Anda di halaman 1dari 37

Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan


memohon ampun kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan
jiwa kita dan dari keburukan amal kita. Barangsiapa yang Allah Ta’ala beri
hidayah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkanya. Dan
barangsiapa yang dikehendaki kesesatannya oleh Allah, maka tidak ada
seorang pun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Aku bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah saja, tidak
ada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya.

Sungguh menyedihkan! Itulah kesan timbul dari hati kami ketika


menjumpai masjid-masjid yang bangunannya megah, namun sepi dari
jamaah shalat. Kami teringat dengan masjid di kampung halaman yang
telah direnovasi dengan memakan biaya yang sangat besar. Kini masjid
tersebut tampak besar dan megah, dengan sebuah menara yang tinggi
menjulang. Namun sayang, ketika waktu shalat tiba, hanya sedikit warga
yang hadir untuk melaksanakan shalat jamaah. Padahal masjid tersebut
didirikan di tengah perkampungan yang padat. Bahkan yang menyedihkan,
sering sekali hanya satu orang yang adzan, sekaligus iqamah, dan beliau
pula yang menjadi imam bagi dirinya sendiri, alias tidak ada orang lain
yang hadir. Apabila baliau berhalangan, maka tidak ada adzan, masjid pun
sepi, padahal waktu shalat telah tiba. Masjid itu hanya ramai sekali
seminggu, yaitu pada saat shalat Jum’at. Demikianlah kondisi yang sangat
1
mengenaskan, yang tidak berbeda pula dengan masjid-masjid di desa
tetangga. Kondisinya sama, bangunannya megah, namun kosong dari
jamaah.

Kami merasa malu, karena masjid itu juga didirikan dengan meminta
sumbangan di jalan-jalan. Sungguh tidak amanah, itulah yang ada dalam
pikiran kami. Sebagian besar sibuk dengan pekerjaannya, atau disibukkan
dengan tidurnya, atau disibukkan dengan kemalasannya. Semua itulah yang
menghalanginya untuk melangkahkan kaki ke masjid.

Kondisi yang sangat tampak juga bisa disaksikan ketika bulan Ramadhan
berakhir. Ketika bulan Ramadhan, shalat jamaah sangat ramai, bahkan
terkadang masjid itu tidak cukup menampung jamaah. Akan tetapi, ketika
bulan Ramadhan berakhir, bahkan ketika tanggal 1 Syawwal, masjid-masjid
pun kosong ditinggal pergi jamaahnya. Tidak perlu menunggu sampai bulan
Syawwal berakhir, masjid pun langsung sepi.

Padahal, shalat jamaah bagi muslim lelaki adalah disyariatkan tanpa ada
perselisihan di kalangan para ulama, baik ketika bulan Ramadhan atau pun
di luar bulan Ramadhan. Selain itu, menunaikan shalat jamaah di masjid
memiliki banyak keutamaan dan merupakan suatu ibadah yang paling
agung di sisi Allah Ta’ala. Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang
status hukum shalat jamaah di masjid itu sendiri, apakah fardhu ‘ain (wajib
bagi masing-masing individu), atau fardhu kifayah, atau sunnah muakkad.
Sebagian ulama yang lain, misalnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan
muridnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahumallah, bahkan berpendapat
bahwa shalat jamaah di masjid merupakan fardhu ‘ain dan merupakan
2
syarat sah shalat.

Inilah yang melandasi keinginan kami untuk menerjemahkan sebuah kitab


kecil ini, yang berjudul “Fadhaail Shalaatil Jamaa’ah wa Adillatu
Wujuubihaa” karya Masy’al Musa’id Al-Maghribi (diterbitkan oleh Daar
Al-Qaasim, cetakan pertama tahun 1424). Meskipun kecil dan singkat,
sungguh di dalamnya terdapat faidah yang sangat banyak. Harapan kami,
setelah membaca tulisan ini, semoga para pembaca dapat tergugah hatinya
untuk meramaikan masjid dengan shalat jamaah dan kegiatan dakwah serta
syi’ar Islam lainnya. Kembali kami teringat dengan sebuah ungkapan yang
memiliki makna yang sangat dalam, ”Kaum kafir baru akan takut kepada
kaum muslimin, jika jumlah jamaah shalat subuh sama dengan jumlah
jamaah pada saat shalat Jum’at.”

Semoga terjemahan ini bermanfaat bagi kaum muslimin yang membacanya.


Hanya kepada Allah kami memohon ilmu yang bermanfaat dan amal yang
shalih lagi diterima. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita
kemurnian tauhid baik secara ilmu, amal, maupun keyakinan. Semoga
shalawat dan salam serta berkah senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan para
pengikutnya dengan baik.

Shalat berjamaah di masjid, memiliki keutamaan yang sangat banyak,


diantaranya:

Barangsiapa yang hatinya terpaut dengan masjid, akan mendapatkan


naungan dari Allah Ta’ala pada hari kiamat

3
Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‫لسوبلعةة يهظظللهههم ل‬
‫ِ يلوولم لل ظظلل إظلل ظظللهه‬،‫اه ظفيِ ظظللظه‬
”Terdapat tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah, pada
hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya … ”

dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan salah satunya


yaitu,

‫لولرهجةل قلولبههه هملعلل ة‬


‫ق ظفيِ اللملساَظجظد‬
“dan seorang lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.” (Muttafaq ‘alaih)

An-Nawawi rahimahullah berkata, ”Maksudnya adalah sangat mencintai


masjid dan senantiasa melaksanakan shalat berjamaah di dalamnya.”

Langkah orang-orang yang pergi menuju masjid itu dicatat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫لياَ بلظنيِ لسلظلمةل ظدلياَلرهكوم تهوكتل و‬


‫ب آلثاَهرهكوم‬

”Wahai Bani Salimah, tetaplah di rumah-rumah kalian, niscaya langkah-


langkah kalian akan dicatat.” (HR. Muslim)

[Hadits ini berkenaan dengan keinginan Bani Salimah untuk pindah ke


dekat masjid karena daerah di sekitar masjid kosong. Keinginan itu
terdengar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau
bersabda sebagaimana hadits tersebut di atas, pent.]

4
Sesungguhnya Allah Ta’ala menetapkan pahala bagi orang yang berangkat
menuju masjid dan kembali lagi ke rumahnya

Sesungguhnya ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang berkata kepada
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‫ِ لوهرهجوظعيِ إظلذا‬،‫ي إظللىَ اوللموسظجظد‬ ‫ِ إظلنيِ أهظريهد ألون يهوكتل ل‬،‫ب اوللموسظجظد‬
‫ب ظليِ لموملشاَ ل‬ ‫لماَ يلهسلرظنيِ أللن لمونظزظليِ إظللىَ لجون ظ‬
ِ‫ت إظللىَ ألوهظلي‬
‫لرلجوع ه‬

”Aku tidak ingin rumahku berada di dekat masjid. Aku ingin agar
ditetapkan pahala bagiku dari langkahku ke masjid dan dari langkahku saat
kembali ke keluargaku.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ك هكللهه‬
‫ك لذلظ ل‬
‫قلود لجلملع اه لل ل‬

“Allah telah mengumpulkan semuanya itu untukmu.” (HR. Muslim)

Shalat jamaah adalah sebab terhapusnya dosa dan diangkatnya derajat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫أللل ألهدللهكوم لعللىَ لماَ يلومهحو اه بظظه اوللخ ل‬


‫ِ لويلورفلهع بظظه اللدلرلجاَ ظ‬،َ‫طاَليا‬
ِ‫ت؟‬

”Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah


Ta’ala akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kalian?”

Para shahabat berkata, ”Ya, wahai Rasulullah.”


