Anda di halaman 1dari 17

4. Sumber-sumber ekonomi islam: Potensi Zakat, Infak, Shadaqah dan Waqaf.

a. Zakat, infak, sedekah dan wakaf


1) Zakat
a) Definisi Zakat
 Etimologi
Zakat berasal dari bahasa arab zaka yang artinya tumbuh, berkembang
dan berkah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau
mensucikan (QS. At-Taubah : 103).

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui” (QS. At Taubah: 103)
 Yusuf Qardhawi (1968:59)
Zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah SWT,
diserahkan kepada orang-orang yang berhak.
 BAZIS DKI Jakarta (1987: XII)
Zakat adalah salah satu rukun Islam yang merupakan ibadah kepada
Allah sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan
dalam wujud mengkhususkan jumlah harta atau nilainya milik perorangan
atau hadan hukum untuk diberikan kepada yang berhak dengan syarat-syarat
tertentu.
 UU No. 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat
Zakat adalah harta yg wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau
badan usaha untuk diberikankepada yg berhak menerimanya sesuai dengan
syariat Islam.
 Menurut Sayid Sabiq (dalam Mardani, 2017: 239)
Zakat adalah sesuatu (harta) yang harus dikeluarkan manusia sebagai
hak Allah untuk diserahkan kepada fakir miskin, disebut zakat karena dapat
memberikan keberkahan, kesucian jiwa, dan berkembangnya harta.
b) Landasan Hukum Zakat
i. Landasan Al-Qur’an

Firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah (9) : 103

Artinya :

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
memberikan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka dan
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. At-Taubah (9) : 103

Maksud dari ayat ini ialah keluarkanlah zakat dengan begitu kita akan
terhindar dari sifat kikir dan menjauhi sifat terlalu cinta terhadap harta
duniawi dan zakat itu untuk menyuburkan hati serta memperbanyak rezeki.

ii. Landasan Hadist

Kewajiban zakat selanjutnya di perjelas dalam HR. Bukhari Muslim

“Islam dibangun di atas lima hal: kesaksian sesungguhnya tiada Tuhan


selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, melaksanakan
shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari
Muslim)
Makna dari ayat ini adalah seorang yang beragama islam, jika benar
islam maka wajib hukumnya ia harus mengakui akan keesaan Allah SWT,
shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan haji.

c) Syarat-Syarat Zakat
Menurut Nurul Huda dan Mohammad Heykal (2010: 296-298) syarat-syarat zakat
terdiri dari:
i. Kepemilikan yang bersifat penuh.
Harta yang dizakatkan berada dalam kepemilikan yang sepenuhnya
dari yang memiliki harta tersebut, baik dalam memanfaatkan harta maupun
dalam menikmati hasil dari harta tersebut. Selain itu harta tersebut harus
diperoleh dengan cara yang halal dan tidak bertentangan dengan syariat
Islam.
ii. Harta yang disakatkan bersifat produktif atau berkembang.
Para ahli Hukum Islam menegaskan bahwa harta yang dizakatkan
harus memiliki syarat berkembang atau produktif baik terjadi secara
sendiri atau karena harta tersebut dimanfaatkan.
iii. Harta harus mencapai nisab.
Nisab berarti syarat minimum dari jumlah aset yang dapat dikenakan
zakat, sesuai dengan ketentuan yang ada dalam syariah Islam. Harta zakat
harus lebih dari kebutuhan pokok.
iv. Harta zakat harus melebihi kebutuhan pokok
Artinya harta zakat harus lebih dari kebutuhan rutin yang diperlukan
agar dapat melanjutkan hidupnya secara wajar sebagai manusia.
v. Harta zakat harus bebas dari sisa hutang.
Dalam Islam hak seseorang yang meminjamkan uang harus
didahulukan terlebih dahulu dibandingkan dengan golongan yang
menerima zakat tersebut.
vi. Harta aset zakat berada dalam kepemilikan selama satu tahun penuh
(haul).
Ketentuan ini berlaku pada bebarapa aset zakat, seperti binatang
ternak, asset keuangan, dan juga barang dagangan.

