Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS


PADA PASIEN SYOK KARDIOGENIK

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4

 ALFIAN (16010 004)


 CHRISTANTI INDRIANI PONTOH (16010 010)
 GUS JIBERHAN LANDEGAWA (16010 016)
 RIA JELITA ELE (16010 030)
 SELVIDA BETARIA MASUKU (16010 038)

DOSEN PENGAMPUH : Ns. INDRAWAN MANITU, M.Kep

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES HUSADA MANDIRI POSO
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur kita haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan karunia-nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
mengenai Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Syok Kardiogenik ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu proses
pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca.. Makalah ini
mungkin kurang sempurna, untuk itu kami mengharapan kritik dan saran dari
Bapak/Ibu Dosen dan teman-teman untuk penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah yang saya tulis ini dapat memberikan tambahan wawasan
bagi teman-teman mahasiswa keperawatan dan semoga bisa menjadi bahan
referensi untuk pembelajaran bersama.

Poso, 9 Januari 2020

Kelompok 4

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL. .................................................................................. i


KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
DAFTAR ISI. .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang. .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan ................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Syok Kardiogenik................................................................. 3
B. Etiologi ............................................................................................... 4
C. Manifestasi Klinis .............................................................................. 4
D. Patofisiologi ....................................................................................... 5
E. Penatalaksanaan ................................................................................. 6
F. Pemeriksaan Penunjang ..................................................................... 7
G. Komplikasi ......................................................................................... 8
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan .................................................................... 9
B. Diagnosa Keperawatan....................................................................... 10
C. Intervensi Keperawatan ...................................................................... 11
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................ 16
B. Saran .................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Syok merupakan suatu keadaan kegawat daruratan yang ditandai
dengan kegagalan perfusi darah ke jaringan, sehingga mengakibatkan gangguan
metabolisme sel. Dalam keadaan berat terjadi kerusakan sel yang tak dapat
dipulihkan kembali (syok ireversibel), oleh karena itu penting untuk mengenali
keadaan-keadaan tertentu yang dapat mengakibatkan syok, gejala dini yang berguna
untuk penegakan diagnosis yang cepat dan tepat untuk selanjutnya dilakukan suatu
penatalaksanaan yang sesuai.
Satu bentuk syok yang amat berbahaya dan mengancam jiwa penderitanya
adalah syok kardiogenik. Pada syok kardiogenik ini terjadi suatu keadaan yang
diakibatkan oleh karena tidak cukupnya curah jantung untuk mempertahankan fungsi
alat-alat vital tubuh akibat disfungsi otot jantung. Hal ini merupakan suatu keadaan
gawat yang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, bahkan dengan
penanganan yang agresif pun angka kematiannya tetap tinggi yaitu antara 80-90%.
Penanganan yang cepat dan tepat pada penderita syokkardiogenik ini mengambil
peranan penting di dalam pengelolaan/penatalaksanaan pasien guna menyelamatkan
jiwanya dari ancaman kematian.
Syok kardiogenik ini paling sering disebabkan oleh karena infark jantung
akut dan kemungkinan terjadinya pada infark akut 5-10%. Syok merupakan
komplikasi infark yang paling ditakuti karena mempunyai mortalitas yang sangat
tinggi. Walaupun akhir-akhir ini angka kematian dapat diturunkan sampai 56%
(GUSTO), syok kardiogenik masih merupakan penyebab kematian yang terpenting
pada pasien infark yang dirawat di rumah sakit.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi syok kardiogenik?
2. Bagaimanakah etiologi syok kardiogenik?
3. Bagimanakah patofisiologi syok kardiogenik?
4. Bagimanakah manifestasi klinis syok kardiogenik?
5. Bagimanakah komplikasi syok kardiogenik?