5
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ فللذلظهكهم‬،‫صللظة‬
‫صللظة بلوعلد ال ل‬ ‫ِ لواونتظ ل‬،‫طاَ إظللىَ اوللملساَظجظد‬
‫ظاَهر ال ل‬ ‫ِ لولكوثلرةه اولهخ ل‬،‫ضوظء لعللىَ اوللملكاَظرظه‬ ‫غ اولهو ه‬ ‫إظوسلباَ ه‬
‫ِ فللذلظهكهم اللرلباَطه‬،‫ط‬
‫اللرلباَ ه‬

”Menyempurnakan wudhu ketika dalam keadaan sulit, memperbanyak


langkah menuju masjid (untuk shalat berjamaah, pent.), dan menunggu
shalat sesudah selesai mengerjakan shalat. Yang demikian itu adalah
perjuangan dan perjuangan.“ (HR. Muslim)

Yang dimaksud langkah dalam hadits ini adalah pada waktu berangkat dan
pulang dari masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ‫ِ لذاظهعباَ لولراظجععا‬،‫ب للهه لحلسنلةة‬ ‫ِ لولخ و‬،‫طلوةة تلومهحو لسيلئلعة‬


‫طلوةة تهوكتل ه‬ ‫لمون لرالح إظللىَ لموسظجظد اوللجلماَلعظة فللخ و‬

”Barangsiapa yang berangkat menuju masjid untuk shalat berjamaah, maka


satu langkah akan menghapus dosa dan langkah berikutnya dicatat sebagai
kebaikan, baik pada saat berangkat maupun kembali.” (HR. Ahmad, dan di-
shahih-kan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Bahkan yang lebih hebat lagi adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam,

َ‫طولهاَ إظللى‬ ‫ِ بظهكلل هخ و‬،‫ب للهه لكاَتظلباَهه ألوو لكاَتظبههه‬


‫طلوةة يلوخ ه‬ ‫ِ لكتل ل‬،‫صلللة‬ ‫ِ ثهلم أللتىَ اوللموسظجلد يلورلعىَ ال ل‬،‫طهللر اللرهجهل‬
‫إظلذا تل ل‬
‫صلليلن ظمون ظحيظن يلوخهرهج ظمون بلويتظظه‬ ‫ب ظملن اولهم ل‬ ‫ِ لويهوكتل ه‬،‫ت‬ ‫صللةل لكاَوللقاَنظ ظ‬‫ِ لواوللقاَظعهد يلورلعىَ ال ل‬،‫ت‬
‫اوللموسظجظد لعوشلر لحلسلناَ ة‬
‫لحلتىَ يلورظجلع إظللويظه‬

”Jika seseorang bersuci kemudian pergi ke masjid untuk memelihara


shalatnya, maka dicatat baginya sebanyak sepuluh kebaikan untuk setiap

6
langkahnya ke masjid. Dan orang yang duduk (menunggu shalat) untuk
memelihara shalatnya, dia seperti orang yang melaksanakan ketaatan dan
dicatat sebagai orang yang mengerjakan shalat ketika keluar dari rumahnya
sampai kembali lagi.“ (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Di-shahih-kan oleh
Syaikh Albani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫صللةة لموكهتوبلةة فلأ لوجهرهه لكأ لوجظر اوللحاَلج اولهموحظرظم‬ ‫لمون لخلرلج ظمون بلويتظظه همتل ل‬
‫طهلعرا إظللىَ ل‬

”Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan berwudhu untuk


menunaikan shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang
berihram untuk melaksanakan haji.” (HR. Abu Dawud, di-hasan-kan oleh
Syaikh Albani)

Ini adalah pahala berangkat untuk menunaikan shalat, maka bagaimana


dengan pahala shalat itu sendiri?

Orang yang berangkat untuk shalat mendapatkan jaminan dari Allah Ta’ala

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ضاَظمةن لعللىَ ل‬
‫اظ لعلز لولجلل‬ ‫ثلللثلةة هكللههوم ل‬

”Terdapat tiga golongan yang semuanya mendapatkan jaminan dari Allah


‘Azza wa Jalla … ”

Disebutkan salah satunya yaitu,

‫ِ ألوو ليجهرلدهه بظلمجاَ لنجاَلل ظمجون ألوججةر‬،‫اظ لحلتىَ يلتللولفاَهه فلهيجودظخللهه اوللجلنجلة‬ ‫ِ فلههلو ل‬،‫لولرهجةل لرالح إظللىَ اوللموسظجظد‬
‫ضاَظمةن لعللىَ ل‬

7
‫لولغظنيلمةة‬

“.. dan seorang yang berangkat menuju masjid maka dia mendapatkan
jaminan dari Allah, Dia mewafatkannya, lalu memasukkannya ke dalam
surga atau mengembalikannya ke rumah dengan membawa pahala dan
keberuntungan.” (HR. Abu Dawud, di-shahih-kan oleh Syaikh Albani).

Jaminan siapa yang lebih dapat dipercaya daripada jaminan dari Allah?

Orang yang berangkat untuk shalat sama dengan menunaikan shalat sampai
dia kembali

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ ثهلم لخلرلج لعاَظمعدا إظللىَ اوللموسظجظد فللل يهلشبللكلن يللدويظه فلإ ظنلهه ظفيِ ل‬،‫ضولءهه‬
‫صللةة‬ ‫ضأ ل أللحهدهكوم فلأ لوحلسلن هو ه‬
‫إظلذا تللو ل‬

”Jika salah seorang dari kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya,


kemudian berangkat ke masjid, maka janganlah menyilangkan jari-
jemarinya karena sesungguhnya dia dalam keadaan shalat.” (HR. Abu
Dawud, dan di-shahih-kan oleh Syaikh Albani)

Kabar gembira dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat bagi
orang-orang yang berjalan ke masjid dalam kegelapan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ظللظم إظللىَ اوللملساَظجظد ظباَللنوظر اللتاَلم يلوولم اولقظلياَلمظة‬


‫بللشظر اوللملشاَظئيلن ظفيِ ال ل‬

8
”Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan ke masjid dalam
kegelapan dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat.” (HR. Abu
Dawud dan Tirmidzi, di-shahih-kan oleh Syaikh Albani).

Cahaya yang sangat terang pada hari kiamat itu mengisyaratkan cahaya
wajah kaum mukminin di hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,

َ‫هنوهرههوم يلوسلعىَ بلويلن ألويظديظهوم لوبظأ لويلماَنظظهوم يلهقوهلولن لربللناَ ألوتظموم لللناَ هنولرلنا‬

”Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,


mereka sambil mengatakan, ’Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami
cahaya kami.’” (QS. At-Tahrim : 8)

Kabar gembira apa yang lebih membahagiakan daripada kabar gembira ini?

Allah menyediakan jamuan dari surga bagi orang yang berangkat ke masjid
pada pagi dan sore hari. Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda,

‫اه للهه نههزللهه ظملن اللجنلظة هكلللماَ لغلدا ألوو لرالح‬


‫ِ أللعلد ل‬،‫لمون لغلدا إظللىَ اللموسظجظد لولرالح‬

”Barangsiapa yang pergi ke masjid pada pagi atau sore hari, maka Allah
akan menyediakan an-nuzul (jamuan) dari surga untuknya setiap kali dia
pergi pada pagi dan sore hari.” (Muttafaq ‘alaih)

Yang dimaksud dengan “an-nuzul” adalah jamuan yang disediakan pada


saat kedatangan tamu atau yang lainnya. Bagaimana lagi dengan jamuan
yang disediakan oleh Allah Ta’ala?

9
Allah Ta’ala bergembira karena kehadiran hamba-Nya di masjid untuk
menunaikan shalat di dalamnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ش ل‬
‫اه إظللويظه‬ ‫ِ إظلل تلبلوشبل ل‬،‫صللةل ظفيظه‬ ‫ِ ثهلم يلأوظتيِ اوللموسظجلد لل يهظريهد إظلل ال ل‬،‫ضولءهه لويهوسبظهغهه‬
‫ضأ ه أللحهدهكوم فليهوحظسهن هو ه‬
‫لل يلتللو ل‬
‫ب بظطلوللعتظظه‬
‫ش ألوههل اوللغاَئظ ظ‬‫لكلماَ يلتلبلوشبل ه‬

”Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dengan bagus dan


sempurna, kemudian mendatangi masjid tanpa maksud lain selain shalat,
kecuali Allah akan berseri-seri wajah-Nya sebagaimana gembiranya
seseorang ketika menemukan kembali saudaranya yang pulang dari
bepergian.” (HR. Ibnu Khuzaimah di dalam Shahih-nya, dan di-shahih-kan
oleh Syaikh Albani)

Imam Ibnul Atsir rahimahullah berkata, ”Yang dimaksud berseri-seri adalah


kegembiraan dan sambutan seseorang dengan sahabatnya.”

