Anda di halaman 1dari 8

Pembahasan

Uji widal (widal test) adalah salah satu metode yang memanfaatkan imunologi
untuk membantu diagnosis demam tifoid, dengan reaksi aglutinasi antigen dan antibodi.
Hasilnya dinyatakan dalam positif dan negative yang menandakan adanya titer yang
terbentuk sesuai antigen dalam serum dengan antibodi pada reagen yang bereaksi secara
aglutinasi (Sudibya, 2017).

Uji widal merupakan uji aglutinasi yang menggunakan suspensi bakteri


Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi sebagai antigen untuk mendeteksi terhadap
antibodi Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi di dalam serum penderita. Dimana
sampel yang digunakan pada uji typoid adalah serum darah (Kalma et al, 2014).

Widal adalah tes yang mengggunakan antigen Salmonella jenis O (somatic) dan
H (Flagella) untuk menentukan tinggi rendahnya titer antibodi pada penderita infeksi tifus
akan meningkat pada minggu II. Titer antibodi O, akan menurun pada beberapa bulan,
dan titer antibodi H akan menetap sampai beberapa tahun (2 tahun). Titer antibodi O
meningkat segera setelah demam, menunjukan adanya infeksi Salmonella strain O,
demikian juga untuk serum H (Kalma et al, 2014).

Uji Widal dapat pula dilakukan dengan menggunakan metode tabung dan metode
slide. Uji Widal metode slide dapat dikerjakan lebih cepat dibandingkan dengan metode
tabung, tetapi ketepatan dan spesifitas metode tabung lebih baik dari metode slide
(Mokoginta, dkk., 2002). Metode Widal juga memiliki keterbatasan dengan adanya hasil
positif palsu dan negatif palsu, selain itu memiliki spesifitas yang agak rendah (Sabir,
dkk., 2003). Pada metode slide adanya hasil positif palsu dan negatif palsu dapat pula
dipengaruhi karena pada saat melakukan pemipetan kadang kala cara memipet serum dan
reagenya tidak tepat selain itu, pemeriksaan serologi widal tergantung pada waktu
pengambilan spesimen dan kenaikan titer aglutinin terhadap antigen. Kenaikan titer
antibodi tes serologi widal pada umumnya paling baik pada minggu ke dua dan ketiga,
yaitu 95,7%, sedangkan kenaikan titer pada minggu pertama adalah hanya 85,7%.
Pemeriksaan tes serologi widal menentukan dua kali pengambilan spesimen, yaitu pada
masa akut dan masa konvalesen dengan interval waktu 10-14 hari ( Levine, dkk., 1978).
Berdasarkan SOP (standar operasional prosedur) dalam pemeriksaan uji widal
untuk memipet atau mengukur besar sampel dalam pemeriksaan atau volume sampel itu
harus menggunakan mikropipet. Karena mikropipet ketelitiannya lebih tinggi dalam
mengukur besar sampel atau memipet besar sampel dibandingkan dengan pipet tetes.
Mikropipet juga mempunyai ukuran dalam pengambilan sampel yaitu ukuran 20µl, 10µl
dan 5µl sedangkan pipet tetes tidak mempunyai ukuran dalam pengambilan sampel.
Seiring dengan perkembangan, pengunaan alat-alat medis mulai mengalami perubahan
terutama pada penggunaa pipet tetes yang diganti dengan mikropipet untuk meningkatkan
keakuratan dalam proses pepipetan. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan kalau
penggunaan pipet tetes tidak digunakan lagi. Penggunaan pipet tetes yang masih dapat
kita temukan yaitu salah satunya di puskesmas (Sudibya, 2017).

Uji widal pertama kali ditemukan oleh Grunbaum dan Georges Fernand Isidore
Widal pada tahun 1896. Grunbaum dan Widal berusaha menentukan kuantitas antibodi
di serum pasien demam tifoid. Metode yang dipelopori oleh Grunbaum dan Widal ini
masih bertahan sampai kini dan telah dikembangkan tidak hanya untuk demam tifoid
tetapi bisa pula untuk penyakit lain (Benson, 1998).

Uji widal dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap Salmonella typhi. Pada uji
widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen Salmonella typhi dengan antigen yang
disebut aglutinin. Antigen yang digunakan adalah suspensi Salmonella yang sudah
dimatikan dan diolah dilaboratorium. Uji widal merupakan uji aglutinasi yang
menggunakan suspensi kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi sebagai
antigen untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap Salmonella typhi atau Salmonella
paratyphi di dalam serum penderita (Kalma et al, 2014).

