Anda di halaman 1dari 9

Laporan Pendahuluan

Praktikum Keperawatan Gawat Darurat

Resusitasi Jantung Paru

Yusniasari
0606103243

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS INDONESIA
2010
Resusitasi Jantung Paru

Resusitasi jantung paru (RJP) dilakukan sebagai usaha untuk mengembalikan fungsi
pernapasan dan atau sirkulasi pada keadaan henti napas dan atau henti jantung. RJP tidak
dilakukan pada semua penderita yang mengalami gagal jantung atau pada orang yang sudah
mengalami kerusakan pernapasan atau sirkulasi yang tidak memiliki kemungkinan untuk
hidup lagi, namun RJP dilakukan pada orang yang memiliki kemungkinan untuk hidup lama
tanpa meninggatkan kelainan di otak.
Penyebab henti napas:
Sumbatan jalan napas; bisa disebabkan karena adanya benda asing yang
menghalangi/memasuki jalan napas.
Sentral; karena obat, intoksi jantung, tumor otak, dan tenggelam.
Perifer; karena obat, pelumpuh otot, dan penyakit
Penyebab henti jantung:
Penyakit kardiovaskuler; penyakit jantung sistemik, infark miokardial akut, embolus
paru, fibrosis pada sistem konduksi (penyakit lenegre, Adam stoke’s syndrome,
gangguan nodus sinus atrioventrikular)
Kekurangan oksigen akut; senti napas, adanya benda asing di jalan napas, sumbatan
jalan napas oleh sekresi, asfiksia dan hipoksia.
Kelebihan dosis obat dan gangguan asam basa; digitalis, quinidin, antipiretik trisiklik,
psopoksifen, adrenalin, dan isoprenalin.
Kecelakaan
Syok listrik dan tenggelam.
Refleks vagal
Peregangan sfingter anii, penekanan atau penarikan bola mata.
Anestesi dan pembedahan.
Terapi dan tindakan diagnostik medis
Syok (hipovolemik, neurogenik, toksik dan anafilaktik)
Tanda- tanda henti jantung:
Kesadaran hilang dalam waktu 15 detik setelah henti jantung.
Tak teraba denyut nadi arteri besar (femoralis dan karotis pada
orang dewasa atau brakhialis pada bayi).
Henti nafas atau megap- megap.
Terlihat seperti mati.
Warna kulit pucat sampai kelabu.
Pupil melebar (45 detik setelah henti jantung)
Resusitasi jantung paru dilakukan meliputi pembebasan jalan napas, memberikan
bantuan pernapasan, dan membantu mengalirkan darah ke organ terpenting dari tubuh dengan
tujuan mempertehankan suplai oksigen dalam darah ke bagian otak untuk menghindari
kematian sel otak.
Airway control (penguasaan jalan napas)
Status kesadaran seseorang menentukan keadaan jalan napas. Penderita yang sadar
dan mampu berbicara kalimat yang panjang, airway dan breathingnya dinilai baik.
Sedangkan pada seseorang yang tidak sadar, penolong menggunakan teknik look,
feel, and listen yang dilakukan dengan mendekatkan telinga penolong di atas dekat
mulut dan hidung korban dengan pandangan mata ke arah dada korban sambil
mempertahankan jalan napas tetap terbuka.
Cara untuk membebaskan jalan napas:
Head tilt chin lift
Dilakukan pada korban yang tidak mengalami trauma pada kepala, leher, maupun
tulang belakang, dengan cara:
Letakkan tangan anda pada dahi korban, gunakan tangan yang paling dekat
dengan kepala penderita.
Tekan dahi sedikit mengarah ke belakang dengan telapak tangan sampai kepala
penderita terdorong ke belakang.
Letakkan ujung jari tangan yang lainnya di bawah bagian ujung tulang rahang
bawah.
Angkat dagu ke depan, lakukan gerakan ini bersamaan dengan tekanan dahi,
sampai kepala penderita pada posisi ekstensi maksimal. Pada pasien bayi dan
anak kecil hanya dilakukan semi ekstensi.
Pertahankan tangan di dahi penderita untuk menjaga posisi kepala tetap ke
belakang.
Buka mulut penderita dengan memanfaatkan ibu jari tangan yang menekan dagu.
Jaw thrust manuver
Teknik ini digunakan ketika korban mengalami trauma tulang belakang atau
adanya kecurigaan trauma tulang belakang, caranya:
Berlutut di sisi atas kepala penderita, letakkan kedua siku penolong sejajar dengan
posisi penderita, kedua tangan memegang sisi kepala.
Kedua sisi rahang bawah dipegang (pada pasien anak atau bayi, gunakan dua atau
tiga jari pada sisi rahang bawah)
Gunakan kedua tangan untuk menggerakkan rahang bawah ke posisi depan secara
perlahan. Gerakan ini mendorong lidah ke atas sehingga jalan napas terbuka.
Pertahankan posisi mulut korban tetap terbuka.
Periksa apakah ada benda yang dapat menyumbat saluran napas.
Breathing support (bantuan pernapasan)
Airway yang baik tidak menjamin pernapasan baik sehingga dibutuhkan pemeriksaan
apakah pernapasan korban sudah adekuat atau belum. Tanda pernapasan:
Adekuat Kurang Adekuat T
i
d
a
k

B
e
r
n
a
p
a
s
Dada dan perut bergerak Gerakan dada kurang baik Tidak ada gerakan dada
naik dan turun selama Ada suara napas tambahan atau perut
pernapasan Otot bantu napas bekerja Tidak terdengar aliran
Udara terdengar dan terasa Sianosis udara melalui mulut
saat keluar dari mulut Frekuensi kurang atau atau hidung
atau hidung berlebihan T
Penderita tidak nyaman Perubahan status mental i
d
Frekuensi cukup (dalam (gelisah, cemas) a
batas normal) k

t
e
r
a
s
a

h
e
m
b
u
s
a
n

n
a
p
a
s

d
a
r
i

m
u
l
u
t
a
t
a
u

h
i
d
u
n
g

Circulatory support (bantuan sirkulasi/kompresi jantung luar)


Langkah yang harus dilalui sebelum memulai RJP adalah:
Tentukan tingkat kesadaran (respon penderita)
Dilakukan dengan menggoyangkan penderita. Bila penderita menjawab, maka
ABC dalam keadaan baik, bila tidak ada respon maka lanjutkan ke tahap
berikutnya.
Panggil bantuan
Bila petugas sendiri, maka jangan memulai RJP sebelum memanggil bantuan.
Posisi penderita
Penderita harus dalam keadaan terlentang, bila dalam keadaan tertelungkup,
penderita dibalikkan dengan ‘logg roll’
Periksa pernapasan
Periksa dengan cara inspeksi, palpasi, dan auskultasi. Pemeriksaan ini paling lama
3-5 detik. Bila penderita bernapas, penderita tidak memerlukan RJP.
Berikan bantuan pernapasan 2 kali
Bila bantuan pernapasan pertama tidak berhasil, maka posisi kepala diperbaiki
atau mulut lebih dibuka. Bila pernapasan buatan kedua tetap tidak berhasil (karena
resistensi/tahanan yang kuat), maka airway harus dibersihkan dari obstruksi
(Heimlich manouvre, fingers sweep, dll)
Periksa pulsasi arteri karotis (5-10 detik)
Bila ada pulsasi, dan penderita bernapas, dapat berhenti.
Bila ada pulsasi dan penderita tidak bernapas, diteruskan napas buatan.
Bila tidak ada pulsasi, lakukan RJP.
Resusitasi Jantung dan Paru (RJP) pada dasarnya terdiri atas 2 tindakan yaitu :
Pemberian napas buatan
Kompresi jantung Luar
Melakukan pemberian napas buatan:
- Baringkan korban dalam posisi terlentang
- Bersihkan jalan napas
- Buka jalan napas dengan cara menarik kepala ke bawah dan mengangkat dagunya
(Head Tilt- Chin Lift)
- Tutup hidung korban dengan telunjuk dan ibu jari
- Tarik napas panjang dan letakkan bibir anda menutupi mulut korban

Melakukan Kompresi Jantung Luar :


Lokasi penekanan pada area, dua jari di atas proxesus xifoideus.
Penekanan dilakukan dengan menggunakan pangkal telapak tangan. Dengan posisi
satu tangan diatas tangan yang lain.

Melakukan penekanan dada :


Tekanan pada tulang dada dilakukan sedemikian rupa sehingga masuk 3-4 cm (pada
orang dewasa).
Jaga lengan penolong agar tetap lurus, sehingga yang menekan adalah bahu (atau lebih
tepat tubuh bagian atas) dan bukan tangan atau siku.
Pastikan tekanan lurus ke bawah pada tulang dada karena jika tidak, tubuh dapat
tergelincir dan tekanan untuk mendorong akan hilang.
Gunakan berat badan saat kita berikan tekanan.
Dorongan yang terlalu besar akan mematahkan tulang dada
Waktu untuk menekan dan waktu untuk melepas harus sama waktunya.
Jangan melepaskan tangan dari atas dada penderita.
Ingat bahwa tekanan yang efektif dilakukan hanya akan mencapai 25%-30% dari sirkulasi
darah normal.

Hitungan saat melakukan penekanan sebanyak 30 kali dengan tidak terlalu cepat, karena
satu kali penekanan harus menggunakan waktu kurang dari detik. Setelah penekanan
seperti diatas lakukan 2 kali tiupan masing-masing selama 1,5 sampai 2 detik.
Untuk penderita yang tidak sadar, cari denyutan nadi karotis :
Letakkan dua jari di atas laring (jakun), jangan gunakan ibu jari. Geserkan jari
penolong ke samping.
Hentikan di sela-sela antara laring dan otot leher. Rasakan nadi. Tekan selama 5-10
detik, hindari penekanan yang terlalu keras pada arteri.
RJP dengan satu penolong pada orang dewasa.
Buka jalan napas, kemudian berikan 2 tiupan yang masing2 waktunya 1,5 sampai 2 detik.
Lakukan kompresi jantung luar dengan 30 x penekanan dada diikuti 2 x tiupan.
Pastikan kita menarik napas yang dalam sebelum memberikan tiupan napas.
Lanjutkan sampai 4 kali putaran (siklus) dari 30 tekanan dan 2 ventilasi.
RJP dengan 2 penolong pada orang dewasa.
Penderita harus lurus dan terlentang, pada permukaan yang datar & padat.
Jika memakai baju buka bajunya sehingga kita dapat melihat tulang dadanya.
Penolong pertama berlutut pada ujung kepala penderita. Penolong kedua berlutut pada sisi
kanan dada penderita.
Referensi:
Panitia Pensil FIK UI. (2007). Modul pelatihan nursing skill. Tidak dipublikasikan.
Sub bidang pelayanan keselamatan dan kesehatan pusat teknologi nuklir bahan dan
radiometri. (2008). Modul pelatihan bantuan hidup dasar.