Anda di halaman 1dari 17

A: Definisi Leasing

Apa definisi leasing?

Pengertian leasing dan contohnya secara umum sudah disampaikan di awal


artikel ini.
Arti dari leasing adalah suatu perjanjian yang memberikan hak untuk
menggunakan harta, pabrik, atau alat-alat yang lain selama jangka waktu
tertentu.
Dengan kata lain, sewa guna usaha/ leasing dapat dipandang sebagai
kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal, baik secara
sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease).
Atau dengan sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk
digunakan lesse selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran
secara berkala.
Pihak yang menyewakan disebut lessor dan pihak yang menyewa
disebut lessee.
Untuk memenuhi aktiva tetap, perusahaan dapat memilih alternatif lain melalui
sewa guna usaha (leasing).
Secara formal kepemilikan aktiva tersebut berada pada pihak yang
menyewakan (lessor).
Tapi pemanfaatan ekonominya dilakukan oleh pihak yang menyewa (lessee).
Sewa guna usaha/ Leasing adalah salah satu bentuk pendanaan jangka
menengah yang saat ini banyak dimanfaatkan di Indonesia.
Bentuk pendanaan ini makin berkembang, bahkan sudah ada jenis leasing
syariah.

Sudah jelas pengertian leasing?

Dilanjutkan ya…

B: Jenis Leasing dan penjelasannya


Jenis leasing dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

#1: Capital Lease atau Finance Lease

Finance Lease adalah jenis leasing yang mempunyai kriteria sebagai berikut:

1. Jumlah pembayaran sewa guna selama masa sewa guna usaha


pertama ditambah dengan nilai sisa barang modal. Harus dapat
menutup harga perolehan barang modal atau minimum sama atau lebih
besar dari 90% harga pasar aktiva yang disewakan dikurangi keringan
pajak (kalau ada).
2. Masa sewa guna usaha ditetapkan:
 minimum 2 tahun untuk barang modal golongan I,
 minimum 3 tahun untuk barang modal golongan II,
 dan minimum 7 tahun untuk barang modal bangunan.
3. Sewa guna usaha mengandung persetujuan yang memberikan hak
kepada penyewa (lessee) untuk membeli aktiva yang disewa dengan
harga yang telah disetujui atau dengan kata lain penyewa mempunyai
hak opsi.
#2: Operating Lease

Operating Lease adalah jenis lasing yang memiliki kriteria sebagai berikut:

1. Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha
tidak dapat menutup harga perolehan barang modal yang disewa
ditambah keuntungan yang diperhitungan lessor.
2. Tidak memiliki hak opsi bagi lessee, shingga tidak benar membeli atau
memindahkan hak pada akhir masa sewa guna usaha bagi lessee.

C: Bentuk Leasing

Meskipun perusahaan sewa guna usaha (leasing company) adalah


perusahaan yang bisnis utamanya adalah menyewakan suatu aktiva kepada
pihak memerlukan.
Janganlah ditafsirkan bahwa perusahaan sewa guna tersebut mempunyai
persediaan berbagai aktiva, seperti mesin, kendaraan, peralatan yang
sewaktu-waktu siap disewakan.

Pada dasarnya perusahaan sewa guna hanyalah memberikan jasa


pendanaan kepada perusahaan yang memerlukan suatu aktiva.

Dengan demikian bila suatu perusahaan memerlukan suatu mesin tertentu,


maka resminya perusahaan leasing membeli mesin tersebut.

Dan kemudian menyewakannya kepada perusahaan tersebut.

Bila perusahaan tersebut menyatakan akan menyewa mesin tersebut untuk


jangka waktu tertentu tanpa bisa membatalkan persewaannya.

Maka cara persewaan tersebut disebuat sebagai financial leasing.


Sedangkan persewaan yang hanya berjangka pendek, pihak penyewa segera
mengembalikan alat yang disewa segera setelah periode penyewaan
berakhir.

Dan tidak mungkin mempunyai opsi untuk membeli aktiva yang disewa
tersebut.

Contoh sewa guna usaha jenis ini, misalnya menyewa kendaraan bermotor
untuk satu minggu, maka tipe persewaan ini disebut sebagai operating
leasing.
Ada 3 bentuk sewa guna usaha/ leasing, yaitu:

#1: Sale and Lease Back

Sewa guna usaha dalam bentuk ini perusahaan seolah-olah menjual aktiva
yang telah dimilikinya kepada perusahaan sewa guna.

