Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH

Gigantisme

Disusun Oleh
Kelas VB Keperawatan
KELOMPOK 10
1. PINA APRILIA NPM.1726010059
2. JAYANTI MUSTIKA SARI NPM.1726010038
3. YOKE ARFEBI NPM.1726010044

Dosen Pengampu
Ns. Bardah Wasalamah,S.Kep.M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN(STIKES)
TRI MANDIRI SAKTI
KOTA BENGKULU
2020

1
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................. i

KATA PENGANTAR ................................................................................ ii

DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................ 1

B. Tujuan ...................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. definisi ...................................................................................... 3

B. etiologi ...................................................................................... 4

C. Patofisiologi .............................................................................. 5

D. Manifestasi klinik ..................................................................... 6

F. Pemeriksaan diagnostik................................................................

G. Gejala...................................................................................... 8

H. Ciri-ciri Gigantisme ................................................................ 9

I. Penatalaksanaan ..................................................................... 10

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian .............................................................................. 14

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan............................................................................... 41

DAFTAR PUSTAKA

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karuniaNya
penulis akhirnya dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat waktu. Dan dengan
mengucap puji syukur atas curahan kasih karunia-Nya kepada penulis, terutama
ilmu dan akal sehat sehingga dengan ijin-Nya penulis dapat menyusun dan
menyelesaikan makalah yang berjudul “GIGANTISME” dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah “SISTEM ENDOKRIN”.
Segala upaya telah penulis lakukan dan tidak lupa penulis ucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah
ini.Diantaranya :
1. Ns. Bardah Wasalamah,S.Kep.M.Kep selaku Dosen Pembimbing mata
kuliah sistem endokrin

Penulis dengan segala kerendahan hati merasa bahwa dalam penyusununan


makalah ini kurang sempurna, walaupun makalah ini telah diseleseikan dengan
segenap kemampuan, pemikiran dan usahanya, dan kiranya sangatlah membantu
penyempurnaan makalah ini jika pembaca yang budiman bersedia memberi
masukan, saran serta kritikan yang jelasnya mendukung bagi karya penulis.
Seperti kata pepatah bahwa ”tiada gading yang tak retak” begitu juga dengan
keadaan makalah ini sekali lagi penulis mohon maaf jika makalah ini kurang
sempurna. Dan semoga makalah dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Bengkulu, 08 Januari 2020

Penulis

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gigantisme adalah pertumbuhan berlebihan akibat pelepasan hormon


pertumbuhan berlebihan, terjadi pada masa anak-anak dan remaja. keadaan ini
menyebabkan pertumbuhan longitudinal pasien sangat cepat dan pasien akan
menjadi seperti raksasa. Gigantisme adalah kelainan yang disebabkan oleh karena
sekresi Growth Hormon (GH) yang berlebihan. Gigantisme merupakan
peningkatan hormone protein dalam banyak jaringan, meningkatkan penguraian
asam lemak dan jaringan adipose dan kadar glukosa darah.

Frekuensi gigantisme di Amerika Serikat sangat jarang, diperkirakan ada 100


kasus yang dilaporkan hingga saat ini. Tidak ada predileksi ras pada gigantisme.
Insiden kejadian gigantisme tidak jelas. Gigantisme biasa terjadi di Negara barat
karena di Negara barat gigantisme bisa terdiagnosis secara dini, sedangkan di
Afrika, amerika selatan dan asia jarang terdiagnosis secara dini. Hubungan antara
gigantisme dan GH telah diketahui pertama kali sejak tahun 1886 oleh seorang
neurolist perancis, Pierre Marie yang mengatakan sebagai penyakit kronis
endokrin. Pada orang dewasa kelebihan growth hormone pada pria dan wanita
adalah sama.

Gigantisme dan akromegali adalah kelainan yang disebabkan oleh karena


sekresi Growth Hormone (GH) yang berlebihan. Gigantisme terjadi sebelum
proses penutupan epifisis. Sedangkan akromegali terjadi kalau proses tersebut
terjadi setelah penutupan epifisis. Sehingga tampak terjadinya pertumbuhan
jaringan lunak dan struktur tulang yang berlebihan.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum

4
Setelah mengikuti diskusi ini, mahasiswa mampu memahami dan mengerti
asuhan keperawatan pada pasien yang menderita gigantisme dan akromegali.

2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti diskusi ini, ditujukan agar mahasiswa mampu :
a. Menjelaskan pengertian dari gigantisme dan akromegali
b. Menyebutkan dan menjelaskan etiologi dari gigantisme dan akromegali
c. Menyebutkan manifestasi klinis dari gigantisme dan akromegali
d. Menjelaskan patofisiologi dari gigantisme dan akromegali
e. Menyebutkan dan menjelaskan penatalaksanaan dari gigantisme dan
akromegali
f. Menyebutkan komplikasi dari gigantisme dan akromegali
g. Membuat dan melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien penderita
gigantisme dan akromegali

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI

Gigantisme hipofisis seringkali terjadi sebagai akibat dari sekresi GH

berlebihan sebagai akibat tumor hipofisis dengan onset terjadinya pada anak-anak

sebelum epifisis menutup. Gigantisme biasanya menyerang pada anak-anak umur

6-15 tahun. Gigantisme merupakan peningkatan hormon protein dalam banyak

jaringan, meningkatkan penguraian asam lemak dan jaringan adipose dan kadar

glukosa darah. Gigantisme terjadi pada periode anak-anak ketika skeleton masih

berpotensi untuk tumbuh, atau pada pra pubertas.

Gigantisme disebabkan oleh sekresi GH yang berlebihan. Keadaan ini dapat

diakibatkan tumor hipofisis yang menyekresi GH atau karena kelainan

hipotalamus yang mengarah pada pelepasan GH secara berlebihan. Gigantisme

dapat terjadi bila keadaan kelebihan hormone pertumbuhan terjadi sebelum

lempeng epifisis tulang menutup atau masih dalam masa pertumbuhan. Penyebab

kelebihan produksi hormone pertumbuhan terutama adalah tumor pada sel-sel

somatrotop yang menghasilkan hormone pertumbuhan. Penyebab gigantisme yang

paling sering adalah adenoma kelenjar pituitary, tetapi gigantisme telah di amati

pada anak laki-laki berusia 2,5 tahun dengan tumor hipotalamus yang mugkin

mensekresi GHRH, terutama pada pancreas yg telah mensekresi dengan sejumlah

besar GHRH.

