Anda di halaman 1dari 463

Sejarah Nasional Indonesia VI i

Sejarah Nasional Indonesia VI ii


Syarifuddin
Sejarah Nasional Indonesia
2017 Syarifuddin
Edisi Pertama, Cetakan Ke-1

Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta Press.


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan
cara apa pun, termasuk dengan cara penggunaan mesin foto- kopi,
tanpa izin sah dari penerbit

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)

SYARIFUDDIN
Cover desain : Adlin Astridiani Juistha
Sejarah Nasional Indonesia
Jakarta : Pasca Sarjana UNJ Press, 2017
Ed. 1. Cet. 1; xii, 411 hlm; 25 cm

ISBN 817525766-0

Cetakan ke-1, Januari 2017

Pasca Sarjana UNJ


Jl. Pemuda
Jakarta 13220

Sejarah Nasional Indonesia VI iii


Sejarah Nasional Indonesia VI iv
kata pengantar

Pendidikan merupakan jembatan menuju sukses. Melalui pendidikan,


diharapkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku dalam
pembangunan negara dapat terwujud. Dalam upaya peningkatan kualitas
sumber daya manusia tersebut, kami menyusun Buku Ajar Sejarah Nasional
Indonesia VI.
Secara garis besar, buku ini membahas materi-materi pokok seperti:
Republik Indonesia Serikat, Kembalinya Ke NKRI, Keadaan Sosial, Politik,
Ekonomi, dan Hankam Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin, Perpolitikan
Luar Negeri Indonesia, Konferensi Asia Afrika di Bandung, Dekrit Presiden 5 Juli
1959, Keadaan Indonesia Masa Demokrasi Terpimpin, Konfrontasi Indonesia
dengan Malaysia, Perpolitikan PKI, Peristiwa G 30 S, dan Usaha Pengembalian
Irian Barat ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada setiap bab dalam buku ini, disisipkan kesimpulan guna mengulas
kembali materi yang tengah dibahas. Untuk menguji pemahaman mahasiswa
akan materi yang telah dikupas, pada akhir setiap bab disajikan latihan yang
dapat dilakukan secara per seorangan maupun kelompok. Ada pula pada akhir
setiap bab disajikan soal-soal evalusi berupa soal pilihan ganda.
Kami berharap buku ajar ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa, dan
bersama-sama ikut serta meningkatkan mutu pendidikan dan menyukseskan
cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Kritik dan saran merupakan hal yang
ditunggu oleh kami untuk memperbaiki isi buku ajar ini.

Jakarta, September 2017

Penyusun

Sejarah Nasional Indonesia VI 1


daftar isi

Kata pengantar ... 1


daftar isi ... 2

bab I pendahuluan ... 7


• Penulisan Sejarah Nasional
Indonesia... 10
• Garis Besar Sejarah Nasional
Indonesia... 13
• Studi Kasus ... 31
• Rangkuman ... 32
republik indonesia • Glosarium ... 33
serikat & kembali bab II • Latihan ... 34
ke nkri ... 37 • Daftar Pustaka ... 35
• Republik Indonesia
Serikat ... 41
• Kembali ke Negara
Kesatuan Republik
Indonesia ... 56
• Rangkuman ... 73
• Glosarium ... 74
• Latihan ... 75
• Daftar Pustaka ... 78 bab III pemberontakan -
pemberontakan di
indonesia (1950-1959) ... 81
• Latar Belakang Terjadinya
Pemberontakan ... 85
• Pemberontakan-
Pemberontakan di Indonesia
(1950-1959) ... 86
• Rangkuman ... 110
• Glosarium ... 111
• Latihan ... 112
• Daftar Pustaka ... 115

Sejarah Nasional Indonesia VI 2


indonesia masa
demokrasi liberal bab IV
... 117
• Demokrasi Liberal
Indonesia ... 121
• Kondisi Sosial Budaya
Masyarakat Masa
Demokrasi Liberal ... 124
• Keadaan Politik ... 130
• Keadaan Ekonomi Masa
Demokrasi Liberal ... 145
sistem ekonomi
• Keadaan Militer ... 155
• Studi kasus ... 164 bab v indonesia (1950-1965)
• Rangkuman ... 165 ... 155
• Glosarium ... 166 • Keadaan Ekonomi Indonesia Masa
• Latihan ... 168 Demokrasi Liberal (1950-1959)
• Daftar Pustaka ... 171 ... 179
• Sistem Ekonomi Indonesia Masa
Demokrasi Liberal ... 179
• Usaha Pemerintah Membentuk
Ekonomi Nasional ... 181
• Kebijakan Pemerintah Dalam
Bidang Ekonomi Masa Demokrasi
Liberal ... 185
• Kegagalan Perekonomian Masa
Demokrasi Liberal ... 189
• Keadaan Ekonomi Masa
Demokrasi Terpimpin ... 191
politik luar negeri
bab vi • Usaha Memperbaiki Perekonomian
indonesia ... 219 Masa Demokrasi Terpimpin ... 193
• Politik Luar Negeri Indonesia • Kebijakan Ekonomi Masa
(1950-1965) ... 223 Demokrasi Terpimpin ... 196
• Peta Politik Dunia (Blok Barat • Kegagalan Perekonomian Masa
dan Blok Timur) ... 229 Demokrasi Terpimpin ... 202
• Politik Indonesia Dalam Konflik • Tokoh-tokoh Kebijakan Ekonomi
Perang Dingin ... 231 Masa Demokrasi Terpimpin ... 205
• Studi Kasus ... 233 • Rangkuman ... 210
• Rangkuman ... 234 • Glosarium ... 212
• Glosarium ... 235 • Latihan ... 214
• Latihan ... 237 • Daftar Pustaka ... 217
• Daftar Pustaka ... 240
Sejarah Nasional Indonesia VI 3
konferensi asia
afrika (KAA) ... 241 bab vii
• Latar Belakang KAA ... 245
• Pertemuan dan Usulan
Sebelum KAA ... 247
• Pelaksanaan KAA Tahun 1955
... 254
• Kerjasama Negara-Negara
Asia Afrika ... 260
• Indonesia Dalam KAA ... 270
• Rangkuman ... 271
• Glosarium ... 273
• Latihan ... 275
pemilihan umum i tahun
• Daftar Pustaka ... 279 1955 ... 281
bab VIII • Latar Belakang Pemilu I 1955 ...
286
• Landasan dan Tujuan Pemilu
Umum I 1955 ... 290
• Pelaksanaan Pemilu I 1955 ... 292
• Hasil Pemilu I Tahun 1955 ... 298
• Pasca Pemilu dan Ketidakstabilan
Politik ... 302
• Dekrit Presiden 5 Juli 1959 ... 311
• Studi Kasus ... 314
• Rangkuman ... 315
Glosarium ... 315
• Latihan ... 317
demokrasi terpimpin bab IX • Daftar Pustaka ... 320
... 323
• Demokrasi Terpimpin di
Indonesia 1959-1965 ...
328
• Keadaan Sosial, Ekonomi,
dan Politik Masa
Demokrasi Terpimpin ...
330
• Rangkuman ... 354
• Glosarium ... 355
• Latihan ... 357
• Daftar Pustaka ... 361

Sejarah Nasional Indonesia VI 4


bab x konfrontasi indonesia
malaysia ... 367
• Latar Belakang Konfrontasi
Indonesia dan Malaysia ... 367
• Indonesia Menentang Negara
Federasi Malaysia ... 373
• Konfrontasi Indonesia Terhadap
Malaysia ... 375
• Pengiriman Tentara Indonesia Ke
partai komunis Malaysia ... 380
• Indonesia Keluar Dari PBB ... 385
indonesia 1960-1965
bab XI • Penyelesaian Konflik Indonesia
... 399 dan Malaysia ... 387
• Berkembangnya Partai • Rangkuman ... 392
Komunis Indonesia (1960- • Glosarium ... 393
1965) ... 403 • Latihan ... 394
• Pengaruh PKI dengan Kaum • Daftar Pustaka ... 397
Buruh Tani ... 405
• Pengaruh PKI dengan Partai
Politik Indonesia ... 407
• Pengaruh PKI Dalam
Angkatan Bersenjata
Indonesia ... 409
• Peristiwa Gerakan 30 PEMBEBASAN IRIAN
September ... 413 bab XII BARAT ... 433
• Operasi Penumpasan G 30 S • Latar Belakang Konflik Irian
dan PKI ... 418 Barat Antara Indonesia dan
• Studi Kasus ... 424 Belanda ... 438
• Rangkuman ... 425 • Perjuangan Mengembalikan
• Glosarium ... 426 Irian Barat ke NKRI ... 442
• Latihan ... 427 • Konfrontasi Militer Indonesia
• Daftar Pustaka ... 431 Belanda ... 445
• Perundingan dan Penyelesaian
Sengketa Irian Barat ... 449
• Rangkuman ... 451
• Glosarium ... 452
• Latihan ... 453
• Daftar Pustaka ... 457

Sejarah Nasional Indonesia VI 5


Sejarah Nasional Indonesia VI 6
1
pendahuluan

Sejarah Nasional Indonesia VI 7


Keterangan:
11. Menjelaskan Sistem Negara
1. Memahami Materi Sejarah Nasional Kesatuan Republik Indonesia
Indonesia I 12. Kehidupan Berbangsa dan
2. Memahami Materi Sejarah Nasional Bernegara Masa RIS
Indonesia II 13. Menjelaskan Sistem Negara
3. Memahami Materi Sejarah Nasional Indonesia Berdasarkan UUDS 1950
Indonesia III 14. Menjelaskan Keadaan Sosial
4. Memahami Materi Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia Pada Masa
Indonesia IV Demokrasi Liberal
5. Memahami Materi Sejarah Nasional 15. Menjelaskan Sistem Ekonomi
Indonesia V Indonesia Masa Demokrasi Liberal
6. Menjelaskan Hasil Konferensi Meja 16. Menjelaskan Usaha Pemerintah
Bundar dan Pembentukan Republik Indonesia dalam Memperbaiki
Indonesia Serikat (RIS) Ekonomi Nasional
7. Menjelaskan Keadaan Sosial, 17. Menjelaskan Berbagai
Politik, Ekonomi, dan Hankam Masa pemberontakan di Indonesia Masa
Republik Indonesia Serikat Demokrasi Liberal dan Terpimpin
8. Menjelaskan Konsep dan Sistem 18. Menjelaskan Keadaan Militer
Pemerintahan RIS Indonesia Masa Demokrasi Liberal
9. Membandingkan Konstitusi RIS dan 19. Menjelaskan Ketidakstabilan Politik
UUD 1945 Dalam Negeri Indonesia
10. Menjelaskan Faktor Penyebab 20. Menjelaskan Pelaksanaan Pemilu I
Kembalinya RIS Menjadi NKRI Tahun 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 8


21. Menjelaskan Politik Luar Negeri 31. Menjelaskan Kebijakan Politik
Indonesia Pemerintah Indonesia Masa
22. Menjelaskan Keadaan Sosial Demokrasi Terpimpin
Ekonomi Indonesia Masa Demokrasi 32. Menjelaskan Perpolitikan PKI di
Liberal Indonesia (1960-1965)
23. Menjelaskan Kehidupan Sosial 33. Menjelaskan Politik Konfrontasi
Budaya Pada Masa Demokrasi Indonesia dengan Malaysia
Liberal 34. Menjelaskan Penyebab
24. Menjelaskan Keadaan Hankam Keluarnya Indonesia dari PBB dan
Indonesia Masa Demokrasi Liberal Konferensi Asia Afrika
25. Menjelaskan Perpolitikan Indonesia 35. Menjelaskan Upaya Pembebasan
Masa Demokrasi Liberal Irian Barat
26. Menjelaskan Keadaan Indonesia 36. Menjelaskan Peristiwa Gerakan
Masa Demokrasi Liberal 30 September
27. Menjelaskan Konsepsi Soekarno 37. Menjelaskan Keadaan Indonesia
28. Menjelaskan penyebab Masa Demokrasi Terpimpin
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 38. Menjelaskan Politik Indonesia
1959 Masa Demokrasi Terpimpin
29. Berlakunya Kembali UUD 1945 39. Menjelaskan Kehidupan
30. Menjelaskan Deklarasi Ekonomi Berbangsa dan Bernegara
(DEKON) Indonesia Masa Orde Lama

Sejarah Nasional Indonesia VI 9


Buku ajar ini berjudul Sejarah Nasional Indonesia VI. Penulisan buku ajar
Sejarah Nasional Indonesia VI ini bertujuan untuk memberikan penjelasan dan
penguraian mengenai Sejarah Indonesia dalam rentang tahun 1949-1959 atau
yang dikenal sebagai masa demokrasi liberal dan menjelang masa demokrasi
terpimpin di Indonesia. Buku ajar ini diharapkan dapat membantu mahasiswa
agar lebih mudah memahami materi sejarah nasional Indonesia pada tahun
1949-1959 secara kronologis, ringkas, dan lugas.
Buku ajar Sejarah Nasional Indonesia VI, digunakan dalam proses
pembelajaran mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia VI Program Studi
Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya. Buku ajar ini dapat digunakan sebagai
acuan baik oleh Dosen maupun mahasiswa pada saat proses pembelajaran
langsung (face to face) dan juga proses pembelajaran dalam jaringan (online
learning) menggunakan jaringan elearning dengan cara mengakses pada alamat
www.virtualmuseumindonesia.com. Buku ajar Sejarah Nasional Indonesia VI ini
juga dapat anda dapatkan dengan mengunduh softfile pada saat perkuliahan
daring.
Bila dicari maknanya, sejarah merupakan seperangkat pengetahuan masa
lampau yang objek utamanya adalah perbuatan yang dilakukan oleh manusia.
Sedang hasil kegiatannya dapat dihimpun sebagai fakta yang kemudian diberi arti
atau tafsiran agar jelas dan disusun secara berurutan menurut waktu. Singkatnya
sejarah adalah suatu rangkaian peristiwa atau kejadian yang dilakukan manusia
pada masa lampau yang dapat dibuktikan kebenarannya.

PENULISAN SEJARAH NASIONAL


INDONESIA
Dalam Kongres Sejarah Nasional I tanggal 14 sampai dengan 18 Desember
1957 di Yogyakarta. Sejarah Nasional Indonesia sudah menjadi perdebatan.
Namun disusunnya Sejarah Nasional Indonesia (SNI) merupakan suatu proses
yang dilakukan oleh negara dalam upaya untuk mencari legitimasi historis
bagaimana negara ini lahir dan berkembang, dan bagaimana perjuangan yang
dilakukan untuk melahirkan negara ini.

Sejarah Nasional Indonesia VI 10


Penulisan sejarah di Indonesia sebenarnya
sudah ada sejak masa kerajaan Hindu-Buddha
berkembang di kepulauan Indonesia, misalnya reminder
“Pararaton”, “Negara Kertagama”, dan “Carita Dalam dekade 1970-an, tepatnya
Parahiyangan”. Demikian pula era kesultanan tahun 1977 terbit buku Sejarah
Nasional Indonesia (SNI) yang
yang bercorak Islam, terbit misalnya; “Hikayat terdiri dari 6 jilid yang diterbitkan
Tanah Hitu”, “Tuhfat al Nafis”, “Babad Tanah oleh Balai Pustaka Departemen
Jawi”, dan “Babad Kraton”. Akan tetapi karya- Pendidikan dan Kebudayaan. Buku
ini merupakan karya bersama
karya yang lebih bersifat sastra tersebut dinilai
sejarawan Indonesia waktu
kurang bernilai sejarah karena sarat dengan itu dalam upaya mewujudkan
mitos-mitos seperti halnya historiografi Abad sejarah nasional. Duduk sebagai
editor umumnya adalah Sartono
Pertengahan di Eropa.
Kartodirdjo, Marwati Djoened
Kemudian pada abad ke-19 beberapa Poesponegoro dan Nugroho
pelaku sejarah juga menuliskan beberapa Notosusanto
karya, seperti Pangeran Diponegoro menulis
Babad Diponegoro, yang ditulisnya pada tahun
1835, semasa dia berada di pengasingan.
Mungkin saja masih banyak pujangga dan pelaku sejarah abad ke-19 Indonesia
yang menulis, namun sejalan dengan perkembangan dunia kolonial, penelitian,
pengumpulan data dan komunikasi pemikiran sejarah pada abad ke-19 hampir
sepenuhnya berada di tangan orang-orang Belanda/Barat. Misalnya karya-
karya para peneliti mengenai keadaan wilayah dan sosial beberapa wilayah di
Nusantara, salah satu karya besar adalah penelitian mengenai Sumatra oleh
William Marsden dan Jawa oleh Sir Thomas Stanford Raffless.
Pada awal abad ke-20 perkembangan historiografi Indonesia dimulai
dengan munculnya studi sejarah yang kritis. Husein Djajadiningrat dapat
dikatakan sebagai orang Indonesia pertama yang melakukan prinsip-prinsip
metode kritis sejarah. Karyanya, Critische Beschouwingen van de Sejarah Banten
(1913) sebenarnya merupakan studi filologis yang menggunakan historiografi
tradisional sebagai obyeknya. Kemudian pada tahun 1936 giliran saudaranya,
Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat yang menerbitkan karya biografinya,
Kenang-kenangan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat (Herrineringen van
Pangran Aria Achmad Djajadiningrat) dalam dua bahasa, Indonesia dan Belanda.

Sejarah Nasional Indonesia VI 11


Sejalan dengan berkembangnya metode kritis, perkembangan nasionalisme
Indonesia yang berkembang sejak awal tahun 1920-an, membutuhan pula
sejarah yang dapat menunjukkan identitas dan simbol ke Indonesiaan. Semangat
inilah yang mendorong penulisan sejarah dengan pendekatan “Indonesia
sentries” menggantikan sudut pandang “Eropa sentries” atau “Belanda
sentries” yang berkembang waktu itu. Namun seperti dikemukakan oleh
Coolhaas bahwa harapan penulisan sejarah Indonesia akan sulit berkembang
mengingat orang-orang Indonesia masih sedikit yang terlibat secara aktif dalam
politik. Kenyataannya memang demikian, sampai meletusnya Perang Dunia II
karya-karya sejarah kolonial masih mendominasi, diantaranya karya FW Stapel
dkk, Geschiedenis van Nederlandsch-Indiё, yang mempunyai pengaruh besar
terhadap penulisan sejarah Indonesia kemudian, terutama buku-buku ajar
sejarah pada tingkat sekolah menengah.
Setelah proklamasi kemerdekaan literatur sejarah Indonesia mengalami
perkembangan. Semangat nasionalisme yang berkobar-kobar pada periode pasca
kolonial telah mendorong diterbitkannya buku-buku sejarah yang “Indonesia
Sentris”. Oleh karena itu pada periode pasca revolusi ini banyak diterbitkan
karya biografi tokoh-tokoh maupun pahlawan nasional seperti: Teuku Umar,
Imam Bonjol, Kapitan Pattimura, Sultan Nuku dan Pangeran Diponegoro. Obyek-
obyek penulisan seperti ini dianggap mampu menunjukkan identitas dan simbol
keindonesiaan. Demikian pula sejarah perlawanan terhadap penjajah, seperti
Perang Jawa, Perang Aceh, Perang Padri, perlawanan politis lewat pergerakan
nasional dan sebagainya menempati posisi yang sama seperti biografi para
tokoh tadi.
Dalam dekade 1970-an, tepatnya tahun 1977 terbit buku Sejarah Nasional
Indonesia (SNI) yang terdiri dari 6 jilid yang diterbitkan oleh Balai Pustaka
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku ini merupakan karya bersama
sejarawan Indonesia waktu itu dalam upaya mewujudkan sejarah nasional.
Ada beberapa sejarawan yang ditunjuk menjadi editor dalam penulisan buku
ini seperti: Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho
Notosusanto. Di satu pihak kehadiran buku SNI berhasil menjawab kebutuhan
akan adanya buku sejarah Indonesia yang “nasionalistis”, namun di pihak
lainnya telah mengundang polemik dan keprihatinan dari beberapa sejarawan

Sejarah Nasional Indonesia VI 12


lainnya. Buku SNI dinilai masih mengandung banyak kelemahan, baik dari segi
subjektifitas dan pengaruh besar dari pemerintah ketika itu. Keprihatinan inilah
antara lain yang menjadi salah satu faktor untuk menulis buku sejarah nasional
sejenis yang lebih baik. Upaya itu mulai dirintis sejak penghujung abad ke-20.
Para sejarawan yang dimotori oleh Prof. Dr. Taufik Abdullah dan Prof. Dr. A.B.
Lapian yang bertindak sebagai editor umum, merencanakan untuk menulis
sejarah Indonesia yang nantinya terdiri dari 8 jilid (dan satu jilid tambahan).
Di luar keprihatinan itu, sebenarnya perkembangan historiografi Indonesia
tidaklah sesuram itu. Justru sejak akhir abad ke-20 telah berkembang pula
penulisan sejarah dengan pendekatan baru. Namun perkembangan itu luput
dari pengamatan para pakar sejarah, karena sebagian besar lebih tertarik untuk
mengamati dan mendekonstruksi sejarah politik masa Orde Baru, khususnya
yang menyangkut tema sekitar tahun 1965.

GARIS BESAR SEJARAH NASIONAL


INDONESIA

Penulisan Sejarah Nasional Indonesia dimulai


dengan bahasan dari Zaman Prasejarah, Zaman
Kuno, Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan reminder
Indonesia pada masa Kerajaan Islam, Zaman Abad Masa Pergerakan
ke-19, Zaman Kebangkitan Nasional dan masa akhir Nasional ditandai dengan
Hindia-Belanda, Zaman Jepang sampai di zaman munculnya organisasi-
organisasi modern antara
Republik Indonesia. Pada penulisan buku ajar ini
lain Budi Utomo (BU),
akan dipilih mengenai Sejarah Nasional Indonesia Sarekat Islam (SI), dan
pada masa kemerdekaan, dari Proklamasi sampai Indische Partij (IP)
pengakuan kedaulatan. Namun untuk sampai di
masa kemerdekaan tentunya bangsa Indonesia mengalami masa dimana untuk
mencapai sebuah kemerdekaan diperlukan adanya perjuangan dan usaha yang
dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri untuk mencapai kemerdekaannya,
masa ini disebut sebagai masa pergerakan nasional, dimana paham-paham dari
luar seperti nasionalisme mulai tumbuh di wilayah Indonesia.

Sejarah Nasional Indonesia VI 13


a. Masa Pergerakan Nasional
Masa Pergerakan Nasional ditandai dengan munculnya organisasi-
organisasi modern antara lain Budi Utomo (BU), Sarekat Islam (SI), dan Indische
Partij (IP) dalam memperjuangkan perbaikan nasib bangsa. Kaum terpelajar
melalui organisasi-organisasi memotori munculnya pergerakan nasional
Indonesia. Pada saat itulah bangsa-bangsa di Nusantara mulai sadar akan rasa
“sebagai satu bangsa” yaitu bangsa Indonesia.
Kata “Pergerakan Nasional“ mengandung suatu pengertian yaitu
perjuangan yang dilakukan oleh organisasi secara modern ke arah perbaikan
taraf hidup bangsa Indonesia yang disebabkan karena rasa tidak puas terhadap
keadaan masyarakat yang ada. Gerakan yang mereka lakukan memang tidak
hanya terbatas untuk memperbaiki derajat bangsa tetapi juga meliputi gerakan
di berbagai bidang pendidikan, kebudayaan, keagamaan, wanita dan pemuda.
Istilah Nasional berarti pergerakan-pergerakan tersebut mempunyai cita-cita
nasional yaitu berkeinginan mencapai kemerdekaan bagi bangsanya yang masih
terjajah.
Gagasan pertama pembentukan Budi Utomo berasal dari dr. Wahidin
Sudirohusodo, seorang dokter Jawa dari Surakarta. Pada tahun 1908, dr. Wahidin
bertemu dengan Sutomo pelajar Stovia. Dokter Wahidin mengemukakan
gagasannya pada pelajar-pelajar Stovia dan para pelajar tersebut menyambutnya
dengan baik. Sehubungan dengan itu pada tanggal 20 Mei 1908 diadakan rapat
di satu kelas di Stovia. Rapat tersebut berhasil membentuk sebuah organisasi
bernama Budi Utomo dengan Sutomo ditunjuk sebagai ketuanya.
Pada tahun 1909 R.M. Tirtoadisuryo mendirikan organisasi bernama
Sarekat Dagang Islam (SDI), pendirian organisasi ini juga berkat andil modal dari
Haji Samanhudi, seorang pengusaha batik yang sukses. Organisasi ini bertujuan
untuk menghilangkan monopoli pedagang Cina yang menjual bahan dan obat
untuk membatik. Sekitar akhir bulan Agustus 1912, Serikat Dagang Islam
diganti menjadi Serikat Islam (SI). Dalam kongres Serikat Islam di Madiun pada
tahun 1923 nama Serikat Islam diganti menjadi Partai Serikat Islam. Partai ini
bersifat nonkooperasi yaitu tidak mau bekerjasama dengan pemerintah tetapi
menginginkan perlu adanya wakil dalam Dewan Rakyat (Volksraad).

Sejarah Nasional Indonesia VI 14


Organisasi yang sejak berdirinya sudah bersikap radikal adalah Indische
Partij. Organisasi ini dibentuk pada tahun 1912 dikalangan orang-orang Indo
dan terpelajar Indonesia yang dipimpin oleh tiga serangkai yaitu E.F.E. Douwes
Dekker, Suwardi Suryaningrat, dan Cipto Mangunkusumo. Cita-citanya adalah
agar orang-orang yang menetap di Hindia Belanda (Indonesia) dapat duduk
dalam pemerintahan. Adapun semboyannya adalah Indie Voor de Indier (Hindia
bagi orang-orang yang berdiam di Hindia).
Dibandingkan dengan Budi Utomo, keanggotaan dari Indische Partij
telah mencakup suku-suku bangsa lain diluar Jawa. Masa akhir Indische Partij
terjadi ketika organisasi ini dianggap radikal dan berbahaya oleh pemerintah
kolonial. Salah satu tulisan dari Suwardi Suryaningrat dianggap menghina
pemerintah kolonial berjudul Als Ik En Nederlander was (Andai Aku Seorang
Belanda) yang mengkritisi penarikan pajak dan iuran dalam rangka perayaan
100 tahun kemerdekaan Belanda. Oleh sebab itu pemerintah kolonial kemudian
menghapus organisasi ini dan kemudian membuang para pemimpinnya. Ketiga
tokoh pendiri dan pemimpin organisasi tersebut dibuang ke Belanda dari tahun
1913 sampai dengan 1918.
Masa radikal, diartikan sebagai suatu masa yang memunculkan organisasi-
organisasi politik yang kemudian dinamakan “partai”. Pada umumnya
organisasi-organisasi ini tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Hindia
Belanda dalam mewujudkan cita-cita organisasinya. Mereka dengan tegas
menyebutkan tujuannya untuk mencapai Indonesia Merdeka. Pada tahun 1908
di negeri Belanda berdiri sebuah organisasi yang bernama Indische Vereeniging.
Organisasi ini didirikan oleh pelajar-pelajar dari Indonesia. Pada mulanya hanya
bersifat sosial yaitu untuk memajukan kepentingan-kepentingan bersama para
pelajar tersebut. Organisasi ini juga menginginkan adanya hak bagi bangsa
Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Sehubungan dengan itu Indische
Vereeniging berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan
Indonesia) dan bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Sejalan
dengan itu majalah
Perhimpunan Indonesia (PI) yang semula bernama “Hindia Putra” juga
berganti nama menjadi “Indonesia Merdeka”. Para anggota PI berusaha
melakukan propaganda kemerdekaan Indonesia, seperti yang dilakukan oleh

Sejarah Nasional Indonesia VI 15


Mohammad Hatta yang mengikuti Liga Anti Imperialisme, disana beliau terus
berupaya menunjukkan bahwa Indonesia sanggup untuk merdeka. Di Indonesia
sendiri kemudian muncul PNI, sebuah partai nasionalis yang dipimpin oleh
Soekarno. PNI berkeyakinan bahwa untuk membangun nasionalisme ada tiga
syarat yang harus ditanamkan kepada rakyat yaitu jiwa nasional (nationaale
geest), tekad nasional (nationaale wil), dan tindakan nasional (nationaale daad).
Nasionalisme juga berkembang di kalangan pemuda. Para pemuda yang telah
mendirikan berbagai organisasi pemuda juga merasa perlu untuk menggalang
persatuan. Semangat persatuan ini diwujudkan dalam kongres pemuda pertama
di Jakarta pada bulan Mei 1926. PPI mempelopori penyelenggaraan Kongres
Pemuda II. Dalam Kongres Pemuda II yang diselenggrakan pada tanggal 27-28
Oktober 1928 berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen
Bond, Sekar Rukun, Pasundan, Jong Selebes, Pemuda Kaum Betawi, dan lain-
lain. Kongres ini berusaha mempertegas kembali makna persatuan dan berhasil
mencapai suatu kesepakatan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda,
yang isinya yaitu: Pertama, kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah
darah yang satu, tanah Indonesia. Kedua, Kami Putra dan Putri Indonesia
mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.Ketiga, Kami Putra dan Putri
Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia.
Masa pergerakan nasional juga penuh gejolak dan dinamika, dimana pada
10 tahun pertama banyak sekali organisasi yang muncul dan berkembang di
Indonesia. Namun pasca tahun 1930 pemerintah kolonial mulai bertidak keras
dan represif dengan organisasi-organisasi tersebut. Banyak diantara organisasi
tersebut dibubarkan dan para pemimpinnya menjadi tahanan politik pemerintah
kolonial. Kemudian untuk melanjutkan pergerakan ini, banyak organisasi yang
mulai lebih lunak agar tidak dilarang oleh pemerintah, masa ini dikenal dengan
masa bertahan. Para pemimpin organisasi dan partai menggunakan taktik
baru, yaitu dengan bekerja sama dengan pemerintah melalui parlemen. Partai
politik mengirimkan wakil-wakilnya dalam Dewan Rakyat. Mereka mengambil
jalan kooperatif, tetapi sifatnya sementara (insidentil), artinya kalau terjadi
ketidakcocokan dengan politik pemerintah mereka dapat keluar dari Dewan
Rakyat.

Sejarah Nasional Indonesia VI 16


Partai dan organisasi politik yang melakukan taktik kooperatif dengan
pemerintah Hindia Belanda adalah Persatuan Bangsa Indonesia dan Partai
Indonesia Raya. Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) mendirikan bank, koperasi
serta perkumpulan tani dan nelayan. Pemakarsanya adalah Dokter Sutomo,
seorang pendiri Budi Utomo. Pada perkembangan selanjutnya sekitar tahun
1935 terjadi penyatuan antara Budi Utomo dan PBI menjadi Partai Indonesia
Raya (Parindra) yang diketuai adalah Dokter Sutomo. Organisasi-organisasi lain
yang ikut bergabung dalam Parindra adalah: Serikat Sumatera, Serikat Celebes,
Serikat Ambon, Kaum Betawi, dan Tirtayasa. Kemudian dalam kongresnya tahun
1937, Wuryaningrat terpilih sebagai ketua dibantu oleh Mohammad Husni
Thamrin, Sukarjo Wiryapranoto, Panji Suroso, dan Susanto Tirtoprojo. Kerjasama
antar anggota cabang-cabangnya menjadikan Parindra sebagai partai politik
terkuat menjelang runtuhnya Hindia Belanda.
Disamping Parindra juga muncul organisasi lain seperti Partindo. Partai ini
merupakan kelanjutan dari PNI yang dilarang dan para pemimpinnya ditahan
oleh pemerintah kolonial seperti Soekarno. Para petinggi PNI yang tidak
ditangkap kemudian pecah menjadi dua faksi yang berbeda. Faksi pertama yaitu
Mr. Sartono yang mendirikan Partindo dan faksi kedua yaitu Moh. Hatta dan
Sutan Syahrir yang mendirikan PNI Baru. Namun Sayangnya kedua organisasi
tersebut tidak lama bertahan.
Organisasi lain yang berada pada zaman ini adalah Gerakan Rakyat Indonesia
(Gerindo) yang didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Mei 1937. Tokoh-tokoh yang
duduk dalam Gerindo ialah dr. A.K. Gani, Mr. Sartono, Mr. Mohammad Yamin,
dan Mr. Amir Syarifuddin. Pada masa pemerintah Gubernur Jenderal Limburg
Stirum (1916-1921) dibentuk Volksraad atau Dewan Rakyat, yaitu pada tanggal
18 Mei 1918. Anggota dewan dipilih dan diangkat dari golongan orang Belanda,
Indonesia, dan bangsa-bangsa lain. Tujuan pembentukan Dewan Rakyat adalah
agar wakil-wakil rakyat Indonesia dapat berperan serta dalam pemerintahan.
Golongan kooperatif berupaya semaksimal mungkin untuk memanfaatkan
Dewan Rakyat. Pada tahun 1930 Mohammad Husni Thamrin, anggota Dewan
Rakyat, membentuk Fraksi Nasional guna memperkuat barisan dan persatuan
nasional. Mereka menuntut perubahan ketatanegaraan dan penghapusan
diskriminasi diberbagai bidang. Mereka juga menuntut penghapusan beberapa

Sejarah Nasional Indonesia VI 17


pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda tentang penangkapan
dan pengasingan pemimpin perjuangan Indonesia serta pemberangusan pers.
Pada tanggal 15 Juli 1936 Sutarjo Kartohadikusumo, anggota dewan
rakyat, menyampaikan petisi agar Indonesia diberi pemerintahan sendiri
(otonomi) secara berangsur-angsur dalam waktu sepuluh tahun, otonomi
ini ditolak pemerintah, sebab hal ini memberi peluang yang mengancam
runtuhnya bangunan kolonial. Kegagalan Petisi Sutarjo menjadi cambuk untuk
meningkatkan perjuangan nasional.
Pada bulan Mei 1939 Muh.Husni Thamrin membentuk Gabungan Politik
Indonesia (GAPI) yang merupakan gabungan dari Parindra, Gerindo, PSII, Partai
Islam Indonesia, Partai Katolik Indonesia, Pemuda Pasundan, Kaum Betawi,
dan Persatuan Minahasa. GAPI mengadakan aksi dan menuntut Indonesia
berparlemen yang disusun dan dipilih oleh rakyat Indonesia, Pemerintah harus
bertanggung jawab kepada Parlemen. Jika tuntutan itu diterima pemerintah,
GAPI akan mengajak rakyat untuk mengimbangi kemurahan hati pemerintah.
Pada tanggal 24 Desember 1939 dibentuk Kongres Rakyat Indonesia. Kegiatan
ini antara lain menuntut pemerintah Belanda agar menjadikan bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional, Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan dan bendera
merah putih sebagai bendera Nasional.
Pada 1 September 1939 pecah perang di Eropa yang kemudian
berkembang menjadi Perang Dunia II. Tuntutan GAPI dijawab Pemerintah
dengan pembentukan Komisi Visman pada bulan September 1940 yang bertugas
menyelidiki keinginan golongan-golongan masyarakat Indonesia dan perubahan
pemerintahan yang diinginkan. Namun Komisi ini hanya menampung hasrat
masyarakat Indonesia yang pro pemerintah dan masih menginginkan Indonesia
tetapi dalam ikatan Kerajaan Belanda. Hasil penyelidikan komisi Visman tidak
memuaskan. Sebelum hasil Komisi Visman diwujudkan, Jepang sudah tiba di
Indonesia. Meskipun demikian pihak Indonesia telah sempat mengusulkan 3
hal, yaitu : 1. Pelaksanaan hak menentukan nasib sendiri; 2. Penggunaan bahasa
Indonesia dalam sidang Dewan Rakyat; 3. Pergantian kata Inlander (pribumi)
menjadi Indonesier.
Untuk menguatkan perjuangan GAPI, KRI, diubah menjadi Majelis Rakyat
Indonesia (MRI) dalam konferensi di Yogyakarta pada tanggal 14 September

Sejarah Nasional Indonesia VI 18


1941. Di dalam MRI duduk wakil-wakil dari organisasi politik, organisasi Islam,
federasi serikat sekerja, dan pegawai negeri. Walaupun terdapat perbedaan
pendapat antara organisasi-organisasi yang tergabung dalam MRI, namun
persatuan dan kesatuan kaum Nasionalis terus dipupuk sampai masuknya
Tentara Militer Jepang.

b. Pendudukan Jepang
Masa Pendudukan Jepang berlangsung dari tahun 1942-1945, diwarnai
dengan perubahan-perubahan yang penting dalam perjalanan sejarah bangsa
Indonesia. Perubahan-perubahan itu terlihat nyata dalam bidang politik, ekonomi,
dan sosial. Pada masa akhir pendudukan Jepang di Indonesia, dibentuklah Badan
Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang sangat
penting artinya bagi perjuangan bangsa Indonesia khususnya untuk mewujudkan
kemerdekaan. Para tokoh pergerakan yang sebelumnya aktif dalam masa awal
dan masa radikal melanjutkan berkiprah menuangkan gagasan-gagasannya
untuk perbaikan nasib bangsanya dan kemudian berhasil memproklamasikan
kemerdekaan lepas dari pengaruh Jepang. Hal ini merupakan sebuah indikasi
bahwa dengan masuknya Jepang tidak berarti Pergerakan Nasional Indonesia
akan berhenti.
Gerakan Petisi seperti Wibowo dan Soetarjo yang muncul pada tahun 1936-
an tetap menjadi landasan perjuangan kaum pergerakan di masa Jepang. Tujuan
pergerakan ini adalah memberikan pemahaman agar pemerintah militer Jepang
dapat lebih memahami rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya.
Cita-cita perjuangan telah tertanam pada kaum pergerakan. Pada masa ini mulai
bermunculan kembali organisasi-organisasi baik yang dibentuk Jepang maupun
bentukan rakyat Indonesia sendiri, seperti Gerakan 3A, PUTERA, Jawa Hokokai,
Pemuda Menteng, Perhimpunan Kebangkitan Rakyat dan lain-lain. Organisasi-
organisasi ini dimotori oleh tokoh-tokoh yang sebelumnya aktif pada masa
pergerakan Nasional, seperti Ir. Soekarno. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, KH
Mas Mansur, Chairul Saleh, Sukarni, Adam Malik, dan lain-lain.
Pada awalnya pemerintah Jepang bersikap lunak dengan keberadaan
organiasi dan para pemimpinnya, disisi yang lain rakyat Indonesia juga belum
menaruh kecurigaan terhadap Jepang yang dianggap mengakhiri kolonialisme

Sejarah Nasional Indonesia VI 19


Belanda. Namun pada perkembangan selanjutnya Jepang mulai menampakkan
sikap yang tak bersahabat dan cenderung kejam pada bangsa Indonesia.
Disamping itu organisasi-organisasi yang dibuat pada dasarnya untuk mendukung
kepentingan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya.
Gencarnya pergerakan politik pada awal pendudukan Jepang membuat
pemerintah Jepang melarang semua kegiatan politik. Pada tanggal 21 Maret
1942 dikeluarkan surat keputusan untuk membubarkan semua organisasi yang
bergerak di bidang politik. Jepang hanya mengijinkan organisasi sosial seperti
olah raga dan kesenian. Organisasi politik dimungkinkan bila merupakan gerakan
bersama untuk kepentingan bangsa Asia seperti Gerakan 3 A. Melalui organisasi
ini Jepang memperkenalkan diri sebagai pembela Asia terhadap kekejaman
Imperialisme Barat. Gerakan ini bersemboyan Nippon pelindung Asia, Nippon
cahaya Asia dan Nippon pemimpin Asia. Namun sayangnya gerakan ini tidak
memperoleh simpati dari kaum pergerakan, penyebab utama adalah pemimpin
organiasasi ini yang dianggap tidak terkenal dimata rakyat Indonesia.
Pasca dibubarkannya Gerakan 3A Jepang kemudian mencari format baru
bentuk organisasi yang akan didukung oleh rakyat. Pada masa inilah Jepang
kemudian menggunakan jasa beberapa pemimpin pergerakan nasional yang
popular dimata rakyat seperti Soekarno dan Hatta. Jepang kemudian membentuk
Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) yang dipimpin oleh Soekarno, Moh. Hatta, Ki
Hajar Dewantara, dan KH. Mas Mansyur. Menariknya PUTERA malah dianggap
terlalu popular dan kuat pengaruhnya untuk rakyat karena para pemimpinnya,
Jepang kemudian menghapus organisasi ini dan diganti dengan Jawa Hokokai
(Himpunan Kebaktian Jawa) yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta saja.
Disamping organisasi-organisasi tersebut Jepang juga berusaha merayu para
golongan Ulama dengan membentuk berbagai organisasi yang berafiliasi ke
agama Islam seperti MIAI dan Masyumi.
Dalam bidang militer jepang juga membentuk beberapa organisasi semi-
militer yang tujuan utamanya adalah membantu Jepang dalam Perang Pasifik.
Organisasi-organisasi ini juga beragam, mulai dari yang dibedakan berdasarkan
gender, usia, dan fungsinya di medan perang. Contoh dari organisasi-organisasi
semi-militer tersebut seperti: Seinendan (pemuda), Fujinkai (wanita), Keibodan
(polisi), Heiho (tentara cadangan), dan PETA (pasukan pembela tanah air).

