Anda di halaman 1dari 36

Tugas Kelompok : Dosen Pengampu :

Audit Internal II Prof.Dr.Dra.Rita Anugerah,MAFIS., Ak., CA

Fraud Data Mining, Contract Fraud, Bribery,


Travel Expenses

Disusun :

Hafiz Tri Zuriansyah 1810246369

Hendy Tirta Kurnia 1810246365

Novia Kepriyani 1710246649

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

JURUSAN MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS RIAU

DESEMBER 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Nikmat-Nya kepada kita,
Sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Audit Internal II yang membahas tentang
Fraud Data Mining, Contract Fraud, Bribery, Travel Expenses

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Makalah Audit Internal II
yang dibimbing langsung Prof.Dr.Dra.Rita Anugerah,MAFIS., Ak., CA Kami menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof.Dr.Dra.Rita Anugerah,MAFIS., Ak.,


CA yang telah mengamanahkan tugas ini kepada penulis.Semoga makalah ini memberikan
informasi bagi semua kalangan dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan
peningkatan ilmu pengetahuan khususnya bagi penulis.

Pekanbaru

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................................1


DAFTAR ISI........................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................3
Latar Belakang .....................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................................5
II.A.1Data Mining dan Pengelompokannya .................................................................................... 5
II.A.2Penggunaan Data Mining Dalam Audit. ................................................................... 6
II.A.3Perhatian dalam Penerapan Data Mining .................................................................. 9
II.BContract Fraud ........................................................................................................................... 9
II.B.1Langkah Rencana Audit Kontrak ............................................................................ 10
II.B.2Memahami Motivasi Laba Penipuan ....................................................................... 11
II.B.3Faktor Intent ............................................................................................................ 12
II.B.4Sinopsis Skema Penurunan Kontrak ........................................................................ 12
II.C.1Penyuapan ............................................................................................................................. 19
II.C.2Memahahi Persyaratan Hukum ............................................................................... 19
II.C.3Anggaran dasar ........................................................................................................ 20
II.C.4Definisi Audit versus Definisi Hukum .................................................................... 20
II.C.5Elemen Audit ........................................................................................................... 21
II.C.6Tujuan Audit ............................................................................................................ 22
II.DTravel Expense ........................................................................................................................ 26
II.D.1Travel Expense Concealment Strategies ................................................................. 26
III.D.2The Red Flags of Travel Expense Fraud ................................................................ 26
III.D.3Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 55/PMK.05/2014 ................................... 32
BAB III KESIMPULAN................................................................................................................ 34
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 35

2
BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang

Profesi akuntan khususnya auditor diharapkan akan menjadi bagian penjaga kepentingan publik
yang akan memberikan jasanya dalam menguji informasi, sehingga informasi yang diberikan kepada
publik benar-benar informasi yang akurat, benar dan dapat dimanfaatkan dalam proses pengambilan
keputusan, khususnya dalam dunia ekonomi dan bisnis. Dalam proses pengambilan keputusan kualitas
informasi yang diberikan haruslah akurat, benar, jujur, dan relevan. Jika informasi yang diberikan tidak
benar maka keputusan yang dihasilkan juga tidak akan benar, sehingga akan menimbulkan kerugian pada
berbagai pihak.
Kerugian yang diakibatkan oleh penipuan laporan keuangan dalam skandal dunia bisnis
belakangan ini berpengaruh besar pada industri keuangan, pasar modal, dan insvestor. Kompleksnya
kasus penipuan laporan keuangan yang dilakukan oleh perusahaan besar seperti Enron, WorldCom,
HealthSouth, dan banyak daftar lainnya membuat permintaan akan tugas auditor semakin meningkat.
Chintalapati dan Jyoutsna (2013) mengatakan bahwa tuntutan tugas audit hari ini telah meningkat, ada
banyak bukti bahwa prektek akuntansi “book cooking” telah secara luas digunakan. Book cooking adalah
ungkapan yang menggambarkan aktivitas kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan untuk memalsukan
laporan keuangan mereka (http://www.investopedia.com).
Semua organisasi, apapun jenis, bentuk, skala operasi dan kegiatannya memiliki risiko
terjadinya fraud atau kecurangan. Fraud atau kecurangan tersebut, selain memberi keuntungan bagi pihak
yang melakukannya, membawa dampak yang cukup fatal, seperti misalnya hancurnya reputasi organisasi,
kerugian organsisasi, kerugian keuangan Negara, rusaknya moril karyawan serta dampak-dampak negatif
lainnya.
Secara ekonomi, kecurangan dalam laporan keuangan menjadi masalah yang semakin serius dan
kemampuan untuk mendeteksi secara efektif kecurangan tersebut adalah tugas yang penting, namun
kompleks bagi auditor. Prosedur audit tradisional tidaklah cukup untuk mendeteksi kecurangan.
Keterbatasan prosedur audit tradisional menyarankan perlunya prosedur analisis data otomatis yang
efektif dalam mendeteksi kecurangan dalam pelaporan keuangan. Data mining adalah salah satu
contohnya, Ia akan memberikan bantuan yang besar dalam mendeteksi kecurangan laporan keuangan
(Chintalapati dan Jyoutsna, 2013). ). Turner and Weicknannt (2013) juga mengemukakan bahwa data
mining adalah proses mencari dan mengidentifikasi pola dalam data yang bisa digunakan untuk

3
memprediksi perilaku masa depan. Dengan pola yang dibentuk dari data mining, auditor akan mampu
untuk mendeteksi kecurangan atau mengatasi risiko yang akan timbul dimasa depan, karena sebagaimana
yang telah disebutkan bahwa data mining dapat digunakan untuk memprediksi perilaku masa depan.

Praktek-praktek kecurangan tidak hanya tejadi terhadap laporan keuangan perusahaan namun
kecurangan juga banyak terjadi didalam proses kontrak kerjasama perusahaan dengan pihak ketiga
seperti yang terjadi pada kasus british telecom tahun 2017 dimana modus kecurangan tersebut
membesarkan penghasilan perusahaan melalui perpanjangan kontrak yang palsu dan invoicenya serta
transaksi yang palsu dengan vendor. Kemudian kasus yang pernah terjadi terkait kontrak kerjasama yaitu
suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat pada PT Garuda Indonesia Tbk sebagai hadiah yang atas
dimenangkannya kontrak kerjasama oleh pabrikan.

Kecurangan Selanjutnya yang banyak terjadi didalam suatu proses bisnis perusahaan yaitu terkait
dengan beban perjalanan. Salah satu kasus yang terjadi hasil temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
menemukan kementerian dan lembaga (K/L) yang melakukan penggelembungan kebutuhan dana untuk
perjalanan dinas. Temuan tersebut terungkap dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I (IHPS I)Tahun
2019 yang menunjukkan biaya perjalanan dinas ganda atau tidak sesuai ketentuan di 41 K/L senilai Rp
25,43 miliar.

Menurut Vona (2008), auditor harus berperan secara aktif untuk selalu menggali informasi
mengenai di bagian mana dari laporan keuangan ataupun proses bisnis yang rentan terhadap kecurangan.
Auditor harus secara khusus memberikan penilaian terhadap kemungkinan salah saji akibat kecurangan.

4
BAB II

LANDASAN TEORI

II.A.1 Data Mining dan Pengelompokannya


Data mining mengacu pada ekstraksi pengetahuan dari sejumlah besar data (Han dan Kamber,
2006). Turner and Weicknannt (2013) mengatakan bahwa data mining adalah proses mencari dan
mengidentifikasi pola dalam data yang bisa digunakan untuk memprediksi perilaku masa depan. Grey dan
Debreceny (2014) mengelompokkan pendekatan atas data mining menjadi dua kelompok besar, yaitu
pendekatan terarah (atau pendekatan atas ke bawah) dan tidak terarah (pendekatan dari bawah ke atas).
Beberapa contoh dari pendekatan data mining terarah yaitu klasifikasi, estimasi, dan prediksi, sedangkan
untuk pendekatan data mining tidak terarah terdiri dari pengelompokan afinitas, clustering dan deskripsi
dan visualisasi. Berikut adalah penjelasan dari beberapa contoh tersebut :

1. Klasifikasi : Klasifikasi yaitu mengembangkan seperangkat aturan berdasarkan data yang ada untuk
secara tepat mengklasifikasi objek baru kedalam klasifikasi yang relatif terpisah. Misalnya, teknik
klasifikasi untuk mengkategorikan klien audit sebagai klien yang memiliki risiko yang rendah, sedang,
atau tinggi, yang berdasarkan pada serangkaian variabel independen seperti variabel laporan keuangan,
pergerakan harga saham dan volume. Sharma dan Panigrahi (2012) meyebutkan beberapa teknik
klasifikasi yang umum yaitu neural networks, Naive bayes, decision trees and support vector
machines.
2. Estimasi : Ketika teknik klasifikasi digunakan untuk hasil yang relatif diskrit, maka teknik estimasi
menggunakan variabel kontinyu. Misalnya, daripada mengkategorikan risiko sebagai risiko rendah /
sedang / tinggi, teknik estimasi akan menghasilkan skor risiko (mis, dari 0 sampai 10). Estimasi ini
kemudian akan mengklasifikasikan objek, melalui teknik yang mirip dengan regresi logistik.
Misalnya, klien berisiko tinggi memiliki skor risiko lebih dari 7,5. Estimasi dapat digunakan untuk
menentukan peringkat objek populasi dan mengembangkan skor ambang batas. Sebagai contoh, semua
klien audit yang memiliki skor di atas nilai ambang batas sebesar 8 harus memiliki auditor forensik
yang ditugaskan untuk audit.
3. Prediksi : Klasifikasi dan estimasi adalah teknik data mining yang digunakan untuk mengungkapkan
karakteristik variabel yang sebelumnya diidentifikasikan dalam dataset. Saat menggunakan teknik
klasifikasi dan estimasi, pengguna tidak berusaha untuk menguji kebenaran hasilnya. Sebaliknya,
tujuan prediksi data mining adalah menguji hipotesis secara sistematis dan juga untuk menemukan
outlier (titik merah) di mana faktor berada di luar kisaran yang diperkirakan. Sharma dan Panigrahi

