Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diare merupakan penyakit sistem pencernaan yang ditandai dengan buang air besar encer
lebih dari tiga kali dalam sehari. Penyakit diare sampai saat ini masih merupakan penyebab
kematian utama di dunia, terhitung 5-10 juta kematian/tahun. Besarnya masalah tersebut,
terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia dan 2,2 juta diantaranya meninggal,
dan sebagian besar anak-anak dibawah umur 5 tahun. Menurut data di Amerika, setiap anak
mengalami 7-15 episode diare dengan rata-rata usia 5 tahun. Menurut data di Negara
berkembang rata-rata tiap anak dibawah usia 5 tahun mengalami episode diare 3-4 kali
pertahun.1
Di Indonesia, angka kejadian diare akut diperkirakan masih sekitar 60 juta setiap
tahunnya dan angka kesakitan pada balita sekitar 200-400 kejadian dari 1.000 penduduk setiap
tahunnya dan 1-5% berkembang menjadi diare kronik.2
Dari hasil survey morbiditas yang dilakukan oleh subdit diare, Departemen Kesehatan
dari tahun 2012-2015 memperlihatkan kecenderungan insiden naik. Pada tahun 2012 angka
kesakitan diare pada balita 900 per 1.000 balita, tahun 2013 insiden diare pada balita sebesar
6,7% (kisaran provinsi 3,3%-10,2%). Tahun 2015 terjadi 18 kali KLB diare dengan jumlah
penderita 1.213 orang dan kematian 30 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) = 2,47%.3
Berdasarkan laporan dari seluruh kab/kota di Sumatera Barat, pada tahun 2017, diare
tercatat sebagai salah satu 10 penyakit terbanyak. Pada tahun 2017 di Provinsi Sumatera Barat
jumlah kasus diare yang ditemukan dan dilayani sebanyak 115.442 orang (102%), sedangkan
tahun 2015 jumlah kasus diare yang ditemukan dan dilayani sebanyak 110.122 orang (99%).4
Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Muaro Bodi, kejadian diare pada balita
di wilayah kecamatan IV nagari selama dua tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup
signifikan yaitu Januari-Oktober tahun 2018 tercatat 50 balita mengalami diare, sedangkan
Januari-Agustus tahun 2019 tercatat 72 orang balita mengalami diare.5
Berdasarkan Survei Kesahatan Rumah Tangga (SKRT), studi mortalitas dan riset
kesehatan dasar dari tahun ke tahun diketahui bahwa diare masih menjadi penyebab utama
kematian balita di Indonesia. Penyebab utama kematian akibat diare adalah tata laksana yang
tidak tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan. Untuk menurunkan kematian karena
diare perlu tata laksana yang cepat dan tepat.6 Penanganan yang tepat pada diare, akan
menurunkan derajat keparahan penyakit. Diare dapat diatasi dengan menjaga kebersihan dan
mengolah makanan yang sehat dan bersih dan anjuran pada ibu untuk mencegah dan
menangani diare secara cepat dan tepat agar angka morbiditas dan mortalitas diare menurun.2
Pengetahuan merupakan hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang
dimilikinya. Pengetahuan ibu tentang diare pada anak merupakan salah satu komponen faktor
predisposisi yang mempengaruhi perilaku dalam melaksanakan penanganan diare pada anak.7
Ibu merupakan orang yang paling dekat dengan anak dan mempunyai peran penting
dalam menjaga dan memelihara kesehatan anak. Kemampuan ibu sangat menentukan
keselamatan anak yang mengalami diare mulai dari mengenali apa itu diare, tanda gejala diare,
penyebab, dampak/komplikasi yang muncul akibat diare, serta upaya melakukan pertolongan
pertama untuk mencegah terjadinya dehidrasi serta perawatan sebelum mendapat pengobatan
lanjutan dari tenaga kesehatan. Kemampuan ibu dinilai pada aspek pengetahuan dan perilaku
ibu dalam penanganan terhadap penyakit diare.
Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Lina Malikhah (2012) menyatakan bahwa
pengetahuan yang dimilki seseorang khususnya ibu sangat mempengaruhi sikap ibu dalam
mengatasi diare pada balita.8 Penelitian kedua oleh Erisa Herwindasari (2013) menyatakan
bahwa tindakan penanganan diare di rumah oleh ibu ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan
ibu, semakin baik pengetahuan ibu, semakin baik pula tindakannya terhadap penanganan
diare.9
Berdasarkan uraian diatas mengingat pentingnya penanganan diare maka penulis tertarik
untuk mengetahui serta melakukan penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Ibu
tentang Diare pada Anak Usia Balita di Puskesmas Muaro Bodi Kecamatan IV nagari
Kabupaten Sijunjung”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka peneliti merumuskan masalah sebagai
berikut :
a. Bagaimana gambaran pengetahuan Ibu tentang diare pada anak usia balita di
Puskesmas Muaro Bodi Kecamatan IV nagari Kabupaten Sijunjung?
b. Bagaimana gambaran pengetahuan Ibu tentang penanganan pertama diare yang dapat
dilakukan di rumah ?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan Ibu tentang diare pada anak usia balita di
Puskesmas Muaro Bodi Kecamatan IV nagari Kabupaten Sijunjung.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan Ibu tentang diare pada anak usia balita di
Puskesmas Muaro Bodi Kecamatan IV nagari Kabupaten Sijunjung.
b. Untuk menjelaskan mengenai apa itu diare, tanda gejala diare, penyebab,
dampak/komplikasi yang muncul akibat diare, serta upaya melakukan
pertolongan pertama pada anak balita yang menderita diare.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi Peneliti
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman bagi penulis dalam
meneliti secara langsung di lapangan.
b. Untuk memenuhi salah satu tugas peneliti dalam menjalani program internsip
dokter umum Indonesia
2. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat (Ibu)
