Anda di halaman 1dari 9

preventive vs predictive maintenance

nuklindana.darma

Dear milist-ers
Saya mohon pencerahan ttg
1.perbedaan preventive vs predictive maintenance kalo bisa disertai contoh aplikasinya diindustri
spt apa?
2.Konsep BCP --> business continous plan?!
Thanks a lot...

Yeri Kurniawan

Pak Nuklidana,
Saya coba bantu dikit.
Preventive maintenance adalah tindakan pemeliharaan yang dilakukan secara berkala sesuai
dengan anjuran pada instruction manual atau pengalaman si crew maintenance terhadap
equipment ybs. Misalnya, penggantian oli yang dilakukan setiap 6 bulan atau penggantian grease
setiap 8000 running hours, penggantian bucket gas turbine setiap 12000 running hours dst-nya.

Predictive maintenance adalah salah satu metode pemeliharaan yang didasarkan pada kondisi
equipment yang sedang dicheck. Predictive maintenance membutuhkan bantuan alat-alat presisi
seperti Vibration Analyzer, Oil Analysis, Ultrasonic, dll. Dengan memakai Vibration Analyzer, kita
misalnya bisa mengetahui gejala kerusakan pada bearing, looseness, unbalance pada kondisi
yang paling dini, sehingga kita bisa melakukan persiapan untuk shutdwon dengan lebih terencana.
Pembelian atau pembuatan spare parts, manpower, tools dapat dipersiapkan lebih awal sehingga
kalaupun kita melakukan shutdwon akan membutuhkan waktu dan biaya yang jauh lebih sedikit.

Mengenai Business continous plan mungkin yang lain bisa membantu

rafael rajagukguk

mas Darma,

secara prinsip perbedaannya:

preventive menggunakan strategi schedule inspection (rusak maupun tidak rusak) dalam
melakukan tindak coreective/maintanance.Mesin atau equipment harus berhenti. biasanya
schedule tersebut di up-load kedalam CMMS system baik itu SAP,MIMS,dll sehingga akan di
issued secara berkala. konsekuensi :
work schedule sangat tinggi
memerlukan source yang banyak
breakdown masih tinggi
potensi adanya kerusakan baru karena prosedur yang tidak benar
memerlukan waktu yang lebih lama dalam menemukan root cause
dll

predictive menggunakan strategi base on condition sebelum melakukan tindakan


corective/maintenance.Untuk strategi ini memanfaatkan vibration monitoring,oil
analysis,performance monitoring,infra-red,dll tanpa harus memberhentikan peralatan.
(equipment tetap berjalan secara normal) konsekuensinya:

work schedule berkurang


mempercepat penyelesaian kerusakan
breakdown dapat diturunkan
investasi untuk teknologi cukup besar
mencegah secondary failure
manage source lebih baik

Dalam implementasi di lapangan,kedua-dua system ini diimplemaentasikan,karena predictive


biasanya digunakan untuk melakukan maintanance pada peralatan dengan tingkat kritikal yang
tinggi terhadap proses produksi sedangkan preventive lebih diarahkan pada tingkat kritikal yang
lebih kecil terhadap proses produksi.

Pada perusahaan yang telah memiliki tingkat kemampuan penguasaan metodologi predictive
maintanance yang sangat baik,predictive maintanance ini dapat digunakan untuk meningkatkan
schedule antara untuk melakukan annual overhaul pada power plant equipment,yang biasanya 2
tahun bisa saja di extend hingga 4 dan 6 tahun.

Pada aplikasi vibration monitoring tingkat lanjut,bisa juga digunakan dalam meyempurnakan
suatu hasil design engineering,pada fase ini vibration monitoring dapat dijadikan sebagai
bahan/kajian empirik tentang keakuratan suatu hasil perhitungan design.

Dalam predictive maintennace kita bisa berbicara dan bergelut hal-hal yang menyangkut reliability
dan availibility suatu peralatan dengan lebih teliti dan tentunya terukur karena memanfaatkan alat
ukur yang cukup akurat.

