Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA An. L DENGAN DIAGNOSA KEJANG DEMAM

Disusun Untuk Memenuhi Laporan Individu Praktek Profesi Keperawatan


Departemen Keperawatan Anak
Di Ruang Nusa Indah RSUD Mardi Waluyo Blitar

Disusun Oleh :
Nama : Yenne Purnamaning Tyas
NIM : P17212195047

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN DAN PROFESI


KEPERAWATAN MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
TAHUN AJARAN 2019/2020
LAPORAN PENDAHULUAN

KEJANG DEMAM

A. Pengertian

Kejang demam biasanya muncul karena terjadinya demam pada

bayi dan anak kecil. Kejang demam atau febrile convulsion ialah kejang

yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang

disebabkan oleh proses ekstrakranium (National Institute of Neurological

Disorder and Stroke/NIDS, 2013) dalam (Yuliastati, Arnis, 2016). Kejang

demam merupakan kelainaan neurologis yang paling sering dijumpai pada

anak, terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir

3 % dari anak berumur dibawah 5 tahun pernah menderita kejang demam

(Ngastiyah, 2005).

Berdasarkan International League Against Epilepsy (ILAE), kejang

demam merupakan kejang selama masa anak-anak setelah usia 1 bulan,

yang berhubungan dengan penyakit demam tanpa disebabkan infeksi

sistem saraf pusat, tanpa riwayat kejang neonatus dan tidak berhubungan

dengan kejang simptomatik lainnya. Definisi berdasarkan konsensus

tatalaksana kejang demam dari Ikatan Dokter Anak Indonesia/ IDAI

(2016), kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan

suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC yang disebabkan oleh suatu proses

ekstrakranium.

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena

kenaikan suhu tubuh diatas 38oC disebabkan oleh suatu proses

ekstrakranium biasanya sering terjadi pada anak-anak dibawah 5 tahun.


B. Klasifikasi kejang demam

Ikatan Dokter Anak Indonesia (2016) mengklasifikasikan kejang demam

menjadi 2 klasifikasi yaitu kejang demam sederhana (simple febrile seizure) dan

kejang demam kompleks (complex febrile seizure)

1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)

Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang memiliki lama

kejang <15 menit, umum dan tidak berulang kembali (Purba, 2018).

Adapun menurut Arief (2015) kejang demam sederhana merupakan kejang

demam yang berlangsung singkat <15 menit, tonik-klonik dan terjadi

kurang dari 24 jam, tanpa gambaran fokal serta pulih dengan spontan.

2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)

Kejang demam kompleks biasanya menunjukkan gambaran kejang fokal

atau parsial. Durasinya >15 menitdan berulang lebih dari 1 kali kejang

selama 24 jam (Arief, 2015)

C. Etiologi

Menurut Wulandari & Erawati (2016) kejang demam dapat disebabkan oleh:

a. Demam tinggi. Demam dapat disebabkan oleh karena tonsilitis, faringitis, otitis

media, gastroentritis, bronkitis, bronchopneumonia, morbili, varisela,demam

berdarah, dan lain-lain.

b. Efek produk toksik dari mikroorganisme (kuman dan otak) terhadap otak.

c. Respon alergi atau keadaan imun yang abnormal.

d. Perubahan cairan dan elektrolit.

e. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus)

Penyebab kejang demam belum dapat dipastikan. Pada sebagian besar anak,

tingginya suhu tubuh, bukan kecepatan kenaikan suhu tubuh, menjadi faktor pencetus
serangan kejang demam. Biasanya suhu demam lebih dari 38°C dan terjadi saat suhu

tubuh naik dan bukan pada saat setelah terjadinya kenaikan suhu yang lama. (Dona

L.Wong, 2008).

D. Tanda dan Gejala

Djamaludin, 2010), tanda dan gejala anak yang mengalami kejang demam

adalah sebagai berikut :

1. Demam

2. Saat kejang, anak kehilangan kesadaran, kadang – kadang nafas dapat berhenti

beberapa saat.

3. Tubuh, termasuk tangan dan kaki jadi kaku, kepala terkulai

kebelakang, disusul gerakan kejut yang kuat.