mengenai diare dan pertolongan pertama yang dapat dilakukan.
3. Bagi Tenaga Kesehatan/Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam membuat
kebijakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada
masyarakat, khususnya dalam mengatasi masalah diare. Serta sebagai masukan
dalam merencanakan program untuk upaya pencegahan penyakit diare di masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan
2.1.1 Definisi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
orang tersebut melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengideraan terjadi
melalui panca indera manusia. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata
dan telinga. Pengetahuan kognitif adalah domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (over behaviour). Dari hasil pengalaman serta penelitian terbukti bahwa
perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan.7
Penelitian yang dilakukan oleh Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum
seseorang mengadaptasi perilaku yang baru di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang
beruntun yaitu:7
a. Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui
terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
b. Interest (merasa tertarik), merasa tertarik terhadap stimulus atau objek tersebut disini
sikap subjek sudah mulai timbul.
c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya),
hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh stimulus.
e. Adaption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
2.1.2 Tingkatan Pengetahuan
Menurut Bloom (1987) dikutip oleh Notoatmodjo (2010), pengetahuan yang diacakupdi
dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:7
a. Tahu (know) diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall), terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar.
c. Aplikasi (aplication) diartikan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
d. Analisis (analysis) merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur
oragnisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintersis (syntesis) menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (evaluation) berkaitan dengan kemajuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek.
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu:7
a. Pengalaman, dimana dapat diperoleh dari pengalaman diri sendiri atau orang lain.
Misalnya, jika seseorang pernah merawat seorang anggota keluarga yang sakit
hipertensi, umumnya menjadi lebih tahu tindakan yang harus dilakukan jika terkena
hipertensi.
b. Tingkat pendidikan, dimana pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan
seseorang. Secara umum, seseorang yang memiliki pengetahuan yang tinggi akan
mempunyai pengalaman yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang
tingkat pendidikannya lebih rendah.
c. Sumber informasi, keterpaparan seseorang terhadap informasi mempengaruhi tingkat
pengetahuannya. Sumber informasi yang dapat memperngaruhi pengetahuan
seseorang, misalnya televisi, radio, koran, buku, majalah dan internet.
2.1.4 Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita
ketahui dapat disesuaikan dengan tingkat domain diatas.7
2.2 Diare
2.2.1 Pengertian
Diare adalah suatu kondisi saat seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek
atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali atau
lebih) dalam satu hari.10
Selama terjadi diare, tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat. Pada saat
yang bersamaan, usus kehilangan kemampuannya untuk menyerap cairan dan elektrolit yang
diberikan kepadanya. Pada kasus yang ringan saat proses penyerapan belum terganggu,
berbagai cairan yang diberikan kepadanya dapat mencegah dehidrasi. Lebih kurang 10%
episode diare disertai dehidrasi/kekurangan cairan secara berlebihan. Bayi dan anak yang lebih
kecil lebih mudah mengalami dehidrasi dibanding anak yang lebih besar dan dewasa.11
2.2.2 Epidemiologi
Diare merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyrakat di negara
berkembang termasuk di Indonesia, dan juga merupakan salah satu penyebab kematian dan
kesakitan tertinggi pada anak. Menurut hasil Riskesdas 2007, diare merupakan penyebab
kematian nomor satu pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan
semua umur merupakan penyebab kematian yang ke empat (13,2%).12
2.2.3 Klasifikasi dan Etiologi
Kuman-kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui makanan/minuman yang
tercemar atau kontak langsung dengan tinja penderita (fecal oral). Dalam istilah bahasa Inggris
disebutkan 5F, siklus penyebaran penyakit diare bisa digambarkan sebagai berikut melalui:2
a. Feces (tinja)
b. Flies (lalat)
c. Food (makanan)
d. Finger (tangan/jari tangan)
e. Fomites (peralatan masak)
Frank-Briggs (2012) membagi diare bersarakan:2
1. Waktu berlangsung
a. Diare akut
Diare yang terjadi secara mendadak yang berlangsung kurang dari 14 hari (paling
sering kurang dari 7 hari) dan menyebabkan seringnya pengeluaran feses cair tanpa
disertai darah yang terlihat. Kondisi diare akut dapat disertai dengan muntah dan
demam. Penyebab terjadinya diare akut yang dapat menyebabkan diare pada
manusia:2
Tabel 2.1 Penyebab diare akut
Golongan Bakteri Golongan Virus Golongan Parasit
 Aeromonas  Astrovirus  Balantidium coli
 Bacillus caerus  Calcivirus  Blastocystis
 Campylobacter jejuni (Norovirus, homonis
 Clostridium perfringens Sapovirus)  Cryptosporidium
 Clostridium defficile  Enteric adenovirus parvum
 Escherichia coli  Coronavirus  Entamoeba
 Plesiomonas shigeloides  Rotavirus histolytica

