Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Memasuki era global yang serba praktis, perkembangan ilmu sangat
pesat terutama dibidang IPTEK. Perkembangan ini berdampak juga pada
perkembangan teknologi transportasi. Inivasi dibidang otomotif saat ini
sangat memanjakan pemakai, dan terobosan teknologi terbaru harus
memenuhi tuntutan konsumen yang lebih mudah, aman, dan nyaman.
Kepuasan konsumen akan tercapai dari segi artistic kendaraan baik dari segi
eksterior yang bagus dan beberapa peralatan tambahan yang akan
memudahkan pemakai. Selain itu juga mesin memiliki performa yang tinggi,
serta perangkat keamanan dan kenyamanan lengkap yang berfungsi optimal.
Suatu kendaraan dapat dikatakan baik apabila dapat memberikan rasa
aman dan nyaman bagi pengendara. Semua kendaraan baik roda dua maupun
roda empat dilengkapi dengan berbagai sistem. Salah satu dari sistem itu
adalah sistem pengereman. Untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan, hendaknya sistem tersebut dalam kondisi atau keadaan yang baik,
oleh karena itu dibutuhkan penanganan atau perawatan dan pemeliharaan
yang baik pula.
Rem berfungsi untuk mengurangi laju kendaraan dan menghentikan laju
kendaraan. Sistem ini sangat penting karena memiliki fungsi sebagai alat
keselamatan dan menjamin untuk pengendara yang aman. Kendaraan tidak
dapat berhenti apabila hanya dilakukan dengenan pengereman mesin,
kelemahan ini harus dikurangi agar dapat menurunkan kecepatan kendaraan
hingga berhenti. Kerja rem disebabkan karena adanya gaya gesek kampas rem
(brake pad) melawan gerak putar piringan (disc rotor).
Dari uraian diatas penulis tertarik untuk memilih judul “Perawatan dan
Perbaikan Sistem Rem Cakram” dengan harapan penulis dapat mempelajari
dan memahami topic tersebut. Adapun yang melatar belakangi penulis
membahas hal tersebut adalah sebagi berikut:

1
2

1. Sistem pengereman merupakan salah satu sistem yang sangat vital, tanpa
adanya sistem pengereman, kendaraan tidak dapat memberikan rasa
aman bagi pengendara.
2. Untuk mengetahui lebih banyak tentang perawatan dan perbaikan pada
sistem rem cakram.

B. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam laporan ini adalah sebagai
berikut:
1. Mengkaji tentang rangkaian rem cakram
2. Mengetahui komponen-komponen rem cakram
3. Mengetahui touble shooting rem cakram
4. Mengetahui cara memperbaiki rem cakram

C. Manfaat
1. Manfaat Prakerin Bagi Siswa
a. Meningkatkan rasa percaya diri, disiplin dan tanggung jawab.
b. Mengetahui arti penting disiplin dan tanggungjawab dalam melaksanakan tugas.
c. Memperoleh wawasan luas mengenai seluk beluk dunia kerja.
d. Dapat memahami, memantapkan dan mengembangkan pelajaran yang
diperoleh di sekolah.
e. Dapat membandingkan kemampuan yang diperoleh di sekolah dengan
yang dibutuhkan di dunia kerja.
2. Manfaat prakerin bagi sekolah
a. Tujuan pendidikan untuk mendapat keahlian proffesional lebih mudah
dicapai
b. Dapat menyesuaikan program pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja
3. Manfaat prakerin bagi Industri
a. Dapat memilih peserta PSG baik jumlah, kemampuan, penampilan dan
waktu yang dianggap menguntungkan
b. Dapat mengenal persis kualitas siswa yang berlatih di instansi/ industri
c. Dapat berpartisipasi dalam pembangunan pendidikan pada khususnya dan
pengembangan bangsa pada umumnya.
3

BAB II

URAIAN UMUM

A. Sejarah Bengkel
Pada tahun 2010 Bapak Murdiono mulai mendalami Ilmu
Perbengkelan yaitu di bengkel Sido Moro. Untuk mendalami ilmu
Perbengkelan tersebut Bapak Murdiono belajar selama 5 tahun di bengkel
Sido Moro tersebut.

Setelah 5 tahun lamanya Bapak Murdiono baru merintis perbengkelan


sendiri. Dan pada tahun 2016, selama merintis Bapak Murdiono mendapat
panggilan-panggilan kerja ketika ada mobil mogok/rusak di perjalanan
ataupun di rumah-rumah.

Untuk pembangunan atau awal mula, Bapak Murdiono membuka


bengkel pada tahun 2017 Bapak Murdiono menamai bengkel tersebut dengan
nama Sido Makmur yang bertempat di Jatimulyo Blok 8. Karena
ketidaknyamanan Bapak Murdiono berpindah tempat di Jl. Airan Raya Way
Huwi selama 2 tahun. Kemudian pada awal tahun 2019 Bapak Murdiono
berpindah tempat di Desa Karang Sari Dusun Warung Gunung.

