Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Setiap bayi baru lahir akan mengalami bahaya jiwa saat proses
kelahirannya. Ancaman jiwa berupa kamatian tidak dapat diduga secara pasti
walaupun denagn bantuan alat-alat medis modern sekalipun,sering kali
memberikan gambaran berbeda tergadap kondisi bayi saat lahir. Oleh karena
itu keterampilan tenaga medis terutama peran perawat yang menangani
kelahiran bayi mutlak sangat dibutuhkan. Salah satu penyebab
kegawatdaruratan pada bayi baru lahir adalah Prematuritas, Hipotermia,
Hipertermia, Hiperglikemia, Tetanus Neonaturum dan Penyakit-penyakit pada
ibu hamil.
Neonatus (BBL) bukanlah miniature orang dewasa,bahkan bukan pula
miniature anak.Neonatus mengalami masa perubahan dari kehidupan didalam
rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang
serba mandiri.Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72
pertama.Transisi ini hampir meliputi semua system organ tapi yang terpenting
bagi anastesi adalah system pernafasan sirkulasi,ginjal dan hepar.Maka dari itu
sangatlah diperlukan penataan dan persiapan yang matang untuk melakukan
suatu anastesi terhadap neonates (BBL).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana penyebab kegawatdaruratan pada neonatus?
2. Bagaimana kondisi-kondisi yang menyebabkan kegawatdaruratan pada
neonatus?
3. Bagaimana penanganan kegawatdaruratan pada neonatus?
4. Bagaimana Askep Kegawatdaruratan pada neonatus?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penyebab kegawatdaruratan pada neonatus
2. Untuk mengetahui kondisi-kondisi yang menyebabkan kegawatdaruratan
pada neonatus
3. Untuk mengetahui penangan kegawatdaruratan pada neonatus
4. Untuk mengetahui askep kegawatdaruratan pada neonatus
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Neonatus


Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai
dengan usia 28 hari, dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari
kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim. Pada masa ini terjadi
pematangan organ hampir pada semua system. Neonatus bukanlah miniatur
orang dewasa, bahkan bukan pula miniatur anak. Neonatus mengalami masa
perubahan dari kehidupan didalam rahim yang serba tergantung pada ibu
menjadi kehidupan diluar rahim yang serba mandiri. Masa perubahan yang
paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama. Transisi ini hampir
meliputi semua sistem organ tapi yang terpenting bagi anestesi adalah system
pernafasan sirkulasi, ginjal dan hepar. Maka dari itu sangatlah diperlukan
penataan dan persiapan yang matang untuk melakukan suatu tindakan
anestesi terhadap neonatus.

2.2 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kegawat daruratan pada Neonatus


1. Faktor Kehamilan
a. Kehamilan kurang bulan
b. Kehamilan dengan penyakit DM
c. Kehamilan dengn gawat janin
d. Kehamilan dengan penyakit kronis ibu
e. Kehamilan dengan pertumbuhan janin terhambat
f. Kehamilan lebih bulan · Infertilitas
2. Faktor pada Partus
a. Partus dengan infeksi intrapartum
b. Partus dengan penggunaan obat sedative
3. Faktor pada Bayi
a. Skor apgar yang rendah
b. BBLR
c. Bayi kurang bulan
d. Berat lahir lebih dari 4000 gr
e. Cacat bawaan
f. Frekuensi pernafasan dengan 2x observasi lebih dari 60/menit

2.3 Kondisi-Kondisi Yang Menyebabkan Kegawatdaruratan Neonatus


2.3.1 Bayi Prematur
1. Pengertian
Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang
atau sama dengan 37 minggu, tanpa memperhatikan berat badan lahir.
(Donna L Wong 2004)
Prematoritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan,
terutama diantara bayi dengan berat 1500 gr atau kurang saat lahir.
Keduanya berkaitan dengan terjadinya peningkatan morbilitas dan
mortalitas neonatus.

2. Etiologi
a. Faktor Maternal
Toksenia, hipertensi, malnutrisi / penyakit kronik, misalnya diabetes
mellitus kelahiran premature ini berkaitan dengan adanya kondisi
dimana uterus tidak mampu untuk menahan fetus, misalnya pada
pemisahan premature, pelepasan plasenta dan infark dari plasenta.
b. Faktor Fetal
Kelainan Kromosomal (misalnya trisomi antosomal), fetus multi
ganda, cidera radiasi.

