Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

DIMENSIA

OLEH

KELOMPOK II :

1. YACOBUS RAHANYAAN 9. RISKA KWAR


2. GEOFANIA MAHULUTTE 10. MARINA AZHARI
3. RURI CHANDIKA 11. YULIANA P DWITIARA
4. NURHAYATI 12. YULIEN TERMATURE
5. NENI K WIYONO 13. IIN PURNAMASARI
6. INDRA ALGAFIKI 14. SHERTY P
7. FAHLIA TASIJAWA 15. LITHA E MANHITIRISA
8. ACHMAD JALIL SUBU

PROGRAM STUDI PROFESI NERS KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU

JAKARTA

2019
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
DI PANTI SOSIAL SASANA TRESNA WERDHA RIA PEMBANGUNAN CIBUBUR

A. TOPIK
Tebak Gambar dengan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan gambar tersebut

B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Setelah mengikuti terapi aktifitas kelompok diharapkan penghuni panti sosial sasana
tresna werdha ria pembangunan cibubur mampu melatih otak sehingga dapat
meningkatkan daya ingat pada lansia.

2. Tujuan khusus
Setelah mengikuti terapi aktifitas kelompok diharapkan penghuni panti sosial sasana
tresna werdha ria pembangunan cibubur mampu:

a. Melatih daya ingat dengan menebak gambar dengan menyebutkan hal-hal yang
berkaitan dengan gambar tersebut
b. Menciptakan suasana rileks dan menyenangkan,
c. Membina hubungan sosialisasi sesama lansia.

