Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS

“INSTITUSI PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK


di PUSKESMAS”

OLEH:
KELOMPOK

I Gusti Ayu Bitha Maha Anjela P07124217 016


Nikita Chroasita Mba’u P07124217 020
Putu Nanda Kartika Sari P07124217 023
Kade Liska Putraning Ayu P07124217 044
Ni Putu Sri Supitadewi P07124217 048

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN
PRODI SARJANA TERAPAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat rahmat-NYAlah kami dapat menyelesaikan ‘’Makalah Asuhan Kebidanan
Komunitas tentang Institusi Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas”.
Dalam penyusunan dan penulisan tugas atau makalah ini,tidak sedikit hambatan yang
penulis hadapi. Sehingga dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-
kekurangan baik dalam penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki
penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi
menyempurnakan pembuatan makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada
pihak-pihak yang telah mendukung dan membantu dalam memberikan informasi tentang materi
yang terkait.
Semoga materi ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan dan menjadi motifasi,
khususnya bagi penulis.

Denpasar, Januari 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman
JUDUL
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 2
C. Tujuan .................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Puskesmas............................................................................ 4
B. Fungsi Puskesmas .................................................................................. 4
C. Sejarah Puskesmas ................................................................................. 5
D. Wilayah Kerja Puskesmas ..................................................................... 7
E. Struktur Organisasi Puskesmas ............................................................. 8
F. Stratifikasi Puskesmas ........................................................................... 9
G. Perencanaan Mikro Puskesmas .......................................................... 11
H. Lokakarya Mini Puskesmas ................................................................. 15
I. Supervisi Puskesmas ........................................................................... 15
J. Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas.................................... 17

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .......................................................................................... 22
B. Saran ................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Puskesmas dilahirkan tahun 1968 ketika dilangsungkan Rapat Kerja Kesehatan
Nasional (Rakerkesnas) I di Jakarta, dimana dibicarakan upaya pengorganisasian sistem
pelayanan kesehatan di tanah air, karena pelayanan kesehatan tingkat pertama pada waktu
itu dirasakan kurang menguntungkan dan dari kegiatan-kegiatan seperti BKIA, BP, dan
P4M (Pencegahan, Pemberantasan, Pembasmian Penyakit Menular) dan sebagainya
masih berjalan sendiri-sendiri dan tidak saling berhubungan.
Melalui Rakerkesnas tersebut timbul gagasan untuk menyatukan semua pelayanan tingkat
pertama ke dalam suatu organisasi yang dipercaya dan diberinama Pusat Kesehatan
Masyarakat (Puskesmas).
Puskesmas adalah sarana pelayanan kesehatan dasar yang amat penting di Indonesia.
Puskesmas merupakan unit yang strategis dalam mendukung terwujudnya perubahan
status kesehatan masyarakat menuju peningkatan derajat kesehatan yang optimal. Untuk
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal tentu diperlukan upaya pembangunan sistem
pelayanan kesehatan dasar yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat
selaku konsumen dari pelayanan kesehatan dasar tersebut (Profil Kesehatan Indonesia,
2007).
Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan dalam
sistem pelayanan kesehatan, harus melakukan upaya kesehatan wajib (basic six) dan
beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, tuntutan,
kemampuan dan inovasi serta kebijakan pemerintah daerah setempat. Puskesmas dalam
menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh dan terpadu dilaksanakan
melalui upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan disertai dengan
upaya penunjang yang diperlukan. Ketersediaan sumber daya baik dari segi kualitas
maupun kuantitas, sangat mempengaruhi pelayanan kesehatan (Profil Kesehatan
Indonesia, 2009).
Pembangunan kesehatan mempunyai visi “Indonesia sehat” diantaranya dilaksanakan
melalui pelayanan kesehatan oleh puskesmas dan rumah sakit. Selama ini pemerintah
telah membangun Puskesmas dan jaringannya di seluruh Indonesia rata-rata setiap
Kecamatan mempunyai 2 Puskesmas, setiap 3 Desa mempunyai 1 Puskesmas Pembantu.
Puskesmas telah melaksanakan kegiatan dengan hasil yang nyata, status kesehatan
masyarakat makin meningkat, ditandai dengan makin menurunnya angka kematian bayi,
ibu, makin meningkatnya status gizi masyarakat dan umur harapan hidup (Kepmenkes,
2004).
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang
bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian
wilayah kecamatan. Puskesmas sebagai upaya pelayanan kesehatan strata pertama
meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat dan
kegiatan yang dilakukan puskesmas, selain dari intern sendiri tetapi juga perlu peran serta
masyarakat dalam pengembangan kesehatan terutama di lingkungan masyarakat yang
sangat mendasar, sehingga pelayanan kesehatan dapat lebih berkembang.

