Anda di halaman 1dari 17

Dampak Hambatan Non Tarif Terhadap Kinerja Makroekonomi Dari Sektor Perikanan ..................

(Subhechanis Saptanto, et al)

DAMPAK HAMBATAN NON-TARIF TERHADAP KINERJA


MAKROEKONOMI DARI SEKTOR PERIKANAN DENGAN
MENGGUNAKAN PENDEKATAN MODEL GTAP
Impact of Non-Tariff Barriers of Macroeconomics Performance of
Fisheries Sector Using Gtap Model Approach
*
Subhechanis Saptanto, Rikrik Rahadian dan Tajerin
Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Gedung Balitbang KP I Lt. 4
Jalan Pasir Putih Nomor 1 Ancol Timur, Jakarta Utara, Indonesia
Telp: (021) 64711583 Fax: 64700924
Diterima tanggal: 29 Maret 2017 Diterima setelah perbaikan: 20 April 2017
Disetujui terbit: 6 Juni 2017
*
email: anis_saptanto@yahoo.com

ABSTRAK
Aktivitas perdagangan internasional selain dapat memberikan manfaat juga dapat memberi
hambatan. Salah satu hambatan yang muncul adalah hambatan non tarif. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis dampak hambatan non tarif terhadap sektor perikanan dengan menggunakan pendekatan
model GTAP. Data sekunder yaitu data GTAP (Global Trade Analysis Project) digunakan dalam kajian
ini. Data GTAP versi 9 yang terdiri dari 140 negara dan 57 sektor dikeluarkan oleh Purdue University,
Amerika Serikat. Penelitian dilakukan di Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan pada
bulan Januari hingga Desember 2016. Metode analisis menggunakan runGTAP dengan 4 skenario
yakni : (a) Skenario 1; Indonesia tetap bertahan dengan Non Tariff yang sudah ditetapkan oleh
negara mitra; (b) Skenario 2; Negara mitra mengurangi Non Tariff sebesar 50% dari kondisi yang ada;
(c) Skenario 3; Indonesia tetap bertahan dengan Non Tariff yang sudah ditetapkan oleh negara mitra dan
pemerintah melakukan intervensi (peningkatan efisiensi dan produktivitas), dan; (d) Skenario 4; Negara
mitra mengurangi Non Tariff sebesar 50% dari kondisi yang ada dan pemerintah melakukan intervensi
(peningkatan efisiensi dan produktivitas). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan hambatan non
tarif dan intervensi kebijakan sangat berpengaruh baik secara makro maupun sektoral. Secara makro
berpengaruh terhadap kesejahteraan, PDB, neraca perdagangan, nilai tukar (terms of trade), indeks
harga konsumen dan konsumsi. Sedangkan secara sektoral berpengaruh terhadap jumlah output, harga
output, jumlah ekspor, harga ekspor, jumlah impor, harga impor dan neraca perdagangan komoditas.
Pada umumnya simulasi 3 yakni pengurangan NTB sampai 100% dan adanya intervensi pemerintah
memberikan efek paling besar dan merupakan pilihan simulasi paling terbaik dibandingkan dengan yang
lain. Secara sektoral simulasi 3 memberikan efek pada jumlah output komoditas tuna dan udang dengan
pertumbuhan sebesar 2,14% dan 0,91%; dampak positif harga sebesar 16,4% dan 5,67%; peningkatan
volume ekspor sebesar 47,78% dan 82,77%.

Kata Kunci: non tarif, model GTAP, sektor perikanan, makroekonomi, sektor ekonomi

ABSTRACT
International trade activities may provide benefits and trade barriers. One of the obstacles in
trade is non-tariff barriers. This study aimed to analyze the impact of non-tariff barriers on the fisheries
sector by using the GTAP model approach. The study using Secondary data of GTAP (Global Trade
Analysis Project). GTAP data version 9 consist of 140 countries and 57 sectors were published by
Purdue University, United States. The research was conducted at Social Economic Research Center
of Marine and Fishery on January to December 2016. The analysis using four scenarios of runGTAP
namely: (a) first scenario, Indonesia has already persisted of Non Tariff by setting of partner countries; (b)
second scenario, partner countries reduce Non-Tariff was 50% of existing conditions; (c) third scenario,
Indonesia persisted of Non-Tariffs by setting partner countries and government doing interventions such
as increasing of efficiency and productivity, and; (d) forth scenario, partner countries reduce Non-Tariff
were 50% of existing conditions and government doing interventions such as increasing of efficiency and
productivity. The result showed that decreasing of non-tariff barriers and policy interventions effected the
both of macro and sectoral conditions significantly. The macro effected on welfare, GDP, Trade Balance,

Korespodensi Penulis:
Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan 75
Gedung Balitbang KP I Lt. 4 Jalan Pasir Putih Nomor 1 Ancol Timur, Jakarta Utara, Indonesia
Telp: (021) 64711583 Fax: 64700924
J. Sosek KP Vol. 12 No. 1 Juni 2017: 75-91

Terms of Trade, Consumer Price Index and Consumption. The sectoral effected the amount of output,
output price, export amount, export price, import volume, import price and commodity trade balance. In
general, third simulation were reduction of NTB up to 100% and intervention of government, gaved the
greatest effected to the performance of macro and sectoral conditions and this scenario was the best
simulation compared to the others. By sectoral, third simulation effected the amount of output of tuna
and shrimp commodity with the growth was 2,14% and 0,91%, positive impact of price was 16.4% and
5.67%; increasing of export volume was 47.78% and 82.77%.

Keywords: non tariff barrier, GTAP model, fisheries sector, macroeconomics, economic sector

PENDAHULUAN meningkatkan penerimaan devisa negara melalui


ekspor hasil perikanan. Komoditas perikanan yang
Indonesia merupakan negara kepulauan penting yang banyak menghasilkan devisa negara
(archipelagic state) terluas di dunia dengan adalah udang dan tuna karena banyak diekspor ke
jumlah pulau sebanyak 17.504 buah dan panjang luar negeri. Setiap tahun jumlah kuota penangkapan
garis pantai mencapai 104.000 km. Total luas ikan tuna sebesar 613.000 ton atau sebesar 11%
laut Indonesia sekitar 3.544 juta km2 atau sekitar dari potensi produksi ikan tuna dunia. Data ekspor
70% dari wilayah Indonesia. Keadaan tersebut ikan tuna Indonesia ke berbagai negara pada 2009
menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai hingga 2013 terus meningkat. Tahun 2009 ekspor
salah satu sektor riil yang potensial di Indonesia. tuna mencapai 132 ribu ton dengan nilai ekspor
Sebagai satu sektor ekonomi yang memiliki peranan mencapai US$ 352 juta. Pada tahun 2013 ekspor
dalam pembangunan ekonomi di Indonesia, tuna mencapai 209 ribu ton dengan nilai ekspor
sektor kelautan dan perikanan pada tahun 2015 mencapai US$ 765 juta. Dengan kata lain ekspor
memberikan konstribusi pada PDB nasional (harga tuna meningkat sebesar 13,67%/tahun dan nilai
konstan) sebesar 2,30 % dari PDB total (Badan ekspornya meningkat sebesar 22,82%/tahun.
Pusat Statistik (BPS) diolah, 2016).
Volume ekspor udang selama lima tahun
Kegiatan ekspor dan impor merupakan terakhir juga menunjukan tren yang positif. Artinya
bentuk dari kegiatan perdagangan bebas yang peningkatan volume produksi udang sejalan
terjadi antar negara karena dengan adanya dengan peningkatan volume ekspor. Pada tahun
perdagangan bebas tersebut akan memberikan 2009 ekspor udang Indonesia sebesar 151 ribu ton
manfaat (gain from trade) bagi negara-negara yang dengan nilai ekspor sebesar US$ 1 Milyar dan
terlibat perdagangan serta terjadi peningkatan pada tahun 2013 ekspor udang sebanyak 162 ribu
kesejahteraan yang lebih besar bila dibandingkan ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,68 Milyar.
jika tidak adanya perdagangan (Kindleberger & Peningkatan ekspor udang sebesar 1,94%/tahun
Lindert, 1978). Hadi (2003) menyatakan bahwa dan nilai ekspornya sebesar 14,39%/tahun.
perdagangan bebas juga akan meningkatkan
kuantitas perdagangan dunia dan meningkatkan Perdagangan bebas tidaklah selalu lancar
efisiensi ekonomi. Selain itu Stephenson (1994) namun suatu saat dapat mengalami kendala dan
mengidentifikasi bahwa perdagangan bebas akan hambatan yang disebabkan oleh kepentingan suatu
meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya negara. Salah satu hambatan yang sering dialami
domestik dan meningkatkan akses pasar ke negara oeh negara berkembang adalah adanya hambatan
lain. Menurut Koo dan Kennedy (2005) hambatan non-tarif. Adanya hambatan ini sering menyulitkan
non-tarif (NTB) digunakan oleh beberapa negara bagi negara eksportir untuk memasukkan produk
untuk melindungi industri yang tidak efisien dan dagangannya ke negara importir yang notabene
menurut Hoekman dan Mattoo (2012) hambatan merupakan negara maju dengan persyaratan yang
perdagangan di negara-negara maju pada bidang begitu ketat. Dikemukakan oleh Nugroho (2007)
manufaktur cenderung menurun sedangkan dalam kaitannya dengan preferensi pasar global,
bidang pertanian masih menunjukkan peningkatan ada masalah dalam pasar global dalam memenuhi
yang pada umumnya terjadi di negara-negara standar internasional, yaitu permasalahan yang
berkembang. berkaitan dengan Sanitary and Phytosanitary
(SPS), technical barrier to trade (TBT), serta tarif
Pembangunan perikanan Indonesia dan harga. Hal inilah yang dialami Indonesia
merupakan suatu kegiatan ekonomi yang memiliki dalam memenuhi permintaan impor komoditas
prospek yang semakin baik, terutama dalam udang oleh pasar Uni Eropa sebagai negara