d) Macam-Macam Zakat
Menurut Andri Soemitra (2009: 413) zakat secara umum terdiri dari dua
macam yaitu pertama, zakat yang berhubungan dengan jiwa manusia (badan)
yaitu zakat fitrah dan kedua, zakat yang berhubungan dengan harta (zakat maal).
i. Zakat Maal
Zakat Maal adalah bagian dari harta kekayaan seseorang atau badan
hukum yang wajib diberikan kepada orang-orang tertentu setelah mencapai
jumlah minimal tertentu dan setelah dimiliki selama jangka waktu tertentu
pula. Zakat maal meliputi :
 Emas, perak dan logam mulia lainnya,
 Uang dan surat berharga lainnya,
 Periagaan,
 Pertanian, perkebunan dan kehutanan,
 Peternakan dan perikanan,
 Pertambangan,
 Perindustrian,
 Pendapatan dan jasa,
 Rikaz.
ii. Zakat Fitrah/Fidyah
Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan pada akhir puasa bulan
Ramadhan. Hukumnya wajib bagi setap orang Muslim, kecil atau dewasa,
laki-laki atau perempuan, budak atau merdeka.

e) Orang yang berhak menerima Zakat.


Muzzaki adalah orang berkewajiban membayar zakat, sedangkan mustahik
adalah orang yang berhak menerima zakat. Orang yang berhak menerima zakat
diatur dalam Al-Qur’an surah At-Taubah: 60:

Artinya:
“Zakat-zakat itu tiada lain, kecuali untuk orangorang fakir, miskin, „amilin,
yang diluakkan hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang-orang
berhutang, untuk keperluan di jalan Allah, dan orang-orang yang safar
(bepergian) kehabisan bekal, yang demikian itu suatu kewajiban dari Allah,
karena Allah itu amat mengetahui lagi kebijaksanaan” (QS. At-Taubah:60)
Jadi orang yang termasuk Mustahik berdasarkan QS-At-Taubah: 60
tersebut yaitu:
1. Fakir dan Miskin
Menurut mazhab Hanafi Fakir yaitu orang yang tidak memiliki
apa-apa dibawah nialai nisab menurut hukum zakat yang sah, atau nilai
sesuatu yang dimiliki mencapai nisab atau lebih, yang terdiri dari
perabotan rumah tangga, barang-barang, pakaian, buku-buku sebagai
kebutuhan pokok sehari-hari, sedangkan Miskin yaitu mereka yang
tidak memiliki apa-apa.
2. Amilzakat (Pengurus-Pengurus Zakat)
Pengurus-pengurus zakat yaitu „amilin atau amil zakat. Amil
zakat merupakan mereka yang terlibat organisasi pengumpulan zakat.
3. Muallaf (orang yang baru masuk Islam)
Muallaf yaitu mereka yang diharapkan kecenderungan hatinya
atau keyakinanya dapat bertambah terhadap Islam, atau terhalangnya
niat jahat mereka atas kaum Muslimin atau harapan akan adanya
kemanfaatan mereka dalam membela dan menolong kaum Muslimin
dari musuh.
4. Riqab (kelompok yang memerdekakan budak)
Riqab adalah kelompok budak, mereka merupakan orang-orang
yang kehidupannya dikuasai secara penuh oleh majikannya. Kelompok
ini berhak medapatkan dana zakat dengan tujuan agar mereka dapat
melepaskan diri dari perbudakan yang mereka alami.

5. Kelompok Gharim (orang yang berhutang)


Orang-orang yang berhutang yaitu mereka yang kerena dalam
kegiatannya terhadap umat akhirnya menyebabkan dirinya tersangkut
utang piutang.
6. Fisabilillah (berjalan di jalan Allah)
Fisabilillah merupakan mereka yang berjuang terhadap umat
agar mereka semua mendapatkan ridha Allah SWT, yang termasuk
Fisabilillah yaitu pengembangan agama dan juga pembangun negara.

7. Kelompok Ibnu Sabil (orang dalam perjalanan)


Ibnu Sabil adalah mereka yang kehabsan bekal dalam
perjalanan dimana perjalanannya ini adalah untuk keperluan baik.