1
6. Bagimanakah penatalaksanaan syok kardiogenik?
7. Bagaimana asuhan keperawatan syok kardiogenik?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui definisi syok kardiogenik
2. Mengetahui etiologi syok kardiogenik
3. Mengetahui patofisiologi syok kardiogenik
4. Mengetahui manifestasi klinis syok kardiogenik
5. Mengetahui komplikasi syok kardiogenik
6. Mengetahui penatalaksanaan syok kardiogenik
7. Mengetahui asuhan keperawatan syok kardiogenik

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Syok Kardiogenik


Shock kardiogenik merupakan sindrom gangguan patofisiologik berat yang
berhubungan dengan metabolisme seluler yang abnormal, yang umumnya
disebabkan oleh perfusi jarigan yang buruk. Disebut juga kegagalan sirkulasi perifer
yang menyeluruh dengan perfusi jaringan yang tidak adekuat (Tjokronegoro, A., dkk,
2003).
Shock kardiogenik didefinisikan sebagai adanya tanda-tanda hipoperfusi
jaringan yang diakibatkan oleh gagal jantung rendah preload dikoreksi. Tidak ada
definisi yang jelas dari parameter hemodinamik, akan tetapi syok kardiogenik
biasanya ditandai dengan penurunan tekanan darah (sistolik kurang dari 90 mmHg,
atau berkurangnya tekanan arteri rata-rata lebih dari 30 mmHg) dan atau penurunan
pengeluaran urin (kurang dari 0,5 ml/kg/jam) dengan laju nadi lebih dari 60 kali per
menit dengan atau tanpa adanya kongesti organ. Tidak ada batas yang jelas antara
sindrom curah jantung rendah dengan syok kerdiogenik.
Syok kardiogenik adalah syok yang disebabkan karena fungsi jantung yang tidak
adekuat, seperti pada infark miokard atau obstruksi mekanik jantung, manifestasinya
meliputi hipovolemia, hipotensi, kulit dingin, nadi yang lemah, kekacauan mental,
dan kegelisahan. (Kamus Kedokteran Dorland, 1998).
Syok kardiogenik merupakan stadium akhir disfungsi ventrikel kiri atau gagal
jantung kongestif, terjadi bila ventrikel kiri mengalami kerusakan yang luas. Otot
jantung kehilangan kekuatan kontraktilitasnya,menimbulkan penurunan curah
jantung dengan perfusi jaringan yang tidak adekuat ke organ vital (jantung, otak,
ginjal). Derajat syok sebanding dengan disfungsi ventrikel kiri. Meskipun syok
kardiogenik biasanya sering terjadi sebagai komplikasi MI, namun bisa juga terajdi
pada temponade jantung, emboli paru, kardiomiopati dan disritmia. (Brunner &
Suddarth, 2001).

3
B. Etiologi
Terdapat beberapa penyebab dari terjadinya shock kardiogenik,diantaranya:
1. Gangguan kontraktilitas miokardium.
2. Disfungsi ventrikel kiri yang berat yang memicu terjadinya kongesti paru
dan/atau hipoperfusi iskemik
3. Infark miokard akut ( AMI)
4. Komplikasi dari infark miokard akut, seperti: ruptur otot papillary, ruptur
septum, atau infark ventrikel kanan, dapat mempresipitasi
(menimbulkan/mempercepat) syok kardiogenik pada pasien dengan infark-
infark yang lebih kecil
5. Valvular stenosis
6. Myocarditis ( inflamasi miokardium, peradangan otot jantung)
7. Cardiomyopathy ( myocardiopathy, gangguan otot jantung yang tidak
diketahui penyebabnya )
8. Trauma jantung
9. Temponade jantung akut
10. Komplikasi bedah jantung

C. Manifestasi Klinis
1. Dada yang berkelanjutan, dyspnea (sesak/sulit bernafas), tampak pucat, dan
apprehensive (anxious, discerning, gelisah, takut, cemas)
2. Hipoperfusi jaringan
3. Keadaan mental tertekan/depresi
4. Anggota gerak teraba dingin
5. Keluaran (output) urin kurang dari 30 mL/jam (oliguria).
6. takikardi (detak jantung yang cepat,yakni > 100x/menit)
7. Nadi teraba lemah dan cepat, berkisar antara 90–110 kali/menit
8. Hipotensi : tekanan darah sistol kurang dari 80 mmHg
9. Diaphoresis (diaforesis, diaphoretic, berkeringat, mandi keringat, hidrosis,
perspirasi)
10. Distensi vena jugularis
11. Indeks jantung kurang dari 2,2 L/menit/m2.

