Anda di halaman 1dari 17

PENERAPAN PASAL 285 DAN 287 KUHP TERHADAP KEKERASAN

PENCABULAN ANAK DIBAWAH UMUR

PROPOSAL

OLEH :

VILICYA LYNOFA

E1A113012

Kelas E

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS HUKUM

2015
A. Latar Belakang

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum, berdasarkan


pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pengertian negara hukum itu sendiri menurut Aristoteles adalah Negara yang
berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya. Menurut
bentuknya, hukum dapat dibagi dalam hukum tertulis dan hukum tidak tertulis.
Menurut Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH ada dua belas ciri penting dari negara
hukum diantaranya adalah supremasi hukum, persamaan dalam hukum, asas
legalitas, pembatasan kekuasaan, organ eksekutif yang independent, peradilan
bebas dan tidak memihak, peradilan tata usaha negara, peradilan tata negara,
perlindungan hak asasi manusia, bersifat demokratis, sarana unuk mewujudkan
tujuan negara, transparansi dan kontrol sosial.

Seperti yang telah dikemukakan di atas maka pada dasarnya setiap warga
negara Indonesia memiliki kedudukan yang sama di muka hukum. Kedudukan
sama yang dimaksud di sini adalah tidak ada perbedaan antara warga negara yang
satu dengan warga negara yang lain. Selain itu, disebutkan juga ciri negara hukum
adalah perlindungan terhadap hak asasi manusia yang mana setiap warga negara
mendapatkan perlindungan terhadap hak asasi nya masing-masing dalam semua
bidang baik ekonomi, pendidikan, budaya, agama, maupun dalam bidang hukum.
Kedudukan manusia dalam hukum sangat erat hubungannya dengan hak asasi
yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Hak Asasi Manusia adalah hak dasar atau
hak pokok anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Manusia sebagai makhluk Tuhan
Yang Maha Esa secara kodrati dianugerahi hak dasar tersebut, tanpa perbedaan
antara satu dengan lainnya, tanpa membedakan jenis kelamin, warna kulit,
kebangsaan, agama, usia, politik, status sosial, bahasa dan status lainnya. Hak
asasi ini menjadi dasar hak dan kewajiban lainnya.

Di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) sebenarya telah


diatur ketentuan mengenai sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana
pencabulan dengan kekerasan namun pada kenyataanya kejahatan ini masih saja
terjadi dibanyak tempat dan tersembunyi dalam kehidupan masyarakat. Tidak
jarang kasus tesebut lolos dari jeratan hukum yang berlaku bahkan ada yang
berhenti sampai pada tingkat pemeriksaan oleh kepolisian maupun kejaksaan
sehingga tidak sampai di proses dipengadilan. Untuk mewujudkan keberhasilan
penegakan hukum dalam memberantas maraknya kasus pencabulan dengan
kekerasan sangat diperlukan pemantapan koordinasi kerjasama yang serius baik
dari aparat kepolisian, aparat kejaksaan maupun hakim-hakim di
pengadilan. Putusan hakim pemeriksa kasus pencabulan dengan kekerasan di
berbagai pengadilan bervariasi. Bahkan ada kasus pencabulan dengan kekerasan
yang hanya divonis main-main dengan hukum penjara enam bulan. Hal mana
dapat dibenarkan karena dalam batas-batas maksimum dan minimum (satu hari
smpai dua belas tahun) tersebut hakim bebas untuk bergerak untuk mendapatkan
pidana yang tepat.
Didalam menyelenggarakan sistem penyelenggara hukum pidana
(Criminal Justice Sistym) maka pidana menempati suatu posisi sentral. Hal ini di
sebabkan karena putusan didalam pemidanaan akan mempunyai konsekuensi yang
luas lebih-lebih kalau putusan pidana tersebut dianggap tidak tepat maka akan
menimbulkan reaksi yang “Kontroversial” sebab kebenaran di dalam hal ini
sifatnya adalah relatif tegantung dari mana kita memandangnya.
Persoalan pidana ini adalah sangat kompleks dan mengandung makna
yang sangat mendalam baik yuridis maupun sosiologis. Sebagaimana diketahui
bahwa tindak pidana itu adalah perbuatan orang pada dasarnya yang dapat
melakukan tindak pidana itu manusia (natuurlijke personen).1 Perbutan orang
tersebut adalah titik penghubung dan dasar untuk pemberian pidana. Dipidananya
seorang tidaklah cukup apabila orang tersebut telah melakukan perbuatn yang
bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum namun untuk adanya
pemidanaan diperlukan syarat bahwa orang yang melakukan perbuatan itu
mempunyai kesalahan atau bersalah (subjectief guilt).