3. Patofisiologi
Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor
resiko mayor atau minor. Faktor resiko minor ialah penyakit yang
disertai demam, perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 12
minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang perhari,
riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih
dari 2 kali.
Faktor resiko mayor adalah kehamilan multiple, hidramnion,
anomali uterus, serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32
minggu, serviks mendatar atau memendek kurang dari 1 cm pada
kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1
kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada
kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.
Pasien tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor
resiko mayor atau bila ada 2 atau lebioh resiko minor atau bila
ditemukan keduanya. (Kapita selekta, 2007 : 274)

4. Karakteristik Bayi Prematur


a. Ekstremitas tampak kurus dengan sedikit otot dan lemak sub kutan
b. Kepala dan badan disporposional
c. Kulit tipis dan keriput
d. Tampak pembuluh darah di abdomen dan kulit kepala
e. Lanugo pada extremitas, punggung dan bahu
f. Telinga lunak dengan tulang rawan min dan mudah terlipat
g. Labia dan clitoris tampak menonjol
h. Sedikit lipatan pada telapak tangan & kaki

5. Kondisi yang menimbulkan masalah bayi prematur


a. Sistem Pernapasan
a) Otot-otot pernapasan susah berkembang
b) Dinding dada tidak stabil
c) Produksi surfaktan penurunan
d) Pernafasan tidak teratur dengan periode apnea dan ajanosis
e) Gangguan reflek dan batuk
b. Sistem Pencernaan
a) Ukuran Lambung Kecil
b) Enzim penurunan
c) Garam Empedu Kurang
d) Keterbatasan mengubah glukosa menjadi glikogen
e) Keterbatasan melepas insulin
f) Kurang koordinasi reflek menghisap dan menelan
c. Kestabilan Suhu
a) Lemak subkutaneus sedikit, simpanan glikogen & lipid
sedikit
b) Kemampuan menggigil menurunan
c) Aktivitas kurang
d) Postur flaccid, permukaan terexpose meningkat
d. Sistem Ginjal
a) Ekskresi sodium meningkat
b) Kemampuan mengkonsentrasi & mengeluarkan urin
menurun
c) Jumlah tubulus glomerulus tidak seimbang untuk protein, as.
Amino & sodium
e. Sistem Syaraf
a) Respon untuk stimulasi lambat
b) Reflek gag, menghisap & menelan kurang
c) Reflek batuk lemah
d) Pusat kontrol pernafasan, suhu & vital lain belum berkabung
f. Infeksi
a) Pembentukan antibodi kurang
b) Tidak ada munoglobulin M
c) Kemotaksis terbatas
d) Opsonization penurunan
e) Hypo fungsi kel. Axrenal
g. Fungsi Liver
a) Kemampuan mengkonyugasi bill
b) Penurunan Hb setelah lahir
6. Komplikasi Umum Pada Bayi Prematur
a. Sindrom Gawat Napas (RDS)
Tanda Klinisnya : Mendengkur, nafas cuping hidung, retraksi, sianosis,
peningkatan usaha nafas, hiperkarbia, asiobsis respiratorik, hipotensi
dan syok

b. Displasin bronco pulmaner (BPD) dan Retinopati prematuritas


(ROP). Akibat terapi oksigen, seperti perporasi dan inflamasi nasal,
trakea, dan faring.
c. Duktus Arteriosus Paten (PDA)
d. Necrotizing Enterocolitas (NEC)

7. Pemeriksaan Diagnostik :
a. Jumlah darah lengkap : Hb/Ht
b. Kalsium serum
c. Elektrolit (Na , K , U) : gol darah (ABO)
d. Gas Darah Arteri (GDA) : Po2, Pco2

2.3.2 BBLR
1. Pengertian
BBLR adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gr.
(Dep Kes. RI, 2013 : 122).
BBLR adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari 500
gram, tanpa memandang usian kehamilan.

2. Klasifikasi BBLR dapat digolongkan menjadi :


1) Prematuritas murni.
Adalah bayi lahir pada kehamilan kurang dari 37 minggu dengan
BB yang sesuai.
2) Smal For Date (SFP) atau kecil untuk masa kehamilan.
Adalah bayi yang BB rendah kurang dari seharusnya umum
kehamilan.
3) Reterdasi pertumbuhan janin uterus.
Adalah bayi yang lahir dengan BB rendah dan tidak sesuai dengan
tuanya kehamilan.
4) Lihgt for date sama dengan small for date.
5) Dismaturias.
Adalah suatu sindrom klinik dimana terjadi ketidak seimbangan
antara pertumbuhan janin dengan lanjutan kehamilan.
6) Large for date.
Adalah bayi yang dilahirkan lebih besar dari seharusnya tua
kehamilan missal pada DM.

3. Etiologi
a. Faktor genetik / kromosom
b. Infeksi
c. Bahan toksit
d. Radiasi
e. Disfungsi plasenta
f. Faktor nutrisi
g. Faktor-faktor lain seperti merokok, peminum alcohol.

