batas perbuatan yang semata-mata berkaitan dengan
pelaksanaan teknis peradilan yang harus dijamin bebas dan
segala pengaruh intervensi atau campur tangan dari luar. Sesuai
dengan pendekatan modern yang dicanangkan mengenai upaya
menanggulangi pelanggaran hukum, selain dalam bentuk
tindaskan represif, sangat penting menciptakan sistem
pencegahan dan partisipasi masyarakat.
Menurut berbagai pihak, salah satu aspek pencegahan
adalah upaya yang sungguh meningkatkan kesejahteraan
aparatur penegak hukum. Sedangkan partisipasi masyarakat
menyangkut beberapa hal, yaitu :
(1) Membangun masyarakat yang taat pada hukum (law abiding
society)

64
(2) Membangun masyarakat yang tidak menghalalkan segala
cara untuk memenangkan perkara; dan
(3) Membangun masyarakat yang dapat menyelesaikan sendiri
sengketa atau perselisihan melalui berbagai lembaga damai
seperti mediasi, arbitrase, dan berbagai cara damai lainnya.

Bapak Presiden dan hadirin yang saya hormati.


Izinkan saya, pada akhir sambutan ini menyampaikan
secara statistic badan peradilan kita :
1. Jumlah Pengadilan:
a. Pengadilan Tingkat Pertama :
1. Pengadilan Negeri = 308
2. Pengadilan Agama = 343
3. Pengadilan Militer = 19
4. Pengadilan TUN = 26
Jumlah = 696
b. Pengadilan Tingkat Banding :
1. Pengadilan Tinggi = 30
2. Pengadilan Tinggi Agama = 25
3. Pengadilan Tinggi Militer = 3
4. Pengadilan Tinggi TUN = 4
Jumlah = 62
Jumlah Hakim dan masing-masing Peradilan :
a. Jumlah Hakim Peradilan Umum = 3015 orang
b. Jumlah Hakim Peradilan Agama = 2846 orang
c. Jumlah Hakim Peradilan TUN = 205 orang
d. Jumlah Hakim Peradilan Militer = 73 orang
Jumlah keseluruhan = 6139 orang
3. Jumlah Pegawai Non Teknis dan masing-masing Peradilan:
a. Peradilan Umum = 3015orang
b. Peradilan Agama = 2846orang
c. Peradilan TUN = 205orang
d. Peradilan Militer = 73orang
Jumlah keseluruhan = 6139 orang

65
4. Gaji Hakim:
a. Tingkat Pertama (terendah s/d tertinggi) Rp.
2.230.200,- s/ d Rp. 4.624.400,-
b. Tingkat Banding (terendah s/d tertinggi) Rp.
4.624.300,- s/d Rp. 8.002.800,-
c. Hakim Agung Rp. 14.368.200,- s/ d Rp. 24.399.800,-
5. Uang Kehormatan Hakim AD HOC.HAM :
- Tingkat Pertama Rp. 3.750.000,-
- Tingkat Banding Rp. 5.000.000,-
- Tingkat Kasasi Rp. 7.500.000,-
6. Uang Kehormatan Hakim Tipikor :
- Tingkat Pertama Rp. 10.000.000,-
- Tingkat Banding Rp. 12.000.000,-
- Tingkat Kasasi Rp. 24.000.000,-

Sebelum menutup sambutan ini saya sampaikan, bahwa


gagasan pertemuan ini berasal dari surat KPK kepada Presiden
+ 3 bulan yang lalu. Dalam pembicaraan dengan Ketua KPK
saya langsung menyetujui rencana tersebut. Pada kesempatan
yang baik ini saya sampaikan terima kasih dan penghargaan
pada Ketua dan seluruh jajaran KPK. Semoga upaya-upaya ini
dapat memberikan buah yang baik di masa datang.

Sambutan Presiden R I: DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono


Presiden RI menyampaikan pidato di hadapan Pimpinan
Mahkamah Agung Pejabat Negara yang hadir, Hakim Agung,
Pejabat Eselon pada Mahkamah Agung, Ketua-Ketua Pengadilan
Tingkat Banding seluruh Indonesia, Asisten Hakim Agung dan
beberapa Ketua Pengadilan Tingkat Pertama yang isinya antara
lain : mengingatkan perlunya kerjasama yang diibaratkan jalinan
mata rantai-mata rantai yang berkait satu dengan lainnya, tidak
boleh terjadi adanya kemacetan di antara mata rantai tersebut,
karena satu saja diantara mata rantai tersebut macet
mengakibatkan macet secara keseluruhan; Presiden juga

66
menanggapi dengan serius pidato keprihatinan Pak Bagir
sebagai Ketua Mahkamah Agung, khususnya mengenai dana
yang disediakan bagi penyelenggaraan sarana dan prasarana
termasuk kelengkapan alat-alat informasi teknologi (IT),
kesejahteraan/tunjangan Hakim dan seluruh karyawan akan
ditinjau ulang, sehingga tidak terlalu ketinggalan dibanding
tunjangan pejabat Negara lainnya.
Segenap warga Mahkamah Agung/Pengadilan seyogyanya
tidak akan pernah melupakan jasa beliau (Pak Bagir), bahwa
kehadiran Presiden RI ke Mahkamah Agung atas undangan
Ketua Mahkamah Agung tersebut adalah merupakan embrio
dan lahirnya "remunerasi".
Perwujudan dan janji Presiden RI akan meninjau ulang
pendanaan bagi Mahkamah Agung, dapat dilihat dan anggaran
belanja MA yang meningkat secara signifikan;
Anggaran tahun 2005 hanya 1,2 Triliun;
Tahun 2006 menjadi 2,2 Triliun;
Tahun 2007 menjadi 3,09 Triliun;
Tahun 2008 menjadi 6,45 Triliun.

- K ed u a: Kehadiran Presiden - RI : DR. Susilo Bambang


Yudhoyono dalam acara Pembukaan Rakernas
Mahkamah Agung Tahun 2008, di Hotel Mercury
Ancol Jakarta:

Pak Bagir dalam kata sambutannya antara lain :


Isi Rapat Kerja Nasional terutama menyangkut persoalan
teknis peradilan. Di masa-masa awal setelah revolusi, Rapat
Kerja nasional berkaitan dengan tata laksana peradilan akibat
perubahan susunan peradilan dan perubahan tata cara beracara
di Pengadilan.
Di masa kolonial dan sepanjang masa revolusi di dapati
aneka ragam badan peradilan baik mengandung makna
diskriminatif - misalnya antara peradilan golongan Eropah dan
Bumiputra, maupun karena berbagai karakteristik seperti
perbedaan cara beracara antara peradilan di Jawa - Madura

67
dengan luar Jawa. Termasuk pula karena perbedaan jenis-jenis
satuan masyarakat dan pemerintahan sehingga kita mengenal
Pengadilan Swapaja (Langsgerechten), Landraad, dan Pengadilan
Adat yang beraneka ragam pula. Dalam rangka meniadakan
forum dan tata cara beracara tersebut, maka Negara menetapkan
politik kesatuan badan peradilan dan kesatuan tata cara
beracara. Dari sudut teknis peradilan timbul berbagai masalah.
Misalnya, politik Negara menetapkan Hukum Acara untuk
Landraad yang dikenal dengan sebutan HIR ditetapkan sebagai
pedoman. Ternyata dalam praktek didapati kekosongan tertentu
seperti masalah "putusan sela", penyelesaian sengketa melalui
"arbitrase". Kaidah-kaidah ini tidak didapati dalam HIR tetapi
dalam Hukum Acara untuk golongan Eropah yang dinamakan
Rv (Rechtsvordering). Hal ini memerlukan "engineering", agar
kaidah tersebut dapat diadopsi ke dalam sistem peradilan baru
kita.
Demikian pula kebutuhan kesatuan pendapat diantara para
hakim akibat praktek masyarakat. Misalnya, penggunaan bentuk
badan usaha perseroan terbatas, penggunaan asas-asas seperti
syarat-syarat perjanjian, sifat hukum perjanjian diantara para
pihak, penggunaan kaidah-kaidah dalam pengangkutan laut
dan lain sebagainya. Secara dogmatik, asas-asas dan kaidah
tersebut hanya berlaku untuk golongan Eropah. Tetapi
kebutuhan hukum baru merupakan satu kenyataan, sedangkan
undang-undang nasional belum dibentuk. Kebutuhan hukum
masyarakat selalu mendahului hukum. Lagi-lagi harus ada
kesepakatan para hakim mengenai "transfer" asas dan kaidah
hukum ke dalam tata peradilan baru kita.
Perkembangan dan perubahan sosial yang cepat dan
kompleks, perubahan berbagai kebijakan Negara, berbagai
macam aturan baru tidak jarang menimbulkan masalah dalam
penerapan hukum. Berbagai lembaga penegak hukum baru
seperti KPPU, badan-badan peradilan khusus seperti pengadilan
PHI, pengadilan perikanan, dan lain-lain dapat menimbulkan
perbedaan cara-cara penerapan diantara para hakim. Misalnya
Pengadilan Perikanan dikatakan wilayah yuridiksinya sama

68
dengan Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Dipihak lain di
seluruh Indonesia hanya ada lima Pengadilan Perikanan.
Bagaimana dengan pelanggaran undang-undang perikanan di
luar wilayah hukum Pengadilan Perikanan yang ada. Apakah
tetap diadili Pengadilan Negeri atau harus dibawa ketempat
kedudukan Pengadilan Perikanan yang wilayah hukumnya
tidak meliputi tempat peristiwa.
Selain terimakasih atas kehadiran Bapak Presiden pada
pembukaan Rapat Kerja Nasional ini, atas nama seluruh warga
pengadilan, saya mengucapkan terima kasih, karena kami warga
pengadilan telah menerima buah yang menyenangkan
kunjungan Bapak ke Mahkamah Agung beberapa waktu yang
lalu yaitu pelaksanaan keinginan bapak untuk memperbaiki
kesejahteraan warga pengadilan. Terhitung sejak September
tahun lalu kami telah menerima remunerasi sebagai tunjangan
kinerja bagi seluruh warga pengadilan. Walaupun jumlah yang
diterima baru 70%, tetapi sangat berarti bagi kami. Sekali lagi,
terima kasih. Sebagai tindakan lanjut renumerasi tersebut,
Mahkamah Agung telah menetapkan peraturan untuk
meningkatkan disiplin dan produktivitas kerja sebagai imbalan
renumerasi tersebut.

Pidato Presiden - RI : DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHONO


antara lain
Dalam pikiran saya, pengadilan yang modern, maju, tentu
adalah memiliki kwalitas yang tinggi, efektif, dan efisien di
dalam menjalankan misinya dan memberikan pelayanan terbaik
dalam proses pengadilan itu. Oleh karena itu saya mendoakan,
berharap, dan memberikan dukungan untuk suksesnya
modernisasi pengadilan Indonesia ini.
Saudara-saudara, saya juga mendukung semua upaya yang
dilakukan baik oleh Mahkamah Agung maupun semua Badan-
badan Peradilan di Negeri ini untuk terus meningkatkan kinerja,
kwalitas, dan profesionalitas, dengan demikian bisa menjadi
penegak hukum yang sejati di negeri kita.

69
Pembaharuan peradilan yang telah dilaksanakan sejak
tahun 2004, saya juga terus memberikan dukungan agar berhasil
dengan baik, demikian juga Reformasi Aparatur Penegak
hukum sejalan dengan Reformasi Birokrasi yang dilaksanakan
oleh Pemerintah untuk membangun Good Governant, juga
belum kita jalankan bersama-sama dan semuanya ini saudara-
saudara adalah amanah, serta tekad reformasi yang telah kita
mulai sejak 10 tahun yang lalu.
Pertanyaannya adalah mengapa reformasi, penataan, dan
pembaharuan sektor hukum termasuk Badan-badan dan
Lembaga Peradilan perlu terus dilakukan :
- Pertama, merupakan amanah Konstitusi. Pasal 1 ayat (3)
Undang-Undang Dasar 1945 secara eksplisit mengatakan
bahwa Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Mari kita
jadikan pedoman dan rujukan yang utama dalam
membangun dan menegakkan Hukum di Negeri kita.
Mengalir dan Undang-Undang Dasar itu dengan demikian
Negara berkewajiban untuk menegakkan Hukum dan
Keadilan (justice) dalam cakupan dan arti luas.
Proses berikutnya lagi kita ingin uraikan satu persatu secara
singkat. Dengan amanah yang telah diberikan oleh
Konstitusi kepada kita semua dalam mengelola kehidupan
bernegara, dengan menjalankan roda pemerintahan, maka
masyarakat pencari keadilan, saya ulangi : Masyarakat
pencari keadilan, termasuk mereka yang terlibat masalah-
masalah hukum, mereka menginginkan:
1. Kepastian hukum;
2. Proses pengadilan yang tidak rumit;
3. Kecepatan penanganan perkara;
4. Biaya yang murah, dan;
5. Putusan yang adil.
Ini suara mereka, pikiran mereka, aspirasi mereka, mesti
kita perhatikan.
- Kedua, masyarakat luas di negeri ini juga menginginkan,
pertama negaranya tertib, masyarakatnya patuh hukum.
Mereka juga berharap terdapat kepastian hukum dengan

70
legal frame work yang baik. Mereka juga berharap proses
penegakkan hukum bisa dijalankan secara transparan dan
akuntabel.
Sementara itu, karena kita hidup dalam era globalisasi yang
disebut perkampungan global. Apa. yang kita lakukan di
negeri ini termasuk dalam penegakan hukum juga dilihat,
diaudit "oleh masyarakat global". Mereka ingin eksplisit
kadang-kadang disampaikan kepada saya, kepada saudara-
saudara semua, agar sistem dalam lembaga peradilan di
negeri kita di Indonesia ini kredibel. Yang kedua : Putusan
pengadilan yang Saudara-saudara ambil oleh Para Hakim
diharapkan fair dan ekseptabel sesuai (tentu, cara pandang
mereka) dengan norma-norma hukum universal, itu adalah
fikiran, aspirasi, kepentingan para stake holders. Oleh
karena itu kita, utamanya saudara-saudara, bersama-sama
untuk yang memang makin kredibel, dan makin baik
kinerjanya.
Sistem penegakan hukum itu sendiri, ini menjadi tema
besar Rekernas yang Saudara lakukan, tentu diharapkan
makin modern, dan makin maju, dan tentunya tetap
transparan dan akuntabel. Oleh karena itu masuk kepada
wilayah yang paling penting, yang paling hakiki, adalah
untuk bisa mewujudkan semuanya itu, untuk
meningkatkan keadilan yang sejati, maka para penegak
hukum, termasuk para hakim, diharapkan benar-benar
memiliki integritas yang tinggi, termasuk disini adalah
profesionalisme, etika, nilai, atau (values) yang saya jadikan
satu rumpun integritas. Yang kedua tentunya para hakim
juga kapabel memiliki kapasitas, kapabelitas termasuk
pengalaman yang diperlukan untuk bisa dengan ari, tepat,
dan adil memutuskan apa yang harus diputuskan. Dan
yang tidak kalah pentingnya, kalau Negara dan rakyat
menginginkan para hakim yang berintegritas, dan
berkapasitas, maka mesti dipikirkan dan diberikan insentif
yang fair.

71
Kita sedang menata sistem dan (disinsentif bagi yang lalai),
meningkatkan kesejahteraan yang tepat dan adil. Keadilan
itu perlu, memang terus terang gaji Presiden, gaji para
Menteri ini sudah tahun ke empat, belum naik, tidak apa-
apa, yang penting semua ditata terutama yang golongan
penghasilan rendah, setelah itu, setelah rampung
penataannya tentunya kita berharap semua abdi Negara
makin meningkat kesejahteraannya sebanding dengan
tanggung jawab dan amanah yang diembannya mudah-
mudahan ekonomi kita terus tumbuh, mudah-mudahan
penerimaan Negara kita terus naik, mudah-mudahan
pembelajaan Negara juga memiliki ruang yang lebih luas,
dan ini menjadi misi kita sehingga secara bertehap
kesejahteraan semua, termasuk para Hakim, juga terus
menerus dapat kita tingkatkan.
Saya ingin mengajak saudara untuk memahami apa
yang sedang terjadi di negeri kita ini terutama dalam era
reformasi ini dalam era demokratisasi ini, dan era
pembangunan kembali ekonomi kita mengalami krisis yang
dahsyat 10 tahun yang lalu.
Saudara-saudara, tidak kita sadari dalam era reformasi
ini terutama yang berkaitan dengan demokrasi dan rule of
law, muncul dua paradigma : Paradigma pertama adalah
hukum sebagai panglima, dan bukan politik (baca: bukan
kekuasaan politik), oleh karena itu pengelolaan Negara,
pengelolaan pemerintah mesti merujuk dan mendasarkan
para konstitusi, Undang-undang, Etika dan aturan main
(rules of the game), itu adalah pranata demokrasi, itu adalah
keniscayaan sebuah Negara hukum.
Mencapai tujuan tidak boleh inkonstitusional dalam
arti luas, dan tidak boleh menghalalkan segala cara
meskipun tujuannya benar, katakanlah untuk Negara dan
bangsa, untuk NKRI. Tetapi tetaplah kita berada dalam
koridor konstitusi, UndangUndang, dan pranata hukum
yang sama-sama kita anut.
Saya ingin memberikan contoh. Saya alhamdulillah
hampir memasuki tahun ke-5 dalam masa bhakti saya
sampai jatuh tempo nanti 20 Oktober tahun depan, selama
4 tahun ini banyak sekali masukan, desakan dan banyak
pihak, ada yang lewat sms, ada yang lewat surat, ada yang
menelpon, ada yang ketemu saya, dan banyak sekali forum
untuk itu : mengatakan Presiden itu demi NKRI apa saja
bisa dilakukan, begitu nasehatnya. Tentu saya berfikir "apa
iya?", toh ada rumusannya, ada ketentuannya, Undang-
Undang Dasar, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah,
dan semua yang berlaku. Saya setuju bahwa NKRI harus
tetap kita tegakkan, saya setuju, bahwa kepentingan
nasional kita tegakkan, saya setuju tujuan-tujuan
pembangunan harus kita capai. Tetapi saya belum bersetuju
kalau dikatakan bisa melakukan apa saja, berarti peradigma
atau mind set yang keliru barang kali pernah ada di negeri
kita, seolah-olah politik sebagai panglima, kekuasaan politik
di atas segalanya. Mungkin dianggap tegas kalau seperti itu
keliru, menyesatkan. Yang kedua, ada juga desakan :
Presiden itu bisa membubarkan apa saja, melarang apa saja
demi kepentingan bangsa dan Negara, demi stabilitas, demi
itu dan demi ini, saya juga tidak bersetuju karena sekali lagi
ada pranatanya. Ini penting bagi kita semua bahwa kita
sudah memiliki paradigma atau mind set sebagaimana saya
katakan tadi.
Secara tidak sadar banyak diantara kita mungkin yang
hidup di era reformasi, tapi masih punya pikiran-pikiran
yang seolah-olah apa saja bisa dilakukan yang tentunya
bertentangan.

Bapak Bagir Manan.


Yang pertama adalah menyangkut isu-isu aktual yang
muncul di media massa, muncul di warung kopi, dan
muncul di talk show, SMS, tentang katakanlah
penyimpangan, pelanggaran, dan kejahatan yang dilakukan
oleh sebagian (bahasa dulu namanya) "oknum" penegak

73
hukum, apakah dan Kepolisian, apakah dari Kejaksaan,
apakah dari Badan Peradilan, dan dari manapun,
ini tidak perlu sangat dipolemikkan tidak perlu dibikin
ruwet, iya kalau ada yang bersalah dan terbukti bersalah
secara hukum iya mesti mendapatkan sanksi hukum. Yang
kedua proses hukum yang dijalankan tentu fair, dan adil
tanpa ada tekanan dan pihak manapun, agar keadilan betul-
betul bisa ditegakkan. Kemudian sekali lagi, jangan terlalu
dipolemikkan, seolah-olah ini akan berhenti, semua fungsi-
fungsi kenegaraan, fungsi-fungsi penegakkan hukum yang
sama-sama kita jalankan sebagaimana di negara lain ada
kasus-kasus seperti itu diselesaikan dengan baik apabila
salah diberikan sanksi, dan kalau tidak salah jangan
diberikan sanksi; salah kecil hukumannya ringan, salah
besar hukumannya berat. Itu namanya adil, dan ini
tentunya bukan hanya berlaku bagi penegak hukum, bagi
semua kalau ada pelanggaran hukum.
Isu yang kedua masalah pemberantasan korupsi, ini
juga masih menjadi isu yang mengemukan diberbagai
forum di seluruh tanah air. Saya sudah menjelaskan berkali-
kali kebijakan dasar kita, intension kita, pilihan kita, strategi
kita untuk menyelamatkan negeri kita dan yang kita sebut
kejahatan korupsi. Kita sepakat untuk pemberantasan
korupsi harus terus kita lanjutkan dengan serius. Jangan
hanya berfikir penindakan, penindakan, penindakan, tetapi
yang lebih mulia dan lebih baik kalau kita bisa mencegah,
kita tata, kita perbaiki semua sistem, sehingga semua orang
tercegah dan korupsi ada orang yang terlibat korupsi
karena sadar ingin berkorupsi, dan ada yang terjebak dalam
korupsi karena tidak begitu paham bahwa itu melanggar
hukum dan sebagainya. Kita bikin lebih terang, lebih
certain, lebih gambling pranata-pranata itu, dengan
demikian kita tidak bisa mencegah terjadinya korupsi.
Kalau sudah terjadinya korupsi. Kalau sudah terjadi
korupsi maka tidak mudak untuk betul-betul
mengembalikan asset Negara dan kekayaan Negara yang
telah dikorupsi itu. Proses hukum tetap saya garis bawahi
harus memberikan pandangan, komentar, kritik, kecaman
dan lain-lain, saya berharap mari bersama-sama ikut
memastikan bahwa ke depan pemberantasan korupsi terus
kita jalankan dengan proses yang adil dan benar, dua-
duanya berpasangan.
Saya mendengar, masuk ke tempat saya SMS, surat-
surat khawatir kalau dalam pemberantasan korupsi, dalam
tingkat penegakan hukum ini seolah-olah ada
kesewenangan dan para penegak hukum, mari kita
hilangkan kekhawatiran ini, mari kita katakan bahwa justru
itulah yang harus kita hilangkan kekhawatiran hindari tapi
jangan pula menjadi alasan bahwa pemberantasan korupsi
itu lantas menjadi kendor. Tetapi betul-betul kita pastikan
proper, fair, dan betul-betul justs. Ini masalah pemberan­
tasan korupsi.
Yang ketiga pemahaman isu yang menonjol yang kita
rasakan bersama pemahaman masyarakat tentang hukum.
Saya memiliki alat ukur SMS yang masuk ke saya sampai
hari ini jumlahnya 2,6 juta, sejak 2005 setiap 2 minggu per
dua minggu yang masuk surat atau SMS kita review apa
saja. Kemudian kita salurkan kemana saja respon pada
tingkat saya apa saja, respon pada tingkat lain juga seperti
apa saja, nah dan situ sebetulnya meskipun tidak semua
masuk ke media massa ke TV, ke Koran, ke Majalah tapi
denyut nadi kadang-kadang rakyat berterimakasih, kadang-
kadang rakyat marah, kadang-kadang rakyat protes,
kadang-kadang rakyat mengaduh, semua itu ada dengan
bahasa yang terang, dengan bahasa apa adanya, saya
beruntung, karena saya punya pengukur, pengukur suhu,
pengukur tensi, dan sebagainya.
Dari apa yang saya baca itu sebagian dari masyarakat
kita paham betul tentang hukum, ini jangan diremehkan,
karena after all Saudara-saudara kita itu bukan hanya
menegakkan hukum, bukan hanya mengadili yang
melanggar hukum, tetapi negeri ini harus bisa membangun
budaya hukum, kultur, penilaku pranata yang itu menjadi

75
kekuatan yang fundamental bagi tertibnya kehidupan di
negeri ini. Berkaitan dengan semuanya itu misi kita adalah
membikin masyarakat kita paham terhadap hukum,
semakin sadar tehadap masalah-masalah hukum, dan
makin patuh pada pranata hukum. Jangan diabaikan misi
ini, misi semua, misi Negara, misi lembaga pendidikan, misi
banyak pihak, untuk memastikan bahwa di seluruh
Indonesia dan Merauke sampai Sabang dan Mianga sampai
Pulau Rote kita semua memahami tentang seluk beluk
hukum ini, jangan sampai terjadi provokasi, agitasi kepada
masyarakat sehingga justru mengganggu proses
penegakkan hukum yang adil.
Contohnya ada seseorang yang sedang diperiksa, entah
oleh tim penyelidik, penyidik, atau dalam proses
penuntutan, pemutusan penuntutan misalnya, lantas ada
tekanan fisik kelompok masa yang memaksa agar
dibebaskan, agar dilepaskan, dan sebagainya. Berarti tidak
paham proses hukum. Ada juga paksaan fisik dan
kelompok ketika proses pengadilan sedang berlangsung.
Bagaimana bisa dijamin kejernihan, ketepatan, dan keadilan
dalam memutus perkara itu, apabila secara fisik ada
kekerasan, tekanan-tekanan. Ada yang lebih soft
sebetulnya, tapi juga tidak bagus untuk tegaknya hukum
dan keadilan di negeri ini, apa yang kita sebut dengan trial
by the press atau trial by SMS. SMS itu dahsyat sekarang, ada
muncul seorang Bupati X oleh SMS dinyatakan bersalah
terlibat korupsi 100 milyar dan harus dihukum dan harus
diganti segala macam SMS beredar. Proses hukum tengah
berlangsung atau baru dimulai ini tidak boleh tumbuh
berkembang subur dinegeri kita.
Kepada pers, karena pers ini sahabat kita, saya juga
beberapa kali menyampaikan yang pas di dalam
mengangkat berita-berita agar sekali lagi hukum dan
keadilan tegak di negeri ini. Ini penting bagi semuanya
karena semua harus mendapatkan keadilannya. Ini sekedar
tiga isu aktual yang memiliki kaitan dengan tugas saudara-
saudara dengan tugas kita semua. Dan akhirnya menutup
sambutan saya ini, dan dalam kapasitas saya sebagai kepala
Negara menyangkut reformasi yang kita laksanakan yang
saudara-saudara laksanakan di bidang hukum, disektor
hukum kalau kita ini jujur, kalu kita semua berjiwa besar,
patutlah dikatakan ada banyak kemajuan tidak benar kalau
reformasi di bidang hukum ini gagal, tidak benar kalau
tidak ada satupun yang dicapai, tidak benar kalau jalan
ditempat, sama saja tidaknya kalau semuanya sudah selesai,
tidal ada masalah, semuanya berjalan dengan baik, itu juga
tidak benar. Yang kita perlukan adalah yang kita perlukan
cermin saudara, refleksi. Sepuluh tahun kita bereformasi,
ibarat cermin apakah masih baik pakaian saya ataukan
lusuh rambut saya dan sebagainya.
Kalau lusuh katakan lusuh, kalau rambut berserahkan
katakan berserahkan, tapi kalau rapi katakan rapi.
Maknanya kita cermin, refleksi bangsa ini di bidang hukum
yang sudah dapat kita lihat kemajuannya hasil ini, ini, ini,
yang belum ini, ini, ini, PR ke depan ini, ini, ini, tenang
jangan sampai ada krisis jiwa besar, jangan sampai ada
krisis kejujuran, untuk menilai kita semua ingin kaca,
cermin apa yang sudah kami lakukan yang berhasil
alhamdulillah yang belum Insya Allah kami jalankan ada
yang gagal minta maaf saya gagal itu yang saya harapkan.
Terhadap yang telah saudara-saudara capai, saya ucapkan
selamat, terimakasih dan penghargaan, yang belum capai,
termasuk ada memang beberapa perilaku penegak hukum
oknum-oknum tadi tercelah, mari kita perbaiki bersama-
sama, ke depan ini, ini semangat kita, ini tujuan kita. Dan
dalam melangkah ke depan kalau kita ingin bangsa yang
maju, yang besar, yang sejahtera jangan kita ini memiliki
kegelapan dalam jiwa kita, jiwa-jiwa yang gelap mudah
menyalahkan, mencacai maki, dirinya sendiri jelek yang
lain bagus dan seterusnya, dan seterusnya, gelap. Mari kita
bikin terang demikian juga berpikir kalau berpikir serba
negatif semuanya jelek, gagal, salah positif dan bersikap
optimis tidak pesimis.

77
Kalau kita pesimis, sekarang sudah kalah kita, kalau
pesimis Indonesia tidak akan kemana-mana dan tidak
menjadi apa-apa. Kalau jiwa kita terang pikiran kita positif,
sikap kita optimis. Saya tahu banyak masalah dan
tantangan yang dihadapi bangsa kita sebagaimana yang
dihadapi bangsa-bangsa lain, dengan kerja keras, dengan
kebersamaan, dengan kerukunan pasti dapat kita atasi, saya
tahu, masalahnya ruwet, kompleks dan saling kait-
mengkait, tapi kalau jiwa kita terang, pikiran kita positif,
sikap optimis mesti ada solusi. Bersama kesulitan ada
kemudahan, dan musibah kita bisa petik hikmah from crisis
to opportunity. Ini Negara kita sendiri saudara-saudara, ini
bangsa ktia sendiri, masa depan ada di tangan kita, mari
tidak perlu kita saling menyalahkan, mencari-cari siapa
yang salah selama Indonesia merdeka selama sepuluh
tahun reformasi kita mencintai bangsa, Negara, dan tanah
air sendiri dengan itu mari kita bersatu, mari kita lebih
kompak, dan kita atasi semua masalah secara bersama,
jangan kita terkotak-kotak, jangan kita berhadap-hadapan
karena perbedaan identitas, apapun agamanya, etnisnya,
sukunya, apapun daerahnya, termasuk apapun partai
politiknya, zoe are one.
Partai politik penting untuk menyiapkan kader-kader,
rekruitmen untuk mengelola Negara, apakah menjadi
anggota parlemen, menjadi kepala daerah apakah menjadi
Presiden dan sebagainya, dan diatur dalam Undang-
Undang proses demokrasi dan proses kompetisi. Dan kita
jalankan dengan penuh tanggung jawab dan penuh etika,
tapi jangan kehidupan kita sepanjang tahun itu harus
terpecah-pecah, terbelah-belah karena identitas yang tadi
kita akan menjadi bangsa yang merugi. Saya ingin
menyampaikan ini, dan hati saya yang paling dalam, untuk
kita lebih dekat, lebih kuat silaturahim kita, meskipun
barangkali pikiran, pendapat, posisi politik berbeda-beda
akan indah kalau semua itu bisa kita jalanka secara
bersama. Itulah saudara-saudara harapan, ajakan, dan
pesan saya serta dukungan saya terhadap semua yang
dilaksanakan oleh jajaran Mahkamah Agung dari semua
badan-badan Peradilan di negeri ini.
Dengan itu semua maka, dengan terlebih dahulu
memohon ridho Allah AWT, dan seraya mengucapkan
Bismillahirrahmanirrahim Rapat Kerja Nasional Mahkamah
Agung dengan Jajarannya tahun 2008, dengan resmi saya
nyatakan dibuka.

Beberapa ringkasan/inti dan tulisan Pak Bagir :


1. Mengadili menurut hukum (Pasal 5 ayat (1) UU No. 4
Tahun 2004)
a. Hakim wajib mengadili menurut hukum suatu
peradilan yang dilakukan tidak menurut hukum
adalah batal demi hukum (null and void, rechtswege
nieting)
b. Rendahnya kepercayaan sebagian orang terhadap
Pengadilan, asas memutus menurut hukum acap kali
menjadi sasaran untuk menyudutkan hakim yang
dipandang tidak menghayati rasa keadilan yang hidup
dalam masyarakat. Demi keadilan, hakim tidak
dibenarkan hanya menerapkan hukum sebagai "legal
justice", melainkan wajib mengutamakan "moral justice"
atau "social justice". Hakim - bila perlu - wajib
mengesampingkan atau meninggalkan hukum, demi
memuaskan rasa keadilan masyarakat. Sisi lain hakim
dikecam - hakim didakwa menjadi sumber ketidak­
pastian hukum - antara lain tidak konsistensi dalam
penerapan hukum.
Jadi, hakim harus mengartikan kepastian hukum
sebagai kepastian yang adil.
c. Asas mengadili menurut hukum sekaligus memuat
aspek-aspek sebstantif dan prosedural.

79
Makna mengadili menurut hukum.
a. Perkataan hukum, baik hukum tertulis maupun tidak
tertulis.
Hukum yang lebih luas dan tertulis dan tidak tertulis,
seperti hukum yang lahir dan suatu perjanjian "sebagai
undang-undang bagi pihak-pihak" (Pasal 1339- kepatutan
dan pasal 1337 memperhatikan kesusilaan dan
ketertiban umum).
b. Perwujudan asas legalitas — bahwa setiap putusan
Hakim hams didasarkan pada ketentuan hukum yang
sudah ada sebelum putusan.
c. Harus dikaitkan dengan paham kodifikasi _bahwa
hukum hanyalah hukum tertulis atau hukum tidak lain
adalah Undang-undang —► sehingga lahir ungkapan
"hakim adalah corong Undang-undang" (spreekbuis van
de wet, bouche de la hoi). —► hingga tahap hakim
dilarang menafsirkan undang-undang, (pasal 15 AB)
"geeft gewoonte geen recht, dan alleen wanneer de wet
daarop verwijst" = ketentuan kebiasaan tidak
merupakan hukum, kecuali ditunjuk oleh undang-
undang.
d. Dalam kaitan hukum sebagai pengertian normative
dan pengertian sosiologis.
Menemukan hukum (rechtsvinding) terutama dikaitkan
dengan metode penafsiran, konstruksi hukum dan
penghasilan hukum —► (lebih luas lagi) menemukan
hukum termasuk pekerjaan yang semata-mata
melekatkan kaidah hukum pada suatu peristiwa
hukum (tailoring) dan membentuk hukum
(rechstchepping).

II. RESTRUKTURISASI BADAN PERADILAN


dalam arti luas pembaharuan lembaga peradilan dan fungsi
peradilan mencakup:

80
• tata cara pengelolaan fungsi-fungsi manajemen
peradilan - masalah keorganisasian perubahan
susunan dan organisasi peradilan
- pembinaan ketenagaan (Hakim, Panitera dll)—».
pembaharuan sistem rekruitmen, pendidikan dan
pelatihan, sistem mutasi dan promosi;
- Perubahan sistem pengawasan _^ pengawasan
terhadap fungsi kesekretariatan, fungsi
administrasi perkara, terhadap hakim dll.
Perubahan sistem administrasi, dan keuangan meliputi
ketenagaaan, pengawasan, dan lain-lain - dengan tujuan
membangun sistem manajemen yang benar menunjang
jalannya peradilan untuk bekerja efektif, efisien.
• Lahirnya badan peradilan khusus - hakim nonkarir,
hakim ad hoc, penambahan Pengadilan karena
pemekaran Daerah;
• Tata cara melaksanakan fungsi peradilan tidak hanya
kegiatan memeriksa dan memutus perkara, dan juga
cara-cara menyelesaikan sengketa, pengembangan
pranata arbitrase, mediasi, ADR, dll.
Pembaharuan sistem perencanaan dan program - atas
bantuan LSM, dan pemerintah Belanda melalui IMF telah
disusun berbagai blue prints, yang dijadikan dasar
perencanaan.

III. PENEGAKAN HUKUM YANG BERKEADILAN


- Keadaan hukum yang ditegakkan: hukum sebagai instru­
ment sosial dan hukum sebagai instrument kekuasaan;
- Pelaku penegak hukum : proses peradilan dan proses non
peradilan.
• Dalam perkara pidana : penyidik, jaksa penuntut (non
peradilan) Hakim (peradilan)
• Dalam perkara perdata : pihak-pihak berperkara (non
peradilan) Hakim (peradilan);

81
• Dalam perkara TUN : penggugat, Pejabat administrasi
negara (non peradilan) Hakim (peradilan)
- Lingkungan penegak hukum : masyarakat yang berupaya
memperoleh perlakuan hukum yang benar dan adil.
- Mencapai penegak hukum yang adil:
• Aturan hukum yang akan ditegakkan.
• Pelaku Penegakan hukum;.
• Lingkungan social tempat hukum berlaku.

Demikian mudah-mudahan ada manfaatnya.

82
B A G IR M A N A N Y A N G S A Y A K E N A L
Oleh:
Prof. Dr. Kaimuddin Salle, SH.MH.*

Dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83/M


Tahun 2003 saya bersama 17 orang lainnya diangkat sebagai Hakim
Agung Republik Indonesia. Pada hari Senin tanggal 16 Juni 2003
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia mengundang ke
delapan belas hakim agung tersebut mengadakan tatap muka dan
sekaligus perkenalan pertama para Hakim Agung yang baru dengan
Ketua Mahkamah Agung.
Satu kejutan bagi saya karena begitu saya memasuki ruangan
pertemuan tiba-tiba disapa dengan suara yang sangat lembut oleh
Ketua Mahkamah Agung "silakan masuk Prof Kaimuddin" demikian
suara lembut Ketua Mahkamah Agung menyilakan saya masuk
keruang pertemuan, yang pada waktu itu beberapa hakim agung
telah berada dalam ruangan tersebut. Itulah sapaan pertama Prof DR.
Bagir Manan, SH.MCL pada saya. Saya kaget karena selama ini
barulah saya yang mengenal beliau, sedangkan beliau belum
mengenal saya. Pengenalan pertama berlanjut pada tanggal 18 Juni
2003 pada waktu ke delapan belas Hakim Agung dilantik secara
resmi dan sejak itu hubungan dengan beliau semakin sering terjadi.
Kesan yang mendalam pada saya ialah bahwa Pak Bagir
(demikian sapaan yang biasa disampaikan oleh para Hakim Agung
pada beliau) adalah sosok pribadi yang lembut, pekerja keras, tegas
akan tetapi sekaligus sangat santun dalam kesehariannya termasuk
pada karyawan. Pada setiap pertemuan apakah itu rapat pleno
Hakim Agung, ataupun pada pertemuan lainnya, begitu beliau
memasuki ruangan, maka hal yang pertama dilakukan adalah
menyalami seluruh peserta rapat/pertemuan. Pada acara makan
beliau tidak pernah duduk di satu kursi akan tetapi sambil
memegang piringnya berkeliling ke meja yang lain berbicara dengan

Hakim Agung Republik Indonesia.

83
siapapun juga. Pada setiap surat, putusan yang dibuat beliau tidak
pernah dicantumkan gelar beliau.
Beberapa bulan yang lalu saya untuk yang ketiga kalinya
ditugaskan sebagai Ketua Panitia Pelatihan Hakim Tindak Pidana
Korupsi. Untuk pembukaan dan penutupan pelatihan tersebut selalu
dimohonkan kesediaan beliau selaku Ketua Mahkamah Agung untuk
melakukannya. Satu kejutan lagi bagi saya, karena rak buku yang
selama ini dipenuhi buku-buku dan surat-surat lainnya yang berada
di dalam ruang kerja beliau ternyata sudah kosong melompong.
Rupanya keterkejutan saya disadari beliau. Dengan suara lembut
beliau menyampaikan pada saya bahwa kita berdua termasuk Hakim
Agung yang akan pensiun pada tanggal 1 Nopember 2008. "Jadi agar
tidak terburu-buru saya sudah memboyong buku-buku saya ke
Bandung", begitu kata beliau. Begitu saya kembali ke ruang kerja
saya, hal yang sama saya lakukan pula. Jadi sebenarnya bayangan
orang bahwa Pak Bagir ingin mempertahankan kedudukannya baik
sebagai Ketua Mahkamah Agung, maupun sebagai Hakim Agung
tidaklah benar. Kalaupun lontaran pernyataan beliau pada tahun
2007 yang lalu bahwa usia Hakim Agung sebaiknya sampai pada
usia 70 tahun, selain atas dasar pertimbangan bahwa di negara-
negara lain usia hakim agung ada yang sampai 70 tahun bahkan
sampai seumur hidup, bukanlah untuk kepentingan pribadi beliau,
akan tetapi untuk para Hakim Agung yang akan datang. Kalaupun
ingin melihat fakta, maka sebenarnya di dalam tubuh Mahkamah
Agung terdapat Hakim Ad Hoc pada Mahkamah Agung yang
usianya malah sudah lebih 70 tahun, dan sampai sekarang masih
aktif bekerja.
Untuk sumbangan tulisan pada buku kenang-kenangan pada
usia yang ke 67 beliau, saya menyumbangkan tulisan tentang
HUKUM ADAT BAGIAN HUKUM YANG PERLU MEMPEROLEH
PERHATIAN, atas dasar pertimbangan bahwa terdapat mahasiswa
beliau yang menyampaikan pada saya bahwa beliau pernah pula
mengajar Hukum Adat. Mudah-mudahan dengan uraian singkat ini
akan mengingatkan kembali pada kuliah-kuliah Hukum Adat yang
pernah beliau berikan.

84
BAGIAN II
KONTRIBUSI
PEMIKIRAN ILMIAH
M E L A L U I PE M B A R U A N M E N U JU P A D A
M O D E R N IS A S I P E N G A D IL A N
Oleh:
Prof. Dr. Paulus Effendie Lotulung, SH.*

Dalam suatu hasil penelitian yang berskala Internasional tentang


kerangka I bingkai keunggulan bagi badan-badan peradilan
(International Framework for Court Excellence), antara lain dirumuskan
adanya tujuh bidang yang menjadi tolok ukur keberhasilannya,
yaitu :
1. Manajemen badan peradilan dan kepemimpinannya.
2. Kebijakan-kebijakan badan peradilan.
3. Sumber Daya Manusia, Finansial dan Sarana /Prasarana.
4. Proses beracara yang baik.
5. Kebutuhan pencari keadilan dan pemuasannya.
6. Kesanggupan dalam akses pelayanan publik dan akuntabilitas.
7. Kepercayaan publik pada peradilan dan transparansi.

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2007 oleh suatu konsorsium


yang terdiri d an:
1. The Australian Institute of Judicial Administration (AIJA)
2. The Federal Judicial Center (United States)
3. The National Center for State Courts (NCSC)
4. The Subordinates Courts of Singapore

Yang dibantu oleh :


1. The European Commission for the Efficiency of Justice
2. Spring Singapore
3. The World Bank.
Masing-masing bidang tolok ukur tersebut diatas masih bisa dipecah
lagi kedalam beberapa kegiatan sub-bidang, yang satu sama lain
saling terkait dalam mewujudkan konkretisasinya. Terutama
kebutuhan akan adanya manajemen badan peradilan yang solid dan

Hakim Agung RI/Ketua Muda PTUN Mahkamah Agung RI.

85
proaktif disertai dengan kepemimpinan yang penuh inspirasi dan
semangat, merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai ukuran
keunggulan tersebut diatas. Peran kepemimpinan dan perencanaan
yang strategis sangatlah penting karena kedua faktor ini menjadi
pendorong dan penentu tentang inisiatif dan program-program yang
harus dilaksanakan sebagai hasil dari pemikiran yang visioner dari
pimpinan.
Pimpinan yang inspiratif dengan semangat yang tinggi diibaratkan
bagai nahkoda tangguh yang akan memimpin dan membawa
kapalnya berlabuh di berbagai pelabuhan wujud dan keunggulan-
keunggulan tadi. Perjalanan menuju keunggulan badan peradilan
ibarat tidak ada akhirnya melalui rentang waktu yang panjang dan
tidak berhenti pada satu titik kepuasan saja. Ia akan menjadi
pendorong bagi motivasi untuk antisipasi terhadap perkembangan
dan pembaruan masyarakat dan birokrasi, hal mana juga akan
mendorong pada tuntutan pembaruan dalam lingkungan pelayanan
di bidang peradilan dengan mendasarkan pada kapasitas
manajemennya yang sangat profesional.
Inovasi dan fleksibilitas didalam organisasi badan peradilan menjadi
sangat penting bagi tuntutan perubahan dan pembaruan didalam
masyarakat yang sudah menjadi fakta dan kenyataan, seiring dengan
perkembangan era globalisasi yang semakin kuat.
Ide pembaruan dalam dunia peradilan bukan saja mengilhami dan
mendorong negara-negara yang sedang berkembang saja, tetapi juga
telah terjadi di negara-negara yang sudah mempunyai tradisi
peradilan yang kuat dan konservatif dalam perkembangan sejarah
peradiiannya, misalnya antara lain di negara Inggris (United
Kingdom) melalui hasil karya dan pemikiran hakim agungnya
sebagai pimpinan badan peradilan yaitu Lord Woolf yang pada tahun
1995 dikenal dengan program The Woolf Reforms dan menerbitkan
laporan finalnya pada tahun 1996 dengan judul Acces to Justice, dan
yang sekarang menjadi landasan perubahan dan pembaruan sistem
peradilan di Inggris terutama di bidang Civil justice.
Di negara Singapura, dimana badan peradilannya terdiri dari
Supreme Court dan Subordinate Courts, telah dimulai reformasi
peradilannya sejak tahun 1990 dibawah pimpinan Chief Justice

86
YONG Pung HOW dan Hakim Senior Richard Magnus di
Subordinate Court.
Langkah pertama reformasi peradilannya adalah mengatasi
tunggakan perkara (back-log cases) dan penyusunan suatu Court
Charter, yang kemudian juga diikuti dengan usahanya yang keras
untuk mewujudkan badan-badan pengadilan yang sangat maju
dalam hal Information Technologie (I.T) di wilayah Asia Pasifik.
Modernisasi peradilan di negara tersebut dimulai dengan
meningkatkan effisiensi dan produktivitas badan-badan peradilan,
disamping meningkatkan kepercayaan publik terhadap kinerja dan
administrasi peradilan. Juga dipusatkan pada pembinaan Sumber
Daya Manusia melalui pendidikan dan pelatihan, Kode Etik Hakim
dan Karyawan, dll.
Reformasi peradilan yang sudah dimulai sejak tahun 1990 tersebut
dibawah pimpinan Chief Justice Yong Pung How kemudian
dilanjutkan oleh penggantinya yaitu Chief Justice Chan Sek Keong
pada tahun 2006 sampai sekarang.
Hasilnya mengindikasikan adanya peningkatan kwalitas peradilan
dan peningkatan kepercayaan publik pada dunia peradilan.
Kedua contoh negara tersebut diantara negara-negara lain
menunjukkan bahwa pembaruan dan reformasi badan-badan
peradilan sangat tergantung keberhasilannya pada pimpinan dan
manajemen peradilan, yang mempunyai komitmen yang kuat dan
berkesinambungan serta visi pandangan jauh kedepan menuju pada
modernisasi pengadilan.
Era reformasi di Indonesia, yang membawa implikasinya diberbagai
bidang masyarakat meliputi birokrasi, politik dan social/ekonomi,
dll, menyentuh juga dunia hukum dan peradilan.
Reformasi peradilan merupakan suatu proses yang sangat panjang,
terlebih bila kita ingin mencapai keberhasilan tolok ukur keunggulan
yang tadi disebutkan dalam awal tulisan ini, halmana tentu
membutuhkan rentang waktu beberapa generasi penerus di dunia
peradilan disertai dengan tekad dan komitmen yang berkelanjutan
dan berkesinambungan. Reformasi peradilan merupakan perjalanan
panjang, namun perlu kita sadari bahwa perjalanan panjang harus

87
selalu dimulai dengan satu langkah kemauan yang menjadi dasar
kuat bagi keberhasilan yang bertahap, dan yang sudah mulai tampak
di masa kita ini.
Beberapa indikator keberhasilan yang walaupun baru secara
bertahap dapat kita lihat, untuk menyebut beberapa saja, antara lain:
- Penurunan tunggakan perkara (badc-log cases) di Mahkamah
Agung
- Peningkatan profesionalisme melalui pelatihan-pelatihan bagi
para hakim dan pejabat peradilan di seluruh Indonesia secara
bertahap.
- Peningkatan sarana dan prasarana pengadilan-pengadilan.
- Peningkatan finansial / budget badan-badan pengadilan dan
remunerasi para pejabatnya.
- Informasi Tehnologi, dll.

Kesemuanya hasil pembaruan peradilan tersebut tidak lepas dari


sangat didorong oleh semangat pembaruan dan kepemimpinan
Bapak Bagir Manan sebagai Ketua Mahkamah Agung selama
delapan tahun terakhir ini, yang telah memulai dengan satu langkah
strategis pembaruan.
Sebagaimana disebutkan dalam tujuh tolok ukur menuju keunggulan
badan-badan peradilan diawal tulisan, maka unsur manajemen dan
kepemimpinan merupakan fokus sentral dalam menggerakkan
perubahan dan pembaruan agar mencapai keberhasilan. Beliau telah
mengilhami pemikiran pembaruan sehingga dalam Rapat Kerja
Nasional Akbar Tahun 2008 mengambil tema Modernisasi
Pengadilan.
Modernisasi Pengadilan pada dasarnya juga mengacu dan menuju
pada keunggulan badan peradilan yang mencakup tujuh tolok ukur
sebagaimana disebut pada awal tulisan ini.
Sejarah mencatat peranan dan pengarahan yang beliau gariskan
sebagai pimpinan dalam pembaruan peradilan di Indonesia sejak
diterbitkannya penyusunan polanya dalam Cetak Biru I Pembaruan
(Blue Print) pada tahun 2003 yang komprehensif, dan yang akan

88
dilanjutkan dengan Cetak Biru n dalam kurun waktu lima tahun
mendatang, dan seterusnya.
Tim Pembaruan di Mahkamah Agung sangat berterima kasih dan
bangga atas kepemimpinan beliau didalam mengarahkan pembaruan
yang berguna dan bermanfaat bagi dunia peradilan khususnya, dan
bangsa Indonesia pada umumnya.
Selamat memasuki masa pumabakti Bapak ! Kami mengharapkan
kiranya Bapak Bagir Manan dalam masa purnabakti beliau masih ada
waktu dan berkenan memberikan sumbangan pemikiran yang
innovatif dan inspiratif bagi pembaruan peradilan di Indonesia,
sehingga seperti dikatakan dendang pantun:
"Jauh dimata, tapi dekat di hati Pembaruan Mahkamah Agung"

89
P R O S E S P E N G A D IL A N A N A K
Litm as S eb agai B ahan P ertim b an gan P u tu san O leh
H ak im D alam S idang P en gad ilan A n ak
Oleh :
Prof. Rehngena Purba, SH.MS.*

A. Hak Asasi Anak.


Anak sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa memiliki hak asasi
sejak dilahirkan, sehingga tidak ada manusia atau pihak lain yang
boleh merampas hak tersebut.
Hak asasi anak diakui secara universal sebagaimana tercantum
dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Deklarasi PBB
Tahun 1948 tentang Hak-Hak Asasi Manusia, Deklarasi ILO di
Philadelphia Tahun 1944, Konstitusi ILO, Deklarasi PBB Tahun 1959
tentang Hak-Hak Anak, Konvensi PBB Tahun 1966 tentang Hak-Hak
Ekonomi, Sosial dan Budaya, dan Konvensi PBB Tahun 1989 tentang
Hak-Hak Anak.
Dengan demikian semua negara di dunia secara moral dituntut
untuk menghormati, menegakkan, dan melindungi hak tersebut.
(Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun
1999 Tentang Pengesahan ILO Convention No. 182).
Negara dan Pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab
menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa
membedakan suku, agama, ras. Golongan, jenis kelamin, etnik,
budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak dan
kondisi fisik dan/atau mental. (Pasal 21 Undang-Undang No.23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak).
Hak asasi anak meliputi:
• Hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan
berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.

’ Hakim Agung pada Mahkamah Agung R.I.

91
• Hak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status
kewarganegaraan.
• Hak untuk beribadah menurut agamanya, berfikir, dan
berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya,
dalam bimbingan orang tua.
• Hak mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh
orang tuanya sendiri.
• Dalam hal karena suatu sebab orangtuanya tidak dapat
menjamin tumbuh kembang anak, atau anak dalam keadaan
terlantar maka anak tersebut diasuh atau diangkat sebagai anak
asuh atau anak angkat oleh orang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
• Hak memperoleh palayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai
dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.
• Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka
pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnnya sesuai
dengan bakatnya.
• Hak memperoleh pendidikan luar biasa bagi anak yang
menyandang cacat dan hak mendapatkan pendidikan khusus
bagi anak yang memiliki keunggulan.
• Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya,
menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan
tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya
sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.
• Hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul
dengan anak yang sebaya, bermain berekreasi, dan berkreasi
sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi
pengembangan diri.
• Hak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan
taraf kesejahteraan sosial bagi anak yang menyandang cacat.

Disamping itu Anak mempunyai hak untuk memperoleh


kebebasan menurut Hukum.

92
Bagi anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk:
Pasal 17 Undang-Undang No.23 Tahun 2002
(a) Mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatan-nya
dipisahkan dari orang dewasa.
(b) Memperoleh bantuan hukum dan bantuan lainnya secara efektif
dalam tahapan upaya hukum.
(c) Membela diri dan memperoleh keadilan didepan pengadilan
anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup
untuk umum.

Dalam Konvensi Hak Anak, ditegaskan Hak-hak sipil dan


kemerdekaan pada dasarnya meliputi "hak-hak sipil dan politik"
dalam HAM; meliputi:
(1) Hak untuk memperoleh identitas (pasal 7).
(2) Mempertahankan identitas (pasal 8).
(3) Kebebasan berekspresi (pasal 13).
(4) Kebebasan berpikir, beragama dan berhati nurani (pasal 14).
(5) Kebebasan berserikat (pasal 15).
(6) Perlindungan atas kehidupan pribadi (pasal 16).
(7) Memperoleh informasi yang layak (pasal 17).
(8) Perlindungan dari aniaya dan perenggutan kemerdekaan (pasal
37, a).

Identitas Anak.
Batasan umur untuk seorang anak masih dijumpai
keanekaragaman dalam berbagai peraturan perundang-undangan
yang ada di Indonesia seperti halnya :
1. Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 Tentang Kewarga Negaraan
mengatur batas usia anak adalah 18 (delapan belas) tahun.
2. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, mengatur Pasal tentang
batas umur yaitu:
Pasal 6 (2) : Untuk melangsungkan perkawinan seseorang
yang belum berumur 21 (dua puluh satu)
tahun harus mendapat izin dari kedua orang
tua.

93
Pasal 7 : Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria
sudah mencapai umur 19 (sembilan belas)
tahun dan pihak wanita mencapai umur 16
(enam belas) tahun.
Pasal 47 (1) : Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan
belas) tahun atau belum pernah melang­
sungkan perkawinan ada dibawah kekuasaan
orang tuanya selama mereka tidak dicabut
kekuasaannya.
Pasal 50 : Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan
belas) tahun atau belum pernah melangsung­
kan perkawinan yang tidak berada dibawah
kekuasaan orang tua, berada dibawah
kekuasaan wali.
3. Inpres No. 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam, batas
usia anak adalah 21 (dua puluh satu) tahun.
4. Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak,
memberikan batasan umur anak adalah seseorang yang belum
mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan atau belum
pernah kawin.
5. Keppres No. 36 Tahun 1990 Tentang Pengesahan Konvensi Hak-
Hak Anak, membuat batasan anak adalah setiap orang yang
berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun, kecuali berdasarkan
undang-undang yang beriak bagi anak ditentukan usia dewasa
dicapai lebih awal.
6. Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak,
anak diartikan sebagai orang yang dalam perkara anak nakal
telah berumur 8 (delapan) tahun akan tetapi belum mencapai
umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.
7. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Undang-Undang
Perlindungan Anak, ditegaskan anak adalah seseorang yang
belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan.
8. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan,
merumuskan batasan usia antara 13 - 14 tahun boleh bekerja
dengan syarat tidak mengganggu fisik, mental maupun sosial.

94
Ketentuan batas usia anak sangat penting untuk menjadi
perhatian karena hal tersebut berhubungan erat dengan peristiwa
hukum yang terkait dengan kepentingan si anak (Undang-Undang
yang relevan dengan peristiwa hukum).
Oleh karena itu, bukti satu-satunya yang relevan dan
merupakan kepastian hukum tentang kedudukan seorang anak
adalah Akte Kelahiran atau Akte Kenal Lahir.
Kedudukan anak adalah jaminan hukum bagi anak berupa
pencatatan kelahiran pada pelayanan registrasi umum tentang asal
usul kelahiran dan atau data-data keluarga, pemberian status dan
kewarganegaraan demi kesejahteraan anak.
Didalam akte kelahiran ini akan jelas identitas anak/jati diri anak
yaitu tentang nama, jenis kelamin, tanggal lahir, orang tua.
Apakah seorang anak berhadapan dengan hak-haknya (hukum
perdata), berhadapan dengan peristiwa-peristiwa hukum lainnya,
seperti terlibat dalam kasus pidana, maka identitas seorang anak
(yaitu bukti) tentang berapa umur anak tersebut adalah salah satu
hukum formil.

Pasal 27 Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan


Anak.
(1) Identitas diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya.
(2) Identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan
dalam akte kelahiran.
(3) Pembuatan akte kelahiran didasarkan pada surat keterangan
dari orang yang menyaksikan dan/atau membantu proses
kelahiran.
(4) Dalam hal anak yang proses kelahirannya tidak diketahui dan
orang tuanya tidak diketahui keberadaannya, pembuatan akte
kelahiran untuk anak tersebut didasarkan pada keterangan
orang yang menemukannya.

Pasal 28
(1) Pembuatan akte kelahiran menjadi tanggung jawab Pemerintah
yang dalam pelaksanaannya diselenggarakan serendah-rendah­
nya pada tingkat kelurahan/ desa.

95
(2) Pembuatan akte kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus diberikan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung
sejak tanggal diajukannya permohonan.
(3) Pembuatan akte kelahiran semagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak dikenakan biaya.
(4) Ketentuan dan tata cara dan syarat-syarat pembuatan akte
kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
perundang-undangan.

Apakah orang tua, masyarakat, pemerintah sudah mensosialisasikan,


melaksanakan, perlunya akte kelahiran bagi seorang anak, masih
merupakan masalah yang belum teratasi. Karena dari berbagai kasus
dimana anak berhadapan dengan hukum, masalah akte kelahiran,
dan atau bukti umur seorang anak masih menjadi suatu kendala
(Tanda bukti dan kepastian hukum), karena belum dimiliki oleh anak
yang berhadapan dengan hukum.

B. Prinsip-Prinsip/Asas-Asas Peradilan Anak.


* Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) dengan
Keputusan Presiden No.36 Tahun 1990 tertanggal 25 Agustus
1990. Berlaku sejak 5 Oktober 1990 sesuai dengan Pasal 2/9 (1),
"Bagi tiap-tiap negara yang meratifikasi atau yang menyatakan
keikut sertaan pada Konvensi (Hak Anak) setelah diterimanya
instrumen keikut sertaan yang kedua puluh, konvensi ini akan
berlaku pada hari ketiga puluh setelah tanggal diterimanya
instrumen ratifikasi atau instrumen keikut sertaan dari negara
yang bersangkutan".
Dengan diratifikasinya KHA, maka pembaharuan Peradilan
Anak di Indonesia, dijiwai dan dilatarbelakangi oleh prinsip-
prinsip yang terkandung dalam Konvensi Hak Hak Anak 1989
(Resolusi PBB 44/25), hal ini ditegaskan dalam
Pasal 37 (b) : Tidak seorang anakpun akan kehilangan
kebebasannya secara tidak sah dan sewenang-
wenang. Penangkapan, penahanan atau penghu­
kuman anak akan disesuaikan dengan undang-

96
undang dan akan digunakan hanya sebagai
langkah terakhir dan untuk masa yang paling
singkat dan layak;
Pasal 40 : 1. Negara-negara Peserta mengakui hak setiap
anak yang diduga, dituduh atau diakui
sebagai telah melanggar undang-undang
hukum pidana akan diperlakukan dengan
cara yang konsisten dengan peningkatan
pengertian anak tentang martabat dan nilai,
yang memperkuat sikap hormat anak pada
hak-hak asasi manusia dan kebebasan hakiki
orang lain dan yang memperhatikan usia
anak dan keinginan untuk meningkatkan
reintegrasi anak dan pelaksanaan peranan
yang konstruktif anak dalam masyarakat.
2. Untuk ini dan dengan memperhatikan
ketentuan-ketentuan yang relevan dari
instrumen-instrumen internasional, Negara-
negara Peserta secara khusus akan menjamin
bahwa:
(a) Tak seorang anak pun akan diduga,
dituduh atau diakui sebagai telah
melanggar undang-undang hukum
pidana karena perbuatan-perbuatan atau
kelalaian-kelalaian yang tidak dilarang
oleh undang-undang nasional dan
internasional pada saat perbuatan itu
dilakukan;
(b) Setiap anak yang diduga atau dituduh
telah melanggar undang-undang hukum
pidana setidaknya mempunyai jaminan-
jaminan berikut:
(i) Dianggap tidak bersalah sebelum
dibuktikan bersalah menurut hukum;
(ii) Secepatnya dan secara langsung
diberitahu tentang tuduhan-tuduhan

97
terhadapnya dan jika layak, melalui
orangtuanya atau walinya yang sah
dan mendapat bantuan hukum dan
bantuan yang layak lainnya dalam
mempersiapkan dan menyampaikan
pembelaannya;
(iii) Agar persoalannya ditentukan oleh
penguasa yang berwenang, bebas dan
tidak memihak atau badan peradilan
tanpa ditunda-tunda dalam suatu
sidang adil menurut undang-undang
dan hadirnya bantuan hukum atau
bantuan lain yang layak dan kecuali
hal ini dianggap tidak merupakan
kepentingan yang terbaik dari anak
yang bersangkutan, khususnya,
dengan memperhatikan usia dan
situasi, orang tuanya atau walinya;
(iv) Tidak dipaksa untuk memberikan
kesaksian atau mengaku bersalah;
memeriksa atau menyuruh memerik­
sa saksi yang memberatkan dan
untuk mendapatkan peran serta dan
pemeriksaan saksi-saksi untuk kepen­
tingan anak berdasarkan persamaan
hak;
(v) Jika dianggap telah melanggar
undang-undang hukum pidana, agar
keputusan ini dan langkah-langkah
apapun yang dikenakan sebagai
akibatnya ditinjau ulang oleh
penguasa atau badan peradilan pada
tingkat lebih tinggi yang berwenang,
bebas dan tidak memihak sesuai
dengan undang-undang;
(vi) Mendapat bantuan cuma-cuma dari
seorang juru bahasa jika anak tidak
dapat memahami atau berbicara
dalam bahasa yang digunakan;
(vii) Agar kehidupan pribadinya
dihormati sepenuhnya pada semua
tingkat proses hukum.
3. Negara-negara Peserta akan berusaha untuk
meningkatkan penetapan undang-undang,
prosedur-prosedur, kekuasaan dan lembaga-
lembaga yang dapat diterapkan secara
khusus terhadap anak-anak yang disangka,
dituduh atau diakui telah melanggar
undang-undang hukum pidana dan
khususnya;
(a) Penetapan usia minimum dimana anak-
anak dengan usia dibawahnya akan
dianggap sebagai tidak mempunyai
kemampuan untuk melanggar undang-
undang hukum pidana;
(b) Dimana layak dan dikehendaki, langkah-
langkah untuk menangani anak-anak
seperti itu tanpa mengenakan tindakan
hukum, asal saja hak-hak asasi dan
perlindungan-perlindungan hukum
seperlunya dihormati;
4. Berbagai pengaturan seperti perawatan,
bimbingan dan perintah pengawasan;
bantuan hukum, hukum percobaan; asuhan
pengganti, program-program pendidikan
dan pelatihan kejuruan dan alternatif-
alternatif lain dari perawatan berlembaga
akan disediakan untuk menjamin bahwa
anak-anak ditangani dengan cara yang sesuai
dengan kesejahteraan mereka dan sebanding

99
baik dengan lingkungan mereka dan
pelanggaran itu.
Pasal 41.1 : Dimana perkara seorang pelanggar hukum
berusia remaja belum dialihkan (dibawah
peraturan 11), ia akan ditangani oleh pihak yang,
berwenang secara hukum (pengadilan, tribunal,
dewan, majelis, dll.) sesuai dengan prinsip-
prinsip pengadilan yang jujur dan adil.
Pasal 41.2 : Proses-proses peradilan akan kondusif bagi
kepentingan-kepentingan utama remaja itu dan
akan dilaksanakan dalam suasana pengertian,
yang akan memungkinkan remaja itu untuk ikut
serta di dalamnya dan untuk menyatakan
dirinya secara bebas.
Konvensi Hak Hak Anak adalah aturan yang secara yuridis dan
politis berlaku untuk kasus anak.

Disamping itu Peraturan-peraturan minimum standar PBB


mengenai Administrasi Peradilan Anak (The Beijing Rules),
Resolusi 40/33 tahun 1985, menegaskan :
Pasal 15.1 : Selama jalannya proses peradilan remaja itu akan
memiliki hak untuk diwakili oleh seorang
penasehat hukum atau untuk memohon bantuan
hukum bebas biaya dimana terdapat ketentuan
untuk bantuan demikian di negara itu.
Pasal 15.2 : Orang tua atau wali akan berhak ikut serta
dalam proses peradilan dan dapat diharuskan
oleh pihak yang berwenang untuk menghadiri­
nya demi kepentingan remaja itu. Namun
demikian, mereka dapat ditolak untuk ikut serta
oleh pihak yang berwenang jika terdapat alasan-
alasan untuk menduga bahwa pengecualian itu
diperlukan demi kepentingan remaja itu.
Pasal 16.1 : Pada semua perkara kecuali yang melibatkan
pelanggaran-pelanggaran hukum yang kecil,
sebelum pihak berwenang secara hukum mem­

100
berikan pelulusan akhir sebelum vonis hukuman
dijatuhkan, latar belakang dan keadaan dimana
remaja itu hidup atau keadaan-keadaan di
bawah mana pelanggaran hukum telah dilaku­
kan akan diselidiki secara benar sehingga
mempermudah pengambilan keputusan hukum
dari perkara itu oleh pihak berwenang secara
hukum.
Pasal 17.1 : Pelulusan oleh pihak berwenang secara hukum
akan dituntun oleh prinsip-prinsip berikut:
(a) Reaksi yang diambil senantiasa sebanding
tidak hanya pada keadaan-keadaan dan
beratnya pelanggaran hukum tetapi juga
pada keadaan-keadaan dan keperluan-
keperluan remaja itu maupun pada
keperluan-keperluan masyarakat;
(b) Pembatasan-pembatasan atas kebebasan
pribadi remaja itu hanya dapat dikenakan
setelah pertimbangan yang seksama dan
akan dibatasi pada kemungkinan terkecil;
(c) Kehilangan kebebasan pribadi tidak dapat
dikenakan kecuali remaja itu diputuskan
vonisnya atas suatu tindakan yang serius dan
melibatkan kekerasan terhadap orang lain
atau atas ketetapan dalam melakukan
pelanggaran-pelanggaran hukum yang serius
lainnya dan kecuali tidak terdapat jawaban
lain yang memadai;
(d) Kesejahteraan remaja itu akan menjadi
faktor penuntun dalam mempertimbangkan
perkaranya.
Pasal 17.2 : Hukuman mati tidak dapat dikenakan bagi
kejahatan apapun yang dilakukan oleh remaja-
remaja.
Pasal 17.3 : Remaja-remaja tidak dapat menjadi subyek
hukuman badan.

101
Pasal 17.4 : Pihak berwenang secara hukum akan memiliki
kekuasaan untuk mengakhiri proses peradilan
pada setiap saat.

* Undang-Undang Pengadilan Anak (UU No.3 Tahun 1997) dalam


pasal-pasalnya menganut beberapa asas/prinsip yang
membedakannya dengan sidang pidana untuk orang dewasa.
(1) Pembatasan umur (Pasal 1 butir 1 jo. Pasal 4 ayat 1).
Adapun orang yang dapat disidangkan dalam acara
Pengadilan Anak ditentukan limitatif, yaitu minimum
berumur 8 tahun dan maksimum berumur 18 (delapan
belas) tahun; dan belum pernah kawin.
(2) Ruang lingkup masalah dibatasi (Pasal 1 ayat 2).
Masalah yang dapat diperiksa dalam sidang Pengadilan
Anak hanyalah menyangkut perkara Anak Nakal.
(catt: Anak Nakal adalah : a), anak yang melakukan tindak
pidana; b), anak yang melakukan perbuatan yang
dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan
perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum
lain yang masih hidup dan berlaku dalam masyarakat
bersangkutan).
(3) Ditangani Pejabat Khusus (Pasal 1 ayat 5, 6 dan 7).
Undang-Undang No.3 Tahun 1997 menentukan perkara
Anak Nakal harus ditangani oleh pejabat-pejabat khusus,
seperti :
a. Di tingkat penyidikan oleh penyidik anak.
b. Di tingkat penuntutan oleh penuntut umum anak.
c. Di pengadilan oleh hakim anak, hakim banding anak
dan hakim kasasi anak.
(4) Peran pembimbing kemasyarakatan (Pasal 1 ayat 11).
Undang-Undang Pengadilan Anak mengakui peranan dari:
a. Pembimbing kemasyarakatan
b. Pekerja Sosial dan
c. Pekerja Sosial Sukarela.

102
(5) Suasana pemeriksaan kekeluargaan (Pasal 42 ayat 1).
Pemeriksaan perkara di Pengadilan dilakukan dalam
suasana kekeluargaan. Oleh karena itu hakim, penuntut
umum dan penasihat hukum tidak memakai toga.
(6) Keharusan Splitsing (Pasal 7).
Anak tidak boleh diadili bersama dengan orang dewasa
baik yang berstatus sipil maupun militer. Kalau terjadi anak
melakukan tindakan pidana bersama dengan orang dewasa,
maka si anak diadili dalam sidang pengadilan anak,
sementara orang dewasa diadili dalam sidang biasa atau
apabila ia berstatus militer di pengadilan militer.
(7) Acara pemeriksaan tertutup (Pasal 5 ayat 1).
Acara pemeriksaan di sidang pengadilan anak dilakukan
secara tertutup. Ini demi kepentingan anak sendiri. Akan
tetapi putusan harus diucapkan dalam sidang yang terbuka
untuk umum.
(8) Diperiksa hakim tunggal (Pasal 11,14 dan 18).
Hakim yang memeriksa perkara anak, baik ditingkat
Pengadilan Negeri, banding atau kasasi dilakukan dengan
hakim tunggal.
(9) Masa penahanan lebih singkat (Pasal 44 s /d 49).
Masa penahanan terhadap anak lebih singkat dibanding
masa penahanan menurut KUHAP.
(10) Hukuman lebih ringan (Pasal 22 s /d 32).
Hukuman yang dijatuhkan terhadap anak nakal, lebih
ringan dari ketentuan yang diatur dalam KUHAP.

C. Pengadilan Anak.
Sistem peradilan di Indonesia menempatkan Hakim sebagai
institusi terakhir yang menentukan atas nasib anak.
Peran Hakim sebagai penegak hukum, erat kaitannya dengan
Kekuasaan Kehakiman.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 4 Tahun 2004 Tentang
Kekuasaan Kehakiman:

103
Pasal 5 (1) : Pengadilan mengadili menurut hukum dengan
tidak membeda-bedakan orang.
(2 ) : Pengadilan membantu pencari keadilan dan
berusaha mengatasi segala hambatan dan
rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang
sederhana, cepat dan biaya ringan.
Pasal 16 : Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa,
mengadili dan memutus suatu perkara yang
diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada
atau kurang jelas, melainkan wajib untuk
memeriksa dan mengadilinya.
Pasal 25 (1) : Segala putusan pengadilan selain harus memuat
alasan-alasan dan dasar putusan tersebut, memuat
pula pasal tertentu dari peraturan perundang-
undangan yang bersangkutan atau sumber hukum
tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.
Pasal 28 : Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami
nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup
dalam masyarakat.
Pasal 32 : Hakim harus memiliki integritas dan kepribadian
yang tidak tercela, jujur, adil, professional dan
berpengalaman dibidang hukum.

Ruang lingkup pemeriksaan yang dilakukan Pengadilan Anak sesuai


dengan Pasal 1 angka 1, dan 2 dan Pasal 40 Undang-Undang No.3
Tahun 1977, adalah menyangkut Anak Nakal yang melakukan tindak
pidana, atau melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi
anak. Baik menurut peraturan perundang-undangan maupun
menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku di
masyarakat bersangkutan.
Oleh karena objek Pengadilan Anak menyangkut perkara pidana,
maka untuk menentukan kompetensi relatif Pengadilan Negeri mana
untuk memeriksa perkara itu, hendaklah memperhatikan tempat
dimana tindak pidana itu dilakukan (locus delicti). Sesuai dengan
Pasal 2 KUHP locus delicti dapat ditentukan sebagai berikut:

104
1. Leer van de lichamelijke daad.
Teori ini disebut juga teori perbuatan materil, yang mengatakan
locus delicti adalah tempat dimana pelaku melakukan tindak
pidana itu.
2. Leer van het instrument.
Adalah teori alat yang dipergunakan, yang mengatakan bahwa
delik dilakukan di tempat dimana alat yang dipergunakan itu
menyelesaikannya. Atau dengan kata lain locus delicti adalah
tempat dimana alat yang dipergunakan mengakibatkan tindak
pidana.
3. Leer van gevolg.
Alat teori alat, yang mengatakan locus delicti adalah tempat
dimana akibat perbuatan itu terjadi.

Hakim Anak
Hakim yang memeriksa perkara Anak Nakal di tingkat
Pengadilan Negeri, disebut hakim anak (Pasal 1 ayat 5). Hakim anak
ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Ketua Mahkamah
Agung atas usul dari Ketua Pengadilan Negeri bersangkutan melalui
Ketua Pengadilan Tinggi (Pasal 9). Syarat-syarat untuk dapat
diangkat menjadi hakim anak diatur dalam Pasal 10 Undang-Undang
No.3 Tahun 1997 sebagai berikut:
a. Telah berpengalaman sebagai hakim di Pengadilan dalam
lingkungan peradilan umum; dan
b. Mempunyai minat, perhatian, dedikasi dan memahami masalah
anak.
Yang dimaksud dengan "mempunyai minat, perhatian, dedikasi, dan
memahami masalah anak" adalah memahami
pembinaan anak yang meliputi pola asuh keluarga,
pola pembinaan sopan santun, disiplin anak dan serta
melaksanakan pendekatan secara efektif, afektif dan simpatik,
pertumbuhan dan perkembangan anak,
berbagai tata nilai yang hidup di masyarakat yang
mempengaruhi kehidupan anak. (Penjelasan Undang-Undang
No.3 Tahun 1997)

105
Hakim Anak untuk tingkat pertama memeriksa dan memutus
perkara dengan hakim tunggal. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu
dan dipandang perlu oleh Ketua Pengadilan (Pasal 11) dapat
dilakukan pemeriksaan dengan sidang majelis. Adapun yang
dimaksud dengan hal-hal tertentu, adalah apabila ancaman pidana
atas tindak pidana yang dilakukan oleh anak itu diancam dengan
hukuman lebih dari lima tahun dan sulit pembuktiannya. Dan dalam
menjalankan tugasnya itu, hakim dibantu oleh seorang panitera.

Hakim Anak Banding


Untuk memeriksa perkara di tingkat banding, dilakukan oleh
Hakim Banding Anak (Pasal 1 ayat 8), yang ditetapkan berdasarkan
Keputusan Ketua Mahkamah Agung (Pasal 12) atas usul Ketua
Pengadilan Tinggi bersangkutan. Syarat untuk diangkat menjadi
Hakim Banding Anak (Pasal 10); adalah telah berpengalaman sebagai
hakim di pengadilan dalam lingkungan peradilan umum, dan
mempunyai perhatian, dedikasi, dan memahami masalah anak.
Hakim Banding Anak dalam memeriksa perkara sebagai Hakim
Tunggal (Pasal 14), kecuali dalam hal tertentu dan dipandang perlu
oleh Ketua Pengadilan Tinggi dapat dilakukan pemeriksaan dengan
sidang Majelis Hakim. Dalam menjalankan tugasnya itu Hakim
Banding Anak dibantu oleh seorang panitera pengganti. Agar sidang
Pengadilan Anak dapat berjalan sesuai dengan undang-undang,
Ketua Pengadilan Tinggi memberikan bimbingan dan pengawasan
terhadap jalannya peradilan di dalam daerah hukumnya (Pasal 15).
Dimaksud dengan bimbingan adalah pengarahan tanpa mengurangi
kebebasan hakim. Disamping itu Ketua Pengadilan Tinggi, juga
dapat memberikan peringatan, teguran, dan petunjuk kepada hakim
di daerah hukumnya. Ini dilakukan, apabila yang bersangkutan tidak
melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur yang ditetapkan
undang-undang.

Hakim Anak Kasasi


Pemeriksaan perkara Anak Nakal di tingkat kasasi dilakukan
oleh Hakim Kasasi Anak (Pasal 1 ayat 9), yang ditetapkan

106
berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Adapun syarat
untuk dapat diangkat menjadi Hakim Kasasi Anak; adalah :
a. Telah berpengalaman sebagai hakim dalam lingkungan
peradilan umum; dan
b. Mempunyai perhatian, dedikasi dan memahami masalah anak.

Hakim Kasasi Anak (Pasal 18) dalam memeriksa dan memutus


perkara Anak Nakal dalam tingkat kasasi adalah sebagai hakim
tunggal. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu dan dipandang perlu
oleh Ketua Mahkamah Agung, dapat dilakukan pemeriksaan dengan
sidang Majelis Hakim. Dalam menjalankan tugasnya tersebut Hakim
Kasasi Anak, ia dibantu oleh seorang panitera atau panitera
pengganti.
Disamping itu Mahkamah Agung juga melakukan pengawasan
tertinggi atas sidang anak (Pasal 19). Ini merupakan tugas
administrasi disamping tugas sehari-hari sebagai yudikatif.
Sidang anak hanya berwenang memeriksa perkara pidana, jadi
masalah-masalah lain di luar perkara pidana bukan wewenang
Pengadilan Anak untuk memeriksanya. Misalnya perkara
Pengangkatan Anak, Permohonan Anak Sipil, Perwalian, atau Anak
Terlantar bukan wewenang Pengadilan Anak untuk memeriksa dan
memutuskannya. Masalah tersebut masuk ruang lingkup Hukum
Perdata.
Disamping itu Sidang Pengadilan Anak itu hanya berwenang
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan (Pasal 21 Undang-Undang
No.3 Tahun 1997) Perkara Anak Nakal saja, yaitu anak yang
melakukan tindak pidana atau anak yang melakukan perbuatan yang
dinyatakan terlarang bagi anak. Baik terlarang menurut peraturan
perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang
hidup dan berlaku dalam masyarakat bersangkutan.
Jadi dapat disimpulkan, bahwa kewenangan Sidang Anak itu
hanyalah memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara pidana
dalam hal Anak Nakal saja. Di luar itu bukan menjadi wewenang
Pengadilan Anak untuk memutuskannya.

107
Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 2004 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun
1985 Tentang Mahkamah Agung.
Pasal 1 : Mahkamah Agung adalah salah satu pelaku
kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Tahun 1945.

Mahkamah Agung adalah Lembaga Tinggi Negara yang


merupakan Badan yang melaksanakan Kekuasaan Kehakiman.
Sebagai Badan yang melaksanakan Kekuasaan Kehakiman,
Mahkamah Agung adalah merupakan Pengadilan Tertinggi dari
semua Lingkungan Peradilan, yang dalam melaksanakan tugasnya
terlepas dari pengaruh Pemerintah dan pengaruh-pengaruh lain serta
melakukan pengawasan tertinggi atas perbuatan pengadilan.
Salah satu fungsi Mahkamah Agung dalam menjalankan kekuasaan­
nya adalah fungsi pengawasan yaitu :
(a) Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi
terhadap jalannya peradilan (rechtsgang) di semua
Lingkungan Peradilan dengan tujuan agar peradilan
(rechtspraak) yang dilakukan Pengadilan-pengadilan
diselenggarakan dengan seksama (nauwkeurig) dan wajar
(fair) dengan berpedoman kepada azas peradilan yang
sederhana, cepat dan biaya ringan.
(b) Mahkamah Agung melakukan pengawasan terhadap
tingkah laku dan perbuatan para Pejabat Pengadilan
(rechterlijke ambtenaren) dalam menjalankan tugas yang
berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok Kekuasaan
Kehakiman, yakni dalam hal menerima, memeriksa dan
mengadiliserta menyelesaikan setiap perkara yang
diajukan kepadanya.
(c) Mahkamah Agung dapat minta laporan dari Pengadilan
dalam hal adanya permasalahan baik di bidang
penyelenggaraan peradilan meliputi tehnis perkara dan
administrasi perkara maupun yang menyangkut tingkah
laku dan perbuatan Pejabat Peradilan baik dalam Dinas

108
maupun di Luar Dinas, tanpa mengurangi kebebasan
Hakim dalam memutus perkara.
(d) Mahkamah Agung dapat memberikan peringatan, tegoran
dan petunjuk kepada Pengadilan yang dapat dinyatakan
dalam bentuk surat tersendiri atau dengan Surat Edaran.
(e) Dalam menjalankan pengawasannya, Mahkamah Agung
dapat mendelegasikan kewenangannya kepada Pengadilan
Tingkat Banding.
(f) Mahkamah Agung melaksanakan pengawasan terhadap
Pengacara dan Notaris.

Dalam rangka penegakkan hukum terhadap perlindungan anak,


Mahkamah Agung melaksanakan fungsi pengawasan dalam bentuk
Surat Edaran, Petunjuk maupun Instruksi Mahkamah Agung dan
lain-lain kepada Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi i.c. para
Hakim (ad. d).
Beberapa kebijakan/pengawasan Mahkamah Agung dalam
bentuk Surat Petunjuk, Instruksi maupun Surat Edaran Mahkamah
Agung dalam kaitannya dengan ruang lingkup perlindungan anak.
Surat Edaran No. 3 Tahun 1959.
"Oleh karena pemeriksaan dalam perkara pidana dimana
dituntut sebagai terdakwa anak-anak yang ditindak melakukan
salah satu tindak pidana pada umumnya dilakukan dihadapan
umum, sehingga tidak jarang terjadi, bahwa pemeriksaan
tersebut menjadi tontotan umum, hal mana sangat merugikan
jiwa si anak yang bersangkutan, sedangkan banyak harapan
untuk memperbaiki jiwa anak-anak yang nakal itu dibawah
pimpinan yang baik, sehingga anak-anak tersebut kelak masih
dapat dijadikan anggota masyarakat yang berguna, maka
dengan ini demi untuk kepentingan anak-anak disarankan
dengan hormat kepada saudara untuk memeriksa perkara anak-
anak dengan pintu tertutup".

Surat Petunjuk Mahkamah Agung RI No. MA/Pemb/048/71 tanggal


4 Januari 1971 perihal sidang perkara anak, ditegaskan :
1. Masalah anak wajib disalurkan melalui suatu peradilan
yang memberi jaminan, bahwa pemeriksaan dilakukan dan

109
putusan diambil benar-benar untuk kesejahteraan anak dan
masyarakat tanpa mengabaikan terlaksananya keadilan.
2. Disarankan agar Hakim yang menangani perkara anak
adalah Hakim Khusus yang mempunyai pengetahuan
tentang setidak-tidaknya perhatian dan "dedication"
terhadap masalah anak nakal dan terlantar.
3. Dalam memeriksa perkara hendaklah diindahkan Surat
Edaran Mahkamah Agung tanggal 15 Pebruari 1959 No.
3/1959.
4. Hakim anak tersebut juga memeriksa semua perkara-
perkara yang lain menyangkut anak seperti perkara
perceraian, alimentasi, perwalian dan pengangkatan anak.
5. Dalam memeriksa perkara anak, baik pidana maupun
perdata dianjurkan agar Hakim bekerjasama dengan :
Kepolisian anak.
Perwakilan Departemen Sosial setempat/Jawatan
Sosial Daerah.
Agar Hakim dapat memperoleh bantuan berupa "Social
Report" mengenai anak dan keluarganya (sebagai
bahan tambahan bagi Hakim untuk menentukan
putusan yang tepat).

Untuk mengantisipasi akan diberlakukannya Peradilan Anak, maka


Mahkamah Agung dalam menyikapi Surat Menteri Kehakiman
No. M.06-UM.01.06 tahun 1983 yang mengatur Tata Tertib Sidang
Anak dikeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung No. 6 Tahun 1987
tanggal 17 Nopember 1987 yang ditujukan pada seluruh Ketua
Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia, setiap hakim mempunyai
perhatian (intresse) terhadap masalah anak-anak yang melakukan
tindak pidana, dengan memperdalam pengetahuannya melalui
literatur diskusi dan lain sebagainya. Dan diharapkan agar setiap
Pengadilan Negeri menunjuk minimal 2 orang Hakim dibebani tugas
memeriksa perkara tindak pidana yang terdakwanya adalah anak-
anak disamping tugasnya sehari-hari sebagai hakim.

110
Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI No. KMA/015/
SK/V/1988 tanggal 6 Mei 1988 tentang Penunjukkan Hakim Agung
Untuk Menangani Masalah-Masalah Yang Bersangkutan Dengan
Peradilan Anak Di Mahkamah Agung.
Dalam rangka pemeriksaan perkara pidana yang terdakwanya
masih kanak-kanak, dimana masalah-masalah yang bersangkutan
dengan peradilan anak dalam kaitannya dengan pembangunan
hukum dan peradilan perlu mendapat perhatian khusus. Karenanya
dalam pemeriksaan di tingkat kasasi bagi perkara pidana yang
terdakwanya anak ditunjuk Hakim Agung yang disamping tugasnya
sehari-hari diserahi tugas menangani dan memikirkan pembangunan
hukum dan peradilan yang menyangkut peradilan anak.

D. Litmas Sebagai Bahan Pertimbangan Putusan Hakim.


Dalam perkara Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal
1 angka 2, Penuntut Umum, Penasehat Hukum, Pembimbing
Kemasyarakatan, orang tua, wali, atau orang tua asuh dan saksi wajib
hadir dalam Sidang Anak. (Pasal 55 Undang-Undang No.3 Tahun
1997)
Anak-anak yang berhadapan dengan hukum pada setiap proses
peradilan, baik ketika anak berurusan dengan Polisi, Jaksa maupun
ketika anak dalam persidangan pengadilan, pada dasarnya memiliki
hak untuk didampingi petugas kemasyarakatan dari B apas dan juga
didampingi oleh orang tua atau wali. Tetapi kenyataannya
pengacara, orang tua atau wali si anak dan petugas kemasyarakatan
Bapas seringkah tidak hadir.
Sebelum sidang dibuka, Hakim memerintahkan agar Pembimbing
Kemasyarakatan menyampaikan laporan hasil penelitian
kemasyarakatan mengenai anak yang bersangkutan (Pasal 56 (1)).
Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berisi:
a. Data individu anak, keluarga, pendidikan dan kehidupan sosial
si anak.
b. Kesimpulan atau pendapat dari Pembimbing Kemasyarakatan
(Pasal 56 ayat 2).

111
Yang dimaksud dengan "sebelum sidang dibuka" adalah sebelum
sidang secara resmi dibuka. Ketentuan ini dimaksudkan untuk
memberi cukup waktu bagi Hakim untuk mempelajari laporan
penelitian kemasyarakatan (LITMAS), karena itu laporan tersebut
tidak diberikan pada saat menjelang sidang melainkan beberapa
waktu sebelumnya.
Hakim wajib meminta penjelasan kepada Pembimbing Kemasyara­
katan atas hal tertentu yang berhubungan dengan perkara anak
untuk mendapatkan data yang lengkap (Penjelasan Undang-Undang
No.3 Tahun 1997).
Sebelum mengucapkan putusannya Hakim memberikan kesempatan
kepada orang tua, wali atau orang tua asuh untuk mengemukakan
segala hal ikhwal yang bermanfaat bagi anak (Pasal 59 (1)).
Putusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memper­
timbangkan laporan penelitian kemasyarakatan dari Pembimbing
Kemasyarakatan (Pasal 59 (2)).
Putusan Pengadilan wajib diucapkan dalam sidang terbuka untuk
umum (Pasal 59 (3)).

Pada kasus anak dituntut adanya laporan penelitian


kemasyarakatan (Litmas) atau social report atau case work (The
Beijing Rules) butir i.6.1, khususnya pada saat pemeriksaan-
pemeriksaan awal, juga pada pemeriksaan sidang pengadilan dan
saat menjalani hukuman. Sangat direkomendasikan oleh beberapa
instrumen yang melindungi anak yang berhadapan dengan hukum,
agar laporan sosial ini sudah dijadikan pedoman bagi penyidik
memberikan putusan, apakah melanjutkan, menghentikan proses
informal. Menurut The Beijing Rules, laporan-laporan pemeriksaan
sosial merupakan suatu bantuan yang sangat dibutuhkan dalam
kebanyakan proses-proses peradilan hukum yang melibatkan anak-
anak.
Pihak yang berwenang secara hukum akan diberitahukan mengenai
fakta-fakta yang relevan tentang anak itu, seperti latar belakang sosial
dan keluarga, riwayat sekolah, pengalaman pendidikan dan lain-lain.
Disamping itu penyusunan social report di Indonesia dilakukan oleh
Petugas Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan (PK Bapas) (lihat UU

112
No.3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dan Keputusan Menteri
Kehakiman No.M.01/PW.07.1997), social report pada dasarnya
berfungsi sebagai salah satu masukan sebagai pertimbangan bagi
hakim dalam mengambil atau menjatuhkan keputusan kepada anak,
dengan demikian pada setiap kasus anak diharuskan kehadiran
petugas kemasyarakatan dan balai pemasyarakatan untuk
menyampaikan atau memaparkan social report yang dibuatnya.
Menurut UU No.3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, lit-mas
(social report atau case work) wajib dijadikan pertimbangan hakim.
Ketentuan Pasal 55 dan Pasal 59 ayat 2, tentang wajib hadir dari
Pembimbing Kemasyarakatan pada Sidang Anak serta pertimbangan
laporan penelitian kemasyarakatan dari Pembimbing Kemasyara­
katan yang wajib dipertimbangkan oleh Hakim dalam mengambil
putusan adalah merupakan hukum memaksa.
Dengan penafsiran authentik, maka apabila ketentuan tersebut
disimpangi/tidak dipenuhi maka putusan batal demi hukum.
Namun sayangnya, meskipun laporan Penelitian Kemasyarakatan ini
menentukan masa depan anak yang dijatuhkan Pengadilan Anak,
tetapi instrument yang dibuat oleh Direktorat Jenderal
Pemasyarakatan bagi para pelapor penelitian kemasyarakatan ini
(petugas Bapas dan Pembimbing Kemasyarakatan) ternyata
merupakan instrumen yang tidak reliable dengan mekanisme
pengumpulan data yang kurang baik. Dengan demikian maka dapat
dikatakan bahwa Keputusan Pengadilan Anak yang melandaskan
diri pada rekomendasi yang tercantum pada Laporan Kemasyara­
katan tersebut akan merupakan keputusan yang tidak mempunyai
dasar yang dapat dipertanggung jawabkan.
Sebagai contoh, bahwa data atau informasi tentang anak ada kalanya
didapat dari orang tua yang sebenarnya tidak berkompeten dalam
menjawab pertanyaan yang diajukan dalam instrumen Atau,
seringkah ketika wawancara, petugas kemasyarakatan kesulitan
dalam menangkap atau menafsirkan dan menuliskan maksud
jawaban dari anak secara ringkas (karena keterbatasan dan format
laporan membuat jawaban-jawaban daru sumber data atau informan
harus dituliskan seringkas mungkin). Sehingga diambil keputusan
bahwa petugas tersebut menuliskannya dengan bahasanya sendiri

113
atau pemahamannya sendiri dengan tetap berpegang pada
keyakinan bahwa yang dituliskan sama dengan apa yang dimaksud
dengan anak.