1
Sudarto, Hukum Pidana I, Semarang : Yayasan Sudarto Fakultas Hukum UNDIP, 1990,
hal.60
Pada dasarnya seseorang telah melakukan suatu tindak pidana dapat
dikenai sanksi pidana apabila perbuatannya tersebut memenuhi unsur-unsur tindak
pidana. Unsur-unsur tindak pidana yang harus di penuhi antara lain adalah suatu
perbuatan memenuhi rumusan undang-undang dan bersifat melawan hukum
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang dianggap mampu
bertanggung jawab. Tindak pidana pencabulan dengan kekerasan diancam dalam
pasal 285 & 289 KUHP memutuskan “Barang siapa dengan kekerasan atau
ancaman. Kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia diluar
perkawinan diancam karena melakukan kesusilaan dengan pidana paling lama dua
belas tahun”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka penulis akan mengambil rumusan


masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan pasal 285 KUHP terhadap kekerasan pencabulan


anak dibawah umur?

C. Tujuan Penelitian

1) Untuk mengetahui penerapan pasal 285 KUHP tindak kekerasan terhadap


pencabulan anak dibawah umur

D. Kegunaan Penelitian

1. Kegunaan Teoritis
Memberikan masukan dan sumbangan pemikiran terhadap perkembangan
ilmu hukum dan mendalami Hukum Pidana khusunya yang berkaitan
dengan pasal 285 KUHP tindak kekerasan terhadap pencabulan anak
dibawah umur
2. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini menjadi masukan dan sumbangan pemikiran kepada
masyarakat dan para penegak hukum dalam mencegah tindak pidana
pencabulan terhadap anak dibawah umur di kemudian hari.
E. Kerangka Teori

A. Tinjauan Umum Mengenai Tindak Pidana Pencabulan

1. Pengertian Pencabulan

Dalam hal pengertian pencabulan pendapat para ahli dalam


mendefinisikan tentang pencabulan berbeda-beda seperti yang dikemukakan oleh
Soetandyo Wignjosoebroto, “pencabulan adalah suatu usaha melampiaskan nafsu
seksual oleh seorang laki-laki terhadap seorang perempuan dengan cara menurut
moral dan atau hukum yang berlaku melanggar”. Dari pendapat tersebut, berarti
pencabulan tersebut disatu pihak merupakan suatu tindakan atau perbuatan
seorang laki-laki yang melampiaskan nafsu seksualnya terhadap seorang
perempuan yang dimana perbuatan tersebut tidak bermoral dan dilarang menurut
hukum yang berlaku. R. Sughandhi dalam asumsi mengatakan tentang pencabulan
ialah seorang pria yang memaksa pada seorang wanita bukan isterinya untuk
melakukan persetubuhan dengannya dengan ancaman kekerasan yang mana
diharuskan kemaluan pria telah masuk ke dalam lubang kemaluan seorang wanita
yang kemudian mengeluarkan air mani.2

Dari pendapat R. Sughandhi diatas bahwa Pencabulan tersebut adalah


seorang pria yang melakukan upaya pemaksaan dan ancaman serta kekerasan
persetubuhan terhadap seorang wanita yang bukan isterinya dan dari persetubuhan
tersebut mengakibatkan keluarnya air mani seorang pria. Jadi unsurnya tidak
hanya kekerasan dan persetubuhan akan tetapi ada unsur lain yaitu unsur
keluarnya air mani yang artinya seorang pria tersebut telah menyelesaikan
perbuatannya hingga selesai apabila seorang pria tidak mengeluarkan air mani
maka tidak dapat dikategorikan sebagai pencabulan.