Keutamaan menunggu untuk shalat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ اللههلم اورلحومهه‬،‫ اللههلم اوغفظور للهه‬:‫ِ تلودهعو للهه اوللمللئظلكهة‬،‫ث‬


‫ِ لماَ للوم يهوحظد و‬،‫صللةة‬ ‫أللحهدهكوم لماَ قللعلد يلونتلظظهر ال ل‬
‫ِ ظفيِ ل‬،‫صلللة‬

”Salah seorang di antara kalian yang duduk untuk menunggu shalat, maka
dia dalam keadaan shalat selama tidak berhadats. Malaikat mendoakannya,
’Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia.’” (HR. Muslim)

10
Keutamaan shaf pertama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ ثهلم للوم يلظجهدوا إظلل ألون يلوستلظههموا لعللويظه للوستلهلهموا‬،‫ف الللوظل‬ ‫للوو يلوعللهم اللناَ ه‬
‫س لماَ ظفيِ النللداظء لوال ل‬
‫ص ل‬

”Seandainya orang-orang mengetahui keutamaan yang ada di balik adzan


dan shaf pertama dan mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan
mengadakan undian, niscaya mereka akan mengadakan undian.” (HR.
Bukhari)

Tidak adanya penjelasan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


menunjukkan bahwa keutamaannya tidak bisa dibayangkan. Dan tidak ada
perlombaan kecuali untuk memperebutkan sesuatu yang layak
diperebutkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ف اوللمللئظلكظة لوللوو لعلظومتهوم لماَ فل ظ‬


‫ضيللتههه للوبتللدورتههموهه‬ ‫ف اولللولل لعللىَ ظموثظل ل‬
‫ص ل‬ ‫ص ل‬
‫لوإظلن ال ل‬

”Sesungguhnya shaf pertama itu seperti shaf malaikat. Seandainya kalian


mengetahui keutamaannya, niscaya kalian akan saling memperebutkannya.“
(HR. Abu Dawud)

Syaikh Ahmad Albana berkata, ”Yang dimaksud dengan seperti shaf


malaikat adalah dekat dengan Allah Ta’ala dan mendapat curahan rahmat.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ف اولهلوظل‬ ‫صللولن لعللىَ ال ل‬


‫صهفو ظ‬ ‫إظلن ل‬
‫ال لولمللئظلكتلهه يه ل‬
11
”Sesungguhnya Allah Ta’ala dan malaikat-Nya bershalawat untuk orang-
orang yang berada di shaf pertama.” (HR. Abu Dawud, di-shahih-kan oleh
Syaikh Albani)

Di antara yang dimaksud dengan shalawat Allah kepada mereka adalah


sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Ashfahani rahimahullah adalah
Allah menyucikan mereka. Adapun yang dimaksud dengan shalawat
malaikat adalah doa dan dimohonkan ampun. Betapa bahagia seseorang
yang dipuji oleh Allah dan didoakan serta dimintakan ampun oleh para
malaikat.

An-Nasa’i rahimahullah meriwayatkan dari ‘Irbadh bin Sariyah


radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

‫ف اولللوظل ثلللعثاَ لولعللىَ اللثاَظنيِ لواظحلدةع‬ ‫صلليِ لعللىَ ال ل‬


‫ص ل‬ ‫لكاَلن يه ل‬

”Rasulullah bershalawat untuk orang-orang yang berada di shaf pertama


sebanyak tiga kali dan untuk orang-orang yang berada di shaf kedua
sebanyak satu kali.” (HR. An-Nasa’i, dan di-shahih-kan oleh Syaikh
Albani).

As-Sindi rahimahullah berkata, ”Maksudnya Nabi mendoakan mereka


dengan rahmat dan memohonkan ampun untuknya.”

Keutamaan shaf di sebelah kanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

12
‫صللولن لعللىَ لملياَظمظن ال ل‬
‫صهفو ظ‬
‫ف‬ ‫إظلن ل‬
‫ال لولمللئظلكتلهه يه ل‬

”Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-


orang yang berada di shaf sebelah kanan.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad
hasan)

Keutamaan menyambung shaf dan memenuhi shaf yang masih renggang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫اه لعلز لولجلل‬ ‫ص فعفاَ قل ل‬


‫طلعهه ل‬ ‫ِ لولمون قل ل‬،‫ا‬
‫طلع ل‬ ‫ص فعفاَ لو ل‬
‫صللهه ل ه‬ ‫لمون لو ل‬
‫صلل ل‬

”Barangsiapa yang menyambung shaf, maka Allah akan menyambungnya.


Barangsiapa memutus shaf, maka Allah akan memutusnya.” (HR. An-
Nasa’i dan Abu Dawud, di-shahih-kan oleh Syaikh Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ظججلم ألوجججعرا ظمججون هخ و‬


َ‫طججلوةة لملشججاَلهاَ لرهجججةل إظللججى‬ ‫طىَ لعوبةد هخ و‬
‫طجلوةع ألوع ل‬ ‫ِ لولماَ تللخ ل‬،‫صللظة‬
‫ظخلياَهرهكوم ألوليلنههكوم لملناَظكعباَ ظفيِ ال ل‬
َ‫ف فللسلدلها‬ ‫ص ل‬ ‫فهورلجةة ظفيِ ال ل‬

”Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling mudah diatur untuk
menata shaf. Tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya daripada
langkah seorang menuju shaf yang masih renggang, kemudian dia
menutupinya.” (HR. Thabrani, di-hasan-kan oleh Syaikh Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ لوبللنىَ للهه بلويعتاَ ظفيِ اوللجنلظة‬،‫اه بظلهاَ لدلرلجعة‬


‫ف لرفللعهه ل‬ ‫لمون لسلد فهورلجةع ظفيِ ل‬
‫ص ف‬

13
”Barangsiapa yang menutupi shaf yang renggang, maka Allah akan
meninggikannya satu derajat dan akan membangun sebuah rumah di surga
untuknya.” (HR. Thabrani, di-shahih-kan oleh Syaikh Albani)

Di mana lagi keutamaan ini bisa didapatkan kecuali di dalam masjid?

[Bersambung]

Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah (Bag.3)

Keutamaan Shalat Jamaah (Lanjutan)

Keutamaan-keutamaan shalat berjamaah lainnya adalah:

Sesungguhnya Allah menjamin bagi orang-orang yang mendatangi masjid


dengan kegembiraan, rahmat, dan kemudahan melintasi shirath

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ لواوللجججلوالز‬،‫ِ لواللروحلمجلة‬،‫ضظملن اه لعلز لولجلل لظلمون لكاَلن اوللملسجاَظجهد بههيجوتلهه الجلروولح‬ ‫اوللموسظجهد بلوي ه‬
‫ِ لوقلود ل‬،ِ‫ت هكلل تلقظفي‬
‫لعللىَ ال ل‬
‫صلراظط‬

”Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertakwa. Dan Allah
menjamin orang-orang yang menjadikan masjid sebagai rumahnya dengan
kegembiraan, rahmat, dan kemudahan melintasi shirath.” (HR. Thabrani
14
dan Al-Bazaar. Al-Bazaar berkata, ”Sanadnya hasan”. Al-Mundziri berkata
sebagaimana perkataan Haitsami, ”Perawi hadits yang diriwayatkan oleh
Al-Bazaar semuanya adalah perawi yang digunakan dalam kitab shahih”.
Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Albani)