6
B. ETIOLOGI

Gigantisme disebabkan oleh sekresi GH yang berlebihan. Keadaan ini

dapat diakibatkan tumor hipofisis yang menyekresi GH atau karena kelainan

hipotalamus yang mengarah pada pelepasan GH secara berlebihan. Gigantisme

dapat terjadi bila keadaan kelebihan hormone pertumbuhan terjadi sebelum

lempeng epifisis tulang menutup atau masih dalam masa pertumbuhan. Penyebab

kelebihan produksi hormone pertumbuhan terutama adalah tumor pada sel-sel

somatrotop yang menghasilkan hormone pertumbuhan. Adenoma hipofisis

merupakan penyebab yang paling sering. Tumor pada umumnya dijumpai di

sayap lateral sella tursica, tetapi gigantisme telah diamati pada anak laki-laki

berusia 2,5 tahun dengan tumor hipotalamus yang mungkin mensekresi GHRH.

Gigantisme terbanyak disebabkan oleh adenoma hipofisis yang mensekresi GH.

Insiden hipersekresi GH dibagi menjadi 2 kategori yaitu primer pada hipofisis dan

peningkatan Growth hormone- Realasing Hormon (GHRH) atau disregulasi.

Kebanyakan insiden gigantisme karena adenoma hipofisis yang mensekresi GH

atau karena hyperplasia. Gigantisme tampak juga pada keadaan lain seperti:

multiple endokrin neoplasma (MEN) tipe satu, MC Cune-albright syndrome

(MAS), Neurofibromatosis, sklerosis tuberrosistas atau kompleks carney.

C. PATOFISIOLOGI

Sel asidofilik sel pembentuk hormon pertumbuhan di kelenjar hipofisis

anterior menjadi sangat aktif atau bahkan timbul tumor pada kelenjar hipofisis

tersebut. Hal ini mengakibatkan sekresi hormon pertumbuhan menjadi sangat

tinggi. Akibatnya seluruh jaringan tubuh tumbuh dengan cepat sekali termasuk

7
tulang. Pada gigantisme hal ini terjadi sebelum masa remaja yaitu sebelum epifisis

tulang panjang bersatu dengan batang tulang sehingga tinggi badan akan terus

meningkat seperti raksasa. Biasanya penderita gigantisme juga mengalami

hiperglikemia. Hiperglikemia terjadi karena produksi hormon pertumbuhan yang

sangat banyak menyebabkan hormon pertumbuhan tersebut menurunkan

pemakaian glukosa di seluruh tubuh sehingga banyak glukosa yang beredar di

pembuluh darah dan sel-sel beta pulau langerhans pankreas menjadi terlalu aktif

akibat hiperglikemia dan akhirnya sel – sel tersebut berdegenerasi. Akibatnya kira

– kira 10 persen pasien gigantisme menderita DM. Pada sebagian besar penderita

gigantisme akhirnya akan menderita panhipopituitarisme bila gigantisme tetap

tidak diobati sebab gigantisme biasanya disebabkan oleh adanya tumor pada

kelenjar hipofisis yang tumbuh terus sampai merusak kelenjar itu sendiri.

8
PATOMEKANIS

WOC

9
D. Manifestasi klinik

Beberapa penderita memiliki masalah penglihatan dan perilaku. Pada

kebanyakkan kasus pertumbuhan abnormal menjadi nyata pada masa pubertas,

tetapi keadaan ini telah ditegakkan seawal masa bayi baru lahir pada seorang

anak dan pada usia 1 bulan. Pada gigantisme, jaringan lunak seperti otot dan

lainnya tetap tumbuh. Gigantisme dapat disertai gangguan penglihatan bila tumor

membesar hingga menekan khiasma optikum yang merupakan jalur saraf mata.

Berikut ini adalah gejala gigantisme yang disebabkan oleh kelebihan sekresi GH:4

1. Tanda-tanda intoleransi glukosa.

2. Hidung lebar, lidah membesar dan wajah kasar

3. Mandibula tumbuh berlebihan

4. Gigi menjadi terpisah-pisah

5. Jari dan ibu jari tumbuh menebal

6. Kelelehan dan kelemahan

7. Kehilangan penglihatan pada pemeriksaan lapang pandang secara seksama


karena khiasma optikum saraf mata tertekan.

Gambar 2 : Gigantisme

10
Akibat pada tulang (Skelet)
Pada penderita gigantisme terjadi pertumbuhan tulang yang berlebihan sehingga
tinggi badan abnormal. Masa pubertas tertunda dan alat kelamin tidak dapat
tumbuh sempurna
• Gigantisme
• Frontal Bossing
• Kiposis, Ostopenia
• Artropi
• Pertumbuhan tulang ekstremitas berlebihan

Akibat pada jaringan lunak


• Pelebaran dan penebalan hidung, lidah, bibir, dan telinga
• Pembesaran tangan dan kaki
• Kulit tebal, basah, dan berminyak
• Lipatan kulit kasar, skin tag
• Acanthosis nigricans
• Hipertrikosis
• Suara parau.

Akibat pada proses metabolisme


• Gangguan toleransi glukosa/diabetes melitus
• Hiperfosfatemia
• Hiperlipidemia
• Hiperkalsemia

Kelebihan hormon pertumbuhan (GH) sering terjadi pada usia antara decade

kedua dan keempat, karena GH pada decade dua (usia 5 tahun) merupakan

stadium awal perjalanan penyakit secara lambat. Sedangkan pada decade keempat

terjadi secara terus-menerus setelah stadium awal yang melewati decade tiga

sehingga tampak gejala GH: Frontal Bossing, Pembesaran tangan dan kaki, dll.

11
F. Pemeriksaan diagnostik

Diagnosis gigantisme ditegakkan berdasarkan atas temuan klinis,

laboratorium, dan pencitraan. Secara klinis akan ditemukan gejala dan tanda

gigantisme. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan kadar

hormon pertumbuhan. Selain itu, dari penilaian terhadap efek perifer hipersekresi

hormon perfumbuhan didapatkan peningkatan kadar insulin like growth factor-I

(IGF-I). Oleh karena sekresinya yang bervariasi sepanjang hari, pemeriksaan

hormon pertumbuhan dilaknkan 2 jam setelah pembebanan glukonTi gram.

Pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) dengan kontras diperlukan untuk

mengonfirmasi sumber sekresi hormon pertumbuhan. Pemeriksaan MRI dapat

memperlihatkan tumor kecil yang berukuran 2 mm.