B. Rumusan Masalah
Dari penjelasan di atas didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah fungsi dari puskesmas?
2. Bagaimanakah sejarah puskesmas?
3. Dimanakah wilayah kerja puskesmas?
4. Bagaimana struktur organisasi puskesmas?
5. Bagaimana stratifikasi puskesmas?
6. Bagaimana perencanaan mikro puskesmas?
7. Bagaimana lokakarya mini di puskesmas?
8. Bagaimana survise puskesmas?
9. Bagaimana sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari rumusan masalah di atas adalah:
1. Untuk mengetahui fungsi dari puskesmas.
2. Untuk mengetahui sejarah puskesmas.
3. Untuk mengetahui wilayah kerja puskemas.
4. Untuk mengetahui struktur organisasi puskesmas.
5. Untuk mengetahui stratifikasi puskesmas.
6. Untuk mengetahui perencanaan mikro puskesmas.
7. Untuk mengetahui lokakarya mini di puskesmas.
8. Untuk mengetahui survise puskesmas.
9. Untuk mengetahui sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah salah satu sarana pelayanan
kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia. Puskesmas adalah unit pelaksana
teknis dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di suatau wilayah kerja (Depkes, 2011).
Pengertian puskesmas adalah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi
sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam
bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang
menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, terpadu yang berkesinambungan
pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalarn suatu wilayah tertentu (Azrul
Azwar, 1996).
Puskesmas merupakan kesatuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan
upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata dapat diterima dan terjangkau
oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat
dipikul oleh pemerintah dan masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang
optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan (Depkes, 2009).

B. Fungsi Puskesmas
Menurut Mubarak (2014) ada 3 fungsi puskesmas, yaitu :
1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan puskesmas selalu berupaya
menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembanguan lintas sector termasuk
oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya.
2. Pusat pemberdayaan masyarakat. Puskesmas selalu berupaya agar perorangan
terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha
memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat
untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan
termasuk sumber pembiayaan, serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan
memantau pelaksanaan program kesehatan.
3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama. Puskesmas bertanggung jawab
menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu
dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggung
jawab puskesmas adalah :
a. Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayananan kesehatan perorangan adalah pelayanan kesehatan yang bersifat
pribadi dengan tujuan umum menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan
perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan penegahan penyakit.
b. Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang bersifat public
dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah
penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Proses dalam melaksanakan fungsinya dilakukan dengan cara :


1. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka
menolong dirinya sendiri.
2. Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan
menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.
3. Memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis
maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut
tidak menimbulkan ketergantungan.
4. Memberi pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat.
5. Bekerja sama dengan sector-sektor yang bersangkutan dalam melaksanankan program
puskesmas (Mubarak, 2014).

C. Sejarah Puskesmas
Di Indonesia Puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan
tingkatpertama, Konsep Puskesmas dilahirkan tahun 1968 ketika dilangsungkan Rapat
Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) I di Jakarta. Waktu itu dibicarakan upaya
mengorganisasi sistem pelayanan kesehatan di tanah air, karena pelayanan kesehatan
tingkat pertama pada waktu itu dirasakan kurang menguntungkan dan dari kegiatan-
kegiatan seperti BKIA, BP, P4M dan sebagainya masih berjalan sendiri-sendiri dan tidak
saling berhubungan. Melalui Rakerkesnas tersebut timbul gagasan untuk menyatukan
semua pelayanan tingkat pertama ke dalam suatu organisasi yangdipercaya dan diberi
nama Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Puskesmas pada waktu itu dibedakan
dalam 4 macam yaitu:
1. Puskesmas tingkat desa
2. Puskesmas tingkat kecamatan
3. Puskesmas tingkat kewedanan
4. Puskesmas tingkat kabupaten
Pada Rakerkesnas ke II tahun 1969, pembagian Puskesmas dibagi menjadi 3
kategori:
1. Puskesmas tipe A, dipimpin oleh dokter penuh
2. Puskesmas tipe B, dipimpin oleh dokter tidak penuh
3. Puskesmas tipe C, dipimpin oleh tenaga paramedic
Pada tahun 1970 ketika dilangsungkan Rakerkesnas dirasakan pembagian Puskesmas
berdasarkan kategori tenaga ini kurang sesuai, karena untuk Puskesmas tipe B dan C
tidak dipimpin oleh dokter penuh atau sama sekali tidak ada tenagadokternya, sehingga
dirasakan sulit untuk mengembangkannya. Sehingga mulai tahun1970 ditetapkan hanya
satu macam Puskesmas dengan wilayah kerja tingkat Kecamatan atau pada suatu daerah
dengan jumlah penduduk antara 30.000 sampai 50.000 jiwa. Konsep berdasarkan wilayah
kerja ini tetap dipertahankan sampai dengan akhir Pelita II pada tahun 1979 yang lalu,
dan ini yang lebih dikenal dengan Konsep Wilayah.
Sesuai dengan perkembangan dan kemampuan pemerintah dan dikeluarkannya
Inpres Kesehatan Nomor.5 tahun 1974, Nomor.7 tahun 1975 dan Nomor.4 tahun1976,
dan berhasil mendirikan serta menempatkan tenaga dokter di semua wilayah tingkat
Kecamatan di seluruh pelosok tanah air, maka sejak Repelita III konsep wilayah
diperkecil yang mencakup suatu wilayah dengan penduduk sekitar 30.000 jiwa.
Dan sejak tahun 1979 mulai dirinlis pembangunan Puskesmas di daerah-daerah
tingkat Kelurahan atau Desa yang memiliki jumlah penduduk sekitar 30.000 jiwa. Dan
untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang berada di suatu Kecamatan, maka salah
satu Puskesmas tersebut ditunjuk sebagai penanggung jawab dan disebut dengan nama
Puskesmas tingkat Kecamatan atau yang disebut juga Puskesmas Pembina. Dan
Puskesmas yang ada di tingkat Kelurahan alau Desa disebut Puskesmas Kelurahan atau
yang lebih dikenal sebagai Puskesmas Pembantu. Sejak itu Puskesmas dibagi dalam 2
kategori seperti apa yang kita kenal sekarang, yaitu:
1. Puskesmas Kecamatan (Puskesmas Pembina)
2. Puskesmas Kelurahan Desa (Puskesmas Pembantu).

