Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR – DASAR BIOKIMIA

PERCOBAAN 6
METABOLISME KARBOHIDRAT OLEH RAGI

Disusun oleh:
Nama : Novena Tesalonika Rasuh
NIM : 171444008
Shift/Kelompok : A1/01

Dosen Pengampu:
Risnita Vicky Listyarini, M.Sc

Asisten Dosen:
1. Maria Eva Kristiana
2. Margaretha Arihta Lestari

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA, YOGYAKARTA
SEMESTER GANJIL 2019/2020

0
PERCOBAAN 6
METABOLISME KARBOHIDRAT OLEH RAGI

A. Judul Praktikum
Metabolisme Karbohidrat Oleh Ragi
B. Hari dan Tanggal Praktikum
Jumat, 22 November 2019
C. Tujuan Praktikum
1. Mengamati aktivitas enzim dalam respirasi ragi dengan mengamati perubahan
warna pada methylene blue sebagai pengganti NAD+ dalam rantai pernapasan ragi.
2. Mengamati oksidasi asam laktat oleh laktat dehidrogenase ragi dan oksidasi etanol
oleh alkohol dehidrogenase ragi.
B. Landasan Teori
Menurut Martin (1983), metabolisme merupakan seluruh proses biokimia yang
terjadi pada setiap makhluk hidup. Dalam hal ini, makhluk hidup mendapat,
mengubah, dan memakai senyawa kimia yang berada di sekitarnya untuk
keberlangsungan hidup. Metabolisme ini termasuk proses senyawa-senyawa kimia
diubah menjadi energi yang terjadi dalam tubuh. Energi yang dihasilkan dari proses
metabolisme digunakan untuk mengolah makanan dan melakukan metabolisme
kembali (Munawwarah, 2011).
Metabolisme merupakan suatu proses kimia yang terjadi dalam makhluk hidup.
Proses metabolisme ini dapat terjadi dengan bantuan energi (ATP) sebagai sumber
energi dalam sel. Metabolisme ini dapat dipercepat dengan bantuan enzim. Hasil dari
metabolisme ini ialah energi dan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Metabolisme
berperan penting dalam menetralisasikan atau mengubah zat beracun menjadi senyawa
yang tidak beracun dan keluar dari tubuh (Baret et al., 1986).
Metabolisme dibagi menjadi dua bagian, yaitu metabolisme anabolisme dan
metabolisme katabolisme. Metabolisme anabolisme merupakan suatu proses sintesis
pada mikromolekul menjadi makromolekul. Metabolisme ini termasuk proses
penyusunan molekul-molekul besar yang mengalami reaksi reduksi. Untuk
metabolisme katabolisme itu sendiri ialah proses penguraian makromolekul menjadi
mikromolekul. Dalam hal ini, metabolisme ini menguraikan molekul-molekul besar
yang mengalami reaksi oksidasi (Wirahadikusumah, 1985).
Karbohidrat sebagai makromolekul digunakan sebagai sumber energi manusia
yang diolah melalui metabolisme karbohidrat. Karbohidrat yang masuk dalam tubuh

dioleh pertama kali oleh enzim -1,4 glikosidik menghasilkan produk dengan

1
campuran antara dektrin dan monosakarida. Produk ini pun dilanjutkan pemecahannya

di asam lambung yang akan diolah oleh enzim -amilase dari usus halus menjadi

monomer-monomernya (Arbianto, 1994).


C. Alat dan Bahan
Alat :
1. Waterbath
2. Tabung reaksi
3. Aluminium foil
Bahan :
1. Ragi
2. Kalium Sianida 0,2% (KCN)
3. Larutan 0,1% methylene blue
4. Larutan Natrium Laktat 5%
5. Akuades

