Anda di halaman 1dari 14

Laporan Kasus

ENTROPION SIKATRIKS

Oleh:
Vebi Adrias, S.Ked
1708436491

Pembimbing:
dr. Yulia Wardany, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARIFIN ACHMAD
PROVINSI RIAU
2020
BAB I
PENDAHULUAN

Entropion merupakan malposisi kelopak mata yang umum dengan kondisi


margo palpebra yang terlipat kedalam kearah bola mata. Keadaan ini harus
dibedakan dengan trikiasis (bulu mata dengan arah yang salah) dan
distrikiasis(anomali baris mulu mata). Entropion dibagi dalam 4 tipe yaitu
sikatrikal, kongenital, spastik akut dan involusional.1
Prevalensi entropion di poliklinik mata RSUP. Dr Mohammad Hoesin
Palembang pada tahun 2010-2012 secara berturut-turut adalah 0,031%, 0,079%
dan 0,134%. Didapatkan penderita entropion terbanyak yaitu pada pasien wanita
dengan 58,3% dan pada laki-laki 41,7%. Usia terbanyak ditemukan berkisar 63-70
tahun. Pada usia 60 keatas pasien dengan klasifikasi entropion involusional
didapatkan sebesar 83,3% dan pada entropion sikatrik didapatkan pada umur 60
tahun kebawah sebesar 80%.2
Gejala dan tanda yang keluhkan seperti sensasi benda asing pada mata,
mata merah, keluarnya air mata yang banyak dan discharge. Tetapi gejala tersebut
tidak selalu ada, karena gejala yang dikeluhkan itu semua tergantung dari etiologi
entropionnya. Gejala mata kering muncul pada 72,1 % pasien yang memiliki
entropion involusional dan erosi epitel pada 61,9% pasien.3
Manajemen entropion harus diarahkan sesuai dengan etiologinya, jika
penyebabnya entropion sikatrikal maka manajemen yang harus dilakukan terlebih
dahulu adalah menyembuhkan etiologi yang mendasarinya dahulu, kemudian
pengkoreksian secara pembedahan dapat dipertimbangkan, tetapi jika pada
peradangan atau infeksi tidak dapat terkontrol, prognosis yang akan didapat akan
buruk. 4

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Palpebra


Palpebra merupakan bagian terpenting untuk menjaga dari integritas
permukaan mata. Palpebra berfungsi sebagai penghalang mekanis untuk
berbagai macam benda asing yang akan masuk ke mata, membersihkan debris
yang terdapat pada permukaan mata (contoh: reflek berkedip) dan
berkontribusi besar terhadap produksi dan drainase air mata. Palpebra juga
berkontribusi pada ekspresi wajah dan asimetri yang mempengaruhi
kosmetik.5
Pada palpebra terbagi atas 7 lapisan dan dapat dilihat pada gambar 2.1,
lapisan palpebra terdiri atas:
1) Kulit pada kelopak mata sangat tipis dan ini merupakan jaringan ikat
longgar tanpa lemak subkutan di bawahnya. Kulit pada kelopak mata
memiliki kelenjar keringat ekrin dan kelenjar sebasea. Pada kulit
kelopak mata ini terdapat bulu mata terbentuk antar 2-3 baris
sepanjang margo palpebra dengan jumlah 150 pada kelopak atas dan
75 pada kelopak bawah. Bulu mata tersebut akan berganti secara
sendirinya setiap 4-6 bulan, tetapi akan tumbuh cepat jika bulu mata
tadi di potong.5
2) Otot orbicularis merupakan otot lurik yang dibagi atas 2 bagian yaitu
bagian orbital dan palpebra. Pada otot ini dipersarafi oleh N VII yang
nanti akan membantu pergerakan kelopak mata untuk berkedip. Pada
otot ini juga berfungsi sebagai mekanisme pemompaan kelenjar
lakrimal.5
3) Septum adalah lembaran jaringan yang muncul dari tepi orbita dan
berlangsung ke fasia orbita dan periosteum. Pada margo palpebra
jaringan ini menebal dan membentuk plat tarsal.5
4) plat tarsal di stabilisai oleh tendon canthal horizontal. Tendon canthal
medial terdapat pada puncak lakrimal anterior dan puncak lakrimal
posterior.5
5) bantalan lemak preaponeurotic adalah ekstensi dari lemak orbital yang
terletak tepat di belakang dari septum orbital.5

3
6) Retraktor kelopak mata terdiri dari M. levator palpebra superior dan
M. muller. LPS berasal dari puncak orbital dan berjalan ke rektus
superior ke tepi orbital. Pada titik ini, LPS di stabilkan oleh
ligamentum transversal superior whitnall, distal dari otot LPS ini
berjalan kearah bawah dan masuk sebagai aponeurosis ke dalam
septum, tarsus dan orbicularis. Otot levator palpebra superior
dipersarafi oleh N III dan pada otot muller yang merupakan aksesori
dari otot retraktor dipersarafi oleh nervus simpatik.5
7) Konjungtiva merupakan membran mukosa yang terdiri atas epitel non
keratin dan stroma. Epitel konjungtiva berbentuk sel skuamos yang
bertingkat. Pada konjungtiva mengandung sel-sel goblet yang
mensekresi musin.5

Gambar 2.1 Anatomi kelopak atas dan kelopak bawah6

2.2 Entropion
2.2.1 Definisi
Entropion merupakan keadaan dimana berputarnya margo palpebra kearah
bola mata sehingga menyebabkan trikiasis. Keadaan ini dapat terjadi pada
palbebra superior maupun inferior. Gesekan bulu mata terhadap kornea dapat
menyebabkan keluhan mata merah.7
2.2.2 Epidemiologi
Entropion sering dijumpai pada usia tua (involusional) terutama pada
umur 60 tahun keatas dan tidak ada perbedaan gender untuk ditemukannya

4
kelainan ini. Entropion sering terjadi pada kelopak mata bawah karena proses
involusional pada proses penuaan. Sedangkan entropion sikatrikal sering di
jumpai pada kelopak mata atas yang diakibatkan oleh trakoma. Pada kalangan
orang Asia lebih sering terjadi entropion kongenital.8
2.2.3 Etiologi
Entropion dapat disebabkan oleh kelemahan kelopak mata horizontal,
pelemahan atau disinsersi retraktor kelopak mata, overriding otot orbicularis
oculi, riwayat operasi mata sebelumnya, infeksi, peradangan dan kelainan
kongenital. Perubahan involusional adalah etiologi entropion yang paling
umum. Seiring bertambahnya usia, tendon canthal menjadi rileks, dan
retraktor kelopak mata menipis, menyebabkan kesalahan penempatan margin
kelopak mata. Infeksi, iritasi, dan peradangan adalah penyebab utama dari
entropion spastik akut. Kondisi ini paling sering terjadi setelah operasi
intraokular pada pasien yang memiliki perubahan kelopak mata involusional
yang tidak diakui sebelum operasi. Kontraksi otot orbicularis oculi yang
terus-menerus menyebabkan rotasi margin kelopak mata ke dalam. Hal ini,
pada menyebabkan iritasi pada mata, khususnya iritasi kornea, karena gesekan
dari bulu mata dari kelopak mata yang melipat kearah bola mata. Kontraktur
tarsoconjunctival menyebabkan entropion Cicatricial. Mekanisme apa pun
yang menghasilkan peningkatan pembentukan jaringan parut dapat
menempatkan seseorang pada risiko untuk membentuk entropion sikatrikial.
Beberapa faktor risiko umum adalah sebagai berikut: luka bakar, trauma,
infeksi, atau peradangan sebelumnya.4
2.2.4 Klasifikasi
Berdasarkan patofisiologinya, entropion terbagi atas 4 klasifikasi:1

1. Entropion Sikatrik
2. Entropion Kongenital
3. Entropion Spastik
4. Entropion Involusional

Namun, selanjutnya akan fokus membahas mengenai entropion sikatrik.

2.2.5 Patofisiologi

5
Patofisiologi entropion tergantung dari tipe entropion itu sendiri. Secara
umum, kelopak mata bagian bawah distabilisasi oleh, retraktor kelopak mata
bawah, orbicularis, tarsus dan tendon canthal. Tendon canthal dan lempeng
tarsal secara horizontal menstabilisasi dari kelopak mata. Melemahnya
struktur-struktur tersebut menyebabkan inversi dari kelopak mata. Retraktor
kelopak mata bawah menstabilisasi secara vertical. Pada retractor kelopak atas
terdapat aponeurosis levator dan muskulus Mueller yang berperan. Pada
retractor kelopak bawah terhubung dengan m. orbicularis dan kulit yang
berada diatasnya. Jika ekstensi ini melemah, preseptal orbicularis akan
berpindah kearah atas dan menimpa m. pretarsal dan menyebabkan margo
kelopak mata berputar berlawanan terhadap mata. Inversi dari margo kelopak
juga diduga akibat atrofi tarsal dengan hilangnya sokongan dari kelopak
verticle dan atrofi lemak orbital. Entropion sikatrikal disebabkan oleh
kontraktur tarsokonjungtival vertikal dan rotasi internal dari margin kelopak
mata.4
2.2.6 Diagnosis
Pada anamnesis biasanya pasien datang dengan keluhan adanya sesuatu
yang mengganjal pada mata dan terkadang menimbulkan nyeri, dan gejala lain
yang dapat ditemukan berupa epifora, fotofobia, mata merah, kelopak mata
menjadi terlipat kedalam dankeras, terdapat kotoran mata dan pandangan
buram. Pada pasien juga perlu ditanyakan perihal riwayat trauma dan riwayat
pembedahan pada mata.9
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya tanda iritasi atau inflamasi
pada palpebra dan spasem otot-otot wajah. pada pemeriksaan oftalmologi
untuk margo palpebra dievaluasi apakah terdapat trikiasis, distikiasis dan
epiblefaron yang dapat menyerupai entropion. Dapat juga ditemukan
keridakan pada epitel konjungtiva atau kornea akibat trauma, hyperemia
konjungtiva yang terlokasi, injeksi konjungtiva dan/atau siliar, kelemahan
kelopak mata, jaringan parut pada konjungtiva atau pertumbuhan kelopak
mata bawah yang abnormal. Pada kornea dapat dilakukan pemeriksaan apakah
terdapat abrasi, jaringan parut, penipisan atau adanya neovaskularisasi pada
kornea.9
Untuk mengetahui kelemahan palpebra horizontal dapat dilakukan
pemeriksaan snapback test dan distraction test. Snapback test dilakukan

6
dengan menginstruksikan pasien melihat ke atas dan pemeriksa menarik
palpebra bawah pasien ke arah bawah. Palpebra seharusnya kembali dalam
posisi anatomi normal dalam satu atau dua detik. Distraction test dilakukan
dengan menarik palpebra bawah ke anterior bola mata dan mengukur jarak
margo palpebra bawah dari bola mata. Palpebra normal hanya dapat ditarik 2-
3 mm dari bola mata. Apabila palpebra bawah dapat ditarik lebih dari 6 mm,
maka terdapat kelemahan pada palpebra horizontal.10

2.2.7 Tatalaksana
Penatalaksanaan pada entropion sikatrik bertujuan untuk menurunkan
iritasi kronis pada bola mata dengan memindahkan bulu mata atau
lengthening of the posterior lamella dengan atau tanpa graft mukosa dan everi
tepi kelopak mata yang abnormal dengan anterior lamella reposition (ALR).
Pada ALR dapat dilakukan Teknik operasi kombinasi dengan lid split (gambar
2.2), teknik ini merupakan tindakan alternatif pada penatalaksanaan entropion
sikatriks kelopak mata atas yang berat dengan komplikasi minimal. 11

Gambar 2.2 Teknik operasi kombinasi ALR dan lid split.11

Pada entropin sikatriks juga dapat dilakukan operasi dengan weis


procedure (gambar 2.3) yang dapat di lakukan dengan lokal anestesi. Pada
teknik ini digunakan untuk memperluas dari blefarotom ke medial dan lateral
untuk melewati tarsus. Pada jahitan akan ditutup dengan kasa penutup dan
akan diangkat pada 10-14 hari setelah operasi.9

7
Gambar 2.3 Teknik operasi weis procedure.9
2.2.8 Komplikasi
Komplikasi tersering pada kasus entropion adalah konjungtivitis,
terjadinya peradangan konjungtiva hingga pada mata akan terlihat lapisan
putih yang transparan dan garis pada kelopaknya. Komplikasi lainnya adalah
keratitis, yaitu terjadinya peradangan pada kornea yang diakibatkan terjadinya
pergesekan antara kornea dan bulu mata hingga menimbulkan iritasi dan nyeri
pada pasien. Komplikasi lainnya yang dapat muncul yaitu ulkus kornea yang
disebabkan oleh keratitis yang sudah terjadi sebelumnya akibat entropion
tersebut. Pada kondisi ini pasien dapat menyebabkan kebutaan.8
2.2.9 Prognosis
Entropion dapat ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Untuk tatalaksana entropion yaitu dengan cara non farmakologis, yaitu
pembedahan. Efektivitas dari terapi tergantung dari etiologi dan tingkat
keparahan dari entropionnya. Umumnya entropion memiliki prognosis baik.9

8
BAB III
LAPORAN KASUS

RAHASIA

STATUS BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. DM Pendidikan : SMA
Umur : 18 Tahun Agama : Islam
J. Kelamin : Perempuan Status : Belum Menikah
Alamat : Bengkalis MRS : 20 Januari 2020
MR : 01.03.41.50

ANAMNESIS (Auto Anamnesis)


Keluhan Utama
Gatal dan perih pada mata kiri dan kanan sejak ± 2 minggu yang lalu.

