Anda di halaman 1dari 16

Kearifan Lokal Orang Sunda Dalam Ungkapan.....

(Aam Masduki) 295

KEARIFAN LOKAL ORANG SUNDA DALAM


UNGKAPAN TRADISIONAL DI KAMPUNG KUTA
KABUPATEN CIAMIS

LOCAL WISDOM IN THE EXPRESSIONS OF SUNDANESE


TRADITIONAL IN KUTA VILLAGE,
CIAMIS DISTRICT
Aam Masduki
Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung
Jl. Cinambo No. 136 Ujungberung Bandung
email: masduki.aam@ gmail.com

Naskah Diterima: 27 Februari 2015 Naskah Direvisi:6 April 2015 Naskah Disetujui:11 Mei 2015

Abstrak
Masyarakat Sunda termasuk salah satu etnis yang sangat bangga dengan bahasa dan
budayanya. Dalam Bahasa Sunda dikenal babasan dan paribasa yang merupakan ungkapan
tradisional atau idiom suku Sunda. Isi dari babasan dan paribasa merupakan nilai-nilai dan
kearifan lokal orang Sunda pada umumnya. Dalam babasan dan paribasa banyak sekali kearifan
lokal yang terkandung didalamnya. Nilai dan kearifan lokal ini yang harus tetap dijaga dan
dijadikan falsafah hidup orang Sunda. Kearifan lokal mengandung nilai, kepercayaan, dan sistem
religi yang dianut masyarakat setempat.Kearifan lokal pada intinya kegiatan yang melindungi dan
melestarikan alam dan lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji dan melestarikan
kearifan lokal yang berkembang di masyarakat. Penelitian kearifan lokal dilakukan pada
masyarakat adat Kuta di Kabupaten Ciamis yang berfokus pada babasan dan paribasa. Metode
yang digunakan adalah metode deskriptif dalam bentuk kualitatif, dengan teknik pengumpulan
data berupa observasi partisipasi/pengamatan, wawancara mendalam dengan beberapa informan
dan pengunjung, serta studi pustaka. Data yang dianalisis meliputi: Makna yang terkandung dalam
kearifan lokal babasan dan paribasa, terutama yang mengatur tentang manusia sebagai pribadi,
hubungan manusia dengan lingkungan masyarakat, hubungan manusia dengan alam, hubungan
manusia dengan Tuhan.
Kata kunci: kearifan lokal,orang sunda, dalam ungkapan tradisional, di Kampung Kuta.

Abstract
Sundanese people is one ofanethnic which is extremely proud of their language and
culture. In Sundanese, it is known babasan and paribasa which is a traditional expressions or
idioms of Sundanese tribe. The content of babasan and paribasais the values and local wisdom of
Sundanese people in general. In babasan and paribasa, there are a lot of local knowledge contain
there. Values and local wisdoms must be kept and used as a philosophy of Sundanese life. Local
wisdom contain values, beliefs, and religious system which is adopted by local communities.
Local wisdom on its core activities protect and preserve the natural and environment. Therefore, it
is important to study and preserve the local wisdom that flourished in our society.The research of
local wisdom was performed at Kuta indigenous people in Ciamis district that focuses on babasan
and paribasa. The method used was descriptive method in the form of qualitative data collection
techniques such as participatory observation / observation, in-depth interviews with informants
and visitors, as well as literature. The data analyzed include the meaning in the local wisdom of
296 Patanjala Vol. 7 No. 2 Juni 2015: 295 - 310

babasan and paribasa, especially the regulation of the human as a person, human relationships
with the community, the human relationship with nature, and man’s relationship with God.
Keywords: local wisdom, sundanese, traditional expressions, Kuta village.

A. PENDAHULUAN Kearifan lokal atau kearifan tradisional,


Pengertian Kearifan lokal adalah suatu yaitu semua bentuk keyakinan, pema-
bentuk kearifan lingkungan yang ada haman atau wawasan serta adat kebiasaan
dalam kehidupan bermasyarakat di suatu atau etika yang menuntun perilaku
tempat atau daerah. Jadi merujuk pada manusia dalam kehidupan di dalam ko-
lokalitas dan komunitas tertentu. munitas ekologis.
Selanjutnya Francis Wahono (2005) Pengetahuan lokal ternyata bisa
menjelaskan bahwa kearifan lokal adalah menjadi salah satu solusi mengatasi
kepandaian dan strategi-strategi penge- dampak perubahan iklim di sektor
lolaan alam semesta dalam menjaga pertanian terutama dalam mengatasi krisis
keseimbangan ekologis yang sudah pangan ditingkat komunitas. Sebuah
berabad-abad teruji oleh berbagai bencana penelitian terbaru dari International
dan kendala serta keteledoran manusia. Institute for Environment and Development
Kearifan lokal tidak hanya berhenti pada (IIED) mengungkapkan kearifan lokal
etika, tetapi sampai pada norma dan yang diajarkan turun temurun telah
tindakan dan tingkah laku, sehingga menuntun masyarakat tradisional yang
kearifan lokal dapat menjadi seperti religi terbelakang sekalipun mampu bertahan
yang menjadi pedoman manusia dalam menghadapi perubahan iklim. Praktik-
bersikap dan bertindak, baik dalam konteks praktik tradi- disional itu disesuaikan
kehidupan sehari-hari maupun peradaban dengan ketinggian tempat, jenis tanah,
manusia yang lebih jauh. curah hujan dan sebagainya yang
Adanya gaya hidup yang konsumtif kesemuanya mendukung keberlanjutan
dapat mengikis norma-norma kearifan lingkungan.
lokal di masyarakat. Untuk menghindari Ungkapan tradisional merupakan
hal tersebut, norma-norma yang sudah kearifan lokal yang dimiliki setiap suku
berlaku di suatu masyarakat yang sifatnya bangsa dan sangat erat kaitannya dengan
turun menurun dan berhubungan erat karakter dan nilai-nilai yang berkembang
dengan kelestarian lingkungannya perlu dalam suku bangsa tersebut. Beragamnya
dilestarikan,yaitu kearifan lokal. ungkapan tradisional merupakan hasil dari
Pengertian pengelolaan sumber daya beragamnya kehidupan dan pengalaman
alam dan lingkungan mengacu pada UU RI setiap suku bangsa. Dalam perjalanan
No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan kehidupan setiap suku bangsa, banyak hal
lingkungan hidup yang berbunyi Penge- yang ditemukan dan dijadikan nilai-nilai
lolaan lingkungan hidup adalah upaya dalam berkehidupan.
terpadu untuk melestarikan fungsi Dalam perkembangannya, ungkapan
lingkungan hidup yang meliputi kebi- tradisional berkembang sesuai perkem-
jaksanaan penataan, pemanfaatan, bangan zaman atau globalisasi. Adanya
pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, arus globalisasi bisa menjadi positif atau
pengawasan, dan pengendalian lingkungan negatif, tergantung sudut pandang dan cara
hidup. kita menilai dan mempertahankan kearifan
Kearifan lokal merupakan pengetahuan lokal tersebut. Dalam ungkapan tradisional
lokal yang sudah demikian menyatu banyak sekali nilai-nilai yang baik, dan
dengan sistem kepercayaan, norma dan bisa dijadikan falsafah hidup. Seharusnya
budaya dan diekspresikan di dalam tradisi nilai-nilai ini tetap dipertahankan di tengah
dan mitos yang dianut dalam waktu yang perkembangan globalisasi. Hal ini menjadi
cukup lama ( Sunaryo dan Laxman (2003). permasalahan, bagaimana kita mentrans-
Kearifan Lokal Orang Sunda Dalam Ungkapan..... (Aam Masduki) 297

formasikan dan mengaplikasikan ungkapan dihuni masyarakat yang dilandasi kearifan