2) Infak
a) Definisi Infak
 Etimologi
Infaq menurut bahasa berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan,
memberikan, dan membelanjakan harta untuk kepentingan sesuatu. Infak adalah
membelanjakan, mengunakan atau mengeluarkan harta.
 Daud Ali (1988: 23)
Infak adalah pengeluaran suka rela yang dilakukan seseorang setiap kali ia
memperoleh rezeki, sebanyak dikehendakinya sendiri.
 Cholid Fadhullah (1993:5)
Infak ialah pengeluaran derma setiap kali seorang muslim menerima rezeki
(kurnia) dari Allah sejumlah yang dikehendaki dan direlakan oleh sipenerima
rezeki tersebut.
b) Landasan Hukum Infak
i. Landasan Hukum Al-Qur’an
Firman Allah SWT (QS. Ali ’Imran: 134)

Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang
maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS.
Ali ’Imran: 134)
Makna dari ayat ini ialah kita di anjurkan untuk selalu menyisakan harta untuk
di nafkahkan kepada orag yang membutuhkan, baik di waktu yang lapang
maupun sempit.
Firman Allah SWT (QS. Al-Baqarah 215)

Artinya :
“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka
infaqkan. Katakanlah, „Harta apa saja yang kamu infaqkan, hendaknya
diperuntukkaan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan
orang yang sedang dalam perjalanan.‟ Dan kebaikan apa saja yang kamu
kerjakan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 215)
Makna ayat ini ialah menjelaskan bahwa infak itu hukumnya wajib terutama
di berikan kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang
yang sedang dalam perjalanan.
ii. Landasan Hukum Hadist
HR. Shahih Muslim, III : 79, No. 2358

Artinya :
“Dari Abu Hurairah, ia berkata,‟Rasulullah SAW bersabda,‟Dinar yang
engkau infaqkan di sabilillah, dinar yang engkau infaqkan dalam membebaskan
hamba sahaya, dinar yang engkau infaqkan kepada miskin, dan dinar yang
engkau infaqkan kepada istrimu dan keluargamu yang paling besar adalah yang
engkau infaqkan kapada istri dan keluargamu.” HR. Shahih Muslim, III : 79,
No. 2358
Makna hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa infaq diberikan
kepada mereka yang membutuhkan seperti orang yang sedang berjalan di jalan
Allah, hamba sahaya, fakir dan miskin, namun infaq yang paling besar
dikeluarkan yaitu kepada istri dan keluarga.

c) Syarat dan Rukun Infaq


I. Penginfaq
Maksudnya yaitu orang yang berinfaq, penginfaq tersebut harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
 Penginfaq memiliki apa yang diinfaqkan.
 Penginfaq bukan orang yang dibatasi haknya karena suatu alasan.
 Penginfaq itu oarang dewasa, bukan anak yang kurang kemampuannya.
 Penginfaq itu tidak dipaksa, sebab infaq itu akad yang mensyaratkan
keridhaan dalam keabsahannya.
II. Orang yang diberi infaq
Maksudnya oarang yang diberi infaq oleh penginfaq, harus memenuhi
syarat sebagai berikut:
 Benar-benar ada waktu diberi infaq. Bila benar-benar tidak ada, atau
diperkirakan adanya, misalnya dalam bentuk janin maka infaq tidak
ada.
 Dewasa atau baligh maksudnya apabila orang yang diberi infaq itu ada
di waktu pemberian infaq, akan tetapi ia masih kecil atau gila, maka
infaq itu diambil oleh walinya, pemeliharaannya, atau orang yang
mendidiknya, sekalipun dia orang asing.
III. Sesuatu yang diinfaqkan
Maksudnya orang yang diberi infaq oleh penginfaq, harus memenuhi
syarat sebagai berikut:
 Benar-benar ada.
 Harta yang bernilai.
 Dapat dimiliki zatnya, yakni bahwa yang diinfaqkan adalah apa yang
biasanya dimiliki, diterima peredarannya, dan pemilikannya dapat
berpindah tangan. Maka tidak sah menginfaqkan air di sungai, ikan
di laut, burung di udara.
 Tidak berhubungan dengan tempat milik penginfaq, seperti
menginfaqkan tanaman, pohon atau bangunan tanpa tanahnya. Akan
tetapi yang diinfaqkan itu wajib dipisahkan dan diserahkan kepada
yang diberi infaq sehingga menjadi milik baginya.
IV. Ijab dan Qabul
Infaq itu sah melalui ijab dan qabul, bagaimana pun bentuk ijab qabul
yang ditunjukkan oleh pemberian harta tanpa imbalan. Misalnya penginfaq
berkata: Saya infaqkan kepadamu; saya berikan kepadamu; atau yang serupa
itu; sedang yang lain berkata: Ya saya terima. Imam Malik dan Asy-Syafi’i
berpendapat dipegangnya qabul di dalam infaq.