5
(2012) mengatakan bahwa Neural networks dan logistic model prediction adalah teknik yang paling
umum digunakan untuk alat prediksi.
Pengelompokan afinitas: Tujuan pengelompokkan afinitas adalah untuk menemukan hubungan
antara variabel dalam kumpulan data. Tidak ada variabel dependen dan independen tertentu. Analis data
mencari hubungan yang tidak diketahui sebelumnya antar variabel. Dalam audit, teknik data mining dapat
digunakan untuk menemukan hubungan dalam populasi journal entry yang diberikan kepada auditor.
Contoh pengelompokan afinitas semacam itu bisa berupa journal entry yang terkait antara properti, pabrik
dan peralatan dan pemeliharaan pabrik. Auditor akan menyelidiki journal entry yang berada di luar
pengelompokkan afinitas yang diharapkan. Hubungan tersebut juga bisa membangun data yang mengikuti
urutan tertentu seperti pola temporal. Pola mining berurutan mencari hubungan dalam kaitannya dengan
urutan peristiwa terkait. Kelas data mining ini memiliki

4. implikasi yang jelas untuk mengidentifikasi pola, misalnya serangkaian transfer antar akun yang tidak
tepat namun kecil.
5. Clustering : Tujuan dari clustering adalah untuk mengelompokkan variabel menjadi subkelompok
berdasarkan hubungan dalam kumpulan data. Tujuan klasifikasi dan clustering adalah sama.
Implementasi dan hasilnya sangat berbeda. Dalam pendekatan klasifikasi, subkelompok memiliki
kelas yang telah ditentukan berdasarkan variabel yang telah dipilih sebelumnya. Sebaliknya, dalam
pendekatan clustering, subkelompok tidak dipilih sebelumnya. Auditor harus menafsirkan makna
dasar subpengelompokan dalam clustering menggunakan pengetahuan mereka tentang model
akuntansi dan model bisnis yang dipekerjakan oleh klien. Dalam satu set jurnal entry, clustering akan
mengidentifikasi kelompok jurnal yang diharapkan. Contoh cluster semacam itu adalah entri yang
melibatkan pendapatan penjualan, piutang, biaya produk, dan inventaris.
6. Deskripsi dan visualisasi: Tujuan umum dari data mining adalah untuk menemukan statistik deskriptif
yang menarik dalam database. Seperti clustering dan pengelompokkan afinitas, akan tergantung pada
auditor untuk menafsirkan hasilnya. Namun, ini adalah titik awal yang baik bahwa hasil data mining
ini akan memotivasi auditor untuk melakukan pengumpulan data yang lebih terfokus - bahkan
mengarahkan data mining - untuk membuktikan atau membantah interpretasi awal hasil deskriptifnya.

II.A.2 Penggunaan Data Mining Dalam Audit.


Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya karena semakin difungsikannya lingkungan virtual,
menyebabkan terjadinya peningkatan yang besar dalam jumlah data baik pada entitas tingkat global
maupun ekonomi. Data-data tersebut berasal dari beragam sumber, seperti kontrak, interaksi dengan
pelanggan, call center, media sosial, telepon, email, faksimile, dan lain-lain (Banarescu, 2015). Dengan

6
semakin menigkatnya jumlah data tersebut, khususnya pada lingkungan virtual, maka permintaan akan
tugas audit untuk dapat mendeteksi kecurangan dalam laporan keuangan juga akan meningkat.
Chintalapati dan Jyoutsna (2013) mengatakan bahwa prosedur audit tradisional tidaklah cukup
untuk mendeteksi kecurangan. Keterbatasan prosedur audit tradisional menyarankan perlunya prosedur
analisis data tambahan yang dapat secara otomatis dan efektif untuk mendeteksi kecurangan dalam
pelaporan keuangan. Laporan ACFE 2014 dalam Banarescu (2015) menyimpulkan bahwa aplikasi
otomatis analisis data sangat berguna dalam mendeteksi kecurangan, sebagaimana yang telah ditemukan
bahwa Organisasi yang menggunakan pemantauan / analisis data proaktif mengalami penurunan kerugian
akibat

kecurangan sebesar 59,7% dibandingkan dengan perusahaan yang tidak menggunakan. Data
mining adalah salah satu contoh dari alat yang dapat digunakan untuk analisis data otomatis sebagaimana
yang dikatakan oleh Chintalapati dan Jyoutsna (2013) bahwa data mining akan memberikan bantuan yang
besar dalam mendeteksi kecurangan laporan keuangan (Chintalapati dan Jyoutsna, 2013).
Grey dan Debreceny (2014) mengatakan bahwa data mining adalah tentang menemukan pola,
aturan, atau model berdasarkan satu atau beberapa populasi data. Hasilnya (pola, aturan, atau model)
digunakan untuk memprediksi hasil di masa depan. Hasil aktual yang berada di luar rentang perkiraan
atau pola adalah red flag yang harus diselidiki oleh auditor. Data mining akan berguna bagi auditor dalam
setiap fase auditnya, sebagaimana yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Memahami Klien
Mengembangkan pemahaman tentang klien merupakan aspek kunci dari perencanaan audit. Sebagai
bagian dari tahap awal proses perencanaan, auditor harus memahami berbagai faktor risiko terkait
klien, termasuk struktur kepemilikan dan organisasi, Mitra bisnis dan hubungan dengan pihak terkait
dengannya, dan lingkungan tempat klien beroperasi. Mengingat kompleksitas klien audit yang khas
dalam hal proses bisnis, struktur organisasi, dan hubungan mitra bisnis, ada potensi untuk
memanfaatkan alat dan teknik pengumpulan data untuk meningkatkan daya analitis auditor atas data
kinerja klien, hubungan eksternal, dan jaringan. Biasanya, sebagian besar data mining pra-audit ini
akan berfokus pada laporan keuangan terbitan, siaran pers dan analisis, laporan analis, harga saham,
peraturan, dan laporan kinerja internal perusahaan.
2. Merencanakan Audit
Detail perencanaan audit berbasis risiko akan mengikuti penilaian risiko terhadap klien. Sebagai
bagian dari proses perencanaan, auditor biasanya akan melakukan berbagai prosedur analitis untuk
mengembangkan ekspektasi saldo akun yang terealisasi seperti tingkat hutang, pendapatan tunai, dan
tingkat akrual. Seringkali auditor akan melakukan analisis rasio yang relatif sederhana terhadap

7
laporan keuangan. Penggunaan data mining yang menggabungkan analisis data eksternal yakni tren
nasional dan industri dengan data klien dapat membuat fase audit ini lebih efektif dan efisien.
3. Merencanakan prosedur terkait dengan kecurangan
Auditor diwajibkan untuk mengkaji risiko kecurangan dalam proses perencanaan audit secara metodis,
termasuk melakukan brainstorming aktif antara tim audit. Dalam merencanakan audit, auditor juga
harus melakukan prosedur analitik yang berkaitan dengan pendapatan dengan tujuan untuk
mengidentifikasi hubungan yang tidak biasa atau tidak terduga yang melibatkan akun pendapatan yang
dapat mengindikasikan salah saji material karena laporan keuangan yang tidak benar. Contohnya
adalah membandingankan volume penjualan dengan jumlah pendapatan yang tercatat dan kapasitas
produksi. Volume penjualan yang melebihi kapasitas produksi mungkin mengindikasikan penjualan
yang ketat. Contoh tersebut dilakukan dengan alat data mining. Bagian penting lainnya dari tahap
perencanaan adalah mempertimbangkan risiko yang timbul dari kelemahan dalam pengendalian
internal untuk mencegah kecurangan. Sebagai bagian dari komitmen auditor untuk memantau
efektivitas pengendalian internal, klien sering menyiapkan matriks asertif untuk menilai risiko dan
kontrol kunci untuk pengujian selanjutnya
4. Mengumpulkan bukti atas pengendalian
Setelah tahap perencanaan, pengumpulan bukti audit dimulai. Aspek kunci dari proses ini adalah
menilai efektivitas operasi pengendalian internal. Proses mining pada operasi pengendalian internal
sepanjang siklus operasi merupakan aplikasi potensial data mining. Proses mining biasanya beroperasi
pada log sistem, misalnya, sistem ERP yang mendukung buku besar umum.
5. Mengumpulkan bukti kecurangan
Saat melakukan pekerjaan audit, auditor melakukan prosedur substantif, beberapa di antaranya
berhubungan secara khusus dengan deteksi kecurangan. Misalnya prosedur analitis substantif
mengenai pendapatan, yaitu dengan membandingkan pendapatan yang dilaporkan per bulan dan lini
produk atau segmen bisnis.
6. Menyimpulkan hasil audit, review dan pelaporan
Auditor diwajibkan untuk mengevaluasi kemungkinan salah saji material karena kecurangan pada atau
di dekat selesainya pekerjaan lapangan menanggapinya dengan tepat. Tanggapan ini mungkin
termasuk mengevaluasi ulang penggunaan prosedur data mining yang ditolak sebelumnya.
Sebagaimana yang telah diuraikan diatas, sangat penting bagi auditor untuk dapat memanfaatkan
data mining dalam setiap proses auditnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Jans et al. (2013) bahwa
sangat penting bagi auditor untuk memanfaatkan kemampuan proses yang ditawarkan oleh data mining
dalam proses audit, karena:

8
1. Proses mining menganalisa seluruh populasi data dan bukan sekedar sampel.
2. Secara kritis data terdiri dari meta data, yaitu data yang dimasukan secara independen dari tindakan
auditee yang tidak hanya data yang dimasukan oleh auditee.
3. Proses mining memungkinkan auditor memiliki cara yang lebih efektif untuk menerapkan model
risiko audit dengan cara yang efektif dalam melakukan langkah-langkah proses yang diperlukan dan
melakukan prosedur analitik.
4. Proses mining memungkinkan auditor untuk melakukan analisis yang tidak mungkin dilakukan dengan
alat audit yang ada, seperti menemukan proses bisnis yang keluar dari praktik, dan mengidentifikasi
hubungan sosial antar individu.
Gray dan Debreceny (2014) memberikan informasi bahwa pada saat ini penggunaan data mining
sebagai alat audit laporan keuangan telah mengalami peningkatan, hal itu dikarenakan konvergensi
beberapa faktor berikut, yakni :
a. Meningkatkan penekanan pada deteksi kecurangan dalam audit oleh regulator dan standar setter, yang
memberikan motivasi untuk mengidentifikasi dan menggunakan alat untuk meningkatkan
produktivitas auditor
b. Meningkatnya penggunaan alat data mining sebagai alat forensik di dalam akuntansi perusahaan
c. Evolusi peralatan data mining yang lebih kuat dan mudah digunakan.