 Salmonella  Normalk virus  Giardia lamblia

 Shigella  Herpes simplex  Isospora belli

 Staphylococcus aureus virus  Strongyloides

 Vibrio cholera  Cytomegalovirus stercolaris

 Vibrio parahaemolyticus  Trichuris trichiura

 Yersinia enterocolitica
Sumber: Soebagyo, 2012
b. Diare persisten
Diare ini dimulai secara mendadak tapi dengan durasi yang lebih panjang (≥ 14 hari)
biasanya dimulai dengan disentri dan ditandai dengan adanya penurunan berat badan.2
c. Diare kronis
Diare yang durasinya panjang (lebih dari 4 minggu) yang tidak diketahui penyebabnya
dan tidak merespon terhadap pengobatan, baik pengobatan yang spesifik ataupun
tidak.2
2. Patofisiolofi
a. Diare sekretorik
Terjadinya sekresi air yang aktif di dalam lumen usus yang biasanya disebabkan oleh
secretagogue seperti enterotoksin bakteri (ex: Cholera, E.Coli), garam empedu bentuk
dihydroxy, serta penyakit yang menyebabkan atrofi vili usus.2
b. Diare osmotik
Diare ini terjadi karena penurunan fungsi absorpsi. Biasanya disebabkan oleh
konsumsi magnesium hidroksida, defisiensi sukrase-isomaltase.2
c. Diare inflamasi
Diare yang terjadi karena inflamasi pada intestinal yang biasanya disebabkan oleh
infeksi bakteri enteral patogen.2
d. Gangguang motilitas
Diare yang disebabkan oleh gangguan peristaltik usu baik peningkatan peristaltik
maupun penerunan peristaltik.2
3. Penyakit Sistemik
a. Penyebab infeksi
 Sindrom postenteritis
 Infeksi bakteri
 Infeksi parasit
b. Sindrom Diare Persisten
 Defisiensi imum
c. Respon imun yang abnormal
 Celliac disease
 Penyakit inflamasi usus (Crohn’s disease)
 Penyerapan lemak yang buruk (Cystic fibrosis)
4. Kelainan kongenital
 Diare kongenital sekretorik dan osmotik
5. Keganasan
 Tumor neuroendokrin
6. Tidak spesifik
2.2.4 Manifestasi Klinis
Diare pada umumnya memiliki gejala berupa sering buang air besar dengan konsistenai
feses lembek sampai cair dengan selang waktu yang singkat, sakit perut dan/atau kembung,
sakit pada rektal, mual dan muntah, kehilangan berat badan, dan demam.13
Anak dengan diare beresiko terkena dehidrasi. Gejala dehidrasi dibagi berdasarkan
derajat dehidrasinya. Derajat dehidrasi pada anak dapat ditentukan berdasarkan kriteria World
Health Organization (WHO), Morb Mortal Wkly Rep (MMWR), dan skor Maurice King.2
Gejala diare yang ditimbulkan oleh mikroorganisme memiliki gejala yang berbeda-beda.
Selain gejala diatas terdapat infeksi ekstraintestinal yang berkaitan dengan bakteri enteric
pathogen antara lain: vulvovaginitis, infeksi saluran kemih, endokarditis, osteomyelitis,
meningitis, pneumonia, hepatitis, peritonitis, dan septik thromboplebitis. Gejala neurologik
dari infeksi usus bisa berupa parasthesia (akibat makan ikan, kerang, monosodium glutamate)
hipotoni, dan kelemahan otot (C.botulinum). Selain itu terdapat pula manifestasi immune
mediated ekstraintestinal yang biasanya terjadi setelah diarenya sembuh.2
Apabila terdapat demam, itu diakibatkan karena proses peradangan atau proses dehidrasi.
Biasanya terjadi pada diarrhea inflammatory. Mual dan muntah adalah gejala yang non
spesifik, akan tetapi muntah mungkin disebabkan oleh mikroorganisme yang menginfeksi
saluran cerna bagian atas seperti: enteric virus, bakteri yang memproduksi enterotoksin,
Giardia, dan Cryptosporidium. Muntah biasanya sering terjadi pada diare non inflamasi.2
Apabila organ yang terkena adalah saluran cerna bagian atas, pasien menunjukkan gejala
tidak panas atau hanya subfebris, nyeri perut periumbilikal tidak berat, dan watery diare. Diare
pada pasien dengan immunocompromise perlu perhatian khusus sehingga informasi tentang
adanya immunodefisinsi atau penyakit kronis sangat penting.2
2.2.5 Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Diare
a. Perilaku cuci tangan
Mencuci tangan dengan sabun merupakan suatu tindakan sanitasi dengan membersihkan
tangan dan jari-jemari dengan menggunakan air dan sabun untuk menjadi lebih bersih
memutuskan mata rantai kuman. Mencuci tangan dengan sabun juga dikenal sebagai salah satu
upaya pencegahan penyakit. Hal ini sebaiknya dilakukan karena tangan sering kali menjadi
agen yang membawa kuman dan juga dapat menyebabkan patogen berpindah dari satu orang
ke orang lain. Baik dengan kontak langsung maupun kontak tidak langsung ( menggunakan
permukaan-permukaan lain seperti handuk, gelas ).14
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam
penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama
sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan,
sebelum menyuapi makan anak, dan sebelum makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare
yaitu menurunkan angka kejadian diare sebesar 47%.14
b. Higiene sanitasi makanan dan minuman
Hiegine adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan
subyeknya, seperti mencuci tangan untuk melindungi kebersihan tangan, membuang bagian
makanan yang sudah rusak, dan sebagainya. Sedangkan sanitasi adalah upaya kesehatan
dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan lingkungan dari subyeknya, seperti
menyediakan air bersih untuk cuci tangan, menyediakan tempat sampah dan sebagainya.
Sanitasi pangan dilakukan agar pangan aman untuk dikonsumsi dan sanitasi pangan dilakukan
dalam kegiatan atau proses produksi, penyimpana, pengangkutan, dan/atau peredaran
pangan.15
c. Sarana sanitasi lingkungan
 Sumber air
Air bersih menurut Permenkes 416/Menkes/PER/IX/1990 adalah air yang digunakan
untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat
diminum apabila telah dimasak. Kualitas air bersih harus memenuhi syarat kesehatan