Tes widal adalah tes yang menggunakan antigen Salmonella jenis O (somatic) dan
H (Flagella) untuk menetukan tinggi rendahnya titer antibodi titer antibodi pada penderita
infeksi tifus akan meningkat pada minggu ke 2. Titer antibodi O akan menurun setelah
beberapa bulan, dan titer antibodi H akan menetap sampai beberapa tahun (2 tahun). Titer
antibodi O meningkat setelah demam, menunjukan adanya infeksi Salmonella strain O,
demikian juga untuk H (Kalma et al, 2014).
Maksud uji widal adalah untuk menetukan adanya aglutinin dalam serum
penderita tersangka demam tifoid yaitu :

a. Antigen H (antigen flagela) Dibuat dari stain Salmonella typhi yang motil dengan
permukaan koloni yang licin. Kuman di matikan dengan larutan formalin 0,1%.

b. Antigen O (antigen somatik) Dibuat dari strain Salmonella typhi yang tidak motil.
Untuk membunuh kuman dipakai alkohol absolut dan sebagai pengawet di pakai larutan
phenol 0,5%. Sebelum dipakai konsentrasi alkohol harus diencerkan sampai menjadi
12%.

c. Antigen AH (paratyphi A) Dibuat dari strain Salmonella paratyphi A. Untuk


membunuh kuman dipakai formalin 0,1%.

d. Antigen BH (S. paratyphi B) Dibuat dari strain Salmonella paratyphi B. Untuk


membunuh kuman dipakai formalin 0,1% (Handojo, 2014).

Demam tifoid hanya menggunakan aglutinin O dan H untuk diagnosis. Semakin


tinggi titernya, semakin besar kemungkinan terinfeksi kuman ini. Pada fase akut mula-
mula timbul aglutinin O, kumudian diikuti dengan aglutinin H (Antibodi O muncul pada
hari ke 6-8 dan antibodi H muncul pada hari ke 10-12) (Widodo, 2006).

Interprestasi hasilnya adalah sebagai berikut :

(1) titer O yang tinggi atau meningkat (≥1:60) menandakan adanya infeksi aktif;
(2) titer H yang tinggi (≥1:60) menunjukan riwayat imunisasi atau infeksi masa lampau;
dan (3) titer antigen yang tinggi terdapat antigen Vi timbul pada beberapa carrier. Hasil
pemeriksaan serologi pada infeksi salmonella harus dinterprestasikan dengan hati-hati.
Kemungkinan adanya antibodi yang bereaksi silang, membatasi penggunaan serologi
dalam diagnosis infeksi salmonella (Jawets et al, 2008).

Bahan untuk pemeriksaan untuk uji widal ialah serum. Persiapan penderita Untuk
uji widal tidak perlu persiapan penderita secara khusus dapat diambil sewaktu-waktu
darah penderita dan penderita tidak perlu puasa terlebih dahulu. Pengambilan bahan
pemeriksaan darah diambil secara steril dari vena cubiti sebanyak 5 ml, di biarkan beku
di suhu ruangan dan serumnya dipisahkan secara steril. Bila tidak dapat segera diperiksa,
serum disimpan dalam lemari es (4℃) selama satu hari atau disimpan beku selama
beberapa hari. Pengiriman bahan pemeriksaan Bila tempat pengambilan bahan
pemeriksaan jauh dari laboratorium, sebaiknya serum atau darah dikirimkan dalam
termos isi es, sebab serum mudah rusak terkena udara panas atau sinar matahari. Bila
tempat pengambilan darah tak jauh dari laboratorium (dalam rumah sakit yang sama),
darah dalam semprit dapat dikirimkan langsung kelaboratorium asal terlindung terhadap
sinar matahari (Handojo, 2014).

Interprestasi uji widal harus memerhatikan beberapa hal, diantaranya adalah : 1.


Pengobatan dini dengan antibiotik 2. Gangguan pemebentukan antibodi dan pemberian
kortikonsteroid 3. Waktu pengambilan darah 4. Daerah endemik atau non endemik 5.
Riwayat vaksinasi 6. Reaksi anamnestik yaitu peningkatan titer aglutinin pada infeksi
bukan demam tifoid, akibat infeksi demam tifoid masa lalu atau faksinasi 7. Faktor teknis
pemeriksaan antar laboratorium, akibat aglutinasi silang, dan strain Salmonella yang
digunakan untuk suspensi antigen (Widodo, 2006).

