Anda di halaman 1dari 11

PERAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI TERHADAP PERTUMBUHAN

EKONOMI DI PROVINSI JAWA TIMUR

Nadofah (130231100101)
nadofah.putri@gmail.com
Prodi Ekonomi Pembangunan (C) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Trunojoyo Madura

Abstract
Transportation has an important role in process of developing economic.
Transportastion gives an easy access in mobility goods and service. So it can
improve interaction process in region to isolated zone to distribute evenly. Role of
transportation in developing economic is : (a) availability of goods, (b)
stabilization and equalization, (c) price reduction, (d) land value, (e) teritorial
devision of labor , (f) large scale production, dan (g) (urbanization and population
concentration, so we could increase economic growth in East Java. This paper
showing that existence of infrastructure of transportastion be able to increase
economic growth and it can decrease imbalance economic in East Java.
Keyword : Transpotation, Economic Growth, East Java

PENDAHULUAN
Transportasi sangat penting peranannya bagi daerah baik itu perdesaan
atau daerah semi urban atau urban di negara-negara yang sedang berkembang,
karena menyediakan akses bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan barang
dan jasa sehari-hari, serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi. Akses
terhadap informasi, pasar, dan jasa masyarakat dan lokasi tertentu, serta
peluang-peluang baru kesemuanya merupakan kebutuhan yang penting dalam
proses pembangunan.
Dengan dibangunnya sarana transportasi, kegiatan ekonomi masyarakat,
pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam pembangunan pada kawasan
yang mempunyai potensi ekonomi tinggi akan lebih mudah dikembangkan.
Kegiatan ekonomi masyarakat ini akan berkembang apabila mempunyai
prasarana dan sarana transportasi yang baik untuk aksesibilitas. Aksesibilitas ini
dapat memacu proses interaksi antar wilayah sampai ke daerah yang paling
terpencil sehingga tercipta pemerataan pembangunan.
Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi di Indonesia yang memiliki posisi
strategis karena menjadi penghubung antara kawasan barat dan tengah dengan
kawasan timur Indonesia. Posisi ini membuat arus lalu lintas barang maupun
orang harus melalui wilayah ini (Joesoef, 2016). Hal ini juga menjadikan Jawa
Timur sebagai Provinsi yang memiliki aktivitas ekonomi yang sangat ramai.
Surabaya yang merupakan ibu kota Jawa Timur menjadi kota paling padat nomor
dua setelah Jakarta.
Kepadatan penduduk menunjukkan bahwa daerah tersebut merupakan
kawasan yang memberikan faktor penarik yang sangat tinggi untuk melakukan
urbanisasi. Tersedia lapangan pekerjaan yang beragam akibat aktivitas
perekonomian yang tinggi sangat mendorong tenaga kerja untuk datang.
Sebaran PDRB kabupaten/kota di Jawa Timur tahun 2014 menunjukkan
bahwa Kota Surabaya sebagai jantung kegiatan ekonomi Jawa Timur, nilai
tambahnya memberikan kontribusi sebesar 23,61 persen terhadap total PDRB 38
kabupaten/kota di Jawa Timur. Sebagai pintu masuk utama perdagangan untuk
kawasan Indonesia Timur, Kota Surabaya menghasilkan nilai tambah sebesar
Rp. 365,07 triliun pada tahun 2014. Diikuti oleh Kabupaten Sidoarjo yang
memberikan kontribusi 8,46 persen; Kabupaten Pasuruan (6,12 persen);
Kabupaten Gresik (6,07 persen); dan Kota Kediri (5,67 persen). Kelima wilayah
ini merupakan sentra industri di Jawa Timur (BPS, 2015)
Tingginya aktivitas ekonomi di Jawa Timur tidak sepenuhnya tersebar
secara merata kepada seluruh kawasan. Beberapa daerah di Jawa Timur masih
belum mendapatkan akses kemudahan dalam kegiatan ekonomi. Tingkat
kesenjangan ekonomi antarkota dan kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang
ditunjukan dengan nilai indeks wiliamson dari tahun 2009-2013 cukup tinggi.
Kesenjangan ekonomi di Provinsi Jawa Timur dalam 4 tahun terakhir berada di
atas nasional dengan kecenderungan semakin meningkat. Penyebab
kesenjangan ekonomi di Provinsi Jawa Timur adalah struktur perekonomian
masyarakat (Bappeda, 2015)
Kesenjangan ekonomi antarkota dan kabupaten di Provinsi Jawa Timur
cukup tinggi, terlihat dari besarnya gap antara kabupaten/kota dengan PDRB
perkapita tertinggi dan PDRB perkapita terendah. Kota Kediri memiliki PDRB
tertinggi diantara kabupaten dan kota di Jawa Timur yakni sebesar Rp 248,93
juta karena didukung industri besar skala internasional. Keberadaan perusahaan
rokok PT Gudang Garam banyak berkontribusi terhadap pendapatan daerah.
Kota-kota yang memiliki struktur perekonomian didominasi. Kemudian diikuti oleh
Kota Surabaya Rp 107,73 juta ; Kabupaten Gresik Rp 61,48 juta; Kabupaten
Sidoarjo Ro 50,94 juta; dan Kabupaten Pasuruan Rp 50,91 juta (BPS, 2015).
Adanya ketimpangan ekonomi antar wilayah dapat terjadi karena
beberapa hal yaitu: 1) Perbedaan kandungan sumber daya alam, 2) Perbedaan
kondisi demografis, 3) Kurang lancarnya mobilitas barang dan jasa, 4)
Konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah, 5) Alokasi dana pembangunan wilayah
(Sjafrizal 201: 119-122)
Sedangkan menurut Morlok (1988) mengemukakan bahwa akibat adanya
perbedaan tingkat pemilikan sumberdaya dan keterbatasan kemampuan wilayah
dalam mendukung kebutuhan penduduk suatu wilayah menyebabkan terjadinya
pertukaran barang, orang dan jasa antar wilayah. Pertukaran ini diawali dengan
proses penawaran dan permintaan. Sebagai alat bantu proses penawaran dan
permintaan yang perlu dihantarkan menuju wilayah lain diperlukan sarana
transportasi. Sarana transportasi yang memungkinkan untuk membantu mobilitas
berupa angkutan umum.
Masing-masing daerah memiliki beragam kapasitas sumber daya yang
berbeda dengan daerah lain. Dalam teori Hecksher-Ohlin suatu daerah akan
memiliki keunggulan komparatif pada output/komoditi dimana dalam proses
produksinya dilakukan secara intensif terhadap sumber daya yang melimpah di
daerahnya dan tidak dapat diproduksi di daerah lainnya.
Beberapa daerah yang unggul dalam komoditas pertanian umumnya
memiliki kondisi perekonomian yang rendah karena sebagian hasil produksinya
digunakan untuk konsumsi pribadi dan dijual dengan sangat murah karena
jumlah produksi hasil pertanian di daerah tersebut sangat meilimpah. Sedangkan
di beberapa daerah lain harga hasil pertanian sangatlah mahal karena
ketersediaan barang sangat terbatas.
Dengan adanya sarana dan prasarana transportasi maka akan
memudahkan aktivitas ekonomi dalam memindahkan barang/output dari lokasi
produsen, distributor dan konsumen. Dalam proses pemindahan produk inilah
diperlukan jasa transportasi.
Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dalam menunjang
keberhasilan pembangunan terutama dalam mendukung perekonomian
masyarakat. Dengan adanya kemudahan akses mobilitas maka barang-barang
hasil pertanian yang tersedia dalam jumlah banyak di desa dapat
diperdagangkan ke kota yang jumlah produksi pertaniannya sedikit. Sehingga
harga barang menjadi lebih tinggi dibandingkan jika dijual di derah asal yang
jumlahnya sangat melimpah. Hal ini akan mendorong peningkatan produksi yang
berujung pada peningkatan daya beli masyarakat yang akan mendukung
pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.
RUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi topic permasalahan yang coba diutarakan dalam tulisan ini
adalag sebagai berikut :
1. Bagaimanakah peran infrastruktur transportasi terhadap petumbuhan
ekonomi Jawa Timur ?

