Anda di halaman 1dari 2

TEKNIK INSERSI

Insersi chest tubeberukuran kecil


Chest tube yang berukuran kecil (kurang dari 20 french) biasanya ditempatkan untuk
mengeluarkan efusi pleura yang terlokalisasi atau kecil dan untuk mengeluarkan udara pada
pneumotoraks iatrogenik jika pneumotoraks terjadi setelah biopsi paru transbronkial. Chest tube yang
berukuran kecil diinsersikan menggunakan sistem kateter seperti catheter over atau through needle
technique dan catheter over guide wire (Seldinger) technique.
Ketika menggunakan catheter over atau through needle technique, prosedur dimulai seperti
melakukan torakosentesis. Dengan jarum yang masih melekat pada tabung suntik, jarum diarahkan ke
lokasi intapleura. Tabung kateter diinsersikan melalui jarum dan introducer tetap dipertahankan. Untuk
pneumotoraks, kateter ini dihubungkan dengan sistem pengisap bertekanan negatif dan dilekatkan ke
kulit dengan benang yang tidak dapat diabsorpsi.
Ketika menggunakan tehnik Seldinger, jarum berukuran 18 dimasukkan pada rongga pleura
bersamaan dengan tabung suntik. Tabung suntik dilepas ketika jarum telah pada lokasi yang tepat dan
guide wire kemudian dimasukkan melalui jarum ke dalam rongga pleura. Setelah jarum dilepaskan,
dibuat insisi kecil dengan skalpel no 11. Dilating Catheter dimasukkan melalui guide wire dan
menembus dinding dada dan ruang interkostal dengan gerakan berputar. Chest tube yang berukuran
kecil diinsersikan dengan menggunakan tehnik di atas. Chest tube memiliki karakteristik yang berbeda
bergantung pada bentuk, kelembutan, kekakuan, kelengkungan (beberapa dari alat tersebut
mempunyai lengkungan seperti pig’s tail pada ujungnya) dan berukuran 8–36 french.
Tehnik ketiga digunakan untuk menginsersikan chest tube yang melekat pada trokar yang
berujung tajam. Insisi 1–3cm seringkali dibuat melalui ruang interkostal sebelum memasukkan trokar.
Setelah trokar ditempatkan, inner stylet dikeluarkan dan tube dimasukkan ke dalam toraks. Trokar
dilepaskan dengan digeserkan melalui chest tube kemudian chest tube diklem di antara trokar dan
dinding dada. Chest tube tetap diklem sampai chest tube dihubungkan dengan alat drainase.
Insersi chest tube berukuran besar (blunt dissection technique)
Keuntungan blunt dissection technique adalah dimungkinkannya memasukkan jari ke dalam
rongga pleura untuk meyakinkan pemasangan chest tube di dalam rongga pleura dan dapat
menghindari adesi/perlekatan. Tehnik ini tidak selalu mudah, khususnya pada pasien dengan jaringan
subkutan yang banyak, atau ketika analgesia yang memuaskan tidak dapat ditemukan. Kulit diinsisi
sampai cukup untuk memasukkan jari telunjuk ke dalam rongga pleura. Jaringan interkostal didiseksi
secara tumpul menggunakan forsep Kelly, untuk memudahkan akses ke dalam rongga pleura. Pada
kasus pneumotoraks, udara akan segera terdengar keluar melalui luka. Jari ditempatkan melalui
tempat insisi untuk mencari apakah terdapat adesi pleura yang dapat mengubah arah chest tube yang
dimasukkan ke apeks paru atau basal paru. Jika adesi ditemukan, jari yang dimasukkan dapat
melepaskan adesi tersebut. Chest tube yang berukuran besar (biasanya 20–36 french) diklem
menggunakan forsep Kelly yang besar, ditempatkan pada tempat yang tepat, kemudian dilepaskan
dari klemnya setelah posisinya tepat di dalam toraks. Setelah bagian paling proksimal chest tube
berukuran paling sedikit 2 cm di dalam rongga pleura, insisi ditutup dan tube dilekatkan pada dinding
dada. Tehnik ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain kemampuan untuk secara manual meraba
pleura, palpasi paru, mencegah adesi, dan mengontrol arah tube pada saat menginsersikannya pada
rongga pleura. Teknik ini memungkinkan pemasangan chest tube berukuran besar untuk
mengevakuasi darah, cairan pleura yang kental, atau sejumlah besar udara. Kerugiannya adalah
pemasangan memerlukan pengalaman dan risiko perdarahannya lebih besar.

Penjahitan dan Penutupan


Ada beberapa macam cara untuk melekatkan chest tube ke dinding dada. Untuk chest tube yang
berukuran besar, metode pertama lebih dipilih yaitu dengan melakukan jahitan matras pada bagian
tengah insisi. Kedua ujung jahitan dibiarkan bebas dan digunakan menutup insisi ketika chest tube
dilepas. Setelah tube masuk, pertama kali ikat setiap jahitan lateral pada kulit menggunakan simpul
ganda kemudian ditutup dengan surgeon knot. Bagian ujung setiap jahitan lateral yang bebas
dilekatkan di sekeliling chest tube untuk mempertahankan chest tube pada tempatnya. Ketika
melekatkan jahitan di sekeliling chest tube, ujung yang bebas dilekatkan kuat di sekeliling tube pada
arah yang berlawanan. Ketika chest tube dilepaskan, jahitan lateral ini dilepaskan dari chest tube. Chest
tube dilepas saat pasien ekshalasi. Seorang asisten menutup tempat insersi menggunakan 2 jari
sementara operator mengikat midline suture. Untuk menentukan tempat insersi tube secara membuta
pada spatium intercostal 5 linea axillaris media, atau dengan dipandu USG toraks untuk menentukan
titik insersi tube.
Sumber :

1. Halim H. Penyakit-Penyakit Pleura. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati
S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4thed. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI; 2006. p. 1066-70.