4. Komplikasi
a) Sindrom aspirasi mekonium
b) Asfiksia Neonatorum
c) Sindrom Disstres Respirasi
d) Penyakit membran Hialin
e) Dismatur Preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35
minggu.
f) Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel
otak
g) Hipotermia, hipoglikemia, anemi, gangguan pembekuan darah
h) Infeksi, retrolental fibroplasia, NEC ( necrotizing enterocolitis)
i) Bronchopulmonary dysplasia, malformasi kongenital.
5. Penanganan Awal BBLR
1) Keringkan secepatnya dengan handuk kering.
2) Ganti kain basah dengan kain kering.
3) Bungkus bayi dengan kain dan sebelumnya lakukan perawatan tali
pusat.
4) Untuk menghangatkan beri lampu 60 watt dengan jawak minimal
60 cm dari bayi.
5) Kemudian tutup kepala bayi dengan topi bila perlu berikan oksigen.
6) Tetesi ASI bila perlu dapat dilakukan sende untuk memasukkan
susu / ASI pada bayi.
7) Bila bayi dalam keadaan rentang segera berikan infuse dektrose 10
% + bikarbonas atau natricus 1,5 % - 4 % pada hari I : 60 cc / kg /
hari, pada hari ke II : 70 cc / kg / hari.
8) Berikan antibiotika.
9) Bila tidak dapat menghisap putting susu / tidak dapat menelan
langsung / biru / tanda-tanda hypotermi berat, terangkan
kemungkinan bayinya akan meninggal.

2.3.3 Hipotermia

Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh < 36 C atau kedua


kaki dan tangan teraba dingin. Untuk mengukur suhu tubuh pada
hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading
termometer) sampai 25 C. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia
dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian. Akibat
hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia),
terjadinya metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik,
dan menurunnya simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia.
Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan yang dapat
ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.
Etiologi dan factor presipitasi dari hipotermia antara lain :
prematuritas, asfiksia, sepsis, kondisi neurologik seperti meningitis dan
perdarahan cerebral, pengeringan yang tidak adekuat setelah kelahiran dan
eksposure suhu lingkungan yang dingin.

Penanganan hipotermia ditujukan pada:


1) Mencegah hipotermia
2) Mengenal bayi dengan hipotermia
3) Mengenal resiko hipotermia
4) Tindakan pada hipotermi

Tanda-tanda klinis hipotermi

1. Hipotermia sedang (suhu tubuh 32 C - < 36 C ), tanda-tandanya


antara lain : kaki teraba dingin, kemampuan menghisap lemah,
tangisan lemah dan kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis
marmorata.
2. Hipotermia berat (suhu tubuh < 32 C ), tanda-tandanya antara lain :
sama dengan hipotermia sedang, dan disertai dengan pernafasan
lambat tidak teratur, bunyi jantung lambat, terkadang disertai
hipoglikemi dan asidosisi metabolik.
3. Stadium lanjut hipotermia, tanda-tandanya antara lain : muka,
ujung kaki dan tangan berwarna merah terang, bagian tubuh
lainnya pucat, kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama
pada punggung, kaki dan tangan.

Penanganan Hipotermia
1. Hipotermi sedang : dimana suhu tubuh 320C - <360C )
Penanganan :
a) Ganti pakaian dingin dan basah dengan pakaian hangat
b) Bila ada ibu/pengganti ibu, KMC/perawatan bayi lekat bila
tidak ada ibu
c) Hangatkan dengan alat pemancar panas/incubator
d) Cek suhu alat penghangat dan suhu ruangan, berikan ASI
peras
e) Hindari paparan panas yang berlebihan dan sering ubah
posisi
f) ASI lebih serinng
g) Minta ibu mengenalai kegawatan dan segera cari
pertolongan bila ada
2. Hipotermi berat : dimana suhu BBL < 32 0C
Penanganan :
a) Hangatkan tubuh bayi
b) Jika 1 jam suhu tidak naik, rujuk segera
c) Pertahankan kadar gula darah
d) Anjurkan ibu menjaga bayi tetap hangat selama perjalanan
rujukan
e) Lakukan rujukan segera

2.3.4 Hipertermia
Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan
termoregulasi. Hipertermia terjadi ketika tubuh menghasilkan atau
menyerap lebih banyak panas daripada mengeluarkan panas. Ketika suhu
tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan
membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.
Penyebab paling umum adalah heat stroke dan reaksi negatif obat. Heat
stroke adalah kondisi akut hipertermia yang disebabkan oleh kontak yang
terlalu lama dengan benda yang mempunyai panas berlebihan. Sehingga
mekanisme penganturan panas tubuh menjadi tidak terkendali dan
menyebabkan suhu tubuh naik tak terkendali.
Hipertermia karena reaksi negative obat jarang terjadi. Salah satu
hipertermia karena reaksi negatif obat yaitu hipertensi maligna yang
merupakan komplikasi yang terjadi karena beberapa jenis anestesi umum.
Tanda dan gejala : panas, kulit kering, kulit menjadi merah dan teraba
panas, pelebaran pembuluh darah dalam upaya untuk meningkatkan
pembuangan panas, bibir bengkak. Tanda-tanda dan gejala bervariasi
tergantung pada penyebabnya.
Dehidrasi yang terkait dengan serangan panas dapat menghasilkan mual,
muntah, sakit kepala, dan tekanan darah rendah. Hal ini dapat menyebabkan
pingsan atau pusing, terutama jika orang berdiri tiba-tiba. Tachycardia dan
tachypnea dapat juga muncul sebagai akibat penurunan tekanan darah dan
jantung. Penurunan tekanan darah dapat menyebabkan pembuluh darah
menyempit, mengakibatkan kulit pucat atau warna kebiru-biruan dalam
kasus-kasus lanjutan stroke panas. Beberapa korban, terutama anak-anak
kecil, mungkin kejang-kejang. Akhirnya, sebagai organ tubuh mulai gagal,
ketidaksadaran dan koma akan menghasilkan.