Sejarah Nasional Indonesia VI 20


Organisasi-organisasi semi-militer ini dianggap punya semacam andil di masa
yang akan datang, dimana pendidikan militer yang didapatkan oleh mereka
berguna dalam perang-perang kemerdekaan nantinya.
Menjelang akhir tahun 1944 Jepang mulai mendapat kekalahan dalam
perang Pasifik. Hal ini kemudian berakibat Kabinet Tojo jatuh dan digantikan
oleh Kabinet Jenderal Koiso. Dalam kebijakannya kabinet Jenderal Koiso
mengumumkan apa yang dikenal dengan janji kemerdekaan Indonesia kelak
kemudian hari. Realisasi dari janji koiso ini adalah pembentukan sebuah badan
persiapan untuk Indonesia merdeka.

c. Masa Kemerdekaan Indonesia


Pada bulan Maret 1945 Panglima Tentara di Jakarta mengumumkan
dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(Dokuritsu Junbi Cosakai). Badan baru ini bermaksud menyelidiki masalah tata
pemerintahan, ekonomi, politik dalam rangka pembentukan negara merdeka.
Upacara peresmian dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945 di Pejambon yang
dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi Jepang dan diikuti penaikan Bendera Merah
Putih. Badan ini diketuai oleh dr. Rajiman Widyodininggrat. Dalam sidangnya
pada tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945 badan ini telah melahirkan konsep
dasar-dasar negara (Pancasila). Badan penyelidik ini kemudian dibubarkan
dan dibentuk badan baru Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Meskipun kekalahan Jepang sangat dirahasiakan, tetapi berkat kecepatan para
pemuda, berita tentang menyerahnya Jepang kepada Sekutu, sampai juga pada
pemimpin-pemimpin Indonesia. Golongan muda mendesak agar proklamasi
segera dilaksanakan keesokan harinya tanggal 16 Agustus 1945, sedang
golongan tua masih menekankan perlunya rapat dengan PPKI terlebih dahulu.
Melalui berbagai peristiwa akhirnya rencana proklamasi dan penyusunan naskah
proklamasi disepakati golongan pemuda dan Bung Karno serta Bung Hatta. Pada
pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945 di halaman rumah kediaman Bung Karno
Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi) naskah proklamasi
tersebut diumumkan oleh Soekarno-Hatta dihadiri pemimpin-pemimpin
bangsa dan berbagai kalangan pemuda. Sejak itulah Indonesia memasuki masa
kemerdekaan.

Sejarah Nasional Indonesia VI 21


Masa Kemerdekaan dan Perjuangan untuk Mempertahankan Kemerdekaan
dimulai dari tahun 1945-1949, diwarnai dengan pengisian perlengkapan sebagai
negara merdeka dan perjuangan bersenjata serta berbagai diplomasi antara
bangsa Indonesia dengan pihak Belanda. Diplomasi itu direalisasikan dalam
perjanjian-perjanjian.

d. Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan


Sehari setelah proklamasi, 18 Agustus 1945 PPKI mengadakan sidang
pertama. Sidang tersebut berhasil mengesahkan UUD serta menunjuk Ir.
Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Moh. Hatta sebagai Wakil
Presiden. Dalam sidang berikutnya berhasil dibentuk berbagai kementerian dan
pembagian wilayah Indonesia menjadi delapan provinsi. Selanjutnya dibentuk
juga Komite Nasional, Partai Nasional, dan Badan Keamanan Rakyat. Sedikit demi
sedikit aparat pemerintahan semakin lengkap sehingga roda pemerintahan pun
mulai berjalan selayaknya sebuah negara pada umumnya.
Namun kemerdekaan Indonesia bukan tanpa ujian, masalah utama yang
dihadapi oleh bangsa Indonesia ketika itu adalah hasrat Belanda yang kembali
ingin menguasai Indonesia. Pada pertengahan September 1945 rombongan
pertama pasukan Sekutu mulai mendarat. Mereka merupakan bagian dari
South East Asia Command (SEAC) di bawah pimpinan Laksamana Mountbatten.
Untuk Indonesia SEAC membentuk Allies Force Netherlands East Indies (AFNEI)
yang terdiri atas pasukan Inggris yang mendarat di Jawa dan Sumatera serta
pasukan Australia yang mendarat di luar Jawa dan Sumatra. Pasukan ini
bertugas melucuti dan memulangkan tentara Jepang serta membebaskan
tawanan perang. Masalahnya adalah kedatangan tentara Inggris itu diboncengi
oleh NICA (Belanda). Keadaan ini sudah diduga oleh para pemimpin Indonesia.
Itulah sebabnya pemerintah RI pada tanggal 5 Oktober 1945 memutuskan untuk
membentuk suatu badan militer dengan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Selain itu pemerintah mengeluarkan maklumat bahwa RI akan menanggung
semua hutang-hutang Nederland Indies. Dengan maklumat ini pemerintah ingin
menunjukkan pada dunia luar bahwa RI bukanlah negara yang masih tunduk
pada Jepang, tetapi RI mengakui tata cara negara-negara demokrasi barat.
Sebagai realisasi dari maklumat ini maka didirikan sejumlah partai dan dibentuk

Sejarah Nasional Indonesia VI 22


satu kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Syahrir. Tugas kabinet
ini adalah menjalankan perundingan-perundingan dengan pihak Belanda
terutama Perundingan di Linggarjati pada tahun 1946. Dalam perundingan ini
Indonesia mengusulkan bahwa pada dasarnya RI adalah negara yang berdaulat
penuh atas bekas wilayah Nederland Indie. Karena itu Belanda harus menarik
mundur tentaranya dari Indonesia. Mengenai modal asing pemerintah Republik
Indonesia tetap akan menjamin. Keinginan Belanda lewat tentara Sekutu
dinyatakan oleh Van Mook pada 10 tanggal 19 Januari 1946. Kehadirannya
adalah bermaksud menciptakan negara persemakmuran (commenwealth) yang
anggotanya adalah kerajaan Belanda, Suriname, Curocao dan Indonesia. Urusan
ke luar commenwealth itu dipegang oleh kerajaan Belanda sedangkan urusan
ke dalam dipegang oleh masing-masing negara. Perundingan yang dilakukan
di Linggarjati dikeluarkan hasilnya pada tanggal 15 November 1946. Belanda
dan Republik Indonesia Serikat berada dalam suatu Uni Indonesia-Belanda.
Persetujuan gencatan senjata juga ditandatangani oleh pihak militer tanggal 12
Februari 1947.
Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda tiba-tiba melancarkan Agresi militer I
dan berhasil menerobos pertahanan RI. Tentara Republik Indonesia bertahan
dengan melancarkan perang gerilya. Serangan ini kemudian menumbulkan
reaksi dan kecaman dari berbagai begara di dunia. Salah satunya Amerika Serikat
yang kemudian mengusulkan pada Dewan Keamanan PBB untuk membentuk
suatu komisi yang mengawasi pelaksanaan gencatan senjata. Komisi yang terdiri
atas Dr. Frank Graham (AS), Richard Kirby (Australia) dan Paul Van zeeland
(Belgia), di Indonesia dikenal dengan nama Komisi Tiga Negara (KTN). Komisi
yang mulai bekerja pada bulan Oktober 1947 itu membuka kembali jalan
perundingan politik antara Indonesia dan Belanda. Perundingan dilakukan di
atas kapal USS Renville pada tanggal 8 Desember 1947. Pihak Indonesia dalam
perundingan ini dipimpin oleh Amir Syarifuddin sedangkan pihak Belanda
diwakili oleh Abdulkadir Wijoyoatmojo. Hasil perundingan ini KTN berpendapat
bahwa perjanjian Linggarjati harus dijadikan landasan perundingan politik.
Pihak Belanda menanggapi usul KTN dengan usul 12 prinsip politik yang pada
dasarnya tidak menginginkan adanya Republik Indonesia. Pihak RI bahkan hanya
berhasil mengatasi keadaan dengan mengajukan 6 prinsip politik tambahan.

Sejarah Nasional Indonesia VI 23


Utusan RI menerima usul ini, karena ketentuannya adalah diadakan plebisit
(pemungutan suara umum di suatu daerah untuk menentukan status daerah
itu) di Indonesia untuk menentukan apakah daerah-daerah bersedia atau
tidak bergabung dengan RI. Sementara itu muncul masalah-masalah di dalam
negeri, khususnya intimidasi dari Belanda, yaitu pembentukan negara-negara
boneka. Disamping pasca terjadinya perjanjian-perjanjian ini, pihak-pihak dari RI
yang tidak puas pada perjanjian Renville kemudian membuat sebuah gerakan-
gerakan pemberontakan yang merugikan perjuangan bangsa Indonesia seperti
DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar dan PKI Madiun pimpinan Musso.
Pada perkembangan berikutnya Belanda kembali melanggar isi perjanjian
Renville dengan kembali mengagresi wilayah Indonesia terutama Yogyakarta
yang ketika itu menjadi Ibukota RI. Selain melakukan serangan militer Belanda
kemudian berhasil menangkan para pemimpin RI dan mengasingkannya ke
luar Yogyakarta. Agresi militer yang kedua ini kembali menimbulkan kecaman
dunia internasional dan semakin menumbuhkan simpati pada RI. PBB kemudian
mengusahakan sebuah badan yaitu UNCI (United Nations Commision of
Indonesia) yang pada perkembangan selanjutnya berhasil mengusahakan
beberapa perundingan antar dua negara ini.
Pada bulan April 1949 perundingan dimulai antara delegasi Indonesia yang
dipimpin oleh Mr. Mohammad Roem dan Dr. J. H. Van Royen dari pihak Belanda
di Hotel Des Indes (kini Duta Merlin), perundingan itu diawasi dan dipimpin
Marle Cochran, wakil dari Amerika Serikat dalam UNCI. Dalam perundingan ini
pihak Indonesia menuntut agar Presiden dan Wakil Presiden dikembalikan ke
Yogyakarta dan agar Belanda mengakui RI. Perundingan berjalan sangat lamban,
sehingga Drs. Hatta didatangkan dari Bangka untuk langsung berunding dengan
Dr. Van Royen. Dengan demikian pada bulan Mei 1949 dicapai persetujuan
Roem-Royen dan pemerintah Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta, setelah
cara-cara pengosongan Yogyakarta oleh tentara Belanda disepakati. Salah satu
point penting dari perundingan Roem-Royen ini adalah akan diselenggarakannya
konferensi meja bundar.
Perundingan terakhir selama masa konfrontasi Indonesia-Belanda terjadi
dipenghujung tahun 1949 yaitu konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Hag
Belanda. KMB menghasilkan beberapa keputusan penting, namun yang paling

Sejarah Nasional Indonesia VI 24


utama adalah pengakuan kedaulatan Belanda atas Indonesia. Pengakuan
kedaulatan di adakan didua tempat yaitu: Den hag, dimana Indonesia diwakili
oleh Moh. Hatta dan di Jakarta yang diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono
IX.
Realisasi lain dari KMB adalah perubahan bentuk negara RI menjadi
serikat. Pada tanggal 16 Desember 1949 diadakan Pemilihan Presiden RIS dan
pada keesokan harinya Soekarno disahkan sebagai Presiden RIS. Pada tanggal
20 Desember 1949 kabinet RIS dibentuk dan dipimpin Drs. Mohammad Hatta,
kemudian pada tanggal 23 Desember 1949 pimpinan kabinet RIS bertolak ke Den
Haag untuk menandatangani pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember
1949.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tanggal 27
Desember 1949 terbukalah babak baru sejarah Indonesia sebagai bangsa yang
sepenuhnya “merdeka”. Kemerdekaan Indonesia masih dibebani dengan sistem
federasi dan serikat yang melekat pada Indonesia sebagai konsekuensi hasil
perjanjian KMB. Pembentukan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dianggap
sebagai sisa Kolonial Belanda. Semangat kesatuan muncul dari berbagai negara
bagian dalam RIS. Rakyat Indonesia sebagian besar menolak sistem Negara
Indonesia dalam bentuk federasi. Semangat kesatuan terus berkobar kemudian
ditandai dengan banyak meleburnya beberapa negara bagian tersebut ke dalam
Republik Indonesia. Semangat kesatuan ini merebak bagai “bunga musim semi”
yang kemudian diakhiri dengan bersatunya seluruh negara federasi Indonesia
dalam Republik Indonesia di tahun 1950.
Terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadikan
seluruh elemen kenegaraan merevisi sistemnya. Konstitusi RIS dirubah menjadi
Konstitusi NKRI, UU RIS dirubah menjadi UUDS 1950, Angkatan Persenjataan
Republik Indonesia Serikat (APRIS) melebur kedalam Tentara Nasional Indonesia
(TNI).
Undang-Undang negara Kesatuan yang kemudian kita kenal sekarang
sebagai Undang-Undang Dasar negara Sementara atau UUDS tahun 1950.
Undang-undang dasar Sementara ini diselesaikan tanggal 20 Juli 1950. Kemudian
setelah itu diadakan perubahan dimasing-masing DPR, rancangan UUD negara
kesatuan diterima, baik oleh senat dan parlemen RIS maupun komite Nasional

Sejarah Nasional Indonesia VI 25


Indonesia Pusat (KNIP). Dengan adanya UUDS 1950 sebagai bentuk konstitusi
yang telah disepakati RIS dan RI, maka pada tanggal 17 Agustus 1950 secara resmi
negara RIS dibubarkan dan NKRI dibentuk untuk menjadi bentuk pemerintahan
negara Indonesia. Pengesahan NKRI sebagai sistem pemerintahan Indonesia
membuka babak baru sejarah Indonesia dalam periode demokrasi liberal hingga
tahun 1959, dan berlanjut hingga tahun 1965 yang lebih dikenal dengan istilah
Orde Lama.
Sejarah Nasional Indonesia periode 1950-1965 dari pengakuan kedaulatan
sampai dengan berakhirnya masa Orde Lama, sudah banyak ditulis. Akan tetapi
perlu disadari bahwa sifat ilmu sosial adalah dinamis dan selalu mengalami
perubahan dan perkembangan seiring dengan perkembangan dan kemajuan
bangsa Indonesia. Terutama keterbukaan dalam menulis sejarah, dulu dengan
sekarang sudah berbeda, dimana sekarang penulisan peristiwa sejarah bukan
menjadi sebuah rahasia lagi. Oleh karena adanya perubahan tersebut, maka
bermunculan pendapat dan interpretasi baru yang lebih akurat tentang
peristiwa-peristiwa sejarah.
Salah satu tujuan pembelajaran sejarah adalah menumbuhkan rasa
patriotisme dan nasionalisme penduduk suatu bangsa, termasuk di dalamnya
adalah mahasiswa selaku penerus estafet kepemimpinan di Negara Indonesia.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang sangat menghargai jasa-jasa para
pahlawannya. Sudah saatnya apabila pengajaran sejarah memiliki peran baru,
antara lain sebagai alat bagi bangsa Indonesia untuk berpikir kritis dalam
menyikapi dan memecahkan persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.
Pada mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia, diharapakan dapat memenuhi
harapan mahasiswa untuk menjadikan materi sejarah sebagai pembelajaran
yang bukan hanya berisi hafalan-hafalan, tetapi dapat pula sebagai pembentuk
watak dan karakter. Dengan demikian kita bukan hanya bangga dengan kebesaran
masa lalu, tetapi juga berpikir mengenai masalah-masalah bangsa yang harus
dipecahkan oleh kita selaku anak bangsa untuk kepentingan negara ini ke masa
yang akan datang.
Buku ajar Sejarah Nasional Indonesia VI ini terdiri dari empat belas bab,
dimana pada bab pertama merupakan pendahuluan dari materi sejarah nasional
yang mengupas konsep dasar sejarah dan sejarah singkat Indonesia pada masa

Sejarah Nasional Indonesia VI 26


sebelum kemerdekaan sampai dengan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh
Belanda. Sedangkan tiga belas bab lainnya merupakan materi pokok sejarah
masa demokrasi liberal dan demokrasi terpimpin dimana keduanya termasuk
dalam konteks Orde Lama.
Secara ringkas, isi pokok materi setiap bab pada buku ajar Sejarah Nasional
Indonesia VI ini sebagai berikut:
Bab 1, menguraikan secara singkat mengenai konsep sejarah dan
kronologis sejarah Indonesia sebelum masa kemerdekaan Indonesia dan pasca
kemerdekaan Indonesia.
Bab 2, mendeskripsikan sistem kenegaraan masa Republik Indonesia
Serikat (RIS), perancangan UUDS 1950 dan upaya kembali ke Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Bab 3, menguraikan gangguan keamanan dalam negeri Indonesia dalam
rentang waktu 1950-1959, dimana dalam tahun ini ada beberapa pemberontakan
seperti APRA, Andi Aziz, RMS, DI/TII, PRRI/PERMESTA, dan PKI.
Bab 4, membahas mengenai keadaan sosial, politik, ekonomi, dan
keamanan pada masa Demokrasi Liberal.
Bab 5, menguraikan mengenai sistem dan kebijakan ekonomi Indonesia
pada masa Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin.
Bab 6, membahas mengenai politik luar negeri Indonesia, kerjasama
Internasional, dan perpolitikan Indonesia dalam gerakan Non-Blok.
Bab 7, membahas mengenai sejarah dan pelaksanaan Konferensi Asia
Afrika dan peranan Indonesia dalam KAA.
Bab 8, membahas mengenai pemilihan umum pertama pada tahun 1955,
dan kehidupan politik Indonesia pasca Pemilu pertama.
Bab 9, membahas mengenai kembalinya dasar negara Indonesia ke UUD
1945, konsepsi Soekarno, dan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Bab 10, membahas mengenai keadaan Indonesia pada masa Demokrasi
Terpimpin. Adapun yang menjadi topik pembahasan pada bab ini adalah dalam
ruang lingkup ekonomi, sosial, politik, dan militer Indonesia.
Bab 11, menguraikan mengenai keadaan Indonesia dalam masa Demokrasi
Terpimpin, dalam bab ini akan dibahas hambatan ekonomi yang dihadapi
Indonesia, kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia, serta implikasinya

Sejarah Nasional Indonesia VI 27


terhadap pembangunan ekonomi nasional.
Bab 12, membahas mengenai konfrontasi Indonesia dengan Malaysia
serta politik luar negeri Indonesia dalam PBB.
Bab 13, membahas mengenai Partai Komunis Indonesia, pengaruh PKI
dalam aspek sosial, politik, dan militer, serta Keterlibatan PKI dalam Gerakan
Satu Oktober, dan pembersihan PKI Indonesia.
Bab 14, merupakan bab terakhir yang akan membahas mengenai
penyelesaian konflik Irian Barat antara Indonesia dan Belanda. Adapun dalam bab
ini akan dibahas mengenai bentuk perjuangan Indonesia dalam mengembalikan
Irian Barat ke NKRI dan Konfrontasi Indonesia dengan Belanda selama proses
merebut kembali Irian Barat.
Dalam mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia VI ini, penyampaian materi
perkuliahan dilakukan dengan berbagai metode atau teknik penyampaian
seperti; ceramah bervariasi, tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas setiap
empat kali pertemuan. Adapun tujuan dari pembelajaran Sejarah Nasional
Indonesia VI melalui buku ajar ini sebagai berikut:

Sejarah Nasional Indonesia VI 28


TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Secara umum setelah mengikuti perkuliahan Sejarah Nasional Indonesia VI ini,
mahasiswa diharapkan dapat memahami materi perkuliahan Sejarah Nasional Indonesia
serta mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Secara lebih rinci, setelah mempelajari
mata kuliah ini mahasiswa diharapkan akan dapat:
1. Menguraikan secara singkat sejarah nasional Indonesia sebelum masa kemerdekaan
dan revolusi fisik.
2. Menjelaskan kondisi sosial, politik, ekonomi, pertahanan, dan keamanan bangsa dan
negara Indonesia pada masa Republik Indonesia Serikat
3. Membandingkan konstitusi RIS dan UUD 1945 sebagai dasar negara Indonesia
4. Menganalisis penyebab munculnya pemberontakan-pemberontakan di Indonesia
selama tahun 1950-1965.
5. Menguraikan keadaan Indonesia pada masa demokrasi liberal
6. Menjelaskan kebijakan pemerintah Indonesia dalam mencapai kestabilan ekonomi
dalam negeri tahun 1950-1965.
7. Menganalisis politik bebas aktif indonesia selama tahun 1950-1965
8. Mendeskripsikan latar belakang dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika tahun 1955.
9. Menguraikan pelaksanaan Pemilu I 1955 sebagai langkah perbaikan politik dalam
negeri Indonesia
10. Menganalisis faktor dikeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai awal perubahan
sistem ketatanegaraan Indonesia
11. Mendeskripsikan kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa Demokrasi
Terpimpin di Indonesia Tahun 1959-1965
12. Menguraikan Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia (1963-1965)
13. Menganalisis faktor yang menjadikan PKI partai politik berpengaruh di Indonesia
masa orde lama
14. Menjelaskan secara kronologi perjuangan Indonesia mengembalikan Irian Barat
kedalam NKRI dan menerapkan nilai - nilai nasionalisme, perjuangan, pengorbanan,
dan kebangsaan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Urutan kegiatan instruksional yang digunakan untuk mencapai hasil


belajar secara maksimal sesuai dengan tujuan, dilakukan dengan tahapan-
tahapan antara lain; Pendahuluan, Penyajian Materi dan tanya jawab, Penutup.
Adapun tahapan penyajian materi berupa; uraian materi perkuliahan dengan
penekanan yakni lebih banyak pemberian tugas. Metode yang digunakan dalam
kuliah Sejarah Nasional Indonesia VI adalah ceramah tatap muka, pemberian
tugas serta diskusi, serta pembelajaran berbasis Virtual Museum dan Elearning
SNI V untuk menunjang sumber belajar yang akan digunakan oleh mahasiswa.

Sejarah Nasional Indonesia VI 29


Pemberian tugas, dilakukan dengan memberikan sesuai acuan sub pokok
bahasan yang sudah dibagi mahasiswa dalam beberapa kelompok dan terdiri
atas tiga sampai tujuh orang perkelompok. Adapun tujuan instruksional khusus
pada bab ini adalah sebagai berikut:

BAB Pendahuluan

TIU BAB 1
Menguraikan secara singkat sejarah nasional Indonesia sebelum masa kemerdekaan dan
revolusi fisik.

Setelah mempelajari BAB I, Mahasiswa diharapkan dapat:


1. Menguraikan secara singkat kronologi sejarah nasional Indonesia pra-Proklamsi
kemerdekaan Indonesia.
2. Mendeskripsikan perjuangan kemerdekaan Indonesia menjelang proklamasi
kemerdekaan Indonesia.
3. Menganalisis perjuangan Indonesia dalam mendapatkan pengakuan kedaulatan oleh
Belanda.

Setelah mempelajari buku ajar ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan


garis besar sejarah Indonesia sejak pengakuan kedaulatan Indonesia oleh
Belanda, sistem negara RIS, upaya kembali ke NKRI, pemberontakan yang terjadi
selama rentang tahun 1950-1965, konfrontasi dengan Malaysia dan Belanda,
PKI, dan upaya pengembalian Irian Barat ke Indonesia.

Sejarah Nasional Indonesia VI 30


studi kasus

Uji Analisa 1 BAB 1


Analisalah konsep dan tujuan dibentuknya negara Republik Indonesia Serikat oleh
pemerintah Indonesia!
___________________________________________________________

Jawab :

Sejarah Nasional Indonesia VI 31


RANGKUMAN

Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan bermunculannya


organisasi-organisasi intelektual yang hadir selama rentang periode tahun 1908
hingga kejatuhan belanda tahun 1942. Organisasi-organiasasi tersebut memiliki
andil yang besar dalam pembentukan karakter politik bangsa Indonesia pada
periode kemerdekaan, dimana lewat organisasi-organisasi seperti Budi Utomo,
SI, IP, PNI, GAPI, dll menciptakan para pemimpin-pemimpin yang ikut andil dalam
kemerdekaan Indonesia pasca pendudukan Jepang.
Selama masa periode pendudukan Jepang, organisasi yang ada pada masa
pemerintah Kolonial Belanda memang dihapuskan. Namun para pemimpinya
tetap punya andil dalam organisasi-organisasi bentukan jelang seperti PUTERA,
Jawa Hokokai, MIAI, dan Masyumi. Disamping itu pada masa ini dibentuk
pula beberapa organisasi semi-militer yang nantinya sangat berguna untuk
perang kemerdekaan dan perkembangan dunia militer Indonesia. Di akhir
pendudukannya Jepang sempat menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia
dengan membentuk BPUPKI dan PPKI.
Badan baru ini bermaksud menyelidiki masalah tata pemerintahan,
ekonomi, politik dalam rangka pembentukan negara merdeka. Upacara peresmian
dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945 di Pejambon yang dihadiri oleh pejabat-
pejabat tinggi Jepang dan diikuti penaikan Bendera Merah Putih. Beberapa hasil
kongkret dari pembentukan dua organisasi ini seperti: perumusan dasar negara,
perumusan undang-undang, dan pembentukan beberapa aparatur negara pasca
kemerdekaan.
Disamping itu kebanyakan dari anggota badan ini juga punya peran aktif dan
signifikan dalam perumusan dan peristiwa disekitar proklamasi 17 agustus 1945
yang sebelumnya ditandai dengan peristiwa Rengasdengklok. Pasca peristiwa
pembacaan proklamasi Indonesia kemudian memasuki masa perjuangan untuk
mempertahankan kemerdekaan dimulai dari tahun 1945-1949, diwarnai dengan
pengisian perlengkapan sebagai negara merdeka dan perjuangan bersenjata
serta berbagai diplomasi antara bangsa Indonesia dengan pihak Belanda.
Diplomasi itu direalisasikan dalam perjanjian-perjanjian yang telah disepakati
dengan Belanda.
Sejarah Nasional Indonesia VI 32
Konfrontasi dengan Belanda berakhir setelah diakuinya kemerdekaan
Indonesia oleh Belanda, dengan salah satu syarat bahwa Indonesia harus menjadi
negara serikat. Namun karena tidak cocok, RIS kemudian kembali menjadi
NKRI. Terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadikan
seluruh elemen kenegaraan merevisi sistemnya. Konstitusi RIS dirubah menjadi
Konstitusi NKRI, UU RIS dirubah menjadi UUDS 1950, Angkatan Persenjataan
Republik Indonesia Serikat (APRIS) melebur kedalam Tentara Nasional Indonesia
(TNI).
Pada periode tahun 1950-1959 yang terkenal dengan masa demokrasi
liberal, undang-undang yang dipakai oleh RI adalah UUDS 1950. Undang-undang
dasar Sementara ini diselesaikan tanggal 20 Juli 1950. Demokrasi liberal sendiri
kemudian tidak bertahan lama akibat goncangan-goncangan baik yang sifatnya
internal politis maupun gerakan-gerakan pemberontakan di daerah. Presiden
kemudian mengambil alih pimpinan kemudian mencetuskan ide tentang
kepemimpinan ala rumusan dia yang terkenal dengan Dekrit Presiden 5 Juli
1959. Dekrit ini menghasil pemerintahan yang baru yang lebih tersentral pada
Presiden Soekarno, masa ini juga terkenal dengan istilah Orde Lama.

GLOSARIUM

Babad Sebutan sejenis teks dari Jawa dan Bali yang


berhubungan dengan sejarah.
Belanda Sentries Penulisan sejarah Indonesia dalam sudut pandang
penulis Belanda.
Diplomasi Mengelola suatu urusan untuk kepentingan pihak
tertentu melalui wakilnya.
Eropa Sentries Penulisan sejarah Indonesia dalam sudut pandang
penulis Eropa/Barat.
Indonesia Sentries Penulisan sejarah Indonesia dalam sudut pandang
penulis Indonesia.
Intervensi Campur tangan pihak lain yang berlebihan dalam urusan
politik, ekonomi, sosial, dan budaya
Nederland Indie Hindia-Belanda

Sejarah Nasional Indonesia VI 33


latihan

Berikut ini terdapat beberapa butir soal latihan yang perlu mahasiswa
kerjakan, dengan tujuan agar mahasiswa dapat lebih memahami dan menguasai
materi mengenai sejarah nasional Indonesia sesuai dengan materi yang telah
diberikan dan diuraikan secara ringkas dalam Bab ini. Adapun soal essay
dikerjakan pada kertas double folio dengan maksimal jawaban per soal sebanyak
500 kata.
Selamat mengerjakan.
ESSAY
1. Bagaimanakah perkembangan historiografi Indonesia pada awal abad ke-20.
Jelaskan dengan analisis anda.
2. Bagaimana peranan organisasi rakyat yang terbentuk dalam wadah
“pergerakan nasional” dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di
awal abad ke- 20.
3. Jelaskan proses proklamasi kemerdekaan Indonesia secara jelas dan lugas.
4. Jelaskan bagaimana upaya anda sebagai penerus bangsa memaknai
perjuangan pahlawan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan
Indonesia.
5. Jelaskan menurut pendapat anda mengenai fungsi pembelajaran
Sejarah Indonesia dalam Pendidikan Indonesia serta implikasinya dalam
perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ben Anderson. 1988. Revoloesi Pemoeda Pendudukan Jepang dan Perlawanan
di Jawa 1944-1946. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Asmadi. 1985. Pelajar Pejuang. Jakarta: Sinar Harapan
Adam, Cindy. 1988. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta:
CV.H.Masagung.

Sejarah Nasional Indonesia VI 34


DAFTAR PUSTAKA

Hatta, Mohammad. 1982. Sekitar Proklamasi. Jakarta: Tintamas.


Imran, Amrin dkk, 1971. Sedjarah Perkembangan Angkatan Darat. Jakarta :
Pusat Sejarah ABRI, Departemen Pertahanan Keamanan.
Kahin, George McTurnan. 1995. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia.
Jakarta: Sebelas Maret University Press Bekerja Sama dengan Pustaka
Sinar Harapan.
Kasutoshi, D.P. Hando. 1971. Hari-hari Terpanjang Sebelum Penyerahan
Jepang. Jakarta: PT Kinta.
Kementrian Penerangan. 1953. Republik Indonesia, Provinsi Sulawesi. Jakarta.
Loebis, Aboe Bakar. 1995. Kilas Balik Revolusi, Kenangan, Pelaku, Dan Saksi.
Jakarta: Penerbit UI-PRESS.
Lubis, Prof. Dr. Nina H. , M.S., dkk. 2005. PETA, Cikal Bakal TNI, Bandung: MSI
Cab. Jabar.
Malik, Adam .1975. Riwayat Proklamasi 17 Agustus 1945. Jakarta: Wijaya
Marwati.Djoened dan Nugroho.Notosusanto. 1948. Sejarah Nasional Indonesia
VI. Jakarta: Balai Pustaka
Moedjanto, G. 1988. Indonesia Abad ke 20, Jilid 1. Yogyakarta: Kansius.
Mustopo, M. Habib. 2011. Sejarah 3. Jakarta: Yudhistira.
Nasution, A.H. 1968. Tentara Nasional Indonesia Jilid I. Djakarta : Ganeco.
Notosusanto, Nugroho. 1979. Tentara PETA Zaman Pendudukan Jepang. Jakarta:
Gramedia.
Rahardjo, Pamoe. 1995. Badan Keamanan Rakyat : Cikal Bakal TNI. Jakarta: PETA
PRESS
Roem, Moh. 1972. Bunga Rampai dari Sejarah Jilid I. Jakarta: Bulan Bintang.
Sagan, Carl. (online). Sejarah Lahirnya Pancasila sebagai Ideologi dan Dasar
Negara. http://indonesiaindonesia.com/f/101937-sejarah-lahirnya-
pancasila-ideologi-dasar-negara/diakses pada tanggal 5 September
2016.
Soebantardjo. 1960. Sari Sedjarah. Jogjakarta: Bopkri.
Soekarno. 1983. Indonesia Menggugat. Jakarta: Inti Idayu Press

Sejarah Nasional Indonesia VI 35


Vickers, Adrian. 2011. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Insan Madani.
Wild, Collind. 1986. Gelora Api Revolusi sebuah Antologi Sejarah. Jakarta:
Gramedia.
Yasni, Z. 1979. Bung Hatta Menjawab. Jakarta: Gunung Agung.

Sejarah Nasional Indonesia VI 36


2
REPUBLIK INDONESIA SERIKAT
DAN KEMBALI KE NKRI

Sejarah Nasional Indonesia VI 37


Keterangan:
11. Menjelaskan Sistem Negara
1. Memahami Materi Sejarah Nasional Kesatuan Republik Indonesia
Indonesia I 12. Kehidupan Berbangsa dan
2. Memahami Materi Sejarah Nasional Bernegara Masa RIS
Indonesia II 13. Menjelaskan Sistem Negara
3. Memahami Materi Sejarah Nasional Indonesia Berdasarkan UUDS 1950
Indonesia III 14. Menjelaskan Keadaan Sosial
4. Memahami Materi Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia Pada Masa
Indonesia IV Demokrasi Liberal
5. Memahami Materi Sejarah Nasional 15. Menjelaskan Sistem Ekonomi
Indonesia V Indonesia Masa Demokrasi Liberal
6. Menjelaskan Hasil Konferensi Meja 16. Menjelaskan Usaha Pemerintah
Bundar dan Pembentukan Republik Indonesia dalam Memperbaiki
Indonesia Serikat (RIS) Ekonomi Nasional
7. Menjelaskan Keadaan Sosial, 17. Menjelaskan Berbagai
Politik, Ekonomi, dan Hankam Masa pemberontakan di Indonesia Masa
Republik Indonesia Serikat Demokrasi Liberal dan Terpimpin
8. Menjelaskan Konsep dan Sistem 18. Menjelaskan Keadaan Militer
Pemerintahan RIS Indonesia Masa Demokrasi Liberal
9. Membandingkan Konstitusi RIS dan 19. Menjelaskan Ketidakstabilan Politik
UUD 1945 Dalam Negeri Indonesia
10. Menjelaskan Faktor Penyebab 20. Menjelaskan Pelaksanaan Pemilu I
Kembalinya RIS Menjadi NKRI Tahun 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 38


21. Menjelaskan Politik Luar Negeri 31. Menjelaskan Kebijakan Politik
Indonesia Pemerintah Indonesia Masa
22. Menjelaskan Keadaan Sosial Demokrasi Terpimpin
Ekonomi Indonesia Masa Demokrasi 32. Menjelaskan Perpolitikan PKI di
Liberal Indonesia (1960-1965)
23. Menjelaskan Kehidupan Sosial 33. Menjelaskan Politik Konfrontasi
Budaya Pada Masa Demokrasi Indonesia dengan Malaysia
Liberal 34. Menjelaskan Penyebab
24. Menjelaskan Keadaan Hankam Keluarnya Indonesia dari PBB dan
Indonesia Masa Demokrasi Liberal Konferensi Asia Afrika
25. Menjelaskan Perpolitikan Indonesia 35. Menjelaskan Upaya Pembebasan
Masa Demokrasi Liberal Irian Barat
26. Menjelaskan Keadaan Indonesia 36. Menjelaskan Peristiwa Gerakan
Masa Demokrasi Liberal 30 September
27. Menjelaskan Konsepsi Soekarno 37. Menjelaskan Keadaan Indonesia
28. Menjelaskan penyebab Masa Demokrasi Terpimpin
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 38. Menjelaskan Politik Indonesia
1959 Masa Demokrasi Terpimpin
29. Berlakunya Kembali UUD 1945 39. Menjelaskan Kehidupan
30. Menjelaskan Deklarasi Ekonomi Berbangsa dan Bernegara
(DEKON) Indonesia Masa Orde Lama

Sejarah Nasional Indonesia VI 39


Pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai garis besar
sejarah Indonesia dari awal abad masehi sampai dengan
pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tanggal
27 Desember 1949. Setelah pengakuan kemerdekaan
oleh Belanda sistem pemerintahan Indonesia mengalami
perubahan sebagai konsekuensi hasil perundingan dalam
Konferensi Meja Bundar. Salah satu bentuk perubahan itu adalah berubahnya
sistem pemerintahan Indonesia dari presidensiil menjadi parlementer. Bentuk
negara juga berubah dimana sebelumnya berbentuk Negara kesatuan (Republik
Indonesia) menjadi sebuah negara federasi (Republik Indonesia Serikat) sesuai
dengan hasil perundingan tersebut. Perubahan sistem Negara Indonesia ini
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan rakyat Indonesia.

Tujuan Instruksional Umum (TIU)

1. Menjelaskan kondisi sosial, politik, ekonomi, pertahanan, dan


keamanan bangsa dan negara Indonesia pada masa Republik Indonesia
Serikat
2. Membandingkan konstitusi RIS dan UUD 1945 sebagai dasar negara
Indonesia

Setelah mempelajari Bab II, Mahasiswa diharapkan dapat:


1. Menjelaskan konsep negara Republik Indonesia Serikat
2. Menjelaskan sistem pemerintahan Republik Indonesia Serikat
3. Membandingkan antara Konstitusi RIS dengan UUDS 1950
4. Menganalisis faktor penyebab Republik Indonesia Serikat kembali ke
NKRI
5. Membandingkan gerakan APRA, Andi Aziz dengan RMS
6. Menjelaskan proses penyusunan UUDS 1950

Berikut merupakan pembahasan mengenai kondisi Indonesia dalam


sistem Republik Indonesia Serikat.

