Anda di halaman 1dari 8

Nama : Jeffri Vower Situmeang

NPM : 0906533581

Tugas PPh Badan

Soal:

1. Jelaskan kriteria pembeda antara WPDN dan WPLN!

2. Mengapa sistem pajak penghasilan di Indonesia pada reformasi tahun 1983 menerapkan
accreation concept dan meninggalkan source concept? Jelaskan jawaban anda!

3. Apakah realization principle itu? Berikan contohnya!

4. Jelaskan juga pengertian : capital appreciation! Apakah sistem ini diterapkan di


Indonesia? Mengapa?

5. Harap anda jelaskan empat kelompok penghasilan dan berikan contoh-contohnya!

6. Sehubungan dengan pengenaan pajak atas perseroan dan pemengang saham, harap anda
jelaskan:

a. Pendekatan-pendekatan yang dianut sejumlah negara!

b. Jelaskan pendekatan mana yang dianut Indonesia! Berikan contohnya!

7. Sehubungan dengan pembayaran imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan, dan
pengecualiannya, harap anda dapat membuat suatu tabel tentang Taxability – Deductible
Mechanism!

8. Jelaskan tiga penghasilan BUT dan berikan contohnya!

Jawaban:

1. Menurut penjelasan pasal 2 ayat (2)

Perbedaan yang penting antara Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri
terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain:
a. Wajib pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan baik yang diterima atau
diperoleh dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, sedangkan wajib pajak luar
negeri dikenai pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan
dari Indonesia.
b. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif
umum, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan
bruto dengan tarif pajak sepadan; dan
c. Wajib pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam suatu tahun
pajak, sedangkan Wajib pajak luar negeri tidak wajib menyampaikan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan karena kewajiban pajaknya dipenuhi
melalui pemotongan pajak yang bersifat final.

Bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui
bentuk usaha tetap di Indonesia, pemenuhan kewajiban perpajakannya dipersamakan
dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak badan dalam negeri sebagaiman
diatur dalam Undang-Undang ini dan Undang-Undang yang mengatur mengenai
ketentuan umum dan tata cara perpajakan.

Perbedaan antara Wajib Pajak Dalam Negeri dan Wajib Pajak Luar Negeri

(UU No. 36 TAHUN 2008)

Hal / Pembeda WPDN WPLN

Tax Base Net Base Gross Base

Tax Rate Pasal 17, tarif progresif Pasal 26, tarif proporsional
(pribadi); 25% (badan) per (20%)
2010

Kewajiban SPT Wajib menyampaikan SPT Tidak wajib menyampaikan


SPT
Penghasilan yang dikenakan World Wide Income Territorial terbatas

Presensi Berada atau bertempat tinggal < 183 hari dalam 12 bulan
di Indonesia > 183 hari dalam
12 bulan (time test)

Eksistensi Didirikan atau bertempat Tidak didirikan atau tidak


kedudukan di Indonesia bertempat tinggal di Indonesia
(Incoporate In Indonesia)

Tax Rate (badan) 28%, tarif proporsional (2009) 28%, tarif proporsional (2009)

25%, tarif Proporsional (2010) 25%, tarif Proporsional (2010)

2. Setelah tahun 1983 dipakai Accreation concept karena pajak yang didapatkan lebih besar
daripada bentuk Source concept, karena Accreation concept melihat penghasilan adalah
segala jenis bentuk tambahan kemamupan ekonomis yang dapat digunakan untuk konsumsi
maupun untuk menambah kekayaan wajib pajak dengan nama atau dalam bentuk apapun.
Berbeda dengan Source concept yang hanya melihat penghasilan dari empat sumber
pendapatan, yakni (1)usaha dan tenaga, (2) harta gerak, (3) harta tak gerak, (4) pembayaran
berkala, di luar sumber ini tidak dikenakan pajak penhhasilan. .Jadi pajak yang didapat dari
Source concept lebih sedikit dari Accreation concept.

3. Realization principle adalah sutu prinsip dalam pajak penghasilan yang menyatakan
bahwa penghasilan diakui sebagai telah diterima atau diperoleh wajib pajak apabila sudah
terjadi realisasi.Apabila belum terjadi realisasi misalnya dalam hal capital appreciation, maka
dalam sistem pajak penghasilan di Indonesia penghasilan itu belum dianggap sebagai
penghasilan yang dikenakan pajak. Contoh: Pak Budi menpunyai kebun mangga seluas 8
hektar. Kebun mangga tersebut akan dibeli investor seharga Rp 8.000.000,00. Harga yang
ditawarkan investor bukan penghasilan menurut Realization principle. Akan tetapi, apabila
kebun mangga tersebut dijual maka uang sebesar Rp 8.000.000,00 tersebut diakui sebagai
penghasilan menurut Realization principle.
4. Capital appreciation adalah suatu prinsip dalam perpajakan yang menyatakan bahwa
wajib pajak telah dianggap menerima penghasilan apabila telah terjadi kenaikan modal,
walaupun belum terjadi realisasi. Sistem ini tidak diterapkan di Indonesia karena menurut
Undang-Undang Pajak Penghasilan pasal 4 ayat 1, yang dianggap sebagai penghasilan adalah
penghasilan yang telah diterima atau diperoleh..sedangkan jika belum diterima maka belum
bisa disebut penghasilan.