1. Pemeriksaan fisik Tinggi tubuh abnormal

2. CT Scan dan MRI kelenjar hipofisis

Setelah gigantisme telah didiagnosis dengan mengukur kadar GH atau IGF-I,

Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan dari hipofisis digunakan untuk mencari

dan mendeteksi ukuran tumor yang menyebabkan kelebihan produksi GH. MRI

adalah teknik pencitraan yang paling sensitif, namun computerized tomography

(CT) scan dapat digunakan jika pasien tidak dapat menjalani MRI. Misalnya, pada

pasien yang memakai alat pacu jantung atau jenis implan yang mengandung

logam tidak harus memiliki scan MRI karena mesin MRI mengandung magnet

kuat.

12
Jika pasien diduga gigantisme, kadar GH pasien harus diperiksa untuk

menentukan apakah terjadi perubahan. Namun, pengukuran tunggal dari tingkat

darah GH tidak cukup untuk mendiagnosis gigantisme: Karena GH disekresikan

oleh pituitari dalam impuls, atau dalam jumlah banyak, sehingga konsentrasi GH

dalam darah dapat berubah-ubah dari menit ke menit. Pada saat tertentu,

seseorang dengan gigantisme mungkin memiliki kadar GH normal, sedangkan

kadar GH pada orang yang sehat bahkan mungkin lima kali lebih tinggi.

G. GEJALA

Pada penderita gigantisme terjadi pertumbuhan tulang yang berlebihan

sehingga tinggi badan abnormal. Masa pubertas tertunda dan alat kelamin tidak

dapat tumbuh sempurna (Price,2005)

H. Ciri-Ciri Gigantisme

 Pertumbuhan tulang yang sangat cepat sehingga tinggi tubuhnya berjalan


abnormal.
 Saat masa pubertas tiba alat kelamin tak bisa berkembang dan tumbuh
secara abnormal.
 Pertumbuhan linear yang sangat agresif atau aktif.
 Perubahan kulit wajah yang kasar dan juga tebal.
 Tulang rawan pada pita suara dapat semakin melebar dan tebal serta
mengakibatkan suara semakin tak jelas dan serak berat.
 Bentuk kaki serta lengan yang semakin hari semakin membesar atau
membengkak.
 Pertumbuhan kepala sangat cepat membesar melebihi kecepatan
tumbuhnya linier.
 Ketajaman matanya berkurang.
 Mempunyai prilaku yang aneh dan tidak lazim contohnya melakukan hal
hal yang mirip seperti anak penderita autism.
 Saat masa pubertas pertumbuhan tubuhnya semakin melengkung.
 Ukuran tunggi tubuh dapat mencapai lebih dari 8 kaki.
 Tulang rahang lebih menonjol serta cenderung berbentuk asimetris
(prognatisme).

13
 Kelenjar keringat dalam jaringan kulit melebar sserta membesar sehingga
kadar keringat dan bau badan yang keluar sangat tajam.
 Kondisi jantung semakin membesar seiring bertambahnya usia hingga
beresiko terserang gagal jantung mendadak.
 Jari jari tangan membesar yang semakin hari semakin membengkak
sampai cincin tidak bisa dipakai lagi.
 Jari jari kaki memanjang dan membesar sampai selalu sering ganti ukuran
sepatu.
 Gigi tak beraturan dan bentuk bibir menjadi asimetris saat ditutup.
 Muka cenderung berminyak dan rentan ditumbuhi jerawat serta sulit untuk
disembuhkan dengan cepat.
 Mudah jatuh sakit serta mudah terserang kelelahan sebab daya tahan tubuh
yang mudah menurun.
 Kondisi permukaan lidah yang kasar dan mempunyai lipatan lipatan yang
memicu sulitnya untuk berbicara dengan bahasa yang benar.
 Sistem pernapasan mengalami kesulitan bernafas dengan normal saat
tidur.
 Tulang rusak akan membesar serta menebal seiring bertambahnya usia
yang nampak membusur kedepan.
 Rambut rambut yang tumbuh pada tubuh pada tubuhnya semakin menebal,
kasar dan kering.
 Kulit tubuh mengalami perubahan dari tahun ketahun menjadi Sangat
gelap.
 Sering mengalami kesakitan pada tungkai serta lengan karena pembesaran
jaringan atau pembuluh darah yang mengakibatkan penekanan dan
terhimpitnya saraf saraf yang ada didalam tubuh.

J. PENATALAKSANAAN

1. Operasi

Operasi adalah pilihan utama yang dianjurkan pada kebanyakan pasien

gigantisme, karena termasuk dalam pengobatan yang cepat dan efektif. Operasi

dilakukan dengan melakukan insisi melalui hidung atau melalui bibir bagian atas.

dengan alat khusus dokter bedah menghilangkan jaringan tumor. Operasi ini

biasanya disebut operasi transsphenoidal. Prosedur ini mengurangi tekanan pada

14
daerah otak sekitarnya dan dengan cepat menurunkan kadar GH. Jika operasi ini

berhasil penampilan wajah dan pembengkakan jaringan akan kembali membaik

pada beberapa hari. Pembedahan berhasil baik pada kebanyakan pasien dengan

kadar GH dalam darah dibawah 45 ng/mg sebelum operasi dan jika

diameter tumor hipofisis belum mencapai 10mm.

Komplikasi yang mungkin terjadi saat pembedahan adalah kerusakan jaringan

di sekitar hipofisis yang normal sehingga pasien memerlukan menggunaan

hormon hipofisis dalam waktu yang lama. Bagian dari hipofisis menyimpan

antidiuretik hormon yang penting dalam balance cairan yang mungkin secara

sementara maupun permanen membahayakan kesehatan pasien sehingga pasien

membutuhkan terapi medis. Komplikasi yang lain yaitu meningitis.

2. Terapi medikasi

Terapi medis sering digunakan jika pembedahan tidak berhasil dengan

baik Tiga kelompok obat yang digunakan untuk pengobatan akromegali

gigantisme:

A) Somatostatin analogs (SSAs) berefek pada penurunan produksi GH dan

efektif menurunkan kadar GH dan IGF-I pada 50-70% pasien. SSAs juga

mengurangi ukuran tumor sekitar 0-50% pasien tapi hanya pada tingkat yang

kecil. Beberapa penelitian menunjukkan SSAs aman dan efektif digunakan

dalam jangka panjang dalam pengobatan pasien dengan akromegali gigantisme

yang tidak disebabkan tumor hipofisis.

