Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI RENDAH

Untuk Memenuhi Tugas Laporan Individu Praktek Profesi Keperawatan


Departemen Keperawatan Jiwa Di
RSJ Dr. Radjiman Wediodinigrat – Lawang

Disusun Oleh:

Nama : WIDHA ARLYKA DUTA


NIM : P17 2121 95 006

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI PROFESI NERS
TA. 2019 – 2020

1
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI RENDAH

I. Masalah Utama Keperawatan


Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah

II. Proses Terjadinya Masalah


A. Definisi
William D. Brooks (Jalaluddin Rakhmat, 2007: 99) mendefinisikan konsep diri
sebagai “those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we
have derived from experiences and our interaction with others”. Konsep diri adalah
pandangan dan perasaan kita tentang diri kita sendiri. Persepsi ini bisa bersifat
psikologi, sosial, dan fisik. Persepsi yang bersifat psikologi misalnya pandangan
mengenai watak sendiri. Persepsi yang bersifat sosial misalnya pandangannya tentang
bagaimana orang lain menilai dirinya. Persepsi yang bersifat fisik misalnya pandangan
tentang penampilannya sendiri.
Anita Taylor (Jalaluddin Rakhmat, 2007: 100) mendefinisikan konsep diri
sebagai “all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes
you hold about yourself”. Konsep diri meliputi apa yang kita pikirkan tentang diri kita
sendiri dan yang kita rasakan tentang diri kita sendiri.
Calhaoun dan Acocella (M. Nur Ghufron dan Rini Risnawati S, 2012: 13-14)
mendefinisikan konsep diri sebagai gambaran mental diri seseorang. Hurlock
menyatakan bahwa konsep diri merupakan gambaran seseorang mengenai dirinya
sendiri yang merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, sosial, emosional
aspiratif, dan prestasi yang mereka capai. Burn mendefinisikan konsep diri sebagai
kesan terhadap diri sendiri secara keseluruhan yang mencakup pendapatnya terhadap
diri sendiri, pendapat tentang gambaran diri di mata orang lain, dan pendapatnya
tentang hal-hal yang dicapai.
Buss (Asip F. Hadipranata, dkk, 2000: 74) menyatakan bahwa konsep diri
diartikan sebagai gambaran keadaan diri sendiri yang dilakukan seseorang terhadap
dirinya sendiri. Pendapat dari Arndt mengatakan bahwa konsep diri merupakan konsep
seseorang mengenai keseluruhan tentang dirinya sendiri, baik dari segi kejasmanian
maupun psikisnya.

2
Menurut Hendra Surya (2007: 3) mengatakan bahwa konsep diri adalah
gambaran, cara pandang, keyakinan, pemikiran, perasaan terhadap apa yang dimiliki
orang tentang dirinya sendiri yang meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, perasaan,
kebutuhan, tujuan hidup, dan penampilan diri. Konsep diri ini sangat dipengaruhi oleh
gabungan keyakinan karakter fisik, psikologis, sosial, aspirasi, prestasi, dan bobot
emosional yang menyertainya.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
konsep diri adalah gambaran, pandangan, pikiran, perasaan, mengenai diri sendiri dan
pandangan diri di mata orang lain yang meliputi keyakinan fisik, psikologis, sosial,
emosional, dan prestasi yang mereka capai.

B. Etiologi
1) Faktor Predisposisi
Faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah :
a) Faktor yang mempengaruhi harga diri, termasuk penolakan orang tua, harapan
orang tua yang tidak realistis
b) Faktor yang mempengaruhi penampilan peran, yaitu peran yang sesuai dengan
jenis kelamin, peran dalam pekerjaan dan peran yang sesuai dengan kebudayaan.
c) Faktor yang mempengaruhi identitas diri, yaitu orang tua yang tidak percaya pada
anak, tekanan teman sebaya dan kultur sosial yang berubah.
2) Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau luar individu ( internal
or eksternal sources ), yang dibagi dalam 5 (lima) katagori sebagai berikut :
a) Ketegangan peran
Adalah stress yang berhubungan dengan frustasi yang dialami individu dalam
peran atau posisi yang diharapkan seperti konsep berikut ini :
 Konflik Peran
Ketidaksesuaian peran antara yang dijalankan dengan yang diinginkan
 Peran yang tidak jelas
Kurangnya pengetahuan individu tentang peran yang dilakukannya.
 Peran yang berlebihan
Kurang sumber yang adekuat untuk menampilkan seperangkat peran yang
kompleks.

