Anda di halaman 1dari 15

Homepage RSS

Search:

LAPORAN PENDAHULUAN
LEPTOSPIROSIS
 HOME
 ALL ARTICLE ( DAFTAR ISI )
 PRIVACY AND POLICY
 ABOUT ME
 MOTTO

Thursday, November 14, 2013

LAPORAN PENDAHULUAN LEPTOSPIROSIS


Browse » Home » Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap » LAPORAN
PENDAHULUAN LEPTOSPIROSIS

LEPTOSPIROSIS

A. PENGERTIAN
 Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme, yaitu
Leptospira tanpa memandang bentuk spesifik serotipnya. Penyakit ini dapat berjangkit pada laki-
laki atau perempuan semua umur. Banyak ditemui didaerah tropis, dan biasanya penyakit ini juga
dikenal dengan berbagai nama seperti mud fever, slime fever, swamp fever, autumnal fever,
infectious jaundice, filed fever, cane cutre fever dan lain-lain (Mansjoer dkk, 2007).
 Leptospirosis adalah penyakit hewan yang dapat menjangkiti manusia, termasuk penyakit zoonosis
yang paling sering di dunia. Leptospirosis juga dikenal dengan nama flood fever atau demam banjir
karena memang muncul karena banjir. Di beberapa negara leptospirosis dikenal dengan nama
demam icterohemorrhagic, demam lumpur, penyakit Stuttgart, penyakit Weil, demam canicola,
penyakit swineherd, demam rawa atau demam lumpur (Judarwanto, 2009)
 Menurut NSW Multicultural Health Communication Service (2003), Leptospirosis adalah penyakit
manusia dan hewan dari kuman dan disebabkan kuman Leptospira yang ditemukan dalam air seni
dan sel-sel hewan yang terkena. Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
kuman leptospira patogen.

B. ETIOLOGI
Leptospirosis disebabkan bakteri pathogen berbentuk spiral genus Leptospira, family
leptospiraceae dan ordo spirochaetales. Spiroseta berbentuk bergulung-gulung tipis, motil,
obligat, dan berkembang pelan anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2 spesies yaitu L interrogans
yang pathogen dan L biflexa bersifat saprofitik (Judarwanto, 2009).
1. Patogen L Interrogans
Terdapat pada hewan dan manusia. Mempunyai sub group yang masing-masing terbagi lagi atas
berbagai serotip yang banyak, diantaranya; L. javanica, L. cellodonie, L. australlis, L. Panama dan
lain-lain.
2. Non Patogen L. Biflexa
Menurut beberapa penelitian, yang paling tersering menginfeksi manusia adalah: L.
icterohaemorrhagiae dengan resorvoir tikus, L. canicola dengan resorvoir anjing, L. pomona
dengan reservoir sapi dan babi.
Leptospira dapat menginfeksi sekurangnya 160 spesies mamalia di antaranya tikus, babi,
anjing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia lainnya. Hewan peliharaan yang paling berisiko adalah
kambing dan sapi. Resevoar utamanya di seluruh dunia adalah binatang pengerat dan tikus.

