Anda di halaman 1dari 7

Pemeriksaan Makroskopis, Kimia dan Mikroskopis

Cairan Otak(Liquor Cerebro Spinalis)/ LCS

Liquor cerebrospinalis (LCS) adalah cairan jernih yang menyelimuti


susunan saraf pusat yang menggenangi otak dan medula spinalis. Otak
memproduksi sekitar 500 mL LCS per hari yang kemudian akan diserap kembali
sehingga hanya dapat ditemukan sebanyak 100-160 mL. Pemeriksaan yang
dilakukan pada cairan otak, adalah pemeriksaan makroskopis pemeriksaan kimia,
serta pemeriksaan mikroskopis.

1. Pemeriksaan Makroskopis Cairan Otak

A. Tujuan
1.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami cara pemeriksaan makroskopis pada
cairan otak.
1.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan makroskopis pada
cairan otak
b. Mahasiswa dapat melakukan menginterpretasikan hasil
pemeriksaan makroskopis pada cairan otak

B. Metode
Pengamatan langsung secara makroskopis pada sampel cairan otak

C. Prinsip
Hasil pengamatan pada sampel cairan otak dibandingkan dengan cairan otak
yang normal, kemudian diinterpretasikan

D. Alat dan Bahan


Alat
 Tabung kecil diameter 7 mm
 Pipet ukur 1 ml
 Ball pipet
 Pipet tetes
 Stopwatch
 Gelas arloji

Bahan
 Sampel cairan otak
E. Cara Kerja
Amati sampel caiaran otak secara makroskopis

F. Interpretasi Hasil

No Parameter Penilaian Normal


1. Warna Tidak berwarna, Kuning muda, Tidak berwarna
Kuning, Kuning tua, Kuning coklat,
merah, hitam coklat
2. Kejernihan Jernih, agak keruh, keruh, sangat Jernih
keruh, keruh kemerahan
3. Bekuan Tidak ada bekuan, ada bekuan Tidak ada bekuan
4. pH 7,3 atau setara dengan pH
plasma/serum
5. BJ 1.000 – 1.010 1.003 – 1.008

Hal yang perlu diperhatikan :


 Warna
Normal warna LCS tampak jernih, wujud dan viskositasnya sebanding air.
 Merah muda → perdarahan trauma akibat pungsi
 Merah tua atau coklat → perdarahan subarakhnoid akibat hemolisis dan
akan terlihat jelas sesudah disentrifuge
 Hijau atau keabu-abuan → pus
 Coklat → terbentuknya methemalbumin pada hematoma subdural kronik
 Xanthokromia → (kekuning-kuningan) pelepasan hemoglobin dari
eritrosit yang lisis (perdarahan intraserebral/subarachnoid); juga
disebabkan oleh kadar protein tinggi (> 200 mg/dl)

 Kekeruhan
Normal → tidak ada kekeruhan atau jernih. Walaupun demikian LCS yang
jernih terdapat juga pada meningitis luetika, tabes dorsalis, poliomyelitis,
dan meningitis tuberkulosa.
Keruh → ringan seperti kabut mulai tampak jika :
– lekosit 200-500/ul3
– eritrosit > 400/ml
– mikroorganisme (bakteri, fungi, amoeba)
– aspirasi lemak epidural sewaktu dilakukan pungsi
– media kontras radiografi.
 Konsistensi bekuan
– Bekuan banyak darah masuk
– Normal → tidak terlihat bekuan
– Bekuan → banyaknya fibrinogen yang berubah menjadi fibrin.
Disebabkan: trauma pungsi, meningitis supurativa, atau meningitis
tuberkulosa.
Jendalan sangat halus à LCS didiamkan di dalam almari es selama 12-24
jam.

G. Dasar Teori

1. Pemeriksaan Kimia Cairan Otak (Pemeriksaan None-Apelt dan Pandy)

A. Tujuan
1.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami cara pemeriksaan None-Apelt dan Pandy
pada cairan otak.
1.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan None-Apelt dan Pandy
untuk mengetahui kenaikan kadar globulin dan albumin pada
sampel LCS (Liquior Cerebro Spinalis)
b. Mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil pemeriksaan None-
Apelt dan Pandy pada cairan otak.

B. Metode
2.1 Metode pemeriksaan None adalah none-apelt
2.2 Metode pemeriksaan Pandy adalah pandy

C. Prinsip
3.1 Pemeriksaan None-Apelt
Reagen Nonne memberikan reaksi terhadap protein globulin dalam
bentuk kekeruhan yang berupa cincin. Ketebalan cincin berhubungan
dengan kadar globulin, makin tinggi kadarnya maka cincin yang
terbentuk makin tebal.
3.2 Pemeriksaan Pandy
Reagen pandy memberikan reaksi terhadap protein (albumin dan
globulin) dalam bentuk kekeruhan. Pada keadaan normal tidak terjadi
kekeruhan atau kekeruhan yang ringan seperti kabut.
D. Alat dan Bahan
Alat:
 Tabung kecil diameter 7 mm
 Pipet ukur 1 ml
 Ball pipet
 Pipet tetes
 Stopwatch
 Gelas arloji
Bahan
1. Reagen nonne : Larutan (NH4)2SO4 jenuh
2. R 1 : 85 g (NH4)2SO4 netral dilarutkan dalam 100 ml aquadest
dipanaskan pada suhu 90ºC, dibiarkan beberapa hari
3. Reagen Pandy
 Fenol kristal : 10 g
 Aquadest : 100 ml
 Dikocok, diinkubasi pada suhu 37ºC selama beberapa hari,
reagen harus sering dikocok