15
b) GH reseptor antagonist (GHRAs)

Kelompok obat yang kedua adalah antagonis reseptor GH (GHRAs), yang

mengganggu kerja GH dan menormalkan kadar IGF-I di lebih dari 90 persen

pasien. Diinjeksikan sehari sekali, GHRAs biasanya ditoleransi dengan baik

oleh pasien. Efek jangka panjang pada pertumbuhan tumor masih diteliti. Efek

sampingny antara lain sakit kepala, fatig dan gangguan fungsi hati.

c) Agonis dopamin membentuk kelompok obat ketiga. Obat ini tidak seefektif

obat lain dalam menurunkan GH atau IGF-I tingkat, dan menormalkan kadar

IGF-I pada sebagian kecil pasien. Agonis dopamin kadang-kadang efektif pada

pasien yang memiliki derajat ringan GH berlebih dan pasien yang mengalami

gigantisme dan hiperprolaktinemia. Agonis dopamin dapat digunakan dengan

kombinasi SSAs. Efek samping obat termasuk mual, sakit kepala.

d) Radioterapi

Terapi radiasi biasanya diperuntukkan bagi pasien yang mempunyai sisa-sisa

tumor paska pembedahan. Karena radiasi menyebabkan hanya sedikit

penurunan kadar GH dan IGF-I pasien yang menjalani terapi radiasi juga

menerima medikasi untuk menurunkan kadar hormon.

Tujuan dari penatalaksanaan gigantisme ini adalah: 2

 Mengurangi peroduksi hormon berlebih menjadi normal

 Mengurangi tekanan karena pertambahan masa tumor hipofisis yang dapat

menekan area otak di sekitar tumor.

16
 Mengembalikan funsi normal hipofisis dan menangani terjadinya

kekurangan hormon.

 Menangani gejala gigantisme

17
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Riwayat Penyakit, manifestasi klinis tumor hipofise bervariasi tergantng


pada hormon mana yang disekresi berlebihan. Tanyakan manisfestasi klinis dari
peningkatan GH mulai dirasakan.

b. Kaji usia, jenis kelamin dan riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.

c. Keluhan utama, mencakup :

* Perubahan ukuran dan bentuk tubuh serta organ – organ tubuh seperti jari –
jari, tangan.

* Perubahan tingkat energi, kelelahan.

* Nyeri pada punggung dan perasaan tidak nyaman.

* Nyeri kepala

* Gangguan penglihatan seperti menurunnya ketajaman penglihatan, penglihatan


ganda.

d. Pemeriksaan Fisik mencakup :

* Amati bentuk wajah khas pada hipersekresi GH seperti bibir dan hidung besar,
hilang supra orbita menjorok.

* Kepala, tangan/lengan dan kaki juga bertambah besar, dagu menjorok ke depan.

* Amati adanya kesulitan mengunyah dan geligi yang tidak tumbuh dengan baik.

* Amati perubahan pada persendian dimana klien mengeluh nyeri dan sulit
bergerak, pada pemeriksaan ditemukan mobilitas terbatas.

18
* Pemeriksaan ketajaman penglihatan akibat komprosi syaraf optikus akan
dijumpai penurunan visus.

* Hipertensi

* Disfagia akibat lidah membesar

* Pada perkusi dada dijumpai jantung membesar

e. Pemeriksaan Diagnostik, mencakup :

* Kadar prolaktin serum : ACTH, GH.

* Foto tengkorak

* CT Scan otak

* Angiografi

* Tes toleransi glukosa

2.2.2. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan bodi image b/d perubahan struktur tubuh.

2. Kelelahan b/d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi.

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gigi tumbuh terpisah – pisah, lidah
membesar.

4. Gangguan integritas kulit b/d wajah kasar, kulit tebal.

5. Kurang pengetahuan b/d kurang terpapar sumber informasi.

2.2.3. Intervensi

Dx. I. : Gangguan bodi image b/d perubahan struktur tubuh.

Tujuan : Mulai menunjukkan adaptasi dan menyatakan penerimaan pada


situasi diri.

19
Kriteria Hasil : * Klien dapat menerima perubahan diri.

* Klien mau bersosialisasi dengan lingkungan.

Intervensi :

1) Kaji klien dengan mengidentifikasi dan mengembangkan mekanisme koping


untuk mengatasi perubahan fisik.

R/ : Dapat mengetahui sejauh mana mekanisme koping yang dimiliki klien


dalam penerimaan diri.

2) Berikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan yang berhubungan


dengan perubahan fisik.

R/ : Ekspresi emosi membantu pasien mulai menerima kenyataan dan


realitas hidup.

3) Diskusikan perasaan yang berhubungan dengan perubahan yang dialami


oleh klien.

R/ : Membantu mengartikan masalah sehubungan dengan pola hidup


sebelumnya dan membantu pemecahan masalah.

4) Pertahankan lingkungan yang kondusif untuk membicarakan perubahan


citra tubuh.

R/ : Meningkatkan pernyataan keyakinan/nilai yang dapat mempengaruhi


penilaian situasi.

5) Bantu pasien dalam mengembangkan rencana untuk menyelaraskan semua


perubahan ke dalam gaya hidup.

R/ : Membantu adaptasi lanjut yang optimal dan membantu dalam


penerimaan diri.

Dx. II. : Kelelahan b/d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan


energi.

20
Tujuan : Menunjukkan perbaikan kemampuan berpartisipasi dalam
melakukan aktivitas.

Kriteria Hasil : * Tidak terjadi kelelahan yang berarti pada klien setelah
melakukan aktivitas.

* Menunjukkan peningkatan kemampuan dan berpartisipasi


dalam aktivitas.

Intervensi :

1) Observasi tanda – tanda vital, catat nadi baik saat istirahat maupun saat
melakukan aktivitas.

R/ : Nadi secara luas meningkat dan bahkan saat istirahat takikardia


mungkin akan ditemukan.

2) Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas dan meningkatkan istirahat di


tempat tidur.

R/ : Membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolisme.

3) Berikan tindakan yang membuat pasien nyaman seperti sentuhan/masase.

R/ : Dapat menurunkan energi dalam syaraf yang selanjutnya


meningkatkan relaksasi.

4) Diskusikan dengan orang terdekat keadaan lelah dan emosi yang tidak
stabil.

