Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS KASUS KEJAHATAN SEKSUAL DAN DISABILITAS PADA

ANAK

DISUSUN OLEH :

Kelompok 3

1. Mutiarani Ragil ( 201701027 )


2. Nindiya Erly Agustina ( 201701028 )
3. Riko Priyandana ( 201701029 )
4. Riswanda Imawan ( 201701030 )
5. Sri Dewi Rahayu ( 201701032 )
6. Tiyan Ramanda Putri ( 201701033 )
7. Tria Nurfitasari ( 201701034 )
8. Wahyu Rizka Yolanda ( 201701035 )
9. Wahyu Wibowo ( 201701036 )
10. Wulan Septianingtyas ( 201701037 )
11. Yoga Deris Prasetiyo ( 201701038 )
12. Yola Oktarina ( 201701039 )
13. Zulfa Fadila Zahra ( 201701040 )

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III KEPERAWATAN PONOROGO

2019

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
Makalah Keperawatan Anak yang berjudul “ANALISA KASUS KEJAHATAN

i
SEKSUAL DAN DISABILITAS PADA ANAK “ dengan baik. Shalawat serta
salam kami sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga
dan sahabat beliau, serta orang-orang mukmin yang tetap istiqamah di jalan-Nya.

Makalah ini kami rancang untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah
Keperawatan Anak dan agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “ANALISA
KASUS KEJAHATAN SEKSUAL DAN DISABILITAS PADA ANAK” ,yang
disajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.

Kami sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu


dalam pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini
tidaklah sempurna. Kami mengharapkan adanya sumbangan pikiran serta
masukan yang sifatnya membangun dari pembaca, sehingga dalam penyusunan
makalah yang akan datang menjadi lebih baik.

Terima kasih

Ponorogo, 19 Oktober 2019

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................ii


DAFTAR ISI .....................................................................................iii

ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................2
C. Tujuan ....................................................................................2
BAB II : ISI
A. Konsep .....................................................................................3
B. Pembahasan Kasus................................................................................6
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan .....................................................................................12
B. Saran .....................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Anak adalah merupakan dasar awal yang menentukan kehidupan suatu


bangsa dimasa yang akan datang, sehingga diperlukan Persiapan generasi penerus
bangsa dengaan mempersiapkan anak untuk tumbuh dan kembang secara optimal
baik dalam perkembangan moral, fisik, kognitif, bahasa maupun sosial emosional.
Dewasa ini terdapat berbagai fenomena yang dapat menggangu pertumbuhan dan
perkembangan seperti kasus maraknya pelecehan seksual terhadap anak.

KPAI melaporkan kasus kejahatan seksual menujukan angka yang


memperhatikan terbanyak adalah pelecehan anak, pada tahun 2018 sebanyak
1.192 kasus pelecehan anak, sedangkan Markas Besar Polri mencatat ada 236
kasus pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi pada Januari hingga Mei
2019. Namun, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar
Asep Adi Saputra mengatakan hanya 50 persen dari keseluruhan kasus yang bisa
ditangani tuntas oleh institusinya. Di Amerika Utara, sekitar 15% sampai 25%
wanita dan 5% sampai 15% pria yang mengalami pelecehan seksual saat mereka
masih anak-anak.Sebagian besar pelaku pelecahan seksual adalah orang yang
dikenal oleh korban mereka; sekitar 30% adalah keluarga dari si anak, paling
sering adalah saudara laki-laki, ayah, paman, atau sepupu; sekitar 60% adalah
kenalan lainnya seperti 'teman' dari keluarga, pengasuh, atau tetangga, orang asing
adalah pelanggar sekitar 10% dalam kasus penyalahgunaan seksual
anak.Kebanyakan pelecehan seksual anak dilakukan oleh laki-laki; studi
menunjukkan bahwa perempuan melakukan 14% sampai 40% dari pelanggaran
yang dilaporkan terhadap anak laki-laki dan 6% dari pelanggaran yang dilaporkan
terhadap perempuan.Sebagian besar pelanggar yang pelecehan seksual terhadap
anak-anak sebelum masa puber adalah pedofil,] meskipun beberapa pelaku tidak
memenuhi standar diagnosis klinis untuk pedofilia.Dampa yang ditimbulkan dari
pelecehan seksual pada anak adalah Anak menjadi pribadi yang tertutup dan tidak
percaya diri.Timbul perasaan bersalah, stres, bahkan depresi.Timbul ketakutan