2.3.5 Hiperglikemia
Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi dimana
jumlah glukosa dalam plasma darah berlebihan. Hiperglikemia disebabkan
oleh diabetes mellitus. Pada diabetes melitus, hiperglikemia biasanya
disebabkan karena kadar insulin yang rendah dan / atau oleh resistensi
insulin pada sel. Kadar insulin rendah dan / atau resistensi insulin tubuh
disebabkan karena kegagalan tubuh mengkonversi glukosa menjadi
glikogen, pada akhirnyanya membuat sulit atau tidak mungkin untuk
menghilangkan kelebihan glukosa dari darah. Gejala hiperglikemia antara
lain : polifagi (sering kelaparan), polidipsi (sering haus), poliuri (sering
buang air kecil), penglihatan kabur, kelelahan, berat badan menurun, sulit
terjadi penyembuhan luka, mulut kering, kulit kering atau gatal, impotensi
(pria), infeksi berulang, kussmaul hiperventilasi, arrhythmia, pingsan, koma.

2.3.6 Tetanus neonaturum


Tetanus neonaturum adalah penyakit tetanus yang diderita oleh bayi
baru lahir yang disebabkan karena basil klostridium tetani. Tanda-tanda
klinis antara laian : bayi tiba-tiba panas dan tidak mau minum, mulut
mencucu seperti mulut ikan, mudah terangsang, gelisah (kadang-kadang
menangis) dan sering kejang disertai sianosis, kaku kuduk sampai
opistotonus, ekstremitas terulur dan kaku, dahi berkerut, alis mata terangkat,
sudut mulut tertarik ke bawah, muka rhisus sardonikus.
Penatalaksanaan yang dapat diberikan :
a. bersihkan jalan napas
b. longgarkan atau buka pakaian bayi
c. masukkan sendok atau tong spatel yang dibungkus kasa ke dalam
mulut bayi
d. ciptakan lingkungan yang tenang dan
e. berikan ASI sedikit demi sedikit saat bayi tidak kejang

2.3.7 Penyakit-penyakit pada ibu hamil


Kehamilan Trimester I dan II, yaitu : anemia kehamilan, hiperemesis
gravidarum, abortus, kehamilan ektopik terganggu (implantasi diluar rongga
uterus), molahidatidosa (proliferasi abnormal dari vili khorialis). Kehamilan
Trimester III, yaitu : kehamilan dengan hipertensi (hipertensi essensial, pre
eklampsi, eklampsi), perdarahan antepartum (solusio plasenta (lepasnya
plasenta dari tempat implantasi), plasenta previa (implantasi plasenta
terletak antara atau pada daerah serviks), insertio velamentosa, ruptur sinus
marginalis, plasenta sirkumvalata).

2.3.8 Sindrom Gawat Nafas Neonatus


1. Pengertian
Sindrom gawat nafas neonatus merupakan kumpulan gejala yang
terdiri dari dispnea atau hiperapnea dengan frekuensi pernafasan lebih dari
60 kali per menit, sianosis, merintih, waktu ekspirasi dan retraksi di daerah
epigastrium, interkostal pada saat inspirasi.
Penyebab dari sindrom ini adalah Penyakit Membran Hialin (PMH)
yaitu kekurangan suatu zat aktif pada alveoli yang mencegah kolaps paru.
PMH sering kali mengenai bayi prematur, karena produksi surfaktan yang
di mulai sejak kehamilan minggu ke 22, baru mencapai jumlah cukup
menjelang cukup bulan.
2. Patofisiologi
Penyebab PMH adalah surfaktan paru. Surfaktan paru adalah zat
yang memegang peranan dalam pengembangan paru dan merupakan suatu
kompleks yang terdiri dari protein, karbohidrat, dan lemak. Senyawa
utama zat tersebut adalah lesitin. Zat ini mulai di bentuk pada kehamilan
22-24 minggu dan mencapai maksimum pada minggu ke 35. Fungsi
surfaktan adalah untuk merendahkan tegangan permukaan alveolus akan
kembali kolaps setiap akhir ekspirasi, sehingga untuk bernafas berikutnya
di butuhkan tekanan negatif intrathoraks yang lebih besar dan di sertai
usaha inspiarsi yang lebih kuat. Kolaps paru ini menyebabkan
terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2. dan
oksidosis.