Keutamaan mengucapkan “Aamiin” bersama imam

Di antara keutamaan shalat jamaah adalah penjelasan Rasulullah shallallahu


‘alaihi wa sallam tentang keutamaan seorang makmum yang mengucapkan
“Aamiin” bersama-sama dengan imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,

:‫ آظميلن؛َ فلإ ظلن اوللمللئظلكججةل تلقهججوهل‬:‫[ فلهقوهلوا‬7 :‫ضاَلليلن{َ ]الفاَتحة‬ ‫ب لعللويظهوم لولل ال ل‬‫ضو ظ‬ ‫إظلذا لقاَلل ا و ظللماَهم }لغويظر اوللموغ ه‬
‫ق تلأوظمينههه تلأوظميلن اوللمللئظلكةل هغفظلر للهه لماَ تلقللدلم ظمون لذونبظظه‬
‫ِ فللمون لوافل ل‬،‫ آظميلن‬:‫ِ لوإظلن ا و ظللماَهم يلهقوهل‬،‫آظميلن‬

”Jika imam berkata, ’Bukan (jalan) orang-orang dimurkai (Yahudi) dan


bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)’ (QS. Al-Fatihah : 7); maka
katakanlah, ’Aamiin’, karena sesungguhnya para malaikat juga berkata,
’Aamiin’, dan imam juga mengatakan, ’Aamiin’. Barangsiapa yang
mengucapkan amin bersamaan dengan para malaikat, maka dosanya yang
telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i. Lafadz
hadits ini merupakan riwayat An-Nasa’i)

Dalam sebagian riwayat Muslim,

‫ِ يهظجوبهكهم اه‬،‫ آظميلن‬:‫ِ فلهقوهلوا‬، [7 :‫ضاَلليلن{َ ]الفاَتحة‬


‫ب لعللويظهوم لولل ال ل‬ ‫لوإظوذ لقاَلل }لغويظر اوللموغ ه‬
‫ضو ظ‬

”Jika imam mengatakan, ’Bukan (jalan) orang-orang dimurkai (Yahudi) dan


bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)’ (QS. Al-Fatihah : 7) maka
15
katakanlah, ’Aamiin’ niscaya Allah akan mengabulkan doa kalian.”

Shalat jamaah adalah sebab dosa diampuni

Dalil hal tersebut adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‫س ألوو لمججلع اوللجلماَلعججظة‬ ‫ِ فل ل‬،‫صللظة اوللموكهتوبلظة‬


‫صلللهاَ لملع اللناَ ظ‬ ‫صللظة فلأ لوسبللغ اولهو ه‬
‫ِ ثهلم لملشىَ إظللىَ ال ل‬،‫ضولء‬ ‫ضأ ل ظلل ل‬
‫لمون تللو ل‬
‫ألوو ظفيِ اوللموسظجظد لغفللر اه للهه هذهنوبلهه‬

”Barangsiapa yang berwudhu untuk shalat dengan menyempurnakan


wudhu, kemudian berjalan untuk menunaikan shalat wajib, dan shalat
bersama manusia atau bersama jamaah atau di masjid, maka Allah akan
mengampuni dosanya.” (HR. Muslim)

Keutamaan shalat jamaah dibandingkan dengan shalat sendirian

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫صللةل الفللذ بظلسوبةع لوظعوشظريلن لدلرلجةع‬ ‫صللةه اللجلماَلعظة تلوف ه‬


‫ضهل ل‬ ‫ل‬

”Shalat jamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan shalat
sendirian.” (HR. Bukhari)

Dengan shalat jamaah, pelakunya akan mendapatkan penjagaan dari setan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ لولعللويهكججوم‬،‫ب‬ ‫ِ يلأوهخججهذ اللشججاَةل اوللقاَ ظ‬،‫ب اوللغنلججظم‬


‫ِ فلإ ظيلججاَهكوم لواللشججلعاَ ل‬،‫صججيلةل لواللناَظحيلججلة‬ ‫ب ا و ظلونلسججاَظن لكججظذوئ ظ‬
‫طاَلن ظذوئجج ه‬
‫إظلن اللشوي ل‬
‫ظباَوللجلماَلعظة لواوللعاَلمظة لواوللموسظجظد‬
16
”Sesungguhnya setan itu serigala bagi manusia seperti serigala pemangsa
kambing. Dia akan memangsa kambing yang sendirian dan terpisah (dari
kawanannya). Janganlah menyendiri bahkan kalian wajib untuk bergabung
bersama jamaah, bersama orang banyak, dan masjid.” (HR. Ahmad, dengan
sanad jayyid)

Keutamaan shalat jamaah bertambah dengan bertambah banyaknya jumlah


orang yang shalat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫صللتههه لمججلع اللرهجللويججظن ألوزلكججىَ ظمججون ل‬


‫صججللتظظه لمججلع‬ ‫صللةل اللرهجظل لملع اللرهجظل ألوزلكىَ ظمون ل‬
‫ِ لو ل‬،‫صللتظظه لووحلدهه‬ ‫لوإظلن ل‬
‫ِ لولماَ لكثهلر فلههلو أللح ل‬،‫اللرهجظل‬
‫ب إظللىَ ل‬
َ‫اظ تللعاَللى‬

”Sesungguhnya shalat seorang lelaki bersama satu orang lelaki lebih baik
daripada shalat sendirian. Shalatnya bersama dua orang lelaki lebih baik
daripada shalat bersama seorang lelaki. Makin banyak itu makin dicintai
oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Barangsiapa yang shalat jamaah ikhlas karena Allah selama 40 hari dan
selalu mendapatkan takbir pertama bersama imam, akan terbebas dari dua
perkara

Rasulullah shallallahu ;alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ لوبللرالءةة‬،‫ بللرالءةة ظملن اللناَظر‬:‫ب للهه بللرالءلتاَظن‬ ‫ك التلوكظبيلرةل ا ه‬


‫لوللىَ هكتظ ل‬ ‫صللىَ ظللظ ألوربلظعيلن يلووعماَ ظفيِ لجلماَلعةة يهودظر ه‬
‫لمون ل‬
‫ظملن النللفاَ ظ‬
‫ق‬

17
”Barangsiapa yang shalat berjamaah selama 40 hari dan selalu mendapati
takbir pertama, maka dia akan terbebas dari dua perkara, (yaitu) terbebas
dari neraka dan terbebas dari nifak.” (HR. Tirmidzi, di-hasan-kan oleh
Syaikh Albani)

Keutamaan shalat shubuh, ashar, dan isya’ berjamaah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ لللتلووههلماَ لوللوو لحوبعوا‬،‫ح‬ ‫لوللوو يلوعللهمولن لماَ ظفيِ اللعتللمظة لوال ل‬


‫صوب ظ‬

”Seandainya orang-orang mengetahui keutamaan yang terdapat dalam


shalat isya dan subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun
dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫صللىَ اولظعلشاَلء لواولفلوجلر ظفيِ لجلماَلعةة لكججاَلن لكقظليججاَظم‬


‫ِ لولمون ل‬،‫ف للويللةة‬ ‫صللىَ اولظعلشاَلء ظفيِ لجلماَلعةة لكاَلن لكقظلياَظم نظ و‬
‫ص ظ‬ ‫لمون ل‬
‫للويللةة‬

”Barangsiapa yang melaksanakan shalat isya berjamaah, maka seperti shalat


setengah malam. Barangsiapa yang shalat isya dan subuh berjamaah, maka
seperti shalat sepanjang malam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmizi, di-shahih-
kan oleh Syaikh Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫صللتههه يلوولمئظةذ‬ ‫صللليِ اولفلوجلر هكتظبل و‬