d) Macam-Macam Infaq
Infaq secara hukum terbagi menjadi empat macam antara lain sebagai berikut:
I. Infaq Mubah
Mengeluarkan harta untuk perkara mubah seperti berdagang, bercocok tanam.
II. Infaq Wajib
Aplikasi dari Infaq Wajib yaitu Mengeluarkan harta untuk perkara wajib
seperti:
 Membayar mahar (maskawin)
 Menafkahi istri
 Menafkahi istri yang ditalak dan masih dalam keadaan iddah
III. Infaq Haram
Mengeluarkan harta dengan tujuan yang diharamkan oleh Allah :
 Infaqnya orang kafir untuk menghalangi syiar Islam (QS Al-Anfal
8:36)

Artinya:
 “Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka
untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan
menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan
mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang
kafir itu dikumpulkan” (QS Al-Anfal 8:36)
 Infaq-nya orang Islam kepada fakir miskin tapi tidak karena Allah (QS
An-Nisa' 4:38)

Artinya:
 “Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena
riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada
Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan
itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-
buruknya.” (QS An-Nisa' 4:38)
IV. Infaq Sunnah
Yaitu mengeluarkan harta dengan niat sadaqah. Infaq tipe ini yaitu ada 2 (dua)
macam (QS Al-Anfal:60). Sebagai berikut:
 Infaq untuk jihad.
 Infaq kepada yang membutuhkan.

e) Orang yang berhak menerima Infak


Menurut Achmad Arief Budiman (2012: 37) orang yang berhak menerima
infak terdiri dari yaitu:
 Karib kerabat, yaitu anggota keluarga
 Anak yatim
 Musafir
 Orang-orang yang terpaksa meminta-minta karenatidak ada alternatif
lain baginya untuk memnuhikebutuhan hidupnya,
 Memberikan harta untuk memerdekaan hamba sahaya sehingga ia
dapat memperoleh kemerdekaannya,
 Sabilillah,
 Amil.
3) Sedekah
a) Definisi Sedekah
 Etimologi
Shadaqah berarti mendermakan sesuatu kepada orang lain. Sedekah berasal
dari kata shadaqqa yang artinya benar, maksudnya Shadaqah merupakan wujud
dari ketaqwaan seseorang yang membenarkan pengakuannya sebagai orang yang
bertaqwa melalui amal perbuatan positif kepada sesamanya, baik berupa derma
atau yang lain
 Hamzah Yakub (1979: 299)
Sedekah adalah derma atau pemberian yang dilakukan dengan harapan
memperoleh redha Allah
 M. Daud Ali (1988:23)
Sedekah adalah pemberian sukarela yang dilakukan oleh seseorang kepada
orang lain, terutama kepada orang-orang miskin, setiap kesempatan terbuka yang
tidak ditentukan baik jenis, jumlah, maupun waktunya.
b) Ladasan Hukum Sedekah
i. Landasan dalam Al-Qur’an
Firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa‟ (4) : 114

Artinya :

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali


bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) member sedekah, atau berbuat
makruf, atau mengadakaan perdamaian di antara manusia. Dan barang
siapa yang berbuat demikian karena mencari ridha Allah maka kelak Kami
memberinya pahala yang besar.” (QS. An- Nisa‟ (4) : 114)

Makna ayat tersebut yaitu orang yang biasanya berbisik-bisik dan


membicarakan sesuatu antara sesama bukan hal-hal yang baik, namun,
barang siapa yang membicarakan perkara sedakah fi sabilllah, atau
mengucapkan kebaikan yang bermanfaat bagi diri dan orang lain, atau
mendamaikan dua orang dari kaum muslimin yang berseteru dan dengan hal
itu ia hanya menginginkan wajah Allah maka Allah akan memberikan
balasan yang Agung. Allah juga akan menyimpankan untuknya balasan yang
bayak atas kebaikan perbuatan dan besarnya pengaruhnya.

ii. Landasan dalam Hadist

Salman bin Amir menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda

Artinya :
“Shadaqah untuk orang miskin adalah shadaqah sedangkan shadaqah untuk
kaum kerabat mengandung dua hal : shadaqah dan sekaligus menyambung
tali persaudaraan”
Makna dari hadis tersebut bahwa shadaqah dapat diberikan kepada dua
pihak yaitu orang miskin yang membutuhkan serta kerabat (keluarga) yang
membutuhkannya. Shadaqah yang diberikan kepada kerabat (keluarga)
memiliki manfaat yang lebih yaitu untuk membantu kerabat (keluarga) dari
kesusahan sekaligus sebagai penyambung tali silaturahmi antar keluarga.
c) Syarat-Syarat Sedekah
 Orang yang memberi
Syaratnya orang yang memiliki benda-benda itu berhak penuh
atas benda tersebut
 Orang yang diberi, syaratnya berhak memiliki.

