Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

ASKEB BAYI, BALITA DAN ANAK USIA PRA SEKOLAH


“KEJANG PADA ANAK”
DOSEN : JUNERIS ARITONANG, SST, M.Keb

Disusun Oleh
1) Alvina Hasanah
2) Asnah
3) Deliana Susanti
4) Dewi Anita
5) Eka Harianti
6) Herlinda
7) Kartika
8) Mawaddah
9) Nurhayati
10) Riski Via Rahmadani
11) Roselina Situmorang
12) Rosita Silitonga
13) Sepriani
14) Siri Maryam
15) Zulfa Hanum

FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN


PRODI S1 PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di
akhirat nanti.
Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga kami mampu
untuk menyelesaikan pembuatan makalah Yang berjudul “Kejang Pada Anak”.
Kami tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
kami mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Medan, Desember 2019


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
A. Pengertian Kejang Pada Anak .............................................................1
B. Etiologi .................................................................................................1
C. Patofisiologis ........................................................................................2
D. Tanda Gejala Klinis ..............................................................................3
E. Penanganan ...........................................................................................4
F. Pencegahan ...........................................................................................7
G. Asuhan Kebidanan ...............................................................................9
H. Peraturan Perundang Undangan ..........................................................13
I. Kesimpulan..........................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA
KEJANG PADA ANAK

A. Defenisi

Kejang merupakan gangguan sepintas fungsi otak yang bermanifestasi


sebagai cedera episodik pada kesadaran yang berkaitan dengan Definisi : kegiatan
motorik atau otonom. Kejang adalah episode kehilangan kesadaran yang
berhubungan dengan kegiatan motorik atau sistem otonom abnormal.

Kejang Demam adalah terjadinya peristiwa kejang pada anak setelah usia
satu bulan, terkait dengan penyakit demam, tidak disebabkan oleh infeksi pada
sistem saraf pusat, tanpa kejang neonatal sebelumnya atau kejang neonatal tanpa
alasan sebelumnya dan tidak memenuhi kriteria untuk gejala kejang akut lainnya.

B. Etiologi
Penyebab kejang demam hingga saat ini belum diketahui dengan pasti.
Kejang demam tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi dikarenakan pada suhu
yang tidak terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kejang. Kondisi yang dapat
menyebabkan kejang demam diantaranya adalah infeksi yang mengenai jaringan
ekstrakranial seperti otitis media akut, bronkitis dan tonsilitis. sedangkan Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI) (2013), menjelaskan bahwa penyebab terjadinya
kejang demam antara lain obat-obatan, ketidak seimbangan kimiawi seperti
hiperkalemia, hipoglikemia, asidosis, demam, patologis otak dan eklamsia (ibu
yang mengalami hipertensi prenatal, toksimea gravidarum). Selain penyebab
kejang demam menurut data profil kesehatan Indonesia (2012) yaitu didapatkan
10 penyakit yang sering rawat inap di Rumah Sakit diantaranya adalah diare dan
penyakit gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu, demam berdarah dengue,
demam tifoid dan paratifoid, penyulit kehamilan, dispepsia, hipertensi esensial,
cidera intrakranial, indeksi saluran pernafasan atas dan pneumonia.
Kejang pada neonatus dan anak bukanlah suatu penyakit, namun merupakan
suatu gejala penting akan adanya penyakit lain sebagai penyebab kejang atau
adanya kelainan susunan saraf pusat. Penyebab utama kejang adalah kelainan
bawaan di otak sedangkan penyebab sekundernya adalah gangguan metabolik atau
penyakit lain seperti penyakit infeksi. Negara berkembang, kejang pada neonatus
dan anak sering disebabkan oleh tetanus neonatus, sepsis, meningitis, ensefalitis,
perdarahan otak dan cacat bawaan. Penyebab kejang pada neontaus, baik primer
maupun sekunder umumnya berkaitan erat dengan kondisi bayi didalam
kandungan dan saat proses persalinan serta masamasa bayi baru lahir. Menurut
penelitian yang dilakukan diIran, penyebab kejang demam dikarena infeksi virus
dan bakteri .
C. Patofisiologis
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak diperlukan
energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak
terpenting adalah glukosa. Sifat proses ini adalah oksidasi dengan perantara fungsi
paru-paru dan diteruskan ke otak melalui kardiovaskular. Dari uraian tersebut
dapat diketahui bahwa sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses
oksidasi dipercah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri
dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam
keadaan normal membran sel neoron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium
dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium dan elektrolit lainnya kecuali ion klorida.
Akibatnya konsentrasi kalium dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi natrium
rendah, sedangkan di luar sel terdapat keadaan sebaliknya. Pada keadaan demam
kenaikan suhu 1 derajat Celcius akan mengakibatkan kenaikan 13 metabolisme
basar 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak
berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan
dengan orang dewasa yang hanya 15%. Oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh
dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang
singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran
tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini
demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel
sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadi
kejang.
Faktor genetik merupakan peran utama dalam ketentanan kejang dan
dipengaruhi oleh usia dan metoritas otak. Kejang demam yang berlangsung lebih
dari 15 menit biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan
akhirnya terjadi hipoksemia., hiperkapnia, asidodosis laktat disebabkan oleh
matabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak
teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan makin meningkatnya
aktivitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otot meningkat. Hal ini
mengakibatkan terjadinya kerusakan pada neuron dan terdapat gangguan
perederan darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggalkan
permeabilitas kapiler dan timbul edema otak. Kerusakan pada daerah medial lobus
temporalis setelah mendapatkan serangan kejang sedang berlangsung lama di
kemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Karena itu kejang
demam yang berlansung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak
hingga terjadi epilepsi.