Sejarah Nasional Indonesia VI 40


1 Republik Indonesia Serikat

a. Konferensi Meja Bundar


Perjalanan negara Republik Indonesia tidak luput dari tekanan pihak
Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia. Belanda berusaha memecah
belah bangsa Indonesia dengan cara membentuk negara negara ”boneka”,
seperti Negara Sumatera Timur, Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan,
dan Negara Jawa Timur di dalam negara RepubIik Indonesia. Bahkan, Belanda
kemudian melakukan agresi atau pendudukan terhadap ibu kota Jakarta, yang
dikenal dengan Agresi Militer I pada tahun 1947 dan Agresi Militer II atas kota
Yogyakarta pada tahun 1948.
Untuk menyelesaikan pertikaian Belanda dengan RepubIik Indonesia,
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turun tangan dengan menyelenggarakan
Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag (Belanda) tanggal 23 Agustus – 2
November 1949. Konferensi ini dihadiri oleh wakil-wakil dari RepubIik Indonesia,
BFO (Bijeenkomst voor Federal Overleg), yaitu gabungan negara-negara bagian
yang dibentuk Belanda), dan Belanda, serta sebuah komisi PBB untuk Indonesia.
KMB tersebut menghasilkan tiga buah persetujuan pokok, yaitu:
1. Didirikannya Negara Republik Indonesia Serikat;
2. Penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat; dan
3. Didirikan uni antara RIS dengan Kerajaan Belanda.
Perubahan bentuk negara dari negara kesatuan menjadi negara serikat
mengharuskan adanya penggantian UUD. Oleh karena itu, disusunlah naskah
UUD Republik Indonesia Serikat. Rancangan UUD tersebut dibuat oleh delegasi
RI dan delegasi BFO pada Konferensi Meja Bundar. Setelah kedua belah pihak
menyetujui rancangan tersebut, maka mulai 27 Desember 1949 diberlakukan
suatu UUD yang diberi nama Konstitusi Republik Indonesia Serikat. Konstitusi
tersebut terdiri atas Mukadimah yang berisi 4 alinea, Batang Tubuh yang berisi 6
bab dan 197 pasal, serta sebuah lampiran.
Mengenai bentuk negara dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (1) Konstitusi RIS
yang berbunyi “Republik Indonesia Serikat yang merdeka dan berdaulat adalah

Sejarah Nasional Indonesia VI 41


negara hukum yang demokratis dan berbentuk federasi.” Dengan berubah
menjadi negara serikat (federasi), maka di dalam RIS terdapat beberapa negara
bagian yang masing-masing memiliki kekuasaan pemerintahan di wilayah
negara bagiannya. Negara-negara bagian itu adalah: Negara Republik Indonesia,
Indonesia Timur, Pasundan, Jawa Timur, Madura, Sumatera Timur, dan Sumatera
Selatan. Selain itu, terdapat pula satuan-satuan kenegaraan yang berdiri sendiri,
yaitu: Jawa Tengah, Bangka, Belitung, Riau, Kalimantan Barat, Dayak Besar,
Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara, dan Kalimantan Timur. Sementara itu,
di bidang militer juga telah tercapai persetujuan, yaitu: (1) Angkatan Perang
RIS adalah angkatan perang nasional. Presiden RIS adalah Panglima Tertinggi
Angkatan Perang RIS; (2) Pertahanan Negara adalah semata-mata hak Pemerintah
RIS; negara-negara bagian tidak akan memiliki angkatan perang sendiri; (3)
Pembentukan angkatan perang RIS adalah semata-mata untuk kedaulatan
bangsa Indonesia. Angkatan perang RIS akan dibentuk RIS dengan inti angkatan
perang RI. (4) Pada masa permulaan RIS menteri pertahanan dapat merangkap
sebagai Panglima Besar APRIS.
Pada tanggal 30 Juli 1949 Konferensi antara Indonesia dilanjutkan di Jakarta
dan dipimpin oleh PM Hatta. Konferensi ini membahas masalah pelaksanaan dari
pokok persetujuan yang telah disepakati di Yogyakarta. Kedua belah pihak setuju
untuk membentuk panitia Persiapan Nasional yang bertugas menyelenggarakan
suasana tertib sebelum dan sesudah Konferensi Meja Bundar (KMB). Sesudah
berhasil menyelesaikan masalahnya sendiri dengan musyawarah di dalam
Konferensi Antar Indonesia, kini bangsa Indonesia sebagai keseluruhan siap
menghadapi KMB. Delegasi Indonesia terdiri dari Dr. Mohammad Hatta, Mr. Moh
Roem, Prof. Mr. Supomo, dr. J. Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo, Ir. Djuanda, dr.
Sukiman, Mr. Suyono Hadinoto, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Abdul Karim
Pringgodigdo, Kol. T.B. Simatupang, dr. Mr. Sumardi.
Sedangkan dari BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II dari Pontianak. Pada
tanggal 23 Agustus 1949, KMB dimulai di Den Haag dan berlangsung sampai
tanggal 2 November 1949. Hasil kesepakatan tersebut kemudian diajukan kepada
KNIP untuk diratifikasi. Berdasarkan hasil sidang KNIP yang berlangsung tanggal
6 Desember 1949, berhasil menerima KMB dengan 226 pro lawan 62 kontra,
dan 31 meninggalkan sidang. Dengan demikian, hasil KMB dapat dinyatakan

Sejarah Nasional Indonesia VI 42


diterima untuk diratifikasi atau disahkan. Sebagai realisasi dari KMB, pada
tanggal 15 Desember 1949 diadakan pemilihan Presiden RIS. Calon yang diajukan
adalah Ir. Soekarno dan terpilih sebagai Presiden RIS pada tanggal 16 Desember
1949. Selanjutnya pada tanggal 17 Desember Presiden RIS diambil sumpahnya.
Pada tanggal 20 Desember 1949 Kabinet RIS yang pertama di bawah pimpinan
Drs. Moh. Hatta selaku Perdana Menteri, dilantik oleh Presiden. Akhirnya pada
tanggal 23 Desember delegasi RIS yang dipimpin oleh Drs. Mohammad Hatta
berangkat ke Netherland untuk menandatangani akte “penyerahan” kedaulatan
dari Pemerintah Belanda.
Tepat pada tanggal 27 Desember 1949 di Indonesia dan Negeri Belanda
terjadi upacara penandatanganan naskah “penyerahan” kedaulatan dari
Pemerintah Belanda kepada RIS. Istilah penyerahan perlu diberi tanda kutip
karena sebenarnya Belanda tidak perlu menyerahkan kedaulatan kepada
Republik Indonesia karena negara ini telah memiliki kedaulatannya secara de jure
pada tanggal 17 Agustus 1945. “Penyerahan” kedaulatan berarti secara formal
pemerintah Belanda telah mengakui kedaulatan Indonesia. Dengan demikian,
perang kemerdekaan yang berlangsung sejak tahun 1945 telah berakhir berkat
perjuangan militer serta diplomasi yang terus-menerus dilakukan oleh bangsa
Indonesia.

b. Keadaan Politik Indonesia Pasca Konferensi Meja Bundar


Pada tanggal 23 Agustus 1949 Indonesia dan Belanda mengadakan
perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, perundingan tersebut
berlangsung sampai tanggal 27 Desember 1949 yang salah satu poinnya
menghasilkan terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS). Negara Republik
Indonesia Serikat (RIS) terbagi menjadi 16 negara bagian, dimana dari 16 negara
bagian tersebut terdapat 4 negara bagian dengan jumlah penduduk paling
banyak dan wilayah yang luas yaitu, Negara Sumatera Timur, Negara Sumatera
Selatan, Negara Pasundan, dan Negara Indonesia Timur. 1
Upacara penyerahan kedaulatan Indonesia terjadi di dua tempat yaitu di
Belanda dan Jakarta. Upacara penyerahan kedaulatan di Belanda dihadiri oleh
Moh. Hatta selaku Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada tanggal

1 Nino Oktorino et.al, Ensiklopedia Sejarah dan Budaya, (Jakarta: PT Lentera Abadi, 2009). h. 232.

Sejarah Nasional Indonesia VI 43


23 Desember 1949, Moh. Hatta menuju ke Belanda untuk menandatangani akta
pengakuan kedaulatan dari pihak Belanda. Kemudian pada tanggal 27 Desember
1949 terjadi penandatanganan kedaulatan Indonesia di Belanda sehingga secara
de facto dan de jure Belanda sudah mengakui kedaulatan Indonesia.2

Gambar 2.1 Moh. Hatta selaku Perdana Menteri RIS dan Ratu Juliana ketikaupacara
penyerahan kedaulatan Indonesia di Belanda. (Sumber: www.wikipedia.com)
Pada upacara penyerahan kedaulatan
Indonesia di Belanda, Ratu Belanda yaitu Ratu
reminder Juliana mengatakan bahwa “kini kita tidak
Moh. Hatta mengatakan
lagi berdiri berhadap-hadapan satu sama lain,
bahwa “mulai kini kebahagian
kedua bangsa, Indonesia dan melainkan berdiri berjajar, meskipun masih
Belanda, akan berkembang”. penuh dengan penderitaan dan tanda-tanda
Ratu Juliana mengatakan
luka”. Sedangkan Moh. Hatta mengatakan
bahwa “kini kita tidak lagi
berdiri berhadap-hadapan bahwa “mulai kini kebahagian kedua bangsa,
satu sama lain, melainkan Indonesia dan Belanda, akan berkembang”.3
berdiri berjajar, meskipun Selain di Belanda, pada tanggal yang sama
masih penuh dengan
di Jakarta juga terjadi penandatanganan
penderitaan dan tanda-tanda
luka. kedaulatan Indonesia yang dilakukan oleh Sri
Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Tinggi
Mahkota A.H.J. Lovink. Pada upacara ini hadir beberapa delegasi dari negara
sahabat yaitu Arab Saudi, Pakistan, India, Birma, Myanmar, Filiphina, dan lain-
lain. Artinya bahwa Belanda sudah mengakui kemerdekaan penuh Indonesia
2 Rudini et. al., Profil Provinsi Republik Indonesia. (Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, 1992),
hh. 21-22
3 DR. A.H. Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid II Periode Konferensi Meja Bundar,
(Bandung: Angkasa Bandung. 1993), h. 396.

Sejarah Nasional Indonesia VI 44


dan semua daerah bekas Hindia-Belanda adalah daerah berdaulat yang sudah
diakui kecuali daerah Irian Barat.4

Gambar 2.2 Sultan Hamengku Buwono IX bersama WTM A.H.J. Lovink menandatangani akta
penyerahan kedaulatan Indonesia di Jakarta. (Sumber: www.wikipedia.com)
Selain proses penandatanganan pengakuan kedaulatan Indonesia, di
Istana Jakarta juga terjadi prosesi penurunan bendera triwarna Belanda yaitu
merah, putih dan biru dan penaikan bendera Merah Putih Indonesia. Regu
Koninklijk Leger (KL atau tentara reguler Belanda) menurunkan bendera Belanda
dan regu TNI menaikkan Bendera Indonesia di atas Istana Jakarta. Momen ini
sangat ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia yang memenuhi sepanjang jalan
raya dan lapangan depan istana bahkan para pejabat pemerintahan tampak
memenuhi halaman Istana Jakarta karena peristiwa ini merupakan peristiwa
yang sangat bersejarah dan tidak mungkin terjadi dua kali.5

Gambar 2.3 Upacara penurunan bendera Belanda dan


penaikan bendera Indonesia diatas Istana Jakarta. (Sumber:
Ny. Yusni Y. Bahar dkk, 1992, Merdeka atau Mati, Jakarta:
CV PD dan Ikhwan)
4 Marwati Djonoed Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, (Jakarta:
Balai Pustaka), h. 272.
5 Ny. Yusni Y. Bahar et.al, Merdeka atau Mati, (Jakarta: CV PD dan Ikhwan, 1992). h. 157.

Sejarah Nasional Indonesia VI 45


Pada 28 Desember 1949, Presiden Ir. Soekarno beserta rombongan
meninggalkan Yogyakarta kembali ke Jakarta untuk mengemban jabatan barunya
sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat. Beliau diantarkan oleh Mr. Assaat
ke Lapangan Udara Maguwo. Setibanya di Jakarta, Ir. Soekarno disambut oleh
sorak-sorai rakyat dan Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta kembali menjadi
ibu kota Indonesia setelah hampir 4 tahun ditinggalkan. 6
Pasca peristiwa tersebut diberlakukannya sistem federal dengan bentuk
negara serikat. Kondisi negara menjadi tidak kondusif, banyak kalangan politisi
yang mengklaim bahwa sistem ini tidak bisa diterima karena pengaruh kolonial
yang besar di tiap negara bagian. Disamping itu sebagian besar masyarakat
Indonesia juga menganggap bahwa sistem federal adalah penghalang bagi
tercapainya kesatuan yang utuh. Sistem ini dianggap sebagai alat Belanda untuk
mengawasi Indonesia.7

c. Bentuk Negara dan Sistem Pemerintahan


Pasca disepakatinya Konferensi Meja Bundar (KMB) maka bentuk
negara Indonesia yaitu negara federasi dengan berbagai negara bagian seperti
penjelasan sebelumnya. Pada tanggal 16 Desember 1949 terjadi sidang bersama
Parlemen dan Senat RIS yang menetapkan terpilihnya Ir. Soekarno sebagai
Presiden RIS yang pertama. Keesokan harinya tanggal 17 Desember 1949
diadakan upacara pelantikan Presiden Republik Indonesia Serikat yang pertama
di Siti Hinggil, Keraton Yogyakarta. Ir. Soekarno membentuk kabinet RIS pada
tanggal 20 Desember 1949 dengan menunjuk empat orang formatur yakni Moh.
Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX dari pihak RI, dan dua orang lainnya dari
pihak negara federal yaitu Anak Agung Gde Agung dan Sultan Hamid II. Kabinet
RIS dibawah pimpinan Moh. Hatta memerintah hingga tanggal 17 Agustus 1950.
Artinya kabinet ini hanya berusia tidak sampai satu tahun. Anggota kabinet
terdiri dari 13 orang menteri, dan 3 menteri negara, seperti yang ditampilkan
pada tabel dibawah ini.8

6 Ir. Ginanjar Kartasasmita, et.al, 30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-1949, (Jakarta: PT. Gita Karya, 1985),
h. 253.
7 Haryono Rinardi, Dari RIS Menjadi Negara RI : Perubahan Bentuk Negara Indonesia Pada 1950, Mozaik,
Vol. 12, No. 2, 2012, h.182, (diakses dari http://journal.unair.ac.id, tanggal 18 Oktober 2016).
8 Poesponegoro dan Notosusanto. op. cit., hh. 301-302.

Sejarah Nasional Indonesia VI 46


Gambar 2.4 Ir. Soekarno ketika dilantik Gambar 2.5 Moh. Hatta mengucapkan Sumpah
menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat Menteri RIS dihadapan Ir. Soekarno.(Sumber:
yang pertama. (Sumber : Ny. Yusni Y. Bahar Ny. Yusni Y. Bahar dkk, 1992, Merdeka atau
dkk, Merdeka atau Mati, CV PD dan Ikhwan, Mati, CV PD dan Ikhwan, Jakarta.
Jakarta)

Tabel 2.1 Daftar nama-nama menteri di dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat

No Nama Menteri Jabatan Asal Partai

1 Drs. Moh Hatta Perdana Menteri -


Drs. Moh Hatta
2 Menteri Luar Negeri -
(sementara)
3 Anak Agung Gde Agung Menteri Dalam Negeri
Sultan Hamengku Buwono
4 Menteri Pertahanan -
IX
5 Prof. Mr. Supomo Menteri Kehakiman -
6 Arnold Mononutu Menteri Penerangan PNI
Mr. Sjafruddin
7 Menteri Keuangan Masyumi
Prawiranegara
8 Ir. Djuanda Menteri Kemakmuran Masyumi
Menteri Perhubungan,
9 Ir. Herling Laoh Tenaga Kerja & PNI
Pekerjaan Umum
10 Mr. Wilopo Menteri Perburuhan PNI
Mr. Moh. Kosasih
11 Menteri Sosial -
Purwanegara

Sejarah Nasional Indonesia VI 47


12 Dr. Abu Hanifah Menteri PPK Masyumi
13 K.H Wahid Hasjim Menteri Agama Masyumi
14 Dr. J. Leimena Menteri Kesehatan Parkindo
15 Sultan Hamid II* -
Menteri-Menteri
16 Mr. Moh. Roem** Masyumi
Negara
17 Dr. Soepomo -

Catatan :
*Sultan Hamid II dipecat 5 April 1950 karena terlibat dalam Gerakan Westerling. Sebagai Menteri
Negara ia tidak diganti.
**Mr. Moh. Roem menjadi Komisaris Agung RIS di Belanda mulai 19 Januari 1950. Sebagai
Menteri Negara ia tidak diganti.
(Sumber : Deliar Noer, 1990, Moh. Hatta : Biografi Politik, Jakarta: LP3ES)

Kabinet RIS disebut juga dengan zaken kabinet yaitu kabinet yang
mengutamakan keahlian anggotanya bukan kabinet koalisi yang bersandar pada
kekuatan partai. Dari di tabel sebelumnya, bisa dilihat bahwa ada beberapa
menteri yang tidak mempunyai partai tetapi dianggap punya kemampuan yang
profesional. Sedangkan menteri-menteri yang berasal dari partai politik pun
bukan orang sembarangan, mereka adalah orang-orang yang punya kemampuan
hebat dalam bidangnya. Anggota-anggota Kabinet RIS sebagian besar adalah
pendukung unitarisme (ajaran (paham, kecenderungan) yang menginginkan
bentuk negara kesatuan), hanya Sultan Hamid II dan Anak Agung Gede yang
mendukung sistem federal.9

Gambar 2.6 Presiden RIS Ir. Soekarno dan Perdana Menteri RIS Moh. Hatta beserta para
anggota kabinet RIS. (Sumber: . Yusni Y. Bahar dkk, Merdeka atau Mati, CV PD dan Ikhwan,
Jakarta)
9 Ibid., h. 301-302.

Sejarah Nasional Indonesia VI 48


Adapun program kerja kabinet yang telah dirancang adalah sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan supaya pemindahan kekuasaan ke tangan bangsa
Indonesia di seluruh Indonesia terjadi dengan seksama, mengusahakan
reorganisasi KNIL dan pembentukan angkatan perang RIS, dan pengembalian
tentara Belanda ke negerinya dalam waktu yang secepatnya.
2. Menyelenggarakan ketentraman umum, supaya dalam waktu yang sesingkat-
singkatnya terjamin berlakunya hak-hak demokrasi dan terlaksananya dasar-
dasar hak manusia dan kemerdekaannya.
3. Mengadakan persiapan untuk dasar hukum, cara bagaimana rakyat
menyatakan kemauannya menurut asas-asas Undang-Undang Dasar RIS,
dan menyelenggarakan pemilihan umum untuk Konstituante.
4. Berusaha memperbaiki keadaan ekonomi rakyat, keadaan keuangan,
perhubungan, perumahan dan kesehatan, mengadakan persiapan untuk
jaminan sosial dan penempatan tenaga kembali ke dalam masyarakat,
mengadakan peraturan tentang upah minimum, pengawasan pemerintah
atas kegiatan ekonomi agar kegiatan itu terwujud kepada kemakmuran
rakyat seluruhnya.
5. Menyempurnakan perguruan tinggi sesuai dengan keperluan masyarakat
Indonesia dan membangun pusat kebudayaan nasional, mempergiat
pemberantasan buta huruf dikalangan masyarakat.
6. Mengusahakan penyelesaian masalah Irian dalam setahun ini dengan jalan
damai.
7. Menjalankan politik luar negeri yang memperkuat kedudukan RIS dalam
dunia internasional dengan memperkuat cita-cita perdamaian dunia dan
persaudaraan bangsa-bangsa, hal ini melalui beberapa jalan yaitu:
a. Memperkuat perhubungan moril, politik dan ekonomi antara negara-
negara Asia Tenggara.
b.Menjalankan politik dalam Uni, agar supaya Uni ini berguna bagi
kepentingan RIS.
c. Berusaha supaya RIS menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.10
Pada masa Kabinet RIS juga ditetapkan pemakaian lambang negara yaitu
Burung Garuda dengan tulisan Bhinneka Tunggal Ika yang ditetapkan pada

10 Deliar Noer, Mohammad Hatta : Biografi Politik, (Jakarta: LP3ES, 1990). hh. 375-376.

Sejarah Nasional Indonesia VI 49


tanggal 11 Februari 1950. Sebenarnya lambang ini sudah direncanakan oleh
Panitia Negera, menurut bagian III pasal 3 UUD Sementara. Berikut adalah
makna dibalik lambang tersebut :
1. Burung Garuda melambangkan tenaga pembangunan,
2. Dileher Garuda tergantung sebuah perisai yang berisi lambang dasar negara
yaitu Pancasila,
3. Sayap yang berjumlah 17 helai bulu melambangkan tanggal kemerdekaan,
4. Ekor yang berjumlah 8 bulu melambangkan bulan kemerdekaan,
5. Bulu Leher yang berjumlah 45 melambangkan tahun kemerdekaan, dan
6. Kedua kaki garuda mencengkeram pita bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika”
yang berarti “Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Maknanya
walaupun Indonesia terdiri dari beraneka ragam macam perbedaan, tetapi
tetap satu yaitu Indonesia.11

Gambar 2.7 Lambang Negara


Indonesia, Pancasila. (Sumber: Ny.
Yusni Y. Bahar dkk, Merdeka atau
Mati, Jakarta: CV PD dan Ikhwan)

d. Sistem Federasi dalam Negara Indonesia


Federasi merupakan bentuk negara yang didalamnya terdapat pembagian
kekuasaan antara pemerintah pusat dengan unsur-unsur kesatuannya (provinsi,
negara bagian, wilayah, kawasan atau republik). Kedaulatan ditandatangani
oleh pemerintah federal. Negara bagian memiliki kekuasaan yang lebih besar

11 Bahar et. al, Op.Cit. hh. 175-176

Sejarah Nasional Indonesia VI 50


mengatur penduduknya. Kekuasaan pada negara federasi diatur dalam konstitusi
federal. Ciri-cirinya:
1. Kepala negara dipilih oleh rakyat dan bertanggung jawab terhadap
rakyat.
2. Tiap-tiap negara bagian memiliki kekuasaan asli tetapi tidak memiliki
kedaulatan.
3. Kepala negara memiliki hak veto yang diajukan parlemen.
4. Tiap-tiap negara bagian memiliki wewenang untuk menyusun UUD
sendiri asalkan sejalan dengan pemerintah pusat.
5. Pemerintah pusat memiliki kedaulatan terhadap negara-negara bagian
untuk urusan luar dan urusan dalam.
Negara-negara dengan bentuk federasi antara lain Amerika Serikat,
Malaysia, India, dan Australia. Dalam sejarahnya, Amerika memiliki 13 koloni
bekas jajahan Inggris. Koloni-koloni tersebut telah sepakat untuk membentuk
sebuah negara federasi. Di Amerika, negara pusat punya wewenang untuk
mencetak uang dan mengenai pertahanan negara bagian menentukan hak dan
kewajiban.
Indonesia pernah menjadi federasi bentukan Belanda pada tahun 1949,
namun hanya bertahan tujuh bulan saja. Banyak rakyat bersuara agar Indonesia
kembali lagi kebentuk NKRI yang telah disepakati pada sidang BPUPKI. Setelah
proklamasi, Belanda datang dengan tujuan menguasai kembali Indonesia. Antara
Indonesia dan Belanda terjadi aksi militer kemudian dilakukan perjanjian linggar
jati yang menyepakati pembentukan negara federasi dengan nama Negara
Indonesia Serikat dan terikat dalam kerjasama Uni Indonesia-Belanda. Akibat
dari perjanjian tersebut menjadikan wilayah Indonesia semakin sempit.
Bagi kebanyakan rakyat Indonesia, sistem federal dianggap sebagai
warisan kolonial sehingga harus segera diganti. Dalam pandangan rakyat
Indonesia, sistem federal dipandang sebagai alat pengawasan Belanda, sehingga
sistem federal merupakan halangan bagi tercapainya kemerdekaan Indonesia.
Mempertahankan sistem federal berarti mempertahankan warisan penjajahan
masa lampau yang tidak disukai.12

12 George Mc.Turran Kahin, Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
bekerjasama dengan Sebelas Maret University Press, 1955), h. 571.

Sejarah Nasional Indonesia VI 51


Adanya halangan psikologis yang seperti itu di kalangan masyarakat
Indonesia terhadap bentuk negara federal, ternyata masih ditambah realitas
politik yang terjadi pada saat itu. Dalam federasi RIS, Republik Indonesia yang
lama pada dasarnya tetap otonom. Tidak hanya administrasinya yang tidak
tergantung pada ibukota federasi di Jakarta, tetapi banyak pegawai negeri sipil
dalam negara negara bagian seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Pasundan
lebih taat kepada aturan-aturan dari ibukota RI Yogyakarta, daripada Jakarta.
Kondisi itu seringkali menimbulkan administrasi ganda yang membingungkan,
dengan dua kelompok pegawai negeri sipil berusaha mengatur teritorial yang
sama dengan dua aturan yang mungkin berbeda. Keadaan itu sesungguhnya
merupakan bentuk manifestasi politik pada masa sebelumnya.13
Pembentukan negara-negara bagian di berbagai wilayah Indonesia
oleh Belanda serta eksistensinya tidak pernah diakui oleh RI di Yogyakarta.
Pemerintah RI untuk mempertahankan eksistensi di daerah-daerah yang
sudah didirikan negara bagian itu, kemudian ganti mendir ikan pemerintahan
daerah bayangan, mulai dari desa sampai ke provinsi. Bukan i tu saja dalam
menunjukkan eksistensinya di daerah-daerah yang kemudian dikenal sebagai
daerah BFO itu, Pemerintah RI juga mengirim uang-uang ORI (Oeang Republik
Indonesia). Hal itu dilakukan untuk menunjukkan eksistensi RI baik secara politis
maupun ekonomis.14
Dengan berubahnya sistem negara Indonesia menjadi federasinya,
menjadikan Belanda bebas keluar masuk bahkan menguasai Indonesia sekalipun
Indonesia sudah merdeka, itu berarti Indonesia bukan jajahan tetapi federasi
Belanda.
Konsepsi negara federal tidak mampu mengkoordinasikan pluraritas
budaya, agama, bahasa, dan sebagainya yang berkembang sebagai simbol
keragaman budaya tinggi masyarakat Indonesia. Konsep negara federal
membutuhkan homogenitas bangsa dan pemerintah pusat yang memiliki
kekuasaan dominan untuk menyelaraskan kepentingan negara bagian sebagai
upaya menekan dan meniadakan konflik. Indonesia, disetiap wilayah dihuni
oleh satu bahkan lebih etnis atau suku, jika Indonesia memakai otonomi penuh
13 Haryono Rinardi, Dari RIS Menjadi Negara RI: Perubahan Bentuk Negara Indonesia Pada Tahun 1950,
(MOZAIK : Jurnal Ilmu Humaniora, Vol. 12, No.2. 2012) h. 182-183.
14 Meutia Farida Swasono, Bung Hatta Pribadinya dalam Kenangan, (Jakarta: Sinar Harapan, 1980) h.
184-187

Sejarah Nasional Indonesia VI 52


maka yang terbangun justru nasionalisme etnis yang rentan terhadap konflik
etnis. Bentuk federasi tersebut akan melemahkan persatuan dan kesatuan
bangsa Indonesia. Bentuk federal tidak efektif menyatukan dan memperbaiki
kondisi Republik Indonesia, pada tahun 1950 Indonesia kembali ke bentuk
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bentuk kesatuan dinilai lebih efektif
menyatukan Indonesia dan menjaga kedaulatan Indonesia.15

e. Konstitusi Republik Indonesia Serikat


Semua negara didunia hampir memiliki konstitusi yang berfungsi
mengatur mengenai pembentukan, pembagian wewenang dan cara bekerja
berbagai lembaga kenegaraan serta perlindungan hak asasi manusia. Pada
hakekatnya konstitusi merupakan hukum dasar tertinggi yang memuat hal-hal
mengenai penyelenggaraan negara. Indonesia telah menetapkan suatu konstitusi
sehari setelah memproklamasikan kemerdekaan yaitu tanggal 18 Agustus 1945
yang disiapkan oleh Panian Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Konstitusi
ini disebut dengan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia.
Namun setelah disetujuinya hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) dengan
dibentuknya Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) menyebabkan lahirnya
Konstitusi Republik Indonesia Serikat.16
Pada tanggal 14 Desember 1949, wakil-wakil Pemerintahan Republik
Indonesia (RI), Pemerintah Negara & Daerah yang akan menjadi bagian dari
Republik Indonesia Serikat (RIS), Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari masing-masing Negara/Daerah Bagian
tersebut melakukan suatu “Pertemuan untuk Permusyawaratan Federal” di Jalan
Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut membahas tentang
penyetujuan naskah Undang-Undang Dasar Sementara. Sebelumnya pada
tanggal 29 Oktober 1949 delegasi Republik Indonesia dan wakil-wakil daerah
di Scheveningen telah menyetujui “Konstitusi Republik Indonesia Serikat” pada
sidang KMB. Hasil persetujuan tersebut tertuang didalam Piagam Konstitusi RIS.
Berdasarkan Konstitusi RIS, negara berbentuk federasi dengan meliputi seluruh
daerah Indonesia, negara tersebut adalah:
15 Alifah Noer, http://ipe008.blogspot.co.id/2015/09/bentuk-ris-tidak-cocok-untuk-indonesia.html)
2017, Diakses pada tanggal 2 Mei 2017
16 Mahkamah Konstitusi, “Sejarah dan Perkembangan Konstitusi di Indonesia”, (diakses dari www.
mahkamahkonstitusi.go.id, tanggal 22 Oktober 2016)

Sejarah Nasional Indonesia VI 53


1) Negara Republik Indonesia, yang meliputi daerah menurut status quo seperti
dimaksudkan dalam perjanjian Renville,
a. Negara Indonesia Timur,
b. Negara Pasundan, termasuk Distrik Federal Jakarta,
c. Negara Jawa Timur,
d. Negara Madura,
e. Negara Sumatera Timur, termasuk daerah status quo Asahan Selatan dan
Labuhan Batu, dan
f. Negara Sumatera Selatan.
2) Satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri, seperti : Jawa Tengah, Bangka,
Belitung, Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar,
Kalimantan Tenggara, dan Kalimantan Timur.
3) Daerah-daerah Indonesia selebihnya yang bukan daerah-daerah bagian.
Lembaga perwakilan dalam konstitusi ini disebut dengan istilah “dua
kamar” yaitu Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat. Senat adalah wakil dari
negara bagian sedangkan Dewan Perwakilan Rakyat adalah wakil dari seluruh
rakyat Indonesia. Senat berfungsi sebagai penasihat pemerintah. Pemerintah
wajib mendengarkan nasihat dari Senat yang menyangkut kepentingan negara
bagian dan Rancangan Undang-Undang Darurat.17

Gambar 2.8 Suasana penandatanganan Piagam Konstitusi RIS pada tanggal 14 Desember 1949
di Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Piagam tersebut ditanda tangani oleh wakil-wakil dari
negara yang akan menjadi bagian dalam Republik Indonesia Serikat. (Sumber: www.google.
co.id/image)
17 Kartasasmita, et. al, Op.Cit. hh. 243-244

Sejarah Nasional Indonesia VI 54


d. Upaya Kembali Ke Negara Kesatuan Republik Indonesia
Berdasarkan konstitusi RIS pada tahun 1949, wilayah Republik Indonesia
masih ada, disamping wilayah negara federal Republik Indonesia Serikat. Karena
sesuai dengan pasal 2 konstitusi RIS, bahwa Republik Indonesia diakui sebagai
salah satu negara di dalam Republik Indonesia Serikat. Wilayah dari Republik
Indonesia adalah wilayah yang disebutkan didalam Persetujuan Renville. Di
wilayah Republik Indonesia konstitusi RIS tidak berlaku karena wilayah ini tetap
menggunakan UUD 1945.18
Perjuangan kaum republiken untuk mewujudkan terbentuknya sebuah
negara kesatuan merupakan pekerjaan yang sulit. Jika dilihat kembali, pada saat
itu masih berdiri sebuah negara yang secara resmi berbentuk negara federal
lengkap dengan alat-alat kenegaraannya. Lalu tentara Belanda saat itu masih
ada di Indonesia, lengkap dengan persenjataannya. Sehingga perjuangan untuk
mengembalikan bentuk negara dari federal menjadi kesatuan harus dilakukan
dengan cara yang benar agar tidak dianggap sebagai pemberontakan kepada
pemerintah yang sah dan kaum republiken harus juga bersiap menghadapi
konflik dengan tentara Belanda. Pada saat itu pula, para pegawai negeri sipil
dalam negara-negara bagian, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan Pasundan
yang lebih menaati aturan-aturan dari Ibukota RI di Yogyakarta dibandingkan
terhadap Jakarta. Sebagian besar mereka yang menjadi aparatur negara masih
merupakan bekas birokrat pada masa kolonial, mereka ini yang dianggap lebih
patuh pada Belanda daripada golongan-golongan nasionalis yang juga duduk di
pemerintahan.19
Gerakan persatuan tersebut lambat laun semakin bertambah kuat karena
mayoritas masyarakat negara bagian juga tidak mendukung pembentukan
negara-negara bagian tersebut beserta birokrat di dalamnya yang pro kolonial.
Didalam Kabinet RIS pun sesungguhnya hanya Sultan Hamid II dan Anak Agung
Gde Agung yang mendukung sistem federal sedangkan wakil negera federal
yang lainnya bisa dikatakan kelompok republiken. Seperti Arnold Monomutu

18 Dr. Aman Yosef Datu Widiarko, Proses Kembali ke NKRI Melalui Perubahan Konstitusi RIS 1949 Menjadi
UUDS 1950, Vol 1, No. 4, 2016, hal 1, (diakses dari http://journal.student.uny.ac.id, tanggal 18 Oktober
2016)
19 Adrian Vickers, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Insan Madani,2011),. hh. 176-177.

Sejarah Nasional Indonesia VI 55


yang mewakili Negara Indonesia Timur dipandang lebih republiken daripada
federalis.20

Gambar 2.9 Demonstrasi Penuntutan


Pembubaran Negara Pasundan (Sumber:
http://wawasansejarah.com).

Oleh karena itulah, dapat dikatakan bahwa dasar pembentukan negara


federal RIS sangat lemah dan tidak didukung oleh dukungan yang kuat. Akibatnya
tujuan dari kenegaraan tersebut menjadi tidak jelas dan kurang mendapatkan
dukungan dari rakyat. Satu-satunya yang menjadi penopang keberadaan RIS
adalah kekuatan militer Belanda, Koninklijk Leger (KL) dan Koninklijk Nederland
Indonesich Leger (KNIL). Disaat Belanda mulai melepaskan kontrolnya atas
negara-negara bagian maka rakyat negara bagian itu bergerak menuntut untuk
kembali kepada RI.21

2 Kembali ke Negara Kesatuan


Republik Indonesia

a. Faktor kembali ke NKRI


Usaha-usaha yang dilakukan untuk kembali ke negara kesatuan Republik
Indonesia dilancarkan dimana-mana. Di berbagai daerah timbul gerakan
rakyat menuntut pembubaran negara/daerah bagian dan penggabungannya
dengan republik Indonesia di Yogyakarta. Penggabungan daerah-daerah yang
satu dengan yang lain atau negara bagian yang satu negara bagian yang lain
secara kontitusional dimungkinkan oleh pasal 43 dan 44 Kontitusi RIS dengan
ketentutan bahwa penggabungan tersebut dikehendaki oleh rakyatnya dan
diatur dengan undang-undang Federal. Pada tanggal 8 Maret pemerintahan RIS
dengan persetujuan parlemen (DPR) dan senat RIS mengeluarkan UUD darurat
nomor 11 tahun 1950 tentang tata cara perubahan susunan kenegaraan RIS.
20 Widiarko, loc.cit.
21 Nino Oktorino et.al, Ensiklopedia Sejarah dan Budaya, (Jakarta : Lentera Abadi, 2009), h. 23.

Sejarah Nasional Indonesia VI 56


Berdasarkan undang-undang darurat tersebut, berturut-turut negara-negara
bagian menggabungkan diri dengan Republik Indonesia sehingga pada tanggal
5 April 1950 RIS hanya terdiri dari tiga negara bagian, yaitu Republik Indonesia,
Negara Sumatera Timur, Negara Indonesia Timur. 22
Disisi lain Belanda sebenarnya ingin memproyeksikan beberapa pemimpin-
pemimpin daerah sebagai boneka dari negara-negara federal agar mereka bisa
kendalikan. Tokoh-tokoh anggota dari negera federal yang menjadi boneka
Belanda mendukung pemberontakan KNIL, seperti pemeberontakan APRA
yang termasuk didalamnya Sultan hamid II yang mendukung Westerling yang
sebelumnya melakukan gerakan pengacau keamanan di Makassar dan Bandung,
pemberontakan Andi Aziz di Makasar dan lain-lain. Dalam keadaan yang saat itu
tidak kondusif, banyak desakan yang muncul untuk membubarkan negara RIS dan
membentuk kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdaulat dan
bersatu. Setelah beberapa negara Federal diduduki oleh bekas-bekas anggota
KNIL seperti Negara Pasundan, Kalimantan barat, dan Negara Indonesia Timur
membuat negara-negara itu dibubarkan, sedangkan negara-negara federal
yang tersisa lainnya memilih untuk bersatu dan bergabung dengan Republik
Indonesia.23

Gambar 2.10 Gema Masyarakat Menyerukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Sumber:
Ensiklopedia Sejarah Indonesia)
Hingga pada akhirnya pemimpin-pemimpin negara boneka bentukan
Belanda ini mengadakan suatu pertemuan untuk bertukar pikiran dan
bermusyawarah untuk bersatu dan membentuk wadah negara yang utuh bebas

22 NY. Yusni Y. Bahar et.al. Merdeka atau Mati. (Jakarta: CV PD dan Ikhwan. 1992), h. 197.
23 Nino Oktorino et.al. Ensiklopedia sejarah dan budaya. (Jakarta:Lentera Abadi. 2009). h. 233

Sejarah Nasional Indonesia VI 57


campur tangan negara lain hingga mereka menyetujui untuk bergabung ke
dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah RIS dibubarkan Indonesia
kembali kepada bentuk pemerintahan negara yang lama yakni, sebagai negara
kesatuan yang utuh.
Pada 19 mei 1950, diadakan persetujuan antara negara RIS dan RI untuk
membentuk persiapan sebuah negara kesatuan. Dibentuklah panitia yang
dipimpin oleh Prof. Dr. Soepomo. Kerja sama Antara Panitia RIS dan RI selama
kurang lebih dua bulan ini akhirnya mendapat hasil dengan adanya sebuah
susunan undang-undang negara kesatuan yang kemudian kita kenal sekarang
sebagai Undang-Undang Dasar Sementara atau UUDS tahun 1950. Undang-
undang dasar Sementara ini diselesaikan tanggal 20 Juli 1950. Kemudian setelah
itu diadakan perubahan di masing-masing DPR, rancangan UUD negara kesatuan
diterima, baik oleh senat dan parlemen RIS maupun komite Nasional Indonesia
Pusat (KNIP).24

Gambar 2.11 Para Panitia Undang-Undang Negara Kesatuan. Sumber: Buku Merdeka atau Mati)

Gambar 2.12 Suasana Rapat Panitia Undang-Undang Negara Kesatuan


24 Rudini et.al, Profil Provinsi Republik Indonesia, (Jakarta: Yayassan Bhakti Wawasan Nusantara, 1992).
h.24

Sejarah Nasional Indonesia VI 58


Pada tanggal 14 Agustus 1950, parlemen dan senat RIS mengesahkan
persetujuan rancangan undang-undang dasar sementara Negara Kesatuan
Republik Indonesia hasil panitia bersama. Sebelumnya pekerja KNIP di Yogyakarta
telah menyetujui rancangan undang-undang dasar sementara tersebut pada
tanggal 12 agustus 1950. Pada tanggal 15 agustus 1950, dalam rapat gabungan
parlemen dan senat RIS, Presiden Soekarno menandatangani rancangan UUDS
tersebut. Pada hari itu juga Presiden Soekarno terbang ke Yogyakarta untuk
menerima kembali jabatan Presiden Republik Indonesia dari pemangku jabatan
sementara (akting) Presiden Republik Indonesia yakni, Mr. Asaat. Dengan adanya
UUDS 1950 sebagai bentuk konstitusi yang telah disepakati RIS dan RI, maka
pada tanggal 17 Agustus 1950 secara resmi negara RIS dibubarkan dan NKRI
dibentuk untuk menjadi bentuk pemerintahan negara Indonesia.25
Kembali ke NKRI bukanlah sebuah awal baru dari pemerintahan Indonesia,
akan tetapi merupakan sebuah tonggak kelanjutan pemerintahan dari negara
RIS. Namun, rakyat Indonesia lebih menganggap bahwa NKRI tahun 1950
merupakan kelanjutan dari NKRI awal kemerdekaan Indonesia tanggal 17
agustus 1945, walaupun Indonesia baru meresmikan kembali NKRI dari tanggal
17 Agustus 1950.26

Gambar 2.13 Pelantikan Soekarno dan Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden NKRI.
(Sumber: www.google.co.id/image)

25 Kartasasmita et.al, Op.Cit. hh. 42-43


26 Ibid., hh.42-43

Sejarah Nasional Indonesia VI 59


b. Sistem Pemerintahan
Cita-cita Proklamasi 17 agustus 1945 yang menginginkan terbentuknya
negara kesatuan Republik Indonesia dari sabang sampai merauke mendekati
kenyataan. Menjelang terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) itu dimana mulai dibentuklah sistem pemerintahan dan sistem parlemen
yang baru dan akan menjadi parlemen negara yang berdaulat. Pada tanggal
15 Agustus 1950, pemangku jabatan presiden Republik Indonesia Mr. Asaat
menyerahkan kekuasaan kepada presiden Soekarno. Kemudian Ir soekarno
kembali menjadi presiden Negara kesatuan Republik Indonesia, serta Moh. Hatta
yang sebelumnya menjabat perdana menteri RIS kembali menjabat sebagai
Wakil Presiden Republik Indonesia.
Di dalam undang-undang dasar sementara 1950, pemerintah Indonesia
mengikuti sistem demokrasi Parlementer, yang menyatakan bahwa kabinet dan
menteri-menteri kabinet bertanggung jawab kepada parlemen. Dari tahun 1950
sampai tahun 1955 yakni saat penyelenggaraan pemilihan umum, ada empat
kabinet yang memerintah sehingga rata-rata tiap tahun terjadi pergantian
kabinet. Kabinet-kabinet tersebut secara berturut-turut ialah Kabinet Natsir
(September 1950 - Maret 1951), Kabinet Sukiman (April 1951-Februari 1952),
Kabinet Wilopo (April 1952-Juni1953), dan kabinet Ali sastroamidjojo I (Juli 1953
– Juli 1955).27
Ada sebuah pertanyaan yang muncul, mengapa kabinet-kabinet sebelum
pemilihan umum tahun 1950 hanya berumur kurang lebih 1 tahun? Hal ini
dikarenakan sistem politik indonesia yang menganut sistem politik liberal akan
tetapi di sisi lain juga menganut sistem parlementarisme secara kontitusional
serta sistem multipartai seperti yang terjadi pada kurun waktu 1945-1949.
Dalam waktu yang singkat seperti itu tidak ada kabinet yang bisa menyelesaikan
program kerjanya karena terlalu cepat dijatuhkan oposisi . Bahkan pernah terjadi
partai pemerintahan menjatuhkan kabinetnya sendiri.28
Semua kabinet pada periode 1950-1955 didukung oleh koalisi di antara
berbagai partai. Jadi peran partai pengusung sangat besar, disamping formatur
kabinet atau perdana menteri juga berasa dari partai yang dominan. Disamping
itu komposisi pihak oposisi dapat berubah-ubah. Pihak oposisi ini memiliki
27 Rudini et.al. Op.Cit. h. 25
28 Poesponegoro dan Notosusanto. Op.Cit. hh. 307-309

Sejarah Nasional Indonesia VI 60


hak mosi tidak percaya yang bisa dilemparkan jika sebuah kabinet tersandung
masalah atau tidak bisa menyelesaikan satu saja kebijakan yang mereka
canangkan. Inilah salah satu yang menyebabkan berkecamuknya instabilitas
politik.
Setelah menerima pengembalian mandat Kabinet Halim di zaman
Pemerintahan RIS, lalu Mr. Asaat yang kala itu menjabat sebagai pemangku
jabatan presiden Republik Indonesia menyerahkan mandatnya kepada Presiden
soekarno. Kemudian presiden mengucapkan terima kasih kepada semua hadirin
khususnya dan kepada para pejuang-pejuang kemerdekaan umumnya yang
telah mempertahankan kedudukan dan kedaulatan Republik Indonesia sampai
tiba saatnya hari pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.29

Gambar 2.14 Kesibukan Jelang Pembentukan Kabinet NKRI. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia
Merdeka Gambar 2.14 Kesibukan Jelang Pembentukan Kabinet NKRI. Sumber: Buku 30 Tahun
Indonesia Merdeka

Pada tanggal 7 september dilantiklah kabinet pertama setelah menjadi


Negara Kesatuan Republik Indonesia, Presiden Ir. Soekarno melantik Moh. Natsir
(Masyumi) sebagai perdana menteri. Berikut ini merupakan program-program
dari kabinet Natsir:
1. Mempersiapkan dan menyelenggarakan pemilihan umum untuk
kontitusional.