4. Warna kulit berubah pucat, bahkan dapat membiru, dan bola mata naik ke atas.

5. Gigi terkatup dan kadang disertai muntah.

6. Nafas dapat berhenti beberapa saat.

7. Anak tidak dapat mengontrol buang air besar dan kecil.

E. Patofisiologi

Kejang demam terjadi karena adanya peningkatan suhu tubuh. Pada

keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme

basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Bahan baku untuk

metabolisme otak yang penting adalah glukosa. Sifat proses metabolisme adalah

oksidasi dengan perantaran fungsi paru-paru kemudian diteruskan ke otak melalui

sistem kardiovaskuler. Jadi, sumber energi otak adalah glukosa yang melalui

oksidasi dipecah menjadi menjadi CO2 dan air. Membrane yang mengelilingi sel

pada pemukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan

normal membrane sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+)
dan sangat sulit dilalui oleh ion natrim (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion

klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi (K+) dalam sel neuron (Na+) rendah, sedang

diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan

konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial

membrane yang disebut potensial membrane dari neuron. Untuk menjaga

keseimbangan potensial membrane ini diperlukan energy dan bantuan enzim Na-K

ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel. Jadi, kenaikan suhu tubuh dapat

mengubah keseimbangan dari membrane sel neuron dan dalam waktu yang singkat

terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membrane tersebut

sehingga terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian

besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel sekitarnya denganbantuan bahan

yang disebut “neurotransmitter” dan terjadi kejang. Tiap anak mempunyai ambang

kejang yang berbeda dan tergantung tinggi rendahnya ambang kejang seseorang

anak akan menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan

dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38oC sedang

anak dengan ambang kejang tinggi kejang baru terjadi bila suhu mencapai 40oC

atau lebih. Kejang demam terjadi karena kenaikan suhu tubuh yang dapat

menyebabkan kerusakan sel otak karena setiap terjadinya kejang menyebabkan

konstriksi pembuluh darah sehingga aliran darah tidak lancar dan mengkibatkan

peredaran oksigen ke otak terganggu, Kejang demam yang berlangsung singkat

pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Akan tetapi

kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea,

meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang

akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkepnia asidosis laktat disebabkan oleh

metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak


teratur dan suhu tubuh semakin meningkat yang disebabkan makin meningkatnya

aktivitas otot, dan selanjutnya menyababkan metabolisme otak meningkat.

Rangkaian kejadian di atas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan

neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. Faktor terpentingkan adalah

gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga terjadinya

kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah

mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang di

kemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Karena itu kejang

demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak

hingga terjadi epilepsi (Ngastiyah, 2014).

F. Manifestasi Klinis

Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan

dengan kenaikan suhu tubuh badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh

infeksi di susunan saraf pusat; misalnya tonsillitis, otitis media akut, bronchitis,

furunkulosis, dan lain-lain. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama

sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk

tonik-klonik, tonik, fokal atau akinetik. Perlu diingat bahwa bahwa kejang demam

hanya terjadi pada anak usia tertentu. (Ngastiyah, 2005). Kejang demam biasanya

terjadi pada anak-anak yang berusia 6 ulan sampai 5 tahun (60 tahun) dan sangat

umum terjadi pada balita. Anak-anak dengan usia 6 bulan atau

setelah 3 tahun jarang menampakkan kejang demam pertama. Semakin bertambah

usia anak saat kejang demam pertama terjadi pada meraka, maka semakin kecil

kemungkinan anak tersebut mengalami kejang berulang (Yuliastati, nining, 2016)


G. Pemeriksaan penunjang

Berdasarkan konsensus tatalaksana kejang demam dari Ikatan Dokter Anak

Indonesia/IDAI (2016) menyebutkan ada 4 jenis pemeriksaan penujang yang

dilakukan untuk pasien degan kejang demam yaitu:

a. Pemeriksaan Laboraturium

Yuliastati, Arnis (2016) menjelaskan pemeriksaan laboraturium yang perlu

diperhatikan adalah pemerikaan kadar leukosit yang tinggi (>17500 sel/L)

menunjukkan bahwa tubuh anak terserang infeksi dan penurunan kadar HB

dan eritrosit di bawah rentang normal (11-16 g/dl) menunjukkan adanya

masalah dalam pemenuha kadar oksigen pada anak yang dapat memperburuk

kejang pada anak. Pemeriksaan laboraturium tidak dilaksanakan secara rutin

pada kejang demam. Pemeriksaan laboraturium dapat dilakukan untuk

mengevaluasi infeksi penyebab demam. Pemeriksaan laboraturium dapat

dilakukan karena adanya indikasi misal darah perifer, elektrolit dan gula darah

(level of evidence 2, derajat recomendasi 2) (Americian Academy of Pediatri,

Subcomitte on febrile seizure, Pediatr, 2011) dalam (IDAI, 2016)

b. Pungsi Lumbal

Pemeriksaan Cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau

mengetahui adanya meningitis. Berdasarkan bukti-bukti terbaru saat ini

pemeriksaan pungsi lumbal tidak dilakukan secara rutin pada anak berusia

<12 bulan yang mengalami kejang demam sederhana dengan keadaan umum

baik.

