Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MATA KULIAH

HUKUM KELEMBAGAAN NEGARA

PERANAN KOMISI YUDISIAL DALAM PENGAWASAN TERHADAP


HAKIM

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945


menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Sejalan dengan ketentuan
tersebut maka salah satu prinsip penting negara hukum adalah adanya jaminan
penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka, bebas dari pengaruh
kekuasaan lainnya untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum
dan keadilan. Hakim sangat erat kaitannya dengan hukum atau negara hukum.
Karena hukum akan ditegakkan dimana ada pengadilan yang merupakan tempat
untuk mengadili dan tentunya dalam pengadilan ada hakim yang berperan sebagai
pemutus sebuah keputusan yang adil. Untuk itu, perlu adanya kode etik profesi
hakim yaitu aturan tertulis yang harus dipedomani oleh setiap Hakim Indonesia
dalam melaksanakan tugas profesi sebagai Hakim. Adapum maksud dan tujuan
adanya kode etik profesi hakim ini adalah Sebagai alat pembinaan dan
pembentukan karakter Hakim dan pengawasan tingkah laku Hakim. Selain itu
juga sebagai sarana kontrol sosial, pencegah campur tangan ekstra judicial, dan
pencegah timbulnya kesalah pahaman dan konflik antar sesama anggota dan
antara anggota dengan masyarakat. Tujuan dari kode etik ini adalah memberikan
jaminan peningkatan moralitas Hakim dan kemandirian fungsional bagi Hakim
dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. Dengan
adanya kode etik profesi hakim yang menjadi pedoman bagi Hakim Indonesia,
baik dalam menjalankan tugas profesinya harapannya adalah untuk mewujudkan
keadilan dan kebenaran maupun dalam pergaulan sebagai anggota masyarakat
yang harus dapat memberikan contoh dan suri tauladan dalam kepatuhan dan
ketaatan kepada hukum. Tetapi kenyataannya sekarang Hakim banyak
menyimpang dari kode etik tersebut. Faktanya bisa dilihat dari media massa
ataupun cerita pribadi yang berupa pengalaman dengan melihat secara langsung.
Tetapi, media massa kurang begitu mengekspose karena biasanya kasus
pelanggaran kode etik ini tidak sampai ke publik. Kalaupun ada biasanya akan
ditangani oleh komisi yang dibentuk oleh Pengurus Pusat IKAHI dan Pengurus
Daerah IKAHI untuk memantau, memeriksa, membina, dan merekomendasikan
tingkah laku hakim yang melanggar atau diduga melanggar Kode Etik Profesi.
Kode etik profesi hakim sudah tentu berisikan aturan-aturan mengenai etika-etika
hakim yang baik. Sehingga sumber dari kode etik ini tentunya adalah sumber yang
baik dan dapat dipercaya. Nilai-nilai akhlaq yang diajarkan oleh agama yang
melahirkan nilai moralitas yang baik adalah sumber dari kode etik ini. Oleh
karena itu, butuh adanya suatu landasan bagi hakim untuk menerapkan kode etik
profesinya dalam praktek sehari-hari. Hal ini karena kode etik hanya merupakan
sebatas aturan saja. Adanya Komisi Yudisial yang berada dalam struktur Lembaga
yudikatif di Indonesia belum mencukupi dalam mengawasi hakim menjalankan
tugasnya. Dibutuhkan hukum yang tegas, moralitas hakim yang baik, dan
landasan keimanan atau agama bagi seorang hakim dalam menjalankan kode etik
profesinya tersebut. Tetapi yang terjadi di dunia peradilan saat ini adalah
sebaliknya yakni suatu peradilan yang tidak bersih dan penuh dengan mafia
hukum yang membuat nilai dan tujuan keadilan tersebut hilang ditengah
masyarakat. Didalam dunia peradilan pun masih banyak terdapat pelanggaran
kode etik profesi hukum itu sendiri. “Menyedihkan”, “merisaukan” atau istilah
apa pun yang cocok jika terjadi praktek copy paste dalam putusan hakim dalam
mengadili suatu perkara sebagaimana diungkap Komisi Yudisial. Bagaimana hal
itu terjadi banyak kemungkinan, tetapi sebuah putusan hakim terjangkit
“virus”copy paste, sungguh telah mempertaruhkan nasib dan mutu penegakkan
hukum di Indonesia, dan disisi lain sulit untuk dibayangkan bagaimana nasib
pencari keadilan yang menjadikan pengadilan sebagai benteng terakhir bagi
mereka dalam mencari keadilan ketika putusan yang diberikan hakim terjangkit
praktek copy paste. Sebagaimana ditulis Metro TV News , 15 April 2011, Komisi
Yudisial (KY) menemukan banyak laporan yang menyatakan hakim melakukan
praktik copy paste dalam menangani perkara. Itu menunjukkan kemerosotan
penegakan hukum akibat penegak hukum yang tak profesional. "Sampai saat ini,
ada sekitar 300-an laporan masuk KY. Termasuk juga laporan tahun lalu.
Alhamdullilah, semuanya sudah diteliti dan ada yang ditindaklanjuti," ujar
Komisioner KY, Taufik Rachman Syahuri, di Jakarta, Jumat (15/4). Menurutnya
laporan itu berasal dari masyarakat maupun mitra seperti lembaga bantuan hukum
dan lembaga swadaya masyarakat. Temuan itu mencuat setelah KY menggelar
pertemuan dengan elemen masyarakat baru-baru ini. Taufik mengatakan 80
persen dari 300 laporan itu bisa ditindaklanjuti dengan memeriksa hakim
bersangkutan. Sementara KY tak bisa memeriksa 20 persen lainnya karena tak
menemukan bukti kuat pelanggaran perilaku hakim. Saat ditanya, perilaku hakim
apa saja yang banyak ditemukan, spontan Taufik menyebutkan banyaknya model
hakim copy paste. "Yang banyak terjadi adalah hakim-hakim yang melakukan
pertimbangan dan putusan dengan mengopi blanko yang sudah ada, tinggal
merubah nama dan juga tanggal. Yah, copy paste-lah," ungkapnya. Riskannya
perilaku hakim copy paste menurut temuan KY, menyebabkan banyak putusan
hakim keliru. banyak pertimbangan dan amar putusan yang tak berkaitan.
Sehingga, hal tersebut tentunya dapat memengaruhi putusan hakim. Oleh sebab
itu, melihat keadaan demikian, Komisi yudisial berperan penting dalam
menegakkan kode etik profesi hakim yang membuat dunia peradilan kita di
indonesia ini buruk. Komisi Yudisial merupakan lembaga negara yang bersifat
mandiri dan dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau
pengaruh kekuasaan lainnya harus dapat mengambil tindakan yang tegas bagi
hakim-hakim tersebut. Kalau bisa hakim yang melakukan pelanggaran demikian
diberi sanksi keras supaya menjadi shock terapi bagi hakim lainnya.