II.A.3 Perhatian dalam Penerapan Data Mining


Chintalapati dan Jyoutsna (2013) dan Banarescu (2015) mengatakan bahwa untuk mendeteksi
kecurangan dengan menggunakan prosedur analitis otomatis seperti data mining membutuhkan sistem
yang harganya mahal, oleh sebab itu penting bagi auditor maupun perusahaan untuk memperhitungkan
biaya deteksi kecurangan dengan biaya perilaku curang, karena menghentikan kecurangan beberapa dolar
bisa memerlukan sistem yang sangat mahal.

II.B Contract Fraud


Kontrak memberikan dampak berupa Kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya adalah bahwa
ketika kita memiliki kontrak secara otomatis kita mendokumentasikan syarat dan kondisi antara dua
pihak, kemudian melaksanakannya sesuai dengan ketentuannya. Kabar buruk adalah bahwa kita diantara
kedua belah pihak ada yang melakukan penipuan. Sebuah kontrak antara dua pihak adalah transaksi bisnis
yang umum. Tujuan dari kontrak adalah untuk menyampaikan jelas persyaratan dan kondisi. Pada
kenyataannya, kata-kata kontrak adalah baik, namun juga bisa berupa kutukan.
Proses audit kecurangan dimulai dengan syarat dan ketentuan kontrak. Kecurangan kontrak dapat
dilakukan melalui:

9
- Representasi salah dalam dokumen penagihan atau dokumen dan catatan bawahan: pada intinya,
skema overbilling
- Penafsiran palsu atas kontrak
- Membangun argumen yang menunjukkan interpretasi kontrak itu salah atau menyesatkan
- Teori kecurangan lainnya yang terkait dengan hukum kontrak

II.B.1 Langkah Rencana Audit Kontrak

Tujuh langkah untuk mengembangkan rencana audit adalah:

1. Baca kontrak dan dokumen, peraturan, dan peraturan terkait.

2. Identifikasi syarat dan ketentuan yang terkait.

3. Kembangkan pemahaman umum tentang syarat dan ketentuan

4. Pahami syarat dan ketentuan yang unik bagi industri.

5. Pahami motivasi profit fraud.

6. Pastikan tim audit mengetahui skema penipuan dengan menyiapkan penilaian risiko penipuan terhadap
skema kecurangan yang relevan.

7. Berdasarkan jenis kontrak dan kecurangan motivasi laba, kembangkan strategi audit untuk skema
kecurangan.

Langkah pertama adalah hanya membaca kontrak. Auditor harus memiliki pemahaman
menyeluruh mengenai syarat dan ketentuan kontrak, dan pengertian harus konsisten dengan tim hukum
pendukung. Kecuali kecurangan lainnya, seperti kecurangan dalam dorongan bujukan atau promissory,
dapat ditetapkan, proses audit dimulai dengan kata-kata kontrak. Auditor harus waspada terhadap klausul
kontrak ini:

• Bahwa "klausul dokumen referensi yang digabungkan ke dalam kontrak dengan referensi.
• Hak untuk mengaudit klausul mendefinisikan catatan akuntansi yang tersedia untuk inspeksi.
• Catat klausa retensi menentukan catatan apa yang dipertahankan dan lamanya waktu catatan
diperlukan untuk penyimpanan.
• Ketentuan syarat dan ketentuan yang terkait adalah persyaratan dan ketentuan kontrak yang
relevan dengan administrasi kontrak. Auditor harus sadar:
- Persyaratan dan ketentuan yang terkait dengan pengisian biaya

10
- Syarat dan ketentuan terkait dengan kiriman kontrak
- Definisi kunci dalam kontrak yang terkait dengan syarat dan ketentuan dan pengisian biaya

II.B.2 Memahami Motivasi Laba Penipuan


Penilaian penipuan dimulai dengan menghubungkan teori kecurangan dengan sifat dan jenis
kontrak. Motivasi laba penipu dapat dikaitkan dengan jenis kontrak dengan cara berikut:

 Kontrak harga tetap. Karena biaya kontrak tetap, satu-satunya peluang keuntungan penipuan yang
tersisa adalah memberikan barang atau layanan yang tidak sesuai atau harga yang tidak sesuai.
 Biaya kontrak. Kontraktor menerima markup, disebut sebagai biaya pengelolaan atau biaya
overhead, berdasarkan biaya langsung. Fokus penipuan adalah pada di mana biaya dikeluarkan, dan
bagaimana biaya ditugaskan dan pada akhirnya dikenai kontrak.
 Kontrak royalti. Audit penipuan mempertimbangkan dasar untuk menghitung unit penjualan, dolar
penjualan, atau mencatat aktivitas penjualan dalam kumpulan buku yang tidak diungkapkan. Kegiatan
penipuan adalah kurangnya penjualan atau penjualan melalui akun yang tidak diungkapkan.
 Kontrak servis. Kontraktor menyediakan layanan dan pengisian untuk layanan tersebut berdasarkan
metodologi yang didefinisikan dalam kontrak. Pertanyaan audit fraud adalah apakah unit pelayanan
terjadi sebagaimana tercantum dalam kontrak.

II.B.3 Faktor Intent

Setelah skema overbilling diidentifikasi atau red flags dari skema dicatat, langkah selanjutnya
dari audit kecurangan adalah menentukan faktor yang dimaksud. Untuk menetapkan bahwa overbilling
itu tidak benar, auditor harus memiliki kriteria yang jelas dan obyektif untuk menetapkan maksud dari
skema overbilling.

Seperti halnya premis hukum, ada berbagai bentuk maksud, seperti maksud konstruktif, niat
kriminal, dan maksud tersirat.Auditor perlu memahami berbagai jenis untuk mengetahui bagaimana
mengembangkan pengamatan mereka. Bekerja sama dengan penasihat hukum membantu auditor dalam
hal ini.

Bimbingan dari Sumber Hukum. Klaim Salah dalam undang-undang federal memberikan panduan
berikut untuk menetapkan maksud:

• Pengetahuan aktual tentang informasi palsu

• Bertindak dengan sengaja mengabaikan kebenaran atau kesalahan informasi

11
• Bertindak dengan ceroboh mengabaikan kebenaran atau kesalahan informasi

Auditor harus bertemu dan mendapatkan kuasa hukum untuk menetapkan faktor tujuan dari
skema kecurangan.

Membangun Argument Intent. Membangun argumen niat menunjukkan bahwa para pihak memiliki
pengetahuan atau seharusnya mengetahui bahwa tindakan kontraktor dimaksudkan untuk
menyembunyikan kebenaran. Auditor harus mempertimbangkan sumber-sumber ini:

 Sebelum mengatur kontrak dengan bahasa kontrak yang sama atau serupa. Administrasi yang
tidak konsisten tanpa sebab dapat digunakan untuk menunjukkan maksud.
 Mengikuti praktik-praktik yang terkait dengan industri. Auditor membandingkan administrasi
kontrak dengan praktik industri yang diterima. Misalnya, di industri periklanan, praktik standar
adalah mendapatkan lembar kerja untuk mendukung penempatan media di koran atau majalah.
 Sumber pemerintah. Asosiasi perdagangan industri menerbitkan statistik, studi, dan informasi
lainnya mengenai praktik terbaik industri. Sumber-sumber ini bisa bermanfaat.
 Sebelum hasil audit. Audit menempatkan individu pada pemberitahuan mengenai pengendalian
internal, masalah dokumentasi, dan penyesuaian lainnya. Jika individu memiliki catatan masalah
sebelumnya, auditor yang meninjau hasil audit sebelumnya dapat menetapkan teori pengabaian
yang sembrono.

II.B.4 Sinopsis Skema Penurunan Kontrak

Pengisian biaya yang berlebihan terjadi melalui kesalahan yang jujur atau melalui kecurangan.
Perbedaan antara kelebihan biaya dan kecurangan adalah maksud untuk menyembunyikan kelebihan
biaya kontrak. Skema inheren memberikan keseluruhan struktur skema penipuan kontrak. Dalam setiap
skema yang melekat ada beberapa variasi, tergantung pada jenis dan sifat kontraknya.

 Defektif harga. Kontraktor mengajukan informasi palsu atau tidak akurat mengenai biaya atau
harga yang mengacu pada kinerja suatu kontrak.
 Kemajuan penipuan pembayaran. Kontraktor berlaku untuk pembayaran selama kontrak
berlangsung dan dengan curang menyatakan bahwa biaya yang layak untuk penggantian telah
dilakukan dengan kecepatan lebih cepat daripada yang sebenarnya terjadi.
 Materi atau layanan yang tidak sesuai. Kontraktor menyediakan bahan atau jasa yang tidak
sesuai dengan persyaratan kontrak.

12
 Biaya yang tidak tepat. Kontrak dikenakan biaya yang tidak diijinkan berdasarkan kontrak atau
biaya yang berkaitan dengan kontrak terpisah.