76
Dampak Hambatan Non Tarif Terhadap Kinerja Makroekonomi Dari Sektor Perikanan .................. (Subhechanis Saptanto, et al)

tujuan ekspor. Dalam konteks ini, para eksportir (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan
(pengusaha perikanan) Indonesia berkewajiban Filipina).
mempelajari dengan seksama setiap kendala
atau hambatan-hambatan yang diadakan oleh Fugazza dan Maur (2006) menguji dampak
Uni Eropa untuk setiap komoditas yang diimpor NTB dari perdagangan internasional menggunakan
negara tersebut. Hambatan non-tarif sering terjadi data dari UNCTAD dan World Bank. Data tersebut
pada komoditas ekspor perikanan Indonensia sering digunakan sebagai bahan untuk penyusunan
termasuk udang dan tuna. Pada tahun 2007 model. Digunakan 27 sektor dan 26 negara dengan
dan 2008 terjadi beberapa kasus penolakan berbasis pada GTAP versi 6. Secara umum studi
terhadap komoditas tuna dan udang Indonesia tersebut bertujuan untuk mengkaji metodologi yang
karena tuna mengandung histamin sedangkan digunakan dalam analisis NTB pada CGE model.
udang mengandung nitrofuran, nitrofurazone Hasil kajian menunjukkan bahwa model yang
dan chloramphenicol. Kasus penolakan ekspor dibangun sangat bermanfaat sebagai alat untuk
perikanan pada tahun 2014 terjadi di 9 Negara menganalisis NTB. Saqib dan Taneja (2005) menguji
dengan 15 Kasus. Di Kanada ada 4 kasus dengan dampak dari NTB di wilayah ASEAN dan Srilanka
komoditas tuna dan udang, Jerman ada 3 kasus pada ekspor India. Tujuan dari kajian ini adalah
dengan komoditas sardin, Korea Selatan ada 2 untuk mengukur besaran NTB yang dihadapi oleh
kasus dengan komoditas kepiting, Belgia ada 1 para eksportir India yang mengalami permasalahan
kasus dengan komoditas swordfish, Italia ada 1 NTB tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa
kasus dengan komoditas kakap, Prancis terjadi 1 besaran NTB dari eksportir India mengalami
kasus dengan komoditas hiu, Inggris ada 1 kasus peningkatan lebih besar di Indonesia, Filipina,
dengan komoditas Prawn, Slovenia ada 1 dengan Malaysia, Thailand daripada di Singapura, Vietnam
komoditas sardin dan Spanyol ada 1 kasus dengan dan Srilanka. Pada tingkat perusahaan banyak dari
komoditas swordfish) (Kementerian Kelautan dan hambatan tersebut dikaitkan dengan penerapan
Perikanan (KKP), 2014). hambatan teknis di perdagangan dan besaran
sanitary/ phytosanitary.
Model GTAP telah digunakan oleh beberapa
peneliti baik di luar maupun dalam negeri untuk Permasalahan utama dalam kajian ini adalah
menganalisis permasalahan perdagangan. upaya merespon dari dampak yang terjadi akibat
Andrianmananjara et al. (2004) mengukur dampak hambatan non-tarif pada perdagangan udang dan
dari non-tarif pada harga, perdagangan dan tuna dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
kesejahteraan menggunakan Computable General masyarakat perikanan dari hulu hingga ke hilir.
Equilibrium (CGE) model. Data yang digunakan Menurut Deardoff et al. (1997), hambatan non-tariff
dalam studi ini berasal WTO, Pemerintah AS, dan terjadi karena ada faktor price dan quantity gap
sumber Uni Eropa, dan UNCTAD untuk komoditas yang sering digunakan oleh negara-negara
tertentu. Data in kemudian dianalisis dengan tujuan ekspor untuk kontrol dan melindungi pasar
pendekatan model GTAP dengan cara agregasi dalam negeri. Sehingga pada penelitian ini untuk
multisektor. Thomassin dan Mukhopadhyay (2008) menghitung NTB setara tariff, umumnya mengacu
memperkirakan dampak ekonomi dan lingkungan pada berbagai penelitian yang telah dilakukan
dari alternatif kebijakan liberalisasi perdagangan terkait NTB dengan metode pendekatan price-gap.
antara 6 negara Asia Timur. Penelitian ASEAN Hasil dari kajian ini diharapkan dapat
Economic Cooperation Trade Liberalization menghasilkan model yang dapat merepresentasikan
Impacts on the National Economy oleh Sugiharso situasi hambatan non-tarif yang ada sehingga dapat
Safuan tahun 2012 (Safuan, 2012). Dampak dari menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat
liberalisasi Perdagangan Pertanian Indonesia- dipakai sebagai acuan bagi pengambil kebijakan
China terhadap Produksi dan Ekspor Pertanian di agar dapat menghasilkan suatu aturan yang
Indonesia: Suatu Penelitian dengan Pendekatan mampu mendorong dampak positif dari perbaikan
Simulasi (Tambunan, 2012). Tujuan dari penelitian ekonomi makro perikanan. Sehingga kajian
ini adalah untuk menguji efek terhadap volume “Dampak hambatan non-tarif perdagangan produk
produksi dan komoditas terpilih seperti padi, daging, tuna dan udang terhadap perekonomian sektor
kedelai, gula, sayuran dan lainnya. Dalam penelitian perikanan sangat penting untuk dilakukan. Tujuan
tersebut bertujuan untuk menganalisis dampak dari penulisan makalah ini adalah mengkaji dampak
liberalisasi perdagangan dengan memfokuskan Hambatan Non-tarif Perdagangan Terhadap kinerja
pada 12 sektor prioritas industri pada ASEAN-5 Perekonomian Sektor Perikanan.

77
J. Sosek KP Vol. 12 No. 1 Juni 2017: 75-91

METODOLOGI Project merupakan suatu database sekaligus


software untuk perdagangan internasional yang
Kerangka Pemikiran
dirintis di Purdue University (Meilani, 2008). Data
Hambatan non-tarif perdagangan produk GTAP pada dasarnya merupakan data yang
tuna dan udang memberikan pengaruh terhadap mencakup Input-Output Tabel masing-masing
kinerja sektor perikanan di Indonesia. Hal ini dapat negara dan aliran perdagangan antarnegara
digambarkan dalam bentuk skema seperti yang dengan berbagai komoditas perdagangan. Data
ditampilkan pada Gambar 1. GTAP yang digunakan dalam kajian ini merupakan
versi 9 dengan jumlah negara mencapai 140
Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa tuna negara dengan 57 sektor.
dan udang merupakan komoditas ekspor unggulan
Indonesia yang pada umumunya diekspor ke Metode Analisis Data
Jepang, Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kegiatan
Kerangka analisis yang digunakan dalam
ekspor itu mengalami permasalahan di antaranya
melakukan pengolahan data GTAP dapat dilihat
adalah hambatan non-tariff yang berpengaruh pada
pada Gambar 2.
penerimaan negara (devisa). Hambatan tersebut
perlu diidentifikasi dan dihitung besaran hambatan Berdasarkan Gambar 2, database GTAP 9
non-tariffnya. Selanjutnya dilakukan analisis dikelompokkan menurut 5 negara yaitu Jepang,
dampak hambatan non-tarif untuk merumuskan Amerika Serikat, Uni Eropa, Indonesia dan
kebijakan yang diambil dan dapat dipergunakan negara-negara lainnya. Selanjutnya dibagi menurut
oleh pemangku kepentingan. 7 sektor yaitu: Perikanan (Fisheries), Pertanian
Lainnya (Other Agriculture), Pertambangan
Lokasi dan Waktu Penelitian dan Ekstraksi (Mining and Extraction), Industri
Penelitian dilakukan di Pusat Penelitian (Manufacture), Utilitas dan Konstruksi (Utilities
Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan pada and Construction), Transportasi dan Komunikasi
bulan Januari hingga Desember 2016. (Transport and Communication)dan Jasa Lainnya
(Other Services). Pengelompokkan dari database
Jenis dan Sumber Data GTAP tersebut kemudian dimasukkan ke dalam
model GTAP dan dilakukan simulasi penurunan
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tarif. Beberapa simulasi yang dilakukan mengikuti
data sekunder yaitu data GTAP (Global Trade beberapa skenario sebagai berikut:
Analysis Project). GTAP atau Global Trade Analysis

Indonesia Negara­Negara Tujuan Ekspor/


Export Destination Countries
Tuna/
Tunas
Produksi/Production
Hambatan Non­tariff/

Udang/
Non Tariff Barrier

Shrimp Jepang/Japan
Kebijakan Nasional dan
Sektoral/National & Sectoral
Policy Uni Eropa/
Europe Union
Kebijakan/Policy Kebijakan
Perdagangan
dan Luar Amerika Serikat/USA
negeri/
Kinerja Perekonomian
Trade and
Nasional & Sektoral/Economic
Foreign Policy
Performance in National &
Sectoral

1. Identifikasi Hambatan Non­tariff/


3. Melakukan Analisis Dampak Hambatan Identify Non Tariff Barrier
Non­tariff dan Kebijakan/ Conduct impact 2. Menghitung Besaran Hambatan Non­ Tariff/
analysis of Non Tariff Barrier and Policy Calculating the magnitude of non tarrif barrier

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Dampak Hambatan Non Tarif Komoditas Tuna dan
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Dampak Hambatan
Udang NonPerikanan
Terhadap Sektor Tarif Komoditas Tuna dan Udang Terhadap
Sektor Perikanan.
Figure 1. Thinking Framework Impacts Non-Tariff Barrier of Tuna and Shrimp Commodities in
Fisheries Sector
Figure 1. Thinking Framework Impacts Non-Tariff Barrier of Tuna and Shrimp Commodities in
FisheriesPada
Sector.
Gambar 1 dapat dilihat bahwa tuna dan udang merupakan komoditas ekspor
unggulan Indonesia yang pada umumunya diekspor ke Jepang, Uni Eropa dan Amerika

78 Serikat. Kegiatan ekspor itu mengalami permasalahan di antaranya adalah hambatan non
tariff yang berpengaruh pada penerimaan negara (devisa). Hambatan tersebut perlu
diidentifikasi dan dihitung besaran hambatan non tariffnya. Selanjutnya dilakukan analisis
dampak hambatan non tarif untuk merumuskan kebijakan yang diambil dan dapat
Metode Analisis Data
Dampak Hambatan Non Tarif Terhadap Kinerja Makroekonomi Dari Sektor Perikanan .................. (Subhechanis Saptanto, et al)
Kerangka analisis yang digunakan dalam melakukan pengolahan data GTAP dapat
dilihat pada Gambar 2.