E. Keberadaan LITMAS Dalam Putusan Pengadilan.

1. Perkara No.1595 K/Pid/2003.


Kasus Posisi:
MTS lahir di Pasuruan tanggal 8 Desember 1984, pelajar salah
satu SMU di kota tersebut, telah didakwa melakukan tindak
pidana sebagaimana tersebut dalam surat dakwaan
Jaksa/Penuntut Umum :
Primer: Pasal 285 KUHP, Subsider: Pasal 289 KUHP, Lebih
Subsider: Pasal 281 ke 1 KUHP, terhadap saksi korban FP (16
th) teman sekolahnya. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 6
September 2001.
Atas perbuatan tersebut Polsek Winongan telah melakukan
penyidikan pada tanggal 7 September 2001 hingga resume
penyidik selesai pada tanggal 1 Oktober 2001. Dalam tenggang
waktu penyidikan tersebut penyidik tidak menyertakan hasil
penelitian kemasyarakatan (litmas) terhadap tersangka MTS dari
Balai Kemasyarakatan. Padahal hal itu adalah wajib jadi
bersifat imperatif, sebagaimana disyaratkan oleh pasal 42 ayat
(2) Undang-Undang No.3 Tahun 1997. Penyidik baru
mengajukan permintaan litmas ke Balai Pemasyarakatan Malang
pada tanggal 8 Oktober 2001 dan Balai Pemasyarakatan Malang
selesai melakukan litmas pada tanggal 25 Oktober 2001
sebagaimana suratnya No. 10/PN/X/2001.
Dalam proses persidangan Majelis Hakim PN. Kab. Pasuruan
tidak memanggil Pembimbing Kemasyarakatan sebagai saksi
untuk dimintai keterangannya sehubungan dengan litmas yang
dibuat oleh pembimbing tersebut (vide: Berita Acara
Persidangan). Begitu pula dalam putusannya Pengadilan Negeri
Kab. Pasuruan tersebut sama sekali tidak mempertimbangkan
perbuatan terdakwa yang dikaitkan dengan UU No.3 Tahun

114
1997 sebagai dasar pertimbangan dijatuhkannya putusan
terhadap terdakwa.
Demikian juga dalam Tuntutan Jaksa/Penuntut Umum hal
tersebut juga tidak dijumpai penerapan UU No.3 Tahun 1997.
Tuntutan Penuntut Umum 1 (satu) tahun, Putusan Majelis
Hakim 6 (enam) bulan.
Melihat proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di
sidang pengadilan dalam kasus ini maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Proses penyidikan terhadap perkara tindak pidana anak ini
telah menyalahi aturan sebagaimana ditentukan dalam UU
No.3 Tahun 1997. Karena penyidikan tidak didasarkan
pada ketentuan pasal 42 ayat (2) UU No.3 Tahun 1997,
sehingga hasil penyidikan menjadi batal demi hukum
karena pasal tersebut bersifat imperatif.
2. Oleh karena proses penyidikan telah batal demi hukum
maka proses penuntutan dan pemeriksaan menjadi batal
pula, lebih-lebih tuntutan Jaksa /Penuntut Umum dan
putusan Pengadilan Negeri sama sekali tidak
mencantumkan UU No.3 Tahun 1997 sebagai dasar
pertimbangan dalam surat tuntutan Jaksa/Penuntut Umum
maupun putusan Pengadilan Negeri. Begitu pula putusan
Pengadilan Tinggi Surabaya juga tidak memperbaiki
putusan Pengadilan Negeri Kab. Pasuruan tersebut.
3. Dengan demikian karena proses penyidikan batal demi
hukum maka rangkaian proses penuntutan dan
pemeriksaan di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi
menjadi batal pula. Sehingga Mahkamah Agung dalam
amar putusannya menyatakan : Penuntutan Jaksa/Penuntut
Umum tidak dapat diterima.

2. Perkara No.1117 K/PID/2004.


Terdakwa : M A H W, anak laki-laki, lahir 14-04-1990 ( ± 1 3
tahun).
Kasus : terdakwa pada hari Minggu tanggal 23 Maret 2003
sekira pukul 08.00 WIB, bertempat di Pasar Pagi,

115
mengambil uang tunai Rp.20.000,- (dua puluh ribu
rupiah milik saksi K.H. dengan cara “sebelumnya
saksi korban beserta temannya D Ch berjalan-jalan
di pasar pagi, tanpa disadari korban, terdakwa yang
memang sudah mengikuti saksi tiba-tiba
mengambil uang milik saksi sebesar Rp.20.000,-
yang berada disaku jaket sebelah kanan milik saksi.
Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan cara
merogoh saku jaket saksi, namun tanpa disadari
terdakwa, saat itu saksi P dan D (Polisi) yang
sedang Patroli mengamati gerak gerik terdakwa
sehingga saksi mengikuti terdakwa terus dan
terdakwa mengambil uang milik korban.
Terdakwa langsung ditangkap beserta barang bukti
uang Rp.20.000,-. Perbuatan terdakwa diancam
pidana pasal 362 KUHP.

PN. Surabaya No.660/Pid.B/2003 Tanggal 19 Mei 2003.


"Menyatakan terdakwa M A H W terbukti secara syah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindakan pidana
"Pencurian".
"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana 2
bulan.
"Menetapkan barang bukti berupa uang tunai Rp.20.000,-
dikembalikan pada saksi K.H.
"Membebankan ongkos perkara sebesar Rp.5.000,-.
C att: Hakim Tunggal.

PT. Jawa Timur di Surabaya No.326/Pid.An/2003/PT.SBY.


"Menguatkan putusan PN.Surabaya No.660/Pid.B/2003/
PN.SBY Tanggal 19 Mei 2003.
Hakim : 3 orang (Majelis).

Putusan MA-RI No.1117 K/PID/2004 Tanggal 16 Pebruari 2005.


" Menyatakan tidak dapat diterima permohonan kasasi JPU.
C att: JPU terlambat menyerahkan memori kasasi.

116
Dari kajian kasus anak M A H W tersebut, ada beberapa catatan :
Masa tahanan M A H W :
1) . Penyidik 24 Maret 2003 s /d 12 April 2003.
2) . Perpanjangan Penuntut Umum 3 April 2003 sejak tanggal 13
April 2003 s/d 22 April 2003.
3) . Penuntut Umum 22 April 2003 s/ d 1 Mei 2003.
4) . Hakim Pengadilan Negeri sejak tanggal 1 Mei 2003 s/d 15
Mei 2003.
5) . Hakim Pengadilan Negeri sejak 16 Mei 2003 s/d 14 Juni
2003.

Berkas Kepolisian.
1. Penunjukkan Penasehat Hukum 23 Maret 2003 No.Pol.B/
7284/III/2003/ RESTA.
2. Bantuan Penelitian Kemasyarakatan 31 Maret 2003
No.Pol.B/873/ 2003/Resta, 8 hari setelah anak ditahan.
3. Kasus M A H W dikriteriakan pidana biasa.
Berita Acara Pemeriksaan Polisi No.Pol.BP/65/
V/2003/SERSE tanggal 4 April 2002, jo. Surat Perintah
Penyidikan No.Pol.SP.Sidik/64/ III/2003/Reskrim
tanggal 23 Maret 2003.
dasar: - Pasal 7, Pasal 11, Pasal 106, Pasal 109 ayat 1 dan
Pasal 110 ayat 1 KUHP.
Undang-Undang No.02 Tahun 2002 tentang
Kepolisian Republik Indonesia.
Laporan Polisi No.Pol.k/LP/ /III/2003/Serse
tanggal 23 Maret 2003.
* Proses penanganan kasus M A H W sejak
dari penyidik polisi, diklassifikasikan pada
pidana biasa.
* Dasar hukum yang dipakai tidak ada meng­
hubungkannya dengan Undang-Undang
No.3 Tahun 1997 dan Undang-Undang No.23
Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

117
Jaksa Penuntut Umum.
Catatan dari berkas JPU, tidak ada perubahan yang
mendasar kasus M A H W seperti dari Penyidik Polisi.
Tuntutan JPU, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa
dengan pidana penjara 5 bulan potong tahanan.........dstnya.

Pengadilan Negeri.
* Ada Pengacara/Penasehat Hukum/Kuasa yang ditunjuk
orang tua terdakwa yaitu Pengacara/Penasehat Hukum
pada "Surabaya Children Crisis Centre", yang pada
pokoknya mohon keringanan hukuman mengingat
terdakwa masih dibawah umur, namun pembelaan hanya
lisan saja.
*' Ada Laporan Penelitian Kemasyarakatan dari Pembimbing
Kemasyarakatan yang diketahui oleh BAPAS no.daftar 32-
64/Pol/IV/ 2003 tanggal 9 April 2003.
* Saksi dipanggil tapi tidak hadir.
* PN mempersilahkan BAPAS membacakan hasil LITMAS
tanggal 14 April 2003, dengan kesimpulan
"supaya klien (terdakwa) dipulangkan/dikembalikan
ke orang tua (KOT)".
* Pertimbangan hakim PN dalam putusan dalam perkara
M A H W antara lain :
"dalam melakukan perbuatannya terdakwa cakap dan
tidak ada alasan pembenaran atau pemaaf, sehingga ia
harus dipertanggung jawabkan atas perbuatannya dan
karena itu harus dijatuhi hukuman pidana".
Hasil LITMAS, masih belum dipertimbangkan secara
menyeluruh dalam putusan yang berhubungan dengan
temuan BAPAS, serta saran dari BAPAS untuk
mengembalikan terdakwa ke orang tua (KOT).

Dari kasus anak M A H W dalam perkara dakwaan pasal 362


KUHP tersebut masih perlu pemahaman yang dalam dari para
penegak hukum yaitu :

118
• Kepolisian : sejak dari penahanan, pentingnya
penahanan, lamanya penahanan
dstnya, masih belum mengacu
kepada UU No.3 Tahun 1997 dan UU
No.23 Tahun 2002 serta Konvensi Hak
Anak.
• Kejaksaan : termasuk perlunya penahanan serta
tuntutan hukuman 5 bulan penjara
atas M A H W.
Alasan Kasasi JPU adalah :
Bahwa berdasarkan putusan yang
dijatuhkan Judex Facti (PN/PT) kami
berpendapat bahwa pengurangan
hukuman tersebut kurang dasar
pertimbangannya, hukuman dua
bulan penjara tersebut tidak memadai
dilihat dari segi-segi - edukatif
- prefentif
- represif
- korektif
Pembinaan terhadap terdakwa
yang masih dibawah umur
hukuman tersebut tidak akan
memberi pengaruh banyak dalam
memberikan efek jera terhadap
perbuatan yang dilakukan.
• Pengacara/Penasehat Hukum :
Tidak melakukan upaya hukum serta
pembelaan yang benar-benar
memperhatikan hak anak dan
administrasi Pengadilan Anak.

Pengadilan Negeri •- kurang memahami tugas Hakim Anak


seperti apa yang dituntut dalam Pasal 10
(b) Undang-Undang No.3 Tahun 1997 jo.

119
Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang No.3
Tahun 1997 yaitu memahami:
1) pembinaan anak, serta melaksanakan
pendekatan secara efektif, afektif dan
simpatik.
2) pertumbuhan dan perkembangan
anak.
3) berbagai tata nilai yang hidup
dimasyarakat yang mempengaruhi
kehidupan anak.
Hasil LITMAS memberi gambaran yang
lebih mendalam tentang anak tersebut,
dari hasil pemeriksaan di persidangan,
namun dalam pertimbangan hukum,
Hakim tidak ada mengambil/memper­
timbangkan hasil LITMAS.

Kesimpulan
1. Proses perlindungan terhadap anak yang berhadapan dengan
hukum (pidana), dimana anak sebagai pelaku, maka peran
Orang tua/Wali, Penasehat Hukum, Polisi, Jaksa dan Hakim
serta BAP AS adalah merupakan satu sistem yang saling relevan
untuk terlaksananya dan dilindunginya hak-hak anak dalam
proses peradilan anak.
2. Laporan Penelitian (LITMAS) dari BAPAS, dalam proses
peradilan anak, belum efektif karena :
Keterlambatan informasi atau permintaan dari penyidik
kepolisian untuk LITMAS kepada BAPAS dalam memenuhi
prosedur yang diatur dalam UU No.3 Tahun 1997.
SDM dari BAPAS, adakalanya kurang proffesional dalam
menghimpun data anak/identitas, riwayat anak dan
sebagainya (yang mengcross cek tentang hak-hak anak)
serta latar belakang peristiwa hukum yang terjadi serta
motivasi peristiwa hukum tersebut.

120
Para penegak hukum, Polisi, Jaksa, Hakim dan Pengacara,
mengabaikan LITMAS dan cenderung berpikir atau
terpengaruh pada perbuatan pidana yang pelakunya adalah
orang dewasa.
3. Perlu pertemuan rutin antara para penegak hukum anak,
akademisi dan peduli anak dalam rangka memperluas wawasan
dan persepsi tentang hak-hak anak.

121
TEM PAT KED UD UKA N H UKUM ATAU SEA T
S U A T U A R B IT R A S E IN T E R N A S IO N A L 1
Oleh:
Prof. HA Mieke Komar K.*

Seperti diketahui Republik Indonesia telah meratifikasi Konvensi


New York 1958 tentang 'the Recognition and Enforcement of Arbitral
Awards' dengan Keputusan Presiden No. 34 Tahun 1981 beserta
beberapa Persyaratan (reservations) yang kemudian telah disusul

1 Tulisan ini disusun dalam rangka memperingati Ulang Tahun ke 67 dan saat akhir jabatan
Rekan/Sahabat/Kolega kami sebagai Ketua Mahkamah Agung RI 2000-2008, Prof Dr Bagir
Manan SH MCL, yang sesuai dengan UU Mahkamah Agung RI pada umur 67 thn harus
meletakkan jabatan dan pensiun sebagai hakim agung RI. Pertama tama kami sekeluarga
mengucapkan Selamat Ulang Tahun, semoga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan beserta
keluarga ytt. dan kedua, Selamat telah sampai pada akhir Jabatan dalam keadaan sehat
walafiat. Telah panjang perjalanan seorang Bagir Manan yang pertama kali saya kenal pada
1961-1962, yang seperti dulu kita diskusikan di Ruang K di kampus Unpad, Bandung, memiliki
cita cita ingin menjadi juru tulis dari Camat di kota asalnya di Lampung, suatu cita cita seorang
pelajar yang lugu yang menamakan diri seorang anak desa. Sebagai mahasiswa fakultas
hukum, Bagir Manan terbukti cemerlang atau "otak encer", yang sering mententeer sesama
kawan sekelas (termasuk saya) dan pada tahun 1965 ia lulus SI dengan tepat waktu dan baik.
Perjalanan aktivis kampus ini diketahui luas di Bandung, ia termasuk exponen 66 yang turut
menggulingkan rezim Soekarno. Pada saat rekan-rekan seperjuangannya sudah pensiun
sebagai anggota DPR, Menteri dan Jenderal, ia muncul menjadi Ketua Mahkamah Agung RI,
setelah memperoleh S3 dalam bidang Hukum Tata Negara di Unpad dengan cumlaude dan
diangkat sebagai Guru Besar Unpad, juga pernah menjabat sebagai Dirjen Hukum dan
Perundang undangan di Departemen Hukum RI dan sejenak menjadi Rektor Unisba di
Bandung.
Pada suatu saat di tahun 2004 saya membaca di sebuah koran nasional yang menyebutnya
sebagai akademisi yang tidak bisa berpolitik, saya heran "Ngak salah nih ?"...Pada saat Bagir
Manan dicerca macam-macam di surat kabar, dan kita bingung " ia kok diam saja" .. dia
hanya senyum dan menimpal bahwa segala suatu yang dialami harus dijawab dengan doa
zikir (doa kecil disebutnya). Segudang fakta dan ceritera yang terjadi selama ini, tapi saya
yakin bahwa keilmuannya tidak akan pudar karena banyak hasil karya yang telah ia publikasi,
ia terbukti dapat menjembatani dunia teori hukum dengan praktek, juga kemampuan berfikir
kritis dan objektif tidak berkurang apalagi setelah diasah dengan menerima sedemikian banyak
kritik baik yang positif maupun negatif dan tidak proposional. Asuhan berupa pesan pesan
moral yang dulu disampaikan kepada kawan dan mahasiswanya, yang selama 8 tahun terakhir
dipaparkan tanpa bosan kepada dunia peradilan dari tingkat Pengadilan Negeri sampai
Mahkamah Agung, pasti akan ada manfaatnya sekalipun memakan waktu. Harus diakui
bahwa Bagir Manan dulu dan sekarang tidak jauh berbeda dalam hal : tetap tegar dalam waktu
sulit, berdiri tegak dalam badai dan tetap berfikir positif untuk masa depan Bangsa kita.
Harapan kita semua, semoga masa transisi -reformasi-transparansi Bangsa kita sekarang akan
mengarah ke perkembangan positif untuk generasi yang akan datang, dan sebagai alumni
Fakultas Hukum saya bangga dapat berkawan dengan salah seorang putera terbaik alumni FH
Unpad, dan sebagai hakim agung saya mengaku telah belajar banyak dari para hakim agung
lainnya dan seorang Ketua Mahkamah Agung yang progresif dan bijak. Semoga Gusti Allah
selalu melindunginya...amin.
*
Hakim Agung Republik Indonesia.

123
dengan lahirnya Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Undang-undang ini
telah menyatakan tidak berlaku ketentuan mengenai arbitrase dalam
pasal 615 sampai dengan pasal 651 Reglemen Acara Perdata dan
pasal 377 Reglemen Indonesia yang diperbaharui serta pasal 705
Reglemen Acara untuk daerah luar Jawa dan Madura. Sebab itu
kiranya relevan membahas aspek aspek teoritis yang terkandung
dalam Konvensi New York 1985, yang sudah mengikat Republik
Indonesia, untuk praktek arbitrase internasioal Indonesia.
Sebelum membahas tentang tempat kedudukan hukum
arbitrase, perlu ditegaskan kembali pengertian tentang suatu
arbitrase internasional, yang menurut UNCITRAL Model Law on
International Commercial Arbitration2 disebut sebagai suatu arbitrase
international, apabila :
a) para pihak pada saat pembuatan suatu perjanjian arbitrase,
memiliki tempat usaha di negara negara yang berbeda; atau
b) salah satu dari tempat tempat berikut ini berada di luar negara
dimana para pihak memiliki tempat usahanya;
(i) tempat kedudukan hukum arbitrase telah ditetapkan dalam
atau sesuai dengan perjanjian arbitrase;
(ii) tempat dimana bagian terbesar dari kewajiban yang timbul
dari hubungan komersial tsb akan dilaksanakan, atau
tempat yang memiliki keterkaitan terdekat dengan objek
dari sengketa tsb, atau
c) para pihak dengan tegas telah menyetujui bahwa objek sengketa
dari perjanjian arbitrase tsb terkait dengan lebih dari satu
negara.

Baik dalam teori dan praktek arbitrase internaional, konsep seat


theory atau teori tentang tempat kedudukan hukum suatu arbitrase
internasional telah diakui secara luas.3 Adakalanya pada tahap

2 RI telah meratifikasi Konvensi NY thn 1985, tetapi dalam penyusunan UU No 30 1999


tidak mengadopsi selengkapnya isi Konvensi tersebut, juga RI tidak menyatakan diri
mengadopsi ketentuan ketentuan Model Law on International Commercial Arbitration 1958.
Dalam kenyataan Model Law ini telah diterima oleh mayoritas negara di dunia, terutama
negara negara tetangga kita.
3 Baca Alan Redfern & Martin Hunter dkk , "Law and Practice of International
Commercial Arbitration", Sweet & Maxwell,London, edisi ke 4, 2004, hal 98 dst.; cf. Michael.

124
negosiasi perjanjian arbitrase para pihak seakan-akan tidak
memperhatikan pilihan suatu place o f arbitration (tempat kedudukan
hukum atau seat) ketimbang pilihan aturan arbitrase yang akan
diberlakukan untuk arbitrase tsb dan hukum yang menguasai
perjanjian arbitrase tsb. Adanya suatu kesan bahwa tempat
kedudukan hukum suatu arbitrase hanya berkaitan dengan hukum
prosedural arbitrase tsb. Juga istilah seat o f arbitration dan place of
arbitration sering digunakan secara bergantian; tetapi adalah lebih
tepat untuk membedakan antara seat o f arbitration di satu pihak dan
lokasi fisik dimana arbitrase dilaksanakan. Karenanya, seat dari suatu
arbitrase adalah bukan isu secara geographis semata mata. Yang
penting adanya keterkaitan kewilayahan (territorial link) antara
arbitrase itu dengan tempat kedudukan hukum arbitrase tersebut.
"...The geographical place of arbitration is the factual connecting factor
between that arbitration law and the arbitration proper, considered as a
nexus of contractual and procedural rights and obligations between the
parties and the arbitration .. ." 4.

Apabila disebut bahwa London, atau Paris atau Jenewa adalah


tempat kedudukan hukum dari suatu Arbitrase, maka bukan lokasi
geografis yang terpenting, tetapi bahwa pelaksanaan arbitrase
tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan hukum Inggris, Perancis
atau Swiss"5. Konvensi New York 1985 dalam pasal V.l.d menunjuk
pada "the law of the country where the arbitration took place6" dan secara
bersamaan kepada " the law of the country where the award is made".7

Conference 2008, R eflection s on D iv erse Issu es in In te rn a tio n a l A rb itra tio n , September 2,2008
Singapore; Cf. AJ van den Berg, dkk Arbitrage Recht, hal 131 dst Tjeenk Willink - Zwolle, 1988
4Redfem & Martin Loc cit
5ibid
6 Isi pasal V.l.d Recognition and enforcement of the award may be refused, at the request
of the party against whom it is invoked, only if that party furnishes to the competent authority
where the recognition and enforcement is sought, proof that (d) the composition of the arbitral
authority or the arbitral procedure was not in accordance with th e la w o f th e c o u n tr y w h e r e th e
arbitra tio n to o k p l a c e ; ...
7 Isi pasal V. 1 a & e:...(a) the parties to the agreement referred to in art.II were, under the
law applicable to them, under some incapacity, or the said agreement is not valid under the law
which the parties have subjected it or, failing any indication thereon, u n d er th e la io w h e r e th e
a w a r d w a s m a d e.., dan dalam (e)the award has not yet become binding on the parties ,or has
beenset aside or suspended by a competent authority of the country in which, or u n d er th e la w o f
w h ich th at aiu ard w as m ade..

125
Intinya, setiap arbitrase harus memiliki suatu seat atau locus arbitri
atau forum yang menyesuaikan hukum proceduralnya (hukum acara)
kepada hukum nasional yang berlaku di negara tersebut, dan dikenal
juga dengan the law governing the conduct of the arbitration.8

Bahwa "tempat kedudukan hukum" adalah suatu konsep yuridis,


sudah diakui ,akan tetapi tidak selalu pelaksanaan (conduct) arbitrase
secara physik diadakan di seat tersebut.9 Tidak semua proceedings
dari suatu arbitrase harus dilakukan di tempat kedudukan hukum
tersebut, sekalipun lazimnya demikian. Hal ini dipertegas dalam
kasus the Peruvian Insurance case, 1988,10 yang membenarkan
diadakan pertemuan dan persidangan di negara-negara lain,
sekalipun hal ini tidak berarti bahwa tempat kedudukan hukum
arbitrase tersebut ikut berubah. Contoh lain, arbitrase Olympics
Games memiliki seat di negara Swiss, sekalipun pertandingan
dilakukan di negara manapun. ICC Rules tentang Arbitrase juga
diubah untuk mengizinkan sidang serta pertemuan diadakan di
tempat lain selain di tempat kedudukan hukum arbitrase tersebut.
Tempat kedudukan hukum/seat arbitrase dapat pula ditetapkan oleh
suatu mahkamah arbitrage yang tetap atas nama para pihak11. Dan
apabila para pihak tidak memilih suatu tempat kedudukan hukum
arbitrase, yaitu tidak memilih hukum yang menguasai pelaksanaan
arbitrase (conduct of the arbitration) maka secara prima facie hukum
dimana arbitrase tsb dilaksanakan akan merupakan juga the seat of the
arbitration atas dasar negara ini memiliki keterikatan yang terdekat
(titik taut12 terdekat) dengan prosidings ybs.).

8 Michael Hwang, loc cit


9loc cit.
10 Redfern&Hunter, op cit him 100 dst
11 Cf van den Berg dkk, op.cit
12 penggunaan kata "titik taut' berasal dari literatur Hukum Perdata Internasional
(Indonesia) yang dikembangkan oleh Prof DR Gouw Giok Siong (Sudargo Gautama) aim. yang
beberapa minggu yl telah wafat di Perth Australia, pada kesempatan ini penulis turut
mendoakan semoga arwah beliau diterima disisi Allah yang Maha Kuasa, teriring hormat
kepada salah seorang Guru Besar /Advokat yang terbesar di RI , co promotor S3 disertasi
penulis (1988) di Universitas Padjadjaran

126
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih tempat
kedudukan hukum suatu arbitrase atau seat arbitrase, yaitu13
1) Pandangan negara dan badan peradilan dari tempat kedudukan
hukum tersebut terhadap arbitrase, mengingat ada yurisdiksi
yang lebih arbitration-friendly ketimbang negara lain,
2) Kemudahan dalam pelaksanaan putusan arbitrase, lazimnya
suatu putusan arbitrase lebih mudah diakui ditempat
kedudukan hukumnya, namun perlu diperhatikan pula
tersedianya cukup aset dari pihak lawan ditempat tersebut,
3) Sifat netralitas suatu tempat kedudukan hukum, yang
tergantung dari adanya keseimbangan kekuatan antara para
pihak, tanpa satu pihak ingin melaksanakan arbitrase di negara
asalnya dan bersedia memilih suatu seat yang netral, yang tidak
ada kaitan dengan wilayah asal kedua belah pihak,
4) Tersedianya berbagai kemudahan fasilitas hukum dalam
yurisdiksi yang dipilih, seperti tax incentives dan kemudahan
'logistik' untuk menyelenggarakan seat dan persidangan,
5) Kesanggupan untuk menunjuk tribunal dan prosedur arbitrase
dalam waktu yang singkat serta tingkat efisiensi dalam
prosedur arbitrase serta organisasi untuk mengimplementasi
prosedur arbitrase tersebut pada "seat" ,
6) Pengetahuan yang luas tentang hukum acara Arbitrase, oleh
karena dalam kasus arbitrase yang kompleks masalah yang
berkaitan dengan dokumen atau hal administratif sangat
penting,

Pilihan seat dalam suatu perjanjian arbitrase harus jelas untuk


menghindarkan berbeda interpretasi tentang lokasi seat dan proper
law oleh para pihak, badan peradilan dan mahkamah arbitrase.
Apabila lex arbitri menjamin bahwa prosedur arbitrase tsb akan
dilaksanakan sesuai dengan hukum tertentu, maka perlu
dipertanyakan hukum apa yang akan ditetapkan untuk menguasai
substansi (materi substantif) hukum dari perjanjian arbitrase
tersebut. Pada pokoknya hukum yang menguasai aspek hukum

13Michael Hwang loc cit.

127
formil arbitrage (het formele recht) harus dibedakan secara ilmiah
dengan hukum yang menguasai sengketa itu sendiri (het materiele
recht) '4.
Michael Hwang SC1415, menegaskan bahwa para pihak sebaiknya
jangan memilih hukum yang menguasai perjanjian arbitrase tsb
berbeda dengan hukum dari seat yg telah dipilih , oleh karena hal ini
akan menyebabkan berbagai akibat hukum yang merepotkan. Dalam
suatu contoh dipaparkan:
Dalam suatu perjanjian arbitrase tertentu (tidak disebut
spesifikasi perkara nya) didapatkan kalimat sebagai berikut : "
any dispute., shall be referred to and determined by the arbitration
under the Rules of the Singapore International Arbitration Centre. The
arbitration shall be governed by the laws of Indonesia. The place of
arbitration shall be in Singapore".

Sehingga timbul pertanyaan hukum apa yang menguasai prosedur


mahkamah arbitrase tersebut? Para arbitrator menetapkan, bahwa
dalam situasi demikian maka hukum yang memaksa untuk prosedur
arbitrase tsb (mandatory laws for procedure for arbitration) adalah
Singapore Law dan SIAC Rules, sedangkan hukum Indonesia yang
terkait akan diberlakukan pada masalah masalah yang tidak diatur
oleh Hukum Singapura dan SIAC Rules. Hal ini menggambarkan
komplikasi yang akan timbul dalam praktek peradilan dan
penyelesaian perkara demikian.

Redfern dan Hunter16 menjelaskan apabila masalah prosedur suatu


arbitrase telah diatasi, maka tugas berikutnya dari makamah
arbitrase adalah menetapkan fakta hukum materiil dari sengketa tsb.,
dengan memeriksa isi perjanjian yang dibuat antara para pihak,
dokumen dokumen yang terkait (korespondensi, notulen rapat dsb)
dan dalam persidangan (hearings) mendengar para saksi dst.
Lazimnya fakta hukum sudah secara lengkap termuat dalam
perjanjian arbitrase ybs , baik mencakup maksud perjanjian, hak dan

14 Cf van den Berg dkk, loc cit.


15 loc.cit
16op cit hl 109 dst.

128
kewajiban para pihak dan tanggung jawab masing masing pihak
apabila timbul suatu kelalaian, wanprestasi dsb. Perjanjian ini
mendasar pada suatu sistem hukum yang juga dikenal sebagai "the
applicable law" atau "the substantive law" atau "the governing law of the
Contract". Dalam hukum kontrak internasional diartikan hukum
yang mengatur interpretasi dan keabsahan konrak tsb., hak dan
kewajiban para pihak, cara cara pelaksanaan isi kontrak serta akibat
hukum dari pelanggaran pelangaran atas isi kontrak dsb, atau juga
dikenal dengan the Proper law of the Contract.

Sangat penting untuk para Arbiter mengetahui hukum yang


menguasai kontrak tsb, karena dalam suatu kontrak internasional
berbagai system hukum dapat memiliki titik taut dengan kontrak
tersebut. Berdasarkan otonomi para pihak , maka para pihak yang
memilih hukum yang akan menguasai perjanjian arbitase
internasional tersebut. Seperti diatur dalam UNCITRAL Rules: " The
arbitral tribunal shall apply the law designated by the parties as applicable to
the substance o f the dispute"; dan ICC Rules: " The parties shall be free to
agree upon the rules of law to be applied by the arbitral tribunal to the merits
o f the dispute ..." .

Dalam kasus Halpern17 (2006),yang merupakan contoh tidak adanya


pilihan tegas tentang kedudukan hukum /seat arbitrase internasional
dan adanya pasal pasal yang saling bertentangan dalam perjanjian
arbitrase serta conduct yang tidak tegas dari para pihak.
Dalam perkara ini, para pihak telah memilih hukum agama Jahudi
untuk menguasai sengketa warisan antara mereka, dan sebagai
tempat kedudukan hukum arbitrase /seat dianggap Swiss, karena
perjanjian ini ditandatangani di Zurich (Swiss). Dalam salah satu
perjanjian disebut pula keterkaitan dengan English Arbitration Act,
sedangkan perkara ini kemudian diperkarakan di pengadilan Inggris,
yang tidak mengakui hukum agama Jahudi. Sehingga secara
potential ada 3 sistem hukum yang menguasai berbagai aspek
hukum dari kasus ini, yaitu hukum agama Yahudi, hukum Inggris

17 Loc.dt

129
dan hukum Swiss. Pengadilan di Inggris memberikan komentar yang
patut diperhatikan:
a) For the law applicable to the arbitration agreement, the Court
preferred English law over Siviss law the applicable law as either
the implied choice of parties or country having the closest
connection to the agreement,
b) For the law applicable to the arbitration, the seat of arbitration and
law of arbitration appeared to be Switzerland and the court
acknowledged the difficulties (complexity, inconvenience , if not
impossibility) of an English Court exercising jurisdiction over an
arbitration conducted in Switzerland. If Swiss law was the curial
law, most of Part I of the English Arbitration Eaw which describes
the conduct of the arbitration would not apply..."

Yang secara garis besar berarti, Pengadilan (hakim) Inggris memilih


Hukum Inggris sebagai hukum yang menguasai perjanjian arbitrase
tsb. ketimbang hukum Swiss yang secara tidak langsung dapat
dianggap merupakan pilihan para pihak karena memiliki "titik taut"
terdekat dengan perjanjian tsb.
Hukum yang menguasai perjanjian ini, tempat kedudukan hukum/
seat dari arbitrase dan hukum arbitrase terlihat adalah hukum Swiss ,
namum demikian Pengadilan mengakui kesulitan (kompleksitas,
ketidak nyamanan, ketidak mampuan) suatu Pengadilan Inggris
untuk menerapkan jurisdiksinya atas suatu arbitrase di Swiss.
Apabila hukum Swiss adalah hukum tempat kedudukan hukum /seat
arbitrase, maka sebagian besar dari English Arbitration Act yang
mengatur tentang conduct arbitrase tidak akan berlaku...

Kesimpulan untuk makalah pendek ini adalah penting untuk


mengusahakan agar hukum yang menguasai perjanjian arbitrase
internasional (isi substantif) disamakan dengan hukum yang
menguasai hukum prosedural pelaksanaan arbitrase ybs sesuai
kedudukan hukumnya ("seat") untuk terhindar dari berbagai
komplikasi hukum. Dan dalam perjanjian arbitrase internasional
tersebut untuk merumuskan sistem hukum yang terkait dengan
tegas. Namun demikian tetap tidak tertutup kemungkinan juga,

130
negara dimana kasus diperkarakan tidak bersedia untuk menerapkan
hukum yang dipilih para pihak itu, oleh karena pengadilan tsb.
memiliki keterbatasan pengetahuan atas hukum dari negara yang
dipilih oleh para pihak, atau seat arbitrase tidak jelas dan tegas telah
disetujui bersama, ataupun seat tsb. tidak memenuhi ke 6 syarat
diatas sehingga dianggap kepastian hukum dalam penyelesaian
sengketa tidak akan tercapai, dan karenanya diterapkan hukum
setempat.

Apabila para pihak perjanjian arbitrase internasional memilih


kedudukan hukum /seat arbitrase di Jakarta, dan hukum yang
menguasai perjanjian arbitrase internasional adalah hukum
Indonesia, maka hukum Indonesia akan menguasai baik aspek
prosedural pelaksanaan (hukum formil) arbitrase tersebut dan juga
hukum yang mengatur unsur unsur substantif (hukum materil) dari
perjanjian arbitrase internasional, baik yang terdapat dalam Undang-
Undang No. 30 1999 dan hukum Indonesia lainnya yang terkait.

131
A N A L IS IS K O N T E N :
P E N E R A P A N N Y A D A L A M P R A K T E K P E R A D IL A N
Oleh:
Valerine J. L. Kriekhoff*

I. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan manusia, komunikasi merupakan bentuk
dasar dan interaksi. Pentingnya komunikasi dapat dikaitkan
dengan perannya sebagai sarana untuk melangsungkan
hubungan antar manusia. Lahirnya kelompok, institusi,
organisasi dan negara, antara yang lain juga disebabkan karena
komunikasi.
Peran komunikasi dalam masyarakat yang bersendikan
hukum juga tidak kalah pentingnya. Sarana komunikasi, baik
yang berbentuk media cetak, seperti surat kabar dan majalah
maupun yang berbentuk media elektronis, seperti radio, TV,
komputer merupakan media untuk memperoleh berbagai
informasi mengenai peristiwa hukum dan sarana untuk
penyuluhan dan/atau penerangan hukum. Perkembangan yang
sedemikian pesat didunia teknologi informasi telah memper­
mudah masyarakat memperoleh akses mengenai Undang-
undang dan peraturan-peraturan yang baru, dan putusan-
putusan pengadilan. Dengan demikian prinsip "setiap .orang
dianggap mengetahui hukum" bukan lagi suatu asumsi belaka.
Semenjak era reformasi topik tentang hukum, secara khusus
tentang penegakan hukum dan lembaga yang terkait dengan
penegakan hukum, hampir setiap hari terungkap di berbagai
media cetak dan elektronik. Pro dan kontra issu dan topik
hukum silih berganti diungkapkan dan berdampak pada
meningkatnya minat dan kesadaran warga masyarakat di
bidang tersebut. Bagi dunia peradilan, media komunikasi ini
juga telah menjadi sarana untuk berpolemik mengenai berbagai
*
Hakim Agung MA-RI dan Guru Besar Tetap Fakultas Hukum Universitas
Indonesia.

133
putusan pengadilan yang 'dianggap' tidak memenuhi rasa
keadilan dalam masyarakat atau yang melahirkan ketidak­
pastian hukum.
Uraian di atas menimbulkan pertanyaan : apakah kaitan
antara analisis konten dengan komunikasi, dan bagaimana pula
hal tersebut dikaitkan dengan praktek peradilan? Jawaban
singkat yang pertama, mengacu pada rumusan analisis konten
dari Berelson (1952 : 18) yang berbunyi sebagai berikut: "Content
analysis is a research technique for the objective, systematic, and
quantitative description of the manifest content o f communication".
Terjemahan bebasnya : "Analisis konten adalah suatu teknik
penelitian yang bertujuan untuk mencandra atau mendeskripsi­
kan objektif, sistematik dan kuantitatif isi komunikasi yang
tersurat".
Terungkap dari rumusan ini, bahwa analisis konten
digunakan untuk menggunakan semua bentuk komunikasi, dan
berkaitan dengan teknik ini, nama M. M. Willey dinyatakan
sebagai perintisnya (J. Vredenbregt, 1978 64). Uraian ringkas
tentang teknik ini akan tercantum dalam pokok bahasan tentang
prinsip analisis konten.
Jawaban yang kedua, berhubungan dengan kenyataan
bahwa dalam praktek peradilan, maka apa yang dikerjakan
seorang hakim dalam rangka tugas mengadilinya adalah
melakukan penelusuran terhadap berbagai dokumen —dalam
hal ini bukti-bukti yang diajukan maupun berbagai " legal
documents", seperti kontrak dan akta—. Kegiatan menelusuri ini
menurut penulis termasuk salah satu bentuk penelitian yang
bertumpu pada pemanfaatan dokumen atau data sekunder.
Tugas hakim adalah menelaah isi dokumen-dokumen yang
dikemukakan dan mencari koherensinya dengan bukti-bukti
yang ada serta dengan kesaksian yang diberikan. Teknik
penelitian yang menitikberatkan pada mencandra isi dari
dokumen yang merupakan asas utama dari analisis konten (atau
analisis isi) inilah yang penulis implementasikan dalam ranah
penelitian hukum, dan dalam konteks ini juga penulis
mengedepankan pendekatan analisis konten terhadap dokumen-

134
dokumen hukum, yang merupakan 'bahan baku' utama bagi
hakim di semua lingkungan peradilan. Uraian yang sekaligus
merupakan inti pembahasan terhadap judul penulisan akan
tercantum di bawah pokok bahasan tentang penerapan analisis
konten dalam penelitian hukum.

II. PENGERTIAN ANALISIS KONTEN.


Sebagai konsep, analisis konten atau sering disebut juga
analisis isi, pada dasarnya sudah lama dikenal. Karangan yang
ditulis oleh Weber (The Protestant and Spirit o f Capitalism),
Thomas dan Znaniecki tentang petani Polandia di Eropa,
Amerika Serikat dan Sorokin dengan karyanya "Social and
Cultural Dynamics" merupakan contoh-contoh penerapan konsep
tersebut (J. Vredenbregt, 1978 : 63-64).
Definisi analisis konten yang dirumuskan oleh beberapa
sarjana cenderung menunjukkan adanya perubahan-perubahan.
Tendensi perubahan dapat terlihat dalam rumusan Berelson
(lihat pendahuluan) bila dibandingkan dengan rumusan Holsti
(1969 : 14) yang berbunyi : "Content analysis is any technique for
making inferences by objectively and systematically specified
characteristics of messages". Rumusan terakhir ini mengandung
wawasan yang lebih luas karena analisis konten tidak lagi
dikaitkan dengan ciri kuantitatif belaka. Dengan definisi ini
Holsti telah membuka cakrawala baru, yaitu memungkinkan
adanya ciri kualitatif dalam analisis konten dan dengan
demikian akan memperkecil issue kuantitatif vs. kualitatif —
yaitu pandangan yang menekankan pada dikhotomi atribut-
atribut tersebut — yang oleh beberapa sarjana (J. Vredenbregt,
M.Malo, dan P. Suparlan) dinyatakan sebagai pendekatan yang
saling mengisi.
Hal lain yang tidak dibatasi oleh Holsti adalah isi
komunikasi itu sendiri. Dengan demikian terbuka kemungkinan
untuk menganalisa baik isi yang tersurat maupun yang tersirat,
dimana yang pertama menekankan pada objektivitas dari
kategori yang digunakan (proses enkoding) dan yang terakhir
pada penafsiran isi komunikasi (proses dekoding).

135
Uraian dalam bagian pendahuluan melukiskan adanya
hubungan yang erat antara analisis konten dengan komunikasi,
dan dengan demikian merupakan metode penelitian yang dapat
digunakan untuk menganalisis aneka bentuk proses komunikasi
yang terungkap dalam media massa, seperti surat kabar, jurnal
ilmiah, dan majalah. Pemanfaatan data sekunder atau bahan
dokumen sebagai acuan berarti bahwa teknik ini dapat pula
digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis materi
yang tertera dalam Undang-undang, konvensi, buku-buku teks,
kontrak-kontrak, akta-akta dan putusan-putusan pengadilan
yang dikategorikan sebagi yurisprudensi tetap {vaste
jurisprudentie}.
Pembahasan ini diawali dengan uraian singkat tentang
prinsip analisa konten yang memanfaatkan data verbal yang
berbentuk tulisan atau menurut Sartono Kartodirjo (1983 : 46)
merupakan bagian dari bahan dokumen. Sebagaimana telah
diutarakan di atas, maka menurut hemat penulis, tercakup
dalam pengertian bahan adalah jenis-jenis data sekunder (lihat
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 1985) yang dikenal dalam
penelitian hukum normatif (lihat J. Ibrahim, 2006) atau peneltian
hukum doktrinal (lihat Soetandyo W., 2002)

III. BEBERAPA PRINSIP ANALISIS KONTEN.

A. Penggunaan Prmnsip Analisis Konten.


Sebagai teknik penelitian yang mengandalkan data siap
pakai atau preexisting/prerecorded data, analisis konten dapat
digunakan sebagai:

1. Tujuan utama.
Dalam hal ini peneliti (yaitu hakim) hanya
menggunakan dokumen siap pakai sebagai satu-
satunya data dan teknik analisis konten merupakan
pula satu-satunya cara yang digunakan untuk
menganalisis, misalnya dalam memeriksa permohonan
Hak Uji Materiel (HUM), seorang hakim hanya akan

136
menggunakan sebagai landasan produk hukum yang
dimohonkan HUMnya dikaitkan dengan UU yang
memayunginya atau dalam gugatan Tata Usaha
Negara, maka yang dikaji apakah 'beschikking' sebagai
keputusan administratif dikeluarkan oleh seorang
pejabat yang memiliki kewenangan sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan dengan
mempertimbangkan Asas-Asas Umum Pemerintahan
yang Baik (AAUPB).

2. Pelengkap
Dalam hubungan ini peneliti akan mencermati
dokumen yaitu bukti-bukti yang diajukan, yang dapat
berbentuk kontrak, akta, sertifikat, (dalam gugatan
perdata), Kesepakatan Kerja Bersama atau KKB (dalam
penyelesaian sengketa ketenagakerjaan), dan Sertifikat
Merek (dalam perkara HaKI), untuk melengkapi
keterangan para saksi (termasuk yang ditayangkan
melalui teleconference) dan saksi ahli.

B. Reliabilitas dalam Analisis Konten


Reliabilitas dalam analisis konten menyangkut isi data
itu sendiri yang umumnya berada di luar jangkauan
peneliti. Dengan demikian uraian ini berkisar pada
penilaian terhadap bahan siap pakai tersebut. Sartono
Kartodirjo membedakan penilaian ini atas (1983 : 59):
1. Kritik intern, yaitu mempersoalkan apakah isinya
dapat diterima sebagai kenyataan, misalnya : akta
hibah dalam gugatan perdata/perdata agama.
2. Kritik ekstern yang antara lain mempersoalkan
keaslian suatu dokumen serta sumbernya, misalnya
Akta Notaris yang dibuat sebelum tahun 1960 (yang
seharusnya menggunakan ejaan lama) yang diajukan
sebagai bukti baru (novum) dalam Peninjauan
Kembali.

137
Dalam hubungan ini ilmuwan di atas merinci pula
beberapa faktor subjektif dalam bahan dokumen, seperti
jauh dan dekatnya pembuat dokumen dari peristiwa, baik
dalam arti ruang maupun waktu (untuk memperdalam
lihat Kartodiredjo, 1983: 59-63).
Tinggi rendahnya tingkat reliabilitas bahan dokumen
juga dibahas oleh Forcese dan Richer dengan kriteria yaitu
"semakin pribadi sifatnya semakin rendah pula tingkat
reliabilitasnya — misalnya Surat Keputusan di bidang
Kepegawaian — dan semakin resmi sifatnya semakin tinggi
pula reliabilitasnya, misalnya undang-undang, peraturan
pemerintah dan peraturan daerah.
Bila kriteria ini digunakan untuk mengkategorikan
data sekunder dalam penelitian hukum, maka bahan
hukum primer memiliki tingkat reliabilitas yang lebih tinggi
dan bahan hukum sekunder (untuk memperdalam baca S.
Soekanto dan S.Mamudji).
Di kalangan para peneliti hukum istilah analisis konten
atau analisis isi sering pula digunakan, namun — bagi
penulis — istilah ini cenderung digunakan untuk mendes­
kripsikan isi suatu undang-undang atau perjanjian dan
"belum" digunakan sebagai suatu metode atau teknik
penelitian.

IV. PENERAPAN ANALISIS KONTEN DALAM PENELITIAN


HUKUM
Bila analisis konten pada prinsipnya dikaitkan dengan data
sekunder atau studi dokumen dan penelitian hukum normatif
atau legal research juga mengacu pada data yang sama, maka
bertolak dan pemikiran i, teknik analisis di atas dapat pula
diterapkan pada penelitian hukum normatif.
Data sekunder atau dokumen dalam arti umum — sebagai
bahan baku — dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Oleh S. Soekanto dan Mamudji (1985 : 29) data sekunder
dibedakan antara yang bersifat publik dan pribadi.

138
2. Forcese dan Richer (1973: 180) membedakan antara :
a. Expressive documents (misal: biografi, surat-surat).
b. Mass-media reports (misal : media cetak, media
elektronik — termasuk melalui internet — )).
c. Official records (misal : Peraturan Presiden, S.K.
Menteri, PERM A).
3. Kartodirjo membedakan data dokumen (1983 : 45-58)
antara:
a. Dokumen dalam arti sempit atau data verbal yang
berbentuk tulisan, misalnya: buku harian, surat kabar,
dokumen pemerintah.
b. Dokumen dalam arti luas di mana tergolong pula, foto,
hasil rekaman, dan print — out.

Dalam penelitian hukum normatif, data sekunder ditinjau


dan sudut kekuatan mengikatnya dapat dibedakan antara
(Soekanto dan Mamudji, 1985 14-15) : (1) Bahan hukum primer,
(2) Bahan hukum sekunder dan (3) bahan hukum tertier.
Dari perincian di atas dapat dicatat, bahwa penggunaan
teknis analisis konten dalam penelitian hukum yang normatif
atau doktrinal berarti memperluas wawasan pengertian data
sekunder atau dokumen. Dengan demikian bagi mereka yang
menggeluti bidang hukum dengan tolak ukur yang "normatif-
legalitis", maka analisis konten dapat diterapkan dengan
menggunakan bahan hukum yang penulis kategorikan dalam:
1. Data sekunder/dokumen dalam arti umum (atau non-legal
document), misalnya artikel-artikel atau pendapat para
pejabat dan pakar tentang undang-undang yang baru
diundangkan, tentang RUU dan tentang masalah atau topik
hukum yang aktual dan menarik di media cetak.
2. Data sekunder/dokumen dalam arti khusus (atau legal
document), misalnya putusan berbagal pengadilan dalam
lingkup empat jajaran peradilan (Umum, Agama, TUN dan
Militer) yang dikategorikan sebagai "yurisprudensi",
Putusan Mahkamah Konstitusi, Rancangan Undang-
Undang (RUU), Undang-Undang (UU), TAP MPR, Putusan-

139
putusan lain, seperti dan Pengadilan Khusus (Pengadilan
Pajak), Komisi Banding tentang HaKI, BPSK, KPPU,
BAPEK, dan BANI, berbagai kontrak atau Perjanjian (dalam
lingkup hukum ekonomi/bisnis), berbagai akta (yang lahir
dan dibuat dalam lingkup hukum keluarga dan hukum
ekonomi/bisnis), serta dokumen resmi pemerintah lainnya
(seperti beragam produk sertifikat yang dikeluarkan oleh
Badan Pertanahan dan berbagai surat-surat ijin yang
merupakan produk administratife — antara lain ijin
mengangkut hasil hutan, ijin membangun—).

Dari uraian di atas muncul pula suatu pertanyaan pokok


yaitu bagaimanakah secara praktis penggunaan teknik analisis
ini dalam kaitan dengan tugas seorang hakim ? Jawaban dan
pertanyan ini akan penulis bahas dalam uraian di pokok sub - V.

V. PENERAPAN ANALISIS KONTEN DALAM TUGAS HAKIM


"The prophecies of what the courts will do in fact, and nothing
more pretentious, are what 1 mean by the law" adalah rumusan
hukum yang dikemukakan oleh O.W.Holmes dalam karya
klasiknya 'The Path of the Law' (1 897). Rumusan dari Mantan
Hakim Agung Amerika ini, menurut hemat penulis memiliki
makna yang dalam oleh karena didalamnya tersirat tanggung
jawab hakim untuk memeriksa dan memutus. Untuk merumus­
kan pertimbangan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan
("accountable") maka hakim sebagai Pengemban Hukum Praktis
(Shidarta dengan mengutip Meuwissen, 2006) harus bernalar
secara hukum dalam rangka menerapkan hukum atau
menemukan hukum.
Sudikno M. dan A. Pitlo (1993) mengemukakan bahwa
penemuan hukum ('rechtsvinding') adalah kegiatan utama dari
hakim. Selanjutnya Soedikno mengemukakan bahwa seorang
sarjana hukum, terutama hakim, selayaknya memiliki
kemampuan menyelesaikan perkara ('the power of solving legal
problems'), yang terdiri dari kegiatan merumuskan masalah
hukum, memecahkannya dan mengambil keputusan (1990).

140
Oleh H. Franken tuga hakim ditambah dengan 'rechtstoepassing'
dan 'rechtsvorming' (1999).
Berbagai kemampuan di atas yang dituntut dari hakim
terkait dengan kecermatan dan ketajaman dalam menelusuri
berbagai dokumen hukum, menafsirkan isinya (dengan meman­
faatkan berbagai metode penafsiran dan argumentasi yang
dikenal dalam ilmu hukum) dan merajut titik-tautnya dengan
komponen lain dalam proses berperkara termasuk data empiris
(seperti pemeniksaan setempat dan rekonstruksi peristiwa).
Oleh karena hakim adalah pengemban hukum praktis dan
Ilmu Hukum sebagai "sui generis" adalah "ilmu praktikal" maka
metode deduktif adalah pendekatan yang secara tradisional
melekat dalam proses bernalarnya. Ungkapan bahwa "hakim
adalah mulut/corong UU" tidak terlepas dari proses bernalar
tersebut.
Namun dalam penggunaan metode tersebut, Shidarta
(dengan mengutip E.E. Savellos dan R. F. Galvin) mengingatkan
tentang beberapa kendala penerapannya, yaitu (2006:58):
a. hukum ternyata tidak sekedar berupa norma positif dalam
sistem perundang-undangan ('the lara involves more than just
rules');
b. peraturan-peraturan itu memiliki kelemahannya sendiri
('there are problems with the rules');
c. faktanya mengandung permasalahan ('there are problems
with the facts');
d. proses deduksi ini hadirnya belakangan setelah aturan yang
relevan dengan faktanya sudah ditetapkan terlebih dahulu.
('deduction is a "late corner").

Dalam melakukan penalaran hukum Shidarta yang mengutip


K.J.Vandevelde (2006:196) mengemukakan mengenai lima
langkah proses penalaran yaitu :
1. mengidentifikasi sumber hukum, mis: peraturan
perundang-undangan ("identify the applicable sources of
law").-,

141
2. menganalisis sumber hukum tersebut ("analyze the sources of
law");
3. mensintesiskan aturan hukum tersebut ke dalam struktur
yang koheren ("synthesize the applicable rules of law into a
coherent structure");
4. menelaah fakta-fakta yang tersedia ("research tha available
facts");
5. menerapkan struktur aturan tersebut kapada fakta-fakta
("apply the structure of rules to the facts").

Kemampuan-kemampuan di atas yang dituntut dari


seorang hakim dalam menjalankan profesinya masih perlu
ditunjang dengan mengikuti perkembangan dalam ilmu hukum
atau sub-disipilin ilmu hukum, sebagai bahan rujukan yang
digunakan dalam merumuskan suatu pertimbangan hukum.
Prinsip bahwa belajar adalah “a never ending process" perlu
menjadi 'way of life' dari seorang hakim, mengingat mutu
putusan seorang hakim akan juga berdampak dalam
pengembangan kariernya.

VI. PENUTUP
Rangkaian paparan di atas adalah upaya penulis untuk
mengangkat apa yang telah menjadi "tugas rutin" seorang
hakim dan membingkainya dengan pendekatan konten analisis
sebagai salah satu bentuk dari penelitian hukum dan
sebagaimana yang penulis ungkapkan di awal tulisan ini bahwa
seorang hakim dalam menjalankan tugasnya adalah juga
seorang peneliti.
Model penelitian dengan pendekatan ini dapat pula
dimanfaatkan oleh para hakim yang sedang/akan melanjutkan
studinya ke jenjang yang lebih tinggi.
Di akhir tulisan ini, penulis ingin menyampaikan rasa
hormat dan penghargaan setinggi-tingginya bagi seorang rekan
se-Angkatan (sama-sama memulai karier sebagai Hakim Agung
pada September 2000), seorang ilmuwan (yang tidak

142
disangsikan lagi kepakarannya), dan sebagai seorang Pemimpin.
Sebagai Ketua Mahkamah Agung, Prof Dr. Bagir Manan
SH,MCL dalam berbagai tulisan, pengarahan dan sambutannya
menekankan mengenai tanggung-jawab professi hakim
terutama dalam membuat putusan yang baik dan bermutu.
Dengan dicanangkannya program transparansi maka para
hakim ditantang untuk membuat putusan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Pada awal Oktober beliau akan purna bakti, namun saya
yakin bahwa berbagai upaya yang dirintis dan benih-benih baik
yang ditanam semasa kepemimpinannya akan dituai oleh
penerusnya, sehingga dengan demikian meningkatkan citra dan
wibawa lembaga peradilan yang kita sama-sama cintai dan
professi hakim sebagai "officium noble" dapat terwujud.
Semoga Allah S W T akan selalu memberi kemampuan untuk
terus berkarya dan menyertai derap langkah Bapak selanjutnya.

143
DAFTAR PUSTAKA

Forcese, D.P. & S. Richer, Sosial Research Methods, New Jorsey :


Prentice Hall Inc., 1973.
Franken, H., In Leiden tot de rechtswetenschap, Deventer,Gouda
Quint, 1999.
Holmes, O.W. , The Path of the Law, Bedford, Massachusetts,
Applewood Books, 1989.
Holsti, R., Content Analysis for the Sosial Sciences and Humanities,
Massachusetts : Addison-Wesley Publishing Company, 1969.
Johnny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif,
Malang, Bayumedia Publishing, 2006.
Kartodirjo, Sartono, "Metode Penggunaan Bahan Dokumen", dalam
Koentjarningrat (Ed.), Metode-Metode Penelitian Masyarakat,
Jakarta, P.T. Gramedia, 1983 : 44-69.
Malo, Manasse, "Penelitian Kualitatis dan Kuantitatif, Bertentangan
dan Saling Mengisi", Jurnal Penelitian Social, Jakarta, FISIP UI,
1981 : 5-12.
Shidarta, Moralitas Profesi Hukum: Suatu Tawaran Kerangka
Berpikir, Bandung, PT Refika Aditama, 2006.
Soekanto, Soerjono, pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, Penerbit
UI Press, 1982.
Soekanto, S. & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu
Tinjauan Singkat, Jakarta, C.V. Rajawali, 1985.
Soetandyo Wignjosoebroto, Hukum: Paradigma, Metode dan
Dinamika Masalahnya, Jakarta, Elsam dan Huma, 2002.
Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan
Flukum, Jakarta, PT Citra Aditya Bakti, 1993.
Sudikno Mertokusumo, "Pendidikan Hukum di Indonesia dalam
Sorotan" Harian Kompas, November 1990, hal 4-5.
Suparlan, Parsudi, "Pendekatan Antropologi dan Sosiologi", Jurnal
Penelitian Sosial, Jakarta, FISIP UI, 1981 : 13-20.
Vredenbregt, J., "Perencanaan Dalam Ilmu Antropologi dan
Sosiologi", Jurnal Penelitian Sosial, Jakarta, FISIP UI, 1975.

144
H U K U M A D A T B A G IA N H U K U M Y A N G P E R L U
M E M P E R O L E H P E R H A T IA N
O leh:
Prof. Dr. Kaimuddin Salle, SH.*

Sekilas Tentang Hukum Adat.


Sejak Snouck Hurgronje dalam bukunya Do Atjehers
memperkenalkan istilah Adatrecht yang kemudian secara luas oleh
para sarjana diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan istilah
Hukum Adat, maka istilah itu kemudian dipakai oleh hampir semua
orang yang berbicara tentang hukum rakyat Indonesia (Van Dijk -
Suhardi, 1954: 6). Walaupun terdapat sarjana yang kurang dapat
menerima terjemahan istilah tersebut, akan tetapi hampir semua
sarjana tidak mempermasalahkan hal itu lagi, karena yang paling
utama ialah dengan adanya istilah hukum adat yang didasarkan atas
hukum yang berakar dari bumi Indonesia sendiri diperoleh istilah
yang hampir dipakai oleh setiap orang, terutama yang menaruh
minat membicarakan hukum adat. Vethelst (1990) menyebutnya no life
without roots (tiada kehidupan tanpa akar). Ungkapan itu
dikemukakan untuk menggambarkan perlunya mengenal asal usul
atau akar kehidupan dalam kultur asal kita (Timor Express, Selasa, 21
Juni 2005, hal. 4), yang untuk orang Indonesia akar kehidupan dan
kultur asal adalah yang bersumber dari budaya masyarakat yang
antara lain dalam wujud hukum adat.
Di kalangan orang Indonesia, pemakaian istilah hukum adat
muncul pada waktu diadakan Kongres Pemuda Indonesia di
Djakarta yang berlangsung dari tanggal 27 sampai dengan tanggal 28
Oktober 1928, yang antara lain melahirkan Sumpah Pemuda. Salah
satu butir dari Sumpah Pemuda itu ialah menetapkan, mengeluarkan
kajian persatuan Indonesia diperkuat dengan memperhatikan dasar
persatuannya, yaitu kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat,

*
Hakim Agung Republik Indonesia.

145
pendidikan dan kepanduan sebagai wajib yang harus dipergunakan
oleh Bangsa Indonesia.
Dentingan Sumpah Pemuda itu menggema ke seluruh pelosok
Nusantara yang kemudian menggugah hati, pikiran dan langkah
insan Bangsa Indonesia, utamanya yang bergerak di bidang politik
dan akademik untuk menjabarkan Sumpah Pemuda tersebut dalam
segala aspek kehidupan.
Seyogianya butir Sumpah Pemuda utamanya yang menyangkut
hukum adat menjadi juga dasar perjuangan para politisi beberapa
waktu sesudah Sumpah Pemuda dideklarasikan, akan tetapi suasana
Nusantara tampaknya belum memberikan kesempatan yang baik
karena kekuasaan Pemerintahan Belanda masih belum banyak
memberi kemungkinan untuk itu. Namun demikian Pemerintah
Belanda sendiri telah berusaha mengakomodasikan hal-hal yang ada
kaitannya dengan hukum adat, walaupun hal tersebut terutama
dilakukan demi kepentingan penjajahannya. Terdapat pula
perlakuan yang sangat tidak manusiawi pada masyarakat adat yang
hidup dalam lingkungan hukum adatnya. Van Vollenhoven - Suleman,
1972.10) mengemukakan bahwa Mr. Rahusen dalam sidang eerste
kamer (majelis tiinggi) pada tanggal 26 Mei 1910 secara tepat
menggambarkan jalan pikiran barat bahwa adalah perbuatan salah
jika seorang pribumi disebut pemilik tanah yang berarti bahwa tanah
itu adalah kepunyaannya, padahal sejak tahun 1870 hampir semua
tanah di Jawa sudah dinyatakan tanah milik pemerintah
(domeingrond), dalam hal ini Pemerintah Belanda.
Walaupun demikian, Pemerintah Belanda dengan Decentralisatie
Wet 1903 Jo Decentralisatie Besluit 1904, Locale Raden Ordonan tie 1905 Jo
Inlandsche Gemeente Ordonantie (IGO) 1906, mengakui desa-desa adat
sebagai masyarakat adat yang otonom. Salah satu hal yang penting
dari IGO tersebut adalah pengakuan bahwa harta kekayaan komunal
khususnya tanah harus dijaga dan dipertahankan adanya, sehingga
dapat diharapkan bahwa akan tercegah kemungkinannya dari
bentuk perampasan ataupun penjarahan (Wignnjosoebroto).
Perancis yang pada mulanya sebagai Negara Penjajah
menganggap sistem kodenya "raison ecrite" dengan sendirinya
berlaku juga bagi hukum adat dari daerah-daerah di seberang laut,

146
kemudian mengakui bahwa pendapat itu tidak dapat dipertahankan,
terutama kodifikasi hukum Islam untuk Aljazair (Van Vollenhoven-
Suleman, 1972 -11).
Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang
dicanangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, seyogianya sejak saat itu
hukum adat sudah menjadi acuan utama dalam membuat peraturan
yang diberlakukan bagi Bangsa Indonesia, sehingga dengan
demikian diharapkan bahwa hukum adat sebagai hukum dari Rakyat
Indonesia yang merupakan bagian akar budaya bangsa menjadi
hukum yang utama, setidak-tidaknya menjadi sumber utama dari
peraturan yang dibentuk. Memang secara politis dari berbagai
peraturan/ketetapan tampak adanya perhatian dari berbagai pihak
akan arti dan peranan yang seyogianya dimainkan oleh hukum adat.
Apalagi sejak era reformasi bergulir, semakin tampak usaha
menjadikan hukum adat sebagai sumber utama hukum bagi rakyat
Indonesia melalui peraturan perundang-undangan.
Beberapa bukti telah memperlihatkan hal tersebut. Dalam
Undang-undang Dasar Negara Tahun 1945 (UUD 1945) sebelum
mengalami perubahan walaupun tidak secara tegas mencantumkan
hukum adat di dalam pasal-pasalnya, akan tetapi beberapa asas yang
sangat dikenal di kalangan masyarakat adat terdapat di dalamnya,
misalnya asas permusyawaratan, asas kekeluargaan dan lain-lainnya.
Hasil perubahan kedua UUD 1945 yaitu pada Pasal 18B ayat (2)
dengan jelas mengemukakan bahwa negara mengakui dan
menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta
hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang diatur dalam Undang-undang. Selanjutnya pada
Pasal 281 ayat (3) mengemukakan bahwa identitas budaya dan hak
masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan
zaman dan peradaban.
Beberapa istilah dalam kalimat itu masih perlu penjabaran lebih jauh,
sedak-tidaknya dengan tafsiran yang sama, misalnya istilah negara
mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum
adat, masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya
sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan

147
masyarakat dan prinsip negara kesatuan RI, tentang identitas
budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan
perkembangan zaman dan peradaban.
Apabila ada tafsir yang sama dan perlakuan yang sama
terhadap masyarakat adat sebagaimana rumusan yang tercantum
dalam pasal UUD 1945 tersebut, maka betapa bahagianya bangsa
Indonesia utamanya kelompok-kelompok masyarakat adat yang
masih berpegang pada budaya dan hukum adatnya yang dalam
perkembangannya sudah sejalan dan selaras dengan
perkembangan zaman dan peradaban.
Satu contoh kecil yang ingin dikemukakan ialah tentang istilah
tradisional. Bahwa hukum adat adalah hukum yang tradisional.
Perlu kiranya diperiksa dengan teliti dan kritis arti dari tradisi itu.
Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menulis
bahwa tradisi adalah segala sesuatu (seperti adat, kepercayaan,
kebiasaan, ajaran) yang turun temurun dari nenek moyang,
sedangkan tradisional artinya bersifat turun temurun (pandangan
hidup, kepercayaan, kesenian, tarian, upacara, dsb) atau menurut
adat.
Koesno (1992: 89) mengemukakan bahwa dalam hakekatnya
tidak pernah ada tradisi yang menunjukkan wujudnya yang mutlak
sama dari dahulu sampai kemudian. Apa yang dinamakan tradisi
menunjukkan memang adanya unsur-unsur dan garis kesinam­
bungan di dalam perkembangan dan bukan berarti praktek yang
mutlak sama dari dahulu sampai masa kemudian. Garis kesinam­
bungan itu hanya berarti adanya persambungan, adanya kaitannya
secara hakiki antara yang dulu sampai masa kemudian. Dengan
demikian sifat tradisionalnya, adat tidak dapat diartikan sebagai
konservatif, yaitu bertahan dan mempertahankan secara status quo
terhadap sesuatu pelaksanaan kaidah. Adat di dalam ajaran dan
praktek terus berkembang, dan menerima serta menampung
tuntutan perkembangan dengan mengikuti prinsip-prinsip normatif
yang dirumuskan dengan ringkas lapuk dikajangi, usang dibaharui.
Hukum adat berurat berakar dalam kebudayaan tradisional.
Hukum adat adalah suatu hukum yang hidup, karena menjelmakan
perasaan hukum nyata dari rakyat (Supoma, 1962 - 6).

148
Hukum Adat adalah Cerminan Hukum yang Hidup.
Dalam Lampiran Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sementara (TAP MPRS) No. II Tahun 1960 dikemukakan bahwa
Hukum Nasional didasarkan atas hukum adat, dengan tetap
memperhatikan hukum Agama. TAP MPRS tersebut kemudian
antara lain melahirkan Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA), yang dalam Pasal 5
mengemukakan bahwa hukum agraria yang berlaku atas bumi, air
dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan
dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas
persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan
peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-undang ini dan
dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan
mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama.
Istilah sosialisme Indonesia dalam kalimat itu kemudian diganti
dengan istilah masyarakat adil dan makmur.
Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah pada Pasal 1 ayat (12) mengemukakan bahwa
desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa,
adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat
istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem
Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonsia. Pada umumnya
desa semacam itu dikualifikasikan sebagai desa genealogis (Widjaja,
2005:149).
Undang-undang inipun mengakui adanya masyarakat adat yang
berdiam di desa yang perlu diakui dan dihormati.
Para sarjana hukum khususnya sarjana hukum adat secara
sederhana mengemukakan bahwa hukum adat adalah aturan hidup
yang mengatur hubungan antara warga dengan warga lainnya,
antara warga dengan lingkungannya, antara warga dengan penguasa
adatnya, yang telah berlangsung dari generasi ke generasi. Hal itu
mempunyai arti bahwa adanya hukum adat, karena adanya
masyarakat hukum adat (adatrechtsgemeenschap), sedangkan
masyarakat hukum adat itu sendiri mempunyai syarat, antara lain

149
............. geordende groepen van blijvend karakter met eigen materiil en
immateriil vermogen, bahwa masyarakat itu adalah merupakan
kelompok yang teratur, bersifat tetap, mempunyai pemerintahan
sendiri, mempunyai wilayah sendiri, dan mempunyai kekayaan
materiil dan immateriil. Terjadinya masyarakat itu merupakan suatu
natuumoodwendigheid, suatu realitas metajuridisch, dan tidak
seorang pun pernah berfikir untuk membubarkannya (Ter Hear,
1939:13; Tar Haar-Poesponoto, 1983: 27).
Van Vollenhoven (1934:1) menulis:
"Wanneer in 1596 hat eerste schip met de driekleur aan den mast in
den Indischen arctsei binnenvait, is dat land staatsrechteiijk geen
uwoest ledig" land. He is boordevol instituten van volksen
gezagsordening: bewind door en over stammen, dorpen bonden,
republieken, vorstenrijken . . . een complex van Oostaziaziatisch
staatsrecht''.
(Kapal berbendera Belanda pertama yang tiba pada tahun 1596
itu, mendatangi suatu kawasan yang secara hukum
ketatanegaraan sarat dengan institusi tatanan kekuasaan rakyat
(masyarakat) yang bentuk dan penguasanya adalah kelompok
kerabat, serikat desa, republik dan kerajaan. Bentuk-bentuk
"negara" itu digolongkan ke dalam kompleks Hukum Tata
Negara Asia Timur".

Pada masa penjajahan Belanda, kelompok kerabat, serikat desa,


kerajaan yang secara umum ada yang dikualifikasikan sebagai
adatrechtsgemeenschap ada yang tetap dipertahankan eksistensinya,
walaupun disana sini berada dibawah pengaruh kekuasaan Belanda.
Di Sulawesi Selatan, bahkan hingga Republik Indonesia berbentuk
negara federal, sejumlah pemangku adat dan Kerajaan
adatrechtsgemeenchap diangkat sebagal anggota Hadat Tinggi
Negara (bagian) Indonesia Timur.
Harian Republika pada penerbitannya Jumat tanggal 3 Oktober
2003, memuat berita yang diberi judul KUHP Harus Memiliki Basis
Sosial Kuat, mengutip pernyataan Prof. DR. Yusril Ihza Mahendra,
SH., Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (pada waktu itu),
bahwa pembuatan draft KUHPidana yang dilakukan melalui studi

150
terhadap nilai-nilai hukum yang berkembang di masyarakat dengan
menggunakan tiga sumber hukum, yaitu hukum adat yang
berkembang di masyarakat, hukum Islam, warisan hukum Belanda
yang sudah diterima masyarakat, serta konvensi-konvensi
internasional yang berlaku.
Menyimak hal tersebut dan dengan mengaitkan dengan
beberapa peraturan yang ada yang memberikan tempat terhadap
keberadaan hukum adat, seyogianya masyarakat adat dapat bernafas
lega. Apakah nafas lega memang menjadi kenyataan pada
masyarakat adat?
Berbicara mengenai masyarakat, barangkali perlu disimak
kembali kalimat berhikmah dari Cicero yang mengemukakan pada
kurang lebih 2100 tahun yang lalu, bahwa ubi societas ibi ius, dimana
ada masyarakat disitu ada hukum. Sekadar perlu pula ditambahkan
bahwa dimana ada masyarakat, disitu ada hukum, dan dimana ada
hukum disitu ada hakim. Tentu saja (aturan) hukum dan hakim itu
sesuai dengan nilai-nilai yang hidup dan berkembang di masyarakat.
Akan sangat sulit untuk menerima hukum yang berasal dari luar
yang tidak sesuai dengan akar budaya masyarakat. Pandangan
seperti itu pernah pula dikemukakan oleh Carl Friedrich Von Savigny
(Madzhab Sejarah), sewaktu ada usaha dari Perancis yang pada
waktu itu menduduki Jerman memberlakukan kodifikasi hukum
berdasarkan Code Napoleon pada abad ke XIX. Von Savigny bertahan
dengan pandangannya bahwa hukum yang tumbuh dan berkembang
bersama dengan masyarakat haruslah menjadi acuan karena hukum
itu adalah merupakan penjelmaan dan jiwa bangsa (volksgeisf) atau
akal budi bangsa (Vermunft der Volker). Aliran ini sangat berpengaruh
pula di Hindia Belanda dahulu, pada waktu Pemerintah Hindia
Belanda ingin memberlakukan beberapa peraturan bagi bangsa
pribumi, akan tetapi mendapat tantangan yang antara lain di
pelopori oleh Van Vollenhoven. Pemikiran dan sikap madzhab ini
terhadap hukum telah memainkan peranan yang penting dalam
mempertahankan (preservation) hukum adat sebagai pencerminan
dan nilai-nilai kebudayaan asli masyarakat.
Apa artinya in, ialah bahwa suatu aturan hukum yang berlaku
di masyarakat, haruslah merupakan pencerminan dari kehidupan

151
keseharian masyarakat itu sendiri yang tentu saja mengalami
perkembangan sesuai dengan salah satu sifat hukum (adat) yaitu
berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat itu sendiri.
Aturan hukum yang berlaku seratus tahun yang lalu pastilah telah
mengalami perkembangan pada saat ini, yang berarti bahwa terdapat
asas yang berlaku pada waktu itu yang masih tetap ada, akan tetapi
dalam penerapannya sudah mengalami perkembangan yang cukup
signifikan.
Penerapan hukum adat yang merupakan penjelmaan jiwa bangsa
kadang-kadang terjebak dengan bahan-bahan pemikiran yang
bersifat lokal, pada hal harapan yang besar yang diharapkan dan
pengakuan keberadaan hukum adat, adalah bagian-bagian yang
asasnya adalah hukum adat akan tetapi menjadi ramuan yang bisa
diberlakukan secara nasional.

Hukum Adat bagian Kebudayaan.


Berbicara tentang hukum pada umumnya, maka tidaklah dapat
melepaskan diri dari kebudayaan. Hukum adalah merupakan aspek
kebudayaan. Koentjaraningrat (1975: 20-22) mengemukakan bahwa
kebudayaan mempunyai tiga wujud, masing-masing wujud ideel,
wujud kelakuan, dan wujud fisik. Wujud ideel kebudayaan adalah
suatu kompleks ide, gagasan, nilai, norma, dan sebagainya. Yang
kedua, adalah wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas
kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Yang terakhir,
adalah wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Adat adalah wujud ideel dari kebudayaan. Adat dapat dibagi lebih
khusus dalam empat tingkatan, ialah tingkat nilai budaya, tingkat
norma-norma, tingkat hukum, dan tingkat aturan khusus.
Lebih jauh Koentjaraningrat (1975: 22) mengemukakan bahwa
tingkat nilai budaya, yang merupakan ide yang mengkonsepsikan
hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat yang
biasanya luas dan kabur, akan tetapi berakar dalam bagian
emosional.

152
Sifat dan Corak Hukum Adat.
Hampir semua penulis dan sarjana hukum adat, sependapat
bahwa hukum adat yang merupakan salah satu wujud kebudayaan,
mempunyai sifat konkret, supel dan dinamis.
Konkret dalam arti bukanlah sesuatu yang dapat dilihat secara
empiris, akan tetapi menyerupai (Koesno, 1992: 10). Bersifat konkret,
karena hukum adat sangat memperhatikan setiap persoalan yang
dihadapkan kepadanya secara khusus dengan pendirian bahwa
setiap persoalan berbeda dari persoalan lainnya, walaupun dalam
banyak hal tampak sekali keserupaannya.
Supel, karena hukum adat terdiri atas asas-asas pokok saja. Hal
yang detail diserahkan kepada penguasa adat setempat, dengan
memperhatikan tempat, waktu dan keadaan yang dihadapi. Peranan
penguasa adat dalam keadaan yang demikian yang dalam kehidupan
keseharian mengambil keputusan sesuai dengan perkembangan
masyarakat yang dalam hal seperti itu lazim disebut keputusan
penguasa adat (Ter Hear, 1973: 62).
Dinamis, karena hukum adat sebagai hukum rakyat, adalah
hukum yang menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat.
Hukum adat berubah sesuai dengan perkembangan masyarakatnya,
akan tetapi tanpa mengubah asas hukumnya, dan perkembangan-
nyapun sangat perlahan-lahan. Dengan demikian pandangan bahwa
hukum adat adalah hukum yang selalu melihat kebelakang (backward
looking law) tidaklah seluruhnya benar. Melihat ke belakang tidak
selamanya membawa kejelekan, akan tetapi setidak-tidaknya
menyadari bahwa perjalanan yang sedang berlangsung sampai pada
tahap sekarang ini telah melewati suatu bagian perjalanan yang
merupakan bagian perjalanan yang panjang. Bagian perjalanan yang
telah terlewati janganlah diabaikan apalagi kalau sampai terlupakan,
sehingga menjadi lupa kacang akan kulitnya.
Selain sifatnya, dikenal pula beberapa corak hukum adat, yaitu
kebersamaan, religio magis dan visual.
Corak kebersamaan (komunal) yang kuat, dalam arti bahwa
pada masyarakat adat, manusia merupakan makhluk dalam ikatan
kemasyarakatan yang sangat kuat, yang meliputi seluruh aspek

153
kehidupannya. Salah satu penjelmaan sifat kebersamaannya tersebut
ialah dalam bentuk karya budi (Hadikusuma, 1979:14), sedangkan
karya budi itu sendiri diwujudkan dalam kegiatan tolong menolong
dan gotong royong. Tolong menolong berkaitan hubungan antara
seorang warga dengan warga lainnya, sedangkan gotong royong
apabila kegiatan dilakukan untuk kepentingan warga (kepentingan
umum).
Firth et al. (1968: 83) mengemukakan bahwa kerja gotong royong
menjadi corak yang lazim dalam penghidupan ekonomi primitif,
yang memandang bahwa apabila sistem ekonomi tidak sesuai
dengan budaya barat, maka itu adalah ekonomi primitif. Bagi saya
pandangan seperti itu perlu kajian lebih jauh karena memakai istilah
primitif untuk suatu kelompok masyarakat tertentu tidaklah selalu
berkonotasi yang jelek bahkan kadang-kadang terdapat orang-orang
yang mengaku modern akan tetapi berpola tingkah laku yang sangat
primitif.
Bagi bangsa Indonesia, gotong royong bukan sekadar wujud
penghidupan ekonomi primitif, akan tetapi lebih luas dari itu. Pasal
33 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa perekonomian disusun
sebagai usaha bersama atas dasar asas kekeluargaan. Asas
kekeluargaan antara lain dalam wujud kegotongroyongan.
Kegotongroyongan dalam hal yang demikian, tidak hanya
terbatas pada masyarakat primitif, akan tetapi tampak pada
masyarakat Indonesia pada umumnya. Hal yang demikian terutama
tampak pada masyarakat pedesaan, namun hal yang sama tampak
pula pada masyarakat perkotaan, misalnya dalam bentuk kegiatan
mengumpulkan sumbangan melalui mass media, sinoman,
pembangunan rumah ibadah dan kegiatan lainnya, yang justru hal
yang seperti itu perlu lebih dikembangkan, karena hanya dengan
cara yang demikian ada rasa kebersamaan rasa memiliki atas suatu
karya atau suatu aktivitas.
Religio magis, sebenarnya adalah pembulatan kata yang
mengandung unsur atau cara berfikir prelogis, animisme, pantangan,
ilmu gaib, dan lain-lain (Muhammad, 1976: 52). Koentjaraningrat
(Muhammad, 1976: 53) mengemukakan bahwa pikiran religio-magis
mempunyai unsur, masing-masing :

154
1) Kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus, roh-roh dan
hantu-hantu yang menempati seluruh alam semesta dan khusus
gejala-gejala alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, tubuh manusia
dan benda-benda;
2) Kepercayaan kepada kekuatan sakti yang meliputi alam semesta
dan khusus terdapat dalam peristiwa-peristiwa yang luar biasa;
3) Anggapan bahwa kekuatan sakti yang pasif dipergunakan
sebagai magische kracht (kekuatan magis) dalam berbagai
perbuatan ilmu gaib untuk mencapai kemauan manusia atau
untuk menolak bahaya gaib;
4) Anggapan bahwa kelebihan kekuatan sakti dalam alam
menyebabkan timbulnya berbagai macam bahaya gaib yang
hanya dapat dihindari dengan berbagai macam pantangan.

Corak yang ketiga, yaitu corak yang mengandung pengertian


bahwa suatu perbuatan nyata, suatu perbuatan simbolis atau suatu
pengucapan, tindakan hukum yang dimaksud telah selesai seketika
itu juga, dengan serentak bersamaan waktunya tatkala berbuat atau
mengucapkan itu memperoleh sesuatu yang setara sebagai
penggantinya sesuai yang dikehendaki oleh adat (kontante handeiing)
(Ter Haar, 1983:143).
Memperhatikan corak hukum adat yang demikian, Soekanto
(1983: 370- 371) menguraikan bahwa pada masyarakat-masyarakat
yang sederhana, setiap warga merasa dirinya bagian dari alam, yang
dalam kehidupannya selalu menjaga keserasian antara dunia lahir
dan dunia gaib yang dalam bertingkahlaku mempertimbangkan
kekuatan gaib yang tidak tampak. Alam pikiran itu berpengaruh
kuat dalam kehidupan mereka sehingga sampai pada corak
kehidupan yang selalu menjaga keserasian antara dunia lahir dan
dunia gaib, antara masyarakat dan warga-warganya, yang oleh Ter
Haar diistilahkan sebagai participerend denken (berpikiran serba
berpasangan).
Komponen budaya hukum yang antara lain diwujudkan dalam
kesadaran hukum masyarakat, elemen sikap dan nilai dalam
masyarakat tampaknya tepat digunakan untuk menjelaskan alam
pikiran yang melandasi sistem hukum adat.

155
Bagi masyarakat adat, terdapat kecenderungan besar yang
mencolok mata untuk berpatuh kepada pranata adat. Bertingkah
laku dan berbuat yang bertentangan dengan itu, lebih keras dicela
oleh pendapat umum dan juga lebih jarang terjadinya daripada
lazimnya di kalangan kita (Holleman, 1972 :8). Hal yang tidak kurang
pentingnya, ialah bahwa pada masyarakat adat, utamanya yang
kebudayaannya masih bersahaja (Ter Haar, 1973: 13), ialah adanya
cara berpikir secara berpartisipasi. Berpikir secara partisipasi
terdapat pada kelompok-kelompok manusia atau dari berbagai
kelompok manusia yang jalan pikirannya bersamaan yang hidup
agak terpencil. Berpikir secara berpartisipasi, artinya berpikir bahwa
segala yang bersifat rohaniah, juga bersifat jasmaniah, semua yang
bersifat jasmaniah, juga bersifat rohaniah, keduanya adalah konkret.
Tidak ada jarak dan tidak ada yang berlawanan satu dengan yang
lain, manusia yang hidup itu adalah tunggal. Tidak ada jarak antara
subjek dan objek, tidak ada jarak antara objek dan objek, kesatuan
wujud antara pelbagai kelompok wujud, kemungkinan mengambil
bagian dalam pelbagai lingkungan dengan jalan mewakili seseorang,
dapat menggerakkan kekuasaan-kekuasaan dan yang diwakili itu
sendiri.
Berfikir secara magis, bertitik tolak dari kemungkinan
mengarahkan kekuatan-kekuatan yang bekerja yang seseorang ikut
serta memperoleh bagian pada seluruh dunia, lalu membawanya
masuk, dan dengan demikian mempengaruhinya. Manusia harus
tetap menjalani kosmos (alam semesta), mempergantikan musim-
musim, setidak-tidaknya tidak menghalangi pergantiannya.
Demikianlah penggambaran masyarakat adat dalam bentuk dan
cara berpikirnya yang masih utuh. Hal yang demikian, tidaklah
berarti bahwa keadaan itu berlangsung tanpa terdapat perubahan
dan perkembangan sampai pada saat ini, karena sesuai dengan sifat
hukum adat itu sendiri yang dapat berubah sesuai dengan tuntutan
kebutuhannya, termasuk dengan semakin kuatnya agama
mempengaruhi segi-segi kehidupan manusia, baik di desa maupun
di kota, sehingga di kalangan masyarakat Minangkabau dikenal
adagium ada' bersandi sara', sara' bersandi kitabullah.

156
Di Indonesia masa lalu, ketika Hukum Belanda ingin diberlakukan di
Hindia Belanda pada waktu itu yang pertama memberikan reaksi
yang keras adalah terutama kalangan ilmuan orang-orang Belanda
sendiri, seperti yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu.
Mungkin hal itu terjadi karena orang Indonesia yang berpendidikan
universiter masih sangat terbatas. Akan tetapi pada saat sekarang ini
sesudah Indonesia memproklamasikan dirinya sebagai satu negara,
kemudian terdapat keinginan menempatkan hukum adat sebagai
salah satu sumber hukum nasional, toh terdapat orang Indonesia
yang menilai hukum adat pada abad ke dua puluh satu ini sebagai
sesuatu yang tidak lebih dari satu barang antik yang hanya cocok
untuk dijadikan pajangan, lebih banyak melihat kebesarannya masa
lalu, akan tetapi tidak mempunyai nilai keberlakuan pada sekarang
ini.
Pandangan yang demikian tidaklah serta merta harus
disalahkan, atau ditolak, oleh karena pandangan yang demikian
mungkin dipengaruhi dari bertitik tolak dan kajiannya pada hukum
adat yang berlaku seratus atau beberapa ratus tahun yang lalu yang
selalu melihat kebelakang, sehingga mereka malu untuk menjadikan
hukum adat sebagai bagian dari satu sistem hukum yang ingin
dibangun. Hanya saja perlu disadari bahwa pada sistem hukum
manapun di atas dunia ini pada intinya berasal dari hukum yang
hidup atau pernah hidup di tengah-tengah masyarakat yang pada
mulanya adalah kumpulan dan hukum kebiasaan yang sudah
berlaku sejak lama, kecuali tentu saja hukum yang bersumber dari
kitab sud yang berasal dan wahyu Allah S.W.T.
Hukum perdata Eropapun bagian terbesar berasal dari hukum
perdata Perands yang dikodifikasi pada tanggal 21 Maret 1804.
Sebelumnya itu di Perands tidak ada kesatuan hukum (eenheid van
recht). Wilayah Negeri Perands terbagi dalam dua bagian, yaitu
bagian utara dan tengah yang merupakan daerah hukum lokal (pays
de droit coufumier) dan bagian selatan yang merupakan daerah hukum
Romawi (pays de droit edit). Hukum yang berlaku dibagian utara dan
tengah itu terutama hukum kebiasaan Perands yang kuno yang
tumbuh sebagai hukum setempat (lokal) dan berasal dari hukum
Germania yang berlaku di wilayah negeri-negeni Germania Perands

157
pada waktu sebelum resepsi hukum Romawi disitu. Akan tetapi
disamping hukum kebiasaan Perancis yang kuno itu, yang tumbuh
sebagai hukum setempat, berlaku juga hukum Romawi yang
berpengaruh besar. Hukum yang berlaku dibagian selatan ialah
terutama hukum Romawi yang telah mengalami kodifikasi dalam
Corpus luris Civilis dan Justinianus (Utrecht/Djindang, 1983: 475).

Hukum Adat selalu Berkembang.


I Mappadulung Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul
Jalil Sombaya ri Gowa yang memerintah tahun 1677-1709 (Zainal Abidin
Farid, 1973-6) mengemukakan bahwa kalau ada perbuatannya atau
adat yang ditetapkan ternyata salah, maka orang-orang yang
ditinggalkannya harus mengubahnya, karena adalah kebajikan bagi
generasi kemudian untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan orang
yang mendahuluinya.
Sejalan dengan pandangan itu terdapat pepatah Minang yang
berbunyi (Lili Rasjidi, 2005:11):
Sekali ada gadang
Sekali tapian beranjak
(Sekali air besar, sekali tapian berkisar)
Walaupun beranjak
Dilapiak sa'alaijuo
(Walaupun berkisar, masih (tetap) ditikar yang sama)
Usang-usang diperbaharui
Lapuak-lapuak dikajangi
Nan elok dipakai, nan buruak dibuang
Ko'singkek minta diuleh, panjang minta dikorek
Nan numpang minta disisit

Hukum (adat) terus berkembang sesuai dengan dinamika masya­


rakat. Satu contoh kecil sekali lagi saya kemukakan bahwa pada
masa yang lalu perkawinan yang ideal adalah perkawinan
antarkeluarga dekat setidak tidaknya pada masyarakat di Sulawesi
Selatan ini. Perkawinan antarsepupu adalah paling ideal. Orang
Makassar menyebut alleang bajikna. Perkawinan antarsepupu duakali

158
atau sepupu tigakali disebut mendekatkan yang sudah mulai jauh
(nipakambani beliaya). Apakah sekarang ini masih ada? Pasti masih
ada akan tetapi perkawinan antarsuku, bahkan antarbangsa sudah
sangat populer dewasa ini. Hal tersebut karena perubahan
pandangan dari masyarakat Indonesia, termasuk didalamnya
masyarakat hukum adat.
Bagaimana pula dengan bidang hukum lainnya, misalnya di
bidang pertanahan. Apakah juga mengalami perkembangan? Pada
masyarakat adat di Indonesia ini sejak dari awal telah mempunyai
keterkaitan dengan tanah. Dan tanahlah mereka mendapatkan
kehidupan sebagai sumber makan dan minum. Pada tanahlah
mereka membangun pemukiman, dan pada tanahlah mereka
dikebumikan apabila meninggal dunia. Pada beberapa masyarakat
adat, tanah adalah tempat bermukimnya arwah para leluhur
pelindung mereka.
Di kalangan masyarakat Kei (Rahail, 1995: 418 -419) terdapat
syair yang tertuang dalam tujuh bait yang mengangkat hukum adat
Kei yang mempertautkan manusia dengan tanahnya.
Itdok to ohol itmian to nuhu
(Kita mendiami kampung di mana kita hidup dan makan dan
tanahnya)
Itdok itdid kuwat dokwain itwivnon itdid mimir/bomiir
(Kita menempati tempat kita dan tetap menjaga yang menjadi
bagian kita)
llvarnon afa ohoi nuhu enhov ni hukum adat
(Kita memikul semua kepentingan kampung kita dengan hukum-
hukum adatnya)
It wait teblo uban ruran
(Kita hidup sejujur-jujurnya dan tetap berjalan tegak lurus ke
depan)
Ikbo hukum adat enfangnan embatangharaang
(Dengan demikian adat akan melindungi kita)
Nit yamad ubudtaran, nusid teod erhoverba tang fan gnan
(Sehingga leluhur pun ikut menjaga kita)
Daud enfanganan wuk
(Dan Tuhan pun akan merestui kita).

159
Pada awal perkembangan masyarakat (termasuk masyarakat
adat), tanah bukan semata-mata dalam arti tanah, akan tetapi
termasuk pula bagian tanah yang berbentuk sungai atau perairan. Di
wilayah pertanahan yang masih dipenuhi hutan, adalah tempat yang
ideal untuk berburu, mencari buah-buahan, sungai atau laut bagi
mereka yang berdiam di tepi sungai atau laut mencari ikan untuk
sumber makanan mereka. Tanah yang berbentuk lembah atau
gunung menjadi pula batas alam kekuasaannya bahkan batas
pertahanannya. Karena berburu di hutan dengan mempergunakan
alat yang sederhana, maka perburuan dapat berlangsung berhari-hari
bahkan bisa berbulan, dengan jarak tempuh yang sangat jauh dari
pemukimannya. Karena perburuan yang demikian lama, maka
kadang-kadang seluruh anggota keluarga bahkan seluruh anggota
kelompoknya diikutsertakan dalam kegiatan perburuan itu. Hal itu
berarti bahwa diperlukan wilayah yang cukup luas untuk aktivitas
mencarii nafkah. Apalagi karena kehidupan yang belum menetap di
satu wilayah tertentu. Daerah yang luas yang terus menerus turun
temurun dikuasai, dijadikan wilayah pemukiman, perburuan
kemudian dikenal sebagai embaya yaitu istilah masyarakat
Keammatoaan di Bulukumba atau ulayat istilah di kalangan
masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat, atau prabumian desa yaitu
istilah di kalangan masyarakat adat Tenganan Pegringsingan Bali
{Setiawan, 2003, hal. V). Penguasaan satu wilayah yang luas oleh satu
kelompok masyarakat berlangsung dalam jangka waktu yang lama,
dan satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga kelompok
masyarakat itu mempunyai keterkaitan emosional dengan
wilayahnya (tanahnya). Sejak mereka menjadikan wilayah itu sebagai
wilayah masyarakatnya, maka orang luar yang ingin memasuki
wilayah itu untuk keperluan kebutuhan keseharian mereka, haruslah
terlebih dahulu meminta izin (apparamisi, Makassar) pada kepala adat
penguasa wilayah yang bersangkutan, sekaligus menyerahkan
mesi/rekognisi, tanda bahwa yang bersangkutan mengakui bahwa ia
memasuki wilayah masyarakat hukum adat yang dikuasai oleh
masyarakat hukum adat lain.
Apakah hal semacam itu masih dikenal sekarang ini? UUPA
mengemukakan bahwa dasar hukum agraria nasional adalah hukum

160
adat. Apakah hukum adat masih seperti yang ada sebelum adanya
UUPA? Tentu saja tidak seluruhnya demikian, karena selain di
dalam UUPA mensyaratkan beberapa hal, masyarakat adatpun telah
mengalami perkembangan. Khusus dalam hal memasuki wilayah
masyarakat hukum adat satu hal yang rasanya sulit untuk
dihilangkan adalah perlunya ada izin dan kadang-kadang
menyerahkan sesuatu yang disebut mesi/rekognisi bagi orang luar
yang akan memasuki wilayah masyarakat adat dengan maksud
untuk mencari nafkah ataupun keperluan lainnya. Apakah kewajiban
itu tetap ada, walaupun dilakukan oleh penguasa negara, pada hal
dalam UUPA sendiri mengemukakan bahwa bumi, air dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya serta ruang angkasa dikuasai
oleh negara. Menurut pendapat saya izin tetap diperlukan, karena
UUPA sendiri mengakui hukum adat yang menjadi dasar hukum
agraria nasional, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan
nasional dst., dan tetap memperhatikan hukum agama. Rasanya
apparamisi adalah sesuatu yang merupakan adat yang tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional dan agama.