3. Prognosis
Prognosis bayi dengan PMH terutama ditentukan oleh prematuritas
serta beratnya penyakit. Bayi yang sembuh mempunyai kesempatan
tumbuh dan kembang sama dengan bayi prematur lain yang tidak
menderita PMH. d) Gambaran Klinis PMH umumnya terjadi pada bayi
prematur dengan berat badan 1000-2000 gram. Atau masa generasi 30-36
minggu. Gangguan pernafasan mulai tampak dalam 6-8 jam pertama
setelah lahir dan gejala yang karakteritis mulai terlihat pada umur 24-72
jam.

4. Pemeriksaan Diagnostik
Foto thorak Atas dasar adanya gangguan pernafasan yang dapat di
sebabkan oleh berbagai penyebab dan untuk melihat keadaan paru, maka
bayi perlu dilakukan pemeriksaan foto thoraks. Pemeriksaan darah : perlu
pemeriksaan darah lengkap, analisis gas darah dan elektrolit.

5. Penatalaksanaan Tindakan yang perlu dilakukan :


a. Memberikan lingkungan yang optimal, suhu tubuh bayi harus dalam
batas normal (36, 5 - 37 c) dan meletakkan bayi dalam inkubator.
b. Pemberian oksigen dilakukan dengan hati-hati karena terpengaruh
kompleks terhadap bayi prematur, pemberian oksigen terlalu banyak
menimbulkan komplikasi fibrosis paru, kerusakan retina dan lain-lain.
c. Pemberian cairan dan elektrolit sangat perlu untuk mempertahankan
hemeostasis dan menghindarkan dehidrasi. Permulaan diberikan
glukosa 5-10 % dengan jumlah 60-125 ML/ Kg BB/ hari.
d. Pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Penisilin
dengan dosis 50.000-10.000 untuk / kg BB / hari / ampisilin 100 mg /
kg BB/ hari dengan atau tanpa gentasimin 3-5 mg / kg BB / hari.
e. Kemajuan terakhir dalam pengobatan pasien PMH adalah pemberian
surfaktan ekstrogen ( surfaktan dari luar).

6. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Bahaya kedinginan
Bayi PMH adalah bayi prematur sehingga kulitnya sangat tipis,
jaringan lemak belum berbentuk dan pusat pengatur suhu belum
sempurna. Akibatnya bayi dapat jatuh dalam keadaan cold injury,
sianosis, dispnea, kemudian apnea. Untuk mencegah harus dirawat
dalam inkubator yang dapat mempertahankan suhu bayi 36,5 - 37 c
b. Resiko terjadi gangguan pernafasan Gejala pertama biasanya
Timbul dalam 4 jam setelah lahir. Tata laksana perawatan bayi
prematur adalah
a) Dirawat dalam inkubator dengan suhu optimum
b) Bila bayi mulai terlihat sianosis, dispnea / hiperapsnea segera
berikan oksigen.
c. Kesukaran dalam pemberian makanan Untuk memenuhi kebutuhan
kalori maka dipasang infus dengan cairan glukosa 5-10 %. Makanan
bayi yang terbaik adalah asi. Karena itu selama bayi belum diberi asi
harus tetap pertahankan dengan memompa payudara ibu setiap 3 jam.
d. Resiko mendapat infeksi
Untuk mencegah infeksi, perawat harus bekerja secara aseptik dan
inkubator harus aseptik pula. Ruangan tempat merawat bayi terpisah,
bersih, dan tidak di benarkan banyak orang memasuki ruangan
tersebut kecuali petugas, semua alat yang diperlukan harus steril.

e. Kebutuhan rasa nyaman


Gangguan rasa nyaman dapat terjadi akibat tindakan medis,
misalnya penghisapan lendir, pemasangan infus dll. Untuk
memenuhi kebutuhan psikologisnya selain sikap yang lembut setiap
menolong bayi dalam memberi pasi harus di pangku.

2.4 Penanganan Kegawatdaruratan pada Bayi Baru Lahir


Resusitasi merupakan sebuah upaya menyediakan oksigen ke otak,
jantung dan organ-organ vital lainnya melalui sebuah tindakan yang meliputi
pemijatan jantung dan menjamin ventilasi yang adekuat. Tindakan ini
merupakan tindakan kritis yang dilakukan pada saat terjadi kegawatdaruratan
terutama pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler. kegawatdaruratan
pada kedua sistem tubuh ini dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang
singkat (sekitar 4 – 6 menit).
Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan
segera sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup. Resusitasi pada anak yang
mengalami gawat nafas merupakan tindakan kritis yang harus dilakukan oleh
perawat yang kompeten. Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat
pada saat kritis. Kemampuan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan
keterampilan keperawatan yang unik pada situasi kritis dan mampu
menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis.
2.5 Askep kegawatdaruratan pada bayi baru lahir
A. Pengkajian Primer
1. Airway/Jalan Napas

Pemeriksaaan/pengkajian menggunakan metode look,listen,feel.

1) Look :
lihat status mental, pergerakan/pengembangan dada, terdapa
sumbatan jalan napas/tidak,sianosis,ada tidaknya retraksi pada
dinding dada,ada/tidaknya penggunaan otot-otot tambahan.
2) Listen :
mendengar aliran udara pernapasan, suara pernapasan, ada bunyi
napas tambahan seperti snoring,gurgling,atau stidor.
3) Feel :
merasakan ada aliran udara pernapasan, apakah ada krepitasi,
adanya pergeseran/deviasi trakhea, ada hematoma pada leher,
teraba nadi karotis atau tidak.