E. Cara Kerja
1. Pemeriksaan None-Apelt
- Tabung serologi diisi dengan 1 ml larutan ammonium
sulfat jenuh
- Dituang 0,5 ml LCS dengan cara pelan-pelan lewat
dinding tabung sehingga terbentuk 2 lapisan, di mana
lapisan atas adalah LCS
- Diamkan selama 3 menit
- Kemudian dilihat pada perbatasan kedua lapisan dengan
latar belakang gelap
2. Pemeriksaan Pandy
- Gelas arloji diisi dengan 1 ml reagen Pandy
- Ditetesi dengan 1 tetes LCS
- Kemudian dilihat segera ada tidaknya kekeruhan

F. Interpretasi hasil dan Nilai Rujukan


1. Pemeriksaan None-Apelt
Negatif : tidak terbentuk cincin putih
+1 : terbentuk cincin putih sangat tipis, hanya dapat
dilihat dengan atar belakang hitam, bila dikocok akan
kembali jernih
+2 : cincin putih tampak agak jelas, bila dikocok cairan
jadi opalescent
+3 : cincin putih tampak jelas, bila dikocok jadi keruh
+4 : cincin putih sangat jelas, bila dikocok cairan menjadi
keruh sekali

2. Pemeriksaan Pandy
Negatif : bila tidak terjadi kekeruhan (berkabut/ opalescent)
+1 : opalescent (kadar protein 50-100 mg%)
+2 : keruh (kadar protein 100-300 mg%)
+3 : sangat keruh (kadar protein 300-500 mg%)
+4 : Keruh seperti susu (kadar protein > 500 mg%)

3. Pemeriksaan Mikroskopis Cairan Otak (Pemeriksaan None-Apelt dan


Pandy)

A. Tujuan
1.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami cara hitung jumlah dan jenis sel pada
cairan otak.
1.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan cara hitung jumlah dan
jenis sel pada sampel cairan otak untuk mengetahui jumlah sel serta
dapat membedakan jenis sel mononuklear dan polinuklear dalam
cairan otak.
b. Mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil pemeriksaan
mikroskopis pada cairan otak.

B. Metode
Metode yang digunakan dalam menghitung jumlah dan jenis sel pada cairan
otak adalah bilik hitung/ kamar hitung Improved Neubaure.

C. Prinsip
Liquor Cerebro Spinalis diencerkan dengan larutan turk pekat akan ada sel
leukosit dan sel lainnya akan lisis dan dihitung selnya dalam kamar hitung
di bawah mikroskop.

D. Alat dan Bahan


Alat
 Pipet thoma leukosit
 Kamar hitung Improved Neubauer
 Glass beaker
 Mikroskop
Bahan
 Sampel cairan otak
 Reagen larutan turk pekat (turk rosental)
 Aquadest
 Tissue
E. Cara Kerja
Syarat pemeriksaan :
Dilakukan dlm waktu < 30’, karena bila > 30’ jml sel akan berkurang yang
disebabkan:
- Sel mengalami sitolisis
- Sel akan mengendap, shg sulit mendapat sampel yang homogen
- Sel terperangkap dalam bekuan
- Sel cepat mengalami perubahan morfologi
Jenis Pemeriksaan:
a. Hitung Jumlah Sel
b. Hitung Jenis Sel
c. Bakterioskopi
Cara kerja:
1. Cairan otak yang diperiksa dikocok dahulu agar homogen
2. Larutan turk dihisap sampai angka 1
3. Larutan cairan otak dihisap sampai angka 11
4. Dikocok perlahan selama lebih kurang 3 menit dengan
menggerakkan pipet tegak lurus sumbu panjang pipet
5. Lalu dibuang 3 tetes cairan pertama
6. Diteteskan pada bilik hitung Improved Neubauer
7. Dibiarkan selama 5 menit agar sel mengedap
8. Dihitung sel dalam kamar hitung pada semua kotak leukosit di
mikroskop lensa objektif 10x/ 40x serta dihitung jenis selnya
(hitung dalam 3 kamar hitung, kemudian kalikan 3)
Dengan perhitungan: Jumlah sel/ mm3 = 10/9 X N sel/ mm3

F. Interpretasi Hasil
 Hitung Jumlah Sel
Normal = 0-5/ mm3
Borderline = 6-10/ mm3
Abnormal = > 10/ mm3
Anak -anak umur < 5 tahun, Normal = < 20/ mm3
 Hitung Jenis Sel
MN 100% dan PMN 0%