Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

DENGAN GANGGUAN SINDROM NEFROTIK

A.PENGERTIAN
Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan
hiperkolesterolemia kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal.
(Ngastiyah, 1997).
Penyakit ini terjadi tiba-tiba, terutama pada anak-anak. Biasanya berupa oliguria dengan urin

berwarna gelap, atau urin yang kental akibat proteinuria berat (Mansjoer Arif, 1999). Nephrotic

Syndrome merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya injury glomerular yang

terjadi pada anak dengan karakteristik : proteinuria, hypoproteinuria, hypoalbuminemia,

hyperlipidemia dan edema (Suryadi, 2001). Menurut tinjauan dari Robson, dari 1400 kasus,

beberapa jenis glomerulonefritis merupakan penyebab dari 78% sindrom nefrotik pada orang

dewasa dan 93% pada anak-anak (Price, 1995). Sampai pertengahan abad ke-20 morbiditas

sindrom nefrotik pada anak masih tinggi yaitu melebihi 50% sedangkan angka mortalitas mencapai

23%.

B.TANDA DAN GEJALA

Menurut Price & Wilson L. 1995 terdapat beberapa tanda dan gejala pada anak dengan gangguan

Sindrom Nefrotik sb :

1. Nafsu makan berkurang

2. Malaise

3. Edema( Bengkak) pada kelopak mata,perut,tungkai,area belly ( abdomen) dan seluruh

tubuh

1
4. Atropi pada Otot

5. Asites : asitasi cairan intraperitonial

6. Efusi pleura

7. Gangguan fungsi psikososial

8. Frekuensi urin berkurang

9. Kadang-kadang mengalami hipertensi

10. Peningkatan berat badan akibat retensi cairan

11. Proteinuria dan albuminemia.

12. Hipoproteinemi dan albuminemia.

13. Hiperlipidemi khususnya hipercholedterolemi.

14. Lipiduria atau hiperplidemia.

15. Diare

2
C.POHON MASALAH

(Sumber : Price A & Wilson L. 1995)

SINDROM
NEFROTIK
Malaria
Kuartana

Glomerulonefritis
Penyebab akut/kronik

Sekunder Penyakit
Primer Kolagen

Idiopatik Genetik Amoilodosis

Gangguan
Glomerulus
Penurunan sist. imun

Lapisan Kapsula
Risiko tinggi infeksi Bowman
Lapisan Kapiler Lapisan
Glomerulus Basal

Terdapat glikoprotein yang bermuatan (-)


dan berfungsi untuk menahan albumin
menembus glomerulus karena albumin
bermuatan (-)

Terjadi Hiperlipidemia
Hipoalbuminemia dan proteinuria masif karena hilangnya
Hipovolemi
α-glikoprotein
sebagai
Turunnya tekanan onkotik
perangsang enzim
Aliran darah ke plasma (tekanan osmotic
lipase sehingga
ginjal menurun yang ditimbulkan olehn
penurunan
koloid protein plasma.
aktivitas
Tubuh melakukan degredasi lemak.
kompensasi Peningkatan tekanan hidrostatik

3
Perpindahan cairan dari intrasel

Edema Atropi Otot


Pelepasan Renin
Angiotensi Aldosteron
Peningkatan
kolesterol
Vasokontriksi ADH meningkat Penambahan BB
Pembuluh darah

Retensi Na
& H2O Gangguan Body
Image
Penurunan
pengeluaran
urin
Arteriosklerosis

Ateriosklerosis

4
Lanjutan Dari Patofisiologi Hipovolemia pada Anak Penderita SN

Penurunan volume

Hipovolemia

Kelebihan volume Paru-paru Asites Sekresi


Renin
cairan tubuh
Efusi Pleura Peningkatan
Aldosteron
Penekanan pd tubuh terlalu dalam Menekan saraf vagus Reabsobsi
Na
Suplai nutrisi & O2 < Persepsi kenyang Reabsobsi
air
Gangguan
Hipoksia Peningkatan volume
pemenuhan Nutrisi
plasma
Dan psikososial
Iskemia Peningkatan tekanan
darah
Nekrosis Kelemahan Beban jantung
meningkat
ANOREKSIA Ekspansi paru tdk
adekuat

Perubahan perfusi Gangguan Mobilitas Fisik Gangguan Pola Nafas


Gangguan integritas
jaringan / cerebral tidak efektif
kulit,Malabsorbsi,Ga
Intoleransi Aktivitas
ngguan Pola
Eliminasi (Diare)