Tindakan yang harus di lakukan perawat adalah :

a. Penilaian untuk memastikan tingkat kesadaran adalah dengan


menyentuh,menggoyang dan di beri rangsangan atau respon nyeri.
b. periksa dan atur jalan napas untuk memastikan kepatenan.
c. Periksa apakah anak/bayi tersebut mengalami kesulitan bernapas.
d. Buka mulut bayi/anak dengan ibu jari dan jari-jari anda untuk
memegang lidah dan rahang bawah dan tengadah dengan perlahan.
e. identifikasi dan keluarkan benda asing (darah,muntahan,sekret,ataupun
benda asing) yang menyebabkan obstruksi jalan napas baik parsial
maupun total dengan cara memiringkan kepala pasien ke satu sisi
(bukan pada trauma kepala).
f. Pasang orofaringeal airway/nasofaringeal airway untuk
mempertahankan kepatenan jalan napas.
g. Pertahankan dan lindungi tulang servikal.
2. Breathing/Pernapasan
Pemeriksaan/pengkajian menggunakan metode look listen,feel\
1) Look :
nadi karotis ada/tidak,frekuensi pernapasan tidak ada dan
tidakterlihat adanya pergerakan dinding dada, kesadaran menurun,
sianosis, identifikasi pola pernapasan abnormal,periksa penggunaan
otot bantu dll.
2) Listen : mendengar hembusan napas
3) Feel : tidak ada pernapasan melalui hidung/mulut.

Tindakan yang harus dilakukan perawat adalah :

a. Atur posisi pasien untuk memaksimalkan ekspansi dinding dada.


b. Berikan therapy O2 (oksigen).
c. Beri bantuan napas dengan menggunakan masker/bag valve mask
(BMV)/endo tracheal tube (ETT) jika perlu.
d. Tutup luka jika didapatkan luka terbuka pada dada.
e. Kolaborasi therapy untuk mengurangi bronkhospasme/adanya edema
pulmonal,dll.

3. Circulation/Sirkulasi
1) Periksa denyut nadi karotis dan brakhialis pada (bayi),kualitas dan
karakternya
2) periksa perubahan warna kulit seperti sianosis

Tindakan yang harus di lakukan perawat :

a. Lakukan tindakan CPR/defibrilasi sesuai dengan indikasi.

Langkah-langkah di lakukannya RJP pada bayi dan anak

a) perhatikan bayi untuk menentukan apakah bayi masih bernapas


b) perhatikan apakah dada bayi bergerak
c) tempatkan telinga di dekat hidung dan mulut bayi dan dengarkan
aliran udara
d) jentikan kaki bayi apabila ada perubahan warna kulit atau bila bayi
tidak bernapas jangan menguncang-guncangkan bayi.
e) Mulailah RPJ jika bayi tetap tidak bernapas setelah kakinya tidak di
jentikan.
f) Tempatkan bayi di atas permukaan yang keras
g) Posisikan kepala dengan tepat dan bebaskan jalan napas dengan
menepatkan tangan anda pada dahi dan ari-jari tangan anda dari
tangan yang lain di bawah tulang rahang.berhati-hatilah mendorong
jaringan lunak di bawah dagu angkat dan sedikit tengadahkan kepala
kearah belakang dan hidung mengarah keatas.
h) Tarik garis yang menghubungkan antara kedua puting susu bayi.
i) Dengan telunjuk dan jari tengah anda,tekan lurus ke bawah pada
tulang dada 1,25 cm sampai 2,5 cm.ulangi hal ini sebanyak 30 kali
dan 2 kali napas buatan.

4. Disability
Pengkajian kesadaran dengan metode AVPU meliputi :
a. Alert (A) :
pasien tidak berespon terhadap lingkungan sekelilingnya/tidak sadar
terhadap kejadian yang menimpa.
b. Respon verbal (V) : klien tidak berespon terhadap pertanyaan
perawat.
c. Respon nyeri (P) : klien tidak berespon terhadap respon nyeri.
d. Tidak berespon (U) : tidak berespon terhadap stimulus verbal dan
nyeri.
B. Pengkajian Sekunder
1. Identitas klien
Hal yang perlu dikaji pada identitas klien yaitu nama, umur,
suku/bangsa, agama,pendidikan,alamat, lingkungan tempat tinggal

2. Keluhan utama

Pada bayi baru lahir biasanya sesak nafas, hipertermi, hipotermi,


sianosis, bradipneu, denyut jantung dan tekanan darah bayi menurun,
gerakan ekstremitas fleksi sedikit, dan gerakan reflexs sedikit.

