Anda di halaman 1dari 28

KATA PENGANTAR

Dengan memohon rahmat dan ridho Allah SWT serta mengucap


syukur kepada Nya atas segala limpahan karuniaNya kami diberi
kemampuan untuk menyusun buku yang berjudul “ASPEK IMUNOLOGI
DALAM ALERGI DAN ANAFILAKSIS”.
Tujuan dari penyusunan buku ini adalah untuk pemenuhan tugas
mata kuliah pilihan imunologi yang diampu oleh ibu Astuti Kusumorini
M.si yang merupakan dosen serta pembimbing kami dalam proses
pembuatan buku ini. Tak lupa juga kami mengucapkan kepada semua pihak
yang telah mendukung dan membantu proses penyusunan buku ini
sehingga dapat selesai tepat pada waktunya.
Saya memiliki harapan yang besar bahwa buku ini bisa
memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya bagi para pembaca
untuk memperluas wawasan dan juga pengetahuan mengenai
kelainanAlergi dan anafilaksis. Sebagaimana kita ketahui pengetahuan
tentang pengetahuan dini alergi penting untuk diketahu . Oleh karena itu,
Buku ini berupaya memberikan sedikit sumbangsih mengenai betapa
pentingnya kelainanAlergi dan anafilaksis .
Peulis sangat menyadari bahwa buku ini masih sangat jauh dari
kata sempurna karena pengetahuan dan penanganan tentang Berbagai
keterbatasan yang pennulis miliki. Oleh karena itu, berbagai bentuk
kritikan dan juga saran yang membantu akan sangat kami harapkan untuk
perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.

Bandung,27 maret 2019

Hartini
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHLUAN

Setiap makhluk hidup memiliki sel-sel dan


struktur biologis dalam jumlah banyak yang memiliki
tanggung jawab atas imunitas atau sering di sebut dengan
sistem imun.Sistem imun merupakan pertahanan pada
organisme untuk melindungi tubuh dari pengaruh biologis
luar dengan mengenali dan membunuh patogen.Selain itu
dalam tubuh memiliki respons kolektif dan terkoordinasi
dari sistem imun tubuh terhadap pengenalan zat asing
disebut respons imun.
Ilmu yang mempelajari tentang sistem mun yang
lebih mendalam di sebut dengan imunologi.
munologi adalah suatu cabang yang luas dari ilmu
biomedis yang mencakup kajian mengenai semua
aspek sistem imun (kekebalan) pada semua organisme.
Imunologi antara lain mempelajari
peranan fisiologis sistem imum baik dalam keadaan sehat
maupun sakit; malafungsi sistem imun pada gangguan
imunologi
Dalam sistem imun memiliki kelianan atau
gangguan berupa respons imun yang berlebihan yang
dapat merusak jaringan tubuh sendiri,hal ini sering
disebut hipersensitif atau alergi. suatu imun respon yang
tidak diinginkan yang dapat menyebabkan kerusakan
jaringan sebagai akibat paparan (antigen) terhadap
substrat yang sebenarnya secara intrinsik adalah tidak
berbahaya.
Pengebab dari alergi sendiri sering di sebut
alergen.Alergen ini merupakan bahan penyebab
terjadinya alergi atau hipersensitivitas,atau senyawa yang
dapat menginduksi imunoglobulin E (IgE) melalui
paparan berupa inhalasi (dihirup), ingesti (proses
menelan), kontak, ataupun injeksi.Alergen ini dapat
berupa makanan,bulu hewan,debu dan lainnya.
Reaksi alergi atau hipersensiitivitas yang lebih
parah di sebut dengan anafiilaksis suatu reaksi alergi berat
yang terjadi secara tiba-tiba dan dapat menyebabkan
kematian.Anafilaksis biasanya ditunjukkan dengan
beberapa gejala termasuk di antaranya ruam gatal,
pembengkakan tenggorokan, dispnea, muntah, kepala
terasa ringan, dan tekanan darah rendah. Gejala-gejala ini
akan timbul dalam hitungan menit hingga jam.
BAB II
ALERGI / HIPERSENSITIVITAS
A.PENGERTIAN ALERGI / HIPERSENSITIVITAS