yang meliputi persyaratan mikrobiologi, fisika kimia, dan radioaktif diikuti dengan
adanya pengawasan terhadap kualitas air yang bertujuan untuk mencegah penurunan
kualitas dan penggunaan air yang dapat mengganggu dan membahayakan kesehatan. Air
minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.16 Sumber air bersih yang tidak
aman disertai dengan sanitasi yang kurang baik meningkatkan angka kematian pada anak
yang disebabkan oleh diare sampai dengan 88%. Peningkatan ketersediaan air bersih
dapat meningkatkan perbaikan kualitas dari penderita diare sebesar 16%.17
 Jamban
Jamban adalah suatu ruangan yang memiliki fasilitas pembuangan kotoran manusia yang
terdiri dari tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa
(cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk
membersihkannya. Jamban cemplung adalah jamban yang penampungannya berupa
lubang yang berfungsi menyimpan dan meresapkan cairan kotoran/tinja ke dalam
tanahdan mengendapkan kotoran ke dasar lubang, dan seharusnya jamban cemplung
ditutup agar tidak berbau. Jamban denganb tangki septik/leher angsa merupakan jamban
berbentuk leher angsa yang penampungannya berupa tangki septik kedap air yang
berfungsi sebagai wadah proses penguraian kotoran manusia yang dilengkapi dengan
resepannya.18
Budaya perilaku BAB yang sehat dapat memutuskan alur kontaminasi kotoran manusia
yang dapat menjadi sumber penyakit yang terkait dengan sanitasi sehingga perlu sarana
BAB yang memenuhi standar dan persyaratan kesehatan. Syarat jamban sehat yaitu,
dapat mencegah kontaminasi ke badan air, mencegah kontak antara manusia dan tinja,
membuat tinja tidak dapat dihinggapi serangga maupun binatang lainnya, mencegah bau
tidak sedap, dan konstruksi dudukan jamban harus dibuat dengan baik dan aman serta
mudah dibersihkan.19
2.2.6 Diagnosis
1. Anamnesis
Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut: lama diare, frekuensi, volume,
konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir dan darah. Bila disertai muntah: volume dan
frekuensinya. Buang air kecil (BAK): volume biasanya berkurang, jarang atau tidak kencing
dalam 6-8 jam terkahir.Makanan dan minuman yang diberikan selama diare. Ada panas atau
penyakit lain yang menyertai seperti: batuk, pilek, otitis media, dan campak.2
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan,suhu tubuh, frekuensi denyut jantung
dan pernafasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama dehidrasi:
kesadaran, rasa haus, dan turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya: ubun-ubun
besar cekung atau tidak, mata cekung atau tidak, ada atau tidaknya air mata, bibir, mukosa
mulut dan lidah kering atau basah.2
Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolik. Bising usus yang
lemah atau tidakvada bila terdapat hipokalemi. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena perfusi
dan capillary refill dapat menentukan derajat dehidrasi yang terjadi.2
Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan berdasarkan kriteria World
Health Organization (WHO), Morb Mortal Wkly Rep (MMWR), dan skor Maurice King.2
Tabel 2.2 Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR
Simptom Minimal atau tanpa Dehidrasi Ringan- Dehidrasi Berat
dehidrasi kehilangan Sedang, Kehilangan Kehilangan BB >9%
BB <3% BB 3%-9%
Kesadaran Baik Normal, lelah, Apathis, letargi, tidak
gelisah, irritable sadar
Denyut jantung Normal Normal-meningkat Takikardi,
bradikardia pada
kasus berat
Kualitas nadi Normal Normal-melemah Lemah, kecil, tidak
teraba
Pernapasan Normal Normal-cepat Dalam
Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Air mata Ada Berkurang Tidak ada
Mulut dan Lidah Basah Kering Sangat Kering
Cubitan kulit Segera kembali Kembali <2 detik Kembali >2 detik
Capillary refill Normal Memanjang Memanjang,
minimal
Ekstremitas Hangat Dingin Dingin, mottled,
sianotik
Kencing Normal Berkurang Minimal
Sumber: Soebagyo, 2012
Tabel 2.3 Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995
Penilaian A B C
Lihat :
Keadaan umum Baik, Sadar *Gelisah, rewel *Lesu, lunglai atau
tidak sadar
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Air mata Ada Tidak ada Kering
Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering
Rasa haus Minum biasa, tidak *Haus, ingin minum *Malas minum atau
haus banyak tidak bisa minum
Periksa: turgor kulit Kembali cepat *Kembali lambat *Kembali sangat
lambat
Hasil pemeriksaan: Tanpa dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi berat
ringan/sedang Bila ada 1 tanda *
Bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau lebih
ditambah 1 atau lebih tanda lain
tanda lain
Terapi: Rencana Terapi A Rencana Terapi B Rencana Terapi C
Sumber: Soebagyo, 2012
Tabel 2.4 Penentuan derajat dehidrasi menurut sistem pengangkaan Maurice King
Bagian tubuh yang Nilai untuk gejala yang ditemukan
diperiksa 0 1 2
Keadaan umum Sehat Gelisah, cengeng, Mengigau, koma
apatis, ngantuk atau syok
Kekenyalan kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang
Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Ubun-ubun besar Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Mulut Normal Kering Kering & sianosis
Denyut nadi/menit Kuat <120 Sedang (120-140) Lemah >140
Sumber: Soebagyo, 2012
Hasil yang didapat pada penderita diberi angka 0, 1 atau 2 sesuai dengan tabel kemudian
dijumlahkan.2
Nilai: 0-2=Ringan 3-6=Sedang 7-12=Berat
3. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya tidak diperlukan,
hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui
atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat. Contoh:
pemeriksaan darah lengkap, kultur urin dan tinja pada sepsis atau infeksi saluran kemih.2
Pemeriksaan laboratorium yang kadang-kadang diperlukan pada diare akut:12
a. Darah: darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur dan
tes kepekaan terhadap antibiotik.
b. Urin: urin lengkap, kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotik
c. Tinja:
 Pemeriksaan makroskopik
Pemeriksaan makroskopik tinja dilakukan pada semua penderita dengan diare
meskipun pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan. Tinjs yang watery dan
tanpa mucus atau darah biasanya disebabkan oleh enterotoksin virus, protozoa
atau disebabkan oleh infeksi di luar saluran gastrointestinal.2
 Pemeriksaan mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik untuk mencari adanya leukosit dapat memberikan
informasi tentang penyebab diare, letak anatomis serta adanya proses peradangan
mukosa. Leukosit dalam tinja diproduksi sebagai respon terhadap bakteri yang
menyerang mukosa kolon. Leukosit yang positif pada pemeriksaan tinja
menunjukkan adanya kuman invasif atau kuman yang memproduksi sitotoksin
seperti Shigella, Salmonella, C.jejuni, EIEC, C.difficile, Y.enterocolitica,
V.parahaemolyticus dan kemungkinan Aeromonas atau P.shigelloides.2
2.2.7 Tatalaksana Diare
Prinsip tatalaksana diare adalah:20
a. Mencegah terjadinya dehidrasi
Tindakan pencegahan dehidrasi yang bisa dilakukan di tingkat rumah tangga jika balita
mengalami diare adalah
 Memberikan ASI lebih sering dan lebih lama dari biasanya
 Pemberian oralit sampai diare berhenti
 Memberikan cairan rumah tangga, cairan/minuman yang biasa diberikan oleh
keluarga/masyarakat setempat dalam mengobati diare dan memberikan sari makanan
yang cocok, contoh kuah sayur, air tajin, kuah sup. Jika tidak tersedia cairan rumah
tangga dan oralit di rumah, bisa dengan memberikan air minum.
 Segera membawa balita diare ke sarana kesehatan.
b. Mengobati dehidrasi
Cara mencegah terjadinya dehidrasi yaitu dengan mengembalikan cairan tubuh yang
hilang akibat diare, dan bisa dilakukan sejak awal di rumah, dengan menggunakan oralit.
c. Mempercepat kesembuhan
Berikan obat zinc sekali sehari selama 10 hari berturut-turut meskipun diare sudah
berhenti untuk efektifitas obat zinc dalam mempercepat kesembuhan, mengurangi
parahnya diare dan mencegah kambuhnya diare selama 2-3 bulan ke depan.
d. Memberi makanan
Selama diare dan selama masa penyenbuhan:
 Berikan ASI lebih sering dan lebih lama (bayi 0-24 bulan)
 Berikan makanan sesuai umur lebih sering, sedikit-sedikit, lebih bervariasi, lebih
lembut sejak bayi berusia 6 bulan
 Petugas kesehatan memberikan konseling kepada ibu dengan bayi agar kembali
menyusui eksklusif, karena ASI memiliki antibodi yang penting untuk meningkatkan
kekebalan tubuh bayi, disarankan kepada ibu untuk melanjutkan peran ASI hingga
anak berusia 24 bulan.
e. Mengobati masalah lain
Apabila ditemukan penderita diare disertai dengan penyakit lain, maka diberikan
pengobatan sesuai indikasi.
Gambar 2.1 Rencana terapi A
Gambar 2.2 Rencana terapi B
Gambar 2.3 Rencana terapi C
BAB III
ANALISIS SITUASI
3.1 Letak Geografis
Puskesmas Muaro Bodi merupakan salah satu dari 13 Puskesmas yang ada di
Kabupaten Sijunjung Propinsi Sumatera barat.Terletak di 2 dengan ketinggian dari permukaan
laut sekitar 164 M dan wilayah kerja seluas 96,30 Km2, Letak geografi terbentang antara 100
370 400-100 00 580 Bujur Timur dan 0 340 290-0 440 170 Lintang Selatan. Kecamatan IV Nagari
terdiri dari 5 Nagari dengan 17 jorong.
Batas-batas wilayah kerja Puskesmas Muaro Bodi adalah sebagai berikut:
- Sebelah Utara : Kecamatan Koto VII
- Sebelah Selatan : Kecamatan Payung Sekaki ( Kabupaten Solok )
- Sebelah Timur : Kecamatan Sijunjung
- Sebelah Barat : Kecamatan Kupitan
3.2 Data Demografis
Berdasarkan Data Statistik, jumlah penduduk tahun 2018 tercatat 17319 jiwa. Jumlah
penduduk yang terbanyak adalah Kenagarian Palangki dengan jumlah penduduk 4296 jiwa dan
yang paling sedikit adalah Kenagarian Koto Tuo dengan jumlah penduduk 2223 jiwa.
Penduduk diwilayah kerja Puskesmas Muaro Bodi mayoritas adalah Suku Minangkabau dan
juga ada suku Jawa, Batak, Sunda dan lain-lain , sebagian besar penduduk beragama Islam.
Penduduk merupakan modal dasar pembangunan, apabila dikelola dengan baik akan
menghasilkan SDM yang potensial dan produktif yang akan berperan dalam pelaksanaan
pembangunan di masa yang akan datang. Komposisi penduduk menurut kelompok umur dapat
dijadikan sebagai salah satu indikator dalam keberhasilan pengendalian jumlah penduduk dan
tingkat kesehatan masyarakat.
3.3 Sarana dan Gedung
Sarana kesehatan Puskesmas Muaro Bodi terdiri dari :
No Nama Sarana Jumlah
1. Puskesmas Pembantu (Pustu) 3 Buah
2. Pos Kesehatan Nagari (Poskesri) 6 Buah
3. Puskesmas Keliling 1 Buah
4. Ambulance 1 Buah
5. Posyandu 18 Pos
6. Posbindu 16 Pos
3.4 Personil/ Tenaga Kesehatan
Jumlah personil/tenaga kesehatan di Puskesmas Muaro Bodi berjumlah 45 orang dengan
rincian sebagai berikut :
No Pendidikan Jumlah
1 S2 Kesehatan Masyarakat (MPH) 1 orang
2 Dokter Umum 2 orang
3 Dokter Gigi 1 orang
4 S1 Kesehatan Masyarakat (SKM) 2 orang
5 S1 Keperawatan (S.Kep) 1 orang
7 D IV Kebidanan (SST) 6 orang
8 D III Kebidanan (Amd.Keb) 11 orang
9 D III Gigi 1 orang
10 D III Perawat 8 orang
11 D III Analis 1 orang
12 D III Kesling 1 orang
13 D III Farmasi 1 orang
14 D III A. RO 1 orang
15 D I Kebidanan 1 orang
16 SMAK 1 orang
18 SAA 1 orang
19 SLTA/Prakarya Kes 4 orang
20 Paket C 1 orang
Jumlah 45 orang

