Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

PK ASUHAN KEBIDANAN PADA MASA PRAKONSEPSI DAN


PERENCANAAN KEHAMILAN YANG SEHAT

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU “IA” UMUR 29 TAHUN WANITA USIA


SUBUR DALAM MASA PRKONSEPSI

Asuhan dilaksanakan
di UPTD Puskesmas 1 Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Timur

Oleh :
KADEK DEVI ARY SUTA
NIM. P07124319 010

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM PROFESI BIDAN
DENPASAR
2019
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS
PK ASUHAN KEBIDANAN PADA MASA PRAKONSEPSI DAN
PERENCANAAN KEHAMILAN YANG SEHAT

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU “IA” UMUR 29 TAHUN


WANITA USIA SUBUR DALAM MASA PRKONSEPSI

Oleh :

KADEK DEVI ARY SUTA


NIM. P07124319 010

Telah disahkan,
Denpasar, 22 Januari 2020

Mengetahui Mengetahui
Pembimbing Institusi Pembimbing Praktik

I Komang Lindayani, SKM., M.Keb Herawaty, A.Md.Keb


NIP. 198007122002122001 NIP. 197709082005012014

Mengetahui
Penanggung Jawab MK

Ni Gusti Kompiang Sriasih, SST., M.Kes


NIP. 197001161989032001

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus PK
Asuhan Kebidanan Pada Masa Prakonsepsi dan Perencanaan Kehamilan yang
Sehat, Asuhan Kebidanan Pada Ibu “IA” umur 29 tahun WUS dalam masa
prakonsepsi dengan baik. Dalam penyusunan laporan ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam kelancaran
pembuatan laporan ini, yakni yang terhormat:
1. Dr. Ni Nyoman Budiani, SST., M.Biomed selaku Ketua Jurusan Kebidanan
Poltekkes Kemenkes Denpasar.
2. Ni Gusti Kompiang Sriasih, SST., M.Kes selaku Penanggung Jawab Praktik
Kebidanan Asuhan Kebidanan Pada Masa Prakonsepsi dan Perencanaan
Kehamilan yang Sehat.
3. I Komang Lindayani, SKM., M.Keb selaku dosen pembimbing dalam
penyusunan laporan praktik kebidanan ini yang telah memberikan izin untuk
meluangkan waktunya untuk membimbing penulis.
4. Herawaty, A.Md.Keb selaku pembimbing praktik yang telah meluangkan
waktunya untuk membimbing penulis selama melaksanakan praktik di UPTD
Puskesmas 1 Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Timur.
5. Semua Pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah
membantu dalam penyusunan laporan kasus ini.
Dalam laporan kasus ini penulis menyadari bahwa laporan ini masih
memiliki berbagai kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari para pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan laporan
ini.
Demikianlah kiranya para pembaca dapat memahami dan apabila terdapat
hal-hal yang kurang berkenan di hati para pembaca, pada kesempatan ini
perkenankanlah penulis memohon maaf. Semoga laporan ini bermanfaat bagi
semua pihak.
Denpasar, 20 Januari 2020
Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................... i
Lembar Pengesahan............................................................................................. ii
Kata Pengantar..................................................................................................... iii
Daftar Isi.............................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................... 1
B. Tujuan ..................................................................................................... 2
C. Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus................................................... 3
D. Manfaat Penulisan Laporan..................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Pasangan Usia Subur (PUS)............................................. 5
B. Asuhan Prakonsepsi dan Perencanaan Kehamilan yang Sehat................ 5
BAB III TINJAUAN KASUS............................................................................. 17
BAB IV PEMBAHASAN.................................................................................... 23
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan.................................................................................................. 26
B. Saran........................................................................................................ 27
Daftar Pustaka

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan suami istri dengan usia istri
berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun atau usia istri berumur kurang dari 15
tahun dan sudah haid atau usia istri berumur lebih dari 50 tahun tetapi masih haid
(BKKBN, 2013). Pada pasangan suami istri usia subur yang baru menikah atau
ingin mendapatkan anak lagi, kehamilan merupakan saat-saat yang paling
ditunggu. Hal itu juga merupakan saat yang menegangkan ketika sebuah
kehidupan baru bertumbuh dan berkembang di dalam rahim (Sunarsih, 2011).
Dalam mewujudkan kehamilan yang ideal dibutuhkan serangkaian
persiapan salah satunya pemeriksaan fisik atau pemeriksaan kesehatan.
Pemeriksaan kesehatan pada masa prakonsepsi khususnya pada wanita dapat
mengurangi angkat kesakitan dan kematian ibu dan anak. Beberapa penyakit yang
kemungkinan mengganggu selama proses kehamilan dapat dideteksi dini sehingga
keadaan yang lebih buruk dapat dihindari dengan cepat (Cunningham, 2012).
Kesehatan prakonsepsi adalah cara untuk meningkatkan hasil kehamilan
yang positif dengan mendorong perempuan untuk terlibat dalam gaya hidup yang
sehat sebelum hamil (Williams et al, 2012). Perawatan prakonsepsi yang dimulai
sebelum kehamilan dapat menjadi strategi efektif untuk mengurangi gangguan
bawaan dan meningkatkan kesehatan wanita usia subur (Shanon et al, 2013).
Perawatan prakonsepsi tidak hanya untuk wanita, tetapi juga untuk pria.
Perawatan prakonsepsi untuk pria juga penting yaitu untuk meningkatkan hasil
kehamilan yang sehat (Regina VT, 2011). Masalah umum dalam perawatan
prakonsepsi yaitu keluarga berencana, mencapai berat badan yang sehat, skrining
dan pengobatan untuk penyakit menular, memperbarui imunisasi yang tepat,
meninjau obat untuk efek teratogenik, konsumsi suplemen asam folat untuk
mengurangi risiko cacat tabung saraf bagi wanita yang ingin hamil, dan
pengendalian penyakit kronis sangat penting untuk mengoptimalkan hasil
kehamilan (Farahi and Zolotor, 2013).

1
Preconception Counseling adalah komponen penting dari perawatan
prakonsepsi (Williams et al, 2012). Preconception Counseling merupakan
skrining dan memberikan informasi serta dukungan kepada individu usia subur
sebelum hamil untuk promosi kesehatan dan mengurangi risiko (Bulechek et al,
2008). Preconception Counseling memainkan peran utama dalam mempersiapkan
kehamilan. Preconception Counseling bertujuan untuk mengidentifikasi dan
memodifikasi risiko yang berhubungan dengan kesehatan dan hasil kehamilan ibu,
serta sebelum kehamilan (Walfisch and Koren, 2011). Kunjungan konseling
prakonsepsi adalah waktu yang ideal untuk mengevaluasi pasien dan kehamilan
(Lanik, 2012).
Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengambil Asuhan Kebidanan Pada
Ibu “IA” umur 29 tahun WUS dalam masa Prakonsepsi. Pada kasus ini diangkat
dengan tujuan agar dapat memberikan asuhan kebidanan yang tepat dan sesuai
standar pelayanan kebidanan pada masa prakonsepsi dan perencanaan kehamilan
yang sehat.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan laporan kasus ini adalah
mengetahui asuhan kebidanan pada Ibu “IA” sesuai dengan ruang lingkup
kewenangan mandiri, kemitraan/kolaborasi atau rujukan yang sesuai dengan
manajemen kebidanan menurut Varney dan evidence based kebidanan pada masa
prakonsepsi dan perencanaan kehamilan.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dalam penulisan laporan kasus yaitu:
a. Menganalisis hasil pengkajian data pada Ibu “IA” dan Bapak “IB” sesuai
dengan standar pelayanan dan evidence based kebidanan pada masa
prakonsepsi dan perencanaan kehamilan.
b. Menginterpretasikan data pada Ibu “IA” dan Bapak “IB” yang meliputi
diagnosa kebidanan, masalah dan kebutuhan sesuai dengan standar pelayanan
dan evidence based kebidanan pada pada masa prakonsepsi dan perencanaan
kehamilan.