Asumsi yang tak sependapat dalam hal mendefinisikan pencabulan tidak


memperhitungkan perlu atau tidaknya unsur mengenai keluarnya air mani seperti
yang dikemukakan oleh PAF Lamintang dan Djisman Samosir yang berpendapat
“perkosaan adalah perbuatan seseorang yang dengan kekerasan atau ancaman

2
R.soegondo. Tindak pidana pencabulan anak. Bandung. Sinar Grafika. 1995 hlm 4
kekerasan memaksa seorang wanita untuk melakukan persetubuhan di luar ikatan
perkawinan dengan dirinya”.3

Dari pendapat tersebut ini membuktikan bahwa dengan adanya kekerasan


dan ancaman kekerasan dengan cara dibunuh, dilukai, ataupun dirampas hak
asasinya yang lain merupakan suatu bagian untuk mempermudah dilakukannya
suatu persetubuhan. Menurut Arif Gosita, perkosaan dapat dirumuskan dari
beberapa bentuk perilaku yang antara lain sebagai berikut:

a. Korban pencabulan harus seorang wanita, tanpa batas umur (objek).


Sedangkan ada juga seorang laki-laki yang diperkosa oleh wanita.

a. Korban harus mengalami kekerasan atau ancaman kekerasan. Ini


berarti tidak ada persetujuan dari pihak korban mengenai niat dan
tindakan perlakuan pelaku.

b. Persetubuhan di luar ikatan perkawinan adalah tujuan yang ingin


dicapai dengan melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan
terhadap wanita tertentu. Dalam kenyataan ada pula persetubuhan
dalam perkawinan yang dipaksakan dengan kekerasan yang
menimbulkan penderitaan mental dan fisik. Walaupun tindakan ini
menimbulkan penderitaan korban tindakan ini tidak dapat digolongkan
sebagai suatu kejahatan oleh karena tidak dirumuskan terlebih dahulu
oleh pembuat undang-undang sebagai suatu kejahatan.4

Dari perumusan di atas menunjukan bahwa posisi perempuan ditempatkan


sebagai objek dari suatu kekerasan seksual (pencabulan) karena perempuan
identik dengan lemah dan laki-laki sebagai pelaku dikenal dengan kekuatannya
sangat kuat yang dapat melakukan pemaksaan persetubuhan dengan cara apapun
yang mereka kehendaki meskipun dengan cara kekerasan atau ancaman
kekerkasan. Fungsi dari kekerasan tersebut dalam hubungannya dengan tindak
pidana adalah sebagai berikut:5

3
P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung, : Citra Aditya Bakti, 1997),
hal. 41
4
Ibid, hal. 45
5
R.soegondo.op.cit hlm 9
a. Kekerasan yang berupa cara melakukan suatu perbuatan. Kekerasan di
sini memerlukan syarat akibat ketidak berdayaan korban. Ada causal
verban dan tara kekerasan dengan ketidakberdayaan korban.
Contohnya kekerasan pada pencabulan, yang digunakan sebagai cara
dari memaksa bersetubuh. Juga pada pemerasan (Pasal 368), yang
mengakibatkan korban tidak berdaya, dengan ketidakberdayaan itulah
yang menyebabkan korban dengan terpaksa menyerahkan benda,
membuat utang atau menghapuskan piutang.

b. Kekerasan yang berupa perbuatan yang dilarang dalam tindak pidana


bukan merupakan cara melakukan perbuatan. Contohnya kekerasan
pada pasal 211 atau 212.6

Sedangkan ancaman kekerasan mempunyai aspek yang penting dalam


pencabulan yang antara lain sebagai berikut :

1. Aspek obyektif, ialah :

a. wujud nyata dari ancaman kekerasan yang berupa perbuatan persiapan


dan mungkin sudah merupakan perbuatan permulaan pelaksanaan
untuk dilakukannya perbuatan yang lebih besar yakni kekerasan secara
sempurna dan menyebabkan orang menerima kekerasan menjadi tidak
berdaya secara psikis, berupa rasa takut, rasa cemas (aspek subyektif
yang diobjektifkan).