2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kedudukan Komisi Yudisial dalam struktur
ketatanegaraan Indonesia?
2. Bagaimanakah pengaruh Komisi Yudisial dalam membangun
sistem peradilan yang bersih?
3. Bagaimanakah tugas Komisi Yudisial dalam pengawasan
terhadap hakim?

BAB II PEMBAHASAN

1. Kedudukan Komisi Yudisial di dalam Struktur Ketatanegaraan


Termasuk kedalam lembaga negara setingkat presiden dan bukan lembaga
pemerintahan bersifat khusus atau lembaga khusus yang bersifat independen yang
dalam istilah lain disebut lembaga negara mandiri (state auxiliaries institution).
Dengan demikian status kelembagaan Komisi Yudisial tidak sama dengan,
misalnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU), Komnas HAM, Komnas Perempuan,
Komisi Pemeriksaan Kekayaan Negara, Komisi Pengawas Persaingan Usaha,
Komisi Hukum Nasional, Komisi Kebenaran dan Rekosiliasi, Komisi
Pemberantasan Korupsi, Komisi Kepolisian Nasional, Komisi Konstitusi, Komisi
Penyiaran Indonesia, dan Komisi Perlindungan Anak, karena ada alasan sebagai
berikut:
1.Kewenangan Komisi Yudisial diberikan langsung oleh Undang Undang
Dasar 1945, yaitu Pasal 24 B.

2.Komisi Yudisial secara tegas dan tanpa keraguan merupakan bagian dari
kekuasaan kehakiman, karena pengaturan ada dalam Bab IX kekuasaan
kehakiman yang terdapat dalam Undang Undang Dasar 1945.

Kedudukan Komisi Yudisial disini sebagai lembaga Negara, yakni


lembaga yang kewenangannya ditentukan oleh Undang Undang Dasar, dimana
Komisi Yudisial itu sendiri dalam Pasal 24 B ayat 1 dan 2 dalam hubungannya
dengan lembaga Negara yang lain seperti Mahkamah Konstitusi, Mahkamah
Agung, Presisen, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Permusyawaratan
Rakyat itu sejajar. Pola hubungan yang ada diantara lembaga
– lembaga ini yakni pola hubungan fungsional dan bukan struktural. Yang
membedakan antara pola hubungan fungsional dengan pola hubungan struktural
disini adalah tidak lagi pola hubungan yang bersifat instruktuif tetapi bersifat
berjalan sesuai fungsi masing
– masing lembaga tersebut yang mana konsepsi ketenegaraan 4 sekarang yakni
konstruksi check and balance yang artinya ada fungsi control dan penyeimbang
dalam lembaga Negara.