5. Menurut penjelasan Pasal 4 UU PPh , penghasilan dapat dikelompokan menjadi:

a. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti
gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter, notaris, aktuaris, akuntan,
pengacara, dan sebagainya;

• penggantian atau imbalan yang berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi,
bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali
tentukan lain dalam Undang-Undang ini;

b. Penghasilan dari usaha dan kegiatan;

• Laba usaha

c. Penghasilan dari modal, yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak,
seperti bunga, dividen, royalti, sewa, dan keuntungan penjualan harta atau hak
yang tidak dipergunakan untuk usaha; dan

• Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian


utang

• Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta

• Deviden, dengan namadan dalam bentuk apapun, termasuk deviden dari


perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha
koperasi

• Royalti atau imbalan atas penggunaan hak


d. Penghasilan lain-lain, seperti pembebasan utang dan hadiah.

• Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;

6. Pendekatan-Pendekatan yang di anut oleh sejumlah negara:

Classical system yakni suatu sistem yang di anut dalam pemajakan atas perseroan dan pemegang
saham, yang menyatakan, bahwa perseroan dan dua pemegang saham adalah dua entitas yang
berbeda, sehingga layak di kenakan pajak dua kali, yakni sekali pada tingkat perseroan dan sekali
pada tingkat pemegang saham. Sistem ini timbul sebagai akibat dari pendekatan separate entty
approach.

PT.chelsea

(Kena Pajak) Corporation level

Share-holder level

PT singa Tn Drogba
PT Lampard
35% 50%
15%

Dalam sistem ini pajak dikenakan dua kali, yaitu PT.chelsea ,maupun pada lapisan pemegang
saham seperti PT.Singa, PT lampard , dan Tuan Drogba .kembali dikenakan pajak.

Full integrate system yakni suatu sistem pengenaan pajak atas perseroan dan pemegang saham
yang menyatakan, bahwa perseroan dan pemegang saham adalah satu kesatuan terintegrasi,
sehingga pajak penghasilan hanya dikenakan sekali saja, baik pada tingkat perseroan atau pada
tingkat pemegang saham.
Sistem yang digunakan di Indonesia mengenai pajak penghasilan terhadap perseroan dan
pemegang saham mengalami modifikasi, terdapat syarat-syarat tertentu menjadi “full integrate
system”, dan kalau tidak memenuhi syarat-syarat menjadi classical system.

Syarat-syarat tersebut adalah :

1. Dividen berasal dari laba ditahan

2.Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang
menerima deviden, kepemilikan saham pada badan yang memberikan deviden paling rendah
25% dari jumlah modal yang disetor.

Contoh: PT Lampard tidak di kenakan pajak karena pemberian deviden kurang dari 25%,
sedangkan untuk PT singa dan Tuan Drogba di kenakan pajak atas deviden karena melebihi
25%., Pasal 4 (3) huruf f.

7. Sehubungan dengan pembayaran imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan dan
pengecualiannya, harap anda dapat membuat suatu table tentang Taxability-Deductibility
Mechanism!

Taxibilty-Deductibility Mechanism

No Penghasilan Karyawan Pengusaha Dasar Hukum


1 Gaji Taxable Deductable Pasal 6
2 Tarif kesehatan Taxable Deductable Pasal 6
3 Biaya rawat Rumah sakit di Non taxable Deductable Pasal 6
bayar langsung perusahaan ke
rumah sakit

4 Natura dan kenikmatan Non taxable Non deductable Pasal 4 (3) huruf d
Kecuali
Pasal 9(1) huruf e Non taxable Deductable Pasal 9 (1) huruf e
5 Beasiswa Non taxable Deductable Pasal 4 (3) huruf l

8. Menurut pasal 5 UU PPh, yang menjadi objek pajak badan usaha tetap adalah:
a. Penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari harta yang
dimiliki atau dikuasai. (Attribute)

Jery
Luar Indonesia Corporation

Indonesia
BUT Jery Groups

b. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang, atau pemberian
jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan oleh
bentuk usaha tetap di Indonesia. (Force of Attration Rule)

Jery
Corporation

Luar Indonesia

PT Gemilang
BUT Jery Groups ATTRACTED
Di Medan
Indonesia
c. Penghasilan sebagaimana tersebut dalam pasal 26 yang diterima atau diperoleh kantor
pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta
atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud. (Effectively coonected
income)

Jery
Corporation
Luar Indonesia

Indonesia
PT Gemilang
BUT Jery Groups
Di Medan

Hubungan efektif

Pabrik Tekstil