3. Riwayat Kesehatan masa lalu


a. Prenatal care
1) Pemeriksaan kehamilan : biasanya <3 kali
2) Keluhan selama hamil : biasanya sering pusing, cepat lelah,
mata berkunang-kunang, dan malaise.
3) Kenaikan BB selama hamil : biasanya ada kenaikan berat
badan
b. Natal
1) Tempat melahirkan : biasanya melahirkan di tempat
pelayanan kesehatan
2) Jenis persalinan : biasanya normal, sectio caesarea
3) Penolong persalinan : biasanya bidan, dokter
4) Kesulitan lahir normal : biasanya ibu kesulitan mengedan
karena cepat lelah
c. Post natal
1) Kondisi bayi : BB lahir dan PB
2) Bayi mengalami nafas lambat, denyut jantung bayi menurun
3) Bayi tidak mengalami kemerahan dan nampak pucat.
4) Gerakan reflex sedikit dan tonus otot bayi menurun

d. Riwayat Tumbuh Kembang


1) Pertumbuhan Fisik : Berat Badan Lahir, Tinggi Badan, Lingkar
kepala, Lingkar dada, Lingkar lengan atas, Lingkar perut
e. Riwayat kehamilan dan persalinan
Bagaimana proses persalinan, apakah spontan, premature, aterm,
letak bayi belakang kaki atau sungsang
a) Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Pada umumnya pasien dalam keadaan lemah, sesak nafas,
pergerakan tremor, reflek tendon hyperaktif
2) Tanda-tanda Vital
Pada umumnya terjadi peningkatan respirasi
3) Kulit
Pada kulit biasanya terdapat sianosis
4) Kepala
Inspeksi : Bentuk kepala bukit, fontanela mayor dan minor
masih cekung, sutura belum menutup dan kelihatan masih
bergerak
5) Mata
Pada pupil terjadi miosis saat diberikan cahaya
6) Hidung
Yang paling sering terjadi adalah adanya pernafasan cuping
hidung.
7) Dada
Pada dada biasanya ditemukan pernafasan yang irregular dan
frekwensi pernafasan yang cepat
8) Neurology / reflek
Reflek Morrow : Kaget bila dikejutkan (tangan menggenggam)

b) Gejala dan tanda


1) Aktifitas; pergerakan hyperaktif
2) Pernafasan ; gejala : sesak nafas
Tanda : Sianosis
3) Tanda-tanda vital; Gejala : hypertermi dan hipotermi
Tanda : ketidakefektifan termoregulasi
C. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas b.d ekspansi yang kurang adekuat.
2. Hipertermi b.d transisi lingkungan ekstra uterin neonatus.
3. Gangguan perfusi jaringan perifer b.d kebutuhan oksigen yang tidak
adekuat.
4. Resiko infeksi

D. Perencanaan Keperawatan
No. Diagnosa NOC NIC
1. Ketidakefektifan a. Respiratory Status : a. Airway
pola napas b.d Ventilation management
ekspansi yang Indikator : 1. Buka jalan
kurang adekuat 1) Respiratory rate dalam nafas.
rentang normal 2. Posisikan
2) Tidak ada retraksi pasien untuk
dinding dada memaksimalka
3) Tidak mengalami n ventilasi.
dispnea saat istirahat 3. Auskultasi
4) Tidak ditemukan suara nafas ,
orthopnea catat adanya
5) Tidak ditemukan suara
atelektasis tambahan
b. Respiratory Status : 4. Monitor
Airway Patency respirasi dan
Indikator : status O2
1) Respiratory rate dalam b. Oxygen
rentang normal Therapy
2) Pasien tidak cemas 1. Pertahankan
3) Menunjukkan jalan jalan nafas
nafas yang paten yang paten
2. Atur peralatan
oksigenisasi
3. Monitor aliran
oksigen
4. Pertahankan
posisi pasien
5. Observasi
adanyan tanda
– tanda
hipoventilasi
c. Vital Sign
Monitoring
1. Monitor TD,
nadi, suhu, dan
RR
2. Catat adanya
fluktuasi
tekanan darah
3. Monitor vital
sign saat
pasien
berbaring,
duduk atau
berdiri
4. Monitor TD,
nadi, RR
sebelum,
selama dan
setelak
aktivitas
5. Monitor
kualitas nadi
6. Monitor
frekuensi dan
irama
pernapasan
7. Monitor suara
paru
8. Monitor pola
pernapasan
abnormal
9. Monitor suhu,
warna, dan
kelembapan
kulit.
10.Identifikasi
penyebab dari
perubahan
vital sign
2. Hipertermi b.d Termoregulasi : bayi baru a. Perawatan
transisi lahir bayi baru lahir
lingkungan Indicator : 1. Monitor suhu
ekstra uterin 1. Berat badan bayi baru
neonatus 2. Thermogenesis yang lahir
tidak menggigil 2. Jaga suhu
3. Suhu stabil tubuh yang
4. Tidak hipertermia adekuat dri
5. Napas teratur bayi baru
6. Tidak takipnea lahir
7. Tidak gelisah 3. Monitor
8. Tidak terjadi perubahan warna kulit
warna kulit bayi baru
9. Tidak dehidrasi lahir
10. Tidak
hiperbilirubinemia b. Pengaturan
suhu
1. Monitor suhu
paling tidak
setiap 2 jam,
sesuai
kebutuhan
2. Monitor suhu
bayi baru
lahir sampai
stabil
3. Monitor suhu
dan warna
kulit
4. Monitor dan
laporkan
adanya tanda
dan gejala
dari
hipertermia
5. Tingkatkan
intake cairan
dan nutrisi
adekuat
6. Sesuaikan
suhu
lingkungan
untuk
kebutuhan
pasien
3. Gangguan a. Circulation Status a. Oxygen
perfusi jaringan Indikator : Therapy
perifer b.d 1) Systolic blood pressure 1. Pertahankan
kebutuhan dalam rentang normal kepatenan
oksigen yang 2) Diastolic blood jalan nafas
tidak adekuat. pressure dalam rentang 2. Atur peralatan
normal oksigenasi
3. Monitor aliran
b. Tissue Perfusion : oksigen
Peripheral 4. Pertahankan
Indikator: posisi pasien
1) Suhu kulit ekstremitas 5. Observasi
dalam rentang normal adanya tanda-
tanda
hipoventilasi
b. Vital Sign
Monitoring
1. Monitor TD,
Nadi, Suhu,
dan RR
2. Monitor
kualitas nadi
3. Monitor pola
pernapasan
yang abnormal
4. Monitor suhu,
warna, dan
kelembapan
kulit