R/ : Dorongan dan saran orang terdekat untuk berespon secara positif dan
memberikan dukungan pada pasien.

5) Berikan aktivitas pengganti yang menyenangkan dan tenang seperti


membaca, mendengarkan radio.

R/ : Memungkinkan untuk menggunakan energi dengan cara konstruktif


dan mungkin juga menurunkan ansietas.

21
Dx. III. : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gigi tumbuh terpisah –
pisah, lidah membesar.

Tujuan : Menunjukkan peningkatan nafsu makan.

Kriteria Hasil : Mempertahankan/meningkatkan berat badan.

Intervensi :

1) Timbang BB sesuai indikasi.

R/ : Mengkaji pemasukan yang adekuat.

2) Identifikasi makanan yang disukai/dikehendaki klien.

R/ : Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam


perencanaan makan dapat membantu kebutuhan nutrisi.

3) Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan ini sesuai dengan


indikasi.

R/ : Meningkatkan rasa keterlibatannya, memberikan informasi pada


keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi.

4) Berikan makanan sedikit tapi sering.

R/ : Membantu mencegah distensi gaster/ketidaknyamanan dan


meningkatkan pemasukan.

5) Berikan kebersihan atau sebelum makan.

R/ : Meningkatkan rasa dan membantu nafsu makan yang baik.

Dx. IV. : Gangguan integritas kulit b/d wajah kasar, kulit tebal.

22
Tujuan : Berpartisipasi pada tingkat kemampuan untuk mencegah
kerusakan kulit.

Kriteria Hasil : Menyatakan pemahaman akan faktor penyebab terjadinya


gangguan integritas kulit.

Intervensi :

1) Inspeksi seluruh area kulit.

R/ : Kulit biasanya cenderung rusak karena perubahan sirkulasi perifer,


ketidakmampuan untuk merasakan tekanan, gangguan pengaturan suhu.

2) Anjurkan pada klien untuk memberikan perawatan pada kulit.

R/ : Kelembaban meningkatkan pertumbuhan bakteri yang dapat


menimbulkan infeksi.

3) Anjurkan menggunakan buku – buku jari untuk menggaruk bila tidak


terkontrol.

R/ : Menurunkan potensial cedera kulit

4) Hindari komentar tentang penampilan pasien.

R/ : Meminimalkan stress psikologis sehubungan dengan perubahan kulit.

2.2.4. Implementasi : sesuai intervensi.

2.2.5. Evaluasi : sesuai tujuan dan kriteria hasil.

23
FORMAT PENGKAJIAN

Kasus

Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun dibawa ibunya ke klinik dengan keluhan
sakit kepala hebat dan pusing/ pening, lemah, letih. Ibu merasa anaknya
mengalami ketidaknormalan pertumbuhan anaknya dibanding teman sebayanya,
ukuran tubuh anaknya tidak sama dengan teman sebayanya, An.A memiliki tinggi
badan 170 cm dengan berat 70 kg. An.A mengatakan malu bermain dengan
temanya, ibu mengatakan anaknya kehilangan nafsu makan ,ibu mengatakan kulit
anakya tebal, basah, berminyak, anak memakai kaca mata karena tidak mampu
melihat jarak jauh , anak A juga mengatakan sering mengantuk.

BIODATA PASIEN

Nama : An.A

Umur : 10 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

No. Register : 1234 56 78

Alamat : Jl. Senggol Cc

Status Perkawinan : Belum Kawin

Keluarga terdekat : Ibu

Diagnosa Medis : Gigantisme

ANAMNESE

Riwayat Keperawatan

1. Riwayat kesehatan sekarang

a) Keluhan utama : Tinggi badannya terus tumbuh dan Berat


badannya terus naik

24
b) Kronologis keluhan : ibu klien mengeluhkan anaknya yan berUsia
10 tahun mengalami ketidak normalan, tinggi badan terus bertambah 170 cm
Berat badannya terus naik hingga 70 kg , lalu dibawa keklinik.

c) Faktor pencetus : Kelebihan hormon GH

d) Timbulnya keluhan :( ) mendadak ( v ) bertahap

e) Lamanya :-

2. Upaya mengatasi :-

3. Riwayat kesehatan masa lalu

a) Riwayat alergi (obat, makanan, binatang, lingkungan)

Keluarga mengatakan klien tidak mempunyai alergi obat, makanan, binatang


maupun lingkungan

b) Riwayat kecelakaan

Tidak ada

c) Riwayat dirawat di Rumah Sakit (kapan, alasan, berapa lama)

Keluarga klien mengatakan klien tidak pernah dirawat di Rs sebelumnya

d) Riwayat pemakaian obat

Tidak ada

4. Riwayat Kesehatan Keluarga

Tidak ada

Pemeriksaan Fisik Umum

1. Berat badan : 70 Kg

25
2. Tinggi badan : 170 cm

3. Tekanan darah : 130/90 mmhg

4. Nadi : 68x/menit

5. Frekuensi nafas : 24x/menit

6. Suhu tubuh : 36,5 oc

Pemeriksaan Fisik sistem Pernafasan

1. Inspeksi

a. Bentuk torak : ( v ) Normal chest ( ) Pigeon chest

( ) Funnel chest ( ) Barrel chest

b. Susunan ruas tulang belakang : ( - ) Kyposis ( - ) Scoliosis ( - )


Lordosis

c. Bentuk dada ( ) simetris ( v ) asimetris

d. Retraksi otot bantu pernafasan : Retraksi intercosta ( - )

e. Retraksi suprastrenal ( - ), Sternomastoid (- ), Pernafasan cuping hidung ( -


)

f. Irama Nafas : ( v ) teratur ( ) tidak teratur

g. Jenis pernafasan : ( ) Eupnea ( ) Takipneu ( ) Bradipnea

( ) Apnea ( ) Chene Stokes ( ) Biot’s/ Kusmaul

h. Kedalaman nafas : ( ) dalam ( ) dangkal

i. Batuk : ( - ) Ya ( - ) Tidak

j. Sputum : ( - ) putih ( - ) kuning ( - ) hijau ( - ) darah

26
k. Konsistensi : ( - ) kental ( - ) encer

2. Palpasi

Pemeriksaan taktil / vocal fremitus : getaran antara kanan dan kiri teraba
(sama/tidak sama).