LANDASAN TEORI
Pentingnya peran transportasi dalam menunjang perekonomian suatu
wilayah banyak dijelaskan oleh para ahli dan beberapa penelitian terdahulu
bahwa adanya kemudahan ekses mobilitas akan memberikan dampak bagi
pembangunan ekonomi.
Kadir (2006) menjelaskan peran dan pentingnya transportasi dalam
pembangunan ekonomi yakni transportasi sebagai urat nadi kehidupan dan
perkembangna ekonomi, sosial, politik, dan mobilitas penduduk yang tumbuh
bersamaan dan mengikuti perekembangan yang terjadi dalam berbagai bidang
sector. Dalam aspek ekonomi dan sosial transportasi menjadi sangat penting
kaitannya di dalam suatu negara dan masyarakat yakni : (a) tersedianya barang
(availability of goods), (b) stabilisasi dan penyamaan harga (stabilization and
equalization), (c) penurunan harga (price reduction), (d) meningkatnya nilai tanah
(land value), (e) terjadinya spesialisasi antar wilayah (teritorial devision of labor) ,
(f) berkembangnya usaha skala besar (large scale production), dan (g) terjadinya
urbanisasi dan konsentrasi penduduk (urbanization and population
concentration) dalam kehidupan.
a. Tersedianya barang
Efek yang sangat nyata dari adanya transportasi yang baik dan murah
adalah penyediaan atau pengadaan pada masyarakat barang-barang
yang dihasilkan di tempat lain yang tidak dapat dihasilkan di tempat
setempat, mengingat kondisi iklim dan keterbatasan sumber daya alam
yang tidak memungkinkan untuk menghasilkannya atau kalau dihasilkan
juga terpaksa dengan biaya produksi dan harga yang sangat tinggi.
Dengan adanya transportasi yang murah, maka pada masyarakat yang
tidak dapat menghasilkan barang tertentu atau ketersediaanya dalam
serba kekurangan akan dapat supply barang dari daerah lain.
Dengan transportasi yang murah dan mudahnya pergerakan barang dan
suatu lingkungan masyarakat ke yang lainnya, maka akan cenderung
terjadinya stabilisas dan penyamaan harga dalam hubungan keterkatan
satu sama lainnya.
b. Penurunan harga
Transportasi yag tersedia dengan mudah dan murah akan menurunkan
harga barang-barang oleh karena turunnya ongkos produksi atau biaya
pengadaan barang-barang yang bersangkutan akibat penurunan ongkos
transportasi. Selain itu tersedianya transportasi memungkinkan
banyaknya penjual-penjual atau pengusaha-pengusaha yang dapat entry
(masuk) ke dalam pasar sehingga memperbesar persaingan
(competition) diantara mereka yang mengakibatkan terjadinya penurunan
harga
c. Meningkanya nilai tanah
Banyak lahan pertanian yang tidak menguntungkan karena hasil pertaian
tidak dapat dijual ke pasar akibat lokasi yang jauh dan ongos transpotasi
yang mahal. Dengan adanya transportasi akan dihasilkan produksi
pertanian yang menguntungkan sebab hasil pertanian dapat diangkut ke
pasar-pasar di berbagai daerah, sehingga tanah atau wilayah yag
terpencil dan jauh tempatnya dari pasar akan naik nilainya atau rent-nya
dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.
d. Terjadinya spesialisasi antar wilayah
Suatu dearh akan menspesialisasikan diri dalam produksi barang-barang
terntentu karena mempunyai keunggulan (komparatif) tertentu. Dengan
adanya spesialisasi atau pembagian kerja antar daerah tersebut akan
terjadi surplus hasil produksi karena spesialisasi yang bersangkutan.