Dalam banyak pengalaman dalam melakukan 'bisnis countinous plan' juga akan ditopang oleh
tingkat efisiensi dari setiap perlatan produksi,yang dapat didekati dengan konsep predictive
maintanance itu sendiri.

semoga bermanfaat,,,,,silahkan ditambahkan oleh teman-teman.............

Ilham B Santoso
Salam,
Saya akan mencoba membahas point 1, Perbedaan preventive maintenance (PM) dan predictive
maintenance (PdM)

Point ini sangat panjang untuk didiskusikan. Saya mulai dari sisi sudut pandang saya sambil
menunggu masukan dari etamn-teman lain.

Ada dua pandangan dalam melihat PM dan PdM. Ada yang melihat PM dan PdM sebagai dua hal
yang berbeda sama sekali, namun dalam pandangan maintenance management modern ada
yang memasukan maka PdM ini sebagai bagian dari PM.

PM secara konservatif adalah melakukan aktifitas maintenance sebagai aktifitas rutin, jadi ter
schedule dengan baik. Jadi parameter pengendalinya hanya waktu atau jam operasi dari suatu
equipment. Contoh sederhana..kita setiap 2000 km akan melakukan penggantian oli mesin mobil
pada 10 000 km ganti oli transmisi, dll, tanpa kita pernah memeriksa jangan-jangan oili nya masih
bagus..sehingga bisa cukup sampai 3000 km, atau malah jangan-jangan karena kondisi operasi
dan lingkungan 2000 km kondisi oli sudah benar-benar jelek (ke basa an sudah turun drastis,
kekentalan naik, kontaminasi air, shoot dll), sehingga seharusnya 1000 km harus sudah ganti.
Pertimbangan2 itu tidak pernah diambil..pokoknya hanya rutin fungsi waktu operasi saja.

Dalam manajeman maintenance, maka akan sangat baik bila semua aktifitas itu dapat
direncanakan sebelumnya dengan matang sebelum di eksekusi. PM konservatif, kadang tidak
dapat mencegah pekerjaan maintenance, perbaikan secara mendadak (emergency work), tanpa
terencana akibat kerusakan mendadak dari mesin. Hal ini karena PM konservatif hanya bekerja
pada basis waktu tanpa pernah mengamati kondisi mesin. Emergency work ini sangat dihindari
karena membutuhkan cost yang sangat besar (tenaga lembur, shutdown yang lama karena kurang
spare part, tenaga ahli sedang cuti, waktu produksi terganggu lama, dll). Emergency ini harus
dihindari, dan karena aktifitas rutin saja tidak bisa secara efektif mencegahnya maka diperlukan
aktifitas pemantauan kondisi mesin untuk memprediksi kondisi mesin, PdM. Sehingga sebelum
terjadi kerusakan, dapat dipersiapkan/direncanakan aktifitas antisipasinya. Sehingga itu menjadi
aktifitas yang memang terencana (planned work), dengan demikian diharapkan waktu shutdown
bisa diminimalkan karena semuanya dipersiapkan dengan matang.

Jadi jika dilihat dari aktifitas perbaikan nya PdM adalah termasuk pekerjaan yang dieksekusi
setelah melalui perencanaan dengan baik berdasar kondisi mesin dan tidak semata-mata karena
telah di schedulkan (planned but not scheduled). Dan dari sisi aktifitas perbaikan maka PM
konservatif adalah aktifitas yang di eksekusi karena telah dischedulkan (planned and scheduled).
Maintenance yang baik tentu akan menurunkan jumlah emergency shutdown untuk repair dengan
cara menaikkan repair PM dan repair PdM yang berarti kedua jenis aktifitas itu telah direncanakan.