Indikasi pungsi lumbal (level of evidence 2, derajat recomendasi B):

1. Terdapat tanda dan gejala rengsang meningeal

2. Terdapat kecurigaan adanya infeksi SSP (Sistem Saraf Pusat) berdasarkan


anamnesis dan pemeriksaan klinis

3. Dipertimbangkan pada anak dengan kejang yang disertai demam yang

sebelumnya telah mendapat antibiotic dan pemberian antibiotic tersebut

dapat mengaburkan tanda dan gejala meningitis (American Academy of

Pediatrics, Subcommitee on febrile, Pidiatri, 2011) Kesepekatan UKK

Neurologi IDAI, 2016.

c. Pencitraan

Pemeriksaan neuroimaging (CT scan atau MRI) tidak rutin dilakukan pada

anak dengan kejang demam, pemeriksaan tersebut dilakukan bila terdapat

indikasi, seperti kelainan neurologis fokal yang menetap, misalnya

hemiparesis atau paresis nervus kranalis.

Wong V. HK Journal of pediatr, 2002 AAP: Subcommite on Febrile Sizure,

Pediatr, 2011 Kesepakatan UKK Neurologi IDAI, 2016

d. Elektroensefalografi (EEG)

Indikasi pemeriksaan EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk

meneliti ketidaknormalan gelombang. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan

untuk dilakukan pada kejang demam yang brau terjadi sekali tanpa adanya

defisit (kelainan) neurologis. Walaupun dapat diperoleh gambaran

gelombang yang abnormal setelah kejang demam, gambaran tersebut tidak

bersifat prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko

epilepsi.
Gambaran EEG Kejang Demam. Sumber: anonim, Openi, 2014

Rekaman EEG dikatakan abnormal apabila terdapat asimetri irama dan voltase

gelombang pada daerah yang sama di kedua hemisfer otak, irama gelombang yang tidak

teratur, irama gelombang yang lebih lambat dibanding seharusnya misalnya gelombang

delta, dan adanya gelombang epileptiform misalnya gelombang tajam, gelombang paku,

paku ombak, paku majemuk dan gelombang lambat yang timbul paroksismal. Perekaman

EEG interiktal adalah perekaman EEG di antara waktu kejang atau pada saat pasien tidak

kejang, sedangkan perekaman EEG iktal adalah perekaman EEG pada saat kejang atau

serangan. Perekaman aktivitas epileptiform interiktal tergantung pada jenis kejang,

lokalisasi zona epileptogenik, metode perekaman, usia awitan kejang dan frekuensi

kejang. Cakupan EEG interiktal dapat ditingkatkan dengan perekaman berulang,

memperpanjang waktu perekaman EEG, dan melakukan perekaman tidak lama setelah

serangan kejang.

.
H. Komplikasi Kejang Demam

Komplikasi kejang demam menurut (Waskitho, 2013 dalam Wulandari &

Erawati, 2016) yaitu :

1. Kerusakan neurotransmitter

Lepasnya muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke

seluruh sel ataupun membrane sel yang menyebabkan kerusakan pada

neuron.
2. Epilepsi

Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan

kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari

sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan.

3. Kelainan anatomis di otak

Serangan kejang yang berlangsung lama yang dapat menyebabkan kelainan

di otak yang lebih banyak terjadi pada anak baru berumur 4 bulan - 5 tahun.

