Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

CVA (Cerebrovascular Accident)


DI INSTALASI GAWAT DARURAT
RS. LAVALETTE

Di susun oleh:
1) Muh Ikhwan (17212195021)
2) Widha Arlyka Duta (17212195006)
3) Wayuwati Handayani (17212195012)
4) Yenne Purnamaning Tyas (17212195047)

PRODI PENDIDIKAN PROFESI NERS MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
TAHUN AJARAN 2019/2020
SATUAN ACARA PENYULUHAN

CVA (Cerebrovascular Accident)

Pokok bahasan : CVA (Cerebrovascular Accident)


Sub pokok bahasan : CVA (Cerebrovascular Accident)
Tempat : Instalasi Gawat Darurat RS Lavalette
Sasaran : Keluarga pasien
Hari / tanggal : Sabtu, 25 Januari 2020
Waktu : Pukul 09.00 WIB (30 menit)
Media : LCD, laptop, leaflet dan PPT
Metode : Ceramah, tanya jawab dan diskusi

1. Latar Belakang
Stroke merupakan penyakit atau gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan
saraf (deficit neurologic) akibat terhambatnya aliran darah ke otak. Stroke adalah
sindrom yang terdiri dari tanda dan/atau gejala hilangnya fungsi sistem saraf pusat
fokal (atau global) yang berkembang cepat (dalam detik atau menit). Gejala-gejala
ini berlangsung lebih dari 24 jam atau menyebabkan kematian, selain menyebabkan
kematian stroke juga akan mengakibatkan dampak untuk kehidupan. Dampak stroke
diantaranya, ingatan jadi terganggu dan terjadi penurunan daya ingat, menurunkan
kualitas hidup penderita juga kehidupan keluarga dan orang-orang di sekelilingnya,
mengalami penurunan kualitas hidup yang lebih drastis, kecacatan fisik maupun
mental pada usia produktif dan usia lanjut dan kematian dalam waktu singkat.
Penyakit stroke juga menjadi penyebab kematian utama hampir seluruh Rumah
Sakit di Indonesia dengan angka kematian sekitar 15,4%. Berdasarkan data 10 besar
penyakit terbanyak di Indonesia tahun 2013 oleh Kemenkes RI, prevalensi kasus
stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 7,0 per mill dan
12,1 per mill untuk yang terdiagnosis memiliki gejala stroke. Prevalensi kasus
stroke tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Utara (10,8%) dan terendah di
Provinsi Papua (2,3%), sedangkan Provinsi Jawa Tengah sebesar 7,7%. Prevalensi
stroke antara laki-laki dengan perempuan hampir sama.
Seseorang menderita stroke karena memiliki perilaku yang dapat meningkatkan
faktor risiko stroke. Gaya hidup yang tidak sehat seperti mengkonsumsi makanan
tinggi lemak dan tinggi kolesterol, kurang aktivitas fisik, dan kurang olahraga,
meningkatkan risiko terkena penyakit stroke. Gaya hidup sering menjadi penyebab
berbagai penyakit yang menyerang usia produktif, karena generasi muda sering
menerapkan pola makan yang tidak sehat dengan seringnya mengkonsumsi
makanan tinggi lemak dan kolesterol tapi rendah serat. Selain banyak
mengkonsumsi kolesterol, mereka mengkonsumsi gula yang berlebihan sehingga
akan menimbulkan kegemukan yang berakibat terjadinya penumpukan energi dalam
tubuh.
2. Tujuan
1) Tujuan umum
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit peserta mampu mengetahui dan
memahani tentang CVA
2) Tujuan khusus
Setelah mengikuti penyuluhan, diharapkan 75 % peserta dapat:
a. Menjelaskan pengertian CVA
b. Menjelaskan penyebab CVA
c. Menyebutkan klasifikasi CVA
d. Menyebutkan tanda dan gejala CVA
e. Menyebutkan patofisiologi CVA
f. Menyebutkan komplikasi CVA
g. Menyebutkan penatalaksanaan CVA
h. Menyebutkan pencegahan CVA

