Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

STRUMA DI RUANG BEDAH (BOUGENVIL)


RSUD NGUDI WALUYO WLINGI
KABUPATEN BLITAR

Oleh :
KASTINA SHOLIHAH
NIM. 40219012

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Kastina Sholihah

Nim : 40219012

Prodi : Pendidikan Profesi Ners

Pembimbing Institusi PembimbingLahan

(...................................) (.................................)
A. DEFINISI
Struma adalah pembesaran kelenjar gondok yang disebabkan oleh
penambahan jaringan kelenjar gondok yang menghasilkan hormon tiroid
dalam jumlah banyak sehingga menimbulkan keluhan seperti berdebardebar,
keringat, gemetaran, bicara jadi gagap, mencret, berat badan menurun, mata
membesar, penyakit ini dinamakan hipertiroid (Amin huda, 2016). Struma
didefinisikan sebagai pembesaran kelenjar tiroid. Struma dapat meluas
keruang retro sternal, dengan atau tanpa pembesaran substansial. Karena
hubungan anatomi kelenjar tiroid ke trakea, laring, saraf laring, superior dan
inferior, dan esophagus, pertumbuhan abnormal dapat menyebabkan berbagai
sindrom komperhensif (Tampatty, 2019).
B. KLASIFIKASI
Klasifikasi dan karakteristik struma nodusa antara lain:
a. Berdasarkan secara fisiologik
1) Eutiroid
Keadaan dimana fungsi kelenjar tiroid berfungsi secara normal, meskipun
pemeriksaan kelenjar tiroid menunjukkan kelainan, gejala yang terjadi jika
seseorang sakit, mengalami kekurangan gizi atau telah menjalani
pembedahan, maka hormon tiroid T4 tidak diubah menjadi T3. Akan
tertimbun sejumlah besar hormone T3, yang merupakan hormon tiroid dalam
bentuk tidak aktif. Meskipun T4 tidak diubah menjadi T3, tetapi keenjar tiroid
tetap berfungsi dan mengendalikan metabolisme tubuh secara normal (Prof.
Dr. Anies, 2016)
2) Hipotiroid
Keadaan dimana terjadi kekurangan hormon tiroid yang dimanifestasikan oleh
adanya metabolisme tubuh yang lambat karena menurunnya konsumsi
oksigen oleh jaringan dan adanya perubahan personaliti yang jelas. Pasien
dengan hipotiroid 6 mempunyai sedikit jumlah hormon tiroid sehingga tidak
mampu menjaga fungsi tubuh secara normal. Penyebab umumnya adalah
penyakit autoimun, operasi pengangkatan tiroid, dan terapi radiasi (Tarwoto,
2012)
3) Hipertiroi
Suatu keadaan atau gambaran klinis akibat produksi hormon tiroid yang
berlebihan oleh kelenjar tiroid yang terlalu aktif. Karena tiroid memproduksi
hormon tiroksin dan lodium, maka lodium radiaktif dalam dosis kecil dapat
digunakan untuk mengobatinya atau mengurangi intensitas fungsinya (Amin
Huda, 2016)
b. Berdasarkan secara klinik
1) Toksi
Pembesaran pada kelenjar tiroid yang berisi nodul dengan sel-sel autonom
sehingga menyebabkan hipertiroidisme.
2) Non toksik
Pembesaran kelenjar tiroid karena adanya nodul yang tidak disertai gejala
hipertiroidisme (Tarwoto, 2012).
C. ETIOLOGI
Struma disebabkan oleh gangguan sintesis hormone tiroid yang
menginduksi mekanisme kompensasi terhadap kadar TSH serum, sehingga
akibatnya menyebabkan hipertrofi dan hyperplasia selfolikel tiroid dan pada
akhirnya menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid. Efek biosintetik, defisiensi
iodin penyakit otoimun dan penyakit nodular juga dapat menyebabkan struma
walaupun dengan mekanisme yang berbeda. Bentuk goitrous tiroiditis
hashimoto terjadi karena defek yang didapat pada hormone sintesis, yang
mengarah ke peningkatan kadar TSH dan konsuekensinya efek pertumbuhan
(Tampatty, 2019) Menurut Manjoer (2002) Adanya gangguan fungsional
dalam pembentukan hormon tiroid merupakan faktor penyebab pembesaran
kelenjar tiroid antara lain:
a. Defisiensi yodium
b. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon
tiroid 5
c. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia seperti substansi
dalam kol, lobak, kacang kedelai d. Penghambatan sintesa hormon
oleh obat-obatan misalnya: thiocarbamide, sulfonylurea dan litium
Penyebab kelainan ini bermacam-macam, pada setiap orang dapat
dijumpai masa karena kebutuhan terhadap tiroksin bertambah, terutama masa
pubertas, pertumbuhan, menstruasi, kehamilan, laktasi, monopouse, infeksi
atau stres lain. Pada masa-masa tersebut dapat dijumpai hiperplasi dan
involusi kelenjar tiroid. Perubahan ini dapat menimbulkan nodularitas
kelenjar tiroid serta kelainan arsitektur yang dapat berlanjut dengan
berkurangnya aliran darah di daerah tersebut sehingga terjadi iskemia (Amin
huda, 2016).
D. MANIFESTASI KLINIS
Menurut (Tarwoto, 2012) beberapa manifestasi dari struma sebagai berikut:
a. Adanya pembesaran kelenjar tiroid
b. Pembesaran kelenjar limfe
c. Nyeri tekan pada kelenjar tiroid
d. Kesulitan menelan
e. Kesulitan bernafas
f. Kesulitan dalam bicara
g. Gangguan bodi image
E. PATOFISIOLOGI
Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk
pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus,
masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar
tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang
distimuler oleh. Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi
molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk
dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul
yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif
dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada
tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik
tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis,
pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin
(T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan
TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar
tyroid.
F. KOMPLIKASI
Menurut Brunner dan Suddart (2013) beberapa komplikasi dari struma
meliputi:
a. penyakit jantung hipertiroid
Gangguan pada jantung terjadi akibat dari rangsangan berlebihan pada
jantung oleh hormone tiroid dan menyebabkan kontraktilitas jantung
meningkat dan terjadi takikardi sampai dengan fibrilasi atrium jika
menghebat. Pada pasien yang berumur diatas 50 tahun, akan lebih
cenderung mendapat komplikasi payah jantung.
b. Ovtalmopati graves
Ovtalmopati graves seperti eksoftalmus, penonjolan mata dengan
diplopa, aliran air mata yang berlebihan, dan peningkatan foto fobia dapat
mengganggu kualitas hidup pasien sehingga akan aktifitas rutin pasien
terganggu.
c. Dermopati Graves
Dermopati tiroid terdiri dari penebalan kulit terutama kulit dibagian
atas tibia bagian bawah (miksedema pretibia), yang disebabkan
glikosaminoglikans. Kulit sangat menebal dan tidak dapat dicubit
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang penyakit struma meliputi:
a. Pemeriksaan sidik tiroid
pemeriksaan dengan radioisotop untuk mengetahui ukuran, lokasi dan
fungsi tiroid, melalui hasil tangkapan yodium radioaktif oleh kelenjar
tiroid. 8
b. Pemeriksaan ultraspnografi (USG)
mengetahui keadaan nodul kelenjar tiroid misalnya keadaan padat atau
cair, adanya kista, tiroiditis.
c. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH)
yaitu dengan melakukan aspirasi menggunakan jarum suntik halus
nomor 22-27, sehingga rasa nyeri dapat dikurangi dan relative lebih aman.
Namun demikian kelemahan dari pemeriksaan ini adalah menghasilkan
negative atau positif palsu.
d. Pemeriksaan T3, T4, TSH
untuk mengetahui hiperfungsi atau hipofungsi kelenjar tiroid atau
hipofisis.
e. Termografi
yaitu dengan mengukur suhu kulit pada daerah tertentu, menggunakan
alat yang disebut Dynamic Tele Thermography. Hasilnya keadaan panas
apabila selisih suhu dengan daerah sekitar > 0.9 derajat, dan dingin
apabila < 0.9 derajat. Sebagian besar keganasan tiroid pada suhu panas
(Tarwoto, 2012)
H. WOC
Terlampir
I. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan penyakit struma dilakukan berdasarkan ukuran struma,
semakin besar ukuran struma maka akan menimbulkan banyak keluhan,
terdapat beberapa penatalaksanaan meliputi:
a. Pengobatan
Pasien dengan satu atau lebih nodul tiroid yang mengalami hipertiroid
diberikan obat anti tiroid
b. Terapi radioiodine
Merupakan terapi alternatif untuk single toxic adenoma atau toxic
multinodular goiter. Tujuan dari terapi ini adalah untuk mempertahankan
fungsi dari jaringan tiroid normal. Radioiodine juga digunakan untuk
mengurangi volume nodul pada nontoksik multinodular goiter.
c. Pembedahan
Tujuan pembedahan adalah untuk mengurangi massa fungsional pada
hipertiroid, mengurangi penekanan pada esophagus dan trakhea,
mengurangi ekspansi pada tumor atau keganasan (Tarwoto, 2012).
J. ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian
a. Pengumpulan data
- Anamnese
Dari anamnese diperoleh :
1) Identifikasi klien.
2) Keluhan utama klien.
Pada klien post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan
pada umumnya adalah nyeri akibat luka operasi.
3) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher
yang semakin membesar sehingga mengakibatkan terganggunya
pernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu
dilakukan operasi.
4) Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan
dengan penyakit gondok, misalnya pernah menderita gondok lebih
dari satu kali, tetangga atau penduduk sekitar berpenyakit gondok.
5) Riwayat kesehatan keluarga
Dimaksudkan barangkali ada anggota keluarga yang menderita
sama dengan klien saat ini.
6) Riwayat psikososial
Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau
sikatrik sehingga ada kemungkinan klien merasa malu dengan
orang lain.
b. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Pada umumnya keadaan penderita lemah dan kesadarannya
composmentis dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi, nadi,
pernafasan dan suhu yang berubah.
2) Kepala dan leher
Pada klien dengan post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan
adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan kasa steril yang
direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu
diobservasi dalam dua sampai tiga hari.
3) Sistim pernafasan
Biasanya pernafasan lebih sesak akibat dari penumpukan sekret
efek dari anestesi, atau karena adanya darah dalam jalan nafas.
4) Sistim neurologi
Pada pemeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri akan
didapatkan ekspresi wajah yang tegang dan gelisah karena menahan
sakit.
5) Sistim gastrointestinal
Komplikasi yang paling sering adalah mual akibat peningkatan
asam lambung akibat anestesi umum, dan pada akhirnya akan hilang
sejalan dengan efek anestesi yang hilang.
6) Aktivitas/istirahat
Insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi
otot.
7) Eliminasi
Urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam feces, diare.
8) Integritas ego
Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil,
depresi.
9) Makanan/cairan
Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat,
makan banyak,
makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid.
10) Rasa nyeri/kenyamanan
Nyeri orbital, fotofobia.