Pasal 24 B Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun


1945 dengan rumusan sebagai berikut1:

1
Pasal 24 B Undang – Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945
1.Komisi yudisial bersifat mandiri yang berwenang
mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam
rangka menjaga dan menegakan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku
hakim.
2.Anggota komisi yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman
di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.
3.Anggota komisi yudisial diangkat dan diberhentikan oleh presiden
dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
4.Susunan, kedudukan, dan keanggotaan komisi yudisial diatur dengan
undang - undang. Berdasarkan ketentuan Pasal 24 B ayat (4) UUD 1945, maka
dikeluarkanlah Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang
Komisi Yudisial. Menurut ketentuan Pasal 1 ditegaskan bahwa komisi
yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam UUD Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam Pasal 2 ditegaskan, bahwa Komisi
Yudisial merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri dan dalam pelaksanaan
wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lainnya.
Sebenarnya ide perlu adanya suatu komisi khusus untuk menjalankan fungsi-
fungsi tetrtentu yang berhubungan dengan kekuasaan kehakiman bukanlah hal
yang baru. Dalam pembahasan Rancangan Undang - Undang tentang ketentuan-
ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sekitar tahun 1968, setempat diusulkan
pembentukan lembaga yang diberi nama Majelis Pertimbangan Penelitiaan
Hakim. Majelis ini berfungsi memberikan pertimbangan dan mengambil
keputusan terakhir mengenai saran-saran atau usul-usul yang berkenaan dengan
perangkat, promosi, kepindahan, pemberhentian, dan tindakan atau
hukumanjabatan para hakim, yang diajukan oleh Mahkamah Agung maupun
Menteri Kehakiman.

2. Peranan Komisi Yudisial Dalam Membangun Peradilan Yang


Bersih

Salah satu wujud terbentuknya Komisi Yudisial adalah untuk membangun


suatu sistem peradilan yang bersih,tentu hal ini ada kaitannya dengan kode etik
dan kode etik profesi hakim dimana kode etik dan kode etik profesi hakim
merupakan suatu acuan hakim dalam setiap kali menjalankan tugas dalam
mengambil putusan.Komisi Yudisial dalam hal menjalankan tugas dan
wewenangnya berdasarkan laporan dan temuan dari masyarakat indonesia.Hal ini
diatur dalam UU 2 tahun 2005 tentang tata cara pengawasan hakim. Adapun
Komisi Yudisial dalam menerapkan sanksi diatur dalam pasal 14 yang bebrbunyi
sebagai berikut:
(1) Komisi Yudisial dalam rapat pleno berwenang menilai jenis dan
kualitas pelanggaran terhadap kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku
hakim, dengan memperhatikan Kode Etik Hakim, dan menentukan jenis sanksi
berdasarkan peraturan perundang-undangan;
(2) Jenis sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa : a. teguran
tertulis; b. pemberhentian sementara; c. pemberhentian. Dengan adanya sanksi
seperti ini maka akan terlihat sangat jelas bahwa Komisi Yudisial sangat
berpengaruh dalam membangun suatu sistem peradilan yang bersih.Agar nantinya
hakim dalam mengambil putusan sesuai dengan apa yang ada dalam irah-irah atau
kepala putusan yaitu “Demi keadilan berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa”.

3. Tugas Komisi Yudisial dalam Pengawasan Hakim

Komisi Yudisial bertugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim (Pasal