GTAP Database 9 (2015) :


­ 5 Wilayah/Regions (Japan, USA, Simulasi Penurunan Non
Europe Union, and Rest of the GTAP Tarif/Simulation of Non Tariff
world) Model Barriers Reduction
­ 7 Sektor/Sectors
(Perikanan/Fisheries, Pertanian
Lainnya/Other Agriculture,
Pertambangan & Ekstraksi/Mining &
Extraction, Hasil Simulasi GTAP/GTAP Result :
Manufaktur/Manufacture, utilitas & ­ Makroekonomi Nasional/National
Konstruksi/Utilities & Construction, Macroeconomics
­ Kinerja Perdagagan/Trade
Transportasi &
Performance (Export, Export Price,
Komunikasi/Transport &
and Import Price)
Communication and Jasa
Lainnya/Other Services)

Rekomendasi Kebijakan/Policy
Recommendations
Model CGE Perekonomian KP
Indonesia/CGE Economy
Model for Indonesian
Fisheries and Marine sector

Hasil Simulasi kasus


Indonesia/Single Country Result
(Indonesia case) :
­ Regional Makroekonomi/
Macroeconomics Regional
­ Kinerja Perdagagan/Trade
Performance (Production, Export,
Import and Consumption)

Gambar 2. Kerangka Analisis Data GTAP


Gambar 2. Kerangka Analisis Data GTAP
Figure 2. The GTAP Data Analysis Framework
Figure 2. The GTAP Data Analysis Framework

(a) Skenario 1; Indonesia tetap bertahan dengan 7


PD = PW×ER(1+TR+NTB) .................. (1)
Non-tariff yang sudah ditetapkan oleh negara
mitra; (b) Skenario 2; Negara mitra mengurangi Formula diatas kemudian dijabarkan menjadi
Non-tariff sebesar 50% dari kondisi yang ada; persamaan berikut :
(c) Skenario 3; Indonesia tetap bertahan dengan Pwt = PW × ER(1 + TR) ....................... (2)
Non-tariff yang sudah ditetapkan oleh negara mitra
dan pemerintah melakukan intervensi (peningkatan
PD = Pwt + PW × ER × NTB ............... (3)
efisiensi dan produktivitas), dan; (d) Skenario NTB = (PD − Pwt)/(PW × ER) ................(4)
4; Negara mitra mengurangi Non-tariff sebesar
50% dari kondisi yang ada dan pemerintah Dimana/Where :
melakukan intervensi (peningkatan efisiensi PD : Harga domestik dari produk impor/Domestic
dan produktivitas). Hasil dari simulasi kemudian prices of imported products.
dianalisis menurut makroekonomi nasional dan PW : Harga dunia dalam US Dollar (sudah
kinerja perdagangannya yang mencakup ekspor, termasuk juga biaya pengiriman)/World price
harga ekspor dan harga impor. Dampak terhadap in US Dollar (included shipping cost).
single country dapat dilihat dengan menggunakan ER : Kurs nilai tukar/exchange rate.
model CGE perekonomian Kelautan dan Perikanan Pwt : Harga domestik dari produk impor ditingkat
(KP). Dampak yang dapat diamati yaitu regional dunia setelah adanya pembayaran tarif
makroekonomi dan kinerja sektor perikanan seperti yang dikenakan oleh negara importir /The
produksi, ekspor, impor , konsumsi. domestic price of imported products at world
level after the payment of tariffs imposed by
Besaran Non-Tarif pada Simulasi the importing country.
Besaran non-tarif yang dimasukkan ke NTB : Tarif ekuivalen dari hambatan non tarif pada
dalam simulasi dihitung dengan menggunakan kondisi ad valorem/The tariff equivalent of
pendekatan yang digunakan oleh Chemingui dan non-tariff barriers to ad valorem conditions.
Dessus (2008) yang menggunakan rumus sebagai TR : Tarif rate yang dikenakan pada produk impor/
berikut: Tariff rate imposed on imported products.

79
J. Sosek KP Vol. 12 No. 1 Juni 2017: 75-91

HASIL DAN PEMBAHASAN barang impor yang dijual di pasar domestik (PD)
dengan harga barang impor di pasar dunia (PW).
Besaran Hambatan Non-tarif Perdagangan
Produk Tuna dan Udang Dari kegiatan pengumpulan data yang telah
dilakukan, telah diperoleh data PW, dan PD bagi
Langkah awal untuk memperkirakan dampak berbagai komoditas Tuna dan Udang Indonesia
ekonomi dari adanya hambatan non-tariff barrier di beberapa negara pengimpor. Data tersebut
(NTB) adalah memperkirakan besaran NTB setara selanjutnya diolah untuk menghasilkan besaran
tariff. Untuk menghitung NTB setara tariff, umumnya NTB setara tariff. Data NTB setara Tariff bagi
berbagai penelitian yang telah dilakukan terkait NTB berbagai komoditas Tuna dan Udang Indonesia ke
mempergunakan metode price-gap. Prinsip dasar pasar EU, Jepang dan USA, dan rata-ratanya telah
dari metode tersebut adalah sebuah premis bahwa diringkas dan dapat diamati pada Tabel 1.
NTB akan tergambar pada perbedaan antara harga

Tabel 1. Besaran NTB setara Tariff berbagai komoditas Tuna dan Udang Indonesia di beberapa
Pasar pada Tahun 2014.
Table 1. The Equivalent Value of NTB Tariff various Indonesian Tuna and Shrimp commodities
Markets in 2014.
Hambatan Non Tariff setara Tariff 2014/
Deskripsi Produk/ NTB Equivalent Tariff 2014 (%)
HS Code
Product Description
EU JPN USA
30232 -- Madidihang/Yellowfin tunas 171.62 75.42 134.25
30234 -- Tuna mata besar/Bigeye tunas 54.74 99.45
-- Tuna sirip biru selatan/Southern
30236 1.11
bluefin tunas
-- Albakora/Albacore or longfinned
30341 47.87 49.83 (5,08)
tunas
30342 -- Madidihang/Yellowfin tunas 16.34 38.01 255.76
-- Cakalang/Skipjack or strip-
30343 39.07 0.11
bellied bonito
30344 -- Tuna mata besar/Bigeye tunas 48.26 291.71 16.00
-- Tuna sirip biru selatan/Southern
30346 18.55
bluefin tunas
30487 -- Sejenis tuna/Tunas 74.35 96.98 143,97
Rata-rata (average) Tuna Fresh/Frozen 66.25 69.61 107.39
-- Lobster batu/Rock lobster and
30611 (99.60) 157.09
other sea crawf
-- Udang laut dingin/Cold-water
30616 (46.15) (3.89)
shrimps and prawns
-- Udang lainnya/other shrimps
30617 2.82 18.75 10.88
and prawns
-- Lobster batu/Rock lobster and
30621 45.66
other sea crawf
30622 -- Lobster/Lobsters 22.97
-- Udang laut dingin/Cold-water
30626 754.24
shrimps and prawns
Rata-rata Udang Segar/Beku/
113.32 87.92 3.50
Average shrimp Fresh/Frozen
-- Tuna dan cakalang/Tunas,
160414 2.51 35.13 0.34
skipjack and bonito
160530 - Lobster/Lobster 15.98
Total Rata-rata/Total Average 83.07 69.79 66.77
Sumber: Data Perdagangan Tuna dan Udang Indonesia ke USA, UE dan Jepang, WITS-UNCTAD (Diolah, 2016)./
Source: Indonesian Tuna and Shrimp Trade Data to USA, EU and Japan, WITS-UNCTAD (Processed, 2016).

80
Dampak Hambatan Non Tarif Terhadap Kinerja Makroekonomi Dari Sektor Perikanan .................. (Subhechanis Saptanto, et al)

Olahan data pada tabel 1 menunjukkan Frozen/Fresh. Untuk komoditas Tuna, meskipun
bahwa pada tahun 2014 terdapat NTB setara tariff terdapat indikasi NTB di ketiga pasar, akan tetapi
yang cukup tinggi terhadap berbagai komoditas hanya Jepang negara yang memperoleh nilai NTB
perikanan Indonesia di ketiga pasar tersebut. Uni dua dijit sebesar 35,13%. Baik di pasar Uni Eropa
Eropa merupakan negara dengan nilai NTB setara maupun USA dapat dikatakan terjadi Nilai NTB
tariff total tertinggi, disusul oleh Jepang dan USA yang relatif rendah, dengan nilai masing-masing
dengan nilai yang tidak jauh bertaut, masing- sebesar 2,51% dan 0,34%. Adapun komoditas
masingnya sebesar 83,07%, 69,79% dan 66,77%. olahan Udang, hanya di pasar USA saja yang
terjadi nilai NTB sebesar 15,98%
Rata-rata NTB setara tarif untuk kelompok
komoditas tuna Frozen/Fresh terjadi fenomena yang Dampak Non-tarif Sektor Perikanan terhadap
hampir kedua
serupa dengan
diduduki olehrata-rata total komoditas
Jepang dengan nilai rata-rata Kinerja Makro Ekonomi
sebesar 87,92%, dan USA menempati
perikanan. Data
urutan menunjukkan
ketiga adanya sebesar
dengan nilai rata-rata NTB yang 3,50% saja.
cukup tinggi terhadap kelompok komoditas tersebut Bagian ini akan membahas hasil keempat
Untuk kelompok komoditas olahan, baik udang maupun tuna, diperoleh besaran NTB
di ketiga pasar, namun terjadi dengan urutan yang simulasi pengurangan NTB produk perikanan yang
setara Tariff yang lebih rendah jika dibandingkan kelompok Frozen/Fresh. Untuk komoditas
terbalik.Tuna,
NTBmeskipun
setara tariff tertinggi bagiNTBkelompok dilakukan terhadap beberapa indikator ekonomi
terdapat indikasi di ketiga pasar, akan tetapi hanya Jepang negara
komoditas makro Indonesia. Penjelasan lebih terperinci dari
yangini terjadi di nilai
memperoleh pasar
NTB USA, dengan
dua dijit sebesarnilai
35,13%. Baik di pasar Uni Eropa maupun USA
sebesardapat107,39%. Pada urutan kedua adalah masing-masing indikator ekonomi makro yang
dikatakan terjadi Nilai NTB yang relatif rendah, dengan nilai masing-masing sebesar
Jepang,2,51%
dengan nilai sebesar 69,61%, dan disusul terkena dampak akan dilakukan pada sub-bagian
dan 0,34%. Adapun komoditas olahan Udang, hanya di pasar USA saja yang terjadi
oleh Uni Eropa sebesar 66,25%. berikut.
nilai NTB sebesar 15,98%

Pada kelompok komoditas udang Frozen/ Kesejahteraan Konsumen (Equivalent Variation)


