Anda di halaman 1dari 22

BISNIS PLAN

USAHA BUDIDAYA LARVA/MAGGOT BSF


(BLACK SOLDIER FLY)
UNTUK PAKAN TERNAK UNGGAS DAN IKAN

KELOMPOK
“LARVAMINA BINTANG”

“PENUMBUHAN WIRAUSAHA MUDA PERTANIAN”


ALUMNI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SILIWANGI - TASIKMALAYA
AGUSTUS 2019
IDENTITAS KELOMPOK

Nama Kelompok : “ LARVAMINA BINTANG ”


:
Alamat Tempat Usaha Jl. Karyabakti, Gang Rambutan
Ling. Bolenglang, Kel. Kertasari
Kecamatan Ciamis – Kabupaten Ciamis

Bidang Usaha : Produksi Pakan


Produk :  Pelet pakan ternak unggas
 Pelet pakan ikan
 Jasa Pelatihan Budidaya BSF

Ketua Kelompok : Bintang Maulana Gentzora, SP.


HP : 0823 2100 5550
Anggota : Demi Ilavy Maudi, SP.
HP 0823 4050 1197
: Ajeng Galih Nurlestari, SP.
HP 0822 1486 9253

Nama Pembimbing : Hendar Nuryaman, SP.,MP

Rekening Bank Bank Mandiri KCP Tasikmalaya


Nomor Rekening : 1770007568261
An. Bintang Maulana Gentzora
Besarnya Pengajuan Rp 35.150.000
Dana (Tigapuluhlima juta seratus limapuluh ribu
Rupiah)
RINGKASAN

bisnisplan

Beternak unggas dan perikanan air tawar selama ini terkendala mahalnya harga
pakan. Sehingga peternak/petani ikan terutama yang berskala kecil seringkali
mengalami kerugian. Budidaya BSF optimis dapat mengatasi permasalahan pakan
tersebut. Output budidaya BSF berupa larva, diproduksi dengan biaya sangat murah
karena bahan baku utamanya sampah organik, yaitu sampah pasar atau sampah rumah
tangga. Larva BSF merupakan pakan yang diproduksi dengan low cost input.

Larva BSF adalah pakan berkualitas sangat baik, berharga murah. Kandungan
protein larva BSF (40-50)%, melebihi kadar protein pelet pabrik terbaik. Prinsip proses
produksinya adalah biokonversi sampah organik menjadi sumber protein. Maka selain
mengatasi permasalahan yang dihadapi peternak/petani ikan, budidaya BSF ini
memiliki sisi idealisme, dapat mereduksi volume sampah pasar dan sampah
rumahtangga yang selama ini menjadi permasalahan sosial tersendiri.
Budidaya BSF yang akan didirikan 12 unit. Kapasitas produksi 4.320 kg
larva/tahun. Harga larva dipasaran Rp 6000/kg, Maka nilai total produksi per unit Rp
64.800.000/tahun. Laba usaha Rp 51.300.000/tahun/unit. Besarnya dana yang
dibutuhkan untuk biaya investasi sebesar Rp 21.650.000 dan biaya operasional sebesar
Rp 13.500.000 Jumlah Rp 35.150.000 (Tigapuluhlima juta serutus limapuluh ribu
rupiah). Pay back periode akan tercapai pada hari ke 160, periode produksi ke 8.

i
LALAT BSF BUKAN VEKTOR PENYAKIT

Tampilan BSF Tampilan Lalat Hijau Vektor Penyakit

ii
DAFTAR ISI

RINGKASAN PROPOSAL…………………………………………………. i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………... iii