4. Mengalami kecacatan atau kelainan neurologis karena disertai demam.

5. Kemungkinan mengalami kematian

I. Penatalakanaan Kejang Demam

Penatalaksanaan kejang demam meliputi pemeberian obat-obatan

antikonvulsion untuk memberantas kejang dan antipiretik untuk menurunkan

demam. Kejang demam memiliki prognosis jangka panjag yang sangat baik masih

ada kemungkinan terjadi kejang demam berulang (Nindela, Dewi, Ansori, 2014).

a. Pemberian Obat saat Demam

Antipiretik tidak terbukti mengurangi resiko kejang demam, namun para ahli di

Indonesia menyepakati antipiretik tetap diberikan. Dosis peracetamol yang

digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan tiap 4-6 jam. Dosis ibuprofen 5-10

mg/kg/kali, 3-4 kali sehari (IDAI, 2016). Arief (2015) menjelas obat antipiretik ibu

profen diberikan dengan 5-10 mgkgBBkali, 3-4 kali sehari.

b. Obat Antikonvulsan

Sugai K. Brain Dev (2010) dalam IDAI (2016) Menjelaskan yang dimaksud

dengan obat antikonvulsan intermiten adalah obat antikonvulsan yang diberikan

hanya pada saat demam. Profilaksis intermiten diberikan pada kejang demam

dengan salah satu faktor risiko di bawah ini:


1. Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral

2. Berulang 4 kali atau lebih dalam setahun

3. Usia <6 bulan

4. Bila kejang terjadi pada suhu tubuh kurang dari 39 derajat Celsius

5. Apabila pada episode kejang demam sebelumnya, suhu tubuh meningkat

dengan cepat (Sugai K. Brain Dev. 2010) dalam (IDAI, 2016)

Diazepam oral dosis 0,3 mg/kgBB tiap 8 jam saat demam menurunkan resiko

berulangny kejang pada 30-60% kasus juga dengan diazepam rektal dosis 0,5

mg/kgBB tiap 8 jam pada suhu >38,5oC (Arief, 2015)

c. Penghentian kejang

1) 0 - 5 menit:

- Yakinkan bahwa aliran udara pernafasan baik

- Monitoring tanda vital, pertahankan perfusi oksigen ke jaringan, berikan

oksigen

- Bila keadaan pasien stabil, lakukan anamnesis terarah, pemeriksaan umum dan

neurologi secara cepat

- Cari tanda-tanda trauma, kelumpuhan fokal dan tanda-tanda infeksi

2) 5 – 10 menit:

- Pemasangan akses intarvena

- Pengambilan darah untuk pemeriksaan: darah rutin, glukosa, elektrolit

- Pemberian diazepam 0,2 – 0,5 mg/kgbb secara intravena, atau diazepam rektal

0,5 mg/kgbb (berat badan < 10 kg = 5 mg; berat badan > 10 kg = 10 mg).

Dosis diazepam intravena atau rektal dapat diulang satu – dua kali setelah 5 –

10 menit..

- Jika didapatkan hipoglikemia, berikan glukosa 25% 2ml/kgbb.


3) 10 – 15 menit

- Cenderung menjadi status konvulsivus

- Berikan fenitoin 15 – 20 mg/kgbb intravena diencerkan dengan NaCl 0,9%

- Dapat diberikan dosis ulangan fenitoin 5 – 10 mg/kgbb sampai maksimum

dosis 30 mg/kgbb.

4) > 15 menit

- Berikan fenobarbital 10 mg/kgbb, dapat diberikan dosis tambahan 5-10 mg/kg

dengan interval 10 – 15 menit.

- Pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan, seperti analisis gas darah,

elektrolit, gula darah. Lakukan koreksi sesuai kelainan yang ada. Awasi tanda

-tanda depresi pernafasan.

- Bila kejang masih berlangsung siapkan intubasi dan kirim ke unit

perawatanintensif.

e. Penatalaksanaan keperawatan

1. Baringkan pasien di tempat yang rata, kepala dimiringkan.

2. Singkirkan benda-benda yang ada di sekitar pasien.

3. Lepaskan pakaian yang menganggu pernapasan.

4. Bila pasien sudah sadar dan terbangun berikan minum hangat.

5. Pemberian oksigen untuk mencukupi perfusi jaringan.

6. Bila suhu tinggi berikan kompres hangat


ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas

Identitas pasien meliputi: nama, jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendidikan,

status perkawinan, agama, kebangsaan, suku, alamat, tanggal dan jam MRS, no

register, serta identitas yang bertanggung jawab.

2. Keluhan utama

Pada umumnya pasien panas yang meninggi disertai kejang

3. Riwayat penyakit sekarang

Menanyakan tentang keluhan yang dialami sekarang mulai dari panas, kejang,

kapan terjadi, berapa kali, dan keadaan sebelum, selama dan setelah kejang.

4. Riwayat penyakit dahulu

Penyakit yang diderita saat kecil seperti batuk, pilek, panas. pernah dirawat

dimana, tindakan apa yang dilakukan, penderita pernah mengalami kejang

sebelumnya, umur berapa saat kejang.