Hukum Adat harus Dihormati


Hak ulayat telah mengalami perkembangan, akan tetapi untuk
memasuki ulayat masyarakat hukum adat, rasa-rasanya masih tetap
perlu ada paramisi (Makassar), kulo nuzvun (Jawa), dan siapapun juga.
Barangkali kecenderungan memasuki satu wilayah dengan tidak
perlu apparamisil-kulonuwun dipengaruhi oleh pemikiran masa lalu
bahwa tanah adalah merupakan milik raja pada masa kerajaan
dahulu, yang kemudian pada masa penjajahan Belanda terkenal
dengan Domein Raja (Belanda), yang didasarkan atas pemikiran
bahwa siapa yang berkuasa, maka dialah pemilik tanah yang berada
di wilayahnya, pada hal sekarang dengan UUD 1945 memberikan
jaminan bahwa hak-hak masyarakat adat termasuk hak-hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup tetap dihormati. Penghor­
matan yang paling sederhana adalah dengan apparamisi/kulo nuwun
dan masyarakat adat yang bersangkutan.
Seperti yang telah dikemukakan terdahulu, masyarakat hukum
adat dengan hukum adatnya adalah merupakan kenyataan yang

161
tidak dapat dimungkiri. Keberadaannya memperoleh perhatian
begitu banyak peraturan, mulai dari UUD1945, TAP MPR RI,
maupun dalam Undang-undang. Apakah dengan demikian
keberadaan masyarakat adat dengan hukum adatnya dalam
kenyataannya sudah memperoleh kedudukan secara wajar?
Dari kejadian yang biasa didengar, dibaca ataupun ditonton di
layar televisi, tentang terjadinya unjuk rasa yang dilakukan oleh
masyarakat terhadap pemerintah yang menggunakan embaya/ulayat
masyarakat adat tanpa apparamisi/kulo nuwun atau kalau wilayah itu
akan dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas, kadang-
kadang tidak disertai pembayaran yang wajar, mengisyaratkan
bahwa apparamisi/kulonuwun belum banyak dilaksanakan
sebagaimana mestinya. Jadi pengakuan masyarakat adat, yang dalam
UUD 1945 dan begitu banyak peraturan lainnya diistilahkan sebagai
masyarakat tradisional dengan hak-haknya tampaknya kadang-
kadang hanyalah merupakan embun penyejuk yang selalu hadir di waktu
malam, yang apabila muncul malahan di upuk Timur akan hilang dan
kehilangan makna penyejuknya, kemudian dilupakan, yang selanjutnya
setelah malam tiba menutupi bumi pertiwi, akan muncul kembali memberi
kesejukan, kesegaran baru bagi seluruh mahluk, terulang dan terus terulang,
kesegaran yang kemudian hilang, kemudian muncul lagi walaupun
kesegarannya kadang-kadang tidak bermakna apaapa bagi bagian terbesar
warga masyarakat.
Kehilangan kesegaran berganti dengan kesegaran seperti itu
berlangsung secara sporadis, yang juga kadang-kadang dibagian lain
di bumi pertiwi ini "pelecehan" adat dan hukum adat tetap saja ada
karena adanya pandangan bahwa penguasalah yang harus mengatur
dan harus diikuti oleh semua warga, sehingga kadang-kadang
menimbulkan sikap frustrasi di kalangan masyarakat. Walaupun
demikian kadang-kadang terjadi pula warga masyarakat juga kurang
sabar dan merasa bahwa penguasa haruslah cepat mengambil
langkah-langkah menyelesaikan kemauannya tanpa banyak berfikir
bahwa mengurus negara bukan hanya mengurus kepentingan
kelompoknya saja.
Keberpihakan kepada hukum adat akan muncul atau dimuncul­
kan kembali setelah ada rasa ketidakpuasan sekelompok masyarakat

162
yang ada hubungannya dengan hak adat mereka, kadang-kadang
sengaja diulur-ulur sampai masyarakat bosan dan diam dalam
kepasrahan.
Kesadaran dan kearifan kita semua memberikan tempat bagi
hukum adat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bahan untuk
lahirnya hukum nasional, adalah sangat diperlukan, tentu saja bagian
hukum adat yang secara nasional dapat diterima oleh masyarakat.
Akan tetapi dengan kearifan saja dalam bentuk merumuskannya
dalam peraturan, rasanya tidaklah memadai bahkan dapat dikatakan
belumlah lengkap. Perwujudannya dalam bentuk yang lebih nyata
sangat perlu. Masyarakat adat bukan hanya yang berada di
Keammatoaan di desa Tana Toa Kecamatan Kajang Kabupaten
Bulukumba ataupun pada masyarakat Badui di Provinsi Banten, atau
di tempat-tempat lainnya yang dikualifikasikan sebagai tempat
berdiamnya masyarakat tradisional, akan tetapi tersebar diseluruh
pelosok tanah air tercinta, yang memerlukan perhatian yang
sungguh-sungguh dari kita semua.
Perwujudan yang dimaksud, ialah mengupayakan agar mereka
memperoleh tempat yang layak sebagai manusia yang memperoleh
perlindungan hukum, setidak-tidaknya manusia dalam gambaran
menurut hati nurani kita.
Sebenarnya dan mereka kita harus belajar banyak. Keteladanan
mereka perlu dicontoh. Aturan adatnya perlu disimak. Kehidupan
kesehariannya barangkali tidak seluruhnya perlu ditiru. Akan tetapi
apakah nilai filosofis yang mereka ikuti tidak seyogianya dapat
menggugah akal sehat untuk digali dan dijadikan pewarna bagi
kehidupan hukum maupun kehidupan keseharian kita?
Jauh sebelum perhatian diarahkan pada lingkungan hidup,
masyarakat tradisional telah menunjukkan kearifan terhadap
pengelolaan lingkungan hidup. Soemarwoto misalnya, mengemu­
kakan bahwa beberapa tradisi masyarakat yang disebutnya sebagai
kearifan ekologi yang lahir dari dtra lingkungan antara lain:
a. Budidaya sawah dengan memanfaatkan curah hujan yang tinggi
dan sekaligus merupakan cara yang baik untuk melindungi
tanah yang beilereng dari hempatan air hujan. Sengkedan (teras)
sawah dibuat menurut garis kontur, sehingga cara bercocok

163
tanam itu sesuai benar dengan teori yang paling mutakhir yang
disebut contour planting. Cara yang demikian di Jawa Tengah
disebut nyabuk gunung, sedangkan di Jawa Barat disebut ngais
pasir yang berarti mengendong gunung dengan kain selendang.
b. Subak di Bali, yaitu organisasi petani yang secara tradisional
dilakukan oleh petani, adalah merupakan suatu kearifan ekologi
yang juga bermakna menyatunya kebutuhan manusia dengan
alam. Alam terjaga kelestariannya, sedangkan warga masyarakat
memperoleh manfaat darinya.
c. Sering pula dijumpai pada masyarakat, kearifan ekologi dengan
berselubung mistik atau takhayul. Adanya kolam ikan yang
ikannya tidak boleh ditangkap apalagi kalau hasil tangkapan itu
akan dimakan. Demikian pula adanya tempat tertentu, hutan
tertentu yang tidak dapat dimasuki apalagi untuk menebang
pohon yang tumbuh di dalamnya. Larangan semacam itu
dihindari karena menangkap ikan atau menebang pohon akan
membahayakan hidup dan kehidupan baik pada alam, maupun
pada yang melakukannya.

Pada masyarakat Keammatoaan yang dipimpin oleh seorang


Ammatoa setidak-tidaknya sampai pada Puto Nyonyok, Ammatoa
yang meninggal tahun 2000 yang lalu, salah satu aturan adat mereka
yang berhubungan kehidupan kesehariannya dikemukakan bahwa
apabila masyarakat daerah ini ditakdirkan kaya, maka yang terakhir
kaya adalah Ammatoa, dan apabila masyarakat di daerah ini
ditakdirkan miskin, maka yang termiskin adalah Ammatoa. Aturan
adat seperti itu sungguh-sungguh diterapkan dalam kehidupan
keseharian Ammatoa. Ketentuan adat yang bersumber dari Pasang
sungguh-sungguh dilaksanakan oleh Puto Nyonyok, sehingga
rumahnya dan aktivitas kesehariannya tidak berbeda bahkan
rumahnya lebih sederhana dari rumah warga masyarakat lainnya.
Harian Kompas (Kamis, 5 Januari 2006, hal. 14 yang berjudul
Komunitas Kajang Tergerus Putaran Zaman) menulis bahwa Ammatoa
sekarang yang bernama Puto Palasa, yang merupakan putera dari
Puto Nyonyok, Ammatoa pada waktu saya mengadakan penelitian di
kawasan itu pada tahun 1998), langsung membongkar lantai dan

164
dinding rumahnya, yang tadinya terbuat dari papan, diganti menjadi
susunan dan anyaman bambu, sama bahkan mungkin lebih
sederhana dari rumah warganya. Saya tidak tahu persis apakah
diantara pemimpin bangsa ini ada diantaranya yang berfikiran
seperti itu, setidak-tidaknya kehidupannya tidaklah terlalu mencolok
dibandingkan dengan kehidupan warga lainnya.
Tentang pemeliharaan hutan aturan adat Keammatoaan
mengajarkan bahwa apabila ingin menebang sebatang pohon, maka
terlebih dahulu harus ada izin dari Ammatoa, dan setelah ada izin
diharuskan menanam pohon sekurang-kurangnya dua batang
sampai tumbuh dengan baik. Sesudah pohon yang ditanam itu sudah
tumbuh dengan baik, barulah diperkenankan untuk menebang
pohon yang diinginkan. Proses pemberian izin setelah menanam dua
pohon sampai tumbuh dengan baik memang memerlukan waktu
yang lama. Akan tetapi dengan cara yang demikian akan berdampak
bahwa akan tetap ada tanaman pohon yang suatu waktu akan
tumbuh menjadi besar, menggantikan pohon yang ditebang. Tentu
saja bagi mereka yang berfikiran semua harus diatur serba cepat, hal
seperti itu kadang-kadang dipandang menghambat suatu kegiatan.
Apa yang dapat ditarik dari aturan adat yang seperti ini?
Kedengarannya sangat sepele dalam arti adanya ketentuan tebang
tanam, akan tetapi yang banyak didengar menebang pohonnya
sedang tanamnya sangat jarang didengar. Menanam dua pohon atau
lebih, asal bisa menebang satu pohon yang kadang-kadang
ukurannya sangat besar sangatlah jarang didengar. Akan tetapi
dasar filosifis yang terkandung di dalam aturan adat itu ialah
bahwa kehidupan ini harus tetap berlangsung tanpa putus,
sebelum hilang satu, haruslah terlebih dahulu ada penggantinya.
Kalau hal itu dihubungkan lebih jauh, misalnya dengan usaha
pelestarian alam, khususnya pelestarian hutan, maka sebelum para
pengusaha hutan yang memperoleh area hak pengusahaan hutan
(HPH), maka terlebih dahulu menanam pohon sampai tumbuh
dengan baik di daerah-daerah kritis di wilayah yang ditentukan oleh
penguasa, sehingga keberlangsungan hidup tumbuhan di hutan
tetap terjadi. Kalau sekiranya hal itu dilaksanakan maka diyakini
hutan akan tetap lestari, karena akan tetap ada hutan cadangan

165
walaupun bukan di wilayah HPH dilakukan, akan tetapi berada di
tempat lain.
Akan tetapi untuk menanam pohon sebelum menebang, hal
yang seperti itu memerlukan kearifan dan kemauan baik dari semua
pihak, dari masyarakat, penguasa maupun dari pengusaha. Karena
hal itu banyak dilupakan sehingga jangan heran apabila di beberapa
tempat yang pada beberapa tahun yang lalu terkenal dengan
hutannya yang lebat, sekarang ini dikenal karena setiap musim hujan
selalu tenggelam oleh banjir, disebabkan telah terjadi penggundulan
hutan.

Hukum Adat dan Pelestarian Lingkungan


Dalam hubungan dengan pelestarian lingkungan selain pada
masyarakat Keammatoaan yang telah dikemukakan terdahulu,
terdapat banyak sekali Keammatoaan yang telah dikemukakan
terdahulu, terdapat banyak sekali acuan yang dapat dikemukakan.
Prinsip 22 Deklarasi Rio de Janeiro menegaskan bahwa penduduk asli
dan masyarakatnya, serta anggota masyarakat setempat lainnya,
mempunyai peranan yang penting dalam mengelola lingkungan dan
pembangunan karena pengetahuan dan tradisi mereka. Pemerintah
harus menghormati dan memelihara jatidiri, kebudayaan dan
kepentingan mereka serta memungkinkan mereka berpartisipasi aktif
dalam mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan.
Penegasan Prinsip 22 di atas memberi peluang penduduk asli
dan masyarakatnya serta anggota masyarakat setempat lainnya
berdasar atas nilai-nilai tradisional dan kearifan lingkungan
termasuk langkah-langkah yang tegas apabila terjadi perusakan
lingkungan, sehingga diharapkan pengelolaan lingkungan dapat
menjamin kelestariannya. Pengetahuan tradisional dan kearifan
lingkungan dimaksud, ialah nilai-nilai tradisional yang tertuang
dalam kaidah-kaidah hukum masyarakat setempat yang tiada lain
bersumber dari hukum adat masyarakat itu sendiri, seperti yang
dicontohkan oleh masyarakat Keammatoaan, yang secara nasional
dapat diterapkan.
Pada kesempatan ini perkenankanlah saya memberikan contoh
yang menggambarkan bahwa beberapa nilai hukum adat

166
memberikan jaminan terhadap kelestarian lingkungan, yang pada
akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan, terutama yang ada
hubungannya dengan penebangan liar dan pembakaran hutan.
Michael R. Dove (1988 - v) menulis bahwa masyarakat adat,
ternyata bukanlah pelaku pembakaran hutan dan penebangan ilegal
hutan di lingkungannya. Kalaupun mereka membakar hutan,
pembakaran itu dilakukannya pada areal berdasarkan tanda-tanda
yang sangat jelas diketahuinya, baik berdasarkan pengalaman
hidupnya, maupun pengalaman orang tua dan leluhur
pendahulunya, bahwa di lokasi itu sudah memungkinkan untuk
diadakan pembakaran untuk kemudian ditanami dengan tanaman
yang akan menopang hidup kesehariannya, bukan untuk tujuan
yang lebih besar, misalnya untuk memperkaya diri dan keluarganya.
Pembakaran dilakukan karena kegiatan peladangan di tempat itu
sebelumnya, telah melewati jangka waktu yang sudah berlangsung
cukup lama, yang ditandai baik oleh tanda yang sengaja mereka buat
di tempat itu, yang dibuat sebelum dan sesudah pembakaran,
maupun tanda-tanda kehidupan mahluk yang berdiam kembali di
tempat itu.
Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan, membakar hutan untuk
perladangan, dilakukannya dengan cara yang sangat mereka kuasai,
agar kebakaran itu tidak meluas, hanya pada kawasan yang mereka
telah tentukan. Mereka tahu betul tabiat taksonomi api, dan pola-
pola perambatan api. Jika mereka membakar hutan untuk persiapan
membuka ladang baru, mereka mengetahui betul cara yang perlu
dilakukan sehingga kebakaran hutan bisa dilokalisasi dan mendapat
hasil yang optimal, dalam arti bahwa abu hasil pembakaran sebagai
pupuk, dan tanah yang akan digarap sudah siap untuk menghidupi
padi dan palawija dalam satu siklus penggarapan ladang. Kegiatan
masyarakat adat menggunakan api atau alat tebang sederhana sangat
berbeda dari kegiatan yang dilakukan oleh pengusaha HPH yang
membabat dengan peralatan canggih, membakar hutan dengan
sekehendak hati. Akibatnya, apipun merambat kemana-mana
menghanguskan hutan, maupun gambut yang ada dalam tanah,
yang sukar sekali untuk dipadamkan. Hal itu dilakukan karena
mereka tidak mempunyai rasa keterkaitan emosional dengan tanah

167
garapan mereka, yang ada dalam benaknya hanyalah secepatnya
membabat untuk secepatnya pula memperoleh hasil berupa kayu,
yang memberikan keuntungan berlipat-lipat tanpa merasa berdosa.
Citra lingkungan yang sekaligus merupakan kearifan
lingkungan mempunyai makna bahwa sistem tradisional yang
mengeksploitasi lingkungan adalah merupakan hasil dari percobaan
dan pelajaran selama ribuan tahun, sehingga cara tradisional yang
dilakukan penduduk asli di suatu lingkungan adalah lebih baik dari
sistem yang pernah dibuat oleh pakar universitas (Dove, 1988: v).
Mungkin di kalangan sebagian orang berpendapat bahwa tulisan
Dove sudah tidak laku lagi pada sekarang ini, karena semakin
banyaknya warga masyarakat setempat yang terlibat dalam
pembabatan hutan. Akan tetapi kalau itu terjadi, pastilah karena
adanya faktor di luar kemampuan masyarakat adat itu untuk
mengatasinya.
Harian Kompas (Rabu, 22 Juni 2005, hal 1 ke hal 11) dengan
juduh Kearifan Adat Hulu Barito Lindungi Hutan dan Kerusakan menulis
bahwa warga sekitar di bagian Huhu Bartto mehindungi hutan dari
kerusakan. Jipen yang merupakan pranata adat yang dimaksudkan
menjaga keseimbangan sosial budaya masyarakat, sekaligus menjaga
hubungan dengan alam sekitarnya. Merusak hutan, sama artinya
merusak dan mematikan hidup mereka. Warga masyarakat yang
akan berladang dengan memanfaatkan areal hutan boleh saja
dilakukan dengan syarat tidak boleh mengganggu apalagi menebang
pohon tertentu yang pada umumnya menjadi tempat bersarangnya
lebah madu. Ketentuan adat ini ditaati oleh warga, akan tetapi
sejumlah perusahaan tidak mengindahkan aturan itu. Penebangan
tetap mereka lakukan tanpa mengindahkan hukum adat, bahkan
dalam banyak kasus anggota masyarakat adat yang dengan kekuatan
materi dimanfaatkannya untuk merusak hutan yang justru harus
dilindunginya.

Penyelesaian Perkara menurut Hukum Adat


Pada bagian terdahulu telah dikemukakan pandangan Cicero
yang sangat dikenal yang mengatakan "di mana ada masyarakat
disitu ada hukum. Hal ini perlu dilengkapi bahwa dimana ada

168
masyarakat disitu ada hukum, dan dimana ada hukum, disitu ada
hakim. Apakah pada masyarakat adat dikenal pula adanya hakim?
Tentu saja selalu ada, walaupun tidak dengan istilah seperti yang
dikenal pada umumnya oleh kita sekarang ini.
Pada masyarakat adat dimasa lalu, dan sebenarnya pada setiap
masyarakat dimanapun keberadaannya selalu mendambakan
ketenangan hidup, dalam arti bahwa tidak ada ketegangan yang
timbul di antara warga masyarakat, yang terjadi baik karena adanya
perbedaan pendapat di kalangan para warga, maupun karena sebab
yang lain. Perbedaan pendapat yang dapat menimbulkan sengketa,
perlu ada pihak yang menyelesaikannya. Pada umumnya yang
menjadi penengah/pendamai adalah kepala adat, tua-tua adat,
penghulu agama, dan atau orang-orang yang dipercaya di antara
warga masyarakat. Pada masa Pemerintahan Belanda dikenal pula
adanya hakim perdamaian desa yang diatur dalam Pasal 3a
Reglement op de Rechterlijke Organisatie en het Beleid der Justitie
(Peraturan Susunan Pengadilan dan Kebijaksanaan Justisi) disingkat
RO (S. 1933 No. 102) yang mengemukakan bahwa perselisihan
antarwarga masyarakat adat diselesaikan oleh hakim perdamaian
desa. Hakim perdamaian desa tidak berhak menjatuhkan hukuman.
Walaupun ada rumusan yang demikian, akan tetapi dalam banyak
kasus yang terjadi pada masyarakat utamanya di pedesaan,
penyelesaian sengketa yang diakhiri dengan memberikan hukuman
bagi pelanggar hampir terjadi pada masyarakat manapun juga di
Nusantara ini, terutama karena peraturan itu jangkauannya sangat
terbatas (Hedar Laudjeng (2003, 8-18).
Hazairin (Hedar Laudjeng, 2003: 8-9) mengemukakan bahwa
kekuasaan hakim desa tidak terbatas pada perdamaian saja tetapi
meliputi kekuasaan memutus semua silang sengketa dalam semua
bidang hukum tanpa membedakan antara pengertian pidana,
perdata, publik dan sipil. Keadaan itu baru berubah jika masyarakat
hukum adat menundukkan dirinya pada kekuasaan yang lebih tinggi
yang membatasi atau mengawasi hak-hak kehakiman itu. Hakim-
hakim itu sebagai alat kelengkapan kekuasaan desa selama desa itu
sanggup mempertahankan wajah aslinya.
Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951
menentukan bahwa ketentuan dalam ayat (1), yaitu tentang

169
penghapusan pelbagai pengadilan, tidak sedikitpun juga
mengurangi hak kekuasaan yang selama ini telah diberikan kepada
hakim-hakim perdamaian desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3a R.O., hanya saja di dalam penjelasan Undang-undang Darurat
Nomor 1 Tahun 1951 dikemukakan bahwa segala kekuasaan hakim-
hakim desa harus dihapuskan (Mertokusumo, 1970:119).
Walaupun secara tegas dalam penjelasan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1951 kekuasaan hakim-hakim desa dihapuskan, akan
tetapi dalam kenyataannya peranan kepala adat masih cukup besar
dalam menyelesaikan perkara yang ada di lingkungan masyarakat
adatnya.
Dengan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia
Nomor 02 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan,
Mahkamah Agung Republik Indonesia (MARI) dalam upaya
mengatasi kemungkinan penumpukan perkara di pengadilan
berupaya memberlakukan mediasi yang dinilai merupakan salah
satu proses lebih cepat dan murah, serta dapat memberikan akses
kepada para pihak yang bersengketa untuk memperoleh keadilan
atau penyelesaian yang memuaskan atas sengketa yang dihadapi.
Untuk hal tersebut institusionalisasi proses mediasi ke dalam sistem
peradilan dapat memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembagaan
pengadilan dalam penyelesaian sengketa di samping proses-proses
pengadilan yang bersifat memutus (ajudikatif).
Dengan adanya Peraturan Mahkamah Agung Republik
Indonesia, diharapkan bahwa baik Pasal 130 HIR maupun Pasal 154
RBg. mendorong para pihak untuk menempuh proses perdamaian
yang dapat diintensifkan dengan cara mengintegrasikan proses
mediasi ke dalam prosedur berperkara di pengadilan tingkat
pertama. Hal yang cukup penting yang diatur dalam peraturan ini,
ialah bahwa semua perkara perdata yang diajukan ke pengadilan
tingkat pertama wajib untuk lebih dahulu diselesaikan melalui
perdamaian dengan bantuan mediator.
Peraturan ini selain dapat mengatasi kemungkinan penum­
pukan perkara di pengadilan sebenarnya sekaligus memberikan
tempat yang ideal dalam rangka penyelesaian perkara sebelum
sungguh-sungguh melalui proses peradilan yang pada masa

170
Pemerintahan Hindia Belanda dikenal sebagai Hakim Perdamaian
Desa, walaupun dengan Peraturan Mahkamah Agung memberikan
tempat yang lebih luas untuk menyelesaikan perkara melalui mediasi
tersebut. Dengan demikian apabila penyelesaian ini dapat terlaksana,
sekaligus menghilangkan dendam yang mungkin ada antara pihak
yang berperkara, sehinga tujuan akhir terselenggaranya kedamaian
di kalangan warga dapat tercipta.
Satu hal yang barangkali perlu dikemukakan pada kesempatan
ini bahwa penyelesaian perkara utamanya perkara perdata, cukup
tersedia lembaga yang dimaksudkan untuk dijadikan wacana dalam
menyelesaikan perbedaan pendapat di kalangan warga. Akan tetapi
sebelum suatu sengketa sampai ke pengadilan, pada masyarakat adat
telah ada lembaga yang dimanfaatkan masyarakat adat dalam
menyelesaikan sengketa di antara mereka.
Di Papua, penyelesaian sengketa melalui peradilan adat masih
kental. Norma-norma adat masih hidup sehingga hukum adat
sampai sekarang masih sangat berperan dalam menyelesaikan
masalah dalam masyarakat. Masalah yang diselesaikan melalui
peradilan adat antara lain perzinahan, pemerkosaan, pembunuhan,
batas tanah adat antarsuku dan batas tanah antarwarga.
Penanggungjawab peradilan adat adalah Ondoafi atau Ondofolo
(Hedar Laudjeng, 2003:11).
Pada masyarakat yang berdiam di Kerinci, Sungai Penuh di
Sumatera peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang
warga, walaupun kasusnya dilanjutkan ke Pengadilan Negeri, akan
tetapi keluarga pihak pembunuh menempuh pula upaya pendekatan
ke keluarga korban, sebagaimana lazim dilakukan oleh warga
masyarakat setempat pada masa-masa lalu, sehingga pada akhirnya
mereka menempuh perdamaian adat dan membayar denda adat
Aturan adat mereka menyebut luka bapampah, mati babangun (kalau
melukai harus mengobati sampai sembuh, kalau mengakibatkan
matinya orang si pelaku dihukum membayar denda, kerbau seekor,
beras seratus liter, kain putih dan uang Rp.17.500,000.- Putusan ini
tidak menjadikan terdakwa dibebaskan di pengadilan, akan tetapi
menjadi pertimbangan yang meringankan hukumannya.
Penyelesaian seperti itu menghilangkan dendam diantara keluarga
korban dengan keluarga terdakwa.

171
Pada masyarakat Keammatoaan (Kaimuddin Salle, 1999: 237 - 262)
masih dikenal peradilan adat. Beberapa hal yang menjadi perhatian
dalam penyelesaian melalui peradilan adat, adalah hal-hal yang
bersangkut-paut dengan gangguan terhadap perempuan (loho) dan
gangguan terhadap hutan. Khusus gangguan terhadap hutan, sanksi
yang dijatuhkan oleh Ammatoa sangatlah berat, terutama tentu saja
menurut ukuran masyarakat adat Keammatoaan. Pada masa lalu,
hukum yang jatuhkan adalah hukuman cambuk yang disesuaikan
tingkatan pelanggaran yang dilakukan. Hukuman yang dijatuhkan
terdiri atas pokok babbalak kalau menebang pohon di dalam hutan
keramat, tangnga babbalak kalau menebang pohon di dalam
lingkungan masyarakat adat, dan cappak babbalak kalau menebang
pohon di lingkungan hak pakai masyarakat adat tanpa izin yang
menguasai tanah itu. Pelanggaran adat dengan sanksi yang
dijatuhkan pernah terjadi beberapa waktu yang lalu.
Pada masyarakat adat yang berdiam di Tana Toa yang saya
sebut masyarakat Keammatoaan, setidak-tidaknya sampai pada saat
penelitian dilakukan pada tahun 1998 yang lalu, pihak yang
dipandang paling tepat untuk bertindak sebagai pihak yang dapat
menyelesaikan sengketa di antara warga ialah Ammatoa sendiri,
karena memenuhi persyaratan, sebagai berikut:
1. sabbaraki, mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi,
pengetahuan yang luas, punya kemampuan menuntun warga
masyarakatnya mengetahui adat;
2. pesonai, piawai, menjadi suri teladan dari warga dalam
kehidupan kesehariannya;
3. lambusuki, jujur, dalam arti mampu melaksanakan tugas
kesehariannya atas dasar ketinggian moral;
4. gatang, adalah ketegasan dalam memelihara adat, ketegasan
dalam menjatuhkan sanksi kepada setiap pelanggaran adat,
tanpa pilih kasih.

Empat syarat yang dikemukakan bukan sekadar basa-basi, akan


tetapi diperaktekkan dalam peradilan adat baik di masyarakat
Keammatoaan setidak-tidaknya sampai pada waktu saya mengadakan
penelitian di lingkungan masyarakat itu maupun pada masyarakat
adat lainnya, yang melakukan pelanggaran adat yang melibatkan

172
warga Keammatoaan. Hal yang agak berat sebelah ialah apabila terjadi
pelanggaran adat terhadap perempuan (loho), karena apapun
pembelaan laki-laki pelangar adat tidak akan pernah
dipertimbangkan oleh Ammatoa karena menurut pasang laki-laki
banyak bohongnya. Penghargaan pada perempuan terjadi pada
banyak masyarakat lainnya, misalnya pada masyarakat Mamboro di
Nusa Tengara Timur, apabila seorang laki-laki menghamili seorang
perempuan, maka laki-laki dikenakan denda yang sangat besar,
sedangkan pihak perempuan sama sekali tidak dipersalahkan.
La Pagala Nenek Mallomo, seorang hakim di Sidenreng pada abad
ke XVI yang menjatuhkan hukuman mati terhadap putranya karena
dipersalahkannya mencuri bajak dan ketika orang menanyakannya
kepada La Pagala, apakah ia menilai nyawa putranya sama dengan
kayu tua itu, ia tegas menjawab ade'e temmakkeana' temmakke eppo,
yang artinya hukum (adat) tidak mengenal anak dan cucu. Adagium
ini sama dengan Justitia non novit patrem nec matrem, solam veritatem
spectat just itia (Andi Zainal Abidin, 1983-124).
La Pakoko' To Pa'be'le' (1564-1567) yang menjadi raja di Wajo
menjatuhkan hukuman mati terhadap putranya yang bernama La
Pa'be'le' karena dipersalahkan memperkosa perempuan biasa di
kampung yang bernama Totinco.
Andi Zainal Abidin (1983-124) mengutip pendapat da La Tiringeng
To Taba yang mengemukakan bahwa untuk kebaikan negara maka
bicara (peradilan atau putusan) yang jujur dan getang, ade (hukum
adat) yang baik, pa'batang (larangan yang tegas), karena dengan cara
yang demikian akan menjadi tempat berlindungnya orang lemah dan
jujur, tempat terbenturnya sikuat lagi curang, menjadi pagar negeri
terhadap orang yang berbuat sewenang-wenang, jika dilangkahi
orang akan ditendangnya ke atas, jika diselundupi, orang akan
dihimpitnya.
Kalau sekiranya keempat persyaratan adat yang dikemukan
bagi seorang pemimpin seperti pada masyarakat Keammatoaan dan
ketegasan seperti yang diperlihatkan oleh hakim di Sidenreng dan
raja Wajo, dan juga masih dimungkinkan memberlakukan aturan
adat dalam menyelesaikan perkara utamanya perkara perdata yang
terjadi di lingkungan masyarakat adat, sampai pada mediasi

173
sebagaimana yang diharapkan sesuai Peraturan Mahkamah Agung
Nomor 02 Tahun 2003, saya yakin akan berlangsung ketertiban,
ketenangan dan kedamaian yang didambakan oleh kita semua.
Namun hal yang demikian tampaknya kadang-kadang masih sulit
untuk terlaksana, karena seperti pepatah Cina, dimana ada beras
pasti disitu ada antah, dimana ada tanah disitu ada semut, dimana
ada daun disitu ada ulat. Hal itu berarti bahwa bagaimanapun juga
pada setiap kelompok masyarakat, selalu saja terdapat orang-orang
yang sengaja atau tidak sengaja tidak sejalan dengan kondisi normal.
Akan tetapi walaupun pada beras ada antahnya, pada tanah ada
semutnya dan pada daun ada ulatnya, tidaklah berarti bahwa baik
beras, tanah ataupun daun semuanya harus dimusnahkan, seperti
halnya karena ada tikus yang bersarang dilumbung, lumbungnya
harus dibakar. Pada setiap instansi atau orang pasti punya kelebihan
dan kekurangan, akan tetapi kalau seseorang (termasuk kita)
melakukan kesalahan, atau kalau ada sengketa di antara warga,
tidaklah berarti bahwa harus langsung dijatuhi hukuman, akan tetapi
masih cukup banyak peluang yang dapat ditempuh termasuk
mediasi sebelum proses peradilan yang sesungguhnya, seperti yang
dimaksudkan oleh Peraturan Mahkamah Agung, maupun seperti
yang telah dicontohkan oleh Ammatoa, Nenek Mallomo, maupun Raja
Wajo.

Kesimpulan
Berdasarkan hal-hal yang saya kemukakan terdahulu, kiranya
dapat disimpulkan bahwa :
1. Hukum adat adalah hukum yang berakar dalam kehidupan
bangsa Indonesia yang merupakan bagian dari budaya bangsa,
yang mempunyai unsur agama yang sangat kuat;
2. Hukum Adat mengalami perkembangan sesuai dengan
perkembangan masyarakat itu sendiri;
3. Walaupun ada bagian Hukum Adat yang telah menjadi bagian
dari Hukum Nasional, akan tetapi sebenarnya masih cukup
banyak yang lainnya yang perlu disikapi lebih jauh karena
mengandung hal yang dapat dijadikan acuan dasar dalam
peraturan perundang-undangan sekarang ini;

174
4. Pada bagian yang sudah jelas pengaturannya dalam peraturan
perundang-undangan, akan tetapi hal itu rasanya belum cukup,
sebelum ditindak lanjuti dan kita semua dalam kehidupan
keseharian kita;
5. Dalam menyelesaikan persoalan di antara warga, cukup tersedia
media untuk itu;
6. Keberhasilan penegakan hukum termasuk yang bersumber dan
hukum adat hanya dapat terlaksana kalau ada kemauan baik
dari semua pihak untuk melaksanakannya dan hal tersebut
adalah merupakan tanggungjawab kita semua. Hanya dengan
cara yang demikian hukum adat tidak hanya menjadi embun
yang memberikan kesegaran bagi mahluk hidup diwaktu
malam, akan tetapi akan selalu memberikan kesegaran kapan
dan dimanapun juga kepada semua mahluk di persada tanah air
ini.

175
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, H. A. K. 1989. Komunitas Ammatowa di Kajang di Bulukumba.


Studi tentang Kepercayaan dan Pelestarian Lingkungan. Tesis pada
Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
Dove, M. R. 1988. Sistem Perladangan di Indonesia. Suatu Studi-Kasus
dan Kalimantan Barat. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Firdaus, K 1977. Hukum Adat Suatu Kebanggaan yang Perlu
Dipertanyakan Kembali. Majalah Hukum dan Pembangunan
Nomor 6 Tahun ke-VII.
Firth et at. 1968. Ciri-ciri dan Alam Hidup Manusia (Suatu Pengantar
Antropologi Budaya). Sumur, Bandung.
Hadikusuma, H. 1979. Hukum Perjanjian Adat. Alumni, Bandung.
Plolleman, F. D. 1972. Hukum Adat di Tulungagung. Terjemahan
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Koninklijk
Institut voor Taal- Lnad- en Volkenkunde (KITLV). Bhratara,
Jakarta.
Hurgronje, C. S. 1973. Islam di Hindia Belanda. Terjemahan Panitia Seri
Terjemahan Karangan-karangan Belanda. Bhratara, Jakarta.
Koentjaraningrat, 1975. Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan.
Gramedia, Jakarta.
____1997. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Djambatan, Jakarta.
Koesnoe, H. M., 1992. Hukum Adat Sebagai Suatu Model Hukum, Bagian
I (Historis). Penerbit CV. Mandar Maju, Bandung.
Laudjeng, H. 2003. Mempertimbangkan Peradilan Adat. Seri Pengem­
bangan Wacana HUMA.
Lessa, W. A. arid Evon Z. Vogt. 1972. Reader in Comparative Religion.
An Anthropological Approach. Third Edition. Harper & Row, New
York.
Mahkamah Agung, 2004. Mediasi dan Perdamaian. Penerbit
Mahkamah Agung RI.

176
Marzuki, M. L. 1985. Sir Bagian Kesadaran Hukum Rakyat Bugis-
Makassar (Sebuah Telaah Filsafat Hukum). Hasanuddin University
Press, Ujung Pandang.
Mattulada, H. A. 1997. Kebudayaan Bugis-Makassar. Dalam Manusia
dan Kebudayaan di Indonesia. Editor Koentjaraningrat,
Djambatan, Jakarta.
Mertokusumo, R. M. S. 1970. Sejarah Peradilan & Perundang-
undangannya di Indonesia.
Petras, Ch. 2006. Manusia Bugis. Forum Jakarta - Paris, Ecole francaise
d'Extreme - Orient, Jakarta.
Rahail, J. P. 1995. Kearifan Budaya Masyarakat Lokal Melestarikan
Lingkungan. Majalah Analisis, Tahun XXIV, Nomor 6, CSIS.
Ruhulessin, H. 1990. Suatu Studi tentang Hukum Sasi dalam Pengelolaan
Sumberdaya Alam di Propinsi Maluku (Kasus di Ambon dan Lease).
Tesis pada Fakultas Pascasarjana Universitas Hasanuddin,
Ujung Pandang.
Salle, K. 1996. Hukum Adat Suatu Kebanggaan yang Tidak Perlu
Dipertanyakan lagi. Majalah Ilmiah Hukum Amanna Gappa,
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.
____1999. Kebijakan Lingkungan Menurut Pasang, Sebuah Kajian Hukum
Lingkungan Adat pada Masyarakat Ammatoa Kecamatan Kajang
Kabupaten Daerah Tingkat II Bulukumba. Disertasi pada Program
Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar.
____ 1999. Keammatoaan Conception o f Women. Bulletin Penelitian
Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin, Vol XV Nomor 39,
Desember 1999.
____2003. Titik Taut Hukum Islam dan Hukum Adat di Sulawesi Selatan.
Suara ULDILAG, Vol. I No. 3, Oktober 2003 M.
Setiawan, K.O. 2003. Hak Ulayat Desa Adat Tenganan Pegringsingan Bali
Pasca UUPA. Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas
Indonesia.
Soemarwoto, O. 1991. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan.
Djambatan, Jakarta.

177
____ 1997. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Ter Haar, B. Bzn. 1939. Beginselen en Stelsel van het Adatrecht. J.B.
Wolters, Groningen-Batavia.
____ 1972. Peradilan Pengadilan Negeri Menurut Hukum Tidak Tertulis.
Terjemahan dengan Pengawasan Dewan Redaksi Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia dan Koninklijk Instituut voor Taal-,
Land - en Volkenkunde (KITLV). Bhratara, Jakarta.
____ 1983. Asas-asas dan Susunan Hukum Adat. (Terjemahan K. Ng.
Soebakti Poesponoto). Pradnya Paramita, Jakarta.
Tresna, R. 1957. Peradilan di Indonesia dari Abad ke Abad. W. Versluys
N.y. Amsterdam — Jakarta.
Utrecht, E dan Djindang, M. S. 1983. Pengantar Dalam Hukum
Indonesia. Ichtiar Baru/Sinar Harapan, Jakarta.
Van Dijk, R. - A. Soehardi (Penerjemah) 1971. Pengantar Hukum Adat
Indonesia. Penerbit Sumur- Bandung.
Van Vollenhoven, C. 1918. Het Adatrechf van Nederlansch India I. E. J.
Brill, Leiden.
____ 1934. Staatsrecht Overzee. H. E. Stenfert Kroese's Uitg. Mij.
Leiden, Amsterdam.
____ 1987. Penemuan Hukum Adat. Terjemahan Koninklijk Instituut
voor Taal, Land- en Volkenkunde (KITLV) bersama Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jambatan, Jakarta.
Widjaja, HAW. 2005. Penyelenggaraan Otonomi di Indonesia dalam
rangka Sosialisasi UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah. Penerbit PT Raja Grafindo Persada, Jakarta..
Wignjosoebroto, S. - Pokok-pokok Pikiran tentang Empat Syarat
Pengakuan Eksistensi Masyarakat Adat.

178
B E B E R A P A V A R IA B E L Y A N G M E M P E N G A R U H I
K IN E R JA H A K IM
Oleh :
H.M. Zaharuddin Utama*

PENGANTAR
Awalnya enggan kami melaksanakan Mutasi ke Sulawesi Utara
seusai melaksanakan pengabdian di Pengadilan Tinggi DKI, namun
ternyata banyak juga kami petik sebagai "blessing undisguised-nya".
Di sana kami dapat menyelesaikan penelitian sebagai bahan tesis
kami pada Pasca Sarjana Magister Manajemen Universitas Prof. DR.
HAMKA bidang Kinerja, utamanya Kinerja Hakim.
Oleh karena itu segera kami memutuskan untuk menyusun
lembaran angket sebagai instrumen, disebarkan kepada seluruh
rekan Hakim di bawah naungan Pengadilan Tinggi Manado yang
saat itu berjumlah 61 orang tersebar di 5 Pengadilan Negeri, yaitu
Hakim PT Manado 9 orang, PN Manado 15 orang Hakim, PN
Tondano 9 Hakim, PN Bitung 13 Hakim, PN Kotamobagu 8 Hakim
dan PN Tahuna 7 Hakim.

LATAR BELAKANG
Tugas pokok dan fungsi badan peradilan yaitu menerima,
memeriksa dan mengadili serta memutus/menyelesaikan perkara-
perkara yang diajukan kepadanya.
Pengadilan Tinggi Manado (PT Manado) adalah Pengadilan
Tingkat banding untuk seluruh peradilan tingkat pertama dalam
lingkungan peradilan umum di Provinsi Sulawesi Utara, saat ini
berjumlah 6 PN karena PN Airmadidi diresmikan oleh KMA 26 Juni
2008.
Berlandaskan pada Tupoksi Badan Peradilan di atas, maka PT
Manado beserta jajarannya berkewajiban untuk menerima perkara-

Hakim Agung Republik Indonesia.

179
perkara yang dilimpahkan, memeriksanya, lalu mengadili /memutus
dan menyelesaikan perkara-perkara tersebut dengan tuntas.
Rangkaian tugas itu merupakan tugas pelayanan hukum/
peradilan kepada masyarakat pencari keadilan (justiciabelen) di
wilayah Provinsi Sulawesi Utara.
Dewasa ini masyarakat sangat intersan sampai ke pedesaan/
pedukuhan/ umbul berbicara soal hukum, yang mereka ketahui dari
media massa baik elektronik maupun media cetak, terlebih lagi
masalah pelayanan hukum oleh Pengadilan baik pemidanaan,
putusan bidang kepemilikan harta benda maupun pelayanan
administratif lainnya.
Pelayanan peradilan itu menjadi bahan analisis masyarakat baik
yang pro maupun yang kontra, ada penuh pujian tetapi sangat
banyak pula caci maki sarkastik melampiaskan ketidakpuasan
mereka terhadap kinerja peradilan termasuk di Sulawesi Utara.
Untuk menganalisis public complaint terutama dari justiciabelen
tersebut kami tertarik menganalisis sumber ketidakpuasan tersebut
sehingga sampai kami pada pokok analisis yang kami jadikan judul
tesis, yang intinya masalah pelayanan prima yang dipersembahkan
oleh peradilan dengan memfokuskan sorotan pada Hakim sebagai
tenaga inti (core) dalam mengemban tugas pokok peradilan tersebut
dengan tidak mengeyampingkan the auxiliary organs lainnya yang
kesemuanya ikut berpartisipasi mewujudkan pelayanan hukum
tersebut.
MA telah membentuk pola dasar pembinaan tenaga teknis dan
non teknis peradilan, termasuk Hakim, antara lain telah mengatur
pola Mutasi dan promosi Hakim, kapan seorang Hakim layak
dimutasi, kapan dan dalam pangkat apa seorang dipromosi telah
diatur, namun ada kalanya promosi dan Mutasi tidak sesuai dengan
harapan seorang Hakim atas pola yang telah digariskan tersebut.
Demikianpun berkenaan dengan fasilitas yang diharapkan, mungkin
karena budget operasional terlalu kecil yang didapat dari APBN
sehingga tidak sesuai dengan apa yang seyogyanya diperoleh.
Melalui laporan baik bulanan, semesteran maupun laporan
tahunan telah diketahui jumlah perkara dari suatu PN maupun
PT. Demikian juga varitas perkara yang ada di wilayah tersebut.

180
Setiap Hakim ingin mengembangkan pribadi mereka, ingin
menangani perkara-perkara yang tidak hanya monoton dari itu ke
itu juga, tetapi varitas tersebut kadang-kadang tidak dijumpai di
suatu wilayah tertentu apalagi wilayah terpencil jauh dari keramaian
kota.
Beberapa hal disebut di atas merupakan elemen yang perlu
menjadi pertimbangan bagi manajemen yang berwenang dalam
pembinaan para Hakim agar kinerja mereka tetap terpelihara baik,
yang sangat berpengaruh terhadap pelayanan hukum yang mereka
persembahkan, yang sudah tentu pada akhirnya mempengaruhi
tingkat satisfikasi meredusir public complaint masyarakat.
Kami tertarik menganalisis dan meneliti hal tersebut di wilayah
Sulawesi Utara, pertama-tama karena Sulawesi Utara tempat kami
ketika itu ditugaskan, beberapa wilayah masih sulit terjangkau
antara lain kabupaten-kabupaten kepulauan Sitaro, Sangihe, Talaud
yang berbatasan langsung dengan negara Philipina. Alasan lainnya
Pengadilan Tinggi Manado sangat dikenal sejak lama secara historis
dan geografis. Ketika awal merdeka Sulawesi Utara merupakan
satu Keresidenan, bagian dari Provinsi Sulawesi dengan ibukota
Makasar, baru pada tahun 1964 Sulawesi Utara ditetapkan sebagai
provinsi dengan ibukota Manado yang selalu aman dan damai
dengan toleransi agama yang sangat tinggi. Secara historis pula
seiring dengan perjalanan sejarah Pengadilan Tinggi Manado
dibentuk tahun 1969, sampai saat ini telah dipimpin oleh 14 ketua,
sebagian besar ketuanya dipromosi menjadi Hakim Agung,
termasuk juga beberapa wakil ketua dan mantan Hakim Tinggi PT
Manado, membuktikan bahwa PT Manado termasuk PT yang
diperhitungkan.

KINERJA DALAM KERANGKA PEMIKIRAN DAN


RECHTSVARDIGING
Titik tolak dalam kerangka pemikiran kami menyandarkan
kepada beberapa pendapat ahli / pemikir besar dalam bidang
performance dan motivation.
Dalam suatu organisasi, baik organisasi pemerintah maupun
organisasi bisnis masalah kinerja merupakan permasalahan utama

181
yang terus mendapat perhatian pihak manajemen. Hal ini
disebabkan karena ukuran kinerja pegawai sangat ditentukan oleh
berhasil atau tidaknya organisasi tersebut dalam mencapai visi, misi
dan sasaran. Demikian pentingnya masalah kinerja pegawai, telah
memaksa suatu organisasi berupaya mengembangkan konsep-
konsep pengukuran kinerja pegawai secara tepat dan akurat.
Menurut Smith1 kinerja adalah : "output drived from processes,
human or otherwise". Sedangkan Sutermeister2 menyatakan : "we have
recognized that employee performance depends on both motivation and
ability". Kinerja pegawai menurut Sutermeister tergantung pada
motivasi dan kemampuan pegawai tersebut. Sejalan dengan
pendapat Sutermeister tersebut, Hoy and Miskel3 dengan mengutip
pendapat Vroom mengemukakan bahwa Performance = f (ability x
motivation). Artinya kinerja merupakan fungsi dari kemampuan dan
motivasi, atau dengan kata lain kinerja individu sebagai anggota
kelompok organisasi ditentukan oleh kemampuan dan kemauannya
dalam melaksanakan tugas.
Dalam kehidupan sehari-hari dijumpai beberapa tipe pegawai
dalam melaksanakan beban tugas : 1) pegawai yang mampu dan
mau diberi tugas, 2) pegawai yang mampu tetapi tidak mau diberi
tugas, 3) pegawai yang mau diberi tugas tetapi tidak mampu, dan 4)
pegawai yang tidak mampu dan juga tidak mau diberi tugas. Untuk
pegawai dengan tipe 1) sebaiknya diberikan suatu kewenangan,
untuk tipe 2) sebaiknya diberikan motivasi, untuk tipe 3) sebaiknya
diberi diklat, dan untuk tipe 4) sebaiknya diberikan peringatan
tertulis sampai tiga kali dan seandainya tidak ada perubahan, maka
berhentikanlah dia.
Dengan demikian, kinerja pegawai sangat tergantung pada
kemampuan dan kemauannya. Jika pegawai tersebut memiliki
kemampuan dan kemauan yang tinggi, maka hasilnya akan terlihat

1 Adam Smith, 1982. Human R esou rces D evelopm ent. London: Prentice Hill
International, Inch. (Alih bahasa : Sukarna. Bandung : Mandar Maju Bandung), him.
393.
2
Sutermeister. 1976. Human Resources and P erson el M anagem ent. New York:
Mac.Graw Hill Company, Inc. (Alih bahasa : Suryadarma. Jakarta: Gramedia).
Him.116
3
Hoy and Miskel. 1978. M anaging Human R esources. Irwin Me. Graw Hill
Company Inc. him. 116.

182
dari kinerjanya. Hal ini juga didukung oleh Gomez4 yang
menyatakan kinerja adalah hasil perkalian antara ability dengan
motivation. Berdasarkan rumusan tersebut Gomez menekankan
bahwa kedua faktor tersebut saling menentukan satu dengan
lainnya, artinya setinggi apapun tingkat kemampuan seseorang tidak
akan menghasilkan kinerja yang optimal bila dikerjakan dengan
motivasi yang rendah. Sebaliknya, setinggi apapun tingkat motivasi
seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya tidak akan efektif
tanpa diimbangi dengan kemampuan di bidang kerjanya.
Di pihak lain, Stoner5 mengemukakan bahwa kinerja adalah fungsi
dari motivasi, ability dan role perception. Motivasi adalah kebutuhan
psikologis yang mendorong atau menggerakkan perilaku seseorang
menuju tercapainya suatu tujuan. Ability adalah semua non
motivational attributes yang dimiliki individu untuk melaksanakan
suatu tugas. Sedang role perception adalah pemahaman peran atau
pemahaman seseorang atas tugas atau perilaku yang diperlukan
untuk mencapai kinerja yang tinggi.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka kinerja adalah :
a. Usaha meningkatkan target atau hasil usaha untuk mencapai
sasaran organisasi;
b. Kemampuan melaksanakan tugas;
c. Kapasitas individual dalam melaksanakan berbagai tugas;

Dengan demikian, kinerja dapat diartikan sebagai suatu


kegiatan / usaha untuk mencapai target atau hasil sesuai sasaran
organisasi berdasarkan kemampuan / kapasitas individu.
Dalam terminologi manajemen, kinerja didefinisikan sebagai
penampilan hasil karya personel baik kuantitas maupun kualitas
dalam suatu organisasi dan kinerja dapat merupakan penampilan
individu maupun kelompok kinerja personel.

4 Luis R. Gomez. 1998. M anaging H um an R esources. Jakarta : PT. Gramedia


(Fourth Edition) Him. 152.
5 James AF. Stoner. 1995. M anagem en t (Alih Bahasa : Wilhermes Bakowtun,
Benjamin Malam) Jakarta: Intermedia. Him. 460

183
Menurut Mathis dan Jackson6, kinerja pada dasarnya adalah
segala sesuatu yang dilakukan atau yang tidak dilakukan karyawan.
Kinerja karya adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka
memberikan kontribusi kepada organisasi yang antara lain termasuk:
Kuantitas Output, Kualitas, Jangka Waktu, Keseriusan di tempat
kerja, serta Sikap Kooperatif. Di samping itu, Sters7 menyatakan
bahwa prestasi kerja individu pada dasarnya merupakan gabungan
dari faktor penting yaitu (1) kemampuan, perangai dan minat
seorang pekerja; (2) kejelasan dan penerimaan atas kejelasan peranan
seorang pekerja; (3) tingkat motivasi / kemauan kerja.
Dari pendapat di atas terlihat bahwa faktor pertama yang dapat
digunakan untuk mengukur prestasi kerja termasuk bagi seorang
Hakim adalah dilihat dari kemampuan, sikap dan kemauannya
terhadap pekerjaan, berupa menerima, memeriksa dan mengadili
suatu perkara.
Sedangkan menurut Hasibuan8 prestasi kerja merupakan hasil
kerja yang dapat dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas-
tugas yang dibebankan kepadanya, dengan didasarkan pada
kecakapan, pengetahuan dan kesungguhan sera waktu. Kinerja
merupakan terjemah dari istilah Inggris "performance" yang berarti
prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, atau hasil kerja /
unjuk kerja / penampilan kerja. Berbabdin dan Russell dalam
Gomes9 memberi batasan "performance" sebagai" ... the record of
outcomes -produced on a specified function or activity during a specified time
periode" (catatan outcome yang dihasilkan dari fungsi suatu
pekerjaan tertentu atau kegiatan selama periode tertentu).
Jadi, kinerja merupakan hasil atau output dari suatu proses. Jika
output tersebut berasal atau sebagai hasil karya seorang Hakim,
maka hal itu dinamakan Kinerja Hakim.

6 Robert L. Mathis dan John H. Jackson 2006. Human Resources M anagem ent.
Jakarta : Penerbit Salemba Empat, (edisi 10). Him. 378
Sters. 1984. Human R esources an d P ersonel M anagem ent. Jakarta. Graffiti. Him.
147
8 Malayu SP. Hasibuan. 1996. M anajem en Sumber D aya M anusia. Jakarta: CV.
Mas Agung (edisi revisi). Him. 150
Luis R. Gomez. 2004. M anaging Human R esources. Jakarta. PT. Gramedia (Edisi
empat). Him. 135

184
Buchan Zainun10 menyatakan terdapat hal lain yang
mempengaruhi kinerja pegawai yaitu iklim, organisasi, yang terdiri
atas kebijaksanaan dan filsafat manajemen, gaya kepemimpinan, ciri-
ciri struktural dan kondisi sosial dari kelompok kerja.
Dalam Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah11 dikemukakan bahwa kinerja instansi
pemerintah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran
ataupun tujuan instansi pemerintah sebagai penjabaran dari visi, misi
dan strategi instansi pemerintah yang mengindikasikan tingkat
keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai
dengan program dan kebijakan yang ditetapkan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penilaian Kinerja


Penilaian kinerja atau penilaian prestasi kerja tidak dapat
dipisahkan dari keseluruhan proses kegiatan manajemen sumber
daya manusia (MSDM), meliputi penilaian produktivitas12. Menurut
Leap dan Crino13 "performance appraisal is a process of formally
evaluation adjustment can be made". Penilaian kinerja adalah produk
penilaian yang dilakukan oleh organisasi terhadap para pegawai
yang dapat memberikan umpan balik, sehingga organisasi dapat
mengidentifikasi secara tegas perbaikan atau penyesuaian yang
diperlukan dalam rangka perbaikan kinerja pegawai. Penilaian
kinerja (performance appraisal-PA) adalah proses evaluasi seberapa
baik karyawan mengerjakan pekerjaan mereka ketika dibandingkan
dengan satu set standar, dan kemudian mengkomunikasikannya
dengan para karyawan. Penilaian demikian ini juga disebut sebagai
penilaian karyawan, evaluasi karyawan, tinjauan kinerja, evaluasi
kinerja, dan penilaian hasil14. Penilaian kinerja kadang-kadang

10 Buchari Zainun. 1989. M anajem en dan M otiv asi. Jakarta: Balai Aksara. Him.
50.
11 Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2003. P edom an
Penyusunan P elap oran A ku n tan b ilitas K in erja In stan si P em erintah. Jakarta: LAN-
RI.
12 Keith Davis dan W.B. Werther. 1996. H um an R esou rces an d P erson el
M anagem ent. Irwin Me. Graw Hill. (Edisi Kelima). Him. 346.
13 Terry L. Leap dan Michael D. Crino. 1995. P erso n el Hum an R esou rces
M anagem ent. Mac Milan Internasional Edition. Him. 317.
14 Robert L. Mathis dan John H. Jackson. 2006. op. cit. him. 81.

185
merupakan kegiatan manajer yang paling tidak disukai dan mungkin
ada beberapa alasan untuk perasaan demikian. Tidak semua
penilaian kinerja bersifat positif, dan mendiskusikan nilai dengan
karyawan yang nilainya buruk bisa menjadi tidak menyenangkan.
Penilaian kinerja karyawan memiliki dua penggunaan yang
umum di dalam organisasi, dan keduanya bisa merupakan konflik
yang potensial. Salah satu kegunaan adalah mengukur kinerja untuk
tujuan memberikan penghargaan atau dengan kata lain untuk
membuat keputusan administratif mengenai karyawan. Promosi atau
pemecatan karyawan bisa tergantung pada hasil penilaian ini, yang
sering membuat hal ini menjadi sulit untuk dilakukan oleh para
manajer. Kegunaan yang lainnya adalah untuk pengembangan
potensi individu. Pada kegunaan ini, para manajer ditampilkan
dengan peran lebih sebagai seorang konselor dari pada seorang
hakim, dan atmosfirnya sering kali berbeda. Penekanannya adalah
pada mengindikasikan potensi dan perencanaan terhadap arah dan
kesempatan pertumbuhan karyawan.
Secara umum penilaian prestasi kerja dapat diartikan sebagai
suatu evaluasi yang dilakukan secara periodik dan sistematis tentang
prestasi kerja/jabatan (job performance) seorang tenaga kerja,
termasuk potensi pengembangannya.
Untuk mengetahui kinerja karyawan, harus ditetapkan standar
kinerjanya. Sayles dan Strauss mengaakan "in effect, the standard
established a target, and at the end of the target period (week, month, pear)
both manager and boss can compare the expected standard o f performance
with actual level o f achievement"15
Standar kinerja merupakan tolok ukur bagi suatu perbandingan
antara apa yang telah dilakukan dengan apa yang diharapkan/
diterapkan sesuai dengan pekerjaan atau jabatan yang lebih
dipercayakan kepada seseorang. Standar kinerja dapat pula dijadikan
bagi pertanggung-jawaban terhadap apa yang telah dilakukan.
Standar kinerja untuk setiap organisasi atau profesi berbeda-beda
tergantung pada jenis pekerjaan. Standar kinerja merujuk pada
tujuan organisasi yang dijabarkan ke dalam tugas-tugas fungsional.

Sayless dan Strauss. 1997. Manajemen Personalia. Yogyakarta: Gadjahmada


University Press. (Edisi 3). Him. 47.

186
Standar kinerja mendefinisikan tentang pekerjaan yang tergolong
memuaskan.
Penilaian kinerja / prestasi kerja (performance appraisal) adalah
proses melalui organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai
prestasi kerja pegawai. Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan-
keputusan personalia dan memberikan umpan balik kepada pegawai
tentang pelaksanaan kerja mereka.
Standar kinerja merupakan tolok ukur bagi suatu perbandingan
antara apa yang telah dilakukan dengan apa yang diharapkan/
diterapkan sesuai dengan pekerjaan atau jabatan yang lebih
dipercayakan kepada seseorang. Standar kinerja dapat pula dijadikan
bagi pertanggung jawaban terhadap apa yang telah dilakukan.
Standar kinerja untuk setiap organisasi atau profesi berbeda-beda
tergantung pada jenis pekerjaan. Standar kinerja merujuk pada
tujuan organisasi yang dijabarkan ke dalam tugas-tugas fungsional.
Standar kinerja mendefinisikan tentang pekerjaan yang tergolong
memuaskan.
Sebagai pendekatan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
hakim untuk motivasi adalah karir hakim dan fasilitas, sedangkan
untuk pendekatan ability (kemampuan) digunakan varitas perkara.
Pendekatan ini dipergunakan karena di bidang kehakiman terdapat
karakter khusus dalam pengembangan karir individu, sehingga ada
perbedaan dengan instansi lain pada umumnya.
Karir Hakim dikembangkan melalui pelatihan yang
direncanakan secara sistematik dan berkesinambungan yang
dilaksanakan secara tepat dan diselenggarakan dengan baik, serta
hasilnya diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan para Hakim. Dengan demikian, pada gilirannya akan
memotivasi Hakim untuk bekerja lebih giat dan selalu berusaha
meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Namun demikian,
pelatihan ini belumlah cukup untuk menjamin tercapainya tujuan
instansi, karena sikap dan dedikasi Hakim terhadap pelaksanaan
tugas juga merupakan faktor kunci dalam meraih sukses. Oleh
karena itu, pembinaan sikap sudah sewajarnya menjadi sasaran
dalam pengembangan seorang Hakim.

187
Factor Fasilitas. Terdiri dari : (1) pemberian sebagai balas jasa
pelengkap (material dan non material) yang diberikan berdasarkan
kebijaksanaan dan bertujuan untuk mempertahankan dan
memperbaiki kondisi fisik dan mental pegawai, agar produktivitas
kerjanya meningkat; (2) kesejahteraan dapat dipandang sebagai uang
bantuan lebih lanjut kepada pegawai, terutama pembayaran kepada
mereka yang sakit, uang bantuan untuk tabungan pegawai,
pembagian berupa saham, asuransi, perawatan di rumah sakit dan
pensiun.16 Dari penjelasan tersebut, disimpulkan bahwa pemberian
fasilitas atau kesejahteraan sangat penting bagi para Hakim dan
keluarganya, maka pemberian fasilitas itu harus dilaksanakan
dengan program yang menarik. Program fasilitas dirancang untuk :
(1) menarik pegawai yang cakap ke dalam organisasi, (2) motivasi
pegawai mencapai prestasi yang unggul, dan (3) mencapai masa
dinas pegawai yang panjang.17
Fasilitas disebut juga jaminan sosial. Kesejahteraan atau jaminan
sosial untuk Hakim dan keluarganya, yaitu suatu bentuk pemberian
kemudahan / keringanan, baik dalam bentuk materi maupun dalam
bentuk non materi yang diberikan negara baik semasa bertugas
ataupun pada saat berhenti karena pensiun. Fasilitas merupakan
imbalan atau pengganti dan bahkan penghargaan terhadap jasa atau
prestasi yang telah dihasilkan oleh seorang Hakim dalam bekerja
dengan batas kurun waktu tertentu. Tanpa pemberian fasilitas
kesejahteraan yang menarik, maka kinerja dan semangat kerja
seorang Hakim akan menurun baik kualitas maupun kuantitasnya.
Sehubungan dengan peningkatan fasilitas kesejahteraan itu, atas
perjuangan MA terbit Peraturan Presiden RI No. 19 Tahun 2008,
tanggal 10 Maret 2008 mengatur tunjangan khusus kinerja Hakim di
lingkungan MA dan Badan Peradilan yang berada di bawahnya dan
untuk tunjangan khusus kinerja Pegawai Negeri selain Hakim diatur
Keputusan MA No. 070/KMA/SK/V/2008 tanggal 14 Mei 2008.
Faktor varitas perkara yaitu berbagai jenis perkara yang
ditangani oleh seorang Hakim di Pengadilan Tinggi dan Pengadilan
Negeri. Secara nasional telah disusun varitas perkara yang

16 Malayu SP. Hasibuan. 1996. Op.cit. Hlm.39.


17 Robert L. Mathis dan John H. Jackson. 2006. Op.cit. Him. 123.

188
kemungkinan muncul untuk diselesaikan baik oleh Pengadilan
Negeri maupun oleh Pengadilan Tinggi yang akhirnya bermuara di
Mahkamah Agung (MA). Varitas Perkara tersebut diklasifikasikan
menjadi 2 (dua) golongan yaitu perkara perdata dan perkara pidana.
Kedua klasifikasi perkara tersebut telah tercantum dalam daftar urut
perkara yang dimuat dalam blanko laporan, untuk perkara perdata
meliputi 21 jenis gugatan perdata dengan menggunakan lembaran
hijau muda (model IIA), sedangkan untuk blanko laporan perkara
pidana meliputi 41 jenis tindak pidana dengan menggunakan
lembaran merah muda (model IA). Varitas Perkara inilah yang
kemudian menarik minat para hakim dan pejabat fungsional /
struktural lainnya dalam bertugas di suatu tempat. Jika jenis
perkaranya hanya konvensional itu-itu saja, tentu kurang menarik
bila mereka terlalu lama bertugas di tempat tersebut, karena mereka
ingin juga mencari pengalaman menangani perkara jenis lain atau
perkara variatif di tempat lain. Jenis perkara konvensional yang ada
di mana-mana, hampir seluruh Indonesia sama, seperti misalnya
perkara perdata meliputi masalah tanah, hutang piutang, warisan,
perceraian, gadai. Sedangkan untuk perkara pidana misalnya
perkara pencurian, perjudian, penadahan, penipuan dan
penggelapan.
Pada saat Mutasi, mereka mengharap ke kelas yang lebih tinggi
yang variasi perkaranya lebih banyak. Di kota besar atau kota
perdagangan di mana tingkat perekonomiannya lebih sibuk,
biasanya menjadi idaman para hakim dan pejabat fungsional/
struktural. Mereka ingin tahu cara menangani perkara perdata
tentang persetujuan kerja, surat berharga, kepailitan, hak-hak
kekayaan intelektual, pemalsuan surat/uang/merek, kejahatan
jabatan, tindak pidana ekonomi, korupsi, narkotik/psikotropika,
imigrasi, tindak pidana devisa, penyelundupan dan lain-lain yang
kesemuanya ada di Pengadilan Kelas IB, IA, IA khusus.
Peningkatan kinerja Hakim merupakan sebuah harapan untuk
mewujudkan prestasi kerja serta kualitas kerja yang tinggi. Hal ini
merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam rangka
menjadikan Hakim yang handal dan berkualitas dan selalu

189
diupayakan berbagai program untuk mendorong para Hakim agar
"berubah menjadi lebih baik".
Di bawah ini merupakan bagan kerangka pemikiran dalam
penelitian ini : Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui hubungan
karir, fasilitas dan varitas perkara dengan kinerja Hakim dalam
kaitannya dengan kepuasan bagi para pencari keadilan di bawah
naungan Pengadilan Tinggi.

Kerangka Pemikiran : Hubungan Karir Hakim, Fasilitas dan Varitas


Perkara dengan Kinerja Hakim

Variabel Pengaruh Variabel


Terpengaruh

190
HIPOTESIS
Berdasarkan landasan teoritik dan penjelasan di atas, maka
disusunlah hipotesis sebagai berikut :
1. Terdapat hubungan positif antara karir dengan kinerja.
2. Terdapat hubungan positif antara fasilitas yang diterima dengan
kinerja.
3. Terdapat hubungan positif antara varitas perkara dengan kinerja.
4. Terdapat hubungan positif antara karir hakim, fasilitas dan
varitas perkara terhadap kinerja Hakim secara bersama-sama.

TEKNIK ANALISIS DAN UJI HIPOTESIS


Dari populasi responden ternyata jawaban kuesioner tidak
seluruhnya terkumpul sehingga tidak digunakan total sampling
secara absolut tetapi metode mendekati total populasi18 melalui skala
Likert dengan 5 alternatif jawaban, yang mengandung data korelatif
bersifat ordinal yang dikauntifisir sesuai kebutuhan analisis yaitu
regresi korelasi.
Korelasi variabel independen kemudian disandingkan dengan
variabel dependent melalui uji validitas menggunakan Rumus
Korelasi Product Moment Pearson yaitu
Ex y
VF?W 7
Dan untuk uji reliabilitas menggunakan rumus Spearman Brown
yaitu
2Xr\/ 2\/ 2
R.1.1. = -----------------
l + rl/21/2

Dan persamaan regresi yang digunakan yaitu y = bo + b l xl + b2 x2


+ b3 x3 untuk mencari besarnya nilai korelasi baik parsial maupun
secara bersama-sama / simultan yang dapat diterima secara statistik.
Melalui daftar nilai hubungan / korelasi r 19 ternyata untuk :

18 Sutrisno Hadi, 1981 Metodologi Riset, Yogyakarta, Yayasan Penerbit Fakultas


Psikologi Universitas Gajah Mada.
19 J. Supranto 2003, Statistik Ekonomi, Jakarta.

191
Variabel karir terdapat hubungan positif dengan kinerja Hakim
sebesar (+ 0,295), diterima baik karena hasil perhitungan
statistiknya, signifikan pada alpha = 5 persen, sehingga tingkat
penerimaanya 95 persen.
Variabel fasilitas dengan kinerja Hakim menunjukkan ada
hubungan positif sebesar (+ 0,219), secara statistik signifikan
pada alpha = 5 persen.
Variabel varitas perkara dikaitkan dengan kinerja Hakim
memperoleh hubungan positif sebesar (+ 0,425) yang secara
statistik signifikan pada alpha 0,05 dalam hubungan sedang.
Korelasi simultan antara ketiga variabel tersebut dengan kinerja
Hakim menghasilkan hubungan positif signifikan pada alpha =
5 persen, hubungan cukup erat.
Tetapi dalam korelasi simultan tersebut merupakan variabel
varitas perkara saja yang signifikan, karena itu diadakan
eliminasi dengan menggunakan metode stepwise secara
langsung oleh SPSS/PC+13 dan hasilnya variabel karir
tereliminir sehingga variabel fasilitas dan varitas perkara ada
dalam hubungan cukup erat dan signifikan dengan kinerja
Hakim.

KESIMPULAN
1. Sesuai teori dan kerangka pemikiran terdapat hubungan positif
antara karir, fasilitas hakim dan varitas perkara dengan kinerja.
2. Hasil penelitian menunjukkan :
2.1. Terdapat hubungan "positif sedang dan signifikan" antara
karir dan kinerja hakim artinya semakin ada harapan karir
yang lebih baik oleh seorang hakim akan semakin tinggi
pula kinerja hakim tersebut.
2.2. Terdapat hubungan "positif sedang dan signifikan" antara
fasilitas hakim dan kinerja, maksudnya semakin baik dan
cukup fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah untuk
hakim maka akan semakin tinggi pula kinerja hakim
tersebut.

192
2.3. Terdapat hubungan "positif cukup erat dan signifikan" antara
varitas perkara dan kinerja hakim, maksudnya semakin
bervariasi yang ditangani oleh seorang hakim di tempat dia
bertugas, maka akan semakin tinggi pula kinerja hakim
tersebut.
2.4. Terdapat hubungan "positif cukup erat tetapi tidak semua
variabel signifikan" antara karir, fasilitas hakim, varitas
perkara dan kinerja hakim.
2.5. Setelah dilakukan elimanasi variabel dalam perhitungan
statistik, ternyata hanya dua variabel yang berhubungan
"positif cukup erat dan signifikan" dengan kinerja hakim, yaitu
fasilitas hakim dan varitas perkara. Dengan demikian,
dalam penelitian ini hanya terdapat hubungan "positif cukup
erat dan signifikan" secara simultan antara fasilitas hakim dan
varitas perkara dengan kinerja hakim, maksudnya semakin
baik fasilitas yang disediakan untuk hakim dan semakin
bervariasi perkara yang ditangani di tempat dia bertugas
akan semakin tinggi pula kinerja hakim tersebut.

SARAN
Disarankan kepada para ilmuwan yang mendalami manajemen
SDM, agar arah penelitian untuk Manajemen Publik perlu diuji
kembali, khususnya hubungan simultan antara fasilitas hakim dan
varitas perkara dengan kinerja hakim, supaya tiba saatnya nanti
apakah dapat menjadi hipotesa yang benar.

193
P E R A N H A K IM D A L A M P E N E M U A N H U K U M D A N
P E N C IP T A A N H U K U M PA D A
ER A R E FO R M A S I D A N T R A N S F O R M A S I
Oleh:
M. Hatta Ali, SH.MH.*

Pendahuluan
Dalam suatu Negara hukum maka setiap sengketa hukum atau
perkara diadili dan diputus oleh suatu Badan Kekuasaan Kehakiman.
Institusi yang bersifat mandiri, merdeka serta netral yang diberi
otoritas dan kewibawaan untuk secara bebas mempertimbangkan
segala sesuatunya secara adil dan obyektif serta tidak memihak.
Putusannya bersifat mengikat apabila telah berkekuatan hukum
tetap. Dalam Pasal 1 UU No. 4 Tahun 2004 ditentukan bahwa
kekuasaan Kehakiman adalah Kekuasaan Negara yang merdeka
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan Pancasila demi terselenggaranya Negara Hukum RI.
Tugas hakim/badan peradilan sebagai penyelenggara
kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung
dan Badan Peradilan yang berada di bawahnya dan sebuah
Mahkamah Konstitusi. Sesuai Undang-Undang No. 5 Tahun 2004
tentang Perubahan atas Undang-undang No. 14 Tahun 1985 Tentang
Mahkamah Agung, Mahkamah Agung memiliki beberapa fungsi,
yaitu :
1) Fungsi mengadili, yaitu memeriksa dan memutus perkara
permohonan kasasi dan peninjauan kembali;
2) Fungsi menguji peraturan perundang-undangan, yaitu
untuk menilai apakah suatu peraturan perundang-
undangan bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi;
3) Fungsi pengaturan, yaitu untuk mengisi kekosongan
hukum;

*
Hakim Agung Republik Indonesia.

195
4) Fungsi memberi nasehat dan pertimbangan hukum, yaitu
memberikan nasehat hukum kepada Presiden dalam hal
permohonan grasi dan rehabilitasi serta memberi
pertimbangan hukum ke lembaga tinggi negara lain;
5) Fungsi membina dan mengawasi, yaitu membina dan
mengawasi peradilan dan hakim di bawahnya;
6) Fungsi administrasi, yaitu mengelola administrasi,
keuangan dan organisasinya sendiri.

Dalam fungsi mengadili, hakim sering dihadapkan pada suatu


ketentuan yang belum diatur, disebabkan karena terhambatnya
upaya mewujudkan sistem hukum nasional yang mantap. Banyak
peraturan perundang-undangan warisan kolonial maupun yang baru
tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat yang penuh dengan
dinamika perubahan dan semakin kompleks. Produk peraturan
perundang-undangan selalu tertinggal dengan dinamika perubahan
yang terjadi. Di lain pihak hakim/badan peradilan tidak boleh
menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutuskan suatu
perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukumnya
tidak ada atau kurang jelas.
Dalam menjalankan fungsi tersebut, hakim sering dihadapkan
kepada suatu ketentuan yang belum diatur, yang menyebabkan
terhambatnya upaya mewujudkan penegakan hukum. Maksudnya
adalah jika tidak ditemukan hukum tertulis, hakim wajib menggali
hukum tidak tertulis untuk memutus berdasar hukum.

Pokok Masalah
Dasar hukum peran hakim dapat dilihat pada Pasal 28 ayat (1)
Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
menyatakan "Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami
nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat".
"Menggali" berarti hakim harus terjun ketengah-tengah masyarakat
untuk mengenal, merasakan dan mampu menyelami perasaan
hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Sebagai
institusi, Mahkamah Agung tidak boleh berhenti melakukan inovasi
terhadap berbagai ketertinggalan peraturan perundang-undangan

196
yang tidak sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat.
Namun agar hakim dalam melaksanakan perannya sebagai
penegakan hukum harus didukung pula adanya kemauan politik
Negara untuk menegakkan supremasi hukum yang berarti bahwa
hukum bertindak sebagai panglima. Maksudnya adalah supremasi
hukum merupakan pilar negara hukum. Seluruh komponen
masyarakat sampai kepada penguasa tunduk sepenuhnya kepada
hukum. Dengan kata lain, tugas penting dan hakim adalah
menyesuaikan undang-undang dengan perkembangan yang hidup
di dalam masyarakat. Jika tidak dapat dijalankan menurut arti
katanya, hakim wajib menafsirkan sehingga dibuat suatu putusan
yang adil dan sesuai dengan maksud hukum yaitu adanya kepastian
hukum.
Supremasi Hukum di dalam negara hukum mempunyai 3 (tiga)
ciri (menurut Muchsan - dikutip dan Panggabean, Henry, p 2002:12).
Pertama adalah hukum harus berperan sebagai panglima, sehingga
penegakan hukum (law enforcement) dapat diwujudkan tanpa
memandang suku/agama/ras/golongan. Yang kedua hukum harus
sebagai titik tolak kegiatan (center o f action). Yang berarti bahwa
perbuatan hukum oleh penguasa atau individu harus dapat
dikembalikan kepada hukum yang berlaku. Lalu yang terakhir
bahwa perlakuan kepada semua orang adalah sama di muka hukum
(equality before the lazo).
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara Hakim
menggali dan menemukan sesuatu yang dapat menjadi hukum?
Institusi Badan Peradilan yang merupakan instrument dalam upaya
menegakkan hukum dan kebenaran agar tidak terpaku pada
peraturan perundang-undangan yang telah usang. Juga sebagai
Pengadilan pemutus perkara diharapkan mampu melahirkan
putusan-putusan (yurisprudensi) yang inovatif yang sesuai dengan
rasa keadilan masyarakat. Hakim sebagai penegak hukum dan
keadilan wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai
hukum yang hidup dalam masyarakat. Apabila peraturan
perundang-undangan yang belum jelas atau belum mengatur, hakim
harus bertindak berdasar inisiatifnya untuk menyelesaikan perkara.

197
Dalam arti menentukan apa yang merupakan hukum, sekalipun
peraturan perundang-undangan tidak dapat membantunya.
Oleh karena hakim (secara general) merupakan perumus dan
penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat, maka
seharusnya dapat mengenal, merasakan dan mampu menyelami
perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat,
sehingga dapat memberi putusan yang sesuai dengan hukum dan
rasa keadilan masyarakat.

Pembahasan
Bertitik tolak dari pandangan bahwa "Pengadilan tidak boleh
menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutuskan suatu
perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau
kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili"
merupakan antisipasi bahwa tidak ada peraturan perundang-
undangan yang dapat mencakup keseluruhan kehidupan manusia.
Tidak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap dan jelas.
Konflik atau kasus yang harus diselesaikan atau dipecahkan dan
untuk itu perlu dicarikan landasan hukumnya. Hakim selalu
dihadapkan pada peristiwa konkrit. Oleh karena hukumnya tidak
lengkap dan tidak jelas, maka Hakim harus memahami jalan keluar
melalui penemuan hukum (Rechtsvinding).
Jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana
mencari atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkrit. Hasil
penemuan hukum oleh hakim merupakan hukum karena
mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum karena dituangkan
dalam bentuk putusan. Di samping itu, hasil penemuan hukum oleh
hakim merupakan sumber hukum juga (yurisprudensi).
Sistem hukum Indonesia tidak menentukan jenis klasifikasi
yurisprudensi tertentu untuk dijadikan sumber hukum, tetapi dalam
praktek peradilan dikenal adanya klasifikasi yurisprudensi biasa dan
yurisprudensi tetap. Kedua klasifikasi yurisprudensi itu memerlukan
kriteria sendiri agar dengan cara itu dapat ditelusuri sejauh mana
hubungan kedua klasifikasi yurisprudensi itu dalam proses
penegakan hukum.

198
Sudikno Mertokusumo (2001:52) memberikan 2 (dua) kategori,
sebagai yurisprudensi tetap, yaitu :
1. bahwa dalam putusan hakim ditemukan adanya kaidah
hukum yang dapat dianggap sebagai - landmark decision
karena kaidah hukum itu diterima masyarakat luas sebagai
terobosan yang nyata atas suatu konflik hukum yang sudah
lama berlangsung.
2. kaidah hukum atau ketentuan dalam suatu keputusan
kemudian diikuti secara konstan atau tetap oleh para hakim
dalam putusannya dan dapat dianggap menjadi bagian dari
keyakinan hukum yang umum.
Dengan uraian di atas dapat dikatakan bahwa criteria yurisprudensi
tetap adalah telah mentransformasi secara konstan hukum yang
hidup dalam suatu masyarakat dan telah diikuti oleh berbagai
putusan sebelumnya, sehingga yurisprudensi tetap tersebut telah
melakukan penciptaan hukum (rechtsschepping).
Sebagai Hakim, harus menguasai metode yang dapat
dipergunakan, yaitu melalui penerapan hukum penafsiran dan
konstuksi hukum, Penafsiran atau interprestasi adalah usaha
memberi makna suatu atau sejumlah kaidah hukum agar dapat
diterapkan secara wajar dalam memecahkan suatu persoalan hukum.
Mengikuti sistematika J.A. Pontier (dikutip dari Bagir Manan
2004:73), didapat bermacam-macam metode penafsiran-penafsiran
berdasarkan tata bahasa atau ilmu bahasa, penafsiran sistematik,
penafsiran berdasarkan sejarah peraturan perundang-undangan yang
bersangkutan, penafsiran berdasarkan sejarah hukum, penafsiran
teleologis, penafsiran antisipatif dan penafsiran dinamika-evolutif).
Yang kedua adalah konstruksi hukum. Artinya adalah, di dalam
suatu perkara di Pengadilan, sekalipun hakim dapat menafsirkan,
namun tidak ada ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang
dapat diterapkan, juga tidak ada ketentuan dalam hukum kebiasaan
dan hukum adat yang dapat diterapkan, maka keadaan ini mulai
menyangkut pada keadaan kekosongan hukum dalam sistem formil
hukum. Berdasar beberapa ketentuan yang mempunyai persamaan,
hakim membuat suatu pengertian hukum (rechtsbegrip). Dengan kata
lain, menurut pendapat hakim yang bersangkutan bahwa hukum

199
itulah yang menjadi dasar. Konstruksi hukum ini terdiri dari analogi
(hakim memperluas penerapan hukum pada keadaan atau peristiwa
yang tidak secara eksplisit disebut dalam ketentuan yang berlaku),
penghalusan hukum - Rechtsvervijing (suatu kaedah hukum dapat
dirasakan terlalu keras pada saat diterapkan pada keadaan konkrit
tertentu, sehingga memerlukan penghalusan tetap terasa adil, wajar
dan tidak berlebihan), serta Argumentum a contraries (mempersempit
jangkauan berlaku suatu peraturan perundang-undangan).
Hakim bukanlah mulut undang-undang atau mulut hukum
positif pada umumnya. Demikian pula hakim tidak sekedar
menerapkan bunyi suatu perjanjian yang merupakan undang-
undang bagi pihak-pihak yang membuatnya. Hakim adalah mulut
kepatutan, keadilan, kepentingan umum dan ketertiban umum.
Apabila penerapan aturan hukum akan bertentangan, hakim wajib
memilih kepatutan, keadilan, kepentingan umum dan ketertiban
umum.
Asas ini menunjukkan bahwa sebagai hakim tidak boleh semata-
mata mencari dan menemukan kebenaran formal. Termasuk dalam
perkara-perkara keperdataan, hakim harus mencari dan menemukan
kebenaran materiil. Hingga saat ini sebagian masyarakat Indonesia
bukanlah masyarakat formalistik. Masyarakat Indonesia meminjam
pendapat Holleman - (dikutip dan Bagir Manan 2004:64) adalah
"masyarakat konkrit". Segala hubungan dan peristiwa hukum dalam
wujud yang nyata. Seseorang memiliki sebidang tanah, dibuktikan
dengan pohon-pohon yang ditanam oleh orang tuanya dan
seterusnya. Kenyataan yang bersangkutan menempati sebidang
tanah dengan cara-cara yang dibenarkan oleh tradisi yang berlaku di
sekelilingnya, apabila bertahun-tahun akan diakui telah
menimbulkan hubungan hak atas tanah tersebut.
Walaupun demikian apabila hakim dihadapkan pada pilihan
antara ketentuan tertulis dengan hukum tidak tertulis, hakim atau
siapapun juga yang menerapkan hukum, harus mengutamakan atau
mendahulukan ketentuan hukum tertulis. Namun penerapan ini
harus mempertimbangkan hal-hal berikut:
a. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tertulis apabila
diketahui atau secara rasional dipahami bahwa ketentuan

200
hukum tertulis merupakan pembaharuan terhadap hukum
tidak tertulis atau terjadi transformasi ketentuan hukum
tidak tertulis menjadi hukum tertulis,
b. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tidak tertulis
dilakukan apabila ketentuan hukum tidak tertulis
merupakan suatu yang tumbuh kemudian sebagai koreksi
atau penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum tertulis.
Koreksi merupakan kenyataan hukum yang hidup dalam
masyarakat dan dapat terjadi karena hukum tertulis telah
usang atau ada kekosongan tertentu dalam ketentuan
hukum tertulis.

Pada era reformasi mengandung arti perubahan untuk


perbaikan. Jadi reformasi itu timbul secara simultan mencakup aspek
kehidupan bernegara dibidang politik, ekonomi dan hukum.
Program reformasi hukum harus digulirkan secara bersama-sama
oleh seluruh anggota masyarakat. Hakim harus mampu
menghasilkan putusan-putusan yang mengarah kepada
pembaharuan penemuan hukum berupa yurisprudensi. Contoh
kasus adalah pengertian "barang" dalam pidana pencurian termasuk
pencurian listrik. Lalu pengertian "Onrechtmatigedaad" hanya dapat
dipahami setelah mempelajari yurisprudensi (Arrest HR. 1919).
Kemudian makin banyak putusan Mahkamah Agung yang
menerima permohonan kasasi praperadilan, yang berhadapan
dengan ketentuan hukum positif yang menyatakan tidak ada kasasi
untuk praperadilan. Serta ketentuan "Jual beli tidak memutuskan
hubungan sewa-menyewa", yang oleh yurisprudensi diperluas
menjadi asas pengasingan (vervreending) tidak memutuskan sewa-
menyewa, sehingga termasuk hibah, pewarisan, dan lain-lain bentuk
pengasingan. Juga hubungan kelamin di luar nikah laki-laki dewasa
dan perempuan dewasa atas dasar suka sama suka, di mana laki-laki
sipelaku tidak mau bertanggung jawab ketika perempuan tersebut
hamil. Pada situasi ini, Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP) tidak mengatur, tetapi berdasar hukum adat merupakan
perbuatan yang tidak patut untuk dilakukan dan harus diberi sanksi.

201
Menurut Gustav Radbruch (dikutip dan Bambang Sutiyoso 2006
: 6) idealnya putusan harus memuat idee des recht, yang melipuli 3
(tiga) unsur yaitu: keadilan (gerechtigkeit), kepastian hukum
(rechtsicherheit) dan kemanfaatan (zwechmassigkeit). Ketiga unsur ini
harus dipertimbangkan Hakim dan diterapkan secara proporsional,
sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan putusan yang berkualitas
dan memenuhi harapan para pencari keadilan. Dalam implemen­
tasinya terkadang tidak mudah untuk mensinergikan ketiga unsur
tersebut, terutama antara unsur keadilan dengan kepastian hukum
yang bisa saja saling bertentangan. Kasus yang relevan untuk
menggambarkan adanya kemungkinan benturan antara aspek
keadilan dan kepastian hukum, yaitu dalam kasus "Kedung Ombo"
di Jawa Tengah dan kasus sengketa Pemilihan Kepala Daerah
(Pilkada) Depok.
Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Kedung Ombo pada
pokoknya melebihi daripada ganti rugi yang dimohon para
Penggugat, padahal Pasal 178 ayat (3) HIR berbunyi : Hakim wajib
mengadili seluruh bagian gugatan, tetapi hakim dilarang
menjatuhkan putusan atas hal-hal yang tidak dituntut atau
mengabulkan putusan lebih dari pada yang dituntut". Putusan
Mahkamah Agung tersebut pada tingkat peninjauan kembali telah
dikoreksi/diperbaiki. Sedangkan dalam kasasi Pilkada Depok
apabila menoleh pada Pasal 106 ayat (7) Undang-Undang No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah
No. 6 Tahun 2004, ditafsirkan putusan Pengadilan Tinggi bersifat
final dan mengikat, sehingga mestinya tidak ada upaya hukum lagi
yang dapat digunakan, tetapi ketika KPUD Depok mengajukan
permohonan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung
terhadap putusan Pengadilan Tinggi Bandung tersebut pada
akhirnya Mahkamah Agung dalam putusannya mengabulkan
permohonan Peninjauan Kembali dan KPUD Depok dan
membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung.
Paparan kedua kasus di atas, sangat relevan menggambarkan
adanya benturan-benturan antara aspek kepastian hukum dengan
keadilan. Mahkamah Agung sendiri dalam instruksinya Nomor :
KMA/015/inst/VI/1998 tanggal 1 Juni 1998 menginstruksikan agar
para hakim memantapkan profesionalisme dalam mewujudkan

202
peradilan yang berkualitas, dengan menghasilkan putusan hakim
yang eksekutable berisikan ethos (integritas), pathos (pertimbangan
yuridis yang utama), filosofis (berintikan rasa keadilan dan kebenaran),
sosiologis (sesuai dengan tata nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat),
serta logos (dapat diterima akal sehat, demi terciptanya kemandirian
para penyelenggara Kekuasaan Kehakiman.
Dalam setiap penemuan hukum seyogyanya putusan-putusan
badan peradilan disosialisasikan dengan memberi kesempatan
kepada publik untuk putusan-putusan tersebut. Dengan akses ini
mendorong para hakim membuat putusan yang berkualitas dan
diterima oleh masyarakat sebagai hukum yang hidup dalam
masyarakat. Selain itu fungsi Pengaturan Mahkamh Agung
diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila
terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang
atau terdapat kekurangan, atau kekosongan hukum dengan
menerbitkan Surat Edaran atau Peraturan Mahkamah Agung,
terutama dalam hukum acara sebagai pelengkap untuk mengisi
kekurangan dan kekosongan tadi. Bentuk pengaturan itu dikenal
dalam 2 (dua) bentuk produk yaitu :
1. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) yaitu satu bentuk
edaran dari pimpinan Mahkamah Agung, ke seluruh jajaran
peradilan yang isinya merupakan bimbingan dalam
penyelenggaraan peradilan yang lebih bersifat administrasi.
2. Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) yaitu suatu bentuk
peraturan dari Mahkamah Agung ke seluruh jajaran
peradilan tertentu yang isinya merupakan ketentuan
bersifat hukum beracara.

Fungsi pengaturan ini (ternyata sangat efektif memperlancar


jalannya peradilan. Sebelum ada ketentuan KUHAP dan Undang-
undang, PERMA No. 1 Tahun 1977 (tentang permohonan kasasi)
telah menjadi sarana hukum yang menentukan masuknya perkara
peradilan agama dan militer ke tingkat perkara kasasi oleh
Mahkamah Agung. PERMA No. 1 Tahun 1980 telah digunakan
menampung perkara kembali karena pada saat itu belum ada
peraturan pelaksanaan Pasal 21 UU No. 14 Tahun 1970 tentang

203
Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman, PERMA No. 1
Tahun 2000 tentang Paksa Badan dapat dijadikan contoh tentang
efektifitas Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung mendukung
penegakan hukum khususnya untuk mengatasi kebutuhan hukum
acara yang saat ini sangat diperlukan menghadapi perilaku para
debitur nakal yang sengaja menghindar dari kewajiban melunasi
hutang-hutangny a.
Yang tidak kalah pentingnya suatu hal yang perlu diperhatikan
fungsi pembentukan hukum itu sendiri harus memperhatikan
kesadaran hukum masyarakat dan tidak tertutup kemungkinan
bahwa hukum menciptakan pola-pola baru di dalam masyarakat,
sehingga pada akhirnya menciptakan kesadaran hukum baru sesuai
dengan kondisi yang dibutuhkan.

KESIMPULAN
1. Perekrutan Hakim harus memiliki kemampuan dibidang
hukum, pengalaman yang memadai, memiliki integritas, moral
dan karakter yang baik.
2. Meningkatkan kualitas hakim dalam melakukan penemuan
hukum baru melalui putusan-putusan pengadilan (yurispru­
densi) yang digunakan sebagai dasar pertimbangan hukum,
yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum di
lingkungan peradilan.
3. Bahwa setiap putusan pengadilan harus mengandung unsur
kemanfaatan bahwa isi putusan ini tidak hanya bermanfaat bagi
pihak berperkara tapi juga bagi masyarakat luas, masyarakat
berkepentingan atas keputusan hakim itu karena masyarakat
menginginkan adanya keseimbangan tatanan dalam masyarakat.
4. Dalam melakukan penemuan hukum hakim menggunakan
metode penafsiran dan konstruksi nukum.
5. Pada dasarnya Hakim yang baik bukan sekedar menguasai
hukum positif melainkan menguasai pula dengan baik berbagai
teori dan doktrin hukum.
6. Hakim harus mengisi kekosongan hukum atau hukumnya tidak
jelas dengan melakukan penemuan hukum (Rechtsvinding) yang

204
pada gilirannya akan menjadi yurisprudensi tetap menuju
penciptaan hukum (Rechtsschepping).
7. Meningkatkan mekanisme pertanggungjawaban lembaga
pengadilan kepada publik dengan kemudahan akses masyarakat
untuk memperoleh putusan pengadilan dan publikasi terhadap
setiap pengambilan putusan.
8. Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung berupa Surat Edaran dan
Peraturan Mahkamah Agung masih diperlukan guna mengisi
kekosongan hukum hukum acara.

