Anda di halaman 1dari 16

Mata Kuliah Anatomi Fisiologi

“Sistem Urinaria”

Disusun Oleh Kelompok 3 :

 Mia Hammidah
 Nuzul Citra
 Muhammad Sabiq
 Qorry Afifah
 Shinta Agustina

TINGKAT 1 KELAS D-IIIB

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II

TAHUN 2019

1
2
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem urinaria atau saluran kemih adalah sistem organ yang berfungsi menyaring dan
membuang zat limbah serta cairan berlebih melalui urine. Beragam penyakit seputar
saluran kemih, seperti infeksi saluran kemih, batu saluran kemih, dan juga inkontinensia
urine bisa saja Anda alami jika terdapat masalah pada sistem urinaria atau sistem saluran
kemih Anda.
Sistem urinaria atau saluran kemih terdiri dari ginjal, kandung kemih, ureter, dan juga
uretra (saluran kencing). Melalui saluran ini, urine dibuang ke luar tubuh. Bagian-bagian
pada sistem urinaria tersebut memiliki fungsi dan peranannya masing-masing.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud Sistem Urinaria?
2. Bagaimana Pembentukan Urine?
3. Bagaimana fungsi pada ginjal,uretra,kandung kemih dan ureter?
4. Apa saja gangguan pada sistem urine?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu sistem urine
2. Untuk mengetahui pembentukan urine
3. Untuk mengetahui fungsi fungsi pada sistem urine
4. Untuk mengetahui gangguan apa saja pada sistem urine

3
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Urinaria

Sistem urinaria adalah Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu
sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat
yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan
oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan
dikeluarkan berupa urin (air kemih).

GINJAL

Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di


belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung
pada dinding abdomen. Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis),
jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal
kanan.Pada orang dewasa berat ginjal ± 200 gram. Dan pada umumnya ginjal
laki–laki lebih panjang dari pada ginjal wanita. Satuan struktural dan fungsional
ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap – tiap nefron terdiri atas komponen
vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh – pembuluh darah

4
yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen
tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus – tubulus, yaitu tubulus kontortus
proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang
terdapat pada medula.

Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan
lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya besar
dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang
memeluk kapiler secara teratur sehingga celah – celah antara pedikel itu sangat
teratur.

Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus


yang keluar dari korpuskel renal disabut dengan tubulus kontortus proksimal
karena jalannya yang berbelok – belok, kemudian menjadi saluran yang lurus
yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle,
karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal,
kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal

Fungsi Ginjal:

1. Mengekskresikan zat – zat sisa metabolisme yang mengandung

nitrogennitrogen, misalnya amonia.

2. Mengekskresikan zat – zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan

vitamin) dan berbahaya (misalnya obat – obatan, bakteri dan zat warna).

3. Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi.

4. Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan asam

atau basa.

2.2 Pembentukan dan Karakteristik Urine

 Pembentukan Urine

5
pembentukan urin itu sendiri dibagi menjadi 3(tiga) tahap, yakni tahap
penyaringan (filtrasi), tahap penyerapan kembali (reabsorbsi), serta juga tahap
augmentasi. Dan berikut ini ialah penjelasannya. Proses pembentukan urin, yaitu:

 Penyaringan (Filtrasi)

Filtrasi (penyaringan): capsula bowman dari badan malpighimenyaring darah


dalam glomerulusyang mengandung air, garam, gula, urea dan zat bermolekul
besar (protein dan sel darah) sehingga dihasilkan filtrat glomerulus(urin primer).
Di dalam filtrat ini terlarut zat seperti glukosa, asam amino dan garam-garam

Pada mulanya darah yang masih mengandung air (H2O), amonia (NH3),
garam, urea, glukosa(C6H12O6),dan asam amino masuk ke glomerulus dengan
melalui arteriol afferent untuk dapat mengalami proses filtrasi. Glomerulus adalah
suatu bagian dari badan malpighi. Sel-sel kapiler glomerulus tersebut yang
memiliki karakteristik berpori serta juga bertekanan tinggi ini semakin
mempermudah berlangsungnya proses penyaringan atau juga filtrasi.

Di dalam glomerulus tersebut, terjadilah proses penyerapan kembali keping


darah, sel-sel darah, serta juga molekul-molekul protein yang berukuran besar.
Sementara dari itu, molekul-molekul kecil itu yang terkandung didalam darah
seperti glukosa, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, asam amino,serta juga urea
lolos dari penyaringan serta ikut mengendap bersamaan dengan urin primer. Urin

6
primer yang sudah terbentuk tersebut kemudian akan ditampung kedalam kapsul
bowman.

 Penyerapan Kembali (Reabsorbsi)

Reabsorbsi (penyerapan kembali):dalam tubulus kontortus proksimalzat dalam


urinprimer yang masih berguna akan direabsorbsi yang dihasilkan filtrat
tubulus(urin sekunder) dengan kadar urea yang tinggi. Antara lain air bersama
dengan glukosa, asam amino, asam urat dan protein yang berhasil menembus filter
glomerulus ke aliran darah. Tubulus proksimal juga mengembalikan elektrolit,
natrium, chlorida dan bikarbonat. Simpai Henle mereabsopsi air dan natrium.

Setelah darah tersebut mengalami suatu filtrasi pada glomerulus, maka urin
primer , yang telah ditampung kedalam kapsul bowman tersebut akan masuk ke
dalam suatu tubulus kontortus proksimal untuk dapat mengalami suatu proses
penyerapan kembali (reabsorbsi).

Urin primer yang terbentuk dengan melalui proses filtrasi tersebut masih
mengandung beberapa zat yang berguna bagi tubuh,ialah seperti glukosa, asam
amino, serta juga beberapa ion seperti Na+, Cl–, HCO3-, dan juga K+. Zat-zat
yang masih berguna bagi tubuh tersebut selanjutnya akan masuk ke dalam suatu
pembuluh darah yang mengelilingi tubulus. Semantara dari itu zat-zat yang sudah

7
tidak berguna lagi buat tubuh seperti amonia, garam, serta juga urea akan
membentuk urin sekunder. Urin sekunder tersebut lalu akan masuk ke lengkung
henle untuk menuju ke tubulus kontortus distal. Pada saat melewati lengkung
henle, air urin tersebut akan berubah menjadi lebih pekat dan juga volumenya
menurun dikarenakna terosmosis. Pada urin sekunder tersebut , sudah tidak
ditemukan lagi zat-zat yang masih berguna buat tubuh. Sementara dari itu,
komposisi zat-zat sisa metabolisme tersebut akan bertambah.

 Augmentasi Sekresi (pengeluaran)

Sekresi (pengeluaran) : dalam tubulus kontortus distal, pembuluh darah


menambahkan zat lain yang tidak digunakan dan terjadi reabsorbsi aktif ion Na+
dan Cl-dan sekresi H+ dan K+. Selanjutnya akan disalurkan ke tubulus kolektifus
ke pelvis renalis. ( Roger Watson, 2002 )

Setelah mengalami suatu proses reabsorbsi, urin sekunder tersebut akan masuk
tubulus kontortus distal dengan melalui lengkung henle. Di dalam tubulus
kontortus distal, urin sekunder tersebut akan kehilangan banyak sekali air (H2O)
sehingga urin tersebut menjadi lebih pekat. Disini jugalah urin sekunder tersebut
mengalami penambahan zat sisa serta juga zat-zat beracun seperti ion hidrogen
(H+) dan juga urea.

8
Setelah mengalami penambahan berbagai zat sisa pada suatu proses
augmentasi, urin sekunder tersebut kemudian menuju pelvis lalu masuk ke vesica
urinaria dengan melalui saluran ureter untuk ditampung sementara. Dari sanalah
urin tersebut akan menuju kantung kemih. Kantung kemih tersebut hanya mampu
menampung kurang lebih 300 ml air urin. Saat kantung kemih itu terisi penuh,
maka pada dinding kantung kemih tersebut akan tertekan sehingga merasa ingin
buang air kecil.

Urin yang ditampung kedalam kandung kemih tersebut selanjutnya akan


dikeluarkan oleh tubuh dengan melalui saluran uretra. Urin tersebut sesungguhnya
mempunyai komposisi berupa air 96%, urea 2,5%, garam 1,5%, serta juga juga
telah bercampur dengan zat warna empedu yang memberikan warna pada air urin
tersebut.

Manusia sendiri normalnya tersebut akan memproduksi urin ialah sebanyak


2(dua) liter per hari. Banyak sedikitnya air urin yang akan diproduksi oleh
manusia itu sebenarnya juga disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya ialah
jumlah air yang diminum, suhu udara, serta juga tekanan darah.

 Karakteristik Urine
2.3 Ureter, Kandung kemih dan Uretra

 Ureter

Terdiri dari 2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke

kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ±

0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak

dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri dari :

 Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)


 Lapisan tengah otot polos
 Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa

Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5


menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih

9
(vesika urinaria). Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang
dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum
uretralis masuk ke dalam kandung kemih.

Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas


dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter
terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan
pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.

Fungsi Ureter :

Ada dua ureter, satu dari masing-masing ginjal ke kandung kemih. Tiap bagian ini
mengangkut urin dari pelvis ginjal ginjal yang terpasang, ke kandung kemih (lihat
diagram pada halaman tentang komponen dari sistem urin). Kedua ureter lewat di
bawah kandung kemih, yang menyebabkan kandung kemih menekan ureter dan
karenanya mencegah aliran balik urin ketika tekanan di dalam kandung kemih
yang tinggi saat buang air kecil. Ini pencegahan aliran balik penting karena jika
tidak beroperasi dengan benar sistitis, yaitu peradangan pada ureter / kandung
kemih, dapat berkembang menjadi infeksi ginjal.

 Kandung Kemih

Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet,


terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul. Bentuk kandung
kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan
ligamentum vesika umbikalis medius.

Bagian vesika urinaria terdiri dari :

1. Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian
ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan
ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.
2. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3. Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum
vesika umbilikalis.

10
4. Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium
(lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan
mukosa (lapisan bagian dalam).

Proses Miksi (Rangsangan Berkemih) :

Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor
yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup
untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek
kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi
spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya terjadi
pengosongan kandung kemih.

Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi


spinter interus dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. Kontraksi
sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan
miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani
kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh.

Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi
inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi
urine (kencing tertahan). Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur
oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako lumbar
berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna.

Peritonium melapis kandung kemih sampai kira – kira perbatasan ureter


masuk kandung kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan
menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah Arteri
vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk
anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus
limfatilis sepanjang arteri umbilikalis.

 Uretra

11
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih
yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Pada laki- laki uretra bewrjalan
berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan
fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya ± 20 cm.

Uretra pada laki – laki terdiri dari :

1. Uretra Prostaria
2. Uretra membranosa
3. Uretra kavernosa

Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling
dalam), dan lapisan submukosa.
Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit
kearah atas, panjangnya ± 3 – 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika
muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena,
dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di
sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai
saluran ekskresi.

Fungsi Uretra:

Uretra adalah lorong yang dilalui urin keluar dari tubuh. Pada laki-laki uretra juga
berfungsi sebagai saluran yang dilalui air mani saat ejakulasi

2.4 Gangguan Sistem Urinaria dan Pencegahan Dini

1. Sistitis
Sistitis adalah inflamasi kandung kemih. Inflamasi ini dapat
disebabkan oleh infeksi bakteri ( biasanya Escherichia coli ) yang menyebar
dari uretra atau karena respons alergik atau akibat iritasi mekanis pada
kandung kemih. Gejalanya adalah sering berkemih dan nyeri (disuria) yang
disertai darah dalam urine (hematuria).

Pencegahan sistitis sejak dini

 Jangan menahan keinginan untuk buang air kecil

12
 Selalu bersihkan area kemaluan Anda dari depan ke belakang (ke arah
anus)
 Konsumsi air mineral dalam jumlah banyak dan rutin
 Hindari berendam dalam bathtub
 Hindari penggunaan produk dengan kandungan parfum untuk daerah
kewanitaan
 Gunakan pakaian dalam dari bahan katun dan hindari pemakaian celana
yang terlalu ketat
2. Glomerulonefritis
Glomerulonefritis adalah inflamasi nefron, terutama pada glomerulus.

A. Glomerulonefritis akut sering kali terjadi akibat respons imun terhadap


toksin bakteri tertentu (kelompok streptokokus beta A ).
B. Glomerulonefritis kronik tidak hanya merusak glomerulus tetapi juga
tubulus. Inflamasi ini mungkin diakibatkan infeksi streptokokus, tetapi
juga merupakan akibat sekunder dari penyakit sistemik lain atau karena
glomerulonefritis akut.

Pencegahan Glomerulonefritis sejak dini

Lakukan pemeriksaan dan kurangi konsumsi minum-minuman


beralkohol berlebihan dan minuman tidak sehat lainnya.

3. Pielonefritis
Pielonefritis adalah inflamasi ginjal dan pelvis ginjal akibat infeksi bakteri.
Inflamasi dapat berawal di traktus urinaria bawah (kandung kemih) dan
menyebar ke ureter, atau karena infeksi yang dibawa darah dan limfa ke
ginjal. Obstruksi traktus urinaria terjadi akibat pembesaran kelenjar prostat,
batu ginjal, atau defek congenital yang memicu terjadinya pielonefritis.