5. Riwayat penyakit keluarga

Tanyakan pada keluarga pasien tentang apakah didalam keluarga ada yang

menderita penyakit yang diderita oleh pasien seperti kejang atau epilepsi.

6. Pemeriksaan fisik

1) B1 (Breath) : Keadaan umum tampak lemah, tampak peningkatan frekuensi

nafas sampai terjadi gagal nafas.Dapat terjadi sumbatan jalan nafas akibat

penumpukan sekret
2) B2 (Blood) : TD normal, nadi, perfusi, crt<2" , suhu panas, kemungkinan

terjadi gangguan hemodinamik

3) B3 (Brain): Kesadaran komposmentis sampai koma

4) B4 (Bladder): monitor produksi urine dan warnanya(jernih,pekat)

5) B5 (Bowel): Inspeksi : tampak normal, auskultasi : terdengar suara bising

usus normal, palpasi : turgor kulit normal, perkusi : tidak ada distensi

abdomen

6) B6 (Bone): pada kasus kejang demam tidak ditemukan kelainan tulang akan

tetapi saat kejang berlangsung akan terdapat beberapa otot yang mengalami

kejang.

7. Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium

a) Darah lengkap

b) Urine lengkap

c) Serum elektrolit

b. EEG: didapatkan gelombang abnormal berupa gelombang-gelombang

lambat fokal bervoltase tinggi, kenaikan aktivitas delta, relatif dengan

gelombang tajam (Soetomenggolo, 1989)

c. CT Scan: pada pemeriksaan ini dapat menunjukan adanya lesi pada

daerah kepala.
B. Diagnosa Keperawatan

(Sujono & Sukarmin, 2009)

Berdasarkan perjalanan patofisologi penyakit dan manisfestasi klinis yang

muncul maka keperawatan yang muncul pada pasien dengan kejang demam

adalah :

a. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan suhu

tubuh diatas nilai normal

b. Defisi pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan menemukan

sumber informasi

c. Resiko cidera ditandai dengan kejang


C. Intervensi

DIAGNOSA
NO KEPERAWA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL
TAN
Setelah dilakuan tindakan keperawatan selama 3x24
1. Hipertermi  Manajemen hipertermi 1. untuk mengetahui
jam termoregulasi dapat membaik penyebab hipertermi
Observasi
Kriteria Hasil: 1. Identifikasi penyebab 2. untuk mengetahui suhu
hipertermi tubuh
1. Suhu kulit membaik 3. untuk mengetahui
2. Monitor suhu tubuh
komplikasi akibat
2. Suhu tubuh menurun (36,5-37,5) 3. Komplikasi akibat hipertermi
hipertermia 4. untuk mengurangi
3. Takikardi menurun
Terapeutik kecemasan
4. Pucat cukup menurun 4. Sediakan lingkungan yang 5. untuk mempertahankan
nyaman dan tenang suhu mendekati normal
5. Kejang menurun
5. Longgarkan atau lepaskan 6. untuk mengurangi
pakaian dehidrasi/ agar tidak
6. Berikan cairan oral terjadi syok
7. Lakukan pendinginan 7. untuk penurunan suhu
eksternal (kompres dingin) tubuh
8. untuk meningkatkan
Edukasi
istirahat
8. Anjurkan tirah baring 9. peningkatan suhu tubuh
Kolaborasi meningkatkan penguapan
9. Kolaborasi pemberian sehingga perlu di imbangi
cairan dan elektrolit cairan dengan asupan cairan yang
banyak
 Manajemen Kejang
Observasi
1. Monitor terjadinya kejang
berulng
2. Monitor karakteristik kejang
3. monitor tanda tanda vital 1. agar tidak terjadi
Terapeutik terjadinya kejang berulang
4. Baringkan pasien agar tidak 2. agar mengerahui
terjatuh penyebab kejang
3. untuk mengetahui tanda
5. Pertahankan kepatenan jalan
tanda vital
nafas 4. agar tidak terjadi resiko
6. Longgarkan pakaian jatuh
7. Catat durasi kejang 5. agar tidak terjadi
8. dokumentasi periode sumbatan jalan nafas
terjadinya kejang 6. untuk mempertahankan
Edukasi suhu mendekati normal
9.Anjurkan keluarga 7. untuk mengetahui
menghindari memasukkan lamanya kejang
apapun ke dalam mulut pasien 8. mendokumentasi
saat priode kejang terjadinya kejang
9. agar tidak terjadi resiko
Kolaborasi cedera
10.Kolaborasi dengan tim 10. untuk proses
medis dalam tindakan penyembuhan pasien
keperawatan ( seperti obat,
dan dll)
DIAGNOSA
NO KEPERAWA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL
TAN
Setelah dilakuan tindakan keperawatan selama
1. Defisit 
Edukasi pengukuran suhu
3x24 jam tingkat pengetahuan membaik
Pengetahuan tubuh 1. untuk menerima
Kriteria Hasil: Observasi informasi dengan baik
1. Identifikasi kesiapan dan 2. untuk menjelaskan
1. Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang tentang penyakit yang di
kemampuan menerima
suatu topik cukup meningkat informasi derita pasien
Terapeutik 3. agar lebih memperjelas
2. Pertanyaan tentang masalah menurun materi
2. Sediakan materi dan media
pendidikan kesehatan 4. menjelaskan prossedur
3. Berikan kesempatan untuk pengukuran suhu tubuh
bertanya 5. untuk mengetahui suhu
Edukasi tubuh lebih optimal
4. Jelaskan prosedur pengukuran 6. agar meletakkan
suhu tubuh thermometer yang tepan
5. Anjurkan terus memegang 7. untuk mengetahui
bahu dan menahan dada saat terjadinya suhu tubuh
pengukuran susu meninggakt
6. Ajarkan cara meletakkan 8. agar menegetahui hasil
suhu tubuh tinggi atau
thermometer
dalam batas normal
7. Ajarkan cara membaca hasil
thermometer di bagian tengah
aksila
8. Anjurkan membaca hasil
thermometer

