Anda di halaman 1dari 3

SYSTEM AND PROCESS OF BIODIESEL METHOD AND SYSTEM FOR

PRODUCTION THE SYNTHESIS OF BIODIESEL


Penda Limbah pertanian organik padat biasanya berakhir di lokasi TPA sementara. Cairan limbah Minyak nabati dari asam lemak metil ester (FAME), dikenal
huluan berupa minyak sering dibuang melalui sistem pembuangan limbah lokal. Secara khusus, sebagai biodiesel yang digunakan sebagai pengganti alternatif
Kanada dengan populasi sekitar 35 juta, menghasilkan sekitar 140.000 ton minyak jelantah ramah lingkungan untuk bahan bakar diesel. aplikasi paten Eropa
setiap tahun terutama dari industri makanan cepat saji dan restoran. Sehingga hal ini perlu EP2730567 menjelaskan suatu metode untuk memperoleh
dilakukan suatu cara untuk mengurangi limbah tersebut yaitu dengan proses recycle. Proses secara bersamaan beberapa komposisi yang terdiri dari asam
tersebut dilakukan sebagaimana limbah minyak bekas digunakan sebagai feed nya. Alasan lemak alkil ester (biodiesel), gliserol dan asam lemak bioester
utama pengolahan biodiesel dari minyak jelatah antara lain cara paling efektif untuk gliserol, yang mana gliserol tersebut digunakan sebagai substrat
menurunkan biaya produksi biodiesel, karena berasal dari limbah rumah tangga atau untuk produksi komponen dari biofuel. Metode untuk produksi
industri dan murah. Selain itu, pembuangan minyak jelantah secara langsung ke lingkungan komposisinya dengan mereaksikan trigliserida, gliserol dan
dapat menimbulkan pencemaran lingkungan khususnya pencemaran air karena dapat dialkoxy methane di dalam sebuah katalis asam. Produk reaksi
menaikkan kadar Chemical Oxigen Demand (COD) dan Biology Oxygen Demand (BOD). membentuk dua lapisan non-campuran, dimana lapisan atas
Kandungan minyak jelantah yang tinggi asam lemak (free fatty acid/FFA) diperlukan dua terdiri dari asam lemak alkil ester, asam lemak gliserol ester, alkil
kali proses dalam pembuatan biodiesel. Proses pertama adalah esterifikasi dan proses alkohol dan excess dialkoksimetana. Lapisan bawah terdiri dari
kedua adalah transesetrifikasi gliserol dan katalis.
Bahan Limbah minyak goreng Minyak nabati
Baku
Kondisi Settling Tank (S-102) P = 120 Kpa ; T = 40° C  Larutan tercampur pada temperatur 15 sampai 65 ℃ agar
Operasi Evaporator (E-101) P = 150 Kpa ; T = 40° C terjadi pembentukan metil ester yang sesuai.
Reaktor (R-201) P = 120 Kpa ; T = 55°C  Pereaksian dilakukan pada temperatur 40-60℃, dalam
Dekanter P = 101 Kpa ; T = 50°C waktu 40-50 menit
Tangki Penyimpanan T-302 P = 120 Kpa ; T = 30°C  Mereaksikan fase gliserol dengan dimetil sulfat
menggunakan excess asam sulfat (VI)
sebagai katalis dalam kisaran temperatur 50-55 ° C

Meka-
nisme
reaksi
 Katalis yang digunakan berupa asam, reaksi transesterifikasi merupakan reaksi
kesetimbangan sehingga digunakan metanol berlebih untuk menggeser arah
reaksi kekanan. Reaksi antara minyak atau lemak dengan alkohol merupakan
reaksi yang bersifat bolak-balik. Oleh sebab itu alkohol harus ditambahkan
berlebih untuk membuat reaksi berjalan kearah kanan. Menurut azas Le Chatelier
bahwa: “Setiap perubahan pada salah satu variabel sistem keseimbangan akan
menggeser posisi keseimbangan kearah tertentu yang akan menetralkan/
meniadakan pengaruh variabel yang berubah tadi” (Bird, 1993).
 Berdasarkan stoikiometri reaksi, proses transesterifikasi memerlukan 3 mol
alkohol untuk setiap mol trigliserida supaya menghasilkan 3 mol biodiesel dan 1
mol gliserol. Namun pada judul paten ini, perbandingan mol trigliserida dan alkohol
tidak selalu 1 :3. Pada paten ini perbandingan yang digunakan adalah 1 : 10
(Minyak jelantah terhadap metanol) untuk transesterifikasi minyak jelantah
 Berdasarkan diatas terlihat bahwa reaksi berlangsung secara bertahap, diawali
dengan protonasi gugus karbonil ester sehingga akan terbentuk karbokation
(struktur II). Karbokation ini selanjutnya mengalami serangan nukleofilik oleh
metanol menghasilkan produk intermediate tetrahedral (struktur III) yang
menyebabkan gliserol terlepas dan terbentuk ester baru (struktur IV) dan
melepaskan katalis H+. Dari mekanisme diatas, asam karboksilat dapat dibentuk
dari reaksi karbokation II dengan air yang ada dalam campuran reaksi. Hal ini
menunjukkan bahwa reaksi transesterifikasi dengan katalis asam harus dilakukan
tanpa adanya air, untuk menghindari pembentukan asam karboksilat yang bisa
mengurangi konversi alkil ester.
Laju  Laju reaksi transesterifikasi dipengaruhi oleh panjang rantai hidrokarbon dan posisi
Reaksi gugus hidroksil dalam molekul alkohol. Laju reaksi diketahui menurun secara
signifikan dengan pertambahan panjang rantai karbon. Sifat inilah yang menjadi
alasan penggunaan metanol dan etanol sebagai alkohol utama dalam industri
biodiesel. Selain dipengaruhi jenis alkohol, laju reaksi transesterifikasi juga
dipengaruhi oleh suhu dan waktu. Seperti telah diketahui, kenaikan suhu akan
meningkatkan laju reaksi secara umum.
 Waktu reaksi juga merupakan variabel penting suatu reaksi karena untuk
memberikan kesempatan reaktan untuk bertumbukan satu sama lain. Pada judul
paten ini menunjukkan suhu efektif untuk transesterifikasi minyak jelantah adalah
80°C dengan persen konversi 97% dengan waktu reaksi selama 5 jam.

Proses  Pada bagian pengolahan bahan baku, aliran input yaitu berupa limbah minyak Bagian dan unit utama dari proses adalah sebagai berikut:
dikumpulkan kemudian diolah untuk dihilangkan zat-zat pengotor seperti partikel 1)Persiapan bahan baku
sisa makanan yang mengendap dibagian bawah minyak, kemudian sisa-sisa residu 2)Proses untuk memproduksi biodiesel membentuk biomassa
yang telah dipisahkan kemudian dikumpulkan dan dibuang yang kemudian bisa dengan menggunakan reaksi transestrifikasi yang sederhana dan
digunakan sebagai bahan baku pembuatan biogas atau untuk pakan ternak efisien.
 Pada Bagian kedua, reaksi transesterifikasi terhadap produk FAME dan gliserol, 3)Mereaksikan gliserol dengan dimetil sulfat dalam excess katalis
terjadi pemisahan gliserol dari FAME. asam sulfat (VI)
 Pada bagian pemurnian gliserol, evaporator digunakan untuk pemurnian gliserol 4)Tahap pertama reaksi metanolisis trigliserida (minyak nabati)
karena lebih murah daripada menara distilasi dan menghasilkan aliran keluaran yang menghasilkan Produk berupa metil ester (biodiesel) dan
dengan kemurnian tinggi (yaitu gliserol yang dimurnikan). gliserol Tahap kedua proses reaksi asidolisis untuk mengolah
 Dalam pemisahan FAME dan recycle produk samping, kolom destilasi produk samping yaitu gliserol
digunakan untuk pemisahan FAME karena mampu menghasilkan 99,7% kemurnian 5)Proses pencucian di washing tank untuk penghilangan
biodiesel sesuai standar ASTM. Untuk mengurangi produksi limbah, aliran metanol impurities polar (gliserol). Proses penguapan metil ester di dalam
dan limbah minyak yang tidak bereaksi yang keluar dari kolom destilasi direcycle vaporizer untuk memisahkan lagi metil ester dengan air. Produk
kembali ke feed. samping berupa air dimasukkan lagi ke washing tank
6)Metil ester yang telah murni ditreatment lagi di dalam stabilizer.
Produk Biodiesel dan Gliserol (Produk samping) Biodiesel dan gliserol yang merupakan produk samping
Kele-  Katalis berbahan dasar gula memiliki keunggulan yaitu bersifat alami, harga yang  Bahasa mudah dimengerti
bihan terjangkau, bisa direcycle dan efektif dalam suatu proses  Lengkap menginformasikan jenis katalisnya
Patent  Menghasilkan persen konversi yang tinggi yaitu sebesar 97%. Biaya proses lebih
efisien karena katalisnya tidak harus sering diganti
 Presentase impuritis termasuk gliserol sangat rendah
 Katalis yang digunakan pada paten ini bersifat tidak reaktif, aman, tidak beracun,
ramah lingkungan, dan relatif murah.
Keku-  katalis berbahan dasar gula adalah bahwa laju reaksi transesterifikasi lebih rendah  Kurang lengkap memberikan spesifikasi kondisi operasi
rangan daripada menggunakan katalis asam homogen. pada tiap alat
Patent  Jenis reaktor yang digunakan pada proses ini tidak dijelaskan  Tidak adanya reaksi
 Tidak dijelaskan secara detail mengenai jenis katalis berbahan dasar gula
Parameter PROCESS FOR CONTINUOUS PRODUCTION OF BIODIESEL FROM FATTY ACID CONTAINING FEEDSTOCKS

Metode untuk memproduksi biodiesel yang terdiri dari langkah – langkah mengumpulakan bahan baku yaitu asam lemak dan minyak; mencampurkan
bahan mentah dengan gliserol dan katalis asam lewis pada reaksi pertama dengan tekanan dan suhu yang dipilih; memisahkan air dari produk
campuran dalam fase gas; dan menghubungi produk campuran dengan alkohol kedua dan katalis alkali dalam reaksi kedua membentuk produk yang
Pendahuluan
terdiri dari fatty acid ester. Bahan bakunya bisa berupa grease trap (grease coklat) atau grease kuning. Tekanan yang dipilih mungkin antara sekitar
10 torr dan sekitar 30 torr. Temperatur yang dipilih mungkin antara 150°C dan sekitar 200°C. Pada reaksi pertama terdapat campuran gliserol dan
asam lemak.

Kondisi  Pada P = 10-30 torr; T = 150ºC-200ºC


Operasi  Pada EV-1 air diuapkan dengan T : 100ºC dan P : 10 torr

 Terdapat kondisi operasi


 Terdapat 3 metode pengolahan
Kelebihan
 Terdapat reaksi dekomposisi glyserol menjadi akrolein
 Bahasa yang mudah dipahami
 Tidak menjelaskasn kondisi operasi secara spesifik pada alat tertentu.
Kekurangan
 Tidak melampirkan mekaisme reaksi pembentukan biodiesel dalam bentuk gugus fungsi.
Mekanisme  Reaksi pertama terjadi pada kolom fraksionasi
Reaksi  Katalis asam yang digunakan dapat berupa katalis asam lewis yang membantu mengkonversi asam menjadi ester dengan adanya alkohol

 Untuk reaksi orde yang lebih tinggi (misalnya orde kedua, di mana laju reaksi adalah fungsi dari konsentrasi FFA dan gliserol, dan bukan
hanya FFA)
 laju reaksi melambat secara signifikan dalam reaksi batch, atau sebaliknya, waktu reaksi lebih lama diperlukan karena tingkat konversi
Laju Reaksi meningkat.
 Penggunaan asam kuat seperti asam Sulfat mungkin memerlukan penggunaan peralatan berlapis kacaagar mudah menguap pada kondisi
yang diperlukan untuk menghasilkan laju reaksi yang efektif.
 Konstanta laju reaksi dapat digunakan untuk memperkirakan proses reaktor CSTR .
Bahan Baku
Asam lemak dan minyak ; biodiesel dan glyserol untuk receycle
dan produk
Feed stock dan glyserol dimasukan pada proses esterifikasi untuk menggubah free fatty acid menjadi glyserol fatty acid ester , pada proses
esterifikasi ditambahkan katalis asam lewis dan trace base dengan produk samping berupa waste, kemudian glyserol fatty acid ester dimasukan
Proses kedalam proses transesterifikasi dan ditambahkan base catalyst , glyserol fatty acid ester diubah menjadi fatty acid alkyl ester kemudian
menghasilkan produk samping berupa waste kemudian dilanjutkan dengan proses ekstraksi dan separasi , pada proses ini ditambahkan air asam
dan minyak dan menghasilkan produk berupa biodiesel dan waste.