BAB 1 PENDAHULUAN ………………………………………………... 1

1.1. Alasan Pemilihan Maggot BSF Sebagai Pakan …………….. 1

1.2. Alat dan Bahan ……………………………………………… 3

1.3. Proses Produksi………………………………………………. 5

1.4. Deskripsi Kelayakan Teknis …………………………………. 7

1.5. Deskripsi Kelayakan Sosial ………………………………….. 7

1.6. Deskripsi Kelayakan Finansial ……………………………… 7

1.7. Kebutuhan Modal …………………………………………… 10

BAB 2 KELAYAKAN UNIT USAHA PENGOLAHAN MAGGOT BSF 11

2.1. Alat Produksi ………………………………………………… 11

2.2. Analisis Kelayakan Finansial ………………………………… 12

BAB 3 KELAYAKAN USAHA PEMBESARAN IKAN NILA ………… 14

3.1. Alasan Pemilihan Ikan Nila ………………………………….. 14

3.2. Analisis Kelayakan Finansial Pembesaran Nila ……………... 14

Lampiram 1 17

iii
KELAYAKAN PER UNIT USAHA
B A B 1 BUDIDAYA MAGGOT BSF

1.1. Alasan Pemilihan Maggot BSF Sebagai Pakan


Tantangan terbesar usaha perikanan air tawar dan usaha ternak yang dilakukan dalam
sekala kecil dan skala rumah tangga adalah efisiensi dan biaya pakan. Rata-rata biaya
pakan mencapai (70-80)% dari total biaya usaha peternakan unggas atau perikanan.
Permasalahannya harga pakan (pabrikan) buat petani ikan atau peternak terlalu mahal
sehingga margin harga input dengan harga ouput terlalu kecil, sehingga membayangi
usaha petani ikan/peternak diambang kerugian.

Larva pada fase prepupa dan pupa dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia illicens)
merupakan salah satu alternatif sumber pakan yang memenuhi persyaratan sebagai
sumber protein. Larva BSF merupakan salah satu jenis pakan alami yang memiliki
kadar protein tinggi, melebihi kadar protein pakan pelet pabrikan. Bandingkan saja,
larva BSF mengandung (41-42)% protein kasar, 31-35% ekstrak eter, 14-15% abu, 4.8-
5.1% kalsium, dan 0.60-0.63% fosfor. (Bondari dan Shepard, 1987). Padahal kadar
protein pakan pelet buatan pabrik yang beredar dipasaran selama ini hanya berkisar
antara (32-35)%.

Maka berdasarkan kandungan nutrisi seperti tersebut di atas, larva BSF layak dijadikan
pakan ikan ataupun ternak unggas. Karena kandungan proteinnya yang tinggi, larva
BSF dapat digunakan untuk mensubstitusi penggunaan tepung ikan yang harganya
relatif mahal. Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia saat ini masih harus impor
untuk memenuhi kebutuhan tepung ikan sebagai bahan baku pakan pelet untuk ternak
mapun usaha perikanan.

Sebagian kecil peternak dan petani ikan terutama pengusaha yang berskala kecil dan
menengah sudah banyak yang menggunakan larva BSF sebagai pakan. Maka sekarang
ini larva BSF laku dijual dengan kisaran harga Rp 6000–Rp 8000 per kilogram.
Bandingkan dengan harga pakan pelet buatan pabrik dengan kualitas terbaik yang
mencapai harga dengan kisaran Rp (10.000–15.000) per kilogram. Harga pakan

1
2

dengan larva BSF jauh lebih murah dari harga pakan buatan pabrik, padahal kualitas
larva BSF jauh labih baik kualitasnya sebagai pakan ternak maupun pakan ikan.