Alergi merupakan salah satu jenis penyakit yang


banyak dijumpai di masyarakat.Umumnya masyarakat
menganggap bahwa penyakit alergi hanya terbatas pada
gatalgatal di kulit.Alergi sebenarnya dapat terjadi pada
semua bagian tubuh, tergantung pada tempat terjadinya
reaksi alergi tersebut. Alergi merupakan manifestasi
hiperresponsif dari organ yang terkena seperti kulit,
hidung, telinga, paru, atau saluran pencernaan.
Alergi merupakan kepekaan tubuh terhadap
bendaasing (alergen) di dalam tubuh. Reaksi setiap
individu terhadap alergen berbeda-beda, sehingga
individu yang satu bisa lebih peka daripada individu yang
lain. Untuk mencegah reaksi alergi, selain menghindari
kontak dengan alergen, masyarakat banyak menggunakan
obat kimiawi karena menganggap obat kimiawi cepat.
Istilah alergi pertama kali digunakan dalam dunia
kedokteran pada tahun 1906 oleh Clemens von Pirquet,
seorang dokter anak di Austria.Pirquet melihat alergi ini
adalah sebagai suatu reaksi yang aneh dari tubuh.Alergi
sebenarnya adalah hasil dari respon tubuh terhadap
partikel-partikel asing yang masuk ke dalam tubuh.Tubuh
mengadakan reaksi terhadap partikel-partikel asing
tersebut melalui sistem kekebalan dan daya tahan tubuh
seperti ketika penyakit memasuki tubuh, padahal
sebenarnya partikel asing yang masuk itu bukanlah
penyakit dan tidak membahayakan tubuh.Reaksi tubuh
yang berlebihan ini malah membuat tubuh menjadi sakit.
alergi digunakan untuk menunjukkan adanya
reaksi yang melibatkan antibodi IgE (immunoglobulin E).
Ig E terikat pada sel khusus, termasuk basofil yang berada
di dalam sirkulasi darah dan juga sel mast yang ditemukan
di dalam jaringan. Jika antibodi IgE yang terikat dengan
sel-sel tersebut berhadapan dengan antigen (dalam hal ini
disebut alergen), maka sel-sel tersebut didorong untuk
melepaskan zat-zat atau mediator kimia yang dapat
merusak atau melukai jaringan di sekitarnya.
Reaksi alergi dipicu oleh suatu alergen tertentu,
karena itu tujuan utama dari diagnosis adalah mengenali
alergen. Alergen bisa berupa tumbuhan musim tertentu
(misalnya serbuk rumput atau rumput liar) atau bahan
tertentu (bulu kucing). Jika bersentuhan dengan kulit atau
masuk ke dalam mata, terhirup, termakan atau
disuntikkan ke tubuh, dengan segera alergen akan bisa
menyebabkan reaksi alergi. Pemeriksaan bisa membantu
menentukan apakah gejalanya berhubungan dengan
allergen apa penyebabnya serta menentukkan obat yang
harus diberikan.
B.PENYEBAB DAN GRJALA ALERGI (ALERGEN)