3
b) Perkembangan transisi
Adalah perubahan norma yang berkaitan dengan nilai untuk menyesuaikan diri.
c) Situasi transisi peran
Adalah bertambah atau berkurangnya orang penting dalam kehidupan individu
melalui kelahiran atau kematian orang yang berarti.
d) Transisi peran sehat sakit
Yaitu peran yang diakibatkan oleh keadaan sehat atau keadaan sakit. Transisi ini
dapat disebabkan :
 Kehilangan bagian tubuh
 Perubahan ukuran dan bentuk, penampilan atau fungsi tubuh
 Perubahan fisik yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan.
 Prosedur pengobatan dan perawatan
e) Ancaman fisik
Ancaman fisik seperti pemakaian oksigen, kelelahan, ketidakseimbangan
biokimia, gangguan penggunaan obat, alkohol dan zat.

C. Tanda dan Gejala


Stuart dan Sundeen dalam Keliat (1992: 18) mengemukakan cara individu
mengekspresikan secara langsung harga diri rendah :
 Mengejek dan mengkritik diri sendiri
 Merendahkan / mengurangi martabat
 Rasa bersalah dan khawatir
 Manifestasi fisik
 Menunda keputusan
 Gangguan berhubungan
 Menarik diri dari realitas
 Merusak diri
 Merusak atau melukai orang lain.
Adapun perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah menurut Stuart dan
Sundeen dalam Hamid, et al ( 2000: 102 ) adalah sebagai berikut :
 Mengkritik diri sendiri dan orang lain.
 Produktifitas menurun.
 Destruktif pada orang lain.

4
 Gangguan berhubungan
 Merasa diri lebih penting
 Merasa tidak layak
 Rasa bersalah
 Mudah marah dan tersinggung
 Perasaan negatif terhadap diri sendiri
 Pandangan hidup yang pesimis
 Keluhan – keluhan fisik.
 Pandangan hidup terpolarisasi.
 Mengingkari kemampuan diri.
 Mengejek diri sendiri
 Mencederai diri sendiri
 Isolasi sosial
 Penyalahgunaan zat
 Menarik diri dari realitas
 Khawatir
 Ketegangan peran

D. Rentang Respon

Respon adaptif Respon maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kerancuan Depersonalisasi


Diri positif rendah identitas

Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar
belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.
Konsep diri positif merupakan bagaimana seseorang memandang apa yang ada pada
dirinya meliputi citra diri, ideal diri, harga diri, penampilan peran serta identitas dirinya
secara positif. Hal ini menunjukkan bahwa individu itu akan menjadi individu yang sukses.

5
Harga diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap dirinya sendiri termasuk
kehilangan percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, pesimis, tidak ada harapan dan
putus asa. Adapun perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah yaitu mengkritik
diri sendiri dan orang lain, gangguan dalam berhubungan, perasaan tidak mampu, rasa
bersalah, perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri, keluhan fisik, menarik diri secara
sosial, khawatir serta menarik diri dari realitas.

Kerancuan identitas merupakan suatu kegagalan individu untuk mengintegrasikan


berbagai identifikasi masa kanak-kanak kedalam kepribadian psikososial dewasa yang
harmonis. Adapaun perilaku yang berhubungan dengan kerancuan identitas yaitu tidak ada
kode moral, sifat kepribadian yang bertentangan, hubungan interpersonal eksploitatif,
perasaan hampa. Perasaan mengambang tentang diri sendiri, tingkat ansietas yang tinggi,
ketidakmampuan untuk empati terhadap orang lain.