5
D.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Menurut (Cecily Lynn Betz,2009 ) pemeriksaan diagnostic pada sindrom nefrotik sebagai berikut:

1. Uji urine

a. Protein urin – meningkat.


b. Urinalisis – cast hialin dan granular, hematuria.
c. Dipstick urin – positif untuk protein dan darah.
d. Berat jenis urin – meningkat

2. Uji darah
a. Albumin serum – menurun.
b. Kolesterol serum – meningkat.
c. Hemoglobin dan hematokrit – meningkat (hemokonsetrasi).
d. Laju endap darah (LED) – meningkat.
e. Elektrolit serum – bervariasi dengan keadaan penyakit perorangan.
f. Kadar trigliserid serum- meningkat
g. Hitung Trombosit – meningkat ( mencapai 500.000 sampai 1.000.000 /µl)

3. Uji diagnostik
Biopsi ginjal merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara
rutin,mengindikasikan status glomerular,jenis sindrom nefrotik,respons terhadap
penatalaksanaan medis,dan perjalanan penyakit.Evaluasi mikroskopik menunjukkan tampilan
membrane basalis yang abnormal.

E.PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut (Cecily Lynn Betz,2009 ) proses penatalaksanaan medis pada sindrom nefrotik
Yang diderita anak adalah sebagai berikut :

a. Pengobatan SN terdiri dari pengobatan spesifik yang ditujukan terhadap penyakit dasar dan
pengobatan non-spesifik untuk mengurangi protenuria, mengontrol edema dan mengobati

6
komplikasi. Etiologi sekunder dari sindrom nefrotik harus dicari dan diberi terapi, dan obat-
obatan yang menjadi penyebabnya disingkirkan yaitu :

1. Diuretik
Diuretik misalnya furosemid (dosis awal 20-40 mg/hari) atau golongan tiazid
dengan atau tanpa kombinasi dengan potassium sparing diuretic (spironolakton)
digunakan untuk mengobati edema dan hipertensi. Penurunan berat badan tidak
boleh melebihi 0,5 kg/hari.
2. Pembatasan Natrium ( mengurangi edema )

b. Diet.
Diet untuk pasien SN adalah 35 kal/kgbb./hari, sebagian besar terdiri dari karbohidrat. Diet
rendah garam (2-3 gr/hari), rendah lemak harus diberikan. Penelitian telah menunjukkan
bahwa pada pasien dengan penyakit ginjal tertentu, asupan yang rendah protein adalah
aman, dapat mengurangi proteinuria dan memperlambat hilangnya fungsi ginjal, mungkin
dengan menurunkan tekanan intraglomerulus. Derajat pembatasan protein yang akan
dianjurkan pada pasien yang kekurangan protein akibat sindrom nefrotik belum ditetapkan.
Pembatasan asupan protein 0,8-1,0 gr/ kgBB/hari dapat mengurangi proteinuria. Tambahan
vitamin D dapat diberikan kalau pasien mengalami kekurangan vitamin ini.
c. Terapiantikoagulan
Bila didiagnosis adanya peristiwa tromboembolisme , terapi antikoagulan dengan heparin
harus dimulai. Jumlah heparin yang diperlukan untuk mencapai waktu tromboplastin
parsial (PTT) terapeutik mungkin meningkat karena adanya penurunan jumlah antitrombin
III. Setelah terapi heparin intravena , antikoagulasi oral dengan warfarin dilanjutkan sampai
sindrom nefrotik dapat diatasi.
d. TerapiObat
Terapi khusus untuk sindroma nefrotik adalah pemberian kortikosteroid yaitu prednisone
1 – 1,5 mg/kgBB/hari dosis tunggal pagi hari selama 4 – 6 minggu. Kemudian dikurangi 5
mg/minggu sampai tercapai dosis maintenance (5 – 10 mg) kemudian diberikan 5 mg
selang sehari dan dihentikan dalam 1-2 minggu. Bila pada saat tapering off, keadaan
penderita memburuk kembali (timbul edema, protenuri), diberikan kembali full dose
selama 4 minggu kemudian tapering off kembali. Obat kortikosteroid menjadi pilihan