11) Keamanan
Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi
terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu
meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan
kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi,
iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi
pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
12) Seksualitas
Libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi
NO DIAGNOSA SLKI SIKI
1. Nyeri akut Penyebab Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi
ditandai dengan keperawatan selama …x24 jam a) Identifikasi lokasi,
1. Agen pencedera diharapkan nyeri menurut dengan karakteristik, durasi,
fisiologi (inflamasi, kriteria hasil : frekuensi, kualitas,
iskemia,  Gelisah menurun intensitas nyeri
neoplasma)  Merintih menurun b) Identifikasi skala nyeri
2. Agen pencendera  Kewaspadaan menurun c) Identifikasi respons nyeri
kimiawi (terbakar,  Pola tidur membaik non verbal
bahan kimia iritan) d) Identifikasi factor yang
3. Agen pencedera memperberat dan
fisik (Abses, memperingan nyeri
amputasi, e) Identifikasi pengetahuan
terpotong, dan keyakinan tentang
mengangkat bert, nyeri
prosedur operasi, f) Identifikasi pengaruh
trauma, latihan fisik budaya terhadap respon
berlebihan) nyeri
Ds : g) Identifikasi pengaruh
o Mengeluh nyeri nyeri pada kualitas hidup
Do : h) Monitor efek samping
o Tampak meringis penggunaan analgesic
o Bersikap protektif 2. Terapeutik
(waspada, posisi a) Berikan teknik
menghindari nyeri) nonfarmakologis untuk
o Gelisah mengurangi rasa nyeri
o Frekuensi nadi b) Kontrol lingkungan yang
meningkat memperberat nyeri
o Sulit tidur c) Fasilitasi istirahat tidur
d) Pertimbangkan jenis dan
sumber nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri
3. Edukasi
a) Jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
b) Jelaskan strategi
meredakan nyeri
c) Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri
d) Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
e) Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
4. Kolaborasi
a) Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
2. Kecemasan ( ansietas ) Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi
penyebab ditandai dengan keperawatan selama …x 24 jam a) Identifikasi saat tingkat
o Krisis situasional diharapkan tingkat ansietas ansietas berubah
o Kebutuhan tidak menurun dengan kriteria hasil : (kondisi, waktu, stressor)
terpenuh  Perilaku gelisah menurun b) Identifikasi kemampuan
o Krisis maturasional  Perilaku tegang menurun mengambil keputusan
o Ancaman terhadap  Keluhan pusing menurun c) Monitor tanda-tanda
konsep diri  Frekuensi nafas membaik ansietas (verbal non
o Ancaman terhadap  Frekuensi nadi membaik verbal)
kematian  Tekanan darah membaik 2. Terapeutik
o Kekhawatiran  Tremor menurun a) Ciptakan suasana
mengalami  Pucat menurun teraputik untuk
kegagalan menumbuhkan
o Disfungsi system kepercayaan
keluarga b) Temani px untuk
o Hubungan orang mengurasi kecemasan,
tua anak tidak jika memungkinkan
memuaskan c) Pahami situasi yang
o Factor keturunan ( membuat ansietas
temperamen mudah d) Dengarkan dengan penuh
teragitasi sejak lahir perhatian
) e) Gunakan pendekatan
o Penyalahgunaan zat yang tenang dan
o Terpapar bahaya meyakinkan
lingkungan ( toksin, f) Tempatkan barang
polutan, dan lain- pribadi yang
lain ) memberikan
o Kurang terpapar kenyamanan
informasi g) Motivasi
Ds : mengidentifikasi situasi