D. Wilayah Kerja Puskesmas


Karakteristik wilayah kerja dibagi menjadi :
1. Pedesaan. Puskesmas kawasan pedesaan adalah puskesmas yang wilayah kerjanya
meliputi kawasan yang memenuhi paling sedikit tiga dari empat kriteria kawasan
pedesaan sebagai berikut : (1) aktivitas lebih dari 50% penduduk pada sektor agragris;
(2) memiliki fasilitas antara lain sekolah dengan radius lebih dari 2 km, rumah sakit
dengan radius lebih dari 5 km, tidak memiliki fasilitas bioskop atau hotel; (3) rumah
tangga dengan listrik kurang dari 90% (4) terdapat akses jalan dan transportasi menuju
fasilitas yang dimaksud pada poin (2)
2. Perkotaan. Puskesmas kawasan perkotaan adalah puskesmas yang wilayah kerjanya
meliputi kawasan yang memenuhi paling sedikit tiga dari empat kriteria kawasan
perkotaan sebagai berikut (1) aktivitas lebih dari 50% penduduk pada sektor non
agragris, terutama industri, perdagangan, dan jasa ; (2) memiliki fasilitas perkotaan
antara lain sekolah dengan radius 2,5 km, pasar radius 2 km, memiliki rumah sakit
dengan radius kurang dari 5 km, bioskop, atau hotel; (3) lebih dari 90% rumah tangga
memiliki listrik; dan/atau; (4) terdapat akses jalan raya dan transportasi menuju
fasilitas perkotaan yang dimaksud pada poin (2)
3. Terpencil/sangat terpencil. Puskesmas di kawasan terpencil/sangat terpencil
merupakan puskesmas yang wilayah kerjanya meliputi kawasan dengan karakteristik
sebagai berikut : (1) berada di wilayah yang sulit dijangkau atau rawan bencana, pulau
kecil, gugus pulau, atau pesisir; (2) akses transportasi umum rutin satu kali dalam satu
minggu, jarak tempuh pulang pergi dari ibu kota kabupaten memerlukan waktu lebih
dari 6 | Data Dasar Puskesmas | 6 jam, dan transportasi yang ada sewaktu-waktu dapat
terhalang iklim atau cuaca; (3) kesulitan pemenuhan bahan pokok dan kondisi
keamanan yang tidak stabil.

E. Struktur Organisasi Puskesmas


Struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban masing-masing
puskesmas. Penyusunan struktur organisasi puskesmas di satu kabupaten/kota dilakukan
oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, sedangkan penetapannya dilakukan dengan
peraturan daerah.
Sebagai acuan dapat dipergunakan pola struktur organisasi puskesmas sebagai
berikut:
1. Kepala Puskesmas.
2. Wakil kepala (disesuaikan beban kerja dan kebutuhan puskesmas dan yang
menetapkan ada atau tidak ada adalah Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota).
3. Unit tata usaha.
4. Unit tata usaha yang bertanggung jawab membantu kepala puskesmas dalam
pengelolaan:
a. Data dan informasi
b. Perencanaan dan penilaian
c. Keuangan
d. Umum dan kepegawaian
5. Unit pelaksana teknis fungsional puskesmas:
a. Upaya kesehatan masyarakat termasuk pembina terhadap UKBM
b. Upaya kesehatan perorangan
6. Jaringan pelayanan puskesmas:
a. Unit puskesmas pembantu
b. Unit puskesmas keliling
c. Unit bidan di desa/komunitas
Tugas struktur organisasi puskesmas:
1. Kepala Puskesmas
Bertugas memimpin, mengawasi, mengkoordinasikan kegiatan puskesmas yang dapat
dilakukan dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional.
2. Wakil Kepala
Bertugas di bidang kepegawaian, keuangan, perlengkapan , surat menyurat serta
pencatatan dan pelaporan.
3. Unit I
Bertugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga berencana dan
perbaikan gizi.
4. Unit II
Melaksanakan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular khususnya
imunisasi, kesehatan lingkungan dan laboratorium sederhana.
5. Unit III
Melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut, kesehatan tenaga kerja dan manula.
6. Unit IV
Melaksanakan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat, kesehatan sekolah dan
olahraga, kesehatan jiwa, kesehatan mata dan kesehatan khusus lainnya.
7. Unit V
Melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengembangan upaya masyarakat dan
penyuluhan kesehatan masyakarat, kesehatan remaja dan dana sehat.
8. Unit VI
Melaksanakan kegiatan rawat jalan dan rawat inap.
9. Unit VII
Melaksanakan kegiatan kefarmasian.