4
12. Tekanan pulmonary artery wedge lebih dari 18 mmHg.
13. Suara nafas dapat terdengar jelas dari edem paru akut

Menurut Mubin (2008), diagnosis syok kardiogenik adalah berdasarkan :


a. Keluhan Pokok
1. Oliguri (urin < 20 mL/jam).
2. Mungkin ada hubungan dengan IMA (infark miokard akut).
3. Nyeri substernal seperti IMA.
b. Tanda Penting
1. Tensi turun < 80-90 mmHg
2. Takipneu dan dalam
3. Takikardi
4. Nadi cepat
5. Tanda-tanda bendungan paru: ronki basah di kedua basal paru
6. Bunyi jantung sangat lemah, bunyi jantung III sering terdengar
7. Sianosis
8. Diaforesis (mandi keringat)
9. Ekstremitas dingin
10. Perubahan mental
c. Kriteria
Adanya disfungsi miokard disertai dengan:
1. Tekanan darah sistolis arteri < 80 mmHg.
2. Produksi urin < 20 mL/jam.
3. Tekanan vena sentral > 10 mmH2O
4. Ada tanda-tanda: gelisah, keringat dingin, akral dingin, takikardi

D. Patofisiologi
Syok kardiogenik merupakan kondisi yang terjadi sebagai serangan jantung pada
fase terminal dari berbagai penyakit jantung. Berkurangnya ke aliran darah koroner
berdampak pada supply O2 kejaringan khususnya pada otot jantung yang semakin
berkurang, hal ini akan menyababkan iscemik miokard pada fase awal, namun bila
berkelanjutan akan menimbulkan injuri sampai infark miokard. Bila kondisi tersebut

5
tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan kondisi yang dinamakan syok
kardiogenik. Pada kondisi syok, metabolisme yang pada fase awal sudah mengalami
perubahan pada kondisi anaerob akan semakin memburuk sehingga produksi asam
laktat terus meningkat dan memicu timbulnya nyeri hebat seperti terbakar
maupun tertekan yang menjalar sampai leher dan lengan kiri, kelemahan fisik juga
terjadi sebagai akibat dari penimbunan asam laktat yang tinggi pada darah. Semakin
Menurunnya kondisi pada fase syok otot jantung semakin kehilangan kemampuan
untuk berkontraksi utuk memompa darah. Penurunan jumlah strok volume
mengakibatkan berkurangnnya cardiac output atau berhenti sama sekali. Hal
tersebut menyebakkan suplay darah maupun O2 sangatlah menurun kejaringan,
sehingga menimbulkan kondisi penurunan kesadaran dengan akral dinging pada
ektrimitas, Kompensasi dari otot jantung dengan meningkatkan denyut nadi yang
berdampak pada penurunan tekanan darah Juga tidak memperbaiki kondisi
penurunan kesadaran. Aktifitas ginjal juga terganggu pada penurunan cardiac
output,yang berdampak pada penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR ). Pada kondisi
ini pengaktifan system rennin, angiotensin dan aldostreron akan , menambah retensi
air dan natrium menyebabkan produksi urine berkurang( Oliguri < 30ml/ jam)
Penurunan kontraktilitas miokard pada fase syok yang menyebabkan
adanya peningkatan residu darah di ventrikel, yang mana kondisi ini akan semakin
memburuk pada keadaan regurgitasi maupun stenosis valvular .Hal tersebut dapat
menyebabkan bendungan vena pulmonalis oleh akumulasi cairan maupun refluk
aliran darah dan akhirnya memperberat kondisi edema paru.

E. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis Syok Kardiogenik:
a. Pastikan jalan nafas tetap adekuat, bila tidak sadar sebaiknya dilakukan
intubasi.
b. Berikan oksigen 8 – 15 liter/menit dengan menggunakan masker untuk
mempertahankan PO2 70 – 120 mmHg.
c. Rasa nyeri akibat infark akut yang dapat memperbesar syok yang ada harus
diatasi dengan pemberian morfin.

6
d. Koreksi hipoksia, gangguan elektrolit, dan keseimbangan asam basa yang
terjadi.
e. Bila mungkin pasang CVP.
f. Pemasangan kateter Swans Ganz untuk meneliti hemodinamik.
2. Medikamentosa :
a. Morfin sulfat 4-8 mg IV, bila nyeri
b. Ansietas, bila cemas
c. Digitalis, bila takiaritmi dan atrium fibrilasi
d. Sulfas atropin, bila frekuensi jantung < 50x/menit
e. Dopamin dan dobutamin (inotropik dan kronotropik), bila perfusi jantung
tidak adekuat. Dosis dopamin 2-15 mikrogram/kg/m.
f. Dobutamin 2,5-10 mikrogram/kg/m: bila ada dapat juga diberikan amrinon
IV.
g. Norepinefrin 2-20 mikrogram/kg/m
h. Diuretik/furosemid 40-80 mg untuk kongesti paru dan oksigenasi jaringan.
Digitalis bila ada fibrilasi atrial atau takikardi supraventrikel.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. EKG; mengetahui hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpanan aksis,
iskemia dan kerusakan pola.
2. ECG; mengetahui adanya sinus takikardi, iskemi, infark/fibrilasi atrium,
ventrikel hipertrofi, disfungsi penyakit katub jantung.
3. Rontgen dada; Menunjukkan pembesaran jantung. Bayangan mencerminkan
dilatasi atau hipertrofi bilik atau perubahan dalam pembuluh darah atau
peningkatan tekanan pulmonal.
4. Scan Jantung; Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan
jantung.
5. Kateterisasi jantung; Tekanan abnormal menunjukkan indikasi dan membantu
membedakan gagal jantung sisi kanan dan kiri, stenosis katub atau insufisiensi
serta mengkaji potensi arteri koroner.
6. Elektrolit; mungkin berubah karena perpindahan cairan atau penurunan fungsi
ginjal, terapi diuretic.

7
7. Oksimetri nadi; Saturasi Oksigen mungkin rendah terutama jika CHF
memperburuk PPOM.
8. AGD; Gagal ventrikel kiri ditandai alkalosis respiratorik ringan atau
hipoksemia dengan peningkatan tekanan karbondioksida.
9. Enzim jantung; meningkat bila terjadi kerusakan jaringan-jaringan
jantung,misalnya infark miokard (Kreatinin fosfokinase/CPK, isoenzim CPK
dan Dehidrogenase Laktat/LDH, isoenzim LDH).