Penyebab pengujian widal menjadi positif yaitu: a. Pasien memang menderita


demam tifoid b. Riwayat vaksinasi c. Reaksi silang dengan non-typhoidal Salmonella d.
Infeksi dengan malaria, dengue atau Enterobacteriaceae lainya (juwono, 2000).
Penyebab pengujian widal menjadi negatif yaitu: a. Tidak terjadi infeksi Salmonella b.
Pasien karier sehat c. Inokulum antigen bakteri di dalam penjamu tidak akurat untuk
mempengaruhi pembentukan antibodi d. Adanya kesalahan atau kesulitan teknis dalam
melakukan pengujian e. Pemberian antibodi sebelumnya f. Adanya variabilitas antigen
yang tersedia secara komersial (Hardjoeno, 2003).

Jenis Uji Widal yang kami lakukan yaitu Uji widal lempeng (Slide aglutination
test) Prinsip dasar : 1 tetes serum + 1 tetes antigen → aglutinasi. Awalnya uji laboratoris
ini hanya dipakai untuk uji penyaring dan amat berguna untuk laboratorium yang
memeriksa banyak bahan serum. Cara pengenceran serum yang dipakai oleh berbagai
macam kit uji widal lempeng, baik yang impor maupun yang lokal untuk mendapatkan
titer tertentu berbeda antar kit, namun tercantum dalam petunjuk pemeriksaan yang
terdapat didalam kit tertentu. Titer awal pengenceran serum juga berbeda antara kit yang
satu dengan yang lain. Sebagai contoh yaitu pengenceran serum awal yang dianjurkan
oleh kit tersebut diatas, dipakai titer awal 1:20 untuk aglutinin paratyphi A (PA). Bila
pada titer awal tes positif maka harus diteruskan dengan pengencer selanjutnya namun
bila tes negatif maka uji widal lempeng dilaporkan negatif (Handojo, 2014).

Tiap seri pemeriksaan disertai dengan serum kontrol, baik positif maupun negatif.
Untuk pemeriksaan, serum kontrol diencerkan 2 kali batas atas titer normalnya (cut-off-
value). Batas titer normal (cut-offvalue) berbeda untuk berbagai kit uji widal lempeng
(handojo, 2014) Belakangan ini, karena kemajuan teknologi dan kepraktisanya, uji widal
lempeng telah menjadi salah satu sarana penunjang diagnosis demam tifoid seperti halnya
uji widal tabung. Uji widal lempeng yang impor lebih muda dibaca oleh karena
menggunakan partikel lateks berwarna, namun dua kali lebih mahal harganya. Disamping
itu oleh karena antigen yang dipakai untuk uji widal lempeng yang import berasal dari
strain atau Phogerype diluar daerah endemis (tidak prefalen di indonesia) maka
sensivitasnya, dan terutama speksitifisitasnya kurang baik bila dibandingkan dengan uji
widal lempeng lokal yang menggunakan lima phoge-types Salmonella typhi yang
prefalen di indonesia sebagai antigen (Suwahyo, 1979).

Cara pengenceran serum yang dipakai oleh berbagai macam kit uji widal
lempeng, baik yang impor maupun yang lokal, untuk mendapatkan titer tertentu berbeda
antar kit namun tercantum dalam petunjuk pemeriksaan yang terdapat di dalam kit
tersebut. Titer awal pengenceran serum juga berbeda antara kit yang satu dengan yang
lain. Sebagai contoh yaitu pengenceran serum awal yang dianjurkan oleh kit tersebut
diatas, dipakai titer awal 1:40 untuk aglutinin O, H dan paratyphi A (PA). Bila pada titer
awal tersebut tes positif, maka harus diteruskan dengan pengencer selanjutnya namun bila
tes negatif maka uji widal lempeng dilaporkan negatif ( Handojo, 2014).

Terjadinya aglutinasi menandakan tes widal positif dan jika reaksi positif
diobervasi dalam 20µl sampel tes,hal ini mengidikasikan adanya level klinis yang
signifikan dari respon antibodi pada serum pasien (Widal Test, 2011). Tidak terjadi
aglutinasi menandakan hasil tes widal negatif dan positif (+) : terjadi aglutinasi, berarti
terdapat antibodi. Negatif (-) : tidak terjadi aglutinasi, berarti tidak terdapat antibodi.
Mengindikasikan tidak adanya level klinis yang signifikan dari respon antibody
(Handojo, 2014).
Uji Widal slide menggunakan mikropipet. Mikropipet adalah alat untuk
memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1.000 μl. Banyak
pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume
pengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1-20 μl atau mikropipet yang tidak
bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette)
misalnya mikropipet 5 μl. Penggunaan mikropipet memerlukan tip (Brooks G.F., et al
2005).