Pencegahan pielonefritis sejak dini

 Minum banyak air putih

13
 Pada individu dengan kateter urine yang sudah lama terpasang,
penggantian kateter yang dijadwalkan secara rutin dan juga pembersihan
rutin di sekitar masuknya kateter ke dalam uretra merupakan langkah
penting dalam pencegahan infeksi saluran kemih.
 Jika batu ginjal merupakan faktor predisposisi terhadap infeksi ginjal
berulang, maka pengangkatan batu dan mencegah pembentukan batu di
masa depan mungkin diperlukan.
4. Batu Ginjal
Batu ginjal terbentuk dari pengendapan garam kalsium, magnesium,
asam urat, atau sestein. Batu-batu kecil dapat mengalir bersama urine, batu-
batu yang lebih besar akan tersangkut dalam ureter dan menyebabkan rasa
nyeri tajam yang menyebar dari ginjal ke selangkangan.

Pencegahan batu ginjal sejak dini

 Minum air yang banyak


Minum air setidaknya 8 gelas per hari. Perbanyak asupan air putih
Anda jika aktivitas fisik Anda tergolong padat dan sering berkeringat.
Rajin minum air dapat menurunkan risiko pembentukan batu di ginjal.
Namun, batasi minuman yang mengandung kalori atau pemanis.
Kurangi alkohol, kafein, teh, dan minuman bersoda. Penelitian
menunjukkan bahwa setidaknya konsumsi 1 gelas minuman
bersoda setiap hari dapat meningkatkan risiko sakit batu di ginjal
sebanyak 23 persen.

 Batasi makan makanan asin

Kebanyakan makan makanan asin dari garam atau natrium, dapat


memicu penyakit batu ginjal karena meningkatkan jumlah kalsium dalam
urin.

Batasi asupan garam maksimal dalam sehari setara dengan 1 sendok


teh garam dapur (5 gram garam). Biasakan untuk membaca dan
menghitung kandungan gizi dalam makanan kemasan yang banyak
mengandung natrium

14
 Jaga berat badan tetap ideal

Obesitas sering dikaitkan terhadap risiko batu di ginjal atau


sakit kencing batu. Hal ini dapat menyebabkan resistensi insulin dan
peningkatan jumlah kalsium dalam urin sehingga berisiko lebih besar
adanya batu di ginjal.

Pada pH urin cenderung lebih asam pada orang yang memiliki


berat badan lebih sehingga juga meningkatkan risiko terjadinya
pembentukan batu ginjal.

 Batasi makan asupan hewani dan yang mengandung purin

Daging dan sumber protein hewani yang biasa Anda makan


seperti telur, jeroan dan produk susu mengandung purin. Purin adalah
zat yang sering menyebabkan kondisi asam urat.

Selain itu, asam urat merupakan salah satu bahan yang akan
membentuk batu pada ginjal Anda.Oleh karena itu, batasi asupan
makanan hewani dan makanan mengandung purin lainnya.

5. Gagal ginjal
Gagal ginjal yaitu kondisi yang terjadi ketika ginjal kehilangan
kemampuan untuk menyaring zat sisa dari darah dengan baik.

Pencegahan gagal ginjal sejak dini

 Ikuti petunjuk dari obat-obatan bebas. Menggunakan dosis yang terlalu


tinggi (bahkan obat umum seperti aspirin) dapat menciptakan tingkat
racun yang tinggi dalam waktu cepat dalam tubuh, yang dapat
memenuhi ginjal Anda
 Batasi paparan pada zat kimia, seperti pembersih ruangan, rokok,
pestisida, dan produk beracun lainnya
 Ikuti saran dokter, selalu konsumsi obat sesuai petunjuk
 Jalani gaya hidup sehat

15
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sistem urinaria atau saluran kemih adalah sistem organ yang berfungsi
menyaring dan membuang zat limbah serta cairan berlebih melalui urine. Beragam
penyakit seputar saluran kemih, seperti infeksi saluran kemih, batu saluran kemih, dan
juga inkontinensia urine bisa saja Anda alami jika terdapat masalah pada sistem
urinaria atau sistem saluran kemih Anda.
Sistem urinaria atau saluran kemih terdiri dari ginjal, kandung kemih, ureter,
dan juga uretra (saluran kencing). Melalui saluran ini, urine dibuang ke luar tubuh.
Bagian-bagian pada sistem urinaria tersebut memiliki fungsi dan peranannya masing-
masing.

DAFTAR PUSTAKA

www.gurupendidikan.co.id

www.anatomi-fisiologi-sistemperkemihan.com

https://doktersehat.com/cara-mencegah-penyakit-ginjal/

https://doktersehat.com/pencegahan-dan-prognosis-infeksi-ginjal-pyelonefritis/

https://hellosehat.com/penyakit/batu-ginjal-kencing-batu/

16