C. MANIFESTASI KLINIS
Infeksi leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang
asimtomatis, sehingga sering terjadi misdiagnosis. Hampir 15-40% penderita terpapar infeksi tidak
bergejala tetapi serologis positif. Masa inkubasi 7-12 hari dengan rentang 2-20 hari. Sekitar 90%
penderita ikterus ringan, 5-10% ikterus berat yang sering dikenal sebagai penyakit Weil.
Perjalanan penyakit leptospira terdiri dari 2 fase, yaitu fase septisemia dan fase imun. Pada periode
peralihan fase selama 1-3 hari kondisi penderita membaik (Judarwanto, 2009).
1. Fase awal dikenal sebagai fase septisemik atau fase leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi
dari darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Fase awal sekitar 4-7 hari,
ditandai gejala nonspesifik seperti flu dengan beberapa variasinya. Manifestasi klinisnya demam,
menggigil, lemah dan nyeri terutama tulang rusuk, punggung dan perut. Gejala lain adalah sakit
tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, ruam, nyeri kepala frontal, fotofobia, gangguan
mental, dan meningitis. Pemeriksaan fisik sering mendapatkan demam sekitar 400C disertai
takikardi. Subconjunctival suffusion, injeksi faring, splenomegali, hepatomegali, ikterus ringan,
mild jaundice, kelemahan otot, limfadenopati dan manifestasi kulit berbentuk makular,
makulopapular, eritematus, urticari, atau rash juga didapatkan pada fase awal penyakit.
2. Fase kedua sering disebut fase imun atau leptospirurik karena sirkulasi antibody dapat dideteksi
dengan isolasi kuman dari urine; mungkin tidak dapat didapatkan lagi dari darah atau cairan
serebrospinalis. Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi.
Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput otak, hati, mata atau ginjal. Gejala
nonspesifik seperti demam dan nyeri otot mungkin lebih ringan dibandingkan fase awal selama 3
hari sampai beberapa minggu. Sekitar 77% penderita mengalami nyeri kepala terus menerus yang
tidak responsif dengan analgesik. Gejala ini sering dikaitkan dengan gejala awal meningitis selain
delirium. Pada fase yang lebih berat didapatkan gangguan mental berkepanjangan termasuk
depresi, kecemasan, psikosis dan demensia.

D. PATOFISIOLOGI
Kuman leptospira masuk ke dalam tubuh penjamu melalui luka iris/luka abrasi pada kulit,
konjungtiva atau mukosa utuh yang melapisi mulut, faring, osofagus, bronkus, alveolus dan dapat
masuk melalui inhalasi droplet infeksius dan minum air yang terkontaminasi. Meski jarang
ditemukan, leptospirosis pernah dilaporkan penetrasi kuman leptospira melalui kulit utuh yang
lama terendam air, saat banjir. Infeksi melalui selaput lendir lambung jarang terjadi, karena ada
asam lambung yang mematikan kuman leptospira. Kuman leptospira yang tidak virulen gagal
bermultiplikasi dan dimusnahkan oleh sistem kekebalan dari aliran darah setelah 1 atau 2 hari
infeksi. Organisme virulen mengalami mengalami multiplikasi di darah dan jaringan, dan kuman
leptospira dapat diisolasi dari darah dan cairan serebrospinal pada hari ke 4 sampai 10 perjalanan
penyakit.

Kuman leptospira merusak dinding pembuluh darah kecil; sehingga menimbulkan


vaskulitis disertai kebocoran dan ekstravasasi sel. Patogenitas kuman leptospira yang paling
penting adalah perlekatannya pada permukaan sel dan toksisitas selluler. Lipopolysaccharide
(LPS) pada kuman leptospira mempunyai aktivitas endotoksin yang berbeda dengan endotoksin
bakteri gram negatif, dan aktivitas lainnya yaitu stimulasi perlekatan netrofil pada sel endotel dan
trombosit, sehingga terjadi agregasi trombosit disertai trombositopenia. Kuman leptospira
mempunyai fosfolipase yaitu hemolisin yang mengakibatkan lisisnya eritrosit dan membran sel
lain yang mengandung fosfolipid.
Beberapa strain serovar Pomona dan Copenhageni mengeluarkan protein sitotoksin. In
vivo, toksin in mengakibatkan perubahan histopatologik berupa infiltrasi makrofag dan sel
polimorfonuklear. Organ utama yang terinfeksi kuman leptospira adalah ginjal dan hati. Di dalam
ginjal kuman leptospira bermigrasi ke interstisium, tubulus ginjal, dan lumen tubulus.
Pada leptospirosis berat, vaskulitis akan menghambat sirkulasi mikro dan meningkatkan
permeabilitas kapiler, sehingga menyebabkan kebocoran cairan dan hipovolemia. Ikterik
disebabkan oleh kerusakan sel-sel hati yang ringan, pelepasan bilirubin darah dari jaringan yang
mengalami hemolisis intravaskular, kolestasis intrahepatik sampai berkurangnya sekresi bilirubin.
Conjungtival suffusion khususnya perikorneal; terjadi karena dilatasi pembuluh darah,
kelainan ini sering dijumpai pada patognomonik pada stadium dini. Komplikasi lain berupa
uveitis, iritis dan iridosiklitis yang sering disertai kekeruhan vitreus dan lentikular. Keberadaan
kuman leptospira di aqueous humor kadang menimbulkan uveitis kronik berulang.
Kuman leptospira difagosit oleh sel-sel sistem retikuloendotelial serta mekanisme
pertahanan tubuh. Jumlah organisme semakin berkurang dengan meningkatnya kadar antibodi
spesifik dalam darah. Kuman leptospira akan dieleminasi dari semua organ kecuali mata, tubulus
proksimal ginjal, dan mungkin otak dimana kuman leptospira dapat menetap selama beberapa
minggu atau bulan.
Pathways