Pengadaan atau proses produksi larva BSF ini sangat mudah dan dapat
kesinambungannya. Produksi larva BSF pada dasarnya merupakan proses biokonversi
sampah organik menjadi sumber protein pakan ternak/ikan. Di negara-negara maju
teknologi biokonversi dengan pengembang biakan BSF ini sudah menjadi industri
besar dan dilakukan secara masal, di Indonesia belum terlalu banyak, kalaupun ada
para pelaku pengembang biakan larva BSF masih dalam skala kecil. Berdasarkan
alasan-alasan seperti yang telah diuraikan kami memberanikan diri untuk
mengembangkan Usaha Budidaya Larva BSF yang sedang dijalani untuk ditingkatkan
skala usahanya. Peningkatan usaha tidak hanya semata-mata skalanya namun juga
bermaksud “menduplikasi” agar lebih banyak teman-teman sejawat yang dapat
dilibatkan. Dengan duplikasi ini diharapkan akan lebih banyak teman-teman yang
belum beruntung memiliki pekerjaan tetap menjadi punya pekerjaan penghasilan yang
tetap. Hasil analisis kandungan nutrisi tepung BSF sangat menjanjikan dan terbukti
memiliki kandungan nutrisi yang mirip dengan tepung ikan. Penggunaan tepung BSF
pada campuran pakan ayam broiler hingga 100% tidak menimbulkan efek negatif
kecernaan bahan kering (57,96 – 60,42%), energi (62,03 – 64,77%) dan protein (64,59
– 75,32%), walaupun hasil yang terbaik diperoleh dari penggunaan BSF 25% atau
11,25% dalam pakan.

Penggunaan tepung larva BSF hingga 50% juga dilaporkan mampu meningkatkan
tingkat konsumsi pakan burung puyuh dengan berat telur berkisar 9,25 – 10,12 g,
termasuk meningkatkan poduksi telur sampai 3,39%. Penggantian tepung ikan dengan
tepung larva BSF sebanyak 75% dan 100% menghasilkan tingkat konsumsi pakan dan
berat telur yang tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol. Penggantian tepung
ikan dengan 50% tepung BSF pada pakan ayam pedaging mampu meningkatkan
performa ayam yang siap panen dan lebih ekonomis.

Pemanfaatan lalat BSF sebagai agen biokonversi sekaligus penyedia sumber protein
alternatif memiliki beberapa keuntungan. Lalat BSF bukan merupakan vektor penyakit,
sehingga tidak menyebarkan penyakit seperti lalat rumah Musca domestica atau lalat
hijau. Menariknya, lalat ini mampu mengurangi populasi lalat rumah M. domestica
3

dengan cara mengeluarkan sinyal kimia dilingkungan sekitarnya untuk mencegah lalat
rumah bertelur didaerah tersebut.

Disamping itu, ekstrak etanol larva BSF juga bersifat antibakteri untuk bakteri gram
positif, seperti Klebsiella pneumonia, Neisseria gonorrhoeae dan Shigella sonnei,
tetapi tidak efektif untuk bakteri gram positif, seperti Bacillus subtilis, Streptococcus
mutans dan Sarcina lutea. Laporan lain juga menyebutkan bahwa larva BSF mampu
menurunkan populasi Salmonella spp hingga 6 log10 pada feses manusia selama 8 hari,
termasuk menurunkan populasi Erechia coli O157:H7 dan Salmonella enterica serovar
Enteritidis pada kotoran unggas dan E. coli pada kotoran sapi perah. Studi terbaru juga
menunjukkan bahwa larva ini bersifat antivirus pada golongan enterovirus dan
adenovirus serta menurunkan populasi telur cacing Ascaris suum.

Melihat banyaknya keuntungan dari larva BSF, maka perlu dipikirkan teknik
budidayanya yang praktis dan aplikatif sehingga para peternak dapat
mengembangbiakan lalat ini dengan memanfaatkan limbah rumah tangga, limbah
kandang atau limbah pasar di sekitar rumahnya.

Setidaknya, permasalahan sampah organik disekitar kita dapat diselesaikan dengan


agen biokonversi lalat BSF untuk menghasilkan produk lain yang lebih bermanfaat dan
memiliki nilai ekonomis. Secara tidak langsung, dengan menggunakan tepung BSF
maka biaya pengadaan pakan dalam produksi ternak dapat ditekan tanpa harus
mengurangi kualitas dan kuantitas atau performa produk ternak.