Dalam perkembangan selama ini, bengkel Sido Makmur terus


melakukan berbagai trobosan dengan efektifitas dan meningkatkan kualitas.
Bukan hanya itu, bengkel Sido Makmur juga melayani serius mobil berbagai
merek yaitu Toyota, Mitsubishi, Suzuki, Daihatsu, Izusu, Hyundai, Honda,
Nisan, KIA dan lain-lain. Dari mobil kecil hingga besar yang berbahan bakar
bensin maupun solar.

Bengkel Sido Makmur memiliki spesialis dari semua disiplin ilmu


dengan otomotif untuk menyediakan layanan luar biasa, kami bergerak
secara profesional demi meningkatkan layanan kepada pelanggan/konsumen
di seluruh Indonesia. Kepercayaan pelanggan/konsumen kepada kami telah
menjadikan bengkel Sido Makmur semakin meningkat/berkembang di bidang
perbaikan mobil dan sampai saat ini Bengkel Sido Maukmur di pimpin dan
dijalankan oleh Bapak Murdiono sendiri.

Demikianlah sejarah singkat bengkel Sido Makmur, semoga maju dan


jaya selalu

3
4

B. Tata Tertib Perusahaan / Bengkel


Perusahaan / industry yang baik, tentunya memiliki aturan-aturan
tertentu agar peraturan tersebut ditaati oleh karyawan / mekanik dari peserta
PSG. Dalam bengkel “Sido Makmur” tata tertib sebagai berikut :
1. Semua siswa yang mengikuti Prakerin wajib datang tepat waktu.
2. Siswa dilarang merokok
3. Saat praktek berlangsung, siswa dilarang bersenda gurau
4. Siswa dilarang membawa senjata tajam
5. Siswa disarankan menyambut alat sesuai dengan fungsinya
6. Menjaga nama baik perusahaan / bengkel
7. Saling menghormati satu sama lain.

C. Denah Lokasi

Gambar 2.1 Denah lokasi


5

BAB III

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Perawatan yaitu suatu tindakan yang dilakukan oleh pemilik kendaraan
supaya kendaraan tersebut dalam kondisi baik atau standar.
Perbaikan yaitu suatu kondisi yang harus dilakukan sewaktu kendaraan
tersebut mengalami gangguan dan harus dilakukan perbaikan supaya
kendaraan tersebut dapat beroperasi kembalidengan baik.
Sistem yaitu bagian dari komponen yang dapat berfungsi bersama-
sama dan mempunyai tugas sendiri-sendiri, tidak bias dipisahkan satu sama
lain.
Rem yaitu suatu mekanisme yang dirancang untuk mengurangi
kecepatan (memperlambat) kendaraan dan menghentikan kendaraan atau
untuk memungkinkan kendaraan parker ditempat menurun.
Cakram yaitu salah satu konstruksi rem yang cara pengereman
kendaraan dengan menggunakan piringan (Disc), Pad Rem, dan Caliper.

B. Fungsi Rem
Fungsi rem yaitu :
a. Untuk mengurangi kecepatan kendaraan
b. Untuk menghentikan laju kendaraan
c. Memungkinkan kendaraan parker ditempat menurun
d. Sebagai alat pengaman dan menjamin pengendaraan yang aman.

C. Prinsip Kerja
Prinsip kerja rem cakram adalah mengubah energy kinetic menjadi
energy panas dengan cara menggesekan dua buah logam kepada sistem gerak
putar, sehingga putarannya akan melambat. Oleh karena itu, komponen rem
yang bergesekan ini harus tahan terhadap gesekan (tidak mudah aus), tahan
pnas, dan tidak mudah berubah bentuk saat bekerja pada suhu tinggi.
6

Gambar 3.1 prinsip kerja rem cakram

a. Rem Menurut Mekanismenya


1. Rem mekanik
Rem mekanik yaitu mekanisme rem yang menggunakan kawat
sebagai pemindah tenaganya, biasanya rem jenis ini dipada pada rotor
propeller.

Gambar 3.2 Rem mekanik


2. Rem Hidrolik
Rem hidrolik yaitu jenis mekanisme rem yang menggunakan
minyak sebagai peindah tenaganya, jenis re mini menggunakan
hokum pascal yaitu meneruskan tekanan ke segala arah sama besar.
Jenis ini banyak digunakan karena efektif dan efisien.

Gambar 3.3 Rem hidrolik


7

3. Rem udara
Rem udara juga bias disebut dengan rem angin, karena
menggunakan udara dalam menghantarkan tenaga. Jenis ini biasanya
dipakai pada kendaraan besar seperti bus, truk dan kendaraan –
kendaraan besar lainnya.

4. Rem vakum
5. Rem booster
b. Rem Menurut Letaknya
1. Rem roda
Rem roda yaitu rem yang terletak di roda, biasanya berupa rem
cakram atau rem tromol.
2. Rem propeller
Rem propeller yaitu rem yang berada di propeller, biasanya re
mini membantu pengendara dalam memarkirkan kendaraannya.
c. Rem Menurut Pelayanannya
1. Rem tangan
Yaitu rem yang dilayani oleh tangan, biasanya digunakan untuk
rem parker, rem tangan juga terbagi menjadi 2 yaitu jenis stick dan
tuas dorong.

Gambar 3.4 Rem tangan


2. Rem kaki
Yaitu rem yang pelayanannya untuk kaki.

Gambar 3.5 Rem kaki


8

d. Rem Menurut Konstruksinya

1. Rem tromol

Rem tromol adalah salah satu konstruksi rem yang cara


pengeremannya menggunakan tromol rem (brake drum), sepatu rem
(braking shoe), dan silinder roda (wheel cylinder). Rem tromol pada
dasarnya terbagi dalam 5 model, tiap model prinsipnya berada satu
sama lain.
a. Model leading trailing

Konstruksi – konstruksi sepatu primer dan sekunder dijamin


oleh silinder yang mempunyai dua buah piston dan bagian
bawahnya dijamin oleh pin. Pada saat tromol berputar, sepatu rem
trailing cenderung menahan putaran tromol. Pada sepatu leading
mengerem dengan baik, sedangkan sepatu trailing cendrung
menahan putaran tromo. Sepatu kiri disebut leading, dan sepatu
kanan disebut trailing. Keda leading menahan pengereman yang
sama dimana saat tromol berputar kearah berlawanan, maka
leading shoe menjadi trailing shoe dan sebaliknya.

Gambar 3.6 Tipe Leading Trailing


b. Model Two Leading
Kontruksi model ini pada bagian atas sepatu primer dan
sekunder dipasang sebuah silinder roda dengan sebuah penyetel
rem. Pada saat tromol berputar, kedua sepatu rem menjadi leading
jika berputrar sebaliknya, maka keduanya akan menjadi trailing.

Gambar 3.7 Tipe Two Leading


9

c. Model dual two leading


Konstruksi model ini dilengkapi dengan dua buah silinder
roda yang dipasang di atas dan di bawah sepatu primer dan
sekunder. Pada model ini baik maju maupun mundur kedua sepatu
rem menjadi trailing.

Gambar 3.8 Tipe Dual Two Leading


d. Model uni servo
Konstruksi model ini dilengkapi dengan dua buah silinder
diabagian atas sepatu primer dan sekunder. Bila pedal rem ditekan,
maka piston bergerak mendorong sepatu rem searah putaran
tromol. Akibatnya timbul gesekan dan diteruskan ke sepatu
sekunder. Gerakan sepatu trailing dijaga silinder roda dan tenaga
yang dihasilkan besar. Bila putaran tromol terbalik, maka kedua
sepatu rem akan menjadi trailing, maka kedua sepatu rem akan
menjadi trailing dan efek pengereman jelek.

Gambar 3.9 Tipe Uni Servo


e. Model duo servo
Konstruksi model ini dilengkapi sebuah silinder roda
dengan dua buah piston. Tekanan dari silinder rem di
seimbangkan oleh penyetel sepatu rem sehingga distribusi tekanan
merata dan sepatu rem berfungsi sebagai leading walaupun
gerakan tromol maju mundur.
10

Gambar 3.10 Tipe Duo Servo


2. Rem cakram
Rem cakram digunakan sebagai pengganti rem tromol, dimana
pada dasarnya piringan cakram, terdiri dari cakram yang berputar
dengan rotor dan bahan gesek yang mendorong dan menjepit cakram.
Daya pengereman dihasilkan oleh adanya gesekan antara pada dan
cakram.

Gambar 3.11 Rem Cakram


a. Komponen-komponen Cakram
1. Piringan cakram
Pada umumnya cakram terbuat dari besi tuang dang
diberi lubang-lubang yang fungsinya untuk ventilasi serta
pendingin, dengan adanya ventilasi umur pad lebih panjang
dan tahan lama.
11

Gambar 3.12 Piringan Cakram


2. Pad Rem
Pad rem terbuat dari campuran metallic fiber dan sedikit
serbuk besi. Pada pad rem diberi garis celah untuk
menunjukan tebal pad. Dengan demikian dapat mempermudah
dalam pengecekan keausan pad. Pada beberapa pad,
pengguanaan metallic plate dipasangkan pada sisi piston dari
pad yang fungsinya untuk mencegah bunyi saat pengereman.

Gambar 3.13 Pad Rem


3. Caliper juga disebut dengan cylinder body, memegang piston-
piston dan dilengkapi saluran saat minyak rem yang disalurkan
ke silinder. Pada disc brake terdapat beberapa jenis caliper
yang diantaranya adalah :
1) Tipe Fixed Caliper (double piston)
Pada tipe ini piston ditempatkan pada dua sisi
caliper. Radiasi panas fixed caliper terbatas karena silinder
rem berada pada cakram dan velg, menyebabkan sulit
tercapainya pendinginan. Untuk itu membutuhkan
penambahan komponen yang banyak guna mengatasi hal
tersebut. Jenis fixed caliper ini sudah jarang digunakan.
12

Gambar 3.14 Tipe Fixed Caliper

2) Floating Caliper (single Piston)


Pada tipe ini piston ditempatkan pada satu sisi
caliper, sistem kerjanya adalah tekanan hidrolis dari master
silinder, kemudian mendorong piston dan selanjutnya
menekan pada rotor disc (cakram). Pada saat yangsama
tekanan hidrolis menekan sisi pad sehingga menjepit
cakram dan terjadilah usaha tenaga pengereman. Dalam
tipe ini kemampuan pengeremannya dibangkitkan oleh
kedua pad sehingga daya pengereman lebih baik. Tipe ini
sering digunakan pada kendaraan penumpang saat ini.

Gambar 3.15 Tipe Floating Caliper

Caliper tipe floating dapat dibedakan menjadi

Tipe semi floating Tipe FS

Tipe full floating Tipe F


Tipe AD
Tipe FS
Tipe PD
13

Caliper tipe semi floating menerima tenaga


pengereman yang dibangkitkan dari pad bagian luar. Pada
caliper tipe full floating, kemampuan pengeremannya
dibangkitkan oleh kedua pad dengan torque plate. Caliper
tipe floating banyak digunakan pada kendaraan
penumpang modern.
1. Tipe semi floating (PS)

Caliper dipasang dengan bantuan dua buah pen


pada torque plate. Apabila rem bekerja, maka body
bergerak masuk dengan adanya gerakan piston.
Tekanan pengereman yang berlaku pada pada bagian
luar diterima oleh caliper dan meneruskan momen ke
pin pada arah putaran. Kekuatan reaksi pad pada
bagian dalam diterima langsung oleh plate.
Mekanisme tipe ini sangat sederhana, tipe caliper tipe
ini cenderung tidak berfungsi sangat kecil, dan
memenuhi syarat mudah perawatan dan memiliki
kemampuan pengereman. Tipe ini sering digunakan
pada rem cakram belakang yang rem parkirnya
dipasang di dalamnya.

Gambar 3.16 Tipe PS

2. Tipe full floating

a. Tipe F

Tipe f mempunyai caliper yang ditunjang


oleh torque plate sedemikian rupa sehingga
memungkinkan dapat meluncur. Arm akan maju
dari caliper untuk memindahkan gerak piston untuk
menekan pad bagian luar.
14

Tipe ini membutuhkan tempat yang sedikit


tapi cenderung lebih banyak teseret dari tipe
lainnya karena permukaan luncur dari caliper dan
torque plate tersembunyi. Tipe ini digunakan pada
disc brake bagian belakang untuk beberapa model
kendaraan.

Gambar 3.17 Tipe F

b. Tipe FS
Caliper tipe ini dipasang dengan
menggunakan dua pin (main pin dan sub pin) pada
torque plate yang dibautkan pada caliper itu
sendiri. Caliper dan dua pin digerakan sebagai satu
unit oleh piston. Reaksi tenaga (reaction force) dari
inner dan outer pad diterima oleh torque plate dan
dengan demikian (torque) tidak diteruskan ke pin.
Selanjutnya, bagian yang meluncur (sliding
section) pada caliper (main pin dan sub pin)
disembunyikan seluruhnya. Hal ini merupakan
design yang dapat menambah keandalan pada
bagian ini. Tipe FS agak kurang terseretnya
dibandingkan tipe F dan sering digunakan pada
rem-rem depan kendaraan luxury (mewah).

Gambar 3.18 Tipe FS


15

c. Tipe AD
Main pin pada tipe AD adalah press-fitted
pada torque plate kesamaan pada sub-pin yang
dibautkan. Stainless shep plate (suatu shim untuk
mengurangi bunyi, anti sequel shim) dipasang pada
pad dan bagian torque plate yang besentuhan untuk
mencegah suara yang kurang enak dan untuk
keausan pad. Tipe ini digunakan pada rem depan
kendaraan penumpang ukuran menengah.

Gambar 3.19 Tipe AD


d. Tipe PD
Tipe PD dasarnya sama dengan tipe AD
kecuali pada main dan sub-pin saja yang dibaut
pada torque plate. Tipe PD ini digunakan pada
rem-rem kendaraan penumpang yang kecil.

Gambar 3.20 Tipe PD


16

D. Prinsip Kerja Rem Cakram


Sistem rem piringan bekerja dengan adanya suatu gerak gesek antara
pad rem yang diam dengan piringan yang berputar. Pada kendaraan berjalan
mesin berfungsi mengubah energy panas menjadi energy kinetic maka
sebaliknya dari prinsip kerja rem yaitu mengubah energy kinetic menjadi
energy panas dimana pada saat pengereman akan terjadi gesekan antar pad
rem dengan piringan yang akan menghasilkan panas yang selanjutnya panas
dilepas ke udara bebas.
Penggunaan rem selanjutnya berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan,
maka akan timbul panas karena adanya gesekan antar pad dan cakram.
Selama proses pengereman berlangsung, temperature pad dan cakram akan
naik sehingga akan menyebabkan cakram memuai. Cakram yang panas akan
mengurangi daya pengereman.
Rem cakram mempunyai batas pembuatan pada bentuk dan ukurannya.
Karena berkaitan dengan aksi self enegizing limited. Sehingga perlu
tambahan tekanan hidrolik yang lebih besar untuk mendapatkan daya
pengereman yang efisien. Komponen tersebut dinamakan boster rem. Boster
rem mampu melipat gandakan daya penekanan pedal, waktu penekanan pedal
lemah mampu diteruskan menjadi daya pengereman yang besar.

E. Proses Kerja Pembongkaran, Perawatan, serta Pemasangan Komponen


Rem Cakram

1. Komponen Bagian Atas


a. Pedal rem
Pedal rem yaitu komponen pada sistem rem yang berfungsi
untuk melakukan pengereman dengan jalan mendorong booster rem
kemudian ke silinder master. Penggunaan pedal rem biasanya dengan
cara di injak.
1. Data kelayakan
Tinggi pedal dari lantai : 154,7 – 164,7 mm (6,091 – 6,484 inci)
Gerak bebas : 3-6 mm(0,12 – 0,24)
17

2. Penyetelan pedal rem


a. Ukur tinggi pedal

Gambar 3.21 Mengukur Tinggi Pedal

b. Ukur brake pedal free play

Gambar 3.22 Mengukur Pedal Free Play

c. Ukur jarak pedal ke toe board ketika pedal ditekan (D)

Gambar 3.23 Mengukur Clearance Pedal Dengan Toe Board

b. Master silinder
Master silinder merupakan suatu bagian dari konstruksi rem
hidrolis yang berfungsi meneruskan tekanan pedal pengemudi menjadi
tekanan minyak dalam suatu silinder melalui mekanisme gerakan
torak dalam silinder master. Master silinder terbagi menjadi dua yaitu
jenis tunggal dan jenis ganda, prinsip kerja keduanya sama, hanya saja
konstruksinya yang berbeda. Pada laporan ini hanya akan dibahan
18

mengenai master silinder jenis ganda saja. Cara kerja master silinder
ganda yaitu saat rem kembali ke tangki dan katup inlet menutup
saluran masuk. Saat piston bergerak lagi, timbul tekanan dan juga
pada piston 2 juga timbul tekanan sehingga tekanan fluida timbul
pada sistem rem.

Gambar 3.24 Master silinder

Pembongkaran

Gambar 3.25 pembongkaran master silinder

 Keluarkan brake fluid dari bleeder screw


 Lepaskan brake tube dari master silinder

Gambar 3.26 Melepas Hose dan Tube


19

 Lepaskan master silinder dari brake booster

Gambar3.27 Melepas Master Silinder


 Lepaskan fluid reservoir
 Lepaskan stopper bolt
 Lepaskan stopper ring
 Keluarka piston assembly dari master silinder body

Gambar 3.28 Melepas Piston Assembly Dan Periksa Check


Valve Pemeriksaan

Gambar 3.29 Pemeriksaan Master Silinder


 Ukur master silinder diameter dalam dan pistonnya dengan
sliding caliper
 Jika kelonggarannya melebihi limit, maka ganti master atau
pistonya.
20

Gambar 3.30 Mengukur Piston Clearance


Pemasangan
 Berikan anti rust pada permukaan bagian dalam dari master
silinder
 Pasang fluid reservoir dari bands.
 Pasang kembali komponen-komponen master silinder sesuai
dengan urutan.

Gambar 3.31 Memberi Anti Rust


c. Brake rem
Brake booster berfungsi untuk menambah daya penekanan pedal
shingga daya pengereman yang besar atau baik dapat dicapai. Booster
terpasang pada master silinder, akan tetapi ada pula yan terpisah dari
master silinder.
Komponen-komponen booster rem diantaranya adalah :
Rumah booster
Piston booster
Diafragma
Reaction mechanism
Mekanisme katup
21

Cara keraja booster rem yaitu apabila pedal diinjak, katup


terbuka. Karena terjadi perbedaan tekanan, udara menekan diafragma,
push rod menekan piston pada master silinder. Selanjutnya minyak
rem ditekan untuk diteruskan ke silinder roda, lalu terjadilah
pengereman.

Gambar 3.32 Booster Rem


a. Melepas booster rem

Gambar 3.33 Pembongkaran Booster Rem


 Keluarkan brake fluida
 Lepaskan master silinder
 Lepaskan vacuum hose pada sisi booster
 Lepaskan sambungan operatif rod pada brake pedal
 Lepaskan brake booster

Gambar 3.34 Melepas Master Silinder


22

b. Membongkar
 Bersihkan booster body sebelum memulai pembongkaran
 Lepaskan rear sheel

Gambar 3.35 Melepas Booster Assembly


 Lepaskan retainer lalu keluarkan bearing dan valve body seal
dari rear shell
 Lepaskan retainer, keluarkan plater, seal assembly, dan push
rod dari front shell

Gambar 3.36 Melepas Retainer


 Tarik diafragma dari diafragma plate
 Lepaskan silinder retainer dari diafragma plate
 Lepaskan valve plunger stop key
 Tarik valve roda dan plunger assembly