D. Prosedur Kerja
2 mL ragi ditambahkan ke tabung reaksi dan dipanaskan dalam air mendidih

selama 5 menit (dengan waterbath suhu 90 ). Reaksi dibiarkan mendingin, lalu

ditempatkan dalam waterbath suhu 40 (Tabung Ragi Pemanasan). 2 mL Ragi

ditambahkan ke masing-masing 4 tabung reaksi lain dan ditempatkan dalam waterbath

suhu 40 (tanpa mendidih). KCN 0,2% sebanyak 5 tetes ditambahkan ke salah satu

tabung reaksi (Tabung dengan KCN). Setelah larutan didiamkan selama 5 menit agar
suhu seimbang, larutan Methylene Blue 0,2% sebanyak 1 tetes ditambahkan ke dalam
5 tabung reaksi sebelumnya. Perubahan warna menjadi biru diamati praktikan. Tabung
“Ragi pemanasan” ditambahkan 2 mL larutan Natrium Laktat 5%, Tabung dengan
“KCN” ditambahkan 2 mL larutan Natrium Laktat 5%, Tabung “laktat tanpa KCN”
ditambahkan 2 mL larutan Natrium Laktat 5%, Tabung “etanol tanpa KCN”
ditambahkan 2 mL larutan Etanol 5%, dan Tabung “blanko tanpa KCN” ditambahkan
2 mL akuades. Tiap tabung dicampur dan ditutup dengan aluminium foil. Lalu,

ditempatkan dalam waterbath suhu 40 . Larutan dipastikan homogen dan berwarna

biru terang (awal), lalu tabung diletakkan dalam waterbath suhu 40 selama 10

menit. Tiap perubahan warna pada larutan diamati dan dicatat dalam data pengamatan.

2
Setelah pengamatan dicatat, warna bagian paling atas tabung diperhatikan. Lalu,
tabung dikocok selama beberapa detik dan diamati apa terjadi perubahan warna. Saat
warna biru kembali muncul, apa yang menyebabkan warna ini muncul? Aluminium
foil tiap tabung dilepas dan tabung dikocok. Pipet dimasukkan ke dalam larutan dan
ditekan ujung pipetnya untuk memberikan udara ke dalam tabung berisi larutan
tersebut (Jangan sampai larutan tersedot dan pipet berbeda-beda untuk tiap tabung).
E. Data Pengamatan
Tabel 1. Larutan Standar Maltosa
Pengamatan (Warna)
Setelah 10 menit dalam Setelah dikocok
waterbath dalam udara
Larutan Natrium Laktat 5% Berwarna biru tua dan paling
Tetap sama
+ ragi pemanasan pekat (++++)
Larutan Natrium Laktat 5% Tidak terjadi
Warna putih pudar
+ KCN perubahan
Berwarna putih dan memiliki Semakin pekat
Larutan Natrium Laktat 5%
lapisan biru di atasnya (+) warna birunya
Warna biru semakin
Blanko, akuades Berwarna biru (++)
pekat
Warna biru semakin
Etanol 5% Berwarna biru (+++)
pekat

F. Pembahasan
Percobaan tentang metabolisme karbohidrat pada ragi bertujuan untuk mengamati
aktivitas enzim dalam respirasi ragi yang menggunakan metilen biru yang berperan
sebagai NAD+. Selain itu, percobaan ini bertujuan juga untuk mengamati reaksi
oksidasi asam laktat oleh laktat dehidrogenase dan oksidasi etanol oleh alkohol
dehidrogenase ragi. Sesuai dengan tujuan dari percobaan ini, beberapa bahan
disiapkan praktikan.
Percobaan ini menggunakan indikator metilen biru sebagai oksidator seluler pada
dua enzim yang digunakan, yaitu asam laktat dehidrogenase dan alkohol
dehidrogenase. Kedua enzim tersebut didapatkan dari ragi yang digunakan dalam
percobaan ini. Metilen biru itu sendiri berperan sebagai akseptor elektron buatan
dalam reaksi tersebut yang menggantikan NAD+ untuk mengoksidasi substrat yang
ada. Indikator metilen biru ini mengalami reduksi pada reaksi enzimatik tersebut,
sehingga terjadi perubahan warna dari biru menjadi tidak berwarna. Penggunaan
indikator metilen biru ini membantu menunjukkan proses reduksi yang terjadi saat