205
DAFTAR PUSTAKA

Van Apeldoorn, L.J 1957, Pengantar Ilmu Hukum, cetakan kedua,


Noordhoff - Kolff N.V.
Mertokusumo, Sudikno dan Pitlo. A; 1993, Bab-Bab Tentang Penemuan
Hukum, cetakan kesatu, PT. Citra Aditya Bakti
Mertokusumo, Sudikno-; 2001, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar,
edisi kedua cetakan kedua, Liberty Yogyakarta
Panggabean, Henry P 2002, Fungsi Mahkamah Agung Dalam Praktik
Seharihan, cetakan kedua, Pustaka Sinar Harapan
Komisi Hukum Nasional -; 2002, Transisi Di bawah Bayang-Bayang
Negara
Manan, Bagir 2004, Hukum Positif Indonesia, cetakan pertama, FH
UII Press
Salman, Otje dan Susantho, Anton; 2004, Beberapa aspek Sosiologi
Hukum, edisi pertama, PT Alumni
Panggabean, Henry P -; 2005. Fungsi Mahkamah Agung Bersifat
Pengaturan (Ride Making Power) Tahun 1966-2003, edisi pertama
cetakan pertama, Liberty Yogyakarta
Sutiyoso, Bambang -; 2006, Metode Penemuan Hukum, cetakan
pertama, UII Press Yogyakarta

Ketentuan Peraturan Perundang-undangan


Undang-Undang Dasar 1945 dan Perubahannya
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Undang-Undang No. 1 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana Undang-Undang No. 4 Tahun 2004
tentang Kekuasaan Kehakiman
Undang-Undang No. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan terhadap
Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung
Undang-Undang No. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum
Undang-Undang No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.

206
M A N A JE M E N K R IT IK
Oleh:
Mukhtar Zamzami*

Given the conditions in which


we pursue our justice reform,
apart from our own need for
objectivity, we also need
informations or views from
elsewhere (Bagir Manan).

Untaian kalimat diatas ditorehkan oleh Ketua Mahkamah


Agung Bagir Manan pada halaman introduksi buku Sebastiaan
Pompe, The Indonesian Supreme Court, A Study o f Institutional Collapse,
yang berasal dari disertasi Pompe. Selain memaparkan banyak hasil
penelitian, buku ini juga menulis tentang pandangan minor dari
masyarakat terhadap dunia peradilan di Indonesia, khususnya
terhadap hakim. Dalam bahasa Indonesia, untaian kalimat diatas
berbunyi : "Dalam suasana menjalankan pembaharuan peradilan, selain
dibutuhkan sikap obyektif dari diri kita sendiri, dibutuhkan juga berbagai
informasi dan pandangan"*1
Ungkapan ini merupakan sinyal yang kuat bahwa Ketua
Mahkamah Agung Bagir Manan bukanlah seorang tokoh ahli
hukum, guru besar, pimpinan Mahkamah Agung atau pribadi yang
anti kritik. Sesuai dengan makna aslinya kata views atau pandangan
mengandung banyak arti. Ia bisa berarti persepsi yang netral, sebuah
ide, opini, atau cara memandang sesuatu (a way of considering
something) dengan cara penyampaian yang beragam, bisa dalam
bentuk pujian terhadap suatu kebenaran dan bisa pula dalam bentuk
kritik bila terjadi fault finding atau didapatinya kesalahan.
Tetapi suatu ketika Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan
mengaku terperangah karena diantara para pengeritik ada yang

* Hakim Agung Republik Indonesia.


1 Sebastiaan Pompe, The Indonesian Supreme Court, A Study o f Institutional
Collapse, Cornell Southeast Asia Program, New York, 2005, hal. vii.

207
mengatakan bahwa analisis mereka tidak perlu lagi dikaji apalagi
diragukan, karena berangkat dari hasil penelitian. Bagaimana
mungkin sebuah penelitian tidak boleh lagi diuji dengan penelitian
lain, padahal pengujian terhadap sebuah penelitian merupakan suatu
keharusan dalam dunia ilmu pengetahuan ? Ketua Mahkamah
Agung Bagir Manan juga tidak habis mengerti mengapa sorotan dan
kritik itu harus menggunakan bahasa-bahasa yang sangat sarkastik
sehingga timbullah kata-kata seperti "hakim pencoleng" atau "hakim
maling".2
Pada faktanya, banyak pembaruan-pembaruan yang dilakukan
pada masa kepemimpinan Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan.
Walaupun berkali-kali ditekankan tidak seluruhnya sorotan dan
kritik itu benar, tetapi tetap tampak adanya konteks antara sorotan
dan kritik dengan bidang-bidang pembaruan yang dilakukan. Bila
tidak keliru, inilah suatu bentuk manajemen kritik yang perlu
dipertimbangkan.

Psikologi Kritik
Dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat bermacam sikap dan
perlakuan terhadap kritik. Dari segi penerima, ada yang dapat
menerima kritik dengan simpatik, bersikap tenang dan lapang dada
walaupun belum tentu ia berniat memanfaatkan kritik tersebut. Ia
tidak terburu-buru untuk menolak. Bila pada akhirnya ia
menemukan kebenaran kritik itu, barulah ia membenahi diri. Tetapi
bila kritik itu tidak benar, dalam kesempatan lain ia menjelaskan
kelemahan-kelemahan kritik tersebut.
Ada pula orang yang selalu menolak kritik secara langsung
tanpa berfikir bahwa esensi kritik itu mungkin sekali suatu
kebenaran. Karena selalu langsung dan reaktif, orang seperti ini
cenderung bersikap apologis, selalu mencari pembenaran untuk
dirinya walaupun kadang-kadang terdengar lucu dan tidak logis.
Dari segi pemberi kritik, bermacam pula modelnya. Ada yang
memilih cara dan ungkapan yang halus, sehingga yang dikritik tidak
merasa tersinggung atau digurui. Ketika Umar bin Khattab

2 Bagir Manan, Menjadi Hakim Yang Baik, Mahkamah Agung RI, Jakarta, 2007,
hal. 1

208
menerima laporan dari seorang penduduk bahwa tanahnya digusur
oleh seorang gubernur tanpa ganti rugi yang adil, Umar menyuruh
sang pengadu untuk menyampaikan sepotong tulang yang diberi
tanda hurup alif kepada gubernur dimaksud. Spontan sang gubenur
menangis, menyadari bahwa kelak ia akan kembali dan yang tinggal
hanyalah tulang belulang.
Ada pula yang menyampaikan kritik secara langsung dan kasar,
bahkan disertai dengan umpatan dan cacian. Tetapi lebih celaka lagi
kalau yang menyampaikan kritik itu kurang atau bahkan tidak
menguasai persoalan yang ia kritik. Sayang yang terakhir ini justru
banyak ditempuh oleh media massa. Ketika kasus sengketa
Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Selatan menyeruak, tidak
sedikit media massa yang menyiarkan komentar miring dari
beberapa tokoh bahwa munculnya putusan Mahkamah Agung yang
memicu kekisruhan dan gejolak masyarakat itu adalah akibat
adanya Hakim Agung dalam majelis yang mengadili perkara
tersebut berasal dari lingkungan peradilan yang tidak berkompeten
mengadili perkara selain perkara perdata keluarga, dus dianggap
tidak mengerti sama sekali dengan hukum dan aturan yang berkaitan
dengan Pilgub.3
Padahal majelis hakim yang mengadili perkara tersebut
berjumlah lima orang. Pendapat seorang hakim agung yang berasal
dari lingkungan peradilan manapun tidak ada artinya sama sekali
bila sedikitnya tiga diantara mereka tidak menyetujui. Tampak jelas
kritik yang menyatakan munculnya putusan yang kontroversial itu
akibat dari adanya Hakim Agung yang berasal dari lingkungan
peradilan yang tidak berkompeten menunjukkan pemberi kritik

3 Salah satu diantara media massa yang paling getol mengangkat hal ini adalah
Media Indonesia. Dalam Editorial harian ini tanggal 31 Desember 2007 Media
Indonesia memberi komentar : "Kalau keputusan Mahkamah Agung yang membuat
hukum semrawut, apa yang harus dilakukan ? Salah satu jawabnya agaknya harus dicari
pada kompetensi hakim agung yang dikaitkan dengan semacam code o f conduct. Hakim
agung sebaiknya tahu diri, tidak duduk sebagai majelis hakim dalam perkara yang diluar
kompetensinya". Walaupun editorial ini tidak eksplisit menyebut bahwa hakim agung
yang tidak punya kompetensi tersebut adalah yang berasal dari lingkungan
peradilan tertentu, tetapi pada siaran Metro TV tanggal 31 Desember 2007 itu diskusi
dengan penelpon dengan jelas mengarah kepada hal tersebut.

209
adalah orang yang tidak menguasai sama sekali mekanisme
pengambilan putusan di Mahkamah Agung.
Dikalangan para pengamat hukum juga ada yang termasuk
pemberi kritik yang inkonsisten. Disuatu saat mereka bersikeras
bahwa hukuman mati tidak patut lagi dipertahankan, karena selain
melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) juga tidak ada bukti bahwa
hukuman yang berat akan mengakibatkan turunnya angka kejahatan.
Tetapi ketika berhadapan dengan kejahatan korupsi, mereka
bersikeras agar para koruptor dihukum seberat-beratnya karena
hukuman yang ringan tidak mendatangkan efek jera.
Psikologi kritik yang benar dapat disarikan dari Al Qur'an.
Menurut surah An Nahl ayat 125, ada tiga tahapan dalam
menyampaikan suatu kebenaran. Pertama dengan cara yang halus,
tidak langsung (indirect), familiar, simbolis dan sopan yang oleh Al
Qur'an disebut dengan penyampaian mealui al Hikmah. Bila tidak
berhasil, cara kedua disampaikan dalam bentuk nasihat, pemberi­
tahuan langsung tetapi tetap dengan cara yang baik dan sopan. Cara
ini disebut dengan Mau'izhah al- Hasanah. Bila ini juga tidak berhasil,
cara ketiga ialah mengundang pihak yang akan dikritik untuk
berbicara dalam suatu diskusi, seminar atau debat umum. Cara ini
dinamakan dengan Mujadalah. Al Qasimi dalam tafsir Mahasin at-
Ta'wil menjelaskan, kendati bentuknya perdebatan yang penuh
dengan kritik dan argumen, akan tetapi tetap dengan menggunakan
bahasa yang baik (husnu al-khitab), ramah (ar-rifq) dan lemah lembut
(al-layyin).4

Hakim dan Peradilan Dalam Kritik


Kritik dan sorotan terhadap hakim dan peradilan di Indonesia
terdapat dalam banyak literatur. Jumlahnya ada belasan atau
mungkin juga sudah puluhan. Tidak terhitung pula dalam bentuk
artikel yang dimuat dalam media massa. Diantara literatur yang
memuat kritik itu ada yang berasal dari disertasi, tesis, skripsi,

4 Muhammad Jamaludin al-Qasimi, Mahasin at-Ta'wil, Juz X, Dar al-Ihya' al-


Arabi, Damascus, 1959, hal. 3877

210
laporan penelitian, makalah seminar, atau karya ilmiah lainnya yang
memang ditulis untuk itu.
Diantara literatur-literatur tersebut adalah : The Indonesian-
Supreme Court, A Study of Institutional Collapse (Sebastiaan Pompe),
Combating Corruption in Indonesia (The World Bank), Sisi Sisi Lain Dari
Hukum di Indonesia (Satjipto Rahardjo), Keterpurukan Hukum di
Indonesia (Achmad Ali), Teorisasi Hukum, Studi Tentang
Perkembangan Hukum di Indonesia 1945-1990 (Khudzaifah
Dimyati), Menggagas Hukum Progresif Indonesia (Ahmad Gunawan
& Mu'ammar Ramadhan), Membedah Hukum Progresif (Satjipto
Rahardjo), Kebohongan Hukum & Kemunafikan Manusia (Prija
Djatmika), Mencari Keadilan, Pandangan Kritis Terhadap Penegakan
Hukum di Indonesia (Jeremias Lemek), Membuka Ketertutupan
Pengadilan (Rifqi S. Assegaf & Josi Khatarina), Krisis Lembaga
Peradilan di Indonesia (Adi Sulistiyono), Wajah Peradilan Kita
(Anthon F. Susanto), Mengapa Saya Mencintai Negeri Ini ? (Todung
Mulya Lubis), Diagnostic Assessment o f Legal Development in Indonesia
(The World Bank), dan Reformasi Hukum, Hak Asasi Manusia &
Penegakan Hukum (Romli Atmasasmita).
Anatomi kritik yang dilontarkan oleh literatur-literatur diatas
dapat diringkas menjadi dua bagian :

1. Kritik Terhadap Sistem


Ruang lingkup sistem disini mencakup sistem peradilan, sistem
hukum, sistem pendidikan hukum, sistem rekrutmen dan pembinaan
hakim. Sistem pendidikan hukum, sistem rekrutmen dan pembinaan
hakim dianggap bertanggung jawab terhadap kondisi kualitas
hakim.
Kritik dan sorotan terhadap sistem peradilan, sistem rekrutmen
dan sistem pembinaan hakim mungkin saat ini sudah kurang
relevansinya mengingat sejak zaman kepemimpinan Ketua
Mahkamah Agung Bagir Manan sudah banyak sekali dibenahi.
Tetapi untuk efektivitas pembenahan itu mengingat-ingat kritik masa
lalu ada banyak gunanya, karena kritik itu sedikit banyak ada yang
menggambarkan kondisi sebelum pembenahan terjadi.

211
Dimasa akhir era Orde Baru, yaitu pada tahun 1996 Bappenas
RI bekerja sama dengan Bank Dunia menyelenggarakan suatu proyek
penelitian yang disebut Diagnostic Assessment of Legal Development in
Indonesia. Obyek penelitiannya adalah Sumber Daya Manusia
Hukum, Lembaga Hukum, dan Sistem Peradilan. Khusus dalam
sistem peradilan penelitian ini menemukan dua macam "penyakit"
dan "penyakit" ini membuat sebagian besar masyarakat
berpandangan sangat buruk terhadap kinerja sistem peradilan. Dua
macam "penyakit" tersebut ialah :
a. Ketidakbebasan kekuasaan kehakiman di dalam sistem
peradilan Indonesia.
Penyakit ini dikaitkan dengan kedudukan aparat
kehakiman sebagai "pegawai negeri", dan ditempatkan
dibawah pembinaan pemerintah (Departemen Kehakiman,
Departemen Agama, dan Departemen Pertahanan dan
Keamanan). Sekalipun konstitusi menjamin adanya sebuah
sistem kehakiman yang bebas, penerimaan tenaga hakim
dan pegawai pengadilan, serta penentuan promosinya
diawasi secara ketat oleh departemen yang bersangkutan.
Peranan pemerintah yang dominan ini memungkinkan
munculnya pengaruh kurang sehat yang menghambat
peradilan, khususnya dalam pekara kontroversial.
b. Sistem pelayanan peradilan yang tidak efisien.
Sistem pelayanan ini akibat perkara-perkara ditangani
dengan berbelit-belit, tidak efisien dan menjadi mahal
ongkosnya. Padahal rasa hormat masyarakat terhadap
sistem peradilan sangat tergantung pada sistem pelayanan
peradilan. Sistem pelayanan yang buruk ini diperparah
dengan prosedur penetapan putusan pengadilan yang tidak
transparan. Kondisi ini membuat munculnya tuduhan
bahwa peradilan telah dipolitisasi dan korup.5

5 Ali Budiardjo dkk, Diagnostic Assessment o f Legal Development in Indonesia, alih


bahasa, Niar Reksodiputro dan Imam Pambagyo, Reformasi Hukum di Indonesia,
Cyberconsult, Jakarta, 1999, hal. 107. Sistem pelayanan yang tidak efisien ini
diperparah lagi oleh budaya ketertutupan. Menurut Rifqi S. Assegaf budaya
ketertutupan dilembaga yudikatif sangat kuat. Hanya ada dua kunci yang paling
mujarrab untuk membuka pintu-pintu yang selalu hampir tertutup itu : hubungan

212
Sistem hukum juga banyak dianggap mempengaruhi kurangnya
penghormatan masyarakat terhadap lembaga peradilan. Tidak dapat
dipungkiri bahwa di Indonesia sejak zaman kolonial dan bahkan
sampai saat ini pemahaman hukum bercirikan legalisme- positivistik
masih dominan. Bahwa ini pengaruh kolonisasi memang benar
adanya, tetapi mengapa sampai saat ini setelah dunia luar makin
maju dalam pemahaman hukum sementara di Indonesia dominasi
pemahaman positivisme masih belum bergeser ? Ini dipertanyakan
oleh Khudzaifah Dimyati.6
Satjipto Rahardjo adalah orang yang relatif getol melakukan
kritik terhadap sistem hukum legalisme-positivistik dan ketika para
hakim berpegang teguh pada pemahaman ini, sesungguhnya mereka
telah mendorong hukum kejalur lambat. Sistem hukum ini juga
bertanggung jawab terhadap lahirnya putusan-putusan pengadilan
yang tidak sejalan dengan rasa keadilan yang hidup dalam
masyarakat. Ini dapat dibaca dalam buku-buku beliau, antara lain
dalam Sisi Sila lain Dari Hukum di Indonesia, Membedah Hukum
Progresif, dan tulisan-tulisan beliau lainnya yang banyak terdapat
dalam buku-buku yang menghimpun artikel-artikel hukum.
"Memang semangat liberal dan legalisme-positivistik yang sangat kuat
di abad ke 19 itu memberikan landasan teori bagi muncidnya
pengadilan yang terisolasi dari dinamika masyarakat dimana
pengadilan itu berada. Isolasi tersebut juga mengundang kearah
kediktatoran pengadilan (jiulicial dictatorship), oleh karena ia memutus
semata-mata dengan mengingat apa yang menurut tafsirannya
dikehendaki oleh hukum tanpa harus melibatkan ke dalam atau
mendengarkan dinamika masyarakat tersebut. Itidah sebabnya secara
sosiologis pengadilan menjadi terisolasi dari keseluruhan dinamika

pertemanan dan uang pelidn ! Rifqi S. Assegaf & Josi Khatarina, Membuka
Ketertutupan Pengadilan, Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi
Peradilan, Jakarta, 2005, hal. 21
6 Khudzaifah Dimyati, Teorisasi Hukum, Muhammadiyah University Press,
Surakarta, 2004, hal. 64. Khudzaifah berpendapat bahwa pemositifan hukum dalam
perundang-undangan menjadikan hukum itu terbatas dan sering tertinggal oleh
dinamika masyarakat.

213
masyarakatnya dan menjadi benda asing dalam tubuh masyarakat
itu".1

Selain Satjipto, Achmad Ali juga demikian. Dalam bukunya


Keterpurukan Hukum Achmad Ali menegaskan :
"Secara universal, jika kita ingin keluar dari situasi keterpurukan
hukum, maka jawabannya adalah membebaskan diri dari belenggu
positivism. Mengapa demikian ? Karena dengan hanya mengandalkan
teori dan pemahaman hukum secara legalistik-positivistis yang hanya
berbasis pada peraturan tertulis (ride bound) belaka, maka kita takkan
pernah mampu untuk menangkap hakikat kebenaran, karena baik dari
historis maupun filosofi yang melahirkannya, ia memang tidak mau
melihat atau mengakui hal itu"}

Mengapa hakim dan para penegak hukum lainnya selalu


berkutat dalam pusaran pengaruh legalisme-positivistik ini ? Satjipto
Rahardjo dan Achmad Ali menunjuk sistem pendidikan hukum yang
menjadi biangnya. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar
di Universitas Diponegoro Semarang Satjipto menegaskan bahwa
sistem pendidikan hukum di perguruan tinggi ditanah air masih
berorientasi kepada penyediaan 'tukang-tukang hukum", sehingga
hasilnya adalah sarjana-sarjana hukum berketrampilan craftsmanship,
bukan untuk menciptakan ilmuwan-ilmuwan hukum.789
Pendapat Satjipto ini mendapat sanggahan dari Sri Redjeki
Hartono dan Barda Nawawi Arief. Kedua guru besar ini berpendapat
fungsi pendidikan hukum strata satu (SI) memang untuk
menyediakan kebutuhan praktis. Sedang untuk menciptakan
ilmuwan-ilmuwan hukum tersedia strata yang lebih tinggi, yaitu S2
dan S3.
Tetapi adakah garansi mutlak bahwa pendidikan S2 dan S3 itu
akan menciptakan ilmuwan-ilmuwan hukum? Achmad Ali meragu­

7 Satjipto Rahardjo, Sisi Sisi Lain Dari Hukum di Indonesia, Kompas Media
Nusantara, Jakarta, 2003, hal. 229
8 Achmad Ali, Keterpurukan Hukum di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta,
2002, hal. 48.
9 Khudzaifah Dimyati, op cit, hal. 211

214
kannya karena masih ada dosen-dosen pada program strata-strata
tersebut yang mengajarkan materi normatif. Secara berkelakar
Achmad Ali menamakan S2 dengan pengajaran materi normatif
tersebut sebagai SI semester sembilan.101
Dari diskursus keempat guru besar ini orang akan menganggap
wajar bila tidak sedikit diantara penegak hukum pada akhirnya
masih terperangkap dalam pusaran pemahaman hukum positivisme.
Latar belakang pendidikan ini juga mempengaruhi aspek kualitas
para penegak hukum termasuk hakim. Karena itu dalam kesempatan
lain, Satjipto Rahardjo menyamakan tugas-tugas mencocokkan
peristiwa dengan pasal-pasal yang ada dalam peraturan perundang-
undangan seperti yang dilakukan oleh penganut-penganut
legalisme-positivistik sebagai pekerjaan tukang sekrup.

2. Kritik Terhadap Integritas


Berbeda dengan kritik terhadap sistem, kritik terhadap integritas
obyeknya adalah individu. Dalam kaitannya dengan lembaga
peradilan, individu-individu yang menjadi sasaran adalah seluruh
aparatur peradilan tetapi yang paling menonjol ialah kelompok
profesi hakim. Karena bercorak individual, orang lebih cepat
terpancing dan bereaksi. Karena itu butuh jiwa besar untuk
mencermati dan menanggapinya.
Diantara tokoh yang jauh-jauh hari sudah menaruh perhatian
terhadap integritas hakim ialah Muhammad Roem, tokoh nasional
yang banyak berperan diawal masa kemerdekaan. Dalam catatan
Sebastiaan Pompe, pada tahun 1960 Muhammad Roem sudah
mengingatkan gejala penurunan integritas in i:
"Corruption in the courts has begun. It is only a little so far, one or two
judges. But it has begun and that is what is important. This beginning
may well develop into something and more loidespread" .IX
(Korupsi di pengadilan telah dimidai. Sebegitu jauh hanya sebagian
kecil, sepanjang menyangkut satu atau dua orang hakim. Tetapi ini

10Achmad Ali, op rit, hal. 35


11 Sebastiaan Pompe, op rit, hal. 413

215
telah dimulai, dan ini hal penting. Permulaan ini dapat berkembang
pesat menjadi sesuatu yang lebih tersebar luas).

Apa yang dicemaskan oleh Muhammad Roem tampak dirasakan


pada akhirnya oleh Suardi Tasrif. Advokat ulung ini akhirnya
memutuskan untuk mengundurkan diri dari profesi advokat. Salah
satu alasannya adalah tidak tahan lagi dengan iklim dunia peradilan
yang banyak praktek silumannya.12
Seorang advokat lainnya, Jeremias Lemek, mengaku mulai
tahun 1985 sampai dengan saat ini relatif sulit untuk melihat sosok
hakim, jaksa, atau pengacara yang jujur. Kalaupun ada, jumlahnya
relatif sedikit.13 Rupanya bagi para advokat dugaan adanya kolusi
dan korupsi di lingkungan peradilan bukan lagi hal yang aneh. Eman
Suparman menulis pengakuan kalangan advokat tentang hal
tersebut.14
Pengakuan para advokat memang layak didengar, karena selain
tuntutan profesi akan mempertemukan mereka kepada komunitas
seperti itu, juga tidak sedikit diantara mereka bahkan menjadi aktor
pemain utama. Hasil penelitian The World Bank menunjukkan :
"Many lawyers feel no shame at offering sums of money to judges and
attorneys in specific cases. At the same time, there is no sense of shame
for judges, attorneys, police, and registrars to solicit money from
lawyers “.
(Banyak para advokat yang tidak merasa malu lagi menawarkan
sejumlah uang kepada hakim dan jaksa dalam perkara-perkara tertentu.
Pada waktu yang sama, tidak ada perasaan malu bagi hakim, jaksa,
polisi, dan panitera untuk meminta uang dari para advokat).15

12 Prija Djatmika, Kebohongan Hukum & Kemunafikan Manusia, Bayumedia


Publishing, Malang, 2004, hal. 28
13 Jeremias Lemek, Mencari Keadilan, Pandangan Kritis Terhadap Penegakan Hukum
di Indonesia, Galang Press, Yogyakarta, 2007, hal. 120
14 Eman Suparman, Asal Usul Serta Landasan Pengembangan Ilmu hukum
Indonesia, dalam : Ahmad Gunawan dkk, Menggagas Hukum Progresif Indonesia,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006, hal. 100
15 The World Bank, Combating Corruption in Indonesia, Enhancing Accountability for
Development, The World Bank Office Jakarta, 2004, hal. 149

216
Sejalan dengan penelitian ini, Pompe mencatat pengakuan
seorang Hakim Agung dihadapan media massa pada tahun 1990 :
"Yes, I often get gifts from ligitants. If you call that corrupt, well
indeed, then I must be corrupt. If I washn't, how do you think I coidd
have a car and a home ? "
(Ya, saya sering mendapatkan hadiah dari para pihak. Apabila hal itu
engkau sebut korupsi, benar saya harus jadi korup. Bila tidak,
bagaimana engkau mengira aku dapat mempunyai mobil dan
rumah?).1617

Yang dirisaukan masyarakat bukanlah sesederhana persoalan


memberi dan menerima. Inti persoalannya ialah adanya negosiasi isi
putusan dalam pemberian dan penerimaan itu. Ini dicatat dalam
penelitian The Word Bank :
"A postponed verdict is usually an invitation to begin negotiations
with the judge"
"Even if a defendant has a strong case and good witness, there is no
guarantee that justice will be done without paying"
(Sebuah penundaan putusan biasanya adalah sebuah undangan untuk
memidai negosiasi dengan hakim)
(Bahkan jika seorang terdakwa berada pada posisi yang kuat dan
mempunyai saksi-saksi yang baik, tidak ada garansi bahwa keadilan
akan terwujud tanpa pembayaran uang).1.

Mengapa hal yang memprihatinkan ini terjadi ? Dalam


penelitian The World Bank yang lain, dilaporkan tentang adanya
sebagian hakim yang menganggap tugasnya sebagai profit-driven
industry atau bentuk usaha yang dapat diarahkan untuk
mendapatkan keuntungan.18
Menurut Adi Sulistiyono, selain minus kualitas intelektual,
perilaku hakim yang bermoral seperti ini merupakan wujud
kontribusi hakim dalam proses krisis peradilan. Adi Sulistiyono yang

16Sebastiaan Pompe, opcit, hal. 415


17The World Bank, op cit, hal. 150.
18 Ali Budiardjo dkk, op cit, hal. 144

217
mengadakan penelitian langsung di Pengadilan Negeri Semarang,
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan Pengadilan Negeri Surabaya
menemukan langsung proses negosiasi antara pencari keadilan
dengan hakim dan menyimpulkan perbuatan-perbuatan seperti
inilah yang membuat lembaga peradilan terperosok kedalam krisis.19
Kewibawaan lembaga peradilan meluncur kebawah, dan akhirnya
menurut JCodung Mulya Lubis, ketika Dato Param Cumaraswany,
pelapor khusus PBB menyimpulkan bahwa korupsi peradilan di
Indonesia adalah salah satu yang terburuk di dunia, yang mungkin
hanya bisa disamai Meksiko, mayoritas rakyat negeri ini tidak
terkejut sama sekali.20
Atas dasar inilah tampaknya Satjipto Rahardjo berani membuat
penggolongan hakim di Indonesia menjadi dua. Pertama hakim yang
apabila memeriksa perkara terlebih dulu menanyakan hati nuraninya
atau mendengarkan putusan hati nuraninya, kemudian mencari
pasal-pasal dalam peraturan untuk mendukung putusan tersebut.
Kedua, adalah hakim yang apabila memutus, terlebih dulu
"berkonsultasi" dengan kepentingan perutnya dan kemudian
mencari pasal-pasal untuk memberikan legitimasi terhadap "putusan
perutnya" itu.21
Inilah sebagian contoh dari sorotan dan kritik terhadap
integritas aparatur peradilan, khususnya hakim.

Menyikapi Kritik
Al Ghazali mengemukakan empat cara untuk mengetahui
kekurangan diri sendiri. Pertama dengan mendatangi para ahli atau
ulama untuk meminta pandangan, nasihat, kritik, dan saran. Kedua,
menemui sahabat atau teman sejati untuk meminta pendapat, kritik,
atau saran untuk hal yang sama. Ketiga, memperhatikan kritik atau
kecaman dari pihak yang bermusuhan atau tidak senang kepada kita,
dan keempat, terjun bergaul ditengah-tengah masyarakat.

19 Adi Sulistiyono, Krisis Lembaga Peradilan d i Indonesia, UNS Press, Surakarta,


2006, hal. 139
20 Todung Mulya Lubis, Mengapa Saya Mencintai Negeri ini, Buku Kompas,
Jakarta, 2007, hal. 143
21 Satjipto Rahardjo, op cit, hal. 225

218
Dari keempat cara ini, tiga diantaranya berhubungan erat
dengan kritik. Hanya bedanya, kritik dari para ahli atau alim ulama
mungkin enak di dengar. Kritik dari sahabat sejati mungkin saja
disertai dengan guyonan. Tetapi kritik dari lawan atau musuh pasti
akan terasa sakit ditelinga.
Tidak semua kritik itu benar. Bahkan yang benarpun kadang-
kadang relatif dan subyektif bila dihadapkan pada aspek-aspek
tertentu. Yang harus diingat manfaat kritik juga tidak sedikit. Paling
tidak ada tiga manfaat kritik seperti terurai dibawah ini :
1. Kritik yang substansinya benar berguna untuk membenahi
diri. Apalagi bila kritik itu disertai dengan saran. Kultur
yang tidak ramah terhadap kritik akan membuat komunitas
yang memiliki kultur itu lambat mengalami kemajuan, dan
bahkan terancam menjadi komunitas tertinggal. Mochtar
Lubis menggambarkan sikap tidak suka dikritik ini sebagai
perilaku feodalis yang menjadi ciri dari manusia Indonesia,
dan menyebabkan bangsa Indonesia selalu dianggap
rendah oleh bangsa-bangsa lain didunia.22
2. Kritik akan mendidik orang bersikap cermat, rasional, dan
demokratis. Tindakan yang ceroboh, irrasional, dan egois
akan selalu memancing timbulnya kritik, apalagi bila
tindakan-tindakan tersebut menimbulkan masalah.
3. Kritik juga mengasah hati nurani, sementara sikap cuek
terhadap kritik akan membuat nurani menjadi tumpul. Al
Ghazali mengibaratkan hati nurani itu sebagai cermin.23
Hati nurani yang tumpul, laksana cermin yang buram.
Orang yang berdiri dimuka cermin yang buram tidak akan
melihat sosok dirinya secara sempurna.

Menyikapi kritik idealnya ialah dengan menampung semua


kritik dan menganalisisnya satu persatu. Kritik yang substansinya
benar dengan kritik yang tidak benar dipisahkan. Kritik yang tidak
benar juga dibagi lagi; ada yang benar-benar diluar konteks dan ada

22 Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, Yayasan Buku Obor, Jakarta, 2008, hal. 25
23 Al Ghazali, Mukhtashar Ihya Ulumiddin, alih bahasa : Abdul Rosyad Siddiq,
Ringkasan Ihya Ulumuddin, Akbar Media Eka Sarana, Jakarta, 2008, hal. 227

219
yang didasari oleh kesalah-fahaman (misunderstanding) semata-mata.
Kritik yang timbul akibat kesalah-fahaman perlu diberikan
jawabannya. Dengan demikian, pihak pemberi kritik juga dapat
mengambil manfaat karena memahami duduk perkara yang
sebenarnya.

Kritik dan Pembaruan Peradilan


Tak dapat dipungkiri era kepemimpinan Ketua Mahkamah
Agung Bagir Manan merupakan era pembaruan peradilan yang
signifikan. Beberapa sistem yang dulu selalu menjadi sasaran kritik,
kini telah diperbaiki. Sistem peradilan dengan organisasi dan
finansial dibawah eksekutif umpamanya, walaupun diperjuangkan
sejak lama, tetapi klimaks dan keberhasilannya tampak dibawah
penanganan beliau.
Sistem-sistem yang berkaitan dengan pembaruan peradilan
lainnya juga lahir dibawah tangan dingin beliau. Sebutlah Cetak Biru
Pembaruan Mahkamah Agung RI , Pembaruan Sistem Pembinaan
SDM Hakim, Pembaruan Sistem Pendidikan dan Pelatihan Plakim,
Pembaruan Sistem Pengelolaan Keuangan Pengadilan, Pedoman
Pelaksanaan Pengawasan di Lingkungan Lembaga Peradilan, Sistem
Keterbukaan Informasi di Pengadilan dan lain sebagainya.
Dalam kata pengantar terbitnya Cetak Biru Pembaruan
Mahkamah Agung RI Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan
menegaskan, perbaikan beberapa sistem sebagaimana tercantum
pedomannya dalam buku Cetak Biru ini merupakan respons atas
adanya sorotan dan kritik dari berbagai kalangan, walaupun sorotan
dan kritik itu tidak seluruhnya benar. Begitu pula dalam bab
pendahuluan buku Cetak Biru dimaksud, disebutkan latar belakang
penyusunannya antara lain adalah karena derasnya sorotan dan
kritik terhadap Mahkamah Agung sendiri.24
Adapun sorotan dan kritik terhadap integritas, dalam hal
substansinya terbukti benar, penanganannya tidaklah mudah. Dari
sudut tataran teori, mungkin dianggap cukup dengan membangun

24 Mahkamah Agung Republik Indonesia, Cetak Biru Pembaruan Mahkamah


Agung RI, Jakarta, 2003, hal. 1

220
sistem pembinaan dan pengawasan, serta membuat sistem acuan
moral semacam kode etik, dan tak lupa implementasi penindakan.
Ini semua telah dilakukan pada masa kepemimpinan Ketua
Mahkamah Agung Bagir Manan.
Adalah tidak adil untuk melihat hasilnya saat ini juga, karena
sistem-sistem ini pada hakikatnya ditujukan untuk membangun
manusia yang butuh waktu panjang. Yang tidak boleh dilupakan,
karena obyek pembangunan integritas ini adalah manusia, maka
semua sistem dan acuan moral yang telah dibangun itu akan menjadi
benda mati tanpa adanya kulturisasi atau pembudayaan.
Kulturisasi25 lazim memiliki tahapan-tahapan, paling tidak terdiri
dari sosialisasi yang intensif, pengawasan, dan penindakan (reward
and punishment). Dalam tahap sosialisasi perlu pula target fokus yang
berupa pencitraan tentang stereotip hakim yang bermoral dan yang
tidak.
Dengan mengingat pengalaman Jepang, Inggris, dan beberapa
negara maju lainnya ada keyakinan pencitraan tentang stereotip
hakim yang bermoral ini akan menghidupkan rasa malu. Dan ini
cukup efektif untuk mengangkat kembali integritas, yang pada
akhirnya akan mengembalikan kewibawaan lembaga peradilan.
Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan telah memberikan
segalanya dengan membangun hampir semua sistem yang
dibutuhkan untuk mengangkat citra dan wibawa lembaga peradilan,
termasuk melalui manajemen kritik yang baik. Yang dibutuhkan kini
adalah actor in action dari penerus-penerusnya.

25 Koentjaraningrat menggunakan istilah enkulturasi. Dengan proses ini


seseorang belajar menyesuaikan alam fikiran, sikap dan perilakunya dengan sistem
norma yang ditargetkan. Bila target itu norma moral, maka kulturisasi berarti
mewujudkan norma itu kedalam alam fikiran dan perilaku sehari-hari. Perwujudan
alam fikiran antara lain tergambar dalam pencitraan stereotip pribadi yang di
inginkan. Lebih lanjut dapat dibaca : Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan
Pembangunan, Gramedia, Jakarta, 1985, hal. 77 atau dalam : Pengantar Ilmu
A n tr o p o lo g i, Rineka Cipta, Jakarta, 1990, hal. 233.

221
DAFTAR BACAAN

Adi Sulistiyono, Krisis Lembaga Peradilan di Indonesia, UNS


Press, Surakarta, 2006
Achmad Ali, Keterpurukan Hukum di Indonesia, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 2002
Ali Budiardjo dkk., Diagnostic Assessment o f Legal
Development in Indonesia, Alih Bahasa : Niar Reksodiputro
dan Imam Pambagyo, Reform asi hukum di Indonesia,
CYBERconsult, Jakarta, 1999
Abu Hamid Al Ghazali, M ukhtashar Iyha Ulumiddin, Alih
Bahasa : Abdul Rosyad Siddiq, Ringkasan Ihya Ulumuddin,
Akbar Media Sarana, Jakarta, 2008
Bagir Manan, M enjadi H akim Yang Baik, Mahkamah Agung
Republik Indonesia, Jakarta, 2007
Eman Suparman, Asal Usul Serta Landasan Pengembangan
Ilmu Hukum Indonesia, Dalam : Ahmad Gunawan dkk,
Menggagas Hukum Progresif Indonesia, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2006
Jeremias Lemek, Mencari Keadilan, Pandangan Kritis Terhadap
Penegakan Hukum di Indonesia, Galang Press, Yogyakarta,
2007
Khudzaifah Dimyati, Teorisasi Hukum, Muhammadyah
University Press, Surakarta, 2004
Koentjaraningrat, Kebudayaan, M entalitas, dan Pembangunan,
Gramedia, Jakarta, 1985
Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, M ahasin at-Ta'wil, Juz X,
Dar al-Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Damascus, 1959
Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, Yayasan Obor, Jakarta, 2008
Mahkamah Agung Republik Indonesia, Cetak Biru Pembaruan
M ahkamah Agung RI, Jakarta, 2003
Prija Djatmika, Kebohongan Hukum & Kemunafikan Manusia,
Bayumedia Publishing, Malang, 2004

222
Sebastiaan Pompe, T h e In d o n esia S u p rem e C o u rt, A S tu d y o f
I n s t i t u t i o n a l C o lla p s e , Cornell Southeast Asia Program,
New York, 2005
Satjipto Rahardjo, S is i S is i la in D a r i H u k u m di In d o n esia ,
Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2003
The World Bank, C o m b a t in g C o r r u p t io n in In d o n esia , The
World Bank Office Jakarta, 2004
Todung Mulya Lubis, M e n g a p a S a y a M e n c in ta i N eg eri In i ?
Buku Kompas, Jakarta, 2007

223
B E B ER A P A C A T A T A N S E K IT A R K O M P IL A S I
H U K U M E K O N O M I SY A R I A H
Oleh :
Dr. H. Abdurrahman, SH.,MH.*

Pada tanggal 10 September 2008 Ketua Mahkamah Agung Bagir


Manan telah menetapkan Peraturan Mahkamah Agung No. 02 Tahun
2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah. Penetapan
Peraturan ini berkaitan dan mempunyai arti penting dalam
hubungannya dengan perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia
dilihat dari dua sisi.
Pertama, sebagai tindak lanjut dan penjabaran dari beberapa
peraturan perundang-undangan yang ditetapkan beberapa tahun
terakhir ini dalam kaitan dengan kewenangan peradilan di Indonesia
pada umumnya dan peradilan agama pada khususnya seperti
Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 (LN Tahun 2006 No. 22) tanggal
20 Maret 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 7
Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Undang-Undang No. 19
Tahun 2008 (LN Tahun 2008 No. 70) tanggal 7 Mei 2008 tentang Surat
Beharga Syariah Negara, Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 (LN
Tahun 2008 No. 94) tanggal 16 Juli 2008 tentang Perbankan Syariah,
dan lain-lain.
Hal kedua adalah berkaitan dengan perkembangan baru Hukum
Islam sebagaimana disebutkan oleh seorang pakar Hukum Islam
Mustafa Ahmad Zarka dengan menggunakan cara kodifikasi
dan/atau kompilasi yang disebutnya Hukum Islam dengan bajunya
yang baru (al fiqh al-Islami fi Tasuqihi al Jadid) artinya bajunya
yang baru, sistematikanya yang baru, penampilannya yang baru,
sedang isinya tetap dipegang teguh materi-materi yang terdapat
dalam fiqh Islam (Djazuli, 2002:XX). Dan penyusunan Hukum Islam
di Indonesia dalam bidang Hukum Perkawinan, Warisan dan Wakaf

* Dr. H. Abdurrahman, SH.,MH. Hakim Agung pada Mahkamah Agung


Republik Indonesia.

225
yang dikenal dengan sebutan Kompilasi Hukum Islam sebagaimana
ditetapkan dengan Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991 pada
tanggal 10 Juni 1991 (Abdurrahman, 1992:32).
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Kompilasi itu? Dalam
kajian hukum di negara kita istilah kompilasi baru dikenal sejak
tahun 1990-an yaitu setelah ditetapkan kompilasi seperti Kompilasi
Hukum Islam (KHI) tersebut di atas. Para Pengkaji hukum lebih
mengenal istilah "Kodifikasi" dari pada kompilasi. Kodifikasi adalah
pembukuan satu jenis hukum tertentu secara lengkap dan
sistematika dalam atau bukan hukum seperti Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Sebagaimana halnya dengan kodifikasi yang istilahnya diambil
dari perkataan bahasa Latin maka istilah kompilasipun diambil dari
bahasa yang sama,. Istilah "Kompilasi" diambil dari perkataan
"Compilare" yang mempunyai arti mengumpulkan bersama-sama,
seperti misalnya mengumpulkan peraturan-peraturan yang
tersebar berserakan di mana-mana. Istilah ini kemudian berkembang
menjadi "Compilation" (Inggris) atau "Compilatie" (Belanda) yang
kemudian diterjemahkan menjadi "Kompilasi" yang sekarang sudah
dianggap sebagai bahasa Indonesia sebagaimana disebutkan dalam
"Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berarti kumpulan yang
tersusun secara teratur (tt daftar informasi, karangan dan sebagainya)
(hal. 516).
Dalam "Kamus Lengkap Inggris Indonesia — Indonesia Inggris"
yang disusun oleh S. Wajowasito dan Wjs Poerwadarminto disebut
kata "Compilation dengan terjemahan" karangan tersusun dan
kutipan buku-buku lain (Wajowasito, 1982:88). Sedangkan dalam
"Kamus Umum Belanda-Indonesia" oleh Wajowasito kata
"Compilatie" dalam bahasa Belanda diterjemahkan menjadi
"Kompilasi" dengan keterangan tambahan "Kumpulan dari lain-lain
karangan" (Wajowasito, 1981:123).
Dalam "Kamus Inggris Indonesia" yang disusun oleh John M
Echols dan Hassan Shadily kata Compilation diterjemahkan dan
"Himpunan", kompilasi seperti himpunan Undang-undang. (Echals
& Shadily, 2000: 132). Uraian yang lebih luas dapat dilihat dalam
beberapa kamus lain seperti "Webster Dictionary" ditemukan

226
perkataan "Compilation" dengan penjelasan (1) Act or Process of
Compiling, (2) That which of complied; esp a book composed of
materials gathered from other books of document. Sedangkan
mengenai kata "Compile" dijelaskan artinya adalah (1) to Collect
(Literary materials) into a volume (2) to Compose out of materials
from other document (Webster 1961:168).
Selanjutnya dalam Kamus Belanda yang lebih rinci seperti
misalnya Kamus Belanda Van Dale kita temukan uraian bahwa
"Compilatie" itu adalah" .... Het bijeen brengen van gedeelten van
verschillende werken tot een geheel, Compileren, (Compileerde,
heelft gecompileerd) (een werk) bijeenbrengen door uit versehillende
werken brok stukken samen te voegen (Dale, 1948:159). Hal yang
hampir sama dapat kita baca dalam :Kamus Koenen" yang
memberikan anti "Compilatie" mi sebagai (1) het maken ye werk, een
boek uit verschillende scluijvers bijeengetrokken, (2) het outstane
versamelwerk (Koenen, 1989:267).
Berdasarkan keterangan tersebut di atas dapatlah diketahui
bahwa ditinjau dari aspek kebahasaan, "Kompilasi" kegiatan
pengumpulan dari beberapa bahasa tertulis yang diambil dari
berbagai buku/tulisan mengenai sesuatu persoalan tertentu.
Pengumpulan bahan dari berbagai sumber yang dibuat oleh
beberapa penulis yang berbeda untuk ditulis dalam suatu buku
tertentu, sehingga dengan kegiatan ini semua bahan yang diperlukan
dapat ditemukan dengan mudah (Abdurrahman, 1992.11).
Bagaimana pengertian kompilasi ditinjau dan segi hukum.
Bilamana kita melthat pengerlian kompilasi dan segi bahasa
sebagaimana diungkapkan di atas, maka kompilasi itu bukan hanya
terbatas pada sesuatu yang merupakan produk hukum saja seperti
halnya sebuah kodifikasi yang pasti merupakan sebuah kumpulan
peraturan hukum. Dalam pengertian hukum maka kompilasi tidak
lain dari sebuah "buku hukum" atau "buku kumpulan" yang
memuat uraian atau bahan hukum tertentu, pendapat hukum atau
juga aturan hukum. Pengertian kompilasi memang berbeda dengan
kodifikasi, akan tetapi ketika kita bicara tentang Kompilasi Hukum
Islam (KHI) atau Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) maka
ia harus dinilai sebagai sebuah buku hukum.

227
Dalam kaitan dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI) patut
dicatat bagaimana penilaian dari seorang pakar hukum, M.B.
Hooeker yang menyatakan:
"For the proponents of Syariah, however, renewal meant
something much less than the introduction of an "Islmaic State"
(that is, one "founded on Syariah) it meant, rather the
codification of the Syariah in Law. The outcome was the KHI-
Certainly not renewal, but a real achievement given the past 150
years or so Syariah displacement in the state. The KHI claims a
fiqh respectability and, to be fair, it does have this to minimal
degree. It also show an enthusiastic acceplauce of change.
However, accusations of unwarranted innovation (bidah) and
indiscriminate mixing of rules (talfiq) brood over anything new,
that is, not done before the primacy reference prints of both are
the or thopraxy of the ritual are certainty of fiqh, aframe of
thought that is agaoinst any new formulation of Syariah. In
Short, the fact'that the KHI was ever drafted and proviulgate
(was a presidented intruction) is a real achievement. The KHI is
a redifinion; it is Certainly not a purification of Syariah, but the
same time it is more than a selection of reworking because it is
imposes a new way of thingking about Syariah". (Hooker, 2008:
39).

Mungkin kita bisa berbeda pendapat dengan pernyataan di atas,


namun penilaian yang serupa nantinya juga diharapkan akan
diberikan juga adalah para pakar terhadap Kompilasi Hukum
Ekonomi Syariah (KHES) yang baru kita tetapkan.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai
pengertian "Kompilasi" ini dapat dibaca uraian dalam "Black's Law
Dictionary" yang telah memberikan rumusan pengertian kompilasi
sebagai "a bringing together of preexisting status in thea form which
they appear in the books, with the removal of sections which have
been repealed and substitution of amandments in an arrangement
designed to facilitate their use. A literary production compused of the
works or selected extracts of other and arranged in methodical
manner (Black, 1979:258).

228
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariak (KHES) sebagaimana
halnya juga dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI) tidak secara tegas
menyebutkan bagaimana pengertian kompilasi dan Kompilasi
Hukum Ekonomi Syariah. Dari sejarah penyusunan tidak tampak
adanya pemikiran yang kontroversial apa yang dimaksud dengan
kompilasi itu. Begitu pula dan substansi Peraturan Mahkamah
Agung No. 02 Tahun 2008 yang menjadi dasar berlakunya Kompilasi
Hukum Ekonomi Syariah tidak dijelaskan makna dari kompilasi
tersebut.
Dalam konsideran Peraturan Mahkamah Agung No. 02 Tahun
2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah disebutkan :
a. Bahwa untuk kelancaran pemeriksaan dan penyelesaian
sengketa ekonomi syariah sebagaimana dimaksud Pasal 49
huruf i beserta Penjelasan Undang-Undang No. 3 Tahun 2006
tentang Peradilan Agama, Undang-Undang No. 19 Tahun 2008
tentang Surat Berharga Syariah Negara, Pasal 55 Undang-
Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah perlu
dibuat pedoman bagi Hakim mengenai Hukum Ekonomi
menurut prinsip syariah.
b. Bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a perlu
menetapkan Peraturan Ketua Mahkamah Agung Republik
Indonesia tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.

Kemudian substansi materinya yang memuat tiga pasal. Pasal 1


menyatakan:
(1) Hakim Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Agama yang
memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara-perkara yang
berkaitan dengan ekonomi syariah, menggunakan sebagai
pedoman prinsip-prinsip syariah dalam Kompilasi Hukum
Ekonomi Syariah.
(2) Mempergunakan sebagai pedoman prinsip syariah dalam
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah sebagaimana dimaksud
ayat (1), tidak mengurangi tanggung jawab Hakim untuk
menggali dan menemukan hukum untuk menjamin putusan
yang adil dan benar.

229
Sedangkan Pasal 2 menyatakan bahwa Kompilasi Hukum
Ekonomi Syariah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 adalah
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah yang menjadi lampiran dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Mahkamah
Agung ini.
Berdasarkan ketentuan ini maka Kompilasi Hukum Ekonomi
Syariah (KHES) yang merupakan lampiran dan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Mahkamah Agung No. 02 Tahun 2008
adalah sebagai pedoman bagi Hakim Pengadilan dalam Lingkungan
Peradilan Agama yang memeriksa, mengadili dan menyelesaikan
perkara-perkara yang berkenaan dengan Ekonomi Syariah yang
semenjak berlakunya Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 menjadi
kewenangan dan Pengadilan Agama. Pengertian pedoman dalam
ketentuan ini substansi materi dari KHES yang diambil dari prinsip-
prinsip syariah menjadi rujukan bagi Hakim dengan tidak membatasi
tanggung jawab dan kewenangan Hakim untuk menggali dan
menemukan hukum agar supaya dapat mewujudkan adanya
putusan yang adil dan benar.
Penyusunan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah diawali
dengan ditetapkannya Keputusan Ketua Mahkamah Agung tanggal
20 Oktober 2006 No. KMA/097/SK/X/2006 tentang Penunjukan Tim
Penyusunan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah dengan
membentuk Tim yang bertugas menyusun Kompilasi Hukum
Ekonomi Syariah yang diketuai oleh Hakim Agung Dr. H. Abdul
Manan, SH., S,SP.,M.Hum dengan beranggotakan beberapa orang
Hakim Agung dan Pejabat Struktural Mahkamah Agung. Tim
bertugas :
a. Menghimpun dan mengolah bahan/materi yang diperlukan.
b. Menyusun draft naskah Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.
c. Menyelenggarakan diskusi dan seminar yang mengkaji draft
naskah tersebut dengan lembaga, ulama dan para pakar.
d. Menyempurnakan naskah Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.
e. Melaporkan hasil penyusunan tersebut kepada Ketua
Mahkamah Agung.

230
Ditentukan pula dalam keputusan tersebut bahwa dalam
melaksanakan tugasnya Tim berkoordinasi dengan lembaga, ulama
dan para pakar, jika dianggap perlu dapat menunjuk konsultan.
Mengingat cukup rumitnya substansi materi yang akan
disiapkan oleh Tim, maka Tim memutuskan menunjuk Tim
Konsultan yang berasal dari Universitas Islam Negeri Bandung yang
dipimpin oleh Prof. H.A. Djazuli dengan beranggotakan beberapa
orang pakar. Dalam kegiatannya Tim melakukan pengkajian,
seminar dan studi banding ke beberapa Negara yang sudah
melaksanakan Ekonomi Syariah seperti Malaysia, Pakistan, Inggris,
Sudan dan Mesir, sehingga pada akhir menghasilkan naskah
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah yang disahkan oleh Ketua
Mahkamah Agung pada tanggal 10 September 2008 dengan Payung
Hukum Peraturan Mahkamah Agung No. 02 Tahun 2008.
Kompilasi yang akan kita bicarakan adalah berkenaan dengan
Hukum Ekonomi Syariah, yang berarti perekonomiannya adalah
pada aspek hukum bukan pada aspek (ilmu) ekonominya. Menurut
Zainuddin Ali sistem hukum ekonomi syariah mencakup cara dan
pelaksanaan kegiatan usaha yang berdasarkan prinsip syariah. Hal
itu biasa disebut Sistem Hukum Ekonomi Islam. Ilmu Ekonomi
Syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari
masalah-masalah ekonomi kerakyatan yang berdasarkan prinsip-
prinsip syariah (Ali, 2008:12). Namun dalam kenyataan persoalannya
tidak sesederhana itu terutama mereka yang menolak adanya
dikotomi antara Ekonomi Positif dan Ekonomi Normatif.
Istilah "Ekonomi Syariah" adalah merupakan hal yang spesifik
Indonesia karena istilah tersebut hampir tidak dikenal di Negara-
Negara Islam lainnya. Di banyak negara dan di kalangan dunia
akademik dikenal dengan istilah "Ekonomi Islam" atau "Isimic
Economic" sebagai padanan dari istilah Arab "al Iqtishadi al-Islami".
Namun istilah Ekonomi Islam yang juga pernah dipopulerkan
sebelum mulai terdesak dengan digunakannya secara meluas istilah
ekonomi syariah.
Ada pendapat yang melihat pemberian label "Islam" atau
"Syariah" untuk menggambarkan satu sistem ekonomi yang
berorientasi ke Islam. Anwa Abbas dalam studinya tentang "Bung

231
Hatta & Ekonomi Islam" menyatakan bahwa Hatta menganggap
bahwa untuk membangun sistem ekonomi dengan beranjak dari
sistem keyakinan Islam. Kendati dalam kaitan ini Hatta tidak
menggunakan simbol-simbol keislaman baik dalam dataran
terminologi maupun lembaga keagamaannya. Dalam dataran
falsafah ekonomi yang dimilikinya, dia melihat bahwa alam semesta
ini adalah ciptaan Tuhan yaitu ALLAH SWT, Zat yang Maha Tinggi
(Abbas, 2008:IX).
Istilah Ekonomi Syariah secara formal untuk pertama kali
digunakan dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 tentang
Perubahan atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan
Agama (LN Tahun 2006 No. 22) tanggal 20 Maret 2006. Dalam Pasal
49 disebutkan bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang
memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama
antara orang-orang yang beragama Islam di bidang :
a. Perkawinan.
b. Waris.
c. Wasiat.
d. Llibah.
e. Wakaf.
f. Zakat.
g. Infaq.
h. Shadaqah, dan
i. Ekonomi Syariah.

Penjelasan Pasal 49 (TLN No. 4611) menyatakan bahwa


penyelesaian sengketa tidak hanya dibatasi di bidang perbankan
syariah, melainkan juga di bidang ekonomi syariah lainnya.
Kemudian dalam penjelasan pada huruf i disebutkan bahwa yang
dimaksud dengan "ekonomi syariah" adalah perbuatan atau
kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut "prinsip syariah",
"antara lain" meliputi:
a. bank syari'ah.
b. lembaga keuangan mikro syari'ah.
c. asuransi syari'ah.
d. reksadana syari'ah.

232
e. obligasi syari'ah dan surat berharga syari'ah.
f. sekuritas syari'ah.
g. pembiayaan syari'ah.
h. pegadaian syari'ah.
i. dana pensiunan lembaga keuangan syari'ah, dan
j. bisnis syari'ah.

Ada dua perkataan yang perlu digarisbawahi dari penjelasan


tentang pengertian "ekonomi syariah" yaitu perkataan "prinsip
syariah" dan kata "antara lain". Dalam konteks penjelasan ini yang
dimaksud dengan ekonomi syariah bukan ekonomi yang
berdasarkan syariah tetapi kegiatan ekonomi yang berdasarkan
"prinsip syariah".
Selanjutnya dalam Pasal 1 angka 1 Kompilasi Hukum Ekonomi
Syariah (KHES) dikemukakan rumusan lain tentang ekonomi syariah
sebagai berikut:
"Ekonomi syariah adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan
oleh orang perorangan, kelompok orang, badan usaha yang
berbadan hukum atau tidak berbadan hukum dalam rangka
memenuhi kebutuhan yang bersifat komersial dan tidak
komersial menurut prinsip syariah".

Rumusan tersebut di atas pada hakekatnya hanya memuat lebih rinci


tentang lingkup dan pengertian ekonomi syariah sebagaimana
dirumuskan dalam Penjelasan Pasal 49 Undang-Undang No. 3 Tahun
2006.
Berdasarkan rumusan tersebut maka yang dimaksud dengan
ekonomi syariah adalah meliputi:
1. Ekonomi Syariah adalah "usaha" atau "kegiatan". Dalam
Penjelasan Pasal 49 Undang-Undang No. 3 Tahun 2006
dirumuskan ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan
usaha.
2. Pelaku Ekonomi Syariah adalah orang perorangan, kelompok
orang atau badan hukum yang berbadan hukum atau tidak
berbadan hukum, sehingga yang menjadi pelaku ekonomi
syariah itu menjadi sangat luas sekali. Selain itu perlu dicatat di

233
sini bahwa tidak mengharuskan pelaku ekonomi syariah harus
beragama Islam.
3. Kegiatan ekonomi syariah dilakukan dalam rangka memenuhi
kehidupan manusia baik yang bersifat komersial maupun tidak
universal. Kegiatan ekonomi lebih dekat dan umumnya
berkenaan dengan hal-hal yang bersifat komersial, sehingga
perlu ada kejelasan lebih jauh tentang aspek non komersial dan
batas-batasnya dalam kegiatan ekonomi syariah.
4. Kegiatan tersebut dilakukan menurut prinsip syariah, namun
dalam kompilasi tidak diberikan penjelasan lebih jauh tentang
apa yang dimaksud dengan bisnis syariah.

Apa yang dimaksud dengan Syari'ah? Menurut Daud Rasyid,


Syariat secara bahasa, berarti jalan yang lurus atau sumber mata air.
Jadi orang yang menjalankan syariat berarti berjalan di atas jalan
yang benar (lurus). Dan orang yang tak menjalankan syariat berarti
berjalan melalui jalan yang salah alias salah jalan. Demikian juga
dengan pengertian "mata air". Orang yang memegang syariat berarti
ada di sekitar sumber mata air. Ta tidak akan kehausan sedangkan
kebutuhan pada air adalah kebutuhan mutlak dalam hidup,
sementara orang yang tidak memegang syariat berarti jauh dari mata
air. Ia akan terancam kehausan dan kekeringan. Secara terminologi,
artinya : "semua yang ditetapkan ALLAH atas hambanya berupa
agama (dien) dan berbagai aturan". Juga bisa didefinisikan:
"Hukum-hukum yang ditetapkan oleh ALLAH SWT untuk
hambaNya, baik melalui Al-qur'an ataupun dengan Sunnah Nabi
SAW berupa perkataan, perbuatan dan pengakuan (Rasyid, 2003: 1).
Kemudian secara singkat ia simpulkan bahwa maksudnya syariat
mencakup semua aturan yang ada dalam Islam, termasuk Aqidah,
Hukum dan Akhlak. Jadi Syariat ialah Islam itu sendiri. Namun
belakangan kata syariat diartikan para ahli sebagai Sistem Hukum
dalam Islam (Rasyid, 2003: 2).
Hal ini adalah sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh
Muhammad Hashim Kamali yang mengatakan bahwa Shari'ah
Literally means a way to the watering-place or a path apparently to
seek felicity and salvation. (Kamali, 2008:2). Kemudian ia merujuk

234
pada Al-Qur'an 45:18 di mana dalam mengartikan kata "Shani'atan
dengan merujuk pada terjemahan Abdullah Yusuf Ali dengan
terjemahan "the right way of religion".
Selanjutnya Kamali menjelaskan bahwa "since Shani'ah is path
to relegion, it is primarily Concern with a set of values that are
essential to Islam and the manner of their protection (Kamali, 2008.2).
Kemudian dikatakan lagi bahwa fiqh is an equivalent term to
shari'ah and the two are often used interchangeably, the two words
are, however, not identical. Where as Shari'ah is Conneyed mainly
through divine revelation (way) containes in the Qur'an and
authentic hadith, fiqh refers mainly to the corpus jurist that is
developed by thelegal schools (madhabs), individual jurist and
judges by resorse to legal reasoning (ijtihad) dan issuing of legal
verdict (fatwa) (Kamali, 2008:3).
Dalam Perundang-undangan Perbankan Indonesia kata
"Syariat" mulai dipergunakan dalam Peraturan Pemerintah No. 72
Tahun 1992 (LN 1992 No. 119) tentang Bank Berdasarkan Prinsip
Bagi Hasil.
Pasal 2 ayat (1) menyatakan bahwa prinsip bagi hasil sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) adalah prinsip bagi hasil
berdasarkan "Syari'at" yang digunakan oleh Bank berdasarkan
prinsip bagi hasil Penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan prinsip bagi hasil dalam Peraturan Pemerintah ini
adalah prinsip muamalat berdasarkan syariat dalam melakukan
kegiatan usaha bank. Kemudian Pasal 5 Undang-undang ini
menyatakan:
(1) Bank berdasarkan prinsip bagi hasil wajib memiliki Dewan
Pengawasan Syariat yang mempunyai tugas melakukan
pengawasan atas produk perbankan dalam menghimpun dana
dari masyarakat dan menyalurkan kepada masyarakat agar
berjalan sesuai dengan prinsip syariat.
(2) Pembentukan Dewan Pengawasan Syariat dilakukan oleh Bank
yang bersangkutan berdasarkan hasil konsultasi dengan
lembaga yang menjadi wadah para ulama Indonesia.
(3) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pengawas Syaiiah
berkonsultasi dengan lembaga sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2).

235
Penjelasan Pasal 5 ayat (2) menyatakan bahwa yang dimaksud
dengan lembaga yang menjadi wadah para Ulama Indonesia dalam
ayat ini adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
Dalam perkembangannya kata-kata berdasarkan syariat
bergeser menjadi berdasarkan Prinsip Syariah. Dalam Undang-
Undang No 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang
No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, diadakan antara lain
penambahan ketentuan Pasal 6 yang menyangkut Usaha Bank
Umum dan Pasal 13 tentang Usaha Bank Perkreditan Rakyat dengan
butir baru (Pasal 6 huruf m dan Pasal 13 huruf c) yang
mencantumkan menyediakan pembiayaan dan/atau melakukan
kegiatan lain berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan
Bank Indonesia.
Mengenai pengertian "Prinsip Syariah" dirumuskan dalam
Pasal 1 angka 13 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 sebagai berikut:
"Prinsip Syari'ah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum
Islam antara Bank dengan pihak lain untuk menyimpan dana
dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya
yang dinyatakan sesuai dengan syari'ah, antara lain pembiayaan
berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan
berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah), prinsip
jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah)
atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni
tanpa pilihan (ijarah) atau dengan adanya pilihan pemindahan
kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh
pihak lain (Ijarah Waiqtina)".
Pengertian ini kemudian mengalami pengeseran lagi dalam Undang-
Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang
merumuskan dalam Pasal 1 angka 7 bahwa "Bank Syariah adalah
bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip
Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Sedangkan Pengertian Prinsip
Syariah dirumuskan dalam Pasal 1 angka 12, Prinsip Syariah adalah
Prinsip Hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa
yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam
penetapan fatwa di bidang syariah.

236
Bilamana kita perhatikan bunyi Pasal 1 Peraturan Mahkamah
Agung No. 02 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi
Syariah yang menyebutkan :
(1) Hakim Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Agama yang
memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara yang
berkaitan dengan ekonomi syariah mempergunakan sebagai
pedoman prinsip syariah dalam Kompilasi Hukum Ekonomi
Syariah.
(2) Mempergunakan sebagai pedoman prinsip syariah dalam
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah sebagaimana dimaksud
ayat (1) tidak mengurangi tanggung jawab Hakim untuk
menggali dan menemukan hukum untuk menjamin putusan
yang adil dan benar.

Berdasarkan ketentuan ini maka prinsip syariah adalah ketentuan-


ketentuan yang sudah termuat dalam Kompilasi Hukum Ekonomi
Syariah (KHES), dan ini juga tentunya tidak salah mengingat
sebagian dari materinya adalah bersumber pada sejumlah fatwa-
fatwa dari Dewan Syariah Nasioanl (DSN) Majelis Ulama Indonesia
(MUI) yang merupakan lembaga pemberi fatwa yang disebutkan
dalam Pasal 1 angka 12 Undang-Undang No. 21 Tahun 2008.
Persoalan ini yang perlu dikemukakan dalam kaitan pemberian
makna terhadap "ekonomi syariah" sebagaimana tersebut dalam
Penjelasan Pasal 49 Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 yang
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan dengan "ekonomi
syariah" adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan
menurut prinsip syariah "antara lain", meliputi dst, ............ Dengan
digunakannya kata "antara lain" pada awal rincian tersebut di atas
menunjukkan bahwa rincian tersebut pada huruf a sampai dengan
huruf k tidak bersifat limitatif tetapi masih terbuka pada bentuk
kegiatan lainnya sesuai dengan perkembangan, mungkin perusahaan
syariah, kepailitan syariah, persaingan usaha syariah dan lain-lain.
Kajian tentang ekonomi syariah sudah cukup banyak dilakukan
orang dan terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.
Ekonomi Syariah adalah salah satu bentuk kegiatan ekonomi. Kata
ekonomi berasal dari bahasa latin "Oikonomie" yang terdiri atas

237
"oikos" dan "nomos". "Oikos" berarti rumah tangga dan "nomos"
artinya "mengatur". Dan pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa ekonomi adalah aturan-aturan untuk menyelenggarakan
kebutuhan hidup manusia di dalam rumah tangga, baik rumah
tangga rakyat maupun rumah tangga negara (Said & Ma'zumi,
208.11).
Konsep ekonomi sebagaimana dikemukakan di atas khusus
untuk ekonomi syariah atau disebut juga ekonomi Islam ditentukan
substansinya oleh prinsip-prinsip syariah atau prinsip-prisip Islam
sebagaimana banyak diuraikan oleh para pakar. Habib Nazir &
Muhammad Hassanuddin dalam tulisannya mengemukakan bahwa
ekonomi Islam adalah usaha manusia dalam memenuhi
kebutuhannya melalui metode atau cara yang sesuai dengan kaidah-
kaidah agama untuk mengharap ridha ALLAH SWT (Nazir &
Hasanuddin, 2004. 161). Sedangkan Muhamad Abdul Mun'im Al-
Jammal, dalam tulisannya mengemukakan bahwa ekonomi Islam
ialah suatu kumpulan dasar umum ekonomi yang sering kita ambil
dari al Qur'an dan Sunnah Nabi. Oleh hal yang demikian, ekonomi
Islam ialah sistem ekonomi yang ditegakkan atas dasar-dasar
tersebut, sesuai setiap keadaan persekitaran dari zaman (Al-Jammal,
1997:5).
Selanjutnya, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi
Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
bekerjasama dengan Bank Indonesia, telah mengeluarkan publikasi
"Ekonomi Islam" (2008) yang mengungkapkan banyak hal yang
menarik tentang ekonomi Islam. Dengan menanggapi definisi para
pakar tentang ekonomi Islam dengan mengemukakan bahwa dari
berbagai definisi dapat disimpulkan bahwa ekonomi Islam bukan
hanya merupakan praktik kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh
individu dan komunitas Islam yang ada, namun juga merupakan
perwujudan perilaku ekonomi yang didasarkan pada ajaran Islam. Ia
mencakup cara memandang permasalahan ekonomi, menganalisa
dan mengajukan alternatif atas berbagai permasalahan ekonomi (hal.
19). Namun di samping itu juga dikemukakan definisi tentang
"Ekonomi Islam" yang menyatakan bahwa ekonomi Islam adalah
ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk mengalokasikan dan

238
mengelola sumber daya untuk mencapai faith berdasarkan pada
prinsip-prinsip dan nilai-nilai Al Qur'an dan Sunnah (hal. 19).
Selain itu dikemukakan pula bahwa suatu hal yang sangat
penting dalam mempelajari ekonomi Islam adalah penggunaan
terminologi ekonomi positif (Positive Economics) dan ekonomi
normatif (normative economics). Ekonomi positif membahas mengenai
realitas hubungan ekonomi atau membahas sesuatu yang senyatanya
terjadi, sementara ekonomi normatif mengenai apa yang seharusnya
terjadi atau apa yang seharusnya dilakukan. Keharusan didasarkan
atas nilai (value) atau norma (norm) tertentu baik secara eksplisit
maupun implisit. Ilmu ekonomi konvensional melakukan pembe­
daan secara tegas antara aspek positif dan normatif (hal. 23).
Selanjutnya pada bagian lain dikemukakan bahwa
pendikotomian posistif dan normatif pada dasarnya ditolak dalam
ekonomi Islam, sebab pandangan Islam meyakini bahwa perilaku
sosial manusia tidak terjadi dengan sendirinya. Perilaku manusia
bukanlah sesuatu yang bebas nilai. Manusia memiliki
kecenderungan, kehendak dan perilaku yang sangat dipengaruhi
oleh nilai (value) atau etika yang diyakininya, serta pendangannya
terhadap kehidupan ini, oleh karena itu ekonomi Islam pada
dasarnya mengedepankan pendekatan integratif antara normatif dan
positif (hal. 25).
Bagaimana kaitan persoalan ekonomi ini dengan syariah?
Dikemukakan dalam tulisan tersebut bahwa syariah Islam berfungsi
sebagai salah satu sumber informasi, sebab ia merupakan sumber
informasi yang secara langsung diberikan oleh Tuhan, yaitu Al
Qur'an dan Sunnah, kedua sumber informasi ini diakui
kebenarannya oleh Islam, sebab pada dasarnya keduanya berasal
dari Tuhan. Fungsi syariah Islam yang kedua adalah memberikan
kontrol terhadap perilaku manusia terselamatkan dari tindakan yang
merugikan, yaitu menjauhkan diri dari salah. Dalam hal ini syariah
lebih dikenal sebagai fiqh atau hukum Islam yang berisikan kaidah
yang menjadi ukuran, tolak ukur, patokan, pedoman yang
dipergunakan untuk menilai tingkah laku atau perbuatan manusia.
Fiqh Islam dipergunakan sebagai salah stau pedoman yang
digunakan untuk menilai tindakan benar atau salah (hal. 33-34).

239
Mengenai masalah syariah dikemukakan pula bahwa syariah,
oleh para ahli hukum Islam diartikan sebagai seperangkat peraturan
atau ketentuan dari ALLAH untuk manusia yang disampaikan oleh
RasulNya. Untuk memahami makna syariah diperlukan tiga hal
mendasar, yaitu keimanan, moral dan fiqh, serta kodifikasi hukum.
Syariah mengandung makna yang lebih luas dari pada fiqh, di mana
fiqh merupakan pemahaman terhadap aturan syariah secara praktis
yang diturunkan dan bukti-bukti tertentu. Dalam fiqh sesuatu
perilaku dikategorikan menjadi legal atau ilegal, atau halal dan
haram, sedangkan dalam syariah terdapat lebih banyak katagori
dalam menilai suatu perilaku. Oleh karena itu dalam kegiatan
ekonomi fiqh mutlak diperlukan sebagai patokan dalam menilai
ataupun memprediksi suatu kegiatan ekonomi. Syariah Islam
berfungsi untuk memberikan informasi dan petunjuk bagaimana
ekonomi Islam seharusnya diselenggarakan. Fiqh dipergunakan
sebagai alat kontrol terhadap produk ekonomi agar tidak melanggar
syariat Islam. Di dalam memahami syariah dan menetapkannya
dalam bentuk fiqh diperlukan proses pemikiran dan remterpretasi
terhadap sumber-sumber hokum Islam. Proses ini dikenal dengan
istilah ijtihad. Ijtihad ini hanya akan dinilai benar jika proses dan
hasilnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Prinsip-prinsip
umum yang harus dipegang dalam hukum Islam telah banyak
dianalisa oleh para ahli hukum dan ditemukan lebih dari 200 kaidah
pokok (al-qawaid al-fiqhiyah) yang digali dari Al Qur'an dan Sunnah
(hal. 34).
Pendapat yang dikemukakan oleh Tim Penulis "Ekonomi Islam"
dan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI)
Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta tersebut dapat
dijadikan kerangka acuan memahami lebih jauh ketentuan-ketentuan
yang diungkapkan dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.
Namun dalam membahas ekonomi syariah atau ekonomi Islam
tidaklah lengkap rasanya kalau tidak menyebut pendapat seorang
pakar yang dapat dikatakan sebagai pioner dalam pembahasan
ekonomi Islam yaitu Muhammad Bagir Shadr (1935-1980) dalam
bukunya "Iqtishaduna" atau "our Economics" dan telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Buku Induk
Ekonomi Islam".

240
Menurut pendapat Bagir Shadr bilamana kita bermaksud
mengetahui makna yang pasti dari ekonomi Islam, kita harus
membedakan antara Ilmu Ekonomi dan doktrin ekonomi, serta
memahami tingkat interaksi antara pemikiran ilmiah dan doktrinal.
Ilmu Ekonomi menurut pendapatnya adalah ilmu yang berhubungan
dengan penjelasan terperinci perihal kehidupan ekonomi, peristiwa-
peristiwanya, gejala-gejala (fenomena-fenomena) lahiriyalmya, serta
hubungan antara peristiwa-peristiwa dan fenomena-fenomena
tersebut dengan dengan sebab dan faktor-faktor umum yang
mempengaruhinya. Sedangkan doktrin (madzhb) ekonomi dalam
sebuah masyarakat pada prinsipnya menunjukkan cara atu metode
yang dipilih dan diikuti masyarakat tersebut dalam kehidupan
ekonominya serta dalam memecahkan setiap problem praktis yang
dihadapinya (hal. 61).
Berdasarkan ini kata Bagir Shadr, tatkala menggunakan istilah
"Ekonomi Islam" kita tidak memaksudkannya secara langsung
sebagai ilmu ekonomi. Karena ilmu ekonomi merupakan ilmu yang
relatif baru, sementara Islam merupakan agama misioner (dakwah)
sekaligus jalan hidup yang tugas utamanya bukanlah melakukan
studi-studi ilmiah. Lebih jauh yang kita maksud dengan "ekonomi"
Islam adalah doktrin ekonomi Islam yang yang (diorientasikan
untuk) untuk mewujudkan sistem Islam dalam organisasi kehidupan
ekonomi yang berpijak di atas kekuatan keseimbangan pemikiran
yang dikandung dan ditunjukkan doktrin ini, serta dibentuk dari
gagasan-gagasan moral Islam dan gagasan-gagasan ilmiah, ekonomi,
atau sejarah yag dihubungkan dengan problem-problem ekonomi
atau analisa sejarah masyarakat manusia. Jadi yang kita maksud
dengan "ekonomi Islam" adalah doktrin ekonomi yang ditinjau dari
keutuhan kerangkanya serta keterkaitanya dengan keseimbangan
intelektual di mana ia bergantung dan yang menjelaskan sudut
pandang ekonomi dalam hubunganya dengan isu-isu yang terkait
dengannya (hal. 64-65).
Memperhatikan perbedaan tersebut, Bagir Shadr secara tegas
menyimpulkan bahwa ekonomi Islam adalah sebuah doktrin dan
bukan merupakan suatu ilmu pengetahuan, karena ia adalah cara
yang direkomendasikan Islam dalam ngejar kehidupan ekonomi,

241
bukan merupakan suatu penafsiran yang dengannya Islam
menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan
ekonomi dan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya (hal. 80).
Kemudian dikemukakan pula, bahwa setelah kita memahami
bahwa doktrin ekonomi berbeda dengan ilmu ekonomi, maka kita
harus pula mengetahui perbedaan antara doktrin ekonomi dan
hukum perdata (civil law). Doktrin ekonomi adalah kumpulan dari
teori dasar yang dipakai untuk memecahkan masalah dalam
kehidupan ekonomi, sementara hukum perdata (hukum sipil) adalah
undang-undang yang mengatur hubungan moneter (yang terkait
dengan uang) di antara para individu serta hak-hak personal dan
subtantif yang mereka miliki. Atas dasar itu, doktrin (sistem)
ekonomi suatu masyarakat tidaklah sama dengan hukum sipil negara
itu (hal. 88).
Atas dasar pemikiran yang demikian, secara tegas Bagir Shadr
menyatakan akan salah sekali kalau seorang peneliti ekonomi Islam
mencoba menawarkan sekumpulan ordonansi (aturan hukum) Islam
yang berada dalam tataran hukum perdata menurut pemahaman
saat itu, sesuai dengan teks-teks yuridis dan legalnya-sebagai doktrin
ekonomi Islam. Inilah yang dilakukan oleh sejumlah penulis Muslim
ketika mereka berusaha mengkaji doktrin (sistem) ekonomi dalam
Islam, mereka bicara tentang sekumpulan hukum Islam yang
mengatur hak kepemilikan (huququl maliyyah) dan aktivitas usaha
(muamalat) seperti hukum Islam tentang jual beli, sewa menyewa,
pemalsuan, perjudian, penipuan dan lain-lain (hal.89).
Dalam tulisan ini penulis sengaja mengutip pendapat Bagir
Shadr sebagaimana terurai di atas sebagai salah satu kritik-seorang
ahli ekonomi Islam-terhadap praktik yang kita lakukan dalam rangka
membangun sebuah tatanan Hukum Ekonomi Syariah yang
diperlukan untuk keperluan praktis di dunia peradilan. Kritik ini
tidak dapat diabaikan untuk menghindari kesan bahwa yang kita
lakukan sekarang bukan membangun satu sistem ekonomi syariah
tetapi membicarakan bagaimana prinsip-prinsip ekonomi syariah
dapat diterapkan dalam penyelesaian sengketa ekonomi syariah.
Untuk memperoleh gambaran lebih jauh tentang Kompilasi Hukum
Ekonomi Syariah (KHES) secara singkat dapat dikemukakan bahwa

242
KHES tersebut terdiri atas 796 Pasal yang terbagi dalam 4 buku
masing-masing:
1. Subyek Hukum dan Amwal.
2. Tentang Akad.
3. Zakat dan Hibah.
4. Akutansi Syariah.

Kemudian masing buku terbagi dalam Bab-bab, dan untuk masing-


masing Bab terbagi lagi dalam bagian-bagian sehingga secara
keseluruhan kerangka sistematikanya adalah sebagai berikut:
BUKU I SUBYEK HUKUM DAN AMWAL.
I. Ketentuan Umum (Pasal 1).
n. Subyek Hukum.
1. Kecakapan Hukum (Pasal 2-3).
2. Pewalian (Pasal 4-16).
m. Amwal.
1. Asas Pemilikan Amwal (Pasal 17).
2. Cara Perolehan Amwal (Pasal 18).
3. Sifat Pemilikan Amwal (Pasal 19).
BUKU II TENTANG AKAD.
I. Ketentuan Umum (Pasal 20).
E. Asas Akad (Pasal 21).
DI. Rukun, Syarat, Katagori Hukum, 'Aib, Akibat dan
Penafsiran Akad.
1. Rukun dan Syarat Akad (Pasal 22-25).
2. Katagori Hukum Akad (Pasal 26-28).
3. 'Aib Kesepakatan (Pasal 29-35).
4. Ingkar Janji dan Sanksinya (Pasal 36-39).
5. Keadaan Memaksa (Pasal 40-41).
6. Risiko (Pasal 42-43).
7. Akibat Akad (Pasal 44-47).
8. Penafsiran Akad (Pasal 48-55).
IV. Bai'
1. Unsur Bai' (Pasal 56-61).
2. Kesepakatan Penjual dan Pembeli (Psal 62-67).

243
3. Tempat dan Syarat Pelaksanaan Bai (Pasal 68-
72).
4. Bai' dengan Syarat Khusus (Pasal 73-74).
5. Berakhirnya Akad Bai' (Pasal 75).
6. Obyek Bai' (Psal 76-78).
7. Hak yang berkaitan dengan Harga dan
Barang setelah Akad Bai' (Pasal 79-80).
8. Serah Terima Barang (Pasal 81-90).
V. Akibat Bai'.
1. Akibat Bai' (Pasal 9 1-99).
2. Bai' Salam (Pasal 100-103).
3. Bai' Istishna (Pasal 104-108).
4. Bai' yang dilakukan oleh orang yang sedang
menderita sakit keras (Pasal 109-lli).
5. Bai' al-Wafa (Psal 112-115).
6. Jual Beli Murabahah (Pasal 116-124).
7. Konversi Akad Murabahah (Pasal 125-133).
VI. Syirkah.
1. Ketentuan Umum Syirkah (Pasal 134-145).
2. Syirkah Al-Amwal (Pasal 146-147).
3. Syirkah Abdan (Pasal 148-164).
4. Syirkah Mufawadhah (Pasal 165-172).
5. Syirkah 'man (Pasal 173-177).
6. Syirkah Musyfarajab (Pasal 178-186).
VII. Syirkah Milk.
1. Syirkah Milk (Pasal 187-192).
2. Pemanfaatan Syirkah Milk (Pasal 193-202).
3. Hak atas Piutang Bersama (Pasal 203-2 14).
4. Pemisahan Hak Milik Bersama (Pasal 2 15-
218).
5. Syarat-Syarat Pemisahan (Pasal 2 19-225).
6. Cara Pemisahan (Pasal 226-230).
VIII. Mudharabah.
1. Syarat Mudharabah (Pasal 231-237).
2. Ketentuan Mudharabah (Pasal 23 8-254).
IX. Muzara'ah dan Musaqah.
1. Rukun dan Syarat Muzara'ah (Pasal 255-265).
2. Rukun dan Syarat Musaqah (Pasal 266-270).
X. Khiyar.
1. Khiyar Syarth (Pasal 271-274).
2. Khiyar Naqdi (Pasal 275)
3. Khiyar Ruyah (Pasal 276-278).
4. Khiyar 'Aib (Pasal 279-286).
5. Khiyar Ghabn dan Tagbrib (Pasal 287-294).
XI. Ijarah.
1. Rukun Ijarah (Pasal 295-300).
2. Syarat Pelaksanaan dan Penyelesaian Ijarah
(Pasal 301-306).
3. Uang Ijarah dan Cara Pembayarannya (Pasal
307-308).
4. Penggunaan Obyek Ijarah (Pasal 309-311).
5. Pemeliharaan Obyek Ijarah, Tanggung Jawab
Kerusakan dan Nilai serta Jangka Waktu
Ijarah (Pasal 312-314).
6. Harga dan Jangka Waktu Ijarah (Pasal 315-
317).
7. Jenis Barang yang diijarahkan (Pasal 318).
8. Pengembalian Obyek Ijarah (Pasal 319-320).
9. Ijarah Muntahiyah bit Tamlik (Pasal 321-328).
10. Sunduq Hifzi Ida'/Safe Deposit Box (Pasal
329-333).
XH. Kafalah.
1. Rukun dan Syarat Kafalah (Pasal 334-340).
2. Kafalah Muthalaqah dan Muqayyadah (Pasal
34 1-345).
3. Kafalah atas Diri dan Harta (Pasal 346-353).
4. Pembebasan dan Akad Kafalah (Pasal 354-
360).
XHI. Hawalah.
1. Rukun dan Syarat Hawalah (Pasal 36 1-364).
2. Akibat Hawalah (Pasal 365-371).

245
XIV. Rahn.
1. Rukun dan Syarat Rahn (Pasal 372-375).
2. Penambahan dan Penggantian Harta Rahn
(Pasal 376-379).
3. Pembatalan Akad Rahn (Pasal 380-384).
4. Rahn Harta Pinjaman (Pasal 385).
5. Hak dan Kewajiban dalam Rahn (Pasal 386-
400).
6. Hak Rahin dan Murtahin (Pasal 397-400).
7. Penyimpanan Harta Rahn (Pasal 401-405).
8. Penjualan Harta Rahn (Pasal 406-412).
XV. Wadi'ah.
1. Rukun dan Syarat Wadi'ah (Pasal 413-416).
2. Macam Akad Wadi'ah (Pasal 417-418).
3. Penyimpanan dan Pemeliharaan Wadiah Bih
(Pasal 419-427).
4. Pengembalian Wadi'ah Bih (Pasal 428-433).
XVI. Gashb dan Itlaf.
1. Rukun dan Syarat Gashb (Pasal 434-444).
2. Perampasan benda tetap (Pasal 445-447).
3. Merampas Harta Hasil Rampasan (Pasal 448-
449).
4. Perusakan harta secara langsung (Pasal 450-
453).
5. Perusakan harta secara tidak langsung (Pasal
454-455).
XVII. Wakalah.
1. Rukun dan Macam Wakalah (Pasal 45 6-460).
2. Syarat Wakalah (Pasal 46 1-463).
3. Ketentuan Umum tentang Wakalah (Pasal
464-473).
4. Pemberian kuasa untuk pembelian (Pasal 474-
490).
5. Pemberian kuasa untuk penjualan (Pasal 491-
511).
6. Pemberian kuasa untuk gugatan (Pasal 512-
514).
7. Pencabutan kuasa (Pasal 515-524).
XVIII. Shuth.
1. Ketentuan Umum Shuth (Pasal 525-528).
2. Penggantian Obyek Shuth (Pasal 529-531).
3. Gugatan dalam Shuth (Pasal 532-543).
XIX. Pelepasan Hak (Pasal 544-552).
XX. Ta'min.
1. Ta'min dan I'adah Ta'min (Pasal 553-558).
2. Akad Mudharabah Musyatarakah pada
Ta'min dan Iadah Ta'min (Pasal 559-564).
3. Akad non Tabungan pada Ta'min dan I'adah
Ta'min (Psal 565-57 1).
4. Ta'min Haji (Pasal 572-573).
XXI. Obligasi Syariah Mudharabah (Pasal 574-579).
XXn. Pasar Modal.
1. Prinsip Psar Modal Syariah (Pasal 580-)
2. Emiten yang menerbitkan Efek Syariah (Pasal
581).
3. Transaksi Efek (Pasal 582-5 83).
XXIII. Reksadana Syariah.
1. Mekanisme Kegiatan Reksadana Syaraih
(Pasal 584).
2. Hubungan, Hak dan Kewajiban (Pasal 585-
588).
3. Pemulihan dan Pelaksanaan Investasi (Pasal
589-592).
4. Penentuan dan Pembagian hasil Investasi
(Pasal 593-599).
XXIV. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBI
Syariah) (Pasal 599-603).
XXV. Obligasi Syariah (Pasal 604-607).
XXVI. Pembiayaan Multijasa (Pasal 608-6 10).

247
XXVII. Qardh.
1. Ketentuan Umum Qardh (Pasal 611-615).
2. Sumber Dana Qardh (Pasal 616).
XXVIII. Pembiayaan Rekening Koran Syariah (Pasal 6
17-625).
XXIX. Dana Pensiun Syariah.
1. Jenis dan Status Hukum Dana Pensiun
Syariah (Pasal 626-627).
2. Pembentukan dan Tatacara Pengesahan
(Pasal 628-633).
3. Kepengurusan dana Pensiun Syariah
(Pasal 634-638).
4. Iuran Dana Pensiuan Syariah (Pasal 639-
642).
5. Hak Peserta (Pasal 643-651).
6. Kekayaan Dana Pensiun Syariah dan
Pengelolaannya (Pasal 652-655).
7. Pembubaran dan Penyelesaian Dana
Pensiun (Pasal 656-662).
8. Dana Pensiun Lembaga Keuangan
Syariah (Pasal 663-668).
9. Pembinaan dan Pengawasan.
BUKU III ZAKAT DAN HIBAH.
I. Ketentuan Umum (Pasal 675)
II. Ketentuan Umum Zakat (Pasal 676).
III. Harta yang wajib dizakati.
1. Zakat Emas dan Perak (Pasal 677).
2. Zakat uang dan yang senilai dengannya
(Pasal 678).
3. Zakat Barang yang memiliki Nilai Ekonomis
dan Produksi (Pasal 679-681).
4. Zakat Tanaman dan buah-buahan (Pasal 682).
5. Zakat Pendapatan (Pasal 683).
6. Zakat Madu dan sesuatu yang dihasilkan dan
binatang (Pasal 684).

248
7. Zakat Profesi (Pasal 685).
8. Zakat Barang Temuan dan Barang Tambang
(Pasal 687).
9. Zakat Fitrah (Pasal 688).
10. Mustahik Zakat (Pasal 689).
11. Zakat dan Pendistribusiannya (Pasal 690).
IV. Hibah.
1. Rukun Hibah dan Penerimaannya (Pasal 692-
710).
2. Persyaratan Akad Hibah (Pasal 711-715).
3. Menarik Kembali Hibah (Pasal 7 16-730).
4. Hibah orang yang sedang sakit keras (Pasal
731-734).
BUKU IV AKUNTANSI SYARTAH.
I. Cakupan Akuntansi Syariah (Pasal 735-743).
II. Akuntansi Piutang (Pasal 744-747).
III. Akuntansi Pembiayaan (Pasal 748-77 1).
IV. Akuntansi Kewajiban (Pasal 772-787).
V. Akuntansi Investasi Tidak Terikat (Pasal 788-790).
VI. Akuntansi Equitas (Pasal 79 1-794).
VII. Akuntansi Zis dan Qardh (Pasal 795-796).

Demikian secara keseluruhan substansi materi dan "Kompilasi


Hukum Ekonomi Syariah". Disadari sepenuhnya bahwa substansi
materi jauh dari sempurna, namun dtharapkan dapat memberikan
kontribusi awal bagi para Hakim yang memeriksa dan mengadili
perkara Ekonomi Syariah. Untuk itu para Hakim sesuai dengan
fungsinya dapat menggali lebih jauh prinsip hukum yang berkaitan
dengan persoalan tersebut untuk penyempurnaannya.
Secara akademik naskah "Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah"
perlu untuk lebih disempurnakan baik ditinjau dan konsep-konsep
hukum maupun konsep ekonomi yang mendasarnya, sehingga
bagaimanapun kajian ilmiah terhadap naskah ini masih perlu
dilakukan.

249
Namun terlepas dari semua itu, ditetapkannya Peraturan
Mahkamah Agung No. 02 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum
Ekonomi Syariah ini diharapkan dapat lebih mendorong
perkembangan ekonomi syariah yang lebih baik di negara kita,
paling tidak untuk memenuhi "ruang-ruang kosong" dalam
pengaturan tentang ekonomi syariah pada saat ini.

Jakarta, 15 September 2008.


D A FT A R K E P U S T A K A A N

ABBAS, ANWAR, Bung Hatta & Ekonomi Islam, Pergulatan


Menangkap Makna Keadilan dan Kesejahteraan, LP3EM STIE
Ahmad Dahlan, Jakarta 2008.
ABDURRAHMAN, Kompilasi Hukum Islam Indonesia Antara
Harapan dan Kenyataan. Makalah untuk Simposiuin Islam dan
Kebudayaan Indonesia, Dulu, Kini dan Esok, Jakarta 21-
24 Oktober 1991.
ABDURRAHMAN, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Penerbit
Akademika Pressindo, Jakarta 1992.
ABDURRAHMAN, Eksistensi Perbankan Syariah Dalam Pembmaan
Ekonomi Umat, dalam Abdurrahman et.al, Prospek Batik
Syariah di Indonesia, Pusat Pengkajian Hukum Islam dan
Masyarakat (PPHIM) Kantor Perwakilan Jawa Barat, Bandug
2005.
ABDURRAHMAN, Menyongsong Pelaksanaan Kewenangan Baru
Pengadilan Agama di Indonesia, Orasi Ilmiah dalam Acara
Pembukaan Kuliah Baru Fakultas Syariah IAIN Antasari
Banjarmasin, 4 September 2006.
ABDURRAHMAN, Peradigma Baru tentang Kewenangan Peradilan
Agama di Indonesia, Makalah pada Seminar dalam Rangka
Rapat Kerja para Dekan Fakultas Syariah seluruh Indonesia,
Banjarmasin 19 September 2006.
ABDURRAHMAN, Menyambut Kewenangan Baru Pengadilan
Agama, Kuliah Umum pada Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Palangkaraya, 13 Desember 2006.
ABDURRAHMAN, Kewenangan Pengadilan Agama di Bidang
Ekonomi Syariah, Makalah pada Sosialisasi Undang-Undang
No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-Undang Peradilan
Agama, Pengadilan Tmggi Agama Medan, 22-23 Desember 2006.
ABDURRAHMAN, Masalah-Masalah Hukum Dalam Pelaksanaan
Ekonomi Syariah, Makalah pada Rapat Kerja Kelompok Perdata
Agama Mahkamah Agung RI, Cisarua Bogor 16-17
Maret 2007.