G. Komplikasi
1. Cardiopulmonary arrest
2. Disritmi
3. Gagal multisistem organ
4. Stroke
5. Tromboemboli

8
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan
Data dasar pengkajian pasien dengan syok kardiogenik , dengan data fokus pada :
1. Aktivitas
 Gejala : kelemahan, kelelahan
 Tanda : takikardia, dispnea pada istirahat atau aktivitas, perubahan warna
kulit kelembaban, kelemahan umum
2. Sirkulasi
 Gejala : riwayat AMI sebelumnya, penyakit arteri koroner, GJK, masalah TD,
diabetes mellitus.
 Tanda : tekanan darah turun <90 mmhg atau dibawah, perubahan
postural dicatat dari tidur sampai duduk berdiri, nadi cepat tidak kuat atau
lemah, tidak teratur, BJ ekstra S3 atau S4 mungkin menunjukan gagal jantung
atau penurun an kontraktilitas ventrikel, Gejala hipoperfusi jaringan kulit ;
dioforesis ( Kulit Lembab ), pucat, akral dingin, sianosis, vena – vena pada
punggung tangan dan kaki kolaps
3. Eliminasi
 Gejala : Produksi urine < 30 ml/ jam
 Tanda : oliguri
4. Nyeri atau ketidaknyamanan
 Gejala : nyeri dada yang timbulnya mendadak dan sangat hebat, tidak hilang
dengan istirahat atau nitrogliserin, lokasi tipikal pada dada anterio substernal,
prekordial, dapat menyebar ketangan, rahang, wajah, tidak tentu lokasinya
seperti epigastrium, siku, rahang,abdomen,punggung, leher, dengan kualitas
chorusing, menyempit, berat,tertekan , dengan skala biasanya 10 pada skala
1- 10, mungkin dirasakan pengalaman nyeri paling buruk yang pernah
dialami.
 Tanda : wajah meringis, perubahan postur tubuh, meregang, mengeliat,
menarik diri, kehilangan kontak mata, perubahan frekuensi atau irama

9
jantung, TD,pernafasan, warna kulit/ kelembaban ,bahkan penurunan
kesadaran.
5. Pernafasan
 Gejala : dyspnea dengan atau tanpa kerja, dispnea nocturnal, batuk
dengan atau tanpa produksi sputum,penggunaan bantuan pernafasan oksigen
atau medikasi,riwayat merokok, penyakit pernafasan kronis
 Tanda : takipnea, nafas dangkal, pernafasan laboret ; penggunaan otot
aksesori pernafasan, nasal flaring, batuk ; kering/ nyaring/nonprodoktik/
batuk terus – menerus,dengan / tanpa pembentukan sputum: mungkin
bersemu darah, merah muda/ berbuih ( edema pulmonal ). Bunyi nafas;
mungkin tidak terdengar dengan crakles dari basilar dan mengi peningkatan
frekuensi nafas, nafas sesak atau kuat, warna kulit; pucat atau sianosis, akral
dingin.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan gangguan pertukaran gas ditandai
dengan sesak nafas, peningkatan frekuensi pernafasan, batuk-batuk.
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan aliran
darah sekunder akibat gangguan vaskuler ditandai dengan nyeri, cardiac out put
menurun, sianosis, edema (vena).
3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme
reflek otot sekunder akibat gangguan viseral jantung ditandai dengan nyeri
dada, dispnea, gelisah, meringis.
4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan supley oksigen dan
kebutuhan (penurunan / terbatasnya curah jantung) ditandai dengan kelelahan,
kelemahan, pucat.

10
C. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
1. Pola nafas tidak efektif Setelah diberikan asuhan 1. Evaluasi frekuensi pernafasan 1. Respon pasien berfariasi. Kecepatan dan
berhubungan dengan keperawatan selama 3x 24 dan kedalaman. Catat upaya upaya mungkin meningkat karena nyeri,
pertukaran gas ditandai jam diharapkan pola nafas pernafasan, contoh adannya takut, demam, penurunan volume sikulasi
dengan sesak nafas, efektif dengan kriteria dispnea, penggunaan obat bantu (kehilangan darah atau cairan), akumulasi
gangguan frekwensi hasil : nafas, pelebaran nasal. secret, hipoksia atau distensi gaster.
pernafasan, batuk-batuk 1. Klien tidak sesak Penekanan pernapasan (penurunan
nafas. kecepatan) dapat terjadi dari pengunaan
2. Frekueensi pernafasan analgesik berlebihan. Pengenalan disini dan
normal. pengobatan ventilasi abnormal dapat
3. Tidak ada batuk-batuk. mencegah komplikasi.
§ 2. Auskultasi bunyi nafas. Catat 2. Auskultasi bunyi napas ditujukan untuk
area yang menurun atau tidak mengetahui adanya bunyi napas tambahan.
§ adannya bunyi nafas dan adannya
bunyi nafas tambahan, contoh
krekels atau ronchi.

11
3. Kalaborasi dengan beriakan 3. Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru-
tambahan osigen dengan kanula paru untuk kebutuhan sirkulasi, khususnya
atau masker sesuai indikasi. adanya penurunan/ gangguan ventilasi
2. Ketidakefektifan perfusi Setelah diberikan askep 1. Lihat pucat, sianosis, belang, 1. Vasokontriksi sistemik diakibatkan karena
jaringan perifer 3x24 jam diharapkan kulit dingin, atau lembab. Catat penurunan curah jantung mungkin
berhubungan dengan perfusi jaringan perifer kekuatan nadi perifer. dibuktikan oleh penurunan perfusi kulit dan
gangguan aliran darah efektif dengan Kriteria - Dorong latihan kaki aktif penurunan nadi.
sekunder akibat hasil : atau pasif, hindari latihan - Menurunkan statis vena, meningkatkan
gangguan vaskuler 1. Klien tidak nyeri isometrik. aliran balik vena dan menurunkan resiko
ditandai dengan nyeri, 2. Cardiac output normal tromboflebis.
cardiac out put menurun, 3. Tidak terdapat sianosis
sianosis, edema (vena) 4. Tidak ada edema 2. Indikator perfusi atau fungsi organ
(vena) 2. Kolaborasi - Dosis rendah heparin mungkin diberika
§ - Pantau data laboratorium, secara profilaksis pada pasien resiko
contoh : GBA, BUN, creatinin, tinggi dapat untuk menurunkan resiko
dan elektrolit trombofleblitis atau pembentukan
- Beri obat sesuai indikasi: trombusmural. Coumadin obat pilihan
heparin atau natrium warfarin untuk terapi anti koangulan jangka
(coumadin). panjang/pasca pulang.

12
3. Gangguan rasa nyaman Setelah diberikan askep 1. Pantau atau catat karekteristik 1. Mengetahui tingkat nyeri agar dapat
nyeri berhubungan selama 3x24 jam, nyeri, catat laporan verbal, mengetahui perencanaan selanjutnya.
dengan trauma jaringan diharapkan pasien merasa petunjuk non verbal dan repon
dan spasme refleks otot nyaman hemodinamik ( contoh: meringis,
sekunder akibat Kriteria Hasil : menangis, gelisah, berkeringat,
gangguan viseral jantung 1. Tidak ada nyeri mengcengkram dada, napas
ditandai dengan nyeri 2. Tidak ada dispnea cepat, TD/frekwensi jantung
dada, dispnea, gelisah, 3. Klien tidak gelisah berubah).
meringis. 4. Klien tidak meringis 2. Bantu melakukan teknik 2. Membantu dalam menurunan persepsi atau
relaksasi, misalnya napas dalam respon nyeri. Memberikan kontrol situasi,
perlahan, perilaku diskraksi, meningkatkan perilaku positif.
visualisasi, bimbingan imajinasi.
3. Kalaborasi 3. Meskipun morfin IV adalah pilihan, suntikan
- Berikan obat sesuai indikasi, narkotik lain dapat dipakai fase akut atau
contoh: analgesik, misalnya nyeri dada beulang yang tidak hilang dengan
morfin, meperidin (demerol). nitrogliserin untuk menurunkan nyeri hebat,
memberikan sedasi, dan mengurangi kerja
miokard. Hindari suntikan IM dapat

13
menganggu indikator diagnostik dan tidak
diabsorsi baik oleh jaringan kurang perfusi.

4. Intoleransi aktivitas Setelah diberikan askep 1. Periksa tanda vital sebelum dan 1. Hipertensi ortostatik dapat terjadi dengan
berhubungan dengan selama 3x24 jam, segera setelah aktivitas, aktivitas karena efek obat (vasodilatasi),
ketidak seimbangan diharapkan pasien dapat khususnya bila pasien perpindahan cairan, (diuretik) atau pengaruh
suplay oksigen dengan melakukan aktifitas menggunakan vasolidator, fungsi jantung.
kebutuhan (penurunan dengan mandiri dengan diuretik, penyekat beta.
atau terbatasnya curah Kriteria Hasil: 2. Catat respon kardio pulmonal 2. Penurunan atau ketidakmampuan
jantung) ditandai dengan 1. Klien tidak mudah terhadap aktivitas, catat takikardi, miokardium untuk meningkatkan volume
kelelahan, kelemahan, lelah disritmia, dispnea, berkeringat, sekuncup selama aktivitas, dapat
pucat 2. Klien tidak lemas pucat. menyebabkan peningkatan segera pada
3. Klien tidak pucat frekwensi jantung dan kebutuhan oksigen,
juga meningkatkan kelelahan dan kelemahan.
3. Kaji presipitator atau penyebab 3. Kelemahan adalah efek samping dari
kelemahan, contoh pengobatan, beberapah obat (beta bloker, Trakuiliser dan
nyeri, obat. sedatif). Nyeri dan program penuh stress juga
memerlukan energi dan menyebabkan
kelemahan.

14
4. Evaluasi peningkatan intoleran 4. Dapat menunjukkan meningkatan
aktivitas. dekompensasi jantung dari pada kelebihan
aktivitas.
5. Berikan bantuan dalam aktivitas 5. Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien
perawatan diri sesuai indikasi, tanpa mempengaruhi stress miokard atau
selingi periode aktivitas dengan kebutuhan oksigen berlebihan.
periode istirahat.
6. Kalaborasi 6. Peningkatan bertahap pada aktivitas
- Adakan program rehabilitasi menghindari kerja jantung atau komsumsi
jantung atau aktivitas oksigen berlebihan. Penguatan dan perbaikan
fungsi jantung dibawah stress, bila disfusi
jantung tidak dapat membaik kembali.

15
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Syok kardiogenik adalah dyok yang disebabkan karena fungsi jantung yang
tidak adekua, seperti pada infark miokard atau obstruksi mekanik jantung;
manifestasinya meliputi hipovolemia, hipotensi, kulit dingin, nadi yang lemah,
kekacauan mental, dan kegelisahan. Etiologi syok kardiogenik antara lain: Penyakit
jantung iskemik, obat-obatan yang mendepresi jantung, gangguan irama jantung.
Syok kardiogenik adalah gangguan sistem sirkulasi dimana sistem
kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) tidak mampu mengalirkan darah ke
seluruh tubuh dalam jumlah yang memadai yang menyebabkan tidak adekuatnya
perfusi dan oksigenasi jaringan. Syok terjadi akibat berbagai keadaan yang
menyebabkan berkurangnya aliran darah, termasuk kelainan jantung (misalnya
serangan jantung atau gagal jantung), volume darah yang rendah (akibat perdarahan
hebat atau dehidrasi) atau perubahan pada pembuluh darah (misalnya karena reaksi
alergi atau infeksi).
Berhasil tidaknya penanggulangan syok tergantung dari kemampuan mengenal
gejala-gejala syok, mengetahui, dan mengantisipasi penyebab syok serta efektivitas
dan efisiensi kerja kita pada saat-saat/menit-menit pertama penderita mengalami
syok.

B. Saran
Dengan mempelajari materi ini mahasiswa keperawatan yang nantinya menjadi
seorang perawat profesional agar dapat lebih peka terhadap tanda dan gejala ketika
menemukan pasien yang mengalami syock sehingga dapat melakukan pertolongan
segera. Dengan dibuatnya asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa shock
cardiogenik, mahasiswa dapat melakukan tindakan-tindakan emergency untuk
melakukan pertolongan segera kepada pasien yang mengalami syok.

16
DAFTAR PUSTAKA

Doenges M.E. ( 1999),Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC, Jakarta


Guyton A.C., Hall J.E.(1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC, Jakarta.
Bakta I Made., Suastika I Ketut.( 1987), Gawat Darurat di Bidang Penyakit
Dalam . EGC: Jakarta
Bruner & Suddarth (2001), Keperwatan Medikal Bedah.EGC: Jakarta

17