Karena itu memperoleh cash inflow, dan kemudian menyewanya kembali dari
perusahaan tersebut.
Perusahaan melakukan cara ini biasanya karena memerlukan kas dalam
jumlah yang cukup banyak, tapi juga masih memerlukan aktiva yang di-sale
and lease back tersebut.
#2: Direct Leasing

Direct leasing adalah bentuk sewa guna usaha di mana perusahaan menyewa
aktiva yang sebenarnya tidak menjadi miliknya.
#3: Leveraged Leasing

Leveraged Leasing adalah bentuk sewa guna usaha yang mirip dengan
bentuk direct leasing.
Hanya saja perusahaan sewa guna tidak lagi membiayai seluruh kebutuhan
dana yang diperlukan untuk memperoleh aktiva tersebut, tapi menggunakan
sebagian pinjaman.

Dengan demikian terdapat tiga pihak yang terlibat, yaitu:

1. Lessor
2. Lessee
3. Pemberi pinjaman
Bagi lessee, bentuk sewa guna ini tidak ada bedanya dengan direct leasing.

D: Analisis Pendanaan dengan Leasing

Sewa guna/ leasing hendaknya dilakukan sebagai suatu alternatif pendanaan.

Analisis dilakukan dengan cara membandingkan dengan alternatif pendanaan


lain, yaitu utang (debt financing).

Mengapa digunakan utang?

Karena penggunaan leasing mengakibatkan timbulnya kewajiban bagi


perusahaan, sama seperti jika perusahaan menggunakan utang.
Perhatikan contoh soal sewa guna usaha berikut ini:

PT MKN memerlukan aktiva senilai Rp 100 juta.

Suatu perusahaan leasing menawarkan untuk membiayai keperluan tersebut


dengan cara membayar sewa sebanyak lima kali dalam lima tahun.

Hanya saja pembayaran tersebut dilakukan pada awal tahun .

Perusahaan leasing menentukan tingkat keuntungan sebesar Rp 15% per


tahun.

Dengan demikian perhitungan pembayaran sewa setiap awal tahun adalah


sebagai berikut:

100 = X / (1-0,15) + X / (1-0,15)2 + X / (1-0,15)3 + X / (1-0,15)4 + X / (1-0,15)5


= 3,855X
X = Rp 25,94 juta
Bila PT MKN akan membeli aktiva tersebut, maka suatu bank bersedia
membiayai dengan bunga 18% per tahun.

Pembayaran utang akan dilakukan dengan sistem anuitas, artinya angsuran


per tahun sama besarnya, dan dibayar pada akhir tahun.

Perhitungan pembayaran anuitas adalah sebagai berikut:

100 = X / (1-0,16) + X / (1-0,16)2 + X / (1-0,16)3 + X / (1-0,16)4 + X / (1-0,16)5


X = Rp 30,54 juta
Sekilas nampak bahwa pemilihan alternatif utang akan mengakibatkan cash
outflow yang lebih besar setiap tahunnya.

Dengan demikian apakah alternatif sewa guna yang sebaiknya dipilih?

Untuk memutuskan pilihan ini, kita perlu memperhatikan dua hal, yaitu:

#1: Pola cash outflow tidak sama

Pemilihan alternatif leasing akan mengakibatkan pengeluaran kas pada awal


tahun. Sedangkan utang pada akhir tahun.

#2: Penggunaan Utang

Dengan menggunakan utang PT MKN memiliki aktiva tersebut. Dengan


demikian beban penyusutan akan dapat digunakan sebagai pengurang pajak
penghasilan.
Karena itulah dalam analisis perlu dilakukan atas dasar SETELAH pajak, baik
yang menyangkut penggunaan biaya modal yang relevan maupun arus kas
yang relevan,

Bila tarif pajak penghasilan 50%, maka biaya modal setelah pajak yang
relevan adalah:

= 0,16 (1-0,50)
= 0,08

Mengapa angka ini yang dipergunakan?

Karena alternatif leasing adalah utang. Sedangkan penggunaan utang akan


mengakibatkan perusahaan menanggung biaya 8,0% setelah pajak.