Depersonalisasi merupakan suatu perasaan yang tidak realistis dimana klien tidak dapat
membedakan stimulus dari dalam atau dari luar tubuhnya, individu mengalami kesulitan
untuk membedakan dirinya sendiri dari orang lain, dan tubuhnya sendiri merasa tidak
nyata dan asing baginya. (Mukhripah Damaiyanti, Iskandar, 2012: 37-38)

E. Akibat
Harga diri rendah dapat membuat klien menjadi tidak mau maupun tidak mampu
bergaul dengan orang lain dan terjadinya isolasi sosial.
 Data Subyektif :
- Mengungkapkan untuk memulai hubungan/ pembicaraan
- Mengungkapkan perasaan malu untuk berhubungan dengan orang lain
- Mengungkapkan kekhawatiran terhadap penolakan oleh orang lain
 Data Obyektif :
- Kurang spontan ketika diajak bicara
- Apatis
- Ekspresi wajah kosong
- Menurun atau tidak adanya komunikasi verbal
- Bicara dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat berbicara
Dampak Harga Diri Rendah Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia

6
Menurut teori Abraham Maslow kebutuhan dasar manusia terbagi kedalam 5
bagian yang berbentuk piramid dengan semakin ke atas bentuknya semakin
meruncing/mengecil. Adapun dampak terjadinya gangguan konsep diri : HDR terhadap
kebutuhan dasar tersebut adalah :
1) Kebutuhan Fisiologis
a) Kebutuhan Nutrisi
Tidak semua klien dengan HDR mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan
nutrisi. Sebagian memang ada, dikarenakan klien selalu asyik dengan dunianya.
b) Istirahat dan Tidur
Pada klien dengan HDR ada kalanya mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan
istirahat dan tidur dikarenakan aktifitas fisiknya yang hiperaktif atau karena
pikirannya yang fokus pada suatu masalah sehingga klien tidak bisa tidur.
c) Perawatan Diri
Klien dengan HDR hampir semuanya mengalami defisit perawatan diri, hal ini
disebabkan ketidaktahuan, ketidakmampuan dan tidak ada minat. Tetapi ada juga
yang bisa merawat dirinya sendiri dengan baik.
d) Aktivitas
Klien dengan HDR cenderung menarik diri, kurang bergaul dengan orang lain
tetapi ada juga yang menjadi hiperaktif sehubungan dengan adanya perubahan isi
pikir.
e) Eliminasi
BAB dan BAK tidak mengalami gangguan karena intake makanan cukup dan
aktifitas fisik meningkat.
2) Kebutuhan Rasa Aman
Harga diri yang rendah bisa mengakibatkan individu marasa gelisah, bingung,
kadang takut terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi sehingga menimbulkan
dampak pada rasa aman.
3) Kebutuhan Mencintai dan Rasa Memiliki
Dengan harga diri yang rendah cenderung individu tidak memperhatikan dirinya
apalagi bila masalah yang dihadapi adalah masalah keluarga, maka ia lebih
memperhatikan keluarganya sendiri.

7
4) Kebutuhan Harga Diri
Dengan masalah yang dihadapinya, seperti masalah keluarga maka individu
cenderung untuk mengalah, diam sehingga menyebabkan harga dirinya merasa
direndahkan.
5) Kebutuhan Aktualisasi Diri
Dengan adanya harga diri rendah menyebabkan individu tidak dapat mengatasi
kelemahannya secara adekuat bahkan tidak bisa menyadari bahwa ia memiliki
kemampuan yang patut dibanggakan.
Pohon Masalah

Gangguan konsep diri: harga diri rendah Core Problem

Gangguan citra tubuh Cause

Isolasi sosial : menarik diri Effect

III. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN JIWA GANGGUAN DEFISIT


PERAWATAN DIRI

A. PENGKAJIAN
a. Data subyektif: Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu
apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri.
b. Data obyektif: Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.
B. Diagnosa Keperawatan
1) Harga diri rendah b.d Ketidakefektifan Koping Individu
2) Isolasi sosial b.d Harga diri rendah