Lebih bergetar di sisi -

3. Perkusi

( - ) sonor ( - ) hipersonor ( - ) dullness

4. Auskultasi

a. Suara nafas

- Area Vesikuler : ( bersih / halus / kasar)

- Area Bronchial : ( bersih / halus / kasar)

- Area Bronkovesikuler: ( bersih / halus / kasar)

b. Suara Ucapan

Terdengar : ( - ) Bronkophoni ( - ) Egophoni ( - ) Pectoriloqy

c. Suara tambahan

Rales ( - ), Ronchi ( - ), Wheezing ( - ), Pleural friction rub ( - )

Pemeriksaan Fisik sIstem Kardiovaskuler

1. Inspeksi

a. Ictus cordis ( - ) Pelebaran - cm

b. Warna kulit : ( ) pucat ( - ) cyanosis

c. Pengisian Kapiler : >3 detik

27
d. Distensi Vena Jugularis : ( ) Ya ( v ) Tidak

2. Palpasi

a. Pulsasi / ictus cordis pada dinding torak teraba :

( v ) lemah ( - ) kuat ( - ) tidak teraba

b. Temperatur kulit : ( - ) hangat ( v ) dingin

c. Edema : ( - ) Ya ( - ) tidak

( - ) tungkai atas ( - ) tungkai bawah ( - ) skrotalis

( - ) periorbital ( - ) wajah ( - ) anasarka

3. Perkusi

Batas-batas jantung normal adalah :

Batas atas: normal ( N = ICS II )

Batas bawah : normal ( N = ICS V )

Batas kiri : normal ( N = ICS V Mid Clavikula Sinistra )

Batas kanan : normal ( N = ICS IV Mid Sternalis Dextra )

Keluhan lain terkait dengan jantung :

Nyeri dada : ( - ) Ya

Timbul saat : ( - ) Aktifitas

Karakteristik : ( - ) seperti ditusuk-tusuk

( - ) seperti terbakar

( - ) seperti tertimpa benda berat

Hilang nyeri saat : ( - ) istirahat ( - ) dengan obat

28
Durasi nyeri : ( - ) <30 menit ( - ) >30 menit

Lokasi nyeri : ( - ) Epigastrum

( - ) Thorax (menjalar dari dada, punggung, lengan kiri)

E. Pemeriksaan Fisik Sistem Imun Hematologi

1. Gangguan Hematologi

( v ) Pucat ( ) Echimosis ( ) Spider Navy

( ) Petechie ( ) Epistaksis ( ) Pruritus

( ) Purpura ( ) Perdarahan Gusi ( ) Stomatis

( ) Candidiasis

2. Bibir (MukosaMulut)

( ) Ulserasi (Pecah-Pecah) ( ) Merah Pucat

( ) Sianosis ( ) Gingivitis

( ) Stomatitis (Sariawan)

Pemeriksaan Fisik Sistem Neurobehavior

1. Inspeksi : Amati Adanya

( - ) Kejang ( - ) Paraplegia

( - ) Parase ( - ) Tetraplegia/Parase

( - ) Paralisis ( - ) Hemiparese/Plegi

( - ) Diplegia ( - ) Twizing

2. Penilaian Tingkat Kesadaran

29
a. PenilaianKualitatif

( v ) Compos Mentis ( ) Sopor

( ) Apatis ( ) Koma

( ) Somnolen ( ) Soporcoma

b. Penilaian Kuantitatif (GCS/Glasgow Coma Scale)

· Membuka Mata (E)

Spontan :4

Dengan di AjakBicara :3

Dengan Rangsangan Nyeri :2

TidakMembuka :1

· Respon Verbal (V)

TerdapatKesadarandan Orientasi :5

BerbicaraTanpaKacau :4

BerkataTanpaArti :3

HanyaMengerang :2

Tidak Ada Suara :1

· ResponMotorik (M)

SesuaiPerintah :6

TerhadapRangsanganNyeri :

1. TimbulGerakan Normal :5

2. FleksiCepatdanAbduksiBahu :4

30
3. FleksiLenganDenganAbduksiBahu :3

4. EkstensiLengan, Adduksi, Endorotasi

Bahu, PronasiLenganBawah :2

5. Tidak Ada Gerakan :1

Setelah Dilakukan Scoring MakaDapat di Ambil Kesimpulan :

( Compos Mentis / Apatis / Somnolen / Delirium / Sporo Coma / Coma)

3. MemeriksaTanda-Tanda Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK) :

( - ) Nyeri Kepala Hebat

( - ) Muntah Proyektil

( - ) Edema Pupil

4. Pemeriksaan 12 Saraf Cranialis ( Fungsi Motorik & Fungsi Sensorik)

a. Nervus I : Olfaktorius (Pembau) (-)

b. Nervus II : Opticus ( Penglihatan) (-)

c. Nervus III : Ocumulatoris (-)

d. Nervus IV : Throclearis (-)

e. Nervus V : Thrigeminus (-)

· Cabang Optalmicus : (-)

· Cabang Maxilaris : (-)

· Cabang Mandibularis : (-)

f. Nervus VI : Abdusen ( - )

g. Nervus VII : Facialis (- )

31
h. Nervus VIII : Akustikus/ Vestibula Choclearis ( - )

i. Nervus IX : Glosopharingeal ( - )

j. Nervus X : Vagus ( - )

k. Nervus XI : Accessorius ( - )

l. Nervus XII : Hypoglosal ( - )

5. Pemeriksaan Tanda Meningeal

a. Reflek Brudzinski I (+ / - )

b. Reflek Brudzinski II (+ / - )

c. Kaku Kuduk (+/ - )

d. Tes L aseque (+/ - )

e. Tes Kernig (+/ - )

6. Pemeriksaan Kekuatandan Tonus Otot: Skala MRC (0-5)

5 (100%) : Kekuatan Normal

4 (75%) : Dapat Menggerakan Sendi Dengan Aktif dan Melawan Tahanan

3 (50%) : Dapat Menggerakan Anggota Gerak Untuk Menahan Berat


(Gravitasi)

2 (25%) : DapatMenggerakanAnggotaGerakTanpaGravitasi (Tangan


Bergeser)

1 (10%) : Terlihat Atau Teraba Getaran Kontraksi Otot Tapi Tidak Ada
Gerakan Sama sekali