20 Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004). Dalam melaksanakan
kewenangannya menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga
perilaku hakim, Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi
terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan atau Mahkamah
Konstitusi (Pasal 21 Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004). Penjatuhan sanksi
ini diajukan kepada Mahkamah Agung untuk hakim agung dan kepada Mahkamah
Konstitusi untuk hakim konstitusi.
Sesuai Pasal 22 ayat (1), maka Komisi Yudisial:
1.Menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim;
2.Meminta laporan secara berkala kepada badan peradilan berkaitan
dengan perilaku hakim;
3.Melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim;
4.Memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode
etik perilaku hakim; dan
5.Membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan
kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi, serta tindasannya
disampaikan kepada Presiden dan DPR.
Sedangkan pasal 22 ayat (2) Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004
menegaskan, bahwa dalam melaksanakan pengawasannya, Komisi Yudisial wajib:
1.Menaati norma, hukum, dan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
2.Menjaga kerahasiaan keterangan yang karena sifatnya merupakan rahasia.
Yang dimaksud dengan mentaati norma, hukum, dan ketentuan peraturan
perundang-undangan dalam ketentuan ini misalnya tidak memperlakukan semena
- mena terhadap hakim yang dipanggil untuk memperoleh keterangan atau tidak
memperlakukan hakim seolah-olah tersangka atau terdakwa. Hal ini untuk
menjaga hak dan martabat hakim yang bersangkutan
Pelaksanaan tugas Komisi Yudisial tidak boleh mengurangi kebebasan
hakim dalam memeriksa dan memutus perkara ( Pasal 22 ayat 3 Undang - Undang
Nomor 22 Tahun 2004). Itu artinya, hakim tetap diberikan kemandirian dalam
melaksanakan tugasnya.
Hanya saja, manakala hakim akan diperiksa Komisi Yudisial, maka pasal
22 ayat (4) Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004 menegaskan:
“Badan peradilan dan hakim wajib memberikan keterangan atau data yang
diminta Komisi Yudisial dalam rangka pengawasan terhadap perilaku hakim
dalam jangka waktu paling lambat 14 hari terhitung sejak tanggal permintaan
Komisi Yudisial diterima. Yang dimaksud dengan hakim dalam ketentuan ini
termasuk hakim pelapor, hakim terlapor, atau hakim lain yang terkait. Sedangkan
yang dimaksud dengan keterangan itu dapat diberikan secara lisan dan/atau te
rtulis” (penjelasan pasal 22 ayat 4) Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004.
Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban
tersebut, Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan
penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan
keterangan atau data yang diminta (Pasal 22 ayat 5 Undang - Undang Nomor 22
Tahun 2004).
Apabila badan peradilan atau hakim telah diberikan peringatan
atau paksaan tetapi tetap tidak melaksanakan kewajibannya, maka pimpinan
badan peradilan atau hakim yang bersangkutan dikenakan sanksi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan dibidang kepegawaian (Pasal 22 ayat 6
Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004). Semua keterangan dan data
ini bersifat rahasia (Pasal 22 ayat 7 Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004).
Sedangkan mengenai ketentuan tata cara pelaksanaan tugas sebagai mana
dimaksud pada Pasal 22 ayat (1) Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004 di atur
oleh Komisi Yudisial.
Di dalam Pasal 23 ayat (1) Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004
ditegaskan mengenai usul penjatuhan sanksi yang dapat diberikan Komisi
Yudisial kepada hakim sesuai dengan tingkat pelanggarannya, yaitu:
1.Teguran tertulis;
2.Pemberhentian sementara; atau
3.Pemberhentian.
Usul pemberhentian sanksi teguran tertulis ini disertai alasan kesalahannya,
bersifat mengikat, disampaikan Komisi Yudisial kepada pimpinan Mahkamah
Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi (Pasal 23 ayat 2 Undang - Undang Nomor
22 Tahun 2004). Sedangkan usul penjatuhan sanksi pemberhentian sementara dan
pemberhentian ini diserahkan Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung
dan/atau Mahkamah Konstitusi (Pasal 23 ayat 3 Undang - Undang Nomor 22
Tahun 2004). Untuk hakim yang dijatuhkan sanksi pemberhentian sementara dan
pemberhentian diberi kesempatan secukupnya untuk membela diri di hadapan
Majelis Kehormatan Hakim (Pasal 23 ayat 4 Undang - Undang Nomor 22 Tahun
2004). Dalam hal pembelaan ditolak, usul pemberhentian hakim diajukan oleh
Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada presiden paling lambat
14 hari sejak pembelaan ditolak oleh Majelis Kehormatan (pasal 23 ayat 5).
Keputusan Presiden mengenai pemberhentian hakim, ditetapkan dalam jangka
waktu paling lama 14 hari sejak presiden menerima usul Mahkamah Agung (pasal
23 ayat 6 Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004).
Selain tugas pengawasan, Komisi Yudisial juga dapat mengusulkan
kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi untuk
memberikan penghargaan kepada hakim atas prestasi dan jasanya dalam
menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim
(pasal 24 ayat 1 Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2004). Harus diakui,
dilahirkannya lembaga Komisi Yudisial ini tidak lain akibat dari banyaknya
penyimpangan perilaku hakim, bahkan sampai-sampai memunculkan istilah mafia
peradilan, sementara system yang ada untuk membersihkan penyimpangan
penyimpangan hakim, misalnya suap dan korupsi dinilai tidak mampu menembus
dinding korps hakim. Boleh jadi, jika saja hakim dinegeri ini banyak yang
berperilaku bersih, tak perlu dibentuk Komisi Yudisial.
Sekelompok orang yang ditunjuk dan atau diberi wewenang
oleh pemerintah untuk menjalankan suatu tugas tertentu yang berhubungan
dengan lembaga hukumatau lembaga yudikatif. Latar Belakang Lahirnya Komisi
Yudisial dan Kedudukannya Dalam Susunan Ketatanegaraan Indonesia.
Guna pembenahan terhadap masalah masalah dalam hal kekuasaan kehakiman
yang selama ini seringkali dimanfaatkan oleh kepentingan politik pihak – pihak
tertentu maka diperlukan adanya gagasan – gagasan tentang perlunya lembaga –
lembaga khusus yang mempunyai fungsi fungsi tertentu yang berkaitan dengan
kekuasaan kehakiman. Komisi Yudisial dibentuk dalam rangka memenuhi
gagasan– gagasan tersebut sebagai penyeimbang yang berjalan bukan pada rel
atau koridor peradilan tetapi untuk melakukan pengawasan atau sebagai fungsi
control sehingga perwujudan konsep “chek and balance” bisa tercapai dengan
benar.
Seiring diterbitkan Undang – Undang terbaru tentang Komisi Yudisial
yaitu Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang
– Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial terjadi beberapa
perubahan yaitu, terjadi perubahan di Pasal 20 dan adanya Pasal 20 A, dihapusnya
Pasal 21, adanya Pasal 22 A, B, C, D, E, F, G, dan dihapusnya Pasal 23 dan 24.
Dengan terjadinya perubahan di atas, maka Komisi Yudisial mempunyai
tugas yaitu:
1.Melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap perilaku Hakim;
2.Menerima laporan dari masyarakat berkaitan dengan pelanggaran Kode Etik
dan/atau Pedoman Perilaku Hakim;
3.Melakukan verifikasi, klarifikasi, dan investigasi terhadap laporan
dugaan pelanggaran Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim secara
tertutup;
4.Memutuskan benar tidaknya laporan dugaan pelanggaran Kode Etik dan/atau
Pedoman Perilaku Hakim; dan
5.Mengambil langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap orang perseorangan,
kelompok orang, atau badan hukum yang merendahkan kehormatan dan
keluhuran martabat Hakim.
Komisi Yudisial juga wajib ( Pasal 20A Undang–
Undang Nomor 18 Tahun 2011) antara lain:
1.Menaati peraturan perundang-undangan;
2.Menegakkan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim;
3.Menjaga kerahasiaan keterangan atau informasi yang diperoleh yang karena
sifatnya merupakan rahasia Komisi Yudisial yang diperoleh berdasarkan
kedudukannya sebagai anggota; dan
4.Menjaga kemandirian dan kebebasan Hakim dalam memeriksa, mengadili, dan
memutus perkara.
BAB III PENUTUP A.