251
ABDURRAHMAN, Kewenangan Peradilan Agama Dalam Bidang
Hukum Keluarga di Indonesia, Makalah pada Seminar
Internasional Hukum Keluarga dan Muamalat, Kerjasama
Fakultas Syariah IAIN Antasari Banjarmasin dengan Jabatan
Syariah Fakulti Pengkajian Islam, Universitas Kebangsaan
Malaysia, 12-13 Februari 2007.
ABDURRAHMAN, Perkembangan Peraturan Perundang-undangan
Perbankan di Indonesia, Makalah pada Seminar Hukum
Perbankan, Pusat Kajian Hukum dan Ekonomi (PK2HE) dan
Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) Cabang Sukohardjo, Surakarta
16 Februari 2008.
ABDURRAHMAN, Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah,
Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Antasari,
Banjarmasin 2008.
ABDURRAHMAN, Kewenangan Peradilan Agama di Bidang
Ekonomi Syariah: Tantangan masa yang akan datang, Suara
Uldilag Vol 3 No. XII Maret 2008.
ABDURRAHMAN, Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah,
Pengadilan Tinggi Agama Palembang 2008.
ALI, H. ZAINUDDIN, Hukum Ekonomi Syariah, Penerbit Sinar
Grafika Jakarta, 2008.
AL-JAMMAL, MUHAMMAD ABDUL MUN'IM, Ensiklopedi
Ekonomi Islam, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur
1997.
ARIFIN, BUSTANUL, Kompilasi: Fiqh dalam Bahasa Undang-
Undang, Pesantren No. 2 Vol 11/1985.
ARIFIN, BUSTANUL, Pemahaman Hukum Islam Dalam Konteks
Perundang-undangan, Wahyu No. 108 Th VII Mei 1985.
BLACK, HENDRY CAMPBELL, Baick's Law Dictionary, St Paul
Minn West Publishing 1979.
DALE, VAN, VAN Dale's Handwoordenboek der Nederlandse Taal,
Martinus Nijhoff,S'Gravenhage, 1948.
DJAZULI, H.A, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Islam, Kiblat
Press, Bandung, 2002.

252
ECHOLS, JOHN M & HASSAN SHADILY, Kamus Inggris
Indonesia, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2000.
HOOKER, M.B, Indonesian Syariah Defining a National School of
Islamic Law, Institute of Southeast Asian Studies, Singapore,
2008.
HOSEN, NADIRSYAH, Shari'a & Constitutional Reform in
Indonesia, Institute of Southeast Asian Studies, Singapore 2007.
KA'BAH, RIFYAL, Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah sebagai
Sebuah Kewenangan Baru Peradilan Agama, Varia Peradilan Th
XXI No. 245, April 2006.
KA'BAH, RIFYAL, Praktik Hukum Ekonomi Syariah di Indonesaia,
Suara Uldilag, Vol 3 No. IX September 2006.
KA'BAH, RIFYAL, The Jakarta Charter and The Dynamic of Islamic
Shariah in History of Indonesian Law, Umversitas of Indonesia
School of Law Postgraduate Studies Program, 2006.
KA'BAH, RIFYAL, Islamic Law in Court Decisions and Fatwa
Instituttion in Indonesia, in R. Michael Feener & Mark E.
Canunarck (Ed). Islamic Law in Comtemporray Indonesia Ideas
and Institution, Islamic Legal Studies Program Hanvard Law
School Cambridge Masschussets, 2007.
KA'BAH, RIFYAL, Kodifikasi Hukum Islam melalui Undang-
Undang Negara di Indonesia, Suara Uldilag Vol 3 No. XII Maret
2008.
KAMALI, MOHAMMAD HASHIM, Islamic Commercial Law an
Analysis of Futures and Options, Umiah Publishers, Petaling
Jaya Selangor Malaysia, 2002.
KAMALI, MOHAMMAD HASHIM, Shari'ah Law an Introduction,
Oneworld, Oxford 2008.
KOENEN, M.J & J.B. DREWES, Wolters Woordenboek Nederlands,
Wolters Noordhaff, Groningen, 1989.
MAHKAMAH AGUNG, Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah,
Mahkamah Agung Republik Indonesia Jakarta 2008.
MANAN, ABDUL, Sistem Ekonomi Berdasarkan Syariah, Suara
Uldilag Vol 3 No. IX September 2006.

253
MANAN, ABDUL, Hukum Kontrak Dalam Sistem Ekonomi Syariah
Sebuah Kewenangan Baru Peradilan Agama, Makalah pada
Diskusi Panel Dalam Rangka Dies Natalis ke-40 Umversitas
YARSI, Jakarta 7 Februari 2007.
MANAN, ABDUL, Hukum Obligai Syariah, Suara Uldilag Vol 3 No.
XII, Maret 2008.
NAZIR, HABIB & MUHAMMAD HASSANUDDIN, Ensiklopedi
Ekonomi & Perbankan Syariah, Penerbit Kaki Langit Bandung,
2004.
PUSAT PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN EKONOMI
ISLAM (P3EI), Ekonomi Islam, PT Rajagrafmdo Persada, Jakarta
2008.
RASYID, DAUD, Indahnya Syariat Islam, Usamah Press, Jakarta
2003.
SAID, SYIHABUDDIN & MA'ZUMI, Falsafah dan Perilaku
Ekonomi Islam, Diadit Media Jakarta 2008.
SHADR, MUHAMMAD BAQIR, Buku Induk Ekonomi Islam
Iqtishaduna, Zahra Publishing House Jakarta 2008.
TIM PENYUSUN KAMUS, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka, Jakarta 1995.
WEBSTER, A. MERRIAM, Webster New Collegiate Dictionary,
G.Z.C. Merriam Co Publisher Springfield Mass USA, 1961.
WOJOWASITO, S. Kamus Umum Belanda Indonesia, Ichtiar Baru
Van Hoeve, Jakarta, 1981.
WOJOWASITO, S & WJS POERWADARMINTA, Kamus Lengkap
Inggris Indonesia - Indonesia Inggris, Hasta, Jakarta 1982.

254
SIST E M P E R A D IL A N SU D A N
Oleh:
Dr. Rifyal Ka'bah*

Pendahuluan
Upaya Indonesia dalam membangun peradilan nasional
mempunyai kemiripan dengan upaya yang dilakukan oleh beberapa
negara sahabat, antara lain Republik Sudan. Kemiripan pertama
adalah tentang keberlakuan hukum Islam sebelum kedatangan
penjajah Barat. Pada Indonesia adalah penjajah Belanda yang
berusaha menerapkan sistem Civil Law dan pada Sudan, terutama
sekali adalah penjajah Inggeris yang berusaha menerapkan sistem
Common Law. Motifnya juga mirip, yaitu memarjinalkan peranan
hukum Islam dan menggantinya dengan hukum kaum penjajah.
Kemudian, ketika muncul kesadaran nasional, kedua negara
berusaha membangun sistem hukum tersendiri dengan menjaga
hubungan yang baik antara hukum warisan kolonial dan hukum
Islam warisan nasional.

Sebelum Tahun 1956


Sistem peradilan Sudan yang ada sekarang merupakan puncak
dari sejarah hukum yang dilalui oleh negeri ini. Akarnya dimulai
sejak abad pertengahan, bahkan jauh sebelum itu. Perkembangan
tersebut dimulai dari masa Kerajaan Funji, disebut juga Kesultanan
Islam Sennar (1504-1820), dilanjutnya dengan masa pemerintahan
penjajahan Turki (1880-1899), pemerintahan al-Mahdi (1821-1885),
dan masa pemerintahan Inggeris-Mesir (1899-1956).*1 Peradilan
nasional dimulai sejak 1 Januari 1956 ketika Sudan menyatakan diri
terlepas dari kekuasaan Inggeris-Mesir.

Hakim Agung Republik Indonesia.


1 Mohammed Khalifa Hamid, Sudan & Pakistan Judicial System (Khartoum: n.p.,
2007), hal.27-30.

255
Pada masa Kesultanan Islam Sennar, pengadilan tertinggi
disebut Mahkamah al- 'Umum (Court of Common) dan pengadilan yang
berada di bawahnya disebut Mahkamah Syar'iyah. Hukum Islam yang
diterapkan adalah mengikuti mazhab Maliki. Di antara hakim-hakim
yang terkenal pada masa ini tersebut nama Hakim Dishin dan Hakim
Alaraki.
Di zaman pemerintahan Turki, Mahkamah Agung masih disebut
Mahkamah al-'Umum, tetapi hukum yang diterapkan mengikuti
mazhab Hanafi sesuai mazhab yang berlaku di seluruh wilayah
Turki Usmani. Selain itu, ibukota negara dipindahkan dan Sennar ke
Wad Madani, dan akhirnya Khartoum.
Selanjutnya dalam pertempuran Skekan, Muhammad Ahmad al-
Mahdi (meninggal 1885) berhasil mengusir pemerintahan Turki. Al-
Mahdi memulai pemerintahan baru garis keras dengan
mengumumkan Syari'at Islam sebagai hukum negara. Ia membuat
kompilasi hukum yang disebut al-Mansyurat al-Mahdiyyah (The
Mahdi Circular) serta memindahkan ibukota dari Khartoum ke
Omdurman. Mahkamah Agung disebut Mahkamah al-Islam dan
peradilan di bawahnya mempunyai kompetensi tertentu seperti
Pengadilan Pasar dan Pengadilan Militer. Al-Mahdi sebagai kepala
negara mengangkat dan memberhentikan hakim. Di zamannya, al-
Mahdi telah mengangkat dua Ketua Mahkamah Agung berturut-
turut. Pertama adalah Qadhi al-Islam (Ketua MA) Ahmad Ali yang
menjabat selama 12 tahun. Setelah meninggal di penjara, ia
digantikan oleh Hussain Wad Zahra.2
Masa Inggeris-Mesir disebut sebagai pemerintahan bilateral
berdasarkan kesepatakan antara kedua negara Inggeris dan Mesir
pada tanggal 19 Januari 1899 yang disebut Condominium Agreement.
Di antara isi perjanjian tersebut dinyatakan bahwa hukum Mesir
tidak akan diberlakukan di Sudan dan syari'at Islam priode al-Mahdi
dinyatakan tidak berlaku. Untuk mengisi kekosongan, pemerintah
jajahan mengimpor hukum Inggeris yang berlaku di anak benua
India, baik perdata maupun pidana.

2 Ibid., hal. 29-39.

256
Pengadilan di zaman Inggeris-Mesir terbagi dua. Pertama
adalah Bagian Sipil dan yang kedua Bagian Syariah.3 Bagian Sipil
terdiri dan perdata dan pidana dipimpin oleh Ketua Mahkamah
Agung berkebangsaan Inggeris sampai tahun 1956. Bagian Sipil
menerapkan hukum acara perdata dan pidana Inggeris di India dan
hukum substantif menerapkan murru hukum Inggeris.
Sedangkan Bagian Syariah diketuai oleh the Grand Qadhi atau
Qadhi al-Qudhat yang diisi oleh orang Mesir sampai, tahun 1947.
Kewenangannya terbatas dalam bidang Hukum Pribadi (al-Ahwal
ash-Shakhshiyyah) berdasarkan mazhab Hanafi. Istilah Hukum
Pribadi, menurut Syekh Mustafa Zarqa' dan Suri a, tidak berasal dari
perbendaharaan hukum Islam, tetapi dari hukum Perancis.
Kewenangannya menyangkut masalah perkawinan, perceraian,
keturunan, penyusuan, hadhanah, perwalian, warisan dan
sejenisnya. Hukum acaranya diatur berdasarkan Ordonansi Hukum
Islam Tahun 1902 (The Mohammadan Law Court Odinance o f 1902).
Kedua bagian pengadilan ini berada di bawah Sekretaris Hukum
yang merupakan salah seorang anggota Majelis Gubernur Jenderal
(Governor-General's Council) yang memerintah Sudan. Dewan ini
dibentuk pada tahun 1910. Gubernur Jenderal mempunyai tiga orang
sekretaris. Sekretaris pertama menangani masalah sipil, sekretaris
kedua masalah keuangan, dan sekretaris ketiga masalah hukum.
Sekretanis I bertugas dalam bidang pelayanan administrasi
seperti kesehatan, pendidikan, pertanian, kehutanan, pemerintahan
daerah, administrasi bumi putera, polisi, penjara polisi, penerbangan
sipil dan perburuhan. Sekretaris II menangani auditing, pabean,
irigasi, perkeretaapian dan lain-lain. Sedangkan Sekretaris III
mengurus masalah legislasi, peradilan, pertanahan dan pencatatan
tanah.4 Ketiga sekretaris ini berperan seolah-olah menteri koordinator
dalam sebuah kabinet yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal.
Kekuasaan penuh Gubemur-Jenedral adalah berdasarkan Perjanjian
Kondominium (Condominium Agreement) 19 Januari 1899 yang
memberi kuasa Inggeris untuk menunjuk seorang perwira Inggeris

^ Mohamed Ibrahim Mohamed, History o f Sudan Judiciary Between Two Eras 1899-
2006 (Khartoum: The National Judiciary, the Republic of Sudan, 2008), hal. 39.
4 Ibid, hal. 15.

257
sebagai Gubernur Jenderal yang memegang kepemimpinan militer
dan politik serta mengendalikan kekuasaan eksekutif dan legislatif.
Berdasarkan Pasal 5 Ordonansi Peradilan Sipil Tahun 1900 (The
Civil Judiciary Ordinance of 1900), maka urutan Peradilan Sipil terdiri
Pengadilan Komisioner (Courts of the Judicial Commissioner) sebagai
Mahkamah Agung, Pengadilan Kelas I Magistrate, Pengadilan Kelas
II Magistrate, dan Pengadilan Kelas III Magistrate.
Dengan kekuasaan yang diberikan oleh Gubemur-Jenderal,
Pengadilan Komisioner berwenang mengatur hukum acara
peradilan, membentuk peradilan khusus, menggugat para pihak,
menentukan biaya perkara, mengangkat pengacara, menetapkan
saksi-saksi dan lain-lain.
Pada tahun 1906, Sir Auction Colvin, penguasa tertinggi Inggeris
di Mesir, menjadikan Pengadilan Komissioner menjadi Departemen
Para Hakim Sipil (the Departement of Civil Judges) sebagai pengadilan
banding. Ketua Mahkamah Agung disebut Chief Judge (Ketua
Hakim). Berdasarkan Ordonansi Tahun 1915, Mahkamah Agung
(High Court) terdiri dari Pengadilan Banding (Court of Appeal) dan
Pengadilan Tingkat Pertama (Court of the Original Jurisdiction).
Dengan demikian, Pengadilan Komisioner dan Pengadilan Kelas I, II,
dan III Magistrate dinyatakan hapus. Ketua Mahkamah Agung (High
Court) disebut Chief-Justice.
Pada masa kolonial, hakim yang diangkat Pemerintah pada
umumnya adalah hakim darurat berasal dari profesi militer atau
administrarif, dan sedikit sekali yang merupakan hakim profesional.

Setelah Tahun 1956


Sistem peninggalan Inggeris-Mesir berlanjut sampai ke masa
kemerdekaan tahun 1956 dengan berbagai penyesuaian penting,
antara lain melalui proses sudanisasi dan islamisasi di Sudan. Proses
sudanisasi, intinya adalah mengganti aparat peradilan, terutama
hakim, dengan tenaga-tenaga asli Sudan dan mengganti administrasi
peradilan dengan yang lebih berciri Sudan serta menggunakan
bahasa Arab. Sedangkan proses islamisasi adalah memperbaiki
sistem dan perundang-undangan sehingga lebih sejalan dengan
syari'at Islam.

258
Dalam Konstitusi Sementara Sudan yang diberlakukan oleh
Majelis Komando Revolusi pada bulan Agustus 1973 dinyatakan
bahwa kekuasaan kehakiman adalah badan yang independen dan
terpisah dari badan eksekutif dan legislatif. Lembaga peradilan
berada di bawah kekuasaan Ketua Mahkamah Agung. Hal yang
mirip juga dicantumkan dalam Konstitusi Transisi Sudan Tahun
1985, Konstitusi Sudan Tahun 1998, dan Konstitusi Sudan Tahun
2005.
Peradilan Sipil (Perdata), diatur dalam Ordonansi Peradilan
Sipil, mempunyai satu Pengadilan Tinggi (High Court of Justice,
Mahkamah Agung) dan beberapa Pengadilan Propinsi (Provincial
Courts). Sedangkan Peradilan Pidana dengan KHUP dan
KUHAPidana mempunyai beberapa Pengadilan Besar (Major Courts),
Pengadilan Kecil (Minor Courts) dan Pengadilan Magistrate
{Magistratrate 's Courts).
Sementara itu masalah hukum personal atau keluarga warga
beragama Islam dilaksanakan oleh Mahakim Syar'iyyah yang
merupakan bagian dari kekuasaan kehakiman di Sudan. Setelah UU
Hukum Personal atau Keluarga Tahun 1991, Mahakim Syar'iyyah
(Mahkamah Syar'iyah) disebut sebagai Mahakim al-Ahwal ash-
Shakhshiyyah (Pengadilan Hukum Personal atau Keluarga) karena
kewenangannya yang menyangkut masalah personal atau keluarga.
Pengadilan Hukum Personal atau Keluarga terdiri dari sebuah
Mahkamah Banding (Court of Appeal), beberapa Pengadilan Tinggi
(High Courts) dan Pengadilan Qadhi (Qadhi Courts). Pengadilan ini
berada di bawah seorang Qddhi al-Qudhat (Grand Qadhi).5
Selain itu, Sudan juga pernah mengenal jabatan Mufti yang
merangkap sebagai hakim agung. Dalam keadaan Qadhi al-Qudhat
berhalangan, maka Mufti menggantikan peranan Qadhi al-Qudhat.
Tugasnya adalah menerbitkan fatwa (legal oponion) berdasarkan
hukum Islam untuk kepentingan negara dan masyarakat.6 Jabatan
Mufti berlanjut sampai tahun 1991, ketika disahkan UU Hukum

Inamullah Khan (Editor in Chief), Muslim World Gazetter (Karachi: Umma


Publication, 1975 Edition), hal. 759.
^ Mohamed Ibrahim Mohmamed, op.rit., hal. 49.

259
Pribadi atau Keluarga.7 Fungsi Mufti kemudian digantikan oleh
Lembaga Hukum Islam (Majma' al-Fiqh al-Islami) yang dibentuk
berdasarkan Undang-undang.
Berdasarkan UU Pokok-Pokok Kahakiman (The Judiciary Act)
1986, UU Hukum Acara Perdata (The Civil Procedure Act) 1983, dan
UU Hukum Acara Pidana (The Criminal Procedure Act) 1991, Ketua
Mahkamah Agung Sudan mengepalai dua lembaga sekaligus, yaitu
Mahkamah Agung /The Supreme Court, dan Majelis Tinggi
Peradilan/ The Supreme Council of Judiciary sebagai Komisi Yudisial.
Ketua Mahkamah Agung sebagai puncak kekuasaan kehakiman
dengan mengepalai peradilan, bidang administrasi dan bidang
keuangan.8
Mahkamah Agung mempunyai 70 hakim agung. Majelis Hakim
Agung bersidang dengan tiga hakim. Putusan diambil berdasarkan
suara terbanyak. Putusan yang sudah diambil tidak dapat direvisi,
kecuali bila Ketua Mahkamah Agung melihat sesuatu menyangkut
hukum syari' at sehingga dibentuk majelis baru beranggotakan 5
orang hakim agung yang meninjau kembali putusan yang sudah
diambil.
Hakim Agung diangkat oleh Presiden berdasarkan usulan
Majelis Tinggi Peradilan yang dipilih dari kalangan hakim tinggi dan
profesi lainnya dengan kualifikasi serta syarat-syarat yang
ditetapkan oleh Undang-undang.
Majelis Tinggi Peradilan yang diketahui KMA beranggotakan
Wakil-Wakil KMA, 2 orang ketua pengadilan, Menteri Kehakiman
dan Keuangan mewakili eksekutif, dan 2 orang pejabat tinggi yang
menangangi fungsi keuangan dan peradilan. Sekretaris Majelis
adalah salah seorang hakim agung. Majelis Tinggi Peradilan
mempunyai empat devisi, yaitu kesekretariatan, inspeksi peradilan,
statistik peradilan dan personalia.9

Islamisasi Hukum

7 Ibid., hal. 48.


g
http://www. sudanjudidary. org/judidariye3n/16. htm
^ Passim

260
Penerapan hukum Islam di luar hukum keluarga dimulai pada
masa pemerintahan Presiden Numeiri yang mengumumkan
pemberlakuan hukum pidana Islam pada bulan September 1983
menyangkut hudud.10 Untuk itu Numeiri membentuk sebuah komite
yang mempersiapkan UU Hukum Pidana 1983, UU Hukum Perdata,
UU Hukum Personal atau Keluarga dan beberapa UU Hukum
Acara.11 Berbagai UU ini kemudian dinyatakan berlaku, merevisi
berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelumnya.
Setelah diterapkan selama satu tahun atau lebih ternyata
menimbulkan berbagai kritikan dari kalangan penantang dan
pendukung pidana Islam. Kritikan tersebut pada dasarnya karena
sifat ketergesa-gesaan pembuatan perundang-undangan, minimnya
penelitian ilmiah yang memadai,12 sumber daya yang terbatas dan
lain-lain. Kritikan dari pihak penantang, terutama dari pihak Gereja
di wilayah Selatan dan kekuatan Barat, dengan berbagai dalih, antara
lain karena Sudan pada dasarnya adalah sebuah negara multi agama
dan budaya, khususnya di wilayah Selatan yang lama bergolak
sampai akhirnya dicapai perjanjian perdamaian.13
Fase kedua penerapan hukum Islam dalam bentuk yang lebih
luas dilakukan pada tahun 1991 di bawah kepemimpinan Presiden
'Umar Basyir dengan merevisi beberapa pasal berbagai undang-
undang yang diundangkan selama Presiden Numeiri. Penekanan
pada fase revisi mi tidak hanya dalam bidang penengakan hukum,
tetapi lebih-lebih lagi dalam bidang pendidikan dan ekonomi,
dengan tujuan membentuk warga negara yang berkemampuan

Rifyal Ka'bah, "Penerapan Syari'at Islam di Sudan", dalam majalah Panji


Masyarakat No. 414 Tahun 1983, hal. 46-47; "Dr. at-Turabi dan Hukum Islam di
Sudan" dalam majalah Panji Masyarakat No. 420, Tahun 1984, hal. 42-45; "Mengapa
Langkah Sudan Tidak Diikuti di Mesir" dalam majalah Panji Masyarakat No. 463
Tahun 1984, hal. 53-54.
11 Muhammad Khair Hassab el-Rasoul Ahmed, "Current Development of
Shariah Law in Sudan" dalam Najm, Muhammad Amin M.M.A. Najim, al-Qadhd' wa
Syuruth al-Qadha' wa Atsaru Tathbiqihifi al-Manilakah al-'Arabiyyah as-Sa'udiyyah, tanpa
tahun dan tanpa penebit, hal. 11.
12 Ibid., hal. 45-46.
13 Carolyn Fluehr-Lobban, "Sudan" dalam John L. Esposity (Editor in Chief), The
Oxford Encyclopeida o f the M odem Islamic World, Vol. 4 (Oxford, New York: Oxford
University Press, 1995), hal. 101.

261
dalam bidang ilmu pengetahuan dan ekonomi sehingga pada masa
depan tidak ada alasan untuk menangguhkan pelaksanaan hukum
pidana hudud.14

Perkembangan Mutakhir
Sudan terus merevisi perundang-undangan warisan kolonial­
nya, terutama untuk menserasikannya dengan syari' at Islam sesuai
perintah berbagai UUD. Selain KUHP, KUHPidana dan
KUHEkonomi, Sudan juga menjalankan sistem perbankan syariah.
Sengketa ekonomi syariah di Sudan, termasuk perbankan,
diselesaikan melalui Pengadilan Perdagangan (al-Mahkamah at-
Tujariyyah).
Perkembangan lain adalah berdirinya beberapa lembaga baru
yang dibentuk berdasarkan undang-undang. Salah satunya adalah
Hay 'ah ar-Ricjabah asy-Syar'iyah (Lembaga Pengawasan Syari'ah) yang
berkedudukan di tingkat pusat dan pada lembaga-lembaga ekonomi.
Di samping pengawasan syari'ah, lembaga ini juga bertugas meneliti
peraturan perundang-undangan dan mengusulkan revisinya agar
lebih sesuai dengan syari'ah. Misalnya dalam bidang keuangan
syari'ah, bila dalam pratek sebuah lembaga keuangan masih
ditemukan riba atau bunga uang, maka riba atau bunga tersebut
tidak dibayarkan kepada pihak-pihak, tetapi disimpan dalam kas
yang akan digunakan untuk kebutuhan sosial sesuai perintah
undang-undang. Bila lembaga menemukan ada celah dalam
peraturan perundang-undangan yang sehingga melahirkan riba atau
bunga, maka diusulkan perubahannya ke lembaga-lembaga terkait
pembuat undang-undang.
Lembaga lain yang cukup strategis adalah Majma' al-Fikh al-
Islami (Lembaga Kajian Hukum Islam). Lembaga ini berkeanggotaan
ganda di bidang ilmu-ilmu syari'ah konvensial dan ilmu-ilmu teoritis
dan terapan modern. Lembaga ini juga beranggotakan beberapa
hakim agung Sudan. Tugas utamanya adalah meneliti segi-segi ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan hukum Islam dan
memberikan legal opinion kepada negara dan masyarakat. Sebagai

14
Muhammad Khair Hassab el-Rasoul Ahmed, op.cit, hal. 47.

262
lembaga ilmiah, ia melakukan berbagai penelitian, menyeleng­
garakan seminar, penyuluhan, dan menerbitkan berbagai publikasi.
Suatu yang patut dicatat dan perkembangan sistem peradilan
Sudan sebagai sebuah negara yang berusaha menerapkan syari'at
Islam adalah peran wanita di lembaga peradilan. Sekarang tercatat
tidak kurang dan tujuh orang hakim agung wanita di Mahkamah
Agung Sudan. Khusus mengenai Pengadilan Hukum Pribadi atau
Keluarga, maka posisi hakim, panitera dan aparat peradilan lainnya
banyak dipegang oleh kaum wanita. Dibanding dengan negara
tetangganya Mesir yang sering dipandang lebih maju dari Sudan,
maka di sana tidak ditemukan hakim wanita, di semua jajaran
peradilan kecuali satu orang hakim konstitusi akhir-akhir ini.
Keadaan di negara-negara Arab yang lain juga tidak jauh berbeda.
Setelah perjanjian perdamaian dengan gerakan pemberontakan
di selatan, dan sesuai dengan perintah UUD Transisi 2005, maka
peraturan perundangan syari'at Islam hanya diberlakukan di
wilayah utara Sudan yang mayoritas beragama Islam. Sedangkan
untuk wilayah selatan yang minoritas muslim, maka tidak
diberlakukan pasal-pasal menyangkut hukum Islam. Sesuai
perjanjian perdamaian, di wilayah selatan akan diadakan referendum
untuk menentukan apakah wilayah ini akan tetap merupakan bagian
dari Republik Sudan ataukah akan berdiri sendiri sebagai negara
berdaulat.

Penutup
Selain kemiripan-kemiripan antara sistem Indonesia dan Sudan
yang disinggung pada Pendahuluan, juga terdapat perbedaan-
perbedaan kecil antara kedua negara. Pada konstitusi Sudan
disebutkan bahwa syari'at Islam adalah sumber utama legislasi dan
karena itu negara ini berusaha merevisi peraturan perundang-
undangannya yang tidak sesuai dengan syari'at. Sementara itu pasal
seperti itu tidak ditemukan dalam UUD 1945, walaupun di beberapa
peraturan perundang-undangan dinyatakan bahwa syari'at atau
hukum Islam adalah salah sumber hukum nasional.
Di Sudan Utara yang mayoritas beragama Islam diberlakukan
syari'at Islam melalui perundang-undangan, sementara itu di Sudan

263
Selatan yang mayoritas non-muslim tidak diberlakukan syari'at
tersebut. Pada pihak lain, Propinsi Aceh sebagai propinsi otonomi
khusus di Indonesia memberlakukan syari'at Islam secara terbatas
berdasarkan Qanun Aceh melebihi hukum Islam yang diterapkan
melalui Peradilan Agama yang ada.
Di Indonesia, syari'at Islam diterapkan melalui kewenangan
Peradilan Agama dan Mahkamah Syar'iyah, sementara itu di Sudan
diterapkan melalui Peradilan Hukum Keluarga, Peradilan Hukum
Perdata dan Peradilan Hukum Pidana, dengan pengecualian di
wialayah Selatan.
Segi lain adalah, Ketua Mahkamah Agung Sudan yang
merangkat sebagai Ketua Komisi Yudisial (Majelis Tinggi Peradilan),
yang berbeda dengan Indonesia di mana Komisi Yudisial berdiri
terpisah dan Mahkamah Agung.

Jakarta, 20 Agustus 2008

264
R EA L IT A D A N PR O S P E K P E N E G A K A N H U K U M
D I IN D O N E S IA
Oleh:
Dr. Artidjo Alkostar, SH, LLM.*

1. Fenomena Perubahan Paradigma Hukum


Perubahan pemerintahan dan orde baru kepada era
reformasi, diikuti pula oleh fenomena perubahan banyak
perangkat hukum dan munculnya beberapa hukum baru yang
berbeda paradigmanya. Karakter dan banyak perangkat hukum
yang dilahirkan pada masa orde baru berwatak represif,
feodalistik dan berparadigma kekuasaan. Sedangkan dalam era
reformasi, karakter produk hukumnya banyak mengadopsi
nilai-nilai hak asasi manusia (HAM) dan bersprit demokrasi.
Secara konstitusional negara kita dengan tersurat telah
dengan tegas berpredikat neqara hukum, konsekuensi yuridisnya
dalam penyelenggaraan negara, supremasi hukum harus tercermin
dan menjadi indikator dalam mekanisme, prosedur dan operasionalisasi
kehidupan rakyat dan mekanisme kenegaraan. Baik itu yang
menyangkut eksistensi kemerdekaan berpendapat, jaminan
perlindungan jiwa, harta benda maupun keturunan. Begitu pula
jaminan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, serta
penegakan keadilan dan perlindungan bagi seluruh rakyat.
Perlindungan hukum merupakan salah satu syarat tegaknya
eksistensi suatu pemerintahan dalam suatu negara.
Negara hukum dalam perspektif ketatanegaraan RI,
mencakup pengertian adanya landasan struktural
penyelenggaraan pemerintahan menurut sistem ketatanegaraan
sebagaimana yang digariskan dalam UUD 1945. Yang di
dalamnya, antara lain diluangkan jaminan perlindungan hukum
atas hak-hak dan kewajiban segenap warga negara dengan tanpa
diskriminasi dan tanpa kecuali (vide pasal 27 ayat 1 UUD 1945).
Dalam arti pula, setelah berlakunya UUD 1945 ada lonjakan

* Hakim Agung Republik Indonesia.

265
paradigmatik dalam perombakan struktural secara formal
terhadap ketentuan perundangan yang feodalistis diskriminatif
(pasal 163 IS) yang berlaku sebelum proklamasi kemerdekaan.
Secara substansial terlihat adanya hubungan korelasional
antara esensi sistem ketatanegaraan RI yaitu tegaknya
demokrasi dengan keadilan serta tegaknya martabat dan hak
asasi manusia. Jalinan korelasi tersebut sekaligus menunjukkan
kesalingterkaitan antara faktor tersebut. Konotasinya, tegaknya
hukum dan keadilan menuntut syarat terwujudnya demokrasi
yang sehat. Sedangkan tegaknya hak asasi dan martabat
kemanusiaan baru dimungkinkan manakala hukum dan
keadilan dalam berbagai dimensiya (poleksosbud) dapat
ditegakkan.
Hukum dalam aplikasi sosialnya, ada beberapa jenis
hukum, antara lain, hukum negara, hukum agama, hukum adat,
hukum rakyat, hukum yang ada dalam buku ahli hukum dan
lain sebagainya. Keadilan sebagai esensi hukum merupakan cita
ideal dan suatu komunitas masyarakat bangsa atau negara.
Paradigma hukum berkorelasi dengan hal-hal yang ada
dalam metayuridis. Bahkan landasan tujuan dari suatu Undang-
undang berasal dan hal-hal yang bukan hukum. Substansi
hukum akan mempengaruhi dan membentuk karakter hukum
yang berlaku dalam suatu negara, apakah hukum itu berwatak
kolonialis, diskriminatif rasialis, otoriter, liberal, demokratis atau
fascis. Kita dapat membedakan dengan jelas, perbedaan hukum
zaman penjajahan Belanda, Jepang, zaman kerajaan-kerajaan di
Nusantara sebelum Belanda datang, zaman revolusi
kemerdekaan, zaman orla, orba dan reformasi saat ini. Begitu
pula hukum pada masa Nazi Hitler di Jerman dan Fascis Itali
zaman Musolini berbeda dengan perangkat hukum yang ada
saat ini di Jerman dan Itali. Hal ini menunjukkan betapa dapat
dilihat adanya korelasi antara situasi kenegaraan dan karakter
hukum. Fakta historis juga menunjukkan bahwa dosa-dosa
politik suatu rezim di suatu negara dapat diaudit melalui
produk hukum yang pernah diberlakukan oleh rezim di negara
tersebut.

266
John Stuart Mill mengatakan bahwa benkan setiap individu
hak kebebasan, maka ia akan mencapai kebahagiaannya dan
hukum yang baik menurut Mill adalah hukum yang
memberikan kebebasan maksimal bagi individu. Implementasi
dan watak hukum gagasan Mill ini memunculkan
individualisme dalam bidang sosial, "Laissez Faire" dalam
perekonomian, dan liberalisasi dalam bidang politik. Sedangkan
Jeremy Bentham lebih menekankan kepada kewajiban-
kewajiban individu dan kebersamaan dalam masyarakat dalam
upaya mencapai kebahagiaan.
Pada masa orde baru, perangkat hukum di Indonesia dalam
bidang ekonomi berwatak sangat liberal sehingga menghasilkan
kapitalisme kroni, sedangkan dalam bidang politik perangkat
hukum berwatak represif. Iklim kenegaraan dengan perangkat
seperti ini menempatkan rakyat pada posisi rentan secara
ekonomi dan tertekan secara politik. Rakyat berada pada posisi
di persimpangan jalan tol ekonomi yang sangat riskan karena
kelompok kecil ekonomi kuat selalu berpotensi melindas
kelompok besar rakyat berekonomi lemah. Sedangkan jalan
yang satunya adalah jalan yang penuh ranjau yang sangat
berbahaya bagi rakyat yang kritis yang setiap saat bisa di cap
subversi, anti pembangunan dan lain sebagainya.
Pada era reformasi saat ini pembangunan hukum masih
dikelola dengan manajemen supermarket yang mengkotak-
kotakkan pembentukan hukum yang satu dengan yang lain.
Hasilnya antara hukum yang satu dengan yang lain tidak ada
tali sumbu yang mengikat. Bahkan antara hukum yang satu
dengan yang lain tidak bersesuaian dan bertentangan. Rumitnya
pembangunan hukum saat ini tidak hanya terjadi pada level
LOGOS, tetapi juga pada level KOSMOS dan TEKNOLOGOS,
sehingga rakyat sebagai konstituen pendukung selalu
menanggung dampak negatif dan menjadi korban ketidakadilan
hukum.
Cita ideal dari dalil moral yang melatarbelakangi UU No. 18
Tahun 2003 tentang Advokat menuntut adanya semangat
kejuangan dan komunitar advokat dalam upaya menuju dan

267
mencapai dataran idaman yaitu profesi advokat yang bebas,
mandiri dan bertanggung jawab, untuk terselenggaranya
peradilan yang jujur, adil dan memiliki kepastian hukum bagi
semua pencari keadilan dalam menegakkan hukum, kebenaran,
keadilan dan hak asasi manusia. Penegasan hubungan
korelasional antara keberasaan jaminan dan perlindungan
hukum bagi advokat dengan terselenggaranya upaya penegakan
supremasi hukum merupakan komitmen keberadaan UU No. 18
Tahun 2003 yang memiliki konsekuensi etis bagi peran advokat
di dalam masyarakat.
Beberapa perangkat aturan hukum yang bermuatan HAM
antara lain Tap MPR Nomor: XVII/II/MPR/1998 tentang Hak
Asasi Manusia, UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia, UU No. dan Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi
Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap
Wanita (CEDAW = Convention on the Elimination of All form of
Discrimination Against Woman), UU No. 5 Tahun 1998 tentang
Pengesahan Kovensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau
Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau
Merendahkan Martabat Manusia. Begitu pula beberapa pasal
dalam amandemen UUD 1945 yang memuat tentang
HAM.
Dalam era globalisasi dewasa ini, masyarakat bangsa di
dunia di samping menghadapi beberapa perkembangan
fenomena sosial dan hukum yang global seperti hak asasi
manusia, konvensi-konvensi internasional, juga pada saat yang
sama muncul kejahatan-kejahatan yang berdimensi internasional
seperti misalnya "Cyber Crime", penipuan melalui internet,
mematuk perusahaan raksasa MNC, narkotika, korupsi dan
lain-lain. Begitu pula dengan adanya undang-undang anti suap
OECD (Organization for Enonomic Cooporation and
Development) yang terdiri dari negara Jepang, Amerika Serikat
(AS), Inggris, Perancis, Kanada, Italia dan Jerman, yang akan
mengawasi dan memberi sanksi pada koruptor di negara yang
mendapat bantuan dana proyek dan OECD. Lebih dari itu,
masyarakat internasional secara resmi telah menyatakan perang

268
terhadap korupsi yaitu dengan ditandatanganinya Konvensi
Internasional Anti Korupsi di Meksiko, 9 - 1 1 Desember 2003.
Fenomena lain yang muncul dalam bentuk kejahatan yang
bersifat transnasional adalah kejahatan Pencucian Uang dan
Narkotik. Banyak kejahatan narkotik di Indonesia dilakukan
oleh orang asing antara lain dari Benua Afrika, atau orang asing
tersebut bekerjasama dengan orang Indonesia. Bahkan ada
wanita Indonesia " d ip a c a r i " oleh orang asing tersebut dan
kemudian dijadikan " a g e n " atau penjual narkotik. Dalam
hubungan yang demikian penerapan ancaman dengan batasan
minimal maksimal menuntut kecermatan agar tidak terjadi bias
dalam penjatuhan hukuman.
Salah satu dasar diundangkannya Undang-Undang No. 22
Tahun 1997 adalah Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan
Psikotropika ( U nited N ations C onvention A g a in st Illicit Traffic in
N arcotic D ru g s and Psychotropic Substances) yang disahkan
dengan UU No. 7 Tahun 1997. Pasal 82 ayat (1) a UU No. 22
Tahun 1997 mengancam pidana mati atau penjara seumur
hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun, bagi mereka
yang mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual,
menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima,
menjadi perantara dalam jual beli, atau menukar narkotika
Golongan I. P e n ja t u h a n h u k u m a n terhadap pasal ini
memerlukan kecermatan menilai p o s i s i k a s u s , jumlah barang
dan kualitas peran dan Terdakwa, agar tercapai tujuan pokok
dan pemidanaan.
Begitu pula dalam pasal 82 ayat (2) a UU No. 22 Tahun 1997
ada in t e r v a l ancaman pidana yaitu p a l i n g s i n g k a t 4 t a h u n dan
p a l i n g la m a 2 0 ta h u n (disamping ancaman pidana mati atau
pidana seumur hidup) apabila tindak pidana dalam ayat (1)
didahului dengan p e r m u fa k a t a n ja h a t . Dalam praktek,
penjatuhan hukuman menuntut adanya kecermatan dalam
menuangkan p e r t im b a n g a n hukum nya. Sehingga ada
konsistensi logis dan t e r m a n ife s t a s ik a n n ila i - n i l a i d a l a m m e t a -
y u r id is dan mampu m e m b e r ik a n p e n c e r a h a n sosio-yuridis

269
dalam dinamika sosial kehidupan masyarakat. Interval ancaman
pidana mi juga ditentukan dalam pasal 59 ayat (1) UU No. 5
Tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang-undang lainnya.
Eksistensi hukum dalam masyarakat tidak lepas dari
paradigma yang dipakai dan melekat pada hukum yang
berlaku. Ide dari komitmen untuk bernegara yang berdasarkan
atas hukum adalah mengacu pada desain (pola dasar) tata
h u b u n g a n s o s i a l y a n g b e r k e a d ila n . Sehingga, untuk merajut
motivasi dasar dan etos kerja pendukung tegaknya hukum
seperti b ir o k r a s i, k o n g lo m e ra t , p e n e g a k h u k u m dan segenap
lapisan masyarakat selalu dituntut untuk selalu berada dalam
bingkai dan rancang bangun T E G A K N Y A H U K U M . Karena,
k e k u a s a a n y a n g tid a k b e r p a r a d ig m a h u k u m , akan menimbulkan
tirani, ketidakadilan dengan berbagai coraknya serta paradok-
paradok pembangunan seperti halnya ketidakadilan di bidang
ekonomi, banyak korupsi, meningkatnya kejahatan kesusilaan,
serta ironi-ironi pengakan hukum lainnya.

2. Penegekan Hukum dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya


Aplikasi negara hukum dari ketentuan UUD 1945 adalah
dengan menegakkan lembaga peradilan yang merdeka
(independen), mewujudkan p r in s ip le g a lit a s dalam penegakan
hukum. Untuk itu harus ada a n c a m a n s a n k s i bagi p e n g u a s a
yang m e n g i n t e r v e n s i p r o s e s p e n e g a k a n h u k u m , dan juga harus
ada sanksi berat bagi penegak hukum yang tidak m e m p ro s e s
perkara korupsi. S u p r e m a s i h u k u m menuntut adanya sikap
dasar bangsa bahwa kekuasaan itu atas dasar m a n d a t h u k u m .
Yang terjadi sekarang sering terbalik, yaitu k e k u a s a a n b isa
m e n g a t u r p e la k s a n a a n h u k u m .
Untuk menegakkan supremasi hukum, harus ada
keberanian moral para penegak hukum, harus ada substansi
hukum yang mengandung kebenaran hakiki, dan perlu adanya
k o n t r o l s o s i a l d a n k o n t r o l p o l it ik b a g i p a r a p e n e g a k h u k u m .
Agar korupsi tidak merajalela secara sistemik, maka harus
diterapkan secara tegas asas persamaan dihadapan hukum,
artinya untuk memeriksa presiden, menteri, ketua DPR/MPR,

270
hakim dan lain sebagainya tidak perlu ada prosedur ijin dan
presiden. P e r s y a r a t a n ijin p r e s i d e n untuk memeriksa pejabat
m e r u p a k a n u la h o r d e b a ru melakukan F e o d a li s a s i H u k u m .
Feodalisasi hukum merupakan salah satu bentuk penghinaan
yang dilegalkan terhadap rakyat r e n t a n s e c a r a p o lit ik . Korupsi
politik merupakan manifestasi dan pelecehan terhadap rakyat
yang lemah secara ekonomis. Untuk menanggulangi
diskriminasi hukum, perlu ditumbuhkan budaya hukum yang
egaliter dan emansipatoris.
Maraknya korupsi tidak lepas dari tindakan kekuasaan
birokrasi yang melebihi batas kewenangannya dan melenggar
batas aturan hukum. Korupsi kekuasaan berimplikasi secara
ekonomis sehingga menimbulkan fenomena kolusi dan
manipulasi. K o m e r s ia lis a s i j a b a t a n dan banyaknya birokrasi
yang beralih fungsi dari yang seharusnya pelayanan masyarakat
menjadi " b iro j a s a " mengindikasikan tid a k t e r a y o m i n y a
masyarakat dari kesewenangan birokrasi yang culas.
Tidak adanya sanksi pidana yang tegas terhadap pelaku
kredit macet jumlah besar pembobolan BNI 46, BRI dan lain-lain
dan koruptor pembocor anggaran pembangunan atau
merugikan keuangan negara menunjukkan tidak berfungsinya
politik kriminal dari perangkat hukum pidana, dalam hal ini
pidana korupsi. Untuk itu, menghadapi kanker korupsi yang
telah berada pada s t a d iu m k ritis , maka perlu adanya sanksi
pidana dan p e n ja t u h a n h u k u m a n m a t i bagi para koruptor. Hal
ini sebagai konsekuensi dari korupsi, terutama k o r u p s i p o l i t i k
yang berkualifikasi kejahatan luar biasa (E xtra O rd in ary C rim e)
dan b e r c o r a k k e ja h a ta n t e r h a d a p k e m a n u s ia a n (C rim es A g a in st
H u m a n ity ). Karena korupsi politik ini berdampak negatif yang
sangat dahyat bagi nasib rakyat dan menurunkan martabat
bangsa.
Karakter rezim pemerintahan (orde lama, orde baru, orde
reformasi) selalu cenderung untuk membangun b u d a y a p o l i t i k
melalui perangkat hukum yang b e r w a t a k f e o d a l i s t i k ,
d i s k r i m i n a t i f dan m e n e m p a t k a n p e n g u a s a d a l a m p o s i s i k e b a l
h u k u m . Dalam kerangka ini Pemerintah merekayasa produk

271
hukum yang mengandung " g re y a r e a " atau a re a k e la b u yang
dapat ditafsirkan menguntungkan penguasa. Untuk itu perlu
adanya A u d i t P e r a n q k a t H u k u m dengan memberikan
penafsiran autentik yang jelas sehingga tidak terjadi hukum
kelabu yang menguntungkan penguasa. Kekuasaan politik yang
tidak tunduk kepada supremasi hukum menimbulkan " T o p H a t
C r im e " yang dengan korupsi politik. Fakta sejarah menunjukkan
bahwa penguasa yang otoriter dan korup berupaya " m e n y u a p "
para pihak atau elemen masyarakat yang kuat dan memiliki
jalur p r e m a n is m e p o lit ik . Rezim pemerintahan yang korup pada
gilirannya akan membentuk " C r im in a l S o c ie ty " , karena
penguasa yang korup akan selalu memunculkan anomi-anomi
dalam masyarakat.
Setelah jatuhnya pemerintahan orde baru, dalam perangkat
hukum yang menyangkut korupsi, antara lain lahir UU No. 20
Tahun 2001 tentang Perubahan UU No. 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Begitu pula UU No. 30
Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Namun ancaman pidana terhadap koruptor tidak
seperti ancaman terhadap perilaku kejahatan narkotika, karena
meskipun ada ancaman hukuman mati bagi koruptor, tetapi
secara yuridis tidak applicable. Fakta yuridis ini menunjukkan
budaya hukum di negara kita bahwa para elit politik dan
pemerintahan di negara kita takut apabila ancaman hukuman
mati itu mengenai dirinya atau orang dekatnya.

3. Prospek Penegakan Hukum Di Masa Mendatang


Supremasi hukum merupakan tiang penyangga utama dari
konstruksi bangunan n e g a ra h u k u m sebagaimana yang telah
didesain dalam Undang-Undang Dasar 1945. Konstansi ini
mengisyaratkan bahwa hukum harus dijadikan yang " s u p r e m e "
yang mendasari segala kebijakan, pengaturan dan pengendalian
terhadap tata hubungan Pemerintah dengan rakyat. Supremasi
hukum menuntut konsekuensi adanya " L o g ic o f L a w " dalam
proses bernegara, bukan " L o g ic o f P o w e r " . Sehingga segala
aturan dan kebijaksanaan yang a k a n diberlakukan kepada

272
rakyat h a r u s berspirit kerakyatan. Konotasinya, rakyat harus
ikut menentukan sukma dan materi hukum yang a k a n
diberlakukan bagi rakyat dan Pemerintah. Rakyat harus
memiliki a k s e s dalam proses penentuan kebijakan yang
menyangkut kehidupan bersama. Jadi lo g ik a n e g a r a h u k u m
d i a t u r d u lu dengan a t u r a n yang diproses secara demokratis,
baru diberlakukan. Sedangkan lo g ik a n e g a r a k e k u a s a a n ,
diberlakukan dulu apa yang menjadi kemauan penguasa, kalau
kemudian rakyat tidak setuju itu urusan belakang.
Ada dimensi proses yang lo g is , t r a n s p a r a n dan d e m o k r a t is
bagi suatu aturan yang diberlakukan dalam suatu negara
hukum. Sedangkan dalam negara kekuasaan, kehendak
penguasa yang dijadikan " h u k u m " dengan mengesampingkan
kebenaran, kejujuran dan kerakyatan.
Negara kekuasaan atau otoriter cenderung untuk
mengintervensi kebebasan peradilan, sehingga kasus-kasus
perkara politik dan sebagainya selalu diselesaikan dibelakang
pintu tertutup berdasarkan kebijakan penguasa, bukan
berdasarkan atas norma yang disepakati bersama. Dengan
demikian hak-hak asasi warga negara amat rawan atas tuduhan
dan perlakuan tidak adil dari selera subyektivitas kekuasaan.
Di tahun 2004 perlu adanya perombakan sistem penegakan
hukum di Indonesia. Hal ini merupakan konsekuensi logis dan
tidak berfungsinya sistem penegakan hukum yang bersifat
o p p o r t u n it a s yang diberlakukan hingga saat ini. Perlu diganti
dengan sistem penegakan hukum yang bersifat le g a lit a s .
Pada domain k o s m o s (konstitusi) dengan adanya
amandemen-amandemen terhadap UUD 1945 telah terjadi
p r o s e s t r a n s fo r m a s i h u k u m ke arah yang lebih bernilai rasional
dan humanis. Konsekuensi yuridisnya perangkat hukum pada
domain lo g o s (Undang-undang) harus mencerminkan struktur
logis yang konsisten dengan substansi konstitusi (kosmos).
Perombakan s i s t e m p e n e g a k a n h u k u m pada gilirannya akan
berkorelasi dengan perubahan s i s t e m h u k u m . Dalam arti akan
mempengaruhi terhadap pembentukan b u d a y a h u k u m yang
bermula dari pemimpin negara dan pejabat tinggi birokrasi.

273
Sistem penegakan hukum yang legalitas akan membentuk
t in g k a h la k u h u k u m para pejabat negara yang menghormati
kedaulatan hukum. Budaya hukum yang baik dari pemimpin
dan elit politik akan menghasilkan pemerintahan yang bersih
(C lean G ov ern m ent ).
Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
berdasarkan UU No. 30 Tahun 2002, masih menuntut langkah
lanjutan yaitu pembenahan perangkat hukum pemberantasan
korupsi ke arah perangkat hukum yang berspirit kerakyatan dan
bersukma keadilan; artinya korupsi yang berkualifikasi korupsi
politik atau komersialisasi kekuasaan politik atau
penyalahgunaan kewenangan harus diberi ancaman pidana
yang lebih berat daripada korupsi biasa. Dalam arti pula
konstruksi hipotesis pasal 2 dan pasal 3 UU No. 31 tahun 1999
yang telah diperbaiki oleh UU No. 20 tahun 2002 harus
dirombak dan diformulasikan berdasarkan asas-asas hukum
pidana yang benar.

4. Realisasi Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi di Indonesia

a. Peran Pers Sebagai Hak dan Kewajiban Asasi


Sebagai media komunikasi, keberadaan pers merupakan
hak asasi bagi individu atau insan pers untuk mengemukakan
pikiran dan pendapatnya. Tanpa ada kebebasan berpikir dan
kemerdekaan menyatakan pendapat, maka manusia dan
masyarakat tidak dapat hidup sesuai dengan fitrah
kemanusiaannya. Karena merupakan k e b u t u h a n a s a s i bagi
setiap manusia, maka t id a k a d i l dan t id a k b e n a r jika ada
seorang manusia atau barang siapa atau pihak lain yang
membatasi, mengurangi, menghalangi atau melarang manusia
lain atau pihak lain menuangkan pikiran dan menyatakan
pendapatnya.
Sebagai media publikasi, pers mengemban k e w a jib a n a s a s i
untuk menyampaikan kepada masyarakat yang membutuhkan
berita dan fakta yang terjadi dalam realitas kehidupan sosial.
Adanya penyampaian fakta yang b e n a r merupakan media

274
interaksi sosial, selanjutnya bagi komunitas nasional yang
berpikiran mengetahui, menafsirkan dan mengambil hikm ah
dari hal-hal yang dipublikasikan oleh pers. Berita pers yang jujur
dan akurat merupakan refleksi dari apa yang terjadi dalam
masyarakat, atau merupakan cermin dari realitas sosial. Berita
yang mengandung nilai kebenaran memberikan pencerahan
bagi masyarakat dan menjadi sinyal bagi proses perkembangan
sosial. Dalam arti pula, pikiran masyarakat dan kondisi
komunitas sosial akan menjadi gelap jika tanpa ada pemberitaan
dari pers.
Lahirnya Miranda Rule atau Miranda Warning di Amerika
Serikat menunjukkan bahwa bangsa Amerika Serikat
menunjukkan bahwa bangsa Amerika Serikat mengambil
hikmat dan kasus seorang warganya yang bernama Miranda
yang dilanggar hak asasinya, kemudian putusan pengadilannya
diabadikan dalam aturan hukum yang mengikat. Sedangkan di
negara kita Indonesia banyak kejadian yang diberitakan oleh
pers tidak diambil hikmahnya, tetapi selain persnya yang
ditekan, diancam dan dibreidel, juga pola kejadian yang salah
justru berulang seperti halnya sejak kasus Sum Kuning di
Yogyakarta tahun 1969 yang memunculkan "kambing hitam " itu
berulang dalam kasus terbunuhnya wartawan Fuad M. Safrudin
dengan memunculkan Terdakwa Dwi Suamaji alias IW1K, dan
hampir berulang lagi dalam kasus pembakaran Masjid Besar
Yogyakarta. Dalam kasus-kasus tersebut kontribusi peran pers
sangat signifikan dalam proses penegakkan kebenaran dan
keadilan.

b. Peran Pers dan Demokratisasi


Pers pada dasarnya memiliki posisi sosial politik yang
sangat strategis dalam mempublikasikan fakta dan peristiwa
sosial, yang pada gilirannya dapat membentuk opini publi.
Terutama jika masyarakat umum dihadapkan dengan adanya
fa k t a politik, fa k ta sosial atau fa k t a hukum, yang dalam fakta
tersebut terlibat hak dan kepentingan publik. Potensi dan
kemampuan pers dalam membentuk opini publik, akan selalu

275
mengusik feeling politik dan naluri kekuasaan dan pemerintah
atau kekuasaan eksekutif untuk mengawasi, mengatur dan
menekan kekuasaan moral opini publik yang dimiliki oleh pers.
Kekuasaan pemerintah eksekutif dapat merasa tersaingi,
terkurangi atau terancam jika legitimasi moral dan opini publik
yang dipegang oleh pers itu membesar dan lebih otentik.
Watak dasar dari kekuasaan pemerintah eksekutif itu ingin
selalu dan bertambah kuat dan besar, atau dalam kata lain
pemerintahan atau kekuasaan eksekutif itu berpotensi dan
cenderung untuk melakukan k o r u p s i p o l it ik . Potensi dan
kecenderungan kekuasaan antara pers dan pemerintah yang
berpotensi diametral tersebut sering mengundang tensi-tensi
politis itu dapat berupa tekanan dan aneka corak benturan sosial
politik yang sesuai dengan budava politik dan rezim
pemerintahan yang sedang berkuasa. Sehingga, obsesi
pemerintah yang berkuasa s e la lu in g in " m e n g a t u r " pers dengan
berbagai corak dan variasinya.
Obsesi pembentukan Undang-undang untuk mengatur
Mass Media merupakan salah satu konsekuensi dari sistem
hukum yang tidak menganut a s a s p r e s e d e n atau S ta r e D e c is is
proses pembentukan Undang-undang di Indonesia sering
menelan biaya sosial politik dan ekonomis yang mahal. Di
samping sering terjadi adanya b ia s n u r a n i (isu suap) dan
mengakibatkan kidung derita bagi rakyat yang akan diatur oleh
undang-undang tersebut. Khusus tentang Pers, pada dasarnya
sudah ada Kode Etik sebagai internal kontrol atau self
regulation, selain juga sudah ada perangkat hukum pidana
(KUHP) sebagai eksternal kontrol.
Budaya politik suatu pemerintahan dapat dilihat dalam
watak perundang-undangan yang dikeluarkannya, dengan
perkataan lain, obsesi pemerintah untuk mempengaruhi,
menjinakkan, mengatur dan menguasai Mass Media dilakukan
dengan cara membuat Undang-undang yang mau mengatur
Mass Media. Bagaimana karakter perangkat hukum yang
mengatur Mass Media itu, dapat diaudit melalui paradigma nilai
yang tertuang dalam p o s t u l a t m o r a l sebagai landasan

276
filosofinya, serta k o n s t r u k s i h ip o t e s is dari aturan pasal-pasal
perangkat hukum yang mengatur Pers/Mass Media tersebut.
Selanjutnya, seberapa jauh hak dan kewajiban Pers itu dijamin
dalam pasal-pasal hukum Pers tersebut.

c. Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi di Indonesia


Dalam mengemukakan fakta, pers memformulasikan
pernyataan tentang k e b e n a r a n yang menuntut pemikiran untuk
diketahui dan dimengerti. Sehingga ada adegium yang
menyatakan : P a r a w a r t a w a n s e p e r t i p u t u s a n p a r a hakim
karena aporisme yang terkandung dalam tulisannya (The
reporters like the ju d g e 's decisions because o f the aphorism that filed his
w ritin g). Adanya istilah " T r ia l b y t h e P r e s s " , menunjukkan
betapa pemberitaan pers memiliki dampak penderaan dan
memberikan s a n k s i t e r s e n d ir i bagi seseorang atau kelompok
yang menjadi berita, sehingga mempengaruhi nama baik dan
kredibilitasnya. Di sisi lain pers yang m e w a k il i pendapat dan
kepentingan umum, berperan seperti layaknya kekuasaan
pemegang a m a n a t o r a n g la in , suara rakyat, suara publik
sehingga menjalankan seperti fungsi wakil rakyat di
DPR/DPRD. Bahkan secara " d e f a c t o " suara rakyat yang
dikemukakan oleh pers s e r i n g le b ih o t e n t ik dibandingkan
dengan suara di ruang sidang para wakil rakyat.
Kekuatan moral dan pers yang selalu cair, m e n g a lir dan
membasahi ranah kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif,
mengindikasikan adanya potensi yang telah a d a dan selalu
m e n g a d a , sehingga menjadi k e k u a s a a n t e r s e n d ir i yang melekat
dalam diri pers dalam proses perjalanan sesuatu negara. Dalam
hubungan ini, le g it im a s i m o r a l bahwa p e r s sebagai p i l a r
k e e m p a t demokrasi, tidak dapat disangkal. Dewasa ini tidak ada
negara yang dapat tumbuh dan berkembang secara sehat, tanpa
adanya peran pers yang efektif.
Dalam merealisasikan Pers sebagai pilar keempat
demokrasi di Indonesia, menurut adanya hukum yang melarang
kekuasaan pemerintah (eksekutif) penentu nasib Pers atau
kewenangan mengurangi kebebasan Pers. Dalam arti pula, harus

277
dilarang oleh hukum adanya kekuasaan pemerintah atau
kekuasaan lain yang bertindak sebagai kekuasaan yudikatif atau
menentukan salah atau tidaknya pemberitaan Pers. Seperti
halnya pada tahun 1971 dimana Pemerintah Federal Amerika
Serikat (AS) meminta Pengadilan Federal untuk mengendalikan
The New York Times dan The Washington Post agar tidak
mempublikasikan The Pentagon Papers, tetapi Pengadilan
memutuskan bahwa pemberitaan (publikasi itu dapat
diteruskan, karena pemerintah Federal tidak dapat
membuktikan bahwa pemberitaan itu dapat merugikan/
menghancurkan bangsa Amerika Serikat (AS). Dan kasus ini
merupakan contoh yang baik tentang " e q u it y la w in a c t io n "
(Pember 1997). Jadi untuk menentukan pantas atau tidaknya
pemberitaan oleh Pers harus ditentukan oleh lembaga
pengadilan, bukan oleh pemerintah yang sedang berkuasa.
Dengan demikian terlihat bahwa r e a lis a s i P e r s s e b a g a i p i l a r
keem pa t d em o k ra si di In d o n esia m en u n tu t adanya budaya
h u k u m dan k o m p o n e n b a n g s a , terutama dari mereka yang
sedang berkuasa.
Dalam perspektif kacamata teori Pers (Dominick : 2002,
p.466) realiasi Pers s e b a g a i p i l a r k e e m p a t d e m o k r a s i, m e r u p a k a n
m a n ife s t a s i d a ri t a n g g u n g ja w a b s o s ia l d a r i P e r s , yang
memiliki hak untuk m e n g k r it ik p e m e r in t a h dan institusi-
institusi kekuasaan negara yang lain. Serta juga mempunyai
t a n g g u n g ja w a b untuk m e n ja g a d a n m e r a w a t d e m o k r a s i dengan
memberikan informasi secara layak kepada publik serta
merespon kebutuhan dan keinginan masyarakat. Lebih dari itu
di Indonesia ada landasan konstitusional (vide : pasal 28 E ayat
2, 3 dan 28 F UUD 1945 hasil amandemen) tentang hak
menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nurani, hak
atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan
pendapat, serta hak untuk berkomunikasi dan memperoleh
informasi.
Eksistensi Pers sebagai pilar keempat demokrasi
merupakan kebutuhan pokok rokhaniah masyarakat dalam
memenuhi realisasi apa yang oleh Lawrencen M. Friedman

278
(1985, P. 43) dikemukakan sebagai " T o t a l J u s t ic e " . Karena
masyarakat umum sering dengan terpaksa hanya menelan
" fo r m a l j u s t i c e " dalam proses hukum yang digelar dalam proses
peradilan, terutama yang menyangkut perkara orang yang
memiliki proteksi politik dan/ atau yang mempunyai kekuatan
ekonomi. Dalam hubungan ini pemberitaan Pers dapat menjadi
" c o m p le m e n t " bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan
batinnya yang haus rasa keadilan.

5. Butir-Butir Pokok
a. Keadilan hukum merupakan kebutuhan p o k o k r o k h a n ia h
bagi masyarakat beradab, dan hukum itu b e r ja lin a n
b e r p ilin d a l a m s t r u k t u r r o k h a n i a h setiap masyarakat
bangsa.
b. Hukum merupakan guru bagi masyarakat bangsa karena
hukum selalu memberi arah bagi perjalanan bangsa serta
memberi pelajaran bagi komunitas manusia untuk berbuat
yang benar dan melakukan komunikasi sosial yang tidak
merugikan pihak lain.
c. Setiap bangsa manusia berkewajiban merajut dan
menganyam risalah peradaban bangsanya. Proses
penegakan hukum dan keadilan merupakan bagian dan
proses menulis risalah peradaban bangsa.
d. Upaya memberantas korupsi dan menanggulangi kejahatan
lainnya, merupakan kewajiban asasi masyarakat bangsa
Indonesia, karena korupsi dan kejahatan telah dan akan
selalu mempengaruhi eksistensi perjalanan bangsa dan
kualitas bangsa.
e. Ada fenomena sosial yang menunjukkan kontradiksi antara
koruptor atau mereka yang dengan mudah memperoleh
kekayaan dengan mereka yang tidak memiliki peluang atau
kesempatan meraih kekayaan secara wajar dan meluasnya
" in v is ib le p o o r " atau kemiskinan tidak kentara. Rakyat
miskin secara ekonomi dan rentan secara politik selalu
terpojok oleh pelaksanaan kekuasaan politik dan sistem

279
penegakan hukum tidak memberi proteksi yuridis bagi
rakyat lemah.
f. Penilaian yang tinggi terhadap individualisme, kompetisi,
sukses individu yang diukur secara finansial, menimbulkan
penyimpangan norma dan tingkah laku. Dan pada
gilirannya aspek struktural dari masyarakat menimbulkan
tekanan-tekanan frustasi yang mengakibatkan banyak
warga masyarakat melakukan tindakan kriminal.
g. Kriminalisasi berlebihan dan " o v e r le g is la s i" banyak
mendorong timbulnya kejahatan-kejabatan tambahan.
Selanjutnya usaha-usaha yang berhubungan dengan
penjatuhan sanksi-sanksi pidana berkorelasi dengan situasi-
situasi dimana masalahpungutan liar, penentuan
sumber daya pejabat publik, praktek-praktek represif dan
korupsi secara m e r u n t u h k a n i n t e g r it a s s i s t e m h u k u m .
h. Merajalelanya korupsi saat ini memunculkan indikasi " E ra
T a n p a H u k u m " karena banyak korupsi berkorelasi dengan
f e n o m e n a k e k u a t a n d a la m m e s in p o l it ik .
i. Perlu diterapkan sistem " P r e - T r ia l" dalam proses
pengadilan pidana berat seperti Pengadilan HAM, Korupsi
dan lain-lain.

280
R e fe r e n s i:

Ashman, Charles R., T h e F i n e s t Ju d g es M oney Can Buy, Nash


Publishing, Los Angeles, 1973.
Bergman, Paul, T ria l A d v o c a c y , West Publishing Co., St. Paul, 1989.
Callison IP., C o u rts o f I n ju s t ic e , Twayne Publishers, New York, 1956.
Dye, Thomas R., P o w e r a n d S o c ie t y , Wadsworth Inc., Belmont, 1983.
Frankel, Louis G., M o n e y a n d J u s t ic e , W h o e O w n s th e C o u rts ?,
Norton Paperback, 1986, p. 14.
Johnston, Michael, P o l it ic a l C o r r u p t io n a n d P u b l ic P o l ic y in
A m e r ic a , Brooks/Cole Publishing Company, California, 1982.

Lasser, William, T h e L im it o f J u d i c i a l P o w e r , T h e S u p r e m e C o u r t in
A m e r ic a n P o lit ic s , The University of North California Press,
1988.
Pember, Don R., M a s s M e d ia L a w , Brown & Benchmark Publisher,
1997.
Reid, Sue Zilus, C r im in a l L a w , Prentice Hall, Englewood Cliffs, 1995.
Schur, Edwin M., C r im in a l S o c ie t y , 1969.

281
H U K U M IN V E S T A S I P E R S P E K T IF SY A R IA H
Oleh:
Prof. Dr. H. Abdul Manan, S.H.,S.IP.,M.Hum.*

I. PENDAHULUAN
Istilah investasi berasal dari bahasa latin, yaitu investire
(memakai), sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan
investment. Istilah hukum investasi berasal dari terjemahan
bahasa Inggris yaitu invesment of law. Dalam peraturan
perundang-undangan tidak ditemukan pengertian hukum
investasi. Untuk mengetahui arti dari hukum investasi tersebut,
maka harus dicari dari berbagai pandangan para ahli dan kamus
hukum.
Para ahli dalam bidang investasi memiliki pandangan yang
berbeda mengenai konsep teoritis tentang investasi. Fitzgeral1
mengartikan investasi adalah aktivitas yang berkaitan dengan
usaha penarikan sumber-sumber (dana) yang dipakai untuk
mengadakan barang modal pada saat sekarang, dan dengan
barang modal akan dihasilkan aliran produk baru di masa yang
akan datang. Dalam definisi ini, investasi dikontruksikan
sebagai sebuah kegiatan untuk menarik sumber dana yang
digunakan untuk pemberian barang modal, dan barang modal
itu akan menghasilkan produk baru. Dalam definisi lain
Kamaruddin Ahmad2* mengemukakan bahwa yang dimaksud
dengan investasi adalah menempatkan uang atau dana dengan
harapan untuk memperoleh tambahan atau keuntungan tertentu
atas uang atau dana tersebut. Dalam definisi ini, investasi
difokuskan pada penempatan uang atau dana dengan tujuan
untuk memperoleh keuntungan sebagaimana yang diharapkan.

Hakim Agung Republik Indonesia.


' Salim & Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, Rajawali Pres Jakarta, 2008,
hal.3
2
Kamaruddin Ahmad, Dasar-Dasar Manajemen Investasi, Rineka Cipta Jakarta, 1
996,hal.3.

283
Ensiklopedia Indonesia3 memberikan pengertian tentang
investasi adalah penanaman uang atau modal dalam proses
produksi (dengan pembelian gedung-gedung, permesinan,
bahan cadangan, penyelenggaraan uang kas serta
perkembangannya). Dengan demikian cadangan modal barang
diperbesar sejauh tidak ada modal barang yang harus diganti.
Melihat definisi ini, investasi terfokus kepada bahwa investasi
sebagai proses produksi, pada hal dalam kegiatan investasi itu
tidak hanya pada kegiatan produksi, tetapi termasuk juga pada
bidang-bidang yang lain. Oleh karena ada kelemahan dari ketiga
definisi tersebut, Salim dan Budi Sutrisno4 menyempurnakan
definisi tentang investasi sebagai berikut "investasi adalah
-penanaman modal y a n g dilakukan oleh investor, baik investor luar
n e g eri (a sing) m a u p u n dalam n eg eri (domestik) dalam berbagai bidang
usaha y a n g terbuka u n tu k investasi d en g a n tujuan u n tu k m em peroleh
k eu n tu n g a n " .
A. Abdurrahman5 mengemukakan bahwa invesment
(investasi) mempunyai dua makna yakni pertam a: investasi
berarti pembelian saham, obligasi dan benda-benda tidak
bergerak, setelah diadakan analisa akan menjamin modal yang
dilekatkan dan memberikan hasil memuaskan. Faktor-faktor
tersebut yang membedakan investasi dengan spekulasi. K edua :
dalam teori ekonomi investasi berarti pembelian alat produksi
(term asuk didalam nya benda-benda u n tu k dijual) dengan modal
berupa uang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)6
disebutkan yang dimaksud dengan investasi berarti pertam a :
penanaman uang atau modal disuatu perusahaan atau proyek
untuk tujuan memperoleh keuntungan dan kedua : jumlah uang
atau modal yang ditanam.

Ensiklopedia Indonesia, Ichtiar Baru-Van Hoeve dan Elsevieer Publishing


Projects, fakarta, tt,hal.l470.
^ "Salim & Budi Sutrisno, Op. Cit.hal.33
5 A. Abdurrahman, Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan, Pradnya
Paramita, Jakarta, 1991 ,Cet.ke 6,hal.340.
6 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Balai Pustaka, Jakarta,! 995,Ed.ke-4,hal.386

284
Dari berbagai pengertian investasi seperti tersebut di atas,
ada perbedaan istilah dengan "penanaman modal" yang pada
hakekatnya mempunyai arti yang sama. Dalam Undang-Undang
Nomor : 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal (UUPM)
dikemukakan bahwa penanaman modal adalah segala bentuk
kegiatan penanaman modal, baik oleh penanaman modal dalam
negeri maupun penanaman modal asing untuk melakukan
usaha di wilayah Negara Republik Indonesia. Dari pengertian
ini dapat diketahui bahwa investasi dan penanaman modal
adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau badan
hukum, menyisihkan sebagian pendapatannya agar dapat
dipergunakan untuk melakukan suatu usaha dengan harapan
pada suatu waktu tertentu akan mendapat hasil.
Hampir setiap hari kata "investasi" diperbincangkan banyak
orang, tetapi sebenarnya yang dimaksud dengan istilah tersebut
adalah "Method o f purchasing asset in order to gain profit in the form
of reasonably predictable income (dividen, interset or rentals) and/or
upperciation over the long term"7. Sejumlah hasil penanaman dana
dalam jumlah tertentu yang sangat ditentukan oleh kemampuan
dalam memprediksi masa depan, tandasnya lebih lanjut.
Memprediksi masa depan inilah yang kemudian membedakan
istilah "investasi" dan "spekulasi". Pengertian tersebut
selanjutnya dipertajam oleh Frank Reilly8 dengan memasukkan
unsur risiko sebagai sebuah kompensasi. Current commitment of
dollars for period of time in order to derive future payments that zvill
compensate the investor for (1) the time the fin d are committed (2) the
expected rate of inflation and (3) the uncertainty of the future
payments.
Istilah investasi dan penanaman modal merupakan dua
istilah yang cukup dikenal dalam kegiatan bisnis dan kegiatan
perundang-undangan. Istilah investasi lebih populer dalam

7 Malkiel, Burton G.. A Random Walk Down Wall Street, induding A life-Cycle Guide
to Personal Investing, W.W.Norton & Company,1991, lihat juga Eko Priyo Pratomo
dan Ubaidillah Nugraha, Reksa Dana Solusi Perencanaan Investasi di Era Moderen, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2005, hal.7.
g
Reilly, Frank K, Investments, Third Edition, Orlando: The Dryden Press
International Edition,hal.6, Ibid.

285
dunia usaha, sedangkan istilah penanaman modal lebih banyak
dipergunakan dalam bahasa perundang-undangan. Di kalangan
masyarakat luas kata investasi memiliki pengertian yang lebih
luas karena dapat mencakup baik investasi langsung (direct
investment) maupun investasi tidak langsung (porto folio
investment), sedangkan dalam penanaman modal lebih
mempunyai konotasi kepada investasi langsung. Namun dalam
istilah sehari-hari sering dipergunakan istilah investasi terutama
dalam kegiatan pasar uang dan pasar modal saat ini.

II. TUJUAN DAN JENIS INVESTASI.


1. Tujuan Investasi.
Ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan
investasi. Kamaruddin Ahmad9 mengemukakan ada tiga
alasan sehingga banyak orang melakukan investasi, yaitu:
a. Untuk mendapat kehidupan yang lebih layak di masa
yang akan datang. Seseorang yang bijaksana akan
berpikir bagaimana cara meningkatkan taraf hidupnya
dan waktu ke waktu atau setidak-tidaknya bagaimana
berusaha untuk mempertahankan tingkat pendapatan­
nya yang ada sekarang agar tidak berkurang dimasa
yang akan datang.
b. Mengurangi tekanan inflasi. Dengan melakukan
investasi dalam memilih perusahaan atau obyek lain,
seseorang dapat menghindarkan diri agar kekayaan
atau harta miliknya tidak merosot nilainya karena
digrogoti oleh inflasi.
c. Dorongan untuk menghemat pajak. Beberapa negara di
dunia banyak melakukan kebijakan yang sifatnya
mendorong tumbuhnya investasi di masyarakat
melalui fasilitas perpajakan yang diberikan kepada
masyarakat yang melakukan investasi pada bidang-
bidang usaha tertentu.

Kamaruddin Ahmad, Dasar-Dasar Manajemen Investasi dan Portofolio, Rineka


Cipta, Jakarta, 2004, hal, 3-4

286
Di samping hal tersebut di atas, orang melakukan
investasi karena dipicu oleh kebutuhan akan masa depan.
Tapi sangat disayangkan, banyak orang belum memikirkan
kebutuhan akan masa depannya. Pada hal semakin ke
depan, biaya hidup seseorang pasti akan semakin
bertambah. Bila orang menyadari bahwa kebutuhan masa
depan akan lebih besar, mereka tentu akan menyempatkan
diri berhemat dalam mengelola keuangannya, mereka pasti
akan melakukan investasi guna memenuhi kebutuhan yang
diperlukan itu.
Selain kebutuhan akan masa depan, orang melakukan
investasi karena dipicu oleh banyaknya ketidakpastian atau
hal-hal lain yang tidak terduga dalam hidup ini misalnya
keterbatasan dana, kondisi kesehatan, datangnya musibah
secara tiba-tiba dan kondisi pasar investasi. Oleh karena
masalah ini tidak dapat diprediksi dengan tepat, maka
diperlukan perencanaan yang baik dalam menghadapi
hidup ini. Dengan adanya alternatif instrument investasi,
memungkinkan seseorang bisa memenuhi kebutuhan masa
depannya dengan menentukan prioritas kebutuhan,
menetapkan perencanaan yang baik dan implementasi
secara disiplin.
Tujuan investasi tersebut dapat tercapai diperlukan
proses dalam mengambil suatu keputusan ketika hendak
melakukan investasi, terutama keuntungan yang akan
diperoleh dan risiko yang akan dihadapinya. Dalam kaitan
ini Sharpe sebagaimana yang dikutip oleh Nurul Huda dan
Mustafa Edwin10 mengemukakan bahwa pada dasarnya ada
beberapa tahapan dalam mengambil keputusan investasi,
antara lain :
a. Menentukan Kebijakan Investasi.
Pada tahapan ini, investor menentukan tujuan
investasi dan berapa kekayaannya yang dapat

10
Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar Modal Syariah,
Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007, hal. 9-10

287
diinvestasikan. Hal ini penting karena ada hubungan
positif antara risiko dan return, oleh karena itu suatu
hal yang tepat bagi para investor untuk menyatakan
tujuan investasinya yang tidak hanya memperoleh
untung saja, tetapi juga memahami bahwa ada
kemungkinan risiko yang berpotensi menyebabkan
kerugian. Jadi tujuan investasi harus dinyatakan baik
dalam keuntungan maupun dalam risiko.

b. Analisa Sekuritas.
Pada tahap ini, investor harus melakukan analisis
sekuritas yang meliputi penilaian terhadap sekuritas
secara individual atau atas beberapa kelompok
sekuritas. Salah satu tujuan dan melakukan penilaian
atas sekuritas tersebut adalah untuk mengidentifikasi
sekuritas yang salah harga (mispriced). Ada yang
berpendapat lain bahwa tujuan dari penilaian sekuritas
itu didasarkan atas preferensi risiko para investor, pola
kebutuhan kas dan sebagainya.

c. Pembentukan Portofolio.
Pada tahap ini investor membentuk portofolio
yang melibatkan identifikasi asset khusus mana yang
akan di investasikan dan juga menentukan seberapa
besar investasi pada tiap asset tersebut. Disini masalah
seleksitivitas, penentuan waktu dan diversifikasi perlu
menjadi perhatian investor.
Dalam investasi, investor sering melakukan
diversifikasi dengan mengombinasikan berbagai
sekuritas dalam investasi mereka, dengan kata lain
investor membentuk portofolio. Selektivitas juga
dilakukan oleh investor guna memfokuskan diri pada
ramalan pergerakan harga setiap sekuritas dan
tindakan ini sering disebut dengan microforecasting.
Penentuan waktu juga disebut dengan
microforecasting, dimana dalam tindakan ini para

288
investor memfokuskan diri pada peramalan perge­
rakan harga saham biasa terhadap sekuritas
pendapatan tetap, misalnya obligasi perusahaan.
Sedangkan diversifikasi meliputi konstruksi portofolio
sedemikian rupa sehingga meminimalkan risiko
dengan memperhatikan batasan tertentu.

d. Melakukan Revisi Portofolio.


Pada tahap ini berkenaan dengan pengulangan
secara periodik dan tiga tahap sebelumnya. Sejalan
dengan waktu, investor mungkin mengubah tujuan
investasinya yaitu berusaha membentuk portofolio
baru yang lebih optimal. Motivasi lainnya disesuaikan
dengan preferensi investor tentang risiko dan return itu
sendiri.

e. Evaluasi Kinerja Portofolio.


Pada tahap terakhir ini, investor melakukan penilaian
terhadap kinerja portofolio secara periodik dalam arti
tidak hanya return yang diperhatikan, tetapi juga risiko
yang dihadapi. Jadi, diperlakukan ukuran yang tepat
tentang return dan risiko juga standar yang relevan.

2. Jenis Investasi
Pada dasarnya investasi dapat digolongkan kedalam
beberapa jenis yakni berdasarkan asset, pengaruh, ekonomi,
menurut sumbernya. Dalam kaitan ini Salim dan Budi
Sutrisno11menjelaskan sebagai berikut:

a. Investasi berdasarkan assetnya.


Investasi ini merupakan penggolongan investasi
dari aspek modal atau kekayaannya. Investasi ini
dibagi kepada dua jenis, yaitu pertama : real asset yang
merupakan investasi yang berwujud seperti gedung-

11 Salim dan Budi Sutrisno, O p .C it. hal. 36-39

289
gedung, kendaraan dan sebagainya, kedua
financial assets yaitu yang berupa dokumen (surat-surat
berharga) yang diperdagangkan di pasar uang seperti
deposito, commercial paper, Surat Berharga Pasar
Uang (SBPU) dan sebagainya. Financial assets juga
diperdagangkan di pasar modal seperti saham,
obligasi, warrant, opsi dan sebagainya.

b. Investasi berdasarkan pengaruh.


Investasi model ini merupakan investasi yang
didasarkan pada faktor dan keadaan yang
mempengaruhi atau tidak berpengaruh dari kegiatan
investasi. Investasi berdasarkan pengaruh dibagi
menjadi dua macam, yaitu pertam a investasi autonomus
(berdiri send iri) yaitu investasi yang tidak dipengaruhi
tingkat pendapatan, bersifat spekulatif, misalnya
pembelian surat-surat berharga, kedua : investasi
induced (m em p en g a ru h i m enyebabkan) yakni investasi
yang dipengaruhi oleh kenaikan permintaan akan
barang dan jasa serta tingkat pendapatan, misalnya
penghasilan transitori (penghasilan y a n g didapat selain
dari bekerja) yaitu bunga tabungan dan sebagaimana
(teori dikem bangkan oleh M ilton F ried m a n).

c. Investasi berdasarkan sumber pembiayaan.


Investasi model ini didasarkan kepada
pembiayaan asal atau asal usul investasi itu
memperoleh dana. Investasi ini dibagi kepada dua
macam, pertam a : investasi yang bersumber dana dari
dalam negeri (PMDN), investornya dari dalam negeri,
kedua : investasi yang bersumber dari modal asing,
pembiayaan investasi bersumber dari investor asing.
Kelebihan investasi asing (F o reign D irect
antara lain sifatnya permanen (jangka
Investm ent-FD F)
panjang), memberi andil dalam alih teknologi,
memberi andil dalam alih ketrampilan dan membuka

290
lapangan kerja baru. Sementara itu, untuk
menanamkan investasi dibidang pasar modal, jumlah
tenaga yang diperlukan sangat kecil.

d. Investasi berdasarkan bentuk.


Investasi berdasarkan bentuk merupakan investasi
yang didasarkan pada cara menanamkan investasinya.
Investasi modal ini dibagi kepada dua bentuk yaitu
pertama : investasi langsung dilaksanakan oleh
pemiliknya sendiri, seperti membangun pabrik,
membangun gedung selaku kontraktor, membeli total,
atau mengakuisi perusahaan, kedua : investasi tidak
langsung yang sering disebut dengan investasi
portofolio. Investasi tidak'langsung dilakukan melalui
pasar modal dengan instrumen surat-surat berharga
seperti saham, obligasi, reksadana beserta turunannya.
Pada investasi tidak langsung ini, investornya tidak
perlu hadir secara phisik, sebab biasanya para investor
tujuan utamanya bukan mendirikan perusahaan, tetapi
hanya membeli saham dengan tujuan untuk dijual
kembali dengan harapan mendapat deviden atau
capital gain.
Melihat kepada bentuk investasi sebagaimana
tersebut di atas, tampak bahwa ada perbedaan karakter
antara investasi secara langsung dengan investasi
secara tidak langsung. Para pakar hukum bisnis
berbeda pendapat tentang apakah perlu dibedakan
antara dua bentuk investasi secara signifikan ? dalam
kaitan ini Dahniel Khumarga12 mengemukakan bahwa
guna meluruskan tentang pandangan yang membeda­
kan antara penanaman modal secara langsung dan
tidak langsung, maka sebaiknya perlu diadakan
pergantian sebutan atau nama mata kuliah hukum

12 Dahniel Khumarga, Regulasi Investasi,


Kendala dan Faktor Penunjangnya, Pidato
Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Hukum UPH Tangerang, 2 Maret 2002, hal.
10 - 10 .

291
investasi yaitu hukum investasi langsung yang
meliputi Hukum Penanaman Modal Asing (Foreign
Direct Investment Law) dan Hukum Penanaman Modal
Dalam Negeri Langsung (Domestia Direct Investment
Law). Sedangkan Hukum Investasi tidak langusng
(Indirect Investment Law) atau biasa disebut dengan
Portofolio Investment Law yang sumbernya adalah
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995.
Penggolongan investasi dalam bentuk investasi
langsung dan tidak langsung sampai saat ini dianggap
relevan sebab kedua bentuk investasi tersebut
mempunyai bentuk yang berbeda. Sekalipun secara
teoritis dapat dipisahkan, namun jika dilihat dan
manfaat yang diambil oleh negara penerima modal
maka kehadiran jenis investasi secara langsung lebih
menguntungkan bagi penerima modal, sebab
kehadiran investasi tersebut dapat menggerakkan roda
perekonomian negara. Kehadiran investor asing juga
dapat menciptakan efek berganda (multipliar effect)
yang diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah
bagi pemerintah dan masyarakat.
Sehubungan dengan pembagian invetasi dalam
bentuk langsung dan tidak langsung, Gunarto
Suhardi13 menjelaskan bahwa investasi langsung lebih
baik jika dibandingkan dengan bentuk investasi tidak
langsung. Investasi langsung dapat pertama
memberikan kesempatan kerja kepada penduduk,
kedua : mempunyai kekuatan pengandaan dalam
ekonomi lokal, ketiga : memberi residu baik berupa
peralatan maupun alih tehnologi, keempat: bila
produksi diekspor akan memberikan jalan atau jalur
pemasaran yang dapat dirunut oleh pengusaha lokal di
samping seketika memberikan tambahan devisa dan

Gunarto Suhardi, Beberapa Elemen Penting dalam Hukum Perdagangan


Internasional, Universitas Atmajaya, Yogyakarta, 2004, hal.45.

292
pajak bagi negara, lima : lebih tahan terhadap fluktuasi
bunga dan valuta asing, enam : memberikan
perlindungan politik dan keamanan wilayah karena
bila investasi berasal dari negara kuat niscaya bantuan
keamanan juga akan diberikan.
Investasi langsung biasanya dikaitkan dengan
adanya keterlibatan secara langsung dari pemilik
modal dalam kegiatan penglolaan modal. Investasi
langsung ini dapat dilakukan dengan mendirikan
perusahaan patungan (Joint Venture Company) dengan
mitra lokal, melakukan kerja sama operasi (Joint
Operation Scheme) tanpa membentuk perusahaan baru,
mengonversikan pinjaman menjadi penyertaan
mayoritas dalam perusahaan lokal, memberikan
bantuan tehnis dan manajerial (technical and
management assistance) maupun dengan memberikan
lisensi.
Investasi tidak langsung pada umumnya
merupakan penanaman modal jangka pendek yang
mencakup kegiatan transaksi di pasar modal dan
dipasar uang. Penanaman modal ini disebut dengan
penanaman modal jangka pendek karena pada
umumnya, jual beli saham dan atau mata uang dalam
jangka waktu yang relatif singkat tergantung kepada
fluktuasi nilai saham dan atau mata uang yang hendak
mereka perjual belikan. Perbedaan antara investasi
langsung dengan investasi tak langsung antara lain
pertama : pada investasi tidak langsung, pemegang
saham tidak memiliki kontrol pada penglolaan
perseroan sehari-hari, kedua : pada investasi tidak
langsung, biasanya risiko ditanggung sendiri oleh
pemegang saham, sehingga pada dasarnya tidak dapat
menggugat perusahaan yang menjalankan kegiatan­
nya, ketiga : kerugian pada investasi tidak langusng,
pada umumnya tidak dilindungi oleh hukum
kebiasaan internasional.

293
Hingga saat ini, efek yang diterbitkan dan
diperdagangkan di Pasar Modal Indonesia adalah:
a. Saham (efek).
b. Saham Preferen (Preffered Stock).
c. Obligasi (bond).
d. Obligasi Konvensi (Convertible bond).
e. Right.
f. Waran (Warrant).
g. Reksadana (vertualfund).
h. Kontrak Berjangka Indek Saham (index future).
i. Kontrak Opsi Saham (single stock option).
j. Surat Utang Negara (SUN).
k. Instrumen Syariah (Obligasi, Reksadana Syariah).

III. ASAS- ASAS HUKUM INVESTASI.


Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Pasal 3 ayat (1)
menentukan 10 asas dalam melaksanakan penanaman modal
atau investasi, sebagai berikut:
1. Asas kepastian hukum, yaitu asas dalam negara hukum
yang meletakkan hukum dan ketentuan peraturan
perundang-undangan sebagai dasar dalam setiap kebijakan
dan tindakan dalam bidang penanaman modal atau
investasi.
2. Asas keterbukaan, yaitu asas yang terbuka terhadap hak
masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur
dan tidak diskriminatif tentang kegiatan penanaman modal
atau investasi dalam segala bentuknya.
3. Asas akuntabilitas, yaitu asas yang menentukan bahwa
setiap kegiatan dan hasil akhir dan penyelenggaraan
penanaman modal dipertanggung jawabkan kepada
masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan
negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
4. Asas perlakuan yang sama dan tidak membeda-bedakan
asal negara, adalah asas perlakuan pelayanan non

294
diskriminasi berdasarkan ketentuan perundang-undangan,
baik antara penanaman modal dalam negeri dan
penanaman modal dari satu negara asing dan penanaman
modal dan negara asing lainnya.
5. Asas kebersamaan adalah asas yang mendorong peran
seluruh penanaman modal secara bersama-sama dalam
kegiatan usahanya untuk mewujudkan kesejahteraan
rakyat.
6. Asas efisiensi berkeadilan adalah asas yang mendasari
pelaksanaan penanaman modal atau investasi dengan
mengedepankan efisiensi berkeadilan dalam usaha
mewujudkan iklim usaha yang adil, kondusif dan berdaya
saing.
7. Asas keberlanjutan adalah asas yang secara terencana
mengupayakan berjalannya proses pembangunan melalui
penanaman modal untuk menjamin kesejahteraan dan
kemajuan dalam segala aspek kehidupan, baik untuk masa
kini maupun yang akan datang.
8. Asas berwawasan lingkungan adalah asas penanaman
modal atau investasi yang dilakukan dengan tetap
memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan
pemeliharaan lingkungan hidup.
9. Asas kemandirian adalah asas penanaman modal atau
investasi yang dilakukan dengan tetap mengedepankan
potensi bangsa dan negara dengan tidak menutup diri pada
masuknya modal asing demi terwujudnya pertumbuhan
ekonomi.
10. Asas keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi
nasional adalah asas yang berupaya menjaga keseimbangan
kemajuan ekonomi wilayah dalam kesatuan ekonomi
nasional.

Di samping sepuluh asas sebagaimana tersebut di atas, Salim


dan Budi Sutrisno14menambah beberapa asas lagi antara lain:

14
Salim dan Budi Sutrisno, Op.C/f.hal 15-16

295
1. Asas ekonomi perusahaan, yaitu asas dimana di dalam
penanaman investasi dapat diusahakan dan dilakukan
secara optimal, dan sesuai dengan prinsip efisiensi.
2. Asas hukum internasional, asas ini merupakan asas di
dalam menyelesaikan sengketa antara pemerintah dengan
penanaman modal, apabila pemerintah melakukan
tindakan nasionalisasi/pencabutan hak milik secara
menyeluruh dan penyelesaiannya harus didasarkan pada
asas-asas hukum internasional.
3. Asas demokrasi ekonomi, yaitu asas dimana di dalam
penanaman investasi didasarkan pada prinsip-prinsip
demokrasi ekonomi {lihat penjelasan Pasal 4 U n d a n g -U n d a n g
N om or 6 T ahun 1 9 6 8 ten ta n g P M D N ).
4. Asas manfaat, yaitu merupakan asas dimana didalam
penanaman investasi dapat memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia.
5. Asas nondiskriminasi, yaitu asas didalam penanaman
investasi tidak membeda-bedakan antara investasi asing
maupun investasi local {dalam n eg eri ), mengingat investasi
itu sendiri bersifat state borderless {tidak m en gen a l batas
negara ). Asas ini sudah dimasukkan ke dalam Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.
Ketentuan ini tidak dibedakan lagi antara investasi asing
dan investasi domestik.

IV. PASAR UANG DAN PASAR MODAL


Pasar adalah secara keseluruhan permintaan dan
penawaran akan sesuatu barang dan jasa. Pasar dibagi kepada
dua jenis, yaitu p e rta m a : pasar konkrit adalah suatu tempat yang
tertentu, tempat peminat {pem beli bertem u d en g a n penaw ar/penjual)
seperti Pasar Senen, Pasar Tanah Abang, Pasar Anyar, Pasar
Glodok dan sebagainya, kedua : pasar abstrak adalah setiap
kegiatan yang menimbulkan pertemuan antara permintaan dan
penawaran dalam suatu investasi.

296
Menurut Penglaykim dan Hazil15 pasar abstrak menurut
ukuran yang telah dipergunakan terdiri dan berbagai jenis
antara lain :
1. Ukuran luas secara geografis.
a. Pasar dunia atau pasar Internasional, misalnya pasar
untuk jual beli hasil perkebunan, pertambangan yang
mempunyai permintaan dan penawaran Internasional.
b. Pasar regional atau pasar daerah.
c. Pasar setempat atau pasar lokal.
2. Ukuran barang atau jasa.
a. Pasar barang, umpamanya pasar mobil, sayuran, telor
dan lain-lain.
b. Pasar barang mentah, misalnya pasar tembakau, karet
dan lain-lain.
c. Pasarjasa, misalnya pasar pengangkutan dan tenaga
kerja.
3. Ukuran batas negara.
a. Pasar dalam negeri.
b. Pasar luar negeri.
4. Ukuran waktu.
a. Pasar-pasar harian.
b. Pasar jangka pendek.
c. Pasar jangka panjang.
5. Ukuran organisasi.
a. Pasar sempurna, setiap pembeli dan setiap penjual
dalam pasar sempurna merupakan keadaan yang
transparan dan setiap pembeli dan penjual tidak ada
hambatan.
b. Pasar tidak sempurna.
6. Ukuran bentuk.
a. Ditinjau dan sudut permintaan.
1). Pasar dengan persaingan murni, kalau sangat
banyak pembeli.