Inti dari PdM adalah pemantauan kondisi mesin (CONdition MONitoring), hal ini bisa berupa
pemantauan getaran mesin (ini yang sangat populer), pemantauan kondisi oli, pemantauan
parameter proses mesin, dll. Dalam kondisi normal, aktifitas pemantauan kondisi ini dapat
dischedulkan secara rutin seperti halnya kegiatan PM rutin lainnya. Hal ini yang membuat kadang-
kadang, PdM ini diletakkan di dalam PM. Periode aktifitas con mon dapat diadjust sesuai kondisi
mesin. Jika trending kondisi mesin menuju kondisi yang lebih buruk, maka aktifitas con mon bias
dipersering sambil merencanakan (planning) waktu shutdown yang tepat untuk repair dengan
mempertimbangkan faktor sdm, beban produksi, ketersedian spare part, dll.
Jadi dalam perkembangannya, PM ini tidak lagi konservatif hanya pekerjaan rutin
(scheduled)...tetapi PM adalah benar-benar aktifitas maintenance untuk mencegah (prevent)
terjadi nya kerusakan mesin. Komponennya adalah aktifitas rutin (scheduled and planned) dan
juga termasuk didalamnya PdM (unscheduled but planned).

Silahkan teman-teman lain menambahkan.

Wilis Wirawan

Rekan-rekan milis yth,

Pertanyaan:
1.perbedaan preventive vs predictive maintenance kalo bisa disertai contoh aplikasinya di industri
spt apa?

Jawaban yang diberikan oleh rekan-rekan sebelumnya telah menjelaskan definisi dan perbedaan
antara PM dan PdM dan contoh aplikasinya. Saya ingin sedikit saja menambahkan jawaban rekan-
rekan sebelumnya untuk pertanyaan no. 1 dari sudut pandang strategi maintenance.

Dilihat dari trend pola kegagalan (kemungkinan kegagalan v.s waktu) ada beberapa pola trend
kegagalan yang dijumpai. Dua pola yang populer adalah kegagalan berkaitan dengan umur (age-
related failures) dan kegagalan acak (random failures).

Pada age-related failure, sebagian besar komponen akan gagal setelah melewati umur operasi
tertentu dan sebagian kecil saja yang rusak sebelum umur operasi tertentu tersebut. Dengan
demikian dapat diperoleh patokan useful life atau MTBF (mean time between failures) yang secara
statistic deviasinya kecil sekali sehingga hampir dapat dipastikan bahwa komponen ini akan rusak
setelah melewati useful life atau MTBF tersebut. Oleh karena itu dilihat dari pola trend kegagalan,
pada komponen ini cocok dilakukan PM yang dapat berupa penggantian (discard) atau perbaikan
(restoration) secara periodik (tentu saja sebelum useful life atau MTBF-nya tercapai) tanpa melihat
kondisinya, karena telah yakin bahwa jika terus dioperasikan maka komponen ini akan rusak. Saya
jumpai di sebuah perusahaan penggantian oli secara periodik dikategorikan sebagai PM karena oli
ini diberi nomor komponen, sehingga penggantian oli = penggantian komponen. Untuk
menentukan interval PM, petunjuk dari manufaktur dapat dijadikan referensi karena seharusnya
manufaktur telah memiliki banyak data yang cukup untuk menentukan useful life atau MTBF.

Pada kegagalan acak, kemungkinan kegagalan komponen hampir sama di sepanjang waktu.
Artinya tidak ditemukan batas umur operasi tertentu dimana hamper dapat dipastikan komponen
ini akan gagal. Contoh yang populer adalah kegagalan rolling bearing. Sebuah riset yang dilakukan
pada 30 buah deep groove ball bearing identik yang diuji secara run-to-failure pada kondisi
terkontrol membuktikan bahwa periode kegagalan bearing ini sangat bervariasi sehingga waktu
penggantian bearing (dimana bearing tidak akan rusak sebelum diganti) dengan tingkat keyakinan
95% sulit ditentukan. Oleh karena itu berdasarkan pola trend kegagalannya, pada komponen
dengan kegagalan acak tidak cocok diterapkan PM (seperti pengertian di atas) karena tidak
adanya batas umur yang secara statistik deviasinya kecil. Meskipun demikian, komponen yang
akan rusak biasanya akan memberikan 'tanda-tanda'. Nah, karena ada 'tanda-tanda' ini maka
kondisi komponen tersebut dapat diketahui. Oleh karena itu, berdasarkan pola kegagalannya yang
acak (random) dan adanya 'tanda-tanda' kegagalan, maka pada komponen ini cocok diterapkan
PdM.

Selain dua pola trend kegagalan di atas masih ada beberapa pola lain. Selain pola trend
kegagalan, perbandingan antara ongkos maintenance dengan ongkos kegagalan juga harus
dipertimbangakan dalam menentukan strategi maintenance (apakah PM, PdM, run-to-failure,
failure finding task, dsb). Algoritma yang dikenalkan dalam RCM (Reliability Centered
Maintenance) dapat digunakan untuk menentukan strategi maintenance.

Semoga dapat membantu dan memperjelas definisi dan perbedaan PM dan PdM. Mohon
koreksi/komentar dari rekan-rekan jika ada hal yang kurang tepat.

Anas Rosyadi

Salam,

Preventative maintenance adalah kegiatan yang terjadual secara teratur untuk melakukan repair
pada komponen dan equipment. Terdiri dari inspeksi yang terjadual, cleaning, lubrication,
penggantian spare part, dan perbaikan komponen. Preventative maintenance merupakan tindakan
perawatan berbasis waktu sesuai jadual yang ada. Pada umumnya acuan yang digunakan adalah
manual yang dikeluarkan oleh pihak pabrikan dan sejalan berjalannya waktu kemudian
digabungkan dengan maintenance history yang ada untuk melakukan improvement kegiatan PM.

Predictive Maintenance (PdM) adalah suatu proses yang membutuhkan teknologi dan keahlian
orang yang menggabungkan semua data diagnostic dan performance yang ada, maintenance
histories, data operasi dan design untuk membuat keputusan kapan harus dilakukan tindakan
maintenance pada major / critical equipment. Berhasilnya kegiatan PdM dipengaruhi oleh 2 hal :
teknologi dan keahlian orang. Banyak yang menganggap bahwa dengan membeli peralatan
teknologi PdM seperti vibration, tribologi dll, orang sudah menjalankan program PdM. Padahal
tidak.

Tujuan dari kegiatan PM dan PdM ini sebenarnya adalah untuk mencapai maintanance mix
dengan low cost producer. Untuk menjadi best cost producer, survey dari Reliability Magazine
2002 sbb : porsi PM = 25 - 35%, porsi PdM = 45 - 55 %, di mana perhitungannya didasarkan pada
jumlah work order.

Untuk memutuskan apakah peralatan tersebut perlu tindakan PM atau PdM atau lainnya,
sebelumnya harus dilakukan FMEA, kemudian baru diketahui maintenance task apa yang tepat
untuk equipment tsb.

Tahapan kerusakan peralatan adalah sbb :


Conditional -->Incipient-->Impending-->Precipitous-->Catastrophic

Conditional -->Incipient-->Impending : termasuk manageable failure


Precipitous-->Catastrophic : termasuk unmanageable failure

PM dan PdM hanya bisa diterapkan pada manageable failure.

File attachment mengenai PdM Optimization dan Reliability Improvement semoga bisa menambah
wacana diskusi menarik ini.

sketska@klaras.co.id

Dear all

Berbicara mengenai preventive dan predictive sebenarnya berbicara mengenai penerapan


strategy. Artinya ada 2 strategi yang dibicarakan dalam hal ini, strategi pencegahan (preventive)
dan strategi prediksi (predictive). Oleh sebab itu, saya sependapat bahwa preventive dan
predictive maintenance bukanlah suatu "versus" (perlawanan) tetapi lebih kepada improvement
strategy. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang ada, maka filosofi maintenance terbagi
atas : 1) Breakdown maintenance, 2) Preventive maintenance (PM), 3) Predictive maintenance
(Pdm), dan 4) Proactive maintenance (Pam). Banyak plant di Indonesia, pada saat ini
menggunakan metode pendekatan preventive maintenance (PM) dengan alasan sebagai berikut
:1. Mengurangi frekuensi breakdown dan repair.
2. Membuat penjadwalan dalam hal scheduling parts, para pekerja, dan proses.3. Dapat dg mudah
(base on schedule) mengestimasikan budgetmaintenance.4. Mudah dilakukan.

Akan tetapi, berdasarkan pengalaman, pendekatan PM mempunyai beberapa kekurangan yaitu :1.
Periodic disassembly membutuhkan cost dan waktu yang cukup menyita pekerjaan
maintenance.2. Periode atau interval, cukup sulit untuk ditentukan.
3. Melakukan maintenance / repair, berdasarkan jadwal tanpa mengetahui apakah ada atau tidak,
suatu problem pada equipment tersebut.4. Tidak adanya data trending atau data lainnya yang
diperlukan untuk justifikasi suatu failure pada equipment. Oleh sebab itu, pada saat ini banyak
plant yang sudah mengoreksi pendekatan maintenancenya menjadi Predictive Maintenance
(Pdm). Menambahkan comment dari rekan saya di TPPI, secara umum, predictive maintenance
merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk memonitor pergerakan failure pada suatu
mesin, dengan menggunakan non-destructive test instrumentation, misalnya Vibration Analyzer,
Thermography Camera, Oil Analyzer, etc.
Sehingga repair, terlebih dulu terjadwalkan sebelum equipment benar-benar rusak (catastrophic)
berdasarkan data. Berdasarkan studi, menunjukkan bahwa penerapan Predictive Maintenance
yang benar akan mengurangi maintenance cost secara keseluruhan sekitar 50%-70% dibanding
penerapan Preventive Maintenance.
Beberapa keuntungan penerapan Predictive Maintenance adalah :
1. Pentingnya tool untuk meyakinkan tingkat safety yang tinggi dan meningkatkan reliability pada
equipment.2. Mendeteksi sejak awal kerusakan equipment.
3. Mengurangi resiko kerusakan ekstrim pada equipment
(catastrophic failures).4. Mengurangi waktu repair dan down-time, yang berujung kepada
penghematan cost5. Meningkatkan efisiensi.
Satu hal yang menurut saya penting adalah adanya data / dokumentasi yang jelas pada rotating
equipment kita sehingga :1. Mempunyai laporan maintenance yang komprehensif, beserta dengan
analisa kondisi per rotating equipment baik itu Trending, Spektrum, Timewave Form, Oil Analysis,
Thermography.2. Analisa cost yang lebih jelas dan terarah, sebagai mekanisme pelaporan kita
kepada management.
Semoga membantu pak.

Zainal Abidin

Pak Ilham dan Pak Sketsa Yth,

Menyambung diskusi kenapa PdM kadang-kadang dimasukkan kedalam PM sebenarnya memang


klasifikasi orang (industri) terhadap penggolongan tersebut memang 'campur aduk'.

Kalau mau terpisah harusnya penggolongannya sebagai berikut:

1. Berdasarkan: apakah tindakan diambil setelah


kerusakan terjadi atau belum:
- Perawatan preventif (mencegah)
- Perawatan kuratif (memperbaiki)

2. Berdasarkan terjadual atau tidaknya kegiatan:


- Perawatan terjadual (shedule)
- Perawatan tak terjadual (unschedule)

3. Berdasar emergency tidaknya (waktu yang tersedia)


- Perawatan mendesak (emergency)
- Perawatan tak mendesak (non emergency)

4. Berdasarkan: apakah ada tindakan untuk meramal kapan kerusakan terjadi atau tidak:
- Perawatan prediktif
- Perawatan non prediktif (kegiatan inspeksi dapat saja dilakukan tapi tidak digunakan untuk
trend/meramal kapan kerusakan bakal terjadi)

5. Berdasarkan ke'aktifan' nya (masalah dulu baru tindakan atau tindakan baru masalah, masalah
belum berarti kerusakan lho)
- Perawatan proaktif
- Perawatan reaktif

6. Berdasarkan ada tidaknya inspeksi:


- Perawatan dengan inspeksi dulu
- Perawatan tanpa inspeksi dulu

7. Berdasar ada tidaknya tindakan maintenance


- Dengan perawatan
- Tanpa perawatan (Run to break down)
..................................dsb.

Nah terlihat jelas sekarang bahwa penggolongan Prediktif Maintenance didasarkan adanya
kegiatan prediksi, sedang penggolongan preventif maintenance didasarkan pada tindakan tsb
dilakukan sebelum kerusakan terjadi atau belum. (Ini mirip dengan Pak Polisi yang dirumah
digolongkan sebagai suami, merangkap sebagai Bapak, dan mungkin merangkap lagi sebagai Pak
RT, .........sah2 saja toh. Jelas Pak Polisi tidak dapat digolongkan menjadi Bukan polisi karena
penggolongannya secara tegas2 memisaghkan keduanya).

Industri jelas tidak akan fanatik terhadap satu metode tetapi mengkombinasikan metode2 tersebut
untuk menekan biaya total (maintenance+operational cost). Pemberian pelumasan (dikatagorikan
preventif, sekaligus termasuk perawatan yang ter-schedule, non emergency, non prediktif/kecuali
jika kegiatan penggantian diprediksi melalui oil analisis, proaktif, tanpa inspeksi dulu?, dengan
perawatan) tidak akan dihapuskan karena kita menerapkan metoda prediktif maintenance yang
canggih sekalipun karena dinilai 'sudah seharusnya' dan 'murah'.

Jadi saya setuju dengan Pak Sketsa, semua klasifikasi di atas hand-on-hand satu sama lain untuk
mencapai minimum total (maintenance and operational) cost.

Ilham B Santoso

Salam,

Joel Levitt dalam bukunya "complete guide P & PdM", terbitan Indutrial Press terbitan tahun 2003.
Menyatakan dengan jelas bahwa PdM adalah bagian dari PM. Menurut Levitt satu (ke 5) dari 6
misconpception about PM adalah : " PM is series of task list and inspection forms to be applied at
specific interval (and is obsolete)". Dan menurut dia seharusnya semua aktifitas proactive adalah
bagian dari PM dan ternasuk diantaranya seperti aktivitas condition monitoring seperti vibration
routes, infrared surveys, dan cbm lainnya.

Jadi memang ada yang secara konsep menjadikan PdM dan Procative Maintenance sebagai
bagian dari PM. Dan secara praktis..banyak pula dari beberapa industri besar (maksudnya dengan
jumlah equipment besar dan kiritical) menjadi kan aktifiitas con mon bagian dari task list dan
schedule pada PM list. Dan pada eksekusinya, aktifitas con mon (yang merupakan inti dari PdM),
dapat disesuaikan schedule nya dengan hasil inpseksi dan analisis kondisi mesin.

Pada pendekatan levitt, aktifitas rutin (scheduled based..seperti pada PM konservatif) ditijukan
untuk life extentison dari equipment..dimana aktifitasnya terdiri dari TLC (tighten,
component/Lubrication replacement, dan Clean). Dan dan yang berbasis inpseksi kondisi mesin
(scan, smell for, take reading, measure, take sample analysis..dll) ditujukan untuk mendeteksi
tanda-tanda kerusakan pada mesin..dan ini adalah PdM.

Pembahasan 2
Predictive Maintenance

"Anas Rosyadi"

Mas Budhi,

Ini ada file ttg PdM Optimization dan lainnya. Mohon diforward ke milis migas.

Lihat attachment : PREDICTIVE MAINTENANCE OPTIMIZATION.pdf


Reliability Improvement.pdf

Ilham Budi Santoso, MEng.

Mas Budhi, berikut overiview singkat tentang PdM.


Materi ini saya ambil sedikit dari EPRI (Electric Power Research Institute)
Semoga membantu pada diskusi PM & PdM

Lihat attachment : Overview PdM.pdf