tradisional dalam kehidupan sehari-hari. lokal, dengan memegang budaya pamali,
Agar ungkapan tradisional tetap dapat untuk menjaga keseimbangan alam dan
dijaga dan diinformasikan nilai-nilai terpeliharanya tatanan hidup bermasya-
kearifan lokalnya, untuk bertindak laku rakat.
dalam kehidupan dan berkembang sesuai Kampung Kuta ini terletak di
perkembangan globalisasi, sesuai dengan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.
karakter yang kita miliki sendiri. Namun, warga kampung menggunakan
bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari
B. METODE PENELITIAN tanpa tercampur bahasa Jawa.
Adapun metode yang dipergunakan Kampung yang berada di perbatasan
dalam penelitian ini adalah deskriptif Jawa Barat dan Jawa Tengah ini kini sudah
dalam bentuk kualitatif. Sesuai dengan mulai modern sejak listrik masuk ke
jenis data yang diperlukan, yakni data daerahnya pada tahun 1994. Kampung
kualitatif, maka teknik pengumpulan Kuta pernah mendapat penghargaan dari
datanya pun disesuaikan dengan jenis presiden pada tahun 2002 tentang
datanya, yaitu dengan menggunakan penyelamat lingkungan.
teknik-teknik wawancara terbuka dan Ketua adat memimpin kampung,
observasi. Wawancara dilakukan dengan mengurus masyarakat, mengurus adat, dan
tokoh adat beserta jajarannya, beberapa mengatur semua yang berhubungan dengan
orang informan, yang terdiri atas para adat. Sedangkan untuk kuncen, hanya
tokoh masyarakat dan aparat di desa, serta mengantar ke hutan keramat. Untuk
beberapa orang warga masyarakat yang kuncen ini, biasanya turun temurun dari
memahami seluk-beluk kehidupan leluhurnya biasanya diturunkan kepada
masyarakat setempat. anak laki-laki paling besar.
Tujuan dari penelitian ini yaitu Nama Kampung Kuta mengacu pada
mendekripsikan mengenai ungkapan lokasi kampung di lembah curam sedalam
tradisional sebagai kearifan lokal dan nilai- 75 meter dan dikelilingi tebing dan
nilainya, untuk dapat berkembang sesuai perbukitan. Dalam bahasa Sunda, hal itu
perkembangan globalisasi. disebut kuta (artinya pagar tembok). Aliran
Manfaat dari penulisan ini yaitu untuk listrik sudah masuk ke Kampung Kuta,
memberikan informasi mengenai hu- sehingga memungkinkan warganya
bungan dan keunikan ragam babasan dan menikmati peralatan elektronik, seperti
paribasa pada ungkapan tradisional di televisi, radio, dan telepon seluler. Namun,
Kampung Kuta Kabupaten Ciamis. warga Kampung Kuta masih
Penulis membatasi masalah yang akan mempertahankan bentuk rumah tradisional
dibahas dalam hal ini, yaitu mengambil khas Sunda.
ungkapan tradisional paribasa dan Masyarakatnya sampai saat ini masih
babasan. Hal ini disebabkan paribasa dan memegang teguh melestarikan adat
babasan intensitas pemakaiannya masih leluhurnya (karuhun), amanat leluhurnya
sering digunakan dalam kehidupan sehari- yang masih dipertahankan antara lain :
hari di Kampung Kuta.
a. Rumah panggung yang harus beratap
rumbia atau injuk (tidak boleh
C. HASIL DAN BAHASAN
permanen). Dalam membangun rumah atau
Kampung Kuta merupakan sebuah
tempat tinggalnya masyarakat Kampung
kampung tradisional yang masih kuat
Kuta berpegang teguh pada pepatah atau
memegang aturan para leluhurnya.
amanah leluhurnya yaitu “Ulah rek di-
Kampung Kuta ini terletak di Desa
kubur hirup-hirup, ulah ngabangun istana
Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari
jadi astana” dalam bahasa sunda yang
Kabupaten Ciamis. Kampung adat ini
artinya, Jangan mau dikubur hidup-hidup,
298 Patanjala Vol. 7 No. 2 Juni 2015: 295 - 310

jangan membangun istana (rumah) yang 1. Nyuguh, diselenggarakan setiap bulan


menjadi astana (kuburan). Jika kita artikan Mulud, yang bertujuan untuk
berdasarkan fenomena yang terjadi saat ini memperingati Maulid Nabi Besar
yaitu gempa bumi yang melanda Muhammad SAW, dan sebagai
Tasikmalaya beberapa waktu lalu, pepatah ungkapan rasa syukur atas rezeki dan
tersebut menuntun khususnya masyarakat terhindar dari malapetaka.
kampung Kuta umumnya kepada kita 2. Hajat Bumi, diselenggarakan setiap
semua untuk membangun rumah yang Kalimangsa kapat atau pada masa
ramah akan gempa, ketaatan tersebut panen, tujuannya adalah ungkapan rasa
membuahkan ketika peristiwa gempa bumi syukur atas keberhasilan masyarakat
tersebut terjadi maka tak ada satu pun Kampung Kuta dalam bercocok tanam,
bangunan atau rumah Kampung Kuta yang sekaligus memohon perlindungan
rusak karena spesifikasi rumah kampung untuk masa cocok tanam yang akan
adat memang merupakan rumah yang datang, biasnya diselenggarakan pada
ramah akan tahan gempa, sekalipun hancur bulan September sampai November
maka dampaknya tidak akan begitu parah atau hari-hari yang dianggap baik.
jika menimpa penghuninya disebabkan 3. Babarit, diselenggarakan setiap ada
atap rumah tersebut dibangun dengan kejadian alam seperti lini (gempa
rumbia atau injuk. bumi) dan kejadian alam lainnya
Masyarakat Kampung Kuta 4. Upacara mendirikan rumah
memiliki kepercayaan dan adat yang atau ngadegkeun dan mendiami rumah
berkaitan dengan hutan keramat. Hutan baru setelah mendapatkan hari baik.
keramat dianggap oleh masyarakat sebagai d. Penduduk yang meninggal harus
tempat yang suci atau sakral sehingga dimakamkan di luar Kampung Kuta. Hal
masyarakat Kampung Kuta ini disebabkan amanah dari leluhurnya
memberlakukan berbagai aturan adat untuk untuk menjaga kesucian tanah Kampung
melindungi hutan keramat tersebut yaitu : Kuta, berkaitan dengan kesucian tanah
- Tidak boleh mengambil hasil hutan Kampung Kuta mereka juga tidak
seperti kayu, buah-buahan, hewan, dan boleh membangun tempat MCK
lain sebagainya yang berada di dalam (mandi cuci kakus) mereka memilih
hutan keramat.
untuk pergi kesungai jika hendak
- Tidak boleh memakai pakaian serba
buang air dan sebagainya.
hitam, dan pakaian seragam dinas atau
seragam pemerintah. e. Masyarakat memiliki Leuit atau
- Tidak boleh meludah, buang sampah, penyimpanan gabah atau padi hasil
buang air besar atau kecil yang dapat panen. Jika terjadi rawan pangan atau
mengotori hutan. paceklik, ini mengartikan bahwa
- Tidak boleh berkata tidak sopan atau Kampung Kuta memiliki jiwa sosial
istilah sundanya “sompral” di hutan yang tinggi dan memiliki keinginan
keramat. untuk menabung.
- Tidak boleh memakai alas kaki seperti f. Memelihara dan melestarikan pohon
sandal dan sepatu. aren sebagai sumber mata pencaharian
Selain itu mereka juga mem- utama masyarakat Dusun Kuta membuat
pertahankan tempat-tempat keramat (tabet- gula aren.
tabet) yaitu Leuweung Gede, Gunung g. Dilarang membuat sumur atau sumur
Wayang, Pandan Domas, Gunung Barang, bor, hal ini karena dapat merusak tanah
Cikasihan, Gunung Goong, dan dan merusak jalur air yang ada di dalam
Panyipuhan. tanah, dalam mencukupi kebutuhan airnya
Melakukan Upacara Adat setiap mereka mengandalkan sumber mata air
tahunnya yaitu : salah satunya dari mata air Ciasihan.
Kearifan Lokal Orang Sunda Dalam Ungkapan..... (Aam Masduki) 299

Eksistensi peradaban sebuah bangsa, batu lama-lama batunya akan berlubang.