2
c. Menganalisis diagnosa potensial pada Ibu “IA” dalam masa prakonsepsi
sesuai dengan standar pelayanan dan evidence based kebidanan pada pada
masa prakonsepsi dan perencanaan kehamilan.
d. Menganalisis tindakan segera/kolaborasi atas pemeriksaan pada Ibu “IA” dan
Bapak “IB” sesuai dengan standar pelayanan dan evidence based kebidanan
pada masa prakonsepsi dan perencanaan kehamilan.
e. Menganalisis dan menyusun rencana tindakan pada Ibu “IA” dan Bapak “IB”
sesuai dengan standar pelayanan dan evidence based kebidanan pada masa
prakonsepsi dan perencanaan kehamilan.
f. Melaksanakan rencana tindakan yang telah disusun pada Ibu “IA” dan Bapak
“IB” sesuai dengan standar pelayanan dan evidence based kebidanan pada
masa prakonsepsi dan perencanaan kehamilan.
g. Menganalisis dan mengevaluasi hasil asuhan kebidanan yang diberikan pada
Ibu “IA” dan Bapak “IB” sesuai dengan standar pelayanan dan evidence based
kebidanan pada masa prakonsepsi dan perencanaan kehamilan.

C. Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus


Asuhan Kebidanan pada Ibu “IA” dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal
18 Januari 2020 di Ruang KIA/KB UPTD Puskesmas 1 Dinas Kesehatan
Kecamatan Denpasar Timur.

D. Manfaat Penulisan Laporan


1. Manfaat teoritis
Penulisan laporan kasus ini dapat dipertimbangkan sebagai bahan bacaan
serta pengembangan tulisan selanjutnya yang berkaitan dengan asuhan kebidanan
pada masa prakonsepsi dan perencanaan kehamilan yang sehat.
2. Manfaat praktis
a. Bagi institusi kesehatan dan petugas kesehatan
Hasil laporan kasus ini diharapkan dapat dijadikan gambaran dalam
mempertahankan mutu pelayanan kebidanan dan bahan masukan bidan serta
tenaga kesehatan lainnya di institusi pelayanan kesehatan dalam memberikan
asuhan kebidanan pada masa prakonsepsi dan perencanaan kehamilan yang sehat.
b. Bagi ibu dan suami

3
Hasil laporan kasus ini diharapkan dapat menambah informasi ibu dan
suami mengenai perencanaan kehamilan yang sehat dengan melakukan beberapa
pemeriksaan terkait kesehatan ibu dan suami.
c. Bagi Mahasiswa dan Institusi Pendidikan
Hasil penulisan laporan kasus ini diharapkan dapat dijadikan contoh asuhan
kebidanan pada masa prakonsepsi dan perencanaan kehamilan yang sehat dalam
penerapan pelayanan kebidanan sesuai dengan standar.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Pasangan Usia Subur (PUS)


Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan suami istri dengan usia istri
berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun atau usia istri berumur kurang dari 15
tahun dan sudah haid atau usia istri berumur lebih dari 50 tahun tetapi masih haid
(BKKBN, 2013). Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan suami istri yang
telah berumah tangga dan masih menjalankan fungsi reproduksi dan
menghasilkan keturunan yang dibatasi pada istri usia 15 - 49 tahun. Karena usia
15 tahun adalah umur yang dianjurkan untuk menikah dan usia lebih dari 49 tahun
merupakan usia rata – rata wanita mengalami menoupase. Sedangkan batasan
umur suami tidak menjadi indikator, karena umumnya laki – laki mampu
menghasilkan sperma sampai akhir hidupnya (Anggraini dkk, 2015). Pada masa
ini pasangan usia subur harus dapat menjaga kesehatan reproduksinya untuk
meningkatkan kualitas reproduksi dan kualitas generasi yang akan datang.

B. Asuhan Prakonsepsi dan Perencanaan Kehamilan yang Sehat


1. Asuhan Prakonsepsi
a. Definisi asuhan prakonsepsi
Asuhan prakonsepsi merupakan asuhan yang diberikan sebelum kehamilan
dengan sasaran mempermudah wanita mencapai tingkat kesehatan optimal
sebelum hamil. Hamil yang sehat memiliki kemungkinan lebih besar untuk
memiliki bayi yang sehat. Semua kehamilan adalah hal yang terencana dan setiap
bayi berada dalam lingkungan yang sehat. Asuhan prakonsepsi memiliki banyak
keuntungan dan variasi, antara lain: memungkinkan identifikasi penyakit medis,
pengkajian kesiapan psikologis, keuangan, dan pencapaian tujuan hidup.
Prakonsepsi adalah rentang waktu dari tiga bulan hingga satu tahun sebelum
konsepsi, tetapi idealnya harus mencakup waktu saat ovum dan sperma matur,
yaitu sekitar sehari sebelum konsepsi (Misse, 2015). PraKonsepsi yaitu
pengenalan dini riwayat infeksi toksoplasma, Rubella, Sitomegalo Virus, herves,
dan pemeriksaan imunologis dan terapi (Yulizawati, dkk., 2017).

5
b. Tujuan asuhan prakonsepsi
Tujuan asuhan prakonsepsi adalah memfasilitasi perempuan untuk menjadi
sehat sebelum hamil, agar bayi yang dilahirkannya dalam keadaan sehat yang
optimal. Peningkatan kesehatan prakonsepsi harus diikuti dengan peningkatan
hasil kesehatan reproduksi, namun tetap dengan biaya yang minimum. Meskipun
kehamilan bagi beberapa pasangan mungkin tidak direncanakan, mayoritas
pasangan yang memang merencanakan kehamilan dapat memperoleh manfaat dari
asuhan prakonsepsi, baik bagi mereka yang hanya ingin memberikan yang terbaik
bagi bayinya maupun sebagai upaya mengurangi kondisi yang dapat
membahayakan kehamilan (Krisnadi, 2015). Tujuan lainnya adalah memastikan
bahwa ibu dan pasangannya berada dalam status kesehatan fisik dan emosional
yang optimal saat awitan kehamilan serta memberikan serangkaian pilihan yang
mungkin tidak tersedia saat kehamilan dikonfirmasikan kepada calon orang tua.
Tiga tujuan utama dari perawatan prakonsepsi adalah:
1) Mengidentifikasi potensi risiko untuk ibu, janin dan kehamilan.
2) Mendidik wanita tentang risiko dini, pilihan untuk intervensi dan manajemen.
3) Memulai intervensi untuk mendapatkan luaran yang optimal bagi ibu dan
janinnya, melalui konseling, motivasi, optimasi penyakit dan rujukan spesialis.
(Krisnadi, 2015)
c. Manfaat asuhan prakonsepsi
Manfaat asuhan prakonsepsi adalah adanya kesiapan secara fisik dan
emosional yang optimal saat memasuki masa konsepsi. Melalui asuhan
prakonsepsi, ibu dan pasangan dapat mengetahui hal-hal yang dapat mendukung
persiapan saat prakonsepsi. Selain itu, ibu dan pasangan dapat mengetahui hal apa
saja yang menghambat suksesnya proses konsepsi, sehingga ibu dan pasangan
dapat melakukan upaya yang maksimal agar bayi dapat lahir dengan sehat.
Beberapa manfaat atau keuntungan dari asuhan pra konsepsi yaitu sebagai berikut:
1) Identifikasi keadaan penyakit.
2) Penilaian keadaan psikologis.
3) Kesiap-siagaan keuangan dan tujuan hidup.
4) Memberikan banyak informasi bagi perempuan dan pasangannya untuk
membantu membuat keputusan tentang persalinan yang akan di hadapinya.