Alergen bisa berupa partikel debu, serbuk


tanaman, obat atau makanan, yang bertindak sebagai
antigen yang merangsang terajdinya respon kekebalan.
Kadang istilah penyakit atopik digunakan untuk
menggambarkan sekumpulan penyakit keturunan yang
berhubungan dengan IgE, seperti rinitis alergika dan asma
alergika. Penyakit atopik ditandai dengan kecenderungan
untuk menghasilkan antibodi IgE terhadap inhalan
(benda-benda yang terhirup, seperti serbuk bunga, bulu
binatang dan partikel-partikel debu) yang tidak berbahaya
bagi tubuh. Eksim (dermatitis atopik) juga merupakan
suatu penyakit atopik meskipun sampai saat ini peran IgE
dalam penyakit ini masih belum diketahui atau tidak
begitu jelas. Meskipun demikian, seseorang yang
menderita penyakit atopik tidak memiliki resiko
membentuk antibodi IgE terhadap alergen yang
disuntikkan (misalnya obat atau racun serangga).
Reaksi alergi bisa bersifat ringan atau berat.
Kebanyakan reaksi terdiri dari mata berair,mata terasa
gatal dan kadang bersin. Pada reaksi yang esktrim bisa
terjadi gangguan pernafasan, kelainan fungsi jantung dan
tekanan darah yang sangat rendah, yang menyebabkan
syok. Reaksi jenis ini disebut anafilaksis, yang bisa terjadi
pada orang-orang yang sangat sensitif, misalnya segera
setelah makan makanan atau obatobatan tertentu atau
setelah disengat lebah, dengan segera menimbulkan
gejala.

C.TIPE-TIPE ALERGI/HIPERSENSITIVITAS
1. ALERGI/HIPERSENSITIVITAS TIPE 1
Alergi atau hipersensitivitas tipe I adalah
kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang
menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi
terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik
(antigenik)atau dikatakan orang yang bersangkutan
bersifat atopik. Adapun penyakit-penyakit yang
disebabkan oleh reaksi alergi tipe I adalah :
• Konjungtivitis
• Asma
• Rinitis
• Anafilaktic shock
Pada gambar 1 menjelaskan mekanisme terjadinya
alergi tipe satu,hali ini di sebakan karena Alergen
langsung melekat/terikat pada Ig E yang berada di
permukaan sel mast atau basofil, dimana sebelumnya
penderita telah terpapar allergen sebelumnya, sehingga Ig
E telah terbentuk. Ikatan antara allergen dengan Ig E akan
menyebabkan keluarnya mediatormediator kimia seperti
histamine dan leukotrine.Sedangkan pada gambar 2
menjelaskan mekanisme seperti Respons ini dapat terjadi
jika tubuh belum pernah terpapar dengan allergen
penyebab sebelumnya. Alergen yang masuk ke dalam
tubuh akan berikatan dengan sel B, sehingga
menyebabkan sel B berubah menjadi sel plasma dan
memproduksi Ig E. Ig E kemudian melekat pada
permukaan sel mast dan akan mengikat allergen. Ikatan
sel mast, Ig E dan allergen akan menyebabkan pecahnya
sel mast dan mengeluarkan mediator kimia. Efek mediator
kimia ini menyebabkan terjadinya vasodilatasi,
hipersekresi, oedem, spasme pada otot polos.
2. ALERGI/HIPERSENSITIVITAS TIPE II
{Antibody-Mediated Cytotoxicity (Ig G)}
Reaksi alergi tipe II merupakan reaksi yang
menyebabkan kerusakan pada sel tubuh oleh karena
antibodi melawan/menyerang secara langsung antigen
yang berada pada permukaan sel.

Tipe ini melibatkan K cell atau makrofag. Alergen


akan diikat antibody yang berada di permukaan sel
makrofag/K cell membentuk antigen antibody kompleks.
Kompleks ini menyebabkan aktifnya komplemen (C2 –
C9) yang berakibat kerusakan.
Alergen (makanan) akan diikat antibody yang
berada di permukaan K cell, dan akan melekat pada
permukaan sel darah merah. Kompleks ini mengaktifkan
komplemen, yang berakibat hancurnya sel darah merah.
Contoh penyakit-penyakit :
• Goodpasture (perdarahan paru, anemia)
• Myasthenia gravis (MG)
• Immune hemolytic (anemia Hemolitik)
• Immune thrombocytopenia purpura
• Thyrotoxicosis (Graves' disease)

3. ALERGI/HIPERSENSITIVITAS TIPE III


(Immune Complex Disorders)
Alergi Tipe 3 Merupakan reaksi alegi yang dapat terjadi
karena deposit yang berasal dari kompleks antigen
antibody berada di jaringan. Gambar berikut ini
menunjukkan mekanisme respons alergi tipe III.berikut
merupakan mekanisme alergi ipe 3.