tentunya tidak terlepas dari masa lalu. Dengan kata lain, sebodoh-bodohnya
Sebab masa kini terbentuk karena orang kalau terus ditempa, suatu saat akan
peradaban masa lalu yang sudah menjadi ada bekasnya dari hasil pembelajaran itu.
milik sejarah. Masa sekarang pun akan Makna silih asih, orientasi nilainya kepada
membentuk peradaban masa datang. makna tingkah laku atau sikap individu
Artinya masa lalu merupakan sebuah yang memiliki rasa belas kasihan,
pelajaran yang harus dipelajari, masa tenggang rasa, simpati terhadap kehidupan
sekarang harus kita jalani sebaik mungkin, sekelilingnya atau memiliki rasa sosial
dan masa depan merupakan penerapan yang tinggi. Tercermin dalam ungkapan
hasil pembelajaran dari masa lalu dan masa “ka cai kudu saleuwi ka darat kudu
sekarang. Tentunya masa lalu itu me- selebak” artinya adalah kebersamaan.
ninggalkan banyak kearifan lokal (local “Ulah pagiri-giri calik, ulah pagirang-
genius). Salah satunya kearifan lokal yang girang tampian” artinya jangan ada
dimiliki oleh mayarakat Kampung Kuta. permusuhan di antara manusia. Sebab
Kearifan lokal tersebut tersebar dalam adat manusia itu harus “sareundeuk saigel,
istiadat, tradisi lisan, seni tradisi, naskah- sabobot sapihanean, sabata sarimbagan,
naskah tua, dan bentuk-bentuk kebudayaan artinya harus memiliki jiwa kebersamaan,
lain yang mencerminkan peradaban masa gotong royong atau saling menolong.
lalu. Nilai-nilai kearifan lokal kiranya Makna silih asuh, orientasi nilainya
dapat dimanfaatkan sebagai sumbang nilai adalah kasih sayang dalam tindakan yang
terhadap kehidupan masa sekarang dan nyata, sikap pragmatik seseorang.
masa yang akan datang. Menurut pendapat eksistensi diri, menerapkan potensi diri di
Ayat Rohaedi (1986:40) mengatakan masyarakat. Kepada yang lebih tua harus
bahwa kearifan lokal (local genius) atau lebih hormat, kepada sesama harus saling
wujud cerlang budaya mampu bertahan, menjaga, kepada yang lebih muda harus
memiliki kemampuan mengakomodasi mampu mengayomi dan memberi contoh
budaya-budaya baru yang menyerbu, yang baik. Seperti tercermin dalam
mampu berintegrasi dengan kebudayaan ungkapan “kudu landung kandungan
baru atau budaya luar, mam- kedah laer aisan” artinya hidup harus
pu mengendalikan budaya yang ada, serta mengayomi orang lain selain mengoyomi
menyumbangkan nilai untuk arah diri sendiri. “Hirup ulah manggih
kebudayaan yang akan datang. tungtung, paeh ulah manggih beja”
Orang Sunda memiliki filosofi hi- artinya selamanya dikenang dalam
dup silih asah, silih asih, silih asuh. kebaikan dan kalau meninggal tidak
filosofi ini, kalau ditafsirkan kepada teori meninggalkan sifat buruk.
Benjamin S. Bloom dalam buku- Dalam pendidikan karakter menurut
nya Taxonomy of Education of Objectives, pendapat Khan (2010: 14) bahwa pen-
Cognitive Domain (1959), dapat diseja- didikan karakter merupakan pendidikan
jarkan dengan ranah kognitif, afektif, dan yang tidak saja membimbing, dan mem-
psikomotor. Sebab silih asah itu orientasi bina setiap anak didik untuk memiliki
nilainya kepada peningkatan kualitas kompetensi intelektual, kompetensi
berpikir, mengasah kemampuan untuk keterampilan mekanik, tetapi juga harus
mempertajam pikiran dengan tempaan terfokus kepada pencapaian pembangunan
ilmu dan pengalaman. Seperti tercermin dan perkembangan karakter. Jadi, manusia
dalam ungkapan “peso mintul mun terus terdidik harus memiliki kompetensi
diasah tangtu bakal seukeut” artinya pisau intelektual atau silih asah, harus memiliki
tumpul kalau terus diasah akan tajam juga; kompetensi keterampilan mekanik atau
atau “cikarakak ninggang batu laun-laun silih asuh, dan mampu mencapai
jadi legok” artinya air tempias menimpa
300 Patanjala Vol. 7 No. 2 Juni 2015: 295 - 310

pembangunan dan perkembangan karakter memiliki pikiran jelek pada orang, atau
atau silih asih. dengki kepada orang; (8) kudu leuleus
Kesadaran akan nilai-nilai lama untuk jeujeur liat tali,yaitu hidup itu harus kuat,
menjadi pegangan hidup yang akan datang menanggung beban sebarat apa pun jangan
sebenarnya bagian dari pembentukan menyerah.
karakter manusia. Sebab menurut pendapat Manusia Sunda pun dituntut memiliki
Aziz (2011: 128) yang membentuk katakter menjadi manusia pekerja, manusia
manusia menjadi paripurna atau insan mandiri, manusia yang memiliki etos kerja.
kamil adalah agama dan lingkungan hidup Filosofis manusia Sunda sebagai manusia
yang mempengaruhi hidupnya. Agama pekerja di antaranya: (1) mun teu ngoprek
tentunya hubungan manusia dengan moal nyapek, mun teu ngakal moal
penciptanya atau hubungan vertikal. ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih,
Lingkungan adalah hubungan horizontal, artinya kalau mau makan atau mau
hubungan manusia dengan manusia atau mempertahankan hidup maka bekerjalah;
ada interaksi sosial. Manusia Sunda tentu (2) tungkul ka jukut tanggah ka sadapan,
saja mengenal hal itu, dalam satu sisi harus artinya ialah kerjakan apa yang mesti
memiliki keterikatan kepada Yang Di Atas, dikerjakan, jangan terganggu oleh hal-hal
dan satu sisi harus menjadi pelaku di lain yang mengganggu perkerjaan utama
buana panca tengah (dunia) untuk dan harus rendah hati jika telah
mengemban azas tri tangtu di buana (resi, mendapatkan kesuksesan; (3) ulah kumeok
rama, dan ratu), dan hubungannya harus memeh dipacok, artinya jangan pernah
harmonis. Keharmonisan tersebut ter- menyerah sebelum melakukan pekerjaan,
cermin dari pragmatisme hidup orang harus tetap optimis; (4) ulah kurung
Sunda, yaitu karakter religius, karakter batokkeun, artinya manusia harus banyak
personal, etos kerja, ketertiban hukum, bergaul agar banyak teman dan menambah
kepemimpinan, dan bidang pendidikan pengalaman; (5) kudu bisa ka bala ka bale,
atau pengasuhan. artinya manusia itu harus berusaha untuk
Karakter manusia Sunda yang memiliki banyak pengetahuan dan kete-
diharapkan sebagai manusia yang memiliki rampilan, mau bekerja apa saja asal halal,
kepribadian, memiliki sikap, memiliki jangan memilih-milih pekerjaan yang
karisma, dan memiliki jiwa kepedulian akhirnya malah menganggur; (6) ulah
sosial, yaitu (1) kudu hade gogog hade muragkeun duwegan ti luhur, yaitu jangan
tagog, yaitu memiliki penampilan yang mengerjakan sesuatu yang hasilnya malah
meyakinkan, optimistik, dan karismatik; gagal atau sia-sia; (7) ulah cacag
(2) nyaur kudu diukur, nyabda kudu nangkaeun, yaitu jangan mengerjakan
diungang, artinya harus menjaga ucapan, sesuatu setangah-setengah sebab hasilnya
tindakan atau perbuatan agar tidak tidak akan memuaskan, malah menjadi
menyakiti orang; (3) batok bulu eusi madu, berantakan; (8) ulah puraga tanpa kateda,
artinya yaitu harus memiliki otak atau yaitu jangan mengerjakan sesuatu asal jadi
kecerdasan yang baik; (4) ulah bengkung saja, pada akhirnya orang yang me-
bekas nyalahan, yaitu jangan salah berbuat ngerjakan kitu merasa kecewa akan hasil
karena hasilnya akan sia-sia atau hasilnya kerja kita; (9) ulah ngarawu ku siku,
tidak akan baik; (5) ulah elmu ajug, artinya jangan menerima semua pekerjaan,
jangan menasihati orang tetapi dirinya serakah, semua tawaran diambil, sebab
sendiri butuh nasihat orang lain atau pada akhirnya akan sia-sia bahkan tidak
jangan mengajak orang lain berbuat baik akan berbuah; (10) hejo tihang, yaitu
sendirinya saja tidak baik; (6) sacangreud jangan pindah-pindah tempat kerja;
pageuh sagolek pangkek, artinya hidup (11) muru julang ngaleupaskeun peusing,
harus memiliki prinsip; (7) ulah gindi pikir jangan tergiur dengan iming-iming yang
belang bayah, artinya jangan berbuat jahat, belum tentu menghasilkan, lebih baik
Kearifan Lokal Orang Sunda Dalam Ungkapan..... (Aam Masduki) 301