1
atau fobia tertentu.Mengidap gangguan traumatik pasca kejadian (PTSD).Di
kemudian hari, anak bisa menjadi lebih agresif, berpotensi melakukan tindan
kriminal bahkan menjadi calon pelaku kekerasan, dan masih banyak lagi sehingga
ketika tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan dampak yang serius bagi
anak.

Selain itu anak dengan disabilitas atau kebutuhan khusus sering


mendapatkan prilaku yang tidak adil dikarenakan kekurangan yang dimiliki,
kebanyakan anak dengan disabilitas banyak yang tidak mendapatkan haknya
seperti kebutuhan ekonomi sehingga membuat anak harus ditelantarkan, menurut
KPAI anak dengan disabilitas ditelantarkan sebanyak 521 kasus yang dilaporkan.
Anak dengan disabilitas bila tidak ditangani akan memperparah kondisinya. Dari
permasalahan dibutuhkan pembahasan tentang pelecehan seksual dan disabilitas
pada anak.

B. Rumusan masalah

1. Bagaimana analisis kasus kejahatan seksual dan disabilitas pada anak

C. Tujuan masalah

1. Tujuan umum :

Untuk mengetahui bagaimana analisis kasus kejahatan seksual dan


disabilitas pada anak

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui tentang definisi kejahatan seksual dan disabilitas pada


anak

b. Untuk mengetahui penyelesaian masalah pada kasus kejahatan seksual dan


disabilitas pada anak

c. Untuk mengetahui pencegahan masalah kejahatan seksual dan disabilitas


pada anak

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi kejahatan seksual dan disabilitas pada anak

1. Kejahatan seksual

Kejahatan seksual merupakan semua tindakan seksual, percobaan


tindakan seksual, komentar yang tidak diinginkan, perdagangan seks, dengan
menggunakan paksaan, ancaman, paksaan fisik oleh siapa saja tanpa
memandang hubungan dengan korban, dalam situasi apa saja, termasuk tapi
tidak terbatas pada rumah dan pekerjaan. Kejahatan seksual dapat dalam
berbagai bentuk termasuk perkosaan, perbudakan seks dan atau perdagangan
seks, kehamilan paksa, kekerasan seksual, eksploitasi seksual dan atau
penyalahgunaan seks dan aborsi.
Kejahatan seksual dikategorikan menjadi:
a. Non- konsensual, memaksa perilaku seksual fisik seperti pemerkosaan
atau penyerangan seksual. Psikologis bentuk pelecehan, seperti pelecehan
seksual, perdagangan manusia, mengintai,dan eksposur tidak senonoh tapi
bukan eksibisionisme.
b. Penggunaan posisi kepercayaan untuk tujuan seksual, seperti pedofilia dan
semburit, kekerasan seksual, dan incest. Perilaku dianggap oleh
Pemerintah tidak sesuai.
Bentuk kejahatan seksual yang paling banyak adalah pelecehan
seksual namun ini hanya berdasarkan keterangan korban dan tidak dapat
dibuktikan dengan barang bukti, sedangkan peringkat kedua adalah
pemerkosaan dan pada pemerkosaan selain berdasarkan keterangan korban
juga dapat dibuktikan dengan barang bukti.
2. Anak disabilitas
Difabel, disabilitas, atau keterbatasan diri (bahasa Inggris: disability)
dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau
beberapa kombinasi dari ini. Istilah difabel dan disabilitas sendiri memiliki
makna yang agak berlainan. Difabel (different ability—kemampuan berbeda)