‫ت ل‬ ‫ِ ثهلم لجلل ل‬،‫صللىَ لروكلعتلويظن قلوبلل اولفلوجظر‬
‫س لحلتىَ يه ل‬ ‫ِ ثهلم أللتىَ اوللموسظجلد فل ل‬،‫ضلأ‬
‫لمون تللو ل‬
18
‫ِ لوهكتظ ل‬،‫صللظة اوللوبلراظر‬
‫ب ظفيِ لووفظد اللروحلمظن‬ ‫ظفيِ ل‬

”Barangsiapa yang berwudhu kemudian datang ke masjid dan mengerjakan


shalat dua rakaat sebelum shalat subuh, kemudian duduk sampai
melaksanakan shalat subuh, maka shalatnya pada hari itu dicatat sebagai
shalat orang-orang yang bertakwa dan tercatat sebagai tamu-tamu Allah.”
(HR. Thabrani, di-hasan-kan oleh Syaikh Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫اظ أللكبلهه ل‬
‫اه لعللىَ لووجظهظه ظفيِ اللناَظر‬ ‫ِ فللمون ألوخفللر ظذلمةل ل‬،‫ا‬
‫صوبلح فيِ جماَعة فلههلو ظفيِ ظذلمظة ل ظ‬
‫صللىَ ال ل‬
‫لمون ل‬

”Barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh berjamaah, maka dia berada


dalam jaminan Allah. Barangsiapa yang tidak memenuhi jaminan Allah,
niscaya Allah akan menelungkupkan wajahnya di neraka.” (HR. Thabrani,
dan perawinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shahih)

Syaikh Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa makna ”maka dia


berada dalam jaminan Allah” adalah “berada dalam perjanjian dan amanah-
Nya di dunia dan di akhirat”.

Adapun makna “maka barangsiapa yang tidak memenuhi jaminan Allah,


niscaya Allah akan menelungkupkan wajahnya di neraka”, para ulama
menyebutkan dua makna:

Makna pertama, maksudnya adalah jangan tinggalkan shalat subuh


berjamaah dan jangan pula menyepelekannya, sehingga kalian melanggar
perjanjian antara kalian dan Rabb kalian. Maka Allah akan
menelungkupkan wajah kalian di neraka.
19
Makna kedua, barangsiapa yang shalat subuh, dia berada dalam jaminan
Allah, maka janganlah kalian mengganggunya sedikit pun. Jika kalian
mengganggunya, maka Allah akan menelungkupkan wajah kalian di neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ت للهه لكأ لوجظر لحلجةة‬


‫صللىَ لروكلعتلويظن لكاَنل و‬
‫ِ ثهلم ل‬،‫س‬ ‫ال لحلتىَ تل و‬
‫طلهلع اللشوم ه‬ ‫صللىَ اللغلداةل ظفيِ لجلماَلعةة ثهلم قللعلد يلوذهكهر ل‬
‫لمون ل‬
‫لوهعوملرةة لتاَلمةة لتاَلمةة لتاَلمةة‬

”Barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh berjamaah, kemudian duduk


berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melaksanakan
shalat dua rakaat, maka baginya pahala sebagaimana pahala haji dan umrah
yang sempurna, sempurna, dan sempurna.” (HR. Tirmizi, di-hasan-kan oleh
Syaikh Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ ثهججلم يلوعججهرهج‬،‫صججظر‬
‫صللظة اللع و‬ ‫صللظة الفلوجظر لو ل‬ ‫ِ لويلوجتلظمهعولن ظفيِ ل‬،‫يلتللعاَقلهبولن ظفيهكوم لمللئظلكةة ظباَلللويظل لولمللئظلكةة ظباَلنللهاَظر‬
ِ،‫صججللولن‬ ‫ لكويجج ل‬:‫ِ فليلوسججأ للهههوم لوههججلو ألوعللججهم بظظهججوم‬،‫اللظذيلن لباَهتوا ظفيهكوم‬
‫ تللروكنلججاَههوم لوههججوم يه ل‬:‫ف تللروكتهججوم ظعبلججاَظدي؟ِ فليلهقولهججولن‬
‫لوألتلويلناَههوم لوههوم يه ل‬
‫صللولن‬

”Malaikat saling bergiliran bersama kalian, yaitu malaikat di waktu malam


dan siang. Mereka berkumpul ketika shalat subuh dan shalat ashar. Malaikat
yang bersama kalian di waktu malam kemudian naik, dan ditanya oleh
Rabb mereka, padahal Dia lebih tahu, ’Bagaimana keadaan hamba-Ku pada
waktu kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ’Kami meninggalkan
mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan
20
shalat.’” (HR. Bukhari dan Muslim, serta Ibnu Khuzaimah dengan disertai
tambahan).

Ibnu Khuzaimah menambahkan dalam riwayatnya,

‫ِ لفاَوغفظور للههوم يلوولم اللديظن‬،‫صللولن‬ ‫ ألتلويلناَههوم لوههوم يه ل‬:‫فليلهقوهلولن‬


‫صللولن لوتللروكلناَههوم لوههوم يه ل‬

”Para malaikat menjawab, ’Kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat,


dan kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat.’ Maka Allah pasti
akan mengampuni mereka pada hari kiamat.” (Di-shahih-kan oleh Syaikh
Albani)

Keutamaan shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫صججللةة فظججيِ اوللموسججظجظد اوللحججلراظم‬


‫صللةة ظفيلماَ ظسلواهه إظلل اوللموسججظجلد اوللحججلرالم لو ل‬ ‫ضهل ظمون ألول ظ‬
‫ف ل‬ ‫صللةة ظفيِ لموسظجظدي ألوف ل‬
‫ل‬
‫صللةة ظفيلماَ ظسلواهه‬ ‫ف ل‬ ‫و‬ ‫ل‬
‫ضهل ظمون ظماَئلظة أل ظ‬‫أوف ل‬‫ل‬

”Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat
di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram. Sedangkan shalat di Masjidil
Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.” (HR.
Ahmad dan Ibnu Majah, di-shahih-kan oleh Syaikh Albani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫صلللهاَ ظفيِ فلللةة فلأ لتللم هرهكولعهلججاَ لوهسججهجولدلهاَ بللللغجج و‬


‫ت‬ ‫صللةه ظفيِ لجلماَلعةة تلوعظدهل لخومعساَ لوظعوشظريلن ل‬
‫ِ فلإ ظلذا ل‬،‫صللعة‬ ‫ال ل‬
‫صللةع‬
‫لخومظسيلن ل‬
21
”Shalat berjamaah itu sama dengan shalat sebanyak 25 kali. Jika shalat di
tengah padang pasir dengan menyempurnakan ruku’ dan sujud, maka itu
sebanding dengan shalat sebanyak 50 kali.” (HR. Abu Dawud)

Asy-Syaukani rahimahullah berkata,

”Jika shalat berjamaah dilipatgandakan sebanyak dua puluh tujuh kali,


maka shalat di tanah lapang sama dengan 1350 shalat. Hal ini jika shalat di
tanah lapang itu dilakukan sendirian. Jika shalatnya dengan berjamaah
maka bilangan yang telah disebutkan akan dilipatgandakan sebanyak
pelipatgandaan shalat jamaah atas shalat sendirian. Dan karunia Allah itu
sangat luas.” (Nailul Authar)

Allah membanggakan orang-orang yang melaksanakan shalat jamaah di


depan para malaikat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ اون ه‬:‫ِ يلهقجوهل‬،‫ِ يهلباَظهيِ بظهكهم اوللمللئظلكلة‬،‫ب اللسلماَظء‬


‫ظجهروا إظللجىَ ظعبلججاَظدي قلججود‬ ‫ِ هللذا لرلبهكوم قلود فلتللح لباَعباَ ظمون ألوبلوا ظ‬،‫ألوبظشهروا‬
َ‫ِ لوههوم يلونتلظظهرولن أهوخلرى‬،‫ضعة‬ ‫ضووا فلظري ل‬ ‫قل ل‬

”Bergembiralah. Rabb kalian telah membuka salah satu pintu langit seraya
membanggakan kalian di hadapan para malaikat dan berkata,’Lihatlah
hamba-Ku, mereka yang telah melaksanakan shalat wajib dan mereka
menunggu shalat wajiban berikutnya.” (HR. Ibnu Majah. Mundziri berkata,
”Perawinya dapat dipercaya”. Di-shahih-kan oleh Syaikh Albani)

22
Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah (Bag. 4)

Dalil-Dalil tentang Kewajiban Shalat Berjamaah

Setelah mengetahui berbagai keutamaan shalat berjamaah, bisa jadi


seseorang menganggapnya hanya sekedar sunnah. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini akan disebutkan rincian dalil yang menunjukkan bahwa
shalat berjamaah di masjid hukumnya wajib bagi kaum lelaki.