1.2. Alat dan Bahan


Peralatan yang diperlukan untuk budidaya maggot BSF ini adalah:

a. Kandang insek (lalat) adalah tempat kawin dan bertelurnya lalat BSF yang
kemudian telur tersebut diambil oleh pembudidaya untuk dibesarnya menjadi
bentuk prepupa dan pupa;
b. Baskom plastik diperlukan untuk tempat penetasan telur BFS yang dipanen di
kandang lalat;
c. Biopond adalah “kolam” tempat pembesaran larva terbuat dari kayu. Agar
kapasitas nya besar dibuat tiga tingkat. Telur yang sudah menetas dalam
baskom dipindahkan ke biopond yang sudah disiapkan dengan medianya;
4

d. Timbangan diperlukan untuk menimbang hasil (larva) atau input (sampah) yang
dimasukkan dalam proses produksi;
e. Timbangan mikro diperlukan untuk pengamatan dalam menimbang telur atau
larva yang masih sangt kecil;
f. Termometer digunakan untuk pengamatan suhu lingkungan instalasi produksi
dan media dalam biopond.
g. Barometer digunakan untuk mengukur kelembaban media dan atau kelembaban
udara sekitar.

Contoh Instalasi Kandang Insek tempat bertelur BSF

Di “Larvamina Bintang Ciamis”

Contoh Instalasi Biopond Budidaya Larva BSF

“Larvamina Bintang di Ciamis”


5

Sedangkan bahan yang digunakan terdiri dari :

a. Media hidup larva: dapat berupa serbuk gergaji, dedak, ampas kelapa, ampas
tahu dll;
b. Pakan untuk larva: yaitu bahan pokok utama berupa sampah organik rumah
tangga, sampah organik pasar, sisa rumah makan dll.

Sampah organik pakan untuk Larva Serbuk Gergaji Media hidup Larva

1.3. Proses Produksi/Biokonversi


Proses produksi larva BSF mengikuti alur perkembangan dari siklus hidup lalat BSF.
Lalat BSF kawin dalam kandangndan bertelur. Telur BSF diambil dan dipelihara
hingga menetas menjadi Bayi Larva. Dalam waktu 18 s/d 21 hari bayi larva ini akan
lanjadi Larva Dewasa. Pada hari ke 21 Larva Dewasa ini akan berubah warna menjadi
Prepupa yang berwarna hitam, dan usia yang ke 27s/d28 hari Prepupa akan manjadi
Pupa. Selanjutnya pupa akan berubah menjadi lalat.

Dari tahapan siklus hidup BSF tersebut pada tahapan Larva Dewasa dan atau Prepupa
merupakan tahapan siklus hidup lalat yang optimal untuk dijadikan pakan ternak atau
ikan. Pemberian pakan dapat diberikan langsung pada ternak atau ikan dalam bentuk
Larva atau Prepupa. Apabila produksinya melimpah Prepupa/Larva dapat diolah
terlebih dahulu menjadi pelet.

Untuk tujuan regenerasi agar kegiatan usaha berkesinambungan, sebagian Prepupa


dipelihara berlanjut siklus hidupnya menjadi Pupa. Selanjutnya Pupa akan manjadi
lalat BSF kembali.
6

Kondisi Optimal untuk Pakan


7

1.4. Deskripsi Kelayakan Teknis

Beberapa catatan yang berkaitan dengan aspek teknis budidaya larva BSF ini antara
lain:

a. Budidaya larva BSF mudah, dapat dilakukan oleh banyak orang, tidak memerlukan
pendidikan khusus, hanya memerlukan keterampilan yang dapat dilatihkan dalam
waktu singkat. Maka budidaya BSF mudah diduplilaski.
b. Satu siklus produksi dalam budidaya lalat BSF cukup pendek, sehingga memiliki
kesesuaian untuk dijadikan penghasilan yang berkesinambungan bagi yang belum
mempunyai pekerjaan;
c. Lalat BSF memiliki tolerasi yang cukup luas terhadap berbagai kondisi iklim
sehingga mudah beradaptasi terhadap kondisi iklim tempat dimana budidaya BSF
dilaksanakan.
1.5. Deskripsi Kelayakan Sosial
Beberapa catatan yang berkaitan dengan aspek sosial budidaya larva BSF ini antara
lain:

a. Larva BSF adalah pengurai biomasa organik, dapat membantu mereduksi


volume sampah organik yang menjadi masalah sosial selama ini di perkotaan
atau permukiman;
b. Lalat pada umumnya adalah vektor penyakit, namun jenis lalat BSF bukan
termasuk vektor penyakit, sehingga aman untuk dibudidayakan;
c. Usaha budidaya BSF dapat menjadi solusi untuk menciptakan lapangan
pekerjaan dan sumber pendapatan yang layak bagi yang belum memiliki
pekerjaan.
1.6. Deskripsi Kelayakan Finansial