e. Berkembangnya usaha skala kecil
Dengan fasilitas transportasi, ongkos yang relative murah akan dapat
disediakan supply bahan dan tenaga kerja yang diperlukan, dan produk
yang dihasilkan akan dapat mencapai atau memasuki paar yang lebih
luas yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan dan manfaat yang
lebih besar bagi para konsumen dan masyarakat pada umumnya sebagi
hasil dari usaha skala besar yang lebih efisien tersebut.
Dengan kemajuan transportasi yang antara lain berupa peningkatan
kapasitas pelayanan jasa transport dengan kecepatan yang lebih baik
dan ongkos transport yang relative lebih murah, akan memungkinkan
terjadinya pasar yang lebih luas dan konsentrasi produksi yang lebih
besar dalam kaitan dengan usaha ekonomi skala besar.
f. Tejadinya urbanisasi dan konsentrasi penduduk
Dengan tersedianya trasnportasi akan mendorong bertumbuh dan
berkembangnya konsentrasi industry dan perdagangan dalam skala
besar dan menengah. Kegiatan dan usaha ekonomi tersebut akan selalu
menimbulkan aktiviatas yang meyertainya seperti storing, processing,
packaging, advertising, financing, merchandising, da kegiatan lainnya
yang berkaitan dan ditunjang oleh tersedianya fasilitas dan kemajuan
transportasi yang bersangkutan.
Dengan tumbuhnya sector industry dan perdagangan akan tumbuh kota-
kota satelit dan pemukiman pinggiran kota yang orientasi pekerjaan,
usaha, dan kegiatan lainnya. Sehingga mendorong terjadinya urbansasi
masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Weber dalam teori lokasinya menjelaskan bahwa jarak lokasi industry
yang dekat dengan pasar atau konumen maka biaya transpotasi yang diperlukan
menjadi lebih sedikit. Namun jika semua lokasi industry berada di pusat kota
maka akan memberikan dampak negative bagi kondisi lingkungan perkotaan
yang sudah tercemar oleh limbah asap kendaraan bermotor. Sehingga lokasi
industry akan menjadi lebih jauh dari lokasi pasar.
Jeffery (2010) meneliti tentang dampak infrastruktur transportasi terhadap
ouput melalui pendekatan produktivitas dan ekonometrik, pada industri
manufaktur Amerika Serikat (AS), dengan menggunakan alat analisis Two Stage
Least Squares (2SLS), Cohen menguji pengaruh spatial, stok modal privat,
tenaga kerja, bahan baku dan infrastruktur transportasi terhadap output. Hasil
analisis menunjukkan bahwa varaibel-varibel tersebut signifikan mempengaruhi
output indsutri manufaktur di Amerika Serikat. Hasil penelitian Cohen juga
menunjukkan bahwa dengan memasukkan unsur spasial lag maka hasil
pengujian pengaruh infrastruktur terhadap ouput akan menyelesaikan masalah
bias spesifikasi dan efek multiplier spasial. Sebab pengujian dampak infrastruktur
dalam mendorong output yang lebih besar akan menurunkan biaya sangat
sensitif terhadap lokasi geografi dan spesifikasi ekonometrik.
Joesoef (2016) dalam jurnalnya tentang transportasi dan ketimpangan
wilayah di provinsi Jawa Timur menjelaskan bahwa kepadatan transportasi dapat
mempengaruhi kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan IPM hanya
apabila sama-sama dengan faktor lain seperti kemiskinan dan PDRB/kapita.
Namun kepadatan transportasi tidak mempengaruhi kesejahteraan parsial.