F. Stratifikasi Puskesmas
1. Pengertian
Stratifikasi puskesmas adalah upaya untuk melakukan penilaian prestasi kerja
puskesmas dalam rangka perkembangan fungsi puskesmas sehingga dalam rangka
pelaksanaan fungsi puskesmas dalam dilaksanakan lebih terarah.
2. Tujuan
a. Mendapatkan gambaran secara menyeluruh perkembangan puskesmas dalam
rangka mawas diri.
b. Mendapatkan masukan untuk perencanaan puskesmas dalam waktu mendatang.
c. Mendapatkan informasi tentang masalah dan hambatan pelaksanaan puskesmas
sebagai masukan untuk pembinaan lebih lanjut.
3. Pengelompokan stratifikasi
a. Puskesmas tingkat kecamatan
b. Puskesmas tingkat kelurahan (Puskesmas Pembantu)
c. Unit-unit kesehatan lain
d. Pembinaan peran serta masyarakat
4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup stratifikasi puskesmas dikelompokan dalam 4 aspek yaitu:
a. Hasil kegiatan puskesmas dalam bentuk cakupan dari masing-masing kegiatan
b. Hasil dan cara pelaksanaan manajemen puskesmas
c. Sumber daya yang tersedia di puskesmas
d. Keadaan lingkungan yang mempengaruhi hasil kegiatan puskesmas.
Dalam jangka panjang pola pembinaan melalui stratifikasi puskesmas akan terus
ditingkatkan ruang lingkupnya sehingga meliputi seluruh kegiatan seluruh kegiatan
yang menjadi tanggung jawab puskesmas dalam wilayah kerjanya termasuk kegiatan
dalam membina usaha kesehatan swasta.
5. Area Pembinaan
Berdasarkan hasil pelaksanaan hasil stratifikasi puskesmas ada 3 area yang perlu
dibina yaitu:
a. Sebagai wadah pemberi pelayanan
Pembinaan ini diarahkan terhadap fasilitas fisik, pelaksanaan manajemen dan
kemampuan tenaga kerja
b. Pelaksanaan program-program sektor kesehatan maupun lintas sektoral yang secara
langsung maupun tidak langsung menjadi tanggung jawab puskesmas dalam
pelaksanaan maupun sarana penunjang.
c. Peran serta masyarkat untuk meningkatkan kemapuan hidup sehat dan produktif
Pembinaan kemampuan puskesmas dalam membina peran peran serta masyarakat
di bidang kesehatan perlu ditingkatkan.
6. Pelaksanaan Stratifikasi
a. Mencakup seluruh aspek puskesmas meliputi puskesmas pembantu, puskesmas
keliling, hasil pembinaan peran serta masyarakat misal posyandu
b. Kegiatan stratifikasi mencakup pengumpulan data, pengolahan data, analisa
masalah dan penentuan langkah penanggulangan
c. Melaksankan setahun sekali secara menyeluruh dan serentak di semua puskesmas
dan bertahap sesuai dengan jenjang administrasi sampai ke pusat.
d. Menentukan strata puskesmas dengan pendekatan kuantitatif untuk mengukur
variabel
e. Penentuan waktu kegiatan
7. Tahap-tahap Stratifikasi
a. Tahap I, pendataan dan pemetaan dalam tiga kelompok strata I, II, dan III.
b. Tahap II, analisa hasil pendataan dan pemetaan serta sektor-sektor yang
menghambat dan menunjang.
c. Tahap III, rencana pemecahan masalah pada semua tingkat yaitu rencana kerja atau
rencana pembinaan untuk meningkatkan kemampuan puskesmas berdasar hasil
analisa dan masalah yang dijumpai di semua tingkat.

