Anda di halaman 1dari 2

Pesantren Sebagai Pencetak Generasi Islam Millenial

Sabtu, 3 Agustus 2019, Pondok Pesantren Al Amin menyelenggarakan Haflah Ikhtitamid Durus XIV di
pelataran pondok pesantren. Acara ini mengusung tema Mempersiapkan Generasi Millenial yang Handal
dalam Menjawab Tantangan Global yang dihadiri oleh wakil dari Kapolresta Mojokerto, PCNU Sooko, dan
pejabat-pejabat berwenang.

Peringatan Haflah Ikhtitamid Durus Pondok Pesantren Al Amin, memwisuda 74 santri baik putra, maupun
putri. Lulusan periode ke-14 ini tersebar ke beberapa universitas negeri maupun swasta. Tak hanya
belajar di universitas, namun mereka juga makin mendalami ilmu agama di beberapa pondok pesantren
besar seperti Lirboyo dan Ma’had Aly Jombang serta memperdalam bacaan-arti Alquran.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yang menghadirkan tokoh-tokoh NU seperti bu Khofifah Indar
Prawansa, Gus Ipul, KH. Sholahudin Wahid, di haflah kali ini, menghadirkan tokoh penting NU
yakni KH. Harun Ismail dari Blitar. Dalam ceramah ilmiahnyanya, Beliau menegaskan
pentingnya istiqomah dalam belajar dan jangan sampai salah memilih guru. Dan beliau
menyampaikan intisari dalam menyari ilmu yang berpatokan pada Kitab Alala yang berisi
tentang ilmu yang manfaaat. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa menghantarkan
pemiliknya pada ketakwaan kepada Allah subhanahu wataala, ilmu yang manfaat adalah nur
ilahi yang hanya diperuntukkan bagi hamba-hambanya yang soleh, ilmu manfaat inilah yang
tidak mungkin bisa di dapatkan kecuali dengan adanya 6 syarat yang harus di lengkapi para
pencarinya, adapaun 6 syarat tersebut adalah : Cerdas (Dzukain), Semangat (Hirshin), Sabar
(Ishtibaarin), Biaya (Bulghotin), Petunjuk Ustadz (Irsyadu Ustadzin), dan Lama
(Thuulizzamaani)s
Di era millenial, santri fardhu 'ain melakukan jihad-jihad kekinian di zaman kacau (mess age) ini. Santri
harus menjadi generasi langgas yang moderat dan toleran di dunia maya. Santri harus aktif dan berani
mentransfer, mengampanyekan sekaligus mensosialisasikan doktrin Islam yang toleran dan anti
kekerasan di dunia maya. Santri adalah garda terdepan yang mendakwahkan Islam yang teduh, bukan
rusuh. Santri harus menjadi ‘promotor’ persatuan, perdamaian, dan ketertiban. Bukan malah menjadi
‘buzzer’ kemunkaran, permusuhan, fitnah dan ujaran kebencian.

Santri itu harus serbaguna, serbabisa, multitalenta. Santi tidak boleh kudet (kurang update). Santri harus
berpikir konstruktif, reflektif, aktif, efektif, kreatif, inovatif. Santri harus terus menjadi pelaku sejarah,
bukan beban sejarah. Santri harus menjadi paku bumi Santri harus mampu mengambil peran sebagai
lokomotif perubahan sosial demi kemaslahatan umat, bukan sekadar pendorong.