E. KOMPLIKASI
Pada leptospira, komplikasi yang sering terjadi adalah iridosiklitis, gagal ginjal, miokarditis,
meningitis aseptik dan hepatitis. Perdarahan masif jarang ditemui dan bila terjadi selalu
menyebabkan kematian.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium digunakan untuk konfirmasi diagnosis dan mengetahui
gangguan organ tubuh dan komplikasi yang terjadi.
 Urine yang paling baik diperiksa karena kuman leptospira terdapat dalam urine sejak awal
penyakit dan akan menetap hingga minggu ke tiga. Cairan tubuh lainnya yang mengandung
leptospira adalah darah, cerebrospinal fluid (CSF) tetapi rentang peluang untuk isolasi kuman
sangat pendek Isolasi kuman leptospira dari jaringan lunak atau cairan tubuh penderita adalah
standar kriteria baku. Jaringan hati, otot, kulit dan mata adalah sumber identifikasi kuman tetapi
isolasi leptospira lebih sulit dan membutuhkan beberapa bulan.
 Spesimen serum akut dan serum konvalesen dapat digunakan untuk konfirmasi diagnosis tetapi
lambat karena serum akut diambil 1-2 minggu setelah timbul gejala awal dan serum konvalesen
diambil 2 minggu setelah itu. Antibodi antileptospira diperiksa menggunakan microscopic
agglutination test (MAT).
 Titer MAT tunggal 1:800 pada sera atau identifikasi spiroseta pada mikroskopi lapang gelap
dikaitkan dengan manifestasi klinis yang khas akan cukup bermakna.
 Pemeriksaan complete blood count (CBC) sangat penting. Penurunan hemoglobin dapat terjadi
pada perdarahan paru dan gastrointestinal. Hitung trombosit untuk mengetahui komponen DIC.
Blood urea nitrogen dan kreatinin serum dapat meningkat pada anuri atau oliguri
tubulointerstitial nefritis pada penyakit Weil.
 Peningkatan bilirubin serum dapat terjadi pada obstruksi kapiler di hati. Peningkatan
transaminase jarang dan kurang bermakna, biasanya <200 U/L. Waktu koagulasi akan
meningkat pada disfungsi hati atau DIC. Serum creatine kinase (MM fraction) sering
meningkat pada gangguan muskular.
 Analisis CSF bermanfaat hanya untuk eksklusi meningitis bakteri. Leptospires dapat diisolasi
secara rutin dari CSF, tetapi penemuan ini tidak mengubah tatalaksana penyakit.
 Pemeriksaan pencitraan foto polos paru dapat menunjukkan air space bilateral. Juga dapat
menunjukkan kardiomegali dan edema paru pada miokarditis. Perdarahan alveolar dan patchy
multiple infiltrate dapat ditemukan. Ultrasonografi traktus bilier dapat menunjukkan
kolesistitis akalkulus.
 Perwarnaan silver staining dan immunofluorescence dapat mengidentifikasi leptospira di hati,
limpa, ginjal, CNS dan otot. Selama fase akut pemeriksaan histology menunjukkan organisma
tanpa banyak infiltrate inflamasi.