Skema Penipuan untuk Mischarging


Dasar penghitungan dan pengisian suatu kontrak menciptakan cara yang dapat diprediksi agar
kontraktor menipu kontrak dengan curang. Langkah pertama untuk auditor adalah menentukan apakah
kontrak telah dilunasi. Langkah kedua adalah menentukan apakah kontraktor sengaja menyembunyikan
sifat sebenarnya dari dakwaan tersebut.

Skema Kesalahan yang Disengaja.

Dalam skema kesalahan yang disengaja, kontraktor memasukkan kesalahan yang tampaknya bersifat
klerikal atau komputasi. Jika kesalahan terdeteksi, penjelasannya adalah overcharges adalah kesalahan
yang jujur. Tujuan penipuan akan dibentuk melalui pola kesalahan yang konsisten, frekuensi kesalahan,
atau melalui pengakuan.

Strategi Audit:

1. Verifikasi akurasi aritmatika dari semua perhitungan.

2. Membandingkan biaya dengan dokumen pendukung asli.

3. Membandingkan jadwal pendukung dengan jurnal akuntansi yang berlaku.

4. Tinjau biaya untuk menentukan biaya yang diijinkan dan dialokasikan dengan benar.

Skema Beban Salah atau Fiktif. Dalam skema biaya palsu atau fiktif, pengeluaran tidak terjadi atau
tidak pernah dikeluarkan oleh kontraktor. Tuduhan tersebut didukung oleh dokumentasi palsu atau
kontraktor menyatakan bahwa dokumentasi tersebut tidak ada.

Strategi Audit:

1. Periksa dokumen asli untuk tanda-tanda perubahan.

2. Periksa dokumen asli untuk tanda-tanda penciptaan. Pertimbangkan untukmengonfirmasi tagihan


dengan vendor yang disebutkan di faktur.

3. Lakukan prosedur audit untuk vendor fiktif.

4. Gunakan sumber independen untuk memverifikasi penyampaian item atau layanan.

13
Skema Biaya Sesungguhnya yang Berlebihan.

Dalam skema biaya aktual yang terlalu tinggi, dokumentasi yang mendukung biaya sebenarnya telah
diubah atau dibuat untuk mendukung harga jual terlalu mahal. Tindakan mengubah atau menciptakan
akan menentukan maksud yang salah.

Strategi Audit:

1. Periksa dokumen asli untuk tanda-tanda perubahan atau kreasi.

2. Melakukan prosedur audit yang terlalu padat.

3. Gunakan sumber independen untuk memverifikasi penyampaian item atau layanan.

Biaya Aktual Yang Tidak Terkait dengan Skema Kontrak. Dalam tagihan sebenarnya yang tidak
terkait dengan skema kontrak, tagihan tersebut dapat dikaitkan dengan kontrak, namun sebenarnya tidak
memberikan manfaat bagi kontrak tersebut. Penjelasan palsu atau dokumentasi palsu akan menentukan
maksud yang salah

Strategi Audit:

1. Biaya penggajian. Periksa catatan waktu untuk menentukan siapa yang berasal dari kode penggajian
dengan kontrak khusus. Ketika pengkodean kontrak terjadi oleh orang lain selain karyawan,
kemungkinan terjadi kesalahan alokasi.

2. Biaya penggajian. Periksa file personil dan tentukan bahwa individu memiliki kualifikasi yang
diperlukan untuk penilaian pekerjaan.

3. Biaya penggajian. Wawancara karyawan dibebankan pada kontrak untuk menentukan ingatan mereka
tentang kontrak mana yang mereka kerjakan. Mintalah karyawan untuk membawa jadwal wawancara.
Juga konfirmasikan kualifikasi individu dan riwayat melanjutkan.

4. Konfirmasikan waktu dan kehadiran melalui database independen, akses bangunan, akses komputer,
dan akses parkir.

5. Persediaan biaya. Lakukan analisis logika terhadap jumlah item yang digunakan pada kontrak.

Pengeluaran yang Sama Dibebankan pada Skema. Beberapa Kontrak Dalam pengeluaran yang sama
dengan skema kontrak ganda, biaya untuk sesuatu yang terkait dengan kontrak tetapi tidak terjadi. Karena
biaya adalah pengeluaran aktual, dokumentasi yang mendukung tagihan tersebut adalah dokumen asli.

14
Untuk menghindari kemungkinan pendeteksian, biaya kemungkinan besar akan dilakukan pada berbagai
kontrak yang tidak terkait. Beberapa pengisian akan menetapkan maksud yang salah.

Strategi Audit:

1. Identifikasi semua kontrak di bawah kendali perusahaan atau manajer proyek selama periode waktu
tertentu. Tentukan bagaimana biaya dialokasikan antara kontrak.

2. Periksa dokumen asli yang mencatat deskripsi vendor yang tidak sesuai dengan sifat kontrak, seperti
nomor pesanan pembelian, lokasi pengiriman vendor, lokasi pengiriman, penghubung, perhitungan
pajak penjualan, atau beberapa notasi lainnya yang mungkin muncul pada faktur.

3. Periksa kontrak lain untuk bukti pengeluaran yang sama. Bila penagihan didukung oleh jadwal yang
disiapkan secara manual dan bukan jurnal akuntansi, kemungkinan skema yang terjadi meningkat.

4. Konfirmasikan penggunaan barang atau jasa dengan karyawan yang mengerjakan kontrak.

Sebelum Membeli Dibebankan pada Skema Nilai Pasar Lancar. Saat Ini Dalam skema ini, kontraktor
memiliki inventarisasi barang yang dibeli sebelum kontrak pada tingkat unit yang lebih rendah. Kontrak
tersebut dibebankan pada tingkat pasar wajar saat ini dan bukan biaya asli.

Strategi Audit:

1. Periksa dokumen pengiriman atau bill of lading untuk menentukan tanggal penerimaan vendor.

2. Tentukan biaya pada saat penerimaan.

3. Tentukan apakah barang dibawa dalam persediaan. Pastikan biaya bawa asli.

Peningkatan Harga Khusus untuk Skema. Kontrak Skema penggunaan tarif yang meningkat hanya
untuk kontrak, biasanya berkaitan dengan biaya penggajian atau penggajian. Dalam skema ini, tingkat
karyawan atau kontraktor meningkat selama kontrak atau hanya untuk satu kontrak. Teknik ini berlaku
bila kontraktor menerima biaya persentase berdasarkan biaya langsung. Tujuan penipuan ditentukan oleh
perubahan tarif untuk satu kontrak tanpa sebab.

Strategi Audit:

1. Periksa file personil untuk bukti perubahan tingkat atau klasifikasi.

2. Periksa karyawan sebelum, selama, dan setelah kontrak

15
Salah Alokasi Skema Biaya. Skema alokasi biaya palsu memiliki sejumlah variasi yang bergantung pada
sifat kontrak dan bagaimana biaya diterapkan. Skema dapat mencakup lebih dari mengalokasikan biaya
faktur yang berkaitan dengan beberapa kontrak, mendepresiasi aset tetap pada tingkat yang lebih cepat
daripada masa manfaat, dan pusat layanan termasuk biaya yang sudah termasuk dalam tarif overhead atau
biaya langsung.

Strategi Audit:

1. Cari entri jurnal yang mentransfer tagihan. Minta dokumentasi yang mendukung jurnal dan verifikasi
penjelasannya.

2. Dapatkan dokumentasi yang mendukung bagaimana tingkat biaya pengisian ulang dihitung. Verifikasi
perhitungan tarif.

Melapisi Skema Transaksi. Dalam melapisi skema transaksi, pengeluaran yang salah atau terlalu tinggi
dikeluarkan pada tingkat subkontrak. Kemudian, subkontraktor tersebut melewati muatan yang terlalu
tinggi ke kontraktor utama. Teknik yang digunakan pada tingkat subkontrak menyembunyikan
kecurangan saat kontrak tidak menyertakan hak untuk mengaudit klausul.

Strategi Audit:

1. Konfirmasikan biaya melalui sumber independen. Misalnya, dalam daftar gaji, bandingkan tarif yang
dikenakan dengan tarif gabungan.

2. Cari pengembalian dana vendor dalam jurnal penerimaan kas.

3. Jika kontrak memiliki hak untuk mengaudit klausul pada tingkat subkontraktor, periksa dokumentasi
yang mendukung biaya subkontrak. Tanpa hak untuk mengaudit klausul, mintalah untuk memeriksa
catatan subkontraktor. Jawabannya adalah ya atau tidak.

Skema Pihak Hubungan Istimewa. Dalam skema pihak terkait, para pihak sengaja menjual secara
berlebihan satu sama lain untuk menaikkan biaya kontrak. Skema ini mirip dengan skema transaksi
berlapis. Sifat sebenarnya transaksi pihak terkait harus menjadi red flags bagi auditor.

Strategi Audit:

1. Tentukan apakah pihak terkait ada dalam kontrak dengan membaca laporan keuangan vendor atau
melakukan pengecekan latar belakang pada vendor.

2. Tentukan kewajaran pengeluaran melalui sumber independen.

16
3. Meminta konfirmasi apakah biaya tersebut termasuk unsur keuntungan. Meskipun kontraktor mungkin
salah menggambarkan kebenaran, pernyataan kontraktor akan memberikan bukti niat di lain waktu.

Pengembalian Dana atau Rabat Tidak Terapan untuk Skema Kontrak. Dalam skema di mana
pengembalian uang atau potongan harga tidak diterapkan, kontrak dibebankan pada harga kotor atau
harga daftar.

Strategi Audit:

1. Dengan asumsi vendor yang digunakan oleh kontraktor bukanlah pihak dalam skema ini, mintalah
vendor tentang potongan harga atau pengembalian uang kepada kontraktor.

2. Konfirmasikan harga dengan vendor melalui wawancara dalih panggilan mengenai harga untuk item
dalam kontrak.

Skema Interpretasi Kontrak Salah. Interpretasi kata-kata kontrak atau kurangnya kata-kata kontrak
seringkali memfasilitasi skema interpretasi yang salah. Asumsikan kontrak menyatakan bahwa tagihan
tersebut ditagih dengan biaya perolehan. Dalam istilah yang paling sederhana, biaya akan didefinisikan
sebagai jumlah yang dibayarkan untuk barang atau jasa.

