Anda di halaman 1dari 7

KERANGKA ACUAN KERJA

PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

DEMAM TIFOID

PUSKESMAS MEGANG
DINAS KESEHATANKOTA LUBUKLINGGAU
TAHUN 2020
KERANGKA ACUAN

PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

DEMAM TIFOID

A. PENDAHULUAN
Penyakit Tifoid merupakan penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat
di indonesia, oleh karenanya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat
sejak dini, perlu dilakukan upaya pengendalian Demam Tifoid dengan pemeriksaan
berkala, pengobatan, pengamatan penyakit, perbaikan kesehatan lingkungan dan
penyuluhan kesehatan.

Demam tifoid dan paratifoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemik di
Asia, Afrika, Amerika Latin Karibia dan Oceania, termasuk Indonesia. Penyakit ini
tergolong penyakit menular yang dapat menyerang banyak orang melalui makanan
dan minuman yang terkontaminasi. Insiden demam tifoid di seluruh dunia menurut
data pada tahun 3002 sekitar 16 juta per tahun, 600.000 di antaranya menyebabkan
kematian. Di Indonesia prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3-19
tahun, kejadian meningkat setelah umur 5 tahun. Ada dua sumber penularan S.typhi :
pasien menderita demam tifoid dan yang lebih sering dari carrier yaitu orang yang
telah sembuh dari demam tifoid namun masih mengeksresikan S. typhi dalam tinja
selama lebih dari satu tahun.

Demam Tifoid atau tifus abdominalis banyak diketemukan dalam kehidupan


masyarakat kita, baik diperkotaan maupun di pedesaan. Penyakit ini sangat erat
kaitannya dengan kualitas yang mendalam dari hyiene pribadi dan sanitasi lingkungan
seperti, hygiene perorangan dan hygiene penjamah makanan yang rendah, lingkungan
yang kumuh, kebersihan tempat- tempat umum (rumah makan, restoran) yang kurang
serta perilaku masyarakat yang kurang mendukunguntuk hidup sehat. Seiring dengan
terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan akan menimbulkan peningkatan kasus
– kasus penyakit manula, termasuk tifoid ini.

Di indonesia penyakit ini bersifat endemik dan merupakan masalah kesehatan


masyarakat. Dari telaaah kasus di rumah sakit besar di indonesia, kasus tersangka
tifoid menunjukan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun dengan rata- rata
kesakitan 500/100.000 penduduk dengan kematian antara 0,6 % - 5 %.

Dewasa ini penyakit tifoid harus mendapat perhatian yang serius karena
permasalahannnya yang makin kompleks sehingga menyulitkan upaya pengobatan
dan pencegahan. Permasalahan tersebut adalah gejala – gejala klinis bervariasi dari
ringan sampai berat dengan komplikasi yang berbahaya, komorbid atau koinfeksi
dengan penyakit lain, resistensi yang meningkat dengan obat – obatan yang lazim
dipakai, meningkatnya kasus karier atau relaps, sangat sulitnya dibuat vaksin yang
efektif, terutama untuk masyarakat yang tinggal didaerah yang bersifat endemik.
Berdasarka kajian diatas, dirasakan sangat perlu suatu upaya terpadu dan saling
memahami pada kegiatan pengobatan atau pencegahan oleh seluruh tenaga kesehatan
yang terlibat dalam pengendalian penyakit ini.

B. TUJUAN

Tujuan Umum :

Meningkatkan upaya pencegahan, penemuan dini, serta pengobatan, dan perawatan


tifoid secara tepat, akurat dan berkualitas, sehingga mendatangkan angka kesembuhan
yang tinggi serta dapat menekan deajat endemisitas serendah mungkin.

Tujuan Khusus :

1. Tersusunnya langkah – langkah kemitraan dalam pencegahan, dengan melibatkan


masyarakat, stake holder, dan unit pelayanan kesehatan.
2. Meningkatkan penemuan penderita secara dini.
3. Meningkatkan mutu pengobatan dan perawatan dengan angka kesembuhan yang
tinggi.
4. Suksesnya penanggulangan komplikasi dan karier.
5. Terlaksananya kegiatan pengobatan dan pencegahan menurut pedoman tatalaksana
yang sama, pada semua unit pelayanan kesehatan.