b. Aspek subyektif ialah timbulnya suatu kepercayaan bagi si penerima


kekerasan (korban) bahwa jika kehendak pelaku yang dimintanya tidak
dipenuhi yang in casu bersetubuh dengan dia, maka kekerasan itu
benar-benar akan diwujudkan. Aspek kepercayaan ini sangat penting
dalam ancaman kekerasan sebab jika kepercayaan ini tidak timbul
pada diri korban, tidaklah mungkin korban akan membiarkan
dilakukan suatu perbuatan terhadap dirinya.7

6
Adami Chazawi, Tindak Pidana Mengenai Kesopanan, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2005),
hal. 64
7
Ibid, hal. 66.
Kekerasan dan ancaman kekerasan tersebut mencerminkan kekuatan fisik
laki-laki sebagai pelaku merupakan suatu faktor alamiah yang lebih hebat
dibandingkan perempuan sebagai korban sehingga laki-laki menampilkan
kekuatan yang bercorak represif yang menempatkan perempuan sebagai
korbannya. Karakteristik utama dalam perkosaan ialah “bahwa perkosaan
terutama bukan ekspresi agrsivitas (baca: kekerasan) dari seksualitas (the
agressive expression of sexuality) akan tetapi merupakan ekspresi seksual dari
suatu agresivitas (sexual expression of aggression)”.8

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), pengertian


perkosaan tertuang pada pasal 285 yang berbunyi “barangsiapa dengan kekerasan
atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita yang bukan isterinya
bersetubuh dengan dia, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun”. Dalam pasal tersebut dapat ditarik
kesimpulan antara lain:

1. Korban pencabulan harus seorang wanita, tanpa klasifikasi umur


yang signifikan. Seharusnya wanita dapat dibedakan yang antara
lain sebagai berikut :9

a. Wanita belum dewasa yang masih perawan.


b. Wanita dewasa yang masih perawan.
c. Wanita yang sudah tidak perawan lagi.
d. Wanita yang sedang bersuami.

2. Korban mengalami pemaksaan bersetubuh berupa kekerasan atau


ancaman kekerasan. Ini berarti tidak ada persetujuan dari pihak
korban mengenai niat dan tindakan perlakuan pelaku. Dalam
perkembangannya yang semakin maju dan meningkat dengan pesat
ini dalam hal ini muncul banyak bentuk penyimpangan khususnya
pencabulan seperti bentuk pemaksaan persetubuhan yang dimana
bukan vagina (alat kelamin wanita) yang menjadi target dalam
pencabulan akan tetapi anus atau dubur (pembuangan kotoran
8
Romli Atmasasmita, Kapita Selekta Hukum Pidana dan Kriminologi, (Bandung : Mandar Maju,
1995), hal. 108
9
Leden Marpaung, Kejahatan Terhadap Kesusilaan Dan Masalah Prevensinya,Cet. 2, Jakarta. Sinar
Grafika, 2004, hlm. 50
manusia) dapat menjadi target dari pencabulan yang antara lain
sebagai berikut :10

1) Perbuatannya tidak hanya bersetubuh (memasukkan alat


kelamin ke dalam vagina), tetapi juga :

a) Memasukkan alat kelamin ke dalam anus atau mulut.

b) Memasukkan sesuatu benda (bukan bagian tubuh laki-


laki) ke dalam vagina atau mulut wanita.

2) Caranya tidak hanya dengan kekerasan/ancaman kekerasan,


tetapi juga dengan cara apapun di luar kehendak/persetujuan
korban.

3) Objeknya tidak hanya wanita dewasa yang sadar, tetapi wanita


yang tidak berdaya/pingsan dan di bawah umur, juga tidak
hanya terhadap wanita yang tidak setuju (diluar kehendaknya),
tetapi juga terhadap wanita yang memberikan persetujuannya
karena dibawah ancaman, karena kekeliruan/
kesesatan/penipuan atau karena di bawah umur.

2. Unsur-unsur Pencabulan

Pencabulan merupakan suatu tindak kejahatan yang pada umumnya diatur


dalam pasal 285 KUHP, yang bunyinya adalah sebagai berikut: Barangsiapa
dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita yang bukan
istrinya bersetubuh dengan dia, diancam karena melakukan perkosaan dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun.11

Jika diperhatikan dari bunyi pasal tersebut, terdapat unsur-unsur


yang antara lain sebagai berikut:

1) “Barangsiapa” merupakan suatu istilah orang yang melakukan.