Dengan demikian tidak sah memberi kepada anak yang masih


dalam kandungan ibunya atau member kepada binatang, karena
keduanya tidak berhak memiliki sesuatu,

 Ijab dan Qabul.


Ijab ialah pernyataan pemberian dari orang yang memberi
sedangkan Qabul. Adalah pernyataan penerimaan dari orang yang
menerima pemberian.

d) Bentuk-Bentuk Sedekah
Dalam Islam, sedekah memiliki arti yang luas bukan hanya suatu hal berbentuk
materi saja, namun mencakup semua kebaikan baik bersifat fisik maupun non
fisik. Menurut Abdul Rahman Ghazaly (2010: 156) bentuk-bentuk sedekah seperti
berikut:
 Memberikan sesuatu dalam bentuk materi kepada orang lain,
 Berbuat baik dan menahan diri dari kejahatan,
 Berlaku adil dalam mendamaikan orang yang bersengketa,
 Membantu orang lain yang akan menaiki kendaraan yang akan
ditumpangi,
 Membantu mengangkat barang orang lain ke dalam kendaraannya,
 Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu dari tengah jalan seperti
duri, batu, dan kayu,
 Melangkahkan kaki ke jalan Allah,
 Mengucapkan zikir seperti tasbih, takbir, tahmid, tahlil dan istighfar,
 Menyuruh orang lain berbuat baik dan mencegahnya dari kemungkaran,
 Membimbing orang buta tuli dan bisu serta menunjuki orang yang
meminta petunjuk tentang sesuatu seperti alamat rumah,
 Memberikan senyuman kepada orang lain.

e) Orang yang berhak menerima Sedekah


Mengenai pendistribusian sedekah tidak ada batasan atau ketentuan
yag mengikat. Sehingga sedekah boleh didistribusikan ke pihak manapun.
Namun, dalam pendistribusiannya di usahakan agar yang membutuhkan
sedekah terlebih dahulu di penuhi, seperti:

 Fakir
 Miskin
 Anak yatim
 Janda
4) Waqaf
a) Definisi
 Etimologi
Secara etimologi, kata wakaf berasal dari kata waqqafa-yaqifu-waqafan, yang
mempunyai arti berdiri, tegak, menahan.
 Shomad (2010: 371)
Wakaf adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tanpa musnah
seketika dan untuk penggunaan yang mubah (tidak dilarang syara’) serta
dimaksudkan mendapatkankeridhaan dari Allah SWT.
 UU No41/2004 tentang Wakaf
Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan atau
menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau
untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah
dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.

b) Landasan Hukum Wakaf


i. Landasan dalam Al-Qur’an
Firman Allah QS. Ali Imran (3) : 92

Artinya :

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum


kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang
kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah Mengetahuinya.” (QS. Ali’
Imran: 92)

Makna dari ayat tersebut bahwa Allah menganjurkan kepada umat


manusia untuk menafkahkan harta yang ia miliki. Menafkahkan dalam hal
ini adalah mewakafkan harta yang ia miliki kepada pihak yang wajib
mendapatkannya

ii. Landasan dalam Hadist

Hadist Riwaya Muslim


Artinya :

“Jika manusia mati maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga : sedekah
jariyah (yang terus menerus), ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang
mendoakan kepadanya.” (HR. Muslim)

Para ulama menafsirkan sedekah jariyah di sini yaitu wakaf. Karena


selama hal yang di wakafkan itu dimanfaatkan terus dalam menjalankan
ibadah terhadap Allah SWT, maka pahalanya akan terus mengalir kepada
orang yang mewakafkan hal tersebut.