3.5 Keadaan Perilaku Masyarakat


Perilaku masyarakat akan mempengaruhi terhadap derajat kesehatan masyarakat.
Perilaku hidup sehat masyarakat tersebut dipengaruhi beberapa indikator diantaranya tempat
berobat, pemberian ASI eklusif, kebiasaan merokok dalam rumah, kebiasaan melakukan
aktifitas fisik dan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang sehat. Indikator yang dilihat dari
rumah tangga sehat terdiri dari 12 indikator. Dari Hasil Pendataan PIS_PK rumah tangga yang
dipantau melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tahun 2018 dengan Nilai IKS
Kecamatan 60% dengan rincian indikator Keluarga Mengikuti program KB 50%, Ibu
melakukan persalinan di faskes 98%, Bayi mendapatkan imunisasi dasar lengkap 97%, bayi
mendaptkan ASI Ekslusif 76%, Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan 89%, Penderita
TB mendaptkan pengobatan sesuai standar 100%, Penderita Hypertensi Mendapatkan
pengobatan secara teratur 23%, Penderita gangguan jiwa mendaptkan pengobatan dan tidak
diterlatarkan 100%, Anggota Keluarga yang tidak merokok 32%, keluarga sudah menjadi
anggota JKN 32%, Keluarga mempunyai akses air bersih 95%, Keluarga Mempunyai akses
menggunakan jamban sehat 89%.
3.6 Morbiditas
Data angka kesakitan penduduk yang berasal dari masyarakat yang diperoleh dari hasil
pengumpulan data dari Pemantauan Wilayah Setempat (PWS), Pustu dan Poskesri melalui
sistem pencatatan dan pelaporan yang dilaporkan setiap bulanya. Gambaran 10 penyakit
terbanyak di Puskesmas Muaro Bodi tahun 2018 yang dapat terlihat pada tabel berikut
NO NAMA PENYAKIT JUMLAH
1 Hypertensi 1975
2 Remathoid Artitis 1599
3 ISPA 1461
4 Gasrtitis 1404
5 Bronchitis 904
6 Comon Cold 761
7 Faringitis Acut 652
8 Kecelakaan Ruda Paksa 581
9 Penyakit Pulpa Gigi 323
10 Diare 274
Jumlah 9934
BAB V
HASIL PENELITIAN

5.1 Penilaian Tingkat Pengetahuan Responden Secara keseluruhan

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Yang Memiliki Balita Berdasarkan Tingkat
Pengetahuan Ibu Di Wilayah Kerja Puskesmas Muaro Bodi Tahun 2019.
No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)
1. Baik 14 Orang 35 %
2. Sedang 26 Orang 65 %
3. Kurang 0 0
Total 40 Orang 100
Pada tabel diatas dapat dilihat sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang Sedang.

Gambar 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Yang Memiliki Balita Berdasarkan Tingkat
Pengetahuan Ibu
5.2 Penilaian Pengetahuan Responden Per Masing-masing Poin Kuesioner