C. LATAR BELAKANG
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapis modalitas yang dilakukan
perawat kepada kelompok lansia yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.
Aktivitas digunakan sebagai terapi dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam
kelompok terjadi interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan menjadi
laboratorium tempat lansia melatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku
yang maladaptive.
Lansia adalah seseorang yang berumur 60 tahun atau lebih (Depkes RI, 2015).
Dengan bertambahnya usia banyak fungsi tubuh menjadi menurun yang berdampak pada
biologis seperti menjadi malas beraktifitas, gangguan mobilitas, mata kabur, pendengaran
kurang, terjadi inkontinensia urin, daa ingat menurun dan lain-lain. Sedangkan pada aspek
psikososial lansia akan kehilangan hubungan dengan teman-teman dan keluarga sehingga
berpotensi menimbulkan stress psikososial (Depkes, 2015).
Proses menjadi tua adalah tahap akhir dari perjalanan hidup manusia, yang ditandai
dengan penurunan semua fungsi alat-alat tubuh seseorang. Dengan menurunnya fungsi alat-
alat tubuh ini, seseorang akan menjadi sangat terbatas atau mengalami keterlambatan dalam
memenuhi kebutuhannya untuk kehidupan sehari-hari. Akibat dari keadaan ini akan
memberikan dampak biopsikososial dan spiritual pada usia lanjut .
Pada lanjut usia terjadi perubahan atau penurunan baik secara fisik, mental, sosial
dan spiritual. Terjadinya perubahan pada persyarafan yaitu daya ingat menurun. Demikian
pula pada lanjut usia yang mengalami penurunan fungsi kerja otak diperlukan latihan dan
aktifitas otak agar kemundurun fungsi tersebut dapat ditekan. Bila hal tersebut tidak
dilakukan bukan hanya kualitas hidup yang tidak optimal tetapi berbagai penyakit pikun atau
demensia lebih banyak dan lebih cepat menghinggap pada usia lanjut nantinya. Otak
memiliki plastisitas bahwa kita dapat membangun neurons dan susunannya di dalam
jaringan otak untuk mengembalikan fungsi-fungsinya.
Definisi demensia menurut WHO adalah sindrom neurodegeneratif yang timbul
karena adanya kelainan yang bersifat kronis dan progesifitas disertai dengan gangguan
fungsi luhur multiple seperti kalkulasi, kapasitas belajar, bahasa, dan mengambil keputusan.
Kesadaran pada demensia tidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif biasanya disertai
dengan perburukan kontrol emosi, perilaku, dan motivasi.
Salah satu terapi aktivitas yang dapat melatih daya ingat dan melindungi diri dari
gejala demensia di masa usia lanjut yaitu dapat dengan tebak gambar dengan menyebutkan
hal-hal yang berkaitan dengan gambar tersebut. Tebak gambar merupakan terapi yang
membutuhkan konsentrasi penuh untuk mengasah otak dan imajinasi serta untuk mengingat
kembali apa yang pernah kita lihat dan kita ketahui. Sehingga dari terapi ini dapat
memberikan kesempatan kepada lansia untuk bersosialisasi dengan teman lansia yang lain
dan dapat melatih kemampuan berpikir lansia pada waktu yang sama.
Kondisi lanjut usia di Sasana Tresda RIA Pembangunan Cibubur berdasarkan hasil
wawancara dan observasi oleh kelompok dan Care giver serta pengurus panti werdha,
menunjukkan dari 15 pasien yang dikelola mahasiswa terdapat berbagai penyakit yang
terjadi yaitu Hipertensi dengan 6 orang , Diabetes Militus dengan 4 orang , Asam urat
dengan 5 orang , namun dari berbagai penyakit diatas lansia tersebut juga mengalami
demensia dan bahkan, penurunan fungsi kognitif ini bisa dialami pada usia kurang dari 50
tahun.
Demensia adalah kemunduran kognitif yang sedemikian beratnya sehingga
mengganggu aktivitas hidup sehari-hari dan aktivitas sosial. Kemunduran kognitif pada
dimensia biasanya diawali dengan kemunduran, memori atau daya ingat. Demensia terutama
yang disebabkan oleh penyakit alzheimer berkaitan erat dengan usia lanjut (Nugroho,2008).
Terdapat tanda-tanda demensia, mayoritas lanjut usia mengalami penuruan daya ingat yang
terus terjadi (mudah lupa), bicara tidak nyambung, pengetahuan diri dan lingkungan
menurun,dan emosi labil. Wawancara awal mengenai kondisi psikologis yang dialami lanjut
usia di panti werdha dilakukan kepada beberapa penghuni panti. Dari masing-masing lanjut
usia 8 diantaranya mengungkapkan semakin tua usia orang maka semakin rendah daya
ingatnya,mereka sering melupakan sesuatu yang dianggap penting bahkan kejadian yang
baru saja terjadi. Hasil wawancara awal dengan penghuni panti werdha lanjut usia dengan
demensia yang hidup bersama keluarganya mengungkapkan bahwa masa tua merupakan
masa yang sulit, mereka merasa kesulitan dalam berbahasa dan mengalami kemunduran
daya ingat. Ketika mereka benar-benar tidak bisa mengingat suatu hal mereka kesulitan
dalam membuat keputusan dan sangat tergantung pada keluarga, mereka mengharapkan
adanya dukungan dan bantuan dari keluarga sehingga mereka dapat hidup dengan lebih
percaya diri.Tetapi kurangnya dukungan dari keluarga menyebabkan mereka merasa
kehidupannya sudah tidak berarti lagi dan mudah putus asa dengan kehidupan yang
dijalaninya sekarang serta merasa kondisi tubuh yang sudah mulai berubah tidak seperti
pada masa muda. Sama seperti lanjut usia lain di Sasana Tresna Werdha ketika diberi
pertanyaan terkadang mereka lupa dan tidak menjawab. Kondisi umum lanjut usia di Sasana
Tresna Werdha menjawab pertanyaan mengenai keluarga akan tetapi tak dapat dilakukan.
Ingin berkumpul bersama keluarga, akan tetapi tidak dapat dilakukan. Kondisi lainnya pada
lanjut usia di Panti Sasana Tresna Werdha Ria Pembangunan di Cibubur sudah mengalami
penurunan fungsi kognitif (tidak ingat umur dan sudah disorientasi waktu dan tempat serta
jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan wawancara), serta penurunan fungsi fisik
(berupa tidak mendengar serta kelelahan).
Dari penyataan diatas maka masalah keperawatannya adalah hambatan memori
berhubungan dengan gangguan kognitif ringan.Pengaruh pada beberapa aspek seperti
menurunnya daya ingat, seperti memori dalam kehidupan sehari – hari. Karena itu mengapa
usia tua identik dengan kepikunan atau lupa akan segala hal. Selain itu juga peran otak
sebelah kanan mengalami kemunduran lebih cepat dibanding dengan otak sebelah kiri.
Akibatnya akan mengalami gangguan fungsi kewaspadaan juga perhatian. Penurunan
kognitif pada lansia juga bergantung pada faktor usia juga jenis kelamin khususnya pada
wanita, dikarenakan pada wanita ada peranan hormon seks endogen dalam perubahan fungsi
kognitif serta fungsi reseptor esterogen di otak yang berperan dalam pada fungsi belajar dan
memori.
Didapatkan dari 62 lansia yang tinggal di panti sosial Sasana Tresna Werdha Ria
Pembangunan Cibubur ruangan wijaya kusuma, aster , cempaka , bungur, dahlia 65 %
mengalami gangguan kognitif (demensia). Sehubungan dengan permasalahan tersebut
kelompok tertarik untuk memberikan terapi aktifitas kelompok yaitu tebak gambar dengan
menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan gambar tersebut.Salah satu terapi aktivitas yang
dapat melatih daya ingat dan melindungi diri dari gejala demensia di masa usia lanjut yaitu
dapat dengan tebak gambar dengan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan gambar
tersebut. Tebak gambar merupakan terapi yang membutuhkan konsentrasi penuh untuk
mengasah otak dan imajinasi serta untuk mengingat kembali apa yang pernah kita lihat dan
kita ketahui. Sehingga dari terapi ini dapat memberikan kesempatan kepada lansia untuk
bersosialisasi dengan teman lansia yang lain dan dapat melatih kemampuan berpikir lansia
pada waktu yang sama.
D. PESERTA
KriteriaPeserta
1. Masih aktif
2. Dapat bersosialisasi dengan baik
3. Peserta mampu mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir, bila peserta akan
meninggalkan kegiatan maka peserta harus minta izin kepada fasilitator atau
kepada penyaji
Proses seleksi
Sasaran : Lansia yang mengalami penurunan kognitif ( Demensia)
Jumlah : 7 orang
Nama nama yang mengikuti TAK
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
E. PENGORGANISASIAN
Pengorganisasian Kelompok :
 Leader : YACOBUS RAHANYAAN
NENI K WIYONO
 Co Leader : RURI CHANDIKA
 Observer : NURHAYATI
GEOFANIA MAHULUTTE
INDRA ALGAFIKI
FAHLIA TASIJAWA
 Fasilitator : ACHMAD JALIL SUBU
RISKA KWAR
MARINA AZHARI
YULIANA P DWITIARA
YULIEN TERMATURE
LITHA E MANHITIRISA
 Dokumentasi : IIN PURNAMASARI
SHERTY P LILIMWELAT

