Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN SIROSIS

HEPATIS

OLEH KELOMPOK 2 TK. IIB DIVKEPERAWATAN :

I GEDE PATRIA PRASTIKA (P07120215059)

NI LUH PUTU MEGA WIJAYANTHI (P07120215060)

PUTU SUSMITHA DEVY LARASATI (P07120215061)

MADE SINTIA MEILINA DEWI (P07120215062)

IDA AYU KADEK DWI MAHARIANI (P07120215063)

NI MADE ARI RENI JAYANTI (P07120215064)

A.A SRI SASMITA LAKSMI (P07120215065)

NI KOMANG AYU PUSPITASARI (P07120215066)

GUSTI AYU PUTU BRILIANI (P07120215067)

NI MADE WERDIANTI PRAWERTI (P07120215068)

NI KT CHANDRA FEBRIYANTI (P07120215070)

NI PT RATNA MARTHA SARI (P07120215071)

NI PT MITA YOGANTARI (P07120215072)

I KT PUDAK BAGUS S. P. (P07120215073)

RONNY ANDRIAN GUPTA (P07120215074)

PT DIAH SINTHA NINGTIAS (P07120215075)

I GST AYU RISA A (P07120215076)

I DW MD AGIE PRAMANA (P07120215077)

N. ADI SUMARTAWAN (P07120215078)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2016
LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN SIROSIS
HEPATIS

A. PENGERTIAN SIROSIS HEPATIS


Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan
menahun pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat, degenerasi dan regenerasi sel-sel hati, sehingga
timbul kekacauan dalam susunan parenkhim hati. (Arief Mansjoer, 1999)
Sirosis hepatis adalah penyakit kronis yang menyebabkan destruksi sel dan fibrosis (jaringan
parut), jaringan hepatik. (Sandra M. Nettina, 2001)
Sirosis hepatis adalah stadium akhir dari penyakit hati, yang menahun dimana
secara anatomis didapatkan proses fibrosis dengan pembentukan nodul regenerasi dan
nekrosis. (Smeltzer & Bare, 2001)
Sirosis hepatis adalah penyakit kronis yang menyebabkan destruksi sel dan
fibrosis (jaringan parut) dari jaringan hepatik.
Sirosis hati adalah penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya
pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses
peradangan nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi
nodul. Distorsi arsitektur hati akan menimbulkan perubahan sirkulasi mikro dan makro
menjadi tidak teratur akibat penambahan jaringan ikat dan nodul tersebut (Suzanne C.
Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2001).

B. ETIOLOGI SIROSIS HEPATIS


Ada banyak penyebab sirosis. Penyebab paling umum adalah kebiasaan meminum
alkohol dan infeksi virus hepatitis C. Sel-sel hati Anda berfungsi mengurai alkohol, tetapi
terlalu banyak alkohol dapat merusak sel-sel hati. Infeksi kronis virus hepatitis C
menyebabkan peradangan jangka panjang dalam hati yang dapat mengakibatkan sirosis.
Sekitar 1 dari 5 penderita hepatitis C kronis mengembangkan sirosis. Tetapi hal ini
biasanya terjadi setelah sekitar 20 tahun atau lebih dari infeksi awal.
Penyebab umum sirosis lainnya meliputi:
1. Infeksi kronis virus hepatitis B.
2. Hepatitis autoimun. Sistem kekebalan tubuh biasanya membuat antibodi untuk
menyerang bakteri, virus, dan kuman lainnya. Pada hepatitis autoimun, sistem
kekebalan tubuh membuat antibodi terhadap sel-sel hati yang dapat menyebabkan
kerusakan dan sirosis.
3. Non-alcohol steato-hepatitis (NASH). Ini adalah kondisi di mana lemak menumpuk
di hati sehingga menciptakan jaringan parut dan sirosis. Kelebihan berat badan
(obesitas) meningkatkan risiko mengembangkan non-alcohol steato-hepatitis.
4. Reaksi parah terhadap obat tertentu.
5. Beberapa racun dan polusi lingkungan.
6. Infeksi tertentu yang disebabkan bakteri dan parasit.