0 (0%) : Paralisis, Tidak Ada Kontraksi Otot Sama Sekali

32
Ext. Kanan Atas Ext. kiri atas

5555 5555

Ext. Kanan Bawah Ext. KiriAtas

5 555 5555

7. Pemeriksaan Status Mental – Emosional

a. Penampilan

( ) TidakRapi (v ) Penggunaan Pakaian Tidak Sesuai

( ) Cara Berpakaian Tidak Seperti Biasanya

b. Pembicaraan

( ) Cepat ( ) Keras ( ) Gagap ( ) Inkoheren

( v ) Apatis ( ) Lambat ( v ) Membisu

( ) Tidak Mampu Memulai Pembicaraan

c. Aktivitas Motorik

( v ) Lesu ( ) Tegang ( v ) Gelisah ( ) Agitasi

( ) Tik ( ) Grimasen ( v ) Tremor ( ) Kompulsif

d. Alam Perasaan

( v ) Sedih ( ) Ketakutan ( v ) Putus Asa

( ) Khawatir ( ) Gembira Berlebihan

e. Afek

( v ) Datar ( ) Tumpul ( ) Labil ( ) Tidak Sesuai

f. Iteraksi Selama Wawancara

33
( ) Bermusuhan ( v ) Tidak Kooperatif ( ) Mudah Tersinggung

( ) Kontak Mata Kurang ( ) Defensif ( ) Curiga

g. Tingkat Kesadaran

( - ) Bingung ( - ) Sedasi ( - ) Stupor

Disorientasi :

( v ) Waktu ( ) Tempat ( ) Orang

h. Memori

( ) Gangguan Daya Ingat Jangka Panjang

( ) Gangguan Daya Ingat Jangka Pendek

( ) Gangguan Daya Ingat Saat Ini

i. Pola Pertahanan Diri : Bagaimana Mekanisme Koping Klien Dalam


Mengatasi Masalahnya :

Adaftif Maladaftif

( v ) Bicara Dengan Orang lain ( - ) Menolak Minum Obat

( - ) Mampu Menyelesaikan Masalah ( v) ReaksiLambat / Berlebih

( - ) Teknik Relaksasi ( - ) Kerja Berlebihan

( - ) Aktivitas Konstruktif ( - ) Menghindar

( - ) Olahraga ( - ) Mencederai Diri

34
A. ANALIS ANALISA

NO HARI/TGL DATA DIAGNOSA


1 08 januari Nyeri akut berhubungan
DS : Klien mengatakan dengan kerusakan sistem
2020 •Ibu klien mengatakan anaknya saraf dibuktikan dengan
mengalami ketidaknormalan di mengelu nyeri
usianya yang 10 tahun
•Klien mengeluh nyeri kepala
• Klien mengatakan
penglihatanya buram
•Klien mengatakan pusing
•Klien mengatakan skala nyeri
(6)
 Sulit tidur.
 Mengeluh nyeri.

DO : Klien tampak
 Tampak meringis.
 Bersikap protektif.
 Gelisah.
 Frekuensi nadi meningkat
 Sulit tidur.
 Pola napas berubah
 Nafsu makan berubah
 Proses berfikir terganggu
 Menarik diri
 Berfokus pada diri sendiri
. •Kaji TTV
•TD:130/90 mmhg
• RR: 24x/menit
•S: 36,50C
•Nadi:68x/

B. DIAGNOSA KEPEAWATAN

Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan sistem saraf dibuktikan


dengan mengelu nyeri
C. INTERVENSI

N Data pendukung Diagnosa Outcome Intervensi


o keperawatan

35
Kode Diagnosa Kode Hasil Kode Intervensi

1.
DS : Klien 0077 Nyeri L.080 Tingkat nyeri. I.0820 Manajemen nyeri
mengatakan akut 66 38
•Ibu klien dilakuakan tindakan
mengatakan Selamah 1 perawat dengan.
anaknya minggu Observasi
mengalami dilakukan -indentifikasi ,lokasi
ketidaknormalan tindakan ,karakteristik,durasi
di usianya yang keperawatan ,kualitas ,intensitas
10 tahun diharapakn nyeri
•Klien mengeluh tingakt nyeri -indentifikasi skala
nyeri kepala menurun nyeri
• Klien dengan kateria -indentifikasi faktor
mengatakan hasil: yang memperberat da
penglihatanya memperingan nyeri
buram -keluhan nyeri, -indentifikasi
•Klien cukup pengetahuan dan
mengatakan menurun keyakinan tentang ny
pusing -meringis, –indentifikasi pengar
•Klien menurun budaya trhadap respo
mengatakan -sikap protektif nyeri
skala nyeri (6) ,menurun -indentifikasipengaru
 Sulit tidur. -gelisa, nyeri terhadap kualita
 Mengeluh menurun hidup
nyeri. -kesulitan -monitor keberhasialn
tidur, terapi komplemeter
menurun yang sudah diberikan
DO : Klien -menarik -Monitor efek sampin
tampak diri,menurun penggunaan analgetik
 Tampak -berpokus pada Terapeutik
meringis. diri -berikan teknik
 Bersikap sendiri,menuru nonfarmakologis untu
protektif. n mengurangi rasa nyer
 Gelisah. -kontror lingkungan
 Frekuensi yang memperberat ra
nadi nyeri
meningkat -fasilitasi istirahat dan
 Sulit tidur. tidur
 Pola napas -pertimbangkan jenis
berubah dan sumber nyeri dal
 Nafsu pemilihan strategi
makan merendakan nyeri
berubah Edukasi
 Proses -jelaskan

36
berfikir penyebab,periode,dan
terganggu pemicu nyeri
 Menarik -jelaskan strategi
diri meredakan nyeri
 Berfokus -anjurkan monitor ny
pada diri secaramandiri
sendiri -anjurkan menggunak
. •Kaji TTV analgetik secara tepat
•TD:130/90 -ajarkan teknik
mmhg nonfarmakologis untu
• RR: 24x/menit mengurangi rasa nyer
•S: 36,50C Kolaborasi
•Nadi:68x/menit Kolaborasi pemberian
analgetik,jika perlu

D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

No Hari/tgl Implementasi Evaluasi


1 28/01/2020 S : An.A mengatakan nyeri
Manajemen nyeri sudah
berkurang setelah di
lakukan
tindakan keperawatan
Setelah dilakuakan intervensi O: keluarga sudah mampu
keperawat selama 1 mengenal
pertemuan keluarga mampu Masalah pada An.A
mengenal masalah: A: masalah teratasi sebagian

P: tindakan keperawatan
dilanjutkan
Observasi

-indentifikasi ,lokasi
,karakteristik,durasi ,kualitas
,intensitas nyeri (lokasi

37
tungkai kanan, dan suatu
instrumen yang di gunakan
untuk menilai intesitas
nyeri):dengan menggunakan
UAS, sebuah tabel garis 10
cm dengan pembaca skala 0-
100mm.