15 Habib Nazir dan Muhammad Hassanuddin, Ensiklopedi Ekonomi dan Perbankan


Syari'ah, Kaki Langit, Bandung, 2004,hal. 448-449

297
2) . Pasar dengan persaingan oligopopsony, kalau ada
beberapa pembeli.
3) . Pasar dengan persaingan dua pasang, kalau ada
dua pembeli.
4) . Pasar dengan persaingan monosony, kalau ada
seorang pembeli.
b. Ditinjau dan sudut penawaran.
a) . Pasar dengan persaingan murni, kalau banyak
penjual.
b) . Pasar dengan persaingan oligopoly, kalau ada
beberapa penjual.
c) . Pasar dengan persaingan duopoly, kalau hanya
ada dua orang penjual.
d) . Pasar dengan persaingan monopoly, kalau hanya
ada seorang penjual.
Pasar berperan dalam memelihara keseimbangan
antara permintaan dan penawaran.

Di samping bentuk dan jenis pasar sebagaimana tersebut di


atas, dalam dunia investasi dikenal istilah pasar uang dan pasar
modal. Untuk jelasnya sebagai berikut:

1. Pasar uang.
Pasar uang merupakan tempat pertemuan antara pihak
yang bersurplus dana dengan pihak yang berdefisit dana, di
mana dananya berjangka pendek. Pasar uang melayani
banyak pihak seperti pemerintah, bank, perusahaan
asuransi dan lembaga keuangan lainnya. Instrumen yang
diperdagangkan antara lain surat berharga pemerintah
(bills and notes), sekuritas badan-badan pemerintah,
sertifikat deposito, perjanjian imbal beli dan surat-surat
berharga perusahaan (company commersial paper). Sedangkan
lembaga-lembaga yang aktif di pasar uang adalah bank
komersial, merehant bank, bank dagang, penyalur uang,
dan bank sentral pemerintah.

298
Berkaitan dengan pasar uang ini, Pandji Anoraga dan
Piji Pakarti16 menjelaskan bahwa ada beberapa ciri dari
pasar uang, yaitu pertama : jangka waktu uang yang
diperdagangkan masanya pendek, kedua : tidak terikat pada
tempat dan waktu, ketiga : pada umumnya supply dan
demand bertemu secara langsung dan tidak perlu ada
guarator atau underwriter. Pihak yang mendapat man|*&t
dari pasar uang ini adalah pihak yang kekurangan dana
dari pihak perbankan, sedangkan bagi pihak yang
kelebihan dana mendapat manfaat berupa peluang untuk
menambah pendapatan dan sekaligus dapat mengurangi
risiko financial. Pihak yang kekurangan dana akan
mendapat manfaat yaitu mudah dan cepat mengatasi
kesulitan keuangan, biaya relatif murah. Sedangkan bagi
pihak perbankan manfaat yang diperoleh dengan adanya
pasar uang adalah membantu melaksanakan kebijakan
moneter dan sebagai sarana untuk memeriksa secondary
reserve.
Dan segi sifatnya pasar uang ada dua jenis yaitu
pertama : pasar uang secara langsung (direct and negotiated)
atau pasar uang bagi nasabah (customer money market), kedua
: pasar uang yang sifatnya bagi siapa saja (impersonal) atau
pasar uang terbuka (open money market)17. Pasar uang secara
langsung (pasar uang bagi nasabah) dapat ditemui pada
setiap tempat di mana bank dan lembaga keuangan lainnya,
termasuk didalamnya bank-bank koresponden (the bank
correspondents) yang menawarkan dana-dana kepada
nasabah setempat (local customers) dan turut menyalurkan
dana dan memberikan pinjaman secara langsung (direct
landing). Sedangkan pasar uang terbuka yaitu suatu pasar
yang fasilitasnya sangat komplek, di mana dana-dana yang
menganggur dari berbagai provinsi (pelosok tanah air)
dipertukarkan atau dialihkan melalui berbagai perantara

16 Pandji Anoraga dan Piji Pakarti, Pengantar Pasar Modal, Rineka Gpta, Jakarta,
2006. hal. 19
17 Ibid, hal 20.

299
perdagangan efek (intermediaries). Bank sentral, bank
komersial atau perusahaan-perusahaan yang dananya
menganggur, berbagai perusahaan asuransi, perusahaan-
perusahaan asing menyalurkan dana-dana yang dimilikinya
kepada siapa saja yang memerlukan dengan pinjaman
jangka pendek.
Beberapa jenis instrumen Pasar Uang (money market
instrument) yang lazim dipergunakan adalah sebagai
berikut:
1. Commercial Paper (CPs) dan Promissory Notes (PNs),
yakni surat tanda bukti utang yang dilakukan oleh
suatu perusahaan atas dasar "clean" atau "unsecured"
pada waktu perusahaan tersebut memerlukan dana
jangka pendek. Biasanya dalam jangka waktu sebulan,
tiga bulan dan enam bulan.
2. Sertifikat deposito, yaitu surat sebagai tanda bukti
utang yang lazimnya dikeluarkan oleh lembaga
perbankan. Alat penukar ini dikeluarkan atas tunjuk,
dengan demikian pemindahan hak cukup dengan
penyerahan sertifikatnya saja atas physical transfer.
Dewasa ini lembaga-lembaga keuangan hanya
diperkenankan mengadakan transaksi-transaksi
sertifikat yang telah beredar.
3. Tabungan, yaitu investasi yang dilakukan oleh
seseorang terhadap dana yang dimilikinya di salah
satu bank, seperti Tahapan BCA atau Taplus BNI dan
sebagainya. Dana yang ditabung ini sewaktu-waktu
dapat diambil oleh pemilik tabungan jika diperlukan.
4. Overnigh yakni produk yang dikeluarkan oleh Bank
yang mempunyai jangka waktu satu hari, dua hari, tiga
hari dan sebagainya yang kurang dari satu bulan.
Biasanya produk ini dipergunakan oleh perbankan
untuk memenuhi arus masuk dan arus keluar dari
dana perbankan tersebut. Bank-bank biasanya
memberikan patokan besarnya dana yang bisa
ditempatkan kepada pihak lain, baik itu kepada bank
atau perusahaan yang memerlukannya.
Produk overnigh ini ditawarkan oleh sebuah bank
yang surplus dana kepada bank atau perusahaan yang
memerlukan dana dengan tujuan investasi dan
mendapatkan keuntungan bagi Bank yang memberikan
dana. Tentang berapa besar dana yang diinvestasikan
oleh pihak bank itu, sangat tergantung dan hubungan
dan pihak bank atau perusahaan yang meminta dana
itu dengan pihak bank yang memberiikan dana. Bank-
bank asing menggunakan produk overnigh ini sebagai
sumber pendapatannya, sebab bank asing itu biasanya
memberiikan bunga kepada pemilik dana cukup
rendah dan meminta bunga yang tinggi kepada pihak
bank atau perusahaan yang meminjam dana dari bank
asing tersebut.
5. Sertifikat Bank Indonesia, yaitu surat berharga atas
tunjuk dalam rupiah yang diterbitkan oleh Bank
Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka pendek
dengan sistem diskonto. Bank Indonesia menjual
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tujuan untuk
memperkecil uang beredar sehingga inflasi dapat
ditekan, sehingga Bank Indonesia membeli dalam
rangka meningkatkan uang beredar dan sekaligus
membuat deflasi tidak terjadi secara terus menerus.
Sesuai dengan konsep ini, SBI mempunyai waktu
maksimum yakni satu bulan atau tiga bulan. SBI ini
dijual melalui lelang yaitu SBI yang berdenominasi dari
yang minimum Rp. 50 juta sampai dengan maksimum
Rp.100 miliar. Masyarakat juga dapat membeli SBI ini
dengan nilai minimum Rp.100 juta dan sebaliknya
dengan kelipatan Rp. 50 juta.
Untuk melakukan transaksi pembelian SBI dapat
dilakukan melalui bank, pialang pasar uang dan
pialang pasar modal. Pialang pasar uang ada tunjuk
perusahaan yaikni PT. Exco Nusantara Indonesia, PT.

301
Hanlow Butler Polyforox, PT. Inti Prebon Money
Broker, PT. Penta Mahabakti, PT. Mesana Transforex
Internasional, PT. Sassoon W. Kedaung dan PT.Mitra
Dana, sedangkan yang dijual di pasar modal ada tujuh
perusahaan yakni PT. Bahana Securities, PT.Bhakti
Investama, PT. Danareksa Sekuritas, PT. Jardina
Fleming Nusantara, PT. Lippo Securities, PT. Makindo
dan PT. Viekers Balias Tamara. Investor dapat
menghubungkan perusahaan tersebut dengan
memberikan tingkat bunga yang akan ditawarkan ke
Bank Indonesia. Tingkat bunga yang diinginkan oleh
investor harus sudah masuk ke Bank Indonesia paling
lambat pukul 12.00 WIB melalui tiga lembaga tersebut
di atas.
Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) yaitu produk pasar
uang atau rekening koran di bank. Reksa Dana ini
mempunyai keuntungan yaitu tingkat bunga dikenal
dalam reksa dana sebagai tingkat pengembalian lebih
tinggi bila diinvestasikan pada instrumen investasi
pasar uang. Investor tidak dikenakan pajak bila
berinvestasi pada RDPU, sehingga secara netto investor
diuntungkan dan investor mempunyai kemungkinan
yang sangat kecil dana awalnya akan terkikis. Selain
dari itu investor juga dapat dilakukan redemption
yaitu keluar dari reksa dana itu secara tiba-tiba dan
setiap waktu tanpa dikenakan biaya apapun.
Kelemahannya investor tidak dapat menerima uang
seketika yang diinginkan, karena menurut peraturan
investor baru dapat menerimanya dua hari setelah
investor menyampaikan formulir redemt-nya.
Reksa Dana Pasar Uang sangat cocok untuk investasi
jangka pendek (kurang dan satu tahun), sebagai
pelengkap investasi deposito atau tabungan yang
sudah ada. Tujuan investasi RDPU hanya untuk
perlindungan kapital dan untuk menyediakan
likuiditas yang tinggi, sehingga jika dibutuhkan dapat
dicairkan setiap hari kerja dengan risiko penurunan
nilai investasi yang hampir tidak ada. RDPU mungkin
juga dapat memberikan hasil investasi yang negatif,
tetapi sangat kecil. Tidak seperti saham dan obligasi
yang nilainya dapat berubah-ubah setiap hari,
instrumen RDPU pada umumnya memiliki harga yang
tetap.
Hal yang menarik berinvestasi pada RDPU adalah
RDPU sebenarnya bukan hanya terbatas berinvestasi
pada deposito, tetapi juga ke instrumen lainnya seperti
SBI atau obligasi yang memberi potensi hasil yang
lebih tinggi dari pada deposito. RDPU memberikan
manfaat dalam hal diversifikasi investasi dan likuiditas
yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan investasi
langsung dalam deposito apabila dilakukan penarikan
sebelum jatuh tempo Bank akan mengenakan denda
sekitar 5 - 10 %, sedangkan RDPU tidak demikian,
dapat saja dana ditarik kembali maksimum 7 hari sejak
permohonan disampaikan, bahkan ada Reksa Dana
yang memberikan kemudahan untuk pencairan dana 1
hari setelah 1 hari permohonan disampaikan.
Investasi Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) dapat
dilakukan pada perusahaan Reksa Dana seperti Reksa
Dana Nikho Uang Likuid, Reksa Dana Investasi Mas
dan sebagainya. Reksa Dana ini mempunyai investasi
pada instrumen investasi yang berjangka waktu
kurang dari satu tahun.
7. Pasar Uang Antar Bank Berdasarkan Syariah.
Dasar pertimbangan dikeluarkan instrumen
investasi ini karena adanya kekhawatiran Bank Syariah
dapat mengalami kekurangan likuiditas disebabkan
oleh perbedaan jangka waktu antara penerimaan dan
penanaman dana atau kelebihan likuiditas yang dapat
terjadi karena dana yang terhimpun belum dapat
salurkan kepada pihak yang memerlukan. Di samping
itu juga didasarkan pada peningkatan efisiensi

303
penglolaan dana. Bank yang melakukan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah memerlukan adanya pasar
uang antar Bank, sehingga perlu dikeluarkan fatwa
DSN No. 37/ DSN-MUI /X /2002 tentang PUAB
berdasarkan syariah.
Akad yang dapat digunakan dalam Pasar Uang
Antar Bank berdasarkan prinsip syariah adalah
mudharabah (muqorodah/ qirodh), musyarakah,
Qord, Wadiah dan Sharf. Pemohon kepemilikan
instrumen pasar uang ini harus menggunakan akad-
akad syariah dan hanya boleh dipindah tangankan
sekali.
Selain hal tersebut di atas, Dewan Syariah
Nasional/MUI, juga telah mengeluarkan fatwa tentang
sertifikat investasi mudharabah antar bank (sertifikat
IMA) dengan ketentuan pertama : sertifikat investasi
antar bank berdasarkan bunga, tidak dibenarkan
menurut syariah, kedua : sertifikat investasi yang
berdasarkan pada akad mudharabah yang disebut IMA
dibenarkan menurut syariah, ketiga sertifikat IMA
dapat dipindahtangankan hanya satu kali setelah di
beli pertama kali dan keempat : pelaku transaksi
sertifikat IMA adalah bank syariah sebagai pemilik atas
penerima dana dan Bank Konvensional hanya sebagai
pemilik dana.

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa pasar uang


merupakan suatu tempat pertemuan abstrak di mana para
pemilik dana jangka pendek dapat menawarkan dananya
kepada calon pemakai yang membutuhkannya baik secara
langsung maupun melalui perantara. Sedangkan yang
dimaksud dengan dana-dana jangka pendek adalah dana-
dana yang dihimpun dari perusahaan maupun perorangan
dengan batasan waktu dari satu hari hingga satu tahun,
yang dapat dipasarkan di pasar uang.
2. Pasar Modal.
Pasar modal adalah sarana yang mempertemukan
antara pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus fund)
dengan pihak yang kekurangan dana (defisit fund), dimana
dana yang diperdagangkan merupakan dana jangka
panjang. Dari pengertian ini dapat diketahui perbedaannya
dengan pasar uang yaitu pada jangka waktu dana yang
diperdagangkan.
Pasar modal merupakan pasar yang menyediakan
sumber pembelanjaan dengan jangka waktu yang lebih
panjang, yang diinvestasikan pada barang modal untuk
menciptakan dan memperbanyak alat-alat produksi, yang
pada akhirnya akan menciptakan pasar kerja dan
meningkatan kegiatan perekonomian yang sehat.
Barang modal sendiri di dalam hal ini adalah semua
barang atau benda, pabrik, dan peralatannya yang
digunakan secara aktuil untuk memproduksi barang-
barang berwujud maupun barang-barang tidak berwujud.
Oleh sebab itu, ditinjau dan sudut penciptaan tenaga kerja
dan pembangunan perekonomian pasar modal sesungguh­
nya berperan langsung dari pada pasar uang.
Pasar modal dapat dibedakan atas dua segmen yaitu
non securities segment dan securities segment:
a. Non Securities Segment.
Segment ini menyediakan dana dari lembaga
keuangan langsung kepada perusahaan. Di sini
perusahaan berunding langsung dengan lembaga
penyedia dana, misalnya lembaga perbankan,
perusahaan asuransi, dana pensiun, dan sebagainya.
Biasanya lembaga keuangan akan menahan tanda bukti
investasi perusahaan, umpamanya berupa hari
agreement dan credit agreement, sampai dengan
pembayaran selesai. Dengan perkataan lain investasi
tidak dilakukan dengan negotiable securities secara
bebas yang dapat dijual secara mudah kepada

305
perorangan maupun kepada investor kecil. Pasar ini
disebut "non securities segment" dari pasar modal.
b. Securities Segment.
Berbeda halnya dengan non securities segment,
maka securities segment dirancang dengan maksud
dapat menyediakan sumber pembelanjaan perusahaan
jangka panjang dan memungkinkan perusahaan
melakukan investasi pada barang modal,
memperbanyak alat-alat produksi, dan menciptakan
kesempatan kerja. Tujuan segmen ini adalah
memobilisasi tabungan jangka panjang, menyediakan
wahana atau saluran tabungan yang dapat ditarik atau
ditempatkan pada investasi jangka panjang pada
perusahaan-perusahaan produktif.

Di Pasar modal ada istilah pasar perdana, pasar


sekunder dan bursa pararel. Untuk lebih jelasnya mengenai
istilah ini dapat diuraikan sebagai berikut18:
a. Pasar Perdana.
Yang dimaksud pasar perdana adalah penjualan
perdana efek/ sertifikat atau penjualan yang dilakukan
sesaat sebelum perdagangan di bursa/ pasar sekunder.
Pada pasar ini efek/ sertifikat diperdagangkan dengan
harga emisi (Danareksa, PT. 1986). Pada pasar perdana
perusahaan akan memperoleh dana dengan menjual
sekuritas {saham, obligas hipotek).
Selanjutnya perusahaan dapat menggunakan dana
hasil emisi tersebut untuk menambah barang modal
dan seterusnya digunakan untuk memproduksi barang
dan jasa. Artinya pasar perdana ini sangat penting
untuk pertumbuhan ekonomi. Penjualan saham dan
obligasi ini dilaksanakan oleh lembaga-lembaga
keuangan, investment banker, broker, dan dealers. Para

18 Ibid, hal. 25

306
perantara ini mengatur penjualan efek baik kepada
lembaga maupun perorangan.
b. Pasar Sekunder.
Yang dimaksud dengan pasar sekunder adalah
penjualan efek/sertifikat setelah pasar perdana
berakhir. Pada pasar ini efek diperdagangkan dengan
harga kurs (Danareksa, PT. 1986). Pasar sekunder
merupakan pasar dimana surat berharga di jual setelah
pasar perdana.
Ditinjau dari sudut investor, pasar sekunder harus
dapat menjamin likuiditas dari efek. Artinya investor
menghendaki dapat membeli kembali sekuritas jika ia
punya dana dan juga menghendaki menjual sekuritas
untuk memperoleh uang tunai atau dapat mengalihkan
kepada investor lain. Dari sudut pandang perusahaan,
pasar sekunder merupakan wadah untuk menghimpun
para investor baik para investor lembaga maupun
investor perorangan.
Apabila pasar sekunder tidak cukup likuid,
tentunya investor tidak akan membeli efek-efek pada
pasar perdana. Di dalam hal ini, lembaga-lembaga
pasar sekunder meliputi para broker dan dealers yang
menjual dan membeli surat berharga untuk para
investor. Jual beli dilakukan di bursa reguler bagi
perusahaan yang belum sepenuhnya memenuhi
persyaratan listing. Emisi pada pasar perdana dan
perdagangan pada hakekatnya adalah saling
memerlukan satu sama lain. Pasar perdana
membutuhkan pasar sekunder untuk menjamin
likuiditas sekuritas dan sebaliknya, pasar sekunder
membutuhkan pasar perdana di dalam menambah
sekuritas untuk diperdagangkan.
Hubungan antara pasar uang dengan pasar modal
sebenarnya bukan berdiri sendiri-sendiri, tetapi
merupakan hubungan yang timbal balik saling
menguntungkan. Dari keadaan ini dapat dilihat hal

307
sebagai berikut pertama : pihak-pihak yang menawar­
kan dana mempunyai pilihan apakah akan
mengarahkannya ke salah satu pasar tersebut atau
kepada kedua-duanya. Hal ini tergantung dari
kebijakan investasi mereka, kedua: para pemakai dana
mempunyai kesempatan yang sama untuk
memperoleh dana yang dibutuhkan baik dari pasar
uang maupun pasar modal, ketiga : terdapat beberapa
keuangan dan fasilitas yang ada memungkinkan
pelayanan terhadap kedua pasar tersebut, keempat :
hasil-hasil pada pasar uang dan pasar modal satu sama
lain saling berhubungan.
Menurut Paket Desember 1987 (Pakdes), pasar
perdana (Primary Market) adalah penawaran saham
dari emiten (yang mengeluarkan saham) kepada pemodal
selama jangka waktu yang ditetapkan oleh para pihak
sebelum saham tersebut diperdagangkan pada pasar
modal sekunder. Dengan kata lain, pasar sekunder
didahului oleh pasar primer/perdana. Karena itu pula
dalam Pakdes, definisi pasar sekunder adalah
perdagangan saham setelah melewati masa penawaran
pada pasar perdana. Pada pasar perdana, saham yang
bersangkutan untuk pertama kali diterbitkan dan hasil
penjualan saham ini masuk sebagai modal pada
perusahaan yang menerbitkan saham tersebut.
Pasar sekunder memperdagangkan saham yang
sudah berada di tangan masyarakat, dan sudah
melewati pasar perdana. Jadi, hasil jual beli saham di
sini tidak masuk ke dalam kas perusahaan (emiten),
tetapi ke dalam pemegang saham yang bersangkutan.
Perusahaan yang menerbitkan saham semula sudah
tidak terlibat lagi dalam jual beli saham tersebut.
Pasar sekunder inilah yang diatur dan diselenggarakan
oleh Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek-efek
(PPUE).
c. Bursa Pararel.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bursa
pararel ? Kalau dicari dalam ketentuan-ketentuan
Paket Desember 1987 (Pakdes)" yang antara lain
menerbitkan 13 macam surat keputusan dan surat
edaran yang berhubungan dengan pasar modal dan
secara resmi mulai menyebutkan bursa pararel, masih
belum ditemukan istilah tersebut.
Sedangkan kalau memperhatikan ketentuan-
ketentuan yang diambil dari Pakdes, dapat
disimpulkan bahwa bursa pararel adalah "Suatu sistem
perdagangan efek yang terorganisasi di luar Bursa Efek
Jakarta, dengan bentuk pasar sekunder, diatur dan
diselenggarakan dengan oleh Perserikatan Perdagangan
Uang dan Efek-efek (PPUE), diawasi dan dibina oleh Badan
Pelaksana Pasar Modal (Bapepam)".
Sampai sekarang ini, perusahaan yang ingin
menjual saham kepada masyarakat, setelah mendapat
izin dari Bapepam, wajib mencatatkan sahamnya di
Bapepam c.q. di bursa. Mencatatkan saham adalah
terjemahan istilah Inggris listing yang mengandung
arti meminta agar saham dapat diperjual belikan di
luar bursa efek, jadi di pasar sekunder.
Istilah lain yang ada kaitannya dengan penawaran
saham kepada masyarakat adalah pendaftaran emisi
saham, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut
registration. Pernyataan pendaftaran emisi saham
diajukan kepada Bapepam, jika disetujui akan
mendapat Surat Izin Emisi Efek. Dengan adanya izin
ini saham tersebut jadi terdaftar di Bapepam dan dapat
mulai ditawarkan kepada masyarakat. Penawaran ini
sampai selesai penyerahan saham-saham yang
bersangkutan kepada pembeli disebut perdana atau
Primary Market. Selesai pasar perdana, baru saham tadi
dapat dicatat di bursa, maka mulailah pasar sekunder
atau secondary market. Saham yang tercatat di bursa

309
tidak boleh diperdagangkan di luar bursa (Over the
Counter).
Pada bursa pararel, prosedur pasar perdananya
sama. Pernyataan pendaftaran emisi diajukan kepada
Ketua Bapepam melalui penjamin emisi. Setelah
mendapat surat izin emisi saham dan Ketua Bapepam,
baru saham tersebut dapat ditawarkan kepada
masyarakat. Selesai penawaran kepada masyarakat di
pasar perdana, baru saham yang bersangkutan dapat
diperdagangkan di bursa pararel, saham yang
bersangkutan harus dicatatkan dahulu dalam bursa ini.
Contoh perdagangan efek di luar bursa adalah
perdagangan sertifikat dan sertifikat yang diterbitkan
oleh PT. Danareksa. Prinsip perdagangan di bursa
pararel adalah sama dengan perdagangan sertifikat
Danareksa, yaitu antara lain akan ditetapkan kantor-
kantor, tempat-tempat tertentu di mana perdagangan
ini dapat dilakukan. Apakah bank-bank tertentu, di
lembaga-lembaga keuangan non bank, kantor-kantor
pialang, dan sebagainya.
Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek-Efek
(PPUE) adalah wadah organisasi perantara
perdagangan efek dan perdagangan efek di bursa
pararel, telah mendapat persetejuan Menteri Keuangan,
yaitu dengan Peraturan No. 01/PPUE/1988 tanggat 20
Mei 1998. yang diatur dan diselenggarakan oleh PPUE
di bursa pararel adalah perdagangan saham di pasar
sekunder, seperti dikatakan dalam Surat Keputusan
Menteri Keuangan No. 862/KMK.01/1987, Pasal 3 ayat
ke satu. Bursa pararel tidak tampak turut serta dalam
pasar perdana. Dalam syarat-syarat dan tata cara emisi
dalam surat keputusan tersebut dikatakan bahwa
emiten mengajukan persyaratan pendaftaran emisi
kepada ketua Bapepam melalui penjamin emisi.
Perjanjian emisi menyampaikan hasil penilaian
atas keadaan dan kemampuan calon emiten kepada
Ketua Bapepam (Pasal 5), Ketua Bapepam atas nama
Menteri Keuangan, berdasarkan penilaian Bapepam,
akan memberikan Surat Izin Emisi Saham Emiten
(Pasal 7). Yang telah memperoleh Surat Izin Emisi
Saham, wajib mengumumkan dan menyerahkan
kepada Bapepam laporan kegiatan yang ditetapkan
dalam Keputusan Ketua Bapepam (Pasal 18). Yang
mengatur pelaksanaan teknis lebih lanjut adalah
Bapepam (Pasal 20).

Sebagaimana telah di kemukakan terdahulu bahwa


Pasar Modal adalah tempat bertemu para pihak untuk
melakukan investasi terhadap portofolio secara abstrak.
Menurut Panji Anoraga dan Piji Pakarti serta Komaruddin
Ahmad19 menjelaskan ada beberapa manfaat pasar modal
untuk berinvestasi, antara lain :
1. Manfaat bagi Investor.
Bila selama ini para pemodal relatif terbatas
menanamkan dananya di bank, seperti deposito dan
instrumen simpanan lainnya. Dengan perkembangan
pasar modal di Indonesia yang menerbitkan saham,
obligasi dan sekuritas, jelas membuka kesempatan
lebih mengoptimalkan perolehan dari dana yang
dimilikinya. Memang bisa saja, pemodal tersebut
menanamkan uangnya dalam bentuk investasi
langsung, tapi perlu melakukan penelitian yang lebih
mendalam tentang sektor investasi. Apakah
prospeknya menguntungkan dan siapa partnernya.
Sedangkan investasi dalam bentuk saham dan atau
obligasi, tidak memerlukan penelitian yang rumit.
Sebab perusahaan yang telah go public tersebut telah
mempunyai track record sebelumnya. Terlebih-lebih lagi
ada pihak-pihak yang telah meneliti mengenai keadaan
keuangan dan prospek usaha perusahaan tersebut

Panji Anoraga dan Piji Pakarti, Pengantar Pasar Modal, Rineka Cipta, Jakarta,
2001, Opcit, hal. 17-19 dan Komaruddin Ahmad, Opcit, hal.55-61.

311
untuk masa mendatang. Dalam hal demikian ini,
pemodal tersebut tidak perlu dipusingkan
dibandingkan bila melakukan investasi secara
langsung. Yang penting adalah menetapkan pemilihan
saham yang akan dibeli dari pada harga berapa bila
saham tersebut diperdagangkan di pasar sekunder.
Sedang di pasar perdana telah ditetapkan oleh
penjamin emisinya bersama-sama dengan emitennya.
Manfaat yang dapat diambil /diperoleh bagi
investor dalam berinvestasi di Pasar Modal antara lain :
a. Nilai investasi berkembang mengikuti partum-
buhan ekonomi, peningkatan tersebut tercermin
pada meningkatnya harga yang menjadi capital
baru.
b. Sebagai Pemegang saham, investor memperoleh
dividen, sebagai pemegang obligasi investor
memperoleh bunga tetap (bagi hasil) atau
pendapatan yang lain yang mengambang.
c. Mempunyai hak suara dalam RUPS bagi
pemegang saham, mempunyai hak suara dalam
RUPO bila diadakan bagi pemegang obligasi.
d. Dapat dengan mudah mengambil instrumen
investasi misalnya dan saham A ke saham B
sehingga dapat meningkatkan keuntungan atau
mengurangi risiko investasi.
e. Dapat sekaligus melakukan investasi dalam
beberapa instrumen untuk mengurangi risiko.

Investasi di pasar modal juga mempunyai


beberapa kelebihan dibandingkan dengan investasi
pada sektor perbankan maupun sektor lainnya bagi
investor, pasar modal memberikan kelebihan-kelebihan
dan kekuasaan sendiri. Dalam melakukan investasi di
pasar modal. Calon investor dapat memilih berbagai
jenis efek yang diinginkan, apakah dalam bentuk
saham, obligasi maupun sekuritas kridit.
2. Manfaat bagi Pemerintah.
Dengan berkembangnya pasar modal,
perusahaan-perusahaan menjual sahamnya di bursa
efek, hal ini akan sejalan dengan tujuan pemerataan
hasil pembangunan, membuka kesempatan kerja dan
tidak kalah pentingnya adalah mengurangi ketegangan
sosial di kalangan masyarakat.
Dana yang diperoleh perusahaan yang go public
dapat digunakan untuk memperluas jaringan usaha,
baik yang telah ada maupun usaha baru. Kondisi yang
demikian ini jelas akan membuka kesempatan kerja. Di
lain pihak, dengan dimilikinya saham-saham oleh
pemodal perorangan, memberikan kesempatan kepada
masyarakat luas memiliki saham yang selama ini
dimiliki oleh keluarga tertentu maupun pengusaha
kaya saja. Keadaan demikian ini secara politis akan
dapat mengurangi ketegangan sosial dalam
masyarakat. Manfaat lain dan perkembangan pasar
modal ini adalah pendayagunaan secara optimal dana
yang dimiliki oleh masyarakat untuk dimanfaatkan
dalam mendorong pembangunan. Keterbatasan
pembiayaan pembangunan dan sektor pemerintah
diharapkan dapat diperoleh dari masyarakat atau
swasta sendiri.

3. Manfaat bagi Perusahaan dan Dunia Usaha.


Masalah utama yang biasa dihadapi setiap
perusahaan untuk mengembangkan usahanya adalah
"permodalan". Walaupun dunia perbankan dan lembaga
keuangan lainnya telah menyediakan dan membuka
kesempatan kepada setiap pengusaha untuk
memperoleh fasilitas modal, namun tidak semua
perusahaan dapat memperoleh kesempatan tersebut.
Hambatan utama biasanya menyangkut jaminan atau
agunan. Keterbatasan jaminan yang dimiliki
perusahaan memaksa terbukanya pasar bagi produk

313
usahanya maupun kelonggaran yang diberikan
pemerintah tidak dapat sepenuhnya mereka
manfaatkan.
Keadaan tersebut tidak sedikit menutup
kesempatan berkembang bagi perusahaan kecil dan
atau menengah. Di lain pihak, jenis usaha tersebut akan
dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan besar yang
kuat permodalannya. Akhirnya pengusaha dengan
skala kecil terpaksa mengalihkan usahanya ke bidang
lain berhubung tidak kuat bersaing dengan perusahaan
besar. Kalaupun dapat bersaing akhirnya akan
kehilangan pasar.
Dalam usaha meningkatkan modal dengan mena­
rik dana dan luar, perusahaan akan memperhatikan
masalah jumlah dana dan jangka waktu untuk
memperolehnya. Di samping itu jenis dana yang
ditarik tidak kalah penting pula untuk menjadi
pertimbangan. Apakah dana yang ditarik itu pinjaman
atau modal sendiri (Equity) akan tergantung pada
posisi keuangan perusahaan yang telah ada. Dengan
demikian, bank tidak selalu akan dapat memenuhi
permintaan kredit perusahaan. Posisi keuangan yang
telah melampaui, ratio debt to equity yang aman tidak
memungkinkan bank untuk mengikatkan kredit (modal
pinjaman) bagi perusahaan yang bersangkutan.
Dalam posisi yang demikian, penanaman modal
perusahaan dapat ditempuh dengan jalan menambah
jumlah equity (saham). Jika perusahaan sudah tidak
mungkin untuk meningkatkan modal pinjaman,
padahal peningkatan modal sudah sangat mendesak,
akan semakin menyulitkan perusahaan jika tidak ada
jalan keluarnya. Hal itu tidak mustahil akan terjadi bila
alternatif dana sangat terbatas. Untuk mendorong
perkembangan perusahaan, pemerintah berusaha
menyediakan berbagai alternatif sumber dana yang
dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memenuhi
kedudukan dananya.
Melalui pasar modal, perusahaan dapat
memperoleh dana pinjaman maupun dana equity.
Melalui pasar modal perusahaan dapat mengutamakan
dana pinjaman dengan menjual obligasi atau sekuritas
kridit. Sedangkan penguatan dana equity dapat
ditempuh dengan menjual saham. Meskipun sudah
tersedia di pasar modal yang dapat dimanfaatkan oleh
perusahaan sebagai wadah untuk menarik dana, tetapi
masih banyak perusahaan yang belum memahami
bagaimana manfaat pasar modal.

V. RISIKO DALAM INVESTASI


Ada dua unsur yang selalu melekat pada setiap investasi
yaitu hasil (return) dan risiko (risk). Dua unsur ini selalu
mempunyai hubungan yang searah, semakin tinggi risiko
investasi semakin besar peluang hasil yang diperoleh.
Sebaliknya, semakin kecil risiko, semakin kecil pula peluang
hasil yang akan diperolehnya. Pada umumnya tidak ada
satupun instrumen investasi yang sepenuhnya bebas dari risiko.
Sebagai contoh, investasi dalam bentuk tabungan dengan bunga
tetap, tetapi memiliki risiko minimal, yaitu turunnya daya beli
tabungan tersebut akibat adanya inflasi, nilai tukar tidak
seimbang dengan return yang diperoleh dan investasi tersebut.
Investor tidak dapat dipisahkan dengan harapan untuk
mendapatkan keuntungan yang diharapkan sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan, tetapi selalu penuh dengan
kepastian. Oleh karena itu seorang investor harus membuat
perkiraan dan prediksi yang tepat dalam perencanaannya.
Untuk membuat prediksi yang tepat seorang investor perlu
pengetahuan tertentu untuk menganalisis data-data ekonomi
keuangan masa sekarang dan masa yang akan datang. Atas
dasar keputusan investasi yang penuh dengan ketidak pastian
ini dan belum tentu sesuai dengan keinginan yang diharapkan,
maka sering menimbulkan risiko yang dialami oleh seorang
investor dalam berinvestasi. Bagi seorang investor yang
bermaksud menanamkan modalnya pada setiap instrumen

315
investasi, harus mengetahui benar tentang risiko dalam
berinvestasi, ia harus bisa menguasai manajemen risiko ini.
Menurut Panji Anoraga dan Piji Pakarti20 dalam
melaksanakan investasi, seorang investor diharapkan
memahami adanya beberapa risiko, sebagai berikut, pertama :
risiko finansial, yaitu risiko yang diterima oleh investor akibat
dan ketidak mampuan eminten (saham/obligasi) memenuhi
kewajiban pembayaran deviden (bunga) serta pokok investasi,
kedua : risiko pasar, yaitu akibat menurunnya harga pasar
substansial baik keseluruhan saham maupun saham tertentu
akibat perusahaan tingkat inflasi ekonomi, keuangan negara,
perubahan manajemen perusahaan atau kebijakan pemerintah
dalam bidang ekonomi, ketiga : risiko pskologis yaitu risiko bagi
investor yang bertindak secara emisional dalam menghadapi
perubahan harga saham berdasarkan optimisme dan pesimisme
yang dapat mengakibatkan kenaikan dan penurunan harga
saham. Jika banyak investor yang membeli saham melebihi
suply yang tersedia dalam pasar, maka akan mendorong harga
keseluruhan semakin meningkat. Keadaan ini disebut dengan
"bullmarket". Sebaliknya apabila banyak investor menjual
sahamnya, sehingga mendorong harga semakin menurun,
kejadian ini dalam dunia investasi disebut "bearmarket".
Investasi di reksa dana juga tidak terlepas dari risiko yang
terjadi. Dalam setiap brosur (reklame) mengenai reksa dana yang
diperdagangkan selalu dicantumkan bahwa Nilai Unit
Penyertaan Reksa Dana dapat naik dan dapat pula turun sesuai
dengan harga yang berlaku di pasar modal. Sering juga
dicantumkan bahwa kinerja masa lalu bukan merupakan
jaminan atau tidak harus menunjukkan kinerja masa yang akan
datang. Hal ini harus diketahui sepenuhnya oleh para investor
sebelum ia menanamkan modalnya pada salah satu instrumen
investasi. Misalnya berinvestasi di Reksa Dana, investor harus
mengerti betul tentang keadaan Reksa Dana tersebut, sebab
pada dasarnya investasi melalui Reksa Dana berarti berinvestasi

20
Pandji Anoraga dan Piji Pakarti, Opcit, hal.78

316
dalam suatu pasar. Naik turunnya pasar, apakah itu tingkat
suku bunga pasar deposito atau harga-harga pasar obligasi, atau
harga-harga pasar saham, akan juga mempengaruhi Nilai Unit
Penyertaan Reksa Dana yang dimiliki oleh investor.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Eko Priyo Pratomo
dan Ubaidillah Nugraha21 menjelaskan bahwa risiko yang selalu
disebutkan dalam prospektus Reksa Dana pada umumnya
terdiri dari dua risiko yaitu pertama : risiko berkurangnya Nilai
Aktiva Bersih per Unit Penyertaan (NAB/Unit). Berkurangnya
NAB/Unit dan harga NAB/Unit pada saat investor membeli
merupakan indikator kerugian bagi investor. Turunnya harga
NAB/Unit disebabkan oleh turunnya nilai atau harga efek-efek
yang dimilik Reksa Dana. Penyebabnya antara lain karena
pengaruh kondisi ekonomi, politik, sosial, keamanan, bencana
atau dan lain-lain. Bisa juga disebabkan karena terjadi
wanprestasi (default) dan eminten atau dan penerbit surat
berharga atau juga pihak yang terlibat dalam transaksi dan
pengelolaan investasi dalam memenuhi kewajibannya, kedua :
risiko likuiditas yaitu berkaitan dengan cepat lambatnya
investor dapat mencairkan investasinya dengan melakukan
penjualan kembali unit penyertaan yang dimilikinya. Peraturan
Bapepam mensyaratkan pembayaran dana hasil penjualan Unit
Penyertaan oleh investor harus dilakukan paling lambat 7
(tujuh) hari bursa setelah permohonan diterima oleh Menejer
Investasi.
Timbulnya risiko investasi bersumber dari bebarapa faktor.
Menurut Kamaruddin Ahmad22 faktor-faktor risiko ini dapat
terjadi bersamaan atau hanya muncul dari salah satu saja. Risiko
tersebut antara lain, pertama : Risiko tingkat bunga, terutama jika
terjadi kenaikan, kedua : Risiko daya beli, disebabkan inflasi,
ketiga : Risiko bear dan bull, tren pasar turun atau naik, keempat:
Risiko manajemen, kesalahan/kekeliruan dalam penglolaan,
kelima : Risiko kegagalan, keuangan perusahaan ke arah

Eko Priyono Pratomo dan Ubaidillah, Op. Cit. hal.84-85


Kamaruddin Ahmad, O p. C it ,hal 4-5

317
kepailitan, keenam : Risiko likuiditas, kesulitan pencairan/
pelepasan aktiva, ketujuh : Risiko penarikan, kemungkinan
pembelian kembali aset/ surat berharga oleh eminten, kedelapan :
Risiko konversi, keharusan penukaran atau aktiva, kesembilan:
Risiko politik, baik Internasional maupun Nasional dan
kesepuluh: Risiko industri, munculnya saingan produk homogen.
Melihat risiko yang timbul bisa berbagai macam, baik yang
timbul oleh faktor internal maupun faktor eksternal dan produk
investasi. Setiap tindakan investasi mempunyai tingkat risiko
dan keuntungan yang berbeda-beda. Ada karakter investor yang
menginginkan tingkat keuntungan cukup tinggi di atas rata-rata
keuntungan normal, sehingga harus siap mendapatkan potensi
tingkat risiko yang tinggi pula. Ada juga investor yang
mengharapkan tingkat keuntungan relatif kecil, sehingga ia akan
mendapat risiko cenderung lebih kecil pula. Istilah yang paling
umum dikenal dalam risiko ini adalah "high profit high risk, low
profit low risk".
Sehubungan hal tersebut di atas, Sapto Rahardjo23
menjelaskan bahwa risiko investasi yang timbul dan setiap
investasi kaang-kadang bisa diprediksi sebelumnya, kadang
juga tidak bisa diprediksikan. Oleh karena itu, seringkah
investor menggunakan jasa konsultan atau analisa investasi
yang mungkmn timbul. Analisa risiko investasi bisa mencakup
analisis mikro perusahaan serta analisis makro ekonomi dan
politik suatu negara, sampai dengan analisis keuangan dan
pasar modal internasional. Aspek analisis bisa mencakup aspek
keuangan, bisnis, manajemen, industri bisnis, ekonomi makro
dan lain sebagainya. Dengan mendapatkan gambaran potensi
risiko investasi secara hati-hati dan mampu bertindak membuat
keputusan sesuai dengan kondisi yang ada.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, dapat diketahui
bahwa ada tiga tipe investor dalam menghadapi risiko dalam
berinvestasi, yaitu investor yang tergolong menyukai risiko (risk
seeker), investor yang tergolong kurang suka terhadap risiko (risk

Sapto Rahardjo, Panduan Investasi Obligasi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
2004, hal.48

318
overter) dan investor yang tidak memperdulikan risiko (risk
indiferrent). Bagi investor yang berani mengambil risiko terhadap
investasi yang dilakukannya, biasanya ia memilih investasi pada
saham yang sedang tumbuh. Jika investor tergolong tipe tidak
menyukai risiko, ja bisa memilih instrumen investasi yang
berpenghasilan tetap, seperti obligasi atau instrumen pasar
modal yang dikelola oleh eminten dan menejer investasi yang
profesional. Jika terdapat pilihan investasi yang memiliki hasil
yang sama, maka harus dipilih yang risikonya paling rendah.
Sebaliknya jika terdapat pilihan investasi yang memberikan
resiko sama, maka sebaiknya dipilih yang memberikan hasil
tertinggi.

VI. PRINSIP-PRINSIP INVESTASI BERDASARKAN SYARIAH.


1. Prinsip Halal.
Kata halalan berasal dan bahasa Arab dan lafadz halia
yang berarti "lepas" atau "tidak terikaf". Dalam kamus
istilah fiqih, kata halal dipahami sebagai segala sesuatu
yang boleh dikerjakan atau dimakan. Dengan pengertian
bahwa orang yang melakukannya tidak mendapat sanksi
dari Allah SWT. Istilah halal, biasanya berhubungan dengan
masalah makanan dan minuman, misalnya makan nasi atau
minum air.24
Kata halal selalu dilawankan dan dikaitkan dengan
kata haram yaitu sesuatu atau perkara-perkara yang
dilarang oleh syara'. Berdosa jika mengerjakannya dan
berpahala jika meninggalkannya, misalnya memakan
bangkai binatang, memakan barang yang bukan miliknya
atau hasil mencuri dan menipu. Haram juga biasa disebut
dengan maksiat atau perbuatan jahat. Haram dibagi
menjadi dua macam yaitu pertama haram lidzatihi yaitu
suatu hal yang pada dasarnya memang dilarang oleh syara'
seperti darah, babi, bangkai dan khamar, kedua haram li

M. Abdul Mujieb dkk, Kamus Istilah Fiqih, PT. Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994,
hal. 97

319
ghairihi yaitu suatu hal yang pada dasarnya tidak dilarang
oleh syara', tetapi karena adanya hal-hal lain yang timbul
kemudian, maka perbuatan itu lalu menjadi dilarang atau
haram, seperti mempraktekkan riba, bermain kartu itu
boleh tetapi kemudian disertai dengan taruhan maka
menjadi haram. Begitu juga jual beli, hukum dasarnya halal,
tetapi jika ada unsur gharar (ketidak pastian), maka transaksi
jual beli itu menjadi haram dan dilarang oleh syara'.
Di samping hal halal dan haram sebagaimana tersebut
di atas juga dikenal istilah "syubhat". Dalam kamus istilah
Fiqih25 dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan istilah
syubhat adalah sesuatu yang masih samar atau tidak jelas.
Syubhat adalah perkara-perkara yang kurang/tidak jelas
hukumnya, apakah halal atau haram. Islam telah
mengingatkan ummatnya agar menghindani atau menjauhi
perkaraperkara syubhat. Dalam sebuah hadist yang
diriwayatkan Bhukari dan Muslim, Rasulullah bersabda
"sesungguhnya sesuatu yang halal itu sudah jelas dan yang
harampun juga sudah jelas. Diantaranya ada yang samar-samar
(myustabihat), yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Barang siapa yang takut/memelihara dirinya dari yang samar-
samar itu berarti telah membersihkan kehormatan diri dari
agamanya. Dan barang siapa yang jatuh kedalam yang samar-
samar (Syubhat) berarti ia telah jatuh kedalam hal/perkara yang
haram". Menurut Imam Abui Qasim Al Qusyaini26 yang
dimaksud dengan orang wara' adalah orang yang semasa
hidupnya selalu bersikap meninggalkan hal-hal yang
bersifat syubhat (belum jelas kehalalannya).
Masalah halal dan haram merupakan hak prerogatif
Allah SWT dan Rasul-Nya untuk menentukannya. Oleh
karena itu, penetapan masalah halal dan haram harus
mengacu kepada sumber-sumber hukum Islam. Beberapa

25 Ibid, hal. 349


26
M. Nadratuzzaman Husen dkk, Gerakan 3 H. Ekonomi Syariah, PKES, Jakarta,
2007, hal .4

320
ayat Al Quran telah memberikan rambu-rambu tentang
makanan dan bahan makanan serta cara memperolehnya
berdasarkan cara yang baik (halal) dan jauh dari haram
untuk dipergunakan oleh ummat Islam. Dalam surat Al
Baqoroh ayat 168 Allah SWT berfirman yang artinya "Hai
sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dan apa yang
terdapat di bumi dan janganlah kamu itu mengikuti langkah-
langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh
yang nyata bagimu". Kemudian dalam surat Al Maidah ayat
88 Allah berfirman yang artinya "dan makanlah makanan yang
halal lagi baik dan Allah telah rezekikan kepadamu, dan
bertacjivalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya."
Selain ayat-ayat al Qur'an dan sebagaimana tersebut di atas
Rasulullah SAW telah menjelaskan tentang halal dan
haram. Diantaranya hadist yang diriwayatkan dan Jabir bin
Abdullah bahwa Rasulullah SAW bersabda "wahai ummat
manusia bertacjivalah kepada Allah dan sederhanakanlah dalam
mencari rezeki (berinvestasi), karena seseorang tidak akan
meninggal sebelum rezkinya lengkap, sekailpun ia melambatkan
darinya. Bertakwalah kepada Allah dan sederhanakanlah dalam
mencari rezki (berinvestasi), ambilah apa yang halal dan
tinggalkanlah apa yang haram". Dalam hadist yang lain
diriwayatkan dan Ali RA, bahwa seorang pria datang
menemui Rasulullah SAW menanyakan tentang usaha apa
yang baik dalam berinvestasi. Beliau bersabda "Pekerjaan
yang baik adalah pekerjaan seseorang yang dilakukan dengan
tangannya dan setiap transaksi jual beli yang dilakukan adalah
dengan cara yang halal. Allah SWT sesungguhnya menyukai
orang yang beriman dan orang-orang yang profesional, serta
orang-orang yang menderita karena membiayai keluarganya,
perbuatan ini tidak ubahnya seperti pejuang di jalan Allah, Tuhan
yang Maha Agung".
Mengapa harus dengan cara halal dan meninggalkan
segala yang haram dalam berinvestasi ? Dalam kaitan ini M.

321
Nadratuzzaman Husen dkk27 dan kawan-kawan
mengemuka-kan bahwa mencari rezeki (berinvestasi) dengan
cara halal karena pertama: kehendak syar'i, Allah SWT dan
Rasul-Nya telah memberikan bimbingan dalam mencari
rezeki (berinvestasi) yaitu melakukan yang halal dan
menjauhkan yang haram, kedua : didalam halal
mengandung keberkahan, ketiga : didalam halal
mengandung manfaat dan mashlahah yang agung bagi
manusia, keempat: didalam halal akan membawa pengaruh
positif bagi perilaku manusia, kelima : pada halal melahirkan
pribadi yang istiqamah yakni yang selalu berada dalam
kebaikan, kesalihan, ketaqwaan, keikhlasan dan keadilan,
keenam : pada halal akan membentuk pribadi yang zahid,
wira'i, qana'ah, santun dan suci dalam segala tindakan,
ketujuh : pada halal akan melahirkan pribadi yang tasamuh,
berani menegakkan keadilan dan membela yang benar.
Lebih lanjut M Nadratuzzaman Husen dkk28
mengemu-kakan bahwa investasi yang dilakukan secara
haram (non halal) hasilnya akan pertama : memunculkan
sosok pendusta, penakut, pemarah dan penyebar kejahatan
dalam kehidupan masyarakat, kedua : akan melahirkan
manusia pendusta, tidak bertanggung jawab, pengkhianat,
penjudi, koruptor dan pemabuk, ketiga : menghilangnya
keberkahan, ketenangan dan kebahagiaan bagi manusia.
Oleh karena itu diharapkan kepada ummat Islam
diharapkan agar dalam mencari rezeki (berinvestasi)
menjauhkan diri dari hal-hal yang haram. Melaksanakan
hal-hal yang halal, baik dalam cara memperoleh, dalam
mengkonsumsi dan dalam memanfaatkannya. Doa orang
yang berinvestasi secara halal akan diterima oleh Allah dan
hidupnya penuh makna dalam ridhai Allah SWT.
Oleh karena itu, pastikan bahwa produk atau jasa yang
ditawarkan berbasis halal, jika masih ragu-ragu terhadap

27 Ibid, hal.18-25.
28 Ibid, hal. 21

322
produk dan jasa yang akan dipergunakan sebagai
instrument investasi maka minta petunjuk kepada Majelis
Ulama Indonesia (MU!) atau para ahli hukum Islam yang
terpercaya. Jika investasi dilakukan dalam bidang pangan,
obat-obatan dan kosmetika, maka segeralah ajukan
sertifikat halal kepada LP-POM MUI untuk mendapatkan
sertifikat halal. Kehalalan itu tidak cukup hanya pada
barang atau jasa melainkan juga termasuk penggunaannya.
Penggunaan yang tidak benar atau untuk tujuan yang tidak
benar, meskipun benda atau jasa tersebut pada asalnya
adalah halal, ia dapatjatuh kepada investasi yang haram.

2. Prinsip Mashlahah.
Dalam bahasa Arab kata "maslahah" yang jama'nya
mashalih merupakan sinonim dari kata "manfaat" dan
lawan dari kata "mafsadah" yang berarti kerusakan. Secara
majas kata tersebut juga dapat dipergunakan untuk
tindakan yang mengandung manfaat. Kata manfaat sendiri
selalu diartikan dengan ladzah (rasa enak) dan upaya
mendapatkan atau mempertahankannya. Dalam kajian
syariat, kata maslahah dapat dipakai sebagai istilah untuk
mengungkapkan pengertian yang khusus yakni segala hal
yang memberikan manfaat kepada pribadi, keluarganya
dan lingkungannya, dan menghindar dari segala keburukan
dan hal yang merusak, baik kepada diri pribadi, keluarga
dan masyarakat.
Al Ghazali29 menjelaskan bahwa menurut asalnya
mashlahah itu berarti sesuatu yang mendatangkan manfaat
atau keuntungan dan menjauhkan mudharat (kerusakan)
yang pada hakikatnya adalah memelihara tujuan syara'
dalam menetapkan hukum. Sedangkan Zaky ad Din
Sya'ban30 mengatakan bahwa yang dimaksud dengan
mashlahah adalah sesuatu yang ditetapkan hukum padanya

29
Al Ghazali, al Mustafa mil'ilm al Ushul, Darr al Fikr, Bairut, tt,hal.286.
Zaky ad Din Sya'ban, Ushul at Fic/h at Islam , Darr al Nahdad al Rabiyah,tt,hal.
182

323
akan berhasil menarik suatu manfaat dan perbuatan
manusia, tidak ada ketentuan hukum tertentu yang
menunjukan baik yang membenarkan maupun yang
membatalkannya. Dari kedua defenisi ini dapat disarikan
bahwa mashlahat adalah sesuatu yang ditunjukan oleh dalil
hukum tertentu yang membenarkan atau membatalkannya
atas segala tindakan manusia dalam rangka mencapai
tujuan syara' yaitu memelihara agama, jiwa, akal, harta
benda dan keturunan.
Maslahah dalam kontek investasi yang dilakukan oleh
seseorang hendaknya harus dapat manfaat bagi pihak-
pihak yang melakukan transaksi dan juga harus dirasakan
oleh masyarakat pada umumnya. Prinsip mashlahah
merupakan hal yang paling esensial dalam bermuamalat.
Oleh karena itu pastikan bahwa investasi yang dilakukan
itu dapat memberikan dampak sosial dan lingkungan yang
positif bagi kehidupan masyarakat, baik untuk generasi saat
ini maupun yang akan datang. Seluruh investasi yang
memungkinkan keuntungan yang bersifat sementara, tapi
pada akhirnya akan mendatangkan kerugian bagi semua
pihak hendaklah ditinggalkan. Investasi seperti ini
dianggap oleh Allah SWT investasi yang merusak dan tidak
membawa mashlahah kepada ummat Islam khususnya,
masyarakat pada umumnya. Hal yang sama terkutuknya
adalah praktek-praktek investasi yang dipermukaan
tampak menghasil-kan bagi segelintir orang, namun
sebenarnya pada saat yang sama menghancurkan
kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Semua jenis
investasi in akan berakhir dengan kerugian dalam bisnis.
Menginvestasi harta pada usaha yang tidak
mendatangkan maslahat yang baik kepada masyarakat atau
hanya berguna bagi sebagian kecil masyarakat. Sekalipun
pilihan ini mendatangkan keuntungan yang besar dari sisi
investasi, namun terlihat bahwa hanya memperhatikan
kepentingan materi semata tanpa memperhatikan
kepentingan umum, maka investasi seperti ini harus
ditinggalkan karena tidak sesuai dengan kehendak syariat
Islam. Selain dari itu menahan harta hasil investasi agar
tidak berputar atau tidak diinvestasikan kembali sehingga
menumpuk dan menimbun, sehingga mencari peluang
investasi dengan semata-mata mencari keuntungan yang
besar, merupakan perbuatan yang sangat dilarang oleh
syariat Islam. Perbuatan tersebut dilarang karena tidak
membelanjakan hartanya sesuai dengan petunjuk Allah dan
Rasul-Nya. Dana dalam syariat Islam harus dinamik, tidak
boleh ada leakoge dan tidak keluar dari peredaran, artinya
dana yang dimiliki seseorang dibiarkan disimpan secara
tidak produktif dan perbuatan seperti ini tidak dibenarkan
dalam syariat Islam.

3. Prinsip terhindar dari investasi yang terlarang.


Meskipun Islam sangat menganjurkan agar ummatnya
selalu bekerja mencari rezeki dan berinvestasi untuk
kepentingan masa depan, bukan berarti semua bidang
usaha diperbolehkan untuk melakukan investasi. Ada
aturan dalam syariat Islam yang menerapkan batasan mana
aktivitas yang halal dan haram untuk dilakukan. Tujuannya
adalah untuk mengendalikan ummat manusia dari kegiatan
yang membahayakan kehidupan pribadi dan keluarganya
serta masyarakat pada umumnya. Investasi yang dilarang
oleh syariat Islam dikelompokkan kepada dua bahagian
yaitu investasi yang syubhat dan investasi yang haram.
a. Investasi yang Syubhat.
Pengertian yang syubhat dalam terminologi
syariah diartikan sesuatu perkara yang tercampur
(antara halal dan haram), akan tetapi tidak diketahui
secara pasti apakah ia sesuatu yang halal atau haram,
dan apakah ia hak ataukah batil. Dalam sebuah hadist
riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW
bersabda yang artinya "Yang halal itu telah jelas dan yang
haram juga sudah jelas, di antara keduanya ada hal-hal yang
syubhat (tidak jelas) dan tidak diketahui oleh kebanyakan

325
manusia. Barang siapa menjaga atau menghindari dari
perbuatan yang syubhat, maka telah benar-benar selamat
dalam agama dan kehormatannya".31
Investasi syubhat adalah perilaku (jasa) atau
barang (efek, uang, komoditas dan barang) yang masih
diragukan kehalalan atau keharamannya. Ketika
merasa ada keraguan dalam menghadapi masalah,
seorang muslim dapat berpegang kepada common
sense yaitu kelaziman dan yang seharusnya ada
sesuatu hal yang tidak menyebabkan mudharat.
Rasulullah SAW selalu menganjurkan kepada
ummatnya agar meninggalkan sesuatu yang masih
diragukan hukumnya.
Investor muslim diharapkan menjauhkan diri dari
investasi yang berbau syubhat karena hal tersebut
dapat menjatuhkan diri ke dalam lembah kebinasaan.
Apabila barang halal bercampur dengan barang haram,
maka yang menang adalah barang haram, semua
barang yang asalnya halal, maka ia menjadi haram
semuanya.
b. Investasi yang Haram.
Investasi haram adalah segala perilaku (jasa) atau
barang (efek komoditas dan barang) yang dilarang dalam
syariat Islam, jika dikerjakan mendapat dosa dan jika
ditinggalkan akan mendapat pahala. Para ulama
Hanafiah membagi haram kedalam dua hal yaitu
pertama: pekerjaan yang tetap haramnya dengan nash
yang qath'i, yakni al Quran, Sunnah mutawatirah dan
ijma', kedua : pekerjaan yang tetap haramnya dengan
nash yang tidak qath'i yakni yang tetap dengan khabar
akad dan qiyas. Makna yang lain, haram adalah
larangan, batasan, tempat yang dimuliakan dan
mengalami perluasan makna sebagai pemilikan seperti
wilayah sekitar Mekkah, Madinah dan Yerusalem.

Nurul Huda da Mustafa Edwin Nasution, Op.Cif.hal.29

326
Investasi yang dilarang beradasarkan al Quran, al
Hadist dan pendapat para pakar hukum Islam dibagi
kepada dua golongan yaitu pertama : dilarang karena
zatnya (li dzatihi), kedua dilarang karena bukan atau
selain zatnya (li ghairihi). Dalam kamus ushul fiqih
dijelaskan sebagai berikut :32
1) . Haram Li Dzatihi.
Haram li Dzatihi adalah haram semenjak
semula, atau suatu keharaman langsung dari sejak
semula ditentukan syara' bahwa hal itu haram.
Seperti berbuat zina, perkawinan dengan wanita
yang haram untuk dinikahi, memakan bangkai,
babi dan darah serta judi dan khamar (vide Al
Quran surat al Baqarah ayat 173, 219 dan surat Al
Maidah ayat 90). Haram li dzatihi memang
perbuatan'itmfejak semula haram karena itu tidak
dapat dijadikan sebab (alasan) untuk mengubah
hukumnya bahkan perbuatan itu dianggap batal
semenjak semula (dari awal). Keharaman dalam
contoh di atas adalah keharaman pada zatnya
(essensi) pekerjaan itu sendiri. Akibatnya
melakukan suatu transaksi dengan sesuatu yang
haram li dzatihi ini hukumnya batal, tidak ada
akibat hukumnya. Demikian juga halnya
memperjual belikan benda-benda yang haram li
dzatihi maka transaksinya tidak sah dan tidak ada
akibat hukumnya.
2) . Haram Li Ghairihi.
Haram li ghairihi adalah suatu haram yang
dahulunya oleh syara' hukumnya wajib atau
sunnah atau mubah, karena ada sesuatu hal yang
baru sehingga perbuatan itu diharamkan. Atau
sesuatu yang pada mulanya disyariatkan, tetapi

Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Ushul Fikih, Amzah,
Medan, 82-83

327
dibarengi oleh sesuatu yang bersifat mudharat
bagi manusia, maka keharamannya adalah
disebabkan adanya mudharat tersebut.
Haram li ghairihi pada dasarnya perbuatan itu
boleh, dapat dijadikan alasan (sebab) hukum dan
menjadi sumber perikatan. Contohnya sholat
memakai pakaian yang diperoleh dari mencuri,
shalatnya sah tapi berdosa karena mencuri.
Demikian juga dengan transaksi yang dilakukan
dengan tipuan dan paksaan yang merugikan
orang lain.
Para pakar Hukum Islam berbeda pendapat
tentang penentuan dan perbuatan haram li
ghairihi apakah masuk batal atau fasad, Para
pakar Hukum Islam di kalangan mazhab
Hanafiyah berpendapat oleh karena keharaman­
nya tidak/bukan pada zatnya, karena disebabkan
oleh factor dari luar, maka hukumnya fasid, bukan
batal. Oleh karena itu akad (kontrak) tersebut boleh
dilakukan, tetapi tidak sah. Agar akad tersebut
menjadi sah, maka faktor-faktor dari luar itu yang
menyebabkan keharaman itu harus disingkirkan.
Sedangkan Jumhur Fuqaha berpendapat bahwa
hal ini tidak ada bedanya antara haram li dzatihi
dengan haram li ghairihi dari segi akibatnya, yaitu
sama-sama haram.

Yard Mulyaningsih33 menjelaskan bahwa


pelarangan atas kegiatan ini adalah suatu kegiatan
yang obyeknya dan kegiatan tersebut bukan
merupakan benda-benda yang diharamkan karena
zatnya, artinya benda-benda tersebut adalah benda
yang dibolehkan (dihalakan), akan tetapi benda
tersebut menjadi diharamkan disebabkan adanya

Yani Mulyaninsih, Kriteria Investasi Syariah Dalam Konteks Kekinian, dalam


Investasi Syariah, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2008,hal.99.

328
unsur tadlis, taghir/ gharar, riba dan terjadinya ikhtikar
dan bay najsh.

4. Haram karena Tadlis.


Tadlis adalah sesuatu yang mengandung unsur
penipuan. Unsur ini tidak hanya dalam ekonomi
syariah melainkan juga dalam ekonomi konvensional.
Tadlis (penipuan) dalam berinvestasi adalah menyam­
paikan sesuatu dalam transaksi bisnis dengan
informasi yang diberikan tidak sesuai dengan fakta
yang ada pada sesuatu tersebut, yang termasuk dalam
penipuan antara lain adalah jual beli fiktif sebagaimana
hadist Rasulullah SAW "tidak halal penjualan ijon, tidak
pula dua syarat (yang bertentangan) dalam (satu transaksi)
penjualan dan tidak ada penjualan atas sesuatu (barang)
yang tidak ada padamu
Tadlis dalam sistem ekonomi konvensional sering
disebut dengan penjualan curang (misrepresentation).
Menurut S.B. Marsh and J. Soulsby34 yang dimaksud
dengan perbuatan curang adalah suatu pernyataan
tentang fakta yang dibuat oleh satu pihak dalam suatu
transaksi (aqad) terhadap pihak lainnya sebelum
perjanjian itu dibuat, dengan maksud untuk membujuk
pihak lainnya supaya menyetujui pernyataan itu.
Perbuatan curang dan tipu daya itu betul-betul
mempengaruhi orang lain, sehingga pihak lain
bersedia mengikuti apa yang dikehendaki pihak yang
melakukan curang itu. Dalam Undang-Undang
perbuatan curang (The Misrepresentation Act 1967) pasal
2 ayat 1 suatu pihak dalam perjanjian dapat menuntut
ganti rugi sebagai akibat kerugian yang timbul dari
perbuatan curang itu, walaupun pihak lain dapat
mengajukan pembelaan bahwa ia tidak curang. Jika
terbukti salah satu pihak melakukan curang (meskipun
34
SB. Marsh and J.Soulsby, Business Law, alih bahasa Abdul Kadir Muhammad
dengan judul Hukum Perjanjian, Alumni Bandung,2006,hal.127-128

329
dinyatakan tidak bersalah ),
salah satu pihak dapat
mengakhiri perjanjian (aqad) jika ia menginginkannya.
Syariat Islam sangat melarang perbuatan tipu daya dan
curang dalam melakukan investasi. Setiap investasi
yang didasari dengan perbuatan curang dan tipu
muslihat hukumnya haram. Salah satu contoh yang
sering disebut dalam kitab-kitab fiqih tentang
perbuatan curang dan penipuan dalam hal investasi
dan jual beli adalah menjual susu yang masih didalam
puting induknya. Perbuatan ini tidak diperbolehkan
Karena ada kemungkinan penipuan, puting susu itu
mungkin saja tidak mempunyai susu, hanya berisi
angin atau hal-hal lain yang ada diluar penjualan itu.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhaii
dan Muslim dan Abdullah bin Mas'ud Abu Hurairah
dan Abdullah Ibn Umar Ra, Rasulullah SAW bersabda :
"B arang siapa y a n g m em beli domba (kam bing) d en g a n
p u tin g y a n g kem pes, o ra n g y a n g m em beli dom ba itu berhak
u n tu k m engem balikan hew an tersebut kepada pem ilik sem ula
Kemudian dalam hadist lain
dalam tem po tiga h a ri".
yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah,
Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW
selalu melarang penjualan susu hewan yang masih
dalam putingnya dengan maksud memperdaya
(menipu) pembeli.
Adapun yang dimaksud dengan penipuan penjual
adalah apabila si penjual menyembunyikan cacat
barang dagangannya dari pembeli, padahal penjual
tersebut secara nyata mengetahuinya atau apabila si
penjual menutupi cacat tersebut dengan sesuatu yang
bisa mengelabui si pembeli, sehingga terkesan tidak
cacat atau menutupi barang dagangannya dengan
sesuatu yang menampakkan seakan-akan barang
dagangannya itu semuanya baik. Sedangkan yang
dimaksud penipuan pembeli terhadap harga adalah
apabila si pembeli memanipulasi alat pembayarannya,
atau menyembunyikan manipulasi yang terjadi pada
alat pembayarannya, pada sipembeli itu mengetahui
hal tersebut. Untuk melakukan penipuan tersebut,
harga kadang-kadang bisa berbeda-beda dengan
perbedaan barang yang dibeli. Karena tujuannya untuk
menipu maka seorang pembeli kadang menyiasatinya
dengan cara menguntungkan sendiri sebagai pembeli
dan merugikan penjual. Penipuan ini dilakukan
dengan berbagai bentuk, hukumnya haram.
Investasi yang dilakukan oleh seorang Muslim
tidak boleh melakukan penipuan terhadap barang dan
uang yang di investasikannya. Ia juga tidak dibenarkan
melakukan manipulasi agar uang tersebut bisa
diterima sesuai dengan harga barang sehingga
menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak
lain. Apabila investasi yang dilakukan oleh seorang
Muslim sudah terjadi, dan kemudian ia mengetahui
dalam investasi yang dilakukan uang atau barang
dengan pihak lain ada unsur penipuan, maka bagi
pihak yang tertipu itu berhak memilih, boleh
membatalkan transaksinya atau meneruskannya dan
lebih dari pilihan ini tidak ada. Dalam sebuah hadist
yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Bukhari dan
Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda "apabila ia
mau ia bisa mengambilnya, dan apabila ia tidak mau maka ia
bisa mengembalikannya".

5. Haram karena Gharar.


Gharar secara bahasa diartikan sebagai akibat,
bencana bahaya, risiko dan ketidak pastian. Dalam
ilmu ekonomi, gharar lebih dikenal sebagai ketidak
pastian, ini disebut juga dengan juhala. Gharar dalam
hukum Islam adalah melakukan sesuatu secara
semaunya tanpa memiliki pengetahuan yang cukup
terhadap sesuatu yang dilakukannya itu, atau
mengambil risiko sendiri dari suatu perbuatan yang
mengandung risiko tanpa mengetahui dengan tepat

331
apa akibat, atau memasuki kancah risiko tanpa
memikirkan konsekwensinya.
Menurut Afzalur Rahman35 kata gharar (juhala)
adalah suatu unsur yang tidak jelas pada kualitas,
kuantitas atau harga pada suatu barang yang
diperdagangkan, dengan kata lain gharar adalah suatu
yang tidak diketahui ketika transaksi (aqad)
dilaksanakan, sehingga mengakibatkan timbulnya
suatu ketidakpastian. Berbagai kontrak bisnis yang
mengandung unsur tidak pasti atau kira-kira adalah
haram hukumnya, baik yang menyangkut harga
(jumlah yang harus dibayarkan), atau kualitas serta
kuantitas barang yang akan dijual maupun waktu
pembayaran serta perlengkapan atau persyaratan
kontrak. Harga harus ditentukan dengan jumlah yang
jelas, jumlah dan waktu pembayaran harus ditentukan
secara jelas karena keraguan atau ketidakpastian dalam
berbagai hal akan mengakibatkan batalnya kontrak
yang dilaksanakannya.
Dari pengertian gharar sebagaimana tersebut di
atas, contoh antara lain : menjual burung di udara,
menjual ikan dalam laut dan menjual dengan syarat
hamil. Pembeli membayar harga barang-barang
tersebut, sementara pada waktu berakad ia tidak
mengetahui apakah ia akan memperoleh barang-
barang yang dibeli itu atau tidak. Suatu kontrak jual
beli dinyatakan sempurna dan valid jika barang dan
harga jual dilakukan pada saat terjadinya kontrak
penjualan, tanpa kecuali kuantitas atau jumlahnya,
pembayaran dilakukan secara tunai atau
pembayarannya dikemudian hari dengan perjanjian
yang jelas, penyerahan barang dilakukan seketika atau

Afzalur Rahman, Economic Doctrines o f Islam, alih bahasa Soeroyo & Nastangin
dengan judul Dokrin Ekonomi Islam, jilid 4, Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta,
1995,hal.173-175

332
waktu lain sebagaimana yang diperjanjikan dalam
kontrak (aqad).
Gharar terjadi bila seseorang tidak tahu apa yang
tersimpan bagi dirinya pada akhir suatu kegiatan
bisnis atau jual beli. Gharar pada dasarnya terjadi
akibat adanya incomplete information yang dialami
oleh kedua belah pihak (tidak seperti dalam maysir).
Pengharaman gharar diketahui setelah meneliti
seksama sebab pelarangan beberapa transaksi yang
terdapat dalam hadist Rasulullah SAW dimana
Rasulullah SAW melarang transaksi jual beli'
muhaqalah, mukhadarah, mulasamah, munabazah dan
muzabanah. Semua transaksi jual beli ini dilarang
sebab terdapat unsur gharar didalamnya.36

6. Haram karena Maysir.


Maysir secara etimologi bermakna mudah. Maysir
merupakan bentuk obyek yang diartikan sebagai
tempat untuk memudahkan sesuatu. Dikatakan
memudahkan sesuatu karena seseorang yang
seharusnya menempuh jalan yang susah payah akan
tetapi mencari jalan pintas dengan harapan dapat
mencapai apa yang dikehendaki, walaupun jalan
pintas tersebut bertentangan dengan nilai serta aturan
syariah. Kata maysir juga dipadankan dengan kata
qimar yang diartikan sebagai setiap bentuk permainan
yang mengandung unsur pertaruhan (judi), sementara
maysir diartikan sebagai salah satu bentuk perjudian
orang Arab pada masa jahiliyah dengan menggunakan
qidah {anak panah) dalam segala sesuatu.37
Allah SWT melarang praktek maysir ini. Dalam
Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 90 Allah berfirman
yang artinya "Hai orang-orang yang beriman,

36 Yani Mulyaningsih, Op. Cit, hal.100


37
Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, O p. C it, hal .26-27.

333
sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk
berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk
perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu
agar kamu mendapat keberuntungan". Kemudian dalam
Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 91 Allah berfirman
yang artinya "Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak
menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu
lantaran meminum khamar dan berjudi itu, dan
menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembayang,
maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu".
Judi atau taruhan adalah kontrak (aqad) yang
didalamnya salah satu pihak dari dua pihak yang
berjudi atau bertaruh berjanji akan membayar uang
atau pengganti lain yang bernilai uang yang telah
disepakati kepada pihak lain jika suatu peristiwa. Judi
dan taruhan kedua-duanya sama dalam hal
ketergantungan hak orang yang berakad kepada
peristiwa yang tidak pasti, yaitu menang bermain judi
atau benarnya ucapan orang yang bertaruh. Akad
taruhan dan judi termasuk akad muizim (perjanjian
yang mewajibkan), karena masing-masing pihak dari
dua pihak yang berjudi atau bertaruh mempunyai
kewajiban kepada pihak lain untuk membayar atau
memberikan uang yang telah disepakati apabila terjadi
peristiwa tertentu, yaitu kalah judi atau bertaruh.
Para pakar hukum Islam sepakat bahwa akad
investasi yang didasarkan pada judi dan taruhan
termasuk akad yang tidak dibenarkan dalam Syariat
Islam, sebab akad tersebut merupakan akad muizim
bagi kedua pihak, merupakan mu'awadhah maliyah
dan merupakan akad gharar. Termasuk akad
mu'awadhah, karena masing-masing orang yang
berjudi dan bertaruh, apabila memperoleh
kemenangan maka uang yang diambilnya sebagai
pengganti dan kemungkinan ia kalah. Dan jika ia
mengalami kekalahan maka uang yang diberikannya
sebagai pengganti dan kemungkinan ia menang.
Kemungkinan menang dan kalah ini adalah asas pokok
dari perjanjian (akad) tersebut. Termasuk akad gharar
karena masing-masing pihak yang berjudi dan
bertaruh tidak bisa menentukan pada waktu akad,
berapa yang ia ambil dan berapa yang ia berikan.
Kesemuanya itu baru bisa ditentukan kemudian,
tergantung pada peristiwa yang tidak pasti, menang
atau kalah.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, dalam
kegiatan investasi berdasarkan syariah tidak
dibenarkan adanya unsur judi dan taruhan karena
akan membawa kemudharatan bagi semua pihak,
terutama pihak yang melakukan akad (perjanjian)
dalam berinvestasi. Dalam terminologi investasi
syariah, investasi adalah gabungan antara investor-
investor yang mengontribusikan surplus uangnya
untuk tujuan memperoleh keuntungan yang halal
dalam kondisi penuh kompromi dengan perspektif
syariah. Secara prinsip sudah ditentukan mengenai
sesuatu yang diharamkan, baik haram karena zatnya
maupun bukan karena zatnya, termasuk maysir (judi
dan taruhan).

7. Haram karena Riba.


Riba bermakna ziyadah berarti tambahan dan
tumbuh. Dalam terminology lain, secara linguistic riba
berarti tumbuh dan membesar. Untuk istilah tekhnis,
riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok
atau modal secara batil. Riba juga berarti pengambilan
tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun
pinjam-meminjam secara batil atau bertentangan
dengan prinsip muamalat dalam Islam. Riba dalam
bahasa Arab diartikan "raba al-syaiu idza zada", artinya
sesuatu itu riba bila bertambah, sedangkan menurut
syara', riba diartikan sebagai usaha yang haram,
sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an surat An-Nisa'

335
ayat 161 yang artinya " ...... dan mereka memakan riba,
padahal sesungguhnya mereka dilarang memakannya....".
Para pakar hukum Islam di kalangan mazhab
Hambali dan mazhab Hanafi mengartikan riba dari sisi
syar'i adalah penambahan dalam perkara-perkara
tertentu. Sedangkan menurut para pakar hukum di
kalangan mazhab Hanafi mengartikan riba adalah
kelebihan suatu harta tanpa penggantian dalam suatu
kontak pertukaran dengan harta.
Dalam Al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 275 Allah
berfirman yang artinya "orang-orang yang makan riba
tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kerasukan setan, karena stress. Keadaan mereka yang seperti
itu karena mereka mengatakan, sesungguhnya jual beli itu
sama saja dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan
jual beli dan mengharamkan riba". Sebab turun ayat ini
ialah bahwa bangsa Arab selalu berlebihan dalam akad
hutang-piutang uang dan makanan. Bila masa
pembayaran sudah tiba, maka pemberi hutang
bertanya kepada yang berhutang, apakah anda ingin
membayar atau ditangguhkan tempo pembayarannya?
Kebanyakan dari orang yang berhutang itu menunda
pembayaran hutangnya dengan risiko dengan
menambah sejumlah uang (hutang). Akibat dari
perbuatan ini, orang berhutang itu menjadi pailit
karena hutangnya menjadi berlipat ganda, sehingga ia
tidak mampu lagi membayarnya.
Para pakar hukum Islam membagi jenis riba
kepada dua kelompok yaitu riba utang piutang dan
riba jual beli. Riba kelompok utang piutang dibagi lagi
menjadi dua jenis yaitu riba qardh dan riba jahiliyah.
Sedangkan kelompok riba jual beli dibagi menjadi dua
jenis yaitu riba fadhl dan riba nasi'ah. Dalam berbagai
kitab fiqih disebutkan bahwa barang ribawi ada enam
macam yaitu emas, perak, garam, tepung, gandum dan
kurma (sebagai makanan pokok), sedangkan uang
dikategorikan dalam jenis emas dan perak. Syariat
Islam mengharapkan kepada kaum muslimin agar
berhati-hati dalam menginvestasi ke-enam jenis barang
tersebut agar tetap halal dan jauh dari riba.
Menurut pendapat Syafi'i Antonio38 membagi riba
kepada 4 jenis yaitu -pertama : riba qardh yaitu manfaat
atau tingkat kelebihan tertentu yang disyariatkan
terhadap yang berhutang, kedua : riba jahiliyah yaitu
utang dibayar lebih dari pokoknya karena si-peminjam
tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang
ditetapkan, ketiga : riba fadhi yaitu pertukaran antar
barang sejenis dengan kadar atau takaran yang
berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu
termasuk dalam jenis barang ribawi, keempat : riba
nasi'ah yaitu penangguhan, penyerahan, atau
penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan
dengan jenis barang ribawi lainnya. Perbuatan
menunda, menangguhkan atau menunggu dan
merujuk pada waktu yang diberikan kepada peminjam
untuk membayar kembali pinjamannya dengan
imbalan berupa tambahan atau premium.

8. Terhindar dari Ihtikaar dan an-Najasy.


Kata Ihtikaar berasal dari bahasa Arab yang
berarti zalim, aniaya dan perusak pergaulan. Ada juga
yang mengartikan Ihtikaar ini dengan upaya
penimbunan barang dagangan untuk menunggu
melonjakknya harga. Dalam dunia bisnis konvensional
disebut dengan monopoli. Menurut Azian Khalil
Shamsuddin dan Siti Khursiah Mohd. Manson39
perkataan Ihtikaar sama saja dengan monopoli yaitu
mengumpulkan atau menahan barang-barang yang

Abdullah Amrin, Asuransi Syari'ah, Keberadaan dan Kelebihannya di Tengah


Asuransi Konvensional, PT. Alex Media Komputindo, Iakarta,2006, hal.63-64.
39
Azian Khalil Shamsuddin & Siti Khursiah Mohd. Mansor, Pengantar Ekonomi
Isla m , Ibook Publication Sdn,Bhd,Kuala Lumpur Malaysia, 2006,hal.44

337
beredar di pasar dengan tujuan untuk bertindak sesuka
hatinya dalam peredaran barang tersebut, atau
menguasai penawaran dan permintaan sesuatu barang
dengan tujuan untuk mengatur keuntungan yang
berlebihan.
Hampir semua kitab fiqih klasik memberikan arti
Ihtikaar adalah upaya dan seseorang untuk menimbun
barang pada saat barang itu langka atau diperkirakan
harga akan naik, seperti menimbun bahan bakar
minyak, jika harga sudah melonjak tinggi baru minyak
yang ditimbun itu dijual ke pasar, dengan demikian ia
akan mendapat untung yang berlipat ganda. M. Au
Hasan40 mengatakan bahwa pakar hukum Islam di
kalangan mazhab Maliki dan sebagian dari mazhab
Hanafi berpendapat bahwa hukum Ihtikaar ini adalah
haram. Larangan Ihtikaar ini tidak terbatas pada
makanan, pakaian atau hewan, tetapi meliputi seluruh
produk yang diperlukan masyarakat. Menurut mereka,
yang menjadi sebab (motivasi hukum) dalam larangan
Ihtikaar ini adalah "kemudharatan yang menimpa orang
banyak". Perbuatan yang menggun-cangkan harga
pasar dan akhirnya membawa mudharat kepada
masyarakat dilarang dalam agama Islam.
Apabila telah terjadi Ihtikaar (monopoli), maka
pemerintah harus segera turun tangan dan memaksa
para pedagang untuk segera menjual barang dagangan
itu dengan harga standar yang berlaku di pasar.
Sebagian para ulama berpendapat bahwa barang yang
ditimbun oleh pelaku Ihtikaar itu harus dijual dengan
harga modalnya (harga pokok) dan pedagang itu tidak
dibenarkan mengambil untung sedikitpun sebagai
hukuman baginya. Sekiranya para pelaku Ihtikaar
(monopoli) itu enggan menjual barang dagangannya,
maka pihak penegak hukum dapat menyita barang

M. Au Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, PT. Raja Grafindo


Persada, Jakarta, 2003,hal.l50-159

338
yang ditimbun itu dan kemudian membagikannya
kepada masyarakat yang memerlukannya.
Adapun yang dimaksud dengan Najasy adalah
mempermainkan harga yaitu pihak pembeli menawar
dalam suatu pembelian dengan maksud agar orang
lain menawar lebih tinggi. Menurut Imam Malik Ibnu
Anas RA41 an-Najasy adalah jual beli yang dilakukan
oleh seseorang untuk menawar suatu barang dagangan
dengan harga yang tinggi dari harga jual, tetapi orang
tersebut tidak ingin membeli barang tersebut. Orang
yang menawar barang dagangan itu hanya ingin
mempengaruhi orang lain agar barang dagangan yang
dijual itu masyarakat mau membeli dengan harga yang
lebih tinggi. Perbuatan seperti itu sangat merugikan
pihak pembeli dan menguntungkan pihak penjual.
Ibnu Rusy42 menjelaskan bahwa ahli, zahir
(;pengikut Imam az-Zahiri) mengatakan bahwa jual beli
an-Najasy rusak, aqadnya menjadi batal. Sedangkan
Imam Malik mengatakan bahwa jual beli itu dan orang
yang membeli barang itu diberi hak untuk memilih
antara mengembalikan barang yang sudah dibeli itu
atau mempertahakannya. Abu Hanifah dan Imam
Syafi'i mengatakan, jika terjadi jual beli seperti itu {an-
Najasy) maka orang yang melakukannya berdosa di sisi
Allah SWT, sedangkan aqad jual beli dibolehkannya.
Perbedaan pendapat ini disebabkan karena apakah
larangan itu mengandung arti rusaknya suatu yang
dilarang, jika larangan itu tidak berada pada barang itu
sendiri, tetapi di luarnya ? Bagi para pakar hukum
Islam yang mengatakan bahwa larangan itu tidak
mengandung arti batalnya jual beli, mereka tidak
membolehkannya. Para pakar hukum Islam yang

Ibid, hal.196
42 Ibnu Rusy, Bidayatul Mujtahid, alih bahasa Abu Usamah Fathtur Rokhman,
Jilid 2, Pustaka Azzam, Jakarta, hal.332-333

339
mengatakan bahwa larangan itu tidak mengandung
arti batal, mereka memperbolehkannya.
Investasi yang dilakukan dengan cara Ihtikaar dan
an-Najasy di larang dalam Syariat Islam, sebab cara
bertransaksi seperti akan mendatangkan mudharat
kepada kedua belah pihak. Dalam sebuah hadist yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Tarmizi dan Jabir RA,
Rasulullah SAW bersabda "Rahmat bagi orang yang
bertopang dada dan jujur dalam jual beli meminta atau
menagih hutang". Kemudian dalam hadist lain
Rasulullah melarang jual beli secara najasy karena
perbuatan itu akan menyakitkan hati pembeli. Dalam
sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim dan Ibnu Umar RA, ia berkata "Rasulullah SAW
melarang jual beli dengan cara an-najasy yaitu membeli
untuk memancing orang lain agar tertarik pada barang itu".

VI. PENUTUP.
Demikianlah beberapa masalah hukum yang berhubungan
dengan masalah Investasi Syariah di Indonesia yang dapat
penulis sampaikan. Oleh karena singkatnya waktu dan
kurangnya literatur sudah tentu makalah yang sederhana ini
tidak luput dari kekurangan.. Semoga bermanfaat untuk
para pembaca.
Billahi taufiqy wal hidayah.

Jakarta, 2 September 2008

340
D A FT A R P U S T A K A

A. Abdurrahman, Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan,


Pradnya Paramita, Jakarta, 1991 ,Cet.ke 6.
Abdullah Amrin, Asuransi Syari'ah, Keberadaan dan Kelebihannya di
Tengah Asuransi Konvensional, PT. Alex Media Komputindo,
Jakarta,2006.
Afzalur Rahman, Economic Doctrines of Islam, alih bahasa Soeroyo &
Nastangin dengan judul Dokrin Ekonomi Islam, jilid 4, Dana
Bhakti Wakaf, Yogyakarta, 1995.
Al Ghazali, al Mustafa min'ilm al Ushul, Darr al Fikr, Bairut,tt.
Azlan Khalil Shamsuddin & Siti Khursiah Mohd. Mansor, Pengantar
Ekonomi Islam, Ibook Publication Sdn,Bhd,Kuala Lumpur
Malaysia, 2006.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, I 995,Ed.ke-.4.
Ensiklopedia Indonesia, Ichtiar Baru-Van Ploeve dan Elsevieer
Publishing Projects, Jakarta, tt.
Habib Nazir dan Muhammad Hassanuddin, Ensiklopedi Ekonomi dan
Perbankan Syari'ah, Kaki Langit, Bandung, 2004.
Ibnu Rusy, Bidayatul Mujtahid, alih bahasa Abu Usamah Fathtur
Rokhman, Jilid 2, Pustaka Azzam, Jakarta.
Kamaruddin Ahmad, Dasar-Dasar Manajemen Investasi, Rineka Cipta
Jakarta, 1996.
------- , Dasar-Dasar Manajemen Investasi dan Portofolio, Rineka Cipta,
Jakarta,2004.
M. Abdul Mujieb dkk, Kamus Istilah Fiqih, PT. Pustaka Firdaus,
Jakarta, 1994,.
M. Nadratuzzaman Husen dkk, Gerakan 3 H. Ekonomi Syariah, PKES,
Jakarta, 2007.
Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar Modal
Syariah, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007.

341
M. Au Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2003.
Pandji Anoraga dan Piji Pakarti, Pengantar Pasar Modal, Rineka Cipta,
Jakarta, 2006.
Salim & Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, Rajawali Pres
Jakarta, 2008.
SB. Marsh and J.Soulsby, Business Law, alih bahasa Abdul Kadir
Muhammad dengan judul Hukum Perjanjian, Alumni Bandung,
2006.
Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Ushul Fikih,
Amzah, Medan.
Yard Mulyaninsih, Kriteria Investasi Syariah Dalam Konteks Kekinian,
dalam Investasi Syariah, Kreasi Wacana, Yogyakarta,2008.
Zaky ad Din Sya'ban, Ushul al Fiqh al Islam, Darr al Nahdad al
Rabiyah,tt.

342
M A S A D E P A N H U K U M ISLA M D I IN D O N E S IA
Oleh:
Prof. Dr. H. Muchsin, SH. *

I. Pendahuluan
Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas
penduduk Indonesia, tentu sangat berpengaruh terhadap pola
hidup bangsa Indonesia. Perilaku pemeluknya tidak lepas dari
syariat yang dikandung agamanya. Melaksanakan syari'at
agama yang berupa hukum-hukum menjadi salah satu
parameter ketaatan seseorang dalam menjalankan agamanya.
Kata hukum yang dikenal dalam bahasa Indonesia berasal
dari bahasa Arab hukm yang berarti putusan (judgement) atau
ketetapan (Provision). Dalam buku Ensiklopedi Hukum Islam,
hukum berarti menetapkan sesuatu atas sesuatu atau
meniadakannya.1 Sementara dalam A Dictionary of Law
dijelaskan tentang pengertian hukum sebagai berikut
"Law is "the enforceable body of rides that govern any society or
one of the rules making up the body of law, such as Act of
Parliament. "2

"Hukum adalah suatu kumpulan aturan yang dapat


dilaksanakan untuk mengatur/memerintah masyarakat atau
aturan apa pun yang dibuat sebagai suatu aturan hukum seperti
tindakan dari Parlemen."
Bagi kalangan muslim, jelas yang dimaksudkan sebagai
hukum adalah Hukum Islam, yaitu keseluruhan aturan
hukum yang bersumber pada Al Qur'an, dan untuk kurun

* Hakim Agung pada MA-RI


'HA. Hafizh Dasuki, Ensiklopedi Hukum Islam, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta,
FIKIMA, 1997, hal. 571
2Elizabeth A. Martin (editor) A Dictionary o f Law, New York: Oxford University
Press,- Fourth Edition, 1997, hal. 259

343
zaman tertentu lebih dikonkretkan oleh Nabi Muhammad dalam
tingkah laku Beliau, yang lazim disebut Sunnah Rasul.
Sementara itu Rifyal Ka'bah3 mengemukakan bahwa
hukum Islam adalah terjemahan dari istilah Syariat Islam (asy-
syari'ah al-lslamiyyah) atau fiqh Islam (al-fiqh aj- Islami). Syariat
Islam dan fiqh Islam adalah dua buah istilah otentik Islam yang
berasal dari perbendaharaan kajian Islam sejak lama. Kedua
istilah ini dipakai secara bersama-sama atau silih berganti di
Indonesia dari dahulu sampai sekarang dengan pengertian yang
kadang-kadang berbeda, tetapi juga sering mirip. Hal ini sering
menimbulkan kerancuhan-kerancuhan di kalangan masyarakat
bahkan di antara para ahli.
Kaidah-kaidah yang bersumber dari Allah SWT kemudian
lebih dikonkretkan diselaraskan dengan kebutuhan zamannya
melalui ijtihad atau penemuan hukum oleh para mujtahid dan
pakar di bidangnya masing-masing.
Dalam perjalanan kodifikasi hukum nasional Indonesia,
keberadaan hukum Islam sangat penting, selain sebagai materi
bagi penyusunan hukum nasional, hukum Islam juga menjadi
inspirator dalan pengembangan hukum nasional. Hukum Islam
sangat dekat dengan sosioantropologis bangsa Indonesia,
sehingga kehadirannya dapat dengan mudah diterima oleh
masyarakat luas. Kedekatan sosioantropologis Hukum Islam
dengan masyarakatnya menjadi fenomena tersendiri ditandai
dengan maraknya upaya formalisasi pemberlakuan syari'at
Islam di berbagai wilayah di Indonesia.
Sebagai negara berdasar atas hukum yang berfalsafah
Pancasila, negara melindungi agama, penganut agama, bahkan
berusaha memasukkan hukum agama, ajaran, dan hukum
agama Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
sebagaimana pernyataan the founding father RI, Mohammad
Hatta, bahwa dalam pengaturan negara hukum Republik

3Ulasan berikut dikutip dan disarikan dari, Rifyal Ka'bah, Hukum Islam di
Indonesia, Buletin Dakwah, 19 Mei 2006.

344
Indonesia, syari'at Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits
dapat dijadikan peraturan perundang-undangan Indonesia
sehingga orang Islam mempunyai sistem syari'at yang sesuai
dengan kondisi Indonesia.45
Dalam hal ini sangat menarik untuk menyimak apa yang
dikemukakan oleh Prof. Dr. Bustanul Arifin, S.PI. bahwa
prospek hukum Islam dalam pembangunan hukum nasional
sangat positif karena secara kultural, yuridis dan sosiologis
memiliki akar kuat. Menurutnya, Hukum Islam memiliki serta
menawarkan konsep hukum yang lebih universal dan
mendasarkan pada nilai-nilai esensial manusia sebagai
khalifatullah, bukan sebagai homo economicus.J

II. Pembahasan
Sistem hukum yang mewarnai hukum nasional6 kita di
Indonesia selama ini pada dasarnya terbentuk atau dipengaruhi
oleh tiga pilar subsistem hukum yaitu sistem hukum barat,
hukum adat dan sistem hukum Islam. Sistem Hukum B arat
merupakan warisan penjajah kolonial Belanda yang selama 350
tahun menjajah Indonesia. Penjajahan tersebut sangat
berpengaruh pada sistem hukum nasional kita. Sementara
Sistem Hukum Adat bersendikan atas dasar-dasar alam pikiran
bangsa Indonesia, dan untuk dapat sadar akan sistem hukum
adat orang harus menyelami dasar-dasar alam pikiran yang
hidup di dalam masyarakat Indonesia. Kemudian sistem Hukum

4Ichtijanto, Pengembangan Teori Berlakunya Hukum Islam di Indonesia, dalam


Hukum Islam di Indonesia, Bandung: Remaja Rosdakarya cet. ke-2,1994, him. 16-17.
5Ibid., hal. 18.
6Sunaryati Hartono, mantan Kepala BPBN, mengatakan bahwa sebenarnya
bangsa Indonesia belum mempunyai hukum nasional, dan yang paling banyaknya
baru hukum di Indonesia. John Ball, Guru Besar di Sidney University, menyebut
keadaan hukum di Indonesia sebagai "The struggle for a national law." Lev
mengatakan ada pertentangan-pertentangan kepentingan antara golongan-golongan
ideologi dalam hukum (Barat, Adat, dan Islam) sehingga hukum lama masih tetap
juga dipakai dan belum ada konsensus untuk menggantinya. (Bustanul Arifin,
T ra n sfo rm a s i S y a ria h k e d a la m H u k u m N a s io n a l (B erten u n d en g a n B e n a n g -b e n a n g K u s u t),
Jakarta : Yayasan Al-Hikmah, 1999), hal. 5 dan 11).