C. TANDA DAN GEJALA SIROSIS HEPATIS


1. Kulit tubuh berwarna kuning 11. Mual
2. Peningkatan waktu protombin 12. Gangguan pencernaan
3. Memar 13. Pendarahan
4. Pendarahan gusi 14. Esofagus varises
5. Menstruasi ekstrem 15. Muntah darah
6. Tidak nafsu makan 16. Anemia
7. Berat badan berkurang 17. Hilang kesadaran
8. Mudah lelah 18. Gatal
9. Ascites 19. Feses pucat
10. Merasakan nyeri perut

D. PATOFISIOLOGI SIROSIS HEPATIS


Konsumsi minuman beralkohol dianggap sebagai faktor penyebab yang utama.
Sirosis terjadi paling tinggi pada peminum minuman keras. Meskipun defisiensi gizi
dengan penurunan asupan protein turut menimbulkan kerusakan hati pada sirosis, namun
asupan alkohol yang berlebihan merupakan faktor penyebab utama pada perlemakan hati
dan konsekuensi yang ditimbulkannya. Namun demikian, sirosis juga pernah terjadi pada
individu yang tidak memiliki kebiasan minum dan pada individu yang dietnya normal tapi
dengan konsumsi alkohol yang tinggi.
Faktor lain diantaranya termasuk pajanan dengan zat kimia tertentu (karbon
tetraklorida, naftalen, terklorinasi, arsen atau fosfor) atau infeksi skistosomiastis dua kali
lebih banyak daripada wanita dan mayoritas pasien sirosis berusia 40 – 60 tahun. Sirosis
laennec merupakan penyakit yang ditandai oleh nekrosis yang melibatkan sel-sel hati dan
kadang-kadang berulang selama perjalanan penyakit sel-sel hati yang dihancurkan itu
secara berangsur-angsur digantikan oleh jaringan parut yang melampaui jumlah jaringan
hati yang masih berfungsi. Pulau-pulau jaringan normal yang masih tersisa dan jaringan
hati hasil regenerasi dapat menonjal dari bagian-bagian yang berkonstriksi sehingga hati
yang sirotik memperlihatkan gambaran mirip paku sol sepatu berkepala besar (hobnail
appearance) yang khas.
Sirosis hepatis biasanya memiliki awitan yang insidus dan perjalanan penyakit
yang sangat panjang sehingga kadang-kadang melewati rentang waktu 30 tahun/lebih.
Secara skematis, patofisiologi sirosis hepatis dapat digambarkan sebagai berikut :
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Sutiadi (2013) pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah :
1. Pemeriksaan fungsi hepar abnormal :
a. Peningkatan alkalin fosfat serum, ALT, dan AST (akibat dari destruksi jaringan
hepar)
b. Peningkatan kadar ammonia darah (akibat dari kerusakan metabolisme protein)
c. Peningkatan bilirubin serum (disebabkan oleh kerusakan metabolisme bilirubin)
d. PT memanjang (akibat kerusakan sintesis protombin dan faktor pembekuan)
2. Biopsi hepar (dapat memastikan diagnosis bila pemeriksaan serum dan pemeriksaan
radiologis tak dapat menyimpulkan)
3. CT scan atau MRI (dilakukan untuk mengkaji ukuran hepar, derajat obstruksi, dan
aliran darah hepatik)
4. Elektrolit serum (menunjukkan hipokalemia, alkalosis, dan hiponatremia, disebabkan
oleh peningkatan sekresi aldosteron pada respons terhadap kekurangan volume cairan
ekstraseluler sekunder terhadap asites)
5. TDL (menunjukkan penurunan SDM, hemoglobin, hematokrit, trombosit, dan SDP
yang merupakan hasil dari depresi sumsum sekunder terhadap kegagalan ginjal dan
kerusakan metabolism nutrien)
6. Urinalisis (menunjukkan bilirubinuria)
7. SGOT, SGPT, LDG (meningkat)
8. Endoskopi retrograd kolangiopankreatografi (ERCP (obtruksi duktus koledukus))
9. Esofagoskopi varises
10. Biopsi hepar dan ultrasonografi

F. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Istirahat di tempat tidur sampai terdapat perbaikan ikterus, asites, dan demam.
2. Diet rendah protein (diet hati III protein 1gr/kg BB, 55 gr protein, 2.000 kalori). Bila
ada asites diberikan diet rendah garam II (600-800 mg) atau III (1.000-2000 mg). Bila
proses tidak aktif diperlukan diet tinggi kalori (2.000-3000 kalori) dan tinggi protein
(80-125 gr/hari). Bila ada tanda-tanda prekoma atau koma hepatikum, jumlah protein
dalam makanan dihentikan (diet hati II) untuk kemudian diberikan kembali sedikit
demi sedikit sesuai toleransi dan kebutuhan tubuh. Pemberian protein yang melebihi
kemampuan pasien atau meningginya hasil metabolisme protein, dalam darah viseral
dapat mengakibatkan timbulnya koma hepatikum. Diet yang baik dengan protein yang
cukup perlu diperhatikan.
3. Mengatasi infeksi dengan antibiotik diusahakan memakai obat-obatan yang jelas tidak
hepatotoksik.
4. Mempebaiki keadaan gizi bila perlu dengan pemberian asam amino esensial berantai
cabang dengan glukosa.
5. Roboransia. Vitamin B compleks. Dilarang makan dan minum bahan yang
mengandung alkohol.

Penatalaksanaan asites dan edema adalah :


1. Istirahat dan diet rendah garam. Dengan istirahat dan diet rendah garam (200-500 mg
perhari), kadang-kadang asitesis dan edema telah dapat diatasi. Adakalanya harus
dibantu dengan membatasi jumlah pemasukan cairan selama 24 jam, hanya sampai 1
liter atau kurang.
2. Bila dengan istirahat dan diet tidak dapat diatasi, diberikan pengobatan diuretik
berupa spironolakton 50-100 mg/hari (awal) dan dapat ditingkatkan sampai 300
mg/hari bila setelah 3 – 4 hari tidak terdapat perubahan.
3. Bila terjadi asites refrakter (asites yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi
medikamentosa yang intensif), dilakukan terapi parasentesis. Walupun merupakan
cara pengobatan asites yang tergolong kuno dan sempat ditinggalkan karena berbagai
komplikasinya, parasentesis banyak kembali dicoba untuk digunakan. Pada umunya
parasentesis aman apabila disertai dengan infus albumin sebanyak 6 – 8 gr untuk
setiap liter cairan asites. Selain albumin dapat pula digunakan dekstran 70%
Walaupun demikian untuk mencegah pembentukan asites setelah parasentesis,
pengaturan diet rendah garam dan diuretik biasanya tetap diperlukan.
4. Pengendalian cairan asites. Diharapkan terjadi penurunan berat badan 1 kg/hari. Hati-
hati bila cairan terlalu banyak dikeluarkan dalam suatu saat, dapat mencetuskan
ensefalopati hepatik.

Penatalaksanaan karena pecahnya varises esophagus


Kasus ini merupakan kasus emergensi, prinsip penanganannya :
1. Pasien diistirahatkan dan dipuasakan
2. Pemasangan IVFD berupa garam fisiologis dan kalau perlu transfusi
3. Pemasangan NGT, hal ini mempunyai banyak sekali kegunaan, yaitu : untuk
mengetahui perdarahan, cooling dengan es, pemberian obat – obatan, dan evaluasi
perdarahan
4. Pemberian obat – obatan berupa antasida, ARH2, Antifibrinolitik, vitamin K,
Vasopressin, Octriotide, dan Somatostatin.
5. Disamping itu diperlukan tindakan – tindakan lain dalam rangka menghentikan
perdarahan misalnya pemsangan Ballon Tamponade dan tindakan Skeloterapi / Ligasi
atau Oesophageal Transection

G. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian keperawatan berfokuskan pada awitan gejala dan riwayat faktor-
faktor pencetus, khususnya penyalahgunaan alkohol dalam jangka waktu yang lama
disamping asupan makanan dan perubahan dalam status jasmani serta rohani penderita.
Pola penggunaan alkohol yang sekarang dan pada masa lampau (durasi dan jumlahnya)
dikaji serta dicatat. Riwayat kontak dengan zat-zat toksik di tempat kerja atau selama
melakukan aktivitas. Pajanan dengan obat-obat y vang potensial bersifat hepatotoksin
atau dengan obat-obat anastesi umum. Status mental dikaji melalui anamnesis dan
interaksi lain dengan pasien; orientasi terhadap orang, tempat dan waktu harus
diperhatikan. Kemampuan pasien untuk melaksanakan pekerjaan atau kegiatan rumah
tangga memberikan informasi tentang status jasmani dan rohani.
1. Identitas klien
2. Riwayat kesehatan :
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
 Biasanya klien dating dengan keluhan lemah/letih, otot lemah
 Anorexia, nausea
 Perut terasa tidak enak
 BB menurun
 Keluhan perit semakin membesar
 Perdaraha gusi
 Gg BAK (inkontinensia urin)  BAK seperti teh pekat
 Gg BAB (konstipasi/diare)
 Sesak napas
 Hemel
b. Riwaya Kesehatan Dahulu
 Apakah ada riwayat konsumsi alcohol?
 Apakah ada riwayat penyakit Hept kronis sebelumnya?
 Apakah ada riwayat gagal jantung kiri/kanan?
 Riwayat pemakaian obat-obatan, merokok, ripampisin
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
 Apakah ada keluarga yang menderita hepatitis/sirosis hepatis?
3. Pemeriksaan fisik
a. Letargi
b. Asites
c. Dispnea
d. Hepatomegali / splenomegali
e. Edema
f. Kulit kering, turgor buruk
g. Ikterik
h. Perdarahan gusi
4. Data pengkajian menurut Doenges ME. dkk (2000) pada pasien yang mengalami
Sirosis Hepatis adalah sebagai berikut :
a. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, terlalu lelah
Tanda : Penurunan massa otot
b. Eliminasi
Gejala : Flatus
Tanda : Distensi abdomen, penurunan atau tidak adanya bising usus, fase warna
tanah liat, melena, dan urine gelap.
c. Makanan/cairan
Gejala : Anoreksia, mual /muntah
Tanda : Penurunan berat badan atau peningkatan, penggunaan jaringan, edema
umum pada jaringan, kulit kering, Ikterik.
d. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri tekan abdomen dengan nyeri kram pada kuadram kanan atas,
Pruritus, Neuritis perifer.
Tanda : Perilaku berhati-hati, focus pada diri sendiri.
e. Keamanan
Gejala : Pruritus
Tanda : Demam, Ikterik, Ekimosis, Angioma Spider.
f. Pernapasan
Gejala : Dispnea
Tanda : Pernapasan dangkal; Ekspansi paru terbatas; Hipoksia.

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kelebihan volume cairan b.d gangguan mekanisme regulasi
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d factor biologis
3. Nyeri akut b.d infeksi
4. Intoleran aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
5. Risiko perdarahan dibuktikan dengan sirosis

I. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Tujuan dan Kriteria
No Intervensi (NIC)
Keperawatan Hasil (NOC)
1 Kelebihan volume Keseimbangan cairan : Manajemen Cairan
cairan b.d gangguan 1. Tekanan darah sedikit 1. Timbang berat badan setiap
mekanisme regulasi terganggu sampai tidak hari dan monitor status pasien
terganggu 2. Jaga intake/asupan yang akurat
2. Denyut nadi radial dan catat output
sedikit terganggu 3. Kaji lokasi dan luasnya edema,
sampai tidak terganggu jika ada
3. Tekanan arteri rata – 4. Monitor makanan/cairan yang
rata sedikit terganggu dikonsumsi dan hitung asupan
sampai tidak terganggu kalori harian
4. Tekanan vena sentral 5. Dorong untuk tirah baring
sedikit terganggu 6. Berikan terapi IV, seperti yang
sampai tidak terganggu ditentukan
5. Tekanan baji paru – 7. Berikan cairan dengan tepat
paru sedikit terganggu 8. Berikan diuretik yang
sampai tidak terganggu diresepkan
6. Denyut perifer sedikit 9. Konsultasikan dengan dokter
terganggu sampai tidak jika tanda – tanda dan gejala
terganggu kelebihan volume cairan
7. Keseimbangan intake menetap atau memburuk
dan output dalam 24
jam sedikit terganggu
sampai tidak terganggu

Hidrasi :
1. turgor kulit sedikit
terganggu sampai tidak
terganggu
2. Kelembaban membrane
mukosa sedikit
terganggu sampai tidak
terganggu
3. Intake cairan sedikit
terganggu sampai tidak
terganggu
4. Output urin sedikit
terganggu sampai tidak
terganggu
5. Serum sodium sedikit
terganggu sampai tidak
terganggu
6. Perfusi jaringan sedikit
terganggu sampai tidak
terganggu
2 Ketidakseimbangan Status Nutrisi : Manajemen Gangguan Makan
nutrisi kurang dari 1. Asupan gizi sedikit 1. Kolaborasi dengan tim
kebutuhan tubuh b.d terganggu sampai tidak kesehatan lain untuk
factor biologis terganggu mengembangkan rencana
2. Asupan makanan perawatan dengan melibatkan
sedikit terganggu klien dan orang – orang
sampai tidak terganggu terdekatnya dengan tepat
3. Asupan cairan sedikit 2. Ajarkan dan dukung konsep
terganggu sampai tidak nutrisi yang baik dengan klien
terganggu 3. Dorong klien untuk
4. Energi sedikit mendiskusikan makanan yang
terganggu sampai tidak disukai bersama dengan ahli
terganggu gizi
5. Rasio berat 4. Gunakan teknik modifikasi
badan/tinggi tidak perilaku untuk meningkatkan
terganggu perilaku yang berkontribusi
6. Hidrasi sedikit terhadap penambahan berat
terganggu sampai tidak badan dan batasi perilaku yang
terganggu mengurangi berat badan dengan
tepat
5. Monitor berat badan klien
sesuai secara rutin

Manajemen Nutrisi :
1. Tentukan status gizi pasien dan
kemampuan pasien untuk
memenuhi kebutuhan gizi
2. Identifikasi adanya alergi atau
intoleransi makanan yang
dimiliki pasien
3. Tentukan jumlah kalori dan
jenis nutrisi yang dibutuhkan
untuk memenuhi persyaratan
gizi
4. Berikan pilihan makanan
sambil menawarkan bimbingan
terhadap pilihan makanan yang
lebih sehat, jika diperlukan
3 Nyeri akut b.d Tingkat Nyeri : Manajemen Nyeri :
infeksi 1. Nyeri yang dilaporkan 1. Lakukan pengkajian nyeri
ringan sampai tidak komprehensif, onset/durasi,
ada frekuensi, kualitas, intensitas,
2. Panjangnya episode atau beratnya nyeri dan factor
nyeri ringan sampai pencetus
tidak ada 2. Pastikan perawatan analgesic
3. Ekspresi wajah nyeri bagi pasien dilakukan dengan
ringan sampai tidak pemantauan yang ketat
ada 3. Kendalikan factor lingkungan
4. Mengerang dan yang dapat mempengaruhi
menangis ringan respon pasien terhadap
sampai tidak ada ketidaknyamanan
5. Tidak ada menggosok 4. Ajarkan prinsip – prinsip
area yang terkena manajemen nyeri
dampak 5. Ajarkan penggunaan teknik non
farmakologi seperti relaksasi

