Anda di halaman 1dari 5

MENGENAL KENCING MANIS atau DIABETES MELITUS (DM)

Jumlah penyandang DM di Indonesia sangat besar dan kemungkinan terjadi peningkatan


jumlah penyandang DM di masa mendatang akan menjadi beban yang sangat berat untuk
dapat ditangani. Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang dapat menimbulkan
berbagai komplikasi. Keadaan ini sangat memengaruhi kualitas hidup penyandang DM
sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak.
DM merupakan penyakit menahun yang akan disandang seumur hidup. Pengelolaan penyakit
ini memerlukan peran serta dokter, perawat, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lain. Pasien dan
keluarga juga mempunyai peran yang penting, sehingga perlu mendapatkan edukasi untuk
memberikan pemahaman mengenai perjalanan penyakit, pencegahan, penyulit, dan
penatalaksanaan DM. Pemahaman yang baik akan sangat membantu meningkatkan
keikutsertaan keluarga dalam upaya penatalaksanaan DM guna mencapai hasil yang lebih
baik.

PENGERTIAN
Diabetes Melitus atau lebih dikenal dengan Kencing manis adalah penyakit metabolik dengan
tanda-tanda kadar gula tinggi dalam darah dan air kencing, dapat disertai atau tidak adanya
gejala klinis sebagai akibat kurangnya produksi atau kinerja hormon insulin dalam tubuh atau
keduanya.
Pada kondisi fisiologis (normal), pada saat seseorang makan, makanan akan dicerna menjadi
glukosa (gula) yang diangkut ke dalam sel tubuh yang selanjutnya akan diolah menjadi
energi. Agar dapat memasuki sel, gula membutuhkan bantuan insulin, sehingga semakin
banyak gula yang digunakan oleh sel maka kadar gula dalam darah akan menurun.
Sedangkan pada penderita diabetes melitus, gula tidak dapat masuk dalam sel karena jumlah
insulin yang kurang atau banyak ionsulin yang rusak maka kadar gula darah menjadi sangat
tinggi.

MENEGAKKAN DIAGNOSIS DM
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan glukosa
darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan plasma
darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan
pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer.
Diagnosis DM tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria (didapatinya glukosa
dalam urin) saja. Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang DM, kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:
- Keluhan klasik DM: poliuria (banyak dan sering kencing terutama malam hari), polidipsia
(banyak minum / sering haus), polifagia (banyak makan / nafsu makan meningkat) dan
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
- Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria,
serta pruritus vulva pada wanita.
Kadar tes laboratorium darah untuk diagnosis daibetes dan prediabetes.
Glukosa darah Glukosa plasma 2 jam
HbA1c (%)
puasa (mg/dL) setelah TTGO (mg/dL)
Diabetes > 6,5 > 126 mg/dL > 200 mg/dL
Prediabetes 5,7-6,4 100-125 140-199
Normal < 5,7 < 100 < 140
Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria DM digolongkan ke dalam
kelompok prediabetes yang meliputi: toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa
terganggu (GDPT).
Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM
(mg/dl)
Bukan DM Belum Pasti DM DM
Kadar Glukosa Plasma vena <100 100-199 ≥ 200
darah sewaktu
(mg/dl) Darah kapiler <90 90-199 ≥ 200
Kadar Gula Plasma vena <100 100-125 ≥126
darah puasa
(mg/dl) Darah kapiler <90 90-99 ≥100

Bukan DM Belum pasti


PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan dm secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang
diabetes. Tujuan penatalaksanaan meliputi :
1. Tujuan jangka pendek: menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan
mengurangi risiko komplikasi akut.
2. Tujuan jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit
mikroangiopati dan makroangiopati.
3. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas (angka kecacatan) dan
mortalitas (angka kematian) DM.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah,
berat badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara komprehensif.

Perilaku hidup sehat bagi penyandang Diabetes Melitus adalah memenuhi anjuran:
§ Mengikuti pola makan sehat.
§ Meningkatkan kegiatan jasmani dan latihan jasmani yang
teratur
§ Menggunakan obat DM dan obat lainya pada keadaan
khusus secara aman dan teratur.
§ Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM)
dan memanfaatkan hasil pemantauan untuk menilai
keberhasilan pengobatan.
§ Melakukan perawatan kaki secara berkala.
§ Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi
keadaan sakit akut dengan tepat.
§ Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang
sederhana, dan mau bergabung dengan kelompok
penyandang diabetes serta mengajak keluarga untuk
mengerti pengelolaan penyandang DM.
§ Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang
ada.
TERAPI FARMAKOLOGIS
Manajemen DM harus bersifat perorangan. Pelayanan yang
diberikan berbasis pada perorangan dimana kebutuhan
obat, kemampuan dan keinginan pasien menjadi komponen
penting dan utama dalam menentukan pilihan dalam upaya
mencapai target terapi. Pertimbangan tersebut dipengaruhi
oleh beberapa hal antara lain : usia penderita dan harapan
hidupnya, lama menderita DM, riwayat hipoglikemia,
penyakit penyerta, adanya komplikasi kardiovaskular, serta
komponen penunjang lain (ketersediaan obat dan
kemampuan daya beli).