Dengan demikian analisis untuk alternatif guna usaha adalah sebagai berikut:

contoh perhitungan akuntansi leasing


Untuk alternatif utang, PV arus kas keluar setelah pajak dihitung setelah kita
menghitung berapa bunga yang dibayar setiap tahunnya.

Perhitungan bunga ini peru dilakukan karena pembayaran bunga plus


penyusutan dapat digunakan untuk mengurangi beban pajak.

Perhitungan beban bunga adalah sebagai berikut:

Contoh perhitungan bunga leasing


Dengan demikian pehitungan PV arus kas keluar setelah pajak adalah
sebagai berikut:

Dari hasil analisis ternyata menunjukkan bahwa PV kas keluar kedua alternatif
tersebut sama saja (seharusnya pilih yang terkecil).

Dengan demikian alternatif leasing ataupun utang akan memberikan


pengaruh yang SAMA bagi perusahaan.

E: Hubungan Lessor dengan Lessee Baik dalam Capital Lease


maupun Operating Lease
Pada capital lease lessor mendapatkan hak milik atas barang modal yang
kemudian disewakan selama jangka waktu tertentu.

Yang maksimum sama dengan masa kegunaan ekonomis benda yang


bersangkutan.

Sebaliknya lessee berkewajiban membayar kepada lessor atas seluruh biaya


lessor untuk mendapatkan barang tersebut.ditambah dengan biaya-biaya
pembiayaan lessor, dan keuntungan lessor.
Sementara pada operating lease, lessor membeli barang kemudian
disewakan dan lessee membayar sewa tersebut secara berkala sebagai
imbalan.

Capital lease tidak dapat diakhiri oleh lessee.


Segala risiko ekonomis atas barang modal yang disewakan menjadi tanggung
jawab lessee.

Risiko ekonomis tersebut adalah risiko pertambahan atau penurunan nilai


barang tersebut.

Sedangkan dalam operating lease bahwa lessee dapat mengakhiri perjanjian


lease sewaktu-waktu dan risiko ekonomis barang yang disewakan menjadi
tanggung jawab pihak lessor.
Pada akhir perjanjian leasing pihak lessee yang melakukan capital lease
dapat mengembalikan barang tersebut kepada lessor.

Atau membelinya dengan harga yang relatif rendah sebagaimana telah


diperjanjikan atau lessee dapat melakukan perpanjangan leasing dengan
syarat yang disetujui bersama.

Sedangkan dalam operating lease pihak lessee tidak dapat memiliki opsi
sehingga pada akhir perjanjian atau perjanjian diakhiri, maka barang yang
bersangkutan harus dikembalikan kepada lessor.

Pembukuan capital lease dicatat oleh lessee sebagai aktiva sewa guna usaha
dan mencatat utan sewa guna usaha kepada lessor.

Sedangkan untuk operating lease, pihak lessee hanya mencatat pada saat
terjadi pengeluaran biaya sewa saja.

Yaitu debit biaya sewa dan kredit rekening kas.

02: Akuntansi Leasing


A: Analisis dan Cara Pencatatan Jurnal Transaksi
Aktiva sewa guna usaha sebenarnya masih dalam kelompok aktiva tetap,
namun sebaiknya disajikan tersendiri atau terpisah (bahkan ada yang
mengharuskan).

Transaksi leasing (sewa guna usaha) diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva
sebagai aktiva tetap dan kewajiban pada awal masa sewa guna usaha
sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha ditambah nilai
sisa.

Yaitu harga opasi yang harus dibayar oleh penyewa pada akhir masa leasing.

Selanjutnya, selama masa tersebut , setiap pembayaran leasing dialokasikan


dan dicatat sebagai angsuran pokok kewajiban sewa guna usaha.

Dan beban bunga berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap


sisa kewajiban penyewa.

Aktiva sewa guna usaha yang dimilikiharus diamortisasi setiap akhir periode
pelaporan dengan menggunakan metode yang sama dengan metode
penyusutan pada aktiva tetap.

Perhatikan contoh soal leasing dan penyelesaiannya berikut ini:

Bank ABC Surabaya telah memutuskan untuk memenuhi kebutuhan aktiva


tetap melalui leasing berupa kendaraan selama lima tahun.
Sejak Januari 2019 kepada Sewa Jaya Leasing Surabaya.

