Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fraktur atau patah tulang adalah suatu kondisi dimana kontinuitas jaringan

tulang dan/atau tulang rawan terputus secara sempurna atau sebagian yang

disebabkan oleh rudapaksa atau osteoporosis. Penyebab terjadinya fraktur adalah

trauma, yang terbagi menjadi trauma ringan, sedang dan berat. Kasus fraktur yang

paling banyak terjadi fraktur ektremitas terutama pada ekstremitas bawah.

Ektremitas bawah merupakan anggota gerak aktif yang menopang tubuh yang

memiliki gaya kompresi yang tinggi dibandingkan dengan tulang yang lain. Fraktur

ekstremitas dapat terjadi akibat trauma ringan atau berat dan penekanan yang

melebihi daya absorpsi tulang Fraktur dapat menyebabkan pembengkakan pada

area fraktur, hilangnya fungsi normal tulang yang terkena, perubahan bentuk,

kemerahan, krepitasi, rasa nyeri, dan membutuhkan penanganan untuk

memperbaiki tulang maupun jaringan disekitarnya (AAOS, 2013; Helmi, 2012;

Smeltzer & Bare, 2013; Putra, dkk, 2015)

World Health Organization (WHO) mencatat pada tahun 2011-2012 terdapat

5,6 juta orang meninggal dunia dan 1,3 juta orang menderita fraktur akibat

kecelakaan lalu lintas (WHO, 2011). Menurut Depkes RI 2011, pada tahun 2007

korban yang mengalami fratur sebanyak 7,5%, menjadi 8,2% ditahun 2008. Dari

45,987 peristiwa terjatuh yang mengalami fratktur sebanyak 1,778 orang (58%)

menjadi 40,9% dari 20,829 kasus kecelakaan lalu lintas yang mengalami fraktur

sebanyak 1.770 orang (25,9%) menjadi 47,7% dari 14,125 trauma benda tajam atau

1
2

tumpul, yang mengalami fraktur sebanyak 236 orang (20,6%) menjadi 7,3%

(Riskesdas depkes RI, 2013).

Salah satu penanganan kasus fraktur yaitu dengan proses pembedahan. Proses

insisi pada pembedahan akan menyebabkan luka insisi yang menimbulkan nyeri

yang muncul pada dua jam setelah operasi akibat hilangnya pengaruh anestesi.

Meskipun fragmen tulang telah direduksi, tetapi efek yang ditimbulkan dari proses

pembedahan seperti pemasangan alat fiksasi yang menembus tulang akan

menyebabkan nyeri hebat. Hal ini disebabkan oleh fase inflamasi yang disertai

edema jaringan pada area yang terpasang dan berlangsung selama berjam-jam dan

berhari-hari sebagai proses perbaikan fragmen tulang (Helser, 2010; AAOS, 2013;

Ayudianingsih, 2009; Potter & Perry, 2010; Smeltzer & Bare, 2013)

Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak

menyenangkan yang di gambarkan dengan kerusakan jaringan secara potensial

maupun aktual. Nyeri merupakan keluhan yang paling sering dijumpai dan hal yang

menakutkan bagi pasien post operasi. Nyeri yang sering muncul pada pasien post

operasi adalah nyeri akut, yaitu nyeri yang dirasakan secara mendadak dari

intensitas ringan sampai berat dan lokasi nyeri dapat diidentifikasi (Djamal,

Rompas and Bawotong, 2015; Merdekawati, 2017).

Respon fisik terhadap nyeri ditandai dengan perubahan keadaan umum, suhu

tubuh, wajah, denyut nadi, sikap tubuh, pernafasan, kolaps kardiovaskuler, dan

syok. Respon psikis akibat nyeri akan merangsang respon stres yang mengganggu

sistem imun dan penyembuhan. Nyeri yang tidak diatasi akan memperlambat masa

penyembuhan atau perawatan, menimbulkan stres, dan ketegangan yang akan


3

menimbulkan respon fisik dan psikis sehingga memerlukan upaya penatalaksanaan

yang tepat (IASP, 2011; Potter & Perry, 2010).

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi Nyeri yaitu dengan terapi

farmakologi dan non farmakologi. Terapi farmakologi yaitu menggunakan semua

obat yang mempunyai efek analgesic biasanya efektif untuk mengurangi nyeri

tetapi dalam pemberian obat mempunyai efek analgesik atau obat pereda nyeri

lainnya bisa minumbalkan efek samping. Terapi non farmakologi untuk

mengurangi sensasi nyeri yang dapat dilakukan oleh perawat salah satunya yaitu

dengan menggunakan kombinasi terapi musik dan aromaterapi lemon. Musik dan

aromaterapi lemon merupakan salah satu metode nonfarmakologi untuk

mengurangi nyeri (Smith & Crowther, 2011; Zakiyah, 2015)

Terapi musik dan aromaterapi lemon merupakan tindakan managemen nyeri

yang dapat memberikan efek distraksi dan relaksasi. Kedua terapi ini, dapat

dilakukan secara bersama-bersama yang tentunya dapat memberikan efek yang

lebih optimal dalam mengatasi nyeri. Musik memberikan distraksi dan sisasosiasi

opiat endogen di beberapa fosi didalam otak, termasuk hipotalamus dan sistem

limbik. Begitu pula dengan aromaterapi lemon yang mana didalam lemon

mengandung salah satunya zat linalool yang berguna untuk menstabilkan sistem

saraf sehingga dapat menimbulkan efek tenang bagi siapapun yang menghirupnya.

Aromaterapi lemon juga mengandung limonene yang dapat menghambat

prostaglandin sehingga dapat mengurangi nyeri pada persalinan. Limonene

mengontrol siklooksigenase I dan II, mencegah aktivitas prostaglandin dan

mengurangi rasa sakit (Cheragi & Valadi, 2010; Wong, 2010; Namazi et al., 2014;

Joyce & Jane, 2014)


4

Hal ini didukung oleh penelitian dari Farida dengan judul penelitian pengaruh

pemberian aromaterapi lavender dan terapi music klasik terhadap intensitas nyeri

post operasi fraktur dengan hasil tingkat skala nyeri pre test kelompok perlakuan

sebagian besar adalah nyeri sedang 4-6. Tingkat skala nyeri post test kelompok

perlakuan sebagian besar adalah nyeri ringan 1-3. Hasil penelitian didapatkan

dengan tingkat signifikansi <0,005 diperoleh nilai siginifikansi p value 0,001.

Djamal, Rompas dan Bawotong mengatakan dalam penelitiannya bahwa terdapat

pengaruh terapi musik terhadap skala nyeri pada pasien fraktur. Hasil penelitian

didapatkan dengan P value = 0,000; ɑ = 0,05 (Djamal, Rompas and Bawotong,

2015; FARIDA, 2019).

Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan oleh Herlin di RSUD

Dr R. Soedarsono Pasuruan yang dilakukan pada tanggal 17 Novermber 2016,

kasus fraktur yang paling sering terjadi adalah fraktur ekstremitas bawah. Data yang

di dapat dari rekam medik RSUD Dr R. Soedarsono Pasuruan, menunjukkan bawa

pasien fraktur yang dirawat pada bulan Juni, Juli dan Agustus pada tahun 2016

tercatat 100 kasus fraktur ektremitas bawah (Herlin, 2016).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

“Apakah kombinasi terapi musik dan terapi aromaterapi berpengaruh terhadap

tingkat nyeri pasien post operasi fraktur ekstremitas di RSUD Dr R. Soedarsono

Pasuruan”.
5

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui Pengaruh kombinasi terapi musik dan terapi aromaterapi lemon

terhadap tingkat nyeri pasien post operasi fraktur ekstremitas di RSUD Dr

R. Soedarsono Pasuruan.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi tingkat nyeri sebelum diberikan kombinasi terapi

musik dan aromaterapi lemon pada pasien post operasi fraktur

ekstremitas di RSUD Dr R. Soedarsono Pasuruan.

2. Mengidentifikasi tingkat nyeri sesudah diberikan kombinasi terapi

musik dan aromaterapi lemon pada pasien post operasi fraktur

ekstremitas di RSUD Dr R. Soedarsono Pasuruan.

3. Menganalisis pengaruh kombinasi terapi musik dan aromaterapi lemon

terhadap tingkat nyeri sebelum dan sesudah perlakuan pada pasien post

operasi fraktur ekstremitas di RSUD Dr R. Soedarsono Pasuruan.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis

a. Bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi sumber data untuk

pelaksanaan penelitian yang lebih baik di waktu yang akan datang

b. Bagi Penulis

Memperoleh pengalaman dalam melaksanakan aplikasi riset keperawatan

di tatanan pelayanan keperawatan, khususnya penelitian tentang Pengaruh


6

kombinasi terapi musik dan aromaterapi lemon terhadap skala nyeri pasien

post operasi fraktur ekstremitas di RSUD Dr R. Soedarsono Pasuruan.

1.4.2 Praktis

a. Bagi Pasien

Penelitian ini diharapkan responden dapat mengatasi nyeri yang dirasakan

dengan metode management nyeri dalam bentuk kombinasi terapi musik

dan aromaterapi lemon.

b. Bagi Institusi Rumah Sakit

Penelitian ini diharapkan bisa digunakan sebagai referensi pemulihan

intervensi management nyeri dalam bentuk kombinasi terapi musik dan

aromaterapi lemon, yang dapat diaplikasikan untuk meningkatkan mutu

kualitas layanan perawatan rumah sakit.

c. Bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan

Penelitian ini diharapkan peneliti dapat mengembangkan sebagai bahan

referensi untuk ilmu perkembangan, ilmu kesehatan dan keperawatan,

khususnya untuk intervensi management nyeri dalam bentuk kombinasi

terapi musik dan aromaterapi lemon yang dapat berpengaruh besar terhadap

responden yang merasa nyeri terutama pada responden post operasi di ruang

perawatan/bangsal.