29 Bahar et.al. Op.Cit. h. 198

Sejarah Nasional Indonesia VI 61


2. Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintah serta
membentuk peralatan negara yang bulat.
3. Menggiatkan usaha untuk mencapai keamanan dan ketentraman.
4. Menggembangkan dan memperkokoh kesatuan ekonomi rakyat sebagai
dasar bagi melaksanakan ekonomi nasional yang sehat serta melakukan
keragaman antara buruh dan majikan.
5. Membantu pembangunan perumahan rakyat serta memperluas usaha-
usaha meninggikan derajat kesehatan dan kecerdasan rakyat
6. Menyempurnakan organisasi angkatan perang dan pemulihan bekas
anggota-anggota tentara dan gerilya ke dalam masyarakat.
7. Memperjuangkan penyelesaian soal Irian Barat dalam tahun ini.30

Gambar 2.15 Pelantikan M Natsir Sebagai Perdana Menteri NKRI Beserta Menterinya.
(Sumber: www.google.co.id/image)

30 Kartasasmita et.al. Op.Cit. hh. 48-49

Sejarah Nasional Indonesia VI 62


Gambar 2.16 Foto Bersama Presiden Dan Wakil Dengan Perdana Menteri. (Sumber: www.
google.co.id/image)
Kabinet Natsir memerintah dari tanggal 6 september 1950 sampai tanggal
20 maret 1951. Akan tetapi, PNI sebagai partai kedua terbesar dalam parlemen
tidak duduk di Kabinet Natsir. Mayoritas menteri dari kabinet ini berasal dari
Partai Masyumi, walaupun di antara para menterinya terdapat juga tokoh-tokoh
nonpartai. Banyak di antara mereka yang cukup terkenal dan dianggap ahli pada
bidangnya sehingga sesungguhnya formasi kabinet ini termasuk kuat. Tokoh-
tokoh terkenal diantaranya ialah Sultan Hamengkubuwono IX, Mr. Asaat (bekas
pejabat RI), Ir. Juanda, dan Prof. Sumitro Djojohadikusumo.31
Selain soal keamanan, yang menjadi beban kabinet ini perjuangan
pengembalian Irian Barat ke tangan Indonesia. Belanda rupanya tidak bermaksud
mengembalikan Irian Barat kepada Indonesia. Perundingan terjadi pada tanggal
4 desember 1950, akan tetapi perundingan menemui jalan buntu. Baik Belanda
maupun Indonesia masih teguh dan tidak beranjak dari pendirian mereka
masing-masing. Hal ini menimbulkan mosi tidak percaya dari parlemen terhadap
Kabinet Natsir. Krisis menjadi lebih pelik dengan adanya Mosi Hadikusumo (PNI)
yang menuntut pencabutan PP No.39 tahun 1950 tentang pemilihan anggota
perwakilan daerah supaya lebih demokratis. UU No. 39 yang dikeluarkan pada

31 Poesponegoro dan Nugroho. Op.Cit. hh. 307-309

Sejarah Nasional Indonesia VI 63


masa kabinet Hatta semasa negara masih berbentuk federal (RIS) menentukan
pemilihan secara bertingkat.32
Mosi ini diterima oleh parlemen yang menyebabkan Menteri dalam negeri
Mr. Asaat mengundurkan diri, tetapi pengunduran diri itu ditolak oleh Kabinet M.
Natsir. Perdana menteri sendiri mengingatkan parlemen bahwa pembentukan
lembaga-lembaga perwakilan daerah menurut PP No. 39 itu sudah disetujui
oleh parlemen. Akibatnya hubungan kabinet dengan parlemen menjadi tegang.
Sementara itu, pada tanggal 20 maret 1951 Partai Indonesia Raya (PIR) yang
merupakan partai pendukung kabinet menarik menteri-menterinya dari kabinet
ini. Sehari kemudian, tanggal 21 maret 1951, Mohammad Natsir mengembalikan
mandatnya kepada presiden Soekarno.33
Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Indonesia dibagi menjadi 10
provinsi yang mempunyai otonominya sendiri, yakni masing-masing Sumatera
Utara dengan ibukotanya Medan, Sumatera Tengah dengan ibukotanya Bukit
Tinggi, Sumatera Selatan dengan ibukotanya Palembang, Jawa Barat (termasuk
didalamnya Jakarta sebagai ibukota negara setelahnya) dengan ibukota Bandung,
Jawa Tengah dengan ibukota Semarang, Jawa timur dengan ibukotanya Surabaya.
Kemudian ada Kalimantan dengan ibukotanya Banjarmasin, Sulawesi dengan
ibukota Makasar, Maluku dengan Ibukota Ambon, dan Sunda Kecil (sekarang
wilayah Kepulauan Nusa tenggara dan Bali) dengan ibukotanya Singaraja.34

c. Perancangan Undang-Undang Dasar sementara 1950


Perancangan Undang-Undang Dasar Sementara1950 merupakan awal
baru dari pemerintahan Indonesia yang sebelumnya merupakan sebuah
negara berbentuk federal kembali lagi ke negara berbentuk kesatuan. Namun
kenyataanya NKRI kala itu masih menggunakan sistem demokrasi parlementer
walaupun sudah kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Perancangan Undang-undang Dasar Negara Sementara 1950 juga tidak
terlepas dari banyaknya ganguan berupa pemberontakan ketika negara RIS
berdiri selama 8 bulan penuh. RIS dianggap sebagai negara rapuh karena berdiri
diatas kepentingan yang berlawanan. Kemudian munculnya pemberontakan-

32 Ibid. hh. 307-309


33 Ibid. hh. 307-309
34 Rudini et.al. Op. Cit. h. 25

Sejarah Nasional Indonesia VI 64


pemberontakan dari para bekas pejuang-pejuang kemerdekaan juga menjadi
suatu alasan yang menjadi dasar adanya keinginan untuk membentuk suatu
negara kesatuan.35
Pada tanggal 19 mei 1950, diadakan suatu persetujuan antara RIS dan RI
untuk mempersiapkan pembentukan panitia kesatuan dengan ditandatanganinya
suatu piagam persetujuan antara pihak RIS dan pihak RI. Dalam piagam tersebut
dinyatakan bahwa kedua belah pihak dalam waktu yang seingkat-singkatnya
bersama-sama melaksanankan pembentukan negara kesatuan.36
Sebagai tindak lanjut kesepakatan itu kemudian dibentuklah panitia
persiapan undang-undang dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
diketuai oleh Prof. Dr. Soepomo yang merupakan menteri kehakiman RIS,
perwakilan RIS dengan anggota Mr. Kosasih Purwanegara, Ir. Sakirman, Mr. A.M.
Tambunan, B. Sahetapy Engel, Ir. Lobo dan Mr. Teuku Moh. Hassan. Kemudian
perwakilan dari RI yakni Perdana Menteri RI dr. Abdul Halim dengan anggota
Mr. A.A Suhardi, Hutomo supardan, Djohann Sjahruzah, Harsoadi, Dr. Rustamdji,
dan Rh. Kusnan.37
Panitia ini bekerja selama dua bulan penuh untuk merancang undang-
undang dasar negara kesatuan. Tanggal 20 juli 1950 panitia Undang-undang
dasar negara kesatuan berhasil merampungkan tugas mereka. Kemudian
setelah itu diadakan pembahasan oleh DPR, rancangan UUD negara kesatuan
itu diterima, baik oleh senat dan parlemen RIS maupun oleh KNIP.38
Pada tanggal 14 agustus 1950 parlemen dan senat RIS mengesahkan
Rancangan Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik
Indonesia hasil dari panitia bersama. Sebelumnya, badan pekerja Komite
Nasional Indonesia Pusat di Yogyakarta telah menyetujui rancangan undang-
undang dasar sementara tersebut pada tanggal 12 agustus 1950.39
Kemudian tanggal 15 agustus 1950 dalam rapat gabungan parlemen
dan senat RIS, Presiden Ir. Soekarno membacakan piagam terbentuknya
negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada hari itu juga Ir. Soekarno terbang
ke Yogyakarta untuk menerima kembali jabatan sebagai Presiden Republik
35 Nino Oktorino et.al. Ensiklopedia sejarah dan budaya. (Jakarta: Lentera Abadi. 2009). h. 23
36 Poesponegoro dan Notosusanto. Op.Cit. h. 307
37 Kartasasmita et.al. Op.Cit. h. 46
38 Rudini et.al. Op.Cit. h. 25
39 Sekretariat Negara Republik Indonesia .30 tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964. h 42

Sejarah Nasional Indonesia VI 65


Indonesia dari pemangku jabatan sementara yang pada saat itu dipegang oleh
presiden Republik Indonesia, Mr. Assaat. Dengan demikian selesai sudah negara
federal yang pernah berdiri di tanah air, yakni Republik Indonesia Serikat. Namun
sebaliknya, Negara kesatuan yang telah dicita-citakan oleh bangsa Indonesia
telah berdiri kembali dan proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 telah
terwujud kembali, walaupun berdasarkan undang-undang dasar sementara
1950 yang menjadi landasan konstitusinya pada saat itu.
Undang-undang Dasar sementara Republik Indonesia terdiri atas VI bab
antara lain yakni Negara Republik Indonesia, alat-alat dan perlengkapan negara,
tugas-tugas alat-alat dan Perlengkapan negara, pemerintahan daerah dan
daerah-daerah Swapraja, konstituante dan perubahan, ketentuan-ketentuan
peralihan, dan ketentuan penutup. Didalam setiap bab tersebut kembai terdiri
dari bagian-bagian yang telah tercantum. Setiap bab terdiri dari beberapa bagian
pasal, yakni 146 pasal yang digunakan untuk mengatur negara Kesatuan Repubik
Indonesia, sebelum akhirnya indonesia kembali kepada undang-undang 1945.40
Undang-undang dasar 1950 mengandung unsur-unsur dari UUD-RI
maupun UUD-RIS. Menurut UUDS 1950 kekuasaan legislatif dipegang oleh
presiden, kabinet dan DPR. Pemerintah mempunyai hak untuk mengeluarkan
undang-undang darurat atau peraturan pemerintah, walaupun kemudian perlu
juga disetujui oleh DPR pada sidang berikutnya. Presiden juga dapat mengeluarkan
dekritnya kalau itu diperlukan. Akan tetapi, baik secara keseluruhan maupun
perseorangan, kabinet masih bertanggung jawab pada DPR. DPR mempunyai
hak untuk menjatuhkan kabinet seluruhnya atau memberhentikan menteri-
menterinya secara Individual.41

d. Kondisi Militer Republik Indonesia Serikat dan NKRI


1) APRIS
Pada 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaulataan Republik
Indonesia setelah diadakannya perundingan konferensi meja Bundar (KMB).
Dampak dari hasil KMB di bidang keamanan adalah dibentuknya APRIS
(Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) sebagai angkatan perang nasional
RIS. Pembangunan angkatan perang dan gangguan keamanan menjadi fokus
40 Moh.Mahfud MD. Demokrasi dan konstitusi di Indonesia. (Jakarta: Rineka cipta. 2003). hh. 282-283
41 Rudini et.al. Op.Cit. h. 25

Sejarah Nasional Indonesia VI 66


pemerintah pada masa RIS. Masalah lain yang dihadapi pemerintah RIS setelah
adanya pengakuan kedaulatan adalah masalah reorganisasi dan rasionalisasi
(RERA) angkatan perang. RERA yang dilakukan dalam angkatan perang tidak lain
menyangkut pembentukan struktur organisasi yang baru serta rasionalisasi bekas
tentara KNIL yang dimasukkan ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia
Serikat (APRIS).42 KNIL yang dimasukkan ke dalam APRIS akan mendapatkan
status yang sama dengan anggota militer yang berasal dari TNI.43
Menurut kesepakatan KMB, Konijklijk Leger (KL) ditarik dari
Indonesia, maka daripada itu pemerintah harus melakukan rasionalisasi dan
mengintegrasikan sekitar 26.000 orang mantan anggota Konijklijk Nederland
Indonesich Leger (KNIL) ke dalam tubuh APRIS. Padahal sebelumnya mereka
saling memerangi, situasi ini kemudian menimbulkan ketidaksukaan di antara
banyak bekas seteru itu. Di dalam tubuh TNI, ketidakpuasan dipicu oleh langkah
integrasi bekas KNIL yang diikuti dengan kebijakan rasionalisasi tentara. Latar
belakang pendidikan anggota TNI umumnya lebih rendah dibanding bekas
anggota KNIL. Akibatnya, banyak anggota TNI yang ditolak bergabung ke APRIS.
Oleh karena itu rasionalisasi yang dilakukan pemerintah RIS dinilai hanya
menguntungkan mantan musuhnya.44
Masalah psikologis muncul dalam proses reorganisasi APRIS. Bekas
tentara KNIL yang dimasukkan ke dalam APRIS merasakan bahwa mereka akan
diberikan perlakuan yang berbeda dengan tentara APRIS yang berasal dari TNI.
Permasalahan psikologis inilah yang akhirnya menimbulkan permasalahan di
kemudian hari.45 Banyak bekas tentara KNIL yang keluar dari kesatuannya dan
memilih bergabung dengan para golongan federalis yang ingin mempertahankan
bentuk negara federal. Pemberontakan yang dipelopori oleh golongan federal
diantaranya dimulai sejak awal 1950 hingga dibubarkannya RIS. Pada awal 1950
42 Andik suryawan. Peranan APRIS dalam menjaga stabilitas keamanan dan keutuhan RIS 1949-1950.
(Jurnal Universitas Negeri Surabaya. 2013) hh. 1-2
43 Unsur utama angkatan militer Indonesia ketika itu (termasuk ketika menjadi APRIS) adalah mereka
yang merupakan eks-KNIL dan eks-PETA. Namun diluar dua eks tentara warisan penjajah sebelumnya,
beberapa unsure kecil angkatan militer juga diambil dari laskar-laskar rakyat yang terbentuk kala itu. DR.
A.H. Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid I, (Jakarta Gunung Agung. 1984) hh. 49-57.
44 Oktorino et.al. Op.Cit. h. 232
45 Pertikaian dan konflik antar kedua unsur militer ini sebenarnya telah lama terendus terutama ketika
dibentuk dinas tentara yang pertama di Indonesia. Sebagian besar eks-KNIL punya ego yang besar karena
menganggap mereka adalah tentara regular yang dibentuk pemerintah kolonial Belanda. Lihat Ben
Anderson, 1988, Revoloesi Pemoeda Pendudukan Jepang dan Perlawanan d Jawa 1944-1946, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan). hh. 267-268

Sejarah Nasional Indonesia VI 67


terjadi pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin oleh
Westerling, kemudian dilanjutkan oleh pemberontakan Andi Azis yang terjadi
di Makasar, dan yang terakhir adalah pemberontakan Republik Maluku Selatan
yang dipimpin oleh Dr. Soumokil (Eks Jaksa Agung NIT). Seluruh pemberontakan
yang terjadi pada masa transisi RIS-RI merupakan bentuk usaha dari Belanda
untuk mempertahankan bentuk federal di Indonesia. Tidak sedikit tentara KNIL
yang terlibat dalam setiap pemberontakan yang terjadi.46
Pada tanggal 24 maret 1950, Presiden Soekarno telah menerima 30 orang
perwira Batalyon “worang” yang akan meninggalkan Jawa untuk menjalankan
tugas di tempat baru tepatnya wilayah Indonesia Timur. Dengan keberangkatan
batalyon ini berarti rencana untuk menempatkan satuan-satuan APRIS di
seluruh Indonesia dapat terlaksana. Kemudian di Bandung diadakan Upacara
penyerahan LPB (pabrik senjata dan mesiu) kepunyaan tentara Belanda kepada
APRIS. Upacara sendiri berlangsung tanggal 30 April 1950, pihak tentara Belanda
diwakili oleh Kolonel Ohl dan Kolonel Metz dari LPB sedangkan APRIS diwakili
oleh Kolonel Hidayat.47

2) APRA
Angkatan perang ratu Adil (APRA) merupakan sebuah bentuk angakatan
perang yang dibentuk oleh bekas prajurit Belanda yakni, Kapten Raymond
Westerling. Kapten Westerling mendidirikan APRA di Kota Bandung, Jawa
barat. Salah satu ramalan Jayabaya mengatakan bahwa, “pada suatu saat akan
datang seorang Ratu Adil dari negara Turki yang mengantarkan Indonesia pada
puncak kejayaan”. Isi ramalan tersebut menjadi salah satu penyebab mengapa
Westerling melakukan pemberontakan. Dengan bantuan modal dari Belanda,
Westerling membeli senjata. Dalam waktu singkat Ia mengumpulkan tentara
sebanyak 8000 orang yang ditambah beribu-ribu pasukan cadangan. Kemudian
Westerling membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). APRA dibentuk
dengan tujuan berikut:
a) Tetap mempertahankan negara Pasundan
b) APRA sebagai tentara Negara Pasundan

46 Suryawan. Op.Cit. hh. 1-2


47 Bahar et.al. Op.Cit. h. 189

Sejarah Nasional Indonesia VI 68


Gambar 2.18 Kapten Raymond Westerling
Sumber: www.google.co.id/image

Pada malam hari tanggal 22 Januari 1950, Westerling bersama anggotanya


mulai masuk ke wilayah Bandung yang bergerak dari arah Cimahi. Kemudian
pasukan bertambah menjadi 800 orang anggota lebih, karena banyak diantara
pasukan KL di Bandung yang menggabungkan diri. Pada Pagi hari tanggal 23
januari 1950 mereka mulai memasuki Bandung, kemudian menduduki Kantor
Staf Divisi Siliwangi. Waktu itu para anggota TNI belum lama menetap di
Bandung, mereka baru saja kembali dari daerah pedalaman.48
Dalam pertempuran ini, ditemukan mayat Letnan Kolonel Lembong yang
gugur melawan anggota APRA di tengah-tengah kota Bandung. Bersama beliau
juga gugur pula seorang ajudannya setelah turut mengadakan perlawanan
kepada Anggota APRA. Beberapa mayat lagi dari adalah anggota TNI yang sama
sekali tidak bersenjata api. Pemberontakan yang dilakukan APRA termasuk
kategori kejam karena banyak memakan korban. Namun gerombolan pasukan
APRA pimpinan Westerling tidak berlangsung lama di Bandung, mereka dihalau
oleh pasukan Belanda (KL) yang masih mengindahkan peraturan.49
Pemberontakan APRA tersebut menyebabkan Wali Negara Pasundan,
R.A.A Wiranatakusumah mengundurkan diri. Pemerintah RIS kemudian
mengangkat Sewaka sebagai Komisaris RIS untuk Negara Pasundan. Pengangkatan
itu tidak sesuai dengan tuntutan rakyat Jawa Barat yang menghendaki adanya
pembubaran negara tersebut. Oleh karena itu pada tanggal 8 maret 1950 terjadi
demontrasi di Bandung yang menuntut pembubaran Negara Pasundan dan
Penggabungan seluruh daerah Jawa Barat ke dalam negara RI.50
48 NY. Yusni Y. Bahar et.al. Merdeka atau Mati. (Jakarta: CV PD dan Ikhwan,1992) h. 177.
49 Suwondo, Bambang. Sejarah daerah Jawa barat. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
1981). hh. 213-214
50 Marwati Djonoed Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia VI. (jJakarta: Balai
Pustaka. 2011). h. 304

Sejarah Nasional Indonesia VI 69


3) Andi Aziz (RMS)
Pada tanggal 5 April 1950 di Makassar terjadi
pula pemberontakan yang dilakukan oleh kesatuan-
kesatuan bekas KNIL di bawah pimpinan Kapten
Andi Aziz. Sebelumnya pada tanggal 30 maret 1950,
ia bersama dengan para pasukan KNIL di bawah
komandonya menggabungkan diri ke dalam APRIS
di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ahmad Junus
Mokoginta.51
Pemberontakan ini terjadi karena adanya
Gambar 2.19 Kapten Andi Aziz.
Sumber:www.google.co.id.
kekacauan yang terjadi di Sulawesi Selatan pada
image bulan April 1950.
Penyebabnya karena sering terjadi
demonstrasi kelompok masyarakat yang anti-federal untuk mendesak NIT untuk
segera menggabungkan diri dengan Republik Indonesia. Pada tanggal 5 April
1950 pemerintah mengirimkan satu batalion pasukan TNI yang dipimpin oleh
Mayor H.V. Worang, kedatangan pasukan dari Jawa pun mengancam kedudukan
dari masyarakat yang pro-federal. Mereka pun bergabung dan menamakan diri
“Pasukan Bebas” yang berada di bawah pimpinan Kapten Andi Aziz.52
Pada tanggal 8 April 1950, pemerintah pusat bertindak tegas dalam
menghadapi pemberontakan Andi Aziz ini. Pemerintah pun mengeluarkan
instruksi bahwa dalam waktu 2 x 24 jam Andi Aziz melaporkan diri ke Jakarta untuk
mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pada tanggal 15 April 1950 Andi Aziz
telah berangkat ke Jakarta setelah didesak oleh presiden NIT karena Andi Aziz
terlambat melapor ke Jakarta maka ia ditangkap dan diadili, sedangkan pasukan
yang dipimpin oleh Mayor H. V. Worang yang terus melakukan pendaratan di
Sulawesi Selatan. Pada tanggal 21 April 1950 pasukan ini pun berhasil menduduki
Makassar tanpa perlawanan berarti dari pasukan pemberontak.53
Pemberontakan Andi Azis di Makasar awal April 1950 mengakibatkan
terjadinya krisis kabinet NIT. Pada tanggal 20 april, tokoh pemuda Indonesia
Maluku (PIM) Pupella, mengajukan mosi tidak percaya pada parlemen NIT.
Akibatnya, Perdana Menteri NIT Ir. P.D Diapari mengundurkan diri dan kabinet

51 Ginanjar Kartasasmita et.al, 30 Tahun Indonesia Merdeka (1950-1964), 1985, h.. 35


52 Poesponegoro dan Notosusanto. Op.Cit. h. 349
53 Ginanjar Kartasasmita, loc.cit.

Sejarah Nasional Indonesia VI 70


bubar. Kabinet baru terbentuk dibawah perdana menteri Ir. Pituhena, seorang
tokoh yang pro-RI. Program kabinet ini ialah pembubaran NIT dan penggabungan
ke dalam RI.54

4) RMS (Republik Maluku Selatan)


Setelah gagal mendalangi pemberontakan yang terjadi di Makasar,
Soumokil mendirikan gerakan Republik Maluku Selatan di Maluku. Soumokil
memproklamasikan RMS menjadi sebuah negara yang merdeka lepas dari
pemerintahan RIS. Pemerintah RIS berusaha menyelesaikan pemberontakan
RMS dengan jalan diplomasi, karena pemerintah RIS tidak menginginkan adanya
korban jiwa lagi akibat peperangan.55
Pada tanggal 20 April secara Resmi diketahui di Markas Besar bahwa
Semouki telah menghilang. Keterangan dari Letnan Kolonel Gysberts (panglima
tentara KNIL Makasar), bahwa jaksa Agung tersebut pada tanggal 13 april
dengan pesawat militer telah ke Manado untuk tugas rutin dan terus ke Ambon.
Menurut Ir. Manusama pada tanggal 16 april 1950 Soumokil sudah berada di
Ambon, bersama dengan Manusama dan pemimpin-pemimpin KNIL mereka
memprakarsai Proklamasi RMS.56
Pada tanggal 29 April 1950 pemerintah RIS mengirimkan sebuah delegasi
untuk melakukan perundingan dengan pihak RMS. Pihak RMS menyatakan
penolakannya terhadap ajakan pemerintah RIS untuk melakukan perundingan.
Pemerintah RIS tetap berusaha untuk menyelesaikan masalah RMS dengan jalan
perundingan, akan tetapi pihak RMS tetap pada pendiriannya untuk menentang
pemerintah RIS. Penolakan RMS untuk berunding membuat pemerintah
bertindak tegas dengan mengirimkan pasukan ekspedisi di bawah komando
A.E Kawilarang untuk melakukan blokade terhadap kepulauan Maluku. Blokade
yang dilakukan oleh pemerintah RIS bertujuan untuk memaksa pihak RMS
mengurungkan niatnya untuk melakukan pemberontakan, akan tetapi pihak
RMS tetap pada pendirian mereka untuk lepas dari pemerintah RIS.57

54 Marwati Djonoed Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, (2011)
h. 304
55 Andik suryawan. Jurnal peranan APRIS dalam menjaga stabilitas keamanan dan keutuhan RIS 1949-
1950. (Universitas negeri surabay. 2013) h. 5
56 Pattikayu, John. A. Sejarah Revolusi Kemerdekaan Di Daerah Maluku. Ambon. 1991. h. 67
57 Suryawan, Op.Cit. h. 5

Sejarah Nasional Indonesia VI 71


Pada tanggal 14 juli pagi hari 1950, Pasukan ekspedisi APRIS/TNI tersebut
mendarat di Laha, Pulau Buru dengan dilindungi Kovret Patiunus. Dengan susah
payah karena belum mengenal medannya, APRIS berhasil merebut pos-pos
Penting di Pulau Buru. Setelah Pulau Buru dapat dikuasai, Pasukan APRIS yang
lain mendarat dan dapat segera menguasai Tanimbar, Kepulauan Kei dan Aru.
Akan tetapi diketahui bahwa RMS memusatkan Pasukannya di Pulau Seram dan
Ambon, sehingga kekuatan diarahkan ke Ambon.58
Pada permulaan November kota Ambon dapat dikuasai oleh pasukan-
pasukan APRIS setelah melalui pertempuran-pertempuran yang sengit dengan
korban yang besar. Serangan umum Senopati dilakukan untuk menyerang pusat
kekuatan RMS yang berada di Ambon. Operasi Senopati dilakukan dalam dua
tahap yaitu fase I dilakukan pada tanggal 28 September 1950 - 2 November
1950, fase ke II dimulai tanggal 3 November 1950 - sampai dikuasainya seluruh
Kota Ambon. Pada serangan Senopati fase I berhasil merebut sejumlah
posisi penting yang menjadi markas pertahanan pasukan RMS. Kota Ambon
berhasil dikuasai setelah pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Mayor Ahmad
Wiranatahkusumah melakukan penyerangan terhadap Benteng New Victoria.
Setelah Benteng New Victoria yang menjadi pusat kekuatan RMS dapat direbut,
maka seluruh pulau Ambon dapat dikuasai.59 Dalam pertempuran jarak dekat
memperebutkan benteng Nieuw Victoria, Letnan Kolonel Slamet Rijadi telah
tertembak dan gugur seketika.60
Setelah diakuasainya Pulau Ambon, Soumokil beserta pasukan RMS yang
tersisa bersembunyi di Pulau seram dan ada yang lari ke Belanda. Mereka
berjuang untuk mempertahankan berdirinya RMS. Sedangkan Dr. Soumokil
baru bisa tertangkap pada tanggal 19 Desember 1963 dan diserahkan kepada
pemerintah pusat di Jakarta.61

58 Kartasasmita et.al, Op.Cit. h. 38


59 Suryawan. Op.Cit. h. 5
60 Kartasasmita et.al. Op.Cit. h. 38
61 Oktorino et.al. Op.Cit. h. 233

Sejarah Nasional Indonesia VI 72


RANGKUMAN

Pada tanggal 16 Desember 1949 terjadi sidang bersama Parlemen dan


Senat RIS yang menetapkan terpilihnya Ir. Soekarno sebagai Presiden RIS yang
pertama. Keesokan harinya tanggal 17 Desember 1949 diadakan upacara
pelantikan Presiden Republik Indonesia Serikat yang pertama di Siti Hinggil,
Keraton Yogyakarta. Ir. Soekarno membentuk kabinet RIS pada tanggal 20
Desember 1949 dengan menunjuk empat orang formatur yakni Moh. Hatta dan
Sultan Hamengku Buwono IX dari RI, dan dua orang lainnya dari negara federal
yaitu Anak Agung Gde Agung dan Sultan Hamid II. Kabinet RIS dibawah pimpinan
Moh. Hatta memerintah hingga tanggal 17 Agustus 1950. Artinya kabinet ini
hanya berusia tidak sampai satu tahun. Anggota kabinet terdiri dari 13 orang
menteri dan 3 menteri negara.
Kabinet RIS disebut juga dengan zaken kabinet yaitu kabinet yang
mengutamakan keahlian anggotanya bukan kabinet koalisi yang bersandar pada
kekuatan partai. Pada masa Kabinet RIS juga ditetapkan pemakaian lambang
negara Bhinneka Tunggal Ika yang ditetapkan pada tanggal 11 Februari 1950.
Sebenarnya lambang ini sudah direncanakan oleh Panitia Negera, menurut
bagian III pasal 3 UUD Sementara.
Perjuangan kaum republiken untuk mewujudkan terbentuknya sebuah
negara kesatuan merupakan pekerjaan yang sulit. Jika dilihat kembali, pada saat
itu masih berdiri sebuah negara yang secara resmi berbentuk negara federal
lengkap dengan alat-alat kenegaraannya. Lalu tentara Belanda yang saat itu masih
ada di Indonesia, lengkap dengan persenjataannya. Sehingga perjuangan untuk
mengembalikan bentuk negara dari federal menjadi kesatuan harus dilakukan
dengan cara yang benar agar tidak dianggap sebagai pemberontakan kepada
pemerintah yang sah dan kaum republiken harus juga bersiap menghadapi
konflik dengan tentara Belanda.
Penggabungan daerah-daerah yang satu dengan yang lain atau negara
bagian yang satu negara bagian yang lain secara kontitusional dimungkinkan
oleh pasal 43 dan 44. Kontitusi RIS dengan ketentutan bahwa penggabungan
tersebut dikehendaki oleh rakyatnya dan diatur dengan Undang-undang Federal.

Sejarah Nasional Indonesia VI 73


Pada tanggal 8 maret pemerintahan RIS dengan persetujuan parlemen (DPR)
dan senat RIS mengeluarkan UUD darurat nomor 11 tahun 1950 tentang tata
cara perubahan susunan kenegaraan RIS. Berdasarkan undang-undang Darurat
tersebut, berturut-turut negara-negara bagian menggabungkan diri dengan
Republik Indonesia sehingga pada tanggal 5 April 1950 RIS hanya terdiri dari
tiga negara bagian, yaitu Republik Indonesia, Negara sumatera Timur, Negara
Indonesia Timur.62

GLOSARIUM

De facto Pengakuan yang diberikan oleh suatu negara kepada


negara lain yang telah memenuhi unsur-unsur
negara, seperti ada pemimpin, rakyat dan wilayahnya
berdasarkan kenyataan (fakta).
De jure Pengakuan de jure adalah pengakuan terhadap suatu
negara secara resmi berdasarkan hukum dengan segala
konsekuensi atau pengakuan secara internasional.
Koninklijk Leger Tentara reguler Belanda.
Koninklijk Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Nederland
Indonesich Leger
Status quo Mempertahankan keadaan sekarang yang tetap seperti
keadaan sebelumnya

62 Yusni Y. Bahar et.al. Merdeka atau Mati. (Jakarta: CV PD dan Ikhwan.1992) h. 197

Sejarah Nasional Indonesia VI 74


latihan

Berikut ini terdapat beberapa butir soal latihan yang perlu mahasiswa
kerjakan, dengan tujuan agar mahasiswa dapat lebih memahami dan menguasai
materi mengenai sejarah nasional Indonesia sesuai dengan materi yang telah
diberikan dan diuraikan secara ringkas dalam Bab ini. Adapun soal essay dikerjakan
pada kertas double folio dengan maksimal jawaban per soal sebanyak 500 kata,
sedangkan soal multiple choice/ pilihan ganda dapat anda jawab dengan hanya
menuliskan salah satu jawaban yang benar pada lembar kertas double folio.
Selamat mengerjakan.
Essay
1. Jelaskan bentuk sistem pemerintahan Republik Indonesia Serikat ?
2. Jelaskan dampak positif dan negatif yang didapat Indonesia selama
menerapkan sistem federal pada saat RIS ?
3. Jelaskan faktor penyebab kembalinya RIS ke dalam NKRI ?
4. Bagaimana bentuk perjuangan pemerintahan Indonesia dalam
mengembalikan sistem pemerintahan yang sebelumnya RIS menjadi NKRI ?
5. Jelaskan Faktor munculnya pemberontahan RMS ?

Pilihan Ganda
1. Latar belakang dibentuknya Republik Indonesia Serikat adalah…
a. Hasil perundingan Konferensi Meja Bundar dan merupakan kehendak
Belanda
b. Hasil perundingan Konferensi Meja Bundar dan merupakan kehendak
rakyat Indonesia
c. Perjanjian Renville mengenai pembagian wilayah Indonesia
d. Perjanjian linggarjati sebagai wilayah demarkasi Indonesia-Belanda

2. Kabinet pada masa Republik Indonesia Serikat disebut juga sebagai...


a. Kabinet Bersatu.
b. Kabinet Wilopo
c. Kabinet Zaken
d. Kabinet Sukiman
Sejarah Nasional Indonesia VI 75
3. Beberapa anggota Kabinet RIS yang mendukung Unitarisme dan Sistem
Federal adalah…
a. Moh Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX
b. Djuanda dan Herling Laoh
c. Sultan Hamid II dan Anak Agung Gde Agung
d. Mr. Supomo dan Arnold Mononutu

4. Dalam kabinet RIS dikenal istilah Zaken Kabinet. Apakah yang dimaksud
dengan Zaken Kabinet....
a. Kabinet yang menterinya tidak memiliki keahlian
b. Kabinet yang dipilih berdasarkan latar belakang partai menteri-
menterinya
c. kabinet yang para menterinya dipilih atau berasal dari tokoh-tokoh yang
ahli di bidangnya, tanpa mempertimbangkan latar belakang partainya.
d. Kabinet yang menteri-menterinya dipilih begitu saja

5. Menteri Agama pada masa kabinet RIS adalah ...


a. Syarifuddin Prawiranegara c. K.H. Wahid Hasyim
b. Ir. Djuanda d. Mr. Wilopo

6. Penandatangan naskah kedaulatan di Indonesia diwakili oleh...
a. Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta
b. Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan A.H.J Lovink
c. Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Moh. Hatta
d. Ir. Soekarno dan A.H.J Lovink

7. Sistem pemerintahan pada masa RIS adalah....


a. Sistem parlementer
b. Sistem Presidensil
c. Sistem Konsitusional
d. Sistem Federal

Sejarah Nasional Indonesia VI 76


8. Ratu yang memimpin Belanda ketika penyerahan kedaulatan Indonesia
adalah...
a. Ratu Juliana d. Ratu Diana
b. Ratu Elisabeth e. Ratu Wilhelmina

9. Dibawah ini merupakan tujuan Belanda membentuk RIS, kecuali.....


a. Mencari dukungan untuk menegakkan kembali kekuasaan Belanda di
Indonesia.
b. Untuk melaksanakan sistem desentralisasi di Indonesia.
c. Agar mudah melakukan pengawasan di Indonesia.
d. Agar Belanda segera keluar dari Indonesia.

10. Penyebab Republik Indonesia Serikat tidak berlangsung lama...


a. karena muncul tuntutan-tuntutan untuk kembali ke dalam bentuk NKRI
sebagai perwujudan dari cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.
b. RIS tidak dapat bersaing dengan negara-negara bawahannya.
c. RIS mengalami kegagalan dalam menguasai Indonesia
d. Indonesia berhasil meghimpun kembali daerah-daerahnya yang dikuasai
RIS

Sejarah Nasional Indonesia VI 77


DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku :
Anderson, Ben. Revoloesi Pemoeda Pendudukan Jepang dan Perlawanan
di Jawa 1944-1946. (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988)
Bahar, Ny. Yusni Y., et.al. Merdeka atau Mati. (Jakarta :CV PD dan Ikhwan, 1992).
Kartasasmita, Ginanjar., et.al. 30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-1949.
(Jakarta: PT. Gita Karya, 1985).
Nasution, .A.H. Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid I. (Jakarta: Gunung Agung,1984).
Nasution, DR. A.H. 1993. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid II Periode
Konferensi Meja Bundar. Bandung : Angkasa Bandung.
Noer, Deliar Noer. Mohammad Hatta : Biografi Politik. (Jakarta : LP3ES, 1990).
Oktorino, Nino., et.al. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya. (Jakarta : PT Lentera
Abadi, Jakarta, 2009).
Pattikayu, John A. Sejarah Revolusi Kemerdekaan Di Daerah Maluku. (Ambon:
Departemen pendidikan dan kebudayaan, 1991)
Poesponegoro, Marwati Djonoed dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional
Indonesia VI. (Jakarta : Balai Pustaka, 2011).
Moh.Mahfud MD. Demokrasi dan konstitusi di Indonesia. (Jakarta:Rineka cipta,
2003).
Rudini., et.al. Profil Provinsi Republik Indonesia. (Jakarta: Yayassan Bhakti
Wawasan Nusantara, 1992).
Sudirman, Adi. Sejarah Lengkap Indonesia. (Yogyakarta : DIVA Press, 2014).
Suwondo, Bambang. Sejarah daerah Jawa barat. (Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1981).
Vickers, Adrian. Sejarah Indonesia Modern. (Yogyakarta: Penerbit Insan Madani,
2011).
Kahin,George Mc.Turran, Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan bekerjasama dengan Sebelas Maret University
Press, 1955).