Leasing tersebut tidak dapat dibatalkan atau merupakan capital lease.


 Harga kendaraan pada saat perjanjian leasing ditandatangani 1 Januari
2019 adalah Rp 400.000.000.
 Umur ekonomis 5 tahun dan nilai residu ditaksir Rp 50.000.000.
 Tarif bunga kredit oleh Bank ABC yang disebut Lessee’s Incremental
Borrowing Rate sebesar 15% per tahun.
 Pihak lessor memperhitungkan sewa dengan dasar rate of return on
investmen (ROI) sebesar 14%. Penentuan tarif ini disepakati oleh Bank
ABC (Lessee).
 Pihak Bank ABC dalam melakukan penyusutan aktiva tetap
menggunakan metode garis lurus.
 Dalam perjanjian dituliskan bahwa bank boleh melakukan pembelian
aktiva sewa guna usaha yang bersangkutan pada akhir masa leasing.
Berdasarkan contoh soal akuntansi leasing dan jawabannya di atas, maka
dapat dihitung angsuran yang harus dibayar oleh Bank ABC pada akhir setiap
tahun sebagai berikut:
Harga kendaraan = Rp 400.000.000
Nilai Sekarang residu Rp 50.000.000 x 0,51937 = Rp 25.968.500
= Rp 374.031.500

Nilai sekarang atas nilai residu dihitung dengan tingkat yang berlaku dan
ditentukan oleh lessor pada saat perjanjian, yaitu: 14%, dengan masa leasing
5 tahun.

Dengan demikian dapat ditentukan sewa tahunan dengan cara membagi nilai
bersih sewa guna usaha dengan harga tunai anuitas akhir periode untuk Rp 1
(tabel bunga) sebagai berikut:

= Rp 374.031.500 : 3,433
= Rp 108.951.791

Setiap tahun agar dapat menutup harga barang modal dan pihak lessor
memperoleh rate of return invesment (ROI) sebesar 14%.

Perlu diketahui bahwa tingkat diskonto yang digunakan untuk menentukan


nilai tunai dari pembayaran sewa guna usaha aalah tingkat bunga yang
dibebankan oleh perusahaan leasing (lessor).

Atau tingkat bunga yang berlaku pada awal masa sewa guna usaha.

Transaksi tersebut dicatat sebagai berikut:

Tanggal 1 Januari 2019 pada saat perjanjian leasing, bila nilai residu dijamin
oleh Bank ABC (lessee), jurnalnya sebagai berikut:

[Debit] Aktiva Sewa Guna Usaha – Kendaraan Rp 400.000.000


[Kredit] Utang Sewa Guna Usaha Rp 400.000.000
Tanggal 31 Desember 2019 pada saat mencatat bunga dan depresiasi:

[Debit] Biaya Bunga Rp 37.111.160


[Kredit] Utang Bunga Rp 37.111.160
[Debit] Depresiasi Aktiva Sewa Guna Usaha Rp 70.000.000
[Kredit] Akumulasi Dep. Aktiva Sewa Guna Usaha Rp 70.000.000
Keterangan:

Perhitungan bunga tahun 2019 adalah:

= (Rp 374.031.500 – Rp 108.951.790) x 14%


= Rp 37.111.160

Perhitungan depresiasi tahun 2019 adalah:


= ( Rp 400.000.000 – Rp 50.000.000) : 5
= Rp 70.000.000

Tanggal 1 Januari 2020 pada waktu pembayaran angsuran pokok dan bunga
yang pertama, pencatatan jurnal transaksinya adalah:

[Debit] Utang Bunga Rp 37.111.160


[Debit] Utang Sewa Guna Usaha Rp 71.840.630
[Kredit] Kas Giro Leasing/Giro BI Rp 108.951.790
Penjelasan perhitungan:

Jumlah angsuran = Rp 108.951.790


Angsuran bunga = 37.111.160
Angsuran pokok = Rp 71.840.630

Untuk pencatatan atau pembukuan pada tahun-tahun berikutnya dilakukan


denga cara yang sama.

Namun yang perlu dipahami adalah atas nilai residu pada akhir masa sewa
guna usaha, yaitu 1 Januari 2024 bila dijamin oleh lessee.