6
d. Fokus asuhan prakonsepsi
Identifikasi reduksi risiko pada masa reproduksi bagi wanita dan
pasangannya sebelum konsepsi. Komponen asuhan yaitu sebagai berikut:
1) Lakukan medical chek up sebelum terjadi konsepsi, sehingga tenaga kesehatan
dapat menilai keadaan kesehatan perempuan dan mengidentifikasi faktor
resikonya.
2) Pemeriksan laboratorium rutin. Pemeriksaan laboratorium rutin artinya bahwa
pemeriksaan ini dilakukan pada setiap wanita yang akan hamil antara lain:
pemeriksaan darah lengkap, golongan darah, titer virus Rubella, hepatitis B,
pap smear, clamidia, HIV, dan GO.
3) Pemberian imunisasi sebelum konsepsi.
4) Usahakan BB ideal karena underweight dan overweight merupakan penyebab
banyak masalah dalam kehamilan.
5) Identifikasi riwayat kesehatan keluarga (kesulitan dalam kehamilan,
persalinan, nifas maupun kecacatan)
6) Anjurkan untuk melakukan gaya hidup sehat sebelum terjadinya konsepsi
(olahraga, hindari minum alkohol, merokok atau penggunaan obat-obat
terlarang/ hentikan bila ibu sudah terbiasa)
7) Identifikasi masalah kesehatan (DM, epilepsy, hipertensi dan lain-lain),
berikan penanganan dan observasi sebelum terjadi konsepsi.
8) Diet makanan bergizi seimbang. Jangan makan makanan setengah matang,
dan yang mengandung kotoran kucing karena dapat menyebabkan
toxoplasmosis yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin.
9) Bersihkan lingkungan dari bahan kimia.
(Misse, 2015).
e. Penilaian resiko
Tujuan utama penilaian risiko adalah untuk mendapatkan riwayat
kesehatan reproduksi secara menyeluruh meliputi:
1) Usia
Wanita harus menyadari risiko infertilitas, aneuploidi janin, keguguran,
diabetes gestasional, preeklamsia dan sebaiknya jangan menunda kehamilan
sampai usia 30-an atau 40-an, atau sebaliknya tidak harus hamil lagi pada usia
tersebut bila tidak betul-betul diperlukan. Usia ayah yang lanjut juga memiliki
beberapa risiko bagi anak.
2) Riwayat Pekerjaan

7
3) Riwayat Umum meliputi keinginan dan rencana untuk hamil, lama menikah,
rencana menikah, siklus menstruasi, kontrasepsi yang sedang atau pernah
dipakai, obat-obatan yang pernah/sedang dipakai dan alergi obat-obatan atau
lainnya
4) Riwayat Ginekologis meliputi hasil papsmear abnormal, gangguan siklus
menstruasi, mioma uteri, kista ovarium, operasi ginekologis dan penyakit
menular seksual seperti gonore, klamidia, kondiloma, sifilis atau herpes
5) Riwayat Obstetri Buruk
a) Pernah abortus, hamil kosong/blighted ovum, kematian janin, bayi cacat.
b) Pernah mengalami KPD/Ketuban Pecah Dini, kelahiran preterm, bayi
dengan Berat Badan Lahir Rendah.
c) Pernah hamil di luar kandungan.
d) Pernah hamil mola, atau penyakit trofoblas gestasional ganas.
e) Perdarahan dalam kehamilan/pascasalin.
6) Imunisasi yang pernah didapat seperti Hepatitis B, Tetanus Toksoid dan
Rubella.
7) Penyakit Keturunan meliputi Diabetes melitus, Talasemia, Penyakit autoimun,
Epilepsi dan Sistik fibrosis.
8) Penyakit Kronis yang pernah/sedang diderita seperti Diabetes melitus,
Hipertensi, Penyatik rongga mulut dan gigi serta Obesitas berat.
9) Obat-obatan terlarang yang pernah/sedang dikonsumsi.
10) Alkohol, merokok, kafein.
11) Pernah mendapat produk darah, pernah mengalami komplikasi transfusi.
12) Diet yang sedang dilakukan, suplemen atau herbal yang dikonsumsi.
13) Pemakaian herbal rutin.
14) Olah raga yang rutin dilakukan.
15) Binatang peliharaan.
16) Pekerjaan, jenisnya, lama bekerja, risiko untuk penularan penyakit atau
cedera.
17) Keadaan kesehatan mental/psikis.

2. Perencanaan Kehamilan yang Sehat


a. Pemeriksaan kesehatan

8
Pemeriksaan kesehatan sangat penting bagi calon ibu sebelum hamil. Masa
ini disebut prakonsepsi antara 3 – 6 bulan sebelum hamil. Pemeriksaan kesehatan
secara teratur termasuk pengobatan penyakit yang diderita sebelum hamil sampai
dinyatakan sembuh atau diperbolehkan hamil oleh dokter dan dalam pengawasan.
Pemeriksaan kesehatan ini juga bisa meliputi diantaranya:
1) Pemeriksaan Penyakit dan Virus :
a) Pemeriksaan virus rubella, sitomeglovirus, herpes, varicella zoster untuk
menghindari terjadinya kecacatan pada janin.
b) Pemeriksaan virus hepatitis dan virus HIV untuk menghindari diturunkan
penyakit akibat virus-virus tersebut kepada janin.
c) Pemeriksaan penyakit toksoplasmosis, karena penyakit ini dapat menyebabkan
kecacatan dan keguguran.
d) Pemeriksaan penyakit seksual menular, karena hal ini dapat menyebabkan
kematian ibu, janin, maupun bayi yang akan dilahirkan. Selain itu juga
dilakukan pemeriksaan terhadap penyakit yang sedang diderita seperti asthma,
diabetes mellitus dan jantung. Pada Wanita hamil penyakit-penyakit seperti ini
dapat, bertambah berat dan membahayakan jika tidak dilakukan perawatan
dan pengobatan yang teratur. Untuk menghindari kondisi yang
membahayakan, dokter biasanya akan memantau pasiennya dan menentukan
kapan waktu yang paling tepat untuk hamil.
e) Pemeriksaan penyakit akibat kekurangan zat-zat tertentu seperti kekurangan
zat besi. kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia. Hal ini dapat
menyebabkan kelahiran prematur dan keguguran.
2) Pemeriksaan Darah
Pada pemeriksaan golongan darah dan rhesus/Rh darah (unsur yang
mempengaruhi antibodi yang terkandung di dalam sel darah merah) pada
pasangan suami istri dilakukan untuk mengantisipasi perbedaan golongan darah
dan rhesus antara darah ibu dan bayinya. Perbedaan golongan darah dan rhesus
darah ini dapat mengancam janin dalam kandungan.
3) Pemeriksaan Faktor Genetika
Inti dari pemeriksaan atau tes genetika ini adalah untuk mengetahui
penyakit dan cacat bawaan yang mungkin akan dialami bayi akibat secara genetis
dari salah satu atau kedua orangtuanya. Khususnya apabila pasangan suami istri
masih terkait hubungan persaudaraan. Tes ini idealnya dilakukan sebelum
kehamilan untuk mendapatkan informasi yang selengkap-lengkapnya. Jikalau
diperlukan, anda harus mengumpulkan suluruh catatan-catatan medis yang