G. DIAGNOSIS BANDING
1. Dengue Fever
2. Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome
3. Hepatitis
4. Malaria
5. Meningitis
6. Mononucleosis, influenza
7. Enteric fever
8. Rickettsial disease
9. Encephalitis
10. Primary HIV infection

H. PENATALAKSANAAN
Obat antibiotika yang biasa diberikan adalah penisillin, strptomisin, tetrasiklin, kloramfenikol,
eritromisin dan siproflokasasin. Obat pilihan utama adalah penicillin G 1,5 juta unit setiap 6
jam selama 5-7 hari. Dalam 4-6 jam setelah pemeberian penicilin G terlihat reaksi Jarisch
Hecheimmer yang menunjukkan adanya aktivitas antileptospira> obat ini efektif pada
pemberian 1-3 hari namun kurang bermanfaat bila diberikan setelah fase imun dan tidak efektif
jika terdapat ikterus, gagal ginjal dan meningitis. Tindakan suporatif diberikan sesuai denan
keparahan penyakit dan komplikasi yang timbul.

I. PROGNOSIS
Tergantung keadaan umum klien, umur, virulensi leptospira, dan ada tidaknya kekebalan yang
didapat. Kematian juga biasanya terjadi akibat sekunder dari faktor pemberat seperti gagal
ginjal atau perdarahan dan terlambatnya klien mendapat pengobatan.

J. PENGKAJIAN
1. Identitas
Keadaan umum klien seperti umur dan imunisasi., laki dan perempuan tingkat kejadiannya
sama.
2. Keluhan utama
Demam yang mendadak
Timbul gejala demam yang disertai sakit kepala, mialgia dan nyeri tekan (frontal) mata merah,
fotofobia, keluahan gastrointestinal. Demam disertai mual, muntah, diare, batuk, sakit dada,
hemoptosis, penurunan kesadaran dan injeksi konjunctiva. Demam ini berlangsung 1-3 hari.
3. Riwayat keperawatan
a. Imunisasi, riwayat imunisasi perlu untuk peningkatan daya tahan tubuh
b. Riwayat penyakit, influenza, hapatitis, bruselosis, pneuma atipik, DBD, penyakit susunan saraf
akut, fever of unknown origin.
c. Riwayat pekerjaan klien apakah termasuk kelompok orang resiko tinggi seperti bepergian di
hutan belantara, rawa, sungai atau petani.
4. Pemeriksaan dan observasi
a. Fisik
Keadaan umum, penurunan kesadaran, lemah, aktvivitas menurun
Review of sistem :
1) Sistem pernafasan
Epitaksis, penumonitis hemoragik di paru, batuk, sakit dada
2) Sistem cardiovaskuler
Perdarahan, anemia, demam, bradikardia.
3) Sistem persyrafan
Penuruanan kesadaran, sakit kepala terutama dibagian frontal, mata merah.fotofobia, injeksi
konjunctiva,iridosiklitis
4) Sistem perkemihan
Oligoria, azometmia,perdarahan adernal
5) Sistem pencernaan
Hepatomegali, splenomegali, hemoptosis, melenana
6) Sistem muskoloskletal
Kulit dengan ruam berbentuk makular/makulopapular/urtikaria yang teresebar pada badan.
Pretibial.
b. Laboratorium
1) Leukositosis normal, sedikit menurun,
2) Neurtrofilia dan laju endap darah (LED) yang meninggiu
3) Proteinuria, leukositoria
4) Sedimen sel torak
5) BUN, ureum dan kreatinin meningkat
6) SGOT meninggi tetapi tidak melebihi 5 x normal
7) Bilirubin meninggi samapai 40 %
8) Trombositopenia
9) Hiporptrombinemia
10) Leukosit dalam cairan serebrospinal 10-100/mm3
11) Glukosa dalam CSS Normal atau menurun
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh, proses penyakit
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen biologis (proses penyakit)
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan untuk
mengabsorbsi zat-zat bergizi karena faktor bilogis, proses penyakit.
4. Defisit volume cairan b.d kekurangan cairan dan elektrolit aktif
5. Cemas/ takut berhubungan dengan perubahan kesehatan (penyakit leptospirosis)
6. Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan
kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif
7. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek kerja penyakit, deficit imunologik,
penurunan intake nutrisi dan anemia.

L. RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan dan Criteria Hasil
Intervensi (NIC)
Keperawatan (NOC)
1 Hipertermia NOC : Thermoregulation NIC :
berhubungan Kriteria Hasil : Fever treatment
dengan  Suhu tubuh dalam rentang  Monitor suhu sesering
peningkatan normal mungkin
 Nadi dan RR dalam rentang
metabolisme tubuh,  Monitor IWL
proses penyakit normal  Monitor warna dan suhu kulit
 Tidak ada perubahan warna  Monitor tekanan darah, nadi
kulit dan tidak ada pusing, dan RR
merasa nyaman  Monitor penurunan tingkat
kesadaran
 Monitor WBC, Hb, dan Hct
 Monitor intake dan output
 Berikan anti piretik
 Berikan pengobatan untuk
mengatasi penyebab demam
 Selimuti pasien
 Lakukan tapid sponge
 Berikan cairan intravena
 Kompres pasien pada lipat
paha dan aksila
 Tingkatkan sirkulasi udara
 Berikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya
menggigil
Temperature regulation
 Monitor suhu minimal tiap 2
jam
 Rencanakan monitoring suhu
secara kontinyu
 Monitor TD, nadi, dan RR
 Monitor warna dan suhu kulit
 Monitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi
 Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
 Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
 Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat
panas
 Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negatif
dari kedinginan
 Beritahukan tentang indikasi
terjadinya keletihan dan
penanganan emergency yang
diperlukan
 Ajarkan indikasi dari hipotermi
dan penanganan yang
diperlukan
 Berikan anti piretik jika perlu

2 Nyeri akut NOC : NIC :


berhubungan  Pain Level,
dengan agen  Pain control, Pain Management
biologis (proses  Comfort level
penyakit) Kriteria Hasil :  Lakukan pengkajian nyeri
 Mampu mengontrol nyeri (tahu secara komprehensif
penyebab nyeri, mampu termasuk lokasi, karakteristik,
menggunakan tehnik durasi, frekuensi, kualitas dan
nonfarmakologi untuk faktor presipitasi
mengurangi nyeri, mencari  Observasi reaksi nonverbal dari
bantuan) ketidaknyamanan
 Melaporkan bahwa nyeri  Gunakan teknik komunikasi
berkurang dengan terapeutik untuk mengetahui
menggunakan manajemen pengalaman nyeri pasien
nyeri  Kaji kultur yang mempengaruhi
 Mampu mengenali nyeri (skala, respon nyeri
intensitas, frekuensi dan tanda Evaluasi pengalaman nyeri
nyeri) masa lampau
 Menyatakan rasa nyaman  Evaluasi bersama pasien dan
setelah nyeri berkurang tim kesehatan lain tentang
 Tanda vital dalam rentang ketidakefektifan kontrol nyeri
normal masa lampau
 Bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan
menemukan dukungan
 Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti
suhu ruangan, pencahayaan
dan kebisingan
 Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Pilih dan lakukan penanganan
nyeri (farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
 Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
 Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
 Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
 Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Kolaborasikan dengan dokter
jika ada keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
 Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri
Analgesic Administration
 Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat
 Cek instruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan
frekuensi
 Cek riwayat alergi
 Pilih analgesik yang diperlukan
atau kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih dari
satu
 Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
 Tentukan analgesik pilihan, rute
pemberian, dan dosis optimal
 Pilih rute pemberian secara IV,
IM untuk pengobatan nyeri
secara teratur
 Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
 Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
 Evaluasi efektivitas analgesik,
tanda dan gejala (efek
samping)

3 Ketidakseimbangan NOC : NIC :


nutrisi kurang dari Nutritional Status : food and Nutrition Management
kebutuhan tubuh Fluid Intake  Kaji adanya alergi makanan
b.d  Nutritional Status : nutrient  Kolaborasi dengan ahli gizi
ketidakmampuan Intake untuk menentukan jumlah
untuk  Weight control kalori dan nutrisi yang
mengabsorbsi zat- Kriteria Hasil : dibutuhkan pasien.
zat bergizi karena  Adanya peningkatan berat  Anjurkan pasien untuk
faktor bilogis, badan sesuai dengan tujuan meningkatkan intake Fe
proses penyakit.  Berat badan ideal sesuai dengan Anjurkan pasien untuk
tinggi badan meningkatkan protein dan
 Mampumengidentifikasi vitamin C
kebutuhan nutrisi  Berikan substansi gula
 Tidak ada tanda tanda  Yakinkan diet yang dimakan
malnutrisi mengandung tinggi serat
 Menunjukkan peningkatan untuk mencegah konstipasi
fungsi pengecapan dari  Berikan makanan yang terpilih
menelan ( sudah dikonsultasikan
 Tidak terjadi penurunan berat dengan ahli gizi)
badan yang berarti  Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan
harian.
 Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
 Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
 Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan
Nutrition Monitoring
 BB pasien dalam batas normal
 Monitor adanya penurunan
berat badan
 Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa dilakukan
 Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
 Monitor lingkungan selama
makan
 Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam
makan
 Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
 Monitor mual dan muntah
 Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
 Monitor makanan kesukaan
 Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
 Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
 Monitor kalori dan intake
nuntrisi
 Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan
cavitas oral.
 Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

4 Defisit volume NOC: NIC :


cairan b.d  Fluid balance Fluid management
kekurangan cairan Hydration  Timbang popok/pembalut
dan elektrolit aktif Nutritional Status : Food and jika diperlukan
Fluid Intake
Kriteria Hasil :  Pertahankan catatan intake
 Mempertahankan urine output dan output yang akurat
sesuai dengan usia dan BB, BJ Monitor status hidrasi (
urine normal, HT normal kelembaban membran
 Tekanan darah, nadi, suhu mukosa, nadi adekuat,
tubuh dalam batas normal tekanan darah ortostatik ),
 Tidak ada tanda tanda jika diperlukan
dehidrasi, Elastisitas turgor  Monitor vital sign
kulit baik, membran mukosa  Monitor masukan makanan /
lembab, tidak ada rasa haus cairan dan hitung intake
yang berlebihan kalori harian
 Kolaborasikan pemberian
cairan IV
 Monitor status nutrisi
 Berikan cairan IV pada suhu
ruangan
 Dorong masukan oral
 Berikan penggantian
nesogatrik sesuai output
 Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
 Tawarkan snack ( jus buah,
buah segar )
 Kolaborasi dokter jika tanda
cairan berlebih muncul
meburuk
 Atur kemungkinan tranfusi
 Persiapan untuk tranfusi