D. Tanda gejala klinis


Kejang demam ditandai oleh terjadinya kejang saat demam. Gejala kejang
demam adalah hentakan pada tungkai dan lengan yang berulang (kelojotan), mata
mendelik ke atas, dan anak kehilangan kesadaran. Kejang demam biasanya terjadi
kurang dari 2 menit. Namun pada beberapa kasus, kejang demam dapat terjadi
hingga 15 menit. Anak yang mengalami kejang demam akan langsung sadar
setelah kejang reda, walaupun tampak bingung atau lelah. Biasanya kejang juga
tidak berulang dalam kurun waktu 24 jam. Kejang demam seperti ini disebut
kejang demam sederhana. Jika kejang terjadi lebih dari 15 menit, atau terjadi lebih
dari sekali selama kurun 24 jam, kejang demam tersebut dapat digolongkan
sebagai kejang demam kompleks. Kejang yang muncul pada kejang demam
kompleks juga bisa terjadi hanya pada salah satu bagian tubuh. Anak yang pernah
mengalami kejang demam berisiko untuk mengalaminya lagi ketika demam,
terutama bila usia anak masih di bawah 15 bulan.
E. Penanganan
1. Penanganan Secara Umum
a) Tetap tenang dan jangan panik
Panik merupakan tingkatan ansietas yang paling berat. Ansiteas itu sendiri
merupakan suatu respon emosi seseorang yang berhubungan dengan sesuatu yang
tidak biasa terjadi pada dirinya dan suatu mekanisme diri yang digunakan dalam
mengatasi permasalahan yang ada pada dirinya. Ketika seseorang sudah berada
pada tingkatan ansietas panik, maka respon yang terjadi pada tubuh akan berubah.
Seperti pada respons kognitif dan respons perilaku dan emosinya. Ketika
seseorang panik maka beberapa respons kognitifnya diantaranya tidak dapat
berpikir logis, gangguan realitas, ketidakmampuan memahami suatu hal.
Sedangkan respons perilaku dan emosi diantaranya ketakutan dan kehilangan
kendali/kontrol.
Dari penjelasan seperti diatas, jika ibu panik pada saat anaknya sedang
mengalami kejang demam maka ditakutkan ibu tidak dapat berrpikir jernih dan
melakukan tindakan yang justru tidak baik jika dilakukan. Seperti ibu langsung
memberikan obat melalui mulut karena sangan khawatir kepada anak. Hal yang
terjadi yaitu dengan menaruh anaknya di tanah karena budaya yang ada di sekitar.
Seorang ibu, jika anaknya mendadak mengalami kejang akan sangat wajar
merasa khawatir dan panik. Namun, rasa panik tersebut harus bisa segera
dikendalikan. Beberapa cara yang dapat dilakukan supaya tidak panik yaitu
dengan meminta bantuan pada orang lain. Dalam hal ini, ibu bisa meminta
bantuan pada keluarganya (suami, orang tua, atau saudara dan tetangganya yang
dekat). Mencari lebih banyak informasi terkait penanganannya akan lebih
membuat tenang. Bisa meminta informasi pada orang-orang yang dekat
dengannya. Yang terakhir meluruskan pikiran/persepsi. Cobalah tenang supaya
pikiran bisa jernih kembali. Bisa dengan cara menarik nafas panjang dan
hembusakan pelan-pelan melalui mulut.
b) Segera bawa ke Rumah Sakit
Jika kejang sudah berhenti dan anak sudah pulih seperti semula, bawa anak
ke dokter untuk mengobati penyebab demamnya. Terlebih lagi jika anak juga
mengalami kaku leher, muntah hebat, dan terus lemas. Jika kejang terus berlanjut
hingga >10 menit, jangan menunggu kejang berrhenti segera bawa anak ke dokter
terdekat.
2. Penanganan dalam Pengaturan Suhu
a) Monitoring suhu dan menurunkannya
Pantau dan ukurlah suhu tubuh anak pada saat kejang. Karena, hal ini bisa
menjadi pegangan orang tua untuk mengetahui pada suhu berapa anak akan
mengalami kejang. Sehingga, ibu dapat mencegah terjadinya serangan kejang
yang berikutnya. Setelah anak sudah sadar dan tidak kejang, lakukanlah kompres
hangat unuk menurunkan suhu tubuh klien. Ibu juga dapat memberikan obat
penurun panas jika anak sudah benarbenar sadar melalui mulut. Penurun panas
melalui anus dapat diberikan pada saat anak kejang. Terus pantau suhu tubuh anak
dan bawa anak ke tenaga kesehatan terdeka.
3. Penanganan dalam Pengaturan Posisi
a) Tempatkan anak di tempat yang datar dan di bawah Anak yang sedang
mengalami kejang, maka akan melakukan gerakan-gerakan yang tidak
terkontrol. Jika anak ditempatkan di tempat yang tinggi dan tidak diawasi,
maka anak dapat jatuh. Maka, tempatkan anak di tempat yang datar dan di
bawah untuk mencegah terjadinya luka/cedera akibat jatuh.
b) Jangan mengekang pergerakan anak saat kejang Salah satu gejala kejang
demam yaitu gerakan anak yang tidak terkontrol. Jika pergerakan yang tidak
terkontrol tersebut ditahan/dikekang, maka pergerakan tersebut tidak akan
berhenti. Sebaliknya, justru dapat membuat anak cedera/patah tulang.
Menggendong anak dengan kain juga dapat mengekang pergerakan anak.
c) Singkirkan benda tajam dari sekeliling anak Kejang akan membuat gerakan-
gerakan anak tidak terkontrol. Gerakan tidak terkontrol tersebut
memungkinkan anak untuk membentur atau menyentuh benda-benda yang ada
disekitar anak. jika benda tersebut lunak maka tidak masalah, namun jika
benda yang terbentur atau terrsentuh adalah keras/ tajam maka memungkinkan
terjadi cedera. Oleh karena itu, segera pindahkan benda-benda keras atau tajam
yang bisa menyebabkan cedera pada anak selama kejang berlangsung.

4. Penanganan dalam menjaga kepatenan jalan nafas


a) Jangan menaruh/menempatkan apapun dalam mulutnya Jangan berusaha untuk
membuka rahang yang terkatup pada keadaan kejang untuk memasukkan
sesuatu. Hal ini dapat membuat gigi patah dan cedera pada bibir dan lidah.
Selain itu, juga dilarang untuk memasukkan sendok, kayu, jari, atau benda
yang lain ke dalam mulut, karena dapat beresiko menyebabkan sumbatan jalan
nafas.
b) Miringkan kepala anak dengan hati-hati Karena tidak sadarkan diri, anak yang
mengalami kejang demam maka berkemungkinan akan tersedak ludahnya
sendiri dan muntah. Tersedak dan muntah dapat menyebabkan pernafasan anak
terganggu. Padahal, anak yang mengalami kejang demam membutuhkan
pasokan O2 yang lancar supaya bisa sampai ke otak. Untuk tesedak ludahnya
sendiri dan muntah, maka ibu dapat memiringkan kepala anak. hal ini
dilakukan agar jika anak muntah, maka muntahannya dapat keluar sendiri dari
mulutnya dan juga dapat mencegah terjadinya tersedak serta mencegah
terjadinya lidah jatuh yang dapat menghambat pernafasan anak.
c) Memastikan pernapasan anak lancar Anak yang mengalami kejang demam
harus mendapatkan pasokan oksigen yang lancar dan cukup. Jika pernafasan
terganggu, maka pasokan oksigen ke dalam tubuh khususnya otak juga akan
terganggu. Untuk melancarkan jalan nafas anak, maka longgarkan baju anak
yang terpakai dengan ketat. Selain itu, keluarkan makanan/ apapun yang ada di
dalam mulut anak supaya tidak mengganggu perrnafasan.
d) Jangan berikan makanan atau obat lewat mulut saat anak kejang demam
Memberikan obat melaui mulut tidak membantu anak melewati masa
kejangnya. Ketika anak yang sedang kejang diberikan obat melalui mulut,
justru dapat menyebabkan anak tersedak. Karena pada saat anak mengalami
kejang demam, anak akan tidak sadarkan diri dan tidak dapat diberikan
instruksi untuk menelan.
F. Pencegahan kejang pada anak
1. Pencegahan Primordial
Yaitu upaya pencegahan munculnya faktor predisposisi terhadap kasus
kejang demam pada seorang anak dimana belum tampak adanya faktor yang
menjadi risiko kejang demam. Upaya primordial dapat berupa:
a. Penyuluhan kepada ibu yang memiliki bayi atau anak tentang upaya untuk
meningkatkan status gizi anak, dengan cara memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Jika status gizi anak baik maka akan meningkatkan daya tahan tubuhnya
sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit infeksi yang memicu
terjadinya demam.
b. Menjaga sanitasi dan kebersihan lingkungan. Jika lingkungan bersih dan sehat
akan sulit bagi agent penyakit untuk berkembang biak sehingga anak dapat
terhindar dari berbagai penyakit infeksi.
2. Pencegahan Primer
Pencegahan Primer yaitu upaya awal pencegahan sebelum seseorang anak
mengalami kejang demam. Pencegahan ini ditujukan kepada kelompok yang
mempunyai faktor risiko. Dengan adanya pencegahan ini diharapkan
keluarga/orang terdekat dengan anak dapat mencegah terjadinya serangan kejang
demam.
Upaya pencegahan ini dilakukan ketika anak mengalami demam. Demam
merupakan faktor pencetus terjadinya kejang demam. Jika anak mengalami
demam segera kompres anak dengan air hangat dan berikan antipiretik untuk
menurunkan demamnya meskipun tidak ditemukan bukti bahwa pemberian
antipiretik dapat mengurangi risiko terjadinya kejang demam.

3. Pencegahan Sekunder
Yaitu upaya pencegahan yang dilakukan ketika anak sudah mengalami
kejang demam. Adapun tata laksana dalam penanganan kejang demam pada anak
meliputi :
 Pengobatan Fase Akut
Anak yang sedang mengalami kejang, prioritas utama adalah menjaga agar
jalan nafas tetap terbuka. Pakaian dilonggarkan, posisi anak dimiringkan untuk
mencegah aspirasi. Sebagian besar kasus kejang berhenti sendiri, tetapi dapat juga
berlangsung terus atau berulang. Pengisapan lendir dan pemberian oksigen harus
dilakukan teratur, bila perlu dilakukan intubasi. Keadaan dan kebutuhan cairan,
kalori dan elektrolit harus diperhatikan. Suhu tubuh dapat diturunkan dengan
kompres air hangat dan pemberian antipiretik. Pemberantasan kejang dilakukan
dengan cara memberikan obat antikejang kepada penderita. Obat yang diberikan
adalah diazepam. Dapat diberikan melalui intravena maupun rektal.
 Mencari dan mengobati penyebab
Pada anak, demam sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan akut,
otitis media, bronkitis, infeksi saluran kemih, dan lain-lain. Untuk mengobati
penyakit infeksi tersebut diberikan antibiotik yang adekuat. Kejang dengan suhu
Universitas Sumatera Utara badan yang tinggi juga dapat terjadi karena faktor
lain, seperti meningitis atau ensefalitis. Oleh sebab itu pemeriksaan cairan
serebrospinal (lumbal pungsi) diindikasikan pada anak penderita kejang demam
berusia kurang dari 2 tahun. Pemeriksaan laboratorium lain dilakukan atas
indikasi untuk mencari penyebab, seperti pemeriksaan darah rutin, kadar gula
darah dan elektrolit. Pemeriksaan EEG dilakukan pada kejang demam kompleks
atau anak yang mempunyai risiko untuk mengalami epilepsi.
4. Pencegahan Tersier
Tujuan utama dari pencegahan tersier adalah mencegah terjadinya
kecacatan, kematian, serta usaha rehabilitasi. Penderita kejang demam mempunyai
risiko untuk mengalami kematian meskipun kemungkinannya sangat kecil. Selain
itu, jika penderita kejang demam kompleks tidak segera mendapat penanganan
yang tepat dan cepat akan berakibat pada kerusakan sel saraf (neuron). Oleh
karena itu, anak yang menderita kejang demam perlu mendapat penanganan yang
adekuat dari petugas kesehatan guna mencegah timbulnya kecacatan bahkan
kematian.
G. Asuhan Kebidanan Kejang Pada Anak
a. Pengkajian data
Merupakan langkah awal dan dasar dalam asuhan kebidanan secara
keseluruhan. Pada tahap ini semua data awal informasi pasien yang dibutuhkan
dan dikumpulkan untuk menentukan masalah kesehatan. Kebutuhan kesehatan
klien baik mental, sosial dan lingkungan pada pengkajian meliputi :
 Data subyektif
Data subyektif adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung
kepada klien, adapun data-datanya antara lain :
 Biodata
Yang terdiri dari nama, umur, suku/bangsa, agama, jenis kelamin, alamat.
Biodata orangtua meliputi nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan,
pekerjaan, penghasilan, alamat. Maksud dari biodata tersebut adalah
untuk identifikasi penderita dan menentukan status sosial ekonominya.
 Keluhan utama
Anak lemah, panas satu hari, tidak mau makan.
 Riwayat penyakit dahulu
Menjelaskan penyakit apa yang pernah di derita oleh anak dan apakah
anak pernah MRS.
 Riwayat penyakit sekarang
Penyakti yang pernah diderita keluarga baik dari pihak ibu/ bapak klien
seperti penyakit menurun (hipertensi, kencing manis), penyakit menahun
(jantung, ginjal), penyakit menular (TBC, hepatitis), riwayat kejang.
 Riwayat prenatal
Keadaan klien waktu dalam kandungan, kesehatan ibu saat hamil,
penyakit yang diderita ibu saat hamil, pemeriksaan ibu saat hamil, obat-
obatan yang pernah didapat saat hamil.
 Riwayat natal
Keadaan klien saat dilahirkan, bagaimana proses persalinannya, umur
kehamilannya berapa saat dilahirkan, siapa yang menolong, berat badan
lahir.
 Riwayat postnatal
Apakah klien langsung diberi ASI setelah lahir, apakah diberi makanan
tambahan.
 Riwayat imunisasi
Mengetahui imunisasi apa saja yang sudah diberikan.
 Pola kebiasaan sehari-hari
1) Nutrisi
Bagaimana nafsu makannya, berapa kali makannya, porsi makan
(selama sakit dan sebelum sakit), minum berapa gelas per hari.
2) Eliminasi
Bagaimana pola eliminasi klien sebelum dan selama sakit yang terdiri
dari BAB bagaimana frekuensinya, konsistensinya, warna, bau, ada
keluhan atau tidak, BAK bagaimana frekuensinya, warna, bau, ada
keluhan atau tidak.
3) Aktivitas
Sebelum sakit dan selama sakit bagaimana aktivitas klien.
4) Istirahat
Bagaimana pola istirahat klien sebelum sakit dan selama sakit yang
meliputi lama tidurnya mulai jam berapa sampai jam berapa.
5) Personal hygiene
Dalam sehari berapa kali klien mandi, gosok gigi, ganti pakaian dalam
seminggu berapa kali cuci rambut.
 Data obyektif
Adalah data yang diperoleh melalui pemeriksaan fisik secara inspeksi,
palpasi, auskultasi dan perkusi yang terdiri dari :
 Pemeriksaan umum
Keadaan umum : …
Kesadaran : …
BB sebelum sakit : … kg
BB saat sakit : … kg
 TTV
Suhu : 36 – 37o C
Nadi : 100 – 130 x/menit
RR : 30 – 40 x/menit
 Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Kepala : kulit kepala bersih atau tidak, ada benjolan atau tidak,
penyebaran rambut.
Muka :pucat atau tidak, oedem atau tidak.

Mata : simetris atau tidak, conjungtiva merah muda atau tidak,


sklera putih atau tidak, strabismus atau tidak.
Hidung : bersih atau tidak, ada PCH atau tidak, epistaksis atau tidak.
Telinga : simetris atau tidak, ada serumen atau tidak.
Mulut dan gigi : mukosa bibir merah muda atau tidak,
labioskizis atau tidak, stomatitis atau tidak, ada gigi
berlubang atau tidak, ada caries gigi atau tidak.
Leher : bersih atau tidak, ada pembesaran kelenjar tyroid atau tidak,
ada pembengkakan vena jugularis atau tidak.
Dada : ada tarikan intercosta atau tidak.
Abdomen : ada bekas luka atau tidak.
Punggung : ada spina bifida atau tidak.
Genetalia : bersih atau tidak, ada iritasi atau tidak.
Anus : berlubang atau tidak.
Ekst. Atas : ada kelainan pergerakan atau tidak, ada kelainan jumlah jari
atau tidak.
Ekst. Bawah : ada kelainan pergerakan atau tidak, dan jumlah jari atau
tidak
b. Palpasi
Kepala : ada benjolan atau tidak.
Leher : terdapat pembesaran kelenjar tyroid atau tidak,
pembengkakan vena jugularis atau tidak.
Axilla : ada pembesaran kelenjar limfe atau tidak.
Abdomen : ada nyeri tekan atau tidak.
c. Auskultasi
Dada : ada ronchi atau tidak, ada wheezing atau tidak.
Abdomen : bising usus
d. Perkusi
Abdomen : meteorismus atau tidak
 Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
 Identifikasi Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan
Dari data yang telah dikumpulkan baik data subyektif maupun data
obyektif. Data dianalisis untuk menentukan suatu masalah dan
kemungkinan penyebab dari konsep dasar asuhan kebidanan. Maka dapat
ditarik analisa sebagai berikut :
 Antisipasi Masalah Potensial
Potensi terjadinya kejang berulang
 Identifikasi Kebutuhan Segera
Kompres untuk menurunkan suhu tubuh
 Evaluasin
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dengan asuhan yang telah
diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar
telah terpenuhi sesuai dengan kriteria hasil yang ditentukan dalam
perencanaan kejang demam.
H. Peraturan Perundang Undangan

Pasal 50
Dalam menjalankan tugas memberikan pelayanan kesehatan anak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) huruf b, Bidan berwenang:
a. memberikan Asuhan Kebidanan pada bayi baru lahir, bayi, balita, dan
anak prasekolah;
b. memberikan imunisasi sesuai program Pemerintah Pusat;
c. melakukan pemantauan tumbuh kembang pada bayi, balita, dan anak
prasekolah serta deteksi dini kasus penyulit, gangguan tumbuh kembang,
dan rujukan; dan
d. memberikan pertolongan pertama kegawatdaruratan pada bayi baru lahir
dilanjutkan dengan rujukan.

I. Kesimpulan

Kejang Demam adalah terjadinya peristiwa kejang pada anak setelah usia
satu bulan, terkait dengan penyakit demam, tidak disebabkan oleh infeksi pada
sistem saraf pusat, tanpa kejang neonatal sebelumnya atau kejang neonatal tanpa
alasan sebelumnya dan tidak memenuhi kriteria untuk gejala kejang akut lainnya.
Kejang pada neonatus dan anak bukanlah suatu penyakit, namun merupakan suatu
gejala penting akan adanya penyakit lain sebagai penyebab kejang atau adanya
kelainan susunan saraf pusat. Penyebab utama kejang adalah kelainan bawaan di
otak sedangkan penyebab sekundernya adalah gangguan metabolik atau penyakit
lain seperti penyakit infeksi. . Gejala kejang demam adalah hentakan pada tungkai
dan lengan yang berulang (kelojotan), mata mendelik ke atas, dan anak kehilangan
kesadaran. Kejang demam biasanya terjadi kurang dari 2 menit. Anak yang
sedang mengalami kejang, prioritas utama adalah menjaga agar jalan nafas tetap
terbuka. Pakaian dilonggarkan, posisi anak dimiringkan untuk mencegah aspirasi.
DAFTAR PUSTAKA

file:///C:/Users/USER/Downloads/612-Article%20Text-1997-1-10-20190405.pdf

Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup ISSN: 2528-4002 (media


online) ISSN: 2355-892X (print) Online: http://e-journal.sari-
mutiara.ac.id/index.php/Kesehatan_Masyarakat

file:///C:/Users/USER/Downloads/ka_.172_slide_kejang_pada_neonatus.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/52848/Chapter%20II.pdf?
sequence=3&isAllowed=y

http://eprints.umm.ac.id/41474/3/BAB%20II.pdf

https://www.alodokter.com/kejang-demam

http://eprints.undip.ac.id/51578/1/PROPOSAL_SKRIPSI.pdf