9
dimiliki oleh pihak suami maupun istri, termasuk keluarga. Sehingga jika telah
diketahui data medis secara lengkap, dapat diketahui secara dini apabila memang
ada kelainan pada janin atau calon orang tua, sehingga bisa membuat keputusan
yang lebih bijak.
(BKKBN, 2014)
b. Menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh
Menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh dengan olahraga teratur. Selama
masa prakonsepsi, pastikan cukup berolahraga. Aktivitas fisik ini tidak perlu
dilakukan selama berjam-jam, cukup 3 kali dalam seminggu selama 1/2 jam, dan
lakukan secara rutin. Olah raga selain menyehatkan, juga mencegah terjadinya
kelebihan berat badan (BKKBN, 2014). Indeks massa tubuh (IMT) merupakan
nilai yang diambil dari perhitungan hasil bagi antara berat badan (BB) dalam
kilogram dengan kuadrat dari tinggi badan (TB) dalam meter (Dhara dan
Chatterjee, 2015). IMT diinterpretasikan menggunakan kategori status berat badan
standar yang sama untuk semua umur bagi pria dan wanita secara umum. Standar
baru untuk IMT telah dipublikasikan pada tahun 2010 oleh Kemenkes RI. Adapun
klasifikasinya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Kategori Ambang Batas IMT

Kategori IMT
Kurang <18.5
Normal 18.5-22.9
Kelebihan berat badan >23.0
Berisiko menjadi obesitas 23.0-24.9
Obesitas I 25.0-29.9
Obesitas II >30.0
(Kemenkes RI, 2010)
Berat badan yang sehat membantu pembuahan dan kehamilan membuat
lebih nyaman. Diet penurunan berat badan harus benar-benar dikontrol agar dapat
aman selama kehamilan, terutama disarankan untuk wanita yang mengalami
kelebihan berat badan serius, tetapi harus disertai dengan selalu berkonsultasi
dengan dokter dan menyarankan rujukan ke ahli gizi. Kelebihan berat badan
menyebabkan risiko lebih besar untuk mengalami komplikasi, seperti tekanan

10
darah tinggi dan diabetes selama kehamilan serta risiko tinggi komplikasi selama
persalinan dan kelahiran dan orang yang terlalu gemuk akan mengalami proses
ovulasi tidak teratur. Selain itu, berat badan kurang bisa membuat kurang subur,
orang terlalu kurus karena kekurangan lemak yang dapat mendukung (BKKBN,
2014).
c. Menghentikan kebiasaan buruk
Menghentikan kebiasaan buruk misalnya perokok berat, morfinis, pecandu
narkotika dan obat terlarang lainnya, kecanduan alkohol, gaya hidup dengan
perilaku seks bebas. Kebiasaan merokok, minum alkohol, atau bahkan
menggunakan narkoba, dapat menyebabkan berbagai masalah selama kehamilan,
juga janin yang dikandung, Bayi dapat lahir prematur, lahir dengan cacat bawaan
hingga kematian janin. Penelitian menyebutkan kebiasaan mengkonsumsi alkohol
akan mengganggu kesuburan oleh karena itu mengkonsumsi alkohol sebelum dan
selama kehamilan akan memperburuk kondisi kesehatan ibu dan janin. Perempuan
yang minum alcohol memiliki kemungkinan rendah untuk bisa hamil. Sedangkan
untuk kaum pria, minum alkohol dapat mempengaruhi kualitas sperma dengan
menurunkan tingkat testosteron dan bisa menyebabkan testis layu (BKKBN,
2014).
d. Meningkatkan asupan makanan bergizi
Persiapan kehamilan sehat memang sangat penting terkait dengan
makanan dan nutrisi dikonsumsi dengan memperbanyak konsumsi buah dan
sayuran. Sebaliknya, hindari makanan yang mengandung zat-zat aditif seperti
penyedap, pengawet, pewarna dan sejenisnya. Kandungan radikal bebas dari zat
aditif tersebut dapat memicu terjadinya mutasi genetik pada anak sehingga
menyebabkan kelainan fisik, cacat dan sejenisnya (BKKBN, 2014). Saat terjadi
pembuahan, janin sudah terekpos apa yang dimakan ibu sejak dua mingu
sebelumnya. Pilih makanan sehat, dan memperhatikan asupan makanan yang
mendukung pembentukan janin sehat. Sebaiknya konsumsi makanan yang
mengandung :
1) Protein, meningkatkan produksi sperma. Makanlah telur, ikan, daging, tahu
dan tempe.
2) Asam folat, penting bagi calon ibu sejak prakonsepsi sampai kehamilan
trimester pertama. Berperan dalam perkembangan system saraf pusat dan
darah janin, cukup asam folat mengurangi risiko bayi lahir dengan cacat

11
sistem saraf sebanyak 70%. Makanlah sayuran hijau tua, jeruk, avokad, hati
sapi, kedelai, tempe, dan serealia. Minum 400 mikrogram asam folat setiap
hari, jika seorang wanita memiliki kadar asam folat yang cukup setidaknya 1
bulan sebelum dan selama kehamilan, dapat membantu mencegah kecacatan
pada otak dan tulang belakang bayi. Asam folat dapat diperoleh melalui
makanan, seperti sayuran berwarna hijau tua (bayam, sawi hijau, caisim mini),
asparagus, brokoli, papaya, jeruk, stroberi, rasberi, kacang-kacangan, alpukat,
okra, kembang kol, seledri, wortel, buah bit, dan jagung. Sebagian susu untuk
ibu hamil pun mengandung asam folat cukup tinggi, sehingga dapat
membantu memenuhi kebutuhan Ibu. Ibu dapat memilih susu untuk ibu hamil
yang rasanya enak untuk mengurangi rasa mual, serta tentu merupakan produk
yang berkualitas tinggi.
3) Konsumsi berbagai Vitamin
a) Vitamin A. Berperan cukup penting dalam produksi sperma yang sehat.
Terdapat pada hati, mentega, margarin, telur, susu, ikan berlemak, brokoli,
wortel, bayam, dan tomat.
b) Vitamin D. Kekurangan vitamin D akan menurunkan tingkat kesuburan
hingga 75%. Sumber vitamin D diproduksi di dalam tubuh dengan bantuan
sinar matahari, selain itu dapat pula diperoleh dari telur, susu, hati, minyak
ikan, ikan tuna, margarin, dan ikan salmon.
c) Vitamin E. Vitamin E dapat meningkatkan kemampuan sperma membuahi
sel telur dan mencegah keguguran karena perannya dalam menjaga
kesehatan dinding rahim dan plasenta. Banyak terdapat pada minyak
tumbuh-tumbuhan, bekatul gandum, dan kecambah atau tauge.
d) Vitamin B6. Kekurangan vitamin ini akan menyebabkan terjadinya
ketidakseimbangan hormon, padahal keseimbangan hormon estrogen dan
progesteron penting untuk terjadinya kehamilan. Sumber vitamin B6
antara lain ayam, ikan, beras merah, kacang kedelai, kacang tanah, pisang,
dan sayur kol.
e) Vitamin C. Pada wanita, vitamin C berperan penting untuk fungsi indung
telur dan pembentukan sel telur. Selain itu, sebagai antioksidan
(bekerjasama dengan vitamin E dan beta karoten) vitamin C berperan
melindungi sel-sel organ tubuh dari serangan radikal bebas (oksidan) yang
mempengaruhi kesehatan sistem reproduksi . Vitamin C banyak terdapat