3. Pengorganisasian / setting

Keterangan :
: Moderator
: Penyuluh
: Peserta
: Media (LCD)

4. Kegiatan penyuluhan
Tahap Waktu Kegiatan Perawat Kegiatan Klien Metode Media
Pendahuluan 5 menit 1. Memberi salam 1. Menjawab salam Ceramah -
2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan &
memperhatikan
3. Menjelaskan tujuan
3. Mendengarkan &
penyuluhan dan
memperhatikan
pokok materi yang
akan disampaikan
4. Menyetujui
4. Membuat kontrak
kontrak waktu
waktu
Penyajian 15 menit Menjelaskan materi: Mendengarkan dan Ceramah PPT
1. Pengertian CVA memperhatikan
2. Penyebab CVA
3. Klasifikasi CVA
4. Tanda dan gejala
CVA
5. Patofisiologi CVA
6. Komplikasi CVA
7. Penatalaksanaan
CVA
8. Pencegahan CVA
Penutup 10 menit 1. Memberikan 1. Mengajukan Tanya Leaflet
kesempatan kepada pertanyaan Jawab
peserta untuk
bertanya 2. Menjelaskan
2. Meminta peserta
materi kembali
untuk menjelaskan
kembali materi yang
telah disampaikan
dengan singkat
menggunakan bahasa
peserta sendiri
3. Mendengarkan &
3. Memberikan
memperhatikan
kesimpulan
4. Menjawab salam
4. Menutup acara dan
mengucapkan salam

5. Evaluasi
1) Evaluasi Struktur
a. Laporan telah dikoordinasi sesuai rencana.
b. 60 % peserta menghadiri penyuluhan.
c. Tempat, media, dan alat penyuluhan sesuai rencana.
2) Evaluasi Proses
a. Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan.
b. Waktu yang direncanakan sesuai dengan pelaksanaan.
c. 70 % peserta aktif dalam kegiatan penyuluhan.
d. 70 % peserta tidak meninggalkan ruangan selama penyuluhan.
3) Evaluasi Hasil
Peserta mampu:
a. Menjelaskan pengertian dari CVA.dengan bahasa sendiri.
b. Menyebutkan penyebab terjadinya CVA
c. Menyebutkan klasifikasi CVA
d. Menyebutkan tanda dan gejala terjadinya CVA
e. Menjelaskan patofisiologi CVA
f. Menjelaskan komplikasi CVA
g. Menyebutkan penatalaksanaan CVA
MATERI PENYULUHAN CVA
1. Pengertian
Secara umum gangguan pembuluh darah otak atau stroke merupakan gangguan
sirkulasi serebral. Merupakan suatu gangguan neurologik fokal yang dapat timbul
sekunder dari suatu proses patologis pada pembuluh darah serebral, misalnya
trombosis, embolus, ruptura dinding pembuluh atau penyakit vascular dasar,
misalnya aterosklerosis, arteritis, trauma, aneurisme dan kelainan perkembangan.

2. Klasifikasi
Stroke dapat digolongkan sesuai dengan etiologi atau dasar perjalanan penyakit.
1) Sesuai dengan perjalanan penyakit, stroke dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
a. Serangan iskemik sepintas (TIA) : merupakan gangguan neurologis fokal
yang timbul mendadak dan menghilang dalam beberapa menit sampai
beberapa jam.
b. Progresif/inevolution (stroke yang sedang berkembang) : perjalanan stroke
berlangsung perlahan meskipun akut. Stoke dimana deficit neurologisnya
terus bertambah berat.
c. Stroke lengkap/completed : gangguan neurologis maksimal sejak awal
serangan dengan sedikit perbaikan. Stroke dimana deficit neurologisnya
pada saat onset lebih berat, bisa kemudian membaik/menetap
2) Klasifikasi berdasarkan patologi:
a. Stroke hemoragi: stroke yang terjadi karena pembuluh darah di otak pecah
sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab stroke hemoragi
antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri venosa,
b. Stroke non hemoragi: stroke yang disebabkan embolus dan thrombus.