-indentifikasi skala
nyeri(pada tungkai
kanan):dengan menggunakan
pemeriksaan numerik

-indentifikasi faktor yang


memperberat dan
memperingan nyeri(nyeri jika
bergerak dan berhenti jika
posisi nyaman dan tidak
bergerak):dengan
menggunakan pemberian
analgetik untuk mengurangi
nyeri

-indentifikasi pengetahuan
dan keyakinan tentang
nyeri(pemberitahuan
pengetahuan tentang nyeri
pada pasien):dengan
menggunakan leaflet

–indentifikasi pengaru
budaya trhadap respon
nyeri(pengaru budaya
mempengarui rasa perilaku
nyeri eksprensi
nyeri.):dengan menggunakan
obat nyeri

-indentifikasi pengaru nyeri


terhadap kualitas
hidup(permasalahan nyeri
yang kerap terjadi dintara

38
disebabkan:tidak tertangani
dengan otimal.):dengan
menggunakan media guiding
berupa USG,C-Arm atau pun
Fluoroskopi

-monitor keberhasialan terapi


komplemeter yang sudah
diberikan( perawat dapat
memberikan penetahuan
tentang terapi komplemeter
diantaranya sebagai konselor.
):dengan menggunakan
pengobatan terapi sentuhan
untuk meningkatkan relaksasi
menurunkan nyeri

-Monitor efek samping


penggunaan analgetik (
efeksaping yang dapat
timbul ialah reaksi
hipersensitif,obat analgetik
opioid mengurangi rasa
nyeri):dengan menggunakan
obat morfin sulfat

Terapeutik

-berikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri (dapat
membantu pasien
mengdalikan/meringankan
rasa nyeri ):dengan
menggunakan
masase,relaksasi.

-kontrol lingkungan yang


memperberat rasa
nyeri(mis.nyeri di pengarui
suhu ruangan pasien di
ajurkan untuk

39
nyaman):dengan
menggunakan suhu
ruangan,pencahayaan, dan
kebisingan

-fasilitasi istirahat dan tidur(


anjurkan istirahat dan tidur
yang cukup):dengan
menggunakan tetapkan
jadwal istirahat dan tidur
rutin dan ajarkan
relaksasiotot autogenik atau
cara nonfarmakologi lainnya.

-pertimbangkan jenis dan


sumber nyeri dalam
pemilihan strategi
merendakan nyeri(
meredakan rasa nyeri dari
sedang sampai berat):dengan
menggunakan obat analgetik
morfin sulfat dan relaksasi

Edukasi

-jelaskan
penyebab,periode,dan pemicu
nyeri(peradangan
otot):dengan menggunakan
obat dan relaksasi otot

-jelaskan strategi meredakan


nyeri( narkotik untuk
meredakan nyeri dan
perasaan euforia):dengan
menggunakan obat mofin dan
teknik stimulasi kutaneaus

-anjurkan monitor nyeri


secara mandiri(ajarkan
relaksasi sendiri di

40
rumah):dengan menggunakan
terapi masase

-anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat(dengan
membuat tetapanjadwal rutin
minum obat):dengan
menggunakan obat morfin
untuk meredahkan sakit atau
nyeri parah.

-ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri( untuk
merelaksasiakan mengurangi
rasa nyeri pada pasien
):dengan menggunakan
tens,hypnosis,

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian
analgetik,jika perlu(untuk
meringankan nyeri sedang
sampai berat):dengan
menggunakan obat analgetik
morfin

41
BAB IV

KESIMPULAN

Gigantisme adalah pertumbuhan berlebihan akibat pelepasan hormon

pertumbuhan berlebihan, terjadi pada masa anak-anak dan remaja. Gigantisme dan

akromegali adalah kelainan yang disebabkan oleh karena sekresi Growth

Hormone (GH) yang berlebihan. Gigantisme terjadi sebelum proses penutupan

epifisis. Sedangkan akromegali terjadi kalau proses tersebut terjadi setelah

penutupan epifisis. Sehingga tampak terjadinya pertumbuhan jaringan lunak dan

struktur tulang yang berlebihan.

Gejala gigantisme yang disebabkan oleh kelebihan sekresi GH:4

1. Tanda-tanda intoleransi glukosa.

2. Hidung lebar, lidah membesar dan wajah kasar

3. Mandibula tumbuh berlebihan

4. Gigi menjadi terpisah-pisah

5. Jari dan ibu jari tumbuh menebal

6. Kelelehan dan kelemahan

7. Kehilangan penglihatan pada pemeriksaan lapang pandang secara seksama

karena khiasma optikum saraf mata tertekan.

Penatalaksanaan gigantisme dilakukan secara medikamentosa maupun non-

medika mentosa berupa tindakan bedah yang disebut operasi transsphenoidal.

42
DAFTAR PUSTAKA

Doenges E, Marilyin. 1999. Rencana Asuhan keperawatan. Jakarta : EGC

Price & Wilson, 2005. Patofisiologi dan Konsep Klinis Proses-proses Penyakit,

edisi 6 Jakarta : EGC

Rumahorbo, Hotma . 1999. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem

Endokrin. Jakarta : EGC

Suddart & Brunner. 2000. Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8. Jakarta : EGC

Suyono slamet. 2001. Ilmu Penyakit Dalam, jilid 1. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Melmed S, Kleinberg D. Pituitary masses and tumors. In: Kronenberg HM,

Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR. Williams Textbook of Endocrinology. 12th

ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 9.

Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease

Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994

Anonym. Gigantism. [series online] 2014. Available from: URL:

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001174.htm

Beuschlein F, Strasburger CJ, Siegerstetter V, Bidlingmaier M, Blum HH,

Reincke M.1999 Ectopic production by a malignant lymphoma causing

acromegaly: evidence for auto/paracrine growth. Proc 81st Meeting of The

43
Endocrine Society, San Diego, CA p.143. available from: URL:

http://press.endocrine.org/doi/full/10.1210/jcem.84.12.6222

Hammer RE, Brinster RL, Rosenfeld MG, Evans RM, Mayo KE. 1985 Expression

of human growth hormone-releasing factor in transgenic mice results in increased

somatic growth. Nature. 315:413–419.

44