MONITORING DAN PENGENDALIAN DM


Kriteria pengendalian diasarkan pada hasil
pemeriksaan kadar glukosa, kadar HbA1C, dan profil
lipid. Definisi DM yang terkendali baik adalah
apabila kadar glukosa darah, kadar lipid, dan HbA1c
mencapai kadar yang diharapkan, serta status gizi
maupun tekanan darah sesuai target yang
ditentukan. Kriteria keberhasilan pengendalian DM
dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Sasaran Pengendalian DM
Parameter Sasaran
IMT (kg/m2) 18,5 - < 23*
Tekanan darah sistolik (mmHg) < 140 (B)
Tekanan darah diastolik (mmHg) <90 (B)
Glukosa darah preprandial
kapiler (mg/dl)
80-130**
Glukosa darah 1-2 jam PP kapiler
(mg/dl)
<180**
HbA1c (%) < 7 (atau individual) (B)
Kolesterol LDL (mg/dl) <100 (<70 bila risiko KV sangat
tinggi) (B)
Kolesterol HDL (mg/dl) Laki-laki: >40; Perempuan: >50
(C)
Trigliserida (mg/dl) <150 (C)

PENCEGAHAN
Sasaran pencegahan primer
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada
kelompok yang memiliki faktor risiko, yakni mereka yang
belum terkena, tetapi berpotensi untuk mendapat DM
dan kelompok intoleransi glukosa.
Faktor Risiko Diabetes Melitus
Faktor risiko diabetes sama dengan faktor risiko untuk
intoleransi glukosa yaitu :
A. Faktor Risiko yang Tidak Bisa Dimodifikasi
§ Ras dan etnik
§ Riwayat keluarga dengan DM

Umur: Risiko untuk menderita intolerasi glukosa


meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Usia
>45 tahun harus dilakukan pemeriksaan DM.
§ Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi
>4000 gram atau riwayat pernah menderita DM
gestasional (DMG).
§ Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang
dari 2,5 kg. Bayi yang lahir dengan BB rendah
mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding
dengan bayi yang lahir dengan BB normal.
B. Faktor Risiko yang Bisa Dimodifikasi
§ Berat badan lebih (IMT ≥23 kg/m2).
§ Kurangnya aktivitas fisik
§ Hipertensi (>140/90 mmHg)
§ Dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan/atau trigliserida
>250 mg/dl)
§ Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi
glukosa dan rendah serat akan meningkatkan
risiko menderita prediabetes/intoleransi glukosa
dan DMT2.
C. Faktor Lain yang Terkait dengan Risiko Diabetes
Melitus
§ Penderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau
keadaan klinis lain yang terkait dengan resistensi
insulin
§ Penderita sindrom metabolik yang memiliki
riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau
glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
sebelumnya.
§ Penderita yang memiliki riwayat penyakit
kardiovaskular, seperti stroke, PJK, atau PAD
(Peripheral Arterial Diseases)

Pencegahan Sekunder Terhadap Komplikasi Diabetes


Melitus
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau
menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah
terdiagnosis DM. Tindakan pencegahan sekunder
dilakukan dengan pengendalian kadar glukosa sesuai
target terapi serta pengendalian faktor risiko penyulit yang
lain dengan pemberian pengobatan yang optimal.
Melakukan deteksi dini adanya penyulit merupakan bagian
dari pencegahan sekunder. Tindakan ini dilakukan sejak
awal pengelolaan penyakit DM. Program penyuluhan
memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan
pasien dalam menjalani program pengobatan sehingga
mencapai target terapi yang diharapkan.
Penyuluhan dilakukan sejak pertemuan pertama dan
perlu selalu diulang pada pertemuan berikutnya.

Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok
penyandang diabetes yang telah mengalami penyulit
dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut
serta meningkatkan kualitas hidup. Upaya rehabilitasi pada
pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan
menetap. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan
penyuluhan pada pasien dan keluarga. Materi penyuluhan
termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk
mencapai kualitas hidup yang optimal.
Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan
komprehensif dan terintegrasi antar disiplin yang terkait,
terutama di rumah sakit rujukan. Kerjasama yang baik
antara para ahli diberbagai disiplin (jantung, ginjal, mata,
saraf, bedah ortopedi, bedah vaskular, radiologi,
rehabilitasi medis, gizi, podiatris, dan lain-lain.) sangat
diperlukan dalam menunjang keberhasilan pencegahan
tersier.