3
enzim-enzim dalam ragi mengkatalisis substrat yang digunakan. Bantuan indikator ini
mempermudah kita untuk melihat proses reaksi oksidasi dan reduksi yang sedang
berlangsung (Walker, 1997).
Pengamatan metabolisme karbohidrat dari ragi diamati melalui perubahan warna
yang terjadi pada indikator metilen biru sebagai pengganti NAD+. Perubahan tersebut
terjadi pada rantai respirasi seluler ragi. Ragi yang merupakan mikroorganisme
Saccharomyces cerevisiae ini mengandung enzim-enzim, seperti laktat dehidrogenase
dan alkohol dehidrogenase. Enzim-enzim ini yang akan mengubah beberapa substrat
menjadi produk, di mana metilen biru sebagai oksidator seluler akan tereduksi dari
berwarna biru menjadi tidak berwarna (Mckee & Mckee, 2013).
Dalam percobaan ini, substrat yang digunakan ialah asam laktat dan etanol. Kedua
substrat tersebut dimasukkan dalam tabung reaksi yang telah ditentukan. Untuk
enzimnya berasal dari ragi yang mengandung enzim asam laktat dehidrogenase dan
alkohol dehidrogenase (ADH). Berdasarkan reaksinya, produk-produk yang dihasilkan
berupa asam piruvat (dari asam laktat) dan asetaldehida (dari etanol). Berikut adalah
persamaan reaksi dari metabolisme karbohidrat oleh ragi (Mckee & Mckee, 2013).

Adapun percobaan ini memiliki beberapa penambahan bahan dan perlakuan yang
berbeda untuk masing-masing tabung reaksi. Pada mulanya, kelima tabung
dimasukkan ragi sebanyak 2 mL. Tabung reaksi pertama dipanaskan dalam air
mendidih selama 5 menit dan diberi label Tabung Ragi Pemanasan. Setelah itu, kelima

tabung reaksi ini dimasukkan dalam penangas air suhu 40 untuk menyamaratakan

suhu semua tabung reaksi. Lalu, beberapa tetes KCN ditambahkan pada salah satu
tabung reaksi, selain tabung ragi pemanasan. Setelah itu, terdapat penambahan
indikator metilen biru untuk semua tabung reaksi. Terakhir ialah penambahan substrat
pada tabung-tabung reaksi tertentu. Tabung ragi pemanasan, tabung berisi KCN, dan

4
tabung “laktat” yang berisi ragi dan metilen biru dimasukkan natrium laktat. Untuk
tabung “etanol” yang berisi ragi dan metilen biru ditambahkan etanol ke dalamnya.
Tabung reaksi terakhir ditambahkan akuades.

Gambar 1. Tabung reaksi yang berisi masing-masing substrat


Penambahan bahan dan perlakuan tersebut untuk menganalisis kerja enzim
dalam mengkatalisis reaksi biokimia yang terjadi. Tabung ragi pemanasan yang berisi
ragi diberi perlakuan pemanasan pada suhu tinggi. Proses ini menyebabkan
mikroorganisme dalam ragi tidak dapat menghasilkan enzim-enzim untuk proses
katalisis. Hal ini disebabkan oleh sifat ragi yang sangat sensitif terhadap panas dan

akan hancur pada suhu lebih dari 60 (Riggs & Nummer, 2017). Mikroorganisme

yang telah hancur ini menyebabkan saat tabung yang telah diisi metilen biru dan
natrium laktat tidak menunjukkan perubahan warna dari biru menjadi tidak berwarna.
Demikian pula, saat ditiup menggunakan pipet warnanya tetap sama.