a. Uraian Tugas
1) Leader : YACOBUS RAHANYAAN
NENI K WIYONO
Membuka dan menutup kegiatan
Menjelaskan tentang aturan dan cara pelaksanaan kegiatan
Mengarahkan jalannya kegiatan
Memberi reinforcement positif atas hasil yang dicapai
Mengatasi masalah yang mungkin timbul
Menjelaskan tujuan dari terapi

2) Co Leader : RURI CHANDIKA


Membantu Leader mengkoordinir permainan
Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader
Mengingatkan leader tentang kegiatan

3) Observer : YULIEN TERMATURE


NURHAYATI
GEOFANIA MAHULUTTE
INDRA ALGAFIKI
FAHLIA TASIJAWA
Mengamati proses pelaksanaan permainan dari awal sampai akhir
Mencatat perilaku verbal dan nonverbal selama kegiatan berlangsung
Mencatat penyimpangan kegiatan
Membuat laporan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan
4) Fasilitator : ACHMAD JALIL SUBU
RISKA KWAR
MARINA AZHARI
YULIANA P DWITIARA
Memotivasi peserta kegiatan untuk berperan aktif selama kegiatan berlangsung
5) Dokumentasi : IIN PURNAMASARI dan SHERTY P

F. METODE
Metode : Dinamika kelompok, (diskusi dan demostrasi)

G. WAKTU
Hari/Tanggal : Senin , 04 November 2019
Jam : 09.00 – selesai

H. TEMPAT
Ruang

I. ALAT
1. Gambar
2. Speaker / MP3 musik
3. Papan nama peserta
4. Bola plastic
Setingan Tempat

F L L P

O P
P O
CL
F
P
P

F
F

P P F P P F P

O O O

Ket :