Fresh Dampak
terjadi fenomena yang sama dengan
Non Tarif Sektor Perikanan terhadap Kinerja Makro Ekonomi
Equivalent Variation (EV) adalah sebuah
rata-rata total komoditas perikanan. Meskipun data
Bagian ini akan membahas hasil keempatukuran bagipengurangan
simulasi perubahan kesejahteraan
NTB produk yang terkait
menunjukkan adanya NTB yang sangat tinggi di
perikanan yang dilakukan terhadap beberapa dengan indikator perubahan harga.Indonesia.
ekonomi makro Variabel ini mengukur
pasar Uni Eropa dan Jepang, namun ternyata tidak
perubahan
Penjelasan lebih terperinci dari masing-masing indikator kekayaan
ekonomi makro pada harga yang berlaku
yang terkena
demikian dengan pasar USA. Pasar Uni Eropa
yang ini.
dampak akan dilakukan pada sub-bagian berikut di bawah akan merubah kesejahteraan konsumen,
menunjukkan NTB tertinggi dengan nilai rata-rata
yang disetarakan dengan perubahan kesejahteraan
sebesarKesejahteraan
113,32%. Urutan kedua (Equivalent
Konsumen diduduki oleh
Variation)
sebagai akibat dari adanya perubahan harga
Jepang dengan nilai rata-rata sebesar 87,92%,
Equivalent Variation (EV)adalah sebuah ukuranbarang dengan pendapatan
bagi perubahan kesejahteraan rumah
yang tangga yang
dan USA menempati urutan ketiga dengan nilai
terkait dengan perubahan harga. Variabel ini mengukurtidak mengalami perubahan. Angka positif pada
perubahan kekayaan pada harga
rata-rata sebesar 3,50% saja.
yang berlaku yang akan merubah kesejahteraan variabel konsumen,ini yang
merupakan indikator
disetarakan dari peningkatan
dengan
perubahan kesejahteraan sebagai
Untuk kelompok komoditas olahan, baik akibat dari kesejahteraaan konsumen, sedangkan angka
adanya perubahan harga barang dengan

udang maupun
pendapatantuna, diperoleh
rumah tanggabesaran NTB
yang tidak negatif Angka
setara perubahan.
mengalami menunjukkan adanya
positif pada variabel ini penurunan
Tariff yang lebih rendah
merupakan jikadari
indikator dibandingkan
peningkatankelompok kesejahteraan.
kesejahteraaan konsumen, sedangkan angka negatif
menunjukkan adanya penurunan kesejahteraan.

Sim 4 1410,823853

Sim 3 2060,302979

Sim 2 175,335312

Sim 1 825,716614

0 500 1000 1500 2000 2500

Perubahan Kesejahteraan Konsumen/ Consumer Prosperity Changes

11
Gambar 3. Perubahan Kesejahteraan Konsumen (US$ Juta) pada masing-masing Simulasi,
Indonesia, 2016.
Figure 3. Consumer Prosperity Changes (US $ Million) in Each Simulation, Indonesia, 2016.
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
Source : Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016

81
J. Sosek KP Vol. 12 No. 1 Juni 2017: 75-91

Angka-angka EV pada Gambar 3 Gambar 4 menunjukkan dampak positif


menunjukkan bahwa keempat simulasi yang yang dihasilkan oleh keempat simulasi terhadap
dilakukan berpengaruh terhadap meningkatnya perubahan PDB, melalui tercapainya pertumbuhan
kesejahteraan konsumen, dengan peningkatan yang positif. Pada simulasi pencabutan NTB
tertinggi diperoleh pada Simulasi 3. Kebijakan produk perikanan (Simulasi 1 dan 2), angka
penghapusan NTB produk perikanan yang paling pertumbuhan PDB tertinggi dicapai pada simulasi 1
berpengaruh positif terhadap kesejahteraan – NTB dicabut sepenuhnya – dengan nilai sebesar
konsumen terjadi pada saat dilakukan penghapusan 0,0019%. Pada simulasi pencabutan NTB disertai
NTB sepenuhnya – simulasi 1 – dengan perolehan dengan penguatan di sektor transportasi dan
nilai EV sebesar U$ 826 Juta. Selanjutnya, teknologi produksi sektor perikanan (simulasi 3
penurunan NTB disertai dengan adanya perbaikan dan 4), pertumbuhan PDB yang terjadi mengalami
efektifitas transportasi laut Indonesia ke negara- peningkatan dan mencapai angka tertinggi sebesar
negara tujuan ekspor dan peningkatan produktivitas 0,0021% pada simulasi 3.
output sektor perikanan Indonesia, seperti yang
dilakukan pada simulasi 3 dan 4, ternyata mampu Neraca Perdagangan
lebih meningkatkan nilai EV hingga mencapai
Neraca perdagangan adalah indikator
angkat tertinggi sebesar U$ 2.060 Juta pada
ekonomi makro penting lainnya yang biasanya
Simulasi 3.
diawasi. Indikator ini dapat dipergunakan untuk
menggambarkan baik aliran perdagangan
Produk Domestik Bruto (PDB)
internasional suatu negara maupun aliran
Indikator ekonomi makro penting yang modalnya. Neraca perdagangan yang surplus
biasanya menjadi tolak ukur baik atau buruknya (positif) menggambarkan adanya ekspor yang
sebuah kebijakan adalah PDB. Indikator ini lebih tinggi nilainya dibandingkan impor, atau
menggambarkan seberapa besar kemampuan aliran modal domestik yang lebih tinggi daripada
sebuah negara dalam menyediakan berbagai aliran modal dari luar negeri. Sedangkan neraca
barang dan jasa bagi warga negaranya. Semakin perdagangan yang deficit (negatif) menggambarkan
tinggi nilai PDB yang tercapai maka cenderung lebih tingginya impor dibandingkan ekspor atau
akan dianggap semakin berhasil negara tersebut lebih besarnya modal dari luar negeri dibandingkan
mensejahterakan rakyatnya. modal domestik.

Sim 4 0,000592

Sim 3 0,002095

Sim 2 0,000448

Sim 1 0,001898

0 0,0005 0,001 0,0015 0,002 0,0025 %


Perubahan PDB/Changes in GDP

Gambar 4. Perubahan PDB (%) pada masing-masing Simulasi, Indonesia, 2016


Figure 4. Changes in GDP (%) in each Simulation, Indoneisa, 2016
Gambar 4. Perubahan Kesejahteraan Konsumen (US$ Juta) pada masing-masing Simulasi,
Indonesia, 2016.Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
Sumber: Simulasi
Figure 4. Consumer Prosperity
Source: Simulation Changes
of Trade Model (US $ Million)
and Fishery in Each
Economy Simulation,
of Indonesia, 2016 Indonesia, 2016.
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
Source : Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016
Gambar 4 menunjukkan dampak positif yang dihasilkan oleh keempat simulasi
terhadap perubahan PDB, melalui tercapainya pertumbuhan yang positif. Pada simulasi
82 pencabutan NTB produk perikanan (Simulasi 1 dan 2), angka pertumbuhan PDB tertinggi
dicapai pada simulasi 1 – NTB dicabut sepenuhnya – dengan nilai sebesar 0,0019%. Pada
simulasi pencabutan NTB disertai dengan penguatan di sektor transportasi dan teknologi
Dampak Hambatan Non Tarif Terhadap Kinerja Makroekonomi Dari Sektor Perikanan .................. (Subhechanis Saptanto, et al)

Sim 4 3705,781494

Sim 3 12909,8125

Sim 2 2810,13916

Sim 1 11710,5918

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 US$ Juta/


US$ Million
Perubahan Nilai Neraca Perdagangan/Changes in Trade Balance Value

GambarGambar
5. Perubahan NilaiNeraca
5. Perubahan Nilai Neraca Perdagangan
Perdagangan (US$ Juta) (US$ Juta) padaSimulasi,
pada masing-masing masing-masing Simulasi,
Indonesia, 2016. Indonesia, 2016
Figure 5. Changes in Trade Balance Value (US$ Million) in each Simulation, Indonesia, 2016
Figure 5. Changes in Trade Balance Value (US$ Million) in Each Simulation, Indonesia, 2016.
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
Sumber: Simulasi Model Perdagangan
Source: dan
Simulation of Ekonomi
Trade ModelPerikanan Indonesia,
and Fishery Economy2016/
of Indonesia, 2016
Source: Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016

Gambar 5 menunjukkan dampak simulasi terhadap neraca perdagangan Indonesia


yang
Gambarkesemuanya mengindikasikan
5 menunjukkan dampakterjadinya surplus yang
simulasi yang secara
baik, kuat didorong angka
sedangkan oleh TOT di bawah
terhadap neracaNTB
pencabutan perdagangan Indonesia
produk perikanan. yang perbedaan
Terlihat adanya 100% mengindikasikan kurang baiknya sebuah
surplus yang cukup tinggi
kesemuanya mengindikasikan
antara simulasi 1 dan 2. Nilai terjadinya
surplus yangsurplus perekonomian.
dicapai akibat pencabutan penuh NTB produk
yang secara kuat didorong oleh pencabutan NTB
perikanan bernilai sebesar hampir lima kali lipat dari pencabutan NTB separuhnya, yaitu U$
produk perikanan. Terlihat adanya perbedaan Dampak dari berbagai simulasi yang dilakukan
11.710 Juta. Pada saat pencabutan NTB dibarengi dengan upaya peningkatan
terhadap perubahanefisiensi
TOT mengindikasikan
surplus yang cukup tinggi antara simulasi 1 dan 2.
transportasi dan produktifitas (simulasi 3 dan 4), meskipun
Nilai surplus yang dicapai akibat pencabutan penuh terjadinya pertumbuhan
terjadi peningkatan TOT
angkayang secara dominan
surplusperikanan
NTB produk hingga tercapai angka
bernilai maksimal
sebesar sebesar
hampir dipengaruhi
limaU$ 12.910 Juta pada oleh pencabutan
simulasi 3, namunNTB produk perikanan
kali lipat dari pencabutan
angka maksimal yang NTB separuhnya,
dihasilkan yaitu U$
tidak terlalu jauh terpaut dari angka yang dihasilkan tanpa usaha apapun
(Gambar 6). Pencabutan NTB
11.710Simulasi
Juta. Pada saat10%).
1 (sekitar pencabutan NTB dibarengibetapamenghasilkan
Hal ini mengindikasikan
pertumbuhan TOT maksimal ketika
kuat dorongan Pencabutan NTB
dengan upayaterjadinya
peningkatan NTB dicabut secara penuh (Simulasi 1), sebesar
terhadap surplus efisiensi transportasi
Neraca Perdagangan.
dan produktifitas (simulasi 3 dan 4), meskipun 0,38%. Pencabutan NTB dengan disertai usaha
terjadi peningkatan angka surplus hingga tercapai peningkatan efisiensi transportasi dan produktivitas
angkaNilaimaksimal sebesar
Tukar (Terms U$ 12.910 Juta pada
of Trade/TOT) output sektor perikanan (Simulasi 3 dan 4)
simulasi 3, namun menghasilkan pertumbuhan lebih tinggi dibanding
Secaraangka maksimal
sederhana, yang
indikator nilaidihasilkan
tukar adalah sebuah rasio yang menggambarkan
tidak terlalu jauh terpaut dari angka yang dihasilkan simulasi 1 dan 2, dengan pertumbuhan tertinggi
kemampuan suatu negara untuk membeli barang impor per unit pada
terjadi eksporSimulasi
yang dilakukannya.
3 senilai 0,53%.
Simulasi 1 (sekitar 10%). Hal ini mengindikasikan
Terjadinya pertumbuhan pada Nilai Tukar suatu negara dapat dipergunakan sebagai
betapa kuat dorongan Pencabutan NTB terhadap
indikator meningkatnya kemampuan negara tersebut untuk Konsumsi
mengimporFinal Agregat
lebih banyak Rumah Tangga
barang
terjadinya surplus Neraca Perdagangan.
pada tingkat ekspor tertentu. Angka TOT yang berada di atas 100% mengindikasikan
Konsumsi Final bahwa
Agregat Rumahtangga
Nilai Tukar (Terms of Trade/TOT) (Konsumsi Rumah tangga) adalah kelompok
Secara sederhana, indikator nilai tukar adalah transaksi dalam neraca nasional (national account)
sebuah rasio yang menggambarkan kemampuan yang mewakili pengeluaran pelaku 14 ekonomi terkecil,
suatu negara untuk membeli barang impor per unit yaitu rumah tangga. Sebagai salah satu komponen
ekspor yang dilakukannya. Terjadinya pertumbuhan dalam permintaan akhir, konsumsi rumah tangga
pada Nilai Tukar suatu negara dapat dipergunakan ini merupakan komponen yang cukup diberi
sebagai indikator meningkatnya kemampuan perhatian karena dapat menjadi penggerak bagi
negara tersebut untuk mengimpor lebih banyak tumbuhnya perekonomian. Pertumbuhan konsumsi
barang pada tingkat ekspor tertentu. Angka TOT rumah tangga yang kuat dapat menjadi indikasi
yang berada di atas 100% mengindikasikan dari tumbuhnya ekonomi, sebaliknya melemahnya
bahwa sebuah perekonomian berada pada kondisi konsumsi rumah tangga dapat menjadi indikasi dari
kurang baiknya kondisi perekonomian.