Cara penggunaan mikropipet yaitu : 1. Sebelum digunakan Thumb Knob


sebaiknya ditekan berkali-kali untuk memastikan lancarnya mikropipet. 2. Tip bersih
dimasukkan ke dalam Nozzle/ujung mikropipet. 3. Thumb Knob ditekan sampai
hambatan pertama/first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi. 4. Tip dimasukkan ke
dalam cairan sedalam 3-4 mm. 5. Tahan pipet dalam posisi vertikal kemudian tekanan
dari Thumb Knob dilepaskan maka cairan akan masuk ke tip. 6. Ujung tip dipindahkan
ke tempat penampung yang diinginkan. 7. Thumb Knob ditekan sampai hambatan
kedua/second stop atau tekan semaksimal mungkin maka semua cairan akan keluar dari
ujung tip. 8. Jika ingin melepas tip putar Thumb Knob searah jarum jam dan ditekan
maka tip akan terdorong keluar dengan sendirinya, atau menggunakan alat tambahan yang
berfungsi mendorong tip keluar. Kelebihan dan kekurangan mikropipet yaitu: Kelebihan
: Banyak pilihan dalam kapasitas dalam mikropipet yang dapat diatur volume
pengambilanya antara 1µl-20µl / mikropipet yang tidak bisa diatur volume. Kekurangan
: Dalam penggunakaan mikropipet memerlukan banyak menggunakan tip karena tip
digunakan hanya sekali pakai (Brooks G.F., et al 2005).

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan di dapatkan hasil negatif


dengan mikropipet. Penggunaan mikropipet lebih akurat, di mana volume yang di
gunakan pada saat pemipetan larutan lebih tepat dalam skala µl. Pemeriksaan widal
merupakan pemeriksaan aglutinasi yang menggunakan suspensi bakteri Salmonella typhi
dan Salmonella paratyphi sebagai antigen untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap
kedua bakteri Salmonella tersebut dalam serum penderita tersangka demam tifoid yaitu
aglutinin O, H, AH dan BH. Semakin tinggi titer aglutinin maka kemungkinan infeksi
bakteri Salmonella makin tinggi (Irianto, 2014).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemeriksaan widal, yaitu faktor-faktor yang
berhubungan dengan penderita yaitu keadaan umum gizi penderita, Gizi buruk dapat
menghambat pembentukan antibodi, Waktu pemeriksaan, Aglutinin baru dijumpai dalam
darah setelah penderita mengalami sakit selama satu minggu dan mencapai puncaknya
pada minggu kelima atau keenam sakit, Pengobatan dini dengan antibiotik, Pemberian
antibiotik dengan obat antimikroba dapat menghambat pembentukan antibodi, Penyakit-
penyakit tertentu, Pada beberapa penyakit yang menyertai demam tifoid tidak terjadi
pembentukan antibodi (Handojo 2004).

Faktor-faktor teknis yaitu Aglutinasi silang, karena beberapa spesies Salmonella


dapat mengandung antigen O dan H yang sama, maka reaksi aglutinasi pada satu spesies
dapat juga menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies lain. Oleh karena itu spesies
Salmonella penyebab infeksi tidak dapat ditentukan dengan pemeriksaan widal,
konsentrasi suspensi antigen, Konsentrasi suspensi antigen yang digunakan pada
pemeriksaan widal akan mempengaruhi hasilnya dan Strain Salmonella yang digunakan
untuk suspensi antigen dari strain Salmonella setempat lebih baik daripada suspensi
antigen dari strain lain (Handojo, 2004).
DAFTAR PUSTAKA

Benson HJ. 1998. Microbilogical Applications : Laboratory Manual In General


Microbiology. Edisi VII.

Brooks, G.F., et al. 2005. Mikrobiologi Kedokteran (Medical Microbiology).


Buku I : Jakarta.

Handojo et al. 2004. Comparison Of The Diagnostic Value Of Local Widal


Slide Test Wiith Imported Widal Slide Test, In Department Of Clinical Medical
Faculty. Airlangga: Malang.

Hardjoeno, H. 2003. Interprestasi Hasil Tes Laboratorium Diagnostik. Jakarta :


EGC.

Kalma, H., et al. 2014. Imunologi Terapan. Edisi II. Kemenkes RI Poltekkes
Makassar.

Levine, M.M., Grados, O., Gilman, R,H., 1978, “Diagnostic Value of the Widal
Test in Areas Endemic for typhoid Fever”. Am Journal Trop Med and Hyg, 27 (4) 795-
800.

Suwahyo, E., 1979, Perbandingan daya aglutinasi antigen Salmonella dari dalam
dan luar daerah endemik Surabaya untuk pemeriksaan Widal Surabaya, Unair. Karya
Akhir.

Widodo, D, 2006. Demam Tifoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III,
Edisi V. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Jakarta.