Adanya antigen antibody kompleks di jaringan,


menyebabkan aktifnya komplemen. Kompleks ini
mengatifkan basofil sel mast aktif dan merelease
histamine, leukotrines dan menyebabkan inflamasi. Selain
itu alergen (makanan) yang terikat pada antibody pada
netrofil (yang berada dalam darah) dan antibody yang
berada pada jaringan, mengaktifkan komplemen.
Kompleks tersebut menyebabkan kerusakan pada
jaringan.Reaksi ari alergi tipe 3 ini sebagai berikut
Penyakit :
• the protozoans that cause malaria
• the worms that cause schistosomiasis and filariasis
• the virus that causes hepatitis B, demam berdarah.
• Systemic lupus erythematosus (SLE) • "Farmer's Lung“
(batuk, sesak nafas)

4. ALERGI/HIPERSENSITIVITAS TIPE IV
Reaksi ini dapat disebabkan oleh antigen
ekstrinsik dan intrinsic/internal (“self”). Reaksi ini
melibatkan sel-sel imunokompeten, seperti makrofag dan
sel T. Ekstrinsik : nikel, bhn kimia Intrinsik: Insulin-
dependent diabetes mellitus (IDDM or Type I diabetes),
Multiple sclerosis (MS), Rheumatoid arthritis. Makrofag
(APC) mengikat allergen pada permukaan sel dan akan
mentransfer allergen pada sel T, sehingga sel T merelease
interleukin (mediator kimia) yang akan menyebabkan
berbagai gejala.
D.DIAGNOSA ALERGI/HIPERSENSITIVITAS
Setiap reaksi alergi dipicu oleh suatu alergen
tertentu, karena itu tujuan utama dari diagnosis adalah
mengenali alergen. Alergen bisa berupa tumbuhan musim
tertentu (misalnya serbuk rumput atau rumput liar) atau
bahan tertentu (misalnya bulu kucing). Jika bersentuhan
dengan kulit atau masuk ke dalam mata, terhirup,
termakan atau disuntikkan ke tubuh, dengan segera
alergen akan bisa menyebabkan reaksi alergi.
Pemeriksaan bisa membantu menentukan apakah
gejalanya berhubungan dengan allergen apa penyebabnya
serta menentukkan obat yang harus diberikan.
Pemeriksaan darah bisa menunjukkan banyak eosinofil
(yang biasanya meningkat).
Tes RAS (radioallergosorbent) dilakukan untuk
mengukur kadar antibodi IgE dalam darah yang spesifik
untuk alergen individual. Hal ini bisa membantu
mendiagnosis reaksi alerki kulit, rinitis alergika musiman
atau asma alergika. 1.2.4.5.9.10 Tes kulit sangat
bermanfaat untuk menentukan alergen penyebab
terjadinya reaksi alergi. Larutan encer yang terbuat dari
saripati pohon, rumput, rumput liar, serbuk tanaman,
debu, bulu binatang, racun serangga, makanan dan
beberapa jenis obat secara terpisah disuntikkan pada kulit
dalam jumlah yang sangat kecil. Jika terdapat alergi
terhadap satu atau beberapa bahan tersebut, maka pada
tempat penyuntikkan akan terbentuk bentol dalam waktu
15-20 menit. Jika tes kulit tidak dapat dilakukan atau
keamanannya diragukan, maka bisa digunakan tes RAS.
Kedua tes ini sangat spesifik dan akurat, tetapi tes kulit
biasanya sedikit lebih akurat dan lebih murah serta
hasilnya bisa diperoleh dengan segera.

ANAFILAKSIS
A.PENGERTIAN ANAFILAKSIS

Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi berat yang


terjadi secara tiba-tiba dan dapat menyebabkan kematian.
Mekanisme terjadinya anafilaksis melibatkan pelepasan
mediator dari sel darah putih tertentu. Pelepasan protein
ini dapat disebabkan oleh reaksi sistem imun ataupun oleh
sebab lain yang tidak berkaitan dengan sistem imun.
Diagnosis anafilaksis dilakukan berdasarkan gejala dan
tanda pada seseorang setelah terjadi paparan
dengan alergen potensial.
B.GEJALA DAN TANDA
Anafilaksis biasanya memberikan berbagai gejala
yang berbeda dalam hitungan menit atau jam. Gejala akan
muncul rata-rata dalam waktu 5 sampai 30 menit bila
penyebabnya adalah suatu zat yang masuk ke dalam aliran
darah secara langsung (intravena) dan rata-rata 2 jam jika
penyebabnya adalah makanan yang dikonsumsi oleh
orang tersebut. Daerah yang umumnya terpengaruh
adalah: kulit (80–90%), sistem pernapasan (70%),
saluran cerna (30–45%), jantung dan pembuluh
darah (10–45%), dan sistem saraf pusat(10–
15%) Anafilaksis biasanya melibatkan dua sistem organ
atau lebih.
Seseorang dengan penyakit atopi
seperti asma, eksem, atau rinitis alergi memiliki risiko
tinggi anafilaksis yang disebabkan oleh makanan, lateks,
dan agen radiokontras. Orang-orang ini tidak memiliki
risiko yang lebih besar terhadap obat injeksi ataupun
sengatan.[3][8] Dalam suatu studi yang dilakukan pada
anak-anak dengan anafilaksis, ditemukan bahwa 60%
memiliki riwayat penyakit atopi sebelumnya. Lebih dari
90% anak yang meninggal karena anafilaksis menderita
asma. Orang dengan mastositosis atau berasal dari status
sosioekonomi yang tinggi, memiliki risiko yang lebih
besar. Semakin lama waktu sejak terakhir kali terpapar
agen penyebab anafilaksis, maka semakin rendah risiko
terjadi reaksi yang baru.
C.PATOFISIOLOGI
Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi berat yang
terjadi dengan tiba-tiba dan memengaruhi banyak sistem
tubuh.[5][6] Hal ini disebabkan oleh pelepasan mediator
inflamasi dan sitokin dari sel mast dan basofil. Pelepasan
ini biasanya merupakan suatu reaksi sistem imun, tetapi
dapat juga disebabkan kerusakan pada sel-sel ini yang
tidak berkaitan dengan reaksi imun.[6]
● Imunologi
Dalam mekanisme terkait reaksi imun, imunoglobulin
E (IgE) berikatan dengan antigen (bahan asing yang
menyebabkan reaksi alergi). Kombinasi antara IgE yang
berikatan dengan antigen mengaktifkan reseptor FcεRI
pada sel mast dan basofil. Sel mast dan basofil bereaksi
dengan melepaskan mediator inflamasi seperti histamin.
Mediator ini meningkatkan kontraksi otot polos bronkus,
menyebabkan pelebaran pembuluh darah, meningkatkan
kebocoran cairan dari dinding pembuluh darah, dan
menekan kerja otot jantung.[6][12]Diketahui pula suatu
mekanisme imunologi yang tidak bergantung pada IgE,
tetapi belum diketahui apakah hal ini terjadi pada
manusia.[6]
● Non-imunologi
Dalam mekanisme tidak terkait reaksi imun, terdapat
suatu faktor yang secara langsung merusak sel mast dan
basofil, sehingga keduanya melepaskan histamin. Faktor
yang dapat merusak sel ini di antaranya adalah zat kontras