3
didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan dalam
menjalankan aktivitas berbeda bila dibandingkan dengan orang-orang
kebanyakan, serta belum tentu diartikan sebagai "cacat" atau disabled.
Sementara itu, disabilitas (disability) didefinisikan sebagai seseorang yang
belum mampu berakomodasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga
menyebabkan disabilitas. istilah disabilitas berasal dari bahasa inggris yaitu
different ability yang artinya manusia memiliki kemampuan yang berbeda.
Terdapat beberapa istilah penyebutan menunjuk pada penyandang disabilitas,
Kementerian Sosial menyebut dengan istilah penyandang cacat, Kementerian
Pendidikan Nasional menyebut dengan istilah berkebutuhan khusus dan
Kementerian Kesehatan menyebut dengan istilah Penderita cacat.

a. Cacat Fisik

Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada


fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan
kemampuan berbicara. Cacat fisik antara lain: a) cacat kaki, b) cacat
punggung, c) cacat tangan, d) cacat jari, e) cacat leher, f) cacat netra, g)
cacat rungu, h) cacat wicara, i) cacat raba (rasa), j) cacat pembawaan.
Cacat tubuh atau tuna daksa berasal dari kata tuna yang berarati rugi atau
kurang, sedangkan daksa berarti tubuh. Jadi tuna daksa ditujukan bagi
mereka yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna. Cacat tubuh dapat
digolongkan sebagai berikut:

1. Menurut sebab cacat adalah cacat sejak lahir, disebabkan oleh penyakit,
disebabkan kecelakaan, dan disebabkan oleh perang.

2. Menurut jenis cacatnya adalah putus (amputasi) tungkai dan lengan; cacat
tulang, sendi, dan otot pada tungkai dan lengan; cacat tulang punggung;
celebral palsy; cacat lain yang termasuk pada cacat tubuh orthopedi;
paraplegia.

a. Cacat Mental

4
Cacat mental adalah kelainan mental dan atau tingkah laku,
baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit, antara lain: a)
retardasi mental, b) gangguan psikiatrik fungsional, c) alkoholisme, d)
gangguan mental organik dan epilepsi.

b. Cacat Ganda atau Cacat Fisik dan Mental

Yaitu keadaan seseorang yang menyandang dua jenis


kecacatan sekaligus. Apabila yang cacat adalah keduanya maka akan
sangat mengganggu penyandang cacatnya.

5
Trigger Case

 Kasus Kejahatan seksual

Catatan tindak kriminalitas seksual terhadap anak di Indonesia bertambah


panjang. Seorang ibu berinisial MF melaporkan kejadian pencabulan QZ,
anaknya, yang masih duduk di bangku TK Mexindo, Bogor. Pencabulan ini
diduga dilakukan oleh seorang penjaga sekolah berinisial U.

Dilansir Kompas, pada Mei silam, MF mendapati anaknya merasa


kesakitan saat buat air kecil. Awalnya, MF tidak merasa curiga, tetapi ketika
memeriksa celana dalam QZ, ditemukan noda darah. MF pun membawa QZ ke
dokter untuk visum. Dari penjelasan dokter, diketahui bahwa ada benda yang
dipaksakan masuk ke alat kelamin QZ. Sejak itulah MF menduga anaknya telah
menjadi korban pencabulan. Trauma pun mengiringi QZ sehingga ia sulit diajak
berkomunikasi. Setelah dibujuk orangtuanya, QZ pun mengaku dirinya dicabuli
oleh penjaga sekolah. Upaya advokasi pun dilakukan MF. Kasus tersebut
dilaporkannya ke Pemkot dan Dinas Pendidikan Kota Bogor. Alih-alih mendapat
dukungan untuk memperoleh keadilan, Pemkot malah lepas tangan dengan
mengatakan kasus tersebut berada di luar wewenangnya. MF juga kembali
menelan kekecewaan setelah Disdik yang sempat menjanjikan akan
menonaktifkan sementara terlapor belum kunjung mewujudkan janjinya.