Pemberian Analgesik :
1. Cek perintah pengobatan
meliputi obat, dosis, dan
frekuensi obat analgetik yang
diresepkan
2. Cek adanya riwayat alergi obat
3. Ajarkan tentang penggunaan
analgesic, strategi untuk
menurunkan efek samping, dan
harapan terkait dengan
keterlibatan dalam keputusan
pengurangan nyeri
4 Intoleran aktivitas Toleransi Terhadap Terapi Aktivitas :
b.d Aktivitas : 1. Pertimbangkan kemampuan
ketidakseimbangan 1. Status oksigen ketika klien dalam berpartisipasi
antara suplai dan beraktivitas tidak melalui aktivitas spesifik
kebutuhan oksigen terganggu 2. Berkolaborasi dengan terapis
2. Frekuensi nadi ketika fisik jika memang diperlukan
beraktivitas tidak 3. Bantu klien untuk tetap focus
teganggu pada kekuatan yang dimilikinya
3. Frekuensi pernapasan dibandingkan dengan
ketika beraktivitas kelemahan yang dimilikinya
tidak terganggu 4. Dorong aktivita kreatif yang
4. Kemudahan tepat
pernapasan ketika 5. Instruksikan pasien dan
beraktivitas keluarga untuk melaksanakan
5. Kecepatan berjalan aktivitas yang diinginkan
tidak teganggu maupun yang telah diresepkan

Daya Tahan Manajemen Energi


1. Melakukan aktivitas 1. Kaji status fisiologis pasien
rutin tidak terganggu yang menyebabkan kelelahan
2. Daya tahan otot tidak sesuai dengan konteks usia dan
terganggu perkembangan
3. Hemoglobin tidak 2. Konsulkan dengan ahli gizi
terganggu mengenai cara meningkatkan
energy dan makanan
3. Bantu pasien untuk
menjadwalkan periode istirahat
4. Lakukan ROM aktif/pasif
untuk menghilangkan
ketegangan otot
5 Risiko perdarahan Keparahan Kehilangan Pencegahan Perdarahan :
dibuktikan dengan Darah : 1. Monitor dengan ketat risiko
sirosis 1. Kehilangan darah yang terjadinya perdarahan pada
terlihat ringan sampai pasien
tidak ada 2. Monitor komponen koagulasi
2. Distensi abdomen darah seperti Protrombin Time
ringan sampai tidak 3. Pertahankan agar pasien tetap
ada tirah baring jika terjadi
3. Penurunan hemoglobin perdarahan aktif
ringan sampai tidak 4. Lindungi pasien dari trauma
ada yang dapat menyebabkan
perdarahan
Status Sirkulasi : 5. Gunakan sikat gigi yang
1. Tekanan darah systole berbulu lembut untuk
dan diastole normal perawatan rongga mulut
2. Tekanan darah rata – 6. Hindari mengangkat benda
rata norma; berat
7. Instruksikan pasien untuk
meningkatkan makanan yang
kaya vitamin K

Pengurangan Perdarahan
Gastrointestinal :
1. Pertahankan jalan nafas jika
diperlukan
2. Berikan cairan intravena jika
diperlukan
3. Berikan pengobatan (misalnya
laktulosa atau vasopressin) jika
diperlukan
4. Masukkan selang nasogastrik
untuk menghisap dan
memonitor sekresi jika
diperlukan
J. REFERENSI
NANDA Internasional. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015 -
2017. Jakarta: EGC.

Bulechek, Gloria M. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC). USA: ELSEVIER.

Moorhead, Sue. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA: ELSEVIER

Kusuma, Hardhi. Amin, H. N. 2016. Aplikasi ASUHAN KEPERAWATAN


BERDASARKAN DIAGNOSA MEDIS & NANDA NIC-NOC Jilid 3. Jogjakarta:
Medi Action.

Brunner & Suddarth .Buku Ajar Keperawatan Medikal - Bedah. Vol. 2. EGC. Jakarta.

Smeltzer, Suzanne C, dkk. (2001). Keperawatan Medikal Bedah 2. Edisi 8. Jakarta.