Gambar 2. Setelah pemanasan dan peniupan Tabung Ragi Pemanasan(kiri ke kanan)


Tabung yang berisikan ragi dan beberapa tetes KCN tidak akan menunjukkan
perubahan warna saat ditiup. Pada mulanya, tabung ditambahkan ragi yang

5
direaksikan dengan KCN. Lalu, ditambahkan indikator metilen biru yang memberikan
warna biru pada larutan. Setelah dipanaskan, larutan berubah warna menjadi putih.
Namun, saat ditiup menggunakan pipet tidak terjadi perubahan warna menjadi biru
kembali. Hal ini disebabkan oleh sifat ion CN- yang menghambat rantai transpor
elektron mitokondrial. Ion CN- ini menempel pada enzim sitokrom oksidase yang
berperan sebagai pereduksi oksigen pada air dalam proses respirasi. Saat ion CN - ini
menempel pada enzim tersebut, enzim ini tidak dapat lagi bereaksi dengan oksigen
dan menyebabkan proses transpor elektron dihambat. Hal inilah yang menyebabkan
NADH dan metilen biru tidak dapat mengalami proses oksidasi atau terjadi perubahan
warna dari putih menjadi biru kembali (Walker, 1997).

Gambar 2. Setelah pemanasan dan peniupan Tabung dengan KCN (kiri ke kanan)
Tabung laktat berisikan ragi dan ditambahkan metilen biru. Tahapan ini membuat
larutan berwarna biru. Setelah itu ditambahkan natrium laktat dan dipanaskan dalam
penangas air. Berdasarkan hasil pengamatan, larutan menjadi tidak berwarna setelah
proses berlangsung. Perubahan warna dari biru menjadi tidak berwarna disebabkan
oleh proses reduksi dan oksidasi yang terjadi didalamnya. NAD+ atau metilen biru
dalam percobaan ini menerima elektron dari proses reaksi laktat menjadi piruvat
dengan bantuan asam laktat dehidrogenase. Metilen biru ini pun mengalami proses
reduksi yang ditandai dengan perubahan warna dari biru menjadi putih (Walker, 1997).

6
Gambar 3. Setelah pemanasan dan peniupan Tabung Laktat (kiri ke kanan)
Tabung etanol berisikan ragi yang ditambahkan metilen biru. Tahapan ini
menyebabkan larutan menjadi berwarna biru. Setelah itu, etanol ditambahkan dan
tabung dipanaskan selama 10 menit. Berdasarkan pengamatan, larutan biru pada
tabung tidak berubah warna dari biru menjadi tidak berwarna. Meskipun, saat ditiup
dengan pipet larutan menunjukkan adanya perubahan warna menjadi biru yang lebih
pekat dari sebelumnya. Secara teoritis, ragi yang mengandung enzim alkohol
dehidrogenase akan mengkatalisis etanol menjadi asetaldehida. Melalui reaksi
tersebut, NAD+ akan tereduksi menjadi NADH. Dalam percobaan ini, harusnya
metilen biru sebagai NAD+ akan tereduksi yang ditandai dengan adanya perubahan
warna menjadi tidak berwarna (Walker, 1997). Penyebabnya dapat berasal dari
ketidaktelitian praktikan dalam memperhatikan waktu melakukan pemanasan (human
error).

Gambar 4. Setelah pemanasan dan peniupan Tabung Etanol (kiri ke kanan)

7
Tabung terakhir atau tabung blanko berisikan ragi dengan substratnya akuades.
Pada proses ini, larutan memiliki warna biru. Setelah dipanaskan selama 10 menit,
tidak terjadi perubahan warna biru menjadi tidak berwarna secara signifikan. Setelah
ditiup menggunakan pipet, larutan menunjukkan warna biru yang lebih pekat
dibandingkan sebelumnya. Tabung ini tidak terlalu kontras dalam menunjukkan
perubahan warnanya karena tidak ada substrat yang dapat dikatalisis oleh enzim-enzim
yang ada dalam ragi. Oleh karena itu, tidak ada proses reaksi reduksi yang terjadi pada
metilen biru.

Gambar 5. Setelah pemanasan dan ditiup Tabung Blanko (kiri ke kanan)

G. Pertanyaan Pascapraktek
1. Apa yang menyebabkan perbedaan dalam pengamatan anda antara tabung kosong
yang mengandung ragi tanpa substrat dan tabung yang mengadung 5% natrium
laktat atau 5% etanol?
Tabung kosong yang mengandung ragi tanpa substrat tidak menunjukkan
adanya perubahan warna dari biru menjadi tidak berwarna dan kembali lagi
berwarna saat diberi udara karena tidak ada substrat yang dapat dikatalisis dengan
enzim-enzim yang ada dalam ragi, yaitu asam laktat dehidrogenase dan alkohol
dehidrogenase. Untuk tabung yang mengandung natrium laktat atau etanol sebagai
substrat dalam akan dikatalisis oleh keduan enzim dalam ragi masing-masing secara
berurutan menjadi piruvat dan asetaldehida, sehingga NAD+ atau metilen biru
sebagai penerima elektron akan mengalami reduksi yang ditandai dengan adanya
perubahan warna dari biru menjadi tidak berwarna (Mckee & Mckee, 2013).
8
2. Apa yang menyebabkan warna biru kembali dalam tabung setelah mengocoknya?
Apakah semua tabung mendapatkan kembali warna biru? Jika tidak, jelaskan
dengan alasan yang tepat!
Warna biru dalam tabung kembali saat dikocok karena saat reaksi
berlangsung oksigen hadir yang mengoksidasi metilen biru. Meskipun begitu, tidak
semua tabung berubah warna menjadi biru kembali. Hal ini dipengaruhi oleh
substrat dan kandungan zat lain yang ditambahkan ke dalam reaksi tersebut. Dalam
percobaan, terdapat ion CN- yang ditambahkan ke salah satu tabung. Ion tersebut
bersifat sebagai racun yang mengikat oksigen, sehingga metilen biru tidak dapat
dioksidasi. Adapulah tabung berisikan ragi yang dipanaskan pada suhu yang tinggi
menyebabkan mikroorganisme didalamnya hancur karena sensitif terhadap panas.
Hal inilah yang menyebabkan tidak terjadi perubahan warna pada metilen biru.
Terakhir adalah tabung yang menggunakan substrat akuades. Tabung yang tidak
memiliki substrat yang sesuai menyebabkan enzim-enzim dalam ragi tidak
melakukan proses katalisis. Oleh karena itu, tidak terjadi perubahan warna pada
metilen biru (Martin, 1983).

H. Simpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan aktivitas enzim teramati melalui
percobaan menggunakan ragi ini. Hal ini dilihat dari perubahan warna metilen biru
yang terjadi pada tabung yang mengandung natrium laktat dan etanol menjadi tidak
berwarna. Hal tersebut dipengaruhi oleh sifat metilen biru sebagai penerima
elektron, sehingga dapat tereduksi menjadi tidak berwarna. Warna biru tersebut
kembali setelah larutan ditiup menggunakan pipet. Perlakuan tersebut
menghadirkan oksigen yang mengoksidasi metilen biru. Meskipun begitu, tiga
tabung lainnya tidak menunjukkan perubahan warna setelah ditiup karena beberapa
faktor, seperti pemanasan yang menghancurkan mikroorganisme dalam ragi,
terdapat ion CN- yang berperan sebagai racun dalam reaksi yang mengikat oksigen,
dan tidak menggunakan substrat yang sesuai.

9
DAFTAR PUSTAKA

Arbianto, P. (1994). Biokimia Konsep-Konsep Dasar. Jakarta: Proyek Penelitian Tenaga


Akademik.
Baret, J. M., Peter, M., Kumaran A. K., & Milington, M. F. (1986). Biology. Jakarta:
Erlangga.
Martin, D. W. (1983). Biokimia. Jakarta: EGC.
Mckee, T., & Mckee, J. R. (2013). Biochemistry: The Molecular Basis of Life. United
Kingdom: Oxford University Press.
Munawwarah, M. (2011). Penambahan Pelatihan Kekuatan Otot pada Pelatihan Interval
Menurunkan Trigliserida Mahasiswi Gemuk Universitas Esa Unggul. Jurnal
Fisioterapi, 11(1), 36 – 55.
Riggs, K., & Nummer, B. A. (2017). Principles of Boiling Water Canning. Utah: Utah
State University Cooperative Extension.
Walker, G. M. (1997). Yeast Physiology and Biotechnology. Chichester: John Wiley and
Sons.
Wirahadikusuma, M. (1985). Biokimia: Metabolisme Energi. Bandung: ITB Press.

10