345
Islam, yang merupakan sistem hukum yang bersumber pada
kitab suci Al Qur'an dan yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad
dengan hadits/sunnah-Nya serta dikonkretkan oleh para
mujtahid dengan ijtihadnya.7 Bustanul Arifin menyebutnya
dengan gejala sosial hukum itu sebagai perbenturan antara tiga
sistem hukum, yang direkayasa oleh politik hukum kolonial
Belanda dulu yang hingga kini masih belum bisa diatasi, seperti
terlihat dalam sebagian kecil pasal pada UU No. 21 Tahun 2008
tentang Perbankan Syariah.8
Dari ketiga sistem hukum di atas secara objektif dapat kita
nilai bahwa hukum Islamlah ke depan yang lebih berpeluang
memberi masukan bagi pembentukan hukum nasional. Selain
karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan
adanya kedekatan emosional dengan hukum Islam juga karena
sistem hukum barat/kolonial sudah tidak berkembang lagi sejak
kemerdekaan Indonesia, sementara hukum adat juga tidak
memperlihatkan sumbangsih yang besar bagi pembangunan
hukum nasional, sehingga harapan utama dalam pembentukan
hukum nasional adalah sumbangsih hukum Islam.
Hukum Islam memiliki prospek dan potensi yang sangat
besar dalam pembangunan hukum nasional. Ada beberapa
pertimbangan yang menjadikan hukum Islam layak menjadi
rujukan dalam pembentukan hukum nasional yaitu:9
1. Undang-Undang yang sudah ada dan berlaku saat ini
seperti, UU Perkawinan, UU Peradilan Agama, UU
Penyelenggaraan Ibadah Haji, UU Pengelolaan Zakat, dan
UU Otonomi Khusus Nanggroe Aceh Darussalam serta
beberapa Undang-undang lainnya yang langsung maupun
tidak langsung memuat hukum Islam seperti UU Nomor 10

7Untuk lebih lengkap baca Muchsin, Ikhtisar Sejarah Hukum, Jakarta: BP IBLAM,
2004, hal .9-22
8Bustanul Arifin, Transformasi Syariah ke dalam Hukum Nasional (Bertenun dengan
Benang-benang Kusut), Jakarta : Yayasan Al-Hikmah, 1999), hal. 11-12.
9Muchsin, Masa Depan Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta: BP IBLAM, 2004, hal.
17-18.

346
Tahun 1998 tentang perbankan yang mengakui keberadaan
Bank Syari’ah dengan prinsip syari'ahnya, atau UU No. 3
Tahun 2006 tentang Peradilan Agama yang semakin
memperluas kewenangannya, dan UU Nomor 21 Tahun
2008 tentang Perbankan Syariah.
2. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih kurang
90 persen beragama Islam akan memberikan pertimbangan
yang signifikan dalam mengakomodasi kepentingannya.
3. Kesadaran umat Islam dalam praktek sehari-hari. Banyak
aktifitas keagamaan masyarakat yang terjadi selama ini
merupakan cerminan kesadaran mereka menjalankan
Syariat atau hukum Islam, seperti pembagian zakat dan
waris.
4. Politik pemerintah atau political will dari pemerintah dalam
hal ini sangat menentukan. Tanpa adanya kemauan politik
dari pemerintah maka cukup berat bagi Hukum Islam
untuk menjadi bagian dari tata hukum di Indonesia.

Untuk lebih mempertegas keberadaan hukum Islam dalam


konstalasi hukum nasional dapat dilihat dari Teori eksistensi
tentang adanya hukum Islam di dalam hukum nasional
Indonesia. Teori ini mengungkapkan bahwa bentuk eksistensi
hukum Islam di dalam hukum nasional Indonesia itu ialah :
1. ada dalam arti sebagai bagian integral dari hukum nasional
Indonesia.
2. ada dalam arti kemandirian, kekuatan dan wibawanya
diakui adanya oleh hukum nasional dan diberi status
sebagai hukum nasional.
3. ada dalam hukum nasional dalam arti norma hukum Islam
(agama) berfungsi sebagai penyaring bahan-bahan hukum
nasional Indonesia.
4. ada dalam arti sebagai bahan utama dan unsur utama
hukum nasional Indonesia.10

10Ichtijanto, Op.Cit, hal. 137

347
Bila dilihat dari realitas politik dan perundang-undangan di
Indonesia nampaknya eksistensi hukum Islam semakin patut
diperhitungkan seperti terlihat dalam beberapa peraturan
perundangan yang kehadirannya semakin memperkokoh
Hukum Islam:

(1) Undang-Undang Perkawinan


Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan disahkan dan diundangkan di Jakarta Pada
tanggal 2 Januari 1974 (Lembaran Negara Tahun 1974 No. 1
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3,019).

(2) Undang-Undang Peradilan Agama


Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan
Agama disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal
29 Desember 1989 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1989 No. 49, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia No. 3400).
Kemudian pada tanggal 20 Maret 2006 disahkan UU
Nomor 3 tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 7
Tahun 1989 tentang Peradilan Agarna. Yang melegakan dari
UU ini adalah semakin luasnya kewenangan Pengadilan
Agama khususnya kewenangan dalam menyelesaikan
perkara di bidang ekonomi syari'ah. 11
Untuk menjelaskan berbagai persoalan syari'ah di atas
Dewan Syari'ah Nasional (DSN) telah mengeluarkan
sejumlah fatwa yang berkaitan dengan ekonomi syari'ah
yang sampai saat ini jumlahnya sudah mencapai 53 fatwa.

11Sedangkan yang dimaksud dengan ekonomi syariah, seperti yang diulas dalam
penjelasan UU ini adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut
prinsip syari'ah yang antara lain meliputi: bank syari'ah, lembaga kuangan mikro
syari'ah, asuransi syari'ah, reasuransi syari'ah, reksadana syari'ah, obligasi syari'ah
dan surat berharga berjangka menengah syari'ah, sekuritas syari'ah, pembiayaan
syari'ah, pegadaian syari'ah, dana pensiun lembaga keuangan syari'ah dan bisnis
syari'ah.

348
Fatwa tersebut dapat menjadi bahan utama dalam
penyusunan kompilasi tersebut.
Sehubungan dengan tambahan kewenangan yang
cukup banyak kepada pengadilan agama sebagaimana pada
UU No. 3 tahun 2006 yaitu mengenai ekonomi syari'ah,
sementara hukum Islam mengenai ekonomi syari'ah masih
tersebar di dalam kitab-kitab fiqh dan fatwa Dewan Syari'ah
Nasional, kehadiran Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah
yang didasarkan pada PERMA Nomor 02 Tahun 2008 pada
tanggal 10 September 2008 menjadi pedoman dan pegangan
kuat bagi para Hakim Pengadilan Agama yang akan
memutus perkara sengketa ekonomi syari'ah agar tidak
terjadi disparitas putusan Hakim, dengan tidak
mengabaikan penggalian hukum yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat sebagaimana maksud Pasal
28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman. Kompilasi Hukum Ekonomi
Syari'ah terdiri dari 4 Buku, 43 Bab dan 796 Pasal.

(3) Undang-Undang Penyelenggaraan Ibadah Haji

Undang-Undang No. 17 Tahun 1999 tentang


Penyelenggaraan Ibadah Haji disahkan dan diundangkan di
Jakarta pada tanggal 3 Mei 1999 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 No. 53, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3832), yang
digantikan oleh UU Nomor 13 Tahun 2008. UU pengganti
ini memiliki 69 pasal dari sebelumnya 30 pasal. UU ini
menitikberatkan pada adanya pengawasan dengan
dibentuknya Komisi Pengawasan Haji Indonesia [KPHI].
Demikian juga dalam UU ini diiatur secara terperinci
tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji [BPIH].12

I2BPIH disetorkan ke rekening Menteri melalui bank syariah dan / atau bank
umum nasional yang ditunjuk oleh Menteri (Pasal 22).

349
Aturan baru tersebut diharapkan dapat menjadikan
pelaksanaan ibadah haji lebih tertib dan lebih baik.13

(4) Undang-Undang Pengelolaan Zakat


Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Zakat disahkan dan diundangkan di Jakarta
pada tanggal 23 September 1999 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 No. 164, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3885).

(5) Undang-Undang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah


Istimewa Aceh.
Undang-Undang No. 44 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh
disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 4
Oktober 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahunl999 No.172, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia No.3893).

(6) Undang-Undang Otonomi Khusus Aceh


Undang-Undang No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus Provinsi Daerah Istimewa Aceh Sebagai Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam disahkan dan diundangkan di
Jakarta pada tanggal 9 Agustus 2001 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2001 No. 114, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4134).

(7) Kompilasi Hukum Islam


Perwujudan hukum bagi umat Islam di Indonesia
terkadang menimbulkan pemahaman yang berbeda.
Akibatnya, hukum yang dijatuhkan sering terjadi
perdebatan di kalangan para ulama. Karena itu diperlukan

13Republika, Rabu 2 April 2008, hal. 5

350
upaya penyeragaman pemahaman dan kejelasan bagi
kesatuan hukum Islam.
Keinginan itu akhirnya memunculkan Kompilasi
Hukum Islam (KHI), yang saat ini telah menjadi salah satu
pegangan utama para hakim di lingkungan Peradilan
Agama. Sebab selama ini Peradilan Agama tidak
mempunyai buku standar yang bisa dijadikan pegangan
sebagaimana halnya KUH Perdata. Dan pada tanggal 10
Juni 1991 Presiden menandatangani Inpres No.l Tahun 1991
yang merupakan instruksi untuk memasyarakatkan KHI.

(8) Undang-Undang tentang Wakaf


Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf
disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 27
Oktober 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 No. 159, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia No. 4459).
Kemudian pada tanggal 15 Desember 2006
ditetapkanlah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-
Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf. Maksud
penyusunan peraturan pelaksanaan PP ini adalah untuk
menyederhanakan pengaturan yang mudah dipahami
masyarakat, organisasi dan badan hukum, serta pejabat
pemerintahan yang mengurus perwakafan, BWI, dan LKS,
sekaligus menghindari berbagai kemungkinan perbedaan
penafsiran terhadap ketentuan yang berlaku.

(9) Undang-Undang Tentang Pemerintahan Aceh


Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh, semakin menegaskan legalitas
penerapan syariat Islam di Aceh. Syariat Islam yang
dimaksud dalam Undang-undang ini meliputi ibadah, al-
ahwal al-syakhshiyah (hukum keluarga), muamalah (hukum
perdata), jinayah (hukum pidana), cjadha (peradilan), tarbiyah
(pendidikan), dakwah, syi'ar, dan pembelaan Islam.

351
Di samping itu keberadaan Mahkamah Syar'iyah yang
memiliki kewenangan yang sangat luas semakin memper­
kuat penerapan hukum Islam di Aceh. Mahkamah Syar'iyah
merupakan pengadilan bagi setiap orang yang beragama
Islam dan berada di Aceh. Mahkamah ini berwenang
memeriksa, mengadili, memutus dan menyelesaikan
perkara yang meliputi bidang al-ahwal al-syakhshiyah
(hukum keluarga), muamalah (hukum perdata), jinayah
(hukum pidana), yang didasarkan atas syari'at Islam.

10) Undang-Undang Tentang Perbankan Syari'ah14


Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
tentang Perbankan, yang diundangkan pada tanggal 10
November 1998, menandai sejarah baru di bidang
perbankan yang mulai memberlakukan sistem ganda duel
system banking di Indonesia, yaitu sistem perbankan
konvensional dengan piranti bunga, dan sistem perbankan
dengan peranti akad-akad15 yang sesuai dengan prinsip-
prinsip syariah.16
Sejarah perbankan secara faktual telah mencatat bahwa
dalam kurun waktu antara tahun 1992 hingga Mei 2004
telah berkembang pesat perbankan syariah. Secara
kuantitatif jumlah bank syariah pada tahun 1992 hanya ada
satu Bank Umum Syariah, yaitu Bank Muamalat Indonesia,
dan BPRS, tetapi saat ini telah ada dua Bank Umum Syariah

14Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 (selanjutnya disebut


UU No. 21 Tahun 2008) tentang Perbankan Syariah menyebutkan bahwa perbankan
syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit
Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam
melaksanakan kegiatan usahanya.
lsAkad-akad dimaksud antara lain adalah : wadi'ah, mudharabah, musyarakah,
ijarah, ijarah muntahiya bit-tamlik, murabahah, salam, istishna'l, qardh, wakalah, atau akad
lain yang sesuai dengan prinsip syariah.
lSyaitu antara lain yang tidak mengandung unsur : riba, maysir, gharar, haram,
dan zalim.

352
dengan 114 kantor cabang dan pembantu Bank Syariah.
Pada tahun 2006 jumlah Bank Syariah telah berkembang
dua kali lipat dari jumlah dua tahun yang lalu.17 Tren
perkembangan perbankan syariah yang begitu cepat
memperoleh simpatik luas dari umat muslim dan juga dari
nonmuslim. Hal tersebut amat berbeda dengan sistem
perbankan syariah, yang berdiri di atas akad-akad yang
telah disepakati bersama dengan prinsip syariah tak boleh
merugikan dan juga tidak boleh membebankan kerugian
bersama kepada salah satu pihak. Keuntungan menjadi
keuntungan bersama, dan juga kerugian menjadi kerugian
yang harus ditanggung bersama.18
Sistem perbankan syariah telah teruji dan terbukti di
seluruh dunia, termasuk Indonesia, dalam menghadapi
krisis moneter yang dapat terjadi kapan saja. Pemerintah
telah menyatakan keseriusannya untuk menelaah urgensi
pembuatan UU Perbankan Syariah di Indonesia, dan
akhirnya pada tanggal 17 Juni 2008 DPR mengesahkan
Undang-Undang Tentang Perbankan Syariah yang
diundangkan pada tanggal 16 Juli 2008. Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 94 tentang
Perbankan Syariah, dan Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4867).
Peluasan kelembagaan perbankan syariah telah
merambah kepada aspek-aspek ekonomi syariah sebagai
bentuk-bentuk produk perbankan syariah. Dan Perbankan
Syariah sebagai suatu lembaga dalam perbankan, menuntut
adanya kepastian hukum, penegakan hukum, dan keadilan,
serta antisipasi hukum apabila terjadi konflik antara pihak
nasabah dengan pihak bank. Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang

17Ahmad Kamil, M. Fauzan, Kilab Undang-undang Hukum Perbankan Dan Ekonomi


Jakarta: Kencana, 2007, hal. vi
S y a ri'a h ,
nlbid.

353
diundangkan pada tanggal 20 Maret tahun 2006 telah
memberi am anat kepada Lembaga Peradilan Agama
sebagai salah satu lembaga pelaksana kekuasaan
kehakim an di Indonesia untuk menerima, memeriksa,
mengadili serta menyelesaikan perkara-perkara tertentu
termasuk perkara perbankan dan ekonom i syariah yang
terjadi di Indonesia.
Saat ini perkembangan Perbankan Syariah tidak hanya
dalam jasa bank saja tapi juga merambah sektor lain seperti
Asuransi Syariah, Obligasi Syariah, Reksadana Syariah dan
produk lainnya. Hal yang tak kalah pentingnya guna
menutupi kekurangan aturan hukum yang ada maka
Perbankan Syariah sangat mengandalkan apa yang
dinamakan dengan kepercayaan sebagai modal utama dan
karakteristik Perbankan Syariah. Pada Bank Syariah, prinsip
utama yang dipegang yaitu kepercayaan dan kejujuran
berlandaskan syariah sedangkan pada Bank Konvensional
dalam pembiayaan menerapkan 5 prinsip; Penilaian watak
(character), Penilaian kemampuan (capability), Penilaian
terhadap modal (capital), Penilaian agunan (collateral),
Penilaian prospek usaha (condition of economic)'. CEO
Muamalat Institute, Amir Rajab Batubara menyatakan
bahwa di Eropa dan di AS, Bank Islam menunjukkan
eksistensinya sebagai bank yang menjadi pilihan
masyarakat, bank Islam lebih adil, lebih bernilai dan
hasilnya lebih menjanjikan, karena itu nasabahnya tidak
hanya kelompok Islam tapi juga non muslim.
Perbankan syariah di Indonesia mulai dikembangkan
sejak berlakunya Undang-Undang No.7 tahun 1992 tentang
Perbankan yang istilahnya dikenal dengan prinsip bagi
hasil. Undang-Undang ini telah memberikan landasan
hukum bagi pengoperasian Perbankan Syari'ah secara legal
dan menjadi milestone penting yang menandai
pemberlakuan dual banking sytem di Indonesia, yaitu
beroperasinya Bank Konvensional dan Bank Syariah dalam
sistem perbankan nasional.
Penyempurnaan landasan hukum keberlakuan
Perbankan Syariah terdapat dalam Undang-Undang Nomor
10 tahun 1998 tentang Perbankan yang merupakan
amandemen dari Undang-Undang No.7 tahun 1992. Dalam
UndangUndang No.10 tahun 1998 dinyatakan dengan jelas
mengenai penggolongan kegiatan usaha bank menjadi 2
(dua) jenis yaitu bank yang melakukan kegiatan usaha
secara konvensional dan bank yang melakukan usahanya
berdasarkan prinsip syariah sesuai dengan hukum Islam.
Undang-Undang ini, memungkinkan pula Bank Konven­
sional membuka kantor cabang syariah atau dikenal dengan
istilah dual banking system.
Perkembangan Bank Syariah tak bisa dilihat sebelah
mata, perkembangan yang pesat serta pelajaran yang
diberikan pada krisis 1997, telah memunculkan harapan
bagi sebagian masyarakat bahwa pengembangan Ekonomi
Syariah merupakan satu solusi bagi peningkatan ketahanan
ekonomi nasional, disamping juga sebagai kebutuhan umat
Islam.
Prospek perbankan ke depan, - menurut penelitian
bahwa sampai tahun 2011 - Perbankan Syariah akan
mengalami pertumbuhan sebesar 15% dari total aset
perbankan nasional (4.218 Triliun) dari market share
Perbankan Syariah sebesar 0.26% atau sebesar Rp 204
Triliun. Dan secara prinsip ada 3 hal yang membedakan
antara Bank Konvensional dengan Bank Syariah:
1. Bank Syariah dijalankan dengan prinsip nisbah (bagi
hasil) untuk menghimpun dana dan pembiayaan.
2. Bank Syariah tidak boleh membiayai proyek yang
dilarang oleh Undang-Undang maupun hukum Islam.
3. Tidak boleh melakukan tindakan spekulatif seperti
transaksi valuta asing (hedging &future trading).

355
Dasar Pemikiran Bank Syariah
Umar Chapra seorang sarjana muslim yang memiliki
konsep tentang peningkatan perekonomian khususnya
perekonomian Islam melihat ternyata sistem Ekonomi Kapitalis
dan Sosialis telah gagal mengemban misi utamanya untuk
mensejahterakan umat manusia secara adil dan dalam
prakteknya cenderung sama sekali tidak berpihak pada kaum
lemah sehingga yang tertindas semakin tertindas.
Di tengah kegagalan yang dialami sistem Kapitalis dan
sosialis tersebut muncullah sebuah alternatif sistem ekonomi
yang berlandaskan pada ajaran-ajaran Islam. Sistem Ekonomi
Islam lahir sebagai alternatif dan jalan tengah antara sistem
Ekonomi Kapitalis dengan sistem Ekonomi Sosialis. Ekonomi
berbasiskan hukum Islam muncul sebagai penyeimbang dan
jalan tengah.
Dalam sistem Ekonomi Islam pengakuan terhadap
kepemilikan pribadi atau individu sangat diakui, namun
dijelaskan bahwa dalam milik pribadi yang diakui secara mutlak
terdapat hak orang lain, yang harus diberikan pada yang berhak.

Perkembangan Bank Syariah di Indonesia


Perkembangan Bank Syariah di negara-negara Islam
berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode tahun 1960-an,
diskusi mengenai Bank Syariah sebagai pilar Ekonomi Islam
mulai dilakukan.
Prakarsa lebih khusus untuk mendirikan bank Islam di
Indonesia baru dilakukan pada tahun 1990, yaitu saat Majelis
Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 Agustus 1990
menyelenggarakan lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di
Cisarua Bogor, Jawa Barat. Hasil lokakarya tersebut dibahas
lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI di Hotel
Sahid Jaya Jakarta, pada tanggal 22-25 Agustus 1990. Dan
berdasarkan amanat Munas IV MUI, dibentuk kelompok kerja
untuk mendirikan bank Islam di Indonesia. Kelompok kerja
diberi nama Tim Perbankan MUI, yang bertugas melakukan
pendekatan dan konsultasi dengan berbagai pihak terkait untuk
menggali ide dan dukungan guna pendirian perbankan yang
bercirikan Islam.
Perkembangan industri keuangan syariah secara informal
telah dimulai sebelum dikeluarkannya kerangka hukum formal
sebagai landasan operasional Perbankan Syariah di Indonesia.
Sebelum tahun 1992, telah didirikan beberapa badan usaha
pembiayaan non-bank yang telah menerapkan konsep bagi hasil
dalam kegiatan operasionalnya.
Arah Perbankan Syariah ke depan selanjutnya dirumuskan
dalam sebuah gagasan besar yang tertuang dalam Cetak Biru
Perbankan Syariah. Yang memuat visi dan misi pengembangan
Perbankan Syariah nasional yang disusun dengan
mengelaborasi nilai-nilai dasar Ekonomi Syariah yang perlu
dijiwai dalam pengembangan Perbankan Syariah baik dari
perspektif mikro maupun makro.
Apa yang dikemukakan di atas, memberi angin segar bagi
implementasi hukum Islam di Indonesia. Adanya kewenangan
dan kepercayaan kepada Pengadilan Agama untuk memproses
sengketa ekonomi syari'ah termasuk perbankan syari'ah seperti
yang diamanatkan dalam UU No .3 tahun 2006 harus ditanggapi
serius oleh komponen Pengadilan Agama. Seperti yang
dikemukakan Andi Syamsu Alam.19 Perkembangan ini
berimplikasi luas di lingkungan Peradilan Agama, misalnya saja:
• Penyiapan sumber daya manusia (SDM) menghadapi
kewenangan barunya;
• Penyiapan anggaran yang besar untuk pelaksanaan diklat;
• Pengadaan buku-buku menyangkut Ekonomi Syariah dan
lain-lain;
• Penyiapan konsep "Pendidikan dan Pelatihan" yang efektif
bagi para Hakim Pengadilan Agama;

l9Andi Syamsu Alam, Makalah disampaikan pada Seminar Nasional


"Implementasi Ekonomi Syari'ah di Indonesia", PPS Universitas 17 Agustus 45, Jakarta 3
Juni 2006.

357
• Tersedianya Calon Hakim dari kalangan Sarjana Syariah
dan Sarjana Hukum yang siap pakai;
• Orientasi dengan kalangan pakar ekonomi pada umumnya
dan pakar ekonomi Syariah pada khususnya;
• Orientasi dengan para praktisi perbankan, terutama
perbankan Syariah.

Beberapa Undang-undang di atas semuanya telah


mendukung dan memperkokoh keberadaan hukum Islam di
Indonesia. Hanya saja kepercayaan yang diberikan kepada
lembaga-lembaga Islam tersebut harus dilaksanakan secara baik,
supaya tidak mengecewakan berbagai pihak termasuk umat
Islam sendiri. Oleh karena itu, upaya yang harus dilakukannya
adalah kewajiban / keharusan menerapkan tata kelola yang
baik, yang mencakup prinsip transparansi, akuntabilitas,
pertanggungjawaban, profesional, dan kewajaran dalam
menjalankan kegiatan usahanya sebagaimana disebutkan dalam
Pasal 34 ayat (1) UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah, serta keharusan menerapkan prinsip kehati-hatian
seperti disebutkan dalam Pasal 35 ayat (1) Undang-undang yang
sama.
Kepercayaan besar yang diberikan kepada umat Islam
dengan pemberlakuan kaidah-kaidah yang Islami haruslah
disadari bahwa sebenarnya hal itu mempertaruhkan nama baik
Islam sendiri, karena orang akan melihat wujud dan bentuk
Islam lewat pelaksanaan hukum tersebut, baik atau tidaknya
pelaksanaan kaidah-kaidah tersebut tentunya akan sangat
terkait dan berimbas kepada umat Islam.
Sikap akomodatif yang selama ini diberikan oleh negara
kepada umat Islam seharusnya memacu umat Islam untuk
membuktikan bahwa hukum Islam tidaklah seperti yang
dikhawatirkan banyak orang tentang kekejaman dan
pengingkaran kepada hak asasi manusia, tetapi hukum Islam itu
rahmatan lil 'alamin, menciptakan kedamaian dan kesejahteraan
kepada umat manusia, tidak hanya bagi umat Islam sendiri,

358
tetapi juga untuk umat lainnya, seperti yang pernah
dipraktekkan nabi Muhammad SAW. sewaktu membentuk
negara Madinah. Pasal 14 Undang-Undang di atas yang
menyebutkan "Warga Negara Indonesia, Warga Negara Asing,
Badan Hukum Indonesia, atau Badan Hukum Asing dapat
memiliki atau membeli saham Bank Umum Syariah secara
langsung atau melalui bursa efek, menunjukkan bahwa Bank
Umum Syariah berusaha mewujudkan rahmatan lil-'Alamin.
Di samping beberapa Undang-undang di atas ada tiga
faktor yang menyebabkan hukum Islam masih memiliki peran
besar dalam kehidupan bangsa kita. Pertama, hukum Islam telah
turut serta menciptakan tata nilai yang mengatur kehidupan
umat Islam, minimal dengan menetapkan apa yang harus
dianggap baik dan buruk, apa yang menjadi perintah, anjuran,
perkenan, dan larangan agama. Kedua, banyak keputusan
hukum dan unsur yurisprudensial dari hukum Islam telah
diserap menjadi bagian dari hukum positif yang berlaku. Ketiga,
adanya golongan yang masih memiliki aspirasi teokratis di
kalangan umat Islam dari berbagai negeri sehingga penerapan
hukum Islam secara penuh masih menjadi slogan perjuangan
yang masih mempunyai appeal cukup besar.20
Terkait dengan upaya tersebut - dalam tulisan ini - penulis
ingin lebih fokus melihat sumbangan tradisi hukum Islam atau
hukum fiqh dalam rangka pembangunan hukum nasional.
Karena, hukum Islam (hukum fiqh) itu sendiri secara umum
memang diakui sebagai salah satu sumber dalam rangka
pembaruan hukum di Indonesia, selain hukum adat dan hukum
barat. Bagaimana pun, hukum barat, hukum adat, maupun
hukum Islam itu, mempunyai kedudukan yang sama sebagai
sumber norma bagi upaya pembentukan hukum nasional.
Selain itu, secara sosiologis, kedudukan hukum Islam
(hukum fiqh) itu sendiri di Indonesia, melibatkan kesadaran

20Juhaya S. Praja, H u k u m Isla m d i I n d o n e s ia (K a ta P e n g a n ta r ), Bandung: Remaja


Rosdakarya eeL ke-2 1994, hal. XV

359
keagamaan mayoritas penduduk yang sedikit banyak berkaitan
pula dengan masalah kesadaran hukum. Norma agama dan
norma hukum selalu sama-sama menuntut ketaatan. Apalagi,
jika norma hukum itu disebandingkan dengan aspek hukum
dari norma agama itu, akan semakin jelaslah keeratan hubungan
antara keduanya. Keduanya sama-sama menuntut ketaatan dan
kepatuhan dari warga masyarakatnya. Tahir Azhari mengatakan
bahwa hukum Islam mengikat setiap individu yang beragama
Islam untuk melaksanakannya, yang implementasinya terbagi
dalam 2 perspektif, yaitu : 1) ibadah mahdlah, dan tanpa campur
tangan penguasa kecuali untuk fasilitasnya 2) muamalah, baik
yang bersifat perdata maupun publik, yang melibatkan
kekuasaan negara.21
Selain karena alasan sosiologis dan alasan praktis-pragmatis
di atas, keeratan hubungan antara ulama dan umara22 serta
agama dan hukum, termasuk dalam dan untuk Hukum Pidana
yang hendak diperbaharui itu, dapat pula dilihat secara filosofis-
politis dan yuridis.
Secara filosofis-politis, keeratan hubungan keduanya dapat
dilihat dari perspektif Pancasila yang menurut doktrin ilmu
hukum di Indonesia merupakan sumber dari segala sumber
hukum. Di dalam Pancasila itu sendiri, agama mempunyai
posisi yang sentral. Di dalamnya, terkandung prinsip yang
menempatkan agama dan ke-Tuhanan Yang Maha Esa dalam
posisi yang pertama dan utama.
Demikian juga dengan tinjauan juridis, kedudukan agama
dalam konteks hukum dan keeratan hubungan antara keduanya
dijamin menurut Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 29 UUD 1945
yang menyatakan:

21Tahir Azhari, Posisi Peradilan Agama dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999
: Perspektif Hukum Masa Datang, dalam Ditbitbapera Islam-Fakultas Hukum Ul-Pusat
Pengkajian Hukum Islam dan Masyarakat, Jakarta : Chasindo, 1999), hal. 121.
22secara personal dan dilambangkan pula dengan keberadaan mesjid di kantor-
kantor pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang sering disebut dengan mesjid
agung provonsi/bupati/walikota.

360
1. "Atas berkat Rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan
didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan
yang bebas, maka rakyat Indonesia, menyatakan dengan ini
kemerdekaannya."
2. Negara berdasar atas ke-Tuhanan Yang Maha Esa."
3. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu."

Untuk mewujudkan Hukum Islam dapat menjadi lebih


prospektif dalam kodifikasi hukum nasional pada masa datang
political will para legislator di tingkat pusat dan daerah
merupakan prasyarat utama. Putusan-putusan Pengadilan/
Hakim yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam
masyarakat yang Islami turut berperan pula. Demikian pula
halnya dengan peran ulama/akademisi dalam pengembangan
dan penelitian yang dapat menunjang perkembangan hukum
Islam di Indonesia. Dan yang juga tidak kalah pentingnya
adalah peran para ulama, kyai yang mengajarkan dan tetap
menyiarkan materi-materi hukum Islam kepada para santri serta
jamaahnya yang tersebar di berbagai pelosok tanah air. Dalam
buku-buku Tafsir, para legislator, yuris, pemerintah, dan
ulama/akademisi, termasuk dalam makna uli al-amr, yang
termasuk untuk ditaati sebagaimana perintah Allah dalam surat
al-Nisa, ayat: 59.
Demikian beberapa argumen yang memberikan peluang
kepada hukum Islam untuk berkembang dan layak dijadikan
bahan pertimbangan dalam pembangunan hukum nasional,
karena bangsa Indonesia perlu menformulasikan hukum sesuai
dengan filsafat hukum Indonesia, sebab aturan hukum yang ada
sekarang ini masih banyak yang merupakan warisan bangsa
Belanda. Contohnya sistem Hukum Pidana yang kita berlakukan
sampai saat ini merupakan warisan Belanda yang
diperuntukkan berlakunya terutama bagi bangsa Indonesia
sebagai bangsa yang terjajah. Pada waktu itu sistem hukum
demikian sesuai dengan keadilan menurut versi penjajah.

361
Setelah Indonesia merdeka tentu perlu ditinjau kembali dan
kalau tidak sesuai dengan kebutuhan bangsa serta rasa
keadilan kiranya tidak perlu dan tidak akan dipertahankan.23

III. Penutup
Perkembangan hukum Islam di Indonesia memiliki peluang
yang sangat cerah dalam pembangunan hukum nasional, karena
secara sosioantropologis dan emosional, hukum Islam sangat
dekat dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduk­
nya beragama Islam. Selain itu secara historis hukum Islam telah
dikenal jauh sebelum penjajah masuk ke Indonesia.
Peluang bagi masa depan hukum Islam di Indonesia juga
terbuka karena telah banyak aturan dalam hukum Islam yang
disahkan menjadi hukum nasional, dan hal ini memperlihatkan
bagaimana politicall will pemerintah yang memberikan respon
dan peluang yang baik bagi hukum Islam. Dengan melihat
realitas kedekatan dan kompleksitas materi hukum Islam, pada
masa datang, peluang hukum Islam dalam pembangunan
hukum nasional akan lebih luas lagi. Demikian juga peran
ulama/akademisi yang melakukan pengembangan dan
penelitian yang konstruktif dapat menunjang perkembangan
hukum Islam di Indonesia. Yang tidak kalah pentingnya adalah
peran para ulama, kyai yang secara ikhlas mengajarkan dan
tetap menyiarkan materi-materi hukum Islam kepada para santri
serta jamaahnya yang tersebar di berbagai pelosok tanah air.
Semua itu secara alami akan tetap menjaga keberadaan hukum
Islam di Indonesia.

23Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta:


2003, cet. Kedelapan, hal. 170.

362
D A FT A R P U S T A K A

Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia, PT Raja Grafindo


Persada, Jakarta, 2003 cet. Kedelapan
Ahmad Kamil, M. Fauzan, Kitab Undang-undang Hukum Perbankan
Dan Ekonomi Syari'ah, Jakarta: Kencana, 2007.
Andi Syamsu Alam Makalah disampaikan pada Seminar Nasional
"Implementasi ekonomi syari'ah di Indonesia, PPS Universitas
17 Agustus 45, Jakarta 3 Juni 2006
Bustanul Arifin, Transformasi Syariah ke dalam Hukum Nasional
(Bertenun dengan Benang-benang Kusut), Jakarta : Yayasan Al-
Hikmah, 1999).
Elizabeth A. Martin (editor) A Dictionary of Law, New York:
Oxford University Press, Fourth Edition, 1997
Hafizh Dasuki, Ensiklopedi Hukum Islam, PT Ichtiar Baru van Hoeve,
Jakarta, FIK-IMA, 1997
Ichtijanto, Pengembangan Teori berlakunya hukum Islam di Indonesia,
dalam Hukum Islam di Indonesia, Bandung: Remaja
Rosdakarya cet. ke-2 1994
Juhaya S. Praja, Hukum Islam di Indonesia (Kata Pengantar), Bandung:
Remaja Rosdakarya cet. ke-2,1994
Muchsin, Masa Depan Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta: BP IBLAM,
2004
Muchsin, Ikhtisar Sejarah Hukum, Jakarta: BP IBLAM, 2004
Muchsin, Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka dan Kebijakan Asasi,
Jakarta: BP IBLAM, 2004
Rifyal Ka'bah, Hukum Islam di Indonesia, Buletin Dakwah, 19 Mei 2006
Republika, Rabu 2 April 2008
Tahir Azhari, Posisi Peradilan Agama dalam Undang-Undang Nomor 35
Tahun 1999 : Perspektif Hukum Masa Datang, dalam
Ditbinbapera Islam-fakultas Hukum Ul-Pusat Pengkajian
Hukum Islam dan Masyarakat, Jakarta : Chasindo, 1999,

363
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh,
Jakarta: Tatanusa, 2006
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Ibadah Haji
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah
P R O B L E M FO R M U L A S I D A N EM P IR IS P E N E R A P A N
"Q A N U N K H A L W A T "
DI N A N G G RO E A CEH D A RUSSALAM
Oleh:
Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, SH., M.A.*

Pengantar Wacana
Dalam sebuah kesempatan, Ketua Mahkamah Agung RI, Prof.
Dr. Bagir Manan, S.H., MCL, mengemukakan pertanyaan
menggelitik tentang formulasi dan pelaksanaan hukum Islam di
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dalam hal ini Qanun Nanggroe
Aceh Darussalam Nomor 14 tahun 2003 Tentang Khalwat (Mesum).
Beliau mengemukakan kemungkinan adanya kemusykilan tentang
problematika formulasi dan penerapan Qanun tersebut. Beliau
mensinyalisasi adanya kemungkinan kesenjangan antara
substansi/materi pandangan hukum dalam khasanah fikih dengan
ketentuan normatif yang terangkum dalam Qanun tersebut serta
penerapannya pada dataran grassroot, terutama jika diperhadapkan
pada konteks sosio-kultural masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD).
Pada prinsipnya Qanun tersebut merupakan pencerminan dan
pemikiran fikih konvensional yang dipositifkan melalui proses
legislasi pada tingkat daerah. Seperti diketahui, para ahli fikih telah
memformulasikan pelbagai ketentuan mengenal khalwat atas dasar
tafsir mereka terhadap dalil-dalil Alquran dan Sunnah dengan
bercermin pada situasi dan kondisi masyarakat pada masanya. Inilah
yang kemudian diformulasikan ke dalam peraturan daerah
Nanggroe Aceh Darussalam yang disebut dengan Qanun Khalwat
(Mesum).
Qanun Khalwat kini berusia mendekati sewindu. Namun
kehadirannya agaknya, tidak serta-merta berjalan mulus
sebagaimana yang diharapkan para penggagasnya. Baik dari aspek

*
Hakim Agung Republik Indonesia.

365
substansi maupun pada tataran implementasi ternyata mendapat
respons dan tantangan yang cukup beragam. Hal problematis ini
diisyaratkan Profesor Bagir Manan bahwa regulasi tersebut tidak
hanya sulit dirumuskan, tapi juga tidak mudah dalam penerapannya.
Qanun Khalwat akan diperhadapkan pada pelbagai kenyataan sosial
budaya masyarakat yang tidak sepenuhnya acceptable dan adaptable
dengan ketentuan yang sangat sensitif tersebut.
Qanun Khalwat sebagai ketentuan mengenai etika pergaulan
masyarakat memang cukup debatable. Pelbagai corak dan pola
aktivisme masyarakat yang sangat dinamis dan kompleks
tampaknya akan menjadi hal penting terkait masa depan
pemberlakuan qanun tersebut. Hal ini menyangkut batas-batas,
kategorisasi, serta kriteria suatu perbuatan atau keadaan yang dapat
dinyatakan sebagai jarimah khalwat.
Di samping itu, faktor ketersediaan, kesiapan, dan kemampuan
perangkat hukum bertugas menangani jarimah ini juga patut
mendapat perhatian sungguh-sungguh dari pihak-pihak yang
berwenang. Inilah, antara lain, yang menjadi problem empiris
pemberlakuan Qanun Khalwat.
Beberapa pertanyaan penting yang hendak dijawab dalam
risalah bersahaja ini adalah bagaimana sesungguhnya konsepsi dan
batasan-batasan khalwat dalam fikih Islam konvensional? Seberapa
jauh konsep ini mampu diterapkan dalam konteks sosiokultural
masyarakat lokal? Lantas, bagaimana strategi implementasi Qanun
Khalwat sehingga mampu memenuhi hasrat pemberlakuan Syariat
Islam di satu sisi, dan dinamika budaya masyarakat, pada sisi yang
lain?

Khalwat dalam Khazanah Fikih Konvensional


Secara literal, khalwat atau khulwah berasal dan akar kata khala
yang berarti sepi, kosong, sunyi, sendirian, bebas, dan seterusnya.
Khalwat merupakan terminologi yang menunjuk pada keadaan
suatu tempat seseorang yang tersendiri dan jauh dari jangkauan
pandangan orang lain. Istilah ini dapat dikonotasikan pada dua
makna yang kontradiktif, yakni positif dan negatif.

366
Makna positif khalwat adalah terkait dengan terminologi khas
dalam dunia tasawuf, yakni seseorang yang sengaja mengasingkan
diri di tempat yang sepi untuk menyucikan diri dan beribadah
sebanyak mungkin dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
Swt. Dalam terminologi tasawuf, kegiatan semacam itu disebut ber-
khalwah sebagaimana yang lazim dilakukan para ahl al-zuhd, yakni
orang yang meninggalkan keduniaan dan memusatkan perhatian
pada upaya pendekatan diri kepada Allah Swt.
Khalwat dalam pengertian ini adalah bagian dari 'uzlah yang
merupakan aktivisme esoterik para sufi, yakni pengasingan diri dari
bentuk-bentuk eksistensial yang di akhir perjalanannya melakukan
khalwat (menyepi atau menyendiri) untuk mencapai derajat tertentu.
Khalwat pada hakikatnya adalah pemutusan hubungan dengan
makhluk menuju penyambungan hubungan dengan Al-Haq, yakni
Allah Swt. Khalwat tidak lain merupakan perjalanan ruhani dan nafsu
menuju hati; dan hati menuju ruh; dari ruh menuju alam rahasia
(sirr); dan dari alam rahasia menuju Dzat Yang Mahakuasa.
Oleh karena itu, termasuk dalam pengertian ini adalah ketika
seseorang yang berdoa pada malam hari seraya menitikkan air mata
sambil mengadu kepada Allah Swt., di saat orang-orang sedang
asyik tertidur lelap. Seseorang akan merasakan kehadiran dan
kebersamaan dengan Allah Swt. (omnipresent). Dalam kondisi ini
seolah-olah dunia hanya dihuni oleh dirinya beserta keagungan
Allah Swt. Inilah pemaknaan khalwat sebagal hal yang positif.
Dengan demikian, meski secara literal memiliki kesamaan, namun
berbeda secara diamentral dalam hal praktik.
Namun, pemaknaan sufistik ini akan serta-merta absurd jika
dikaitkan dalam konteks pemaknaan yang lain. Khalwat dalam
terminologi fikih dimaknai sebagai suatu hubungan pergaulan
menyendiri antara pria dan wanita tanpa kehadiran orang lain.
Maksud dari tidak adanya orang lain dapat dilihat atau dimaknai
dalam dua kondisi. Pertama, dalam kondisi tidak ada orang lain sama
sekali. Kedua, terdapat pihak lain dan keduanya tampak terlihat
tetapi apa yang dibicarakan tidak dapat disimak oleh orang lain.
Inilah makna literal sekaligus terminologis khalwat yang cukup
populer di kalangan ulama fikih.

367
Maka atas dasar pemaknaan tersebut, Abdullah ibn
Abdurrahman al-Bassam membagi khalwat menjadi dua bentuk.
Pertama, khalwat berat (mughallazhah). Yakni berduanya seorang pria
dan wanita di suatu tempat hal mana keduanya tidak terlihat oleh
orang lain. Kedua, khalwat ringan (mukhaffafah), yakni berduanya
seorang pria dan wanita di tengah-tengah manusia sehingga
keduanya tampak terlihat namun percakapan antara keduanya tidak
dapat disimak oleh orang lain. Tampaknya, kategorisasi khalwat ini
tetap bermuara pada keharaman khalwat sebagaimana sabda
Rasulullah Saw., "Janganlah sekali-kali seorang pria berduaan dengan
seorang wanita, karena yang ketiganya adalah setan. "(Hr. Ahmad
[dengan sanad yang sahih]).
Kesimpulan ini lahir dan suatu asumsi bahwa jika seorang pria
dan seorang wanita bukan muhrim berduaan atau bersunyi-sunyi di
suatu tempat maka potensial menimbulkan fitnah dan
syakwasangka, meski boleh jadi keduanya tidak memiliki tujuan
maksiat; terlebih berzina (mesum). Kekhawatiran (fitnah) inilah yang
tampaknya menjadi hal yang patut dihindari.
Larangan berkhalwat juga terangkum dalam beberapa Hadis
Rasulullah Saw. berikut ini, "Jangan sekali-kali seorang pria menyendiri
dengan wanita kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita
bepergian kecuali bersama mahramnya." (Hr. Al-Bukhari, Muslim,
Ahmad, lbnu Majah, Tabrani, Baihaqi, dan lain-lain). "Barangsiapa
beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka jangan sekali-kali seorang pria
bersendirian dengan seorang wanita yang tidak bersama mahramnya,
karena yang ketiganya ialah setan. (Hr. Ahmad)
Dalam khazanah fikih dikenal pula terminologi "lkhtilath".
Secara literal, istilah ini berasal dari akar kata ikhtalatha, yakhtalithu,
ikhtilathan, yang berarti bercampur atau berbaur. Maksudnya
bercampurnya pria dan wanita dalam suatu aktivitas atau forum
bersama tanpa ada batas (hijab) yang memisahkan antara keduanya.
Berbeda dengan khalwat yang bersifat menyendiri, ikhtilath terjadi
secara kolektif dan bersama, di mana pria dan wanita dalam jumlah
yang lebih dari dua orang berbaur dalam suatu keadaan tanpa
dipisahkan dengan jarak.

368
Yang menjadikan titik perbedaan pendapat di kalangan ulama
adalah mengenai pemisahan antara kedua jenis kelamin ini. Sebagian
ulama memandang bahwa pemisahan itu harus dengan dinding, baik
yang terbuat dari tembok ataupun dari kain tabir penghalang 'yang
tidak tembus pandang. Namun sebagian ulama lain mengatakan
bahwa pemisahan cukup dengan posisi dan jarak saja, tanpa harus
dengan tabir penutup.
Mereka yang mewajibkan memasang kain tabir penutup
ruangan berangkat dari dalil berikut ini :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-
rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak
menunggu-nunggu waktu masak, tetapi jika kamu diundang maka
masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik
memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan
mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu, dan Allah tidak malu
yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka
mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi
hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah
dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah Ia wafat.
Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah. “ (Qs.
Al-Ahzab [33]: 53)

Meski ayat ini secara eksplisit ditujukan kepada isteri-isteri nabi,


namun esensi hukumnya juga berlaku bagi semua wanita. Karena
pada dasarnya setiap wanita muslimah seharusnya menjadikan para
isteri Nabi itu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
demikian, obyek ayat ini tidak hanya berlaku bagi isteri-isteri Nabi
saja tetapi juga semua wanita mukminat.
Diriwayatkan oleh Nabhan bekas sahaya Ummu Salamah,
bahwa Rasulullah Saw. pernah berkata kepada Ummu Salamah dan
Maimunah yang waktu itu Ibnu Ummi Maktum masuk ke
rumahnya. Rasulullah Saw. bersabda, "Gunakanlah tabir!"
Kemudian kedua isteri Rasulullah Saw. itu berkata, Kemudian Rasul
menjawab, "Apakah kalau dia buta kamu juga buta? Bukankah kamu
berdua melihatnya?"

369
Pada tataran praksis, terdapat keragaman di tengah masyarakat.
Hal ini berangkat dari pemahaman tentang terminologi ikhtilalh itu
sendiri, di samping situasi dan kondisi masyarakatnya. Beberapa
kalangan menerapkan secara rigid tentang keharusan adanya tabir
pada seluruh aktivitas kemasyarakatan. Ada juga kelompok
masyarakat yang menerapkan secara parsial, terutama pada
momentum tertentu, seperti pada acara walimah al-'urs, dan tidak
untuk aktivitas lainnya. Bahkan, ada juga kelompok masyarakat yang
menerapkan ketentuan hijab secara eksklusif dan tertutup hanya bagi
kelompoknya semata dan tidak berlaku bagi outsider. Namun
terdapat ulama yang berkesimpulan bahwa ikhtilath dapat dihindari
cukup dengan memberi jarak antara tempat pria dan wanita, dan
tidak wajib untuk memasang tabir penutup.

Qanun Khalwat (Mesum)


Diundangkannya Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999
tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa
Aceh dan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam telah melahirkan legitimasi baru dan
seolah kian mempertegas formalisme pemberlakuan Syariat Islam di
Tanah Rencong. Pada tahap selanjutnya pelaksanaan Syariat Islam
telah dirumuskan secara yuridis melalui Peraturan Daerah Nomor 5
Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Syariat Islam.
Walhasil, pelbagai produk legislasi hukum Islam dengan segera
bermunculan dalam bentuk qanun atau semacam peraturan daerah
yang berlaku bagi warga Aceh yang beragama Islam. Salah satu
qanun yang mendapat perhatian banyak kalangan adalah ketentuan
mengenai etika pergaulan antara pria dan wanita bukan muhrim
yang tertuang dalam Qanun Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 14
Tahun 2003 tentang Khalwat (Mesum). Kehadiran Qanun Khalwat,
dengan demikian, telah menambah perbendaharaan regulasi yang
bersumber dari Syariat Islam yang berlaku di Nanggroe Aceh
Darussalam.
Sebagaimana di kemukakan dalam penjelasan umumnya,
kehadiran Qanun ini sesungguhnya didasari oleh suatu kenyataan

370
sejarah bahwa masyarakat Aceh telah menjadikan ajaran Islam
sebagai pedoman dalam kehidupannya. Dalam arti kata lain, Syariat
Islam merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam tata kehidupan
masyarakat Aceh, tidak hanya sebagai sesuatu yang given, namun
juga inheren. Karenanya, seperti ditegaskan Safwan Idris, Syariat
Islam bagi warga Aceh merupakan suatu amanah, yakni: amanah
Allah, amanah sejarah, amanah kemanusiaan, dan amanah
kebudayaan yang sejatinya menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat. Inilah, antara lain, faktor yang mengukuhkan tekad dan
komitmen pemberlakuan Syariat Islam di Bumi Iskandar Muda ini.
Hal ini sejalan dengan kenyataan sejarah sosial masyarakat Aceh
dengan penghayatan dan pengamalan ajaran Islam yang berlangsung
dalam rentang yang cukup panjang, terhitung sejak abad ketujuh
miladiyah, telah melahirkan suasana masyarakat dan budaya Aceh
yang Islami. Budaya dan adat Aceh yang lahir dari renungan para
ulama kemudian dipraktikkan, dikembangkan, dan dilestarikan.
Dalam ungkapan bijak disebutkan "Adat bak Poteu Meureuhom, Hukom
bak Syiah Kuala, Qanun bak Putro Phang Reusam bak Lakseumana".
Ungkapan tersebut merupakan pencerminan bahwa Syariat Islam
telah menyatu dan menjadi pedoman hidup bagi masyarakat Aceh
melalui peranan ulama sebagai ahli waris para Nabi. Tak pelak,
kenyataan historis ini pada gilirannya melahirkan suatu identifikasi
tentang komitmen dan kedekatan masyarakat Aceh dan Syariat
Islam.
Lebih lanjut dinyatakan dalam penjelasan qanun bahwa secara
umum Syariat Islam di bidang hukum memuat norma hukum yang
mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara serta norma
hukum yang mengatur moral atau kepentingan individu yang harus
ditaati oleh setiap orang. Ketaatan terhadap norma hukum yang
mengatur moral sangat tergantung pada kualitas iman, takwa, dan
hati nurani seseorang, juga disertai adanya sanksi duniawi dan
ukhrawi terhadap orang yang melanggarnya.
Dalam sistem hukum Islam terdapat dua jenis sanksi, yaitu
sanksi yang bersifat definitif dari Allah Swt. dan Rasul-Nya (hudud)
dan sanksi yang ditetapkan manusia melalui kekuasaan eksekutif,
legislatif, dan yudikatif (takzir). Kedua jenis sanksi tersebut akan

371
mendorong masyarakat untuk patuh pada ketentuan hukum. Dalam
banyak hal penegakan hukum menuntut peranan negara. Hukum
tidak akan berjalan bila tidak ditegakkan oleh negara. Di sisi lain
suatu negara tidak akan tertib bila hukum tidak berjalan
sebagaimana mestinya.
Hingga titik ini tampak adanya korelasi yang saling mendukung
antara eksistensi hukum dan negara sebagai penopang penegakan
hukum (law enforcement). Oleh karena itu, seluruh ketentuan dalam
Syariat Islam tidak akan berlaku dan hanya akan menjadi norma
yang bersifat tekstual jika tidak didukung oleh kekuatan eksekutif.
Sebaliknya, hukum sebagai instrumen bernegara menjadi niscaya
keberadaannya dalam konteks yang menyeluruh dan integral
meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakatnya.
Dalam konteks ini, maka ketentuan atau batasan-batasan
mengenai pergaulan atau interaksi di tengah mesyarakat menjadi
bagian yang harus pula di-backup oleh suatu kekuatan yang bersifat
mengikat dan memiliki daya paksa agar berlaku efektif di tengah-
tengah masyarakat. Tentu, hal ini hanya dapat diwujudkan melalui
intervensi dan internalisasi kekuasaan formal, yakni negara. Untuk
itulah kehadiran Qanun Khalwat (Mesum) secara yuridis formal
telah menemukan konteksnya.
Khalwat (mesum) diyakini sebagai salah satu perbuatan
mungkar yang dilarang dalam Syariat Islam dan bertentangan pula
dengan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat Aceh karena
perbuatan tersebut dapat menjerumuskan seseorang kepada
perbuatan zina. Hal ini sejalan dengan definisi khalwat dalam qanun
ini sebagai perbuatan yang dilakukan oleh dua orang yang
berlawanan jenis atau lebih, tanpa ikatan nikah atau bukan muhrim
pada tempat tertentu yang sepi sehingga memungkinkan terjadinya
perbuatan maksiat di bidang seksual atau yang berpeluang pada
terjadinya perbuatan perzinaan (pasal 1 angka 20).
Seperti diketahui Islam secara tegas melarang melakukan zina.
Sedangkan khalwat (mesum) merupakan washilah atau perilaku yang
melahirkan peluang bagi terjadinya perbuatan zina. Oleh karena itu,
maka khalwat atau mesum termasuk salah satu jarimah (perbuatan
pidana) dan diancam dengan sanksi yang ditetapkan penguasa

372
('uqubat ta'zir). Hal ini sesuai dengan kaidah, "Perintah untuk
melakukan atau tidak melakukan suatu, juga mencakup prosesnya".
Namun, dalam perkembangannya khalwat (mesum) tidak hanya
terjadi di tempat-tempat tertentu yang sepi dari penglihatan orang
lain, tetapi juga dapat terjadi di tengah keramaian atau di jalanan
atau di tempat-tempat lain, seperti dalam mobil atau kendaraan
lainnya di mana pria dan wanita berasyik-masyuk tanpa ikatan nikah
atau hubungan mahram. Perilaku tersebut juga dapat melahirkan
fitnah serta dikhawatirkan menjurus pada terjadinya perbuatan zina.
Penjelasan ini menunjuk adanya suatu pengembangan tafsir
kondisional atas aneka perilaku khalwat. Nah, pada bagian ini
disinyalisasi akan melahirkan problem implementatif dan kerawanan
sosial.
Qanun tentang larangan berkhalwat (mesum) ini dimaksudkan
sebagai upaya preemtif, preventif, dan pada tingkat optimum
remedium sebagai usaha represif melalui penjatuhan 'uqubat atau
sanksi dalam bentuk takzir, berupa cambuk dan denda (gharamah).
Secara lebih rinci pasal 3 merumuskan tujuan pelarangan khalwat ini.
Pertama, menegakkan Syariat Islam dan adat istiadat yang berlaku
dalam masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam; Kedua,
melindungi masyarakat dari pelbagai bentuk kegiatan dan/atau
perbuatan yang merusak kehormatan; Ketiga, mencegah anggota
masyarakat sedini mungkin dari melakukan perbuatan yang
mengarah kepada zina; Keempat, meningkatkan peran serta
masyarakat dalam mencegah dan memberantas terjadinya perbuatan
khalwat (mesum); dan yang Kelima, menutup peluang terjadinya
kerusakan moral.
Guna mendukung tujuan-tujuan tersebut serta untuk mewujud­
kan efektivitas pelaksanaan qanun, maka diadakan kelengkapan-
kelengkapan yang meliputi lembaga penyidikan, penuntutan, dan
suatu lembaga yang bertugas melakukan pengawasan dan
pembinaan pelaku jarimah khalwat (mesum), yakni Muhtasib dari
lembaga Wilayatul Hisbah. Di samping itu juga masyarakat diberikan
peran untuk mencegah terjadinya jarimah khalwat (mesum) dalam
rangka memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim untuk

373
melaksanakan amar makruf nahi mungkar (pasal 8-21). Peran serta
masyarakat tersebut tidak dalam bentuk main hakim sendiri.
Bentuk ancaman hukuman cambuk bagi pelaku jarimah khalwat
atau mesum (pasal 22), dimaksudkan sebagai upaya memberi
kesadaran bagi pelaku dan sekaligus menjadi peringatan bagi
anggota masyarakat lainnya untuk tidak melakukan jarimah. Di
samping itu hukuman cambuk dinilai akan lebih efektif dengan
memberikan efek rasa malu dan tidak menimbulkan resiko bagi
keluarga. Jenis hukuman semacam ini jelas berdampak pada
rendahnya biaya yang dikeluarkan negara dibandingkan dengan
jenis hukuman yang dikenal dalam KUHP. Oleh karena materi yang
diatur dalam qanun ini termasuk kompetensi Mahkamah Syar'iyah
dan sementara ini qanun yang sesuai dengan kebutuhan Syariat
Islam belum terbentuk, maka untuk menghindari kevakuman
hukum, qanun ini juga mengatur tentang penyidikan, penuntutan,
dan pelaksanaan sanksi {'uqubat).
Uraian di atas menunjukkan bahwa secara normatif dan yuridis
formal keberadaan Qanun Khalwat telah memiliki akar historis,
filosofis, politis, dan sosiologis sehingga diharapkan dapat berlaku
efektif di tengah-tengah masyarakat. Hanya saja, pada tataran
implementatif akan banyak bersentuhan dengan dinamika sosio­
kultural masyarakat ditambah lagi dengan lemahnya law enforcement
para penegak atau perangkat hukum yang cenderung—dalam
beberapa hal—melakukan tebang pilih.

Penerapan Qanun Khalwat dan Kearifan Lokal


Aspek krusial yang disinyalisasi akan menjadi tantangan
tersendiri bagi pemberlakuan Qanun Khalwat adalah terkait dengan
dinamika dan pola interaksi sosial yang ada di masyarakat sejalan
dengan tuntutan kondisi suatu lingkungan tertentu. Pada sisi lain,
ketentuan yang termuat dalam qanun tidak sepenuhnya memberikan
gambaran yang memadai terutama terkait kualifikasi dan kriterium
suatu perbuatan dinyatakan sebagai khalwat. Pasal 2 Qanun Khalwat
hanya memberikan batasan yang abstrak sehingga melahirkan aneka
tafsir (interpretable).

374
Ruang lingkup khalwat yang secara eksplisit dinyatakan oleh
qanun menunjuk pada setiap aktivitas atau kegiatan, perbuatan, dan
keadaan yang mengarah kepada perbuatan zina. Sekali lagi,
pembatasan atau ruang lingkup semacam ini masih memerlukan
rincian kriteria yang berfungsi sebagai pedoman bagi pelaksana di
lapangan, baik penyidik, penyelidik, muhtashib, dan pihak-pihak
berwenang lainnya, sehingga tidak melahirkan salah kaprah.
Beberapa contoh ringan dapat dikemukakan di sini. Misalnya,
seorang pria dan seorang wanita tampak berboncengan di atas
sepeda motor melaju di atas jalan yang sepi. Jika mengacu kepada
definisi khalwat sebagaimana dinyatakan dalan Qanun, maka situasi
semacam ini telah memenuhi kriteria khalwat. Dan tentu saja,
pemandangan semacam ini demikian banyak terhampar di depan
mata. Nah, dalam hal ketidakjelasan identitas keduanya, maka akan
sulit bagi seorang muhtasib untuk mengambil tindakan. Jika langsung
ditindak, maka dikhawatirkan akan salah sasaran karena boleh jadi
ternyata keduanya merupakan pasangan suami-isteri atau kakak
adik. Bisa dibayangkan kesulitan dan kegamangan yang akan
dihadapi pihak berwenang ketika menemukan kasus semacam ini.
Demikian pula dalam hal terjadinya interaksi kedinasan atau
profesi. Misalnya, seorang direktur memanggil staf perempuannya
ke dalam ruangan direktur—yang lazimnya bersifat eksklusif—
untuk membicarakan hal krusial secara empat mata. Jelas, perbuatan
ini telah memenuhi unsur jarimah khalwat, yakni menyendiri dalam
suatu tempat yang tersembunyi dan tertutup dari pandangan orang
lain. Pertanyaannya, apakah suatu kelaziman atas dasar tuntutan
profesionalisme—dan ini telah menjadi suatu mekanisme kerja yang
disepakati—juga dikenakan jarimah khalwat? Masih banyak lagi
contoh perbuatan khalwat yang terkait dengan profesi tertentu.
Konsultan, dokter, dan perawat adalah sebagian contoh yang dapat
dikemukakan. Profesi-profesi tersebut memiliki resistensi khalwat
karena acapkali menuntut untuk dapat bertatap muka empat mata
dengan klien atau pasiennya.
Demikian pula tidak jarang terjadi dalam sebagian masyarakat
menunjukkan pergaulan dengan kerabat dekat yang bukan mahram.
Hal ini pernah disitir dalam sebuah sabda Rasulullah Saw, "Jauhilah

375
kalian masuk ke (ruang) wanita." Seorang lelaki Anshar bertanya,
"Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kerabat suami? " Beliau menjawab,
"Kerabat suami itu (laksana) maut." (Hr. Al-Bukhari) Dalam Hadis ini
Rasulullah Saw. menyebut kerabat suami sebagai maut karena dapat
menjerumuskan kepada hal-hal yang tidak dikehendaki. Apalagi jika
mengingat kedudukan keluarga suami yang demikian dekat
sehingga jarang menimbulkan kecurigaan dan luput dari perhatian.
Pada dasarnya, ketentuan pelarangan khalwat memiliki
keterkaitan dengan eksistensi dan peran wanita dalam kehidupan
sosial. Sebagaimana dipahami dalam paradigma fikih, bahwa
sejatinya wanita senantiasa berperan pada ranah domestik dan
sedapat mungkin menghindari peran-peran publik. Pada umumnya,
hal ini berangkat dari firman Allah Swt., "Dan hendaklah kamu tetap di
rumahmu dan janganlah kamu berhias (bertingkah laku) seperti orang-
orang Jahiliyah...” (Qs. Al-Ahzab [33]: 33). Norma ini dapat diletakkan
sebagai upaya preventif Islam guna mengantisipasi munculnya
fitnah akibat hubungan interaksi antara dua jenis kelamin, pria dan
wanita, di ruang publik. Terlebih, dalam konteks sosio-religius pria
sejatinya lebih banyak aktif pada lakon-lakon publik dalam rangka
melaksanakan tugas pokoknya sebagai pemimpin keluarga.
Namun demikian, pada galibnya tidak selamanya wanita harus
terkungkung dalam wilayah private atau domestik. Dalam kondisi
tertentu terkadang wanita harus pula keluar rumah, baik karena
tuntutan kebutuhan (al-hajat) maupun keterpaksaan/ kemestian (al-
dharurah). Kebutuhan keluar rumah dapat digambarkan seperti
untuk tujuan bersilaturahim, belajar, atau karena aktivitas dakwah.
Sementara pertimbangan dharurah seperti keluarnya wanita untuk
keperluan berobat ke dokter atau wanita yang terpaksa mencari
nafkah karena desakan ekonomi yang menghimpit. Dalam situasi-
situasi tersebut Islam memberikan toleransi bagi keniscayaan wanita
memasuki ruang publik yang melahirkan interaksi dengan pria
menjadi hal yang tak terhindarkan.
Ajaran Islam pada dasarnya memberi kelonggaran kepada
wanita muslimah untuk keluar rumah jika kondisinya memang
menuntut untuk itu. Baik disebabkan tuntutan kebutuhan atau
karena keterpaksaan. Pembolehan ini berlaku sepanjang tetap

376
menjaga dan memelihara etika pergaulan yang sejatinya dipegang
teguh. Etika yang dimaksud antara lain mencakup penggunaan
asesoris yang mencolok, seronok, aroma yang memancing birahi,
pakaian yang seksi, transparan, serta menampakkan lekuk-lekuk
tubuh, dan sebagainya. Jika ketentuan-ketentuan ini tetap dipegang,
maka hajat wanita di ruang-publik akan tetap terpenuhi tanpa perlu
mereduksi hak-haknya untuk beraktivitas lebih leluasa dan seluruh
dampak negatif dapat terelakkan.
Agar tidak terseret pada praktik khalwat, Imam Abu Hanifah
menawarkan solusi, yakni dengan cara menyertakan orang lain jika
dalam keadaan berdua antara seorang pria dan wanita. Dan akan
lebih baik lagi jika pria atau wanita tersebut adalah mahram, karena
Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Janganlah seorang lelaki berdua
dengan seorang wanita kecuali dengan mahram." (Hr. Al-Bukhari) Hadis
ini bersama Hadis-hadis yang lain memberi makna bahwa kondisi
khalwat dapat dihilangkan dengan kehadiran salah satu lawan jenis
lain. Dengan demikian, hilanglah kondisi khalwat yang dapat
menimbulkan fitnah. Tentu saja bila komunikasi atau berkumpulnya
antara pria dan wanita tersebut dalam perkara-perkara yang mubah
dan dengan tetap menjaga batasan-batasan syariat yang ada.
Jika dikaitkan dengan maqashid al-syari'ah (tujuan pensyariatan)
yang salah satunya adalah hifzh al-nasab (menjaga nasab/keturunan),
tampak jelas relevansi dan hikmah tuntunan syariat untuk
menghindari khalwat. Keinginan Islam untuk menciptakan jalinan
masyarakat yang harmonis, bersih dari penyimpangan, dan berjalan
di atas fitrah yang murni adalah sebagian hikmah di balik larangan
khalwat ini. Anas bin Malik menuturkan, "Datang seorang wanita dari
kaum Anshar kepada Rasulullah Saw. lalu beliau pun berkhalwat
dengannya. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, "Demi Allah kalian
(kaum Anshar) adalah orang-orang yang paling aku cintai." (Hr. Al-
Bukhari)
Imam Al-Bukhari memberi judul Hadis ini dengan
perkataannya, o* ^ ^ d (Bab tentang dibo-
lehkannya seorang pria berkhalwat dengan seorang wanita jika di
hadapan khalayak). Diriwayatkan oleh Imam Muslim, "Dari Anas
bin Malik bahwasanya seorang wanita yang pikirannya agak

377
terganggu berkata kepada Rasulullah Saw., 'Wahai Rasulullah, saya
ada perlu denganmu/ kemudian Rasulullah Saw. bersabda; 'Wahai Ummu
Fulan, lihatlah kepada jalan mana saja yang engkau mau hingga aku penuhi
keperluanmu.' Maka Nabi Saw, pun berkhalwat dengan wanita tersebut di
sebuah jalan hingga wanita tersebut selesai dari keperluannya."
Dengan demikian, menurut Ibnu Hajar, Hadis ini menunjukkan
kebolehan berkhalwat manakala di hadapan khalayak ramai meski
perbincangan keduanya tidak dapat disimak oleh orang lain. Hal ini
niscaya terjadi dalam hal, misalnya, seorang wanita merasa risih atau
malu mengungkapkan suatu masalah di depan banyak orang.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka lbnu Hajar menyimpulkan
bahwa adakalanya khalwat diharamkan dan adakalanya pula
khalwat dibolehkan. Pertama, khalwat yang dibolehkan adalah
sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. bersama wanita
tersebut, yaitu menyendiri (bedua) dengan suara yang tidak dapat
didengar oleh orang lain namun tidak tertutup dari pandangan
mereka.
Imam Nawawi pernah melontarkan kemungkinan wanita
tersebut adalah mahram Rasulullah Saw., seperti Ummu Sulaim dan
saudara wanitanya. Namun para ulama menepis anggapan tersebut
karena sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim bahwa wanita
tersebut pikirannya agak terganggu, hal mana ini bukanlah
merupakan sifat Ummu Sulaim.
Kedua, khalwat yang diharamkan adalah khalwat (bersendirian-
nya) antara seorang pria dan seorang wanita sehingga tertutup dari
pandangan manusia. Para ahli fikih berpendapat, jika ia melihat
seorang pria yang berdiri bersama seorang wanita di jalan yang
dilewati (orang-orang) dan tidak nampak dari keduanya tanda-tanda
yang mencurigakan maka janganlah ia menghardik mereka berdua
dan janganlah ia mengingkari. Namun jika mereka berdua berdiri di
jalan yang sepi maka sepinya tempat mencurigakan maka ia boleh
mengingkari pria tersebut dan hendaknya ia jangan segera memberi
hukuman terhadap keduanya khawatir ternyata sang pria tersebut
adalah mahram wanita tersebut.
Hendaknya ia menegur pria tersebut jika ternyata ia adalah
mahram sang wanita karena menjaga wanita ini dan tempat-tempat

378
yang mencurigakan. Dan jika ternyata wanita tersebut adalah wanita
ajnabiyah (asing), maka hendaknya ia berkata kepada sang pria, “Aku
ingatkan kepadamu dan bahaya berkhalwat dengan wanita ajnabiah yang
bisa menjerumuskan." Demikian fikih menawarkan perlakuan
terhadap perbuatan atau keadaan yang patut "diduga" berkhalwat.
Selanjutnya para ulama berpandangan bahwa berkhalwat yang
diharamkan adalah jika disertai dengan menutup (mengunci) rumah
atau kamar atau mobil atau yang semisalnya atau tertutup dari
pandangan manusia (khalayak). Inilah khalwat yang terlarang, dan
demikianlah para ahli fikh mendefinisikannya. Namun perlu
dikemukakan di sini, bahwa ruangan tersebut bukanlah merupakan
kelaziman bahwa ruangan yang tertutup melazimkan juga
tertutupnya dari pandangan khalayak. Oleh karena itu, dalam hal
seorang pria dan seorang wanita berdiri di tepi jalan yang ramai
tentu tidak dihukumkan haram karena tidak dikategorikan sebagai
khalwat yang diharamkan.
Namun para ulama fikih mengingatkan, meskipun Islam
memberikan toleransi atas tindakan semacam itu, sejatinya hal
semacam itu lebih baik dihindari karena dikhawatirkan akan
menimbulkan fitnah. Hal ini lebih pada upaya bagaimana
pencegahan atau menghindari dampak negatif (li sadd al-dari'ah)
ketimbang melakukan sesuatu yang dibolehkan dengan risiko.
Lebih lanjut Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Hadis tentang
khalwat Rasulullah Saw. tersebut menunjukan kebolehan
berbincang-bincang dengan seorang wanita ajnabiah (bukan mahram)
dengan pembicaraan rahasia (diam-diam), dan hal ini dimungkinkan
jika diyakini terhindar dari fitnah. Namun Aisyah Ra. mewanti-wanti
tentang efek lain yang juga patut diwaspadai, "Dan siapakah dari
kalian yang mampu menahan gejolak nafsunya sebagaimana Rasulullah
Saw. bisa menahan syahwatnya?" Demikian peringatan Aisyah Ra.
Walhasil, beberapa perspektif di atas sejatinya membuka mata
kita bahwa regulasi tentang larangan berkhalwat sejatinya tidak
menggunakan "kacamata kuda", namun perlu diletakkan dalam
konteks yang lebih luas, luwes, dan menimbang pelbagai aspek,
seperti kelaziman, tradisi, dan tuntutan profesionalisme. Oleh karena

379
itu, dalam konteks implementasi Qanun Khalwat, penggunaan asas
praduga tak bersalah menjadi hal yang tidak dapat ditawar-tawar.
Diperlukan kehati-hatian dan kejelian dalam melakukan
identifikasi jarimah khalwat agar tidak terjerembab pada praktik asal
tangkap yang berakibat munculnya gejolak dan kekecewaan pada
tataran grassroot. Oleh karena itu, aparat penegak Qanun Khalwat
diharapkan lebih cerdas memilah dan memilih jenis perbuatan atau
keadaan yang "patut diduga" sebagai jarimah khalwat.

Catatan Akhir
Tradisi dan nilai-nilai adat-istiadat yang hidup di tengah-tengah
masyarakat Aceh sebagai kearifan lokal (local wisdom) harus
senantiasa dilestarikan mengingat keterkaitan antara adat-istiadat itu
sendiri dengan Syariat Islam sangat erat. Eratnya hubungan ini
terefleksi dalam petuah lama yang dikenal luas di kalangan
masyarakat, "Hukom ngon adat lage zat ngon sifet" (Hukum dan adat
ibarat benda dengan sifatnya).
Namun demikian, hukum Islam yang dilaksanakan di Aceh
sejatinya tidak hanya merujuk kepada model dan hasil pemikiran
ulama masa lalu, akan tetapi juga berusaha merumuskan kembali
pemahaman baru agar umat Islam merasa lebih menghayati
tuntunan Alquran dan Sunnah Rasulullah Saw. Jadi, implementasi
Syariat Islam yang diharapkan adalah yang sejalan dengan kaidah
fikih, "Al-muhafazhah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu hi al-jadid al-
ashlah" (Berupaya menjaga warisan masa lalu yang bermanfaat dan
berupaya menciptakan yang baru yang lebih selaras dan
bermanfaat).
Implentasi Syariat dalam konteks hubungan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara sejatinya dilaksanakan secara cermat
dengan menimbang pelbagai hal sehingga kewibawaan Syariat Islam
tetap terpelihara. Pemberlakuan suatu hukum Syariah—termasuk di
dalamnya Qanun Khalwat (Mesum)—yang dilakukan secara gegabah
dan tanpa menimbang pelbagai aspek dikhawatirkan akan
melahirkan kontraproduktif dan akan mereduksi keagungan Syariat
Islam itu sendiri.

380
Untuk menggapai idealisme masyarakat Aceh yang islami tentu
tidak semudah membalikkan telapak tangan dan dalam tempo yang
instan. Diperlukan perencanaan, konsep, optimisme, kesabaran, serta
kesadaran mengenai khazanah lokal sehingga Syariat Islam benar-
benar membumi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
kehidupan masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam. Semoga.
Wallahu a'lam bi al-shawab.

381
D A FT A R R U JU K A N

Al-Qur'an al-Karim
Al-Sarkhasi, Al-Mabsuth, Darul Ma'rifah
Al-Suyuthi, Al-Asybah wa al Nahza'ir, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah
Al-Syawkani, Nail al-Awthar, Dar al-Jail
Asqalani, al, lbnu Hajar, Fath al-Bari, Dams Salam
Bassam, al, Abdullah ibn Abd al-Rahman, Taudhih al-Ahkam min
Bulugh al-Maram.
Dahlan, Abd Aziz (Ed.), Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: lchtiar Baru
van Hoeve, 1999
Fa'iz, Ahmad, Dustur al-Usrahfi Zhilal al-Qur'an, Beirut: Mu'assasah
al-Risalah, 1992
Firanda Andirja, Mewaspadai Bahaya Khalwat, Artikel
www.muslim.or.id
Hanbali, al, Badaruddin bin 'Ali, Mukhtashar al-Fatawa al-
Misriyyah li Ibni Taymiyyah, Dar lbn al-Qayyim
Hornby, AS, Oxford Advanced Learner's Dictiona,y of Current English,
Newyork: Oxford University Press, 1995
Ibnu Atsir, Al-Nihayah fi Gharib al-Hadits, Dar al-Ma'rifah
lbnu Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, Dar al-Rosyid
Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Matabah Al-Ma'arif
lbnu Manzhur, Lisan al-'Arab li Ibn Manzhur, Al-Qahirah: Dar al-
Hadits, 2003
Imam al-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Dar Ihya al-Turats
Jaya, Ilham, Khalwat Sebagai Problem Sosial Syariat, Majalah Dakwah
Kampus Al-Firdaus
Ma'luf, Luis, Al-Munjidfi al-Lughah, tt: Dar al-Masyriq, 1973
Munawi, al, Abd al-Ra'uf, Faid al-Qadir, Al-Maktabah Al-Tijariyah
Qanun Nanggroe Aceh Darussalam No. 14 Tahun 2003 Tentang
Khalwat (Mesum)
Sabiq, Sayyid, Fiqh al-Sunnah, Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi

382
Shan'ani, al, Muhammad Ibn lsma'il al-Kahlani, Subul al-Salam,: tt,
Dahlan, tth
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, 2003
Undang-undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 1999 Tentang
Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh
Wehr, Hans, A Dictionary of Modern Written Arabis, edited by J. Milton
Cowan, London: Macdonald & Evans LTD, 1974
Zuhayli, al, Wahbah, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Damaskus: Dar al-
Fikr, 1989
Beberapa tulisan lepas dalam http://www.acehinstitute.org

383
PEM BARUAN H UK UM
P A D A P E R A D IL A N A G A M A D I IN D O N E S IA
O leh:

H. Andi Syamsu Alam*

P a d a a w a l p e n u lis b e k e r ja s e b a g a i H a k im p a d a p e r a d ila n a g a m a ter a s a a d a n y a

s ik a p p e r a d ila n agam a terh ad a p k asu s-k asu s terten tu d a la m p en erap an n y a


d ir a s a k a n k u r a n g m e m e n u h i r a s a k e a d ila n . M is a ln y a s a ja p a d a s a a t s e o r a n g s u a m i
m e n in g g a l d u n ia , m e n in g g a lk a n a h li w a r is s e o r a n g is tr i d a n s e o r a n g a n a k tu n g g a l

la k i-la k i, jik a s e k ir a n y a m e n in g g a lk a n h a r t a s e n ila i R p 8 0 0 .0 0 0 .0 0 0 ,0 0 (d e la p a n


r a t u s j u t a r u p i a h ) , m a k a p e m b a g i a n w a r i s a n i t u R p 1 0 0 . 0 0 0 .0 0 0 , 0 0 ( s e r a t u s j u t a
r u p ia h ) u n tu k is tr i (ja n d a ), sed an g kan anak la k i-la k i m en d ap at b a g ia n Rp

7 0 0 . 0 0 0 .0 0 0 , 0 0 ( t u j u h r a t u s j u t a r u p i a h ) ( m e n d a p a t b a g i a n s i s a a t a u a s h a b a h ) ;

A pakah m em an g su d ah ben ar, jik a ib u yang tu ru t bersu sah payah


m e n g u m p u lk a n h a r t a b e r s a m a s u a m in y a m e n d a p a t b a g ia n y a n g le b ih k e c il d a r i

a n a k la k i-la k in y a . D a lil y a n g d ip a k a i, m e n u r u t A l Q u r'a n i s t r i h a n y a m e n d a p a t 1 /8

b a g ia n .

P e n e r a p a n in i b e ru b a h p a d a s a a t la h ir n y a U n d a n g -U n d a n g N o m o r 1 T a h u n

1974 ten ta n g P e r k a w in a n d an In p res N om or 1 T ahu n 1991 ten ta n g K o m p ila s i


H ukum Is la m . Istri m en d ap at b a g ia n 50 % d ari k e s e lu r u h a n h a rta (h a rta

p e n i n g g a l a n ) d a n it u t i d a k d i s e b u t b a g i a n w a r i s a n t e t a p i h a r t a b e r s a m a . S e l e b i h n y a
5 0 % itu s a ja y a n g d ik a t e g o r ik a n tir k a h (h a r ta p e n in g g a la n ) d a n d ib a g i 1 /8 u n tu k

is tr i d a n 7 /8 u n t u k a n a k la k i- la k i (b a g ia n a s h a b a h ).

PENDAHULUAN
Hingga saat ini di lingkungan peradilan agama telah
berlangsung pembaruan hukum secara terus-menerus dan tidak
diketahui secara luas. Sebagian diantaranya akan diungkap melalui
penulisan ini dan usaha pembaruan hukum inilah yang
menyebabkan para Hakim peradilan agama terus didorong untuk
mengikuti jenjang pendidikan lebih tinggi S2 dan S3. Oleh karena
peradilan agama mendapat kewenangan baru tentang ekonomi

*
Hakim Agung Republik Indonesia.

385
Syari'ah, maka sebagian diarahkan pada pendidikan tentang hukum
ekonomi, baik yang umum, seperti UI, Unhas, UMI, Unisula, UMJ
dan lain-lain maupun yang Syari'ah melalui UII di Yogyakarta, UIN
dan lain-lain.
Saat ini sudah selesai disusun sebuah buku KHES (Kompilasi
Hukum Ekonomi Syari'ah) oleh sebuah tim yang diketuai oleh Prof.
Dr. H. Abdul Manan, S.H., S.IP., M.Hum., bersama tim konsultan
kalangan para pakar hukum Islam dari Bandung yang diketuai oleh
Prof. Dr. M. Djazuli, S.H. Buku ini diserahkan kepada pimpinan
Mahkamah Agung untuk dijadikan pedoman bagi para Hakim
peradilan agama berdasarkan PERMA. Kini PERMA tersebut telah
terbit dengan Nomor : 12 Tahun 2008.
Berikut ini akan diungkap beberapa pembaruan hukum
terutama menyangkut hukum keluarga.

Beberapa pembaruan hukum


Bagi mereka yang mengikuti perkembangan peradilan agama
dari masa ke masa, akan merasakan betapa banyaknya pembaruan
hukum di lingkungan peradilan agama.
Perubahan-perubahan itu dilakukan karena lahirnya peraturan
perundang-undangan yang baru, maupun melalui yurisprudensi-
yurisprudensi baru yang sudah dipedomani oleh para Hakim
peradilan agama di seluruh Indonesia.
Hal-hal yang bersifat pembaruan itu, antara lain:

1. Tidak ada perkawinan beda agama.


Pada masa-masa yang lalu perkawinan seorang pria muslim
dengan perempuan non muslimah dipandang sah, akan tetapi
setelah lahirnya Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi
Hukum Islam hal itu menjadi terlarang.
Pelarangan itu didasarkan pada Pasal 40 Kompilasi Hukum
Islam yang berbunyi sebagai berikut:
"Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria
dengan seorang wanita karena keadaan tertentu:

386
a. karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu
perkawinan dengan pria lain.
b. seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah
dengan pria lain.
c. seorang wanita yang tidak beragama Islam.

Demikian pula Pasal 44 yang berbunyi sebagai berikut:


"Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan
perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama
Islam".

Pelarangan ini menurut penulis memang lebih maslahat,


sebab ketika penulis bertugas sebagai Hakim/Wakil Ketua pada
Pengadilan Agama Kelas I A Makassar ditemukan banyak sekali
perceraian disebabkan oleh karena beda agama dan ketika
bercerai mereka bersepakat untuk membagi anaknya. Anak laki-
laki mengikuti agama bapaknya, sedangkan anak perempuan
mengikuti agama ibunya.
Diantaranya adaseorang mahasiswa IAIN yang
melangsungkan perkawinan dengan perempuan non muslimah
di Manado, ternyata perkawinan itu hanya berlangsung sebentar
saja dan bercerai sebelum melahirkan keturunan.
Adapun alasan sehingga mereka mau bercerai, karena
masing-masing merasa tidak ada kesesuaian dengan
pasangannya termasuk keluarga mertua masing-masing.
Penulis pernah berkonsultasi dengan seorang pakar hukum
Islam yang kebetulan adalah seorang Hakim Agung, yakni Prof.
Dr. H. Ahmad Sukarja, S.H., beliau berpendapat bahwa
pelarangan itu didasarkan pada alasan siyasatus Syar'iah.
Siyasatus Syar'iah ini menurut Ensiklopedi Hukum Islam
adalah sebagai berikut:
"Siyasah Syar'iyyah (Ar : Siyasah = mengatur; Syar'iyyah =
secara syarak (ketentuan dari Allah SWT dan Rasulnya).
Pembahasan Siyasah Syar'iyyah menyangkut permasalahan
kekuasaan, fungsi dan tugas penguasa dalam pemerintahan
Islam , serta h u b u n g a n n y a d e n g a n k e p e n tin g a n rak y a t".

387
2. Pewaris Islam dan ahli waris berbeda agama mendapat bagian
wasiat wajibah.
Pada masa silam, ahli waris yang berbeda agama dengan
pewaris sudah jelas tidak memperoleh warisan dari pewaris
yang beragama Islam. Hal ini didasarkan pada hadis yang
menegaskan bahwa "tidak saling mewarisi orang Islam dengan
orang kafir, dan tidak saling mewarisi orang kafir dengan orang
Islam". Bahkan Pasal 171 huruf c Kompilasi Hukum Islam
menegaskan pula:
"Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia
mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan
dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena
hukum untuk menjadi ahli waris".
Pada tahun 1997 Mahkamah Agung dalam putusannya memberi
bagian kepada anak atau ahli waris yang beragama lain, tetapi
tidak disebutkan sebagai bagian waris, hanya dinyatakan
sebagai bagian wasiat wajibah. Anak tersebut mendapat bagian
wasiat wajibah sama dengan saudara-saudaranya yang lain
(yang beragama Islam).

3. Cucu menjadi ahli waris pengganti.


Sebelum lahirnya Kompilasi Hukum Islam, cucu yang lebih
dahulu meninggal orang tuanya (ayah atau ibunya) dari pewaris
dinyatakan mahjub dan tidak mendapat bagian dari harta
pewaris (kakek atau neneknya).
Semenjak diterapkannya Kompilasi Hukum Islam, cucu
dinyatakan sebagai ahli waris pengganti, mendapat bagian waris
sesuai porsi orang tualang digantikannya.
Ketentuannya dinyatakan dengan tegas pada Pasal 185
Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi sebagai berikut:
"Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada si
pewaris, maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya,
kecuali mereka yang tersebut dalam pasal 173".

388
Hanya saja banyak pertanyaan, apakah ketentuan ini dapat
diperlakukan untuk kasus-kasus yang terjadi sebelum lahirnya
Kompilasi Hukum Islam ? Para Hakim berpendapat bahwa
ketentuan itu tidak dapat diperlakukan secara retro aktif karena
akan mengancam kepastian hukum, sehingga ketentuan itu
hanya diterapkan pada kasus-kasus yang terjadi setelah
berlakunya Kompilasi Hukum islam.
Ahli waris pengganti disebut mawali. Gagasan penggantian
tempat ini dipelopori oleh Prof. Hazairin.

4. Bahagian waris anak laki-laki dan anak perempuan secara


kasuistis 1 :1 .
Beberapa putusan Hakim pada Pengadilan Agama
Makassar menerapkan secara kasuistis bagian waris anak laki-
laki sama dengan bagian waris anak perempuan.
Hal ini dilakukan oleh Hakim jika terjadi penyimpangan
terhadap tradisi Islam, misalnya saja pada kasus seorang ayah
yang sudah uzur menyerahkan pengelolaan harta bendanya
kepada anak laki-lakinya yang tertua. Ternyata harta itu
dinikmati sendiri tanpa mengingat saudara-saudaranya yang
lain. Hasilnya digunakan untuk berjudi, berpoligami dan
sebagian malah dipindah tangankan kepada orang lain. Ketika
orang tua meninggal, Hakim mungkin akan membagi seimbang
harta warisan tersebut.
Penerapan Hakim seperti ini tidak dapat diartikan bahwa
pembagian warisan anak laki-laki dan anak perempuan 2 : 1
adalah pembagian yang tidak adil.
Justru pembagian 2 : 1 itulah yang paling adil jika tradisi ke
Islaman tetap dijalankan, sebab laki-laki memikul beban yang
banyak, seperti:
Wajib nafkah kepada istri, termasuk maskan dan kiswah.
Wajib nafkah terhadap anak.
Harus memberi mahar atau mas kawin kepada calon
istrinya. Dan kalau di Sulawesi Selatan mahar itu tinggi
seperti di negara Arab.

389
Harus bertanggung jawab melindungi dan membiayai
kebutuhan saudara perempuannya jika orang tua telah
meninggal, dan lain-lain.

5. Poligami diperketat syarat-syaratnya.


Pada masa-masa silam, orang berpoligami semaunya saja,
akan tetapi setelah lahir Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan dan Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang
Kompilasi Hukum Islam, syarat-syaratnya diperketat, antara
lain harus ada izin dari Pengadilan Agama.
Oleh banyak pihak, dipandang bahwa aturan inilah yang
menyebabkan orang kawin sini, kawin di bawah tangan atau
perkawinan yang tidak tercataU
Boleh jadi pendapat ini benar, akan tetapi keberanian untuk
melakukan hal seperti ini akan berakhir setelah RUU Hukum
Terapan Peradilan Agama disahkan oleh Pemerintah dan DPR.
Pada pasal-pasal terakhir dari konsep RUU tersebut memuat
ketentuan atau sanksi pidana yang berat bagi pelakunya, baik
yang melakukan kawin sirri maupun yang membantu dan
bertindak sebagai PPN swasta.

6. Bila harta diboroskan, dapat dimohonkan sita kepada


pengadilan
Semenjak lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2006 tentang Peradilan Agama, Undang-Undang Nomor
1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Inpres Nomor 1 Tahun
1991 tentang Kompilasi Hukum Islam, manakala suami atau istri
memboroskan harta bersama karena berjudi dan sebab-sebab
lainnya, dapat dimohon untuk disita oleh Pengadilan Agama,
sehinga tidak dapat dipindah tangankan.
Selain itu, aturan itu tidak ada sehingga salah satu pihak
dapat dirugikan. Penyitaan itu dapat dilakukan walaupun tidak
ada perceraian.

390
Aturan ini sangat melindungi, terutama kaum perempuan
atau istri.

7. Pengadilan dapat memerintahkan istri berpisah tempat


walaupun belum cerai
Manakala pengadilan berpendapat bahwa salah satu pihak
dapat menjadi korban, maka pengadilan memerintahkan untuk
berpisah tempat melalui putusan provisi.
Hal itu dapat dilakukan oleh pengadilan, baik kasus itu
berujung pada perceraian atau tidak.
Tuntutan seperti ini jarang terjadi, entah karena tidak
diketahui, ataukah mungkin karena kebanyakan pasangan yang
mau bercerai sudah berpisah tempat terlebih dahulu.
Ketentuan itu terdapat pada Pasal 136 ayat (1) Kompilasi
Hukum Islam, yang berbunyi sebagai berikut:
"Selama berlangsungnya gugatan perceraian atas permohonan
penggugat atau tergugat berdasarkan pertimbangan bahaya
yang mungkin ditimbulkan, Pengadilan Agama dapat
mengizinkan suami istri tersebut untuk tidak tinggal dalam satu
rumah."

8. Seorang anak perempuan didudukan sebagai ashabah


Selama ini hanya anak laki-laki yang menjadi ashabah,
kalau hanya seorang anak perempuan, tidak dapat menjadi
ashabah dalam kewarisan, kecuali bersama-sama dengan anak
laki-laki.
Kini, Pengadilan Agama seluruh Indonesia sudah
mengikuti putusan Mahkamah Agung, yang menempatkan anak
perempuan sebagai ashabah, sama dengan anak laki-laki.
Mahkamah Agung beralasan bahwa kata-kata "walad"
menurut Tafsir Ibnu Abbas, bermakna anak laki-laki dan anak
perempuan.

391
9. Pembagian harta bersama tidak selalu Vt : %
Selama ini putusan Pengadilan Agama, asalkan itu harta
bersama selalu Vz : V2 atau 50 % untuk suami dan 50 % untuk
istri.
Sudah ada pengadilan yang berani memutus tidak seperti
itu, tetapi suami hanya mendapat 1/3 bagian dan istri mendapat
2/3 bagian.
Alasan yang digunakan, adalah suami sudah bertahun-
tahun meninggalkan istrinya kawin dengan perempuan lain,
sehingga istrilah yang mengumpulkan harta sedemikian
banyaknya, misalnya putusan Pengadilan Agama Maros pada
tahun 2003.

10. Wakaf Tunai


Dahulu, harta yang dapat diwakafkan hanyalah tanah, akan
tetapi semenjak lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun
2004, uang dan surat-surat saham dapat diwakafkan.
Kedepan dapat diharapkan bahwa pembangunan di
Indonesia akan didukung oleh lembaga wakaf dan sekarang
sudah terbentuk BWI (Badan Wakaf Indonesia).
Wakaf itu sendiri bertujuan untuk kemaslahatan umat dan
jika tersosialisasi dengan baik, akan memberi kontribusi yang
teramat besar bagi pembagunan di bidang kesejahteraan rakyat
Indonesia.

11. Harta pewaris yang tidak meninggalkan ahli waris diserahkan


kepada lembaga pendidikan/kegiatan sosial
Sekitar tahun 80 an Pengadilan Agama Makassar
memutuskan untuk menyerahkan sejumlah tirkah atau harta
warisan kepada lembaga pendidikan Islam DDI (Darul Da'wah
Wal Irsyad) dengan alasan tidak ada ahli waris yang akan
menerima warisan tersebut.
Selain itu pengadilan juga mempertimbangkan bahwa hal
itu dilakukan sebab di Indonesia belum ada Baitul Maal.

