Anda di halaman 1dari 3

DOKTER PENANGGUNG JAWAB PASIEN(DPJP) PADA RUMAH

SAKIT UMUM DAERAH LEUWILIANG KABUPATEN BOGOR

No. Dokumen No. Revisi Halaman


/YANMED/SPO 1 1/3
Di tetapkan
Drektur RSUD Leuwiliang
Tanggal Terbit
STANDAR
OPERASIONAL 10 September 2019
PROSEDUR Drg. Hesti Iswandari S.,M.Kes
Pembina Utama Muda
NIP. 196304081992122001
Dokter sesuai dengan kewenangan klinisnya terkait penyakit pasien,
memberikan asuhan medis lengkap(paket)kepada satu pasien dengan satu
PENGERTIAN
patologi dari awal sampai akhir perawatan di rumah sakit,baik pada
pelayanan rawat jalan dan rawat inap.
TUJUAN Untuk mengetahui riwayat penyakit dan obat yang diberikan, memberi
penilaian klinis yang akurat dan adekuat, memberikan keputusan klinis
berdasar penilaian klinis dan memberikan intervensi klinis berdasarkan
kondisi klinis pasien
Surat Ketetapan Nomor 821/SK-271-RSUDL/2016 tentang Kebijakan
KEBIJAKAN pengisian lembar resume poliklinik RSUD Leuwiliang pada tanggal 4
Januari 2016
PROSEDUR 1. Setiap pasien yang mendapat asuhan medis di rumah sakit baik
rawat jalan maupun rawat inap harus memiliki DPJP.
2. Di unit/instalasi gawat darurat dokter jaga menjadi DPJP pada
pemberian asuhan medis awal/penangan kegawatdaruratan.
Kemudian selanjurnya saat dikonsul/ rujuk di tempat lain (on
side) atau lisan ke dokter spesialis. Dan dokter spesialis tersebut
memberkan asuhan medis (termsuk instruksi secara lisan) maka
dokter spesialis tersebut telah menjadi DPJP pasien yang
bersangkutan sehingga DPP berganti.
3. Apabila pasien mendapat asuhan medis lebih dari satu DPJP,
maka harus ditunjuk DPJP Utama yang berasal dari DPJP pasien
terkait. Kesemua DPJP tersebut bekerja secara tim dalam tugas
mandiri maupun kolaboratif. Peran DPJP Utama adalah sebagai
koordinator proses pengelolaan asuhan medis bagi pasien yang
bersangkutan (sebagai kapten tim), dengan tugas menjaga
terlaksananya asuhan medis komprehensif – terpadu – efektif,
keselamatan pasien, komunikasi efektif, pembangunan
sinergisme, mencegah duplikasi.
4. Setiap penunjukan DPJP harus diberitahu kepada pasien dan atau
keluarga.
5. Koordinasi dan transfer informasi antar-DPJP dilakukan secara
lisan dan tertulis sesuai kebutuhan. Bila ada pergantian DPJP,
pencatatan di rekam medis harus jelas tentang alih tanggung
jawabnya dan mengisi form.
6. Di unit pelayanan intensif DPJP Utama adalah dokter intensifis.
Koordinasi dan tingkat keikutsertaan para DPJP terkait,
tergantung kepada system yang ditetapkan misalnya sistem
terbuka, tertutup, semi terbuka.
7. Di kamar operasi DPJP Bedah adalah ketua dalam seluruh
kegiatan pada saat di kamar operasi tersebut.
8. Pada keadaan khusus misalnya seperti konsul saat di atas meja
operasi/sedang dioperasi, dokter yang dirujuk tersebut melakukan
tindakan/memberikan instruksi, maka otomatis menjadi DPJP
juga bagi pasien tersebut.
9. Dalam pelaksanaan pelayanan dan asuhan pasien, bila DPJP
dibanto oleh dokter lain (antara lain dokter ruangan, residen)
maka DPJP yang bersangkutan harus memberikan supervise, dan
melakukan validasi berupa pemberian paraf/tanda tangan pada
setiap catatan kegiatan tersebut di rekam medis.
10. Asuhan pasien dilakukan oleh para profesional pemberi asuhan
yang bekerja secara tim interdisiplin sesuai konsep Pelayan Fokus
pada Pasien (Patient Centered Care), DPJP sebagai ketua tim
(team leader) harus proaktif melakukan kordinasi dan
mengintegrasikan asuhan medis serta berkomunikasi intensif dan
efektif dalam tim.
11. DPJP harus aktif dan intensif dalam pemberian informasi/edukasi
kepada pasien karena merupakan elemen yang penting dalam
konteks Pelayanan Fokus pada Pasien (Patient Centered Care),
selain itu juga merupakan kompetensi dokter dalam area
kompetensi ke-3 (Standar Kompetensi Dokter Indonesia, KKI
2012; Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik di
Indonesia, KKI 2006).
12. Pendokumentasian yang dilakukan DPJP di rekam medis harus
mencantumkan nama dan paraf/ tanda tangan. Pendokumentasian
tersebut dilakukan antara lain di formulir asesmen awal medis,
catatan perkembangan pasien terintegrasi/CPPT (integrated note),
formulir asesmen pra-anestesi/sedasi, instruksi paska-bedah,
formulir edukasi/informasi ke pasien dan sebagainya. Termasuk
juga pendokumentasian keputusan hasil pembahasan tim medis,
hasil ronde bersama multi kelompok staf medis/departemen dan
sebagainya.
13. Pada kasus tertentu DPJP sebagai ketua tim dari profesional
pemberi asuhan bekerja sama dengan Manajer Pelayanan Pasien
(Hospital Case Manager) sesuai dengan Panduan Pelaksanaan
Manajer Pelayanan Pasien agar terjangkau keberlanjutan
pelayanan.
14. Pasien dapat memilih DPJP yang diinginkan dengan mengisi form
keinginan pasien memilih DPJP

UNIT TERKAIT - IGD


- Instalasi rawat jalan
- Instalasi rawat inap
- Perawat