5 Cemas/ takut NOC : NIC :


berhubungan  Anxiety control Anxiety Reduction
dengan perubahan  Coping (penurunan kecemasan)
kesehatan  Impulse control  Gunakan pendekatan yang
(penyakit Kriteria Hasil : menenangkan
leptospirosisi)  Klien mampu mengidentifikasi Nyatakan dengan jelas
dan mengungkapkan gejala harapan terhadap pelaku
cemas pasien
 Mengidentifikasi,  Jelaskan semua prosedur dan
mengungkapkan dan apa yang dirasakan selama
menunjukkan tehnik untuk prosedur
mengontol cemas  Pahami prespektif pasien
 Vital sign dalam batas normal terhdap situasi stres
 Postur tubuh, ekspresi wajah,  Temani pasien untuk
bahasa tubuh dan tingkat memberikan keamanan dan
aktivitas menunjukkan mengurangi takut
berkurangnya kecemasan  Berikan informasi faktual
mengenai diagnosis, tindakan
prognosis
 Dorong keluarga untuk
menemani anak
 Lakukan back / neck rub
 Dengarkan dengan penuh
perhatian
 Identifikasi tingkat
kecemasan
 Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
 Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
 Instruksikan pasien
menggunakan teknik relaksasi
 Barikan obat untuk
mengurangi kecemasan

6 Kurang NOC : NIC :


pengetahuan  Kowlwdge : disease process Teaching : disease Process
tentang penyakit,  Kowledge : health Behavior 1. Berikan penilaian tentang
prognosis dan Kriteria Hasil : tingkat pengetahuan pasien
pengobatan  Pasien dan keluarga tentang proses penyakit yang
berhubungan menyatakan pemahaman spesifik
dengan kurangnya tentang penyakit, kondisi, 2. Jelaskan patofisiologi dari
informasi, prognosis dan program penyakit dan bagaimana hal
misinterpretasi, pengobatan ini berhubungan dengan
keterbatasan  Pasien dan keluarga mampu anatomi dan fisiologi, dengan
kognitif melaksanakan prosedur yang cara yang tepat.
dijelaskan secara benar 3. Gambarkan tanda dan gejala
 Pasien dan keluarga mampu yang biasa muncul pada
menjelaskan kembali apa yang penyakit, dengan cara yang
dijelaskan perawat/tim tepat
kesehatan lainnya. 4. Gambarkan proses penyakit,
dengan cara yang tepat
5. Identifikasi kemungkinan
penyebab, dengna cara yang
tepat
6. Sediakan informasi pada
pasien tentang kondisi,
dengan cara yang tepat
7. Hindari harapan yang kosong
8. Sediakan bagi keluarga atau
SO informasi tentang
kemajuan pasien dengan cara
yang tepat
9. Diskusikan perubahan gaya
hidup yang mungkin
diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan
datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
11. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat
13. Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
14. Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat
7 Resiko kerusakan NOC : Tissue Integrity : Skin NIC : Pressure
integritas kulit and Mucous Membranes Management
berhubungan Kriteria Hasil :  Anjurkan pasien untuk
dengan efek kerja  Integritas kulit yang baik bisa menggunakan pakaian yang
penyakit, deficit dipertahankan (sensasi, longgar
imunologik, elastisitas, temperatur, hidrasi, Hindari kerutan padaa tempat
penurunan intake pigmentasi) tidur
nutrisi dan anemia. Tidak ada luka/lesi pada kulit
 Perfusi jaringan baik  Jaga kebersihan kulit agar tetap
 Menunjukkan pemahaman bersih dan kering
dalam proses perbaikan kulit  Mobilisasi pasien (ubah posisi
dan mencegah terjadinya pasien) setiap dua jam sekali
sedera berulang  Monitor kulit akan adanya
 Mampu melindungi kulit dan kemerahan
mempertahankan kelembaban  Oleskan lotion atau
kulit dan perawatan alami minyak/baby oil pada derah
yang tertekan
 Monitor aktivitas dan
mobilisasi pasien
 Monitor status nutrisi pasien
 Memandikan pasien dengan
sabun dan air hangat

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 2003. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Judarwanto, W. 2009. Cermin Dunia Kedokteran; Leptospirosis pada Manusia. Jakarta: Allergy
Behaviour Clinic, Picky Eaters Clinic Rumah Sakit Bunda
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media Aesculapius FKUI
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
NSW Multicultural Health Communication Service. 2003. Leptospirosis. Dimuat
dalam http://mhcs.health.nsw.gov.au (Diakses 20 Februari 2012)
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika