Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa ingin berhubungan dengan orang


lain. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa
yang terjadi pada dirinya. Rasa ingin tahu inilah yang memaksa manusia untuk
berkomunikasi .
Komunikasi merupakan kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang
dalam hidup bermasyarakat karena tanpa komunikasi masyarakat tidak akan
terbentuk. Adanya komunikasi disebabkan oleh adanya kebutuhan akan
mempertahankan kelangsungan hidup dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya.

Sejauh ini terdapat ratusan komunikasi yang telah dibuat para pakar.
Kekhasan suatu model komunikasi juga dipengaruhi oleh latar belakang
keilmuan (pembuat) model tersebut, paradigma yang digunakan, kondisi
teknologi, dan perkembangan zaman yang melingkunginya. Model adalah
representasi suatu fenomena, baik nyata maupun abstrak, dengan menonjolkan
unsur-unsur terpenting fenomena tersebut.Model jelas bukan fenomena itu
sendiri.Akan tetapi, peminat komunikasi, termasuk mahasiswa, sering
mencampuradukkan model komunikasi dengan fenomena komunikasi.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas kami mendapatkan rumusan masalah sebagai


berikut :

1. Apa pengertian model komunikasi ?


2. Bagaimana model komunikasi Stimulus-Respons ?

3. Apa tujuan model stimulus respon ?


4. Bagaimana model komunikasi Aristoteles ?
5. Apa saja kelebihan model komunikasi Aristoteles?
6. Apa saja kelemahan model komunikasi Aristoteles?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui model stimulus – respons dan model Aristoteles

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui pengertian model komunikasi


2. Mengetahui model komunikasi Stimulus-Respons

3. Mengetahui tujuan model stimulus respon

4. Mengetahui model komunikasi Aristoteles


5. Mengetahui kelebihan model komunikasi Aristoteles
6. Mengetahui kelemahan model komunikasi Aristoteles

1.4 Manfaat

Dengan selesainya penulisan makalah ini penulis mempunyai harapan pada


masa yang akan datang semoga makalah ini mudah – mudahan bermanfaat
sebagai berikut:
1. Menambah ilmu pengetahuan penulis khususnya model komunukasi
stimulus-respon dan Aristoteles
2. Dapat menjadi masukan bagi penulis sendiri dan para pembaca

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Model Komunikasi


Model komunikasi adalah gambaran yang sederhana dari proses
komunikasi yang memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi
dengan komponen lainnya.
Menurut Sereno dan Mortensen, model komunikasi merupakan deskripsi
ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model
merepresentasikan secara abstrak ciri-ciri penting dan menghilangkan rincian
komunikasi yang tidak perlu dalam “dunia nyata”.
B. Aubrey Fisher mengatakan, model adalah analogi yang
mengabstraksikan dan memilih bagian dari fenomena yang dijadikan model.
Werner J. Severin dan James W. Tankard, Jr. mengatakan bahwa model
membantu merumuskan suatu teori dan menyarankan hubungan.Oleh karena
hubungan antara model dengan teori begitu erat, model sering dicampur dengan
teori.

2.1.1 Model Komunikasi Menurut Sifatnya :


1. Komunikasi satu arah
Diagram sederhana ini menggambarkan komunikasi satu arah. Beberapa
orang bersikap seakan – akan tidak perlu ada respon terhadap apa yang mereka
komunikasikan, tetapi yang difokuskan disini adalah komunikasi dua arah
dimana penerima pesan secara aktif terlibat di dalam proses sehingga setiap
orang memodifikasi pesansesuai dengan respon orang lain. Meskipun demikian,
komunikasi satu arahsangat sering terjadi, bahkan dalam situasi tatap muka
antara petugas kesehatan dan pasien.
Menurut Bradley dan Edinberg (1990) memberikan alasan – alasan
tentang mengapa petugas kesehatan menggunakan komunikasi satu arah
meskipun mereka percaya pada komunikasi dua arah :
1. Komunikator mengendalikan komunikasi satu arah.
2. Komunikasi satu arah bisa lebih mudah terjadi sambil melakukan hal
lain,misalnya membereskan tempat tidur.
3. Komunikasi dua arah dapat menyita waktu dari aspek-aspek penting lain dari
petugas kesehatan dan pasien.
2. Komunikasi dua arah

Menurut Menzies-Lyth (1960) mempelajari cara-cara di mana sistem


sosial sebuah rumah sakit diatur sedemikian rupa untuk melindungi stafnya dari
beban stress ada kecemasanyang terlalu besar yang diakibatkan oleh pekerjaan
mereka. Ia memperhatikan bahwa salah satu dari cara – cara ini adalah memutus
– mutus hubungan petugas kesehatan/pasien dengan membagi beban kerja total
dari suatu ruangan kedalam tugas –tugas kecil yang masing – masing
ditugaskan ke petugas kesehatan yang berbeda. Akibatnya, petugas kesehatan
mempunyai kontak yang terbatas dengan pasien. Dengan tambahan rangkaian
umpan balik, diagram pertama sekarang menjadi dua arah.

2.2 Model Stimulus-Respons (S-R)


Model Stimulus Respons (S-R) adalah komunikasi paling dasar. Model ini
dipengaruhi oleh didiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik.
Model tersebut menggambarkan hubungan Stimulus-Respons. Dalam konsep
yang fokusnya pada lingkungan, pada dasasrnya setiap kejadian yang kita alami
terdapat stimulus dan respons. Kejadian yang ada menurut kita untuk
menerjemahkan kedalam proses pikir kita berupa proses belajar dengan
menggunakan komunikasi intrapersonal, di mana dalam jiwa manusia terdiri
atas kumpulan bermacam-macam tanggapan yang terbentuk karena adanya
stimulus dan respons. Kebutuhan akan pemenuhan sebuah tuntutan tersebut
menjadikan seseorang mengdakan suatu transaksi yang mendorong individu
untuk melihat apakah ada perbedaan yang nyata atau tidak antaa kebutuhan
dari suatu situasi dan sumber daya dari seseorang baik biologis, psikologis, atau
sitem sosial, dan dari sinilah awal timbulnya suatu ketegangan, dimana
penyebabnya ketegangannya adalah suatu kejadian atau rangkaian peristiwa
yang terjadi. Klien yang mendengar akan dilakukan pemeriksaan fisik oleh
karena penyakitnya, dia akan bertanya-tanya alat yang digunakan itu apa,
bagaimana caranya, apa yang akan dilakukan, dimana tempatnya, berapa
biayanya, siapa yang melakukannya, dan sebagainya. Kegiatan atau keadaan yang
dialami tersebut direspons sebagai ancaman atau sesuatu yang membahayakan
diri klien sehingga menimbulkan perasaan tegang disebut stressor. Respons
tersebut melibatkan berbagai komponen dalam diri manusia yang terfokus pada
dua komponen yang saling berkaitan, yaitu komponen psikologis yang
melibatkan perilaku, pola piker, dan emosi; dan komponen fisiologis, yang
melibatkan peningkatan rangsangan tubuh seperti jantung berdebar, sakit perut,
berkeringat, dsb. Respon psikologis dan fisiologis seseorang terhadap stressor
disebut strain.
Model stimulus respons yang melibatkan stressors dan strains, ditambah
dengan sebuah bentuk hubungan yang penting karena hubungan antara
seseorang dan lingkungannya, mendorong seseorang untuk bereaksi dan
bertindak untuk memenuhi tuntutan yang harus dipenuhi. Proses ini melibatkan
interaksi dan penyesuaian secara berkesinambungan yang disebut transactions,
antara seseorang dan lingkungannya, dimana keduanya saling memengaruhi
satu sama lain. Contohnya, seseorang yang terjebak dalam kemacetan dan
terlambat untuk suatu appointment melihat jamnya, terus mmbunyikan klakson
mobilnya, dan semakin menjadi marah setiap menitnya. Model ini
menggambarkan bahwa seseorang akan memulai sesuatu karena ada kebutuhan
atau keinginan yang harus dipenuhi, sekalipun kebyuthan yang sangat primitif.
Kesan nonverbal menjadi dasar seseorang bereaksi. Pemenuhan kebutuhan
ini menimbulkan respon tanggap bagi sesorang yang diawali adanya kesadaran
stimulus yang masuk ke pancaindra (sensasi).

2.2.1 Model Komunikasi Stimulus-Respons Menurut Mulyana D


S_R Mulyana D (2007) mengansumsikan bahwa kata-kata verbal
(lisan/tulisan), isyarat-isyarat nonverbal, gambar-gambar, dan tindakan-
tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respon
dengan cara tertentu. Oleh karena itu, anda dapat menganggap proses ini sebagai
pertukaran atau pemindahan informasi atau gagasan. Proses ini dapat bersifat
timbal balik dan mempunyai banyak efek. Setiap efek dapat mengubah tindakan
komunikasi (communication act) berikutnya.
Dengan demikian Mulyana D (2007) mengansumsikan bahwa model S-R
mengabaikan komunikasi sebagai suatu proses, khusunya yang berkenaan faktor
manusia. Secara implisit ada asumsi dalam model S-R ini yang menyatakan
perilaku (respon) manusia dapat diramalkan. Ringkasnya, komunikasi dianggap
statis; manusia dianggap berperilaku karena kekuatan dari luar (stimulus),
bukan berdasarkan kehendak, keinginan, atau kemauan bebasnya. Model ini
lebih sesuai bila diterapkan pada system pengendalian suhu udara dari pada
perilaku manusia.

2.3 Tujuan Model Stimulus Respon


Dalam keperawatan kebutuhan dasar manusia sebagai penompang hidup
merupakan stimulus bagi seseorang yang menjadikan seseorang tergerak untuk
bereaksi dan bertindak atas stimulus yang dirasakan dan dikehendaki sehingga
timbul reaksi untuk mencapai tujuan. Hal ini terjadi karena dalam model S-R ada
tujuan yang ingin dicapai baik tujuan yang negative maupun tujuan yang positif.
Bila stimulus yang datang baik, maka akan direspon baik; sebaliknya bila
stimulus yang datang negatif, maka akan direspons negative sehingga dalam
memicu sebuah stimulus dibutuhkan kesadaran yang tinggi. Model ini
menunjukkan komunikasi sebagai proses aksi reaksi yang sangat sederhana.

2.3.1 Fungsi Model Komunikasi


Gordon Wiseman dan Larry Barker, mengemukakan bahwa model kamunikasi
mempunyai tiga fungsi :
a) Melukiskan proses komunikasi
b) Menunjukkan hubungan visual
c) Membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi

2.3.2 Contoh-contoh model S-R

1. Contoh Positif Model Komunikasi S-R


Bila seorang perwat mendapati seorang klien dalam keadaan tegang, wajah
murung, dan reaksi menunjukkan kesakitan akibat luka operasi yang dijalaninya,
lalu seorang perawat menginginkan agar klien tidak kesakitan (tujuan baik)
maka seorang perawat mendekat dan bertanya “ apa yang membuat bapak
tampak tegang dan bereaksi seperti orang kesakitan,” dan klien merasa
kesakitan karena adanya luka operasi, perawat akan mengajari teknik
menghilangkan respon nyeri serta berkolabirasi dengan dokter untuk
memberikan obat anti nyeri. Selanjutnya, klien yang merasa tindakan perawat
akhirnya dapat menurunkan respon nyeri yang dirasakan mengucapkan
“terimakasih” atas pelayanan yang diberikan dan perawat merasa puas atas
tindakannya yang bisa menurunkan respon nyeri pada klien sehingga klien tidak
murung lagi, wajah tampak berseri-seri dan rileks.

2. Contoh Negatif Model Komunikasi S-R


Adanya respon dari klien yang dianggap akan mengganggu integritas
perawat atau menambah beban pekerjaan perawat, maka akan direspon negatif
karena perawat mempunyai tujuan yang negatif pada klien sehingga klien
menjadi sedih dan merana. Walaupun klien tetap menghargai keberadaan
perawat tapi bukan perawat karena tingkahlakunya tidak mencerminkan
seorang perawat yang memberi pelayanan keperawatan yang optimal.
Kesemuanya itu bisa kita prediksikan bahwa seorang yang berbuat baik akan
dibalas dengan kebaikannya dan sebaliknya bila kita berbuat kejelekan akan
dibalas dengan kejelekan dan bahkan sangat menyakitkan. Dengan demikian,
bisa disimpulkan bahwa dalam model S-R hanya dibutuhkan dua instrument
penting yaitu PERAWAT/KLIEN atau KLIEN/PERAWAT.

2.4 Model Komunikasi Aristoteles


Model Aristoteles adalah model komunikasi paling klasik, sering juga
disebut model Retoris (Rhetorical Model) atau pidato. Pada masa itu, seni
berpidato memang merupakan keterampilan penting yang digunakan di
pengadilan, di majlis legislator dan pertemuan-pertemuan masyarakat. Oleh
karena semua bentuk komunikasi public melibatkan persuasi inti dari model
aristoteles ini sebagai komunikasi persuasi di mana berisi suatu anjuran untuk
melakukan dan mengimplementasikan suatu kegiatan sesuai dengan isi pesan.
Untuk itu harus dipersiapkan siapa yang menyampaikan (etos-kepercayaan pada
si penyampai pesan), argument yang dipersiapkan (logos, logika dalam
pendapat), dan bagaimana membawa dan memainkan emosi khalayak untuk
tertarik pada isi pesan (phatos-emosi khalayak). Dengan kata lain, faktor-faktor
yang memainkan peran dalam menentukan efek persuasi suatu pidato meliputi
isi pidato, susunannya, dan cara menyampaikannya.

PEMBICARA PENDENGAR
PESAN

Dalam perkembangan selanjutnya model aristoteles di implementasikan


dengan menetapkan baliho-baliho di tempat strategis yang berisi anjuran untuk
melakukan kegiatan sesuai dengan isi pesan. Penempatan baliho tersebut
walaupun tidak ada yang menyampaikan secara verbal, isi pesan yang terttulis
akan menggambarkan siapa yang menyampaikan. Namun demikian, banyak
pakar komunikasi yang berpendapat bahwa penempatan baliho yang di tempat
yang strategis tersebut merupakan bentuk komunikasi masa, akan tetapi
sebenarnya bahwa hal tersebut kurang tepat bila di tinjau dari spesifikasi tujuan
yang ingin dicapai sesuai dengan karakteristik dari komunikasi persuasi.
Contohnya, anjuran untuk melaksanakan program 3m untuk memberantas
nyamuk demam berdarah maupun deteksi dini penyakit kusta untuk
meningkatkan cakupan deteksi dini penyakit kusta. Hal layak pasti memahami
bahwa anjuran tersebut dating dari orang-orang kesehatan utamanya dari dinas
kesehatan dalam rangka pemberantasan penyakit menular. Akan lebih efektif
bila dalam anjuran tersebut juga berisi tentang dampak yang terjadi bila anjuran
tersebut tidak dilaksanakan dan keuntungan yang diperoleh bila anjuran itu
dilaksanakan. Hal itu bertujuan untuk mengondisikan emosi hal layak agar mau
mengikuti anjuran tersebut. Menurut Aristoteles dalam mulyana D (2006)
mengemukakan bahwa dalam komunikasi persuasi dan perubahan perilaku
merupakan tujuan yang paling utama sehingga diperlukan peran dan menyadari
peran khalayak pendengar. Persuasi berlangsung melalui khalayak ketika
mereka diarahan oleh pidato itu ke dalam suatu keadaan emosi tertentu. Dengan
demikian diperlukan kiat-kiat tertentu untuk bisa menarik perhatian publik.

2.4.1 Unsur Utama Aristoteles

Tiga unsur utama dalam model Aristoteles adalah sebagai berikut

1. Pembicara (speaker)
2. Pesan (message)
3. Pendengar (listener)

Dalam model Aristoteles ini tidak memuat unsur-unsur lainnya yang dikenal
dalam model komunikasi, seperti saluran, umpan balik, efek, dan kendala atau
gangguan komunikasi. Akan tetapi, menurut mulyana D (2006), model yang
sangat sederhana ini dapat merangsang beberapa pertanyaan berikut ini.

1. Unsur-unsur apa yang harus ada dalam pidato agar persuasi di khalayak?
2. Apakah bentuk susunan pidato tertentu lebih baik daripada bentuk
lainnya?
3. Apakah gaya bahasa dalam suatu pidato memengaruhi derajad
persuasinya?
4. Apakah reputasi pembicara yang ada sebelumnya meningkatkan gaya
persuasinya?
Dengan demikian model ini terkesan sangat simple dan statis. Saat seseorang
berbicara, kesannya akan berjalan ke khalayak, dan khalayak mendengarkan.
Pesan sudah dirancang sedemikian rupa untuk memengaruhi khalayak agar mau
menerima isi pesan.

2.4.2 Tradis Aristoteles


Ada 2 tradisi retorika, yaitu :
a. Kebenaran haruslah logis, realistis dan rasional
b. Kebenaran itu absolut, tidak peduli apakah kebenaran ini punya nilai
praktis.

Ada enam keistimewaan yang mencirikan tradisi ini:


a. Keyakinan bahwa berbicara membedakan manusia dari binatang.
b. Ada kepercayaan bahwa pidato publik yang disampaikan dalam forum
demokrasi adalah cara yang lebih efektif untuk memecahkan masalah
politik.

c. Retorika merupakan sebuah strategi di mana seorang pembicara


mencoba mempengaruhi audience melalui pidato yang jelas-jelas bersifat
persuasif. Public speaking pada dasarnya merupakan komunikasi satu
arah.

d. Pelatihan kecakapan pidato adalah dasar pendidikan kepemimpinan.


Seorang pemimpin harus mampu menciptakan argumen-argumen yang
kuat lalu dengan lantang menyuarakannya.

e. Menekankan pada kekuatan dan keindahan bahasa untuk menggerakkan


orang banyak secara emosional dan menggerakkan mereka untuk
beraksi/bertindak. Pengertian Retorika lebih merujuk kepada seni bicara
daripada ilmu berbicara.
f. Sampai tahun 1800-an, perempuan tidak memiliki kesempatan untuk
menyuarakan haknya. Jadi retorika merupakan sebuah keistimewaan bagi
pergerakan wanita di Amerika yang memperjuangkan haknya untuk bisa
berbicara di depan publik.

2.4.3 Asumsi-asumsi Teori Aristoteles


Ada 2 asumsi yang terdapat teori aristoteles, yaitu :
a. Public speaker atau pembicara yang efektif perlu mempertimbangkan
khalayak mereka. Asumsi ini mengarah kepada konsep analisis khalayak
(audience analysis).
b. Public speaker atau pembicara yang efektif menggunakan sejumlah bukti-
bukti dalam presentasinya. Bukti-bukti yang dimaksudkan ini merujuk
pada cara-cara persuasi yaitu :

1. Ethos adalah karakter, inteligensi dan niat baik yang dipersepsikan dari
seorang pembicara. Hal ini bisa di pelajari dan dibiasakan.

2. Logos adalah bukti logis atau penggunaan argumen dan bukti, rasionalisasi
dan wacana yang di gunakan dalam sebuah pidato.

3. Pathos adalah bukti emosional atau emosi yang dimunculkan dari para
anggota khalayak.

2.4.4 Argumen Tiga Tingkat Aristoteles


Logos adalah salah satu dari tiga bukti yang menurut Aristoteles
menciptakan pesan yang lebih efektif. Berpegang pada bukti-bukti logis ini
merupakan sesuatu yang disebut silogisme (syllogism). Namun, kemudian
muncul istilah yang juga popular yaitu entimem (entymeme).
Silogisme adalah sekelompok proporsi yang berhubungan satu sama lain
dan menarik sebuah kesimpulan dari premis-premis mayor dan minor. Silogisme
sebenarnya merupakan sebuah argument deduktif yang merupakan sekelompok
pernyataan (premis) yang menuntun pada sekelompok pernyataan lainnya
(kesimpulan).
Entimem adalah silogisme yang didasarkan pada kemungkinan
(probability), tanda (sign) dan contoh (example), dan berfungsi sebagai persuasi.
Kemungkinan adalah pernyataan-pernyataan yang secara umum benar tetapi
masih membutuhkan pembuktian tambahan. Tanda adalah pernyataan yang
menjelaskan alasan bagi sebuah fakta. Contoh adalah pernyataan-pernyataan
baik yang faktual maupun yang diciptakan oleh pembicara. Entimem dalam hal
ini memungkinkan khalayak untuk mendeduksi kesimpulan dari premis-premis
yang atau dari pengalaman mereka sendiri. James McBurney, mengingatkan
bahwa entimem merupakan dasar dari semua wacana persuasive. Karenanya
entimem juga berhubungan dengan ethos dan pathos. Larry Anhart, percaya akan
adanya kesalingterhubungan antara entimem dan bentuk-bentuk bukti ketika ia
menyimpulkan bahwa kekuatan persuasif entimem terletak didalam
kemampuannya untuk menjadi logis dan etis.

2.4.5 Kanon Aristoteles


Kanon merupakan tuntunan atau prinsip-prinsip yang harus diikuti oleh
pembicara agar pidato persuasif dapat menjadi efektif, yaitu :
1. Penemuan : Konstruksi/penyusunan dari suatu argumen yang relevan
dengan tujuan dari suatu pidato. Terdiri dari topik dan civic space. Dengan
menggunakan logika dan bukti dalam pidato dapat membuat sebuah
pidato menjadi lebih kuat dan persuasif. Topik adalah bantuan terhadap
yang merujuk pada argumen yang digunakan oleh pembicara. Para
pembicara juga bergantung pada civic space dimana itulah kesempatan
untuk membujuk orang lain.
2. Pengaturan : Kemampuan pembicara untuk mengorganisasikan
pidatonya. Terdiri dari pengantar, batang tubuh dan kesimpulan,yaitu :
a) Pengantar merupakan bagian dari strategi organisasi dalam suatu pidato
yang cukup menarik perhatian khalayak, menunjukkan hubungan topik dengan
khalayak, dan memberikan bahasan singkat mengenai tujuan pembicara.

b) Batang tubuh merupakan bagian dari strategi organisasi dari pidato yang
mencakup argumen, contoh dan detail penting untuk menyampaikan suatu
pemikiran.

c) Kesimpulan merupakan bagian dari strategi organisasi dalam pidato yang


ditujukan untuk merangkum poin-poin penting yang telah disampaikan
pembicara dan untuk menggugah emosi di dalam khalayak.

1. Gaya : Penggunaan bahasa untuk menyampaikan ide dalam cara tertentu.


Biasanya bahasa yang di gunakan adalah majas metafora.
2. Penyampaian : Presentasi non verbal dari ide-ide seorang pembicara.
Penyampaian biasanya mencakup beberapa perilaku seperti kontak mata,
tanda vokal, ejaan, gerak tubuh, dll. Penyampaian yang efektif mendukung
kata-kata pembicara dan membantu mengurangi ketegangan pembicara.

3. Ingatan : Menyimpan penemuan, pengaturan dan gaya di dalam benar si


pembicara. Dengan ingatan, seseorang pembicara dapat mengetahui apa
saja yang akan dikatakan dan kapan mengatakannya, meredakan
ketegangan pembicara dan memungkinkan pembicara untuk merespons
hal-hal yang tidak terduga.

2.4.6 Kegunaan Aristoteles


Konrad Lorenz pernah mengatakan :
“Apa yang diucapkan tidak berarti juga di dengar, apa yang di dengar tidak
berarti juga di mengerti, apa yang di mengerti tidak berarti juga di setujui, apa
yang di setujui tidak berarti juga di terima, apa yang di terima tidak berarti juga
di hayati dan apa yang di hayati tidak berarti juga mengubah tingkah laku”
Model aristoteles penting supaya apa yang di ucapkan dapat di dengar,
apa yang di dengar dapat di setujui, apa yang disetujui dapat di terima, apa yang
diterima dapat di hayati dan apa yang di hayati dapat mengubah tingkah laku.

2.4.7 Jenis Aristoteles


a. Retorika forensik: keadaan ketika para pembicara mendorong munculnya rasa
bersalah atau tidak bersalah dari khalayak. Pidato forensik atau juga disebut
pidato Yudisial biasanya ditemui dalam kerangka hukum. Retorika forensik
berorientasi pada masa waktu lampau.Contoh : bahasa komunikasi saat di
pengadilan

b. Retorika epideiktik : wacana yang berhubungan dengan pujian atau tuduhan


Sering disebut juga pidato seremonial. Pidato jenis ini disampaikan kepada
publik dengan tujuan untuk memuji, menghormati, menyalahkan dan
mempermalukan. Pidato jenis ini berfokus pada isu-isu sosial yang ada pada
masa waktu sekarang.Contoh : bahasa komunikasi ketika memberikan pidato
seremonial

c. Retorika deliberatif : saat pembicara harus menentukan suatu tindakan yang


harus diambil, sesuatu yang harus atau tidak boleh di lakukan oleh khalayak.
Pidato ini sering disebut juga dengan pidato politis. Pidato deliberatif
berorientasi pada masa waktu yang akan datang.Contoh : bahasa komunikasi
saat berpidato politis.

2.5 Kelebihan model komunikasi Aristoteles


a. Bila kita hubungkan lagi dengan komunikasi pada zaman sekarang, model
komunikasi yang dikemukakan oleh Aristoteles merupakan model
komunikasi yang cukup sederhana, bahkan dapat di katakan terlalu
sederhana jika dibandingkan dengan model-model yang diberikan tokoh
yang lain karena model ini tidak memuat unsur-unsur lain yang telah
dikenal dalam model komunikasi seperti saluran umpan balik, efek dan
kendala/gangguan komunikasi yang mungkin timbul, dan lainnya.
b. Meskipun demikian, model ini dapat membuat membuat orang bertanya-
tanya, seperti apa itu pedoman dalam berpidato misalnya unsur-unsur
apa yang harus ada dalam pidato agar persuasif bagi khalayak? Apakah
bentuk susunan pidato tertentu lebih baik dari bentuk lainnya? Apakah
gaya bahasa dalam suatu pidato mempengaruhi derajat persuasif?

c. Pada dasarnya komunikasi yang diberikan oleh Aristoteles telah banyak


memberikan kesempatan para pakar komunikasi lainnya untuk
menciptakan model-model komunikasi baru. Yakni tetap mengandung 3
unsur yang sama yakni sumber yang mengirimkan pesan, pesan yang
dikirim dan penerima pesan tersebut. Yang pada intinya, model
komunikasi dari Aristoteles mendasari dan merupakan akar dari model
komunikasi yang lainnya.

d. Dapat menimbulkan banyak pertanyaan yang dapat menyempurnakan


proses pembuatan teori komunikasi.

e. Pengujian waktu berjalan. Teori ini telah melalui rentang waktu 2000
tahun dengan poros Aristoteles. Teori retorika mengenai emosi, logika
dan kepercayaan ini tidak dapat di abaikan begitu saja.

f. Munculnya teori Heurisme yang dimana teori ini telah mencakup


beberapa sub-area dalam komunikasi. Seperti ketakutan dalam
berkomunikasi dan telah mendorong penelitian yang bersifat empiris
maupun praktis.

2.6 Kelemahan model komunikasi Aristoteles


a. Salah satu kelemahan model ini adalah bahwa komunikasi dianggap
sebagai fenomena statis. Dimana hanya terdapat transfer pesan dari
pembicara ke pendengar saja. Misalnya, seorang pembicara sedang
berbicara tentang sesuatu hal dan kemudian ia menyampaikan pesan
kepada para khalayak. Kemudian, khalayak mendengarkan apa yang
menjadi pesan dari si pembicara. Tahap-tahap komunikasi dalam
peristiwa ini terjadi secara berurutan dimana itu terjadi terus-menerus
terjadi secara statis ketimbang terjadi secara simultan.
b. Model komunikasi ini memunculkan persepsi yang salah bahwa kegiatan
yang terstruktur yang selalu disengaja. Seperti, pembicara menyampaikan
dan pendengar hanya mendengarkan tanpa di jelaskan lebih jauh
mengenai gangguan yang mungkin terjadi dalam proses
penyampaian pesan, efek yang akan terjadi dan sebagainya.

c. Di dalam model komunikasi yang diutarakan oleh Aristoteles ini tidak


membahas mengenai aspek-aspek non-verbal dalam persuasi yang
berperan dalam proses komunikasi.

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Model komunikasi adalah gambaran yang sederhana dari proses
komunikasi yang memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi
dengan komponen lainnya, model komunikasi ada dua sifat yaitu :
Sifat satu arah dan dua arah.Sifat satu arah menggambarkan Beberapa orang
bersikap seakan – akan tidak perlu ada respon terhadap apa yang mereka
komunikasikan.Tetapi yang difokuskan disini adalah komunikasi dua arah
dimana penerima pesan secara aktif terlibat di dalam proses sehingga setiap
orang memodifikasi pesan sesuai dengan respon orang lain. Dengan tambahan
rangkaian umpan balik, diagram pertama sekarang menjadi dua arah.

Model stimulus–respons (S-R) adalah model komunikasi paling dasar. Model


ini dipengaruhi oleh disiplin psikologi behavioristik.Model ini menunjukkan
bahwa komunikasi itu sebagai suatu proses “aksi-reaksi” yang sangat sederhana.
Jadi model ini mengasumsikan bahwa kata-kata verbal, isyarat nonverbal,
gambar dan tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan
respon dengan cara tertentu. Pertukaran informasi ini bersifat timbal balik dan
mempunyai banyak efek dan setiap efek dapat mengubah tindakan komunikasi

Model Aristoteles yaitu Model mengajukan 3 unsur komunukasi utama yang


disebut pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener). Selain
itu terdapat unsur lain yang disebut setting yaitu suasana lingkungan yang perlu
diciptakan agar komunikasi berlangsug efektif. Menurut Aristoteles, untuk
berhasil dalam komunikasi public, maka terdapat 3 unsur utama yang harus
diperhatikan, yaitu ethos (kredibilitas komunikator), logos (rutun logika
argumentasi pesan yang anda sampaikan), pathos (kemampuan memainkan
emosi).

3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Nasir, abdul, dkk. 2009. Komunikasi dalam keperawatan. Jakarta: Salemba


Medika

Mulyana, deddy. 2008. Ilmu komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya

Fisher,B. Aubrey. 1986. Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaludin Rakhmat.


Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.
LAMPIRAN