PEMBAHASAN
Tingginya aktivitas perekonomian di kawasan industry Jawa Timur
didukung oleh kemudahan akses transportasi yang tersedia misalnya Tol
Surabaya-Porong yang menghubungkan Kota Surabaya dan Sidoarjo sehingga
waktu tempuh menjadi lebih singkat. Waktu tempuh yang lebih singkat dapat
mengurangi biaya transaksi yang harus dikeluarkan. Sehingga arus barang dan
jasa menjadi lebih mudah dari satu kota ke kota ang lain.
Jawa Timur memiliki enam kawasan industri terbesar yang tersebar di
beberapa kabupaten/kota. Keenam kawasan industri tersebut adalah PT.
Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) di Kota Surabaya, PT. Pasuruan
Industrial Estate Rembang (PIER) dan Ngoro Industri Persada (NIP) di
Kabupaten Pasuruan, Kawasan Industri Gresik (KIG) dan PT. Maspion Industrial
Estate (MIE) di Kabupaten Gresik, serta Sidoarjo Industrial Estate Berbek (SIEB)
di Kabupaten Sidoarjo. Masih ada beberapa kawasan industri lainnya yang
tersebar di beberapa kabupaten/kota. Keberadaan kawasan industri ini tercermin
dari nilai PDRB industri pengolahan di empat kabupaten/kota tersebut. Ke enam
kota tersebut memberikan kontribusi terbesar dalam Pembentukan PDRB Jawa
Timur.
Dalam Teori Weber menjelaskan bahwa penentuan lokasi industry
ditempatkan di tempat-tempat yang resiko biaya atau biayanya paling murah
atau minimal (least cost location) yaitu total biaya transportasi dan tenaga kerja
jika dijumlahkan keduanya paling minimum, karena dengan biaya yang minimum
maka keuntungan yang diperoleh dapat lebih banyak. Seperti yang telah banyak
dijelaskan adanya industry di suatu daerah akan memberikan dampak multiplier
effect diantaranya adalah terserapnya tenaga kerja di daerah tersebut sehingga
pendapatan masyarakat meningkat yang akan berdampak bagi peningkatan
daya beli masyarakat. Peningkatan daya beli masyarakat akan mendorong
kenaikan produksi sehingga juga akan menaikkan pertumbuhan ekonomi daerah
tersebut.
Namun untuk mengurangi dampak biaya transportasi yang semakin
meningkat maka akses kemudahan dalam mobilitas barang harus ditingkatkan.
Di Jawa Timur dalam meningkatkan efisiensi waktu mobiltas barang telah
merencanakan pembangunan infrastruktur jalan bebas hambatan (jalan tol)
dengan adanya jalan tol maka waktu tempuh menjadi lebih singkat. Adapun jalan
bebas hambatan terdiri dari jalan bebas hambatan antar kota dan jalan bebas
hambatan dalam kota. Setidaknya dalam data RTRW Jawa Timur tahun 2011 –
2031 terdapat terdapat 13 rencana pengembangan jalan bebas hambatan yakni
Mantingan–Ngawi; Ngawi–Kertosono; Kertosono–Mojokerto; Mojokerto–
Surabaya; Gempol–Pandaan; Pandaan–Malang; Gempol–Pasuruan; Pasuruan–
Probolinggo; Probolinggo–Banyuwangi; Gresik–Tuban; Demak–Tuban; Porong–
Gempol; dan Surabaya-Suramadu-Tanjung Bulupandan.
Dengan adanya sarana transportasi jalan yang dibangun oleh pemerintah
Jawa Timur hal ini akan memudahkan dalam akses mobilitas barang dan jasa,
sehingga akan meningkatkan proses pembangunan Jawa Timur. Seperti dalam
jurnal yang dikemukan Kadir (2016) bahwa transporasi menyebakan
pertumbuhan ekonomi melalaui tersedianya barang yang tidak bisa dihasilkan
oleh daerah lain sehingga dapat meningkatkan produksi barang/jasa. Selain itu
akan mendorong industry baru akibat kemudahan mobitas barang dan
mengurangi biaya transportasi yang berdampak pada penyerapan tenaga kerja
sehingga pendapatan masyarakat dapat meningkat.
Adapun dalam laporan Bappeda Jawa Timur menunjukkan bahwa
Pertumbuhan ekonomi secara kumulatif (Januari – Juni 2015) Jawa Timur
mencapai 5,22 persen dan merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua
setelah Banten di Pulau Jawa dan lebih tinggi 0,52 poin dibandingkan
pertumbuhan ekonomi Nasional (4,70 persen). Dengan begitu, Jawa Timur
mampu memberikan kontribusi terhadap 33 Provinsi (Nasional) sebesar 14,51
persen
Tabel 1.1 Kondisi Perekonomian Jawa Timur dan 5 Provinsi SE Jawa Tahun
Dasar 2015
Indikator 2011 2012 2013 2014 SEM I 2015
Pertumbuhan Ekonomi (%) (c to c)
Jawa Timur 6,44 6,64 6,08 5,86 5,22
DKI Jakarta 6,73 6,53 6,53 6,53 5,11
Jawa Barat 6,51 6,28 6,06 5,07 5,87
Jawa Tengah 6,03 6,34 5,81 5,42 5,17
DI Yogyakarta 5,17 5,32 5,40 5,18 4,44
Banten 6,38 6,15 5,86 5,47 5,34
Nasional 6,35 6,23 5,78 5,02 4,70
Kontribusi PDRB Terhadap Nasional (%)
Jawa Timur 14,67 14,87 14,99 14,16 14,51
PDRB Per Kapita (Juta Rupiah)
Jawa Timur 23,37 26,27 29,62 39,90 -
Nasional 30,60 33,50 36,50 41,80
Sumber : BPS Jawa Timur