7
utama untuk menangani sindroma nefrotik (prednisone, metil prednisone) terutama pada
minimal glomerular lesion (MGL), focal segmental glomerulosclerosis (FSG) dan sistemik
lupus glomerulonephritis. Obat antiradang nonsteroid (NSAID) telah digunakan pada
pasien dengan nefropati membranosa dan glomerulosklerosis fokal untuk mengurangi
sintesis prostaglandin yang menyebabkan dilatasi. Ini menyebabkan vasokonstriksi ginjal,
pengurangan tekanan intraglomerulus, dan dalam banyak kasus penurunan proteinuria
sampai 75 %.
Sitostatika diberikan bila dengan pemberian prednisone tidak ada respon, kambuh yang
berulang kali atau timbul efek samping kortikosteroid. Dapat diberikan siklofosfamid 1,5
mg/kgBB/hari. Obat penurun lemak golongan statin seperti simvastatin, pravastatin dan
lovastatin dapat menurunkan kolesterol LDL, trigliserida dan meningkatkan kolesterol
HDL.

1. Obat anti proteinurik misalnya ACE inhibitor (Captopril 3 x 12,5 mg), kalsium antagonis
(Herbeser 180 mg) atau beta bloker. Obat penghambat enzim konversi angiotensin
(angiotensin converting enzyme inhibitors) dan antagonis reseptor angiotensin II dapat
menurunkan tekanan darah dan kombinasi keduanya mempunyai efek aditif dalam
menurunkan proteinuria.

e. Mempertahankan keseimbangan Elektrolit


f. Pengobatan Nyeri
g. Pemberian Antibiotik
h. Terapi Imunosupresif

F.PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Menurut (Cecily Lynn Betz,2009 ) pada proses pengkajian dan asuhan keperawatan pada anak
dengan gangguan sindrom nefrotik sb :
(a) Pengumpulan data.

(b) Identitas anak : nama, usia, alamat, telp, tingkat pendidikan, dll.

(c) Riwayat Kesehatan.

(d) Riwayat kesehatan yang lalu : pernahkah sebelumnya klien sakit seperti ini

8
(e) Riwayat kelahiran, tumbuh kembang, penyakit anak yang sering dialami,

imunisasi, hospitalisasi sebelumnya, alergi dan pengobatan.

(f) Riwayat penyakit saat ini :

 Keluhan utama
 Alasan masuk rumah sakit
 Faktor pencetus
 Lamanya sakit
(g) Identitas keluarga.

(h) Kaji riwayat kesehatan, khususnya yang berhubungan dengan adanya peningkatan

berat badan dan kegagalan fungsi ginjal.

(i) Pengkajian diagnostik meliputi meliputi analisa urin untuk protein, dan sel darah

merah, analisa darah untuk serum protein ( total albumin/globulin ratio, kolesterol

) jumlah darah, serum sodium.

(j) Pemeriksaan Fisik.

1) Antropometri

2) Biokimia

3) Clinical sign

4) Diit

5) Lakukan pengkajian fisik, termasuk pengkajian luasnya edema.


6) Pengkajian umum : TTV, BB, TB, lingkar kepala, lingkar dada ( terkait
dengan edema ).
7) Observasi adanya manifestasi dari Sindrom nefrotik : Kenaikan berat badan,
edema, bengkak pada wajah ( khususnya di sekitar mata yang timbul pada saat
bangun pagi , berkurang di siang hari ), pembengkakan abdomen

9
(asites),kesulitan nafas ( efusi pleura ), pucat pada kulit, mudah lelah,
perubahan pada urin ( peningkatan volum, urin berbusa ).

a. Kaji tanda -tanda dan gejala kelebihan volume cairan

 Edema local ( periorbital,fasial,genetalia eksterna,abdominal)


 Asites dengan ketegangan dan mengilatnya kulit diatas abdomen ( kaji lingkar
abdomen)
 Penambahan BB
 Penurunan haluaran urine
 Urine gelap,berbusa
 Anasarka ( edem berat,merata )
 Kongesti paru,peningkatan usaha bernapas,efusi pleura,edema paru

b. Kaji adanya tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit

 Kaji tanda-tanda hipokalemia

Kardiovaskuler : aritmia,pendataran gelombang T,penurunan


segmen ST,pelebaran QRS,peningkatan interval PR,irama
gallop,peningkatan atau penurunan denyut jantung,hipotensi.
SSP dan musculoskeletal : apati,mengantuk,kelemahan otot,kram
otot,hiporefleksia.