MF juga melaporkan kasus anaknya tersebut ke Polresta Bogor tanggal 12


Mei lalu. Namun hingga Agustus, penjaga sekolah tersebut belum juga ditangkap
atau diberhentikan dari tempat kerja. Alat bukti sudah diserahkan MF, tetapi polisi
belum juga bergerak menegakkan keadilan bagi MF dan anaknya. Menurut
pengakuan MF, pihak sekolah bahkan meminta tersangka tidak ditahan dulu. MF
kian sakit hati begitu mendapat tanggapan pihak kepolisian yang saat itu
memintanya pasrah saja dan mengatakan sudah banyak kasus serupa terjadi.

1. UU terkait :

Pasal 19

6
(1a) Setiap Anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari
kejahatan seksual dan Kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga
kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

Pasal 15

f. Setiap Anak berhak untuk memperoleh perlindungan

Pasal 59

Perlindungan Khusus kepada Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

diberikan kepada:

j. Anak korban kejahatan seksual;

Pasal 69A

Perlindungan Khusus bagi Anak korban kejahatan seksual sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 59 ayat (2) huruf j dilakukan melalui upaya:

a. edukasi tentang kesehatan reproduksi, nilai agama, dan nilai kesusilaan;

b. rehabilitasi sosial;

c. pendampingan psikososial pada saat pengobatan sampai pemulihan; dan

d. pemberian perlindungan dan pendampingan pada setiap tingkat pemeriksaan


mulai dari penyidikan, penuntutan, sampai .

2. Penanganan :

Dibutuhkan penanganan segera dari pihak berwenag dan sekolah untuk


menyelesaikan masalah tersebut, sehingga tidak dibiarkan berlarut-larut selain itu
pemerintah perlua adanya edukasi/sosialisasi kepeda orang tua tentang pendidikan
seks tentang batasan-batasan privasi yang tidak boleh disentuh oleh orang lain dan
tanda-tanda kejahatan seksual.

3. Mengatasi Trauma Korban

7
Seiring dengan proses advokasi yang dijalankan keluarga, fokus terhadap
kondisi korban pun tidak boleh luput diperhatikan. Dukungan emosional untuk
korban perlu diberikan secara maksimal. Bila korban belum bisa
mengomunikasikan kejadian buruk yang dialaminya, keluarga atau orang dekat
lainnya butuh bersabar dan memahami situasi emosi si korban. Hal lain yang
dapat dilakukan adalah menghindarkan korban untuk kembali ke TKP karena
dapat memperburuk kondisi traumanya. Alih-alih meminta korban untuk
beraktivitas seperti sedia kala, orangtua perlu memberikan rasa aman dulu kepada
korban sebelum ia kembali ke sekolah. “Pahami emosi anak karena sewaktu-
waktu, emosinya bisa meledak jika teringat akan kejadian buruk yang
menimpanya. Katakan kepada anak, ‘Nak, Mama tahu kamu sedih, tapi sekarang
ada Mama di sini yang akan menjaga kamu,'," ujar Lia.

Tidak semua orang tua memiliki kecakapan menangani trauma. Bahkan


dalam kasus tertentu, bukan tidak mungkin orang-orang terdekat dengan individu
yang trauma mengalami frustrasi dan malah gagal memberi dukungan moral.
Karena itu, pakar psikologi dapat dilibatkan untuk membantu pengentasan
masalah psikis korban melalui pendampingan atau terapi.

