Anda di halaman 1dari 24

PEMULIAAN TANAMAN CABAI (Capsicum annum) DI PT

PETROKIMIA GRESIK

LAPORAN
KULIAH KERJA PROFESI

Disusun Oleh :

ZULFIKAR ALVIN NAUFAL


NPM : 17025010023

AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
SURABAYA
2019
LEMBAR PENGESAHAN

PEMULIAAN TANAMAN CABAI (Capsicum annum) DI PT


PETROKIMIA GRESIK

Oleh :

Nama Mahasiswa : Zulfikar Alvin Naufal


NPM : 17025010023
Program Studi : Agroteknologi

Menyetujui,

DOSEN PEMBIMBING

Dr. Ir. Makziah, MP


NIP. 19660623 199203 2001

Mengetahui,

KOORDINATOR PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

Dr.Ir. Bakti Wisnu Widjajani, MP


NIP. 19631005 198703 2001
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas penduduknya bermata


pencaharian sebagai petani. Hal ini ditunjang dari banyaknya lahan kosong yang
dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, selain itu kondisi tanah di Indonesia
yang mempunyai kandungan unsur hara yang baik sehingga dapat membantu
pertumbuhan tanaman. Salah satu produk hortikultura yang menjadi unggulan
dalam sektor pertanian di Indonesia adalah tanaman sayuran. Sayuran merupakan
salah satu produk hortikultura yang banyak diminati oleh masyarakat karena
memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Sayuran dapat
dikonsumsi dalam keadaan mentah ataupun diolah terlebih dahulu sesuai dengan
kebutuhan yang akan digunakan. Salah satu komoditi sayur yang sangat
dibutuhkan oleh hampir semua orang dari berbagai lapisan masyarakat, adalah
cabai, sehingga tidak mengherankan bila volume peredaran di pasaran dalam skala
besar.
Cabai merupakan salah satu jenis sayuran penting yang dibudidayakan
secara komersial di negara-negara tropis. Tercatat berbagai spesies cabai yang
telah didomestikasi, namun hanya Capsicum annuum L. dan C. Frutescens L.
yang memiliki potensi ekonomis (Sulandari, 2004). Permintaan cabai keriting
akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia.
Selain untuk konsumsi rumah tangga, cabai juga digunakan sebagai bahan dasar
industri makanan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka perlu dilakukan
usaha perbaikan pada budidaya cabai. Cara yang dilakukan antara lain
penggunaan benih bermutu, cara budidaya tanaman yang baik dan penanganan
pasca panen yang baik sehingga produk yang diterima konsumen memiliki mutu
yang baik. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha tani cabai
keriting adalah ketersediaan benih bermutu tinggi.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), perkembangan harga
cabai merah di tingkat produsen dan konsumen di Indonesia selama tahun 1983–
2014 menunjukkan kecenderungan meningkat. Pada periode tersebut harga cabai
merah di tingkat produsen mengalami pertumbuhan dengan rata-rata sebesar
12,80% per tahun, sedangkan di tingkat konsumen sebesar 16,06%. Pada periode
5 tahun terakhir (tahun 2010-2014), harga cabai merah di tingkat produsen
maupun di tingkat konsumen mengalami peningkatan yang cukup tajam. Tahun
2010 harga produsen cabai merah sebesar Rp 16.343,- per kg dan di tahun 2014
menjadi Rp 19.237,- per kg, sementara harga cabai merah tahun 2010 di tingkat
konsumen sebesar Rp 31.260,- per kg sedangkan tahun 2014 menjadi Rp 44.519,-
per kg. Margin terbesar terjadi pada tahun 2012 sebesar Rp. 35.712,11/kg, dimana
harga cabai merah di tingkat produsen sebesar Rp. 19.206,89/kg, sedangkan di
tingkat konsumen mencapai Rp. 54.919,00/kg.
Benih tanaman cabai keriting yang unggul memiliki proses penanaman yang
panjang. Proses mendapatkan benih tersebut, selain diperlukan benih sumber
dengan mutu genetik tinggi, perlu diperhatikan juga cara budidaya tanaman yang
optimal, pemeliharaan, panen, pasca panen dan penyimpanan benih yang baik.
Pertumbuhan tanaman cabai ditentukan juga oleh keadaan tanah budidaya,
ketersediaan air, di lingkungan budidaya tanaman cabai. Menurut Tatipata (2004),
kemunduran benih dapat ditengarai secara biokimia dan fisiologi. Indikasi
fisiologi kemunduran benih dapat ditandai dengan penurunan daya berkecambah
dan vigor.
Djarwaningsih (2005) menyatakan bahwa usaha perbaikan varietas cabai
melalui program pemuliaan tanaman saat ini selain diarahkan pada peningkatan
produktivitas, tahan terhadap serangan hama dan penyakit tertentu, toleran
terhadap kondisi lingkungan yang suboptimal, juga diarahkan pada pembentukan
varietas cabai yang memiliki kualitas hasil yang sesuai dengan selera konsumen.
Kualitas yang dimaksud berhubungan dengan kondisi fisik buah maupun
kandungan zat gizi di dalam buah cabai. Untuk itu perlu diperlukan suatu usaha
untuk memperbaiki karakter dalam tanaman cabai dengan cara pemuliaan.
Pemuliaan tanaman dapat diartikan sebagai ilmu dan seni yang mempelajari
adanya perbaikan karakter tanaman yang diwariskan pada suatu populasi baru
dengan sifat genetik yang baru. Pemuliaan tanaman umumnya mencakup tindakan
penangkaran, persilangan, dan seleksi. Dasar pengetahuan mengenai perilaku
biologi tanaman dan pengalaman dalam budidaya diperlukan dalam kegiatan ini
(Widodo, 2003). Studi pemuliaan tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.)
perlu dilakukan untuk mengetahui dan memahami rangkaian kegiatan pemuliaan
secara berurutan dalam merakit varietas unggul baru yang lebih baik. Kuliah
Kerja Profesi dilaksanakan di PT. Petrokimia Gresik karena merupakan salah satu
perusahaan yang bergerak di bidang perbenihan dan agrochemical berskala
internasional dan memiliki fasilitas teknologi penelitian dan pengembangan benih
tanaman, termasuk kegiatan pemuliaan tanaman.