tekuni yang sedang digarap tetapi hasilnya merupakan nilai-nilai dan kearifan lokal
sudah menjanjikan. orang Sunda pada umumnya. Dalam
Masalah keadilan harus tertanam juga babasan dan paribasa banyak sekali
dalam manusia Sunda. Leluhur Sunda kearifan lokal yang terkandung di da-
sudah memberikan filosofis tentang lamnya. Kearifan lokal tersebut menjadi
keadilan, tujuannya agar manusia Sunda karakter atau falsafah orang Sunda pada
memiliki jiwa adil dan beradab, seperti umumnya. Nilai dan kearifan lokal ini
yang tercermin dalam: (1) ulah cueut ka nu yang harus tetap dijaga dan dijadikan
hideung ulah ponteng ka nu koneng, yaitu falsafah hidup orang Sunda, sebagai
katakan salah bila salah, katakan benar bentuk wujud nilai yang terkandung dalam
kalau memang benar, jangan berpihak babasan dan paribasa.
kepada yang salah; (2) kudu nyanghulu ka Babasan dan paribasa mempunyai
hukum, nunjang ka nagara, mupakat ka aturan yang sudah tetap atau sering disebut
balarea, yaitu aturan harus bersumber bahasa pakeman, sehingga babasan dan
kepada hukum, harus berbakti benar ke paribasa tidak bisa berubah atau pun
negara, dan kebenaran itu harus menurut diubah. Hal ini berdasarkan bahwa babasan
orang banyak (rakyat); (3) kudu puguh dan paribasa memiliki aturan tetap.Yang
bule hideungna, yaitu perkara itu harus dimaksudkan agar nilai-nilai dari babasan
jelas aturannya bila ingin mengambil dan paribasa tetap terjaga.
tindakan; (4) bobot pangayon timbang Menurut Warnaen (1987:8) pandangan
taraju, artinya menimbang kesalahan harus hidup orang Sunda dapat dikategorikan
dengan aturan yang jelas seusuai dengan menjadi lima, yaitu: (1) pandangan hidup
kesalahan yang diperbuatnya; (5) nu lain tentang manusia sebagai pribadi, (2)
kudu dilainkeun, nu enya kudu dienyakeun, pandangan hidup tentang manusia dengan
nu ulah kudu diulahkeun; artinya harus lingkungan masyarakat, (3) pandangan
berkata jujur jangan melarang-larang hidup tentang manusia dengan alam, (4)
sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangan hidup tentang manusia dengan
kebenaran. Tuhan, (5) pandangan hidup tentang
Ungkapan tradisional merupakan manusia dalam mengejar kemajuan lahi-
bagian dari khasanah folklor. Menurut riyah dan kepuasan batin. Kelima pan-
Danandjaja (1984: 17) folklor perlu dangan itu kalau dihayati dan digali tidak
dipelajari sebab folklor mengungkapkan mungkin akan terjadi konflik, baik yang
baik secara sadar maupun tidak, bagaimana disebabkan oleh perbedaan agama, suku,
folk pendukungnya itu berpikir. Selain itu bahasa, ras, warna kulit, maupun
folklor juga mengabadikan apa-apa yang perbedaan status sosial yang lainnya.
dirasakan penting (dalam suatu masa) oleh
folk pendukungnya. Pandangan Hidup tentang Manusia sebagai
Menurut Budi Rahayu Tamsyah, et al Pribadi
dalam b menjelaskan ungkapan tradisional Banyak ungkapan tradisional yang me-
di Sunda salahsatunya adalah Babasan dan ngandung kearifan lokal yang isinya meru-
Paribasa. Babasan adalah segala ucapan pakan pandangan hidup tentang manusia
yang sudah tetap dan jelas aturan sebagai pribadi. Ungkapan tradisional itu
pemakaiannya. Sedangkan yang disebut sebagai berikut:
dengan paribasa adalah perbandingan yang 1) Kudu hade gogog hade tagog.
menjadi perlambang kehidupan, dibuat Makna yang terkandung dalam
dalam satu runtuyan kata dan sudah tetap ungkapan tradisional tersebut yaitu,
aturan bahasanya. harus baik budi bahasa dan baik
Babasan dan Paribasa merupakan tingkah laku. Maksud dari ungkapan
ungkapan tradisional atau idiom suku tersebut bahwa kita dalam bergaul
Sunda. Isi dari babasan dan paribasa dengan orang lain senantiasa harus
302 Patanjala Vol. 7 No. 2 Juni 2015: 295 - 310

memperlihatkan perangai dan tingkah 6) Henteu gedag bulu salambar.


laku yang baik. Apabila bersikap Artinya, tidak merasa gentar
seperti itu, kita akan dengan mudah sedikitpun menghadapi musuh.
bergaul dengan orang lain. Orang lain 7) Sacangreud pageuh sagolek pangkek
akan menyenangi kita. Dengan siapa Artinya, teguh memegang pendirian,
saja kita bergaul tidak akan tidak pernah melanggar janji.
menemukan masalah. Sangat tidak 8) Indung suku oge moal dibejaan.
mungkin akan terjadi konflik, karena Artinya, harus teguh menyimpan
antara budi bahasa yang digunakan rahasia, apalagi rahasia negara.
dengan tingkah laku sejalan. 9) Ulah gindi pikir belang bayah.
2) Nyaur kudu diukur, nyabda kudu Artinya, jangan buruk hati, jangan
diungang (berkata harus diukur, punya pikiran buruk terhadap sesama.
bersabda harus ditimbang).Makna 10) Hambur bacot murah congcot.
yang terkandung dalam ungkapan Artinya, banyak cakap, cerewet dan
tersebut yaitu, segala perkataan harus sering memarahi tetapi suka memberi
dipertimbangkan sebelum makanan.
diucapkan.Senantiasa kita harus 11) Kudu boga pikir rangkepan.
mampu mengendalikan diri dalam Artinya, harus punya curiga tidak
berkata-kata. Konflik yang terjadi di mudah percaya kepada orang lain.
Indonesia pada awalnya dari hal yang
sepele. Biasanya dari ucapan yang Pandangan Hidup Manusia dengan
menyakitkan. Ucapan itu keluar karena Lingkungan Masyarakat
tidak diper-timbangkan terlebih Kearifan lokal yang merupakan
dahulu. Akibatnya pihak yang lain pandangan hidup manusia dengan
merasa sakit hati, maka terjadilah lingkungan masyarakat yang akan penulis
konflik. Oleh karena itu kita harus analisis sebagai berikut.
hati-hati dengan ucapan. Kaitan 1) Kudu silih asih, silih asah, jeung silih
dengan hal ini dalam etnis Melayu kita asuh (Harus saling mengasih, saling
sudah diperingatkan dengan ungkapan mengasah, dan saling mengasuh).
lidah lebih tajam daripada pedang. Ini Makna yang terkandung dalam
menunjukkan bahwa pengaruh dari ungkapan tradisional tersebut dapat
ucapan kita yang menyakitkan orang dijelaskan sebagai berikut.
lain lebih dahsat daripada sekedar Silih asih, bahwa kita hidup dengan
pedang. Luka karena pedang dengan sesama harus saling mengasihi. Kita
mudah bisa diobati, tapi luka hati harus menolong orang yang
karena ucapan akan sulit untuk membutuhkan pertolongan kita. Hal ini
diobatinya. sesuai dengan ungkapan dalam budaya
3) Batok bulu eusi madu. Sunda kudu nulung ka nu butuh, nalang
Artinya, diluarnya buruk di dalamnya ka nu susah. Sepanjang kita mampu,
bagus. Misalnya tampaknya miskin apa pun bentuk pertolongan kita apabila
dan bodoh, tetapi kaya atau pandai. ada orang yang membutuhkan, maka
4) Ulah bengkung bekas nyalahan. kita dengan didasari rasa cinta siap
Artinya, tingkah laku harus tetap baik untuk menolongnya. Pertolongan yang
dan benar, jangan menyimpang. kita berikan semata-mata karena ingin
5) Ulah elmu ajug. Artinya, orang yang membantu, lilahitaala tidak didasari
hanya dapat menasehati orang lain karena ingin diberi imbalan.
agar berbuat baik, tetapi dia sendiri Silih asah, artinya saling
berbuat keburukan. memberi pengalaman dan pengetahuan,
kekurangan seseorang ditambah oleh
orang lain, kesalahan seseorang
Kearifan Lokal Orang Sunda Dalam Ungkapan..... (Aam Masduki) 303