Beberapa catatan penting yang berkaitan dengan usaha biokonversi sampah pasar
manjdi larva BSF siap saji untuk pakan ini diuraikan sebagai berikut:

 Kegiatan usaha budidaya maggot atau larva BSF ini dapat mengkonversi biomasa
sampah organik hingga lebih dari 50%. Sehingga apabila memiliki sampah organik
seberat 1000 kg, akan dikonversi menjadi material larva seberat lebih dari 500 kg.
 Satu siklus biokonvesri sampah organik pasar menjadi larva diperkirakan mencapai
(20-21) hari. Dengan kata lain siklus produksi mulai dari input produksi sampah
8

pasar menjadi larva yang dapat dijadikan pakan ternak/ikan memerlukan waktu
kurang lebih 3 minggu. Sehingga dalam satu tahun bisa mencapai 18 kali siklus
proses produksi.
1. Biaya Tetap/Biaya Investasi. Biaya investasi untuk produksi Rp 21.650.000 yang
diperuntukkan bagi :

a. Bangunan 60 m2 @ Rp 200.000 = Rp 12.000.000


b. Pembuatan Biopond 12 Unit @ Rp 600.000 = Rp 7.200.000
c. Kandang Insek (lalat) 1 unit @ Rp 900.000 = Rp 900.000
d. Peralatan baskom plastik, timbangan dll (1 paket) = Rp 1.550.000.
Jumlah Rp 21.650.000

2. Biaya Variabel/Biaya Operasional. Biaya operasional untuk intalasi produksi


maggot Rp 13.500.00 /tahun, terdiri dari:

a. Angkutan sampah pasar 18 periode prod @ Rp 100.000 = Rp 1.800.000


b. Upah tenaga kerja 18 periode @ Rp 200.000 =Rp 3.600.000
c. Media larva (dedak kasar) 18 periode @ Rp 450.000 =Rp 8.100.000
Jumlah = Rp 13.500.000

3. Biaya Total. Biaya total adalah biaya investasi ditambah biaya operasional yaitu :

a. Biaya investasi Rp 21.650.000


b. Biaya operasional Rp 13.500.000
Biaya Total Rp 35.150.000

(Tigapuluh lima juta seratus limapuluh ribu rupiah).

Pada tahun kedua tidak ada lagi biaya investasi sehingga mulai tahun ke 2 dan
seterusnya hanya ada pengeluaran untuk biaya operasional untuk setiap periode
produksi sebesar Rp 13.150.000

4. Penerimaan. Penerimaan dari usaha produksi maggot ini adalah larva yang siap
untuk dijadikan pakan ikan atau ternak. Produksi per biopond 20 kg, sehingga total
produksi seluruhnya per periode produksi 12 biopond @ 20 kg = 240 kg
maggot/periode produksi, sehingga total produksi dalam satu tahun 18 priode produksi
adalah sebesar 18 @ 240 kg = 4.320 kg/tahun. Sedangkan harga maggot @ Rp 6000/kg
9

Sehingga total penerimaan dari hasil penjualan maggot 4.320 kg @ Rp 6000/kg = Rp


25.920.000

5. Laba Usaha. Usaha produksi maggot ini mendapatkan laba Rp 2.850.000/20 hari.
Sehingga sampai akhir tahun pertama laba usaha mencapai Rp 29.650.000 Pada akhir
tahun pertama usaha produksi sudah mencapai pay back periode. Kembali modal akan
dicapai pada periode produksi ke delapan yaitu pada hari ke 160. Pada tahun kedua dan
seterusnya usaha produksi maggot mendapatkan laba sebesar Rp 51.300.000/tahun.
Untuk lebih jelasnya rincian biaya, dan penerimaan tersebut disajikan dalam Tabel 1-
1 berikut.