o Merasa bingung yang memicu kecemasan
o Merasa khawatir h) Diskusikan perencanaan
dengan akibat dari realistis tentang peristiwa
kondisi yang yang akan dating
dihadapi 3. Edukasi
o Sulit berkonsentrasi a) Jelaskan prosedur,
Do : termasuk sensasi yang
o Tampak gelisah mungkin dialami
o Tampak tegang b) Informasikan secara
o Sulit tidur actual mengenai
o Tremor diagnosis, pengobatan,
o Muka tampak pucat dan prognosis
o Frekuensi nafas c) Anjurkan keluarga untuk
meningkat tetap bersama pasien,
o Frekuensi nadi jika perlu
meningkat d) Anjurkan melakukan
o Tekanan darah kegiatan yang tidak
meningkat komprtitif sesuai
o Suara bergetar kebuthan
e) Anjurkan
mengungkapkan
perasaan dan persepsi
f) Latih kegiatan
pengalihan untuk
mengurangi kecemasan
g) Latih penggunaan
mekanisme pertahanan
diri yang tepat
h) Latih teknik relaksasi
4. Kolaborasi
a) Kolaborasi pemberian
obat antiansietas, jika
perlu
3. Resiko perdarahan ditandai Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi
dengan factor resiko selama ..x24 jam diharapkan a) Monitor tanda dan gejala
o Aneurisma resiko perdarahan menurun perdarahan
o Gangguan dengan kriteria hasil : b) Monitor nilai hematrokrit
gastrointestinal  Kelembapan membrane atau hemoglobin
o Gangguan fungsi mukosa meningkat sebelum dan setelah
hati  Kelembapan kulit kehilangan darah
o Komplikasi meningkat c) Monitor tanda-tanda vital
kehamilan  Tekanan darah membaik ortostik
o Komplikasi pasca  Hb membaik d) Monitor koagulasi
partum  Suhu tubuh membaik 2. Terapeutik
o Gangguan  Perdarahan vagina a) Pertahankan bed rest
koagulasi menurun selama perdarahan
o Efek agen  Perdarahan pasca operasi b) Batasi tindakan
farmakologi menurun invasive,jika perlu
o Tindakan c) Gunakan kasur pencegah
pembedahan dekubitus
o Trauma 3. Edukasi
o Kurang terpapar a) Jelaskan tanda dan gejala
informasi tentang perdarahan
pencegahan b) Anjurkan menggunakan
perdarahan kaus kaki saat ambulasi
o Proses keganasan c) Anjurkan meningkatkan
asupan cairan untuk
menghindari konstipasi
d) Anjurkan menghindari
aspirin atau antikoagulan
e) Anjurkan meningkatkan
asupan makanan dan vit
K
f) Anjurkan segera melapor
jika terjadi perdarahan
4. Kolaborasi
a) Kolaborasi pemberian
obat pengontrol
perdarahan jika perlu
b) Kolaborasi pemberian
produk darah jika perlu
c) Kolaborasi pemberian
pelunak tinja jika perlu
4 Resiko infeksi di tandai Setelah dilakukan tindakan 1. Obsrvasi
dengan factor resiko : keperawatan selama …x 24jam a) Monitor tanda daan gejal
o Penyakit kronik diharapkan resiko infeksi infeksi local dan
o Efek prosedur menurun dengan kriteria hasil : isskemik
invasive  Kebersihan tangan 2. Terapeutik
o Malnutrisi meningkat a) Batasi jumlah
o Peningkatan  Kebersihan badan pengunjung
paparan organism meningkat b) Berikan perawatan kulit
pathogen  Nafsu makan meningkat pada area edema
lingkungan  Demam turun c) Cuci tangan sebelum dan
o Ketidak adekuatan  Sputum berwarna hijau sesudah kontak dengan
pertahanan tubuh menurun pasien dan lingkungan
primer  Gangguan kognitif pasien
o Ketidak adekuatan menurun d) Pertahankan teknik
pertahanan tubuh aseptik
sekunder 3. Edukasi
a) Jelaskan tanda dan gejala
infeksi
b) Ajarkan cara mencuci
tangan
c) Ajarkan etika batuk
4. Kolaborasi
a) Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA
Tim Pokja SDKI, DPP& PPNI. 2016. Standar Diagnosa Keperawatan
Indonesia. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI

Anda mungkin juga menyukai