10
Ibid. hlm 52.
11
Pasal 285 KUHP
2) “Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan”yang artinya
melakukan kekuatan badan, dalam pasal 289 KUHP disamakan
dengan menggunakan kekerasan yaitu membuat orang jadi pingsan
atau tidak berdaya.

3) “Memaksa seorang wanita yang bukan istrinya bersetubuh dengan


dia” yang artinya seorang wanita yang bukannya istrinya
mendapatkan pemaksaan bersetubuh di luar ikatan perkawinan dari
seorang laki-laki. Pencabulan dalam bentuk kekerasan dan
ancaman kekerasan untuk bersetubuh dengan anak di bawah umur
diatur juga dalam Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak pada pasal 81 ayat (1) dan (2) yang
menyebutkan :12

a) Setiap orang dengan sengaja melakukan kekerasan atau


ancaman kekerasan memaksa anak melakukan
persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun
dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling
sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

b) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)


berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja
melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau
membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya
ataudengan orang lain.

3. Jenis-Jenis Pencabulan

Didalam mengklasifikasikan pencabulan dapat terbagi melalui beberapa


macam jenis pencabulan yang antara lain sebagai berikut :13

12
Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada pasal 81 ayat (1) dan (2)
13
Leden Marpaung, Kejahatan Terhadap Kesusilaan Dan Masalah Prevensinya,Cet. 2, Jakarta :
Sinar Grafika, 2004. Hlm 72
a) Sadistic Rape Pencabulan sadistic, artinya pada tipe ini seksualitas dan
agresif berpadu dalam bentuk yang merusak. Pelaku pencabulan telah
Nampak menikmati kesenangan erotik bukan melalui hubungan seksnya,
melainkan melalui serangan yang mengerikan atau alat kelamin dan tubuh
korban.

b) Angea Rape Yakni penganiayaan seksual yang bercirikan seksualitas


menjadi sarana untuk menyatakan dan melampiaskan perasaan geram dan
marah yang tertahan.Di sini tubuh korban seakan-akan merupakan objek
terhadap siapa pelaku yang memproyeksikan pemecahan atas prustasi-
prustasi, kelemahan, kesulitan dan kekecewaan hidupnya

c) Dononation Rape Yakni suatu pencabulan yang terjadi seketika pelaku


mencoba untuk gigih ataskekuasaan dan superioritas terhadap korban.
Tujuannya adalah penaklukan seksual, pelaku menyakiti korban, namun
tetap memiliki keinginan berhubungan seksual.

d) Seduktive Rape Suatu pencabulan yang terjadi pada situasi-situasi yang


merangsang, yang tercipta oleh kedua belah pihak. Pada mulanya korban
memutuskan bahwa keintiman personal harus dibatasi tidak sampai sejauh
kesenggamaan. Pelaku pada umumnya 35 mempunyai keyakinan
membutuhkan paksaan, oleh karena tanpaitu tak mempunyai rasa bersalah
yang menyangkut seks.

e) Victim Precipitatied Rape Yakni pencabulan yang terjadi (berlangung)


dengan menempatkan korban sebagai pencetusnya Pencabulan yang
menunjukkan bahwa pada setiap kesempatan melakukan hubungan seksual
yang diperoleh oleh laki-laki dengan mengambil keuntungan yang
berlawanan dengan posisi wanita yang bergantung padanya secara
ekonomis dan sosial. Misalnya, istri yang dicabuli suaminya atau
pembantu rumah tangga yang diperkosa majikannya, sedangkan
pembantunya tidak mempersoalkan (mengadukan) kasusnya ini kepada
pihaknya yang berwajib.