Tabel 1-1 Biaya, Penerimaan Usaha Produksi Maggot Dalam 3 Tahun

Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3


BIAYA INVESTASI
Vol Satuan Harga Sat Rp Rp Rp

Bangunan 60 m2 200.000 12.000.000

Biopond Unit 12 Unit 600.000 7.200.000

Kandang lalat 1 Unit 900.000 900.000

Peralatan 1 paket 1.550.000 1.550.000

Biaya Investasi 21.650.000

B. OPERSIONAL

Angkutan Sampah 18 periode 100.000 1.800.000 1.800.000 1.800.000

Media maggot 18 periode 200.000 3.600.000 3.600.000 3.600.000

Tenaga Kerja 18 HOK/prod 450.000 8.100.000 8.100.000 8.100.000

Biaya Operasional 13.500.000 13.500.000 13.500.000

Biaya Total 35.150.000 23.400.000 23.400.000

Hasil Magot 4.320 kg 6.000 25.920.000 25.920.000 25.920.000

Laba Usaha Maggot (9.230.000) 12.420.000 12.420.000

Laba Akumulasi (9.230.000) 3.190.000 15.610.000


10

1.7. Kebutuhan Modal

Modal yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha ini adalah untuk biaya investasi atau
biaya tetap (fixed cost) dan biaya operasional atau variabel (variable cost) yang
dikeluarkan selama dalam satu tahun pertama adalah 35.150.000. Berdasarkan hasil
analisis Cash Flow yang direncanakan, kegiatan usaha ini akan kembali modal pada
periode produksi ke 15 tahun kedua.
KELAYAKAN UNIT USAHA
B A B 2 PENGOLAHAN MAGGOT BSF

Unit usaha yang akan dikembangkan berikutnya, setelah produksi maggotnya satabil,
usaha dikembangkan pada tahapan pengolahan hasil. Produksi maggot yang dihasilkan
ditampung dan diolah terlebih dahulu menjadi pelet.

2.1. Alat Produksi

Alat Produksi utama yang diperlukan untuk memproduksi maggot adalah :

1. Mixer

Mixer digunakan untuk mengaduk maggot sebagai bahan utama pelet dengan bahan
lain yang fungsinya untuk mengurangi kadar air maggot.

Spesifikasi
Tipe Mesin : MPT - 100

Merek : Agrowindo

Kapasitas : (200-150) kg/jam

Dimensi : 120 cm – 76 cm – 110 cm

Bahan : Plat Mild Steel

Penggerak : Diesel 10 HP
2. Mesin Pencetak Pelet :
Harga : Rp 21.120.000
Spesifikasi
Tipe Mesin : CTK P - 300

Merek : Agrowindo

Kapasitas : (200-300) kg/jam

Dimensi : 165 cm – 55 cm – 106


cm

Bahan : Plat Mild Steel


3. Mesin Pengering /Drayer Penggerak : Diesel 16 HP

Harga : Rp 24.835.000

11
12

Spesifikasi
Tipe Mesin : OVG – P-20
Merek : Agrowindo
Kapasitas : 20 rak/loyang @ 5 kg
Dimensi : 100 cm – 100 cm – 205 cm
Bahan : Plat
Blower : (200-300) Wt
4. Perlengkapan Sumber Panas : LPG

Disamping mesin seperti yang telahHarga : Rp 19.825.000


diperlukan perlengkapan seperti skop, ember,
gentong penampung pelet dan lain-lain senilai Rp 1.720.000

2.2. Analisis Kelayakan Finansial

1. Biaya Investasi

Total biaya investasi sebesar Rp 67.500.000, dengan rincian sebagai berikut:

 Mixer : Rp 21.120.000
 Pencetak Pelet : Rp 24.835.000
 Pengering : Rp 19.825.000
 Perlengkapan : Rp 1.720.000
Jumlah Biaya Investasi : Rp 67.500.000