83
J. Sosek KP Vol. 12 No. 1 Juni 2017: 75-91

sebuah perekonomian berada pada kondisi yang baik, sedangkan angka TOT di bawah
100% mengindikasikan kurang baiknya sebuah perekonomian.

Sim 4 0,2331

Sim 3 0,528176

Sim 2 0,080603

Sim 1 0,380239

0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 %


Perubahan Nilai Tukar/Changes in Exchange Rates

Gambar 6. Perubahan
Gambar 6. PerubahanNilai
Nilai Tukar
Tukar (%)(%) pada
pada masing-masing
masing-masing Simulasi,
Simulasi, Indonesia,
Indonesia, 2016 2016.
Figure 6.
Figure 6. Changes
Changes inin
Exchange
Exchange Rates (%) (%)
Rates in each
in Simulation,
Each Indonesia,
Simulation, 2016
Indonesia, 2016.
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
Sumber:
Source: Simulasi
Simulation of Model
Trade Perdagangan dan Ekonomi
Model and Fishery Perikanan
Economy Indonesia,
of Indonesia, 2016 2016/
Source : Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016
Dampak dari berbagai simulasi yang dilakukan terhadap perubahan TOT
mengindikasikan terjadinya pertumbuhan TOT yang secara dominan dipengaruhi oleh
Gambar
pencabutan7 NTB menunjukkan
produk perikanandampak dari6). Pencabutan
(Gambar Fenomena
NTB tanpa usahapenurunan
apapun konsumsi
keempat simulasi terhadap konsumsi rumah rumahtangga tersebut
menghasilkan pertumbuhan TOT maksimal ketika NTB dicabut secara penuh (Simulasi 1), dapat dijelaskan seperti di
tangga sebesar
Indonesia, yang mengindikasikan terjadinya bawah berikut. Pada prinsipnya
0,38%. Pencabutan NTB dengan disertai usaha peningkatan efisiensi transportasi para produsen
penurunan konsumsi. Pencabutan
dan produktivitas output NTB produk
sektor perikanan (Simulasidihadapkan pada pilihanpertumbuhan
3 dan 4) menghasilkan untuk menjual produknya
perikanan secara penuh (Simulasi 1) berdampak di pasar domestik atau di
lebih tinggi dibanding simulasi 1 dan 2, dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada Simulasi
pasar ekspor. Keputusan
terhadap penurunan konsumsi rumah tangga pemilihan pasar tersebut akan sangat dipengaruhi
3 senilai 0,53%.
sebesar 0,29%. Pencabutan
Gambar NTB produk
7 menunjukkan perikanan
dampak oleh permintaan
dari keempat dan harga
simulasi terhadap yang rumah
konsumsi terjadi di pasar
secara tangga
penuh dengan disertai
Indonesia, yangpeningkatan efisiensi
mengindikasikan ekspor.
terjadinya Padakonsumsi.
penurunan saat harga eksporNTB
Pencabutan Tuna dan
Konsumsi Final Agregat Rumah Tangga
transportasi laut Indonesia dan efisiensi produksi Udang meningkat
produk perikanan secara penuh (Simulasi 1) berdampak terhadap penurunan konsumsi akibat dorongan permintaan di
Konsumsi Final Agregat Rumahtangga (Konsumsi Rumah tangga) adalah kelompok
sektor rumah
perikanan Indonesia (simulasi 3) ternyata pasar ekspor, maka
tangga sebesar 0,29%. Pencabutan NTB produk perikanan secara penuh dengan
produsen Tuna dan Udang
transaksi
mendorong dalam neraca
penurunan konsumsi nasional (national
lebih jauh account)
hingga yang mewakili
Indonesia pengeluaran
cenderung memilihpelaku
untuk lebih banyak
disertai peningkatan efisiensi transportasi laut Indonesia dan efisiensi produksi sektor
mencapai angka 0,31%.
ekonomi terkecil, yaitu rumah tangga. Sebagai mengalokasikan produknya ke pasar ekspor. Untuk
salah satu komponen dalam permintaan
perikanan Indonesia
akhir, konsumsi rumah(simulasi
tangga ini3)merupakan
ternyata mendorong penurunan
komponen yang konsumsi
cukup diberi lebih karena
perhatian jauh hingga
mencapai angka
dapat menjadi 0,31%. bagi tumbuhnya perekonomian. Pertumbuhan konsumsi rumah
penggerak
tangga yang kuat dapat menjadi indikasi dari tumbuhnya ekonomi, sebaliknya melemahnya
konsumsi rumah tangga dapat menjadi indikasi dari kurang baiknya kondisi perekonomian.
­0,092026 Sim 4

15
­0,314055 Sim 3

Sim 2
­0,069935

­0,285608 Sim 1

­0,35 ­0,3 ­0,25 ­0,2 ­0,15 ­0,1 ­0,05 0


%
Perubahan Konsumsi Agregat Rumahtangga/Changes in Household Consumption of Aggregates

Gambar 7. Perubahan Konsumsi Agregat Rumahtangga (%) pada masing-masing Simulasi,


Gambar 7. Perubahan Konsumsi Agregat Rumahtangga (%) pada masing-masing
Indonesia, 2016. Simulasi, Indonesia, 2016
Figure 7. Changes in Household
Figure 7. Changes Consumption
in Household of Aggregates
Consumption (%)
of Aggregates in in
(%) Each Simulation,
each Simulation,Indonesia,
2016. Indonesia, 2016
Sumber: Simulasi Model Perdagangan
Sumber: Simulasidan Ekonomi
Model Perikanandan
Perdagangan Indonesia,
Ekonomi2016/
Perikanan Indonesia, 2016/
Source : Simulation of Source: Simulation
Trade Model of Trade
and Fishery Model
Economy and Fishery
of Indonesia, Economy of Indonesia, 2016
2016

Fenomena penurunan konsumsi rumahtangga tersebut dapat dijelaskan seperti di


84
bawah berikut. Pada prinsipnya para produsen dihadapkan pada pilihan untuk menjual
produknya di pasar domestik atau di pasar ekspor. Keputusan pemilihan pasar tersebut
akan sangat dipengaruhi oleh permintaan dan harga yang terjadi di pasar ekspor. Pada saat
Dampak Hambatan Non Tarif Terhadap Kinerja Makroekonomi Dari Sektor Perikanan .................. (Subhechanis Saptanto, et al)

memenuhi peningkatan permintaan tersebut, maka Gambar 9 memperlihatkan dampak simulasi


para produsen Tuna dan Udang Indonesia akan terhadap IHK yang menunjukan besaran inflasi
menggunakan lebih banyak sumberdaya untuk yang ditimbulkan. Kebijakan penghapusan NTB
mendongkrak produksinya. Namun mengingat produk perikanan (simulasi 1 dan 2) cenderung
adanya kendala keterbatasan ketersediaan mendorong terjadinya inflasi, yang paling kuat
sumberdaya, maka peningkatan penggunaan terjadi ketika NTB dicabut sepenuhnya (simulasi
sumberdaya bagi produk Tuna dan Udang 1), yaitu sebesar 0,61%. Adanya pencabutan NTB
tersebut akan berdampak terhadap berkurangnya disertai kebijakan peningkatan efisiensi transportasi
ketersediaan sumberdaya bagi produsen produk- dan produktivitas output sektor perikanan ternyata
produk lain. Oleh Karena itu, berkurangnya mendorong inflasi lebih tinggi, hingga mencapai
ketersediaan sumberdaya tersebut akan disertai angka tertinggi pada simulasi 3 sebesar 0,67%.
dengan peningkatan harga sumberdaya yang
selanjutnya akan menekan produksi serta Dampak Non-tarif Sektor Perikanan Terhadap
meningkatkan harga-harga produk di sektor lain. Kinerja Sektoral
Peningkatan harga-harga umum (inflasi) yang
Pada bagian kedua dari pembahasan ini,
disertai dengan berkurangnya ketersediaan
akan diuraikan dampak dari keempat simulasi yang
berbagai produk tentunya akan menekan konsumsi
dilakukan terhadap beberapa indikator ekonomi
rumahtangga.
sumberdaya tersebut akan disertai dengan peningkatan sektor Perikanan.
harga Pembahasan
sumberdaya akan yang meliputi baik
Indeksselanjutnya
Harga Konsumen indikator ekonomi di pasar internasional, maupun
akan menekan produksi serta meningkatkan harga-harga produk di sektor lain.
di pasar domestik. Dampak keempat simulasi
Peningkatan
Indeks Harga harga-harga
Konsumenumum (IHK)(inflasi) yang disertai dengan berkurangnya ketersediaan
merupakan terhadap berbagai indikator ekonomi sektor
salah berbagai
satu indikator yang dipergunakan
produk tentunya akan menekan konsumsiuntuk rumahtangga.
perikanan diuraikan secara rinci pada bagian di
menggambarkan inflasi yang terjadi pada suatu bawah berikut ini.
negara. Terjadinya pertumbuhan pada IHK
Indeks Harga Konsumen
menunjukkan terjadi peningkatan harga secara Output Produk Perikanan di Indonesia
Indeks Harga Konsumen
umum pada berbagai barang konsumsi, sedangkan (IHK) merupakan salah satu indikator yang dipergunakan
Semua simulasi berdampak pada
kontraksi
untukIHK merupakan indikator
menggambarkan inflasi yangdariterjadi
terjadinya
pada suatu negara. Terjadinya pertumbuhan pada
pertumbuhan output produk perikanan Indonesia
deflasi.IHK
Meskipun secara
menunjukkan teoritis
terjadi inflasi iniharga
peningkatan sangat
secara umum
sepertipada berbagai
yang dapatbarang konsumsi,
dilihat pada Gambar 9.
diperlukan bagi terjadinya pertumbuhan ekonomi,
sedangkan kontraksi IHK merupakan indikator dari Pertumbuhan output Meskipun
terjadinya deflasi. tertinggi terjadi
secarapada simulasi
akan tetapi inflasi juga dapat menjadi pemicu
3 senilai 11,55%,
teoritis inflasi ini sangat diperlukan bagi terjadinya pertumbuhan ekonomi,disusul oleh inflasi
akan tetapi simulasi 4 senilai
lesunya konsumsi rumahtangga dan pada akhirnya
jugaekonomi
dapat menjadi pemicupada lesunya konsumsi
7,34%. Dari hasil simulasi pada Gambar 9 juga
kontraksi dapat dilihat Gambar 8. rumahtangga dan pada akhirnya kontraksi
dapat diamati bahwa usaha peningkatan efisiensi
ekonomi.