4. Resiko infeksi a) Immune status Infection Control


b) Knowledge: (Kontrol Infeksi)
infection control a) Bersihkan
c) Risk control lingkungan
setelah
dipakai pasien
Kriteria hasil: lain
a) Klien bebas dari b) Batasi
tanda dan gejala pengunjung
infeksi bila perlu
b) Mendeskripsikan c) Instruksikan
proses penularan kepada
penyakit pengunjung
c) Menunjukkan untuk
kemampuan untuk mencuci
mencegah timbulnya tangan saat
infeksi berkunjung
d) Jumlah leukosit dan setelah
dalam batas normal berkunjung
e) Menunjukkan meninggalkan
perilaku hidup sehat pasien
d) Gunakan
sabun
antimikroba
untuk
mencuci
tangan
e) Cuci tangan
setiap
sebelum dan
setelah
melakukan
tindakan
f) Gunakan baju,
sarung tangan
sebagai alat
pelindung
g) Pertahankan
lingkungan
aseptik
selama
pemasangan
alat
h) Berikan terapi
antibiotik bila
perlu
i) Monitor tanda
dan gejala
infeksi
sistemik dan
lokal
j) Monitor
kerentanan
terhadap
infeksi
k) Inspeksi kulit
dan membran
mukosa
terhadap
kemerahan,
panas,
drainase
l) Dorong
masukan
nutrisi yang
cukup
m) Dorong
istirahat
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai
dengan usia 28 hari, dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari
kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim
Kegawatdaruratan dapat terjadi dengan tiba-tiba, dimana saja, dan
kapan saja. Sebagai contoh kondisi bayi yang tiba-tiba menjadi lemas, tidak
bernapas, menangis melengking, suhunya berubah menjadi panas atau dingin,
tidak mau minum, mulut mencucu, kejang, terjatuh atau terluka, tersedak dan
lain-lain.

3.2 Saran
Kasus kegawatdaruratan merupakan hal yang saat ini mendapat
perhatian yang begitu besar. Oleh karena itu, diharapkan seluruh pihak
memberikan kontribusinya dalam merespon kasus kegawatdaruratan ini. Bagi
mahasiswa, sudah memberikan peran dengan mempelajari dengan sungguh-
sunggu kasus-kasus kegawatadaruratan dan memaksimalkan keterampilan
dalam melakukan penanganan kegawatdaruratan yang berada dalam koridor
wewenang perawat.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Vivian Nanny Lia. (2010).Asuhan Neonatus bayi dan Anak Balita.
Jakarta: Salemba Medika

Direktorat Kesehatan. 2008. Pencegahan dan penanggulangan segera komlpikasi


persalinan dan bayi baru lahir . jakarta: departemen Kesehatan RI

Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat.2010.Pelayanan kesehatan


neonatal esensial edisi 2010. Jakarta: departemen kesehatan Indonesia

\ https://nanangsyahputraaddres.blogspot.co.id/2017/05/makalah-asuhan-
keperawatan-gawat.html?m=1

http://www.academia.edu/17383502/KEGAWATDARURATAN_PADA_BAYI_
BARU_LAHIR_Diposkan_oleh_Nouna_Shaleha_di_21

Kosim, MS.dkk. (2008).Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir


untuk Dokter, Bidan dan Perawat di Rumahsakit. Jakarta: IDAI

Riyadi, Slamet. 2012. Kebijakan Kementrian dalam Penurunan Kematian Ibu dan
anak. Yogyakarta: fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada