Anda di halaman 1dari 10

STRATEGI MEMBINA RAPPORT

Definisi rapport : interaksi atau relasi antara pasien dengan pewawancara. Tipe

wawancara berorientasi psikodinamik, mengkonsepkan rapport dalam terminologi

transference-contertransference, dan melihat adanya pengulangan hubungan di masa

lalu dalam situasi wawancara kali ini. Sementara dalam tipe wawancara berorientasi

deskriptif, rapport dideskripsikan sebagai interaksi pasien dan pewawancara yang di

dalamnya terdapat understanding dan trust.

Strategi yang digunakan dalam membina rapport dengan pasien :

1. Buat pasien dan pewawancara sendiri merasa nyaman

Saat pasien psikiatri datang pertama kali, umumnya ia menghadapi perasaan

skeptis, cemas, gugup, ketidakyakinan atau bingung. Selain itu pasien juga perlu

menghadapi stigma untuk bertemu dengan profesional kesehatan jiwa. Sebaliknya,

pewawancara seringkali pula merasa cemas, gugup atau kehilangan kontrol dalam

mengahadapi pasien. Kondisi ini dapat diatasi dengan cara membuka wawancara

dengan percakapan dasar dan ringan, bertujuan untuk lebih mengenal atau dekat

dengan pasien dan bukan untuk mencari diagnosis secara dini.

Wawancara dapat dibuka dengan memperkenalkan diri pewawancara dan

tanyakan nama pasien serta bagaimana sebaiknya pewawancara memanggil pasien.

Kemudian dapat dilanjutkan dengan pertanyaan ringan seperti bagaimana pasien

mencapai tempat pewawancara saat itu atau bagaimana perjalanan pasien sampai ke
tempat pewawancara. Selanjutnya pewawancara menanyakan identitas pasien, seperti

usia, tempat tinggal, asal, pekerjaan, pendidikan, dan status menikah. Dalam

percakapan ini dapat diobservasi kondisi pasien, apakah ia tampak lebih tenang, tetap

cemas atau bertambah cemas. Pada pasien cemas seringkali ia tampak tetap cemas,

sementara untuk pasien obsesif kompulsif sering kali percakapan seperti ini dianggap

menghabiskan waktu dan uang. Kondisi pasien yang perlu diobservasi adalah perilaku

nonverbal, suara, dan ekspresi pasien.

- Kenali tanda-tanda

Saat menghadapi pasien, status mental mereka akan tampak dari tanda-tanda

(signs) yang ada pada pasien tersebut. Tanda (sign) adalah bahasa nonverbal dari

wajah, tubuh, dan suara yang seringkali sulit dikontrol oleh pasien. Bina rapport juga

dengan membaca tanda-tanda :

 Territorial (locomotor) : bagaimana pasien menempatkan jarak dengan

pewawancara secara fisik maupun emosional.

 Behavioral (psychomotor) : bagaima perilaku psikomotor pasien saat itu.

 Emotional (expressive) : bagaimana postur, gestur, ekspresi wajah, kontak

mata, nada bicara saat berhadapan dengan pewawancara.

 Verbal (Suara dan ekspresi verbal) : bagaimana pemilihan kosa kata yang

digunakan, apakah pasien sering menggunakan metafora. Hal ini dapat juga
untuk menilai cara pikir pasien dan bagaimana persepsi pasien terhadap

dunianya.

- Merespons tanda-tanda

Untuk mengenali dan berespon terhadap tanda-tanda yang ditunjukkan pasien,

pewawancara juga perlu berada dalam kondisi yang nyaman, tidak tegang atau cemas.

Seringkali pewawancara gagal untuk melihat tanda yang terdapat pada pasien karena

pewawancara memfokuskan perhatian pada dirinya sendiri. Teknik yang paling baik

untuk menghindari self-consciousness dan perasaan insecure adalah dengan

mengalihkan fokus perhatian dari diri sendiri ke pasien, dengarkan pasien dan hindari

memberi tekanan pada diri sendiri untuk mendapatkan “pertanyaan yang tepat”.

Jika pasien menunjukkan tanda penghindaran terhadap pewawancara, biarkan

pasien tetap berdiri pada tempatnya dan secara perlahan pewawancara dapat bergerak

menuju pasien. Perlihatkan bahwa dokter peduli terhadap kondisi pasien dan

perlihatkan sikap untuk mengundangnya lebih dekat dengan pewawancara. Pada pasien

cemas yang ditemani oleh anggota keluarga, dokter dapat juga mengajak anggota

keluarga tersebut ke tempat pemeriksaan. Pada pasien yang gelisah, marah, merusak,

dokter dapat menjaga jarak dengan pasien.

Dari tanda emosional yang ditunjukkan pasien, dokter dapat berespon dengan

menunjukkan ekspresi nonverbal seperti mengangguk, mengangkat alis, tersenyum

atau memandang atau menurunkan/meninggikan suara. Pewawancara yang

memperlihatkan ekspresi emosi yang berlebih atau tanpa emosi sama sekali dapat
menghambat respon emosi pasien, sementara pewawancara dengan ekpresi emosi yang

cukup dapat memfasilitasi respon emosi pasien.