Sedangkan berdasarkan pemerataan pendapatan Versi Bank Dunia


menunjukkan bahwa skala kesenjangan yang telah ditetapkan penduduk yang
berpendapatan 40 persen terbawah menikmati hasil kegiatan ekonomi sebesar
17,18% atau berada pada level ≥ 17 persen, maka ketimpangan pendapatan
yang terjadi di Jawa Timur pada tahun 2014 termasuk dalam kategori rendah
Table 1.2 Perkembangan Distribusi Pendapatan di Jawa Timur Versi Bank
Dunia
Keterangan 2011 2012 2013 2014
40% Bawah 21,09 20,15 19,82 17,18
40% Menengah 38,57 34,38 34,55 35,15
20% Atas 40,34 45,47 45,63 47,66
Sumber: BPS Jawa Timur
Kriteria Distribusi Pendapatan Versi Bank Dunia
40% bawah (≤ 12%) : ketimpangan pendapatan tinggi
40% menengah (12-17%) : ketimpangan pendapatan sedang/menengah
20% atas (≥ 17%) : ketimpangan pendapatan rendah

KESIMPULAN
1. Adanya transportasi dalam mendukung perekonomian Jawa Timur
memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yakni
adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi di setiap periodenya dan
pertumbuhannya melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan
ekonomi secara kumulatif (Januari – Juni 2015) Jawa Timur mencapai
5,22 persen dan lebih tinggi 0,52 poin dibandingkan pertumbuhan
ekonomi Nasional (4,70 persen). Dengan begitu, Jawa Timur mampu
memberikan kontribusi terhadap 33 Provinsi (Nasional) sebesar 14,51
persen

2. Adanya transportasi juga mengurangi ketimpangan pendapatan


masyarkat masyarakat Jawa Timur bahwa masyarakat yang menikmati
hasil pembangunan adalah masyarakat menengah. Sehingga
ketimpangan pendapatan msyarakat Jawa Timur tergolong rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda. (2015). Buku Data Dinamis Provinsi Jawa Timur Semester I 2015.
Surabaya.

BPS. (2015). Jawa Timur dalam Angka. BPS Jawa Timur.

Cohen, P. J. (2009). The Broader Effects of Transportation Infrasrtructure Spatial


Ecomometrics and Productivity Aproaches” Transportastion Research,
Elsevier,.

Jose Rizal Joesoef, S. A. (2016). Transportasi dan Ketimpangan Wilayah. Media


Trend, 1-19.

Kadir, A. (2006). Transportasi : Peran dan Dampaknya dalam Pertumbuhan


Ekonomi. Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wahana Hijau, 121-131.

Morlok, E. K. (1988). Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi.


terjemahan Yani. Jakarta: Erlangga.

(2015). PDRB Kabupaten/Kota Menurut Lapangan Usaha 2011-2014. BPS Jawa


Timur.

Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur 2011-2031. (t.thn.). Surabaya:
Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Sutami Silondae, A. A. (2016). Keterkaitan Jalur Transportasi dan Interaksi
Ekonomi Kabupaten Konawe Utara Dengan Kabupaten/Kota Sekitarnya.
Progres Ekonomi Pembangunan, 49-64.