untuk sinar-x, opioid, suhu (panas atau dingin), dan getar.
PENUTUP
KESIMPULAN
Reaksi alergi atau hipersensistivitas terbagi
menjadi 4 tipe, yaitu tipe I (reaksi cepat) yang terjadi
segera setelah terpapar alergen. Tipe ini diperantarai oleg
Ig E yang terikat pada permukaan sel mast atau basofil
dan menyebabkan dilepaskannya mediator kimia seperti
bradikinin, histamine, prostaglandin. Tipe II diperantarai
Ig G, reaksi yang menyebabkan kerusakan pada sel tubuh
oleh karena antibodi melawan/menyerang secara
langsung antigen yang berada pada permukaan sel. Tipe
III merupakan reaksi alegi yang dapat terjadi karena
deposit yang berasal dari kompleks antigen antibody
berada di jaringan. Reaksi ini dapat disebabkan oleh
antigen ekstrinsik dan intrinsic/internal (“self”). Reaksi
ini melibatkan sel-sel imunokompeten, seperti makrofag
dan sel T.
Anafilaksis merupakan reaksi alergi yang berat
dan bisa mengancam nyawa dan harus selalu ditangani
sebagai hal darurat medis. Anafilaksis terjadi setelah
orang terpapar dengan alergen (biasanya makanan,
serangga atau obat) yang dapat menimbulkan alergi
padanya. Tidak semua orang yang terkena alergi
menghadapi bahaya anafilaksis.Faktor yang bisa
mempengaruhi beratnya reaksi alergi, termasuk olahraga,
panas, miras dan bagi yang terkena alergi makanan,
banyaknya yang dimakan maupun cara dipersiapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS.( . 2000) Celluler and
Moleculer Immunology. 4th Ed., Philadelphia:
W.B. Saunders Company.
Burzyn, Dalia; Kuswanto, Wilson; Kolodin, Dmitriy;
Shadrach, Jennifer L.; Cerletti, Massimiliano;
Jang, Young; Sefik, Esen; Tan, Tze Guan;
Wagers, Amy J. (2013-12-05). "A Special
Population of Regulatory T Cells Potentiates
Muscle Repair". Cell (dalam bahasa
English). 155 (6): 1282–1295.
Doherty, Michelle; Robertson, Morag J. (2004-
12). "Some early Trends in Immunology". Trends
in Immunology. 25 (12): 623–631.
Campbell & J.B. Reece (. 2005.). Biology. Sevent Ed. San
Fransisco: Person Education, Inc
Ernest Jawetz Melnick and Adelberg. Geo F. Brooks,
Janet S Butel, L. Nicho-las Ornoston (1998).
Mikrobiologi Kedokteran. Ed. 20. Alih Bahasa:
Edi Nugroho, R.F Maulana. Judul Asli: Medical
Microbiology. Jakarta: EGC.
O'Byrne KJ, Dalgleish AG (Aug 2001). "Chronic immune
activation and inflammation as the cause of
malignancy". British Journal of Cancer. 85 (4):
473–83.
Janeway CA, Travers P, Walport M, Capra JD (1999).
Immunobiology-The Immune System in Health
and Disease. Fourth Edition. New York: Elsevier
Science Ltd/Garland Publishing.
Kurosaki T, Kometani K, Ise W (Maret 2015). "Memory
B cells". Nature Reviews. Immunology. 15 (3):
149–59.
Lodish, H., A. Berk, S. L. Zipursky, P. Matsuidaira, D.
Baltimore, J. Darnell. (200)Moleculer Biology
Cell. Fourth Edition. New York: W. H. Freeman
and Company.
Sampson HA, Muñoz-Furlong A, Campbell RL, et al.
(February 2006). "Second symposium on the
definition and management of anaphylaxis:
summary report—Second National Institute of
Allergy and Infectious Disease/Food Allergy and
Anaphylaxis Network symposium". The Journal
of Allergy and Clinical Immunology. 117(2): 391–
7.