12
pada jambu biji, jeruk, stroberi, pepaya, mangga, sawi, tomat, dan cabai
merah.
4) Cukupi zat seng. Berperan penting dalam pertumbuhan organ seks dan juga
pembentukan sperma yang sehat. Bagi calon Bunda, seng membantu produksi
materi generatik ketika pembuahan terjadi. Bagi calon ayah, melancarkan
pembentukan sperma. Sumber seng antara lain makanan hasil laut/seafood
(seperti lobster, ikan, daging kepiting), daging, kacang-kacangan (kacang mete
dan almond), biji-bijian (biji labu dan bunga matahari), serta produk olahan
susu.
5) Cukupi zat besi. Kekurangan zat besi membuat siklus ovulasi (pelepasan sel
telur) bunda tergangu. Makanan atau multivitamin yang mengandung zat besi
akan membantu dalam persiapan kehamilan dan menghindari anemia yang
sering kali dikeluhkan oleh ibu hamil. Sumbernya: hati, daging merah, kuning
telur, sayuran hijau, jeruk, dan serealia yang diperkaya zat besi.
6) Fosfor. Jika kekurangan, menurunkan kualitas sperma calon ayah. Terdapat
pada susu, dan ikan teri.
7) Selenium (Se). Berperan penting dalam produksi sperma yang sehat. Gejala
kekurangan selenium antara lain tekanan darah tinggi, disfungsi seksual dan
ketidaksuburan. Sumber selenium antara lain adalah beras, bawang putih,
kuning telur, seafood, jamur, dan semangka.
8) Kurangi konsumsi kandungan makanan yang berminyak. Sebaiknya
menggantinya dengan minyak zaitun. Kandungan asam lemak yang
terkandung di dalam minyak zaitun bermanfaat untuk kesehatan jantung,
tubuh, serta level kolestrol sehingga menyeimbangkan endokrin yang sehat.
9) Kalori Ekstra. Perhatikan pula kebutuhan kalori ekstra yang dapat menunjang
kehamilan. Kebutuhan ini dapat disiapkan sebelum kehamilan dengan
mendapatkannya dari berbagai jenis makanan seperti sereal, nasi, roti dan
pasta. Kalori bermanfaat untuk menyokong perubahan tubuh ibu selama
kehamilan.
10) Membatasi Kafein. Batasi konsumsi kopi dan teh dikarenakan mengandung
kafein yang dapat memperburuk kesehatan menjelang persiapan kehamilan.
Rekomendasi dari pakar kesehatan bahwa mengawali kehamilan dapat
dilakukan dengan batas mengkonsumsi kafein sebanyak 200 miligram, hal ini
juga dapat dibatasi sampai kehamilan.
(BKKBN, 2014)

13
Selain di atas, hindari mengkonsumsi makanan seperti daging mentah,
sayuran mentah, daging ayam dan telur setengah matang, ikan bermerkuri, keju
lunak dan kafein yang dapat menurunkan kemungkinan hamil (BKKBN, 2014)
e. Persiapan secara psikologis dan mental
Ibu dapat mulai merencanakan kehamilan dengan memperkaya
pengetahuan mengenai kehamilan yang berhubungan dengan perencanaan,
perawatan selama kehamilan, menjelang persalinan, pasca persalinan dan juga
perawatan bayi dari berbagai sumber yang terpercaya. Hindari hal-hal yang akan
memberi pengaruh buruk dalam keseimbangan hormonal. Stres dapat merusak
siklus bulanan, dan mencegah proses ovulasi. Sebuah studi membuktikan, wanita
dengan tingkat stres tinggi umumnya sulit hamil. Bagi calon ibu dapat
menyiapkan kesiapan secara psikis termasuk perubahan yang akan terjadi pada
saat kehamilan berlangsung. Dukungan selama kehamilan dari orang terdekat
seperti dari suami dan keluarga besar berpengaruh terhadap kesiapan dalam
menjadi ibu baru semakin siap (BKKBN, 2014).
Selain itu, kondisi kejiwaan bisa sangat mempengaruhi kandungan, oleh
karena itu orang tua harus mempersiapkan diri secara mental untuk menghadapi
proses ini. Selama sembilan bulan masa kehamilan, biasanya terjadi perubahan-
perubahan psikologis tidak hanya pada ibu tetapi juga pada ayah calon bayi.
Usahakan untuk mengkondisikan pikiran dan batin kedua orang tua agar jauh dari
pikiran-pikiran negatif (BKKBN, 2014)
f. Perencanaan keuangan/financial
Persiapan keuangan/financial yang matang untuk persiapan pemeliharaan
kesehatan dan persiapan menghadapi kehamilan dan persalinan. Masalah ini
menjadi salah satu faktor penting karena timbulnya ketegangan psikis serta tidak
terpenuhinya kebutuhan gizi yang baik pada saat kehamilan tak jarang timbul
akibat ketidaksiapan pasangan dalam hal financial/keuangan (BKKBN, 2014)
g. Konsultasi
Lakukan konsultasi dengan dokter/bidan/tenaga kesehatan lainnya
mengenai kesehatan reproduksi ibu dan suami. Dokter/bidan juga dapat
memberikan saran mengenai masalah dalam kehamilan sebelumnya, obat apa
yang saat ini sedang dikonsumsi ibu, serta menganjurkan vaksinasi yang
diperlukan dan beberapa langkah sehat yang dapat dilakukan sebelum masuk
masa kehamilan guna mencegah kecacatan pada bayi.

14
Tidak hanya calon ibu yang harus mempersiapkan kehamilan, calon ayah
juga harus ikut andil didalamnya. Karena keberhasilan kehamilan yang sehat
merupakan kerjasama dan tanggung jawab bersama antar sang calon ibu dan calon
ayah berikut persiapan kehamilan bagi calon ayah :
1) Berhenti merokok.
Merokok dapat mengurangi kesuburan, dan istri laki-laki yang merokok
memiliki kesempatan untuk hamil berkurang juga. Ayah yang merokok juga
mempengaruhi kesehatan bayi, sebelum dan setelah melahirkan seperti risiko
gangguan pernapasan dan meningkatkan kematian mendadak pada bayi.
2) Berhenti meminum minuman beralkohol.
Minuman beralkohol dapat mempengaruhi kualitas sperma dan membuat kecil
kemungkinan untuk mendapatkan kehamilan yang sukses.
4) Minimalisir stress.
Hal ini dapat menyebabkan perubahan hormonal dalam tubuh, yang dapat
menyebabkan masalah kesuburan.
5) Jaga suhu tubuh.
Sperma dibuat di sedikit di bawah suhu tubuh, jadi usahakan jangan
menghabiskan waktu terlalu lama mandi air hangat dan pakailah celana
pendek pria (boxer) untuk meningkatkan sirkulasi di sekitar testis.
6) Makan makanan yang bergizi.
Diet sehat dan olahraga teratur akan mengurangi stres dan meningkatkan
kebugaran secara keseluruhan.
7) Memberikan dukungan pada istri mengenai perencanaan kehamilannya.
(BKKBN, 2014)

15
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU “IA” UMUR 29 TAHUN WANITA USIA


SUBUR DALAM MASA PRAKONSEPSI

Tempat Pelayanan : Ruang KIA/KB UPTD Puskesmas 1 Dinas Kesehatan Kecamatan


Denpasar Timur
Tanggal : 18 Januari 2020
Waktu : 09.30 WITA

A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas
Ibu Suami
Nama : Ibu “IA” Bapak “IB”
Umur : 29 tahun 29 tahun
Agama : Hindu Hindu
Suku Bangsa : Indonesia Indonesia
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : Swasta Swasta
Alamat/Tlp : Jalan Letda Kajeng VI/15
No. Telp : 083118989xxx
Jaminan Kesehatan : Umum
2. Keluhan/Alasan Kunjungan
Ibu mengatakan ingin melepas KB IUD dan ingin merencanakan
kehamilan.
3. Riwayat Menstruasi
HPHT: 15 Januari 2020. Ibu mengatakan pertama kali menstruasi saat
berusia 13 tahun. Lama menstruasi 7 hari dengan siklus teratur. Ibu mengganti
pembalut sebanyak 2-3 kali sehari. Ibu mengatakan tidak ada keluhan terkait
menstruasi.