Gambar 3.37 Melepas Silender Retainer


23

c. Pemeriksaan

Gambar 3.38 Urutan Pemeriksaan


 Tiup check valve dari arah engine
 Tiup check valve dari arah brake booster
 Periksa clearance antara booster push rod dengan master
silinder piston

Gambar 3.39 Meniup Check Valve


 Ukur kedalam piston

Gambar 3.40 Mengukur Kedalaman Piston


 Periksa clearance antara booster push rod dengan master
silinder
 Lapisi komponen – komponen dengan gemuk
d. Pemasangan
 Pasang kembali komponen- komponen sesuai dengan urutan
pembongkaran.
24

d. Brake line
Brake line yaitu saluran yang berfungsi untuk menyalurkan
minyak rem kesilinder roda atau caliper. Brake line dapat berupa
selang ataupun pipa-pipa.
a. Pemeriksaan
 Periksa brake tube dari retak, pecah atau berkarat
 Periksa brake hose dari retak, bocor, atau berkarat
 Periksa brake tube flare nut dari rusak atau bocor
b. Pemasangan
 Pasang brake hose
 Pasang brake tube pada posisi yang baik, pasang kliper
3. Komponen Bagian Bawah
a. Caliper
Bagian yang tidak bergerak dari rem cakram adalah caliper,
dimana terdapat silinder-silinder rem, berikut sepatu rem beserta
pistonya. Apabila pedal rem diinjak, maka silinder – silinder rem akan
bekerja secara hidrolik sehingga sepatu – sepatu rem atau pad akan
menjepit, menahan, dan menghentikan carkram rem yang sedang
berputar.
b. Cakram atau piringan
Cakram atau piringan yaitu bagian yang berupa cakram atau
piringan yang ikut berputar bersama roda, bagian inilah yang akan
dijepit atau ditahan oleh pad.
a) Pemeriksaan
Angkat kendaraan dan lepas semua roda
Melepas baut sub pen
Bersihkan caliper dengan udara kompresor, mengamankan
kepala sub pen dengan kunci dan buka baut caliper.
25

Gambar 3.41 Melepas Baut Sub Pen


Membuka caliper, tarik caliper dan balikan ke atas, kemudian
masukan baut yang telah dilepas kedalam plat penahan agar
caliper tidak terjatuh.
Catatan : Slang rem tidak boleh dilepas, caliper tidak boleh
dilepas dari plat penahan dan jangan mengerem saat caliper
tidak terpasang.

Gambar 3.42 Menahan Caliper Dengan Baut


Melepas pad rem, lepaskan pad dalam terlebih dahulu,
kemudian baru pad luar serta shimnya.

Gambar 3.43 Melepas Pad Luar Dan Pad Dalam


26

Membongkar caliper
 Lepas baut nepel agar minyak rem dalam silinder dapt
keluar.
 Pembongkaran piston rem sebaiknya dilakukan dalam bak
air yang dicuci diterjen
 Melepas karet penutup dan klip ring (ring pengunci
tersebut)
 Membongkar piston rem menggunakan tekanan udara
kompresor apabila sulit, gunakan minyak rem untuk
mempermudah proses pelepasan atau menggunakan
minyak anti karat sebagai pelican.
b) Pemeriksaan
Memeriksa caliper dan piston
Setelah piston rem terlepas, bersihkan dengan
menggunakan amplas halus hingga bersih, dan juga bersihkan
silinder. Pada saat pengamplasan, digunakan amplas halus (no.
1) dan dengan air agar tidak terjadi kecacatan atau goresan
pada piston maupun silinder. Setelah bersih, kemudian
keringkan dengan kompresor.
Proses selanjutnya setelah caliper bersih adalah
melakukan pemeriksaan seluruh komponen-komponen caliper.
Hal ini idmaksudkan agar dapat diketahui komponen-
komponen mana yang masih baik sehingga bias digunakan
kembali. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan adalah :
1. Memeriksa komponen-komponen silinder, apabila piston
telah menglami korosi, maka harus ganti
2. Memeriksa keadaan karet penutup, apabila telah mengeras
atau rusak maka harus ganti.
3. Memeriksa keadaan karet penutup, apabila sobek atau
rusak, maka harus diganti agar kotoran dan air dari luar
27

tidak masuk kedalam silinder sehingga tidak menyebabkan


korosi dan rem macet.
Memeriksa keausan pad
Untuk memeriksa pad, gunakan penggaris, ukuran tebal
pad tidak boleh kurang dari 1,00 mm, bila kurang harus diganti
(tidak boleh kurang dari spesifikasi pabrik)

Gambar 3.44 Memeriksa Keausan Pad


Memeriksa cakram
hal yang dilakukan dalam memeriksa cakram yaitu :
1. Mengukur tebal piringan, dilakukan dengan micrometer,
ganti piringan bila tebal minimum atau krang, bila tebal
piringan tidak rata atau aus, harus diratakan dengan bubut
atau ganti.

Gambar 3.45 Mengukur Tebal Piringan


2. Ukur run out disc, digunakan dial indicator, ukur run out
disc pada posisi 10 mm dari ujung luar, run out disc
maksimal 0,06 mm. bila run out lebih besar dari
maksimum, ganti disc atau bubut disc. Perlu diperhatikan
28

sebelum mengukur run out, konfirmasi bahwa gerak bebas


bearing dalam spesifikasi.

Gambar 3.46 Mengukur Run Out Disc


Proses perataan komponen biasanya dilakukan
dibengkel bubut. Kondisi permukaan yang tidak rata
disebabkan oleh kondisi pad yang sudah habis sehingga
piringan akan bergesekan terus dengan besi pad. Gesekan
tersebut akan menyebabkan panas pada piringan dan besi
pad sehingga menurunkan kualitas dari piringan. Selain
menjadikan permukaan piringan menjadi tidak rata,
gesekan pada piringan akan menjadikan piringan menjadi
tipis.
c) Pemasangan
Pemasangan pad rem
Bersihkan plat penahan dimana pad akan dipasang.
Pasang plat penunjang 1, plat pengantar pad 2 dan pegas 3
pada plat momen 4 secara benar. Bersihkan pad rem dengan
ampelas pelan – pelan.

Gambar 3.47 Memasang Plat Penunjang Dan Plat Penghantar


29

Pemasangan pad dalam dan luar dengan shimnya.


Sambil mendorong pegas 3 keatas, pasang pad luar
bersama shimnya 5 pada plat penhan.

Gambar 3.48 Memasang Pad Luar Dan Pad dalam Beserta Shimnya.

Memaang caliper
Bila pad rem baru, maka minyak rem pada reservoir
harus dikurangi, karena dapat meluap saat piston didorong.
Dengan menggunakan palu doronglah piston. Masuk caliper
pelan-pelan supaya boots piston tidak terjepit.

Gambar 3.49 Memasang Kaliper


Memasang baut caliper

Pegang kepala sub-pen dengan kunci, kemudian


kencangkan baut-baut caliper pada momen sepesifikasi.
30

Gambar 3.50 Memasang Baut Caliper Sesuai Dengan Torsinya.


d) Penggantian minyak rem
Pada perawatan berkala pada kilo meter tertentu minyak
rem dapat diganti, minyak rem memiliki masa pakai tertentu yang
harus diganti dengan yang baru, penggantian minyak rem kurang
lebih untuk pemakaian 20.000 KM dan apabila masih cukup
bagus tetapi dalam reservoir (pada master silinder) menunjukkan
batas minimal atau kurang dari F maka perlu untuk ditambah.
Minyak rem yang digunakan tipe DOT 3. Minyak rem ada dua
macam netral dan biasa. Untuk mobil-mobil saat ini biasanya
menggunakan jenis netral karena dapat menghasilkan daya
pengereman yang bagus.

Gambar 3.51 Macam-Macam Minyak Rem


e) Pemeriksaan pipa dan saluran minyak rem
Pemeriksaan sistem rem dari kebocoran dan masuknya
udara. Jika sistem rem diperbaiki atau ada udara di sistem rem,
buanglah udara tersebut. Jika saluran rem kemasukan udara
keluarkan udara dengan jalan tekan pedal rem berulang kali
31

kemudian kendorkan nepel buang udara dengan cara pedal rem


masih ditekan. Ulangi sampai tidak ada lagi gelembung udara.
Langkah-langkah membleending :
Angkat kendaraan
Tambahkan minyak pada reservoir sampai dibawah garis
MAX, Buka nipel pembuangan udara dari silinder roda yang
terjauh dari master silinder.
Masukan selang plastic pada ujung sumbat, dan ujung yang
lain masukan pada penampung oli.
Pembuangan udara dari sumbat terjauh, sampai terakhir yang
terdekat dengan master silinder.
Pedal ditekan beberapa kali, sambil member aba pada teknisi
saat pedal ditekan.
Teknisi membuka sumbat pembuang udara, kemudian
mengeraskan kembali sambil member aba pemompa pedal
rem.

Gambar 3.52 Penekanan Pedal Dan Pembuangan Udara


Ulangi prosedur F dan G sampai udara bersih
Atur tinggi minyak pada batas MAX.

Gambar 3.53 Titik-titik Sumbat Pembuangan Udara


32

f) Pembersihan pad rem


Setiap kelipatan 10.000 KM pada kendaraan perlu ada
pembersihan dan penyetelan rem (clean and adjusting) perlakuan
pada disc brake adalah dengan membersihkan pad rem dan disc
dengan jalan mengendorkan baut caliper kemudian melepas pad
rem dan diamplas, pada disc juga dilakukan pengamplasan apa
bila perlu

B. Diagnose Ganggguan Pada Rem Cakram


No. Gangguan Penyebab Cara Mengatasi
1. Pedal terlalu dalam Batang penekan Ganti
atau tidak kembali silinder bengkok
Batang / setelan sudah Ganti
maksimal
Kampas rem aus Ganti
Fluida rem macet Bleeding
Terdapat udara pada Bleeding
saluran hidrolik
Silinder master rusak Ganti
2. Injakan pedal empuk Ada udara dalam Bleeding
(ngempos) saluran
Sepatu rem di luar Setel rem
jangkauan
Silinder master rusak Ganti
Sambungan longgar / Kencangkan/ganti
saluran rem rusak
Fluida rem berkurang Tambah fluida
3. Pengereman Pad rem basah karena Biarkan kering
memerlukan tenaga air
yang berlebihan
Kampas rem panas Biarkan dingin
Piston macet Ganti
Fluida kurang Tambah fluida
4. Rem keras Pegas terlalu keras Perbaiki / ganti
Booster rem tidak Perbaiki / ganti
kerja
Pedal tidak menyetel Setel
5. Pedal rem tidak Pegas pedal lemah Ganti
kembali
33

6. Rem mengerem terus Pegas lemah Ganti


Sistem hidrolik Periksa bleeding
tersumbat
Pad rem tidak kembali Ganti / perbaiki
7. Jarak rem bekerja Terdapat udara pada Bleeding
rem terlalu jauh sistem
Fluida berkurang Tambah fluida
Pad aus Ganti
8. Pipa fleksibel retak Sudah lama Ganti
Terkena fluida rem Ganti
9. Terdapat fluida pada Caliper bocor Perbaiki/ganti
caliper
Kebocoran pada Perbaiki /ganti
sistem
10. Piston caliper macet Pelumas kurang/ habis Tambah fluida
Kebocoran sistem Perbaiki/ganti
11. Minyak fluida cepat Kebocoran pada Perbaiki/tambah
habis sistem rem fluida
12. Rem tidak pakem Basah karena oli Bersihkan
Pad rem habis Ganti
Minyak fluida kuran Tambah fluida
13. Lampu rem tidak Switch rem rusak Ganti
menyala
Lampu putus Ganti
Arus tidak mengalir Perbaiki
Aki/baterai habis Perbaiki/ganti
14. Lampu rem menyala Saklar rusak Perbaiki/ganti
terus
15. Rem tidak menyetel Pemasangan salah Perbaiki
16. Fluida berkurang Sambungan longgar Perbaiki
Kebocoran pada Perbaiki/ganti
sistem
17. Pengereman bersuara Pad aus Ganti
Cakram aus/kasar Perbaiki/ganti
Komponen longgar Kencangkan
18. Rem menarik Tekanan udara pada Tambah/kurangi
kesalah satu sisi ban tidak sama angin
Caliper rusak Ganti/perbaiki
Fluida mampet perbaiki
19. Rem blong Pad habis Ganti
Cakram licin Bersihkan
Fluida habis Tambah fluida
20. Rem berbunyi Cakram oleng Pres cakram
Pad aus Ganti
21. Pedal terlalu dangkal Setelan pedal salah Setel
22. Rem selip Injakan terlalu dalam Setel
34

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penulisan laporan ini, penulis dapat menarik kesimpulan,
diantaranya yaitu :
1. Rem cakram merupakan Janis rem yang paling banyak digunakan pada
kendaraan-kendaraan modern berpenumpang. Karena konstruksinya yang
sederhana serta mudah dalam perawatan
2. Pada rangkaian rem cakram, terdapat 4 komponen utama yaitu : master
silinder, booster rem, caliper, dan piringan (disc brake).
3. Mekanisme rem cakram yaitu saat pedal ditekan, maka minyak fluida
mengalir dari master silinder menuju caliper melalui saluran minyak,
kemudian oleh caliper digunakan untuk menekan pad dengan bantuan
piston, sehingga pad dapat menjepit cakram kendaraan.
4. Kerusakan yang sering terjadi pada sistem rem cakram tidak akan terjadi
jika dilakukan perawatan secara teratur dan berkala. Perawatan dan
pemeriksaan secara berkala akan dapat mendeteksi gangguan pada rem
cakram.

B. Saran

Lakukan perawatan dan perbaikan kendaraan secara rutin (berkala)


sesuai prosedur yang tertera dalam buku service maupun panduan mengenai
Teknik Otomotif yang bisa didapat dari modul maupun internet (Web).
Khususnya dalam system rem sebaiknya selalu mengecek, merewat ataupun
memperbaikinya benar-benar dilakukan secara rutin, guna menghindari
terjadinya kerusakan rem atau tidak berfungsi rem dengan baik (rem blong)
pada kendaraan. Dan utamakan keselamatan kerja dalam perwatan ataupun
perbaikan serta utamakan keselamatan berkendara.

34
35

DAFTAR PUSTAKA

Sugiharto, Arif (2007). “Cara Kerja dan Perbaikan Rem Disc Brake”. Semarang.
Universitas Negeri Semarang,
Suzuki. Brake Sistem. PT. Indomobil Suzuki Internasional
Suzuki. Transmisi dan Transfer. Indomobil Suzuki Internasional
Buku Panduan Penyusunan Laporan. SMK Rasman Mulya
36

LAMPIRAN
37

DOKUMENTASI
38