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Terhadap Masing-Masing Poin


Pernyataan Kuesioner
Poin Frekuensi Kesalahan Persentase
1 5 orang 12,5 %
2 17 orang 42,5 %
3 3 orang 7,5 %
4 18 orang 45 %
5 15 orang 37,5 %
6 10 orang 25 %
7 7 orang 17,5 %
8 3 orang 7,5 %
9 3 orang 7,5 %
10 3 orang 7,5 %
11 26 orang 65 %
12 3 orang 7,5 %
13 3 orang 7,5 %
14 18 orang 45 %
15 1 orang 2,5 %
16 22 orang 55 %
17 2 orang 5%
18 36 orang 90 %
19 6 orang 15 %
20 3 orang 7,5 %
Pada tabel diatas dapat dilihat sebagian besar Responden salah menjawab pernyataan nomer 18.
Gambar 5.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Terhadap Masing-Masing Poin
Pernyataan Kuesioner.
BAB VI
PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Muaro Bodi, kejadian diare pada
balita di wilayah kecamatan IV nagari selama dua tahun terakhir mengalami peningkatan yang
cukup signifikan yaitu Januari-Oktober tahun 2018 tercatat 50 balita mengalami diare,
sedangkan Januari-Agustus tahun 2019 tercatat 72 orang balita mengalami diare
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang berpengetahuan baik
sejumlah 14 responden (35%), sedang sebanyak 14 orang (65%) dan sisanya berpengetahuan
kurang sejumlah 0 responden (0%). Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar Ibu yang
memiliki Balita sudah mempunyai pengetahuan sedang. Sebagian responden tidak mengetahui
bahwa Diare pada anak dapat menyebabkan mortalitas. Kurangnya pengetahuan responden ini
dapat disebabkan beberapa faktor antara lain: kurangnya keaktifan responden dalam mengikuti
penyuluhan kesehatan yang diadakan oleh petugas kesehatan setempat dan ada beberapa
responden yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Menurut Notoatmodjo, pengetahuan
seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pengalaman, tingkat pendidikan dan
sumber informasi.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 20 poin penilaian yang dinyatakan
dalam kuesioner ada 5 pernyataan yang tinggi frekuensi kesalahannnya bagi responden,
diantaranya poin 18 (36 orang), poin 11 (26 orang), poin 16 (22 orang), poin 4 (18 orang) dan
poin 14 (18 orang). Dari poin 18, 11 dan 16 dapat disimpulkan bahwa rendahnya pengetahuan
responden terkait tatalaksana awal pada Balita yang terkena Diare, hal ini sangat
mengkhawatirkan mengingat Diare pada anak merupakan suatu keadaan yang harus
ditatalaksana dengan segera karena Diare pada anak cenderung mudah menyebabkan
terjadinya dehidrasi pada anak yang bila tidak di atasi dengan segera dapat menyebabkan
kematian. Tatalaksana awal yang dapat dilakukan Ibu di rumah saat anak mengalami diare
adalah dengan mencegah terjadinya dehidrasi dengan cara memberikan ASI lebih sering dan
lebih lama, pemberian oralit, atau memberikan cairan rumah tangga yang menyerupai oralit
dengan cara melarutkan satu sendok teh gula pasir ditambahkan ¼ sendok teh garam di dalam
200 cc air. Sedangkan pada poin 4 dan 14 memperlihatkan mengenai kepahaman responden
terkait faktor kebersihan lingkungan terhadap Diare itu sendiri dimana terlihat hampir setengah
responden salah dalam merespon pernyataan tersebut, hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan
Ibu terkait adanya faktor lingkungan terhadap infeksi diare masih kurang.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan Ibu
antara lain dengan memberikan penyuluhan kepada kader dan masyarakat secara berkala
terutama ibu yang memiliki Balita, memberikan motivasi kepada setiap ibu yang datang ke
posyandu untuk memantau apa yang terjadi pada balitanya terutama bila mengalami Diare,
serta memberikan edukasi terkait tatalaksana awal terhadap balita yang terkena diare.
Untuk penatalaksanaan diare di Puskesmas dapat dilakukan di pojok pertolongan
pertama terhadap Diare atau disebut Pojok Upaya Rehidrasi Oral (Pojok URO). Pojok URO
didirikan sebagai upaya terobosan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku
masyarakat/ ibu rumah tangga, kader, petugas kesehatan, dalam tatalaksana penderita Diare.
Pojok URO juga merupakan sarana untuk observasi penderita Diare, baik yang berasal dari
kader maupun masyarakat. Melalui Pojok URO diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan
masyarakat dan petugas terhadap tatalaksana penderita Diare, khususnya dengan upaya
rehidrasi oral. Pemberian pelayanan bagi penderita diare yang mengalami dehidrasi ringan-
sedang diobservasi di layanan Rehidrasi Oral Aktif paling sedikit 3 jam, orang
tua/pengasuh/keluarganya akan diajarkan bagaimana cara penyiapan oralit dan berapa banyak
oralit yang harus diminum oleh penderita.
BAB VII
PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu yang memiliki balita di
wilayah kerja Puskesmas Muaro Bodi tergolong sedang dan berdasarkan penjabaran poin-poin
pernyataan kuesioner terlihat bahwa responden banyak yang tidak mengetahui cara tatalaksana
awal untuk anak yang mengalami Diare serta tidak memahami adanya keterkaitan faktor
lingkungan terhadap peningkatan risiko kejadian Diare pada anak. Kurangnya pengetahuan ibu
terhadap Diare pada anak bisa disebabkan oleh kurangnya keaktifan ibu dalam mengikuti
penyuluhan kesehatan yang disampaikan oleh petugas kesehatan setempat serta tingkat
pendidikan ibu yang rendah. Hal ini bisa diatasi dengan adanya pemberian edukasi dan promosi
kesehatan mengenai keadaan Diare pada anak serta tatalaksana awal yang dapat dilakukan di
rumah.
7.2 Saran
 Perlu ditingkatkan edukasi dan promosi mengenai keadaan Diare pada anak dan tatalaksana
awal yang dapat dilakukan di rumah kepada Ibu/ pengasuh dan atau Kader.
 Perlunya instrumen promosi kesehatan lain yang dapat menunjang kefektifan penyampaian
edukasi kepada ibu seperti pamflet mengenai Diare pada anak.
 Puskesmas disarankan untuk mengaktifkan kembali Pojok URO, sebagai tempat
pertolongan pertama bagi pasien Diare yang mengalami dehidrasi ringan-sedang sebagai
upaya untuk pencegahan mortalitas pada penderita Diare yang diakibatkan oleh dehidrasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization. 2009. Diarhorreal Disease.
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/, diakses tanggal 02 Oktober
2019
2. Soebagyo & Santoso. 2012. Buku Ajar Gastroenterologi Hepatologi jilid 1. Jakarta:
Ikatan Dokter Anak Indonesia
3. Depkes RI. 2015. Publikasi Data dan Informasi. http://www.depkes.go.id/. Diakses
tanggal 02 Oktober 2019
4. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. 2017. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera
Barat tahun 2017. http://www.dinkes.sumbarprov.go.id/. Diakses tanggal 02
Oktober 2019
5. Laporan Bulanan Kasus Diare di Wilayah Puskesmas Muaro Bodi. 2019
6. Kemenkes, RI. 2011. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Situasi Diare
di Indonesia, volume 2. (triwulan II),(hlm, 1-8). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
7. Notoatmodjo, S. 2010. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
8. Malikhah, L. 2012. Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Pencegahan dan
Penanggulangan secara Dini Kejadian Diare pada Balita di Desa Hegarmanah
Jatinangor.pdf (Skripsi), hlm 8-9. Bandung
9. Herwindasari, E. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan
Penatalaksanaan Awal Diare pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Perumnas
II, (Skripsi), hlm 3-4. Pontianak.
10. Depkes RI. 2011. Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare: Lima Langkah
Tuntaskan Diare. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
11. Hegar B. 2014. Bagaimana Menangani Diare pada Anak.
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bagaimana-menangani-diare-pada-
anak/. Diakses pada 03 Oktober 2019.
12. Kemenkes RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta :Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. hlm 143.
13. Kay MH. 2012. American College of Gastroenterology.
patients.gi.org/topics/diarrhea-in-children/#basics. Diakses tanggal 3 Oktober 2019
14. Kemenkes RI. 2014. Perilaku Mencuci Tangan Pakai Sabun di Indonesia. Jakarta:
Kementerian Kesehatann Republik Indonesia Pusat Data dan Informasi. hlm 1-7
15. Yunus, M. 2015. Hiegine Sanitasi Pangan. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia Direktorat Penyehatan Lingkungan, Ditjen PP & PL. hlm 1-42
16. Kemenkes RI. 1990. PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor :
416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
17. Tumwine JK, Thompson J, Katua-Katua M, Mujwajuzi M, Johnstone N, Porras I.
2002. Diarrhoea and effects of different water sources, sanitation and hygiene
behaviour in East Africa. Trop Med Int Health. 7(9):750-6
18. Departemen Kesehatan RI. 2009. Seri Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah
Tangga: Menggunakan Jamban Sehat. Jakarta:Departemen Kesahatan Republik
Indonesia Pusat Promosi Kesehatan. hlm 1-10
19. WSP-EAP. 2009. Informasi Pilihan Jamban Sehat:Water and Sanitation Program
East Asia and The Pacific. Jakarta: World bank Office. hlm 1-38
20. Adima, TY. 2011. Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Balita. Jakarta
Lampiran 1.
KUESIONER
PENGETAHUAN IBU TENTANG DIARE PADA BALITA
DI RAWAT JALAN PUSKESMAS MUARO BODI
Nama Ibu : Nama balita :
Umur : Usia Balita saat diare :
Pekerjaan :
Pendidikan Terakhir :