4. Riwayat Perkawinan
Ibu mengatakan menikah sah 1 kali saat berusia 24 tahun dan suami usia
24 tahun. Lama pernikahan yaitu 5 tahun.
5. Riwayat Obstetri
I. 5-1-2015/aterm/PsptB/Bidan/3100 gram/ /Sehat
6. Riwayat Kontrasepsi
Ibu mengatakan menggunakan KB IUD selama 4 tahun.
7. Riwayat Kesehatan Lalu dan Sekarang
a. Penyakit yang Pernah/Sedang diderita

16
Ibu mengatakan tidak pernah/sedang menderita penyakit kardiovaskuler,
asma, TBC, hipertensi, hepatitis, epilepsi, PMS, alergi dan DM.
b. Penyakit kandungan
Ibu mengatakan tidak mendertia tumor, kista, mioma, PID dan Ca serviks.
c. Keguguran/aborsi
Ibu mengatakan tidak pernah mengalami keguguran/aborsi.
d. Ketergantungan
Ibu mengatakan tidak pernah ketergantungan obat-obatan narkotika dan
minuman beralkohol.
e. Dirawat di RS
Ibu mengatakan tidak pernah dirawat di RS untuk alasan apapun dalam waktu
kurang dari 1 tahun terakhir.
8. Riwayat Penyakit Keluarga
a. Penyakit keturunan
Ibu mengatakan anggota keluarga tidak ada yang mendertia kanker, asma,
hipertensi, hepatitis, DM, epilepsi dan alergi.
b. Penyakit menular
Ibu mengatakan anggota keluarga tidak ada yang menderita TBC dan
PMS/HIV/AIDS.
c. Penyakit kandungan
Ibu mengatakan anggota keluarga tidak ada yang menderita mioma,
infertilitas, endometriosis, servisitis kronis, polip serviks, kanker kandungan
dan operasi kandungan.
9. Riwayat Pemenuhan Kebutuhan
a. Biologis
1) Nutrisi
Ibu mengatakan makan 3 kali sehari porsi sedang dengan menu bervariasi
yaitu nasi, sayur, daging, temped an buah. Ibu mengatakan minum air
putih ± 7-8 gelas sehari.
2) Pola eliminasi
Ibu mengatakan BAB 1 kali sehari, warna kuning kecoklatan, konsistensi
lembek dan BAK 3-5 kali sehari warna kuning jernih. Ibu mengatakan
tidak ada keluhan saat BAB dan BAK.
3) Personal hygiene
Ibu mengatakan mandi 2 kali sehari, keramas 3 kali seminggu, menggosok
gigi 2 kali sehari, mengganti baju 2 kali sehari dan mengganti pakaian
dalam 2 kali sehari.
4) Pola seksual
Ibu mengatakan sedang melakukan program hamil.
b. Psikologi

17
Ibu dan suami mengatakan ingin merencanakan kehamilan anak kedua dan
kesiapan mental ibu dan suami baik.
c. Riwayat sosial ekonomi
Ibu dan suami mengatakan tinggal dengan keluarga besar. Hubungan dengan
keluarga, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja baik. Kebutuhan
ditanggung ibu dan suami. Kondisi lingkungan tempat tinggal bersih. Ibu dan
suami bersama-sama mengambil keputusan. Ibu mengatakan tidak pernah
mengalami kekerasan fisik maupun mental.
d. Spiritual
Ibu dan suami mengatakan tidak ada keluhan saat beribadah.
10. Pengetahuan
Ibu dan suami belum mengetahui persiapan yang dibutuhkan dalam
merencanakan kehamilan yang sehat.

B. DATA OBJEKTIF
Tanggal : 18 Januari 2020, pukul 09.35 WITA
1. Pemeriksaan umum
Ibu Suami
a. Keadaan umum : Baik Baik
b. Kesadaran : Composmentis Composmentis
c. BB : 55 kg 68 kg
d. TB : 162 cm 175 cm
e. IMT : 21.0 22.2
f. TD : 123/68 mmHg 130/72 mmHG
g. Nadi : 72 kali/menit 82 kali/menit
h. RR : 22 kali/menit 22 kali /menit
i. Suhu : 36,60C 36,50C
2. Pemeriksaan fisik
Berdasarkan pemeriksaan fisik head to toe, didapatkan bahwa pada bagian
kepala simetris, rambut hitam dan bersih, kulit kepala bersih, tidak teraba benjolan
atau massa. Pada bagian wajah simetris, tidak tampak pucat, tidak teraba oedema.
Pemeriksaan mata konjungtiva merah muda dan sklera putih. Hidung simetris,
tidak tampak secret, tidak ada polip. Pada bagian mulut dan gigi, bibir ibu lembap
dan gigi tidak karies, tidak tampak sariawan, warna gusi merah muda. Telinga ibu
bersih, simetris dan tidak ada kelainan. Pada leher tidak terdapat pembesaran
kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan tidak ada bendungan vena
jugularis. Pada bagian dada dan aksila didapatkan payudara simetris, puting susu
menonjol, tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan, tidak ada pengeluaran pada

18
payudara dan tidak ada pembesaran kelenjar limfe aksila. Abdomen ibu tidak ada
bekas luka operasi, tidak ada nyeri tekan dan tidak ada kelainan. Pada
anogenetalia didapatkan vulva ibu terdapat keputihan, warna putih, tidak berbau,
tidak ada kelainan dan anus normal. Pada pemeriksaan ekstremitas tidak ada
kelainan, simetris, tidak ada oedema, kuku jari merah muda dan reflek patella
positif kaki kanan dan kiri.

C. ANALISA
Ibu “IA” umur 29 tahun WUS dalam masa prakonsepsi.
Masalah: Ibu dan suami belum mengetahui persiapan yang dibutuhkan dalam
merencanakan kehamilan yang sehat.

D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 18 Januari 2020, pukul 09.40 WITA
Asuhan didampingi oleh Bidan “HR”
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan suami. Ibu dan suami
sudah mengetahui keadaannya saat ini.
2. Melakukan informed consent pada ibu mengenai tindakan yang akan
dilakukan yaitu melakukan pencabutan KB IUD. Ibu mengerti dan menyetujui
dilakukan pencabutan KB IUD.
3. Menyiapkan alat, bahan, pasien dan lingkungan. Semua sudah siap.
4. Melakukan pencabutan KB IUD dengan memasukan spekulum ke dalam
vagina dan menarik benang menggunakan tampon tang dengan hati-hati. Ibu
sudah mengetahui KB IUDnya sudah lepas.
5. Memberikan konseling prakonsepsi kepada ibu dan suami mengenai:
a. Manfaat asuhan prakonsepsi yaitu untuk mengidentifikasi keadaan
penyakit, menilai keadaan psikologis, kesiap-siagaan keuangan dan tujuan
hidup, serta memberikan informasi bagi perempuan dan pasangannya
untuk membantu membuat keputusan tentang persalinan yang akan
dihadapinya. Ibu dan suami mengerti dan dapat mengulang kembali
penjelasan bidan.

19
b. Perencanaan kehamilan yang sehat untuk mempersiapkan kehamilan guna
mendukung terciptanya kehamilan yang sehat dan menghasilkan
keturunan yang berkualitas. Ibu dan suami mengerti dan dapat mengulang
kembali penjelasan bidan.
c. Pemeriksaan kesehatan terkait prakonsepsi dan perencanaan kehamilan
meliputi pemeriksaan penyakit dan virus, pemeriksaan darah dan
pemeriksaan faktor genetika. Ibu dan suami mengerti dan dapat
mengulang kembali penjelasan bidan.
d. Menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh dengan melakukan olahraga
teratur. Ibu dan suami mengerti dan bersedia melakukannya.
e. Menghentikan kebiasaan buruk seperti merokok, morfinis, pecandu
narkotika dan obat terlarang, kecanduan alcohol dan perilaku seks bebas
dapat menyebabkan berbagai masalah selama kehamilan. Ibu dan suami
mengerti dan dapat mengulang kembali penjelasan bidan.
f. Meningkatkan asupan makanan yang bergizi mengandung protein, asam
folat, vitamin, zat seng, zat besi, fosfor, kalori ekstra dan selenium serta
menghindari mengkonsumsi makanan yang mengandung minyak berlebih
dan membatasi mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein seperti
kopi dan teh karena dapat memperburuk kesehatan menjelang persiapan
kehamilan. Ibu dan suami mengerti dan dapat mengulang kembali
penjelasan bidan.
g. Persiapan secara psikologis dan mental dengan menghindari hal-hal yang
akan memberi pengaruh buruk dan menyiapkan kesiapan secara psikis
termasuk. Ibu dan suami mengerti dan dapat mengulang kembali
penjelasan bidan.
h. Perencanaan keuangan yang matang untuk persiapan pemeliharaan
kesehatan dan persiapan menghadapi kehamilan dan persalinan. Ibu dan
suami mengerti dan dapat mengulang kembali penjelasan bidan.
6. Menyarankan ibu dan suami untuk melakukan pemeriksaan skrinning terkait
dengan perencanaan kehamilan. Ibu dan suami mengerti dan bersedia
dilakukan pemeriksaan skrinning setelah berdiskusi dengan dokter SpOG.
7. Melakukan pendokumentasian, hasil tercatat pada rekam medis.

20
BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

Perawatan prakonsepsi yang dimulai sebelum kehamilan dapat menjadi


strategi efektif untuk mengurangi gangguan bawaan dan meningkatkan kesehatan
wanita usia subur (Shanon et al, 2013). Preconception Counseling merupakan
skrining dan memberikan informasi serta dukungan kepada individu usia subur
sebelum hamil untuk promosi kesehatan dan mengurangi risiko (Bulechek,
Butcher, and Dochterman, 2008). Preconception Counseling bertujuan untuk
mengidentifikasi dan memodifikasi risiko yang berhubungan dengan kesehatan
dan hasil kehamilan ibu, serta sebelum kehamilan (Walfisch dan Koren, 2011).
Asuhan kebidanan pada Ibu “IA” umur 29 tahun WUS dalam masa
prakonsepsi di UPTD Puskesmas 1 Denpasar Timur dilakukan sesuai dengan
Manajemen Kebidanan. Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan
masalah sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah (Varney, 2014). Adapun tujuh langkah Manajemen
Kebidanan menurut Varney yaitu pengkajian, interpretasi data, diagnosa potensial,
tindakan segera/kolaborasi, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sehingga dapat
diuraikan sebagai berikut:
A. Pengkajian
Pengkajian data merupakan tahap awal dari manajemen Varney
dilaksanakan dengan cara pengkajian data subjektif dan data penunjang lainnya
(Nursalam, 2013). Ibu “IA” dan Bapak “IB” termasuk pasangan usia subur (PUS)
yaitu berusia 29 tahun sesuai dengan BKKBN (2013) yaitu Pasangan Usia Subur
(PUS) adalah pasangan suami istri dengan usia istri berumur antara 15 sampai
dengan 49 tahun atau usia istri berumur kurang dari 15 tahun dan sudah haid atau
usia istri berumur lebih dari 50 tahun tetapi masih haid. Pada data subjektif Ibu
“IA” bahwa ibu datang bersama suami ingin melepas KB IUD dan merencanakan
kehamilan anak kedua. Selain itu, tidak terdapat riwayat penyakit yang
sedang/pernah diderita ibu, suami dan keluarga. Data objektif pada Ibu “IA” dan
Bapak “IB” didapatkan tanda-tanda vital dalam batas normal. Pada pemeriksaan
antopometri didapatkan IMT Ibu “IA” 21.0 dan Bapak “IB” 22.2 merupakan
kategori normal. Hal ini sesuai dengan menurut Kemenkes RI (2010) yaitu

21
kategori ambang batas IMT normal yaitu 18.5-22.9. Pada langkah pengkajian data
ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik.
B. Interpretasi Data
Interpretasi data merupakan data dasar yang telah dikumpulkan
diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik
(Varney, 2014). Berdasarkan data yang telah dikumpulkan yaitu Ibu “IA” umur 29
tahun WUS ingin melepas KB IUD karena ingin merencanakan kehamilan anak
kedua. Pemberian konseling prakonsepsi pada Ibu “IA” dan suami dalam
mempersiapkan perencanaan kehamilan yang sehat agar menghasilkan keturunan
yang berkualitas (BKKBN, 2014). Pada langkah interpretasi data tidak ditemukan
kesenjangan antara teori dengan praktik.
C. Diagnosa Potensial
Pada langkah ini mengidentifikasikan diagnosa potensial yang
membutuhkan tindakan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan
(Varney, 2014). Berdasarkan asuhan yang diberikan pada Ibu “IA” dan Bapak
“IB” tidak terdapat diagnosa atau masalah potensial.
D. Tindakan segera/kolaborasi
Tindakan segera dan kolaborasi dilakukan apabila klien mengalami
keluhan yang mengancam atau temuan dari hasil pemeriksaan maka dilakukan
tindakan segera atau kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya (Mengkuji,
2013). Pada asuhan kebidanan Ibu “IA” dan suami tidak ditemukan adanya
kelainan. Pemberian KIE pada ibu dan suami untuk melakukan pemeriksaan
skrinning terkait prakonsepsi dan perencanaan kehamilan berkolaborasi dengan
Petugas laboratorium, Ahli gizi dan Dokter SpOG.
E. Perencanaan
Perencanaan tindakan merupakan desain spesifik intervensi dalam
mencapai kriteria hasil tindakan yang baik (Nursalam, 2013). Rencana tindakan
yang akan dilakukan pada asuhan kebidanan Ibu “IA” dan suami yaitu
informasikan kepada ibu dan suami mengenai hasil pemeriksaannya, lakukan
informed consent mengenai tindakan yang akan dilakukan yaitu melakukan
pencabutan KB IUD, siapkan alat, bahan, pasien dan lingkungan, lakukan
pencabutan KB IUD pada ibu, berikan konseling prakonsepsi kepada ibu dan
suami mengenai manfaat asuhan prakonsepsi, perencanaan kehamilan yang sehat,
pemeriksaan kesehatan terkait prakonsepsi dan perencanaan kehamilan, menjaga
kebugaran dan kesehatan tubuh, menghentikan kebiasaan buruk, mengingkatkan