2. Biaya operasional

 Tanaga kerja satu orang Rp 1.500.000/bulan


 Bahan bakar dan bahan penolong lainnya Rp 3.000.000/bulan
 Bahan Penolong Rp 225.000/bulan
 Service mesin Rp 250.000/bulan
Jumlah Biaya operasioanal Rp 4.975.000/bulan

Setara dengan Rp 127.200.000/tahun


13

3. Penerimaan

Kapasitas produksi 800 kg/hari

Ongkos maklun Rp 750/kg, maka jumlah penerimaan Rp 600.000/hari

Penerimaan dalam satu bulan 24 hari kerja @ Rp 600.000= Rp 14.400.000/bulan

Penerimaan dalam satu tahun 12 @ Rp 14.400.000 = Rp 172.800.000/tahun

4. Laba

 Penerimaan/ tahun Rp 172.800.000


 Biaya total tahun pertama Rp 127.200.000
 Laba perusahaan /tahun Rp 46.600.000
5. Kebutuhan Modal

 Biaya Investasi Rp 67.500.000


 Biaya operasional Rp 59.700.000
Jumlah Kabutuhan Modal untuk Pengolahan Rp 127.200.000
KELAYAKAN USAHA PEMBESARAN
B A B 3 IKAN NILA

Sekerdar ilustrasi, pada usaha “Larvamina Bintang” unit usaha budidaya BSF yang
sudah berjalan, larva yang dihasilkan digunakan untuk usaha perikanan sendiri. Larva
tidak dijual keluar namun digunakan untuk usaha perikanan. Untuk sepuluh unit usaha
yang akan dibangun untuk sementara tidak diintegrasikan dengan usaha perikanan. Hal
ini disebabkan tidak semua tempat memiliki kondisi ideal untuk usaha perikanan.

3.1. Alasan Pemilihan Jenis Ikan Nila

Nila adalah ikan air tawar yang sangat populer di kalangan masyarakat. Permintaan
pasar ikan nilan yang tinggi, terus memacu peningkatan produksi budidaya ikan nila.
Beberapa alasan pemilihan jenis ikan yang diusahakan diantaranya adalah:

a. Ikan nila sangat mudah untuk dikembangbiakan. Jenis ikan ini sering kali “mijah”
dengan sendirinya. Maka usaha pengelolaan hatchery tidak akan mengalami
kendala teknis yang berarti.
b. Jenis ikan nila tahan terhadap hama dan penyakit, serta memiliki toleransi yang
cukup luas terhadap berbagai variasi kondisi perairan. Maka kegiatan usaha ini
tidak menanggung beban risiko kegagalan yang disebabkan oleh kondisi
agroklimat.
c. Ikan nila merupakan sumber protein hewani yang terbilang murah, dibandingkan
sumber protein hewani lainnya. Sehingga terjangkau oleh semua tingkatan
ekonomi konsumen, sehingga segmen pasarnya luas.
d. Pasar ikan nila cukup potensial, banyak masyarakat yang menyukai jenis ikan ini.
3.2. Analisis Kelayakan Finansial Pembesaran Nila

Usaha pembesaran adalah usaha membesarkan deder nila berukuran “koral”, kira-kira
sebesar ibu jari, dan dipanen setelah layak konsumsi. Ikan nila layak konsumsi
bobotnya mencapai (5 – 10) ekor/kg. Untuk mencapai ukuran tersebut dari benih
sebesar ibu jari diperlukan waktu ± lebih 4 bulan.