diperbaiki oleh sesama anggota terjadi perpecahan walaupun hidup


masyarakatnya (Lubis, 2001). dalam keberagaman.
Dalam konteks ini kita harus
saling membelajarkan, harus saling Tentang Manusia dengan Alam Pandangan
mengisi dengan ilmu pengetahuan, Hidup
sehingga kita semua menjadi manusia
yang memiliki pengetahuan yang luas. Kearifan masyarakat Sunda yang
Oleh karena itu kita jangan kikir dengan merupakan pandangan hidup tentang
ilmu yang kita miliki. Ilmu yang kita manusia dengan alam menurut (Warnaen,
miliki harus senantiasa diamalkan 1987:20), yaitu: (1) Manuk hiber ku
kepada orang lain yang membutuhkan. jangjangna, (2) Jalma hirup ku akalna, (3)
Berdiskusi, bertukar pikiran, dialog, dan Jawadah tutung biritna sacarana-
kritik yang konstruktif pada hakikatnya sacarana, dan(4) Leutik ringkang gede
merupakan implementasi dari silih bugang.
asah.
Silih asuh, artinya kita harus 1) Manuk hiber ku jangjangna jalma
saling menjaga, melindungi, hirup ku akalna (Burung terbang
memperhatikan, mengarahkan, dan dengan sayapnya, manusia hidup
membimbing ke arah kebaikan. Dengan dengan akalnya). Makna yang
demikian terjalin suasana damai, saling terkandung dalam ungkapan tersebut,
menghormati, dan penuh rasa yaitu setiap makhluk masing-masing
kekeluargaan. Ungkapan silih asih, silih telah diberi cara atau alat untuk
asah, dan silih asuh sekarang sudah melangsungkan kehidupannya. Oleh
menjadi ungkapan nasional. Ini terbukti kare-na itu, jangan coba-coba kita
dengan seringnya para pejabat negara merusak alam, karena akan merusak
mulai dari presiden sampai pejabat di ekosistem yang sudah dibangun secara
bawahnya dalam berpidato atau alami. Akibat dari
memberikan pengarahan ekosistem yang rusak, keseimbangan
menyampaikan ungkapan tersebut. Hal alam menjadi tidak stabil. Dari alam
ini bisa dimaklumi karena konsep silih yang tidak stabil, akan menimbulkan
asih, silih asah, silih asuh merupakan bencana di mana-mana. Bencana alam
konsep tradisional yang penting dalam yang terjadi selama ini di Indonesia,
membina hubungan antar masyarakat, tidak menutup kemungkinan karena
sekaligus mencegah terjadinya konflik. ekosistem alam ini sudah rusak sebagai
2) Kawas gula jeung peueut (Seperti gula akibat ulah manusia. Akibat dari
dengan nira yang matang). Gula dan bencana alam itu bisa saja akan
peueut tidak bisa dipisahkan. Gula yang menimbulkan konflik, karena
dimaksud di sini yaitu gula merah dari kehidupan masyarakat tidak menentu
pohon aren. Sebelum menjadi gula yang dan penuh kepanikan.
bisa dicetak namanya peueut (gula yang 2) Jawadah tutung biritna sacarana-
masih muda). Baik gula maupun peueut sacarana. Ungkapan ini maknanya
sama-sama rasanya manis. Jadi, makna sama dengan ungkapan ciri sabumi
dari ungkapan tersebut yaitu hidup cara sadesa, yaitu setiap bangsa
rukun, damai, saling menyayangi, tak memiliki cara dan kebiasaan masing-
pernah berselisih. masing. Oleh karena itu, kita harus
Gula dan peueut tidak bisa menghargai dan menghormati cara dan
dipisahkan, karena gula berasal dari kebiasaan orang lain walaupun cara dan
peueut. Begitupun masyarakat kebiasaan itu berbeda dengan kita. Di
Indonesia idealnya harus seperti peueut dalam budaya Melayu ada ungkapan “di
dan gula. Selamanya bersatu tidak mana bumi dipijak disitu langit
dijunjung”. Makna yang terkandung
304 Patanjala Vol. 7 No. 2 Juni 2015: 295 - 310

dalam ungkapan tersebut yaitu apabila mata kehendak Tuhan. Namun, bukan
kita berada di suatu daerah tertentu, berarti kita harus diam tanpa usaha.
maka kita harus mengikuti adat istiadat Justru ungkapan ini secara inplisit
atau budaya daerah tersebut. Dengan menyuruh kepada kita untuk
demikian, selamanya kita akan hidup berikhtiar.
damai walaupun hidup dalam Bukan berarti ketika konflik terjadi
keberagaman budaya, agama, suku lalu kita menyerah dengan alasan
bangsa, warna kulit, bahasa, dan lain- bahwa ini sudah kehendak Tuhan,
lain. tanpa ada ikhtiar bagaimana supaya
3). Leutik ringkang gede bugang. tidak terjadi konflik. Justru Tuhan
Artinya, manusia itu meskipun kecil menyuruh kepada kita bagaimana
badannya, kalau meninggal dalam caranya supaya tidak terjadi konflik.
perjalanan, besar urusannya tidak 3) Nimu luang tina burang.
seperti binatang. Artinya, mendapat pengalaman atau
pengetahuan pada waktu mendapat
Pandangan Hidup tentang Manusia dengan kecelakaan.
Tuhan 4) Buaya mangap batang liwat.
Sedikitnya ada enam ungkapan Artinya, memperoleh sesuatu yang
tradisional yang mengandung kearifan sangat diharapkan dengan tak terduga
sebagai pandangan hidup tentang manusia sebelumnya.
dengan Tuhan (Warnaen,1987:20). Dari
keenam itu hanya dua yang akan penulis Pandangan Hidup tentang Manusia dalam
analisis, yaitu mulih ka jati mulang ka Mengejar Kemajuan Lahiriah dan Kepuasan
asal, dan dihin pinasti anyar pinanggih. Batin
Dalam mengejar kemajuan lahiriah
1) Mulih ka jati mulang ka asal (Kembali hendaknya kita mengacu pada ungkapan
ke sejati pulang ke asal). Konsep dalam budaya Sunda sebagai berikut.
dalam ungkapan ini sama dengan apa
yang terdapat dalam ajaran Islam, 1) Ulah ngukur baju sasereg awak.
yaitu bahwa manusia diciptakan oleh Artinya, jangan mempertimbangkan
Tuhan pada akhirnya akan kembali sesuatu hanya dari segi kepentingan
kepada Tuhan. Oleh karena itu, kita pribadi.
senantiasa me- nyiapkan diri untuk 2) Ulah pupulur memeh mantun.
bekal nanti di alam yang kekal. Orang Artinya, jangan meminta upah sebelum
yang mengetahui ungkapan itu, tidak bekerja.
mungkin untuk membuat permusuhan 3) Ulah kumeok memeh dipacok.
di dunia ini. Justru dia akan membuat Artinya, kalau menghadapi pekerjaan
kedamaian dengan menjalin janganlah sebelum apa-apa sudah
silaturahmi dengan siapa pun tanpa merasa berat.
melihat perbedaan yang dimilikinya. 4) Mending waleh batan leweh.
Dia menganggap, bahwa secara sosial Artinya, lebih baik berterus terang dari
semua manusia yang ada di muka pada terus menanggung kedukaan.
bumi ini saudara. 5) Mending kendor ngagembol,
2) Dihin pinasti anyar pinanggih (Sejak tinimbang gancang pincang. Artinya,
dahulu ditentukan baru sekarang lebih baik lambat tetapi dengan banyak
dijumpai). Maksud dari ungkapan ini hasilnya daripada cepat dengan sedikit
yaitu, segala sesuatu yang dialami hasil.
sekarang sesungguhnya sudah ada 6) Asa mobok manggih gorowong.
yang menentukan terlebih dahulu. Artinya, orang yang sedang mencari
Segala sesuatu yang terjadi semata-
Kearifan Lokal Orang Sunda Dalam Ungkapan..... (Aam Masduki) 305

jalan, lalu mendapat pula pertolongan pihak harus konsisten atau berpegang
sehingga merasa senang. teguh kepada norma-norma yang sudah
7) Ulah puraga tamba kadenda. disepakati bersama itu.
Artinya, dalam mengerjakan suatu Seperti yang tertuang dalam
pekerjaan jangan asal dikerjakan saja, ungkapan, Kudu paheuyeuk-heuyeuk
tetapi harus dengan sungguh-sungguh leungeun (Harus saling berpegangan
sehingga hasilnya memuaskan. tangan). Manusia merupakan makhluk
8) Batan, kapok anggur gawok. sosial. Satu sama lain saling
Artinya, dari pada berhenti membutuhkan. Oleh karena itu kita sebagai
melakukan pekerjaan yang tidak baik, manusia harus tolong-menolong. Tolong-
malah makin menjadi-jadi. menolong merupakan awal dari terciptanya
9) Ulah gasik nampi gancang narima. kedamaian. Budaya tolong-menolong di
Artinya, jangan terburu-buru masyarakat perkotaan dewasa ini sudah
menerima sesuatu, hendaknya berkurang. Hal ini karena kehidupan di
dipikirkan dulu baik buruknya. perkotaan sudah bersifat individualistis.
10) Kudu bisa lolondokan. Artinya, Kepedulian kepada sesama sudah
pandai menyesuaikan diri. berkurang. Tentu saja kalau ini tidak cepat
11) Ulah pagiri-giri calik, pagirang- ditanggulangi merupakan sebuah ancaman
girang tampian. Makna dari akan terjadinya perpecahan. Caranya
ungkapan ini yaitu: Untuk dengan kembali memahami ungkapan
mendapatkan keuntungan atau tradisional yang mengandung kearifan
kekuasaan jangan saling berebutan lokal. Upaya riilnya, yaitu menciptakan
tanpa mengindahkan kepentingan suasana kekeluargaan dengan sesama.
bersama. Kekuasaan atau jabatan Umpamanya melalui kegiatan pengajian
yang diperoleh dengan cara-cara yang bersama, arisan warga, jalan-jalan
kurang baik, pada akhirnya akan bersama, dan lain-lain.
berujung dengan kekacauan atau Sebaliknya dengan di kota, suasana
konflik. Konflik akan terjadi antara tolong-menolong di desa sampai hari ini
pejabat berikut pendukungnya dengan masih kelihatan. Upamanya apabila ada
orang berikut pendukungnya yang tetangga membangun rumah, keluarga
seharusnya menempati jabatan yang lainnya sibuk mengirim makanan
tersebut. Selain itu, jabatan yang untuk sekadar mengurangi beban
diperoleh dengan cara-cara kurang tetangganya yang sedang membangun itu.
baik biasanya tidak memperhatikan Begitu pun dalam mengerjakan
keahlian atau profe-sionalisme orang bangunannya, banyak anggota masyarakat
yang akan menempati jabatan yang lainnya ikut membantu tanpa dibayar.
tersebut. Yang penting dia punya Namun suasana yang penuh dengan
banyak uang dan kekuatan. Akibatnya gotong-royong itu tidak menutup
dia tidak mampu melaksanakan tugas kemungkinan akan hilang seperti di kota,
dengan baik. Dalam situasi seperti ini, apabila masyarakat di desa tidak
lama-kelamaan negara Indonesia akan memahami makna yang terkandung dalam
hancur. ungkapan tradisional tersebut.
Begitupun dalam mendapatkan keun- Kaitannya dengan manusia dalam
tungan yang lainnya harus diperoleh mengejar kepuasan batiniah, di dalam
dengan cara yang sesuai dengan norma- budaya Sunda ada ungkapan sebagai
norma yang berlaku, jangan merugikan berikut.
orang lain. Oleh karena itu, untuk 1) Tiis ceuli herang mata (Sejuk
memperoleh jabatan hendaknya pendengaran, bening
menempuh mekanisme atau norma-norma penglihatan).Ungkapan ini
yang sudah disepakti bersama. Semua menghendaki agar dalam kehidupan
306 Patanjala Vol. 7 No. 2 Juni 2015: 295 - 310

ini situasinya tenang, damai, di masyarakat, serta merupakan bahan


tentram, dan tidak mendengar atau perbandingan tingkah laku manusia.
melihat sesuatu yang jelek atau Contohnya:
kacau. Suasana ini hanya bisa
1) Adat kakurung ku iga
terwujud apabila di antara
Adat atau kebiasaan yang sulit untuk
masyarakat tidak ada konflik.
diubah. Dari paribasa ini kita bisa
Jadi, pesan dari ungkapan tersebut
melihat bahwa terkadang kebiasaan
yaitu kita jangan berkonflik apa pun
manusia sulit diubah.
alasannya. Konflik itu akan
2) Mihapé hayam ka heulang
membuat situasi tidak tenang, tidak
Makna dari ungkapan tersebut adalah
damai, dan tidak tentram. Kalau
menitipkan barang atau sesuatu kepada
situasinya seperti itu mana mungkin
seseorang yang tidak jujur atau
negara kita bisa membangun. Kita
membahayakan. Maksud dari paribasa
akan cape menyelesaikan konflik.
ini adalah untuk menjelaskan bahwa
Waktu akan habis digunakan untuk
kita harus berhati-hati menitipkan
memulihkan keadaan. Seperti
sesuatu hal kepada orang yang belum
halnya ketika kita menyelesaikan
kita ketahui.
konflik di Aceh.
2) Kudu bisa mihapekeun maneh 2. Paribasa Pangjurung Laku Hadé
(Harus dapat menitipkan diri). Paribasa pangjurung laku hadé
Sebagai manusia harus berperilaku merupakan paribasa yang isinya
baik. Dengan demikian banyak mendorong untuk berprilaku baik. Adapun
orang yang menyu-kainya. Di contoh dari paribasa ini adalah :
manapun dia berada walaupun 1) Cikaracak ninggang batu laun-laun
berbeda agama, suku, budaya, dan jadi legok
lain-lain, kalau perilakunya baik, Apabila sesuatu dilakukan dengan
maka dia akan selamat dan akan sungguh-sungguh, meskipun sulit pasti
mudah bersosialisasi. bisa dilakukan. Paribasa ini
Sebagaimana telah diuraikan di mengajarkan kita sesulit apa pun suatu
muka bahwa konflik yang besar itu hal apabila kita lakukan sungguh-
awalnya disebabkan oleh masalah sungguh pasti bisa dilakukan.
kecil, perselisihan antarindividu. Ini 2) Ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang
semua akibat dari salah satu atau ngala sajeungkal
kedua-duanya tidak berperilaku baik Makna dari ungkapan tersebut adalah
atau tidak bisa menitipkan diri. hidup harus berhati-hati dan penuh
Apabila kita ingin hidup tentram, dengan perhitungan. Dari paribasa ini
damai, dan disayangi oleh orang mengajar-kan bahwa kita hidup jangan
lain, maka kita harus bisa terlalu terburu-buru dalam bertindak,
menitipkan diri. Kita berada di tetapi kita harus berhati-hati dan penuh
tempat atau lingkungan baru harus perhitungan.
pandai-pandai menitipkan diri, 3. Paribasa Panyaram Lampah Salah
jangan membuat orang lain jengkel
Paribasa panyaram lampah salah.
melihat perilaku kita.
menjelaskan mengenai larangan-larangan
Menurut Budi Rahayu Tamsyah, et al
untuk tidak melakukan hal-hal yang salah
dalam buku 1.000 babasan jeung paribasa
atau membuat celaka. Adapun contoh dari
membagi babasan dan paribasa dalam tiga
paribasa ini adalah sebagai berikut :
golongan, yaitu :
1) Ulah pupulur méméh mantun
1. Paribasa Wawaran Luang
Jangan meminta upah sebelum kita
Paribasa wawaran luang menjelaskan
bekerja.
mengenai pengalaman yang sudah lumrah
2) Ulah meungpeun carang ku ayakan
Kearifan Lokal Orang Sunda Dalam Ungkapan..... (Aam Masduki) 307

3) Artinya jangan berpura-pura tidak untuk memeroleh informasi-informasi


tahu, membiarkan seseorang yang salah.
melakukan hal atau tindakan yang Adapun babasan dan paribasa
salah. orang Sunda yang sesuai dengan konteks
4) Ulah cul dogdog tinggal igel kemajuan teknologi yaitu :
Artinya jangan meninggalkan 1) Kudu bisa miindung ka waktu, mibapa
pekerjaan tetap, untuk pekerjaan yang ka jaman. Artinya kita harus bisa
tidak jelas penghasilannya. mengikuti perkembangan jaman.
Dengan paribasa ini setidaknya kita
Babasan dan paribasa dalam perkembangan bisa lebih positif menggunakan
Globalisasi tekhnologi sesuai dengan aturan dan
Globalisasi adalah suatu proses perkembangan jaman.
dimana anta individu, antarkelompok, dan 2) Bengkung ngariung,bongkok
antar negara saling berinteraksi, ngaronjok.
bergantung, terkait, dan memengaruhi satu Artinya sekalipun hidup susah, yang
sama lain yang melintasi batas negara. terpenting hidup berkumpul bersama
Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai keluarga. Paribasa ini sudah jarang
banyak karakteristik yang sama digunakan lagi di tengah
dengan internasionalisasi sehingga kedua perkembangan tekhnologi pada zaman
istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian sekarang. Banyak orang Sunda yang
pihak sering menggunakan istilah belajar jauh ke luar negeri, akibat
globalisasi yang dikaitkan dengan informasi dari teknologi. Kemajuan
berkurangnya peran negara atau batas- teknologi bisa menjadi positif apabila
batas negara. kita tetap berpegang teguh pada adat
Globalisasi juga bisa menimbulkan ketimuran kita, seperti tetap berpegang
dampak positif dan negatif. Positif dan teguh pada paribasa atau babasan.Tapi
negatifnya suatu hal dalam globalisasi kita juga harus lebih pintar memilih
tergantung pada setiap sudut pandang dan ungkapan dari paribasa yang sesuai
kebudayaan tiap-tiap negara. Hal ini bisa dan positif terhadap perkembangan
kita lihat dalam fenomena-fenomena globalisasi.
globalisasi yang memengaruhi kebu- Timbulnya rasa bebas dan
dayaan di negara kita. Salah satu dampak keterbukaan dalam setiap tindakan, hal ini
dari fenomena globalisasi itu bisa kita lihat bisa menjadi dampak positif, contohnya
melalui sudut pandang Babasan dan kebebasan dan terbuka dalam
Paribasa. Contoh dampak fenomena mengemukakan pendapat. Dengan adanya
globalisasi, yaitu : kebebasan dan keter- bukaan dalam
berpendapat kita bisa lebih mudah
Kemajuan Teknologi mengemukakan pendapat kita kepada
Kemajuan teknologi merupakan khalayak umum.
fenomena globalisasi yang bisa berdampak Sedangkan dampak negatif dari
positif ataupun negatif. Hal ini tidak bisa kebebasan contohnya: budaya seks bebas,
kita cegah, karena kemajuan tekhnologi hedonisme, dan lain-lain. Hal ini sangat
setidaknya dibutuhkan dan akan selalu berlawanan dengan adat ketimuran kita.
berkembang sesuai zaman. Dampak positif Adapun paribasa dan babasan yang sesuai
dari kemajuan tekhnologi, kita bisa lebih dengan fenomena ini adalah:
mudah untuk berkomunikasi dan 1). Abong biwir teu diwengku
berhubungan sosial antarnegara. Sementara Artinya orang yang bicaranya tidak
dampak negatif dari kemajuan teknologi diatur atau asal bicara. Ini biasanya
ini sendiri, banyaknya orang yang digunakan untuk sindiran kepada
menyalahgunakan kemajuan teknologi orang yang dalam berpendapatnya
308 Patanjala Vol. 7 No. 2 Juni 2015: 295 - 310

tidak bisa mengatur omongannya. Jadi bahwa kita harus bisa disiplin
meskipun akibat globalisasi kita melakukan hal sesuai dengan
mengenal kebebasan, bukan berarti proporsinya.
kita bebas dalam mengemukakan apa
5). Nete taraje nincak hambalan
yang kita inginkan dengan cara yang
Artinya harus sesuai dengan aturan dan
kita inginkan. Akan tetapi, harus tetap
mengikuti prosesnya. Biasanya
sesuai dengan aturan tata krama yang
paribasa ini digunakan untuk
kita miliki.
menasehati agar kita sabar dan mau
2). Hade ku omong goreng ku omong menghargai waktu (proses) dari
Artinya segala sesuatu bisa disebut sesuatu hal.
baik atau buruk disebabkan
6). Kudu sareundeuk saigel, sabobot
omongannya. Dari paribasa ini kita
sapihanean, sabata sarimbagan
bisa melihat bahwa baik buruknya
Artinya harus hidup bersama-sama baik
seseorang dilihat dari apa yang
dalam duka maupun suka. Paribasa ini
dikatakannya. Oleh karena itu di
biasanya dipakai untuk menasihati
tengah globalisasi yang membebaskan
agar kita hidup bersama-sama, jangan
kita untuk terbuka dalam berpendapat,
individualistis. Karena saling
kita tetap harus menjaga dan
membutuhkan, maka kita harus hidup
memikirkan terlebih dahulu apa yang
bersama-sama dalam melakukan
kita bicarakan.
sesuatu hal.
3). Ulah ngalajur nafsu
7). Ulah tutung atahan ari gawe teh
Artinya jangan mengikuti
Artinya bahwa ketika kita bekerja
nafsu/keinginan sesaat. Hal ini
jangan melakukan pekerjaan setengah-
menjelaskan bahwa ketika kita hidup
setengah. Dalam paribasa ini
jangan terlalu mengikuti nafsu, karena
mengajarkan bahwa kita harus bekerja
bisa mengakibatkan kesalahan yang
secara sungguh-sungguh dalam
fatal. Paribasa ini biasanya menjadi
melakukan pekerjaan. Bila
nasihat agar tidak terlalu mengikuti
mengerjakan atau melakukan sesuatu
nafsu yang bisa merugikan kita dalam
hal dengan bersunguh-sungguh, maka
kehidupan sehari-hari.
hasil nya pun akan baik.
Fenomena lain dari dampak globalisasi
Dari berbagai babasan dan
adalah adanya interaksi sosial yang
paribasa, kita bisa melihat bahwa masih
mengakibatkan adanya akulturasi
banyak nilai-nilai kearifan lokal yang bisa
budaya, contohnya gaya hidup.
digunakan sesuai dengan perkembangan
Dampak positif dari fenomena gaya
globalisasi. Derasnya arus perkembangan
hidup yang diakibatkan globalisasi,
globalisasi merupakan hal yang tidak bisa
contohnya : etos kerja, disiplin, dan
kita cegah atau hindari. Karena perkem-
menghargai waktu.
bangan globalisasi sangat memengaruhi
zaman. Hal ini bisa menjadi dampak
Adapun dampak negatif dari gaya
positif ataupun negatif, bergantung
hidup akibat fenomena globalisasi di
bagaimana kita menghadapi perkembangan
antaranya berkurangnya rasa saling
globalisasi. Apabila kita menggunakan
menghormati dan individualisme. Adapun
kearifan lokal yang ada, contohnya orang
paribasa dan babasan yang sesuai dengan
Sunda menggunakan Babasan dan Paribasa
fenomena ini adalah :
dalam kehidupannya.Tentu saja hal-hal
4). Nilas saplasna, ngadek saclekna negatif dari perkembangan globalisasi bisa
Artinya bahwa hidup harus dicegah.
proporsional atau sesuai dengan Melihat nilai-nilai babasan dan
kebutuhan. Paribasa ini menjelaskan paribasa memiliki banyak kearifan lokal
Kearifan Lokal Orang Sunda Dalam Ungkapan..... (Aam Masduki) 309

yang bisa digunakan dalam permasalahan- dari upaya meningkatkan ketahanan


permasalahan globalisasi. Apabila banyak nasional kita sebagai sebuah bangsa.
orang yang mengerti dan bisa Mengembangkan nilai-nilai dan budaya
mentransformasikan nilai-nilai tersebut, iptek pada dasarnya adalah melakukan
bukan tidak mungkin bahwa kita ke tranformasi dari masyarakat berbudaya
depannya bisa berkembang sesuai dengan tardisional menjadi masyarakat yang
perkembangan globalisasi tanpa harus berpikir kritis dan berketerampilan iptek
menghilangkannya jati diri dan adat dengan tetap menjunjung tinggi atau
ketimuran yang kita miliki. memelihara nilai-nilai agama, keimanan,
dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang
D. PENUTUP Maha Esa, serta nilai-nilai luhur budaya
Berdasarkan uraian di atas, dapat bangsa. Manusia sebagai makhluk yang
disimpulkan bahwa kearifan lokal budaya berakal budi tidak henti-hentinya me-
adalah suatu pengetahuan yang dikem- ngembangkan pengetahuaanya. Akibatnya
bangkan oleh para leluhur dalam dalam teknologi persenjataan, computer
menyiasati lingkungan hidup sekitar informasi, kedokteran, biologi, dan
mereka, dan memperkenalkan serta pangan. Kemajuan teknologi tersebut bila
meneruskan itu dari generasi ke generasi. tidak disertai dengan nilai etika, akan
Contohnya kearifan lokal pada ungkapan merusak moral dan budaya masyarakat
tradisional yang masih ada di zaman yangada di Indonesia.
modern ini dan akan diwariskan secara Babasan dan paribasa merupakan
turun-temurun sebagai budaya lokal. salah satu hasil kebudayaan yang dimiliki
Kearifan lokal menjadi penting dan orang Sunda, yang memiliki banyak
bermanfaat hanya ketika masyarakat lokal kearifan lokal dan nilai-nilai baik di
yang mewarisi sistem pengetahuan itu mau dalamnya. Babasan dan paribasa dapat
menerima dan mengklaim hal itu sebagai dikategorikan dalam 3 kategori : (1)
bagian dari kehidupan mereka. Dengan Sebagai pemberitahuan, (2) sebagai
cara itulah, kearifan lokal dapat disebut pondorong berbuat baik, dan (3) larangan
sebagai jiwa dari budaya lokal. dalam berbuat buruk atau salah.
Dari pembahasan di atas tergambar Dalam perkembangan globalisasi
dengan jelas bahwa kearifan lokal banyak fenomena-fenomena akibat
masyarakat terkodifikasi dalam adat. Adat globalisasi terhadap kebudayaan kita.
masyarakat ini memiliki konsep- Fenomena globalisasi bisa menjadi positif
konsepnya tersendiri di setiap kelompok dan negatif bergantung dari bagaiman kita
etnik. Dalam kearifan lokal terdapat nilai- menghadapinya. Dengan menggunakan
nilai untuk membentuk karakter bangsa. pendekatan nilai-nilai babasan dan
Nilai-nilai tersebut mencakup: sistem paribasa, kita bisa tetap berkembang
kepemimpinan, hubungan sosial, hidup sesuai perkembangan globalisasi, tanpa
secara berkelompok, pentingnya berbagi harus mengubah kebiasaan adat ketimuran
materi dan pengalaman kepada orang lain, kita. Jadi penggunaan nilai-nilai dari
belajar terus dari alam, nilai-nilai gotong- babasan dan Paribasa ini bisa kita
royong, bagaimana menghadapi perubahan gunakan di tengah derasnya perkembangan
dan globalisasi, sadar akan makhluk yang globalisasi.
mulai dari kecil, dewasa, sampai me- Hendaknya kearifan budaya lokal
ninggal, hidup tidak boleh sombong, dan tersebut terus ada dan dipertahankan agar
seterusnya. Kearifan lokal sesungguhnya tidak lenyap di era globalisasi dan modern.
mengandung banyak sekali keteladanan Serta dikembangkan lagi kearifan budaya
dan kebijaksanaan hidup. Pentingnya lokal ini supaya penerus bangsa
kearifan lokal dalam kebudayaan mengetahui budaya lokal negaranya
masyarakat kita secara luas adalah bagian sendiri.
310 Patanjala Vol. 7 No. 2 Juni 2015: 295 - 310

Penulis berharap bahwa kita tetap Pembelajarannya). Yogyakarta:


menjaga kearifan lokal di tengah derasnya LaksBang PRESSindo.
arus globalisasi. Dengan tetap Taufiq Hidayat, Rachmat dkk.2007.
menggunakan kearifan lokal dan nilai-nilai Peperenian Urang Sunda. Bandung:
seperti babasan dan paribasa, bisa Kiblat Buku Utama.
membuat kita tetap dengan ciri pribadi. Warnaen, S. et al. 1987.
Penulis berharap kita semua bisa Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti
mentransformasikan nilai-nilai yang Tercermin dalam Tradisi Lisan dan
terkandung dalam kearifan lokal contohnya Sastra Sunda. Jakarta: Depdikbud.
babasan dan paribasa.
2. Internet
http://irwancahyadi.blogspot.com/2012/05/dam
DAFTAR SUMBER pak-positif-dan-dampak-negatif.html, diakses
1. Buku tanggal 2 Februari 2015 pukul 11.30 WIB.
Azis, H. A. 2011. http://ipoetmedia.blogspot.com/2010/07/dampa
Pendidikan Karakter Berpusat pada Hati, k-positif-globalisasi.html, diakses tanggal 6
Akhlak Mulia Pondasi Membangun Februari 2015 pukul 9.00 WIB.
Karakter Bangsa. Jakarta: Al-Mawardi.
https://imbasadi.wordpress.com/2012/11/21/ke
Herlina Lubis, N. (2001). arifan-lokal-babasan-dan-paribasa-tim-upi/,
Makalah “Kearifan Tradisional Warisan diakses tanggal 10 Februari 2015 pukul 8.00
Sejarah Sunda” pada Konferensi WIB.
Internasional Budaya Sunda, Bandung.
http://www.deptan.go.id/dpi/detailadaptasi3.ph
Khan, D.Y. 2010. Pendidikan Karakter p, diakses tanggal 12 Februari 2015 pukul 9.00
Berbasis Potensi Diri: Mendongkrak WIB.
Kualitas Pendidikan. Semarang: Pelangi
Publishing. http://budisuhardiman.blogspot.com/2010/05/re
vitalisasi-kearifan-lokal-melalui.html, diakses
Lembaga Basa & Sastra Sunda. 1975 tanggal 5 Januari 2015 pukul 10.30 WIB.
Kamus Umum Basa Sunda. Bandung:
Tarate. http://irwancahyadi.blogspot.com/2012/05/dam
pak-positif-dan-dampak-negatif.html, diakses
Mustapa, R. H. Hasan. 1985. tanggal 6 Januari 2015 pukul 11.00 WIB.
Adat Istiadat Orang Sunda. Bandung:
Alumni. http://ipoetmedia.blogspot.com/2010/07/dampa
k-positif-globalisasi.html, diakses tanggal 9
Rahayu Tamsyah, Budi dkk. 1994. 1000 Januari 2015 pukul 11.30 WIB.
Babasan jeung Paribasa Sunda. Bandung
: PustakaSetia. https://imbasadi.wordpress.com/2012/11/21/ke
arifan-lokal-babasan-dan-paribasa-tim-upi/,
Rosidi, Ajip. 1970. diakses tanggal 12 Januari 2015 pukul 10.10
Carita Mundinglaya Di Kusumah. WIB.
Bandung: Proyek Penelitian Pantun.
http://budisuhardiman.blogspot.com/2010/05/re
Rusyana, Yus dkk.1988/1989. vitalisasi-kearifan-lokal-melalui.html, diakses
Pandangan Hidup Orang Sunda tanggal 15 Januari 2015 pukul 9.00 WIB.
(sepertiTercermin dalam Kehidupan
Masyarakat Dewasa ini) Tahap III. http://lilawatyy95.blogspot.com/2013/01/penjel
Bandung: Depdikbud. asan-tentang-kearifan-lokal.html, diakses
tanggal 4Maret 2015 pukul 9.30 WIB.
Sutrisno, Sulastin. 1981.
Relevansi Filologi:Yogyakarta http://naninorhandayani.blogspot.com/2011/05/
Universitas Gajah Mada. pengertian-kearifan-lokal.html, diakses tanggal
2 Maret 2015 pukul 10.30 WIB
Sukatman. 2009. Butir-butir Tradisi Lisan
Indonesia (Pengantar Teori dan