G. Perencanaan Mikro Puskesmas


1. Pengertian Microplanning
a. Merupakan penyusunan rencana 5 tahunan dengan tahapan tiap-tiap tahun di
tingkat Puskesmas untuk mengembangkan dan membina Posyandu KB Kesehatan
di wilayah kerjanya, berdasarkan masalah yang dihadapi dan kemampuan yang
dimiliki dalam rangka meningkatkan fungsi Puskesmas.
b. Perencanaan Tingkat Puskesmas, bertujuan meningkatkan kemampuan Puskesmas
dalam bidang perencanaan, khususnya berpikir analitik, inisiatif, kreatif dan
inovatif.
c. Lokakarya Mini Puskesmas, bertujuan meningkjatkan kemampuan Puskesmas
dalam menggerakan stafnya dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan.
d. Stratifikasi Puskesmas, bertujuan meningkatkan kemampuan Puskesmas dalam
melakukan pengendalian dan penilaian Puskesmas.
2. Tujuan :
a. Tersusunnya rencana kerja puskesmas selama 5 tahun secara tertulis.
b. Tersusunnya rencana kerja puskesmas tahunan sebagai penjabaran dari rencana
kerja 5 tahunan.
3. Macam Perencanaan Puskesmas
a. Perencanaan Upaya Kesehatan Wajib:Promkes, PL, KIA-KB, Gizi, P2, BP.
b. Perencanaan Upaya Kesehatan Pengembangan:UKS, PKM, UKK, Kesgilut, Keswa,
Mata, Lansia, Batra.
4. Langkah Penyusunan Perencanaan Upaya Kesehatan
a. Menyusun usulan kegiatan:Rincian kegiatan, tujuan, sasaran, volume, waktu,
lokasi, biaya untuk setiap kegiatan.
b. Mengajukan Usulan Kegiatan, ke Dinkes.
c. Menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan (POA).
5. Format Microplanning
a. Pendahuluan
b. Keadaan dan Masalah
c. Tujuan dan Sasaran
d. Pokok kegiatan dan Tahapan pelaksanaan tahunannya
e. Penyusunan kebutuhan sumber daya
f. Pemantauan dan Penilaian
g. Penutup
6. Langah-langkah Penyusunan
a. Identifikasi keadaan dan masalah, kegiatan yang yang dilakukan dalam tahap ini :
1) Mengetahui kebijakan yang telah ditetapkan baik oleh pusat maupun daerah.
2) Pengumpulan data yang mencakup :
a) Data umum
b) Data wilayah
c) Data penduduk
d) Sumber daya puskesmas sarana dan prasarana fisik tenaga dana dan sumber
daya masyarakat
e) Data status kesehatan
f) Data cakupan program
3) Analisa Data
a) Analisa derajat kesehatan ; dimana, kapan, jumlah, adanya masalah.
b) Analisa kependudukan (demografi penduduk)
c) Analisa pelayanan kesehatan (input, proses, out put)
d) Analisa perilaku : menggambarkan tentang sikap dan perilaku.
4) Perumusan Masalah, mengidentifikasi masalah yang dihadapi kemudian
ditetapkan dan disepakati mrupakan sebagai masalah pada masyarakat.
5) Penentuan prioritas masalah dengan system:
a) Delbecq : secara musyawarah antar peserta / anggota puskesmas dengan
saran dan nara sumber.
b) Hanlon : semua anggota bisa menyampaikan pendapat dengan cara
memberikan nilai atau skor terhadap masalah.
b. Penyusunan Rencana
Perencanaan yang disusun berdasarkan preoritaas masalah yang disusun secara
sistematis dengan urutan sebagai berikut :
1) Perumusan tujuan dan sasaran
2) Perumusan kebijakan dan langkah-langkah
3) Perumusan kegiatan
4) Perumusan sumber daya.
a) Penyusunan Rencana Pelaksanaan (Plan of Action)
Penjadwalan meliputi :
(1) Penentuan waktu
(2) Penentuan lokasi dan sasaran
(3) Pengorganisasian
b) Pengalokasian sumber daya meliputi:
(1)Dana : sumber dana (besarnya), dan pemaanfaatannya
(2)Jenis dan jumlah sarana yang dipergunakan
(3)Jumlah tenaga yang diperlukan
c) Pelaksanaan kegiatan yang meliputi :
(1)Persiapan
(2)Penggerakan dan pelaksanaan
(3)Pengawasan, pengendalian, dan penilaian.

H. Lokakarya Mini Puskesmas


Lokakarya mini Pusksmas adalah upaya untuk menngalang kerja sama tim untuk
penggerakan dan pelaksanaan upaya kesehatan Puskesmas sesuai dengan perencanaan
yang telah disusun dari tiap-tiap upaya kesehatan pokok Puskesmas, sehingga dapat
dihindarkan terjadinya tumpang tindih dalam pelaksanaan kegiatannya.
1. Lokakarya Mini Bulanan
a. Pengertian
Pertemuan yang diselenggarakan setiap bulan di Puskesmas yang dihadiri oleh
seluruh staff di Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa serta dipimpin
oleh Kepala Puskesmas.
b. Proses penggalangan kerjasama tim Puskesmas dengan pendekatan system:
1) Masukan
a) Laporan hasil kegiatan bulan lalu.
b) Informasi: hasil rapat dinas kab /kota, rapat kecamatan, kebijakan, program
dan konsep baru.
2) Proses
a) Analisis hambatan dan masalah, Analisis sebab masalah.
b) Merumuskan alternatif pemecahan masalah.
3) Keluaran
Rencana kerja bulan yang baru.
2. Lokakarya Mini Tribulanan
a. Pengertian
Pertemuan yang diselenggarakan setiap 3 bulan sekali di Puskesmas yang dihadiri
oleh instansi lintas sektor tingkat kecamatan, Badan Penyantun Puskesmas (BPP),
staf Puskesmas dan jaringannya, serta dipimpin oleh camat.
b. Proses penggalangan kerjasama tim lintas Sektor Puskesmas dengan pendekatan
system:
1) Masukan
a) Laporan pelaksanaan program kesehatan dan dukungan sektor terkait
b) Inventarisasi masalah/hambatan dari masingmasing sektor dalam pelaksanaan
program kesehatan
c) Pemberian informasi baru
2) Proses
a) Analisis hambatan dan masalah pelaksanaan program kesehatan
b) Analisis hambatan dan masalah dukungan dari masing-masing sector
c) Merumuskan cara penyelesaian masalah
3) Keluaran
a) Rencana kerja tribulan yang baru
b) Kesepakatan bersama (untuk hal-hal yang dipandang perlu).

I. Supervisi Puskesmas
Supervisi Puskesmas adalah upaya pengarahan dengan cara mendengarkan alasan
dan keluhan tentang masalah dalam pelaksanaan dan memberikan petunjuk serta saran-
saran dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi pelaksana, sehingga meningkatkan
daya guna dan hasil guna serta kemampuan pelaksana dalam melaksanakan upaya
kesehatan Puskesmas.
1. Tujuan Umum
Terselenggaranya program upaya kesehatan Puskesmas secara berhasil dan
berdaya guna.
2. Tujuan Khusus
a. Terselenggaranya program upaya kesehatan Puskesmas sesuai dengan pedoman
pelaksanaan.
b. Kekeliruan dan penyimpangan dalam pelaksanaan dapat diluruskan kembali.
c. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
d. Meningkatnya hasil pencapaian pelayanan kesehatan.
3. Ruang Lingkup
a. Mencakup bimbingan di tingkat Puskesmas oleh Kepala Puskesmas kepada para
pelaksana kegiatan di wilayah kerjanya. Bimbingan mencakup:
1) Masukan (input)
a) Sarana dan prasarana
b) Anggaran
c) Ketenagaan
d) Perlengkapan administrasi
2) Proses ‘
Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan pedoman kerja.
3) Keluaran (output)
Hasil kegiatan yang berupa cakupan pelayanan.

b. Supervisi dilaksanakan terhadap tenaga teknis dan tenaga masyarakat, dalam


bentuk:
1) Pertemuan di dalam Puskesmas
Pembimbingan yang dilakukan menyangkut kegiatan teknis maupun
administrasi dan penambahan pengetahuan.
2) Kunjungan lapangan yang dilakukan terhadap:
a) Petugas kesehatan termasuk Bidan Desa
b) Kader kesehatan
c) Sarana pelayanan (Puskesmas pembantu, Posyandu)
3) Pelaksanaan pembimbingan:
a) Dokter Puskesmas
b) Staf Puskesmas
4) Sasaran pembinaan:
a) Staf Puskesmas sebagai pelaksana kegiatan lapangan
b) Tenaga sukarela (kader, dasa wisma)
5) Waktu pelaksanaan
a) Terhadap staf pelaksana Puskesmas dilaksanakan minimal satu bulan sekali,
atau sewaktu-waktu jika ada masalah.
b) Tenaga desa (kader kesehatan, dasa wisma) minimal sebulan sekali, atau
sesuai dengan kesepakatan bersama.
c) Bimbingan terhadap posyandu minimal 3 bulan sekali.
d) Melalui laporan tertulis mengenai pelaksanaan kegiatan dari pelaksana.
Biasanya paling lambat 1 minggu setelah kegiatan.
e) Format bimbingan yang digunakan sesuai dengan pedoman yang ada yang
telah diterbitkan oleh Departemen Kesehatan.

J. Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas


1. Pengertian Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas adalah kegiatan pencatatan
dan pelaporan data umum, sarana, tenaga dan upaya pelayanan kesehatan di
Puskesmas yang ditetapkan melalui SK MENKES/SK/II/1981. Data SP2PT berupa
Umum dan demografi, Ketenagaan, Sarana, Kegiatan pokok Puskesmas.
Menurut Yusran (2008) Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas
(SP2TP) merupakan kegiatan pencatatan dan pelaporan puskesmas secara menyeluruh
(terpadu) dengan konsep wilayah kerja puskesmas. Sistem pelaporan ini ini diharapkan
mampu memberikan informasi baik bagi puskesmas maupun untuk jenjang
administrasi yang lebih tinggi, guna mendukung manajemen kesehatan. (Tiara, 2011).
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas merupakan sumber
pengumpulan data dan informasi ditingkat puskesmas. Segala data dan informasi baik
faktor utama dan tenaga pendukung lain yang menyangkut puskesmas untuk dikirim
ke pusat serta sebagai bahan laporan untuk kebutuhan. Menurut Bukhari Lapau (1989)
data yang dikumpul oleh puskesmas dan dirangkum kelengkapan dan kebenaranya.
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) ialah laporan yang
dibuat semua puskesmas pembantu, posyandu, puskesmas keliling bidan-bidan desa
dan lain-lain yang termasuk dalam wilayah kerja puskesmas. Pencatatan dan pelaporan
mencangkup: b.1: Data umum dan demografi wilayah kerja puskesmas, b.2: Data
ketenagaan puskesmas, dan b.3: Data sarana yang dimiliki puskesmas (Syaer, 2011).
2. Tujuan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)
Tujuan SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas) adalah
agar semua data hasil kegiatan Puskesmas dapat dicatat serta dilaporkan ke jenjang
diatasnya sesuai kebutuhan secara benar, berkala dan teratur, guna menunjang
pengelolaan upaya kesehatan masyarakat.

a. Tujuan Umum
Meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas secara lebih berhasil guna dan
berdaya guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain
yang menunjang.
b. Tujuan Khusus
1) Sebagai dasar penyusunan perencanaan tingkat Puskesmas.
2) Sebagai dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas
(Lokakarya mini).
3) Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas.
4) Untuk mengatasi berbagai kegiatan hambatan pelaksanaan kegiatan pokok
puskesmas.
3. Jenis Pencatatan Terpadu Puskesmas
Pencatatan kegiatan harian progam puskesmas dapat dilakukan di dalam dan di
luar gedung.
a. Pencatatan yang dibuat di dalam gedung Puskesmas
Pencatatan yang dibuat di dalam gedung Puskesmas adalah semua data yang
diperoleh dari pencatatan kegiatan harian progam yang dilakukan dalam gedung
puskesmas seperti tekanan darah, laboratorium, KB dan lain-lain. Pencatatan dan
pelaporan ini menggunakan: family folder, kartu indek penyakit, buku register dan
sensus harian.
b. Pencatatan yang dibuat di luar gedung Puskesmas
Pencatatan yang dibuat di luar gedung Puskesmas adalah data yang dibuat
berdasarkan catatan harian yang dilaksanakan diluar gedung Puskesmas seperti
Kegiatan progam yandu, kesehatan lingkungan, UKS, dan lain-lain. Pencatatan dan
Pelaporan ini menggunakan kartu register dan kartu murid.
Pencatatan harian masing-masing progam Puskesmas dikombinasi menjadi laporan
terpadu puskesmas atau yang disebut dengan system pencatatan dan pelaporan
terpadu Puskesmas (SP2TP). SP2TP ini dikirim ke Dinas Kesehatan Kabupaten
atau kota setiap awal bulan, kemudian ke Dinas Kesehatan Kabupaten atau kota
mengolahnya dan mengirimkan umpan baliknya ke Dinas Kesehatan Provinsi dan
Departemen Kesehatan Pusat. Umpan balik tersebut harus dikirimkankembali
secara rutin ke Puskesmas untuk dapat dijadikan evaluasi keberhasilan progam.
Namun sejak otonomi daerah dilaksanakan puskesmas tidak punya kewajiban lagi
mengirimkan laporan ke Departemen Kesehatan Pusat tetapi dinkes kabupaten/kota
lah yang berkewajiban menyampaikan laporan rutinnya ke Departemen Kesehatan
Pusat.
4. Jenis Pelaporan Terpadu Puskesmas
Ada beberapa jenis laporan yang dibuat oleh Puskesmas antara lain:
a. Laporan harian untuk melaporkan kejadian luar biasa penyakit tertentu.
b. Laporan mingguan untuk melaporkan kegiatan penyakit yang sedang ditanggulangi.
c. Laporan bulanan untuk melaporkan kegiatan rutin progam. Laporan jenis ini ada 4
jenis yaitu:
1) LB1, berisi data kesakitan.
2) LB2, berisi data kematian.
3) LB3, berisi data progam gizi, KIA, KB, dll.
4) LB4, berisi data obat-obatan.
Bentuk Formulir Pelaporan :
a. Formulir LB : untuk data kesakitan dan obat dengan LPLPO.
b. Formulir LT : untuk data kegiatan.
c. Formulir LS : untuk data sarana, kegiatan dan kematian.
d. LB1: laporan data kesakitan
1) Kasus lama
2) Kasus baru
e. LB2 : laporan data kematian (tidak dipakai)
1) laporan obat-obatan (LPLPO)
f. LB3
1) Gizi
2) KB
3) Imunisasi
4) KIA
5) Pengamatan Penyakit Menular, seperti : diare, malaria, DBD, TB Paru, Kusta,
Filaria, ISPA, Rabies dan lain-lain.
g. LB4
1) Kunjungan Puskesmas
2) Kehatan Olahraga
3) Kesehatan Sekolah
4) Rawat Tinggal, dll.
h. LT: laporan kegiatan Puskesmas (tribulan)
1) LT 1
• Keadaan sarana Puskesmas
• Dasar UKS
• Kesehatan Lingkungan
• Kesehatan Jiwa
• Program Pendidikan dan Pelatihan
• Program Pemberantasan Penyakit dan Gizi
2) LT 2 (kepegawaian)
• Tenaga PNS di Puskesmas
• Tenaga PTT di Puskesmas
• Tenaga PNS di Puskesmas Pembantu
3) LT 3 (peralatan)
• Linen
• Peralatan Laboratorium
• Peralatan untuk Kesehatan Gigi
• Peralatan untuk Penyuluhan
• Peralatan untuk Tindakan Medis dan Non Medis
i. Laporan data dasar Puskesmas
1) LSD1: data kependudukan, fasilitas pendidikan, kesehatan, lingkungan dan
peran serta.
2) LSD2: ketenagaan Puskesmas dan Puskesma Pembantu
3) LSD3: peralatan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu.
Ada juga jenis laporan lain seperti laporan triwulan,laporan semester dan laporan
tahunan yang mencakup data kegiatan progam yang sifatnya lebih komprehensif
disertai penjelasan secara naratif. Yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan
semua jenis data yang telah dibuat dalam laporan sebagai masukan atau input untuk
menyusun perencanaan puskesmas (micro planning) dan lokakarya mini puskesmas
(LKMP).
Analisis data hasil kegiatan progam puskesmas akan diolah dengan menggunakan
statistic sederhana dan distribusi masalah dianalisis menggunakan pendekatan
epidemiologis deskriptif. Data tersebut akan disusun dalam bentuk table dan grafik
informasi kesehatan dan digunakan sebagai masukkan untuk perencanaan
pengembangan progam puskesmas. Data yang digunakan dapat bersumber dari
pencatatan masing-masing kegiatan progam kemudian data dari pimpinan puskesmas
yang merupakan hasil supervisi lapangan.
5. Prosedur Pengisian Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)
Prosedur pengisian SP2TP, yaitu:
a. Formulir SP2TP mengacu pada formulir cetakan 2006 baik bulanan maupun
tahunan.
b. Pada formulir SP2TP diisi oleh masing-masing penanggung jawab program.
c. Penanggung jawab program bertangung jawab penuh terhadap kebenaran data yang
ada.
d. Hasil akhir pengisian data di ketahui oleh kepala puskesmas.
e. Didalam pengentrian ke komputer dapat dilakukan oleh petugas yang ditunjuk atau
staf pengelola program bersangkutan.
f. Data pada formulir SP2TP agar diarsipkan sebagai bukti didalam
pertangungjawaban akhir minimal 2 tahun.
g. Semua data diisi berdasarkan kegiatan yang dilakukan oleh puskesmas.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pengertian Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah salah satu sarana pelayanan
kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia. Puskesmas adalah unit
pelaksana teknis dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan
pembangunan kesehatan di suatau wilayah kerja (Depkes, 2011).
2. Fungsi Puskesmas
Menurut Mubarak (2014) ada 3 fungsi puskesmas, yaitu :
a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan puskesmas.
b. Pusat pemberdayaan masyarakat.
c. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
3. Sejarah Puskesmas
Di Indonesia Puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan
tingkatpertama, Konsep Puskesmas dilahirkan tahun 1968 ketika dilangsungkan Rapat
Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) I di Jakarta.
4. Wilayah Kerja Puskesmas
Wilayah kerja Puskesmas bisa kecamatan, faktor kepadatan penduduk, luas daerah,
keadaan geografik, dan keadaan infrastrukur lainnya merupakan bahan pertimbangan
dalam menentukan wilayah kerja puskesmas.
5. Struktur Organisasi Puskesmas
Dalam melaksanakan tugasnya puskesmas wajib menetapkan prinsip koordinasi,
integrasi dan sinkronisasi baik dalam lingkungan puskesmasnya maupun dalam sauna
organisasi di luar puskesmas sesuai dengan tugasnya masing-masing.
6. Stratifikasi Puskesmas
Stratifikasi puskesmas adalah upaya untuk melakukan penilaian prestasi kerja
puskesmas dalam rangka perkembangan fungsi puskesmas sehingga dalam rangka
pelaksanaan fungsi puskesmas dalam dilaksanakan lebih terarah.
7. Perencanaan Mikro Puskesmas
Perencana mikro tingkat puskesmas adalah penyusunan rencana tingkat puskesmas
untuk 5 tahun, termasuk rincian tiap tahunnya.
8. Lokakarya Mini Puskesmas
Lokakarya mini Pusksmas adalah upaya untuk menngalang kerja sama tim untuk
penggerakan dan pelaksanaan upaya kesehatan Puskesmas sesuai dengan perencanaan
yang telah disusun dari tiap-tiap upaya kesehatan pokok Puskesmas, sehingga dapat
dihindarkan terjadinya tumpang tindih dalam pelaksanaan kegiatannya.
9. Supervisi Puskesmas
Supervisi Puskesmas adalah upaya pengarahan dengan cara mendengarkan alasan dan
keluhan tentang masalah dalam pelaksanaan dan memberikan petunjuk serta saran-
saran dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi pelaksana, sehingga
meningkatkan daya guna dan hasil guna serta kemampuan pelaksana dalam
melaksanakan upaya kesehatan Puskesmas.
10. Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas
Yakni tata cara pencatatan dan pelaporan yang lengkap untuk pengelolaan
puskesmas, meliputi keadaan fisik, tenaga sarana dan kegiatan pokok yang dilakukan
serta hasil yang telah dicapai oleh puskesmas.

B. Saran
Sebagai tenaga kesehatan seharusnya kita lebih mendalami fungsi puskesmas, karena
puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang paling dekat dengan masyrakat.
Selayaknya kita sebagai tenaga kesehatan turut mengembangkan program-program yang
ada di puskesmas, sehingga kita dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada klien.
DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kesehatan DIY. 2013. Materi Peningkatan Kapasitas Tehnis Manajemen Puskesmas Bagi
Tim Puskemas. Yogyakarta
Efendi, Nasrul. 1998. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC.
Entjang, Indan. 2000. ILMU KESEHATAN MASYARAKAT. Bandung : Citra Aditya Bakti.

https://www.kajianpustaka.com/2015/07/pengertian-fungsi-kegiatan-pokok.html?m=1

https://id.scribd.com/doc/133831183/sejarah-perkembangan-puskesmas

Mubarak,Wahit Iqbal. 2014. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Salemba Medika.


Putu Sudayasa.2010.berbagi info tentang puskesmas. http//www.puskel.com