 Disabilitas pada anak


8
Kasus Denis yang Pipinya Disetrika Contoh Perlakuan Semena-mena Pada
Anak Berkebutuhan Khusus, Dennis Aprilian (10) yang menjadi korban
kekejaman ibu tirinya, Suhemi. Dennis disetrika di bagian pipi kirinya, seperti
tampak dalam foto, Jumat, 27 Maret 2015 23:04 WIB.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota DPR RI Komisi VIII, KH


Maman Imanulhaq menilai, kasus Denis Aprilian (10), anak yang disetrika ibu
tirinya merupakan contoh fakta jika anak berkebutuhan khusus masih dianggap
sebelah mata. Kasus tersebut menyita perhatian publik lantaran kejamnya perilaku
sang ibu tiri terhadap Denis. Ia menilai, karena berkebutuhan khusus, Denis kerap
diperlakukan semena-mena termasuk kekerasan fisik. Maman menduga kasus
Denis bukanlah satu-satunya, sebetulnya banyak kasus serupa namun tidak
muncul ke publik. “Anak berkebutuhan khusus rentan diperlakuan diskriminatif
atau mengalami tindak kekerasan, apalagi berusia anak-anak, seperti Denis,” kata
Maman, Jumat (27/3/2015).

Perlakuan diskriminatif dan kekerasan, menurut Politisi PKB itu, terjadi


akibat masih adanya pandangan keliru. Anak berkebutuhan khusus, kata Maman,
seringkali dianggap obyek, tanpa hak, bahkan produk gagal sehingga tak perlu
sekolah dan wajar diperlakukan tak semestinya. “Bercermin dari kasus Denis,
semua pihak mestinya sadar, jika siapapun, termasuk anak berkebutuhan khusus
serta penyandang disabilitas itu sama manusia juga. Mereka punya hak, wajib
belajar, dapat bekerja dan memiliki harapan masa depan lebih baik. Karena itu,
sepatutnya dihargai dan dilindungi”, ungkap Maman.

Agar dapat lebih menghormati, melindungi, memajukan dan memenuhi


hak-hak anak berkebutuhan khusus serta penyandang disabilitas (PD), Maman
berpendapat perlu adanya perubahan pandangan baik itu dari aspek psikologis,
sosiologis maupun yuridis. “DPR sendiri bertekad akan memproses RUU
Penyandang Disabilitas untuk diundangkan segera tahun ini. Bersamaan dengan
itu, kesadaran publik sebagai personal atau lembaga untuk menghargai,
melindungi dan memenuhi hak-hak Difabel mesti terus kita dorong sama-sama”,
kata Maman.

9
Analisis :

1. UU yang dilanggar Pasal 70 “Perlindungan Khusus bagi Anak


Penyandang”

Disabilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat 2 huruf l dilakukan


melalui upaya:

a. perlakuan Anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan Hak Anak

b. pemenuhan kebutuhan khusus

c. perlakuan yang sama dengan Anak lainnya untuk mencapai integrasi sosial
sepenuh mungkin dan pengembangan individu.

d. pendampingan social

2. Penyebab

Hal tersebut dikarenakan penerimaan secara fisik maupun


psikologis dari ibu tiri terhadap Denis dikarenakan Denis bukan anak
kandungnya dan berkebutuhan khusus selain itu dari pihak ayah kurangnya
pengawasan untuk istrinya dan selain itu kiranya pengetahuan dari pihak
orang tua Denis bagaimana mendidik anak hal ini dibuktikan tidak
terpenuhinya hak-hak dasar anak disabilitas.

3. Penanganan

Penanganan dari pemerintah dan masyarakat adalah Pertama,


meningkatkan peran serta masyarakat. Hal ini dikarenakan permasalahan
yang adaselama ini dibebankan semata kepada penegak hukum. Hal itu
tidak berbanding dengan banyaknya perkara yang mencuat ke publik. Oleh
sebab itu, peran serta masyarakat harus dilibatkan dalam meningkatkan
pencegahan kekerasan terhadap anak. Caranya, dengan memberdayakan
jaringan lokal maupun nasional dengan melakukan update informasi
mengenai potensi masyarakat.

10
Kedua, pemenuhan kebutuhan saran dan prasarana. Seperti panti, rumah
aman yang dapat memberikan rehabilitasi bagi korban kekerasan untuk
memberdayakan penanganan kasus anak. Sarana yang ada memang terbatas.
Ujungnya, rehabilitasi pun ditempatkan di Lapas. “Ini masalah kita,” ujarnya.

Ketiga, pemahaman terhadap kapasitas persepsi aparat penegak hukum


dalam pencegahan dan penanganan anak yang sensitif perlu didalami. Ia khawatir
bila tidak diubah, maka penanganan perkara anak disamaratakan dengan penjahat
umum lainnya. Padahal, pimpinan Polri sudah mewanti-wanti terkait dengan
masalah gender dan anak mesti ditangani secara khusus, tidak menggunakan cara
yang umum.

Keempat, membuat Standar Operasional Prosedur (SOP). Menurutnya,


SOP terkait dengan mekanisme sistem rujukan, standar lembaga layanan serta
model kasus terkait dalam penanganan perkara anak. Tak kalah penting,
melakukan realisasi kebijakan SOP tersebut di masing-masing instan.

4. Penanganan untuk anak

Memberikan konseling jangka panjang untuk menyelesaikan psikologis


untuk mengetahui trauma sehingga tidak mengenagu tumbuh kembang anak dan
saat dewasa tidak menjadi pelaku kejahatan kekerasan pada anak, selain itu
pemberian edukadukasi terhadap orangtua anak tentang pemberian hak-hak untuk
anak disabilitas sehingga anak dapat mendapatkan haknya seperti pendidikan,
pendapingan sosial, perlakuan anak secara manusiawi dan lain sebagainya.

BAB III

PENUTUP

11
A. Kesimpulan

Dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa kejahatan seksual bisa


dilakukan oleh orang terdekat dan orang yang tidak dikenal sehingga dibutuhkan
edukasi dari orang tua terhadap anak tentang bagian privasi anggota tubuh yang
tidak boleh dipegang oleh orang lain dan tanda-tanda pelecehan seksual.
Sedangkan anak disabilitas dibutuhkan suport dari orangtua tantang pemenuhan
kebutuhan khusus seperti hak pendidikan, hak sosialisasi dan perlakuan yang
sama, dari kasus kejahatan seksual dan disabilitas pada anak dibutuhkan
pemagangan segera dari pihak pemerintah terkait sebagai pemangku kebijakan
sehingga kasus tersebut dapat ditangani dan dapat dicegah sehingga tidak
menggangu pertumbuhan dan perkembangan anak.

B. Saran

1. Orang tua sebagai pendidik anak harus mempunyai pengetahuan terkait


tentang kejahatan seksual dan disabilitas pada anak dan menginformasikan
pada anak agar dapat mencegah kasus tersebut selain itu dibutuhkan
pengawasan pada anak bila ada masalah

2. Keikutsertaan pemerintah untuk menangani dan mencegah kasus tersebut


sangat dibutuhkan karen sebagai pemangku kebijakan selain itu dibutuhkan
perbaikan fasilitas rehabilitasi untuk pengobatan pskologis untuk kesembuhan
anak.

DAFTAR PUSTAKA

12
Rahayu, Sugi. Dewi, Utami dan Ahdiyana, Marita. 2013. Pelayanan Publik
Bidang Transportasi Bagi Difabel Di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Reefani, Nur Kholis. 2013. Panduan Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta:


Imperium.
Handayani, T. (2016). Perlindungan dan Penegakan Hukum Terhadap Kasus
Kekerasan Seksual Pada Anak. Jurnal Mimbar Justisia, 826-839.

Sukardi, D. (2017). Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Kejahatan


Seksual Dalam Perspektif Hukum Positif dan Islam. Jurnal Kajian Hukum
Islam, 116-131.

Syahputra, R. (2018). Penanggulangan Terhadap Tindakan Kekerasan Seksual


Pada Anak Ditinjau Dari Undang-Undang Perlindungan. 123-131.

https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/peliknya-kasus-pencabulan-bocah-tk-
cu7r

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kejahatan_seksual_terhadap_anak_di_Indonesia

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Difabel

https://www.google.com/amp/s/m.tribunnews.com/amp/metropolitan/2015/03/27/
kasus-denis-yang-pipinya-disetrika-contoh-perlakuan-semena-mena-pada-
penyandang-disabilitas

13