1.2 Tujuan Umum


1.2.1 Memenuhi kurikulum wajib yang telah ditetapkan oleh Fakultas
Pertanian Jurusan Agroteknologi
1.2.2 Mahasiswa mendapatkan pengalaman, pengenalan dan pengamatan
visual secara langsung tentang keadaan dan kondisi yang ada di
lapang, serta kejadian nyata di masyarakat khusunya petani
1.2.3 Membandingkan ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan
dengan menerapkan dan menelaahnya

1.3 Tujuan Khusus


1.3.1 Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang proses
pemuliaan tanaman cabai
1.3.2 Mengetahui proses pemuliaan tanaman cabai
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Cabai (Capsicum annuum)

Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) adalah tumbuhan perdu yang
berkayu, dan buahnya berasa pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin.
Selain zat aktif kapsaisin cabai juga mengandung dihidrokapsaisin, vitamin (A,
C), damar, zat warna kapsantin, karoten, kapsarubin, zeasantin, kriptosantin, clan
lutein. Selain itu, juga mengandung mineral, seperti zat besi, kalium, kalsium,
fosfor, dan niasin. Cabai berasal dari dunia tropika dan subtropika Benua
Amerika, khususnya Colombia, Amerika Selatan, dan terus menyebar ke Amerika
Latin. Penyebaran cabai ke seluruh dunia termasuk negara-negara di Asia, seperti
Indonesia dilakukan oleh pedagang Spanyol dan Portugis (Dermawan, 2010). Di
Indonesia tanaman tersebut dibudidayakan sebagai tanaman semusim pada lahan
bekas sawah dan lahan kering atau tegalan. Namun demikian, syarat-syarat
tumbuh tanaman cabai merah harus dipenuhi agar diperoleh pertumbuhan
tanaman yang baik dan hasil buah yang tinggi. Potensi hasil cabai merah sekitar
12-20 ton/ha. (Sumarni dan Muharam, 2005).
Tanaman cabai merupakan tanaman yang menyerbuk sendiri(self–pollinated
crop). Namun demikian, persilangan antar varietas secara alami sangat mungkin
terjadi di lapangan yang dapat menghasilkan ras-ras cabai baru dengan sendirinya
(Cahyono, 2003), sehingga bisa juga terjadi penyerbukan silang.

2.1.1 Taksonomi Tanaman Cabai

Tanaman cabai banyak ragam dan tipe pertumbuhan dan bentuk


buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di
negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis
saja, yakni cabai besar, cabai keriting, cabai rawit dan paprika.(Nurfalach,
2010) . Dalam sistematika tumbuhan, tanaman cabai diklasifikasikan sebagai
berikut :
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dikotil
Subkelas : Metachlamidae
Ordo : Tubiflora
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annuum L. (Pitojo, 2007)

2.1.2 Morfologi Tanaman Cabai

2.1.2.1 Akar

Menurut Harpenas (2010), cabai adalah tanaman semusim


yang berbentuk perdu dengan perakaran akar tunggang. Sistem
perakaran tanaman cabai agak menyebar, panjangnya berkisar 25-35
cm. Akar ini berfungsi antara lain menyerap air dan zat makanan dari
dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman. Akar
tanaman cabai tumbuh lurus ke dalam tanah berfungsi sebagai
penegak pohon yang memiliki kedalaman ± 200 cm serta berwarna
coklat. Melalui akar yang tumbuh menjadi akar-akar cabang, akar
cabang tumbuh horizontal di dalam tanah, lalu akar cabang tumbuh
akar serabut yang berbentuk kecil-kecil dan membentuk masa yang
rapat

2.1.2.2 Batang

Tanaman cabai dapat tumbuh setinggi 5 - 10 cm. Batang


utama cabai tegak dan pangkalnya berkayu dengan panjang 20 - 28
cm dengan diameter 1,5 - 2,5 cm. Batang bercabang berwarna hijau
dengan panjang mencapai 5-7 cm, diameter batang percabangan
mencapai 0,5 - 1 cm. Percabangan bersifat dikotomi atau menggarpu,
tumbuhnya cabang beraturan secara berkesinambungan. Batang
cabang memiliki batang berkayu, berbuku-buku, percabangan lebar,
penampang bersegi, batang muda berambut halus berwarna hijau.
(Tim Bina Karya Tani, 2011)
2.1.2.3 Daun

Daun tanaman cabai bervariasi menurut spesies dan

varietasnya. Ada daun yang berbentuk oval, lonjong, bahkan ada yang

Ian-set. Warna permukaan daun bagian atas biasanya hijau muda,

hijau, hijau tua, bahkan hijau kebiruan. Sedangkan permukaan daun

pada bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat atau

hijau. Permukaan daun cabai ada yang halus adapula yang berkerut-

kerut. Ukuran panjang daun cabai antara 3-11 cm, dengan lebar antara

1-5 cm (Kurnianti, 2010).

2.1.2.4 Bunga dan Buah

Bunga cabai merupakan bunga tunggal, berbentuk bintang,

berwarna putih, keluar dari ketiak daun. Cabai memiliki posisi bunga

yang menggantung. Warna mahkota putih, memiliki kuping sebanyak

5-6 helai, panjangnya 1-1.5 cm, lebar 0.5 cm, warna kepala putik

kuning. Bunga tanaman cabai berbentuk terompet kecil, umumnya

bunga cabai berwarna putih, tetapi ada juga yang berwarna ungu.

Cabai berbunga sempurna dengan benang sari yang lepas tidak

berlekatan. Disebut bunga sempurna karena terdiri atas tangkai bunga,

dasar bunga, kelopak bunga, mahkota bunga, alat kelamin jantan dan

alat kelamin betina. Bunga cabai disebut juga berkelamin dua atau

hermaphrodite karena alat kelamin jantan dan betina dalam satu bunga

(Hewindati, 2006). Buah cabai merupakan buah buni berbentuk

kerucut memanjang, lurus atau bengkok, meruncing pada bagian

ujungnya, menggantung, permukaan licin mengkilap, diameter 1-2


cm, panjang 4-17 cm, bertangkai pendek, rasanya pedas. Buah muda

berwarna hijau tua, setelah masak menjadi merah cerah. Biji yang

masih muda berwarna kuning, setelah tua menjadi cokelat, berbentuk

pipih, berdiameter sekitar 4 mm. Buah cabai biasanya muncul dari

percabangan atau ketiak daun dengan posisi menggantung

(Rachmawati, 2008).

2.1.3 Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

2.1.3.1 Tanah

Tanah yang ideal untuk penanaman cabai merah adalah tanah


yang gembur, remah, mengandung cukup bahan organik (sekurang-
kurangnya 1,5%), unsur hara dan air, serta bebas dari gulma. Tingkat
keasaman (pH) tanah yang sesuai adalah 6 - 7. Kelembaban tanah
dalam keadaan kapasitas lapang (lembab tetapi tidak becek) dan
temperatur tanah antara 24 - 30 ºC sangat mendukung pertumbuhan
tanaman cabai merah. Temperatur tanah yang rendah akan
menghambat pengambilan unsur hara oleh akar (Agus, 2013)

2.1.3.2 Iklim

Tanaman cabai merah mempunyai daya adaptasi yang cukup


luas. Tanaman ini dapat diusahakan di dataran rendah maupun dataran
tinggi sampai ketinggian 1400 m di atas permukaan laut, tetapi
pertumbuhannya di dataran tinggi lebih lambat. Suhu udara yang baik
untuk pertumbuhan tanaman cabai merah adalah 25 - 27 ºC pada siang
hari dan 18 - 20 ºC pada malam hari. Suhu malam di bawah 16 ºC dan
suhu siang hari di atas 32 ºC dapat menggagalkan pembuahan. Cahaya
matahari sangat diperlukan sejak pertumbuhan bibit hingga tanaman
berproduksi. Pada intensitas cahaya yang tinggi dalam waktu yang
cukup lama, masa pembungaan cabai merah terjadi lebih cepat dan
proses pematangan buah juga berlangsung lebih singkat. (Nani dan
Agus, 2005).
2.2 Karakterisasi Tanaman

Karakterisasi merupakan kegiatan dalam rangka mengidentifikasi sifat-

sifat penting yang bernilai ekonomis, atau yang merupakan penciri dari varietas

yang bersangkutan. Sifat/karakter yang diamati dapat berupa karakter morfologis

(bentuk daun, bentuk buah, warna kulit biji, dan sebagainya), karakter agronomis

(umur panen, tinggi tanaman, panjang tangkai daun, jumlah anakan, dan

sebagainya), karakter fisiologis (senyawa alelopati, fenol, alkaloid, reaksi

pencoklatan, dan sebagainya), marka isoenzim, dan marka molekular (Somantri et

al., 2008).

Karakterisasi meliputi sifat kualitatif dan kuantitatif. Zhongwen (1991)

menyatakan bahwa pemuliaan tidak akan dapat memanfaatkan koleksi plasma

nutfah tanpa mengetahui dahulu deskripsi yang jelas dari koleksi tersebut.

Karakterisasi bertujuan untuk mengetahui informasi yang terkandung dalam setiap

genotipe dari koleksi plasma nutfah yang dimiliki. Dengan demikian langkah

yang akan diambil dalam perakitan varietas unggul baru lebih terarah dan pasti.

Metode pengambilan data karakterisasi dapat berupa dokumentasi yang

dilakukan untuk merekam dan menyimpan berbagai data dan informasi penting

yang dihasilkan dari kegiatan yang dilakukan di lapang (Kurniawan & Yelli,

2000)

2.3 Pemuliaan Tanaman

Pemuliaan tanaman dapat diartikan sebagai ilmu dan seni yang

mempelajari adanya perbaikan karakter tanaman yang diwariskan pada suatu

populasi baru dengan sifat genetik yang baru. Pemuliaan tanaman umumnya

mencakup tindakan penangkaran, persilangan, dan seleksi. Dasar pengetahuan


mengenai perilaku biologi tanaman dan pengalaman dalam budidaya diperlukan

dalam kegiatan ini (Widodo, 2003)

Pemuliaan tanaman merupakan kegiatan yang dinamis dan berkelanjutan.

Kedinamisannya dicerminkan dari adanya tantangan dan kondisi alam lingkungan

yang cenderung berubah. Sebagai contoh strain pathogen yang selalu

berkembang, selera konsumen terhadap pangan juga berkembang, oleh karena itu

kegiatan pemuliaan pun akan terus bekembang sejalan dengan perubahan tersebut.

Berkelanjutan, dapat dilihat dari kegiatannya yang sinambung dari suatu tahapan

menuju tahapan berikutnya (Carsono, 2008). Pemuliaan tanaman merupakan ilmu

terapan yang multidisipliner, dengan menggunakan beragam ilmu lainnya seperti

genetika, sitogenetik, agronomi, botani, fisiologi, patologi, entomologi, genetika

molekuler, biokimia, dan statistika (Carsono, 2008).

Pada umumnya proses kegiatan pemuliaan diawali dengan:

(1)usaha koleksi plasma nutfah sebagai sumber keragaman

(2)identifikasi dan karakterisasi

(3)induksi keragaman,misalnya melalui persilangan atau dengan transfer gen,

yang diikuti dengan

(4)proses seleksi

(5)pengujian dan evaluasi

(6)pelepasan, distribusi dan komersialisasi varietas.

Teknik persilangan yang diikuti dengan proses seleksi merupakan teknik

yang paling banyak dilakukan dalam inovasi perakitan kultivar unggul baru,

selanjutnya, diikuti oleh kultivar introduksi, teknik induksi mutasi dan mutasi

spontan yang juga menghasilkan beberapa kultivar baru (Carsono, 2008).


Pada cabai, produktivitas tanaman merupakan prioritas utama.

Produktivitas cabai berhubungan dengan tingkat pendapatan yang akan diperoleh

petani. Dengan semakin tinggi produktivitas cabai maka pendapatan petani akan

semakin tinggi pula. Selain produkivitas, sifat lain yang dikembangkan sangat

berhubungan dengan permintaan konsumen. Panjang buah cabai merupakan

karakter yang berhubungan dengan permintaan konsumen sehingga dilakukan

standarisasi panjang buah cabai. Parameter atau kriteria kualitas cabai dapat

dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kualitas Cabai Merah Segar Berdasarkan Standar Nasional Indonesia

(SNI 01-4480-1998)

NO Jenis Uji Persyaratan

Mutu I Mutu II Mutu III

1 Kesegaran warna Merah > 95% Merah ≥ 95% Merah ≥ 95%

2 Keseragaman Seragam Seragam Seragam

(98%) (96%) (95%)

3 Bentuk 98 Normal 96 Normal 95 Normal

4 Keseragaman ukuran

a. Cabai merah segar

- Panjang Buah 12-14 cm 9-11 cm < 9 cm

- Garis tengah pangkal 1,5-1,7 cm 1,3-1,5 cm < 1,3 cm

b. Cabai merah keriting

- Panjang Buah >12-17 cm 10 - <12 cm <10 cm

- Garis tengah pangkal >1,3-1,5 cm 1,0 - <1,3 cm <1,0

5 Kadar kotoran 1% 2% 3%
6. Tingkat kerusakan dan

busuk

a. Cabai merah besar 0% 1% 2%

b. Cabai merah keriting 0% 1% 2%

Sumber : Badan Standardisasi Nasional 1998

Makmur (1985) menyatakan bahwa tahapan yang dapat ditempuh pada

pemuliaan menyerbuk sendiri pada dasarnya terdiri dari:

1. Introduksi

Langkah awal bagi setiap program pemuliaan tanaman adalah koleksi

berbagaigenotip, yang kemudian dapat digunakan sebagai sumber untuk

mendapatkan genotip yang diinginkan atas dasar tujuan pemuliaan. Koleksi

berbagai genotip atau plasma nutfah itu dapat berupa nutfah lokal maupun yang

diintroduksikan dari luar negeri, termasuk strain-strain liar atau eksotik.

Introduksi perlu diketahui dan diadakan pencatatan terutama asal dan sifat

adaptasi (Makmur, 1985).

2. Seleksi

Seleksi merupakan salah satu tahapan dalam pemuliaan tanaman yaitu

dengan memilih beberapa tanaman yang terbaik dari suatu populasi tanaman yang

telah ada. Seleksi terhadap satu sifat dapat mempengaruhi sifat lain. Hal ini terjadi

apabila sifat tersebut dikendalikan oleh gen identik atau gen dalam keadaan

linkage. Seleksi dapat menguntungkan apabila sifat lain yang tidak setuju

menunjang peningkatan sifat lain yang terseleksi, namun bisa merugikan jika ikut
sertanya sifat lain yang terseleksi menurunkan sifat yang semula baik

(Poespodarsono, 1988).

Cabai termasuk tanaman yang kebanyakan menyerbuk sendiri (self

pollinated crop), sehingga metode pemuliaan dalam hal ini seleksi yang

digunakan adalah seleksi massa, seleksi galur murni, silang balik (backcross),

pedigree, dan Single Seed Descent (SSD). Pada seleksi awal dilakukan pada

populasi yang beragam, dengan cara memilih tanaman yang dikehendaki.

Tanaman-tanaman yang telah diseleksi secara individu, dipelihara sampai berbuah

dan diambil bijinya. Biji-biji tersebut ditanam dalam barisan tersendiri, kemudian

dilakukan lagi seleksi individu (Duriat, 1996).

Seleksi yang dilakukan pada tanaman menyerbuk sendiri ada dua macam,

yaitu: seleksi galur murni dan seleksi massa. Seleksi galur murni biasanya berupa

seleksi individu. Sasarannya adalah individu tanaman yang homozigot potensial.

Sebagai bahan seleksi adalah populasi yang memang sudah mempunyai tanaman-

tanaman homozigot di dalamnya. Seleksi galur murni didasarkan oleh penampilan

fenotipik tanaman. Seleksi galur murni dilakukan dengan menanam individu-

individu terbaik secara terpisah. Galur murni adalah sekelompok tanaman yang

berasal dari satu tanaman, seleksi dilakukan dengan memilih galur-galur unggul

dari sejumlah galur yang telah dihasilkan dari kegiatan penggaluran

(Poespodarsono, 1988). Sedangkan seleksi massa adalah menyeleksi tanaman

yang sama penampilan fenotipiknya, kemudian menggabungkan benih tanaman

tersebut. Seleksi massa dari tanaman menyerbuk sendiri dianggap menghasilkan

individu yang semuanya kurang lebih sama genotipnya (true breeding). Jadi pada

seleksi massa, tanaman dipilih atas dasar fenotip kemudian benih dipanen dan
digabungkan menjadi satu tanpa diadakan uji keturunan atau progeny test, seleksi

massa dilakukan untuk meningkatkan varietas campuran (Makmur, 1992).

Varietas yang berasal dari seleksi massa tidak seseragam varietas yang dihasilkan

dari seleksi galur murni (Poespodarsono, 1988).

3. Hibridisasi

Hibridisasi adalah persilangan sifat-sifat dari tetuanya, sehingga

diharapkan mempunyai kombinasi sifat yang lebih unggul (Poespodarsono, 1998).

Dalam melakukan hibridisasi selain harus mengetahui karakter unggul yang kita

inginkan, juga perlu diketahui pengendalian dan pewarisannya.

4. Seleksi setelah hibridisasi

Seleksi yang digunakan pada proses pemuliaan tanaman cabai antara lain

silang pedigree, Single Seed Descent (SSD) dan silang balik (backcross).

Poespodarsono (1988) menyatakan bahwa seleksi pedigree merupakan metode

pencatatan yang dilakukan terhadap setiap anggota populasi bersegregasi dari

hasil persilangan. Metode ini diperlukan untuk menyatakan bahwa dua galur

tersebut serupa dengan cara mengkaitkan terhadap individu tanaman sebelumnya.

Seleksi SSD dimulai dengan suatu persilangan dua tetua berbeda, pada

keturunan hasil persilangan tidak dilakukan seleksi tetapi diambil satu biji secara

acak dari setiap tanaman pada beberapa generasi. Pengambilan biji dan

penanamannya dihentikan apabila dianggap telah diperoleh banyak galur

homozigot, masing-masing lini kemudian diperbanyak sehingga dapat

ditumbuhkan dengan jarak tanam komersial pada beberapa lokasi guna pengujian

terhadap berbagai macam lingkungan.


Metode backcross merupakan metode untuk mempertahankan sifat yang

diinginkan sesudah disilangkan beberapa kali. F1 hasil dari persilangan dua

genotipe kemudian disilangkan kembali dengan recurrent parent/tetua penerima

(varietas yang ingin ditambahi sifat), setelah berulang-ulang di backcross baru

dilakukan seleksi untuk sifat dari tetua donor dan penerima.


III. Gambaran Umum Lokasi

3.1 Sejarah Umum

PT. Petrokimia Gresik merupakan perusahaan produsen pupuk


terlengkap dan terbesar di Indonesia. Bermula dari produsen pupuk tunggal dan
majemuk yang berada di kota Gresik, seiring berjalannya waktu PT. Petrokimia
Gresik mengembangkan untuk memproduksi produk non-pupuk. Melalui kegiatan
riset dan inovasi yang terus dilakukan, PT. Petrokimia Gresik berhasil
menemukan dan mengembangkan produk-produk baru antara lain benih unggul,
probiotik, mikroba dekomposer, dan beras dengan indeks glikemik rendah.
Menempati areal seluas 450 hektar, PT. Petrokimia Gresik mengelola
kawasan industri secara terpadu, serta menghasilkan produk pupuk dan non-pupuk
yang berdaya saing tinggi. PT. Petrokimia Gresik mengoperasikan lebih dari 21
pabrik yang terdiri dari pabrik pupuk dan pabrik yang memproduksi produk non-
pupuk, dengan kuantum produksi di atas 6 juta ton/tahun.
PT. Petrokimia Gresik pada awalnya merupakan sebuah proyek
pembangunan pabrik pupuk di Kota Gresik, Provinsi Jawa Timur yang dilakukan
oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1964. Proyek pembangunan pabrik ini
dinamakan Projek Petrokimia Surabaya. Setelah beberapa tahun penundaan
karena masalah biaya, pembangunan pabrik ini akhirnya berhasil diselesaikan dan
pengoperasian perdananya dilakukan pada tanggal 10 Juli 1972 dan diresmikan
oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto. Tanggal 10 Juli kemudian ditetapkan
sebagai hari jadi PT. Petrokimia Gresik.

Seiring dengan perjalanan waktu serta perkembangan perekonomian


nasional dan global, PT. Petrokimia Gresik pun mengalami perubahan status pada
tahun 2012. Status korporasinya berada di bawah PT Pupuk Indonesia (Persero)
atau Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC).

Dikombinasikan dengan profesionalisme yang terus ditempa, keunggulan


kompetitif ini menjadikan PT. Petrokimia Gresik sebagai market leader dalam
industri yang ditekuninya.
3.2 Lokasi dan Tempat

PT. Petrokimia Gresik berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan


Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. PT. Petrokimia Gresik berupa
kompleks industri seluas 450 hektar yang meliputi pabrik pupuk, non-pupuk,
kantor pusat, serta fasilitas pendukung yang lain seperti dermaga, pembangkit
tenaga listrik, instalasi pengolahan air dan limbah, dan sebagainya. Kawasan
industri PT. Petrokimia Gresik berada di daerah Desa Ngipik, Desa
Yosowilangun, Desa Tlogopojok, Desa Karangturi, Desa Lumpur, Desa
Sukorame, dan Desa Sukomulyo.
IV. RENCANA METODE KEGIATAN

4.1 Waktu dan Tempat


Kegiatan Kuliah Kerja Profesi dimulai pada tanggal 01 – 31 Januari 2020
di PT. Petrokima Gresik yang berlokasi di Jl. Jenderal Ahmad Yani Gresik ,
61119.

4.2 Tahap Kegiatan


Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan KKP terdiri dari beberapa tahapan seperti
pengenalan keadaan umum, praktik langsung di lapangan, diskusi dan wawancara,
pengumpulan data, studi pustaka dan penyusunan laporan KKP.
1. Pengenalan lokasi Kuliah Kerja Profesi (KKP).
Pengenalan lokasi Kuliah Kerja Profesi (KKP) dan orientasi per-devisi di
PT. Petrokimia Gresik bertujuan untuk mengenal secara umum keadaan yang
dijadikan tempat Kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP), pengenalan dilakukan
pada awal atau minggu pertama kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP).
2. Praktik langsung di lapangan.
Praktik langsung di lapangan dilakukan dengan mengikuti kegiatan secara
langsung di lapangan, seperti tata cara kegiatan budidaya tanaman per-tahap
(persiapan benih, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, serta panen dan
pascapanen). Kegiatan dilakukan di PT. Petrokimia Gresik.
3. Diskusi dan wawancara.
Kegiatan diskusi dan wawancara dilakukan secara langsung antara
mahasiswa dan pembimbing KKP di PT. Petrokimia Gresik.
4. Pengumpulan data.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara praktik langsung dilapangan,
wawancara dengan pihak-pihak terkait kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP), serta
studi literatur. Data primer yang dikumpulkan merupakan data hasil pengamatan
langsung dan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari literatur.
5. Penyusunan laporan Kuliah Kerja Profesi (KKP).
Penyusunan laporan Kuliah Kerja Profesi (KKP) dilakukan setelah
pengumpulan data selesai.
4.3 Kewajiban Mahasiswa Selama KKP

4.3.1 Mentaati semua peraturan yang ditetapkan, mengikuti semua petunjuk


dan saran yang diberikan oleh petugas lapangan, pembimbing lapangan
maupun penanggung jawab KKP.
4.3.2 Mengikuti semua kegiatan KKP yang telah ditentukan.
4.3.3 Membuat laporan KKP sebagai syarat penyusunan proyek akhir.

4.4 Jadwal Kegiatan KKP

01 Januari – 31 Januari 2020


Kegiatan Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4
Pengenalan
Lokasi KKP
Koleksi Benih
Pengembangan
Galur
Kombinasi
Persilangan
Evaluasi F1
Uji Multilokasi
V. PENUTUP

Demikian usulan pengajuan Kuliah Kerja Profesi (KKP) ini saya buat sebagai
syarat pelaksanaan dan acuan kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP) di PT.
Petrokimia Gresik. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa atas segala rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyusun usulan
pengajuan Kuliah Kerja Profesi dengan judul “PEMULIAAN TANAMAN
CABAI (Capsicum annum) DI PT PETROKIMIA GRESIK”.
Semoga Allah SWT berkenan memberikan balasan, limpahan, berkah, rahmat
dan karunia-Nya kepada kita semua, Aamiin. Penulis menyadari bahwa dalam
penulisan usulan ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu dibutuhkan kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun.
LAMPIRAN

Identitas Diri
1. Nama Lengkap Zulfikar Alvin Naufal

2. Jenis Kelamin Laki-Laki

3. Program Studi Agroteknologi

4. NIM 17025010023

5. Tempat dan Tanggal Lahir Gresik, 27 April 1999

6. E-mail zulfikaralvinnaufal32@gmail.com

7. Nomor Telepon/HP 081255774073

Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA UNIVERSITAS
Nama SD Negeri 2 SMP Negeri 1 SMA Negeri 1 UPN “Veteran” Jawa
Institusi Randuagung Gresik Manyar Timur

Jurusan - - IPA Agroteknologi

Tahun 2005-2011 2011-2014 2014-2017 2017 – Sekarang


Masuk-
Lulus

Surabaya, 25 Desember 2018

Zulfikar Alvin Naufal


NPM 17025010023
DAFTAR PUSTAKA

Andoko, A. 2013. Budidaya Cabai Merah Secara Vertikultur Organik. Jakarta :


Penebar Swadaya.

Carsono N. 2008. Peran Pemuliaan Tanaman dalam Meningkatkan Produksi


Pertanian di Indonesia. Seminar on Agricultural Sciences Mencermati
Perjalanan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dalam
Kajian Terbatas Bidang Produksi Tanaman, Pangan. Tokyo. Januari
2008.

Djarwaningsih, T. 2005. Capsicum spp. (Cabai): Asal, Penyebaran dan Nilai


Ekonomi. Bogor: Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Hal : 292-294

Duriat, A.S. 1996. Cabai merah : Komoditas Prospektif dan Andalan. Di dalam :
Duriat AS, Widjaja WH, Soetiarso TA, Prabaningrum L (ed). Teknologi
Produksi Cabai Merah. Lembang, Bandung : Balai Penelitian Tanaman
Sayuran Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Hlm 1-3.

Hendra, H. A. dan A. Andoko. 2014. Bertanam Sayuran Hidroponik Ala Paktani


Hydrofarm. Jakarta: Agromedia. 121 hal.

Hewindati, Y.T. 2006. Hortikultura. Universitas Terbuka. Jakarta

Kurnianti, N. 2010. Kandungan dan Manfaat Cabai. Malang, Universitas


Muhamadiyah.

Kurniawan, H. dan R. Yelli. 2000. Dokumentasi Data Varietas Lokal Tanaman


Pertanian: Sosialisasi UU No. 29 tahun 2000 tentang Perlindungan
Varietas Tanaman dan Peningkatan Pengetahuan dan Kemampuan
Tenaga Pendata Varietas Lokal Tanaman Pertanian pada tanggal 23-25
Juni 2003 di Manado, Sulawesi Utara. 19 halaman.

Nurfalach, D. R. 2010. Budidaya Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L.)


di UPTD Perbibitan Tanaman Hortikultura Desa Pakopen Kecamatan
Bandungan Kabupaten Semarang. Skripsi. Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Pitojo, S. 2007. Benih Cabai. Kanisius: Yogyakarta

Poespodarsono, S. 1988. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Pusat Antar. Institut


Pertanian Bogor. Bogor

Rachmawati, D. D. 2008. Kajian Pemakaian Mulsa Dan Konsentrasi Benzyl


Amino Purine (Bap) Terhadap Hasil Dan Kualitas Cabai Merah Besar
(Capsicum Annuum, L.) [Tesis]. Surakarta: Program Pascasarjana,
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian.. 2016. Outlook Cabai: Pusat Data dan
Sistem Informasi Pertanian.

Somantri, I.H., M. Hasanah dan H. Kurniawan. 2008. Teknik Konservasi Ex-Situ,


Rejuvinasi, Karakterisasi, Evaluasi, Dokumentasi, dan Pemanfaatan
Plasma Nutfah..

Sumarni, N. dan Agus M. 2005. Budidaya Tanaman Cabai Merah Bandung: Balai
Penelitian Tanaman Sayuran.

Tim Bina Karya Tani. 2011. Pedoman Bertanam Cabai. Bandung: CV Yrama
Widya

Widodo, I. 2003. Penggunaan Marka Molekuler pada Seleksi Tanaman. Makalah


Pribadi Tidak Diterbitkan. Program Pasca Sarjana. Bogor. IPB.

Anda mungkin juga menyukai