Jika pasien memberikan respon verbal dengan metafora, dokter dapat merespon

dengan menggunakan metafora tersebut. Pada awalnya, dokter dapat menggunakan

kata-kata yang digunakan pasien untuk bertanya lebih lanjut dan tidak menggunakan

istilah-istilah psikiatri. Hal ini akan membuat pasien merasa dimengerti oleh dokternya.

2. Temukan penderitaan pasien, dan perlihatkan kepedulian terhadap hal

tersebut

- Nilai hal-hal yang membuat pasien tidak nyaman

Untuk menentukan hal-hal yang membuat pasien merasa tidak nyaman, dapat

digunakan pertanyaan-pertanyaan, seperti :

- apa yang sedang mengganggu anda?

- apa yang saat ini sedang terjadi pada anda?

- apa yang saat ini anda rasakan?

Bantu pasien untuk dapat menggambarkan apa yang dialaminya sebagai

keluhan utama. Pada fase awal wawancara seringkali penting untuk membiarkan pasien

ventilasi terhadap keluhannya dengan bebas. Hal ini dapat digunakan juga untuk

mengevaluasi mood dan afek pasien, mendeteksi kemungkinan adanya depresi,

kecemasan, atau kemarahan, dan juga untuk membantu membina rapport.

- Respon dengan empati


Saat pasien mengutarakan perasaannya, katakan bahwa anda dapat memahami

apa yang dirasakan oleh pasien. Pewawancara perlu memperlihatkan empati pada

pasien agar terbina kepercayaan (trust). Respon terapis bisa berupa :

- anda pasti merasa tidak enak dengan keadaan tersebut.

- anda pasti merasa tertekan

- saya dapat melihat bagaimana hal tersebut mengganggu anda

- hal tersebut pasti membuat anda tidak nyaman

Beberapa terapis seringkali mengalami kesulitan untuk berempati dengan pasien. Jika

terapis memang secara kronis tidak mampu berempati, sebaiknya tetap fokuskan

perhatian dan berikan pertanyaan yang sesuai untuk menunjukkan terapis tertarik

dengan apa yang dikeluhkan pasien. Jika terapis telah berempati dengan pasien, namun

pasien menarik diri, nilailah apakan respon empati yang diberikan terapis benar-benar

tulus (genuine). Untuk membina rapport dengan pasien, terapis perlu fokus pada

kemampuan untuk berempati terhadap pasien dan berkomunikasi secara tulus.

3. Menilai tilikan pasien dan menjadi pendamping bagi pasien

- Derajat tilikan

Nilai derajat tilikan pasien terhadap penyakitnya, apakah memiliki tilikan

penuh, parsial atau tidak ada sama sekali. Pasien yang menyadari adanya gejala-gejala

psikiatri dan gangguan pada dirinya, memiliki tilikan penuh. Pasien sering kali

menyadari gangguan yang dialaminya sebagai ego-distonik, dan keadaan tersebut

tidaklah normal. Pada pasien gangguan psikotik, bipolar, depresi atau penggunaan zat
seringkali memiliki tilikan yang kurang terhadap penyakitnya. Mereka sering

menyangkal dan menyalahkan penyakitnya pada kondisi-kondisi di luar dirinya, yang

disebut dengan tilikan parsial. Sementara pasien yang menyangkal sama sekali akan

adanya gangguan dan penyakit pada diri mereka disebut sebagai pasien yang memiliki

tilikan buruk atau tidak memiliki tilikan (no insight). Pemahaman terhadap tilikan

pasien dapat membantu membina rapport antara dokter dan pasien. Bicarakan pada

pasien tentang keluhannya dari sudut pandang pasien dan coba memahami hal tersebut

dengan empati.

- Pisahkan bagian sakit dari diri pasien

Setelah terapis memahami gangguan yang dialami pasien, cobalah temukan

bagaian yang sehat dari diri pasien dan tawarkan padanya untuk membantu mengatasi

masalah tersebut. Pada pasien dengan tilikan penuh, dapat dijelaskan penyebab dan

perjalanan penyakit, pilihan terapi dan implementasinya. Pasien dengan tilikan yang

baik bukanlah berarti dapat mengerti dan menerima penyakitnya, kemudian dapat

meninggalkan perilaku patologisnya begitu saja. Misalnya pada pasien fobia, pasien

ini dapat saja memiliki pemahaman penuh tentang penyakitnya, namun ia tidak mampu

menghilangkan perilakunya. Selanjutnya terapis juga perlu menilai adanya distorsi

pada pikiran pasien. Pasien depresi kadang kala juga kurang obyektif dalam

mendeskripsikan gejala-gejala yang dialaminya, karena mereka memandang

penyakitnya tidak mempunyai harapan. Pada pasien dengan tilikan yang terganggu,

sering sulit menemukan bagian sehat dari dirinya. Terapis perlu menerima waham yang
dimiliki pasien sebagai suatu realita. Jika pasien merasa ketakutan akibat keyakinannya

akan adanya mahluk asing yang ingin mencelakakannya, sampaikan pada pasien bahwa

tentulah hal ini tidaklah menyenangkan bagi pasien. Kemudian tawarkan perawatan

rumah sakit dan obat pada pasien untuk membantu menyelamatkan pasien dari mahluk

asing yang ingin mencelakakannya tersebut.