14
15

1. Biaya Tetap (Fixed Cost). Biaya tetap yang dibutuhkan untuk merealisasikan
pembesaran ini Rp 8.950.000 Rincian komponen biaya tetap dimaksud diuraikan
sebagai berikut.

a. Penyiapan kolam. Persiapan kolam membereskan pematang dan aktivitas


lainnya. Jumlah kolam 7 unit @ Rp 250.000 = Rp 1.750.000/tahun.
b. Tenaga Kerja. Upah tenaga kerja untuk kegaiatan usaha Rp 1000.000/bulan,
namun sebagian telah dibebankan pada usaha maggot, sehingga biaya tenaga
kerja yang dibebankan pada unit usaha pembesaran ikan Rp 500.000/bulan,
sehingga total biaya tenaga kerja dalam satu tahun Rp 6.000.000
c. Pemeliharan Kolam.Pemeliharaan kolam dianggarkan sebesar Rp
100.000/bulan sehingga total dalam satu tahun Rp 1.200.000
2. Biaya Variabel (Variabel Cost). Besarnya biaya variabel Rp 51.000 terdiri dari
biaya untuk pembelian deder/benih ikan, dan pakan.

a. Benih /deder Ikan. Benih ikan yang ditanam dalam satu periode produksi (selama
4 bulan) sebanyak 200 kg. Dalam satu tahun 3 periode produksi, sehingga jumlah
deder yang diperlukan untuk satu tahun 600 kg @ Rp 45.000 = 27.000.000.
b. Pakan. Kabutuhan pakan 3%-5% dari bobot ikan/hari. Maka total pakan yang
dibutuhkan untuk periode satu tahun = 4000 kg @ Rp 6000.000 adalah Rp
24.000.000. Pakan yang diberikan berupa maggot yang “dibeli” dari unit usaha
Maggot. Sehingga biaya pakan pada usaha pembesaran nila menjadi penerimaan
pada usaha produksi maggot.
3. Biaya Total

Biaya total adalah biaya tetap Rp 8.950.000 ditambah biaya variabel atau biaya
operasional sebesar : Rp Rp 51.000.000 = Rp 59.950.000

4. Penerimaan

Output yang dihasilkan dari usaha pembesaran ikan nila adalah ikan nila konsumsi.
Dengan FCR 0,75, dari jumlah pakan 4000 kg akan menambah bobot produksi ikan
sebesar 0,75 @ 4000 = 3000 kg/tahun.

Harga ikan Nila konsumsi Rp 25.000/kg maka besarnya penerimaan usaha


pembesran ikan nila adalah 3000 kg @ 25.000/kg = Rp 75.000.000.
16

5. Laba Usaha

Laba usaha adalah besarnya penerimaan Rp 75.000.000 dikurangi Biaya Total, yaitu
Rp 59,950.000 adalah Rp 15.050.000/tahun, sehingga pada akhir tahun ketiga
terakumulasi laba sebesar Rp 45.150.000.

Tabel Biaya, Penerimaan Usaha Pembesaran Ikan Nila Dalam 3 Tahun

URAIAN Vol Satuan Harga sat Tahun 1 Tahun 2 Tanun 3

BIAYA TETAP

Penyiapan Kolam 7 Unit 250.000 1.750.000 1.750.000 1.750.000

Tenaga Kerja/bulan 12 HOK/bl 500.000 6.000.000 6.000.000 6.000.000

Pemeliharaan Kolam 12 Unit /bln 100.000 1.200.000 1.200.000 1.200.000

Jumlah Biaya Tetap 8.950.000 8.950.000 8.950.000

BIAYA VARIABEL

Benih Ikan 3 Periode


Prod 600 kg 45.000 27.000.000 27.000.000 27.000.000

Pakan 4.000 kg 6.000 24.000.000 24.000.000 24.000.000

Jumlah Biaya Variabel 51.000.000 51.000.000 51.000.000

BIAYA TOTAL 59.950.000 59.950.000 59.950.000

PENERIMAAN

Hasil Panen ikan

(FCR = 0,75) 3.000 kg 25.000 75.000.000 75.000.000 75.000.000

LABA KOTOR 15.050.000 15.050.000 15.050.000

AKUMULASI LABA 15.050.000 30.100.000 45.150.000


17

Lampiran 1
FOTO DI LOKASI INSATALASI LABORATORIUM PRODUKSI
MINA LARVA BINTANG

Tampilan Maggot BSF siap digunakan pakan

Tampilan Benih Ikan Nila Tampilan Nila Konsumsi

Kolam Pembesaran Ikan “Larvamina Bintang”