Perintah Allah Ta’ala untuk ruku’ bersama-sama dengan orang yang ruku’

Allah Ta’ala berfirman,

‫لوألظقيهموا ال ل‬
‫صللةل لوآهتوا اللزلكاَةل لواورلكهعوا لملع اللراظكظعيلن‬

”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-


orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah : 43)

Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan


”ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’” adalah “shalatlah bersama-
sama dengan orang-orang yang shalat” (yaitu dengan berjamaah, pent.).

Al-Qadhi Al-Baidhawi rahimahullah berkata, ”Maksudnya adalah dengan


shalat berjamaah.”

Perintah untuk shalat jamaah dalam keadaan tidak aman

Allah Ta’ala berfirman,

23
‫ك لووليلأوهخهذوا ألوسلظلحتلههوم فلإ ظلذا لسججلجهدوا فلوليلهكونهججوا ظمججون‬ ‫صللةل فلولتلقهوم ل‬
‫طاَئظفلةة ظمونههوم لملع ل‬ ‫ت للهههم ال ل‬ ‫ت ظفيظهوم فلأ لقلوم ل‬ ‫لوإظلذا هكون ل‬
‫ك لووليلأوهخهذوا ظحوذلرههوم لوألوسججلظلحتلههوم لولد اللججظذيلن لكفلججهروا للججوو‬
‫صللوا لملع ل‬ ‫صللوا فلوليه ل‬ ‫طاَئظفلةة أهوخلرىَ للوم يه ل‬
‫ت ل‬ ‫لولرائظهكوم لوولتلأو ظ‬
‫طججةر‬ ‫تلوغفههلولن لعون ألوسلظلحتظهكوم لوألومتظلعتظهكوم فليلظميهلولن لعللويهكوم لمويللةع لواظحلدةع لولل هجلناَلح لعللويهكوم إظون لكاَلن بظهكوم ألعذىَ ظمججون لم ل‬
َ‫ال أللعلد لظوللكاَفظظريلن لعلذاعباَ همظهيعنا‬
‫ضهعوا ألوسلظلحتلهكوم لوهخهذوا ظحوذلرهكوم إظلن ل‬ ‫ضىَ ألون تل ل‬ ‫ألوو هكونتهوم لمور ل‬

”Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu


hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah
segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata,
kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah
menyempurnakan satu raka’at), maka hendaklah mereka pindah dari
belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan
yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka bersamamu dan
hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang
kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu
mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan
senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan
atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya
Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir
itu.” (QS. An-Nisaa’ : 102)

Jika Allah memerintahkan shalat jamaah dalam keadaan ketakutan (yaitu


ketika berperang, pent.), maka lebih-lebih lagi dalam keadaan aman.

Ibnul Munzir rahimahullah berkata, ”Ketika Allah Ta’ala memerintahkan


shalat berjamaah dalam keadaan ketakutan, maka hal itu menunjukkan
bahwa hal itu lebih wajib lagi ketika dalam keadaan aman.”

24
Larangan untuk keluar dari masjid setelah adzan dikumandangkan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ ثهلم لل يلورظجهع إظللويظه إظلل هملناَفظ ة‬،‫ِ إظلل لظلحاَلجةة‬،‫لل يلوسلمهع النللدالء ظفيِ لموسظجظدي هللذا ثهلم يلوخهرهج ظمونهه‬
‫ق‬

”Tidaklah seseorang mendengar azan di masjidku ini kemudian keluar dari


masjid karena ada keperluan dan tidak kembali, kecuali seorang munafik.”
(Al-Haitsami berkata tentang hadits ini, ”Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-
Thabrani dalam kitab Al-Ausath, dan para perawinya adalah para perawi
yang digunakan dalam kitab shahih.)

Tidak adanya keringanan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk


meninggalkan shalat jamaah

Terdapat dalam banyak hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam tidak memberikan keringanan bagi ‘Abdullah bin Ummi Maktum
radhiyallahu ‘anhu untuk meninggalkan shalat jamaah meskipun terdapat
halangan-halangan berikut ini:

Buta.

Tidak adanya seseorang yang menuntunnya ke masjid.

Rumahnya jauh dari masjid.

Terdapat kebun kurma antara rumahnya dan masjid.

Terdapat banyak binatang buas dan binatang pengganggu lain di Madinah.

25
Umurnya yang sudah tua dan tulang-tulangnya tidak lagi sekuat dulu ketika
muda.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu


Dawud dari ‘Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu. Beliau
bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau
radhiyallahu ‘anhu berkata,

‫صججةة ألون أه ل‬
ِ‫صججلللي‬ ‫ضظريهر اولبل ل‬
‫ِ لوظليِ لقاَئظةد لل يهللئظهمظنيِ فلهلول لظججيِ هروخ ل‬،‫صظر لشاَظسهع اللداظر‬ ‫لياَ لرهسولل ل ظ‬
‫ِ إظلنيِ لرهجةل ل‬،‫ا‬
ِ‫ظفيِ بلويظتيِ؟‬

”Wahai Rasulullah, sesunguhnya aku adalah seorang yang buta, rumahku


jauh dari masjid, dan penuntunku itu tidak cocok denganku, maka apakah
aku mempunyai keringanan untuk shalat di rumah saja?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

‫هلول تلوسلمهع النللدالء‬

”Apakah engkau mendengar adzan?”

‘Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu anhu menjawab, ”Ya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫صةع‬ ‫لل ألظجهد لل ل‬


‫ك هروخ ل‬

”Aku tidak mendapatkan keringanan bagimu.” (HR. Abu Dawud dengan


sanad yang sahih)

26
Dalam hadits yang lain dari ‘Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu
‘anhu, beliau berkata,

‫ِ إظلن اوللمظدينلةل لكظثيلرةه اولهللوالم لواللسلباَ ظ‬،‫ا‬


‫ع‬ ‫لياَ لرهسولل ل ظ‬

”Wahai Rasulullah, sesungguhnya terdapat banyak binatang buas dan


binatang pengganggu di kota Madinah.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫يِ هلعل‬ ‫يِ لعللىَ اولفللل ظ‬


‫ح؟ِ فللح ل‬ ‫ألتلوسلمهع لح ل‬
‫يِ لعللىَ ال ل‬
‫ِ لح ل‬،‫صللظة‬

”Bukankah engkau mendengar ‘hayya ‘ala shalaat, hayya ‘alal falaah’?


(suara adzan, pent.) Maka segeralah datang!” (HR. Abu Dawud, di-shahih-
kan oleh Adz-Dzahabi)

Jika orang yang memiliki enam halangan ini saja tidak mendapat
keringanan (untuk meninggalkan shalat jamaah di masjid, pent.), maka
bagaimana lagi dengan orang yang terbebas dari halangan-halangan
tersebut?

Orang yang meninggalkan shalat jamaah tanpa ada uzur, maka shalatnya
tidak sempurna

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ فللل ل‬،‫لمون لسظملع النللدالء فلللوم يلأوتظظه‬


‫ِ إظلل ظمون هعوذةر‬،‫صللةل للهه‬

”Barangsiapa yang mendengar adzan kemudian tidak mendatanginya, maka


tidak ada shalat baginya kecuali bagi orang-orang yang mempunyai udzur.”
27
(HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata,

‫ل صلة لجاَر المسجد إل فيِ المسجد‬

”Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali jika melaksanakan shalat di
dalam masjid.”