Misalnya pada akhir periode ternyata harga nilai residu Rp 30.000.000, maka
lessee harus membayar Rp 20.000.000.

Sedangkan selisihnya merupakan rugi.

Dan pencatatan jurnal umum transaksinya adalah sebagai berikut:


[Debit] Utang Bunga Rp –
[Kredit] Kas/Giro Leasing/Giro BI
[Debit] Akum. Depr. Aktiva tetap Sewa Guna Rp 350.000.000
[Debit] Utang Sewa Guna Usaha Rp 50.000.00
[Debit] Rugi Sewa Guna Usaha Rp 30.000.000
[Kredit] Aktiva Sewa Guna Usaha Rp 400.000.000
[Kredit] Kas Rp 30.000.000
Bila harga aktiva sewa guna usaha/ Leasing pada akhri periode melebihi nilai
residu, maka dicatat sebagai laba sewa guna usaha.
Pada contoh kasus sewa guna usaha lain, bahwa nilai residu tidak dijamin
oleh pihak lessee atas kesepakatan bersama.

Maka besarnya nilai sewa guna usaha adalah sebesar harga perolehan
dikurangi nilai residu dengan pencatatan jurnal umum transaksinya sebagai
berikut:

[Debit] Aktiva Sewa Guna Usaha Rp 374.031.500


[Kredit] Utang Sewa Guna Usaha Rp 374.031.500
Penyusutan pada setiap akhir periode:
[Debit] Depresiasi Aktiva Tetap Sewa Guna Usaha Rp 74.806.300
[Kredit] Akumulasi Depresiasi Aktiva Leasing Rp 74.806.300

B: Perlakuan Perpajakan untuk Transaksi sewa guna usaha/


Leasing
Analisis ekonomi pendanaan dengan menggunakan fasilitas leasing tidak bisa
dilepaskan dari peraturan perpajakan yang dikenakan atas lessor
maupun lessee.
Umumnya peraturan perpajakan yang diberlakukan adalah pembayaran sewa
oleh lessee adalah komponen biaya.

Dan karenanya dapat digunakan untuk mengurangi pajak.

Sedangkan bagi lessor, karena aktiva tersebut adalah milik mereka, maka
penyusutan dapat digunakan oleh lessor untuk mengurangi beban pajak
penghasilan mereka.

03: Pendanaan Jangka Menengah Selain Leasing


Untuk menambah wawasan tentang pendanaan dan pembiayaan jangka
menengah ini, saya sajikan sedikit tentang jenis pendanaan selain leasing,
yaitu term loans.
Term loans umumnya bersifat “self liquidating”. Artinya, hutang tersebut lunas
pada saat aktiva yang dibiayai dengan utang tersebuttidak lagi diperlukan.

Namun demikian jenis utang ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan
dana yang lebih bersifat permanen.

Atau sebagai pendanaan sementara sambil menunggu pendanaan jangka


panjang (bridging finance).

Manfaat utang jangka menengah adalah utang tersebut dapat disesuaikan


dengan kesediaan arus kas untuk melunasi utang tersebut.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam merencanakan


kebutuhan utang, hendaknya dikaitkan dengan kebutuhan utang perusahaan
secara keseluruhan, bukan atas dasar aktiva per aktiva.

Umumnya yang menyediakan term loans adalah bank komersial, perusahaan


asuransi, dan dana pensiun.

Term loans umumnya mempunyai 3 karakteristik umum, yaitu:

#1: Jangka waktu

Umumnya bank komersial membatasi jangka waktu yang diberikan berkisar 1-


5 tahun.

Meskipun demikian untuk perusahaan asuransi dan dana pensiun mereka


bisa jadi memberikan term loans sampai 10 tahun.

Karena itulah di USA dikatakan bahwa antara bank komersial dan perusahaan
asuransi serta dana pensiun tidak terjadi persaingan, tapi justeru saling
melengkapi.

Seringkali bahkan untuk pemberian term loans yang cukup besar, bank
komersial bekerja sama dengan perusahaan asuransi dan dana pensiun.