Kesimpulan
Kedudukan Komisi Yudisial disini sebagai lembaga Negara, yakni lembaga yang
kewenangannya ditentukan oleh Undang Undang Dasar, dimana Komisi Yudisial
itu sendiri dalam Pasal 24 B ayat 1 dan 2 dalam hubungannya dengan lembaga
Negara yang lain seperti Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, Presisen,
Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Permusyawaratan Rakyat itu sejajar.
Menurut Jimly Asshiddiqie, maksud dibentuknya Komisi Yudisial dalam struktur
kekuasaan Kehakiman Indonesia adalah agar warga masyarakat diluar struktur
resmi lembaga parlemen dapat dilibatkan dalam proses pengangkatan, penilaian
kinerja, dan kemungkinan pemberhentian hakim. Dalam menjalankan tugas dan
kewenangannya Komisi Yudisial
sebagai badan “Landing of the Last Resort” untuk menjadi kepercayaan
terakhir serta mewujudkan harapan warga negaranya dalam mencapai suatu
keadilan sangat terbatas.

B.Saran
Seharusnya Komisi Yudisial diberikan suatu kewenangan yang lebih luas dalam
hal memantau kinerja hakim agar hakim sebagai badan indepen dan impartial
judiciary benar-benar terjaga kualitasnya, dan dapat mendorong adanya suatu
pembangunan dalam sistem peradilan yang bebas dan bersih dari mafia hukum.