Sejarah Nasional Indonesia VI 78


Rinardi, Haryono, Dari RIS Menjadi Negara RI: Perubahan Bentuk Negara
Indonesia Pada Tahun 1950, (MOZAIK : Jurnal Ilmu Humaniora, Vol. 12,
No.2, 2012)
Swasono Meutia Farida, Bung Hatta Pribadinya dalam Kenangan, (Jakarta: Sinar
Harapan, 1980)

Sumber Jurnal :
Andik suryawan.2013. Jurnal peranan APRIS dalam menjaga stabilitas keamanan
dan keutuhan RIS 1949-1950. Universitas Negeri Surabaya. (Diakses 22
Oktober 2016)
Rinardi, Haryono Rinardi. 2012. Dari RIS Menjadi Negara RI : Perubahan Bentuk
Negara Indonesia Pada 1950. Mozaik. Vol. 12, No. 2.http://journal.unair.
ac.id, (Diakses 18 Oktober 2016)
Widiarko, Dr. Aman Yosef Datu. 2016. Proses Kembali ke NKRI Melalui Perubahan
Konstitusi RIS 1949 Menjadi UUDS 1950. e-Journal UNY. Vol 1, No. 4.
http://journal.student.uny.ac.id, (Diakses 18 Oktober 2016).

Sumber Website :
Noer, Alifah, 2015, Pada http://ipe008.blogspot.co.id/2015/09/bentuk-ris-
tidak-cocok-untuk-indonesia.html, Diakses pada tanggal 2 Mei 2017
dokumen gambar dari www.google.com
www.mahkamahkonstitusi.go.id,
www.wikipedia.org

Sejarah Nasional Indonesia VI 79


Sejarah Nasional Indonesia VI 80
3
pemberontakan -
pemberontakan NEGARA
INDONESIA (1950-1959)

Sejarah Nasional Indonesia VI 81


Keterangan:
11. Menjelaskan Sistem Negara
1. Memahami Materi Sejarah Nasional Kesatuan Republik Indonesia
Indonesia I 12. Kehidupan Berbangsa dan
2. Memahami Materi Sejarah Nasional Bernegara Masa RIS
Indonesia II 13. Menjelaskan Sistem Negara
3. Memahami Materi Sejarah Nasional Indonesia Berdasarkan UUDS 1950
Indonesia III 14. Menjelaskan Keadaan Sosial
4. Memahami Materi Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia Pada Masa
Indonesia IV Demokrasi Liberal
5. Memahami Materi Sejarah Nasional 15. Menjelaskan Sistem Ekonomi
Indonesia V Indonesia Masa Demokrasi Liberal
6. Menjelaskan Hasil Konferensi Meja 16. Menjelaskan Usaha Pemerintah
Bundar dan Pembentukan Republik Indonesia dalam Memperbaiki
Indonesia Serikat (RIS) Ekonomi Nasional
7. Menjelaskan Keadaan Sosial, 17. Menjelaskan Berbagai
Politik, Ekonomi, dan Hankam Masa pemberontakan di Indonesia Masa
Republik Indonesia Serikat Demokrasi Liberal dan Terpimpin
8. Menjelaskan Konsep dan Sistem 18. Menjelaskan Keadaan Militer
Pemerintahan RIS Indonesia Masa Demokrasi Liberal
9. Membandingkan Konstitusi RIS dan 19. Menjelaskan Ketidakstabilan Politik
UUD 1945 Dalam Negeri Indonesia
10. Menjelaskan Faktor Penyebab 20. Menjelaskan Pelaksanaan Pemilu I
Kembalinya RIS Menjadi NKRI Tahun 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 82


21. Menjelaskan Politik Luar Negeri 31. Menjelaskan Kebijakan Politik
Indonesia Pemerintah Indonesia Masa
22. Menjelaskan Keadaan Sosial Demokrasi Terpimpin
Ekonomi Indonesia Masa Demokrasi 32. Menjelaskan Perpolitikan PKI di
Liberal Indonesia (1960-1965)
23. Menjelaskan Kehidupan Sosial 33. Menjelaskan Politik Konfrontasi
Budaya Pada Masa Demokrasi Indonesia dengan Malaysia
Liberal 34. Menjelaskan Penyebab Keluarnya
24. Menjelaskan Keadaan Hankam Indonesia dari PBB dan Konferensi
Indonesia Masa Demokrasi Liberal Asia Afrika
25. Menjelaskan Perpolitikan Indonesia 35. Menjelaskan Upaya Pembebasan
Masa Demokrasi Liberal Irian Barat
26. Menjelaskan Keadaan Indonesia 36. Menjelaskan Peristiwa Gerakan 30
Masa Demokrasi Liberal September
27. Menjelaskan Konsepsi Soekarno 37. Menjelaskan Keadaan Indonesia
28. Menjelaskan penyebab Masa Demokrasi Terpimpin
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 38. Menjelaskan Politik Indonesia
Juli 1959 Masa Demokrasi Terpimpin
29. Berlakunya Kembali UUD 1945 39. Menjelaskan Kehidupan Berbangsa
30. Menjelaskan Deklarasi Ekonomi dan Bernegara Indonesia Masa
(DEKON) Orde Lama

Sejarah Nasional Indonesia VI 83


Pada bab sebelumnya kita telah membahas mengenai
Republik Indonesia Serikat dan perubahan kembali menuju
Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana pada bab
tersebut menguraikan terbentuknya Republik Indonesia
Serikat (RIS) setelah pengakuan kedaulatan Republik
Indonesia sebagai hasil dan konsekuensi Konferensi Meja
Bundar antara pihak Belanda dan Indonesia. Selain itu
juga telah dibahas mengenai proses kembalinya negara federasi RIS menjadi
Republik Indonesia sebagai tuntutan Bangsa Indonesia atas sistem federasi RIS
yang dianggap sebagai alat dan boneka Belanda.
Selama periode demokrasi liberal atau antara tahun 1950-1959,
Indonesia sebagai negara yang baru berdiri dalam keadaan yang kurang stabil,
hal ini diperparah juga dengan masih banyaknya terjadi pemberontakan di
daerah-daerah sebagai hasil ketidakpuasan dengan pusat dan gerakan yang
sifatnya separatis lainnya. Gerakan-gerakan tersebut seperti: APRA (Angkatan
Persenjataan Ratu Adil), RMS (Republik Maluku Selatan), Pemberontakan Andi
Aziz, DI/TII, PRRI/PERMESETA, dan pemberontakan PKI Madiun tahun 1948.
Berbagai pemberontakan tersebut dapat diatasi baik secara politik maupun
militer dengan tempo waktu yang beragam. Diharapkan materi pada bab ketiga
ini dapat memberikan penjelasan dan uraian mengenai berbagai pemberontakan
yang terjadi di Indonesia selama tahun 1950-1959. Adapun tujuan Instruksional
Khusus pada bab ketiga ini sebagai berikut:

Tujuan Instruksional Umum (TIU)

1. Menganalisis penyebab munculnya pemberontakan-pemberontakan


di Indonesia selama tahun 1950-1965.

Setelah mempelajari Bab III, mahasiswa diharapkan dapat:


1. Mendeskripsikan pemberontakan-pemberontahan yang terjadi di
Indonesia selama tahun 1950-1965
2. Menganalisis penyebab terjadinya pemberontakan di Indonesia selama
tahun 1950-1965
3. Menguraikan hubungan antar gerakan pemberontakan di Indonesia

Sejarah Nasional Indonesia VI 84


1 Latar Belakang Terjadinya
Pemberontakan

Berbagai pemberontakan mulai terjadi di dalam negeri pasca


ditandatanganinya perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag,
Belanda. Disamping itu bentuk negara Indonesia juga berubah dari Republik
Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat.1 Negara Indonesia Serikat terdiri
dari Republik Indonesia Negara Sumatera Timur, Negara Sumatera Selatan,
Negara Pasundan, dan lainnya. Banyak tuntutan dari rakyat Indonesia yang
tidak setuju dengan pembentukan RIS tersebut membuat pemerintah kemudian
berinisiatif untuk kembali pada bentuk negara kesatuan.
Bentuk serikat yang sebelumnya disinggung merupakan syarat dari
Belanda, dan dianggap sebagai strategi Belanda untuk dapat menjajah bangsa
Indonesia kembali. Serangkaian tekanan–tekanan lewat negara-negara federal
yang dilakukan Belanda pada Indonesia membuat Indonesa sedikit kewalahan.
Selain itu sering terjadi miskomunikasi antara pemerintah pusat dan pemerintah
daerah, membuat rakyat yang ada di daerah–daerah melakukan aksi protes
sendiri dalam menghadapi tekanan Belanda, bahkan dalam menentang
pemerintahan Indonesia sendiri. Beberapa diantaranya pemberontakan yang
terjadi dalam menentang pemerintahan Indonesia, sebagai berikut:2
a) Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)
b) Pasukan Andi Aziz
c) Darul Islam / Tentara Islam Indonesia
d) PRRI / Permesta
e) Pemberontakan PKI Madiun

Berbagai pemberontakan yang terjadi membuat masyarakat di beberapa


daerah menjadi resah, dan untuk menghadapi pemberontakan-pemberontakan
tersebut Pemerintah RI menggunakan beberapa cara baik yang sifatnya

1 Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosussanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2011). h. 263
2 Barbara Sillars Harvey, PERMESTA Pemberontakan Setengah Hati, (Jakarta, 1989), h. 10

Sejarah Nasional Indonesia VI 85


diplomatis maupun dengan kekuatan senjata dan operasi militer. Beberapa
pemberontakan dapat diatasi pemerintah dengan sangat baik, namun sebagian
lagi perlu operasi militer dan butuh waktu yang lama seperti pemberontakan DI/
TII.

2 Pemberontakan pemberontakan
di Indonesia (1950 - 1959)

a. Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)


Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)
merupakan salah satu kelompok yang
reminder
melakukan suatu pemberontakan pada
“Banyak dari rakyat
periode awal demokrasi liberal. Kelompok ini Indonesia yang tidak setuju
dikomandoi oleh Kapten Raymond Westerling dengan pembentukan RIS
tersebut sehingga membuat
seorang anggota militer Belanda.3 Saat itu,
mereka berinisiatif untuk
Kapten Westerling ditugaskan oleh Belanda ke membubarkan diri dari RIS dan
negara bagian Pasundan, untuk memadamkan membentuk pemerintahan
aksi yang dilakukan oleh kaum teroris di Jawa sendiri”

Barat.4 Namun, aksi Westerling tersebut dinilai


terlalu kejam, karena ia menumpas habis para
teroris dan kabar tentang hal ini yang tersiar begitu luas.
Oleh karena itu Belanda melakukan pemecatan terhadapnya. Westerling
sendiri tidak terima dengan pemecatannya dari keanggotaan tentara Belanda.
Ia kemudian mencoba untuk melakukan sebuah gerakan dengan landasan
mengenai konsep dan mitos Ratu Adil yang dikisahkan dalam ramalan Jayabaya.
5
Westerling memainkan perannya dan menghasut rakyat Pasundan dengan isu –
isu mengenai telah datangnya ratu adil yang didambakan oleh rakyat selama ini.
Westerling kemudian mengumpulkan 8000 simpatisan dan mendirikan APRA.6

3 Perjuangan Bangsa Indonesia Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Dari Ancaman DisIntegrasi Bangsa
Terutama Dalam Pergolakan Dan Pemberontakan. (Diakses 19 oktober 2016, pukul 21.3)
4 Syarifuddin, BAB VIII Peristiwa Westerling & Proklamasi Negara Pasundan.pdf, (diakses tanggal 11
oktober 2016)
5 Syarifuddin, op.cit . h.7
6 Ibid, h. 7

Sejarah Nasional Indonesia VI 86


Ia menunjuk dirinya sebagai sang ratu adil. Adapun tujuan dibentuknya
APRA adalah untuk mencegah dikembalikannya bentuk Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dari yang sebelumnya berbentuk serikat. Jika bentuk negara
Indonesia berubah ke negara kesatuan, maka Pasundan bukanlah sebuah negara
bagian Indonesia yang merdeka, melainkan akan menjadi wilayah bagian yang
satu dengan Indonesia.
Tentu saja hal tersebut merugikan pihak Belanda.Pada tahun 1949, Belanda
telah mengakui kedaulatan negara Indonesia, namun dalam bentuk negara
serikat. Belanda bertujuan untuk memecah belah wilayah–wilayah Indonesia
dengan membangun negara-negara boneka, dan tujuan utama mereka, yakni
untuk dapat menguasai Indonesia kembali.
Selain untuk mencegah diberlakukannya kembali bentuk negara kesatuan,
pendirian APRA juga dilakukan untuk melucuti TNI (Tentara Nasional Indonesia)
yang berada di Negara Pasundan. APRA dibentuk untuk menggantikan posisi
TNI Pasundan. APRA juga bertujuan untuk menjadi tentara bebas di Negara
Pasundan.7 Dengan tidak adanya pasukan TNI di Pasundan, maka APRA akan
menjadi satu–satunya basis militer di Pasundan. Dengan demikian, wilayah
Pasundan dapat dikuasai secara penuh oleh Westerling, dimana Belanda juga
ikut andil di dalamnya.
Pada Januari 1950, APRA mengajukan ultimatum kepada pemerintah
Indonesia agar APRA diakui sebagai tentara resmi Pasundan menggantikan
posisi TNI, selain itu APRA menolak untuk dibubarkannya bentuk negara
federal.8 Namun ultimatum yang diberikan APRA tersebut tidak ditanggapi
oleh pemerintah Indonesia. Kejadian tersebut menimbulkan kemarahan pada
kalangan APRA. Mereka kemudian menyerang Kota Bandung tepat pada 23
Januari 1950 dengan kekuatan APRA yang terdiri dari 523 orang bersenjata
lengkap. Dalam gerakan tersebut, anggota APRA melucuti senjata polisi, dan
membunuh setiap anggota TNI, serta berhasil menduduki Markas Staf Divisi
Siliwangi. Gerakan APRA di kota Bandung ini sendiri menewaskan lebih dari 79
anggota TNI, dan juga penduduk sipil.9
7 Op.cit, Perjuangan Bangsa Indonesia Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Dari Ancaman DisIntegrasi
Bangsa Terutama Dalam Pergolakan Dan Pemberontakan, h. 14
8 Perjuangan Bangsa Indonesia Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Dari Ancaman DisIntegrasi Bangsa
Terutama Dalam Pergolakan Dan Pemberontakan, (Diakses 19 oktober 2016, pukul 21.30)
9 Poesponegoro & Notosussanto, Op.Cit. h.346

Sejarah Nasional Indonesia VI 87


Menanggapi kasus penyerangan yang dilakukan APRA, kepolisian RIS
mengerahkan anggotanya untuk menjaga dan mengembaikan kondisi tertib Kota
Bandung. Selain itu, perdana menteri RIS yang saat itu dijabat oleh Mohammad
Hatta, mengadakan pertemuan dengan pihak Belanda untuk membahas
penyerangan yang dilakukan oleh Westerling. Hasil dari pertemuan Hatta dan
Komisaris Tinggi Belanda menyebutkan bahwa Westerling harus keluar dari kota
Bandung.
Pada saat berlangsungnya pertemuan tersebut, Hatta mendapat kabar
bahwa Westerling dibantu oleh Sultan Hamid II dari Kalimantan Barat bersama
dengan Anak Gde Agung dalam kasus penyerangan di Bandung tersebut.10 Pada
saat Mohammad Hatta hendak melakukan sidang bersama para menterinya,
tersiar kabar bahwa akan terjadi kudeta yang kembali dilakukan oleh pasukan
yang diperintah oleh Westerling. Dalam isu kudeta tersebut, Sultan Yogyakarta
menjadi target utama untuk diculik dan dibunuh. Hal terkait dengan posisi Sultan
Yogyakarta yang menjabat sebagai menteri pertahanan RIS.11 Namun isu tersebut
sudah diketahui terlebih dahulu oleh Hatta, sehingga Hatta memutuskan untuk
memberhentikan rapat dan kudeta tersebut gagal dilakukan.

Gambar 3.1 Raymon Westerling (kiri) dan Pasukan APRA Saat Memasuki Kota Bandung
(Kanan). Sumber: www.google.co.id/image
Selain itu dalam gerakan ini diketahui melibatkan Sultan Hamid II. Sultan
Hamid II kemudian berhasil ditangkap pada 4 April 1950.Penangkapan Sultan
Hamid dan gagalnya kudeta yang telah direncanakan tersebut membuat

10 Marvis Rose, Indonesia Merdeka:Biografi Politik Mohammad Hatta, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1991). h. 292
11 Ibid, h. 292

Sejarah Nasional Indonesia VI 88


kedudukan Westerling di Pasundan semakin terdesak. Ia memutuskan untuk
meninggalkan Kota Bandung dan melarikan diri ke Jakarta. Dari Jakarta
Westerling kembali berhasil keluar dari Indonesia menuju Singapura. Pelarian
Westerling tersebut dicurigai mendapat bantuan dari Angkatan Laut Belanda.12
Setelah Westerling dan beberapa pasukannya meninggalkan Pasundan,
APRIS melakukan sterilisasi di beberapa daerah di Negara Pasundan, terutama
di kota Bandung. Beberapa orang yang dicurigai merupakan anggota APRA
ditangkap. Beberapa diantaranya adalah Anwar Tjokroaminoto (Perdana Menteri
Pasundan), Komisaris Besar Polisi R.Jusuf, Komisaris Besar Polisi Djanakum, dan
Male Wiranatakusumah.13

b. Pemberontakan Andi Aziz
Pada tanggal 5 April 1950 di Makassar terjadi pemberontakan yang
dilakukan oleh kesatuan-kesatuan bekas KNIL yang berada di bawah pimpinan
Kapten Andi Aziz. Sebelumnya pada tanggal 30 maret 1950, ia bersama dengan
para pasukan KNIL di bawah komandonya menggabungkan diri ke dalam APRIS
yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Junus Mokoginta.14
Pemberontakan ini terjadi karena adanya kekacauan yang terjadi di
Sulawesi Selatan pada bulan April 1950. Hal ini disebabkan karena sering
terjadi demonstrasi kelompok masyarakat yang anti-federal mendesak NIT
(Negara Indonesia Timur) untuk segera menggabungkan diri dengan Republik
Indonesia. Pada tanggal 5 April 1950 pemerintah mengirimkan satu batalion
pasukan TNI yang dipimpin oleh Mayor H.V. Worang, kedatangan pasukan dari
Jawa pun mengancam kedudukan dari masyarakat yang pro-federal. Mereka
pun bergabung dan menamakan diri “Pasukan Bebas” yang berada di bawah
pimpinan Kapten Andi Aziz.15
Dalam surat kawat tanggal 5 April 1950 kepada Perdana Menteri NIT,
Mohammad Hatta mengatakan pihak RIS telah memerintahkan Batalion Worang
yang berada di depan pelabuhan Makassar untuk tidak mendarat terlebih dahulu
agar tidak terjadi pertumpahan darah. Hatta pun meminta kepada Perdana

12 Deliar Noer, Mohammad Hatta Biografi Politik, (Jakarta: LP3ES, 1991). h. 381
13 Poesponegoro & Notosussanto, Op.Cit. h. 346
14 Sekretariat Negara Republik Indonesia , 30 Tahun Indonesia Merdeka (1950-1964). 1985, h. 35
15 Poesponegoro & Notosussanto, op.cit, h. 349

Sejarah Nasional Indonesia VI 89


Menteri NIT agar Andi Aziz kembali ke tangsinya dan orang-orang yang ditawan
oleh Andi Aziz segera dibebaskan.16
Pada pagi hari sekitar pukul 05.00 tanggal 5 April 1950, Kapten Andi Aziz
bersama pasukannya dibantu oleh anggota Koninklijke Leger (Pasukan Belanda)
dan pasukan KNIL menyerang markas APRIS di Makassar. Kekuatan mereka pun
lebih besar jauh melebihi kekuatan APRIS yang ada dan mereka pun akhirnya
berhasil menguasai kota Makassar. Beberapa orang prajurit menjadi korban
bahkan beberapa perwira, termasuk Letnan Kolonel Ahmad Yunus Mokoginta
berhasil ditawan.17
Pada tanggal 8 April 1950, pemerintah pusat bertindak tegas dalam
menghadapi pemberontakan Andi Aziz ini. Pemerintah pun mengeluarkan
instruksi bahwa dalam waktu 2 x 24 jam Andi Aziz melaporkan diri ke Jakarta
untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pada tanggal 15 April 1950
Andi Aziz telah berangkat ke Jakarta setelah didesak oleh presiden NIT, namun
karena Andi Aziz terlambat melapor ke Jakarta maka ia ditangkap dan diadili.
Sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Mayor H. V. Worang terus melakukan
pendaratan di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 21 April 1950 pasukan ini
pun berhasil menduduki Makassar tanpa perlawanan berarti dari pasukan
pemberontak.18
Setelah seminggu dari kejadian itu, Batalion Worang berhasil menduduki
Makassar, pada tanggal 26 April 1950 mendaratlah pasukan ekspedisi yang
dipimpin oleh Kolonel A. E. Kawilarang yang mendarat di pantai timur, tenggara,
dan barat di Sulawesi Selatan. Pasukan ini pun memiliki kekuatan yang cukup
besar sekitar 12.000 personel yang diangkut dengan 12 kapal yang juga
membawa dua tank pendarat. Kapal-kapal tersebut yaitu Korvet Hang Tuah,
Banteng, dan Rajawali. Dengan kedatangan pasukan ini, maka semangat tempur
prajurit APRIS meningkat. Dalam rencana pendaratan APRIS di Sulawesi Selatan
dilakukan pembagian tugas sebagai berikut:
1. Batalion Worang mendarat di Jeneponto menuju Makassar,
2. Batalion Andi Mattalatta mendarat di Pancana, kemudian bergerak ke Pare-
Pare,

16 Noerr, Op.Cit. h. 386.


17 Ibid., h. 352
18 Noerr, loc.cit.

Sejarah Nasional Indonesia VI 90


3. Pesawat-pesawat AURIS menembaki kota
Makassar, reminder
Pemerintah pun
4. Korvet Banteng menembaki Bonthain,
mengeluarkan instruksi
5. Brigade Garuda Mataram Divisi II di bahwa dalam waktu 2 x 24
bawah pimpinan Letnan Kolonel Soeharto jam Andi Aziz melaporkan
diri ke Jakarta untuk
mendarat di Bonthain menuju Makassar,
mempertanggung jawabkan
6. Brigade 18 divisi I di bawah pimpinan perbuatannya. Pada tanggal
Letnan Kolonel S. Sokowati mendarat di 15 April 1950 Andi Aziz telah
Balangnipa dan Sinjai. berangkat ke Jakarta setelah
didesak oleh presiden NIT
Sayangnya keadaan aman di Sulawesi
namun karena Andi Aziz
Selatan tidak berlangsung lama. Hal itu terlambat melapor ke Jakarta
disebabkan keberadaan pasukan KL-KNIL yang maka ia ditangkap dan diadili
sedang menunggu penarikan pasukan APRIS
keluar dari Makassar. Mereka sering melakukan provokasi dan memancing
bentrokan dengan pasukan APRIS. Pertempuran antara APRIS dan pasukan KL-
KNIL terjadi pada tanggal 5 Agustus 1950 di Kota Makassar yang pada waktu itu
berada dalam suasana peperangan. 19
Dalam pertempuran itu APRIS berhasil memukul mundur pasukan lawan.
Selanjutnya pasukan APRIS melakukan pengepungan terhadap tangsi-tangsi
prajurit KNIL. Pertempuran besar kembali meletus pada tanggal 5 Agustus
1950 petang, ketika markas Staf Brigade Garuda Mataram yang secara tiba-tiba
diserang oleh KL-KNIL yang menyadari kedudukannya semakin kritis, peristiwa
ini dikenal sebagai “Peristiwa 5-8” (5 Agustus).20
Pada tanggal 8 Agustus 1950 pihak KL-KNIL meminta untuk berunding.
Perundingan yang dilakukan oleh Kolonel A. E. Kawilarang dari pihak RI dan
Mayor Jenderal Scheffelaar dari KL-KNIL. Hasilnya kedua belah pihak setuju
untuk menghentikan tembak-menembak dan dalam waktu dua hari pasukan KL-
KNIL harus meninggalkan Makassar.21
c. Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)
Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) merupakan kelanjutan
dari pertentangan yang terjadi antara golongan nasionalis republiken dan

19 Poesponegoro & Notosusanto, Op.Cit. h. 355


20 Sekretariat Negara Republik Indonesia. Op.Cit. h. 36
21 Poesponegoro & Notosusanto. loc.cit.

Sejarah Nasional Indonesia VI 91


golongan federalis yang telah berkembang sejak tahun 1946. Pemberontakan
ini merupakan bagian dari pemberontakan yang terjadi di Makassar yaitu
pemberontakan Andi Aziz pada tahun 1950. Persoalan pemicu pemberontakan
RMS ini awalnya merupakan pemikiran dari beberapa orang Ambon yang
berkuasa pada masa NIT.Salah satu partai yang menguasai alam pikiran mereka
yaitu “Gabungan Sembilan Serangkai”.22
Gerakan pemberontakan RMS ini sifatnya “separatis”. Gerakan tersebut
tidak hanya bertujuan untuk memisahkan diri dari NIT melainkan bertujuan juga
untuk membentuk sebuah Negara sendiri terpisah dari RIS. Pendiri Republik
Maluku Selatan (RMS) adalah Dr. Christian Robert Steven Soumokil yang
merupakan mantan Jaksa Agung NIT. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya
bahwa sebenarnya Soumokil sudah terlibat dalam pemberontakan Andi Aziz
namun ia melarikan diri ke Maluku. Soumokil juga berhasil memindahkan
pasukan KNIL dan pasukan Baret Hijau dari Makassar ke Ambon.23

Gambar 3.2 Spanduk-Sapnduk yang berisi ajakan untuk bergabung ke dalam RMS. Sumber:
www.google.co.id/image
Kedudukan Soumokil sebagai seorang Jaksa Agung NIT memudahkan
Soumokil untuk bepergian ke beberapa daerah di Indonesia bagian Timur dengan
menggunakan pesawat militer. Sebelum pergi ke Ambon ia sempat berkunjung

22 John A Pattikayhatu, Sejarah Revolusi Kemerdekaan di Daerah Maluku, (Jakarta: Depdikbud 1991). h.
64
23 Ibid, h.64

Sejarah Nasional Indonesia VI 92


ke Manado pada tanggal 13 April. Di Ambon sendiri sudah dapat terlihat tanda-
tanda pemisahan wilayah dengan NIT.24
Benih separatis ini pun muncul dari para birokrat pemerintah daerah.
Pada tanggal 4 April 1950 di Ambon Ir. Manusama mengundang para Rajapati
(penguasa desa) untuk mengadakan rapat di kantornya. Kepada para Rajapati
itu Ir. Manusama mengutarakan bahwa penggabungan wilayah Ambon ke NKRI
mengandung bahaya. Kemudian mereka pun menyetujui untuk mengadakan
rapat di Kota Ambon. Rapat umum itu dilakukan pada tanggal 18 April 1950
di Esplenade (sekarang Lapangan Merdeka) Kota Ambon yang diadakan suatu
rapat raksasa dimana Manusama membacakan pidatonya dengan semangat dan
jiwa yang berapi-api.25
Pada tanggal 18 April 1950 untuk memperingatkan seluruh rakyat
Ambon akan bahaya penggabungan Ambon ke NKRI ia pun menghimbau agar
rakyat Maluku memperjuangkan Maluku merdeka setelah NIT bubar. Pidatonya
tersebut disebarluaskan melalui surat kabar “Siwa Lima” yang diasuh oleh Ir.
Pessauarisa yang merupakan seorang tokoh anti-republik yang kemudian
menjadi Menteri Penerangan RMS.26
Pada tanggal 20 April 1950, Pupella dari Pemuda Indonesia Maluku
(PIM) mengajukan mosi tidak percaya dalam parlemen NIT. Mosi itu diterima
dengan baik, kemudian pada tanggal 25 April 1950 kabinet NIT pun meletakkan
jabatannya.27
Dalam waktu yang singkat tepatnya pada tanggal 26 April 1950 yang
berdasarkan hasil rapat dibentuklah kabinet pertama dengan susunan para
menteri sebagai berikut:
1) Presiden: J.H. Manuhutu
2) Perdana Menteri: A. Wairissal
3) Menteri Luar Negeri: D.J. Gaspersz
4) Menteri Kehakiman: J. Taule
5) Menteri Keuangan: J.B. Pattiradjawane
6) Menteri Pekerja Umum: H.F. Pieter

24 Poesponegoro & Notosusanto. Op.Cit. h. 356


25 Ibid., h. 358;
26 Poesponegoro & Notosusanto, loc.cit
27 John A. Pattikayhatu, Op.Cit. h. 69

Sejarah Nasional Indonesia VI 93


7) Menteri Perbekalan: P.W. Lokollo
8) Menteri Pertahanan: A. Nanlohy
9) Menteri Pendidikan: Ir. J.A. Manusama
10) Menteri Kesehatan: dr. Th. Pattiradjawane
11) Menteri Penerangan: Ir. Pesuarissa

Pada tanggal 9 Mei 1950 dibentuklah angkatan perang RMS yang mayoritas
merupakan eks tentara KNIL dengan staf pimpinan sebagai berikut:
• Panglima: Sersan Mayor D.J. Samson
• Kepala Staf: Sersan Mayor Pattiwael
• Deputy:
a) Sersan Mayor Kastanya
b) Sersan Mayor Pieter
c) Sersan Mayor Aipassa

Pada tanggal 25 mei 1950 dibuatlah undang-undang dasar sementara.
Disamping itu dibacakan pula sebuah proklamasi dimana isi dari teks proklamasi
ini memiliki dua alasan pokok mengapa RMS ada, yaitu:28
Proklamasi ini sendiri dianggap sesuai dengan keputusan dari Dewan
Maluku Selatan. Teks proklamasi tersebut disusun oleh D.Z. Pesuarissa yang
dibantu dengan Dr. Soumokil dan Ir. Manusama.29
Pemerintah RIS berupaya untuk mengatasi masalah ini secara damai,

Yang pertama ialah: NIT sudah tidak sanggup mempertahankan kedudukannya sebagai
Negara Bagian selaras dengan peraturan-peraturan Konferensi Denpasar yang masih sah
berlaku.
Yang kedua ialah: RIS sudah bertindak bertentangan dengan keputusan-keputusan KMB
dan undang-undang dasarnya sendiri.

yaitu dengan mengirimkan misi damai yang dipimpin oleh tokoh asli Maluku,
dr. Leimena. Namun misi ini ditolak oleh Soumokil, bahkan mereka kemudian
berupaya menarik perhatian dan pengakuan dari dunia internasional terutama

28 Ibid , h. 70
29 Ibid, h. 70

Sejarah Nasional Indonesia VI 94


dari Belanda, Amerika Serikat, dan komisi PBB untuk Indonesia. Selain itu misi
damai yang dilakukan RIS juga mengirimkan beberapa golongan yang terdiri
dari para politikus, dokter, dan wartawan namun tetap tidak dapat bertemu
dengan Soumokil. Karena upaya damai mengalami jalan buntu, maka terpaksa
pemerintah melakukan operasi militer. Ekspedisi militer untuk menumpas
gerakan RMS ini disebut Gerakan Operasi Militer (GOM) III yang dipimpin oleh
Kolonel A.E. Kawilarang, Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur.30
Pada tanggal 14 Juli 1950 pada pagi hari, pasukan APRIS mendarat di
Pulau Buru. Dengan susah payah pasukan APRIS berhasil menguasai pos-pos
penting di pulau ini. Selanjutnya, pada tanggal 19 juli 1950 pasukan APRIS
menuju Pulau Seram. Pada hari itu juga Seram Barat dapat dikuasai dengan
mudah oleh pasukan APRIS. APRIS bermaksud untuk memusatkan kekuatan dan
kekuasaannya di Pulau Seram serta Ambon. Kemudian APRIS pun bergerak ke
bagian lain di Pulau Seram.31
Pada tanggal 3 November 1950 yang dimulai dengan serangan yang
dilanjutkan ke Teluk Poso. Grup I yang didaratkan di Ambon berusaha untuk
dapat merebut Benteng Nieuw Victoria dengan sebuah pertempuran yang
dramatis. Pada hari itulah Kota Ambon dapat dikuasai. Pasukan RMS juga
menyamar sebagai APRIS dengan membawa bendera Merah Putih berhasil
menguasai benteng itu kembali. Kemudian datanglah Grup II yang dipimpin oleh
Letnan Kolonel Slamet Riyadi. Dalam pertempuran itu, Letnan Kolonel Slamet
Riyadi pun tertembak dan gugur di medan perang. Dengan jatuhnya Ambon,
maka perlawanan dari RMS dapat dipatahkan dan dikalahkan.Sisa-sisa kekuatan
RMS banyak yang melarikan diri ke Pulau Seram dan selama beberapa tahun
seringkali membuat berbagai kekacauan.32

d. Hubungan Antara Pemberontakan APRA, Andi Aziz, dan RMS


Pemberontakan Westerling, Andi Aziz, dan pemberontakan Soumokil
memiliki kesamaan yaitu ketidakpuasan mereka terhadap proses kembalinya RIS
ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemberontakan-pemberontakan
ini menggunakan kekuatan dari unsur KNIL yang merasa bahwa status mereka

30 Poesponegoro & Notosusanto, Op.Cit. hh. 358-359.


31 Ibid, hh. 358-359
32 Ibid, hh. 358-359

Sejarah Nasional Indonesia VI 95


tidak pasti setelah KMB. Keberhasilan APRIS yang menguasai keadaan pada
saat itu semakin memperbesar semangat golongan rakyat dan kaum republiken
untuk kembali ke NKRI. Namun kondisi tersebut mengakibatkan tindakan-
tindakan teror dan intimidasi terhadap golongan republiken yang menghendaki
bergabung dengan NKRI telah tampak sejak bulan Februari 1950. Serangkaian
terror dan kekerasan pun terjadi di beberapa tempat di Indonesia.

e. Pemberotakan DI/TII
Pemberontakan selanjutnya adalah Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.
Pemimpin pemberontakan ini adalah SM. Kartosuwiryo, merupakan eks-tokoh
yang sebenarnya ikut terlibat dalam perang kemerdekaan sebelum perjanjian
Renville. Pemberontakan DI/TII merupakan pemberontakan terlama dan
skalanya yang juga luas sehingga dianggap mengancam NKRI. Sebagaian pasukan
Kartosuwiryo mendapat pelatihan militer dari Hizbullah.33

Gambar 3.3 Pasukan DI/TII sedang berdiskusi dengan latar belakang bendera DI/TII. Sumber:
www.google.co.id/image
Konsep yang berseberangan dengan pemerintah mengenai cara
pengelolaan negara ikut membidani lahirnya pemberontakan DI/TII. Melalui
konsep dan pemikirannya yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia,
Kartoswiryo berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh dengan afiliasi Islam lainnya
di berbagai daerah untuk bergabung dengan DI/TII bentukannya. Akibatnya,

33 Hizbullah adalah salah satu pasukan semi-mililter yang didirikan pada zaman penduduk Jepang
untuk golongan Islam. Setelah Indonesia merdeka, sebagian dari pasukan ini yang tidak terdaftar menjadi
tentara regular (TNI) kemudian menjadikan Hizbullah sebagai laskar-laskar yang turut serta dalam perang
kemerdekaan. Selain itu Hizbulla juga identik dengan partai Masyumi. Pasca Perjanjian Renville sebagian
pasukan Hizbullah di Priangan melakukan pemberontakan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo. Lihat Robert
Cribb, 2010, Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949, Jakarta: Masup Jakarta. h.102-103.

Sejarah Nasional Indonesia VI 96


pemerintah semakin dibuat kerepotan oleh serangkaian DI/TII yang kemudian
menyebar di beberapa daerah di Indonesia.

1) Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat


Selama masa pendudukan Jepang dan setelah proklamasi kemerdekaan,
Kartosuwiryo menjadi anggota partai Masyumi. Bahkan ia kemudian terpilih
menjadi Komisaris Jawa Barat merangkas sekretaris I partai tersebut. Gagasan
mendirikan Negara Islam Indonesia sebenarnya telah dicanangkan oleh S. M.
Kartosuwiryo sejak tahun 1942. Pada mulanya di Malangbong Kartosuwiryo
mendirikan Pesantren Sufah, yang digunakan untuk latihan kemiliteran bagi
pemuda-pemuda Islam dengan memberikan penekanan pada militansi Islam,
serta ditanamkan fanatisme bagi para pengikutnya. Sebelumnya ia pernah
dicalonkan sebagai menteri pertahanan, namun karena ia mempunyai tujuan
tersendiri maka jabatan itu ditinggalkan.34
Pada tanggal 14 Agustus 1947 setelah Militer Belanda I, Kartosuwiryo
menyatakan “perang suci” melawan Belanda. Gerakan Kartosuwiryo semakin
tidak sejalan dengan pemerintahan RI ketika terjadi perundingan Renville yang
dianggap merugikan pihak Indonesia. Salah satu isi persetujuan itu menyatakan
bahwa semua pasukan TNI di daerah kantong-kantong gerilya sehingga harus
hijrah ke wilayah yang dikuasai oleh RI. Penolakan terhadap perjanjian Renville
diwujudkannya dengan sikap menolak melakukan hijrah ke wilayah RI bersama
4.000 orang pengikutnya ia memilih tetap tinggal di Jawa Barat.35
Dalam konferensi di Cisayong pada bulan Februari 1948 diputuskan
untuk mengubah gerakan mereka dari gerakan kepartaian menjadi gerakan
kenegaraan. Upaya tersebut ditempuh dengan cara membekukan kegiatan
Masyumi di Jawa Barat. Selanjutnya mereka membentuk Majelis Umat Islam
dan mengangkat Kartosuwiryo sebagai imam dari Negara Islam Indonesia (NII).
Kemudian dibentuk pula Tentara Islam Indonesia (TII). Pada tanggal 7 Agustus
1949 secara resmi Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam
Indonesia (NII) yang berlandaskan kanun azasi.36
Pada tanggal 25 Januari 1949 terjadi kontak senjata pertama kali antara
34 Poesponegoro & Notosusanto, Op.Cit. h. 360.
35 Departemen pendidikan dan kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Sejarah Daerah Jawa Barat.
1994 , h. 226-227
36 Poesponegoro & Notosusanto. Op.Cit. h. 360

Sejarah Nasional Indonesia VI 97


TNI dan DI/TII, ketika pasukan Divisi Siliwangi melakukan hijrah (long march)
dari Jawa Barat ke Jawa Tengah. Bahkan kemudian terjadi perang segitiga antara
TNI-DI/TII-Tentara Belanda. Upaya damai dilakukan oleh Pemerintah RI melalui
Moh. Natsir (pemimpin Masyumi) lewat sepucuk surat, namun tidak berhasil.
Upaya kedua dilakukan dengan membentuk sebuah komite dipimpin oleh Moh.
Natsir pada bulan september 1949. Akan tetapi, usaha itu pun gagal mengajak
Kartosuwiryo untuk kembali ke RI.37
Munculnya gerakan DI/TII telah mengakibatkan penderitaan rakyat Jawa
Barat. Seringkali rakyat mendapatkan teror dari mereka ketika para tentara DI/
TII berusaha memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan merampok rakyat.
Terutama bagi rakyat yang tinggal di daerah-daerah terpencil di lereng gunung
sekitar Jawa Barat.
Operasi militer untuk menumpas gerakan DI/TII yang dimulai pada
tanggal 27 Agustus 1949. Operasi ini menggunakan taktik “Pagar Betis” yang
dilakukan dengan menggunakan tenaga rakyat untuk mengepung wilayah yang
dianggap sebagai tempat gerombolan itu bersembunyi. Taktik ini bertujuan
untuk mempersempit ruang gerak mereka. Selain itu juga dilakukan Operasi
Baratayudha dengan sasaran basis pertahanan mereka. Walaupun demikian,
operasi ini pun memakan waktu yang cukup lama untuk melakukan penumpasan
itu. Pemberontakan ini berakhir pada 4 juni 1962 ketika Kartosuwiryo berhasil
ditangkap di Gunung Geber oleh pasukan Siliwangi.38

2) Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah


Munculnya DI/TII Jawa Tengah berawal dari Majelis Islam yang dipimpin
oleh Amir Fatah. Pada mulanya Amir Fatah menjabat sebagai Komandan Laskar
Hizbullah di Front Tulangan Sidoarjo dan Mojokerto, Jawa Timur. Kemudian
ia meninggalkan front dan menggabungkan diri dengan TNI di Tegal. Pasukan
Hizbullah yang berdiri sejak bulan Januari 1946, menggabungkan diri dengan
TNI Batalion 52 yang dipimpin oleh Mayor Moh. Bachrin. Amir Fatah berhasil
memengaruhi Mayor Bachrin, sehingga bersama pasukannya meninggalkan
Wonosobo kembali ke daerah Brebes-Tegal. Ketika terjadi Agresi Militer
Belanda II, Amir Fatah berada di front Brebes-Tegal bersama satuan-satuan TNI
37 Ibid. h.361
38 Ibid. h. 360

Sejarah Nasional Indonesia VI 98


setempat. Tugas utamanya mengurus penggabungan laskar-laskar masuk ke
dalam TNI. Setelah mendapatkan pengikut yang cukup banyak, pada tanggal 23
Agustus 1949 di Desa Pengarasan, Tegal, ia memproklamasikan berdirinya Darul
Islam (DI). Pasukannya diberi nama Tentara Islam Indonesia (TII). Ia menyatakan
bahwa gerakannya bergabung dengan Gerakan DI/TII Jawa Barat pimpinan
Kartosuwiryo.39
Selain dari itu, di Kebumen juga terjadi gerakan yang bernama angkatan
Umat Islam yang dipimpin oleh Mohammad Mahfud Abdurrahman (Kiyai
Somolangu). Gerakan ini juga bermaksud untuk membentuk Negara Islam
Indonesia dengan bergabung dengan Kartosuwiryo. Gerakan ini sebenarnya sudah
dapat didesak oleh TNI. Namun, pada tahun 1952 kembali kuat setelah adanya
pemberontakan Batalyon 423 dan 426 di Kudus dan Magelang yang menyatakan
bergabung dengan mereka. Di daerah magelang terjadi pemberontakan pada
tahun 1951 dimana Gerakan tersebut berada di daerah Merapi-Merbabu dan
terkenal dengan sebutan Merapi-Merbabu Complex (MMC).40
Untuk menghadapi pemberontakan ini, TNI melancarkan operasi yang
ditujukan terhadap DI/TII di Tembangrejo dan pengarasan. Hal Itu mengakibatkan
kekuatan dari DI/TII menjadi melemah. Operasi ini akhirnya dilanjutkan setelah
berakhirnya perang kemerdekaan. Pada tahun 1950 dibentuk Gerakan Benteng
Negara (GBN) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Sarbini kemudian digantikan
oleh Letnan Kolonel Bachrun, pasukan dalam operasi militer ini terkenal dengan
pasukan Banteng Raiders. Akhirnya pada tahun 1954 gerombolan itu dapat
dihancurkan dan sisanya tercerai-berai.41

3) Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan


Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan ini dipimpin oleh Kahar
Muzakar. Gerakan ini dimulai tahun 1951 dan dapat diselesaikan tahun 1965.
Selama perang kemerdekaan, Kahar Muzakar pada mulanya berjuang untuk
RI di Sulawesi Selatan. Dia mempimpin beberapa laskar di Sulawesi Selatan,
disamping itu Kahar Muzakar pun berjuang di Jawa ketika terjadi pertempuran

39 Moedjanto, Indonesia Abad Ke-20 Jilid 2 Dari Perang Kemerdekaan Pertama Sampai PELITA III,
(Yogyakarta: Kanisius, 1991). h. 127
40 Ibid. hh. 127-128
41 Poesponegoro & Notosusanto, Op.Cit., h. 365

Sejarah Nasional Indonesia VI 99


di Surabaya.42
Pada tahun 1949, Kahar Muzakar memimpin sebuah Laskar-laskar gerilya
di Sulawesi Selatan yang kemudian tergabung dalam Komando Grilya Sulawesi
Selatan (KGSS). Laskar ini meminta agar mereka dimasukkan kedalam APRIS.
Namun pemerintah menolak permintaan KGSS dikarenakan pemerintah
hanya menerima anggota KGSS yang memenuhi syarat untuk dinas militer.
Kemudian pemerintah pun menyelesaikan masalah geriliyawan tersebut
dengan menyalurkan gerilyawan yang tidak diterima tes dan disalurkan di Corps
Tjadangan Nasional (CTN).
Pada tanggal 24 Maret 1951 lima Batalion pun dilantik dan Kahar Muzakar
pun diangkat sebagai komandannya. Namun saat pelantikan itu akan dilakukan
Kahar Muzakar pun melarikan diri dan mengakibatkan kekacauan, tidak hanya
itu saja pada tanggal 7 Agustus 1953, dia menyatakan bahwa daerah Sulawesi
Selatan sebagai bagian dari Darul Islam dan nama pasukannya pun diubah
menjadi Tentara Islam Indonesia (TII).43
Di Sulawesi Selatan, pada tanggal 12 september 1959 terjadi perpecahan
di kalangan pengikut Kahar Muzakar, karena pemberontakan di Sulawesi
Selatan ini masih terjadi maka pemerintah RI pun melakukan operasi militer
dan memperluas cakupannya hingga daerah pegunungan Sulawesi Tenggara.
Pada bulan Februari 1965 operasi militer itu berakhir setelah Kahar Muzakar
tertembak mati. Dengan demikian berakhirlah gangguan kemanan yang terjadi
di Sulawesi Selatan.44

4) Pemberontakan DI/TII di Aceh


Setelah proklamasi kemerdekaan RI, di Aceh terjadi pertentangan antara
alim ulama yang tergabung dalam organisasi PUSA (Persatuan Ulama Seluruh
Aceh) yang dipimpin oleh Tengku Daud Beureuh dengan para kepala adat
(Ulebalang). Pertentangan ini menyebabkankan perang saudara antara kedua
golongan yang berkobar sejak Desember 1945 sampai dengan Februari 1946.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka pemerintah memberikan status
Daerah Istimewa.45
42 Ibid.,h. 363
43 Ibid. h. 366,
44 Ibid., h. 366
45 Ensiklopedia Sejarah dan Budaya, Sejarah Nasional Indonesia. 2009. h. 237

Sejarah Nasional Indonesia VI 100


Setelah terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
tepatnya pada bulan Agustus, maka status dari daerah Aceh yang semula
merupakan Daerah Istimewa turun menjadi daerah keresidenan yang berada
dalam lingkungan Provinsi Sumatera Utara. Hal ini pun membuat Tengku Daud
Beureuh menjadi sangat kecewa terutama anggota Pusat Ulama Seluruh Aceh
(PUSA).46
Pada tanggal 20 September 1953, ia memproklamasikan bahwa Aceh
sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia yang berada di bawah pimpinan
Kartosuwiryo. Dengan adanya proklamasi ini mulailah pemberontakan DI/
TII di Aceh.Selanjutnya mereka melakukan propaganda untuk memperburuk
citra dari pemerintah RI. Untuk menghadapi pemberontakan ini, pemerintah
RI menggunakan upaya damai. Pada tanggal 17 sampai 28 Desember 1962
dilaksanakan Musyawarah Kerukuran Rakyat Aceh yang diprakarsai oleh
Kolonel M. Jassin. Upaya damani ini mendapatkan dukungan dari tokoh-tokoh
masyarakat Aceh dan berhasil memulihkan keamanan di Aceh.47 Pada tahun
1961 Daud Beureuh pun menerima untuk kembali lagi ke pangkuan Ibu Pertiwi,
dengan demikian keadaan Aceh pun kembali Aman.48

f. Pemberontakan PRRI / Permesta


Di awal kemerdekaan Indonesia, Indonesia mengalami beragama masalah.
Tekanan demi tekanan datang dari luar maupun dari dalam negeri Indonesia.
Pada tahun 1956 – 1957 muncul gerakan di daerah–daerah di Indonesia yang
menentang pemerintah pusat yang disebabkan karena tidak adilnya pembagian
dana pembangunan antara pusat dan daerah.49
Ketika pemilu I diadakan banyak yang berharap akan terbentuknya suatu
pemerintahan yang kuat dan mampu mensejahterakan masyarakat secara
luas. Namun harapan ini sulit diwujudkan, mengingat instabilitas politik dan
keamanan ketika itu. Oleh sebab itulah banyak tokoh-tokoh di daerah mulai dari
militer, pengusaha, dan tokoh masyarakat dari unsure yang lain berpendapat
bahwa pemerintah tidak cukup baik dalam memperhatikan dan mengatur

46 Poesponegoro & Notosusanto, Op.Cit. h. 363


47 Ibid. hh. 363-365
48 Moedjanto. Op.Cit. h. 128
49 Poesponegoro & Notosusanto,. Op.Cit. h. 368

Sejarah Nasional Indonesia VI 101


pembangunan di daerah.50 Antara akhir tahun 1956 dan sekitar awal tahun 1957,
terbentuklah sejumlah dewan di daerah yang ternyata mendapat dukungan oleh
beberapa pasukan militer yang bertugas di daerah – daerah tersebut.51 Adapun
daerah – daerah yang membentuk dewan tersebut adalah :
1. Sumatera Barat / Sumatera Tengah yang membentuk Dewan Banteng,
yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein.
2. Sumatera Selatan yang membentuk Dewan Garuda yang dipimpin oleh
Letnan Kolonel Barlian.
3. Adanya Dewan Gajah di Medan yang dipimpin oleh Kolonel Malaudin
Simbolon.
4. Dewan Manguni di Manado oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual.
5. Piagam Pembangunan Semesta Alam (Permesta) di Sulawesi dipimpin
oleh Panglima Somba.
Pembentukan Dewan Banteng yang dilaksanakan setelah berlangsungnya
reuni ex-Divisi Banteng yang berlangsung di kota Padang mulai dari tanggal
20 sampai 25 November 1956 dalam rapat itu diputuskan bahwa usaha
pembangunan daerah akan dilaksanakan dengan cara menggali otonomi
seluas-luasnya dan harus dihapuskannya sistem sentralisasi. Pertemuan juga
menyarankan diadakan penelitian mengenai penempatan pejabat-pejabat
daerah sehingga dapat dipilih tenaga-tenaga yang produktif bagi daerah. Dalam
bidang pertahanan diusulkan dibentuk Komando Pertahanan Daerah. Selain itu
juga diusulkan agar ex-Divisi Banteng yang dijadikan suatu korp dalam Angkatan
Darat. Hasil pertemuan tersebut selanjutnya dilaporkan ke Jakarta oleh suatu
delegasi yang terdiri atas Kolonel Dahlan Djambek, A. Halim, Dahlan Ibrahim, Sidi
Bakaruddin, dan Ali Lubis. Pada tanggal 28 November 1956, delegasi ini akhirnya
berhasil menemui Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo. Selanjutnya delegasi
juga berhasil menemui Drs. Moh.Hatta dan A. G. Pringgodigdo. Sementara itu
Letnan Kolonel Achmad Husein selaku Ketua Dewan Banteng mengambil alih
pemerintah daerah Sumatera Tengah dari Gubernur Ruslan Muljohardjo pada
tanggal 20 september 1956 di kantor Gubernur Padang.

50 Nino Oktorino, et.al, Ensiklopedia Sejarah dan Budaya (Sejarah Nasional Indonesia) Jilid 8, (Jakarta,
2009)., h. 238.
51 Perjuangan Bangsa Indonesia Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Dari Ancaman DisIntegrasi
Bangsa Terutama Dalam Pergolakan Dan Pemberontakan, op.cit. (Diakses 19 oktober 2016, pukul 21.30).

Sejarah Nasional Indonesia VI 102


Tindakan tersebut dilakukan dengan alasan bahwa gubernur yang dirujuk
oleh pemerintah pusat itu dianggap kurang berhasil dalam membangun
Sumatera Tengah. Aspirasi rakyat Sumatera Tengah mengenai otonomi daerah
yang disalurkan lewat Dewan Banteng dapat dipahami oleh pemerintah pusat.
Akan tetapi, tindakan Achmad Husein mengambil alih pemerintah Sumatera
Tengah dianggap telah menyalahi hukum.52
Pada tanggal 30 November 1957 hubungan antara pemerintah pusat
dengan daerah menjadi memburuk karena adanya usaha pembunuhan yang
gagal terhadap Presiden Soekarno yang terjadi di Cikini saat dia akan berkunjung
ke sekolah putranya. Para pemimpin Masyumi dan Partai Sosialis diintimidasi
oleh kelompok pemuda yang pro-pemerintah. Akibatnya, sejumlah tokoh seperti
Mohammad Natsir, Sjarifuddin Prawiranagara, dan Sumitro Djojohadikusumo
mengungsi ke Sumatera Tengah. Disana mereka bergabung dengan beberapa
panglima yang berada di Sumatera dan membentuk Pemerintah Revolusioner
Republik Indonesia (PRRI).53
Pada 10 Februari 1958, ketua Dewan Banteng, Ahmad Husein membuat
ultimatum kepada pemerintah Indonesia. Isinya adalah permintaan Dewan
Banteng agar segera dilakukannya pergantian Kabinet. Mereka menginginkan
turunnya Perdana Menteri Djuanda dan menginginkan Sultan Hamengkubuwono
IX dan Mohammad Hatta untuk membentuk sebuah kabinet baru. Dalam
pidatonya, ketua Dewan Banteng menyampaikan ultimatumnya kepada
pemerintah pusat yang isinya sebagai berikut:54
1. Dalam waktu 5 x 24 jam Kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada
presiden.
2. Presiden menugaskan kepada Moh. Hatta dan Sultan Hamengku
Buwono IX untuk membentuk Zaken Kabinet.
3. Meminta presiden kembali kepada kedudukannya sebagai Presiden
Konstitusional.
Namun ultimatum tersebut tidak diindahkan oleh pemerintah Indonesia,
sehingga pada 15 Februari 1958 Ahmad Husein memproklamirkan “Pemerintah
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)”.55 Proklamasi berdirinya PRRI di
52 Poesponegoro & Notosusanto. Op.Cit. h. 368.
53 Ibid., h. 369
54 Ibid., h.375
55 Ibid, h..375
Sejarah Nasional Indonesia VI 103
Sumatera mendapat respon positif dari masyarakat Sulawesi, terutama oleh
Permesta. Panglima Somba, selaku pimpinan Permesta menyatakan melalui
siaran RRI bahwa gerakan Permesta mendukung PRRI bahkan siap jika PRRI
bekerjasama dengan Permesta untuk meninggalkan pemerintah pusat.56
Ucapan panglima Somba melalui siaran RRI tersebut ternyata didengar oleh
pemerintah pusat. Oleh karena itu, pada pagi hari di bulan yang sama, Angkatan
Udara Republik Indonesia (AURI) terbang di atas langit Manado. Kemudian
tepat diatas studio RRI Manado, tempat dimana Panglima Somba megatakan
pidatonya, AURI menjatuhkan sebuah bom yang membuat gedung tersebut
rusak.57 Aksi pengeboman yang dilakukan AURI tersebut seperti menandakan
akan dimulainya sebuah perang.
Situasi pasca pengeboman menjadi genting, dimana para pasukan
Permesta yang tidak senang dengan adanya aksi yang dilakukan oleh AURI mulai
melakukan serangkaian gerakan. Mereka menempatkan para pasukannya ke
kubu – kubu pertahanan yang telah disebar. Permesta juga menyebarkan para
pasukannya ke daerah–daerah yang strategis, yang kira – kira pasukan AURI akan
melakukan pendaratan di daerah sekitar Manado.58
Singkatnya, Permesta melakukan blockade jalan masuk bagi AURI. Setelah
berjaga-jaga dari serangan lanjutan yang sekiranya akan dilakukan AURI.
Permesta kemudian melancarkan aksinya pada bulan April dengan melakukan
gerakan Ofensif militer. Mereka segera membentuk sebuah pasukan angkatan
udara yang diberi nama AUREV (Angkatan Udara Revolusioner). Mereka juga
diketahui menyewa seorang pilot berkebangsaan Amerika bernama Allan Poppe.59
Direkrutnya salah seorang yang berkebangsaan Amerika memperlihatkan
bahwa pada saat itu, Permesta mendapat bantuan dari negara Amerika Serikat.
Jika dilihat dari keberadaan Allan Poppe sebagai Pilot angkatan udara, serta
dibentuknya AUREV, maka dipastikan pada saat itu, terdapat suatu pesawat
militer angkatan udara yang berada di Manado. Pesawat tersebut diduga berasal
dari Taipei, dimana pada saat itu Taipei memilih untuk bergabung bersama
dengan blok barat, dan seperti yang telah diketahui oleh umum bahwa Blok

56 Phill. M. Sullu, 1997, PERMESTA :Jejak – Jejak Pengembaraan, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. h. 18
57 Ibid, h.19
58 Ibid, h. 24
59 Poesponegoro & Notosusanto, Op.Cit. h. 377

Sejarah Nasional Indonesia VI 104


Barat adalah Amerika Serikat.60
Pada awalnya pasukan Permesta mendapatkan hasil yang baik. Dimana
mereka berhasil menguasai Pangkalan Udara Morotai yang dinilai memiliki lokasi
strategis, dibawah pimpinan Vence Sumual.61 Namun tak berapa lama setelah
mendapatkan kesuksesan tersebut, Permesta kemudian mendapatkan serangan
balik dari pasukan militer Indonesia. Pemerintah Indonesia memerintahkan
untuk menumpas pemberontakan Permesta. Kemudian diadakanlah sebuah
operasi militer besar – besaran yang disebut juga sebagai operasi Merdeka di
bawah pimpinan Letnan Kolonel Rukminto. Operasi Merdeka tersebut terdiri
dari Operasi Saptamarga I, II, III, IV, dan Operasi Mena I dan II.62
Pada tanggal 13 April Aurev menyerbu sasaran pertamanya yaitu Pelabuhan
Udara Mandai di Makassar. Dari pengeboman itu pemerintah menyatakan
bahwa adanya keterlibatan dari pihak asing yang ikut dalam pemberontakan
PRRI/PERMESTA. Pada tanggal 29 April diumumkan bahwa Pelabuhan Udara
Morotai berhasil jatuh ke tangan Permesta. Tidak hanya itu tepat pada tanggal
8 Mei pasukan Somba pun menyerang pasukan pemerintah yang berada di
Sulawesi Tengah, kemudian dalam seminggu Parigi dan Toboli juga jatuh ke
tangan Permesta.63
Pada tanggal 15-23 Mei keadaan pun berubah terbalik untuk PRRI/
Permesta, kekuasaan Permesta yang berada di udara telah dipatahkan. Terdapat
lima serangan AURI yang berhasil di pelabuhan-pelabuhan udara yang berada di
Manado serta Tondano, disamping itu AURI juga berhasil menghancurkan enam
pesawat udara Aurev. Allan Pope juga ikut tertangkap ketika itu, tertangkapnya
pope membuat Adanya perubahan dalam haluan politik di Amerika Serikat.64
Pada pertengahan tahun 1959, pasukan-pasukan pemerintah telah
menduduki tempat-tempat yang strategis, namun kegiatan-kegiatan Permesta
pun masih terus meningkat. Hal ini berhubungan dengan faktor-faktor sebagai
berikut:
1. Pasukan-pasukan Permesta masih menguasai kantung-kantung
Gerilya.
60 Sullu, 1997. Op.Cit. hh. 31-32
61 Ibid, h..30
62 Poesponegoro & Notosusanto, Op.Cit. h. 376
63 Barbara Sillars Harvey, PERMESTA Pemberontakan Setengah Hati, (Jakarta: Pustaka Grafiti, 1989). h. 146
64 Ibid., h. 147

Sejarah Nasional Indonesia VI 105


2. Kebocoran-kebocoran informasi dalam TNI, hal ini adalah akibat dari
adanya ikatan keluarga yang erat dikalangan rakyat Minahasa, hampir
semua yang mempunyai anggota keluarga di Permesta, dan sikap
kurang hati-hati yang terdapat di kalangan pasukan serta pegawai
pemerintah ketika memilih pekerja-pekerja untuk membantu dalam
operasi-operasi atau ketika membahasa masalah-masalah militer
dengan atau dengan dihadiri wanita-wanita Minahasa.
3. Daerah Minahasa yang bergunung-gunung yang menguntungkan
sekali kaum gerilya Permesta.
4. Logistik yang sulit karena jalan rusak, dan hadangan kaum gerilya.
5. Kesejahteraan pasukan pemerintah kurang diperhatikan, separuh dari
mereka sakit.
6. Kurangnya bantuan rakyat untuk memberikan keterangan tentang
lokasi atau kegiatan dari Pasukan Permesta.
Namun pada bulan Mei 1959, pasukan Permesta akhirnya mundur
karena sebuah serangan balasan atas Bolaang-Mongondow yang dilancarkan
oleh pasukan pemerintah di Gorontalo. Selain itu jatuhnya Kotamobagu juga
merupakan titik balik dalam pemberontakan dan tanda bahwa pemberontakan
ini segera berakhir.65
Untuk memulihkan kembali keamanan negara, pemerintah bersama
dengan KSAD memutuskan untuk melakukan operasi gabungan AD-AL-AU
terhadap PRRI dan diberi nama dengan Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh
Letnan Kolonel Ahmad Yani. Operasi ini pertama kali ditujukan ke Pekanbaru
untuk mengamankan sumber-sumber minyak. Pada tanggal 14 Maret 1958,
Pekanbaru berhasil dikuasai. Operasi militer kemudian dikembangkan ke pusat
pertahanan PRRI. Pada tanggal 4 mei 1958 Bukittinggi berhasil direbut kembali.
Selanjutnya, pasukan TNI membersihkan daerah-daerah bekas kekuasaan PRRI.
Banyak anggota PRRI yang melarikan diri ke hutan-hutan.66 Achmad Husein
kemudian menyerahkan diri dan disusul pada pertengahan tahun 1961 dimana
tokoh-tokoh Permesta juga menyerahkan dirinya.67

65 Poesponegoro & Notosusanto. Op.Cit. hh. 375-376


66 Ibid., hh. 158-159
67 Harvey, Op.Cit. h. 146

Sejarah Nasional Indonesia VI 106


g. Pemberontakan PKI Madiun
Sabtu dini hari pukul 03.00 pada tanggal 18 september 1948, terdengar 3
kali tembakan pistol yang menandai akan dimulainya penyerangan oleh golongan
partai PKI di Kota Madiun. Penyerangan tersebut dipimpin oleh Muso, seorang
tokoh komunis yang baru saja kembali dari Rusia.68 Muso adalah ketua PKI
menggantikan ketua PKI yang sebelumnya. Di bawah pimpinan Muso, PKI terbukti
lebih kuat dan berani dalam melakukan serangkaian gerakan sabotase dan teror
sesuai dengan perintah dari sekjen Komunis Internasional. Pada hari tersebut,
pasukan-pasukan PKI dengan cepat dapat menduduki gedung – gedung yang
vital bagi pemerintahan Kota Madiun. Gedung – gedung tersebut diantaranya
adalah gedung pemerintah Kota Madiun, kantor polisi, bank – bank, markas
komando pertahanan Jawa Timur, kantor pos dan kantor telepon Madiun.69
Penyerangan PKI ini dapat dimasukkan dalam kategori berhasil. Beberapa orang
yang mencoba untuk menghadang aksi penyerangan ini ditembak mati.
Beberapa jam kemudian melalui siaran RRI, PKI mengumumkan bahwa
rakyat harus melakukan suatu revolusi. PKI kemudian mengajak rakyat untuk
ikut melakukan revolusi bersama dengan PKI. PKI juga menyiarkan kabar bahwa
Republik Indonesia memihak Belanda.70 Mereka menyebarkan isu bahwa Negara
Indonesia akan diberikan kepada Belanda oleh pemerintah Indonesia. Jika pada
penyerangan pertama tujuan PKI adalah untuk menumpaskan pendudukan
Belanda di Indonesia, maka pada penyerangan kedua ini, tujuan PKI adalah
untuk merebut kekuasaan Indonesia dan merubah ideologi bangsa dari ideologi
nasionalis menjadi komunis. Oleh karena itu, PKI kemudian memprolkamirkan
Republik Soviet Indonesia. Gerakan ini juga didukung oleh Amir Syarifuddin (eks
perdana menteri) yang memimpin Front Demokrasi Rakyat (FDR).

68 Soe Hok Gie. (Yogyakarta: Penerbit Bentang, 2005). hh. 2-25


69 Acho Manafe, TEPERPU : Mengungkap Pengkhianatan PKI pada Tahun 1965 dan Proses Hukum Bagi
Para Pelakunya, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2008). h. 4
70 Ibid. h.144

Sejarah Nasional Indonesia VI 107


Gambar 3.4 Korban – Korban Pemberontakan PKI. Sumber: www.google.co.id/image

Menanggapi pidato PKI di Madiun, Presiden Soekarno kemudian


mengucapkan pidatonya di RRI Yogyakarta, satu hari setelah penyerangan
dilakukan.P residen Soekarno menyatakan :

“Rakyat yang kucinta. Atas nama perjuangan untuk Indonesia Merdeka,


aku berseru kepadamu : “Pada saat yang begini genting, dimana engkau dan kita
sekalian mengelami percobaan yang sebesar – besarnya di dalam menentukan
nasib kita sendiri, dan kita adalah memilih antara dua : ikut Moeso dengan PKI-
nya, yang akan membawa bangkrutnya cita – cita Indonesia merdeka, atau Ikut
Soekarno – Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan, akan memimpin
negara RI merdeka, tidak dijajah oleh negara manapun juga.
Madiun harus lekas di tangan kita kembali !!” 71

Melalui pidato tersebut, Presiden Soekarno menyatakan untuk berperang


dengan PKI. Meski sebelumnya diketahui bahwa Soekarno cukup dekat dengan
beberapa tokoh PKI,72 namun untuk aksi penyerangan yang dilakukan PKI kali ini,

71 Ibid. h. 148
72 Gie, Op.Cit. h.7

Sejarah Nasional Indonesia VI 108


Gambar 2.5 Operasi Penumpasan PKI di Madiun. Sumber: www.google.co.id

Soekarno menentangnya. Setelah presiden menyatakan perang terhadap PKI,


pada 22 september 1948, pasukan Brigade II Siliwangi bergerak dari Surakarta
menuju basis penyerangannya masing – masing. Pasukan tersebut dibagi –
bagi menjadi beberapa batalyon. Diantaranya adalah batalyon Achmad yang
berhasil menduduki daerah Sarangan, Batalyon Kian Santang yang melakukan
kontak fisik dengan PKI pada 24 september di daerah Plaosan, batalyon Sambas,
batalyon Gunur, batalyon Oemar Wirahadikoesoemah yang berhasil merebut
Magetan, dan kesatuan militer lainnya.73 Setelah melakukan konsolidasi dan
kontak fisik dalam upaya melawan PKI dan merebut kembali Madiun, barulah
pada 30 september 1948, Gubernur Militer Surakarta-Semarang-Pati-Madiun
mengumumkan bahwa kota Madiun sudah kembali dapat dikuasai. Pasukan TNI
sudah dapat masuk ke Madiun dan menduduki kota.74 Pasukan PKI yang berada
di Madiun menjadi terdesak dan beberapa daerah sekitar madiun yang awalnya
telah berhasil dikuasai PKI telah berbalik dikuasai oleh TNI.

73 Himawan Soetanto, Perintah Presiden Soekarno : “Rebut Kembali Madiun..”, (Jakarta, Pustaka Sinar
Harapan, 1995), h.186-188
74 Ibid, h.194

Sejarah Nasional Indonesia VI 109


RANGKUMAN

Berbagai pemberontakan mulai terjadi di dalam negeri Indonesia terjadi


setelah ditandatanganinya perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) di
Den Haag, Belanda, bentuk negara Indonesia sebelumnya Republik Indonesia
berubah menjadi Republik Indonesia Serikat. Negara Indonesia Serikat itu terdiri
dari Republik Indonesia Negara Sumatera Timur, Negara Sumatera Selatan,
Negara Pasundan, dan lainnya. kebanyakan dari rakyat Indonesia yang tidak
setuju dengan pembentukan RIS kemudian berinisiatif untuk membubarkan diri
dari RIS dan membentuk pemerintahan sendiri.
Bentuk serikat tersebut merupakan syarat dari Belanda, dan dianggap
sebagai strategi Belanda untuk dapat menjajah bangsa Indonesia kembali.
Serangkaian tekanan–tekanan yang dilakukan Belanda pada Indonesia membuat
Indonesa sedikit kewalahan. Selain itu sering terjadinya miskomunikasi antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah sehingga membuat rakyat yang
terdapat di daerah–daerah melakukan aksi protes sendiri dalam menghadapi
tekanan Belanda, bahkan beberapa diantaranya menentang pemerintahan
Indonesia sendiri. Beberapa pemberontakan yang terjadi dalam rangka
menentang pemerintahan Indonesia, sebagai berikut:
a) Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)
b) Pasukan Andi Aziz
c) Pemberontakan PKI Madiun
d) Darul Islam / Tentara Islam Indonesia
e) PRRI / Permesta
Pemberontakan Westerling, Andi Aziz, dan pemberontakan Soumokil
memiliki kesamaan yaitu ketidakpuasan mereka terhadap proses kembalinya RIS
ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemberontakan-pemberontakan
ini menggunakan unsur KNIL yang merasa bahwa status mereka tidak pasti
setelah KMB. Keberhasilan APRIS yang menguasai keadaan pada saat itu semakin
memperbesar semangat rakyat dan kaum republiken untuk kembali ke NKRI.
Namun kondisi tersebut mengakibatkan tindakan-tindakan teror dan intimidasi
terhadap golongan republiken yang menghendaki kembalinya bentuk NKRI

Sejarah Nasional Indonesia VI 110


telah tampak sejak bulan Februari 1950. Serangkaian gerakan terorpun terjadi
di beberapa tempat.

GLOSARIUM

Tangsi Asrama atau barak.


Ratu Adil Seorang pemimpin dalam ramalan Jayabaya yang
Dipercaya masayarakat akan memerintah dengan adil
dan bijaksana sehingga rakyat menjadi makmur dan
sejahtera.
Peristiwa Cikini Peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden
Soekarno pada tanggal 30 November 1957 di depan
Perguruan Cikini.
Separatis Usaha memecah belah persatuan golongan (bangsa)
dengan cara memisahkan diri dari negara dan
membentuk negara baru.
Ultimatum Peringatan atau tuntutan yang terakhir dengan diberi
batas waktu untuk menjawab peringatan dengan
ancaman
Zaken Kabinet Kabinet yang menteri-menterinya dipilih berdasarkan
keahliannya.
Batalyon Kesatuan tentara yang merupakan bagian dari resimen
(berjumlah sekitar 300-1.000 orang).
Long March Gerak jalan jarak jauh.
Operasi Pagar Operasi militer untuk menumpas pemberontakan
Betis Tentara Islam Indonesia.
Miskomunikasi Proses komunikasi yang berjalan kurang atau tidak baik
yang menyebabkan informasi yang akan disampaikan
tidak berjalan sesuai yang diharapkan
Sterilisasi Proses menghilangkan atau membersihkan suatu
tempat atau benda
Taktik Infiltrasi adalah sebuah taktik penyusupan baik digunakan untuk
strategi militer maupun strategi politis
Vital Sesuatu yang sangat penting dan tidak dapat digantikan
Birokrasi Suatu organisasi yang memiliki rantai komando dan
memiliki tingkatan

Sejarah Nasional Indonesia VI 111


latihan

Berikut ini terdapat beberapa butir soal latihan yang perlu mahasiswa
kerjakan, dengan tujuan agar mahasiswa dapat lebih memahami dan menguasai
materi mengenai sejarah nasional Indonesia sesuai dengan materi yang telah
diberikan dan diuraikan secara ringkas dalam Bab ini. Adapun soal essay dikerjakan
pada kertas double folio dengan maksimal jawaban per soal sebanyak 500 kata,
sedangkan soal multiple choice/ pilihan ganda dapat anda jawab dengan hanya
menuliskan salah satu jawaban yang benar pada lembar kertas double folio.
Selamat mengerjakan.

ESSAY
1. Jelaskan penyebab terjadinya pemberontakan di daerah-daerah Indonesia
pada masa awal kemerdekaan ?
2. Jelaskan faktor utama yang mendorong Raymond Westerling mendirikan
Angkatan Perang Ratu Adil ?
3. Jelaskan hubungan gerakan pemberontakan APRA, Andi Aziz, dan RMS ?
4. Jelaskan pandangan dan pemikiran Kartosuwiryo terhadap sistem negara
RIS. NKRI, dan Dauliyah Islamiyah ?
5. Lakukanlah analisis hubungan Westerling dengan terbentuknya APRA
(Angkatan Perang Ratu Adil) dan terbentuknya Negara Pasundan

PILIHAN GANDA
1. Apakah hubungan antara Ramalan Jayabaya dengan pemberontakan APRA
yang dipimpin oleh Westerlling.
a. Karena Ramalan Jayabaya, Westerlling dapat menguasai Indonesia
b. APRA adalah organisasi yang dibentuk oleh hasil Ramalan Jayabaya
c. Ramalan jayabaya dengan pemberontakan APRA saling berhubungan
d. berdasarkan isi buku Ramalan Jayabaya, Westerlling menganggap dirinya
Ratu Adil dan kemudian mendirikan APRA

Sejarah Nasional Indonesia VI 112


2. Negara Pasundan versi Republiken didirikan oleh Wiranatakusuma,
sedangkan Pasundan versi federalis didirikan oleh...
a. Ir. Soekarno
b. Muh. Hatta
c. Soeria Kertalegawa
d. Sultan Syahrir

3. Gerakan Operasi Militer (GOM) III yang dipimpin oleh Kolonel A.E. Kawilarang
melakukan operasi penumpasan kelompok pemberontakan, yaitu…
a. Pemberontakan Andi Aziz
b. APRA
c. PKI
d. RMS

4. Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia diproklamirkan oleh…


a. Andi Aziz
b. Ahmad Husein
c. Soumokil
d. Muso

5. Mengapa Belanda mengutus Westerlling ke Sulawesi Selatan dan daerah


lainnya di Indonesia.
a. Karena Sulawesi Selatan merupakan wilayah Indonesia
b. Karena di Sulawesi Selatan banyak terdapat gerilyawan yang menghambat
pembentukan Negara Indonesia Timur.
c. Westerlling ahli dalam strategi perang
d. Westerlling harus patuh terhadap Belanda.

6. Hubungan gerakan APRA, Andi Aziz, dan RMS dalam melakukan


pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia adalah…
a. Melakukan serangan militer ke pusat pemerintahan
b. Melakukan negosiasi dan perdamaian dengan pemerintah
c. Sebagian anggota pasukannya merupakan eks KL-KNIL
d. Menyerang rakyat sipil.
Sejarah Nasional Indonesia VI 113
7. Kartosuwiryo merupakan pimpinan dari gerakan…
a. DI/TII
b. PRRI
c. PERMESTA
d. PKI

8. Allan Pope merupakan salah satu warga negara asing yang terlibat dalam
pemberontakan Permesta yang mengindikasika keterlibatan negara…
a. Rusia
b. Belanda
c. Amerika Serikat
d. Malaysia

9. Pemberontakan PKI yang terjadi pada bulan September 1948 dipimpin oleh
a.
D.N Aidit c. Soumokil
b.
Muso d. Nyoto

10. Angkatan persenjataan yang dimiliki oleh Republik Indonesia Serikat adalah…
a. APRIS
b. Tentara Nasional Indonesia
c. Tentara Rakyat Indonesia
d. Tentara Islam Indonesia

Sejarah Nasional Indonesia VI 114


DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU
Crib, Robert. Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949. (Jakarta:
Masup Jakarta,2010).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Daerah Jawa Barat. 1973.
Gie, Soe Hok. Orang-orang Kiri di Persimpangan Jalan. (Yogyakarta: Penerbit
Bentang, 2005).
Harvey, Barbara Sillars. PERMESTA Pemberontakan Setengah Hatii. (Jakarta:
Pustaka Utama Grafiti, 1989).
Manafe, Acho. TEPERPU : Mengungkap Pengkhianatan PKI pada Tahun 1965
dan Proses Hukum Bagi Para Pelakunya, (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 2008).
Moedjanto. Indonesia Abad ke-20 jilid 2 dari Perang Kemerdekaan Pertama
sampai Pelita III. (Yogyakarta: Kanisius, 1991.)
Noer, Deliar. Mohammad Hatta Biografi Politik. (Jakarta: LP3ES, 1990).
Notosusanto, Nugroho dan Marwati Djoened. Sejarah Nasional Indonesia VI.
(Jakarta: PN. Balai Pustaka, 2011).
Oktorino, Nino., et.al. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya (Sejarah Nasional
Indonesia). (Jakarta: Lentera Abadi.Sekretariat Negara RI. 1985. 30 Tahun
Indonesia Merdeka 1950-1964, 2009)
Pattikayhatu, A. John. Sejarah Revolusi Kemerdekaan di Daerah Maluku. (Jakarta:
Departemen Pendidikan kebudayaan, 1991).
Rose, Marvis. Indonesia Merdeka:Biografi Politik Mohammad Hatta. (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1991).
Soetanto, Himawan. Perintah Presiden Soekarno : “Rebut Kembali Madiun..”.
(Jakarta:Pustaka Sinar Harapan).

Sumber Internet
Perjuangan Bangsa Indonesia Dalam Mempertahankan Kemerdekaan
Dari Ancaman DisIntegrasi Bangsa Terutama Dalam Pergolakan Dan

Sejarah Nasional Indonesia VI 115


Pemberontakan, http://s3.amazonaws.com/academia. edu.
documents/33441890SEJARAH_INDONESIA_MASA_KEMERDEKAAN_antara_
tahun_1945.docx?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1
476890613&Signature=JPWtK6GeHlZnn%2ByJfQ8yvtqCF%2Fg%3D&respon
se-content-disposition=inline%3B%20filename%3DPerjuangan_kemudian_
diangkat_sebagai_kom.docx. (Diakses 19 oktober 2016)
Syarifuddin. 2016. BAB VIII Peristiwa Westerling & Proklamasi Negara Pasundan.
(online). (diakses tanggal 11 oktober 2016)

Sejarah Nasional Indonesia VI 116


4
INDONESIA MASA DEMOKRASI
LIBERAL

Sejarah Nasional Indonesia VI 117


Keterangan:
11. Menjelaskan Sistem Negara
1. Memahami Materi Sejarah Nasional Kesatuan Republik Indonesia
Indonesia I 12. Kehidupan Berbangsa dan
2. Memahami Materi Sejarah Nasional Bernegara Masa RIS
Indonesia II 13. Menjelaskan Sistem Negara
3. Memahami Materi Sejarah Nasional Indonesia Berdasarkan UUDS 1950
Indonesia III 14. Menjelaskan Keadaan Sosial
4. Memahami Materi Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia Pada Masa
Indonesia IV Demokrasi Liberal
5. Memahami Materi Sejarah Nasional 15. Menjelaskan Sistem Ekonomi
Indonesia V Indonesia Masa Demokrasi Liberal
6. Menjelaskan Hasil Konferensi Meja 16. Menjelaskan Usaha Pemerintah
Bundar dan Pembentukan Republik Indonesia dalam Memperbaiki
Indonesia Serikat (RIS) Ekonomi Nasional
7. Menjelaskan Keadaan Sosial, 17. Menjelaskan Berbagai
Politik, Ekonomi, dan Hankam Masa pemberontakan di Indonesia Masa
Republik Indonesia Serikat Demokrasi Liberal dan Terpimpin
8. Menjelaskan Konsep dan Sistem 18. Menjelaskan Keadaan Militer
Pemerintahan RIS Indonesia Masa Demokrasi Liberal
9. Membandingkan Konstitusi RIS dan 19. Menjelaskan Ketidakstabilan Politik
UUD 1945 Dalam Negeri Indonesia
10. Menjelaskan Faktor Penyebab 20. Menjelaskan Pelaksanaan Pemilu I
Kembalinya RIS Menjadi NKRI Tahun 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 118


21. Menjelaskan Politik Luar Negeri 31. Menjelaskan Kebijakan Politik
Indonesia Pemerintah Indonesia Masa
22. Menjelaskan Keadaan Sosial Demokrasi Terpimpin
Ekonomi Indonesia Masa Demokrasi 32. Menjelaskan Perpolitikan PKI di
Liberal Indonesia (1960-1965)
23. Menjelaskan Kehidupan Sosial 33. Menjelaskan Politik Konfrontasi
Budaya Pada Masa Demokrasi Indonesia dengan Malaysia
Liberal 34. Menjelaskan Penyebab Keluarnya
24. Menjelaskan Keadaan Hankam Indonesia dari PBB dan Konferensi
Indonesia Masa Demokrasi Liberal Asia Afrika
25. Menjelaskan Perpolitikan Indonesia 35. Menjelaskan Upaya Pembebasan
Masa Demokrasi Liberal Irian Barat
26. Menjelaskan Keadaan Indonesia 36. Menjelaskan Peristiwa Gerakan 30
Masa Demokrasi Liberal September
27. Menjelaskan Konsepsi Soekarno 37. Menjelaskan Keadaan Indonesia
28. Menjelaskan penyebab Masa Demokrasi Terpimpin
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 38. Menjelaskan Politik Indonesia
Juli 1959 Masa Demokrasi Terpimpin
29. Berlakunya Kembali UUD 1945 39. Menjelaskan Kehidupan Berbangsa
30. Menjelaskan Deklarasi Ekonomi dan Bernegara Indonesia Masa
(DEKON) Orde Lama

Sejarah Nasional Indonesia VI 119


Bab sebelumnya kita telah membahas mengenai
pemberontakan- pemberontakan yang terjadi dalam masa
Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Republik Indonesia
tahun 1950-1959. Pemberontakan-pemberontakan yang
terjadi dalam periode ini antara lain: Angkatan Persenjataan
Republik Indonesia (APRA), Pemberontakan Andi Aziz, DI/
TII, RMS, PRRI/Permesta, dan Pemberontakan PKI Madiun.
Dalam menghadapi pemberontakan tersebut pemerintah menggunakan cara
diplomasi dan militer.
Pada bab keempat ini kita akan membahas mengenai keadaan Indonesia
pada masa demokrasi liberal dalam aspek sosial budaya, ekonomi, politik, dan
militer. Awal demokrasi liberal ditandai dengan berubahnya sistem kenegaraan
RIS menjadi Republik Indonesia, dan diakhiri dengan dikeluarkannya Dekrit
Presiden 5 Juli 1959. Diharapkan setelah mempelajari dan membahas materi
pada bab keempat ini mahasiswa dapat mengetahui sejarah Indonesia dalam
lingkup 1950-1959. Adapun tujuan instruksional khusus pada bab keempat ini
sebagai berikut:

Tujuan Instruksional Umum (TIU)

1. Menguraikan keadaan Indonesia pada masa demokrasi liberal

Setelah mempelajari Bab IV, mahasiswa diharapkan dapat:


1. Menjelaskan konsep Demokrasi Liberal
2. Mendeskripsikan keadaan Indonesia pada masa Demokrasi Liberal
3. Menjelaskan kondisi sosial masyarakat masa Demokrasi Liberal
4. Menjelaskan keadaan ekonomi nasional pada masa Demokrasi Liberal
5. Menganalisis politik dalam negeri Indonesia pada masa Demokrasi
Liberal

Sejarah Nasional Indonesia VI 120


1 Demokrasi liberal indonesia

Demokrasi Liberal merupakan suatu sistem politik yang menganut sistem


kebebasan individu. Demokrasi liberal ini memberikan kebebasan penuh kepada
individu. Dalam demokrasi liberal, keputusan dari mayoritas (dari perwakilan
atau langsung) diberlakukan untuk sebagian besar bidang-bidang kebijakan
pemerintah yang patuh pada pembatasan pembatasan supaya keputusan
pemerintah tidak melanggar kemerdekaan dan hak dari individu seperti yang
tercantum dalam konstitusi. Demokrasi liberal ini dipakai dalam menjelaskan
sistem politik dan demokrasi barat di Amerika Serikat, Kanada, Britania Raya.
Konstitusi yang dipergunakan dapat berupa republik, sistem parlementer atau
sistem semipresidensial.
Sistem Demokrasi liberal yaitu sistem lembaga dalam pemerintahan
(presiden ditambah dengan DPR) yang mengutamakan kebebasan berpendapat
atau berargumen dalam menentukan kebijakan publik untuk kepentingan publik
tanpa memandang nilai nilai atau norma norma budaya atau moral dan agama
atau secara modern.1
Demokrasi liberal atau demokrasi barat dianggap sebagai antitesis
demokrasi komunis. Asumsi itu ada benarnya paling tidak dari sisi berikut :
1. Secara teoritis kedua bentuk demokrasi ini memiliki asumsi, pola-pola
kekauasaan, teori, pandangan hidup dan bentuk bentuk lembaga sosial
politik yang tidak hanya berbeda namun bertentangan satu sama lain.
2. Terjadinya pertikaian, rivalitas dan kompetisi terus-menerus antara
kedua sistem kenegaraan tersebut terutama saat Perang Dunia 1 hingga
terjadinya disintegrasi Uni Soviet pada dekade 1980. Pertikaian itu
terjadi misalnya antara Amerika Serikat dan negara negara Eropa Barat
yang menganggap diri mereka sebagai pembela gigih demokrasi liberal
dengan Uni Soviet serta negara negara Eropa Timur yang mengklaim
diri mereka sebagai pembela demokrasi komunis.

1 Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat : Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat
dan Kekuasaan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), hh. 76-77

Sejarah Nasional Indonesia VI 121


Demokrasi liberal atau demokrasi barat memiiki akar akar doktrinal dalam
Liberalisme John Locke, Rousseau, John Stuarl Mill, Montesquieu, Jeremy
Bentham dan lain lain. Oleh karena itu, untuk memahami pengertian demokrasi
liberal diperlukan pemahaman terhadap liberalisme, prinsip prinsip serta
kehidupan politik. Kriteria itu merupakan kriteria atau prinsip prinsip pokok
demokrasi liberal.2
Demokrasi liberal terkait erat dengan perkembangan kapitalisme.
Demokrasi liberal menurut Macpherson hanya akan tumbuh dan berkembang
di dalam masyarakat yang tingkat perkembangan kapitalismenya relatif sangat
tinggi. Dengan kata lain perkembangan demokrasi liberal paralel dengan
perkembangan kapitalisme. Hanya dalam masyarakat kapitalisah demokrasi
liberal bisa diwujudkan dalam makna yang sesungguhnya. Macpherson
mengatakan :
“Demokrasi liberal hanya ditemui pada negara negara yang sistem
ekonominya seluruhnya atau didominasi oleh usaha kapitalis, dan dengan
beberapa pengecualian yang biasanya bersifat sementara, setiap negara
kapitalis memiliki sistem politik demokrasi liberal“
Demokrasi liberal menurut Macpherson didasarkan pada liberalisme. Jadi,
suatu negara yang mengklaim sebagai negara demokrasi liberal harus bersifat
liberal pada mulanya, baru kemudian demokratis. Karena menurut Macpherson,
negara negara demokrasi liberal barat telah mengalami proses liberalisasi dulu
baru kemudian mengalami demokratisasi. Nilai nilai liberalisme telah dianut
lebih dulu sebelum nilai nilai demokrasi dianut masyarakat.
Pelaksanaan demokrasi liberal di Indonesia sesuai dengan konstitusi
yang berlaku saat itu, yakni Undang Undang Dasar Sementara 1950. Kondisi ini
bahkan sudah dirintis sejak dikeluarkannya maklumat pemerintah tanggal 16
Oktober 1945 dan maklumat tanggal 3 November 1945, tetapi kemudian terbukti
bahwa demokrasi liberal atau parlementer yang meniru sistem Eropa Barat
kurang sesuai diterapkan di Indonesia. Tahun 1950 sampai 1959 merupakan
masa berkiprahnya parta-partai politik. Dua partai terkuat pada masa itu (PNI
& Masyumi) silih berganti memimpin kabinet. Sering bergantinya kabinet
sering menimbulkan ketidakstabilan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan

2 Tanpa nama, Pengertian Demokrasi Liberal, diakses dari http://www.pengertianpakar.com/2016/06/


pengertian-demorkasi-liberal-sistem-dan-prinsipnya.html diakses pada tanggal 2 Mei 2017

Sejarah Nasional Indonesia VI 122


keamanan. Ciri-ciri demokrasi liberal adalah sebagai berikut :
1. Presiden dan Wakil Presiden tidak dapat diganggu gugat
2. Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintah
3. Presiden bisa dan berhak berhak membubarkan DPR
4. Perdana Menteri diangkat oleh Presiden
Sistem pemerintahan Indonesia mengalami perubahan sistem
pemerintaahan pada tanggal 14 November 1945 dari sistem presidensil
ke sistem parlementer, sebagai upaya untuk menghapus anggapan bahwa
pemerintahan Soekarno-Hatta bukanlah boneka Jepang. Akibatnya kedudukan
Presiden Soekarno berubah tidak lagi sebagai kepala pemerintahan tetapi hanya
sebagai kepala negara, kedudukan kepala pemerintahan di pegang oleh Perdana
Menteri, sampai saat pembentukan Republik Indonesia Serikat, ada tiga Perdana
Menteri yaitu Sutan Syahrir, Amir Syarifudin, dan Hatta.3
Kedudukan Soekarno yang bersifat simbolis berlangsung lama, kendatipun
kemerdekaan Indonesia telah diakui oleh dunia internasional. Dalam tahun 1950
terjadi perubahan konstitusi, dimana UUD 1945 diganti dengan UUDS 1950.
UUDS 1950 ini berlaku sampai dengan diberlakukannya kembali UUD 1945
pada pertengahan tahun 1959. Sistem politik yang dianut oleh UUDS 1950 ini
merupakan demokrasi parlementer sama dengan ketika pada berlakunya sistem
parlementer pada tanggal 14 November 1945. Dalam sistem yang demikian,
presiden praktis hanya berpangkutangan; posisi inilah yang sering dinamakan
Seokarno sebagai “tukang stempel”. Tentu saja Soekarno tidak menyukai
kedudukan demikian, walau itu sesuai dengan konstitusi yang berlaku.4
Berlakunya sistem parlementer di Indonesia pada tahun 1950 melalui
UUDS 1950, ternyata memiliki dua kelemahan pokok. Kelemahan pertama
adalah fragmentasi perlemen Indonesia, dimana tidak ada partai mayoritas
yang menguasai lebih dari separoh jumlah kursi DPR. akibatnya terjadi proses
“coalition building” yang mudah pecah karena perbedaan suatu kebijaksanaan.
Ini terjadi pada masa revolusi kemerdekaan maupun pada masa DPR sementara,
1950. Hanya setelah terbentuknya DPR hasil pemilu 1955 dapat dibentuk
3 Burhan Magenda, Makalah hubungan eksekutif dan legislatif yang kondusif untuk stabilitas politik
dan pembangunan nasional, (kuliah dan ceramah umum pada kursus singkat angkatan XIII LEMHANAS di
Jakarta, 2005)
4 Nazaruddin Syamsudin, Soekarno pemikiran politik kenyataan dan praktek. (Jakarta: CV. Rajawali. 1988),
h. 45-46

Sejarah Nasional Indonesia VI 123


koalisi besar yang terdiri dari PNI, Masyumi dan Nahdatul Ulama. Tetapi karena
mudahnya koalisi kabinet pecah, maka umur kabinet juga tidak terlalu lama,
antar 6 bulan sampai yang paling lama 2 tahun.5
Magenda (2005) menjelaskan kelemahan lainnya yakni ketika Presiden
Soekarno yang sudah tidak sabar kepada kabinet-kabinet yang tidak fokus lagi
pada pembangunan nasional, Presiden Soekarno menunjuk dirinya sebagai
formatur dan membentuk kabinet karya yang dipimpin Ir. Djuanda. Situasi
politik yang bisa dikatakan kacau saat itu terjadi, hampir di setiap daerah timbul
pemberontakan akibat ketidakpuasan kepada pemerintahan pusat. Konflik
kekuasaan antara partai-partai politik di parlemen yang saling menjatuhkan satu
sama lain.

2 Kondisi Sosial Budaya Masyarakat


Masa Demokrasi Liberal

Pada masa demokrasi liberal di


Indonesia, masyarakat diberi hak-hak khusus
reminder
yang telah dikelompokkan kedalam beberapa
Pada masa demokrasi
golongan yaitu: golongan buruh, perempuan, liberal ini, masyarakat diberi
anak-anak, dan kaum minoritas. Untuk perlindungan khusus yang
golongan buruh, mereka diberi hak asasi telah digolongkan kedalam
beberapa golongan yaitu:
sebagai warga negara dan mempunyai hak
golongan buruh, perempuan,
dasar buruh seperti hak mogok dan hak untuk anak-anak, dan kaum
memperoleh jaminan sosial. Hak-hak buruh minoritas.
lain diantaranya hak untuk membentuk dan
menjadi anggota serikat kerja, hak untuk berkumpul dan berbicara dengan
bebas serta untuk memilih para pemimpin mereka sendiri. Untuk golongan
perempuan, seperti yang dikemukakan oleh Mangunpuspito (Masyumi) bahwa
kriteria untuk mengukur tinggi atau rendahnya nilai suatu negara tidak hanya
didasarkan pada kondisi politiknya, yaitu merdeka atau tidak, kaya atau miskin,

5 Burhan Magenda, Makalah hubungan eksekutif dan legislatif yang kondusif untuk stabilitas politik
dan pembangunan nasional, (kuliah dan ceramah umum pada kursus singkat angkatan XIII LEMHANAS di
Jakarta, 2005)

Sejarah Nasional Indonesia VI 124


tetapi juga pada masalah yang berkaitan dengan kependudukan lain seperti tinggi
atau rendah kesejahteraan yang diberikan oleh pemerintah. Dalam negara yang
masih berpegang pada peraturan kuno yang membatasi hak-hak perempuan
tidak mungkin ada kemajuan. Tidak cukup hanya mengakui bahwa Tuhan
menciptakan semua manusia sebagai makhlulk yang mempunyai kedudukan
yang sama, dengan hak asasi yang sama atas kehidupan. Perkara yang utama
adalah pelaksanaan hak-hak yang sama bagi laki-laki dan perempuan dalam
kehidupan bangsa.6
Sedangkan untuk golongan anak-anak, Indonesia dihadapi masalah besar
dimana masih banyak anak-anak terlantar serta perilaku menyimpang dan
demoralisasi yang terjadi dikalangan pemuda. Oleh sebab itu anak-anak harus
diberi perlindungan, mendapat penjagaan, pendidikan, dan pertolongan dari
negara. Golongan minoritas pun menjadi masalah yang kontroversial terutama
soal pandangan umum mengenai kedudukan orang Cina dibidang ekonomi dan
sosial. Anwar Sutan Amiruddin (PPTI) mengatakan bahwa tidak ada perbedaan
penting antara orang Cina yang telah menjadi WNI dengan orang Cina warga
asing, dan ia menentang dimasukkannya hak-hak golongan minoritas kedalam
undang-undang dasar. Sehubungan dengan itu, Siauw Giok Tjhan berpendapat
bahwa diskriminasi terhadap golongan minoritas harus dilarang secara
konstitusional dan perlindungan konstitusional harus diberikan kepada golongan
tersebut supaya mereka bebas menggunakan bahasa dan mempertahankan adat
kebiasaan mereka sesuai undang-undang yang berlaku. Ia juga menambahkan
bahwa perlidungan yang dimaksudkan mencakup urusan hukum dalam masalah
ras, agama, dan bahasa.7 Disamping hal-hal tersebut perkembangan seni juga
harus diperhatikan.
a. Pendidikan
Setelah diadakan pengalihan masalah pendidikan dari pemerintahan
Belanda kepada pemerintahan RIS pada tahun 1950, sistem pendidikan diadakan
dengan titik berat desentralisasi, artinya dari sekolah dasar hingga sekolah
menengah pertama menjadi urusan daerah (provinsi) dengan supervisi pusat
terutama dalam perencanaan pelajaran, dan untuk sekolah menengah atas

6 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintah Konstitusional di Indonesia: studi sosio-legal atas
konstituante 1956-1959, (Jakarta: Intermasa. 1995) hh.219-223
7 Ibid, hh.227-231

Sejarah Nasional Indonesia VI 125


menjadi tanggung jawab pemerintah pusat baik mengenai masalah keuangan
maupun mengenai mata pelajaran.8
Pada periode 1950-1959, penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran
menggunakan Undang-undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran Nomor 4
Tahun 1950 Republik Indonesia. Susunan sekolah tersebut terdiri atas sekolah
rakyat 6 tahun, sekolah lanjutan tingkat pertama 3 tahun, dan sekolah lanjutan
tingkat atas 3 tahun. Pada tahun 1954, didirikan lembaga pendidikan guru
setingkat universitas yang pertama yaitu Pendidikan Tinggi Pendidikan Guru
(PTPG) di Bandung. Kesempatan pendidikan ini diberikan pemerintah bagi
setiap golongan masyarakat, seperti anak petani, pedagang, pegawai negeri,
pengusaha dan anggota ABRI. Pada tahun 1952, kurikulum Indonesia mengalami
penyempurnaan dan berganti nama menjadi kurikulum Rencana Pembelajaran
Terurai 1952. Ciri dari kurikulum ini antara lain setiap rencana pelajaran harus
memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Pada masa itu juga dibentuk kelas masyarakat yaitu sekolah khusus bagi lulusan
Sekolah Rakyat (SR) 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP, kelas masyarakat
mengajarkan keterampilan seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan.
Tujuannya, agar anak yang tidak mampu sekolah ke jenjang SMP bisa langsung
bekerja.9

Gambar 4.1 Pelantikan Prof. Mr. Abdul Gaffar Pringgodigdo sebagai Rektor Universitas
Airlangga oleh Presiden Soekarno pada tanggal 23 Desember 1954. Sumber: Sekretaris Negara
Republik Indonesia.
8 Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosussanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2011). h.386
9 Adi Sudirman, Sejarah Lengkap Indonesia, (Yogyakarta: Diva Press. 2014,) hh.381-382

Sejarah Nasional Indonesia VI 126


Kebijakan pemerintah yang lain adalah tiap-tiap provinsi atau daerah
harus mempunyai satu universitas negeri. Para lektor dan guru besarnya
harus mempunyai kualifikasi yang ditentukan negara. Selanjutnya, selama
periode demokrasi liberal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah No.57 Tahun
1954 didirikan Universitas Airlangga di Surabaya, dan perluasan universitas-
universitas di luar Jawa yang direalisasikan dengan dikeluarkannya Peraturan
Pemerintah No.23 Tahun 1956 yang menetapkan berdirinya Universitas
Hasanuddin di Makasar, serta Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1956 yang
menetapkan berdirinya Universitas Andalas di Bukittinggi. Kemudian, berturut-
turut berdasarkan Peraturan Pemerintah No.37 Tahun 1957 di Bandung didirikan
Universitas Padjajaran, serta Peraturan Pemerintah No.48 Tahun 1957 didirikan
Universitas Sumatra Utara di Medan.
Mengenai masalah penyelenggarakan sekolah-
sekolah asing, di tahun 1957 pemerintah mengambil reminder
tindakan pengawasan yang dilaksanakan oleh Pada masa demokrasi
liberal ini, masyarakat
Departemen Pengajaran. Sejak Indonesia merdeka,
diberi perlindungan
jumlah sekolah asing semakin bertambah. Sekitar khusus yang telah
60% - 70% dari jumlah 425.000 siswa sekolah asing digolongkan kedalam
tersebut adalah anak-anak Indonesia yang dengan beberapa golongan
yaitu: golongan
sendirinya menerima pendidikan asing. Dengan buruh, perempuan,
demikian mereka disiapkan untuk menjadi orang- anak-anak, dan kaum
orang Indonesia yang bersikap asing. Dibidang minoritas.

pendidikan jasmani, pemerintah mengeluarkan


Undang-Undang No.4/1950 tentang Pengajaran. Pada Bab IV Pasal 9
menyebutkan bahwa “Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk
manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.10
Disamping itu, dalam hal pembuatan perpustakaan Moh.Hatta telah
melakukan beberapa langkah yaitu telah mengusahakan buku-buku dari negeri
Belanda dengan mempergunakan bantuan Stichting Culture Samenwerking
(Yayasan Kerjasama Budaya antara Inonesia dengan Belanda). Tenaga
perpustakaan juga didatangkan dari Belanda. Tetapi langkah Selanjutnya kurang

10 Poesponegoro & Notosussanto, Op.Cit. hh.388-389

Sejarah Nasional Indonesia VI 127


berkembang, Hatta telah mengumpulkan sekitar 10.000 buku namun sayangnya
belum ada bangunan perpustakaan yang mampu menampungnya, hal ini terjadi
pada masa Kabinet Sukiman. Hatta menginginkan sebuah pusat kajian budaya
dan sejarah dan berharap agar perpustakaan sejarah tersebut berbentuk Yayasan
dan menjadi perpustakaan terbesar dalam bidang itu di Asia.11

b. Bahasa dan Sastra


Dalam bidang sastra pada tahun 1950 berjuta-juta orang Indonesia masih
menggunakan bahasa daerah dan bahasa Belanda. Tantangan pemerintah
adalah mengokohkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemerintahan,
pendidikan, dan teknologi dalam dua tahun terakhir. Tugas memajukan dan
menyebarluaskan bahasa nasional ini dilakukan oleh pers. Isi dari tugas itu
sendiri adalah mengembangkan bahasa Indonesia agar memenuhi tuntutan-
tuntutan modern.12
Gagasan untuk menyempurnakan ejaan Bahasa Indonesia timbul lagi pada
waktu diadakan Kongres Bahasa Indonesia di Medan pada tanggal 28 Oktober s.d.
2 November 1954. Kongres itu antara lain mengambil keputusan rakyat supaya
penyelidikan dan penetapan dasar-dasar ejaan diserahkan kepada suatu badan
yang diatur oleh pemerintah, yang bertugas menyusun suatu ejaan praktis bagi
Bahasa Indonesia. Pada bulan September 1956, diadakan Kongres Bahasa dan
Perpustakaan Melayu di Johor, hal yang dibahas termasuk didalamnya tentang
ejaan bahasa Indonesia. Sebagai tindak lanjutnya, pada tanggal 4-7 Desember
1959 di Jakarta diadakan sidang bersama antara Panitia Pelaksana Kerja
Sama Bahasa Melayu - Bahasa Indonesia dengan Jawatan Kuasa Ejaan Resmi
Baharu Persekutuan Tanah Melayu. Sidang bersama tersebut menghasilkan
pengumuman bersama Ejaan Bahasa Melayu-Indonesia (Melindo).13
Pada tahun 1950, gelenggang sastra Indonesia masih mendapat ciri yang
sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Pengarangnya kebanyakan dari tokoh-
tokoh angkatan sebelumnya. Tahun 1953 terbit majalah Kisah yang mendapat
perhatian serta memberi kesempatan yang besar kepada para pengarang muda
untuk menerbitkan karyanya. Setelah itu, terbit majalah Prosa, Seni, Tjerita,

11 Deliar Noer, Mohammad Hatta; Biografi Politik, (Jakarta: LP3ES, 1991) hh. 417-418
12 Hamid Basyaib, Kemelut Demokrasi Liberal, (Jakarta: LP3ES. 1992) hh.424-428
13 Poesponegoro & Notosussanto, Op.Cit. hh.390-391

Sejarah Nasional Indonesia VI 128


ruang kebudayaan “Genta” dalam majalah Merdeka, dan lain-lain. Mengenai
masalah daerah dalam sastra Indonesia dapat dikemukakan bahwa karena
sifatnya, bahasa Indonesia mempunyai kemungkinan-kemungkinan yang lebih
luas daripada bahasa daerah, termasuk bahasa Melayu. Bahasa Indonesia
mempunyai lingkungan masyarakat tertentu yang penggunaannya terbatas
pada lingkungan-lingkungan resmi seperti dalam pertemuan-pertemuan
resmi, sedangkan bahasa daerah terbatas pada lingkungan keluarga, dan lain-
lain.14 Perkembangan selanjutnya, Lembaga Bahasa yang bertempat di kampus
Universitas Indonesia membentuk suatu panitia yang bertugas menerjemahkan
buku-buku barat ke dalam Bahasa Indonesia, menerbitkan secara berkala artikel-
artikel analitis tentang tata bahasa dan penggunaannya, dan menyusun kamus
standar. 15
Kesusastraan Indonesia tahun 1950-an ditandai dengan munculnya
tema-tema sekitar kegetiran yang terjadi pada Zaman Revolusi dan Perang
Kemerdekaan. Dalam dasawarsa 1950-an sastrawan Indonesia leluasa
memanfaatkan kemerdekaan kreatifnya untuk mengangkat berbagai masalah
yang menimpa bangsanya. Jika dihubungkan dengan peran sosial sastrawan,
pada dasawarsa itu sastrawan Indonesia telah memainkan peran sosialnya dalam
menumbuhkan nilai-nilai kepahlawanan dan semangat kebangsaan melalui
karya-karya yang telah mereka hasilkan. Dengan beredarnya karya sastra yang
diterbitkan saat itu, tentu saja faktor utamanya karena pemerintah tidak lagi
melaksanakan pembatasan.16
Secara umum, kehidupan kesusastraan Indonesia tahun 1950-an
memperlihatkan suatu dinamika yang positif dibandingkan pada masa
sebelumnya. Pada masa itulah, kehidupan kesusastraan Indonesia berada pada
situasi yang paling semarak. Situasi itu kemudian seperti memasuki titik balik
ketika pada awal tahun 1960-an politik ditempatkan dalam berbagai aspek
kehidupan termasuk dalam bidang sastra.17

14 Ibid , h.396
15 Basyaib. Op.Cit. h.429
16 Poesponegoro & Notosussanto, 2011. Op.Cit. hh.396-398
17 Ibid, h.406

Sejarah Nasional Indonesia VI 129


c. Seni
Pada bidang seni tari periode tahun 1945-1955 pembaruannya baru
terbatas pada teknik penyajian, yaitu dengan menyingkat waktu, memeras
atau menyingkat cerita dan penyederhanaan. Selama periode 1955-1956 mulai
tampil kreasi baru. Akan tetapi, kreasi-kreasi itu masih merupakan pengolahan
materi elemen-elemen tari yang terdapat di Indonesia, baik tari klasik maupun
tarian rakyat. Mengenai perkembangan seni bangunan dapat dikemukakan
bahwa keadaan bangunan di kota-kota pada umumnya mengambil tempat tidak
berketentuan dan tidak melaraskan diri dengan keadaan alam.18

3 keadaan Politik indonesia

Keberhasilan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)


merumuskan Undang-undang Dasar (UUD) 1945 pada esensinya merupakan
akhir suatu perdebatan panjang di antara tokoh-tokoh pergerakan tentang
cita-cita demokrasi Indonesia. Adapun perbedaan itu mencakup, tentang
badan perwakilan politik. Apakah badan perwakilan ini berbentuk parlemen
atau yang lain. Hatta mencita-citakan suatu badan perwakilan pilihan rakyat
yang akan memilih anggota - anggota pemerintah (kabinet), dan karena itu
bisa benar-benar mengontrol dan mengawasi eksekutif. Sedangkan Soekarno
meskipun menginginkan suatu badan perwakilan yang hidup dinamis, menolak
gagasan tentang sistem parlementer seperti yang dibayangkan Hatta dengan
alasan bahwa sistem itu merupakan cerminan dari paham individualisme dan
liberalisme yang hanya akan memperkeruh konflik ketika itu.19
Selanjutnya, tentang sistem pemerintahan negara Indonesia. Hatta secara
konsisten memperjuangkan sistem pemerintahan parlementer, yang didukung
langsung oleh Yamin. Sedangkan Soekarno tetap mendukung Soepomo
tentang integralisme atau faham kekeluargaan sebagai yang mendasari negara
Indonesia.20 Konferensi-konferensi yang diadakan antara wakil-wakil RIS dan
Republik Indonesia di Jakarta menghasilkan piagam persetujuan pada tanggal
18 Ibid, h.407-409
19 Bantarto Bandoro, Refleksi Setengah Abad Kemerdekaan Indonesia, (Jakarta: CSIS, 1995). h. 70.
20 Ibid, h. 72

Sejarah Nasional Indonesia VI 130


19 Mei 1950, untuk membentuk negara kesatuan dalam waktu yang sesingkat-
singkatnya. Pada tanggal 17 Agustus 1950 secara resmi Indonesia kembali kepada
negara kesatuan berbentuk republik dengan sistem pemerintahan demokrasi
parlementer. 21

Gambar 4.2 Suasana Sidang Panitia Bersama


yang dibentuk oleh RIS dan Republik Indonesia
untuk melaksanakan Piagam Persetujuan pada
tanggal 19 Mei 1950. Sumber: Buku 30 Tahun
Indonesia Merdeka.

Tahun 1950-1959 merupakan periode ketiga dilaksanakannya sistem


demokrasi liberal di Indonesia dengan Undang-undang Dasar Sementara 1950
sebagai landasan konstitusi. Periode ini dapat dikatakan keadaan yang tidak
menentu baik dari segi politik, ekonomi, dan masalah yang berkaitan dengan
keamanan. Setelah Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Belanda,
periode ini ditandai situasi politik, ekonomi, sosial budaya benar-benar tidak
menentu. Korupsi merajalela, kesatuan wilayah terancam bubar, keadilan sosial
belum tercapai.22

a. Pembentukan, Pergantian Kabinet dan Instabilitas Politik


Ada beberapa peristiwa politik yang terjadi sebelum tahun 1950 yang
mewarnai dunia pemerintahan Indonesia. Mulai dari Maklumat Wakil Presiden
X (16 Oktober 1945) berisi tentang tentang perubahan sistem pemerintahan
presidensiil menjadi sistem pemerintahan parlementer, kemudian disusul dengan
Maklumat Wakil Presiden 3 November 1945 tentang anjuran pembentukan
partai-partai politik. Hal ini dianggap sebagai sebuah langkah yang demokratis,
mengingat berdasarkan hasil sidang PPKI sebelumnya ditetapkannya PNI sebagai
partai negara bukanlah sebuah cerminan negara demokrasi. Langkah - langkah

21 Waluyo, Dari Pemberontak Menjadi Pahlawan Nasional: Muhammad Natsir dan Perjuangan Politik di
Indonesia, (Yogyakarta: Ombak. 2009), h. 78
22 Ibid,. h. 78

Sejarah Nasional Indonesia VI 131


lain seperti pembentukan Kabinet Sjahrir I (atas dasar Maklumat Pemerintah
14 November 1945) yang secara langsung berarti mengakhiri pemerintahan
presidensiil.23
Moh. Hatta juga memiliki beberapa pemikiran terkait dengan masalah
demorasi ini, menurutnya ada tiga tuntunan dasar untuk suatu pemerintahan
demokratis, yaitu (1) pemerintah bertanggung jawab kepada parlemen (yang
anggota-anggotanya dipilih rakyat); (2) kebebasan berkumpul dan berserikat
yang diaktualisasikan dalam keberadaan banyak partai politik; dan (3)
penerimaan prinsip pemilihan umum yang diselenggarakan secara langsung,
umum, bebas, rahasia berdasarkan hak-hak politik warga negara yang sama.24
Pada masa demokrasi parlementer, kabinet jatuh-bangun dalam tenggang waktu
yang relatif singkat dan ini berakibat pada instabilitas pemerintahan. Tidak ada
satu kabinet pun dalam masa demokrasi parlementer ini mampu memberi
jaminan untuk dapat melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan dan pembangunan
masyarakat secara memadai.25
Kabinet Parlementer seperti yang ditentukan dalam UUDS 1950 hanya
mungkin terbentuk dengan koalisi partai, terutama karena komposisi parlemen
tidak memungkinkan pembentukan kabinet oleh satu partai saja. Namun
kesulitan segera muncul saat mengupayakan pembentukan kabinet pertama
pada masa demokrasi parlementer sesuai dengan ketentuan UUD tersebut.
Mosi Integral Natsir di parlemen telah melapangkan jalan bagi peleburan Negara
Republik Indonesia Serikat (RIS) kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) secara konstitusional. Atas jasa tersebut, presiden memberi kepercayaan
terhadap Natsir untuk membentuk kabinet pertama dalam NKRI 1950.26

Gambar 4.3 Suasana pelantikan anggota


DPR Negara Kesatuan Republik Indonesia
di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1950.
Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.
23 Bondoro, op. cit. h 73
24 Ibid, h. 74
25 Ibid, h. 74
26 Waluyo, op.cit. h. 29

Sejarah Nasional Indonesia VI 132


Adapun berikut pembentukan, kebijakan, dan pergantian beberapa
kabinet pada masa demokrasi liberal.

1) Kabinet Natsir (6 September - 21 Maret 1951)


Kabinet Natsir adalah kabinet pertama yang terbentuk pada masa
demokrasi liberal. Kabinet yang terbentuk pada 6 September 1950 tersebut
dikenal sebagai zaken kabinet, komposisi anggota kabinetnya terdiri dari 4 orang
Masyumi, 2 PSI, 2 PIR, 2 Kristen (Katolik dan Protestan), 1 PSII, 1 Demokrat, dan
4 tanpa partai. Kabinet Natsir beranggotakan orang-orang yang berpengalaman
dan sangat dihormati, mayoritas dari mereka punya pandangan sosial dan politik
yang sangat dekat dengan Natsir (Waluyo, 2009: 82-83). Untuk mewujudkan
cita-citanya, kabinet Natsir berpedoman pada program kerjanya sebagai berikut:
1. Mempersiapkan dan menyelenggarakan pemilihan umum untuk
memilih anggota konstituante dalam waktu yang secepatnya.
2. Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan.
3. Meningkatkan keamanan dan ketentraman.
4. Mengembangkan dan memperkokoh kekuatan ekonomi rakyat sebagai
dasar bagi melaksanakan ekonomi nasional yang sehat.
5. Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat (Sair, 2005: 11).

Gambar 4.4 Kabinet Natsir.


Sumber: www.wikipedia.com

Dalam merealisasikan program-program ekonominya, Natsir memperoleh


keuntungan karena tersedianya devisa luar negeri yang cukup besar yang
berasal dari meningkatnya harga-harga barang ekspor utama Indonesia sebagai
akibat dari eskalasi Perang Korea. Dana-dana luar negeri yang sangat besar
yang terkumpul dari peningkatan harga telah meningkatkan kemampuan
kabinet dalam mengendalikan inflasi dengan cara liberalisasi sistem impor. Dari

Sejarah Nasional Indonesia VI 133


kebijaksanaan-kebijaksanaan kabinet ini mengakibatkan perbaikan-perbaikan
yang substansial bagi kondisi ekonomi negara secara menyeluruh.27
Beberapa waktu setelah berupaya secara tegar meletakkan dasar bagi
perbaikan perekonomian negara secara menyeluruh, Kabinet Natsir mendapat
serangan-serangan keras dari kelompok partai oposisi di parlemen. Kebijakan
Natsir mengenai Irian Barat kali ini menjadi objek serangan kalangan oposisi
tersebut. Pendekatan perundingan yang dijalankan Natsir untuk mempengaruhi
Belanda agar menarik diri dari wilayah Irian Barat dinilai oleh kelompok oposisi
sebagai sikap yang terlalu lunak bahkan lemah.28 Walaupun telah mendapat
dukungan dari parlemen namun ia tetap tidak dapat melaksanakan program-
program kerjanya dengan baik (Sair, 2005: 11).