Strategi Audit:

1. Bandingkan bahasa kontrak dalam kontrak sebelum atau sesudahnya untuk perbedaan atau interpretasi
yang jelas.
2. Diskusikan persyaratan kontrak dengan penasihat hukum untuk memastikan interpretasi mereka
terhadap kontrak.
3. Diskusikan persyaratan kontrak dengan pakar industri mengenai praktik industri standar.

Pengeluaran Tidak Menguntungkan Skema Kontrak. Dalam skema yang melibatkan pengeluaran
yang tidak memberikan manfaat bagi kontrak, pengeluaran tidak diperlukan atau berlebihan, barang yang
dibeli tidak digunakan untuk mendukung kontrak, atau peralatan digunakan untuk tujuan yang tidak
terkait.
Strategi Audit:
1. Pembelian peralatan. Periksa peralatan seperti lokasi dan penggunaan.
2. Penawaran pembelian di akhir kontrak. Tentukan apakah penggunaan jumlah pembelian layak
dilakukan dalam jangka waktu tersebut.
3. Diskusikan kebutuhan biaya dengan manajer kontrak perusahaan.

17
Skema Overbilling dalam Kontrak
Skema overbilling dalam kontrak terjadi dengan cara yang dapat diprediksi. Dalam mengkaji
biaya kontrak, auditor harus menyadari dan merencanakan biaya penipuan. Daftar periksa ini
menyediakan daftar skema kerja, material, dan peralatan yang paling umum.

Skema Tingkat Tenaga Kerja:


 Karyawan fiktif
 Laporan penggajian fiktif
 Pengisian untuk karyawan tanpa pertunjukan
 Jam kerja berlebih atau tingkat suku bunga
 Kartu waktu fiktif atau berubah Menjaga posisi kerja dan tingkat yang sesuai
 Mengisi pada tingkat yang lebih tinggi daripada individu yang melakukan fungsinya
 Mengisi tingkat usaha yang tidak sesuai dengan usaha yang sebenarnya
 Meningkatkan tingkat karyawan untuk kontrak
 Pengisian untuk layanan atau tugas yang tidak diperbolehkan
 Pengisian untuk individu yang sudah termasuk dalam tarif overhead
 Mengisi kesalahan kontraktor, salah urus, atau omset
 Penagihan karyawan secara duplikat
 Pengisian pegawai yang berlebihan

Skema Bahan Langsung:


 Bahan dan persediaan fiktif
 Biaya atau tarif material yang terlalu tinggi
 Kuantitas berlebih
 Menyediakan produk kurang lancer
 Menyediakan produk yang telah dibangun kembali atau bekas sebagai produk baru
 Menyediakan produk nonspesifik
 Menyediakan produk palsu
 Menyediakan produk setara
 Gagal menguji produk sesuai kebutuhan
 Memberikan sertifikasi palsu mengenai kualitas atau spesifikasi
 Duplikat penagihan bahan yang sama
 Pengisian bahan yang sebelumnya dibeli dan dibebankan pada mata air hari ini

18
 Tidak ada kredit untuk pengembalian, penyesuaian, potongan harga, tunjangan, atau masalah
garansi
 Konspirasi antara kontraktor dan pemasok untuk menjual terlalu mahal
 Konspirasi antara kontraktor dan subkontraktor untuk menjual terlalu mahal
 Keuntungan pihak terkait atas material yang dikenakan kontrak
 Kontraktor tidak melakukan tanggung jawab secara fidusia untuk mendapatkan harga yang wajar
 Mengisi kesalahan kontraktor, salah urus, atau omset

Skema Sewa Peralatan


 Peralatan fiktif
 Tingkat peralatan yang terlalu tinggi
 Penggunaan jam berlebih
 Dibebankan untuk peralatan tingkat lebih tinggi dari yang diberikan
 Dibebankan untuk peralatan yang menganggur di lokasi
 Dibebankan untuk peralatan dengan tingkat lebih tinggi dari yang dibutuhkan

II.C.1 Penyuapan

Penyuapan merupakan hal yang ilegal, baik yang dilakukan di lingkungan publik maupun
komersial. Oleh karena itu, dari perspektif hukum, ada berbagai bentuk tindakan korup, dibedakan baik
sebagai pidana maupun perdata. Dalam melakukan penyelidikan, undang-undang memberikan dasar
tindakan hukum.

Auditor perlu memahami bahwa undang-undang tersebut berfokus pada tindakan yang dilakukan
oleh para pihak berdasarkan undang-undang. Oleh karena itu, mereka harus melihat ke hukum untuk
menentukan tindakan apa yang dapat diamati selama audit atau red flags tindakan penipuan. Auditor
harus menggunakan tindakan korup sebagai dasar untuk melakukan audit, sambil memahami keterbatasan
untuk membuktikan tindakan tersebut dalam batas-batas proses audit.

II.C.2 Memahahi Persyaratan Hukum

Beberapa definisi yang relevan adalah:

Penyuapan. Suatu harga, hadiah atau anugerah yang diberikan atau dijanjikan dengan maksud untuk
menyesatkan penghakiman atau mempengaruhi tindakan seseorang dalam posisi percaya.

19
Penyuapan Komersial. Penerimaan penilai yang dianggap tidak tertarik terhadap manfaat yang
mempengaruhi penilaian barang atau jasa.

Korupsi. Tindakan melakukan sesuatu dengan maksud untuk memberikan beberapa keuntungan yang
tidak sesuai dengan tugas resmi dan hak orang lain; penggunaan stasiun atau kantor fidusia atau pejabat
untuk mendapatkan keuntungan baik secara pribadi maupun untuk orang lain, bertentangan dengan hak
orang lain.

Persen. Selesai atau dilakukan tanpa kewajiban untuk melakukannya; diberikan tanpa pertimbangan
dalam keadaan yang tidak dikenakan kewajiban.

Pemerasan. Tindakan atau praktik untuk mendapatkan sesuatu atau memaksakan beberapa tindakan
dengan cara ilegal, seperti dengan paksa atau paksaan.

Pembayaran kembali. Kembalinya sebagian dari jumlah uang yang diterima, terutama karena
pemaksaan atau kesepakatan rahasia.

Konflik kepentingan. Ketidakcocokan nyata atau tampak antara kepentingan pribadi seseorang dengan
kewajiban publik atau fidusia.

II.C.3 Anggaran dasar

Statuta Penyuapan dan Gratifikasi Federal mencakup dua kejahatan yang berbeda: penyuapan
pejabat publik dan persenjataan ilegal yang diberikan kepada pejabat publik. "Undang-undang tersebut
berusaha untuk menghukum kedua pejabat publik yang menerima suap atau gratifikasi ilegal, dan juga
mereka yang ingin mempengaruhi pejabat publik dengan imbalan tersebut

Selain penyuapan pejabat publik, auditor harus memahami penyuapan komersial. Secara khusus,
dalam penyuapan komersial, vendor menawarkan uang atau hadiah kepada karyawan karena
mempengaruhi keputusan pembelian tanpa persetujuan dari majikan dan bertentangan dengan
kepentingan terbaik pemberi kerja.

II.C.4 Definisi Audit versus Definisi Hukum


Dalam konteks hukum, "partai yang disukai" adalah proses memberikan satu pihak keuntungan
tersembunyi dari pihak lain. "Tujuan dari keuntungan" adalah untuk secara koruptif mempengaruhi proses
keputusan terhadap satu pihak sehingga merugikan organisasi penerima dan untuk keuntungan individu
yang merusak prosesnya, atau vendor atau pelanggan yang menerima keuntungan yang korup.Setelah
dipahami, auditor melanjutkan untuk menetapkan elemen kunci untuk kasus suap dari perspektif audit,

20
pada intinya mengembangkan definisi audit. Unsur-unsur kunci untuk membentuk kasus suap dari
perspektif audit adalah:

Pihak Kontrak. Para pihak secara langsung atau tidak langsung terlibat dengan kontrak.

Tanpa Persetujuan dari Organisasi. Kebijakan dan prosedur organisasi untuk memberikan kontrak
jelas. Para pihak bertindak di luar kebijakan dan prosedur ini.

Mempengaruhi Kontrak. Pihak-pihak tersebut bermaksud untuk secara koresif mempengaruhi tindakan
atau keputusan resmi manapun dalam pemberian atau penerimaan kontrak.

Dimana dan Bagaimana Pengaruh Terjadi. Imbalan yang tidak semestinya ternyata mempengaruhi
perilaku pejabat publik atau manajer.

Dengan pengetahuan Manajer perusahaan bertindak bertentangan dengan aturan kejujuran dan integritas
yang diketahui.

Menerima sesuatu dari nilai Manajer perusahaan menerima hadiah yang tidak semestinya.

Item dari nilai Ditujukan untuk Merusak Proses Keputusan. Kontraktor dengan korup memberi,
menawarkan, atau menjanjikan sesuatu yang berharga.

II.C.5 ELEMEN AUDIT

Meskipun auditor perlu memahami dasar hukum tindakan korup, seperti penyuapan, elemen
kunci berikut memberikan dasar audit yang diperlukan.

Pihak Kontrak
Auditor harus mengidentifikasi pihak internal yang mendapat kontrak dan pihak internal yang
mempengaruhi penghargaan tersebut. Audit harus mendokumentasikan penerima kontrak.

Tanpa Persetujuan dari Organisasi


Auditorharus menentukan kebijakan dan prosedur organisasi untuk pemberian kontrak. Penasihat
hukum dapat memberi tahu auditor tentang pelanggaran teori hukum tanggung jawab fidusia.

Mempengaruhi Kontrak
Proses audit harus berfokus pada pengaruh dan sikap pilih kasih dengan mengidentifikasi bukti
pengaruh atau favoritisme dalam prosesnya, dokumentasi palsu atau pernyataan palsu, media komunikasi

21
yang berkorelasi dengan kontrak pemberian penghargaan, atau bukti pajak sogokan. Pengaruh terjadi
dalam tiga cara yaitu : overt, terselubung dan pengaruh tidak langsung.

Dengan pengetahuan
Bagian kedua "dengan pengetahuan" adalah untuk menunjukkan bahwa manajer perusahaan
mengetahui bahwa representasi itu salah, bukan kesalahan yang jujur. Menggambarkan faktor
pengetahuan merupakan aspek penting dari proses audit.

Dimana dan Bagaimana Pengaruh Terjadi


Sebuah metode perlu ditetapkan untuk menilai di mana dan bagaimana mempengaruhi pemberian
suatu kontrak terjadi. Penggunaan metodologi terstruktur untuk menilai risiko penipuan memfasilitasi
tahap perencanaan audit.

Menerima sesuatu dari nilai


Suap dapat dibayarkan secara langsung atau melalui pembayaran berlapis atau disamarkan.
Begitu suap teridentifikasi, penyelidikan harus menunjukkan bagaimana sogokan tersebut secara
koruptinya mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Menghubungkan penerimaan sogokan dengan
pengaruhnya adalah bagian terakhir dari penyelidikan. Tautan ini disebut sebagai rea mens, atau unsur
mental. Penyidik harus menunjukkan bagaimana sogokan mempengaruhi pemberian kontrak.

Tujuan penyelidikan semacam itu adalah mengumpulkan bukti untuk membuktikan unsur-unsur
penyuapan atau patung suap terkait. Dalam skema sogokan atau pembayaran balik, auditor harus
menyelidiki dengan memeriksa buku-buku vendor atau mendapatkan pengakuan dari salah satu pihak.

Item Nilai Ditujukan untuk Merusak Proses Keputusan


Pembelian kecurangan atau penetapan harga yang salah dimaksudkan untuk merusak proses
untuk memastikan satu vendor tertentu menerima kontrak. Pemberian kontrak adalah merugikan
organisasi. Pihak internal yang memberikan kontrak adalah mencari sogokan atau balasan. Karena aspek
penghargaan dari proses korupsi adalah transaksi off-the-book, biasanya bukti aktual dikumpulkan selama
proses investigasi, bukan proses audit.

II.C.6 TUJUAN AUDIT


Tujuan audit adalah untuk memastikan kepatuhan terhadap prosedur atau undang-undang yang
berlaku dan untuk waspada terhadap red flags kecurangan. Suap dengan sifatnya adalah transaksi off-the-
book untuk proses audit. Karena sogokan tidak dapat diamati secara langsung dalam proses audit, auditor

22
harus mengidentifikasi kontrak yang harus diselidiki atas penyuapan, pemerasan, atau penawaran tender
vendor. Keenam tujuan audit untuk status vendor yang disukai meliputi penentuan:

Tujuan Audit Satu

"Bagaimana pihak korup mempengaruhi proses pembelian"

Skema yang digunakan untuk merusak proses penawaran memberikan dasar untuk menentukan
red flags favoritisme atau teori kecurangan untuk data mining. Memahami bagaimana setiap skema atau
variasi skema beroperasi akan membantu dalam tahap kesadaran identifikasi penipuan. Skema ini juga
bisa berfungsi sebagai red flags untuk mengidentifikasi hubungan vendor yang memiliki karakteristik
hubungan korup.

Titik awalnya adalah mengidentifikasi satu transaksi yang memenuhi definisi skema. Langkah
kedua adalah mencari pola pilih kasih oleh vendor atau agen pembelian melalui penggunaan skema yang
dicatat atau melalui penggunaan skema lainnya. Pola aktivitas menjadi kunci proses audit untuk
menunjukkan maksud dari proses keputusan pembelian. Setelah pola diidentifikasi, auditor harus
mengidentifikasi fakta-fakta yang ada untuk menunjukkan bahwa agen pembelian memiliki pengetahuan
tentang pilih kasih.

Skema ini digunakan untuk merusak proses pembelian yang kompetitif:

• Penghindaran tawaran

• Pernyataan salah

• Mengajukan komunikasi informasi

• Penanganan manajemen

• Menguntungkan titik kontrol utama

• Vendor bid rigging

Tujuan Audit Dua

"Bahwa representasi mengenai proses, asumsi, dokumentasi, kualifikasi, persyaratan, atau


keputusan manajemen salah."

Kesalahan representasi menjadi kunci untuk menyerang kredibilitas manajer operasi. Cara
termudah untuk menentukan kepalsuan adalah melalui penerimaan oleh manajer. Pendekatan lainnya

23
termasuk mengumpulkan dokumen, baik internal maupun eksternal organisasi, yang menolak
representasi, analisis retrospektif administrasi kontrak, sumber otoritatif, atau pakar industri.

Tujuan Audit Tiga

"Bahwa pihak-pihak yang membuat representasi mengetahui atau memiliki pengetahuan atau
seharusnya mengetahui bahwa representasi tersebut salah."

Langkah ini biasanya adalah bagian sulit untuk menetapkan maksud untuk menipu organisasi.
Namun, undang-undang tersebut mensyaratkan kesimpulan audit untuk menunjukkan perbedaan antara
penilaian yang buruk dan niat untuk merusak proses tersebut. Faktor tujuan dapat ditetapkan untuk
menunjukkan pengetahuan melalui kontrak sebelumnya, menunjuk pada seminar pelatihan atau kehadiran
di konferensi perdagangan, dokumen internal, atau pernyataan dari pihak lain. Seringkali bukti itu tidak
langsung, tidak langsung. Auditor harus berkonsultasi dengan penasihat hukum untuk menetapkan beban
pembuktian berdasarkan kriteria ini.

Tujuan Audit Empat

"Teknik mengembang biaya untuk mendanai pajak sogokan."

Cara yang lebih umum untuk memperhitungkan pajak sogokan ke dalam kontrak adalah:

 Mengurangi biaya total kontrak pada saat pemberian penghargaan atau mengubah pesanan
dengan biaya yang meningkat.

 Membuat penyesuaian harga sesudah kejadian. Skema ini biasanya terjadi pada barang
berwujud yang memiliki fluktuasi harga normal karena kondisi pasar. Skema ini beroperasi
paling baik di lingkungan dengan volume dalam jumlah besar karena selisih harga satu sen dapat
menyebabkan situasi overbilling yang cukup.

 Menyediakan substitusi produk, menagih barang dengan biaya lebih tinggi daripada yang
dikirimkan. Teknik ini biasanya digunakan dalam persediaan yang dikonsumsi setiap hari atau
barang yang rata-rata orang tidak dapat membedakan antara barang yang dipesan dan barang
yang dikirim.

 Penagihan palsu, penagihan untuk produk atau layanan yang tidak diberikan. Teknik ini
lebih khas dalam pelayanan karena sulitnya menentukan jumlah jam yang tepat yang
didedikasikan untuk sebuah proyek.

24
Tujuan Audit Lima
"Kerusakan pada perusahaan karena pemberian kontrak yang korup."

Kerusakan tersebut terdiri dari selisih antara harga perolehan dan harga pasar wajar dalam
transaksi lengan -harga panjang. Dalam menetapkan harga panjang lengan, auditor perlu menetapkan
asumsi yang didukung oleh sumber otoritatif. Organisasi perdagangan profesional atau pakar industri
adalah sumber yang berguna untuk mengidentifikasi harga pasar yang adil. Laporan tersebut harus secara
jelas mengidentifikasi metode perhitungan dan mengutip sumbernya.

Tujuan Audit Enam

"Melalui proses investigasi, manajer pembelian menerima sogokan karena mempengaruhi


pemberian kontrak atau imbalan melalui administrasi kontrak."

Salah satu pendekatannya adalah untuk mendapatkan sebuah pernyataan dari vendor yang
sebenarnya memberikan suap atau bantingan. Teknik ini mengharuskan auditor untuk menghadapi vendor
dan meminta bantuan.

Pendekatan kedua adalah meminta hak untuk memeriksa buku vendor untuk mendapatkan bukti sogokan.
Permintaan tersebut memiliki dua kemungkinan jawaban: ya atau tidak. Auditor harus mengajukan
permintaan ini hanya jika mereka memiliki bukti yang cukup untuk percaya bahwa ada situasi yang
korup. Keputusan tersebut harus didukung oleh manajemen.

II.D TRAVEL EXPENSE

Banyak auditor yang tidak lagi melakukan audit atas travel expenses karena dianggap memiliki
materialitas yang rendah. Sehingga, manajemen mengganggap memiliki kesempatan untuk melakukan
travel expense fraud. Menurut Vona (2008), logikanya adalah apabila manajemen melakukan travel
expense fraud, maka fraud apalagi yang mereka lakukan. Sehingga, audit travel expense dianggap
sebagai barometer atas integritas sebuah perusahaan

Berikut adalah beberapa contoh yang termasu travel expenses fraud :

a) Memasukkan nonreimbursable expenses


b) Menyamarkan inappropriate customer entertainment
c) Memasukkan pengeluaran pribadi ke travel expense
d) Memalsukan nota/receipt agar dapat melakukan travel reimbursement

25
II.D.1 Travel Expense Concealment Strategies

Terdapat berbagai cara untuk dapat melakukan travel expense fraud. Menurut Vona (2008), ada
3 kategori atas strategi manipulasi travel expense:

a. Travel Characterization
Contohnya: mendeskripsikan pengeluaran pribadi sebagai pengeluaran bisnis dan makan siang bisnis
dideskripsikan sebagai overnight travel expenses, biaya hiburan dimasukan ke dalam biaya makan
perjalanan.
b. No Business Purpose
Contohnya: pada saat melakukan perjalanan, traveler mengajak makan malam temannya tetapi biaya
makan malam tersebut dimasukkan ke dalam biaya rapat dengan klien.
c. Falsification of receipts
Contohnya : bekerjasama dengan vendor untuk membuat nota palsu dengan nominal yang telah di mark
up.

III.D.2 The Red Flags of Travel Expense Fraud

Pada saat melakukan audit, auditor harus memperhatikan red flags di bawah ini pada saat
melakukan audit pada nota-nota travel expense :

a. Tanggal dan Waktu yang tertera


b. Lokasi
c. Manual receipts vs credit card receipts
d. Metode pembayaran yang tertera pada nota tidak konsisten dengan nomor credit card.
e. Konsistensi atas tulisan tangan pada nota perjalanan

III.D.2 Peraturan-peraturan yang Terkait dengan Perjalan Dinas Anggota DPR/DPRD RI

Menurut DPR (2015), setiap perjalanan dinas dalam dan luar negeri bagi staff administrasi
maupun tenaga ahli anggota DPR RI ada dasar hukum yang mengaturnya.

Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat No. 1 tahun 2015 tentang Kode Etik Dewan Perwakilan Rakyat
(2015) pada pasal 10 mengatur kode etik bagi para anggota DPR saat melakukan perjalanan dinas, yakni:

1) Anggota dapat melakukan Perjalanan Dinas ke dalam atau ke luar negeri dengan biaya negara
sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

26
2) Perjalanan Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan anggaran
yang tersedia dan dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3) Anggota tidak boleh membawa Keluarga dalam suatu Perjalanan Dinas, kecuali dimungkinkan
oleh ketentuan peraturan perundangundangan atau atas biaya sendiri.

Menurut DPR (2015), Perjalanan dinas anggota DPR RI diatur dalam dua (2) peraturan yang
masih mengikuti Kementerian Keuangan, yakni:

1. Peraturan Menteri Keuangan No.113/PMK.05/2012 tentang Perjalanan Dinas Dalam Negeri Bagi
Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap.
2. Peraturan Menteri Keuangan No.55/PMK.05/2014 tentang Perjalan Dinas Luar Negeri Bagi
Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap. PMK ini adalah perubahan kedua dari PMK
No. 97/PMK.05/2010.

Ketentuan mengenai Perjalanan Dinas ini yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara yang diatur dalam Peraturan Menteri ini.

Setiap perjalanan dinas harus dibuat suatu laporan pertanggungjawaban yang dibuat oleh staff
administrasi anggota DPR RI dengan mencantumkan berbagai persyaratan, seperti adanya persetujuan
pimpinan DPR RI, surat tugas yang didampingi oleh KPA (kuasa pengguna anggaran) satuan kerja
dewan. Selain itu juga staff administrasi wajib mencantumkan rincian biaya perjalanan dinas (RBPD),
serta SPD (Surat perjalanan dinas) yang harus distempel di daerah tujuan. Setelah hari kerja pun anggota
melalui staff administrasinya wajib mempertanggungjawabkan biaya perjalanan dinas ke bagian
perjalanan dinas Setjen DPR RI paling lambat lima hari kerja setelah perjalanan dinas dilaksanakan.

III.D.2 Peraturan Menteri Keuangan No.113/PMK.05/2012


Perjalanan Dinas Dalam Negeri yang diatur dalam PMK No.113/PMK.05/2012 ialah perjalanan
ke luar Tempat Kedudukan yang dilakukan dalam wilayah Republik Indonesia untuk kepentingan negara.
Tujuan Peraturan Menteri Keuangan No.113/PMK.05/2012 tentang Perjalanan Dinas Dalam Negeri Bagi
Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap ialah agar perjalanan dinas dalam negeri dapat
dilaksanakan secara lebih tertib, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab, perlu
mengatur kembali ketentuan mengenai perjalanan dinas dalam negeri bagi pejabat negara, pegawai
negeri, dan pegawai tidak tetap.

Pada PMK No.113/PMK.05/2012 pasal 3 disebutkan perjalanan dinas dilaksanakan dengan


memperhatikan prinsip sebagai berikut:

27
 selektif, yaitu hanya untuk kepentingan yang sangat tinggi dan prioritas yang berkaitan dengan
penyelenggaraan pemerintahan
 ketersediaan anggaran dan kesesuaian dengan pencapaian kinerja Kementerian Negara/Lembaga;
 efisiensi penggunaan belanja negara; dan
 akuntabilitas pemberian perintah pelaksanaan Perjalanan Dinas dan pembebanan biaya Perjalanan
Dinas.

Peraturan Menteri ini mengatur mengenai pelaksanaan dan pertanggungjawaban Perjalanan Dinas bagi
Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap yang dibebankan pada Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara. Perjalanan Dinas meliputi:

a. Perjalanan Dinas Jabatan


Perjalanan Dinas Jabatan adalah Perjalanan Dinas melewati batas Kota dan/atau dalam Kota dari
tempatkedudukan ke tempat yang dituju, melaksanakan tugas,dan kembali ke tempat kedudukan semula
di dalam negeri. Perjalanan Dinas Jabatan yang dilaksanakan di dalam Kota terdiri atas: (1) Perjalanan
Dinas Jabatan yang dilaksanakan lebih dari 8 (delapan) jam; dan (2) Perjalanan Dinas Jabatan yang
dilaksanakan sampai dengan 8 (delapan) jam. Perjalanan Dinas Jabatan dilakukan dalam rangka:
a) pelaksanaan tugas dan fungsi yang melekat pada jabatan.
b) mengikuti rapat, seminar, dan sejenisnya.
c) Pengumandahan (Detasering).
d) menempuh ujian dinas/ujian jabatan.
e) menghadap Majelis Penguji Kesehatan Pegawai Negeri atau menghadap seorang dokter penguji
kesehatan yang ditunjuk, untuk mendapatkan surat keterangan dokter tentang kesehatannya guna
kepentingan jabatan.
f) memperoleh pengobatan berdasarkan surat keterangan dokter karena mendapat cedera pada
waktu/karena melakukan tugas.
g) mendapatkan pengobatan berdasarkan keputusan Majelis Penguji Kesehatan Pegawai Negeri.
h) mengikuti pendidikan setara Diploma/S1/S2/S3.
i) mengikuti pendidikan dan pelatihan.
j) menjemput/mengantarkan ke tempat pemakaman jenazah Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang
meninggal dunia dalam melakukan Perjalanan Dinas.
k) menjemput/mengantarkan ke tempat pemakaman jenazah Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang
meninggal dunia dari Tempat Kedudukan yang terakhir ke Kota tempat pemakaman.

28
Selanjutnya dalam PMK No.113/PMK.05/2012 pasal 8 ayat (1), Perjalanan Dinas Jabatan terdiri atas
komponen-komponen sebagai berikut:

a) uang harian, yang terdiri dari uang makan, uang transpor lokal, dan uang saku.
b) biaya transpor,
c) biaya penginapan, baik di hotel dan penginapan lainnya.
d) uang representasi.
e) sewa kendaraan dalam Kota, sudah termasuk biaya untuk pengemudi, bahan bakar minyak, dan
pajak.
f) biaya menjemput/mengantar jenazah.

Biaya Perjalanan Dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) diberikan berdasarkan tingkat
biaya Perjalanan Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dengan ketentuan sebagai berikut:

a) uang harian dibayarkan secara lumpsum dan merupakan batas tertinggi sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan mengenai Standar Biaya.
b) biaya transpor pegawai dibayarkan sesuai dengan Biaya Riil berdasarkan Fasilitas Transpor.
c) biaya penginapan dibayarkan sesuai dengan Biaya Riil dan berpedoman pada Peraturan Menteri
Keuangan mengenai Standar Biaya.
d) uang representasi dibayarkan secara lumpsum dan merupakan batas tertinggi sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai Standar Biaya.
e) sewa kendaraan dalam Kota dibayarkan sesuai dengan Biaya Riil dan berpedoman pada Peraturan
Menteri Keuangan mengenai Standar Biaya.
f) biaya pemetian jenazah termasuk yang berhubungan dengan pengruktian/pengurusan jenazah
dibayarkan sesuai dengan Biaya Riil
g)

Dalam hal jumlah hari Perjalanan Dinas Jabatan melebihi jumlah hari yang ditetapkan dalam
Surat Tugas/SPD dan tidak disebabkan oleh kesalahan/kelalaian Pelaksana SPD dapat diberikan
tambahan uang harian, biaya penginapan, uang representasi, dan sewa kendaraan dalam Kota. Tambahan
uang harian, biaya penginapan, uang representasi, dan sewa kendaraan dalam Kota dapat dimintakan
kepada Pejabat Pembuat Komitmen atau PPK untuk mendapat persetujuan dengan melampirkan dokumen
berupa:

 Surat keterangan kesalahan/kelalaian dari Syahbandar/Kepala Bandara/perusahaan jasa


transportasi lainnya; dan/atau.