Ditanyakan kepada beliau, ”Wahai amirul mukminin, siapakah tetangga


masjid itu?”

Beliau radhiyallahu ‘anhu menjawab,

‫من سمع النداء‬

”Yaitu orang-orang yang mendengar adzan.”

Meninggalkan shalat jamaah termasuk tanda-tanda kemunafikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫إظلن لظولهمنلججاَفظظقيلن لعلللمججاَ ة‬


‫ِ لولل يلوقلرهبجولن‬،‫ِ لولغظنيلمتهههججوم هغهلجوةل‬،‫ِ لوطللعججاَهمههوم نهوهبلججةة‬،‫ تلظحيلتهههججوم للوعنلججةة‬:َ‫ت يهوعلرفهججولن بظهلججا‬
‫ِ هخهشجج ة‬،‫ِ لل ليجأوللهفولن لولل يهوؤللهفجولن‬،‫ِ هموسججتلوكبظظريلن‬،‫صججللةل إظلل لدوبججعرا‬
ِ،‫ب ظباَلللويججظل‬ ‫ِ لولل يلججأوهتولن ال ل‬،‫اوللملساَظجلد إظلل هلوجعرا‬
‫ب ظباَلنللهاَظر‬
‫صهخ ة‬
‫ه‬

”Sesungguhnya orang-orang munafik itu memiliki beberapa tanda.


Penghormatan mereka adalah laknat, makanan mereka berasal dari hasil
rampasan, dan ghanimah (harta rampasan perang) mereka berasal dari
pengkhianatan. Mereka menjauhi masjid. Serta tidaklah mereka

28
menunaikan shalat melainkan di akhir waktu karena penuh rasa sombong.
Hati mereka tidak melunak dan tidak bisa dibuat lunak. Tidur di malam hari
dan berteriak-teriak di siang hari.” (HR. Ahmad. Syaikh Ahmad Syakir
berkata,”Sanadnya hasan”)

Yang dimaksud dengan “tidur di malam hari” (khusyubun bil lail) adalah
adalah tidur dan tidak mengerjakan shalat di malam hari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ لوللوو يلوعللهمولن لماَ ظفيظهلماَ لللتلووههلماَ لوللوو لحوبعوا‬،‫صللةة ألوثقللل لعللىَ الهملناَفظظقيلن ظملن الفلوجظر لوالظعلشاَظء‬ ‫للوي ل‬
‫س ل‬

”Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik melebihi shalat
subuh dan isya’. Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang terdapat
dalam kedua shalat tersebut, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun
dengan merangkak.” (HR. Bukhari)

Setan akan menguasai suatu kampung yang tidak ditegakkan shalat jamaah
di dalamnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ك ظباَوللجلماَلعججظة‬ ‫صللةه إظلل قلججظد اوسججتلوحلولذ لعللويظهججهم اللشججوي ل‬


‫ِ فللعللويجج ل‬،‫طاَهن‬ ‫لماَ ظمون ثلللثلةة ظفيِ قلوريلةة لولل بلودةو لل تهلقاَهم ظفيظههم ال ل‬
‫صيلةل‬ ‫ب اوللقاَ ظ‬ ‫فلإ ظنللماَ يلأوهكهل اللذوئ ه‬

”Tidaklah ada tiga orang yang berada di suatu kampung atau pedalaman
yang shalat berjamaah tidak ditegakkan di dalamnya, kecuali setan akan
menguasai mereka. Maka hendaklah kalian senantiasa melaksanakan shalat
berjamaah karena serigala itu hanya memakan kambing yang sendirian.”

29
(HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Akibat yang buruk bagi orang yang meninggalkan shalat jamaah

Termasuk yang menunjukkan wajibnya shalat jamaah adalah firman Allah


Ta’ala,

‫ق لويهودلعوولن إظللىَ اللسهجوظد فللل يلوستلظطيهعولن لخاَظشججلعةع ألوب ل‬


‫صججاَهرههوم تلورهلقهههججوم ظذللججةة لوقلججود لكججاَهنوا‬ ‫يلوولم يهوكلش ه‬
‫ف لعون لساَ ة‬
‫يهودلعوولن إظللىَ اللسهجوظد لوههوم لساَلظهمولن‬

”Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka
mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah,
lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia)
diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. Al-
Qalam : 42-43)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata ketika menafsirkan ayat ini,


”Mereka adalah orang-orang yang mendengar adzan untuk shalat, namun
mereka tidak memenuhi panggilannya.”

Ka’ab Al-Ahbaar radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Demi Allah, tidaklah ayat ini
diturunkan kecuali tentang orang-orang yang meningalkan shalat jamaah.”

Ancaman berupa kemurkaan dari Allah karena meninggalkan shalat jamaah

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ ثهلم لليلهكونهلن ظملن اوللغاَفظظليلن‬،‫اه لعللىَ قههلوبظظهوم‬


‫ِ ألوو لليلوختظلملن ل‬،‫ت‬
‫لليلونتلظهيللن ألوقلواةم لعون لوودظعظههم اوللجلماَلعاَ ظ‬
30
”Hendaklah orang-orang itu menghentikan tindakan mereka meninggalkan
shalat jamaah. Atau Allah akan mengunci mati hati-hati mereka kemudian
mereka akan termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang lalai.” (HR.
Ibnu Majah. Di-shahih-kan oleh Syaikh Albani)

Dan tidaklah diancam dengan ancaman tersebut kecuali karena


meninggalkan kewajiban.

Keinginan Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk membakar rumah orang-


orang yang meninggalkan shalat jamaah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ِ فلأ هلحلر ل‬،‫ِ ثهلم آهخلذ هشلععل ظمون لناَةر‬،‫س‬


‫ق لعللججىَ لمججون لل‬ ‫ِ ثهلم آهملر لرهجعل يلهؤلم اللناَ ل‬،‫ِ فليهظقيلم‬،‫ت ألون آهملر الهملؤلذلن‬
‫للقلود هللموم ه‬
‫يلوخهرهج إظللىَ ال ل‬
‫صللظة بلوعهد‬

”Sungguh aku ingin memerintahkan muazin untuk mengumandangkan


iqamah. Setelah iqamah aku perintahkan seseorang untuk menjadi imam.
Setelah itu aku akan mengambil api untuk membakar orang-orang yang
tidak mengerjakan shalat (jamaah).” (HR. Bukhari)

Jangan salah paham, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin


membakar rumah mereka karena mereka melaksanakan shalat, namun di
rumah, bukan karena mereka tidak shalat sebagaimana dijelaskan dalam
riwayat Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Al-Albani. Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

‫ت بظظهججوم ظعللججةة‬
‫صللولن فظججيِ بهيهججوتظظهوم للويلسجج و‬
‫ِ ثهلم آتظليِ قلووعماَ يه ل‬،‫ب‬ ‫ت ألون آهملر فظوتيلظتيِ فليلوجلمهعوا هحلزعماَ ظمون لح ل‬
‫ط ة‬ ‫للقلود هللموم ه‬
‫فلأ هلحلرقللهاَ لعللويظهوم‬
31
”Sungguh aku memiliki keinginan untuk memerintahkan para pembantuku
agar mereka mengumpulkan satu ikat kayu bakar, kemudian aku akan
mendatangi orang-orang yang shalat di rumah-rumah mereka padahal
mereka tidak mempunyai udzur, dan aku akan membakar rumah-rumah
mereka itu.”

Seandainya shalat berjamaah itu tidak wajib, tentu Rasulullah shallallahu


‘alaihi wa sallam tidak akan mempunyai keinginan seperti itu.

Ancaman yang keras dari Allah Ta’ala dengan neraka

Allah Ta’ala berfirman,

‫صللتظظهوم لساَههولن؛َ اللظذيلن ههوم يهلراهءولن‬ ‫فللوويةل لظولهم ل‬


‫صلليلن؛َ اللظذيلن ههوم لعون ل‬

”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang


yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al
Maa’uun : 4-6)

Ibnu Jarir rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu


anhuma, beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata, ”Mereka adalah orang-orang
yang mengakhirkan shalat dari waktunya.”