c) Syarat-Syarat Wakaf
Menurut Mardani (2017: 292)
 Wakaf dilakukan pada barang yang boleh dijual dan diambil manfaatnya
dalam keadaan barangnya masih tetap utuh, seperti harta tidak bergerak,
hewan, perkakas, senjata, dan lain sebagainya,
 Wakaf digunakan untuk kebaikan, seperti untuk kepentingan orang-orang
miskin, masjid, kaum kerabat yang Muslim atau ahli dzimmi,
 Wakaf dilakukan pada barang yang telah ditentukan. Jadi, tidak sah wakaf
pada barang yang tidak diketahui,
 Wakaf dilakukan tanpa syarat.
Wakaf dengan syarat tidak sah kecuali jika seseorang mengatakan “itu
adalah harta wakaf setelah aku meninggal dunia.” Wakaf tetap sah dengan
syarat ini
d) Jenis-Jenis Wakaf
Berdasarkan buku yang ditulis oleh Mardani (2017: 296), di jelaskan terdapat 2
jenis wakaf, yaitu:
 Wakaf Ahli (Wakaf Dzurri)
Wakaf Dzurri disebut juga wakaf dalam lingkungan keluarga, yakni
wakaf yang diperuntukkan untuk jaminan sosial dalam lingkungan
keluarga sendiri, dengan syarat, dipakai semata untuk kebaikan.
 Wakaf Khairi
Wakaf Khairi merupakan waqaf untuk amal kebaikan yang
ditunjukkan untuk semacam amal sosial.

e) Orang yang berhak menerima Wakaf


Menurut Direktorat Pemberdayaan wakaf, orang yang berhak menerima wakaf
yaitu:
 Keluarga atau orang tertentu yang ditujukan oleh wakif.
 Wakaf yang di tujukan untuk kepentingan agama atau kemasyarakatan

b) Pengelolaan zakat, infak, sedekah dan wakaf


Menurut Tim Dosen Pendidikan Agama Islam (2014:174-175) UNP zakat,
infak, sedekah dan wakaf merupakan ibadah yang bernilai social dan juga mampu
mengembangkan serta meningkatkan perekonomian islam. Sehingga, pengelolaannya
harus dilakukan dengan benar di segala aspek
Firman Allah SWT mengisyaratkan tentang pengelolaan tersebut ialah dalam
surat At-Taubah ayat 103, terjemahannya:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

Di masa Rasulullah pengelolaan zakat dilakukan dengan Rasul SAW menunjuk


Muaz bin Jabal sebagai pemimpin (‘amil) zakat sekaligus mengurus infak, sedekah,
dan wakaf. Harta yang telah dikumpulkan tersebut disimpan di lembaga keuangan
Negara (baitul mal), selanjutnya dimanfaatkan untuk membiayai kehidupan ekonomi
umat yang dikelola oleh pemerintah.
Sedangkan di Indonesia, pengelolaan zakat diatur dalam UU No. 38 tahum 1999
tentang zakat, seperti:
 Ruang linkup kerja amil zakat juga meliputi infak, sedekah, wakaf, hibah dan
kifarat
 Sanksi terhadap amil dalam pelaksanaan tugasnya
 Struktur arnil mulai tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, lab kecamatan
disemua tingkatan memiliki hubungan kerja yang bersifat koordinatif,
konsultatif, dan informatif (pasal 6: 3)
 Pengurus amil zakat terdiri dari unsur masyarakat dan pemerintah yang
memenuhi persyaratan tertentu (pasal 6: 4).
 Struktur amil zakat terdiri atas unsur pertimbangan, pengawas, dan pelaksana
(pasal 6: 5).
 Tugas-tugas amil zakat meliputi: mengumpulkan, mendistribusikan, dan
mendayagunakannya sesuai dengan ketentuan agama dan bertanggung jawab
kepada pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pasal 8 dan 9)

Sabiq, S. 1987. Fikih Sunnah 14. Bandung: PT Alma’arif


Mardani, 2017. Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah Di Indonesia.
Jakarta: Prenada Media
Huda, N dan Mohamad Heykal. 2010. Lembaga Keuangan Islam : Tinjauan
Teoritis dan Praktis Jakarta : Prenada Media Group
Soemitra, A. 2009. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana
Direktur Pemberdayaan Wakaf, 2013. Pedoman : Pengelolaan dan
Pengembangan Wakaf. Jakarta
Budiman, A.A. 2012. Good Governance pada Lembaga ZISWAF (Implementasi
Pelibatan Pemangku Kepentingan dalam Pengelola ZISWAF). Semarang:
IAIN Walisongo
Abdul Rahman Ghazaly,dkk 2010, Fiqh Muamalah, Jakarta : Prenada Media
Group
Shomad, A. 2010. Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah Dalam Hukum
Indonesia. Jakarta: Prenada Media Group