Sim 4 0,19752

Sim 3 0,670891

Sim 2 0,15019

Sim 1 0,610432

0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 %


Perubahan Indeks Harga Konsumen/Changes in Consumer Price Index

GambarGambar
8. Perubahan IndeksIndeks
8. Perubahan HargaHarga
Konsumen (%) pada
Konsumen masing-masing
(%) pada Simulasi,
masing-masing Indonesia, 2016
Simulasi,
Figure 8.Changes in ConsumerIndonesia,
Price Index (%) in Each Simulation, Indonesia, 2016
2016
Figure 8. Changes
Sumber:inSimulasi
ConsumerModelPrice Index (%)
Perdagangan dan in each Perikanan
Ekonomi Simulation, Indonesia,
Indonesia, 2016/ 2016
Sumber:Source
Simulasi Model Perdagangan
: Simulation danand
of Trade Model Ekonomi
FisheryPerikanan Indonesia,
Economy of Indonesia,2016/
2016
Source: Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016

Gambar 9 memperlihatkan dampak simulasi terhadap IHK yang menunjukan


85
besaran inflasi yang ditimbulkan. Kebijakan penghapusan NTB produk perikanan (simulasi 1
dan 2) cenderung mendorong terjadinya inflasi, yang paling kuat terjadi ketika NTB dicabut
J. Sosek KP Vol. 12 No. 1inflasi
mendorong Juni 2017:
lebih 75-91
tinggi, hingga mencapai angka tertinggi pada simulasi 3 sebesar
0,67%.

Dampak Non Tarif Sektor Perikanan Terhadap Kinerja Sektoral


transportasi dan produktivitas sektor perikanan berdampak terhadap peningkatan harga produk,
Pada bagian
lebih kuat mendorong kedua dari
terjadinya pembahasan ini,dengan
pertumbuhan akan diuraikan dampak
hasil tertinggi dari
dicapai olehkeempat
simulasi 1 sebesar
output, sebab pencabutan NTB produk perikanan
simulasi yang dilakukan terhadap beberapa 0,47% (Gambar 10). Sedangkan simulasi-simulasi
indikator ekonomi sektor Perikanan.

secara penuh tanpa akan


Pembahasan usaha peningkatan
meliputi tersebut,
baik indikator ekonomipencabutan NTB yang maupun
di pasar internasional, disertai di
usaha
pasarpeningkatan
seperti pada simulasi
domestik. 1, hanya
Dampak sanggup
keempat mendorong
simulasi efisiensi
terhadap berbagai transportasi
indikator ekonomi dan produktivitas
sektor output sektor
perikanan
pertumbuhan output
diuraikan senilai
secara rinci 5,04%.
pada bagian di bawah berikutperikanan,
ini. simulasi 3 dan 4, berdampak terhadap
Output Produk Perikanan di Indonesia terjadinya penurunan harga pasar produk perikanan
Harga Pasar produk Perikanan Indonesia, dengan penurunan tertinggi terjadi pada
Semua simulasi berdampak pada pertumbuhan output produk perikanan Indonesia
simulasi 4 senilai 5,57%. Dari hasil tersebut dapat
Pada sisiyang
seperti harga
dapatpasar produk
dilihat perikanan
pada Gambar 9. Pertumbuhan output tertinggi terjadi pada
dilihat bahwa usaha peningkatan merupakan
Indonesia, keempat simulasi yang dilakukan
simulasi 3 senilai 11,55%, disusul oleh simulasi 4faktor senilaiyang
7,34%. Daridominan
hasil simulasi pada
lebih mempengaruhi harga
menghasilkan perbedaan arah dampak. Simulasi-
Gambar 14 juga dapat diamati bahwa usaha produk peningkatan efisiensi transportasi dan pencabutan
perikanan dibandingkan dengan
simulasi pencabutan NTB produk perikanan tanpa
produktivitas sektor perikanan lebih kuat mendorong NTB.terjadinya pertumbuhan output, sebab
disertai usaha peningkatan, simulasi 1 dan 2,
pencabutan NTB produk perikanan secara penuh tanpa usaha peningkatan tersebut, seperti
pada simulasi 1, hanya sanggup mendorong pertumbuhan output senilai 5,04%.

sim 4 7,34

Sim 3 11,55

Sim 2 1,07

Harga Pasar
Sim 1
produk Perikanan5,04
Pada sisi harga pasar produk perikanan Indonesia, keempat simulasi yang dilakukan
menghasilkan 0,00
perbedaan
2,00 arah 4,00
dampak.
6,00Simulasi-simulasi
8,00 10,00 pencabutan
12,00 NTB
14,00 produk
%
perikanan tanpa disertaiPertumbuhan
usaha peningkatan, simulasi
Volume Output/Growth 1 dan
of Output 2, berdampak terhadap
Volume

peningkatan harga produk, dengan hasil tertinggi dicapai oleh simulasi 1 sebesar 0,47%
Gambar 9. Dampak Keempat Simulasi Terhadap Pertumbuhan Volume Output Sektor Perikanan
(Gambar
Gambar 10). Sedangkan
9. Dampak simulasi-simulasi pencabutan NTBVolume
yang Output
disertaiSektor
usaha
Indonesia (%). Keempat Simulasi Terhadap Pertumbuhan
Perikanan Indonesia (%)
peningkatan
Figure 9.
Figure All efisiensi
All9.Impact
Impact oftransportasi
of Simulation dan
Simulation on produktivitas
Growth
on Growth ofof output sektor
Indonesian
Indonesian perikanan,
Fishery
Fishery simulasi
SectorSector
Output 3 dan
Output
Volume Volume (%).
(%)
4, berdampak
Sumber: Simulasi Model terhadap
Simulasiterjadinya
Perdagangan
Sumber: dan Ekonomi
Model penurunan
Perikanandan
Perdagangan harga pasar
Indonesia,
Ekonomi2016/ produkIndonesia,
Perikanan perikanan2016/
Indonesia,
Source : Simulation of Source:
Trade Simulation
Model and of
FisheryTrade Model
Economy of and Fishery
Indonesia, Economy
2016 of Indonesia, 2016
dengan penurunan tertinggi terjadi pada simulasi 4 senilai 5,57%. Dari hasil tersebut dapat
dilihat bahwa usaha peningkatan merupakan faktor yang lebih dominan mempengaruhi
harga produk perikanan dibandingkan dengan pencabutan NTB.

18
­5,573044 sim 4

­5,221938 Sim 3

Sim 2 0,100434

Sim 1 0,473711

­6 ­5 ­4 ­3 ­2 ­1 0 1 %
Perubahan Harga Produk/Price Changes of Product

Gambar 10. Dampak Keempat Simulasi Terhadap Perubahan Harga Produk Sektor Perikanan
Gambar 10. Dampak Keempat SimulasiIndonesia Terhadap
(%) Perubahan Harga Produk Sektor Perikanan
Figure 10. All Impact of Simulation on Price Change of Fishery Sector Product of Indonesia (%)
Indonesia (%).
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016 /
Source: Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016
Figure 10. All Impact of Simulation on Price Change of Fishery Sector Product of Indonesia (%).
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
Ekspor Produk Perikanan dari Indonesia
Source : Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016
Dampak simulasi terhadap volume ekspor produk perikanan Indonesia, seperti telah
dirangkum pada pada Gambar 11, menunjukkan bahwa pencabutan NTB produk perikanan
86 merupakan faktor yang lebih dominan mempengaruhi pertumbuhan volume ekspor produk
perikanan Indonesia. Pencabutan NTB produk perikanan secara penuh tanpa disertai usaha
peningkatan – simulasi 1 – ternyata mampu mendorong pertumbuhan volume ekspor produk
Dampak Hambatan Non Tarif Terhadap Kinerja Makroekonomi Dari Sektor Perikanan .................. (Subhechanis Saptanto, et al)

Ekspor Produk Perikanan dari Indonesia 10% saja, pencabutan NTB disertai usaha
peningkatan – simulasi 3 – menghasilkan
Dampak simulasi terhadap volume ekspor
pertumbuhan volume ekspor produk perikanan
produk perikanan Indonesia, seperti telah dirangkum
Indonesia sebesar 106%.
pada pada Gambar 11, menunjukkan bahwa
pencabutan NTB produk perikanan merupakan Harga Ekspor Produk Perikanan dari Indonesia
faktor yang lebih dominan mempengaruhi
pertumbuhan volume ekspor produk perikanan Simulasi yang dilakukan berdampak terhadap
Indonesia. Pencabutan NTB produk perikanan harga ekspor produk perikanan Indonesia dengan
secara penuh tanpa disertai usaha peningkatan hasil yang serupa dengan harga produk perikanan.
– simulasi 1 – ternyata mampu mendorong Simulasi 1 dan 2 mengakibatkan terjadinya
pertumbuhan volume ekspor produk perikanan peningkatan harga, dengan peningkatan tertinggi
sebesar 95%. Usaha peningkatan efisiensi sebesar 0,47% pada simulasi 1 (Gambar 12).
transportasi dan produktivitas
sim 4 sektor perikanan
26,866003
Sedangkan simulasi 3 dan 4 berdampak terhadap
ternyata hanya menambah dorongan sebesar penurunan harga, dengan penurunan tertinggi
sebesar 5,57% pada simulasi 4.
Sim 3 105,874962