4. Pengertian Anak dibawah Umur


Istilah anak di bawah umur tersebut dalam hal ini disetarakan dengan
sebutan anak. Pengertian anak tersebut menurut sejarah ialah sebagai berikut:
manusia berasal dari Adam dan Hawa dan dari kedua makhluk Tuhan ini lahirlah
keturunan yang kemudian beranak menjadi kelompok-kelompok yang semakin
membesar berpisah dan berpencar satu sama lain berupa suku dan kabilah dan
bangsa-bangsa seperti sekarang ini seperti apa yang difirmankan Tuhan dalam Al-
Hujurat 13.14 Sedangkan pengertian anak menurut kamus Bahasa Indonesia yang
dapat disimpulkan ialah keturunan yang kedua yang berarti dari seorang pria dan
seorang wanita yang melahirkan keturunannya yang dimana keturunan tersebut
secara biologis berasal dari sel telur laki-laki yang kemudian berkembang biak di
dalam rahim wanita berupa suatu kandungan dan kemudian wanita tersebut pada
waktunya nanti melahirkan keturunannya. “Anak adalah amanah dan karunia
Tuhan Yang Maha Esa yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai
manusia seutuhnya”.15

Untuk mengetahui apakah seseorang itu termasuk anak-anak atau bukan,


tentu harus ada batasan yang mengaturnya, dalam hal ini beberapa peraturan
perundangundangan di Indonesia telah mengatur tentang usia yang dikategorikan
sebagai anak yang antara lain sebagai berikut Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (KUHP). Didalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang di
kategorikan sebagai anak terdapat dalam pasal 287 ayat (1) KUHP yang pada
intinya usia yang dikategorikan sebagai anak adalah seseorang yang belum
mencapai lima belas tahun.

F. Metode Penelitian

1) Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan yuridis sosiologis atau sosio legal research yaitu pendekatan
penelitian yang mengkaji persepsi dan perilaku hukum orang (manusia dan
badan hukum) dan masyarakat serta efektivitas berlakunya hukum positif
di masyarakat. Pendekatan yang mengkonstruksikan hukum sebagai
refleksi kehidupan masyarakat itu sendiri yang menekankan pada

14
Adami Chazawi, Tindak Pidana Mengenai Kesopanan. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2005.
Hlm 66
15
Ibid. hlm 68
pencarian, ketetapan-ketetapan empirik dengan konsekuensi selain
mengacu pada hukum tertulis juga melakukan observasi terhdap tingkah
laku yang benar-benar terjadi. 16
2) Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian yang dipergunakan adalah deskriptif analitis yaitu
untuk menggambarkan, menemukan fakta-fakta hukum secara menyeluruh
dan mengkaji secara sistematis pengaturan nasional dan kebijakan
pemerintah yang berkenaan dengan penjatuhan hukuman yang sesuai
kepada pelaku sebagaimana yang tertuang dalam pasal 285 KUHP
Deskripsi dimaksudkan adalah terhadap data primer dan juga data
sekunder yang berhubungan dengan memberikan pengauran yang seadil-
adilnya dalam memeriksa yang lebih spesifikasi terhadap korban
kekerasan pencabulan dibawah umur dan memberikan penjatuhan pidana
penjara terhadap pelaku sesuai dengan pasal 285 KUHP.

3) Lokasi Penelitian

4) Sumber Bahan Hukum


Penelitian ini menggunakan data sumber bahan hukum berupa data primer
dan data sekunder, yaitu :
a) Data Primer
Data primer merupakan bahan penelitian yang berupa fakta-fakta
empiris sebagai perilaku maupun hasil perilaku manusia17.
Data primer diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian yaitu
dengan cara wawancara dan observasi atau pengamatan secara
langsung dilapangan.
b) Data Sekunder
Merupakan bahan hukum dalam penelitian yang diambil dari studi
kepustakaan. Pengumpulan data ini dilakukan dengan studi atau
penelitian kepustakaan (library research) yaitu dengan mempelajari
peraturan-peraturan buku-buku yang berkaitan dengan penelitian. Data
sekunder terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan
bahan hukum non – hukum. 18

1) Bahan Hukum Primer


16
R. Soemitro Hanijio, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta,
1988, halaman 11.
17
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta Kencana, Jakarta, 2005, Halaman 141.
18
Ibid
Menurut Soerjono Soekanto bahan hukum primer yaitu bahan-
bahan hukum yang mengikat dan terdiri dari norma atau kaidah dasar yaitu
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, peraturan dasar, peraturan
perundang-undangan, bahan hukum yang tidak dikodifikasikan misalnya
hukum adat, yurisprudensi, traktat dan KUHP.19

2) Bahan hukum Sekunder

Bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap/mengenai bahan-


bahan hukum primer. Seperti doktrin, jurnal, karya ilmiah dibidang hukum
lain.

3) Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum yang relevan seperti kamus hukum, ensiklopedia dan


kamus hukum lain yang masih relevan.

5) Metode Pengumpulan Bahan Hukum

Dalam penelitian ini pengumpulan bahan hukum dilakukan dengan


menggunakan sebagai berikut :

a. Data Sekunder

Diperoleh dengan cara mempelajari peraturan perundang-


undangan, buku-buku literatur ilmu hukum, dan dokumen-
dokumen yang berkaitan dengan objek penelitian.

b. Data Primer

Pengumpulan data primer dilakukan dengan melakukan wawancara


dengan pihak yang terkait dengan masalah yang akan diteliti

6) Metode Pengolahan Bahan Hukum

Bahwa bahan hukum yang telah dikumpulkan maka akan diolah


dengan pendekatan kualitatif, merupakan tata cara penelitian yang
nantinya akan menghasilkan deskriptif analitis yaitu apa yang dinyatakan
19
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Uii Press, Jakarta, 1981, Halaman 151-152
oleh sasaran penelitian yang bersangkutan secara tertulis atau lisan dan
perilaku nyata. Yang diteliti dan dipelajari adalah obyek penelitian yang
utuh. Tahap-tahap pengolahan data, pada umumnya adalah
pemeriksaan/Validitas data lapangan, pengkodean, pemasukan data (entry
data), pengolahan Data, hasil pengolahan data, analisis data.

7) Metode Analisis

Analisis data adalah proses menyusun data agar data tersebut dapat
ditafsirkan. Dalam hal ini, analisis yang digunakan adalah analisis data
kualitatif yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka
secara langsung.20
Dengan demikian maka setelah data primer dan data sekunder
berupa dokumen diperoleh lengkap selanjutnya dianalisis dengan
peraturan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
Analisis juga dengan menggunakan sumber-sumber dari para ahli
berupa pendapat dan teori yang berkaitan dengan masalah penerapan pajak
progresif kendaraan bermotor. Analisis dilakukan secara induktif, yaitu
mencari kebenaran dengan berangkat dari hal-hal yang bersifat khusus ke
hal yang bersifat umum guna memperoleh kesimpulan.

20
Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Cet.3, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,
1995, halaman 134.
DAFTAR PUSTAKA

Sudarto. 1990. Hukum Pidana I. Semarang: Yayasan Sudarto Fakultas Hukum


UNDIP.

Soegondo, R. 1995. Tindak pidana pencabulan anak. Bandung. Sinar Grafika.

Sudarto. 1986. Hukum Pidana Dan Perkembangan Masyarakat Kajian Terhadap


Pembaharuan Hukum Pidana. Bandung: Sinar Baru.

Atmasasmita, Romli. 1995. Kapita Selekta Hukum Pidana dan Kriminologi.


Bandung: Mandar Maju.

Chazawi, Adami. 2005. Tindak Pidana Mengenai Kesopanan. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.

Lamintang, P.A.F. 1997. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. Bandung: Citra


Aditya Bakti.
Marpaung, Leden. 2004. Kejahatan Terhadap Kesusilaan Dan Masalah
Prevensinya, Cet. 2. Jakarta: Sinar Grafika.

Hanijio, R. Soemitro. 1988. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri. Jakarta:


Ghalia Indonesia.

Husein, Harun.M. 1991. Penyidikan dan Penuntutan Dalam Proses Pidana.


Jakarta: Rineka Cipta.

Marzuki, Peter Mahmud. 2005. Penelitian Hukum. Jakarta: Jakarta Kencana.

Soekanto, Soerjono. 1981. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Uii Press.

Sunggono, Bambang dan Harianto Aris. 2001. Bantuan Hukum dan Hak Asasi
Manusia. Bandung: Mandar Maju.

M. Amirin, Tatang. 1995. Menyusun Rencana Penelitian, Cet.3. Jakarta: PT Raja


Grafindo Persada.