9
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan kedua matanya gatal dan perih sejak ± 2 minggu yang
lalu. Mata gatal dan perih dirasakan pasien hilang timbul. Kedua mata juga
dirasakan sering berair. Kedua mata selalu merasa kelilipan terutama pada saat
mengedipkan mata. Kelopak mata kiri dan kanan terlipat kedalam. Pandangan
kabur (-), Fotofobia (-) discharge (-). Pasien lalu berobat ke RS Mata swasta
pekanbaru, lalu pasien dirujuk ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.

Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat Sindrom Steven-Johnson (2018)
2. Riwayat trauma pada mata (-)
3. Riwayat operasi pada mata (-)

Riwayat Pengobatan
1. Pasien berobat ke RS Mata Swasta Pekanbaru.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan yang sama.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Keasadaran : Komposmentis Kooperatif
Tanda vital : TD : 120/70 mmHg Nadi : 82 x/menit
BB : 52 kg Nafas : 20 x/menit
TB : 154 cm Suhu : Afebris

STATUS OPTHALMOLOGI
OD OS

20/20 Visus Tanpa 20/20


Koreksi
Tidak dilakukan Visus Dengan Tidak dilakukan
Koreksi
Posisi Bola Mata
Ortoforia

10
Bebas Ke Segala Arah Gerakan Bola Bebas Ke Segala Arah
Mata
20 mmHg Tekanan Bola 19 mmHg
Mata
Inferior : entropion Palpebra Inferior : entropion
Sikatrik (+) di konjungtiva Konjungtiva Sikatrik (+) di konjungtiva
tarsal tarsal
Jernih Kornea Jernih
Dalam COA Dalam
Warna iris hitam, bulat, Iris / Pupil Warna iris hitam, bulat, sentral,
sentral, diameter pupil 2 mm, diameter pupil 2 mm, refleks
refleks cahaya (+/+). cahaya (+/+).
IOL (+) di sentral Lensa IOL (+) di sentral
Funduskopi
Refleks Fundus
(+) (+)
Media
Papil
Jernih Jernih
Papil bulat, batas tegas, AV Papil bulat, batas tegas,
Retina
CDR0,3 CDR0,3
Makula
2/3. 2/3.

Refleks (+)
Refleks (+)

11
Gambar

RESUME
An. DM, 18 tahun, datang dengan keluhan gatal dan perih pada kedua
mata, kelopak mata kiri dan kanan terlipat kedalam, mata berair, visus OD 20/20
OS 20/20, palpebra inferior entropion ODS (+), konjungtiva tarsal ODS sikatrik
(+).

DIAGNOSIS
- Enteropion sikatriks palpebra inferior ODS

TERAPI
- Operasi enteropion : Weis Procedure (Palpebra Inferior)

PROGNOSIS
Quo ad Vitam : Bonam
Quo ad Fungsionam : Bonam
Quo ad Kosmetikum : Dubia ad bonam

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Pereira MGB, Rodrigues MA, Rodr igues SAC. Seminars in Opthalmology:


Eyelid Ectropion; 2010; 25(3): p52-58.
2. Rachmania A, Iskandar E, Hasyim YE. Prevalensi Entropion di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang; 2014; 46(4): p289-294
3. Weber AC, Chundury RV, Perry JD. Entropion. [Updated 2019 June 26].
[Internet] American Academy of Ohpthamology.2019.Available from:
https://eyewiki.aao.org/w/index.php?title=Entropion&oldid=49849
4. Bergstrom R, Czyz CN. Entropion. [Updated 2019 May 4]. In: StatPearls
[Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2019 Jan-. Available
from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470352/

13
5. Denniston AKO, Murray PI. Chapter 4: Eyelids. Dalam : Oxford Handbook of
Ophthalmology Fourth Edition. London; 2018; p151-262.
6. Woolwy CHC. Upper and lower eyelid anatomy. [cited 18 November 2019].
Available from: https://www.aao.org/image.axd?id=7dfe49d0-e09f-4428-bfb7-
a9ad895624ac&t=636480870857470000
7. Suharko H. Entropion. Dalam : Buku ajar Oftalmologi FKUI. Jakarta: Badan
penerbit FK UI;2018:h95-99.
8. Silaen P. [Laporan Kasus] Female With Involutional Entropion of Inferior
Eyelid.
9. Reiza Y. Diagnosis dan tatalaksana Entropion. CDK-261; 2018; 42. h151-153
10. Hendriati, Sherly M. Hasil Operasi Entropion Involusional di Rumah Sakit Dr.
M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas; 2018; 7: Suppl 1: h9-12.
11. Doemilah R. Anterior lamellar Reposition With Lid split in Management of
severe Upper Eyelid Cicatrical Entropion. Jurnal Oftamologi Indonesia; 2009;
1(7); h35-38.

14