Sim 2 20,116566
sim 4 26,866003

Sim 1 94,569672
Sim 3 105,874962

0 20 40 60 80 100 120 %
Sim 2 20,116566 Pertumbuhan Ekspor/Export Growth

Gambar 11. Dampak Keempat Simulasi Terhadap Pertumbuhan Ekspor Produk Sektor
Sim 1 Perikanan Indonesia (%)94,569672
Figure 11. All Impact of Simulation on Export Growth of Indonesian Fishery Sector Product (%)
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
Source:
0 Simulation
20 of Trade40
Model and 60
Fishery Economy
80 of Indonesia,
100 2016
120 %
Pertumbuhan Ekspor/Export Growth
Harga Ekspor Produk Perikanan dari Indonesia
Gambar 11. Dampak Keempat
Simulasi
Simulasi
yang dilakukan
Terhadapterhadap
berdampak
Pertumbuhan Eksporproduk
harga ekspor
Produk Sektor Perikanan
Gambar 11. Dampak Keempat Simulasi Terhadap Pertumbuhan Ekspor Produk perikanan
Sektor
Indonesia (%). Perikanan Indonesia (%)
Indonesia dengan hasil yang serupa dengan harga produk perikanan. Simulasi 1 dan 2
Figure 11. All Impact of Simulation on Export Growth of Indonesian Fishery Sector Product (%)
Figure 11. All Impact
mengakibatkan of Simulation
Sumber:terjadinya
on Export
peningkatan
Simulasi Model harga,Growth
Perdagangan dengan
dan
of Indonesian
peningkatan
Ekonomi
Fishery
Perikanan tertinggi
Sector Product (%).
Indonesia,sebesar
2016/ 0,47%
Sumber: Simulasi ModelSource:
Perdagangan dan Ekonomi
Simulation of TradePerikanan
Model andIndonesia, 2016/
Fishery Economy of Indonesia, 2016
pada simulasi 1 (Gambar 12). Sedangkan simulasi 3 dan 4 berdampak terhadap penurunan
Source : Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016
harga, dengan penurunan tertinggi sebesar 5,57% pada simulasi 4.
Harga Ekspor Produk Perikanan dari Indonesia
Simulasi yang dilakukan berdampak terhadap harga ekspor produk perikanan
Indonesia dengan hasil yang serupa dengan harga produk perikanan. Simulasi 1 dan 2
­5,573044 sim 4
mengakibatkan terjadinya peningkatan harga, dengan peningkatan tertinggi sebesar 0,47%
pada simulasi 1 (Gambar 12). Sedangkan simulasi 3 dan 4 berdampak terhadap penurunan
harga, dengan penurunan tertinggi sebesar 5,57% pada simulasiSim
­5,221938 4.3

Sim 2 0,100434

­5,573044 sim 4

Sim 1 0,473711

­5,221938 Sim 3
­6 ­5 ­4 ­3 ­2 ­1 0 1 %
Perubahan Harga Ekspor/Price Export Growth

Gambar 12. Dampak Keempat Simulasi Terhadap Perubahan Harga Ekspor Produk Sektor
20 Perikanan Sim 2 0,100434

Indonesia (%).
Figure 12. All Impact of Simulation on Price Export Growth of Indonesian
Sim 1 Fishery Sector Product (%).
0,473711
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
Source : Simulation of Trade
­6 Model ­5
and Fishery­4Economy ­3
of Indonesia,
­2 2016 ­1 0 1 %
Perubahan Harga Ekspor/Price Export Growth

20 87
J. Sosek KP Vol. 12 No. 1 Juni 2017: 75-91

Impor Produk Perikanan ke Indonesia perikanan sebesar 0,71%, sehingga tambahan


yang diperoleh dari usaha peningkatan seperti yang
Gambar 13 12.
Gambar menampilkan
Dampak Keempat dampak dari
Simulasi Terhadap Perubahan Harga Ekspor Produk Sektor
dilakukan pada simulasi 3 sebesar 0,92% saja.
keempat simulasi yang dilakukan Perikanan terhadapIndonesia (%)
Figure 12. All Impact of Simulation on Price Export Growth of Indonesian Fishery Sector
volume impor produk perikanan Indonesia, yang Product (%)Harga Impor Produk Perikanan ke Indonesia
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
menunjukkan terjadinya pertumbuhan
Source: Simulation impor
of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016
produk perikanan Indonesia dengan kisaran antara Dampak simulasi terhadap harga
0,15% hingga
Impor0,92%.
Produk Pertumbuhan
Perikanan ke impor tertinggi
Indonesia impor produk perikanan Indonesia cukup
terjadi pada simulasi 3, sedangkan pertumbuhan
Gambar 13 menampilkan dampak bervariasi,
dari keempat simulasidengan kisaran
yang dilakukan antara -0,009%
terhadap
impor paling rendah dihasilkan oleh simulasi 2.
volume impor produk perikanan Indonesia, yang hingga 0,003%,
menunjukkan seperti
terjadinya dapat
pertumbuhan diamati pada
Pertumbuhanimporimpor ini nampaknya
produk lebih dominan
perikanan Indonesia Gambar 14. Pencabutan
dengan kisaran antara 0,15% hingga 0,92%. NTB produk perikanan
dipengaruhi oleh faktor
Pertumbuhan pecabutan
impor NTB pada
tertinggi terjadi produk tanpa disertai usah peningkatan
simulasi 3, sedangkan pertumbuhan impor paling efisiensi transportasi
perikanan dibandingkan dengan faktor peningkatan
rendah dihasilkan oleh simulasi 2. Pertumbuhan danimpor
produktivitas
ini nampaknya berdampak pada menurunnya
lebih dominan

efisiensi transportasi dan produktivitas output


dipengaruhi oleh faktor pecabutan NTB produk harga impor
perikanan produk
dibandingkan perikanan
dengan Indonesia,
faktor dengan
sektor perikanan. Pencabutan NTB sepenuhnya
peningkatan efisiensi transportasi dan penurunan
produktivitas output harga
sektor tertinggi
perikanan. terjadi
Pencabutanpada simulasi 1
tanpa disertai
NTB usaha peningkatan
sepenuhnya pada simulasi
tanpa disertai sebesar 0,009%. Adapun
usaha peningkatan pada simulasi 1 menghasilkan usaha peningkatan yang
1 menghasilkan pertumbuhan impor produk
pertumbuhan impor produk perikanan dilakukan
sebesar 0,71%, memberikan
sehingga tambahan yangkecenderungan
diperoleh terjadinya
dari usaha peningkatan seperti yang dilakukan pada peningkatan harga.0,92% saja.
simulasi 3 sebesar

sim 4 0,36

Sim 3 0,92

Sim 2 0,15

Sim 1 0,71

0,00 0,20
Harga Impor Produk Perikanan ke Indonesia
0,40 0,60 0,80 1,00 %
Pertumbuhan Volume Impor Produk/Growth of Imported Volume Product
Dampak simulasi terhadap harga impor produk perikanan Indonesia cukup
Gambar 13. Dampak Keempat Simulasi Terhadap Pertumbuhan Volume Impor Produk Sektor
bervariasi, dengan kisaran antara -0,009% hingga 0,003%, seperti dapat diamati pada
Perikanan
Gambar Indonesia
13. Dampak Keempat (%).
Simulasi Terhadap Pertumbuhan Volume Impor Produk Sektor
Gambar 14. Pencabutan NTB produk perikanan
Perikanan tanpa(%)
Indonesia disertai usah peningkatan efisiensi
Figure 13. transportasi
All Impact
Figure
dan of Simulation
13. All Impact on on
of Simulation
produktivitas Growth
berdampak
Growth of Imported
of Imported Volume
Volume
imporof Indonesian
of Indonesian
perikananFishery Sector
Fishery
Sectorpada menurunnya
Products (%) harga produk
Products (%).
Sumber: penurunan
Indonesia, dengan Simulasi Model Perdagangan
harga danterjadi
tertinggi Ekonomipada
Perikanan Indonesia,
simulasi 2016/
1 sebesar 0,009%.
Source: Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
Adapun usaha peningkatan yang dilakukan memberikan kecenderungan terjadinya
Source : Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016
peningkatan harga.

21

sim 4 0,003

­0,003 Sim 3

­0,003 Sim 2

­0,009 Sim 1

­0,010 ­0,008 ­0,006 ­0,004 ­0,002 0,000 0,002 0,004 %


Perubahan Harga Impor/Changes in Imports Price

Gambar 14. Dampak Keempat Simulasi Terhadap Perubahan Harga Impor Produk Sektor Perikanan
Indonesia (%). Keempat Simulasi Terhadap Perubahan Harga Impor Produk Sektor
Gambar 2. Dampak
Perikanan Indonesia (%)
Figure 14. AllFigure
Impact14. of
All Simulation on Changes
Impact of Simulation in Imports
on Changes Price
in Imports Price of Indonesian
of Indonesian Fishery Products (%).
Fishery
Products (%)
Sumber: Simulasi ModelSumber:
Perdagangan danModel
Simulasi Ekonomi Perikanandan
Perdagangan Indonesia,
Ekonomi2016/
Perikanan Indonesia, 2016/
Source:
Source : Simulation of Trade ModelSimulation of Trade
and Fishery Model
Economy of and Fishery2016
Indonesia, Economy of Indonesia, 2016

Neraca Perdagangan Produk Perikanan


88 Dari sisi neraca perdagangan, keempat simulasi yang dilakukan ternyata berdampak
terhadap terjadinya surplus pada neraca perdagangan produk perikanan Indonesia, seperti
dapat dilihat pada Gambar 15. Surplus tertinggi terjadi pada simulasi 3 dengan nilai U$ 48
Juta, dan paling rendah terjadi pada simulasi 2 dengan nilai U$ 6,68 Juta. Pencabutan NTB
Dampak Hambatan Non Tarif Terhadap Kinerja Makroekonomi Dari Sektor Perikanan .................. (Subhechanis Saptanto, et al)