3. Etiologi
Penyebab utama dari stroke diurutkan dari yang paling penting adalah
aterosklerosis (trombosis), embolisme, hipertensi yang menimbulkan perdarahan
intraserebral dan ruptur aneurisme sakular. Stroke biasanya disertai satu atau
beberapa penyakit lain seperti hipertensi, penyakit jantung, peningkatan lemak
dalam darah, diabetes mellitus atau penyakit vascular perifer.
Faktor risiko yang menyebabkan terjadinya stroke adalah :
1) Usia tua, dan jenis kelamin
2) Hipertensi,DM
3) Gaya hidup : makan berlemak, perokok, mengkonsumsi kafein berlebihan dan
mengkonsumsi alkohol
4) Stress
5) Kurang olahraga
6) Obesitas
7) Narkoba
4. Tanda dan Gejala
Stoke menyebabkan defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh
darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adequat dan jumlah
aliran darah kolateral. Stroke akan meninggalkan gejala sisa karena fungsi otak tidak
akan membaik sepenuhnya.
1) Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparese atau hemiplegia)
2) Lumpuh pada salah satu sisi wajah “Bell’s Palsy”
3) Tonus otot lemah atau kaku
4) Menurun atau hilangnya rasa
5) Gangguan lapang pandang “Homonimus Hemianopsia”
6) Gangguan bahasa (Disatria: kesulitan dalam membentuk kata; afhasia atau
disfasia: bicara defeksif/kehilangan bicara)
7) Gangguan persepsi
8) Gangguan status mental

5. Patofisiologi
Gangguan pasukan aliran darah otak dapat terjadi dimana saja didalam arteri-
arteri yang membentuk sirkulus willysy: arteria karotis interna dan sistem
vertebrobasilar atau semua cabang-cabang. Secara umum, apabila aliran darah
kejaringan otak terputus selama 5-10 menit, akan terjadi infark atau kematian
jaringan.
Oklusi disuatu arteri tidak selalu menyebabkan infark didaerah otak yang
diperdarahi oleh arteri tersebut. Alasannya adalah mungkin terdapat sirkulasi
polateral yang menandai peristiwa tersebut. Proses patologig yang mendasari
mungkin salah satu dari berbagai proses yang terjadi didalam pembuluh darah yang
memperdarai otak. Patologinya dapat beruapa :
1) Keadaan penyakit pada pembuluh itu sendiri contohnya arterosklerosis dan
trombosis, robeknya dinding pembuluh atau peradangan.
2) Berkurangnya perfusi akibat gangguan status aliran darah,misalnya syok atau
hiperkositas darah.
3) Gangguan aliran darah akibat pembekuan atau embolus infeksi yang berasal dari
jantung atau pembuluh ekstrak karnium.
4) Ruptur vaskuler didalam jaringan otak atau ruang subaraknoid.
Stroke mungkin didahului oleh serangan siskemik transien (TIA) yang serupa
dengan angeia pada serangan jantung. TIA adalah serangan defisit neurologik yang
mendadak dan singkat akibat iskemia otak vokal yang cenderung membaik dengan
kecepatan dan tingkat penyembuhan bervariasi tetapi biasanya dalam 24 jam.
Setelah itu biasanya normal kembali. Serangan ini menimbulkan beragam gejala
tergantung pada lokasi jaringan otak yang terkena,dan disebabkan oleh gangguan
vaskular yang sama dengan menyebabkan stroke. Tindakan yang penting untuk
mencegah stroke,fibrilasi atrium pemeriksaan klinis misalnya hitung darah lengkap
(HDL), panel metabolik dasar, faktor pembekuan, elektrokardiogram (EKG),dan
pemeriksaan dokler karotis (non invasif). Stroke ringan biasanya penyebabnyaa
adalah stenosis aterosklerotik sebuah arteri karotis. Pasien yang jelas
memperlihatkan bising karotis disisi yang terkena menjalani pemeriksaan dopler
karotis dan angioglasi. Pemeriksaan – pemeriksaan ini sangat penting untuk
mendiagnosis lesi yang dapat diperbaiki secara bedah. Bahkan tanpa terdengar bruit,
prosedur-prosedur diagnostik tetap harus dilakukan apabila terdapat gejala defisit
disirkulasi karotis (anterior), terutama apabila disertai emboli pada arteriol retina.
6. Komplikasi
1) Dini (0-48 jam pertama)
a. Edema serebri. Defisit neurologis cenderung memberat, dapat
mengakibatkan peningkatan TIK, herniasi, dan akhirnya menimbulkan
kematian.
b. Infark miokard, penyebab kematian mendadak pada stroke stadium awal.
2) Jangka pendek (1-14 hari).
a. Pneumonia akibat immobilisasi lama.
b. Infark miokard.
c. Emboli paru, cenderung terjadi 7-14 hari pasca stroke , sering kali terjadi
pada saat penderita mulai mobilisasi.
3) Jangka panjang (> 14 hari)
a. Stroke rekuren.
b. Infark miokard.
c. Gangguan vaskuler lain : penyakit vaskuler perifer.