9. Jelaskan penyebab dan faktor


resiko penyakit
10. Jelaskan tanda dan gejala yang
ditimbulakan oleh penyakit 9. Untuk mengetahui
11. Jelaskan kemungkinan terjadi penyebab dan faktor
komplikasi resiko penyakit .
12. Ajarkan cara meredakan atau 10. Untuk
mengatasi gejala yang mengetahui tanda dan
dirasakan gejala penyekit yang
13. Informasi kondisi pasien saat timbul
ini 11. untuk
mengetahui
kemungkinan terjadi
komplikasi
12. untuk mengatasi
gelaja yang dirasakan
13. ntuk mengetahui
kondisi pasien saat ini
DIAGNOSA
NO KEPERAWA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL
TAN
Setelah dilakuan tindakan keperawatan
1. Resiko Cedera  Pencegahan kejang 1. Untuk mengetahui
selama 3x24 jam tingkat cedera meurun
Observasi status neurologis
Kriteria Hasil: 1. Monitor status neorologis 2. Untuk mengetahui
2. Monitor tanda-tanda vital tanda tanda vital
1. Ketegangan otot menurun
Terapeutik 3. Untuk mengurangi
2. Kejadian cedera menurun 3. Baringkan pasien agar tidak resiko jatuh
terjatuh 4. Untuk mengurangi
3. Frekuensi nadi menbaik
4. Rendahkan ketinggian tempat tidur resiko jatuh
4. Pola tidur /istirahat membaik 5. Pasang side-rail tempat tidur 5. Agar tidak terjatuh
Edukasi 6. Mengajarkan
6. Anjarkan keluarga tentang keluarga tentang
pertolongan pertama kejang pertolongan pertama
Kolaborasi saat kejang
7. kolaborasi dengan tim medis 7. Untuk proses
pemberian obat penyembuhan
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi (2008) Teknik Prosedural Keperawatan Konsep Dan Aplikasi Kebutuhan


Dasar Klien, Jakarta:Salemba Medika
Gunawan, Prastiya Indra & Darto Saharso. 2012. Faktor Risiko Kejang Demam
Berulang Pada Anak. Vol. 46 No. 2
Marwan, R. (2017). Faktor Yang Berhubungan Dengan Penanganan Pertama
Kejadian Kejang Demam Pada Anak Usia 6 Bulan - 5 Tahun Di Puskesmas,
1(1), 32–40.
Media Wibisono, A. (2015). Asuhan Keperawatan Pada An.M Dengan Gangguan
Sistem Persarafan : Kejang Demam Di Ruang Mawar Rsud Banyudono
Boyolali..
Widjaja (2008) Mencegah Mengatasi Demam Pada Balita, Jakarta:Gudang Penerbit