L : Leader

CL : Co Leader

F : Fasilitator

P : Pasien

O : Observer
J. Proses Pelaksanaan

1. Fase persiapan : membuat kontrak dengan klien, mempersiapkan alat dan tempat
2. Fase orientasi :
 Salam teraupetik : salam dari terapis kepada klien, klien dan terapis memakai papan
nama
 Evaluasi / validasi : terapis menanyakan keadaan klien saat ini, terapis menanyakan
apakah sering mendengar music? Apa jenis music kesukaan? Ataukah apakah ada
yang mempunyai lagu favorite/kesukaan?
 Kontrak : menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu setiap peserta diberikan kesempatan
untuk menebak gambar dengan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan gambar
tersebut, kemudian lagu diputar/diperdengarkan, dan setiap kelompok di beri
kesempatan untuk menebak gambar dengan menyebutkan hala-hal yang berkaitan
dengan gambar tersebut, dan terapis menjelaskan aturan main yaitu : jika ada klien
yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepda terapis. Lama
kegiatan 45 menit. Setiap peserta mengikitu kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Fase kerja
 Terapis memberikan contoh langkah permainan yang harus diikuti oleh peserta.
 Ajarkan pandu positif/yel-yel untuk menghidupkan suasana.
 Hidupkan MP3 Player Music/speaker.
 Fasilitator berperan dalam membantu dan mengarahkan klien dalam melakukan
kegiatan.
 Berikan pujian setiap peserta yang berhasil menebak gambar dengan menyebutkan
hal-hal yang berkaitan dengan gambar tersebut
4. Fase terminasi
a) Evaluasi :
 Terapis menanyakan perasaan klien setelah selesai mengikuti TAK
 Memberikan pujian atas keberhasilan peserta TAK
b) Tindak lanjut :
Menganjurkan anggota terapis untuk saling berbagi kenangan manis atau cerita
kepada sesama anggota panti yang lain.
TAHAP KEGIATAN PENANGUNG
NO KEGIATAN TERAPI WAKTU
KEGIATAN PESERTA JAWAB
1 Pembukaan - Terapis mengatur - Peserta duduk 5 menit Leader, Co
peserta untuk duduk pada tempat yang Leader,
sesuai tempatnya telah disediakan observer,
- Terapis - Menjawab salam Fasilitator
mengucapkan salam - Mendengarkan
- Terapis dan
memperkenalkan memperhatikan
Mahasiswa,
pembimbing dan
peserta kegiatan
2. Pelaksanaan - Leader menjelaskan - Mendengarkan 30 menit Leader, Co
cara dan prosedur dan Leader,
terapi aktivitas memperhatikan. Fasilitator
kelompok serta
lamanya kegiatan
berlangsung
- Leader memberi - Mengajukan
kesempatan pada pertanyaan
peserta bila ada
yang tidak jelas

- Leader, Co leader - Peserta mendengar


dan fasilitator dan
menjelaskan dan memperhatikan
memperagakan cara
menebak gambar
dengan
menyebutkan hal-
hal yang berkaitan
dengan gambar
tersebut
- Leader memberikan - Peserta lain
reinforcement mendengarkan
positif atas hasil
yang dicapai

- Leader - Mendengarkan
mengevaluasi
respon verbal dan
non verbal peserta
terhadap kegiatan
- Leader menutup - Mendengarkan
kegiatan dan serta menjawab
memberi salam salam
3. Penutup 5 menit Leader

D. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur

a. Peserta mengikuti kegiatan sesuai rencana.


b. Tempat dan alat tersedia sesuai dengan rencana
c. Peran dan tugas mahasiswa sesuai perencanaan
d. Peserta orangdan duduk sesuai setting

2. Evaluasi Proses

a. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana


b. Peserta yang hadir mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir (tidak meninggalkan
tempat)
c. Peserta yang hadir berperan aktif selama kegiatan berlangsung
d. Peserta dapat bekerja sama dengan teman-temannya

3. Evaluasi Hasil

a. Peserta yang hadir dapat lebih bersosialisasi dengan penghuni lainnya


b. Peserta yang hadir dapat mengunggapkan perasaan senang setelah mengikuti terapi
aktivitas kelompok
c. Peserta yang hadir dapat tampak rileks