7. Penatalaksanaan
1) Pengobatan
Untuk penangan stroke iskemik obat obat yang biasa diberikan adalah :
a. Aktivator plasminogen (Tissue Plasminogen Activator / tPA)
Obat ini dapat melarutkan gumpalan darah yang menyumbat pembuluh
darh, melalui enzim p;lasmin yang mencerna fibrin (komponen pembekuan
darah). Hal ini disebabkan kandungan terllarut tidak hanya fibrin yang
menyumbat pembuluh darah, tetapi juga fibrin cadangan yang ada dalam
pembuluh darah. Oleh karena itu pemberian tPA perlu dahulu didiskusikan
diantara dokter dan perawat. Selain itu tPA hanya bermanfaat jika diberikan
sebelum 3 jam dimulainya gejala stroke. Pasien juga harus menjalani
pemeriksaan lain, seperti CT Scan, MRI, jumlah trombosit, dan tidak sedang
meminum obat pembekuan darah.
b. Sedangkan pada stroke hemoragik, tindaakn medis yang diambil pertama
adalah menghentikan pendarahan denagn obat-obatan (seperti nimodipin,
amino cproic acid dan traehmidacd / dengan bedah). Tujuan terapi bedah
pada stroke hemoragik adalah mengeluarkan darah yang tercurah ke otak
yang dapat merusak saraf jaringan otak.
Obat obat untuk penderita stroke hemoragik biasanya adalah:
a) Nemodipin
Obat ini mencegah penyempitan pembuluh darah pada stroke dengan
pendarahan subarakhoid
b) Amino Cproic Acid
Obat ini melawan aktifator plasminogen, merupakan kebalikan tpa.
dengan terapi obat ini Pendarahan subarakhoid dapat berkurang 13–20%
c) Tranexamid acid
Obat ini menghambat pembetukan plasama, dapat mencegah terjadinya
pendarahan ulang.
2) Aspirin untuk terapi stroke
Aspirin atau asam asetil salisilat selain berfungsi sebagai analgetik, juga
diguanakan sebagai antiplatelet untuk terapi stroke. Aspirin bekerja untuk
menghambatan pembetukan tromboksan. Tromboksan merupakan senyawa yang
berperan dalam pembekuan darah. Dengan dihambatanya tromboksan, terjadi
penghambatan pembekuan darah. Hambatan dalam proses pembekuan darah
diharapkan dapat melancarkan aliran darah menuju otakynag tersumbat untuk
terapi penyakit stroke, aspirin diberikan dalam dosis rendah. Hal ini disebabkan
pada dosis tinggi, aspirin berisiko menyebabakn terrjadinya pendarahan yang
tentunya kana memperparah kondisi pasien.
3) Rehabilitasi
Rehabilitasi harus segera dilakukan setelah terjadi srangan stroke. Apabila
mengabaikan rehabilitasi, proses pemulihan akan berlangsung lebih lama
misalnya, tamgan mengalami kelumpuhan, akan memicu sakit pada pundak
karena posisi tangan yang salah atau seseorang tidak sengaja menarik tangan
saat mengangkat tubuh. Disamping itu, jika terlalu lama berbaring akan
mengakibatkan kemmapuan untuk duduk kembali akan tertunda . dan
mengalaimi penggumpalan drah di kaki atau luka karena tekanan yang
disebabkan terlalu lama dalam satu posisi saja. Untuk itu, Rehabilitasi perlu
dilakukan setelah terkena stroke baik aspek fisik atau sikologis. Karena selama
terjadi stroke pasien merasa gelisah mengalami beberapa gangguan, seperti
kesakitan, tempat tidur tidak nyaman, kepanasan / kedinginan, mungkin juga
mengalami kram di kakai yang lumpuh. Rehabilitasi ini bertujuan untuk
menstimulasi otak agar dapat bekerja kembali dan membuat berbagai koneksi
baru diantara sel sel otak yang sehat. Pasien yang mendapat perawatan
rehabilitasi akan ditangani dokter, perawat.
a. Fisioterapi
Aspek terpenting dalam pemulihan setelah mengalami stroke adalah
memestikan pasien dapat bergerak kembali. Pada bagian fisoterapi, spesial
yang banyak dilibatkan dalam memberikan terapi setelah mengalami stroke
adalah bagian fisioterisini akan membantupasien dalam memulihkan fungsi
otot sehingga dapar bergerak kembali secara normal. Apabila ditemukan
kasus dimana kekuatan otot sulit kembal, fisioterapis akan membantu pasien
denagn tongkat atau alat bantu.
Lamanya sesi terapi tergantung toleraasi pasien pada waktu terapi, tetapi
pasien memiliki semangat yang luar biasa untuk pulih, bisa saja sesi terapi
ditambah beberapa menit karena ini memberikan keuntungan lebih.
Kemudian program pemulihan dapat berkerang frekuensinya menjadi 2/3
kali seminggu dan pasien dapat melakukan olahraga sendiri pada selang
waktu diantaranya.
Peran fisioterapis sangat penting bagi pasien yang telah mengalami
serangan stroke. Oleh karenanya, bila fisioterapis memberikan saran,
terimalah saran itu dengan sabar, walaupun mampu pulih lebih cepat, tapi hal
ini bisa saja akan berpengaruh pada kualitas pergerakan.

8. Pencegahan Stroke
1) Hentikan konsumsi alcohol
2) Diit rendah kolesterol dan garam
3) Hindari merokok
4) Hentikan penyalagunaan obat (kokain)
5) Hindari peningkatan BB drastis. Hindari stress
6) Olahraga teratur sesuaikan kemampuan
DAFTAR PUSTAKA

Arum, S. P. (2015). Stroke Kenali, Cegah & Mengobati. Jogjakarta: Notebook.

Corwin, E. J. (2009). Buku Saku Patofisiologi Edisi Revisi 3. Jakarta: EGC.

Hananta, I., & Herry Freitage. (2011). Deteksi Dini Dan Pencegahan Tujuh Penyakit
Penyebab Mati Muda. Yogyakarta: Med Press.

Irianto, K. (2014). Epidiemologi Penyakit Menular Dan Tidak Menular. Bandung:


Alvabeta.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2012). Nursing Outcomes
Classificatin (NOC). United State Of America: ISBN.

Price, S. A (2015). Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Rudd , A. (2010). STROKE . Depok: Penebar Plus.

Suswono, W. (2010). Stroke Dan Penanganannya. Jogjakarta: Katahati.


Satyanegara. (2010). Ilmubedah Saraf Edisi IV. Tangerang: Gramedika Pustaka Utama.

H. Edi Yuwono, S.Kep.Ns.,S.Pd. (2017). Materi Kuliah "Askep Klien Dengan Stroke".
Jombang