22
asupan makanan bergizi, persiapan psikologis dan mental, serta perencanaan
keuangan yang matang, berikan saran kepada ibu untuk melakukan pemeriksaan
skrinning terkait dengan perencanaan kehamilan, dokumentasikan hasil kegiatan.
Berdasarkan hal tersebut tidak ada kesenjangan antara teori dengan praktik.
F. Pelaksanaan
Pada langkah pelaksanaan asuhan kebidanan Ibu “IA” dan suami dalam
masa prakonsepsi merupakan pelaksanaan dari rencana asuhan menyeluruh
(Varney, 2014). Pada langkah ini sudah dilakukan sesuai dengan rencana asuhan
yang telah dibuat. Berdasarkan kasus ini, tidak ada kesenjangan antara teori dan
praktik dalam menetapkan pelaksanaan secara menyeluruh.
G. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam manajemen kebidanan. Pada
langkah evaluasi asuhan kebidanan sudah diberikan meliputi pemenuhan
kebutuhan yang telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi
dalam diagnosa (Varney, 2014).
Pada Ibu “IA” dan suami setelah dilakukan asuhan didapatkan evaluasi
yaitu ibu dan suami sudah mengetahui keadaannya saat ini, ibu telah menyetujui
dilakukan pencabutan KB IUD, alat, bahan dan lingkungan sudah siap, ibu sudah
mengetahui KB IUDnya sudah lepas, ibu dan suami sudah mengetahui mengenai
manfaat asuhan prakonsepsi, perencanaan kehamilan yang sehat, pemeriksaan
kesehatan terkait prakonsepsi dan perencanaan kehamilan, menjaga kebugaran
dan kesehatan tubuh, menghentikan kebiasaan buruk, mengingkatkan asupan
makanan bergizi, persiapan psikologis dan mental, serta perencanaan keuangan
yang matang, ibu dan suami mengerti dan bersedia dilakukan pemeriksaan
skrinning setelah berdiskusi dengan dokter SpOG, hasil tercatat pada rekam
medis. Berdasarkan data di atas, tidak ada kesenjangan antara teori dengan
praktik.

23
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Asuhan kebidanan pada Ibu “IA” umur 29 tahun WUS dalam masa
prakonsepsi menerapkan tujuh langkah Manajemen Kebidanan menurut Varney
dapat disimpulkan:
1. Berdasarkan pengkajian data didapatkan Ibu “IA” dan Bapak “IB” dalam
keadaan sehat dan tidak ditemukan kelainan. Pengkajian data telah sesuai.
2. Pada interpretasi data didapatkan diagnosa kebidanan Ibu “IA” umur 29
tahun dalam masa prakonsepsi. Ibu “IA” mengatakan ingin melakukan
pelepasan KB IUD karena ingin merencanakan kehamilan anak kedua.
3. Diagnosa potensial pada kasus ini yaitu tidak ada karena pada hasil
pemeriksaan tidak ditemukan kelainan.
4. Tidak dilakukannya tindakan segera ataupun kolaborasi pada Ibu “IA”.
5. Perencanaan yang diberikan pada Ibu “IA” yaitu pencabutan KB IUD dan
konseling mengenai prakonsepsi dan perencanaan kehamilan. Rencana
pemberian konseling prakonsepsi pada Ibu “IA” dan Bapak “IB” bermanfaat
untuk mendukung terciptanya kehamilan yang sehat dan menghasilkan
keturunan yang berkualitas.
6. Pelaksanaan dalam pemberian asuhan pada Ibu “IA” sesuai dengan
perencanaan yang telah ditetapkan sehingga diperoleh hasil yang maksimal.
7. Evaluasi yang diberikan sudah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan yang telah
diidentifikasi dalam diagnosa. Ibu dan suami bersedia dilakukan pemeriksaan
skrinning setelah berdiskusi dengan dokter SpOG.
8. Pada kasus Ibu “IA” sudah sesuai dengan standar pelayanan dan tidak terdapat
kesenjangan antara teori dengan penerapan di tempat praktik berdasarkan
manajemen Varney.

24
B. Saran
1. Bagi Pasangan Usia Subur (PUS)
Diharapkan pada pasangan usia subur (PUS) lebih memahami pentingnya
melakukan pemeriksaan skrinning sebelum merencanakan kehamilan. Hal ini
bertujuan untuk mengurangi risiko yang kemungkinan terjadi saat kehamilan dan
dapat menghasilkan keturunan yang berkualitas dan sehat.
2. UPTD Puskesmas 1 Denpasar Timur
Bagi UPTD Puskesmas 1 Denpasar Timur diharapkan agar tetap menjaga
dan mempertahankan kualitas dalam memberikan asuhan kebidanan pada masa
prakonsepsi dan perencanaan kehamilan yang sehat sehingga menurunnya angka
kejadian kematian ibu dan janin.
3. Bagi bidan
Diharapkan bidan Puskesmas agar berkolaborasi dengan kader Desa untuk
melakukan penyuluhan mengenai prakonsepsi dan perencanaan kehamilan pada
remaja dan Pasangan Usia Subur (PUS) agar dapat mewujudkan generasi yang
sehat, cerdas dan mandiri.2
4. Penulis Selanjutnya
Penulis selanjutnya diharapkan dapat melakukan pengkajian lebih dalam
agar data yang didapatkan lebih akurat dan asuhan yang diberikan sesuai dengan
standar pelayanan.

25
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini dkk. 2015. Sikap Pasangan Usia Subur Terhadap Drop Out Peserta
Program Keluarga Berencana (KB) Kabupaten Jember. Jurnal Ilmu
Administrasi Negara. Universitas Jember. Vol I (1): 1-13.

BKKBN. 2013. Pemantauan Pasangan Usia Subur Melalui Mini Survei


Indonesia. Jakarta: BKKBN.

_______. 2014. Modul Pengajaran Mempersiapkan Kehamilan Yang Sehat.


Jakarta: BKKBN.

Bulechek, Gloria M., et al. 2008. Nursing Intervention Classification (NIC).


Lowa: Mosby Elsevier.

Cunningham F.G., 2012. Obstetri Williams. Jakarta: EGC. Cetakan 23, pp.774-
797.

Dhara S dan Chatterjee K. 2015. A Study of VO2 Max in Relation With Body Mass
Index (BMI) of Physical Education Student. Research Journal of Physical
Education Science. 3 (6) : 2320-9011

Farahi, and Zolotor. 2013. Recommendations For Preconception Counseling and


Care. Family Physician. p88(8),499-506.

Krisnadi, Sofie. 2015. Persiapan Prakehamilan. Tersedia dalam


https://www.researchgate.net/publication/282295367Persiapanprakehamila
n. Diakses pada tanggal 8 Januari 2020.

Lanik A.D. 2012. Preconception Counseling. Primary Care. p39(1),1-16.

Mengkuji, Betty. Dkk. 2013. Asuhan Kebidanan Tujuh Langkah SOAP. Jakarta:
EGC.

26
Misse. 2015. Askeb Prakonsepsi, KB dan Ginekologi. Tersedia dalam
https://www.academia.edu/16805395/Askeb Prakonsepsi KB dan Gine.
Diakses pada tanggal 7 Januari 2020.

Nursalam. 2013. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis.


Jakarta: Salemba Medika.

Regina, V.T. 2011. Keperawatan Maternitas. Bogor: Ghalia Indonesia.

Yulizawati, dkk. 2017. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Padang: Pustaka


Utama.

Shanon, C., et al. 2013. Preconception Healthcare and Congenital Disorders:


Systematic Review of The Effectiveness of Preconception Care Programs
In The Prevention of Congenital Disorders. Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/. Diakses pada tanggal 19 Januari
2020.

Sunarsih, Tri. 2011. Asuhan Kebidanan Untuk Kehamilan. Jakarta: Salemba.

Varney, Helen. 2014. Buku Saku Asuhan Kebidanan Varney. Edisi 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Walfisch and Koren. 2011. Preconception Counseling: Rational, Practice and


Challenges. Available at http://europepmc.org/abstract/MED/21926950.
Diakses pada tanggal 19 Januari 2020.

Williams, et al. 2012. Associations Between Preconception Counseling and


Maternal Behaviors Before and During Pregnancy. Maternal and Health
Journal. p16(9):1854-1861.

27