- Menetapkan tujuan terapi

Saat berhubungan dengan pasien, terapis dapat menetapkan dua buah tujuan

terapi. Tujuan yang pertama adalah yang didiskusikan dengan pasien, tentang hal-hal

apa yang ingin dicapai. Tujuan kedua merupakan tujuan terapi yang dibuat oleh terapis

sendiri berdasarkan perjalanan penyakit pasien. Pada pasien dengan tilikan yang baik,

kedua tujuan yang ditetapkan dapatlah sama. Misalnya pada pasien depresi, terapis dan

pasien dapat menetapkan bahwa gejala-gejala menurunnya mood yang dimiliki pasien

merupakan hal yang menjadi target terapi dan dapat ditangani. Pada pasien dengan

tilikan parsial atau buruk, misalnya pada pasien yang menganggap bahwa tetangganya

ingin berbuat jahat padanya, tujuan terapi yang ditetapkan bersama pasien adalah

mengatasi perbuatan jahat dari tentangganya. Tujuan terapi yang ditetapkan oleh dokter

adalah mengatasi pikiran waham pasien, namun jika tujuan ini disampaikan pada

pasien, pasien akan sulit menerimanya.

4. Tunjukan keahlian
Selain empati dan perhatian, seorang terapis perlu menunjukkan kompetensi

dan keahlian dalam menghadapi masalah pasien. Gunakan teknik ini untuk meyakinkan

pasien, bahwa terapis memahami masalah pasien :

1. Buat pasien memahami bahwa tidak hanya pasien sendiri yang menghadapi

masalah seperti sekarang.

2. Sampaikan pada pasien bahwa terapis familiar dengan masalah ini – tunjukkan

pengetahuan yang dimiliki terapis.

3. Bicarakan hal-hal yang diragukan oleh pasien tentang kemampuan terapis,

bersama dengan keluarga atau teman yang mengantar pasien dengan

profesional.

4. Bangkitkan semangat pasien akan masa depannya.

5. Bangun sikap kepemimpinan

Jika empati berasal dari perhatian terapis terhadap apa yang dialami pasien dan

sikap keahlian (expertise) dari pengetahuan terapis terhadap masalah yang dihadapi

pasien, sikap kepemimpinan berasal dari kemampuan memotivasi dan mengarahkan

pasien. Sikap kepemimpinan terapis dapat ditunjukkan dengan tetap memegang kontrol

dalam berinteraksi dengan pasien, tunjukkan ketertarikan terapis untuk membantu

kesembuhan pasien, dan motivasi pasien untuk berubah. Cara yang dapat digunakan

untuk menilai kemampuan kepemimpinan adalah melihat bagaimana sikap pasien

untuk menerima penjelasan terapis dan bagaimana keinginan pasien untuk patuh dalam

pengobatan.
Namun demikian sering kali terapis terlalu bersikap otoriter dan menganggap

bahwa kedudukan pasien adalah lebih rendah dari dirinya, serta bersikap kurang

empati. Jika pasien bersikap resisten atau kurang patuh maka nilailah apakah terapis

terlalu memaksa atau menakutkan bagi pasiennya. Sering kali juga pasien yang

bersikap memaksa terapisnya, mengidolakan atau memuja terapisnya. Untuk hal ini,

buat pasien menyadari bahwa harapan yang ada pada dirinya bersifat kurang realistik

dan nantinya dapat menimbulkan kekecewaan pasien. Pada pasien dengan kecurigaan,

sikap antisososial terhadap terapis, yang tidak dapat menerima sikap kepemimpinan

terapis dan mencoba untuk mengontrol terapis dapat dicoba untuk mendiskusikan

sikapnya ini. Tanyakan apakah pasien juga mempunyai pengalaman yang kurang

menyenangkan dengan sikapnya ini saat berhubungan dengan orang lain, atau terapis

lain sebelumnya. Jika ya, maka terapis dapat mencoba mengajak pasien mengenal

penyebab kesulitannya ini dan berikan respek/pujian pada pasien untuk mampu

mengutarakan masalahnya. Katakan pada pasien bahwa dengan bersikap terbuka, maka

akan membantu pasien mengatasi problem psikososial yang dihadapinya.

6. Seimbangkan Peran

Baik pasien maupun dokter saat pertama kali bertemu di tempat pemeriksaan

memiliki harapan-harapan tersendiri. Pada beberapa kasus, pasien mengharapkan

terapis berperan sebagai figur otoriter, pendengar empatik, penyelamat, atau petugas

penegak hukum. Jika terapis memahami peran yang diharapkan oleh pasiennya, maka

terapis akan dapat memperkirakan bagaimana respon yang lebih baik bagi pasiennya.