Sedangkan orang yang meninggalkan shalat jamaah, kebanyakan mereka


mengakhirkan shalat dari waktunya karena tidur atau sibuk dengan urusan
dunia. Hal tersebut diperkuat dengan firman Allah Ta’ala,

َ‫ف يلولقلوولن لغ فعيا‬ ‫صللةل لواتلبلهعوا اللشهللوا ظ‬


‫ت فللسوو ل‬ ‫ف أل ل‬
‫ضاَهعوا ال ل‬ ‫ف ظمون بلوعظدظهوم لخول ة‬
‫فللخلل ل‬

32
”Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-
nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak
akan menemui ghay.” (QS. Maryan : 59)

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini, ”Mereka


meninggalkan masjid dan sibuk dengan pekerjaannya.”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa yang dimaksud dengan


ghay dalam ayat tersebut adalah lembah yang dalam di neraka jahannam
dengan makanan yang menjijikkan.

Orang yang meninggalkan shalat jamaah disamakan dan dikumpulkan


bersama-sama dengan pemimpin kaum kafir pada hari kiamat

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam pada suatu hari menjelaskan tentang shalat, beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,

‫ِ لولمون للوم يهلحاَفظ و‬،‫ِ لونللجاَةع يلوولم اولقظلياَلمظة‬،َ‫ِ لوبهورلهاَعنا‬،‫ت للهه هنوعرا‬
‫ِ لولل‬،‫ظ لعللويلهاَ للوم يلهكون للهه هنججوةر‬ ‫ظ لعللويلهاَ لكاَنل و‬
‫لمون لحاَفل ل‬
‫ِ لوأهبلليِ وبظن لخلل ة‬،‫ِ لولهاَلماَلن‬،‫ِ لوفظورلعوولن‬،‫ِ لولكاَلن يلوولم اولقظلياَلمظة لملع لقاَهرولن‬، ‫ِ لولل نللجاَةة‬،‫بهورلهاَةن‬
‫ف‬

”Barangsiapa yang menjaga shalat akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan


keselamatan pada hari kiamat. Barangsiapa yang tidak menjaganya, maka
tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan. Pada hari
kiamat nanti mereka akan bersama dengan Hamman, Qarun, Fir’aun, dan
Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad dengan sanad yang jayyid dan Thabrani)

Dan sudah kita ketahui bersama bahwa meninggalkan shalat jamaah


termasuk tidak menjaga shalat.
33
Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah (Bag. 5)

Perkataan Shahabat dan para ‘Ulama tentang Hukum Shalat Jamaah

Tidak dikutip dari seorang pun dari para shahabat bahwasanya mereka
memberikan keringanan, yaitu boleh untuk tidak shalat berjamaah. Di
antara perkataan mereka adalah:

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa seorang laki-laki selama


sebulan sering bolak-balik menemui Ibnu ‘Abbas dan bertanya kepadanya
tentang seorang yang rajin berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari,
namun tidak pernah shalat jumat dan shalat berjamaah. Beliau radhiyallahu
‘anhu menjawab,

‫ههلو ظفيِ اللناَظر‬

”Dia berada di neraka.”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

‫ق لموعهلوهم النللفاَ ظ‬
‫ق‬ ‫لوللقلود لرألويتهلناَ لولماَ يلتللخلل ه‬
‫ف لعونلهاَ إظلل هملناَفظ ة‬

”Kami ingat bahwa dulu (di masa Nabi) tidak ada yang meninggalkannya
(shalat jamaah, pent.) kecuali orang munafik dengan terang-terangan.” (HR.
Muslim)

Dari amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau


berkata,
34
‫ماَ باَل أقوام يتخلفون عن الصلة أو لبعثن عليهم من يجاَفيِ رقاَبهم‬

”Mengapa masih ada orang-orang yang tidak shalat (berjamaah).


Hendaknya mereka menghadiri shalat berjamaah atau akan aku utus orang
yang akan memenggal leher-leher mereka.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

‫لن تمتلئ أذناَ ابن آدم رصاَصاَ مذاباَ خير له من أن يسمع حيِ عليِ الصلة حججيِ علججىَ الفلح ثججم لججم‬
‫يجب‬

”Sungguh dua telinga anak Adam yang dituangi timah cair itu lebih baik
baginya daripada dia mendengar ‘hayya alash shalat, hayya alal falaah’
kemudian dia tidak datang ke masjid.”

‘Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Hasan bin Ali
radhiyallahu ‘anhum berkata,

‫من سمع المناَدي فلم يجب من غير عذر فل صلة له‬

”Barangsiapa yang mendengar adzan namun tidak mendatanginya tanpa


udzur, maka tidak ada shalat baginya.”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,

‫إن حضور الجماَعة فيِ المسجد فرض‬

”Sesungguhnya mengikuti shalat berjamaah di masjid adalah sebuah


kewajiban (fardhu).”

35
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

‫ل أرخص لمن قدر علىَ صلت الجماَعة فيِ ترك إتياَنه‬

”Aku tidak memberikan keringanan bagi orang yang mampu shalat jamaah
di masjid untuk meninggalkannya.”

Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

َ‫ل ذنب بعد الشرك أعظم من تأخير الصلة عن وقتها‬

”Tidak ada dosa setelah syirik yang lebih besar daripada (dosa)
mengakhirkan shalat (sampai keluar) dari waktunya.”

Beliau rahimahullah juga berkata, ”Terdapat riwayat dari ‘Umar,


‘Abdurrahman bin ‘Auf, Mu’adz bin Jabal, Abu Hurairah, dan para
shahabat yang lain, mereka berpendapat bahwa,

‫أن من ترك صلة فرض واحدة متعمدا حتىَ يخرج وقتهاَ فهو كاَفر مرتد‬

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat fardhu sekali saja dengan sengaja


sampai waktunya barakhir, maka dia kafir, murtad.”

Telah kita ketahui bersama bahwa meninggalkan shalat shubuh berjamaah


umumnya menyebabkan shalat shubuh di luar waktunya karena tidurnya
akan tambah molor dan karena sempitnya waktu shalat subuh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

‫إن صلة الجماَعة شرط ل تصح الصلة بدونه‬

36
”Sesungguhnya shalat jamaah adalah syarat (sah shalat), shalat tidak sah
tanpa dilakukan secara berjamaah.”

Hal ini juga merupakan pendapat Ibnul Qayyim, madzhab Dzahiriyyah, dan
salah satu pendapat Imam Ahmad. [1]
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang suka
mendengarkan penjelasan, kemudian mengikuti dan melaksanakan
penjelasan yang paling bagus.
Penutup (dari penerjemah)
Demikianlah apa yang dapat kami terjemahkan dari kitab kecil ini. Semoga
hal ini dapat menjadi motivasi bagi kita dan juga sebagai pengingat,
terutama kepada kaum muslimin (laki-laki), tentang berbagai keutamaan
shalat berjamaah dan juga kewajiban melaksanakannya. Semoga Allah
Ta’ala memberikan hidayah kepada kita, untuk meringankan langkah kaki
kita menuju masjid dalam rangka mendirikan shalat jamaah bersama kaum
muslimin. Karena yang menjadi masalah bukanlah jauh dan dekatnya
masjid, akan tetapi yang menjadi masalah adalah keimanan yang ada di
dalam dada.

Catatan kaki:
[1] Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah bahwa shalatnya
sah, namun dia berdosa karena meninggalkan kewajiban shalat berjamaah.
Pendapat Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim dan yang lainnya
rahimahumullah ini penting kita sebutkan untuk menunjukkan bahwa shalat
berjamaah bukanlah perkara remeh, sampai-sampai sebagian ulama
mengatakan bahwa shalat berjamaah adalah syarat sah shalat.
37