29
 Surat keterangan perpanjangan tugas dari pemberi tugas.

Dalam hal jumlah hari Perjalanan Dinas kurang dari jumlah hari yang ditetapkan dalam SPD,
Pelaksana SPD harus mengembalikan kelebihan uang harian, biaya penginapan, uang representasi, dan
sewa kendaraan dalam Kota yang telah diterimanya kepada PPK.

a. Perjalanan Dinas Pindah

Perjalanan Dinas Pindah adalah Perjalanan Dinas dari tempat kedudukan yang lama ke tempat
kedudukan yang baru berdasarkan surat keputusan pindah. PMK No.113/PMK.05/2012 pasal 18 ayat (1),
Biaya Perjalanan Dinas Pindah terdiri atas komponen sebagai berikut:

a) biaya transpor pegawai


b) biaya transpor keluarga
c) biaya pengepakan dan angkutan barang
d) uang harian

Perjalanan Dinas Pindah oleh Pelaksana SPD dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Pindah.
Perjalanan Dinas Pindah dilakukan dalam rangka:

a) Pindah tugas dari Tempat Kedudukan yang lama ke Tempat Tujuan Pindah. (Biaya yang
diberikan dalam Perjalanan Dinas Pindah ini ialah biaya transpor pegawai, biaya transpor keluarga yang
sah, uang harian, dan/atau biaya pengepakan dan angkutan barang).
b) pemulangan Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang diberhentikan dengan hormat dengan hak
pensiun atau mendapat uang tunggu dari Tempat Kedudukan ke Tempat Tujuan menetap. (Biaya yang
diberikan dalam Perjalanan Dinas Pindah ini ialah biaya transpor pegawai, biaya transpor keluarga yang
sah, uang harian, dan/atau biaya pengepakan dan angkutan barang).
c) pemulangan keluarga yang sah dari Pejabat Negara/ Pegawai Negeri yang meninggal dunia dari
tempat tugas terakhir ke Tempat Tujuan menetap. (Biaya yang diberikan dalam Perjalanan Dinas Pindah
ini ialah biaya transpor keluarga, uang harian, dan/atau biaya pengepakan dan angkutan barang).
d) pemulangan Pegawai Tidak Tetap yang diberhentikan karena telah berakhir masa kerjanya dari
Tempat Kedudukan ke tempat tujuan menetap, sepanjang diatur dalam perjanjian kerja. (Biaya yang
diberikan dalam Perjalanan Dinas Pindah ini ialah biaya transpor pegawai, biaya transpor keluarga yang
sah, uang harian, dan/atau biaya pengepakan dan angkutan barang).
e) pemulangan keluarga yang sah dari Pegawai Tidak Tetap yang meninggal dunia dari tempat tugas
yang terakhir ke tempat tujuan menetap, sepanjang diatur dalam perjanjian kerja. (Biaya yang diberikan

30
dalam Perjalanan Dinas Pindah ini ialah biaya transpor keluarga, uang harian, dan/atau biaya pengepakan
dan angkutan barang).
f) pengembalian Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang mendapat uang tunggu dari Tempat
Kedudukan ke Tempat Tujuan yang ditentukan untuk dipekerjakan kembali. (Biaya yang diberikan dalam
Perjalanan Dinas Pindah ini ialah biaya transpor pegawai, biaya transpor keluarga yang sah, uang harian,
dan/atau biaya pengepakan dan angkutan barang).

Pertanggungjawaban Biaya Perjalanan Dinas

Pelaksana SPD mempertanggungjawabkan pelaksanaan Perjalanan Dinas kepada pemberi tugas


dan biaya Perjalanan Dinas kepada PPK paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah Perjalanan Dinas
dilaksanakan. Pertanggungjawaban biaya Perjalanan Dinas Jabatan dengan melampirkan bukti dokumen
berupa:

a) Surat Tugas yang sah dari atasan Pelaksana SPD.


b) SPD yang telah ditandatangani oleh PPK dan pejabat di tempat pelaksanaan Perjalanan Dinas
atau pihak terkait yang menjadi Tempat Tujuan Perjalanan Dinas.
c) tiket pesawat, boarding pass, airport tax, retribusi, dan bukti pembayaran moda transportasi
lainnya.
d) Daftar Pengeluaran Riil sesuai dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IX yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
e) bukti pembayaran yang sah untuk sewa kendaraan dalam Kota berupa kuitansi atau bukti
pembayaran lainnya yang dikeluarkan oleh badan usaha yang bergerak di bidang jasa penyewaan
kendaraan.
f) bukti pembayaran hotel atau tempat menginap lainnya.

Pertanggungjawaban biaya Perjalanan Dinas Pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan
melampirkan dokumen berupa:

a) Fotokopi surat keputusan pindah.


b) SPD yang telah ditandatangani pihak yang berwenang.
c) kuitansi/bukti penerimaan untuk uang harian.
d) kuitansi/bukti penerimaan untuk biaya transpor.
e) kuitansi/bukti penerimaan untuk biaya pengepakan dan angkutan barang.

Pada PMK No. 113/PMK.05/2012 pasal 36 menyatakan bagi pihak-pihak yang melakukan
pemalsuan dokumen, menaikkan dari harga sebenarnya (mark up), dan/atau Perjalanan Dinas rangkap

31
(dua kali atau lebih) dalam pertanggungjawaban Perjalanan Dinas yang berakibat kerugian yang diderita
oleh negara, bertanggung jawab sepenuhnya atas seluruh tindakan yang dilakukan.

III.D.3 Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 55/PMK.05/2014

Tujuan PMK No. 55/PMK.05/2012 ialah dalam rangka melaksanakan kebijakan penghematan
anggaran untuk perjalanan dinas sesuai arahan Presiden Republik Indonesia pada Rapat Kabinet tanggal 1
Oktober 2013, perlu melakukan penyesuaian terhadap biaya perjalanan dinas luar negeri bagi
Menteri/Pejabat setingkat Menteri dan Anggota Lembaga Negara.

Pada PMK No. 55/PMK.05/2012 pasal 15 menjelaskan pengelompokan Biaya Perjalanan Dinas
dibagi menjadi empat (4), yakni:

a) Golongan A, untuk Menteri, Ketua dan Wakil Ketua Lembaga Tinggi Negara, Duta Besar Luar
Biasa Berkuasa Penuh/Kepala Perwakilan, dan pejabat negara lainnya yang setara termasuk Pimpinan
Lembaga Pemerintah Non Kementerian dan Pimpinan Lembaga lain yang dibentuk berdasarkan peraturan
perundang-undangan, Anggota Lembaga Tinggi Negara, Pejabat Eselon I, dan pejabat lainnya yang
setara.
b) Golongan B, untuk Duta Besar, Pegawai Negeri Sipil Golongan IV/c ke atas, Pejabat Eselon II,
Perwira Tinggi TNI/Polri, utusan khusus Presiden (special envoy), dan pejabat lainnya yang setara.
c) Golongan C, untuk Pegawai Negeri Sipil Golongan III/c sampai dengan Golongan IV/b dan
Perwira Menengah TNI/Polri.
d) Golongan D, Pegawai Negeri Sipil dan anggota TNI/Polri selain yang dimaksud pada Golongan
B dan Golongan C.

Selain penetapan golongan biaya Perjalanan Dinas untuk Pegawai Tidak Tetap/Pihak Lain
dilakukan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkat pendidikan/keahlian/kepatutan tugas
Pegawai Tidak Tetap/Pihak Lain yang bersangkutan.

Untuk pemberian Uang harian diberikan berdasarkan kelompok golongan Perjalanan Dinas,
paling tinggi sebesar tarif yang tercantum dalam Standar Biaya yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri
Keuangan.

Klasifikasi kelas Moda Transportasi untuk masing-masing golongan sebagai berikut:

a. Moda Transportasi Udara terdiri dari:


1) Klasifikasi First diberikan untuk Golongan A bagi Ketua dan Wakil Ketua Lembaga Tinggi
Negara.

32
2) Klasifikasi Business diberikan untuk Golongan A bagi Menteri, Duta Besar Luar Biasa Berkuasa
Penuh/Kepala Perwakilan, dan pejabat negara lainnya yang setara termasuk Pimpinan Lembaga
Pemerintah Non Kementerian dan Pimpinan Lembaga lain yang dibentuk berdasarkan peraturan
perundang-undangan, Anggota Lembaga Tinggi Negara, Pejabat Eselon I, dan pejabat lainnya yang
setara, serta Golongan B; atau
3) Klasifikasi Published diberikan untuk Golongan C dan Golongan D, dan apabila lama
perjalanannya melebihi 8 (delapan) jam penerbangan (tidak termasuk waktu transit), dapat diberikan
Klasifikasi Business; dan
b. Moda Transportasi Darat atau Air, paling rendah klasifikasi Business untuk semua Golongan.
1. Isteri/suami Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang diizinkan oleh Presiden atau pejabat yang
ditunjuk, untuk melakukan/mengikuti Perjalanan Dinas ke luar negeri golongannya disamakan dengan
golongan suami/istri.
2. Anggota keluarga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4) digolongkan menurut golongan
terakhir Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang meninggal.
3. Perjalanan Dinas bagi Pejabat Negara/Pegawai Negeri/Pegawai Tidak Tetap yang bersifat
rombongan dan tidak terpisahkan, golongannya dapat ditetapkan mengikuti salah satu golongan yang
memungkinkan mereka menginap dalam satu hotel yang sama.

33
BAB III

KESIMPULAN

Fraud merupakan tindakan yang disengaja dengan melakukan penipuan, penggelapan, ataupun
pelanggaran kepercayaan untuk mendapatkan keuntungan finansial melalui salah saji yang materil.
Penyebeb terjadinya fraud disebabkan karena adanya tekanan, kesempatan dan raisonalisasi. Pada
dasarnya penyebab terjadinya fraud diakibatkan karena adanya kesempatan. Munculnya kesempatan
dikarenakan lemahnya pengendalian yang ada.

Penilaian terhadap risiko kecurangan merupakan suatu bentuk cara yang dilakukan oleh auditor
untuk menilai dan memperoleh bukti audit yang memadai dan nantinya digunakan sebagai acuan untuk
mengetahui bagian-bagian apa saja yang memiliki tingkat risiko kecurangan.

34
DAFTAR PUSTAKA

Vona, L.W. 2008. Fraud Risk Assesment: Building a Fraud Audit. John Wiley & Sons, Inc.
Hoboken: New Jersey.

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170119142324-384-187448/rolls-royce-akui-suap-
pihak-garuda-indonesia/(tanggal akses 3 November 2017)

https://news.detik.com/kolom/d-3400533/skandal-suap-jutaan-dolar-rolls-royce-minta-maaf
(tanggal akses 3 November 2017)

Dewan Perwakilan Rakyat. (2015). Sosialisasi Perjalanan Dinas Staf Administrasi


Anggota DPR. Dewan Perwakilan Rakyat 16 September 2015.
http://www.dpr.go.id/berita/detail/id/11117

Kementrian Keuangan Republik Indonesia. (2013). Ketentuan Lebih Lanjut Pelaksanaan


Perjalanan Dinas Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai
Tidak Tetap (Perdirjen Perbendaharaan Nomor PER- 22/PB/2013).

35