#2: Agunan

Term loans hampir selalu dijamin dengan agunan tertentu. Untuk term loans
yang berjangka pendek, agunan tersebut mungkin berupa peralatan dan
mesin-mesin, atau dengan saham dan obligasi.
Sedangkan yang berjangka lebih panjang dijamin dengan property atau real
estate.

#3: Restrictive Covenant

Sebagai tambahan atas agunan yang diberikan untuk memperoleh term


loans, pihak kreditur kadang-kadang mensyaratkan kondisi tertentu untuk
tetap dipenuhi oleh pihak debitur.

Misalnya, ditentukan bahwa perbandingan antara aktiva lancar dengan


kewajiban lancar tidak boleh lebih kecil dari persentase tertentu.

Penentuan persyaratan ini dimaksudkan untuk memperkecil kemungkinan


debitur tidak mampu membayar kewajiban finansialnya.

Bila persyaratan tersebut tidak dipenuhi, maka debitur akan dikenakan denda,
bahkan bisa diharuskan segera melunasi utangnya.

#4: Skedul pembayaran

Term loans umumnya dibayar secara berkala, yang pembayaran tersebut


terdiri dari angsuran pokok pinjaman dan bunganya.

Angsuran dapat dilakukan setiap triwulan, semesteran ataupun tahunan.

#5: Equipment Financing

Term loans sering digunakan untuk membiayai pembelian peralatan tertentu.

Bank komersial, perusahaan pembiayaan, dan penjual peralatan tersebut


sering menjadi sumber term loan tersebut.

Karena umumnya suku bunga yang dibebankan oleh perusahaan pembiayaan


sedikit lebih mahal daripada bank komersial.

Maka biasanya calon debitur hanya akan menggunakan perusahaan


pembiayaan apabila tidak mampu memperoleh kredit tersebut dari bank
komersial.

Kredit untuk peralatan ini dapat dijamin dengan perjanjian chattel mortgage
atau dengan kesepakatan conditional sales contract.

Untuk cara yang terakhir ini, berarti penjual masih memiliki hak atas peralatan
tersebut.
Dan hak tersebut baru pindah ke pembeli setelah pembeli melunasi
pembeliannya.

Dan kesepakatan tersebut dinyatakan dalam surat perjanjian antara pembeli


dan penjual.
Cara pembayaran umumnya dilakukan dengan pembayaran berkala.

Penjual kemudian dapat menjual surat kesepakatan (kontrak) tersebut kepada


bank komersial atau perusahaan pembiayaan.

Bila pembeli kemudian tidak mampu membayar utang sesuai dengan skedul
pembayara.

Bank atau perusahaan pembiayaan akan mengambil peralatan tersebut dan


menjualnya untuk melunasi utang tersebut.

04: Kesimpulan
Berdasarkan atas jangka waktu kredit digunakan oleh perusahaan, beberapa
pihak mengelompokkan sumber dana menjadi dana jangka pendek,
menengah, dan panjang.

Salah satu bentuk pendanaan jangka menengah yang saat ini banyak
dimanfaatkan di Indonesia adalah sewa guna/ leasing.
Perusahaan leasing menyediakan dana untuk membeli aktiva yang diperlukan
perusahaan, meskipun secara resminya perusahaan sewa guna yang
memiliki aktiva tersebut.

Perusahan yang memakai aktiva tersebut hanyalah menyewa aktiva tersebut.

Posisi yang unik ini akan membawa dampak pajak bagi lessor dan lessee.
Karena penyusutan dapat digunakan untuk mengurangi beban pajak, maka
pajak yang diijinkan untuk menyusut aktiva tersebut akan memperoleh
manfaat dalam bentuk penghematan pajak.

Bagi perusahaan, alternatif sewa guna hendaknya dibandingkan dengan


alternatif debt financing.
Hal ini disebabkan karena baik leasing maupun debt financing akan
menimbulkan beban finansial tetap.
Karenanya tingkat bunga yang relevan adalah biaya utang setelah pajak.

Selain sewa guna, beberapa bentuk pendanaan jangka menengah antara lain,
equipment financing.
Dalam menganalisis berbagai alternatif pembiayaan, perusahaan perlu
memahami bagaimana pembebanan bunga, apakah add on ataukah anuitas.
Penggunaan cara add on selalu mengakibatkan peminjam menanggung biaya
kredit yang jauh lebih besar dari suku bunga yang di-umumkan.