C. PROSES KEGIATAN
1. Metode Pelaksanaan
 Wawancara
 Penyuluhan/KIE(komunikasi,Informasi,Edukasi)
 Pemeriksaan laboratorium
 Rujukan Faskes Lanjutan
2. Tahapan kegiatan
 Persiapan
 Pengumpulan data
 Pengolahan data
 Penentuan jadwal kegiatan
 Proses kegiatan
 Evaluasi
 Penyusunan laporan
3. Sasaran
Seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Megang.
D. ORGANISASI/TIM
1. Dokter
2. Pj Program Gizi
3. Pj Program Kesling
4. Pj.Laboratorium
5. Survailen
6. Pj Perkesmas

E. LOKASI DAN JADWAL KEGIATAN


1. Lokasi kegiatan diluar gedung yaitu posyandu 10 kelurahan dan sekolah diwilayah
kerja puskesmas megang
2. Lokasi kegiatan didalam gedung yaitu pengobatan dan rujukan pasien thipoid
3. Jadwal Kegiatan Di Luar Gedung
Kegiatan Bulan ket
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Penyuluhan
penyakit
thipoid
disekolah
terintegrasi
dengan
program lain
2 Penyuluhan
penyakit
thipoid di
posyandu
terintegrasi
degan
program lain
4. Jadwal Kegiatan Di Dalam Gedung
Kegiatan Bulan ket
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Pengobatan x x x x x x X x x x x x Sasaran
pasien thipoid Perkasus
Sesuai standar
2 Rujukan x x x x x x X x x x x x Sasaran
pasien ke Perkasus
faskes
lanjutan

5. Perbaikan sanitasi lingkungan.


1) Berkolaborasi lintas program dengan program kesehatan lingkungan
tentang Pelaksanaan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya
penyediaan air bersih dan penyediaan jamban yang memenuhi syarat
kesehatan untuk masyarakat.
2) Berkolaborasi lintas program dengan program kesehatan lingkungan
tentang pelaksanaan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya
pengelolaan air limbah, kotoran, dan sampah di masyarakat secara tepat
3) Berkolaborasi lintas program dengan program kesehatan lingkungan
tentang kontrol dan pengawasan terhadap kebersihan lingkungan di
wilayah binaan Puskesmas Megang.

6. Peningkatan higiene sanitasi makananan dan minuman


1) Berkolaborasi dengan program gizi untuk pelaksanaan penyuluhan tentang
cara – cara yang yang cermat, tepat dan bersih dalam pemilihan,
pengolahan dan penyajian makanan
2) Mendorong penggunaan ASI untuk bayi.
7. Peningkatan higiene perorangan
Menggalakan budaya cuci tangan di masyarakat dengan cara penyuluhan cuci tangan
6 langkah dan simulasi cuci tangan 6 langkah secara rutin dan berkelanjutan.

8. Peran Lintas Program Dan Lintas Sektoral


Untuk memperkuat program pengendalian dan menurunkan angka kesakitan
tifoid, maka perlu dilakukan advokasi dan sosialisasi yang lebih intensif, kerja sama
lintas program dan lintas sektor khususnya dalam meningkatkan akses air bersih,
kajian efektivitas penggunaan vaksin tifoid dalam program pengendalian sebagai
bahan program imunisasi nasional, pencegahan kasus-kasus karier atau relaps dan
resistensi, serta meningkatkan pembiayaan program pengendalian di provinsi dan
kabupaten / kota.
F. PEMBIAYAAN
Biaya untuk pelaksanaan kegiatan luar gedung dapat diperoleh dari dana Biaya
Operasional Kesehatan (BOK).

G. EVALUASI PELAKSANAAN
Evaluasi dilakukan untuk melihat keluaran dan dampak baik positif maupun
negatif pelaksanaan kegiatan penyuluhan penyakit Tifoid. Dari hasil evaluasi
tersebut bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran guna melakukan perbaikan dan
pengembangan penyuluhan berikutnya

Evaluasi oleh pelaksana ( pemegang program P2P ) dilakukan pada setiap selesai
penyuluhan

G. PENCATATAN DAN PELAPORAN

Pencatatan dan pelaporan dilaksanakan di dalam Form W2 Pengevaluasian


dilaksanakan setiap bulan dalam mini lokakarya Puskesmas.

H. PENUTUP
Demikian Kerangka Acuan ini dibuat agar dapat digunakan sebagai bahan
acuan pelaksanaan kegiatan program Tifoid di Puskesmas Megang.

Mengetahui Pelaksana Program Thipoid


Kepala UPTD Puskesmas Megang

Hj. Titin Wuryaningsih, SKM, M.Si Ermi Herawati,AMKep


Nip. 19730911 200312 2 004 Nip,19760613 200501 2 005