8
C. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa 1. Harga Diri Rendah
Tujuan umum : klien tidak terjadi gangguan interaksi sosial, bisa berhubungan dengan
orang lain dan lingkungan.
Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri,
1.2. Jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,
1.3. Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
1.4. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
1.5. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
1.6. Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
2.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2.2. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien,
2.3. Utamakan memberi pujian yang realistis
2.4. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Tindakan :
3.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3.2. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki
Tindakan :
4.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan
4.2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
4.3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
5.1. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan

9
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien
5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
6.1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
6.2. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
6.3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
6.4. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

10
STRATEGI PELAKSANAAN
HARGA DIRI RENDAH
STRATEGI PELAKSANAAN 1 (SP 1)

A. Kondisi Klien
DO :
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan,
ingin mencederai diri/ mengahiri kehidupan, poduktifitas menurun, cemas dan takut
DS :
Klien mengatakan : saya tidak bisa, tidak mampu, bodoh/ tidak tahu apa-apa,
mengkritik diri sendiri., klien mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri,
klien mengungkapkan rasa bersalah terhadap sesuatu/ seseorang

B. Diagnosa Keperawatan: harga diri rendah

C. Tujuan
1. Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dengan aspek positif yang dimiliki
2. Pasien dapat menilai kemampan yang dapat digunakan
3. Pasien dapat menetapkan kegiatan yang sesuai kemampuan
4. Pasien dapat melatih kegiatan yang sudah dipilih, sesuai kemampuan
5. Pasien dapat menyusun jadwal untuk melakukan kegiatan yang sudah dilatih

D. Tindakan Keperawatan
1. Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien,
2. Membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan
3. Membantu pasien memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih
4. Melatih kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan
kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian.

E. Strategi Pelaksanaan
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi, assalamualaikum………….. Boleh Saya kenalan dengan Mas?
Nama Saya………….. boleh panggil Saya……… Saya Mahasiswa Akper

11
Muhammadiyah Kendal, Saya sedang praktik di sini dari pukul 08.00 WIB
sampai dengan pukul 13.00 WIB siang. Kalau boleh Saya tahu nama Mas siapa
dan senang dipanggil dengan sebutan apa?”
b. Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaan Mas hari ini? Bagaimana tidurnya tadi malam? Ada
keluhan tidak?”
c. Kontrak
“Bagaimana , kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan dan kegiatan yang
pernah T lakukan?Setelah itu kita akan nilai kegiatan mana yang masih dapat T
dilakukan di rumah sakit. Setelah kita nilai ,kita akan pilih satu kegiatan untuk
kita latih “
“Dimana kita duduk untuk bincang-bincang? bagaimana kalau di ruang tamu
Berapa lama? Bagaimana kalau 10 menit saja?

2. Kerja
“ Mas ,apa saja kemampuan yang T miliki ? Bagus ,apa lagi?
Saya buat daftarnya ya! Apa pula kegiatan rumah tangga yang biasa Mas lakukan
? Bagaimana dengan merapikan kamar? Menyapa? Mencuci piring ……….dst”.
“Wah ,bagus sekali ada lima kemampuan dan kegiatan yang Mas miliki”.
“ Mas dari lima kegiatan kemampuan ini ,yang mana yang masih dapat dikerjakan
di rumah sakit ?
Coba kita lihat ,yang pertama bisakah ,yang kedua………sampai 5 (misalnya ada 3
yang masih bisa dilakukan).Bagus sekali ada 3 kegiatan yang masih bisa kerjakan
di rumah sakit ini.
“Sekarang ,coba Mas pilih satu kegiatan yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit
ini”. “O yang nomor satu ,merapikan tempat tidur? Kalau begitu,bagaimana kalau
sekarang kita latihan merapikan tempat tidur Mas”.Mari kita lihat tempat tidur Mas
ya.
Coba lihat ,sudah rapikah tempat tidurnya?”
“Nah kalau kita mau merapikan tempat tidur ,mari kita pindahkan dulu bantal dan
n selimutnya.bagus!Sekarang kita angkat spreinya dan kasurnya kita
balik.”Nah,sekarang kita pasang lagi spreinya ,kita mulai dari atas ya bagus!
Sekarang sebelah kaki ,tarik dan masukkan ,lalu sebelah pinggir masukkan