No Pernyataan Benar Salah


1 Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal, yang lebih
encer dan frekuensi BAB lebih dari 3 kali sehari
2 Diare dapat disebabkan oleh makanan yang tertutup
penyajiannya
3 Diare disebabkan karena kebersihan lingkungan yang tidak
sehat, misalnya sumber air langsung dan sungai
4 Air sungai dapat digunakan untuk membersihkan alat rumah
tangga
5 Penyakit diare banyak ditemukan pada balita yang tidak
diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama
6 Penderita diare tidak dapat menyebarkan kuman melalui
kotoran (BAB)
7 Tanda dan gejala anak mengalami diare adalah cengeng,
gelisah dan nafsu makan menurun
8 Anak yang mengalami diare menandakan anak bertambah
pintar dan bertambah besar
9 Gangguan gizi akan terjadi pada balita yang menderita diare
apabila terjadi perubahan pola makan
10 Apabila pada anak diare terdapat darah dalam tinja maka
disebut disentri
11 Balita yang menderita diare jika tidak ditangani dengan baik
makan tidak akan mengalami kekurangan cairan (dehidrasi)
12 ASI dapat mencegah diare karena mengandung antibodi yang
memberikan perlindungan terhadap penyakit diare
13 Mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan
dapat mencegah diare
14 Membersihkan jamban/toilet secara teratur tidak berperan
dalam penurunan risiko penyakit diare
15 Anak yang menderita harus diberikan minum yang lebih
banyak dari biasanya dan diberikan sedikit demi sedkit
16 Apabila anak diare maka makanan seperti makanan yang
berserat tidak boleh diberikan
17 Anak yang mengalami diare saat dirumah dapat diberikan
oralit, air tajin, kuah sayur dan air matang
18 Cara untuk membuat oralit adalah dengan mencampurkan 1
sendok gula dan setengah sendok garam
19 Anak yang menderita diare sebaiknya diberikan vitamin zink
selama 10 hari
20 Kondisi anak yang harus segera dibawa ke dokter, jika anak
mengalami demam terus menerus, tidak mau makan dan
minum

Lampiran 2.

Pamflet Diare
Lampiran 3

Faringitis Akut
No. Dokumen
No. Revisi
SOP Tanggal Terbit

Halaman

Puskesmas
Muaro Bodi

1. Pengertian Salah satu upaya pemerintah dalam menurunkan angka kematian diare, dan
sarana bagi petugas kesehatan dalam melakukan kegiatan konseling atau
komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE)
2. Tujuan 1. Untuk meningkatkan pengetahuan serta mebangun sikap dan perilaku
positif masyarakat untuk berperan aktif dalam penanggulangan diare
pada bayi dan balita.
2. Promosi upaya rehidrasi oral.
3. Pemberian pelayanan bagi penderita diare (yang mengalami dehidrasi
ringan-sedang) diobservasi di layanan Rehidrasi Oral Aktif paling sedikit
3 jam, orang tua/pengasuh/keluarganya akan diajarkan bagaimana cara
penyiapan oralit dan berapa banyak oralit yang harus diminum oleh
penderita.

3. Kebijakan SK Kapus no
4. Referensi Evaluasi pelaksanaan program pengendalian diare
5. Alat dan a. Lembar balik tatalaksana diare
Bahan b. Oralit
c. Zinc
d. Sendok
e. Gelas
f. Dispenser + air
g. Gelas ukur
h. Meja + kursi
6. Langkah- 1. Berintegrasi dengan program/kegiatan lain seperti MTBS dalam
langkah penemuan kasus diare balita.
2. Pasien diperiksa untuk menentukan diagnosis dan derajat rehidrasi di
ruang pengobatan.
3. Dokter menentukan jumlah cairan yang diberikan dalam 3 jam
berikutnya.
4. Pasien diare dengan derajat dehidrasi ringan-sedang diarahkan ke
ruangan LROA untuk diobservasi.
5. Manjelaskan manfaat oralit dan zinc serta mengajari ibu cara
memberikan oralit, zinc dan cara membuat larutan pengganti oralit
apabila tidak mempunyai oralit kemasan.
6. Mengamati ibu/pengasuh/keluarga saat memberikan oralit dan zinc.
7. Memantau penderita secara periodik dan catat keadaannya setiap 1-2
jam sampai dehidrasi pada penderita teratasi (3-6 jam)
8. Mencatat/menghitung jumlah oralit yang diberikan.
9. Memberikan zinc dengan dosis sesuai untuk anak.
10. Memberikan obat lain seperti penurun panas dan antibiotik apabila ada
disentri atau kolera.
11. Mencatat pada buku register LROA
7. Hal-hal yang Kondisi Umum Pasien
perlu
diperhatikan
8. Unit terkait 1. Pelayanan Rekam Medik

2. Pelayanan Pemeriksaan Umum

3. Pelayanan KIA-KB

4. Pelayanan Farmasi

9. Dokumen Rekam Medis


terkait
10. Rekaman
historis
perubahan