 Kaji tanda-tanda hyponatremia akibat penggunaan diuretic

SSP : apati,kelemahan,pusing,letargi,enselopati,kejang
Kardiovaskuler : hipotensi
GI : mual,kram abdomen

 Kaji tanda-tanda hipematremia akibat hemokonsentrasi

SSP : disorientasi,kedutan otot,letargi,iritabilitas


GI : sangat haus,membrane kerig,mual,muntah

10
Lain-lain : kulit kering dan kemerahan,peningkatan suhu,oliguria

c. Kaji adanya kehilangan protein dan status nutrisi

Pantau protein serum dan ekskresi protein urine


Kaji nafsu makan dan asupan nutrisi
Kaji tanda -tanda memanjangnya hypoalbuminemia : garis-garis putih(
Muehrcke) parallel pada lunula
Kaji adanya pucat
Kaji iritabilitas nonspesifik,kelemahan,keletihan

d. Kaji efek samping dari pemberian obat

Steroid(gambarancushing,hiperglikemia,infeksi,hipertensi,obesitas,perdara
han GI,retardasi pertumbuhan,demineralisasi tulang,katarak)
Agen pengalkilasi ( leukopenia,disfungsi gonad,sterilitas)
Diuretik ( penurunan volume intravaskuler,pembentukan
thrombus,ketidakseimbangan elektrolit)

e. Kaji tanda-tanda penurunan fungsi kardiovaskuler( hipotensi,hipertensi,syok,gagal jantung


kongestif,disritmia jantung,deficit volume cairan )

Tekanan darah ( hipotensi atau hipertensi )


Denyut dan irama jantung ( takikardia,aritmia)
Perfusi distal ( nadi,pengisian kembali kapiler,suhu,warna)
Hipertrofi ventrikel kiri ( aritmia,peningkatan ukuran jantung,penuerunan
curah jantung )

f. Kaji tanda-tanda ketidakefektifan pola pernapasan dan infeksi paru.

Frekuensi dan pola pernapasan ( takipnea,pola tidak teratur )


Pengunaan otot-otot tambahan( retarksi,mengangkat bahu)dan
penegembangan cuping hidung.
Perlunya duduk tegak atau peninggian kepala tempat tidur.

11
Bunyi napas abnormal( ronki,penurunan bunyi napas pada lobu bagian
bawah)
Radiografi dada normal
Sianosis,penurunan saturasi oksigen
Asidosis respiratorik

g. Kaji tanda- tanda infeksi

Demam
Hitung peningkatan sel darah putih
Hasil kultur positif( sekresi paru,urine,darah,atau cairan tubuh lain)
Tanda-tanda selulitis: pembengkakan local,kemerahan,nyeri tekan
Tanda-tanda pneumonia
Tanda-tanda peritonitis : merah,nyeritekan abdomen
Septikemia / syok septic

h. Kaji tanda- tanda kerusakan kulit dari edema berat


i. Kaji tingkat keyamanan dan kemampuan anak untuk mentoleransi aktivitas.Atasi
kekhawatiran dan ketakutan anak dan keluarga yang berkaitan dengan penyakit dan
perubahan citra tubuh.
j. Kaji respons koping anak dan keluarga terhadap penyakit

Kaji fungsi keluarga yang berkaitan dengan iritabilitas anak dan perubahan
alam perasaan
Kaji koping yang berkaitan dengan perubahan citra tubuh dari edema berat
dan pucat
Kaji respons anak dan keluarga terhadap tirah baring dan pembatasan
aktivitas.

8) Pengkajian system
1. Sistem kardiovaskuler : irama dan kualitas nadi, bunyi jantung, ada tidaknya
sianosis, diaphoresis.

12
2. Sistem pernafasan : kaji pola bernafas, adakah wheezing atau ronkhi, retraksi
dada, cuping hidung.
3. Sistem persarafan : tingkat kesadaran, tingkah laku (mood, kemampuan
intelektual, proses pikir), kaji pula fungsi sensori, fungsi pergerakan dan fungsi
pupil.
4. Sistem gastrointestinal : auskultasi bising usus, palpasi adanya hepatomegali /
splenomegali, adakah mual, muntah. Kaji kebiasaan buang air besar.
5. Sistem perkemihan : kaji frekuensi buang air kecil, warna dan jumlahnya.
(h) Pola kebiasaan sehari-hari : pola makan dan minum, pola kebersihan, pola istirahat
tidur, aktivitas atau bermain, dan pola eliminasi
(i) Pemeriksaan penunjang.