12
.Sekarang ambil bantal,rapikan dan letakkan di sebelah atas kepala. Mari kita lipat
selimut ,nah letakkan sebelah bawah kaki ,bagus!”
“Mas sudah bisa merapikan tempat tidur dengan baik sekali .Coba perhatikan
bedakah dengan sebelum dirapikan ?Bagus”
“ Coba Mas lakukan dan jangan lupa memberi tanda M (mandiri) kalau Mas
lakukan tanpa disuruh , tulis B(bantuan ) jika diingatkan bisa melakukan ,dan T (
tidak) melakukan .

3. Terminasi :
“Bagaimana perasaan T setelah kita bercakap-cakap dan latihan merapikan tempat
tidur ? yach?, Mas ternyata banyak memiliki kemampuan yang dapat dilakukan di
rumah sakit ini.
Salah satunya , merapikan tempat tidur , yang sudah Mas praktekkan dengan baik
sekali
Coba ulangi bagaimana cara merapikan tempat tidur tadi, Bagus sekali..
“Sekarang ,mari kita masukkan pada jadual harian . Mas,Mau berapa kali sehari
merapikan tempat tidur. Bagus ,dua kali yaitu pagi-pagi jam berapa? Lalu sehabis
istirahat ,jam 16.00”
“ Coba Mas lakukan dan jangan lupa memberi tanda M (mandiri) kalau Mas
lakukan tanpa disuruh , tulis B(bantuan ) jika diingatkan bisa melakukan ,dan T (
tidak) melakukan .
“Besok pagi kita latihan lagi kemampuan yang kedua. Mas masih ingat kegiatan
apa lagi yang mampu dilakukan di rumah sakit selain merapikan tempat tidur? Ya
bagus,cuci piring …. Kalau begitu kita akan latihan mencuci piring besok ya jam
08.00 pagi di dapur sehabis makan pagi
Sampai jumpa ya…Assalamu’alaikum

13
STRATEGI PELAKSANAAN
HARGA DIRI RENDAH
STRATEGI PELAKSANAAN 2 (SP 2)

A. Kondisi
DO : Klien tampak tenang, sudeh mau menghargai dirinya sendiri.
DS : Klien menyatakan sudah mau berinteraksi dengan lingkungannya.

B. Diagnosa Keperawatan: Harga Diri Rendah

C. Tujuan
Klien dapat melakukan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki yang
lain (yang belum dilakukan)

D. Tindakan Keperawatan.
Klien dapat merencanakan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan.
2. Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang dapat dilakukan
3. Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan dirumah sakit
4. Bantu klien melakukannya, kalau perlu beri contoh
5. Beri pujian atas kegiatan dan keberhasilan klien
6. Diskusikan jadwal kegiatan harian atau kegiatan yang telah dilatih

E. Strategi Pelaksanaan
1. Orientasi :
“assalammua ‘laikum, Mas… masih ingat saya??? baguss
Bagaimana perasaan Mas pagi ini ? Wah tampak gembira”
“ Bagaimana Mas, sudah dicoba merapikan tempat tidur sore kemarin tadi pagi ?
Bagus ( kalau sudah dilakukan, kalau belum bantu lagi ),
Sekarang kita akan latihan kemampuan kedua, masih ingat apa kegiatan itu Mas
“Ya benar kita akan latihan memcuci piring didapur ruangan ini”
“Waktunya 10 menit, mari kita ke dapur”

14
2. Kerja :
“Mas, sebelum kita memcuci piring kita perlu siapkan dulu perlengkapanya, yaitu
serabut tepes untuk membersikan piring, sabun khusus untuk mencuci piring, dan
air untuk membilas, Mas bisa mneggunakan air yang mengalir dari kran ini, oh ya
jangan lupa sediakan tempat sampah untuk membuang sisa – makanan.
“sekarang saya perlihatkan dulu ya caranya”
“setelah semuanya perlengkapan tersedia, Mas ambil satu piring koto, lalu buang
dulu sisa makanan yang ada dipiring tersebut ketemapat sampah, kemudian Mas
bersikan piring tersebut dengan menggunakan sabut tepes yang sudah diberikan
sabun pencuci piring, setelah selesai disabuni bilas dengan menggunakan air bersih
sampai tidak ada busa sabun sedikitpun di piring tersebut, setelah itu Mas bisa
mengkeringkan piring yang sudah bersih tadi di rak yang sudah tersedia didapur,
nah selesai
“sekarang coba Mas yang melakukan”
“Bagus sekali, Mas dapat mempraktekkan cuci piring dengan baik, sekarang dilap
tanganya
3. Terminasi :
“bagaimana perasaan Mas setelah latihan cuci piring”
Coba ulangi cara mencuci piring…baguss
“ bagaimana kalau kegiatan cuci piring ini dimasukan menjadi kegiatan sehari –
hari Mas. mau berapa kali Mas mencuci piring ? bagus sekali Mas mencuci piring
tiga kali setelah makan”
“besok kita akan latihan untuk kemampuan ke tiga, setelah merapikan tempat tidur
dan cuci piring. Masih ingat kegiatan apakah itu ? ya benar kita akan latihan
mengepel”
“mau jam berapa? Sama dengan sekarang ?
sampai jumpa…Assalamu’alaikum

CATATAN:
Strategi pelaksanaan selanjutnya, sama dengan SP 2 dengan kegiatan yang
dimiliki sesuai kemampuan pasien lainnya (yang belum dilatih)

15
STRATEGI PELAKSANAAN
HARGA DIRI RENDAH
STRATEGI PELAKSANAAN 3 (SP 3)

Membuat perencanaan pulang bersama keluarga termasuk jadwal pemberian


obat (discharge Planning)
A. Orientasi:
“Assalamu’alaikum Pak/Bu”
”Karena hari ini T sudah boleh pulang, maka kita akan membicarakan jadwal
Tselama di rumah”
”Berapa lama Bpk/Ibu ada waktu? Mari kita bicarakan di kantor

B. Kerja:
”Pak/Bu ini jadwal kegiatan T selama di rumah sakit. Coba diperhatikan, apakah
semua dapat dilaksanakan di rumah?”Pak/Bu, jadwal yang telah dibuat selama T
dirawat dirumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal kegiatan maupun
jadwal minum obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan
oleh T selama di rumah. Misalnya kalau T terus menerus menyalahkan diri sendiri
dan berpikiran negatif terhadap diri sendiri, menolak minum obat atau
memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera
hubungi perawat K di puskemas Indara Puri, Puskesmas terdekat dari rumah
Bapak/Ibu, ini nomor telepon puskesmasnya: (0651) 554xxx
”Selanjutnya perawat K tersebut yang akan memantau perkembangan T selama di
rumah

C. Terminasi:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian S untuk
dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat K di PKM Inderapuri. Jangan lupa
kontrol ke PKM sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan
selesaikan administrasinya!”

16
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan. 1998.


Pedoman Perawatan Psikiatrik. DEPKES RI; Jakarta.
NANDA Internasional. 2015. NANDA NIC NOC. Jakarta: EGC.
Potter, A. P&Perry,G,A. 2005. Fundamental of Nursing: Concepts, Process and
Practice. Mosby Year Book, St. Louis.
Schultz dan Videback. 1998. Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5th
edition. Lippincott- Raven Publisher: Philadelphia.
Stuart dan Sundeen. 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. EGC: Jakarta.
Tim Direktorat Keswa. 2000. Standar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Edisi 1. Bandung : RSJP Bandung.

17