392
PENUTUP
Demikian sebagian pembaruan yang telah dilakukan oleh
Pengadilan Agama dalam arti Hakim telah melaksanakan amanat
Pasal 28 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan
Kehakiman dan Pasal 229 Inpres Nomor 1 Tahun 1999 tentang
Kompilasi Hukum Islam, untuk menggali hukum dan nilai-nilai yang
hidup dalam masyarakat.
Tugas mulia seperti inilah yang menjadi penyebab sehingga
para Hakim didorong untuk mencapai jenjang pendidikan yang lebih
tinggi dan alhamdulillah mendapat sambutan dari kalangan
Perguruan Tinggi, terbukti pada bulan September awal tahun 2008
telah ditandatangani lagi MOU antara Universitas Negeri Sebelas
Maret dengan Dirjen Badilag di Solo.
Para hakim semoga tetap bersemangat untuk belajar, walaupun
harus dengan susah payah, bukankah belajar itu mulai dari ayunan
sampai ke liang lahat.
Semoga Allah SWT memberkati segalanya.

393
Daftar Pustaka

Dr. H. Nasrun Haroen, MA, dk., Ensiklopedi Hukum Islam, PT. Ichtiar
Baru Van Hoeve, Jakarta, 1996.
Drs. H. Andi Syamsu Alam, S.H., M.H., Reformasi Peradilan Agama di
Indonesia, Yapensi, Jakarta, 2004.
J. Satrio, S.H., Hukum Harta Perkawinan, Citra Aditya Bakti, Bandung,
1991.
Majalah Hukum, Suara Uldilag, Pokja Perdata Agama MA-RI, Jakarta,
2008.
Rachmad Boediono, S.H., M.H., Pembaruan Hukum Kewarisan Islam di
Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999.
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006
tentang Peradilan Agama.
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan.

394
A C A R A P E M E R IK S A A N P E R K A R A
PE R S A IN G A N U S A H A
Oleh :
Dr Susanti Adi Nugroho SH,MH.*

A. TUJUAN DIUNDANGKANNYA UU NO. 5 TAHUN 1999


Dengan diundangkannya Undang-undang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Undang-undang No. 5
Tahun 1999, ini merupakan langkah awal bagi Indonesia dalam
rangka membawa bisnis dan perdagangan ke arah yang lebih adil
(fair) dan yang berlandaskan kepada prinsip-prinsip persaingan
pasar secara sehat. Undang-undang tersebut diharapkan mampu
mengatur persaingan berusaha di Indonesia sehingga setiap warga
masyarakat dan pelaku usaha memperoleh hak dan kesempatan
yang sama dalam berusaha. Tidak ada lagi warga masyarakat atau
pelaku usaha yang memperoleh perlakuan dan hak-hak istimewa.1
Tidak ada pelaku usaha yang mendapat fasilitas khusus dari
pemerintah sehingga tidak memberi kesempatan atau menutup
peluang bagi pelaku usaha lain untuk masuk dalam bidang usaha
sejenis. Dengan Undang-undang ini juga diharapkan para pelaku
usaha yang bermodal kuat tidak akan bertindak sewenang-wenang
dan melakukan praktek-praktek bisnis yang tidak adil yang
mematikan atau merugikan pelaku usaha lainnya.2 Pelaku usaha
tidak lagi menyalah gunakan kemudahan-kemudahan ekonomi
untuk memperoleh kekuatan pasar dengan menciptakan hambatan-

*
Mantan Hakim Agung Republik Indonesia.
Pada masa orde baru Pemerintah Soeharto banyak memberikan hak monopoli
dan hak-hak istimewa lainnya seperti Monopoli perdagangan tepung terigu oleh PT
Bogasari Flour Mills, Tata Niaga Cengkeh oleh BPPC; Penetapan harga semen
melalui Asosiasi Semen Indonesia (kartel Produksi Semen); Kartel Industri kayu apis
oleh APKINDO dan lain-lain
2
Susanti Adi Nugroho - Pengaturan Hukum Persaingan Usaha di Indonesia
"Praktek-praktek Monopoli yang menghambat Persaingan him 8-11

395
hambatan dalam perdagangan, menaikkan harga dan membatasi
produksi barang dan jasa.3
Suasana yang kompetitif adalah syarat mutlak bagi negara-
negara berkembang seperti Indonesia untuk mencapai pertumbuhan
ekonomi yang efisien, termasuk proses industrialisasinya. Dalam
pasar yang kompetitif perusahaan-perusahaan akan saling bersaing
untuk menarik lebih banyak konsumen dengan menjual produk
mereka dengan harga yang serendah mungkin, meningkatkan mutu
produk dan memperbaiki pelayanan mereka kepada konsumen.
Untuk berhasil dalam suatu pasar yang kompetitif, maka
perusahaan-perusahaan harus berusaha untuk mengembangkan
proses produksi baru yang lebih efisien, serta mengembangkan
produk baru dengan desain baru yang inovatif. Untuk hal ini maka
perusahaan-perusahaan perlu mengembangkan dan meningkatkan
kemampuan teknologi mereka, baik teknologi proses produksi
(process technology), maupun tehnologi produk (product technology).
Dengan demikian ini akan mendorong kemajuan teknologi dan
diharapkan juga pertumbuhan ekonomi yang pesat.4
Maksud tulisan ini bukanlah untuk membahas mengenai
penanganan sengketa persaingan usaha, maupun substansi mengenai
praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Penulisan ini
akan membahas sebagian dari aspek hukum yang diatur dalam
Undang-undang ini, yaitu yang berkaitan dengan Tata Cara
Penanganan Perkara Persaingan Usaha yang diatur dalam Bab VII.
mengenai prosedur pemeriksaan oleh KPPU serta upaya hukum
keberatan terhadap putusan KPPU di Pengadilan Umum seperti
yang diatur dalam Pasal 44 UU No. 5 Tahun 19995. Hal ini sangatlah

Chatamarrasjid, Undang-Undang Larangan Praktek Monopoli Magna Charta


bagi kebebasan berusaha,"halaman 72
4 Thee Klan Wie /'Aspek-aspek Ekonomi yang perlu diperhatikan dalam
implementasi Undang-undang No. 5 Tahun 1999', Jurnal Hukum Bisnis Volume 7
Tahun 1999, halaman 60.
5 Pasal 44 UU No 5 Tahun 1999:
(1) Dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak pelaku usaha menerima pemberitahuan
putusan Komisi sebagaimana di maksud dalam pasal 43 ayat (4), pelaku usaha
wajib melaksanakan putusan tersebut dan menyampaikan laporan pelaksanaan­
nya kepada Komisi.

396
penting sebagai pondasi untuk melanjutkan analisis terhadap
ketepatan pemeriksaan perkara persaingan usaha.

B. LEMBAGA KPPU DAN TUGAS SERTA KEWENANGAN


MENANGANI PERKARA

1. LEMBAGA KPPU
Untuk menyelesaikan kasus-kasus dugaan terjadinya
monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, berdasarkan UU
No. 5 tahun 1999 tersebut didirikanlah Komisi Pengawas
Persaingan Usaha (KPPU) sebagai lembaga independen yang
bertugas untuk melakukan penyelidikan, pemeriksaan dan
memberikan penilaian sekaligus sebagai lembaga untuk
melakukan tindakan hukum bagi pelaku usaha yang melakukan
persaingan usaha yang tidak sehat dan atau monopoli.
UU No. 5 Tahun 1999 telah mengatur mengenai tata cara
penanganan perkara dalam Bab VII pada Pasal 38 sampai
dengan Pasal 46 sebagai prosedur penegakan hukum persaingan
usaha dan Bab VIII mengatur mengenai kewenangan KPPU
memberikan sanksi kepada Pelaku Usaha berupa tindakan
administratif.
Sebagai badan yang bertugas mengawasi pelaksanaan UU
Anti monopoli, dan Persaingan Usaha tidak Sehat, maka KPPU
memiliki wewenang untuk melakukan pemeriksaan terhadap
pelaku usaha, saksi maupun pihak lain, baik karena adanya
laporan (Pasal 39 UU No. 5 tahun 1999) ataupun melakukan2345

(2) Pelaku usaha dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri selambat-
lambatnya 14 (empat belas) hari setelah menerima pemberitahuan putusan
tersebut.
(3) Pelaku usaha yang tidak mengajukan keberatan dalam jangka waktu
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dianggap menerima putusan Komisi.
(4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) tidak
dijalankan oleh pelaku usaha, Komisi menyerahkan Putusan tersebut kepada
penyidik untuk melakukan penyidikan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
(5) Putusan Komisi sebagaimana di maksud dalam Pasal 43 ayat (4) merupakan
bukti permulaan yang cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan.

397
pemeriksaan berdasarkan inisiatif (Pasal 40 UU No.5 Tahun
1999).
Pemeriksaan atas dasar inisiatif dilakukan atas dasar
inisiatif dari KPPU sendiri, sedangkan pemeriksaan atas dasar
laporan adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh KPPU karena
adanya laporan yang disampaikan baik oleh masyarakat yang
dirugikan atau atas dasar laporan dan pelaku usaha yang
dirugikan oleh tindakan pelaku usaha yang dilaporkan.6 Baik
dalam pemeriksaan atas dasar inisiatif maupun pemeriksaan
atas dasar laporan, KPPU pertama-tama akan membentuk suatu
Majelis Komisi untuk melakukan pemeriksaan, yang mana
kemudian Majelis Komisi yang akan mengeluarkan surat
penetapan KPPU untuk memulainya suatu pemeriksaan
pendahuluan. Hukum acara yang dipergunakan untuk kasus
persaingan usaha di KPPU ditentukan langsung oleh KPPU
berdasarkan wewenang yang diberikan oleh UU No.5 tahun
1999 pasal 35 ayat (0, yaitu Peraturan KPPU atau Peraturan
Komisi No. 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara
di KPPU.
Sebagai jaminan atas diri pelapor, KPPU wajib
merahasiakan identitas pelapor, terutama pelapor yang bukan
pelaku usaha yang dirugikan. Demikian juga sebaliknya sebagai
jaminan bagi pelaku usaha yang diperiksa, KPPU juga
diwajibkan untuk menjaga kerahasian atas segala informasi
yang diperoleh KPPU dan pelaku usaha yang dikategorikan
sebagai rahasia perusahaan.
Tahapan-tahapan pemeriksaan di KPPU dapat dibagi
menjadi dua tahap pemeriksaan, yaitu pemeriksaan
pendahuluan dan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan
pendahuluan adalah suatu tindakan KPPU untuk meneliti dan
atau memeriksa laporan guna menilai perlu atau tidaknya
dilakukan pemeriksaan lanjutan7. Pasal 39 ayat (1) UU No. 5

Bentuk dari laporan ini dapat dilihat pada putusan KPPU yang berkode
penomoran huruf L atau I.
7 Peraturan KPPU No. 1 tahun 2006, Pasal 1 butir 14.

398
tahun 1999 menetapkan jangka waktu pemeriksaan
pendahuluan dilakukan maksimal 30 hari sejak tanggal surat
penetapan dimulainya suatu pemeriksaan pendahuluan.
Pada umumnya mekanisme pemeriksaan pendahuluan
maupun pemeriksaan lanjutan di KPPU dapat dibagi menjadi
beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut:
1. Prosedur administratif yang meliputi pemeriksaan identitas
dan pembacaan hak dan pelaku usaha, saksi atau pihak
lain;
2. Pemeriksaan terhadap Pokok Permasalahan yang meliputi
Pemeriksaan oleh KPPU dan Pemberian kesempatan
kepada pelaku usaha untuk menyampaikan keterangan
atau dokumen tambahan kepada majelis KPPU sebelum
sidang pemeriksaan ditutup.

Dalam Proses pemeriksaan, KPPU memerlukan bukti-bukti


bahwa pelaku usaha yang bersangkutan melanggar UU No. 5
tahun 1999 dan peraturan pelaksanaannya. Adapun alat-alat
bukti yang digunakan oleh KPPU berbeda dengan alat-atat bukti
yang dipergunakan Hukum Acara Perdata, tetapi mirip dengan
alat-alat bukti yang tercantum di dalam KUHAP. Dalam pasal 42
UU No. 5 tahun 1999, alat-alat bukti pemeriksaan KPPU terdiri
dari:
(1) keterangan saksi;
(2) keterangan ahli;
(3) surat dan atau dokumen;
(4) petunjuk; dan
(5) keterangan pelaku usaha

Segera setelah jangka waktu pemeriksaan pendahuluan dan


pemeriksaan lanjutan berakhir, KPPU mempunyai waktu 30 hari
kerja untuk memutuskan telah terjadi atau tidak terjadi
pelanggaran terhadap UU No. 5 tahun 1999. Setelah jangka
waktu tersebut berakhir, maka KPPU berkewajiban untuk
membacakan putusan yang disampaikan dalam suatu sidang
yang dinyatakan terbuka untuk umum dan putusan tersebut

399
segera diberitahukan kepada pelaku usaha8. Kehadiran pelaku
usaha pada saat sidang pembacaan putusan tidak diwajibkan
oleh UU No.5 tahun 1999, namun KPPU tetap akan
mengirimkan pemberitahuan kepada pelaku usaha.
Setelah KPPU memutuskan terjadi atau tidak terjadinya
pelanggaran terhadap UU No. 5 tahun 1999 dan menerima
pemberitahuan putusannya, Pelaku Usaha dalam jangka waktu
30 hari setelah menerima pemberitahuan putusan wajib
melaksanakan putusan tersebut dan menyampaikan laporan
pelaksanaannya kepada KPPU. Namun apabila pelaku usaha
tidak dapat menerima putusan KPPU maka UU menyediakan
upaya hukum mengajukan keberatan kepada pengadilan negeri
selambat-lambatnya 14 hari setelah menerima pemberitahuan
putusannya. Jika pelaku usaha dalam jangka waktu 14 hari
tersebut tidak mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri
maka dianggap menerima putusan KPPU, dan menurut Pasal 46
UU No. 5 tahun 1999 putusan KPPU tersebut telah memiliki
kekuatan hukum tetap serta dapat dimintakan penetapan
eksekusi kepada Pengadilan Negeri.

2. KEWENANGAN KPPU DALAM MENANGANI


PERKARA PERSAINGAN USAHA
Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 75 Tahun 1999 KPPU dibentuk sebagaimana diatur
dalam Pasal 34 yang mengatur mengenai susunan organisasi,
tugas, dan fungsi Komisi yang ditetapkan melalui Keputusan
Presiden.9 KPPU memiliki kewenangan-kewenangan khusus
yang meliputi :10
a. menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku
usaha tentang dugaan terjadinya praktek monopoli dan
atau persaingan usaha tidak sehat;

UU No.5 tahun 1999, Pasal 43.


9
Pasal 34 ayat (1) UU No. 5/1999 menyebutkan bahwa Pembentukan Komisi
serta susunan organisasi, tugas, dan fungsinya ditetapkan dengan Keputusan
Presiden.
10 UU No. 5/1999, Pasal 36.

400
b. melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan
usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat;
c. melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap
kasus dugaan praktek monopoli dan atau persaingan usaha
tidak sehat yang dilaporkan oleh masyarakat atau oleh
pelaku usaha atau yang ditemukan oleh Komisi sebagai
hasil dan penelitiannya;
d. menyimpulkan hasil penyelidikan dan atau pemeriksaan
tentang ada atau tidak adanya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat;
e. memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang ini;
f. memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan setiap
orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap
ketentuan undang-undang ini;
g. meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku
usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana
dimaksud huruf e, dan huruf f, yang tidak bersedia
memenuhi panggilan komisi;
h. meminta keterangan dari instansi pemerintah dalam
kaitannya dengan penyelidikan dan atau pemeriksaan
terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-
undang ini;
i. mendapatkan, meneliti, dan atau menilai surat, dokumen
atau alat bukti lain guna penyelidikan dan atau
pemeriksaan;
j. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya
kerugian di pihak pelaku usaha lain atau masyarakat;
k. memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku usaha
yang diduga melakukan praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat;
l. menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada
pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang
ini.

401
Atas dasar kewenangannya yang besar tersebut maka Komisi
memiliki beberapa tugas yang meliputi:11
a. melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat12
b. melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau
tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha
tidak sehat13
c. melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya
penyalahgunaan posisi dominan yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat14
d. mengambil tindakan sesuai dengan wewenang Komisi15.
e. memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan
pemerintah yang berkaitan dengan praktek monopoli dan
atau persaingan usaha tidak sehat;
f. menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan
dengan Undang-Undang Nomor 5/1999;
g. memberikan laporan secara berkala atas hash kerja Komisi
kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.

Dilihat dari tugas dan kewenangan KPPU tersebut, nampak


seperti layaknya Komisi Pengawas Persaingan Usaha di negara-
negara lain, KPPU juga diberikan kewenangan dan tugas yang
sangat luas yang meliputi wilayah eksekutif, yudikatif, legislatif
serta konsultatif. Sehingga dari berbagai pendapat melihat
bahwa KPPU dapat dikatakan bersifat multifungsi karena
memiliki wewenang sebagai investigator (investigative function),

11 UU No. 5 / 1999, Pasal 35 jo. Keppres No. 75/1999, Pasal 4.


12 UU No. 5/1999, Pasal 4 -16.
13 UU No. 5/1999, Pasal 17-24.
14 UU No. 5/1999, Pasal 25 - 28.
15 UU No. 5/1999, Pasal 36.

402
penyidik, pemeriksa, penuntut (prosecuting function), pemutus
(adjudication function)16 maupun fungsi konsultatif (consultative
function). Tetapi sebagaimana dengan karakter yang khas dalam
Hukum Persaingan maka KPPU dikatakan sebagai lembaga
quasi judicial yang artinya lembaga penegak hukum yang
mengawasi persaingan usaha.17
Kewenangan Komisi yang cukup strategis adalah peran
konsultatif ketika memberikan saran dan pertimbangan kepada
pemerintah dalam hal yang berkaitan keputusan suatu lembaga
yang menyangkut kebijakan ekonomi.18
Sehingga KPPU cukup berperan dalam menentukan
kebijakan pemerintah yang dapat dikatakan mengganggu
jalannya proses persaingan sebagaimana yang diamanatkan
dalam UU No. 5 Tahun 1999. Kewenangan Komisi yang
menyerupai lembaga yudikatif adalah kewenangan komisi
melakukan fungsi penyelidikan, memeriksa, memutus dan
akhirnya menjatuhkan hukuman administrative atas perkara
diputusnya. Demikian juga kewenangannya menjatuhkan sanksi
ganti rugi atau denda kepada terlapor. Kewenangan legislatif
pada KPPU adalah kewenangan untuk menciptakan peraturan
baik secara internal mengikat para anggota dan pegawai
administrasinya, maupum eksternal kepada publik,19 misalnya
guidelines, tata cara prosedur penyampaian laporan dan
penanganan perkara dll. Kewenangan eksekutif adalah ketika
melaksanakan atau mengeksekusi kewenangan yang diberikan
oleh UU No. 5 tahun 1999 dalam mengawasi jalannya undang-
undang.
Kedudukan atau status dan KPPU dalam menjalankan
fungsi kewenangannya menjadi hal yang sangat penting untuk
didiskusikan, mengingat UU No. 5/1999 telah memberikan

Law office Lubis, Santosa, Maulana, K u m p u la n D o k u m e n P u b lik , Juni 2002,


hal 2.
17
Syamsul Maarif, T a n ta n g a n P e n e g a k a n H u k u m P e r s a in g a n U sa h a d i In d o n e s ia ,
Jurnal Hukum Bisnis, Vol 19, Mei-Juni 2002.
1 O
UU No. 5/1999, Pasal 35 huruf (e).
19 UU No. 5/1999, Pasal 35 huruf (f).

403
KPPU kewenangan yang sangat besar sehingga menyerupai
kewenangan lembaga peradilan (quasi judicial). Pasal 35 dan 36
UU No. 5/1999 secara lugas memberikan kewenangan yang
sangat luas kepada KPPU untuk dapat berlaku sebagai
penyelidik, penuntut maupun sebagai pemutus terhadap kasus-
kasus persaingan usaha. Oleh sebab itu memang pada
kenyataannya KPPU menjadi badan independen yang memang
khusus diberikan Undang-undang wewenang untuk memutus
perkara persaingan.
Oleh karena kedudukannya yang multifungsi yang tidak
biasa kita kenal dalam sistim hukum di Indonesia, maka
kedudukan KPPU dapat ditafsirkan bertindak ultra vires20 dan
berlindung dibalik ketentuan Undang-undang.21 Sebenarnya
kedudukan independen badan administrasi seperti KPPU tidak
dapat dikaji hanya dengan melihat kepada siapa badan ini
bertanggung jawab atau bagaimana sistim keuangan
anggarannya saja, tetapi sebagaimana badan serupa diberbagai
negara lainnya, maka independensi KPPU harus dilihat dari segi
putusan hukumnya yang dalam proses pengambilannya tidak
dapat dipengaruhi oleh badan lainnya (termasuk yudikatif
maupun eksekutif). Dalam hal ini KPPU memang dikatakan
sebagai lembaga yang terlepas dari pengaruh dan kekuasaan
pemerintah dan dalam pertanggungjawaban kinerjanya KPPU
memberikan laporan kepada Presiden dan Dewan Perwakilan
Rakyat secara berkala.22

20
Henry Campbell, Black's Law Dictionary, Definition o f the Terms and Pharases o f
American and English Jurisprudence, Ancient and Modern, St.Paul Minnesota, West
Publishing Co., 1990, hal 1057. Ultra Vires is an act performed without any authority to
act on subject. By doctrine ultra vires act o f municipality is one, which is beyond powers
conferred upon it by law.
21
Harian Kompas, 2 Agustus 2002, Soal Kasus Indomobil, PN Jakarta Selatan
Juga Batalkan Putusan KPPU.
22 UU No. 5/1999, Pasal 30 ayat (3) jo. Keppres RI No. 75/1999, Pasal 4 huruf (g).

404
C. KENDALA-KENDALA YANG TIMBUL DALAM UPAYA
KEBERATAN TERHADAP PUTUSAN KPPU
Pasal 44 ayat (2) UU No. 5 Tahun 1999 menentukan bahwa
Pelaku usaha dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan
Negeri selambat-lambatnya 14 hari setelah menerima pemberitahuan
putusan tersebut. Permasalahan mulai timbul jika ada permohonan
"keberatan" yang diajukan oleh pelaku usaha atas putusan KPPU.
Timbulnya permasalahan dikarenakan "keberatan" bukanlah suatu
upaya hukum yang dikenal dalam hukum acara di Indonesia, dan
UU No. 5 tahun 1999 tidak memberikan suatu petunjuk tehnis
bagaimana prosedur pengajuan permohonan keberatan ini diajukan,
dan bagaimana Pengadilan Negeri memproses permohonan
keberatannya, karena belum ada acara yang secara jelas mengatur
perihal proses keberatan terhadap kasus-kasus persaingan usaha.
Dalam hukum acara kita hanya mengenal 3 bentuk yaitu gugatan,
perlawanan dan permohonan Apakah upaya keberatan itu
diposisikan sebagai upaya banding atas putusan KPPU atau sebagai
pengajuan gugatan atau permohonan baru ke Pengadilan Negeri atas
adanya putusan KPPU tersebut.
Satu-satunya upaya hukum yang tersedia yang dapat diajukan
oleh pelaku usaha adalah mengajukan keberatan, sedangkan
keberatan sendiri bukanlah suatu upaya hukum yang dikenal dalam
hukum acara di Indonesia.23
Disamping tidak adanya petunjuk pelaksanaannya, dan
bagaimana mekanisme keberatan diajukan, dan keterbatasan waktu
seperti yang ditentukan dalam pasal 44 ayat (1) UU No. 5 Tahun
199924, maka hal ini pernah menimbulkan penafsiran yang berbeda-

Instrumen keberatan kepada Pengadilan Negeri merupakan upaya hukum


yang masih perlu dikaji lebih lanjut. Hukum Acara Perdata di Indonesia tidak
mengenal keberatan atas putusan lembaga lain. Yang dikenal adalah upaya hukum
perlawanan terhadap putusan verstek upaya hukum banding, kasasi, sedangkan
yang termasuk kategori upaya hukum luar biasa diantaranya adalah perlawanan
pihak ketiga terhadap sita, dan upaya hukum Peninjauan Kembali.
Pasal 44 ayat (1) : Dalam waktu 30 hari sejak Pelaku Usaha menerima
pemberitahuan putusan Komisi sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 43 ayat
(4), pelaku usaha wajib melaksanakan putusan tersebut, dan menyampaikan laporan
pelaksanaannya kepada Komisi.

405
beda dan juga menghasilkan putusan yang berbeda-beda diantara
Pengadilan Negeri yang satu dengan Pengadilan Negeri yang lain,
padahal pokok perkara yang dihadapi sama, dan semuanya
berpangkal pada putusan KPPU yang sama.25
Bagi hakim Pengadilan Negeri yang memeriksa gugatan
keberatan tersebut juga terikat pada ketentuan-ketentuan prosedur
beracara yang harus diikuti, seperti usaha-usaha untuk
mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa melalui mediasi.26
Karena PERMA No. 3 Tahun 2005 menentukan KPPU sebagai
pihak,27 maka usaha perdamaian adalah antara KPPU dan Pelaku

Dalam putusan KPPU yang menghukum 8 pelaku usaha yang terlibat dalam
transaksi saham Indomobil dengan sanksi denda maupun ganti rugi Kedelapan
pelaku usaha terlapor secara serentak mengajukan keberatan di pengadilan negeri
yang berbeda, dan akhirnya terjadilah kesimpangsiuran hukum, sampai ada
Pengadilan Negeri yang mengeluarkan putusan sela yang memerintahkan KPPU
untuk menghentikan proses pemeriksaan terhadap suatu transaksi. Bahkan
Pengadilan TUN Jakarta mempersamakan lembaga KPPU sebagai subjek hukum
TUN, dan sebagai tergugat pada peradilan TUN. Apakah hal ini mungkin karena
KPPU bukanlah institusi yang menjalankan urusan pemerintahan sebagaimana
diatur dalam pasal 1 angka 2 UU No. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara, melainkan suatu lembaga independen yang terlepas dari pengaruh dan
kekuasaan pemerintah dan pihak lain. Keadaan ini menjadi rancu dan menimbulkan
ketidak pastian hukum dalam menangani Undang-undang persaingan usaha.
26 Dengan adanya PERMA 02 tahun 2003, yang diperbarui dengan PERMA No. 1
Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, hakim yang mengadili perkara
mewajibkan para pihak yang berperkara agar lebih dahulu menempuh mediasi.
Selanjutnya hakim menunda proses persidangan perkara untuk memberi
kesempatan kepada para pihak menempuh proses mediasi. Biasanya dalam praktek
selama ini sidang ditunda selama satu atau dua minggu, namun dengan adanya
Perma No. 02 tahun 2003, Jo PERMA No. 1 Tahun 2008, yang mengatur tentang
lamanya mediasi paling lama 30 hari dan ditambah menjadi 60 hari sejak
penunjukan mediator, maka hakim akan menyesuaikan penundaan sidang sesuai
dengan pasal-pasal tersebut yaitu selama 30 - 60 hari, dengan ketentuan dapat
dipercepat apabila tercapai kesepakatan secara dini atas laporan dan mediator
kepada hakim.
27 Pemikiran bahwa dalam keberatan tersebut KPPU dikonstruksikan sebagai
pihak sehingga ada 2 pihak yaitu KPPU dan Pelaku Usaha, maka KPPU dapat
mempertahankan putusannya, dan KPPU masih mempunyai akses untuk
mengajukan kasasi, jika putusannya dibatalkan oleh Pengadilan Negeri.
Di Amerika Serikat upaya keberatan terhadap putusan Federal Trade
Commission (FTC) diajukan dalam bentuk permohonan, ke Pengadilan Banding dan
sebagai lembaga tingkat banding Pengadilan Banding dapat memutuskan untuk
memperkuat, melaksanakan, merubah atau mengenyampingkan putusan FTC, dan
dalam proses banding tersebut FTC bukan sebagai pihak.

406
Usaha. Hal ini menimbulkan keruwetan karena KPPU bukan pihak
yang bersengketa, melainkan suatu lembaga publik pelaksana fungsi
yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman dibidang pelanggaran
hukum larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat,
dengan tugas pokok untuk menerima, memeriksa dan mengadili
setiap laporan adanya pelanggaran UU No. 5 tahun 1999 yang
diajukan kepadanya. Sehingga tidak mungkin diadakan perdamaian
dengan pelaku usaha yang nota bene telah dijatuhkan sanksi
administratif atau denda oleh KPPU.28
Dan apakah pelaku usaha dapat mengajukan keberatan kepada
Pengadilan TUN ? dan apakah putusan KPPU dapat dianggap
sebagai objek TUN, sehingga KPPU dapat menjadi subjek pada
Pengadilan TUN?. Meskipun telah jelas bahwa keberatan pelaku
usaha terhadap putusan KPPU hanya dapat diajukan kepada
Pengadilan Negeri, tetapi karena tidak ada ketentuan yang mengatur
kewenangan atau ketidakwenangan lingkungan peradilan lain dari
pada pengadilan negeri, dalam mengatur masalah persaingan usaha,
maka hal ini menimbulkan permasalahan tersendiri.
Mahkamah Agung berdasarkan kewenangan yang dimilikinya,
dengan mengingat pentingnya permasalahan dan adanya
kekurangan dalam hal tata cara pengajuan upaya hukum keberatan
atas putusan KPPU ke Pengadilan Negeri telah menerbitkan
Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2003 tentang Tata Cara
Upaya Hukum Keberatan atas Putusan KPPU ke Pengadilan Negeri
yang kemudian diperbaharui melalui Peraturan Mahkamah Agung
No. 3 Tahun 2005.
Adanya Peraturan Mahkamah Agung No. 3 Tahun 2005 tersebut
meskipun masih mendapat komentar dari berbagai pihak namun
setidak-tidaknya salah satu hal yang positif agar dapat tercipta
keseragaman pendapat dan sekaligus memberikan solusi kearah

Sebaliknya di Jerman putusan Bundeskartellamt (Badan Anti Kantel) yang


dimintakan banding ke Pengadilan Tingkat Banding, maka Bundeskartellamt dapat
menjadi salah satu pihak yang berperkara sehingga dapat mempertahankan
putusannya pada proses ditingkat banding.
28
Pasal 36 huruf a jo pasal 38 ayat (1) dan (2) jo pasal 39 ayat (1) dan (4) jo pasal
43 ayat (3) dan (4) jo pasal 47 ayat (1) UU No 5 tahun 1999.

407
penyempurnaan tata cara penanganan perkara persaingan usaha,
khususnya yang berkaitan dengan badan peradilan.

D. KEWENANGAN PENGADILAN NEGERI DALAM


MEMERIKSA PERKARA KEBERATAN ATAS PUTUSAN
KPPU
Sampai dimana kewenangan pengadilan Negeri untuk
memeriksa dan menilai putusan KPPU? Apakah pemeriksaan yang
dilakukan oleh hakim Pengadilan Negeri hanya aspek formal saja,
atau juga termasuk boleh menilai pokok perkara dan hal-hal lain
yang menyangkut aspek materialnya? Ini juga dapat menimbulkan
permasalahan, jika hakim dapat memeriksa keseluruhan substansi
keberatan yang diajukan, baik aspek formal maupun aspek
materialnya, ini akan beresiko putusan yang berbeda, karena adanya
perbedaan pandangan. Pertimbangan putusan KPPU atas adanya
pelanggaran undang-undang persaingan usaha tidak sehat, serat
dengan pertimbangan dan perhitungan aspek ekonomi, yang mana
hal ini tidak dimiliki oleh para hakim yang berlatar belakang
pendidikan hukum. Karena karakteristik dan kompleksnya
permasalahan persaingan usaha, maka diperlukan syarat keahlian
dan pengalaman khusus baik dibidang hukum dan ekonomi,
sehingga oleh karena itu penerapan hukumnya harus ditangani oleh
mereka yang memang ahli dan mempunyai pandangan yang luas
tentang analisa ekonomi.
Sebaliknya jika hakim pengadilan negeri hanya boleh memeriksa
perkara keberatan hanya dan aspek formal saja bagaimana jika dalam
perkara tersebut diketahui adanya kesalahan penerapan hukum atau
adanya hal-hal penting yang tidak dipertimbangkan dalam putusan
KPPU. Apakah hal ini tidak boleh dinilai oleh hakim. Siapa yang
melakukan judicial control terhadap putusan KPPU, jika hakim hanya
boleh memeriksa permohonan keberatan hanya atas kesalahan
formal saja? Dan apakah dalam proses keberatan ini dapat diajukan
bukti-bukti baru yang semula pada pemeriksaan di KPPU tidak
diajukan.
Dalam menjawab pertanyaan tersebut, juga perlu dipertim­
bangkan sisi limitasi waktu pemeriksaan keberatan yang sangat

408
singkat hanya 30 hari dihitung sejak dimulainya pemeriksaan
keberatan, apakah waktu ini cukup untuk melakukan pemeriksaan
judex-factie atas perkara keberatan yang diajukan, karena perkara
persaingan usaha adalah perkara yang rumit, kompleks dan
membutuhkan pandangan yang luas. Pemilihan jangka waktu yang
singkat ini pada awalnya lebih didasari agar Pengadilan Negeri
dalam memeriksa perkara persaingan usaha lebih efektif dan tidak
berlarut-larut.
Jika ditinjau pada praktek yang ada pada komisi FTC di
Amerika dan Bundeskartelamt di Jerman, tidak ada pembatasan
waktu pemeriksaan baik pada tahap pemeriksaan komisi maupun
tahap pemeriksaan keberatan.29 Sangat disayangkan bahwa Undang-
undang tidak memberi penjelasan apa yang harus dilakukan hakim
pengadilan negeri dalam memeriksa perkara keberatan.

E. KETENTUAN-KETENTUAN YANG DIATUR DALAM


PERMA
Upaya hukum keberatan terhadap putusan KPPU hanya dapat
diajukan oleh pelaku usaha terlapor kepada Pengadilan Negeri
ditempat kedudukan hukum pelaku usaha tersebut30. PERMA juga
menetapkan bahwa KPPU menjadi pihak dalam proses keberatan ini,
dengan tujuan agar KPPU dapat memberi penjelasan/verifikasi
dalam proses pemeriksaan keberatan dan mempertahankan
putusannya. Dengan demikian maka pelaku usaha pelapor tertutup
untuk mengajukan keberatan manakala pengaduannya tidak
ditindak lanjuti oleh KPPU. Ketentuan tersebut wajar karena pelaku
usaha pelapor juga bukan menjadi pihak dalam putusan KPPU.
Keberatan diajukan melalui kepaniteraan Pengadilan Negeri
yang bersangkutan sesuai dengan prosedur pendaftaran perkara
perdata dengan memberikan salinan keberatan kepada KPPU;31

Ningrum Natasia Sirait - Position Paper dan Partnership for Business


Competition halaman 15 Lihat juga Naskah Akademis Penelitian mengenai
Persaingan Usaha UU No 5 tahun 1999, yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan
Pengembangan Mahkamah Agung!U tahun 2004.
30 Pasal 2 ayat (1) PERMA No. 3 Tahun 2005
3' Pasal ayat (2) dan (3) PERMA No. 3 Tahun 2005

409
Permasalah timbul meskipun para Pelaku Usaha terlapor
mempunyai domisili usahanya di tempat yang sama tetapi karena
Undang-undang mengatur tenggang waktu mengajukan keberatan
14 hari, maka dikhawatirkan Pelaku Usaha masing-masing
memasukkan keberatanya pada hari yang berbeda, sehingga
kemungkinan memperoleh nomor register yang berbeda. Untuk
menghindari putusan yang berbeda, karena kemungkinan majelis
hakim yang berbeda, maka PERMA menentukan bahwa dalam hal
keberatan diajukan oleh lebih dari 1 (satu) Pelaku Usaha untuk
putusan KPPU yang sama, dan memiliki kedudukan hukum yang
sama, perkara tersebut harus didaftar dengan nomor yang sama.
Ketentuan tersebut menghindari penunjukan majelis hakim yang
berbeda.
Keberatan terhadap Putusan KPPU diajukan ke Pengadilan
Negeri ditempat kedudukan hukum Pelaku Usaha tersebut. Hal ini
menimbulkan permasalahan jika dalam putusan KPPU terdapat lebih
dari satu Pelaku Usaha dan mempunyai domisili/tempat kedudukan
usahanya yang berbeda, sehingga dikawatirkan terhadap putusan
KPPU yang sama akan menimbulkan putusan keberatan yang
berbeda. Untuk menghindari kemungkinan tersebut maka PERMA
menentukan bahwa dalam hal keberatan diajukan oleh lebih dari 1
(satu) Pelaku Usaha untuk putusan KPPU yang sama tetapi berbeda
tempat kedudukan hukumnya, KPPU dapat mengajukan
permohonan tertulis kepada Mahkamah Agung untuk menunjuk
salah satu Pengadilan Negeri disertai usulan Pengadilan mana yang
akan memeriksa keberatan tersebut;32 Permohonan sebagaimana
tersebut diatas oleh KPPU ditembuskan kepada seluruh Ketua
Pengadilan Negeri yang menerima permohonan keberatan. Semua
Pengadilan Negeri yang menerima tembusan permohonan tersebut
harus menghentikan pemeriksaan dan menunggu penunjukan oleh
Mahkamah Agung. Mahkamah Agung dalam tenggang waktu waktu
14 (empat belas) hari sudah harus menunjuk Pengadilan Negeri yang
memeriksa keberatan tersebut; Setelah menerima pemberitahuan dari
Mahkamah Agung, Pengadilan Negeri yang tidak ditunjuk harus

32 Pasal 4 ayat (4) dan (5) PERMA No. 3 Tahun 2005.

410
mengirimkan berkas perkara disertai (sisa) biaya perkara ke
Pengadilan Negeri yang ditunjuk dalam waktu 7 (tujuh) hari.
KPPU wajib menyerahkan putusan dan berkas perkaranya
kepada Pengadilan Negeri yang ditunjuk yang memeriksa perkara
keberatan pada hari persidangan pertama. Dan pemeriksaan
dilakukan tanpa melalui proses mediasi. Penentuan ini penting agar
putusan keberatan tersebut tidak menjadi batal kanena tidak melalui
proses perdamaian. Dalam perkara keberatan terhadap putusan
KPPU tidak mungkin diadakan perdamaian antara pelaku usaha
dengan KPPU yang nota bene sebagai pihak yang telah menjatuhkan
sanksi administratif atau denda.
Persoalan yang muncul apakah mungkin pada tingkat
pemeriksaan keberatan pihak terlapor mengajukan bukti baru yang
pada saat pemeriksaan di KPPU tidak dimunculkan. Akankah
dengan diajukannya suatu bukti baru (de nove evidence) maka hal ini
dapat dijadikan landasan bagi pemeriksaan pada tahap keberatan,
bagaimana perlakukan pengadilan terhadap hal ini dan apakah
hakim yang memeriksa keberatan dapat melakukan pemeriksaan
ataupun menerima bukti baru ini?. Dalam UU No.5 Tahun 1999
memang tidak dinyatakan dengan jelas mengenai perlakuan
terhadap bukti baru tersebut, namun bila dianalisis maka keberatan
yang diajukan adalah atas dasar putusan KPPU. Jadi tertutup
kemungkinan jika gugatan tersebut didasarkan atas bukti baru yang
menguatkan, karena yang dapat diperiksa adalah putusan KPPU
tersebut berikut bukti-bukti yang ada dalam pertimbangan putusan
KPPU tersebut.33
Pasal 5 ayat (4) Perma No 3 Tahun 2005 menentukan bahwa
pemeriksaan keberatan dilakukan hanya atas dasar putusan KPPU
dan berkas perkaranya. Dengan adanya ketentuan ini maka dapat
ditafsirkan bahwa upaya hukum keberatan diposisikan sebagai
upaya hukum banding terhadap putusan KPPU, sehingga
penambahan bukti-bukti baru dalam pemeriksaan keberatan ini tidak
dimungkinkan lagi. Kemudian dalam kurun waktu 30 hari setelah

33
Praktek yang berlaku di Perands dan FTC di Amerika pemeriksaan keberatan
sebatas pada pemeriksaan aspek formal dan tidak ada pengajuan bukti baru.

411
dimulainya proses pemeriksaan keberatan tersebut, Pengadilan
Negeri harus sudah dapat memberikan putusannya34.
Mengingat kompleknya permasalahan persaingan usaha yang
memerlulan keahlian khusus, dan singkatnya waktu yang diberikan
kepada hakim untuk memeriksa perkara keberatan yang diajukan ke
Pengadilan Negeri, maka dalam PERMA No. 3 Tahun 2005,
diperkenalkan "Konsep Remand", yaitu jika hakim Pengadilan Negeri
yang memeriksa perkara keberatan tersebut melihat ada bukti-bukti
atau bagian-bagian lain yang belum dipertimbangkan dalam putusan
KPPU, atau ada kesalahan dalam penerapan hukumnya, maka hakim
dapat mengembalikan putusan KPPU dan memerintahkan agar
KPPU memeriksanya kembali.
Ketentuan Pasal 6 PERMA No. 3 tahun 2005 juga memberikan
hak kepada Pengadilan Negeri apabila dipandang perlu memerin­
tahkan KPPU untuk melakukan pemeriksaan tambahan dengan
menerbitkan putusan sela. Mekanisme pemeriksaan tambahan
diterbitkan apabila dipandang perlu oleh Majelis Hakim setelah
memeriksa perkara persaingan usaha yang diajukan keberatannya.
Apabila pelaku usaha memilih untuk mengajukan usaha tambahan
dan apabila dikabulkan oleh Majelis Hakim, pelaku usaha memiliki
kesempatan untuk membela diri dan mengajukan pembelaan-
pembelaan yang tidak atau belum dimaksudkan dalam
pertimbangan putusan KPPU.
KPPU disamping terikat dengan hal-hal yang telah ditetapkan
oleh Majelis Hakim untuk diperiksa dalam putusan sela pemeriksaan
tambahan, juga untuk menghindari adanya konflik kepentingan
sebaiknya diperiksa oleh anggota.
Komisi yang berbeda dari yang semula memberikan putusan.
Konsekuensinya adalah hasil pemeriksaan tambahan yang dilakukan
oleh KPPU dapat saja bertentangan dengan putusan KPPU.
Jika masih ada Pelaku Usaha yang berkeberatan atas putusan
keberatan yang diberikan Pengadilan Negeri maka UU No. 5 tahun
1999 memberikan upaya hukum yang dapat ditempuh oleh pihak
yang masih berkeberatan, yaitu mengajukan kasasi ke MA, dalam

■34
UU No. 5 tahun 1999, Pasal 45 ayat (2).

412
kurun waktu 14 hari sejak dibacakan putusan keberatan atau
diberitahukan oleh Pengadilan Negeri. Dan MA harus memberikan
putusan kasasi dalam kurun waktu 30 hari sejak permohonan kasasi
diterima35. Hukum acara yang dipakai untuk pemeriksaan ini adalah
Hukum Acara Perdata biasa.
Pemeriksaan perkara persaingan usaha pada tingkat kasasi dan
PK juga dapat menimbulkan permasalahan :
a) Pemeriksaan kasasi dilakukan dalam jangka waktu 30 hari
terhitung sejak permohonan kasasi diterima. Bagaimana jika
Mahkamah Agung terlambat memberikan putusannya, karena
Undang-undang tidak memberikan sanksi jika waktu
pemeriksaan tidak dipatuhi.36
b) Apakah terhadap putusan kasasi persaingan usaha dapat
diajukan upaya Peninjauan Kembali? Hal ini tidak diatur secara
tegas dalam UU No. 5 tahun 1999, apakah dalam perkara
pelanggaran Undang-undang persaingan usaha, pemeriksaan
ditingkat kasasi merupakan upaya hukum terakhir saja yang
tidak dapat di PK.
c) Meskipun UU No. 5 Tahun 1999 tidak mengatur kemungkinan
diajukannya Peninjauan Kembali terhadap putusan Mahkamah
Agung yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, tetapi
dalam praktek PK masih dapat diajukan berdasarkan ketentuan
Pasal 67 UU No. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No. 14
Tahun 1985, tentang Mahkamah Agung.
d) Juga perlu diatur secara tegas kapan dimulainya perhitungan
waktu 30 hari pemeriksaan perkara kasasi, apakah dimulai sejak
perkara diterima di-sekretariat Mahkamah Agung atau sejak
diserahkan kepada majelis Hakim Agung yang ditunjuk, karena
di Mahkamah Agung dan perkara diterima atau didaftarkan
permohonan kasasinya sampai pada majelis hakim agung yang
ditunjuk, memperlukan waktu yang cukup lama.

35 UU No. 5 tahun 1999, Pasal 45 ayat (3).


36 Dalam kasus Indomobil yang diajukan kasasi ke Mahkamah Agung, jangka
waktu 30 hari telah lewat dan Mahkamah Agung belum memberikan putusannya

413
Meskipun UU No. 5 Tahun 1999 tidak mengatur kemungkinan
diajukannya Peninjauan Kembali terhadap putusan Mahkamah
Agung yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, tetapi dalam
praktek PK masih dapat diajukan berdasarkan ketentuan Pasal 67
UU No. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No. 14 Tahun 1985,
tentang Mahkamah Agung.

F. PENYERAHAN PERKARA KEPADA PENYIDIK


Terdapat tiga kemungkinan sikap Pelaku Usaha terlapor
terhadap putusan KPPU, yaitu :
1. Putusan diterima oleh pelaku usaha dan kemudian
melaksanakan putusan tersebut. Pelaku usaha dianggap
menerima putusan bila tidak melakukan upaya hukum dalam
jangka waktu dan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak
diterimanya putusan maka pelaku usaha wajib untuk
melaksanakan putusan tersebut dan menyampaikan laporan
pelaksanaannya kepada Komisi. Kemudian berdasarkan pasal
Pasal 46 ayat (1) dan (2) KPPU mengajukan fiat eksekusi kepada
Pengadilan Negeri terhadap putusan yang sudah memiliki
ketetapan hukum yang pasti.
2. Mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri dalam
tenggang waktu 14 hari setelah menerima pemberitahuan
putusan tersebut (pasal 44 ayat (2)).
3. Pelaku Usaha yang menolak putusan KPPU tetapi juga tidak
mengajukan keberatan dalam waktu yang ditetapkan undang-
undang, namun pada saat yang sama juga tidak juga
melaksanakan putusan KPPU, maka sesuai ketentuan Pasal 44
ayat (4) Komisi menyerahkan putusan tersebut kepada penyidik
untuk dilakukan penyidikan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan ayat (5)
mengatur Putusan Komisi sebagaimana di maksud dalam Pasal
43 ayat (4) merupakan bukti permulaan yang cukup bagi
penyidik untuk melakukan penyidikan. Namun ketentuan
tersebut tidak disertai penjelasan yang cukup.

414
Demikian pula terhadap Pelaku Usaha yang menolak diperiksa,
menolak memberikan informasi yang diperlukan dalam penyelidikan
dan atau pemeriksaan, atau menghambat proses penyedikan dan
atau pemeriksaan.37 Jika pelaku usaha melakukan pelanggaran
terhadap ketentuan tersebut, maka KPPU wajib menyerahkan hal
tersebut kepada penyidik untuk dilakukan penyidikan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
UU tidak memberikan penjelasan bagaimana mekanisme
penyidik dalam melaksanakan ketentuan tersebut. Disamping aturan
pelaksanaannya belum ada, juga sejauh ini ketentuan tersebut belum
pernah dilakukan oleh KPPU, dan pihak penyidikpun juga tidak
berani melakukan upaya paksa ini, karena tidak ada petunjuk
teknisnya.
Yang diserahkan oleh Komisi kepada penyidik untuk dilakukan
penyidikan tidak hanya perbuatan atau tidak koperatifnya pelaku
usaha, yaitu menolak diperiksa dan memberikan informasi, serta
menghambat proses penyelidikan dan atau pemeriksaan; tetapi juga
termasuk pokok perkara yang sedang diselidiki dan diperiksa oleh
Komisi. Penulis berpendapat bahwa penyerahan kepada penyidik
memang tidak diperlukan, karena upaya paksa yang tersedia untuk
memaksa pihak yang dikalahkan dalam suatu perkara untuk
memenuhi putusan pengadilan dapat mengacu pada HIR/RBg
maupun KUHAP.
Penyidik sebagaimana dimaksud Pasal 44 ayat (4) dan ayat (5)
UU N. 5 Tahun 1999 dalam kerangka Undang-Undang Hukum Acara
Pidana yang berlaku (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang
Acara Pidana /KUHAP), yaitu:
a. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, dan
b. Pejabat Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen
Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia

Kewenangan penyidik PPNS dilaksanakan dengan berkoordinasi


dengan penyidik POLRI. Koordinasi ini penting dilakukan dalam 2
hal.

Pelaku usaha dan atau pihak lain yang diperiksa wajib menyerahkan alat
bukti yang diperlukan dalam penyelidikan dan atau pemeriksaan

415
Pertama, penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil memberitahu­
kan :
a. Dimulainya penyidikan; yang dalam praktik lazim disebut Surat
Pemberitahuan Dilakukannya Penyidikan (SPDP), dan
b. Hasil penyidikan kepada penyidik POLRI, yang dapat berupa:
1) cukupnya bukti sehingga perkara tindak pidana yang
bersangkutan dapat diteruskan pada tingkat penuntutan;
atau
2) tidak cukup bukti sehingga perlu dikeluarkan perintah
penghentian penyidikan.

Kedua, penyampaian hasil penyidikan kepada Penuntut Umum


dilakukan melalui Penyidik POLRI. Jadi, proses penuntutan tindak
pidana di bidang persaingan usaha sama halnya dengan yang lazim
dilakukan dalam perkara pidana biasa. Hanya pada proses
penyidikannya yang berbeda. Pada proses penyidikan, peran
penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sangat penting karena
dianggap memiliki keahlian khusus sehingga harus diberikan
wewenang khusus. Hal-hal lainnya yang menyangkut penggunaan
instrumen hukum pidana berlaku ketentuan-ketentuan yang termuat
dalam KUHAP sepanjang tidak dilakukan penyimpangan-
penyimpangan di dalam UU No. 5 Tahun 1999.3839
UU No. 5 Tahun 1999, tidak memberikan penjelasan apa yang
dimaksud sebagai "bukti permulaan yang cukup" sehingga penyidik
dapat mulai melakukan penyidikan dan pemeriksaan, dan hal-hal
apa saja yang dapat dilakukan oleh penyidik, sesuai dengan
kewenangannya yang telah ditentukan dalam Pasal 44 ayat (4). Dari
uraian tersebut dapat disimak bahwa kewenangan penyidik baik
PPNS maupun penyidik POLRI adalah dalam ruang lingkup perkara
pelanggaran UU No. 5 Tahun 1999 yang menyangkut perkara pidana

io
Pasal 216 KUHPidana jo Pasal 210 KUHAP
39
Pendapat tersebut sejalan dengan praktek yang berlaku bahwa dewasa ini KPPU
menjalin kerjasama dalam bentuk MOU baik dengan penyidik Polri maupun KPK
untuk menindak lanjuti pelanggaran UU No. 5 tahun 1999 jika terdapat unsur-unsur
yang menyangkut perkara pidana.

416
Timbul pertanyaan sampai dimana penyidik dapat melakukan
penyidikan dan pemeriksaan terhadap pelaku usaha?
a. apakah penyidikan dan pemeriksaan terhadap tidak hadirnya
atau tidak patuhnya pelaku usaha atas panggilan KPPU
b. apakah pelaku usaha yang tidak mengajukan upaya hukum
keberatan, kemudian tidak bersedia melaksanakan putusan
secara sukarela
c. apakah penyidik PPNS dapat melakukan pemeriksaan lanjutan
terhadap materi pelanggaran UU No. 5 Tahun 1999

Mengenai ad 1, penulis berpendapat terhadap pelaku usaha


yang tidak bersedia hadir atas penggilan KPPU, maka dengan
mengacu ketentuan Pasal 216 KUHPidana, maka pelaku usaha dapat
dijatuhi pidana penjara atau denda.40
Mengenai ad 2, dalam hal perkara telah mempunyai kekuatan
hukum tetap, maka KPPU dapat mengajukan permohonan fiat
eksekusi, kepada Ketua Pengadilan Negeri dan dimohonkan sita,
sesuai dengan kewenangannya yang ditentukan dalam Pasal 197 ayat
(1) HIR, Ketua Pengadilan Negeri dapat langsung melakukan
eksekusi terhadap harta benda pelaku usaha setelah lebih dahulu
dilakukan teguran (anmaning).
Mengenai ad 3, penulis berpendapat, penyidik PPNS sepanjang
yang menyangkut ruang lingkup perkara Persaingan Usaha adalah
kompentensi absolut dan KPPU dan badan peradilan yang termasuk
dalam jurisdiksi peradilan umum.

40
Pasal 216 KUHPidana ayat (1) dan ayat (2):
Ayat (1) : Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan
yang dilakukan menurut Undang-undang oleh pegawai negeri yang tugasnya
mengawasi sesuatu, atau oleh pegawai negeri berdasarkan tugasnya, demikian pula
yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa delik, demikian pula
barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
tindakan guna menjalankan ketentuan Undang-undang yang dilakukan oleh salah
seorang pegawai negeri tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
Ayat (2) Disamakan dengan pegawai negeri tersebut di atas, setiap orang yang
menurut ketentuan Undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu
diserahi tugas menjalankan jabatan umum.

417
G. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Bagi Indonesia kebijakan persaingan usaha adalah hal yang
baru, sehingga belum cukup menciptakan kesadaran akan
eksistensi dan perubahan kultur bagi pelaku usaha dalam
melaksanakan usahanya maupun social awareness bagi
masyarakat luas. Oleh karena itu perlu pembenahan-
pembenahan ketentuan Undang-undang yang belum jelas, atau
tidak tepat, agar implementasinya dapat dilakukan secara
seksama dan yang secara teknis dapat dipertanggungjawabkan,
serta dilakukan secara transparan.41
2. Walaupun dikatakan bahwa UU No.5 Tahun 1999 tidak
sempurna tetapi proses penegakan hukum masih dapat secara
maksimal dijalankan dan memberikan putusan yang konsisten
dan memberi kepastian hukum bagi masyarakat terutama dunia
bisnis.
3. Penegakan Undang-undang Persaingan Usaha ini bukanlah
masalah yang mudah karena erat kaitannya dengan dunia usaha
dan perekonomian, maka prioritas pembinaan institusional
terpenting adalah melatih prinsip-prinsip ilmu ekonomi pasar
dan Undang-undang persaingan. Bila para penegak hukum
tidak dilatih sejak awal proses imptimentasi, dan tidak
menguasai pengetahuan yang cukup, maka sangat berisiko
bahwa mereka akan memberikan penafsiran yang bertentangan
dengan makna dan maksud Undang-undang ini.42
4. Lembaga peradilan juga harus memiliki standar pemeriksaan
(standard of review) dalam proses keberatan dengan melihat
kepada efisiensi putusan;, rasa penghormatan antar lembaga
(deference) terhadap badan yang independen; penghormatan
terhadap keahlian khusus yang dimiliki oleh KPPU dalam
masalah persaingan yang membutuhkan analisis ekonomi, dasar
pertimbangan yang rasional dan Komisi ketika memutuskan

Thee Kian Wie, Loc-cit. halaman 70.


42 Normin S Pakpahan," Penemuan Hukum Persaingan: suatu ayanan analistik
komparatif, Jurnal Hukum Bisnis Volume 4 tahun 1998, halaman 18.

418
suatu perkara persaingan serta akhirnya konsistensi dan
putusan Komisi dari waktu ke waktu yang patut dicermati.
5. Permasalahan yang timbul karena adanya kekosongan hukum
atau kurang jelasnya UU No. 5 tahun 1999, sepanjang yang
menyangkut peran badan peradilan, untuk sementara waktu
dalam jangka pendek dapat diatasi melalui PERMA untuk
mengisi kebutuhan dan mengembangkan aturan tata-cara agar
Undang-undang ini dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam
jangka panjang perlu dipikirkan untuk mengamandemen UU
No. 5 tahun 1999, terutama untuk mengatasi permasalahan lain
yang tidak dapat dijangkau oeh PERMA karena terbatasnya
kewenangan yang dimiliki.
6. PERMA N. 3 Tahun 2005 tentang Prosedur mengajukan perkara
keberatan ke Pengadilan Negeri, bukanah merupakan jawaban
yang paling sempurna dalam upaya pelaksanaan proses
keberatan UU No.5 Tahun 1999. Tetapi fungsi PERMA
setidaknya dapat menyamakan persepsi lembaga peradilan
sebagai bagian dari proses penegakan UU No.5 Tahun 1999
bersama-sama dengan KPPU.
7. Sebagaimana praktek di berbagai negara lain yang telah
memberlakukan Undang-undang Hukum Persaingan, maka
faktor kerjasama antar lembaga, merupakan kund kesuksesan
upaya penegakan hukum.

419
P O LIT IK H U K U M K E B IJA K A N L E G ISLA SI
PE M B A L IK A N B EB A N P E M B U K T IA N D A L A M
T IN D A K PID A N A K O R U P S I
Oleh:
Dr. Lilik Mulyadi, S.H., M.H.1

A. PENDAHULUAN
Dimensi Ilmu Hukum hakikatnya teramat luas. Diibaratkan
sebuah "pohon", hukum adalah sebuah pohon besar dan rindang
yang terdiri dari daun, akar, ranting, batang, buah yang teramat
lebat. Karena begitu lebatnya hukum tersebut dapat dikaji dari
perspektif asasnya, sumbernya, pembedaannya, penggolongannya dan lain
sebagainya. Apabila dikaji dari perspektif penggolongannya hukum
dapat diklasifikasikan berdasarkan sumbernya, bentuknya, isinya,
tempat berlakunya, masa berlakunya, cara mempertahankannya, sifatnya,
dan berdasarkan wujudnya.2
Dikaji dari perspektif pembagian hukum berdasarkan isinya
maka dikenal klasifikasi hukum publik dan hukum privat. Lebih
lanjut, menurut doktrin, ketentuan hukum publik merupakan hukum
yang mengatur kepentingan umum (algemene belangen) sedangkan
ketentuan hukum privat mengatur kepentingan perorangan
(bijzondere belangen). Apabila ditinjau dari aspek /ungsinya maka salah
satu ruang lingkup hukum publik adalah hukum pidana yang secara
esensial dapat dibagi menjadi hukum pidana materiil (materieel
strafrecht) dan hukum pidana formal (Formed Strafrecht/
Strafprocesrecht).3

-Wakil Ketua Pengadilan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur


2Lilik Mulyadi, Hukum Acara Perdata Menurut Teori Dan Praktik Peradilan
Indonesia, Penerbit PT. Djambatan, Jakarta, 2008, hlm.l dan: Lilik Mulyadi, Bunga
Rampai Hukum Pidana Perspektif, Teoretis Dan Praktik, Penerbit PT Alumni, Bandung,
2008, him. 1, Lilik Mulyadi, Asas Pembalikan Beban Pembuktian Terhadap Tindak Pidana
Korupsi Dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia Dihubungkan Dengan Konvensi
Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi 2003, Disertasi, Program Pascasarjana
Program Studi Doktor (S3) Dmu Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, 2007,
him. 1
3Lebih detail dapat dilihat: L.J. van Apeldoom, Pengantar Ilmu Hukum, Penerbit
Pradnya Paramita, Jakarta, 2005, him. 171, Jan Remmelink, Hukum Pidana Komentar

421
Dikaji dari perspektif sejarahnya, E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi4
menyebutkan bahwa hukum pidana yang bersifat hukum publik
seperti dikenal sekarang ini telah melalui suatu perkembangan
yang panjang. Perkembangan hukum pidana dipandang sebagai
suatu tindakan merusak atau merugikan kepentingan orang lain dan
disusuli suatu pembalasan. Pembalasan itu umumnya tidak hanya
merupakan kewajiban dari seseorang yang dirugikan atau terkena
tindakan, melainkan meluas menjadi kewajiban dari seluruh
keluarga, famili dan bahkan beberapa hal menjadi kewajiban dari
masyarakat.
Konsekuensi logis dimensi perkembangan hukum pidana
sebagaimana konteks di atas, ada sifat privat dari hukum pidana.
Seiring berjalannya waktu dan masyarakat hukum yang relatif lebih
maju maka hukum pidana kemudian mengarah, lahir, tumbuh dan
berkembang menjadi bagian dari hukum publik seperti dikenal
sekarang ini. Secara gradual, hukum pidana sebagai bagian hukum
publik eksistensinya bertujuan melindungi kepentingan masyarakat
dan negara dengan melakukan perimbangan yang serasi dan selaras
antara kejahatan di satu pihak dari tindakan penguasa yang
bertindak secara sewenang-wenang di lain pihak. Selanjutnya,
ketentuan hukum pidana sesuai konteks di atas dapat
diklasifikasikan menjadi hukum pidana umum (ius commune) dan
hukum pidana khusus (ius singulare, ius speciale atau bijzonder
strafrecht). Ketentuan hukum pidana umum dimaksudkan berlaku
secara umum sebagaimana termaktub dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP), sedangkan hukum pidana khusus menurut*5

Atas Pasal-Pasal Terpenting Dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan
Padanannya Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, him. 5, J.M. van Bemmelen, Hukum Pidana 1
Hukum Pidana Material Bagian Umum, Penerbit Bina Cipta, Bandung, 1979, him. 2-3,
A. Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana I, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 1995, him. 4-
5, H. Muchsin, Ikhtisar Ilmu Hukum, Penerbit IBLAM, Jakarta, 2006, him. 37, Satjipto
Rahardjo, Ilmu Hukum, Penerbit PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, him. 73-75,
Yurisprudensi Mahkamah Agung Tahun 1970, dalam: Yurisprudensi Indonesia,
Penerbit Mahkamah Agung RI, Jakarta, 1970, him. 143-146 dan Bambang Poemomo,
Pandangan Terhadap Asas-Asas Umum Hukum Acara Pidana, Penerbit Liberty,
Yogyakarta, 1982, him. 3
4E.Y. Kanter & S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia Dan
Penerapannya, Penerbit Alumni AHM-PTHM, Jakarta, 1996, him. 38

422
W.P.J. Pompe, H.J.A. Nolte, Sudarto dan E.Y. Kanter diartikan
ketentuan hukum pidana yang mengatur mengenai subyeknya dan
perbuatan yang khusus (bijzonder lijkfeiten).5
Tindak pidana korupsi merupakan salah satu bagian dari
hukum pidana khusus. Apabila dijabarkan, tindak pidana korupsi
mempunyai spesifikasi tertentu yang berbeda dengan hukum
pidana umum, seperti penyimpangan hukum acara dan materi yang
diatur dimaksudkan menekan seminimal mungkin terjadinya
kebocoran serta penyimpangan terhadap keuangan dan pereko­
nomian negara. Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Anti
Korupsi 2003 (United Nations Convention Against Corruption (UNCAC),
2003)56 mendiskripsikan masalah korupsi sudah merupakan ancaman
serius terhadap stabilitas, keamanan masyarakat nasional dan
internasional, telah melemahkan institusi, nilai-nilai demokrasi dan
keadilan serta membahayakan pembangunan berkelanjutan maupun
penegakan hukum. Konvensi PBB Anti Korupsi 2003 (selanjutnya
disingkat KAK 2003) yang telah diratifikasi dengan Undang-Undang
(UU) Nomor 7 Tahun 2006, menimbulkan implikasi karakteristik dan
subtansi gabungan dua sistem hukum yaitu "Civil Law" dan
"Common Law", sehingga akan berpengaruh kepada hukum positif
yang mengatur tindak pidana korupsi di Indonesia.
Romli Atmasasmita menyebutkan implikasi yuridis tersebut,
bahwa :

5W.P.J. Pompe, Handboek van het Nederlandsche Strafrecht, NV


Uitgevermaatschappij W.E.J. Tjeenk-Willink, Zwollo, 1959, Him. 32-33, H.J.A. Nolte,
Het Strafrecht en de Alzonderlijke Welten, Nijmegen: Utrecht-Dekker & von de vegt,
1949, him. 97, Sudarto, Kapita Selekta Hukum Pidana, Penerbit Alumni, Bandung, 1981,
him. 61 dan E.Y. Kanter & S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia .......,
Op.Cit, him. 22, Lilik Mulyadi, Tindak Pidana Korupsi Normatif, Teoretis, Praktik Dan
Masalahnya, Penerbit PT Alumni, Bandung, 2007, him. 2
6dikutif dari: Romli Atmasasmita, Strategi Dan Kebijakan Pemberantasan Korupsi
Pasca Konvensi PBB Menentang Korupsi Tahun 2003: Melawan Kejahatan Korporasi,
Paper, Jakarta, 2006, him. 1 dan Romli Atmasasmita, Strategi dan Kebijakan Hukum
Dalam Pemberantasan Korupsi Melawan Kejahatan Korporasi di Indonesia: Membentuk Ius
Constituendum Pasca Ratifikasi Konvensi PBB Menentang Korupsi Tahun 2003, Paper,
Jakarta, 2006, him. 1., dan vide pula: Romli Atmasasmita, Strategi Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi Di Sektor Swasta Dalam Lingkup Konvensi PBB Anti Korupsi 2003,
Paper, Jakarta, 2006, him. 7, serta: Romli Atmasasmita, Indonesia Pasca Konvensi PBB
Menentang Korupsi, Paper, Jakarta, 2006, him. 5 dan: Romli Atmasasmita, Strategi
Pemberantasan Korupsi Di Indonesia, Paper, Jakarta, 2006, him. 3

423
nampak adanya kriminalisasi perbuatan memperkaya diri sendiri
(illicit enrichment) dimana ketentuan Pasal 20 (United Nations
Convention Against Coruuption (UNCAC) 2003 menentukan, bahwa:
...each State Party shall consider adopting... to establish as a criminal
offence, when committed intentionally, illicit enrichment, that is, a
significant increase in the assets of a public official that he or she
cannot reasonably explain in relation to his or her lawful income".7

Selain itu, dikaji dari perspektif internasional pada dasarnya


korupsi merupakan salah satu kejahatan dalam klasifikasi White
Collar Crime dan mempunyai akibat kompleksitas serta menjadi
atensi masyarakat internasional. Konggres PBB ke-8 mengenai
"Prevention o f Crime and Treatment of Offenders" yang mengesahkan
resolusi "Corruption in Goverment" di Havana tahun 1990 meru­
muskan tentang akibat korupsi, berupa :
1. Korupsi dikalangan pejabat publik (corrupt activities o f public
official):
a. Dapat menghancurkan efektivitas potensial dari semua
jenis program pemerintah ("can destroy the potential
effectiveeness o f all types of govermental programmes")
b. Dapat menghambat pembangunan ("hinder develop­
ment").
c. Menimbulkan korban individual kelompok masyarakat
("victimize individuals and groups").
2. Ada keterkaitan erat antara korupsi dengan berbagai
bentuk kejahatan ekonomi, kejahatan terorganisasi dan
pencucian uang haram.8

7Romli Atmasasmita, Ratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang


Korupsi Dan Implikasinya Terhadap Sistem Hukum Pidana Indonesia, Paper, Jakarta, 2006,
him. 9-10 dan vide pula: Romli Atmasasmita, Desain Pemberantasan Korupsi, Paper,
Jakarta, 2006, him. 2
8Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan
Hukum Pidana, Penerbit PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998, him. 69 dan vide pula:
Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam
Penanggulangan Kejahatan, Penerbit Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007,
him. 148

424
Asumsi konteks tersebut di atas dapat ditarik suatu konklusi
dasar tindak pidana korupsi bersifat sistemik, terorganisasi,
transnasional dan multidimensional dalam arti berkorelasi dengan
aspek sistem, yuridis, sosiologis, budaya, ekonomi antar negara dan
lain sebagainya.910Oleh karena itu, tindak pidana korupsi bukan saja
dapat dilihat dari perspektif hukum pidana, melainkan dapat dikaji
dari dimensi lain, misalnya perspektif legal policy (law making policy
dan law enforcement policy), Hak Asasi Manusia (HAM) maupun
Hukum Administrasi Negara. Selintas, khusus dari perspektif
Hukum Administrasi Negara ada korelasi erat antara tindak pidana
korupsi dengan produk legislasi yang bersifat Administrative Penal
Law.w Melalui aspek sejarah kebijakan hukum pidana (criminal law
policy) maka telah ada peraturan perundang-undangan di Indonesia
selaku hukum positif (ius constitutum) yang mengatur tentang Tindak
Pidana Korupsi.11 Dikaji dari perspektif yuridis, maka tindak pidana

9RomIi Atmasasmita, Strategi Dan Kebijakan Pemberantasan ..., Op.Cit, him. 1


10Dalam konteks Hukum Pidana maka istilah Administrative Penal Law adalah
semua produk legislasi berupa perundang-undangan (dalam lingkup) Administrasi
Negara yang memiliki sanksi pidana.Tidak semua Administrative Penal Law
merupakan tindak pidana korupsi, dan untuk menentukannya sebagai tindak
pidana korupsi harus mengacu kepada ketentuan Pasal 14 UU Nomor 31 Tahun 1999
yang menentukan "Setiap orang yang melanggar ketentuan Undang-Undang yang secara
tegas menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan Undang-Undang tersebut sebagai
tindak pidan korupsi, berlaku ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini".
Ketentuan Pasal tersebut di atas memegang teguh asas Lex Specialis Systematic
Derogat Lex Generali karena melalui penafsiran secara a contrario Pasal 14
menentukan, selain Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tidak ditegaskan bahwa
pelanggaran atas ketentuan pidana dalam undang-undang lain merupakan tindak
pidana korupsi maka Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak berlaku atau tidak dapat diterapkan.
(Romli Atmasasmita, Sekitar Masalah Korupsi Aspek Nasional dan Aspek Internasional,
Penerbit CV Mandar Maju, Bandung, 2004, him. 45 dan vide: Indriyanto Seno Adjie,
"Kendala Administrative Penal Law Sebagai Tindak Pidana Korupsi & Pencucian Uang",
Paper, Jakarta, 2007, hlm.5 serta: Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana,
Penerbit Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2002, him. 40, Lilik
Mulyadi, Asas Pembalikan Beban Pembuktian Terhadap Tindak Pidana Korupsi Dalam
Sistem Hukum Pidana Indonesia Pasca Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi
2003, Penerbit Alumni, Bandung, 2007, him. 6)
-Hukum Positif (ius constitutum) yang mengatur tentang Tindak Pidana Korupsi
antara lain berupa Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Kemudian Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak

425
korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crimes)
sebagaimana dikemukakan Romli Atmasasmita, bahwa:
"Dengan memperhatikan perkembangan tindak pidana korupsi, baik
dari sisi kuantitas maupun dari sisi kualitas, dan setelah mengkajinya
secara mendalam, maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa
korupsi di Indonesia bukan merupakan kejahatan biasa (ordinary
crimes) melainkan sudah merupakan kejahatan yang sangat luar biasa
(extra-ordinary crimes). Selanjutnya jika dikaji dari sisi akibat atau
dampak negatif yang sangat merusak tatanan kehidupan bangsa
Indonesia sejak pemerintahan Orde Baru sampai saat ini, jelas bahwa
perbuatan korupsi merupakan perampasan hak ekonomi dan hak sosial
rakyat Indonesia.12

Secara gradual Sistem Hukum Pidana Indonesia (SHPI) meliputi


hukum pidana materiil dan hukum pidana formal. Hukum pidana
materiil terdapat dalam KUHP maupun di luar KUHP. Kemudian
hukum pidana formal bersumber pada UU Nomor 8 Tahun 1981
tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Oleh karena itu, tindak pidana umum dalam KUHP maupun tindak
pidana khusus di luar KUHP sebagaimana halnya tindak pidana
korupsi mengenal hukum pembuktian. Secara teoretis asasnya Ilmu
Pengetahuan Hukum Acara Pidana mengenal 3 (tiga) teori tentang
sistem pembuktian, yaitu berupa: Kesatu, Sistem Pembuktian menurut
Undang-Undang Secara Positif (Positief Wettelijke Bewijs Theorie) dengan
tolok ukur sistem pembuktian tergantung kepada eksistensi alat-alat
bukti yang secara limitatif disebut dalam UU. Singkatnya, UU telah
menentukan adanya alat-alat bukti mana dapat dipakai hakim, cara
bagaimana hakim harus mempergunakannya, kekuatan alat-alat

Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20


Tahun 2001 tentang Pembahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 71 Tahun 2000, Keppres Nomor 11 Tahun 2005, Inppres Nomor 5 Tahun
2004 dan lain sebagainya.
12Romli Atmasasmita, Korupsi, Good Governance Dan Komisi Anti Korupsi Di
Indonesia, Penerbit Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan
HAM RI, Jakarta, 2002, him. 25 dan vide pula: Mien Rukmini, Aspek Hukum Pidana
dan Kriminologi (Sebuah Bunga Rampai), Penerbit PT Alumni, Bandung, 2006, him. Ill

426
bukti tersebut dan bagaimana caranya hakim harus memutus
terbukti atau tidaknya perkara yang sedang diadili. Kedua, Sistem
Pembuktian Menurut Keyakinan Hakim polarisasinya hakim dapat
menjatuhkan putusan berdasarkan "keyakinan" belaka dengan tidak
terikat oleh suatu peraturan. Ketiga, Sistem Pembuktian menurut
Undang-undang Secara Negatif (Negatief Wettelijke Bewijs Theorie) yaitu
hakim hanya boleh menjatuhkan pidana kepada terdakwa apabila
alat bukti tersebut secara limitatif ditentukan UU dan didukung pula
adanya keyakinan hakim terhadap eksistensinya alat-alat bukti yang
bersangkutan.
Ketentuan hukum positif Indonesia tentang tindak pidana
korupsi diatur dalam UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20
Tahun 2001. Pada UU tersebut maka ketentuan mengenai
pembuktian perkara korupsi terdapat dalam Pasal 12B ayat (1) huruf
a dan b, Pasal 37, Pasal 37 A dan Pasal 38B. Apabila dicermati maka
UU tindak pidana korupsi mengklasifikasikan pembuktian menjadi 3
(tiga) sistem. Pertama, pembalikan beban pembuktian13 dibebankan
kepada terdakwa untuk membuktikan dirinya tidak melakukan
tindak pidana korupsi. Pembalikan beban pembuktian ini berlaku
untuk tindak pidana suap menerima gratifikasi yang nilainya sebesar
Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta) rupiah atau lebih (Pasal 12B ayat (1)
huruf a) dan terhadap harta benda yang belum didakwakan yang
ada hubungannya dengan tindak pidana korupsi (Pasal 38B). Apabila
mengikuti polarisasi pemikiran pembentuk UU sebagai kebijakan
legislasi, ada beberapa pembatasan yang ketat terhadap penerapan
pembalikan beban pembuktian dikaitkan dengan hadiah yang wajar
bagi pejabat. Pembatasan tersebut berorientasi kepada aspek hanya
diterapkan kepada pemberian (gratifikasi) dalam delik suap,
pemberian tersebut dalam jumlah Rp. 10.000.000,00 atau lebih,
berhubungan dengan jabatannya (in zijn bediening) dan yang
melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan kewajiban (in strijd
met zijn ylicht) dan harus melapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK). Kedua, pembalikan beban pembuktian yang bersifat semi

13Ada beberapa terminologi untuk menyebutkan asas pembalikan beban pembuktian


atau pembuktian terbalik (Indonesia) yaitu Shifting o f burden o f proof atau Reversal
burden o f proof (Inggris), Omkering van de bewijslast (Belanda), dan Onus o f P roof (Latin)

427
terbalik atau berimbang terbalik dimana beban pembuktian
diletakkan baik terhadap terdakwa maupun Jaksa Penuntut Umum
secara berimbang terhadap obyek pembuktian yang berbeda secara
berlawanan (Pasal 37A). Ketiga, sistem konvensional dimana
pembuktian tindak pidana korupsi dan kesalahan terdakwa
melakukan tindak pidana korupsi dibebankan sepenuhnya kepada
Jaksa Penuntut Umum. Aspek ini dilakukan terhadap tindak pidana
suap menerima gratifikasi yang nilainya kurang dari Rp.
10.000.000,00 (sepuluh juta) rupiah (Pasal 12B ayat (1) huruf b) dan
tindak pidana korupsi pokok.
SHPI khususnya terhadap beban pembuktian dalam tindak
pidana korupsi secara normatif mengenal asas pembalikan beban
pembuktian yang ditujukan terhadap kesalahan orang (Pasal 12 B ayat
(1), Pasal 37 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001)
dan kepemilikan harta kekayaan pelaku tindak pidana korupsi (Pasal 37A,
Pasal 38 B UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001).
Secara kronologis pembalikan beban pembuktian bermula dari
sistem pembuktian yang dikenal dari negara penganut rumpun
Anglo-Saxon terbatas pada "certain cases" khususnya terhadap
tindak pidana "gratification" atau pemberian yang berkorelasi dengan
"bribery" (suap), misalnya seperti di United Kingdom of Great
Britain, Republik Singapura dan Malaysia. Di United Kingdom
of Great Britain atas dasar "Prevention of Corruption Act 1916"
terdapat pengaturan apa yang dinamakan "Praduga korupsi untuk
kasus-kasus tertentu" (Presumption of corruption in certain cases) yang
redaksional berbunyi sebagai berikut:
"where in any proceeding against a person for an offence under the
Prevention of Corruption Act 1906, or the Public Bodies Corrupt
Practices Act 1889, it is proved that any money, gift, or other
considerations has been paid or given to or received by a person in the
employment o f His Majesty or any Government Department or a
public body by or from a person, or agent o f a person, holding or
seeking to obtain a contract from His Majesty or any Goverment
Department or public body, the money, gift, or consideration shall be
deemed to have been paid or given and received corruptly as such

428
inducement or reward as in mentioned in such Act unless the contrary
is proved".u

Di Malaysia atas dasar Pasal 42 Akta Pencegahan Rasuah 1997


("Anti Corruption Act 1997 (Act 575)") yang mulai berlaku sejak
tanggal 8 Januari 1998 menentukan :
"Where in any proceeding against any person for an offence under
section 10,11,13, 14 or 15 it is proved that any gratification has been
accepted or agreed to be acepted, obtained, or attempted to be obtained,
solicited, given or agreed to be given, promised or offered by or to the
accused, the gratification shall be presumed to have been corruptly
accepted or agreed to be accepted, obtained or attempted to be obtained,
solicited, given or agreed to be given, promised, or offered as an
inducement or a reward for or on account o f the matters set out in the
particulars of the offence, unless the contrary is proved."1415

Berikutnya di Singapura, atas dasar "Prevention of Corruption


Act (Chapter 241)" ditegaskan pula sebagai berikut:
"Where in any proceeding against a person for an offence under
section 5 or 6, it is proved that any gratification has been paid or given
to or received by a person in the employment of the Goverment or any
department there of or of a public body by or from a person or agent o f a
person who has or seeks to have any dealing with the Goverment or any
department there of or any public body, that grafitication shall be
deemed to have been paid or given and received corruptly as a
inducement or reward as herein before mentioned unless the contrary is
proved".16

14MuIadi, Sistem Pembuktian Terbalik (Omkering van Bewijslast atau Reversel Burden
o f Proof atau Shifting Burden o f Proof), Majalah Varia Peradilan, Jakarta, Juli 2001, him.
122
15Andi Hamzah, Perbandingan Pemberantasan Korupsi di Berbagai Negara, Penerbit
Sinar Grafika, Jakarta, 2005, him. 53
16Muladi, Sistem Pembuktian ....., Op. Cit., him. 123 dan vide pula: M. Akil
Mochtar, Memberantas Korupsi Efektivitas Sistem Pembalikan Beban Pembuktian Dalam
Gratifikasi, Penerbit Q-Communication, Jakarta, 2006, him. 31

429
Keluarnya UU Nomor 20 Tahun 2001 maka pembalikan beban
pembuktian dikenal juga dalam rumpun hukum Eropa Kontinental
seperti Indonesia. Secara eksplisit ketentuan Pasal 12 B UU Nomor 20
Tahun 2001 selengkapnya berbunyi sebagai berikut:
(1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
dianggap pemberian suap apabila berhubungan dengan jabatannya dan
yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan
sebagai berikut:
a. yang nilainya Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih,
pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap
dilakukan oleh penerima gratifikasi ;
b. yang nilainya kurang dari Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah), pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan
oleh penuntut umum.
(2) Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) adalah pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua
puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah).

Eksistensi pembalikan beban pembuktian dari perspektif


kebijakan legislasi dikenal dalam tindak pidana korupsi sebagai
ketentuan yang bersifat "premium remidium" dan sekaligus
mengandung prevensi khusus. Tindak pidana korupsi sebagai extra
ordinary crimes yang memerlukan extra ordinary enforcement dan extra
ordinary measures maka aspek krusial dalam kasus-kasus tindak
pidana korupsi adalah upaya pemenuhan beban pembuktian dalam
proses yang dilakukan aparat penegak hukum. Dimensi ini diakui
Oliver Stolpe bahwa:
"One of the most difficult issues facing prosecutors in large-scale
corruption cases is meeting the basic burden of proof when prosecuting
offenders and seeking to recover proceeds."17

17OHver Stolpe, Meeting the burden o f proof in corruption-related legal proceedings,


unpublished, him. 1

430
Ditetapkannya pembalikan beban pembuktian maka menjadi
beralih beban pembuktian (shifting of burden proof) dari Jaksa
Penuntut Umum kepada terdakwa. Akan tetapi, walaupun
pembalikan beban pembuktian dilarang terhadap kesalahan/
perbuatan orang dan keseluruhan delik korupsi akan tetapi secara
normatif diperbolehkan terhadap gratifikasi delik penyuapan dan
perampasan harta kekayaan pelaku tindak pidana korupsi. Dalam
praktik hal ini telah diterapkan Pengadilan Tinggi Hongkong (Court
of Appeal of Hong Kong) berdasarkan ketentuan Pasal 11 ayat (1) Hong
Kong Bill of Rights Ordinance 1991.18 Apabila dikaji secara selayang
pandang dimensi filosofis mengapa kebijakan legislasi menerapkan
adanya eksistensi pembalikan beban pembuktian dalam tindak
pidana korupsi disebabkan ada kesulitan dalam SHPI untuk
melakukan pembuktian terhadap perampasan harta kekayaan pelaku
(offender) apabila dilakukan dengan mempergunakan teori
pembuktian negatif. Akibatnya, diperlukan ada aspek yuridis luar
biasa dan perangkat hukum luar biasa pula berupa sistem
pembalikan beban pembuktian sehingga tetap menjungjung tinggi

18Putusan Pengadilan Tinggi (PT) Hong Kong Nomor 52 Tahun 1995 tanggal 3
April 1995 antara Attorney-General o f Hong Kong v Hui Kin Hong menyatakan
ketentuan Pasal 10 ayat (1) huruf a Ordonansi Pencegahan Penyuapan Bab 201
(Section 10 o f the Prevention o f Bribery Ordinance o f Hong Kong) meletakkan beban
pembuktian kepada terdakwa Hui Kin Hong tidak melakukan korupsi. PT Hong
Kong berpendapat sebelum terdakwa dipanggil membuktikan asal usul kekayaan
yang jauh melebihi penghasilannya maka penuntut umum harus membuktikan
terlebih dahulu secara "beyond reasonable doubt", tentang status Hui Kin Hong
sebagai pembantu ratu tersebut, standart hidup bersangkutan selama penuntutan
dan total penghasilan resmi yang diterima selama itu, dan juga harus dapat
membuktikan bahwa kehidupan yang bersangkutan tidak dapat dijangkau oleh
penghasilannya itu. Apabila penuntut umum dapat membuktikan seluruhnya, maka
kewajiban terdakwa menjelaskan bagaimana dapat hidup mampu dengan kekayaan
yang ada, atau bagaimana kekayaannya tersebut berada di bawah kekuasaannya
untuk mendapatkan ketidakwajaran sumber keuangan tersebut. Apabila
pembuktian tersebut telah dilakukan maka PT Hong Kong harus memutuskan
apakah hal-hal tersebut dapat diperhitungkan sebagai standart hidup yang
berlebihan atau sebagai sumber keuangan yang tidak sepadan dengan harta
bendanya. PT Hong Kong berpendapat proses acara itu tidak bertentangan Pasal 11
ayat (1) UU HAM Hong Kong (Articel HHong Kong Bill o f Rights Ordinance Nomor 59
Tahun 1991) karena terdakwa sudah diberikan haknya untuk menjelaskan tentang
asal usul kepemilikan harta kekayaannya dan juga penuntut umum sudah
diwajibkan untuk membuktikan hal-hal tersebut, sistem pembuktian seperti ini,
disebut sistem "balanceprobabilities".

431
asas praduga tidak bersalah (presumption of innocencel19 dengan tetap
memperhatikan Hak Asasi Manusia (HAM), dan juga tetap
memperlakukan sistem pembuktian beyond, reasonable doubt.
Pada hakikatnya, pembalikan beban pembuktian dalam perkara
Tindak Pidana Korupsi di Indonesia yang diatur dalam ketentuan
Pasal 12B, 37 dan 37A, 38B UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor
20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi,
menimbulkan problematika. Pertama, ketentuan Pasal 12B UU Nomor
31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 salah susun karena
keseluruhan delik tidak ada disisakan untuk pembalikan beban
pembuktian. Kedua, ketentuan Pasal 37 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo
UU Nomor 20 Tahun 2001 senyatanya bukanlah pembalikan beban
pembuktian oleh karena ketentuan tersebut semata-mata adalah hak
sehingga ada tidaknya pasal itu tidak akan berpengaruh terhadap
pembuktian yang dilakukan terdakwa. Krusial dapat dikatakan,
walaupun norma Pasal 37 tidak dicantumkan dalam UU Tindak
Pidana Korupsi terdakwa tetap melakukan pembelaan diri terhadap

19Asas praduga tidak bersalah atau presumption o f innocence (Inggris), presumption de


innocence (Perands), presumptie van onschuldig (Belanda) diatur ketentuan Pasal 8 UU
Nomor 4 Tahun 2004, Penjelasan Umum angka 3 huruf c KUHAP, Pasal 18 ayat (1)
UU Nomor 39 Tahun 1999. Dalam Bab XA UUD 1945 beserta Perubahannya tidak
mencantumkan secara tegas asas ini seperti ketentuan Pasal 14 ayat (1) Konstitusi
RIS 1949 dan UUDS 1950 yang berbunyi, "Setiap orang yang dituntut karena
disangka melakukan sesuatu peristiwa pidana berhak dianggap tak bersalah, sampai
dibuktikan kesalahannya dalam suatu sidang pengadilan, menurut aturan-aturan
hukum yang berlaku dan ia dalam sidang itu diberikan segala jaminan yang telah
ditentukan dan yang perlu untuk pembelaan." Pasal 14 ayat (2) International Covenant
on Civil and Political Rights 1966 (ICCPR) menyebutkan, "Everyone charged with a
criminal offence shall have the right to be presumed innocent until proved guilty according to
law". Pasal 6 ayat (2) Convention for the Protection of Human Rights and
Fundamental Freedoms, Pasal 40 ayat (2) huruf (b) (i) Convention on the Rights of
the Child, Pasal 75 ayat (2) huruf (d) Protocol Additional to the Geneva Conventions
of 12 August 1949, and relating to the Protections of Victims of International Armed
Conflict, Pasal 17 ayat (2) huruf (c) (i) African Charter on the Rights and Welfare of
the Child, Pasal 8 ayat (2) American Convention of Human Rights, Pasal XXVI
American Declaration of the Rights and Duties of Man, dan Pasal 39 Magna Carta
1215. Eksistensi asas ini dari perspektif sejarah sudah dikenal sejak tahun 1010 dalam
dekrit Bishop (Pendeta) Burchard van Worm, Bagian XVI-C6, kemudian dekrit Paus
Hadrianus menyebutkan, "Tidak seorangpun dari pihak yang berperkara dapat
dituduh sebagai orang yang merugikan, sebelum terlebih dahulu ada pemeriksaan
yang membuktikannya bersalah, berdasarkan pengakuannya dan pernyataan para
saksi yang cukup kuat untuk membuktikan kesalahannya, sehingga dihasilkan
keputusan yang tetap yang menyatakan bahwa terdakwa terbukti bersalah."

432
dakwaan yang dituduhkan kepada dirinya. Berikutnya, apabila
ketentuan Pasal 37 dimaksudkan pembentuk UU sebagai pembalikan
beban pembuktian maka hal ini berhubungan dengan kesalahan
(mens rea) yang bertitik tolak asas praduga bersalah dan asas
mempersalahkan diri sendiri. Padahal dalam tindak pidana korupsi
pokok selain gratifikasi haruslah mempergunakan asas praduga
tidak bersalah dan kewajiban membuktikan tetap dibebankan kepada
Jaksa Penuntut Umum. Ketiga, pembalikan beban pembuktian
terhadap harta benda terdakwa yang belum didakwakan (Pasal 38B)
hanya dapat dijatuhkan terhadap tindak pidana pokok (Pasal 37A
ayat (3)) dan tidak dapat dijatuhkan terhadap gratifikasi sesuai
ketentuan Pasal 12B ayat (1) huruf a UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU
Nomor 20 Tahun 2001. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa khusus
terhadap gratifikasi Pasal 12B ayat (1) huruf a UU Nomor 31 Tahun
1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 maka Jaksa Penuntut Umum tidak
dapat melakukan perampasan harta pelaku yang diduga melakukan
tindak pidana korupsi. Begitu juga sebaliknya terdakwa tidak
dibebankan melakukan pembalikan beban pembuktian terhadap asal
usul hartanya. Keempat, pasca berlakunya KAK 2003 maka
pembalikan beban pembuktian ditujukan dalam konteks keperdataan
(civil procedure) untuk mengembalikan harta pelaku yang diakibatkan
dari perbuatan korupsi.

B. POLITIK HUKUM KEBIJAKAN LEGISLASI PEMBALIKAN


BEBAN PEMBUKTIAN DALAM UNDANG-UNDANG
TINDAK PIDANA KORUPSI INDONESIA
Dikaji dari aspek kebijakan legislasi dalam UU pemberantasan
tindak pidana korupsi Indonesia terhadap pembalikan beban
pembuktian sampai dengan sebelum tahun 1960 tidak mengatur
pembalikan beban pembuktian dalam peraturan perundang-
undangan korupsi disebabkan perspektif kebijakan legislasi
memandang perbuatan korupsi sebagai delik biasa sehingga
penanggulangan korupsi cukup dilakukan secara konvensional dan
tidak memerlukan perangkat hukum yang luar biasa (extra ordinary
measures).

433
S e l a n ju tn y a k e b ija k a n le g is la s i p e m b a l i k a n b e b a n p e m b u k t i a n
m u la i te r d a p a t d a la m U U N o m o r 2 4 T a h u n 1 9 6 0 te n ta n g P e n g u s u ta n ,
P e n u n tu ta n dan P e m e rik s a a n T in d a k P id a n a K o ru p s i. K e te n tu a n
N o m o r 2 4 T a h u n 1 9 6 0 m e n y e b u t k a n , "Setiap
P a s a l 5 a y a t (1 ) U U
tersangka wajib memberi keterangan tentang seluruh harta bendanya dan
harta benda isteri/suami dan anak dan harta benda sesuatu badan hukum
yang diurusnya, apabila diminta oleh Jaksa". S u b s ta n s i p a s a l in i
m e w a jib k a n te rs a n g k a m e m b e rik a n k e te ra n g a n te n ta n g s e lu ru h h a rta
b e n d a n y a a p a b ila d i m i n t a o le h J a k s a . K o n s e k u e n s i n y a , t a n p a a d a
p e rm in ta a n d ari Jak sa m aka te rsa n g k a tid a k m em punyai
k e se m p a ta n u n tu k m em b eri k e te ra n g a n te n ta n g se lu ru h h a rta
bendanya.

K e b ija k a n le g is la s i d a la m UU N om or 3 T ahun 1971 se ca ra


e k s p lis it t e la h m e n g a t u r p e m b a l i k a n b e b a n p e m b u k t i a n . K e t e n t u a n
P a sa l 1 7 U U N o m o r 3 T a h u n 1 9 7 1 , se le n g k a p n y a b e rb u n y i seb ag ai
b e r ik u t:
(1) Hakim dapat memperkenankan terdakwa untuk kepentingan
pemeriksaan memberikan keterangan tentang pembuktian bahwa
ia tidak bersalah melakukan tindak pidana korupsi
(2 ) Keterangan tentang pembuktian yang dikemukakan oleh terdakwa
bahwa ia tidak bersalah seperti dimaksud dalam ayat (1) hanya
diperkenankan dalam hal :
a. apabila terdakwa menerangkan dalam pemeriksaan, bahwa
perbuatannya itu menurut keinsyafan yang wajar tidak
merugikan keuangan atau perekonomian negara atau
b. apabila terdakwa menerangkan dalam pemeriksaan, bahwa
perbuatannya itu dilakukan demi kepentingan umum.
(3 ) Dalam hal terdakwa dapat memberikan ketera