Neraca Perdagangan Produk Perikanan Pada umumnya Simulasi 3 yakni


pengurangan NTB sampai 100% dan adanya
Dari sisi neraca perdagangan, keempat
intervensi pemerintah memberikan efek paling
simulasi yang dilakukan ternyata berdampak
besar dan merupakan pilihan simulasi paling
terhadap terjadinya surplus pada neraca
terbaik dibandingkan dengan yang lain. Sedangkan
perdagangan produk perikanan Indonesia, seperti
Simulasi 2 yakni pengurangan NTB sampai 50%
dapat dilihat pada Gambar 15. Surplus tertinggi
dan tanpa disertai adanya intervensi pemerintah
terjadi pada simulasi 3 dengan nilai U$ 48 Juta, dan
memberikan efek paling kecil. Pada simulasi 3
paling rendah terjadi pada simulasi 2 dengan nilai
terjadi peningkatan kesejahteraan sebesar U$ 2.060
U$ 6,68 Juta. Pencabutan NTB produk perikanan
Juta; peningkatan PDB riil 0,002%; peningkatan
secara penuh tanpa disertai usaha peningkatan
neraca perdagangan sebesar U$ 12.910 Juta;
pada simulasi 1 ternyata mampu mendorong
peningkatan nilai tukar sebesar 0,53%; sedangkan
peningkatan surplus neraca perdagangan produk
pada konsumsi terjadi penurunan sebesar 0,31%.
perikanan senilai U$ 32 juta. Sehingga dampak
dari adanya tambahan usaha peningkatan efisiensi Secara sektoral Simulasi 3 memberikan
transportasi dan produktivitas sektor perikanan efek positif pada jumlah output agregat komoditas
pada simulasi 3 adalah senilai U$ 16 juta. perikanan sebesar 11,5 %; pertumbuhan volume
ekspor sebesar 106 %, pertumbuhan impor sebesar
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 0,92%; Untuk indikator harga produk, harga ekspor
dan harga impor produk secara agregat Simulasi
Kesimpulan 1 memberikan dampak penurunan harga dan
meningkatkan surplus neraca perdagangan senilai
Penurunan hambatan non-tarif dan U$ 32 juta.
intervensi kebijakan sangat berpengaruh baik
secara makro maupun sektoral. Secara makro Secara sektoral Simulasi 3 memberikan
berpengaruh terhadap kesejahteraan, PDB, Neraca efek pada jumlah output komoditas tuna dan
Perdagangan, Nilai Tukar (Terms of Trade), Indeks udang dengan pertumbuhan sebesar 2,14% dan
Harga Konsumen dan Konsumsi. Sedangkan 0,91%; dampak positif pada harga sebesar 16,4%
secara sektoral berpengaruh terhadap Jumlah dan 5,67%; peningkatan volume ekspor sebesar
Output, Harga Output, Jumlah Ekspor, Harga 47,78% dan 82,77%; peningkatan harga ekspor
Ekspor, Jumlah Impor, Harga Impor dan Neraca sebesar 14,18% dan 4,88%; pertumbuhan impor
Perdagangan komoditas.

sim 4 22,95
sim 4 22,95

Sim 3 47,78
Sim 3 47,78

Sim 2 6,68
Sim 2 6,68

Sim 1 31,53
Sim 1 31,53
US$ Juta/
US$
US$Juta/
Million
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 US$ Million
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00
Perubahan Neraca Perdagangan/Changes in Trade Balance
Perubahan Neraca Perdagangan/Changes in Trade Balance
Gambar 15. Dampak
Gambar Keempat
15. Dampak Keempat Simulasi Terhadap
Simulasi Terhadap Perubahan
Perubahan Neraca
Neraca Perdagangan
Perdagangan Produk Produk Sektor
Gambar 15. Dampak Keempat
Perikanan Simulasi
Indonesia
Sektor (US$Terhadap
Juta).
Perikanan Perubahan
Indonesia Neraca Perdagangan Produk
(US$ Juta)
Figure 15. All Impact ofSektor Perikanan
Simulation Indonesia
on Changes (US$ Juta)
in Trade Balance of Indonesian Fishery
Figure 15. 15.
Figure AllAllImpact
Impact of Simulation
of Simulation onon Changes
Changes
Product
in Trade
in Trade
Sector (US$ Balance
Million)
Balance of Indonesian
of Indonesian Fishery Fishery Product
Sector (US$
Sumber: Product
Million).
Simulasi Model Sectordan
Perdagangan (US$ Million)Perikanan Indonesia, 2016/
Ekonomi
Sumber: Simulasi Model Perdagangan dan Ekonomi Perikanan Indonesia, 2016/
Sumber: Simulasi Source: Simulation of
Model Perdagangan danTrade Model
Ekonomi and Fishery
Perikanan Economy
Indonesia, of Indonesia, 2016
2016/
Source: Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016
Source : Simulation of Trade Model and Fishery Economy of Indonesia, 2016

89
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
Kesimpulan
J. Sosek KP Vol. 12 No. 1 Juni 2017: 75-91

sebesar 14,88% dan 4,76%; penurunan harga DAFTAR PUSTAKA


impor sebesar -0,025% dan -0,026%
Andrianmananjara, S., J.M. Dean, R. Feinberg, M.
Ferrantino, R. Ludema and M. Tsigas. 2004. The
Effects of Non-Tariff Measures on Prices, Trade
Implikasi Kebijakan and Welfare: CGE Implementation of Policy-Based
Price Comparisons. USITC Economics Working
Hambatan non-tarif merupakan salah satu
Paper, No. 2004-04.A
tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam
upaya peningkatan nilai ekspor sehingga perlu Badan Pusat Statsitik (BPS). 2016. PDB Triwulanan Atas
Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan
dicari solusi untuk mengurangi dampak negatifnya.
Usaha (Miliar Rupiah). https://www.bps.go.id/
1. Berkurangnya hambatan non-tarif dapat linkTableDinamis/view/id/827. Diunduh tanggal
29 Desember 2016.
memberikan efek positif secara makro bagi
neraca perdagangan, term of trade dan indeks Chemingui, M.A dan S. Dessus. 2008. Assessing
harga yang berimbas kepada peningkatan Non-tariff Barrier in Syria. . Journal of Policy
PDB dan kesejahteraan masyarakat. Akan Modeling, 2008, vol. 30, issue 5, pages 917-928.
tetapi memberikan efek negatif kepada Deardoff, A.v dan R.M. Stern (1997). “Measurement of
konsumsi karena alokasi produk lebih Non-Tariff Barriers”. OECD Economics Department
banyak ke pasar ekspor dibandingkan pasar Working Papers. No 179, OECD Publishing.
http://dx.doi.org/10.1787/568705648470
domestik.
Fugazza, M. and J. Maur. 2006. Non-Tariff Barriers in
2. Hambatan non-tarif tersebut dapat dikurangi a Non-Tariff World. Conference Proceedings of
dengan cara tetap melanjutkan berbagai the Ninth GTAP Annual Conference on Global
negosisasi terhadap negara-negara importir Economic Analysis. Addis Ababa.
tuna dan udang, yakni Jepang, Amerika
Hadi, Y.S. 2003. Analisis Vector Auto Regression
Serikat dan Uni Eropa. Diharapkan dengan (VAR) terhadap Korelasi Antara Pendapatan
adanya berbagai kesepakatan yang dihasilkan Nasional dan Investasi Pemerintah di Indonesia,
dapat mengurangi resiko terjadinya berbagai 1983/1984-1999/2000. Jurnal Keuangan dan
kasus hambatan non-tarif. Moneter. Volume 6 Nomor 2 Desember 2003.

3. Agar dapat bersaing dengan negara eksportir Hoekman, B dan A. Mattoo. 2012. Liberalizing Trade
in Services: Lessongs from Regional and
lain perlu adanya peningkatan daya saing
WTO Negotiations. Global Trade and Financial
produk perikanan sehingga memberikan nilai Architecture Project.
tambah khususnya pada komoditas tuna dan
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). 2016.
udang.
Data dan Informasi Terkait Kasus Penolakan
4. Selain pengurangan hambatan non-tarif, Ekspor Perikanan. Pusat Sertifikasi Mutu
intervensi pemerintah dalam peningkatan dan Kemanan Hasil Perikanan. Jakarta. (Tidak
Dipublikasikan).
efisiensi transportasi dan produktivitas
tetap dibutuhkan sebagai upaya untuk Koo, W. W. and P.L. Kennedy. 2005. International Trade
memperbaiki kinerja ekspor komoditas and Agriculture. Blackwell Publishing.
perikanan Indonesia. Meilani, E. 2008. Analisis Dampak Perdagangan
Bebas Indonesia-Jepang dengan Pendekatan
Global Trade Analysis Project (GTAP). Thesis.
UCAPAN TERIMA KASIH Universitas Indonesia.

Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian Nugroho, A. 2007. Peran dan Kedudukan Indonesia
“Dampak Hambatan Non-Tarif Perdagangan dalam Peta DiplomasiPemasaran Produk Ekspor
Hasil Perikanan Indonesia di Pasar Global.
Produk Tuna dan Udang Terhadap Perekonomian
Jakarta: Departemen Perikanan dan Kelautan.
Sektor Perikanan Di Indonesia” dengan sumber
dana berasal dari DIPA BBPSEKP TA 2016. Untuk Safuan, S. 2012. ASEAN Economic Cooperation: Trade
itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Liberalization Impact on The National Economic.
International Journal of Economics and Finance.
Kepala BBPSEKP, Dr. Tukul Rameyo Adi yang Vol 4 No. 11.
memberikan dukungan terhadap kajian ini dan juga
disampaikan terima kasih kepada Dr. Hermanto Saqib, M. and N., Taneja. 2005. Non-Tariff Barriers
and India’s Exports: The Case of ASEAN and
selaku narasumber yang memberikan masukan
Srilanka. ICRIER Working Paper, No.165.
yang sangat bermanfaat.

90
Dampak Hambatan Non Tarif Terhadap Kinerja Makroekonomi Dari Sektor Perikanan .................. (Subhechanis Saptanto, et al)

Stephenson, S.M. 1994. ASEAN and The Multilateral


Trading System. Law and Policy of International
Business.
Tambunan, T. 2010. Dampak dari Liberalisasi
Perdagangan Pertanian Indonesia-China
Terhadap Produksi dan Ekspor Pertanian di
Indonesia: Suatu Penelitian dengan Pendekatan
Simulasi. Jurnal Pertanian.
Thomassin, P and K. Mukhopadhyay. 2008. Impact of
East-Asian Free Trade on Regional Green House
Gas Emissions. Journal of International and
Global Economic Studies.Vol 1(2). Hal 57-83.

91