G.DIAGNOSA KEPERAWATAN

No.Diagnosa Diagnosa

1 Kelebihan volume cairan b. d. penurunan tekanan osmotic plasma. (

Wong, Donna L, 2004 : 550)

2 Perubahan pola nafas b.d. penurunan ekspansi paru.(Doengoes, 2000:

177)

3 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. anoreksia.


(Carpenito,1999: 204)

13
4 Resti infeksi b.d. menurunnya imunitas, prosedur invasif (Carpenito,
1999:204).

5 Intoleransi aktivitas b.d. kelelahan. (Wong, Donna L, 2004:550)

6 Gangguan integritas kulit b.d. immobilitas.(Wong,Donna,2004:550)

7 Gangguan body image b.d. perubahan penampilan. (Wong, Donna,


2004:553).

8 Gangguan pola eliminasi:diare b.d. malabsorbsi.

H.RENCANA KEPERAWATAN

1. Prioritas Diagnosa Keperawatan


a. Kelebihan volume cairan b. d. penurunan tekanan osmotic plasma. ( Wong, Donna L, 2004 :
550)
b. Perubahan pola nafas b.d. penurunan ekspansi paru.(Doengoes, 2000: 177)
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. anoreksia. (Carpenito,1999: 204)
d. Resti infeksi b.d. menurunnya imunitas, prosedur invasif (Carpenito, 1999:204).
e. Intoleransi aktivitas b.d. kelelahan. (Wong, Donna L, 2004:550)
f. Gangguan integritas kulit b.d. immobilitas.(Wong,Donna,2004:550)
g. Gangguan body image b.d. perubahan penampilan. (Wong, Donna, 2004:553).
h. Gangguan pola eliminasi:diare b.d. malabsorbsi

14
2.Rencana Keperawatan

No.DX Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1 Tujuan : 1. Pantau, ukur dan catat 1.Agar dapat mengawasi intake
tidak terjadi akumulasi cairan intake dan output cairan dan output cairan
dan dapat mempertahankan 2. Observasi perubahan
edema 2.Agar mengetahui
keseimbangan intake dan output.
3. Batasi intake garam perkembangan ada tidaknya
Kriteria Hasil :
4. Ukur lingkar perut akumulasi cairan
menunjukkan keseimbangan dan
5. Timbang berat badan
haluaran, tidak terjadi
setiap hari 3.Agar intake cairan dalam tubuh
peningkatan berat badan, tidak
seimbang
terjadi edema.
4.Untuk mengetahui ada tidaknya
peningkatan BB

5.Agar mengetahui
perkembangan BB
2 Tujuan :Pola nafas adekuat 1. auskultasi bidang paru 1.Agar mengetahui adanya
Kriteria Hasil :Frekuensi dan 2. pantau adanya gangguan pada paru-paru
kedalaman nafas dalam batas gangguan bunyi nafas
2.Agar menegtahui adanya bunyi
normal 3. berikan posisi semi
nafas tambahan pada paru-paru
fowler
4. observasi tanda-tanda
3.Untuk mempermudah jalan
vital
nafas
5. kolaborasi pemberian
obat diuretic. 4.Agar menegtahui
perkembangan tanda-tanda vital

5.Agar dapat menstabilkan


adanya edema dan hipertensi

15
3 Tujuan : 1) Tanyakan makanan 1. Agar mengetahui jenis
Kebutuhan nutrisi terpenuhi kesukaan pasien selera makan pasien
Kriteria Hasil : Tidak terjadi 2) Anjurkan keluarga untuk 2. Agar intake makanan
mual dan muntah, menunjukkan mendampingi anak pada pasien dapat di pantau
masukan yang adekuat, saat makan 3. Agar menegetahui ada
mempertahankan berat badan 3) pantau adanya mual dan tidaknya gangguan pada
muntah nutrisi pasien
4) bantu pasien untuk makan 4. Agar intake pasien tetap
5) berikan makanan sedikit terjaga
tapi sering 5. Agar intake dan outputnya
6) berikan informasi pada seimbang
keluarga tentang diet klien 6. Agar pasien mengerti
tentang kebutuhan
dietnya.

4 Tujuan : 1) Cuci tangan sebelum 1. Agar terkontrol dari


Tidak terjadi infeksi dan sesudah tindakan paparan kuman
Kriteria Hasil : Tidak terdapat 2) Pantau adanya tanda- 2. Agar terpantau ada
tanda-tanda infeksi, tanda-tanda tanda infeksi tidaknya tanda infeksi
vitl dalam batas normal, leukosit 3) Lakukan perawatan 3. Agar tidak terjadinya
dalam batas normal. pada daerah yang infeksi
dilakukan prosedur 4. Agar pasien terhindar dari
invasive resiko infeksi
4) Anjurkan keluarga 5. Agar tidak terjadinya
untuk menjaga reaksi salah obat
kebersihan pasien

16
5) Kolaborasi pemberian
antibiotic

5 Tujuan : 1) Pantau tingkat 1. Agar mengetahui tingkat


Pasien dapat mentolerir aktivitas kemampuan pasien dalan kemampuan aktivitas
dan menghemat energi beraktivitas pasien
2) rencanakan dan sediakan 2. Agar dapat memacu
Kriteria Hasil : aktivitas secara bertahap perkembangan aktivitas
menunjukkan kemampuan 3) anjurkan keluarga untuk yang dapat di lakukan
aktivitas sesuai dengan membantu aktivitas pasien
kemampuan,mendemonstrasikan pasien 3. Agar aktivitas pasien
peningkatan toleransi aktivitas 4) berikan informasi lebih terkontrol.
pentingnya aktivitas bagi 4. Agar pasien memahami
pasien kondisi tubuhnya dalam
berkativitas

6 Tujuan : 1. Inspeksi seluruh 1. Agar dapat melihat ada


Tidak terjadi kerusakan permukaan kulit dari tidaknya kelainan pada
integritas kulit kerusakan kulit dan kulit
Kriteria Hasil : iritasi 2. Agar kulit terjaga
Integritas kulit terpelihara, tidak 2. Berikan bedak/ talk 3. Agar adanya sirkulasi
terjadi kerusakan kulit untuk melindungi kulit udara pada kulit tetap
3. Ubah posisi tidur setiap terkontrol dan
4 jam menghindari terjadinya
4. Gunakan alas yang decubitus
lunak untuk

17
mengurangi penekanan 4. Agar area kulit tidak
pada kulit. mengalami lesi

7 Tujuan : 1. gali perasaan dan 1. Agar mengetahui persepsi


Tidak terjadi gangguan boby perhatian anak terhadap diri pasien
image penampilannya 2. Agar pasien memiliki
Kriteria Hasil : 2. dukung sosialisasi motivasi
Menyatakan penerimaan situasi dengan orang-orang 3. Agar klien mampu
diri, memasukkan perubahan yang tidak terkena berpikir positif pada
konsep diri tanpa harga diri infeksi dirinya
negatif 3. berikan umpan balik
posotif terhadap
perasaan anak

8 Tujuan : 1. observasi frekuensi, 1. Agar mengetahui


Tidak terjadi diare karakteristik dan warna frekuensi,karaktersitik,dan
Kriteria Hasil : feses warna feses dalam batas
Pola fungsi usus normal, 2. identifikasi makanan normal atau tidak
mengeluarkan feses lunak yang menyebabkan 2. Agar menegetahui
diare pada pasien penyebab diare pada
3. berikan makanan yang pasien
mudah diserap dan 3. Agar motilitas usus pasien
tinggi serap. terkontrol.

18
I.REFERENSI

Mansjoer, Arif.1999. Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga, Jilid 1, Media Aesculapius:
Jakarta

Ngastiyah. 1997.Perawatan Anak Sakit. EGC: Jakarta

Suryadi dan Yuliani, Rita, 2001. Praktek klinik Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta :
Agung Seto

Brunner & Suddarth. 2003. Medical Surgical Nursing (Perawatan Medikal Bedah), alih bahasa:
Monica Ester. Jakarta : EGC.

Carpenito, L. J.1999. Hand Book of Nursing (Buku Saku Diagnosa Keperawatan), alih bahasa:
Monica Ester. Jakarta: EGC.

Doengoes, Marilyinn E, Mary Frances Moorhouse. 2000. Nursing Care Plan: Guidelines for
Planning and Documenting Patient Care (Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien), alih bahasa: I Made Kariasa. Jakarta:
EGC.

19
Donna L, Wong. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Anak, alih bahasa: Monica Ester. Jakarta:
EGC.

Price A & Wilson L. 1995. Pathofisiology Clinical Concept of Disease Process (Patofisiologi
konsep klinis proses-proses penyakit), alih bahasa: Dr. Peter Anugrah. Jakarta: EGC

Cecily Lynn Betz,Linda A.Sowden.2009.Buku Saku Keperawatan Pediatri,alih Bahasa :Eny


Meiliya.Jakarta : EGC

20