2) Kabinet Sukiman (27 April 1951-23 Februari 1952)


Kabinet ini merupakan kabinet parlementer yang menggunakan sistem
koalisi yang terdiri dari beberapa partai diantaranya Masyumi dan PNI. Kabinet
Sukiman menjadi terkenal setelah melakukan penangkapan terhadap sisa-sisa
pemberontakan PKI Madiun di Jakarta dan Medan. Namun demikian gangguan
keamanan yang dilakukan oleh Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan telah
melemahkan kedudukan kabinet Sukiman.29 Adapun program kerja kabinet
Sukiman sebagai berikut.
1. Menegakkan negara hukum guna menjamin keamanan dan
ketentraman
2. Membuat dan melaksanakan rencana kemakmuran nasional dalam
jangka pendek untuk mempertinggi kehidupan sosial ekonomi rakyat,
dan memperbaiki hukum agraria sesuai dengan kepentingan petani
3. Mempersiapkan pelaksanaan pemilihan umum serta mempercepat
terlaksananya otonomi daerah
4. Menyiapkan Undang-undang tentang pengakuan serikat buruh,
penetapan upah minimum
5. Menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif
6. Memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI

27 Ibid. hh. 87-88


28 Ibid. hh. 87-88
29 Alian Sair, Sejarah Nasional Indonesia VI , (Palembang: FKIP Universitas Sriwijaya, 2005). h. 11

Sejarah Nasional Indonesia VI 134


Walaupun mendapat dukungan yang luas dari parlemen tetapi masih
terdapat banyak hal yang mempersulit gerak kabinet. Hal ini dikarenakan partai
yang duduk didalamnya terkadang melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya
menyimpang dari apa yang telah digariskan. Hal ini dapat dilihat dari tindakan
Menteri Luar Negeri Iskak dari partai PNI yang mengeluarkan instruksi supaya
meniadakan DPRD yang dibentuk berdasarkan peraturan pemerintah tahun 1950.
Hal ini memperbesar perbedaan pandangan antara PNI dan Masyumi terutama
di kalangan pengikut Natsir. Masalah lain yang memperlihatkan penyimpangan
dari program kabinet dan sekaligus menyebabkan krisis kabinet adalah tindakan
dari Menteri Luar Negeri Subardjo yang bersedia menerima bantuan keamanan
dam ekonomi dari Amerika Serikat yang artinya Indonesia memihak kepada
Blok Barat dengan menandatangani Mutual Security Act. Dalam kesepakatan
itu Indonesia harus memperhatikan kepentingan-kepentingan Amerika. Hal
ini menimbulkan reaksi keras dari berbagai partai termasuk Masyumi dan PNI
sendiri.30

3) Kabinet Wilopo (3 April 1952-3 Juni 1953)


Kabinet ini merupakan koalisi dari partai Masyumi dan PNI yang
sebelumnya tidak pernah cocok untuk bekerjasama. Namun kali ini mereka
mulai menyusun kekuatan dalam kabinet. Sebagaimana masa pemerintahan
kabinet-kabinet sebelumnya, kabinet Wilopo pun tidak luput dari persaingan
antar partai. Permasalahan yang muncul pada masa ini adalah penurunan harga
karet yang pada waktu itu merupakan ekspor utama Indonesia yang turun 71
persen. Adapun berikut program-program kerja kabinet Wilopo sebagai berikut.
1. Melaksanakan pemilihan umum untuk dewan konstituante dan
menyederhanakan organisasi pemerintah pusat
2. Mempertinggi produksi nasional
3. Menjaga keamanan dan ketentraman dalam masyarakat
4. Melanjutkan usaha perubahan agraria
5. Menyempurnakan undang-undang perburuhan guna meningkatkan
derajat kaum buruh

30 Ibid. h. 12

Sejarah Nasional Indonesia VI 135


6. Mempercepat usaha-usaha perbaikan dan pembaharuan dalam
bidang pendidikan
7. Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif
8. Menyelesaikan masalah Indonesia dan Belanda dan menyelenggarakan
hubungan yang bersifat perjanjian yang bersifat internasional serta
meninjau kembali keputusan KMB
9. Meneruskan usaha memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI.31

Perdana Menteri Wilopo menarik sekelompok pemuda cerdas dari kedua


partai yaitu PNI dan Masyumi untuk membantu pemerintahan. Namun, para
pemuda itu tidak memiliki pengalaman politik. Mereka berusaha membentuk
Angkatan Darat yang lebih efisien dan profesional. Caranya dengan mengurangi
jumlah pasukan dan melakukan reorganisasi di tubuh Angkatan Darat. Langkah
ini mendapat tantangan dari para panglima AD sekutu politik Wilopo di Jakarta.
Pada 17 Oktober 1952, tentara mengerahkan tank, dan para demonstran sipil
bergerak menuju istana presiden. Mereka menuntut pembubaran parlemen.
Keadaan dapat dikendalikan oleh Presiden Soekarno, dan beberapa petinggi
AD diberhentikan. Namun, Kabinet Wilopo tidak dapat lama bertahan akibat
tekanan-tekanan politis ketika itu.32

4) Kabinet Ali Sastroamijoyo (Juli 1953-Juli 1955)


Kabinet ini terbentuk dari gabungan beberapa partai seperti PNI, NU,
dan partai-partai kecil lainnya. Pada masa kabinet Ali, haluan politik pada masa
sebelumnya terutama yang berkenan dengan kebijakan ekonomi yang dilakukan
pada Perdana Menteri Muhammad Hatta sama sekali ditinggalkan. Dalam hal
pembangunan ekonomi, sekalipun tercantum dalam program kerjanya, lebih
banyak merupakan semboyan. Hal ini disebabkan karena sikap kabinet yang
menganggap modal asing sangat merugikan Indonesia. Perhatian kepada
administrasi negara yang sangat diutamakan Hatta pun terbengkalai. Gantinya
muncul usaha-usaha menggalang persatuan melalui retorika politik dan
“dropping pegawai” dari pusat ke daerah. Pada dasarnya ada semacam sistem

31 Ibid., h.13
32 Nino Oktorino, et.al, Muatan Lokak: Ensiklopedia Sejarah dan Dunia Jilid 8, (Jakarta: Lentera Abadi,
2009), h. 234

Sejarah Nasional Indonesia VI 136


politik yang membuka peluang bagi orang tertentu untuk meraih keuntungan
materiil serta jabatan di pusat maupun di daerah. Kecendrungan pada PNI
sendiri yang diperkuat, bukan bangsa secara umumnya.33
Adapun program kabinet Ali sebagai berikut.
a. Meningkatkan keamanan dan kemakmuran dan pemilu segera
b. Pembebasan Irian Barat
c. Menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika
d. Politik bebas aktif dan peninjauan kembali persetujuan KMB
e. Penyelesaian pertikaian politik

Meski pemulihan keamanan menjadi program pertama, tetapi justru


segera setelah Kabinet Ali I berkuasa Aceh mengalami kekacauan akibat oposisi
keras dari PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) di bawah Daud Baeureueh,
sebagai puncak kekecewaan mereka terhadap pusat. Tuntutan agar Aceh menjadi
propinsi dan diperhatikannya secara sungguh-sungguh pengembangan daerah
kurang mendapat tanggapan dari pusat. Inflasi meningkat, korupsi meluas.
Pengisian jabatan tidak ditentukan oleh kecakapan dan kejujuran tetapi oleh
kesetiaan kepada partai. Hal-hal Ini kemudian berdampak pula pada kacaunya
perekonomian saat itu. Berbagai penyelewengan itu terjadi di terutama
karena partai-partai akan menghadapi pemilihan umum dan untuk melakukan
kampanye banyak diperlukannya biaya. Tanggal pemilu telah ditetapkan yaitu
29 September 1955 untuk anggota DPR dan 15 Desember 1955 untuk anggota
Konstituante.34
Dibidang politik luar negeri Kabinet Ali I berhasil menyelenggarakan
Konferensi Asia-afrika di Bandung pada tanggal 18-25 April 1955. Walaupun
begitu persoalan-persoalan dalam negeri yang dihadapi cukup rumit, ditambah
lagi dengan masalah pembatalan hasil KMB dengan pihak Belanda. Yang dihasilkan
hanyalah Protokol Pembubaran UNI 10 Agustus 1954 yang membubarkan Uni
Indonesia-Belanda, melunakkan ketentuan-ketentuan persetujuan KMB tentang
ekonomi-keuangan dan membatalkan ketentuan tentang kerjasama kebudayaan
dan militer.35

33 Sair, Op. cit. h. 13


34 G. Moedjanto, Indonesia Abad ke-20 2 ,(Yogyakarta: Kanisius, 1991) h. 90
35 Ibid. h. 92

Sejarah Nasional Indonesia VI 137


Gambar 4.5 Kabinet yang memerintah masa Demokrasi Liberal.
Sumber: www.google.co.id/image
Kegagalan lain yang mengakibatkan jatuhnya kabinet Ali ialah persoalan
AD. Setelah peristiwa 17 Oktober meletus, Nasution mengundurkan diri sebagai
KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat). Ia digantikan oleh Bambang Sugeng.
Hubungan dengan kabinet ternyata tidak baik karena kebijaksanaan Menteri
Pertahanan Iwa Kusumasumantri yang dianggap mencampuri urusan intern
AD dengan unsur-unsur politik yang nampak dalam pengangkatan penjabat-
penjabat penting AD. Akibatnya pada tanggal 24 Juli 1955 Ali mengembalikan
mandat kepada Wakil Presiden (Presiden sedang beribadah Haji).36

5) Kabinet Burhanuddin Harahap (Agustus 1955-Maret 1956)


Kabinet ini merupakan Kabinet koalisi yang terdiri dari beberapa partai
pemerintahan, dan beberapa partai lain sebagai oposisi yaitu yang tidak
tergabung dalam pemerintahan di antaranya PNI.37 Pada bulan Agustus 1955
Burhanuddin Harahap dari Masyumi diberi mandat untuk membentuk kabinet
dengan tugas utamanya menyelenggarakan pemilihan umum disamping harus
mengembalikan wibawa pemerintah akibat pergolakan yang berkepanjangan
dalam tubuh Angkatan Darat. Pada tanggal 29 September 1955 lebih dari 39 juta
rakyat Indonesia memberikan suaranya di kotak-kotak suara. Hasil pemilihan
umum pertama ini ternyata dimenangkan oleh 4 partai yaitu PNI, Masyumi, NU,
dan PKI.38

36 Ibid. hh. 92-93


37 Sair, Op.cit. h. 14
38 Rudini, Profil Republik Indonesia, (Jakarta: Intermasa, 1992). h. 25

Sejarah Nasional Indonesia VI 138


Dengan selesainya pemilihan umum, tugas Kabinet Burhanuddin pun
dianggap selesai dan perlu dibentuk kabinet baru yang akan bertanggung
jawab pada parlemen yang baru. Selain itu mutasi dilakukan dibeberapa
kementerian, misalnya di Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri,
dan Kementerian Perekonomian. Hal-hal tersebut diatas merupakan salah satu
faktor adanya desakan agar PM mengembalikan mandatnya. Pada tanggal 3
Maret 1956 Burhanuddin Harahap mengembalikan mandatnya.39
Pada 2 Maret 1956 sehari sebelum kabinet mengembalikan mandat,
ditandatanganilah bantuan kredit pangan dari AS oleh Menlu Anak Agung dan
dubes AS. Bantuan ini bernilai $ 96.700.000 dan akan diserahkan dalam 2 tahun.
Sepuluh hari kemudian Menlu Duller datang untuk menyampaikan undangan
dari Presiden Eisenhower agar Presiden Soekarno berkunjung ke AS. Kabinet
Burhanuddin adalah kabinet terakhir yang pembentukannya didasarkan atas
imbangan kekuatan parlemen sementara.40

6) Kabinet Ali Sastroamijoyo II (Maret 1956-Maret 1957)


Tak lama setelah Kabinet Burhanuddin jatuh, Presiden Soekarno pada
tanggal 8 Maret 1956 menunjuk kembali Ali Sastroamojoyo sebagai formatur
untuk membentuk kabinet baru. Kabinet ini merupakan kabinet koalisi dimana
ke-3 partai besar yaitu PNI, Masyumi, dan NU memegang peranan disamping
beberapa partai kecil lainnya. Penggumuman resmi terbentuknya kabinet
dengan susunan yang lengkap diumumkan pada tanggal 20 Maret 1955.41
Kabinet Ali II menemui banyak hal yang sangat mengurangi kewibawaanya
terutama yang bersumber pada korupsi dan berbagai penyelewengan.
Ketidaksanggupan kabinet dalam menjalankan politik yang memuaskan bagi
daerah-daerah terbukti dengan timbulnya perebutan kekuasaan di daerah-
daerah oleh pihak militer, terutama di Sumatra dan Sulawesi. Menurut
pandangan mereka (pihak-pihak yang bergolak di daerah) pusat tidak cakap
memperhatikan daerah, tidak adil dalam pembagian pendapatan ekspor dan
terlalu birokratis dalam menyelesaikan suatu urusan. Untuk mengatasi keadaan
mereka menuntut dibentuknya Kabinet Sukarno-Hatta. Daerah pertama yang

39 Ibid, h. 26
40 Moedjanto, .Op.cit. h. 95
41 Rudini, Op. cit. h. 26

Sejarah Nasional Indonesia VI 139


berani menentang pusat ialah Sumatera Barat yang dipelopori oleh Letkol
Akhmad Husein, Komandan Resimen setempat. Tindakan Husein diikuti oleh
Kol. Simbolon yang mendirikan Dewan Gajah pada tanggal 22 Desember 1956
di Medan. Simbolon menyatakan bahwa hubungan Medan-Jakarta diputuskan
sampai dibentuk kabinet baru dibawah pimpinan pribad-pribadi yang jujur dan
mempunyai jiwa pengabdian yang tinggi.42
Perkembangan bulan Maret 1957 ternyata tidak juga menguntungkan
pusat. Pergolakan daerah meluas ke Sulawesi. Pada tanggal 2 Maret 1957
berdirilah Dewan Perjuangan Semesta (PERMESTA) dibawah pimpinan Letkol.
Sumual, Panglima Divisi Indonesia Timur yang menggantikan Warouw. Dewan
ini memperjuangkan dilaksanakannya Piagam Perjuangan Semesta yang
menuntut dilaksanakannya Repelita dan pembagian pendapatan daerah secara
adil. Menyadari ketidakmampuannya Kabinet Ali pada tanggal 14 Maret 1957
mengembalikan mandat kepada Presiden, yang kemudian menyatakan seluruh
Indonedia dalam keadaan SOB (darurat). Meski kekecawaan terhadap Kabinet Ali
meluas, tetapi harga-harga pada masa ini tidak begitu mengalami kegoncangan.
Ini disebabkan oleh impor surplus hasil bumi dari AS.43

7) Kabinet Djuanda (Kabinet Karya) (9 April 1957-10 Juli 1959)


Pada April 1957, Presiden Soekarno mengumumkan pembentukkan
Kabinet karya yang dipimpin Ir. Djuanda Kartawidjaja. Oleh karena Djuanda
adalah politisi yang tidak berafiliasi dengan suatu partai, kabinetnya menjadi
sangat bergantung pada Soekarno.44 Pada tanggal 9 April 1957 dilantiklah kabinet
yang diberi nama Kabinet Karya juga disebut Kabinet Ekstra Parlementer karena
tidak berdasarkan komposisi perimbangan kekuatan partai dalam parlemen.
Kebanyakan anggota kabinet terdiri dari orang-orang ahli yang meskipun
sebagian anggota partai tetapi pengangkatannya tidak terikat oleh atau melalui
partai. Banyak orang menganggap tindakan Presiden itu inkonstitusional (tidak
menurut UUD).45 Adapun program kerja Kabinet Karya ini sebagai berikut.

42 Moedjanto, Op. cit. hh. 98-99


43 Ibid. hh. 99-101
44 Oktorino, et.al. Op.cit. h. 235.
45 Roziq Hasan, et.al, Sejarah Nasional Indonesia dan Dunia, (Surabaya: Edumedia, 1991). h. 164.

Sejarah Nasional Indonesia VI 140


a. Membentuk Dewan Nasional (sesuai dengan konsepsi Presiden) dan
sejak Juni 1957 membentuk Depernas
b. Normalisasi keadaan RI
c. Melanjutkan pelaksanaan pembatalan KMB
d. Perjuangan Irian Barat
e. Mempercepat pembangunan.46
Kedudukan Kabinet Karya sangat penting bagi perkembangan kenegaraan
di Indonesia meskipun hanya berkuasa kira-kira 2 tahun saja. Sebagai suatu
kabinet ekstra parlementer kedudukannya memang kuat karena parlemen tidak
bisa menjatuhkannya. Tetapi kedudukan itu tidak cukup aman karena peranan
Presiden yang besar dan sangat menentukan. Dengan “godokannya”, Presiden
dapat mengubah susunan kabinet jika dipandangnya perlu. Bahkan Presiden
dengan kedudukannya yang baru sebagai Ketua Denas, memperoleh saluran
resmi untuk memaksa kabinet menyetujui kehendaknya. Apalagi kabinet Karya
sendiri dibentuk atas dasar Undang-undang Keadaan Darurat.47
Untuk meredakan ketegangan daerah-daerah, pada tanggal 14 September
1957 telah dilangsungkannya Musyawarah Nasional (Munas), dan dilingkungan
AD dibentuk panitia yang terdiri dari 7 orang dan disebut Panitia Tujuh.
Tetapi belum sampai mengumumkan hasil kerjanya, telah terjadi percobaan
pembunuhan terhadap Presiden Soekarno pada tanggal 30 November 1957
(Peristiwa Cikini). Akibat peristiwa ini keadaan Indonesia semakin memburuk.
Daerah-daerah yang bergolak bukan semakin reda, tetapi semakin nyata
usahanya untuk melepaskan diri dari pusat. Pada tanggal 10 Februari 1958 Ketua
Dewan Banteng, Achmad Husein mengeluarkan ultimatum pada Pemerintah
Pusat yang menyatakan bahwa Kabinet Djuanda harus mengundurkan diri dalam
waktu 5x24 jam. Setelah menerima ultimatum ini pemerintah bertindak tegas
dengan memecat secara tidak hormat Achmad Husein, Simbolon, Zulkifli Lubis,
dan Dahlan Djambek, mereka adalah perwira-perwira TNI-AD yang duduk dalam
pimpinan gerakan Separatis.48
Kemudian KSAD A.H. Nasution pada tanggal 12 Februari 1958 mengeluarkan
perintah untuk membekukan Komando Daerah militer Sumatera Tengah

46 Moedjanto, Op. cit. hh. 103-104


47 Ibid. h. 104
48 Rudini, Op. cit. h. 27

Sejarah Nasional Indonesia VI 141


dan selanjutnya menempatkan langsung di bawah
KSAD. Pada tanggal 15 Februari 1958 Achmad Husein
reminder
memproklamirkan “Pemerintah Revolusioner Republik
Indonesia” (PRRI) dengan Syafruddin Prawiranegara Bentuk
pemerintahan
sebagai Perdana Menteri. Setelah PRRI diproklamirkan
Indonesia adalah
oleh Achmad Husein, di Sulawesi Utara juga diumumkan “Republik”
berdirinya gerakan separatis Permesta yang menguasai dengan kepala
pemerintahan
daerah dari Palu di Sulawesi Tengah sampai ke Manado
presiden
di Sulawesi Utara.49
Dalam waktu-waktu yang kritis itulah, Presiden
Soekarno dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) muncul sebagai kekuatan politik
yang diharapkan dapat mengatasi kemacetan nasional. Gagalnya pembentukan
undang-undang yang baru melalui Konstituante dan rentetan peristiwa-
peristiwa politik mencapai klimaksnya dalam bulan Juni 1959. hal-hal tersebut
yang mendorong Presiden Soekarno sampai kepada kesimpulan bahwa demi
keselamatan negara, maka pada hari Minggu tanggal 5 Juli 1959 pukul 17.00,
beliau mengumumkan Dekrit Presiden yang berisi tentang pembubaran
Konstituante dan berlakunya kembali UUD 1945 dalam kerangka Demokrasi
Terpimpin.50

b. Perbandingan Konstitusi RIS dan UUD 1950


Selama masa pasca kemerdekaan hingga tahun 1950an keadaan politik
di Indonesia cenderung instabil. Pergolakan politik terus terjadi, Indonesia
terus berbenah diri membentuk negara yang tujuannya untuk kesejahteraan
rakyat banyak. Selama dasawarsa pertama sejak kemerdekaan, Indonesia telah
beberapa kali mengalami pergantian konstitusi mulai dari UUD 1945, Konstitusi
RIS, UUDS 1950 hingga kembalinya kepada UUD 1945. Bahkan hingga sekarang
undang-undang kita masih terus diamandemen. sampai sekarang yang pada saat
ini juga mengalami amandemen sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
zaman.51

49 Ibid., hh. 27-29


50 Ibid., hh. 27-29
51 Novita Mandasari Hutagaol, “Analisis dan Perbandingan Antara UUD 1945, Konstitusi RIS, UUDS 1950
dan UUD 1945 Amandemen: Substansi, Komparasi dan Perubahan yang Penting, journal Unrika. 2016,

Sejarah Nasional Indonesia VI 142


1) Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Negara Republik Indonesia secara
resmi berdiri. Pasca kemerdekaan, Belanda berkeinginan untuk kembali
menjajah Indonesia namun hal ini terus dilawan oleh RI. Gagal dengan
cara militer dan kekerasan Belanda mencoba menggunakan taktik lain
dengan menjadikan Indonesia menjadi negara federal. Belanda ingin
merebut kembali wilayah Republik Indonesia dengan memecahnya
menjadi beberapa negara bagian saja. Dengan politik “federalisme” ini
Belanda bermaksud memperlemah kedudukan RI. Belanda melakukan
Agresi Militer I dan II dan melanggar perjanjian Renville yang telah
disetujui bersama. Melihat hal itu maka Perserikatan Bangsa-Bangsa
melakukan penyelesaian secara diplomatis dan daman dengan
mengadakan serangkaian pertemuan yang diakhiri dengan Konferensi
Meja Bundar (KMB). Konfrensi ini dihadiri negara-negara bentukan
Belanda yang tergabung dalam Byeenkomst voor Federal Overleg
(BFO).52
UUD 1949 yang disusun dibawah bayang-bayang Konferensi
Meja Bundar, menjadi Konstitusi Republik Indonesia Serikat dan
berlaku sesudah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.
Karena itu, secara formal, dengan undang-undang dasar ini perjuangan
kemerdekaan nasional dan pengakuan internasional terhadap
Indonesia sebagai negara berdaulat telah tercapai. Pergantian UUD
yang dirumuskan dibawah tekanan pihak luar dengan suatu UUD yang
dibuat oleh Bangsa Indonesia dalam keadaan bebas menandakan
langkah lebih lanjut menuju kemerdekaan dari sisa-sisa kolonialisme.
Selain itu pembuatan Undang-undang Dasar ini dilakukan tergesa-
gesa dimana hanya memenuhi prasyarat sebagai negara federal.53
Kekuasaan berkedaulatan didalam Negara Republik Indonesia
Serikat adalah dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama dengan
Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat (pasal 1 dan 2). Badan ini juga
menjadi badan pembentuk undang-undang yaitu Dewan Perwakilan
52 Ibid,
53 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia, (Jakarta: Intermasa, 1995).
hh. 27-28

Sejarah Nasional Indonesia VI 143


Rakyat saja tanpa ikut Senat. Pemerintah menurut Konstitusi Republik
Indonesia Serikat adalah Presiden dengan seorang atau beberapa
dengan para menteri yakni menurut tanggung jawab khusus atau umum
mereka (pasal 68 ayat 2). Dalam pasal 117 tugas penyelenggaraan
pemerintah federal dijalankan oleh Pemerintah.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara, Presiden
tidak dapat diganggu gugat tetapi tanggung jawab kebijaksanaan
pemerintah adalah ditangan menteri-menteri baik secara bersama
maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri (pasal
118). Dilihat dari hal itu maka Konstitusi Republik Indonesia Serikat
digolongkan menganut sistem “kabinet parlementer”. Sistem ini tidak
bisa dikerjakan selama masa Konstitusi RIS, karena Dewan Perwakilan
Rakyat yang belum didasarkan kepada pemilihan umum sesuai
pasal 111, tetapi masih Dewan Perwakilan Rakyat yang ditunjuk atas
dasar pasal 109 dan pasal 110 Konstitusi Republik Indonesia Serikat.
Pasal 122 Konstitusi Republik Indonesia Serikat menentukan “Dewan
Perwakilan Rakyat yang ditunjuk menurut pasal 109 dan 110 tidak
dapat memaksa kabinet atau masing-masing menteri meletakkan
jabatannya”.54
Pasal 69 Konstitusi Republik Indonesia Serikat ditentukan bahwa
kepala negara adalah Presiden yang dipilih oleh orang-orang yang
dikuasakan oleh pemerintah bagian. Pada tanggal 16 Desember
1949 diadakan pemilihan Presiden untuk Republik Indonesia Serikat,
wakil-wakil dari pemerintah negara/daerah bagian (pasal 2). Dari hasil
pemilihan ini terpilihlah Soekarno menjadi Presiden yang pada waktu
itu masih menjadi Presiden Republik Indonesia. Kemudian untuk
pertama kalinya Dewan Perwakilan Rakyat dibentuk berdasarkan
pemilihan umum seperti yang dimaksud pada pasal 111, maka
pembentukannya masih didasarkan pada pasal 109 dan pasal 110
Konstitusi Republik Indonesia Serikat, dimana Pasal 109 menentukan
bahwa:

54 Novita Mandasari, loc. cit.

Sejarah Nasional Indonesia VI 144


1. Untuk Dewan Perwakilan Rakyat yang pertama, mengutus
anggota-anggota dari daerah-daerah selebihnya yang tersebut
dalam pasal 99, diatur dan diselenggarakan dengan perundingan
bersama-sama oleh daerah-daerah bagian yang tersebut dalam
pasal 2, kecuali Negara Republik Indonesia dengan memperhatikan
asas-asas demokrasi dan seboleh-bolehnya dengan perundingan
dengan daerah-daerah yang tersebut dalam pasal 2 sub c, yang
bukan daerah bagian.
2. Untuk pembagian jumlah-jumlah anggota yang akan diutus
diantara daerah-daerah itu, diambil sebagai dasar perbandingan
jumlah jiwa rakyat daerah-daerah bagian tersebut.55
Sedangkan Pasal 110 menentukan bahwa:
1. Bagaimana caranya anggota diutus ke Dewan Perwakilan Rakyat
yang pertama, diatur oleh daerah-daerah bagian.
2. Di mana pengutusan demikian tidak dapat terjadi dengan jalan
pemilihan yang seumum-umumnya, pengutusan itu dapat
dilakukan dengan jalan penunjukan anggota-anggota oleh
perwakilan rakyat daerah-daerah bersangkutan, jika ada di situ
perwakilan demikian. Juga apabila, karena hal-hal yang sungguh,
perlu diturut cara lain, yang diusahakan untuk mencapai perwakilan
yang sesempurna - sempurnanya, menurut kehendak rakyat.
Pemilihan umum belum bisa diadakan untuk anggota-anggota
Dewan Perwakilan Rakyat karena Konstitusi Republik Indonesia Serikat
dirubah menjadi Undang-Undang Dasar Sementara. Disamping Dewan
Perwakilan Rakyat ada Senat. Senat merupakan utusan-utusan yang
mewakili negara/daerah bagian yang masing-masing negara/daerah
bagian 2 orang (pasal 80). 56

2) Undang-Undang Dasar Sementara 1950


Pada tanggal 17 Agustus 1950 dengan resmi RIS dibubarkan dan
dibentuk negara kesatuan baru yang diberi nama Republik Indonesia.
Persiapan untuk membentuk negara kesatuan ini sudah dilakukan
55 Ibid, hh. 27-28
56 Ibid, hh. 27-28

Sejarah Nasional Indonesia VI 145


beberapa bulan sebelumnya, sebab di negara-negara federal kehendak
untuk bersatu sudah lama timbul. Resminya negara kesatuan yang baru
merupakan kelanjutan dari RIS yang mengalami perubahan Undang-
undang Dasar.57 Tetapi oleh kebanyak orang Indonesia negara kesatuan
baru itu merupakan kelanjutan Republik Proklamasi 17 Agustus 1945.
Persetujuan antara RIS dan RI untuk membentuk negara kesatuan
tercapai pada tanggal 19 Mei 1950. Setelah selama kurang lebih dua
bulan bekerja, panitia gabungan RIS-RI yang bertugas merancang
UUD Negara Kesatuan menyelesaikan tugasnya pada tanggal 20 Juli
1950. Kemudian setelah diadakan perubahan di masing-masing
DPR, rancangan UUD negara kesatuan diterima, baik oleh Senat dan
Parlemen RIS maupun oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
Pada tanggal 15 Agustus 1950 Presiden Soekarno menandatangani
rancangan UUD tersebut.58
UUD 1950 ini mengandung unsur-unsur dari UUD-RI maupun
dari UUD-RIS. Menurut UUD 1950 kekuasaan legislatif dipegang
oleh Presiden, kabinet dan DPR. Pemerintah mempunyai hak
untuk mengeluarkan Undang-Undang darurat atau peraturan
pemerintah, walaupun kemudian perlu juga disetujui oleh DPR
pada sidang berikutnya. Prsiden juga dapat mengeluarkan dekritnya
kalau diperlukan. Tetapi walaupun demikian, kabinet, baik secara
perseorangan, masih bertanggung jawab pada DPR. DPR mempunyai
hak untuk menjatuhkan kabinet seluruhnya atau memberhentikan
menteri-menterinya secara individual.59
Perubahan-perubahan mendasar dalam pelaksanaan
ketatanegaraan menurut ketetapan UUDS 1950 dapat dilihat dari
uraian Program Persetujuan Pemerintah Republik Indonesia Serikat
dan Pemerintah Republik Indonesia tanggal 19 Mei 1950 yang berisi:
a) Pengahapusan Senat
b) DPRS terdiri dari atas gabungan DPR Republik Indonesia Serikat
dan Badan Pekerja KNIP. Tambahan anggota atas penunjukan

57 Rudini, et.al, Profil Propinsi Republik Indonesia , (Jakarta: Intermasa., 1992) h, 24


58 Ibid., hh. 24-25
59 Ibid., hh. 24-25

Sejarah Nasional Indonesia VI 146


Presiden dipertimbangkan lebih jauh oleh kedua pemerintah
c) DPRS bersama-sama dengan KNIP dinamakan Majelis Perubahan
Undang-Undang Dasar, mempunyai hak mengadakan perubahan-
perubahan dalam undang-undang yang baru
d) Konstituante terdiri dari anggota-anggota yang dipilih dengan
mengadakan pemilihan umum berdasar atas satu orang anggota
untuk tiap 300.000 penduduk, dengan memperhatikan
perwakilan yang pantas bagi golongan minoriteit
e) Presiden adalah Presiden Soekarno
f) Dewan Menteri harus bersifat kabinet parlementer
g) Tentang jabatan Wakil Presiden dalam negara kesatuan selama
sebelum Konstituante terbentuk, Pemerintah Republik Indonesia
Serikat dan Pemerintah Republik Indonesia akan mengadakan tukar
pikiran lebih lanjut
h) Dewan Pertimbangan Agung dihapuskan.60

4 Keadaan Ekonomi Masa


Demokrasi Liberal
a) Keadaan Ekonomi
Dalam periode ini dapat dikatakan keadaan yang tidak menentu baik dari
segi politik maupun ekonomi. Dalam negeri yang masih menunjukkan adanya
kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, dan masih adanya tradisi otoriter
sisa kolonial, maka banyak yang berharap dan bergantung pada kearifan dan
nasib baik kepemimpinan Indonesia. Ketidakstabilan di bidang politik sejak
menginjak fase demokrasi liberal, turut serta memengaruhi pertumbuhan
ekonomi di Indonesia. Sejak kabinet pertama sudah ada permintaan usaha
pemerintah pusat untuk mengatasi kehancuran ekonomi dan diteruskan pada
kabinet-kabinet selanjutnya.61
Sesudah pengakuan kedaulatan, Indonesia menanggung beban ekonomi
dan keuangan akibat ketentuan-ketentuan KMB yaitu beban utang luar negeri
sebesar Rp1.500 juta dan utang dalam negeri sejumlah Rp2.800 juta. Masalah
60 Ibid. hh. 24-25
61 Alian Sair, Op.Cit. h.17

Sejarah Nasional Indonesia VI 147


jangka pendek yang harus diselesaikan oleh
pemerintah adalah mengurangi jumlah uang
yang beredar dan mengatasi kenaikan biaya reminder
hidup. Sedangkan masalah jangka panjang Bagi kebanyakan orang
Indonesia tujuan revolusi
adalah masalah pertambahan penduduk dan bukanlah sekedar untuk
tingkat hidup yang rendah. Beban yang berat membebaskan diri dari
ini merupakan konsekuensi dari Pengakuan Belanda, tetapi juga
untuk membebaskan
Kedaulatan. Indonesia sebagai negara yang sedang
dari kemiskinan.
berkembang tidak memiliki barang-barang ekspor Mereka mengharapkan
lainnya kecuali hasil perkebunan. Perkembangan masyarakat yang adil
ekonomi Indonesia tidak menunjukkan arah yang dan makmur yang
akan tercapai sesudah
stabil, bahkan sebaliknya. Pengeluaran pemerintah kemerdekaan
yang semakin meningkat akibat tidak stabilnya
situasi politik saat itu.62 Selain itu penyebab lain
buruknya keadaan ekonomi Indonesia adalah belum memiliki pengalaman
untuk menata ekonomi secara baik, belum memiliki tenaga ahli dan dana
yang diperlukan secara memadai, situasi keamanan dalam negeri yang tidak
menguntungkan karena banyaknya pemberontakan dan gerakan separatism
diberbagai wilayah Indonesia, tidak stabilnya situasi politik dalam negeri saat
itu mengakibatkan pengeluaran pemerintah untuk operasi-operasi keamanan
semakin meningkat, dan kabinet yang terlalu sering berganti menyebabkan
program-program kabinet yang telah direncanakan tidak dapat dilaksanakan
sedangkan program baru mulai dirancang.63
Bagi kebanyakan orang Indonesia tujuan revolusi bukanlah sekedar
untuk membebaskan diri dari Belanda, tetapi juga untuk membebaskan dari
kemiskinan. Mereka mengharapkan masyarakat yang adil dan makmur yang akan
tercapai sesudah kemerdekaan. Tetapi pada tahun 1950-an semakin jelas bahwa
harapan ini tidak terpenuhi. Sebaliknya, keadaan ekonomi terus memburuk,
dan menjelang tahun 1958 terjadi krisis ekonomi yang sesungguhnya. Untuk
sebagian besar, kebijakan ekonomi ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan
non-ekonomis seperti keinginan untuk mengusir Belanda dari benteng-benteng
ekonomi mereka yang masih ada, untuk mengusahakan supaya pribumi merebut
62 Poesponegoro dan Notosusanto, Op.Cit. hh.334-335
63 Adi Sudirman, Sejarah Lengkap Indonesia, hh. 337

Sejarah Nasional Indonesia VI 148


kekuasaan ekonomi dari orang Cina, dan untuk membentuk koordinasi nasional
bagi ekonomi pasca-kolonial yang berantakan itu.64 Lambannya pemulihan
ekonomi dan perluasan lapangan kerja, telah membawa kearah penurunan
sektor ekonomi disegala bidang. Maka tidak mengherankan bahwa inflasi dari
masa perang dan revolusi terus berlanjut. Biaya hidup meningkat sekitar 100%
selama tahun 1950-1957. Semua sektor kemasyarakatan menderita dan terjadi
peningkatan harga yang tinggi. Para pegawai yang digaji dan para buruh upahan
juga mendapat imbasnya.65

b) Usaha Membentuk Ekonomi Nasional


Selama periode revolusi kemerdekaan (1945-1949), para pemimpin
politik Indonesia telah mulai mencoba merumuskan konsep tentang ekonomi
nasional dengan jalan menggantikan warisan ekonomi kolonial.66 Perhatian
terhadap perkembangan dan pembangunan ekonomi dicurahkan oleh Dr.
Sumitro Djojohadikusumo, yang berpendapat bahwa pembangunan ekonomi
Indonesia pada hakikatnya adalah ekonomi yang baru. Yang perlu dilakukan
adalah mengubah struktur ekonomi umumnya dari ekonomi kolonial ke
ekonomi nasional. Sumitro mencoba mempraktikkan pemikirannya itu pada
sektor perdagangan. Para pengusaha Indonesia yang pada umunya bermodal
lemah, diberi kesempatan untuk berpartisipasi membangun ekonomi nasional.
Pemerintah hendaknya membantu dan membimbing para pengusaha itu,
baik dalam bentuk bimbingan konkret maupun dengan bantuan pemberian
kredit karena pemerintah menyadari bahwa pengusaha-pengusaha Indonesia
umumnya tidak mempunyai modal yang cukup. Jika usaha ini berhasil, secara
bertahap pengusaha Indonesia akan dapat berkembang maju, dan tujuan
mengubah struktur ekonomi kolonial dibidang perdagangan akan tercapai.67

c) Kebijakan Ekonomi
Untuk mengatasi masalah ekonomi pada masa demokrasi liberal
dikeluarkan beberapa kebijakan ekonomi yang mempengaruhi kehidupan
ekonomi Indonesia, kebijakan-kebijakan tersebut antara lain:
64 Nasution, Op.Cit. h.262
65 Sair. Op.Cit. h.19
66 Ibid, h.15
67 Poesponegoro dan Notosusanto, Op.Cit, h.332

Sejarah Nasional Indonesia VI 149


1. Sistem Ekonomi Benteng
Tujuan rencana sistem Benteng ini ialah untuk mendorong
“Indonesianisasi” sistem ekonomi, yang berarti mengembangkan
usaha pribumi untuk mengambil alih peran ekonomi yang dipegang
orang Belanda dan orang Cina. Program tersebut diperkenalkan
sebagai bagian dari Program Industrialisasi Mendesak oleh Kabinet
Natsir (September 1950-Maret 1952), tetapi ditindaklanjuti oleh
Iskaq Tjokrohadisurjo, Menteri Urusan Ekonomi dalam Kabinet Ali
Sastroamdjojo I (Agustus 1953-November 1954). Program tersebut
dimaksudkan untuk memberi dukungan yang lebih menguntungkan
bagi importir pribumi dari pada Cina. Tetapi, sistem lisensi yang menjadi
bagian dari program tersebut ternyata menjadi sumber korupsi.68
2. Nasionalisasi de Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada akhir
tahun 1951. Sebelum dilaksanakan nasionalisasi de Javasche Bank,
terjadi proses pembentukan Bank Negara Indonesia sebagai bank
nasional pertama Indonesia yang dikukuhkan di dalam Peraturan
Pemerintah Pengganti UU No. 2/1946 pada 5 Juli 1946. Kemudian,
dikeluarkan Undang-Undang No. 24/1951 yang berisi tentang
pelaksanaan nasionalisasi de Javasche Bank menjadi Bank Indonesia,
atau dikenal juga dengan sebutan BI. Bank Indonesia berfungsi
sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. Undang-Undang tersebut
pun diperkuat dengan UU No.11/1953 dan Lembaran Negara No. 40
yang menyatakan bahwa jabatan Presiden Bank Indonesia menjadi
Gubernur Bank Indonesia.69
3. Gunting Sjafruddin. Krisis moneter yang dihadapi pemerintah ialah
defisit anggaran hal ini dilakukan untuk mengatasi defisit anggaran dan
mengurangi peredaran uang. Kemudian pada tanggal 20 Maret 1950,
Menteri Keuangan Sjafruddin mengambil tindakan memotong uang
dengan memberlakukan setengahnya untuk mata uang yang bernilai
Rp2.50,00 ke atas.70

68 Nasution, Op.Cit. h. 263.


69 Sudirman,,Op.Cit.. h. 378
70 Ibid., h.378.

Sejarah Nasional Indonesia VI 150


4. Sistem Ekonomi Ali-Baba. Sistem Ekonomi Ali-Baba mempunyai tujuan
memajukan pengusaha pribumi. Ali digambarkan sebagai pengusaha
pribumi, dan Baba sebagai pengusaha non pribumi khususnya Cina.
Dimana Ali si pemimpin dalam nama saja, sedangkan Baba, mitra
Cinanya, menjalankan usaha tersebut. Sistem ini bukannya mendorong
berkembangnya kelas pedagang pribumi, tetapi sebaliknya malah
menciptakan suatu kelompok makelar lisensi. Sistem ini mengalami
kegagalan karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman dan
hanya dijadikan alat oleh pengusaha non pribumi untuk mendapatkan
kredit dari pemerintah.71
5. Rencana Sumitro, Kebijakan ini ditempuh pada masa pemerintahan
Kabinet Natsir. Sasarannya ditekankan terutama pada pembangunan
industri dasar, seperti pendirian pabrik-pabrik semen, pemintalan,
karung, dan percetakan. Kebijakan ini diikuti pula dengan usaha
peningkatan produksi, pangan, perbaikan prasarana, dan penanaman
modal asing.72

d) Keberhasilan dan Kegagalan Ekonomi Liberal


Merujuk pada kondisi politik yang terjadi ketika itu, kondisi ekonomi
Indonesia juga bisa dikatakan tidak dalam kondisi yang baik. Disamping
itu kebijakan-kebijakan pemerintah yang mayoritas dilakukan untuk
mengembangkan para pengusaha-pengusaha Indonesia ternyata disikapi sangat
lamban oleh mereka lamban, bahkan ada yang menyalahgunakan kebijakan
pemerintah tersebut. Bantuan kredit yang digelontorkan ternyata tidak efektif
sehingga program pemerintah tidak berhasil. Padahal pemerintah pemberian
kredit tersebut menambah beban keuangan pemerintah sehingga menjadi salah
satu sumber defisit. Namun disamping kegagalan, ada gerakan-gerakan ekonomi
pada masa ini patut diapresiasi.73
Kabinet Sukiman yang memegang pemerintahan selama 10 bulan sejak
April 1951 sampai Februari 1952 berusaha membatasi krisis moneter. Salah satu
usaha yang ditempuh ialah melakukan nasionalisasi terhadap De Javasche Bank.

71 Adnan Buyung Nasution, op. cit. h. 263


72 Poesponegoro dan Notosusanto, Op.Cit, h. 336
73 Ibid.. h. 333

Sejarah Nasional Indonesia VI 151


Krisis moneter yang dihadapi pemerintah ialah defisit anggaran belanja pada
tahun 1952 sebanyak 3 miliar rupiah, ditambah dengan sisa defisit anggaran
tahun sebelumnya sebesar 1,7 miliar rupiah.74
Ketidakstabilan dibidang politik sejak fase demokrasi liberal, turut serta
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sejak kabinet pertama
Natsir sudah ada usaha pemerintah pusat untuk mengatasi kehancuran ekonomi.
Yang dipercayakan kepada Sumitro Djojohadikusomo untuk meningkatkan
perekonomian rakyat terutama di Jawa, dengan memberikan kredit bagi
usaha-usaha dalam bidang perdagangan dan industri. Selain itu masyarakat
umum pun diberi kesempatan untuk mengembangkan swadaya melalui sistem
perkoperasian.75
Upaya seperti ini terus dikembangkan sampai masa kabinet Sukiman,
dimana usaha yang telah ada ditambah dengan pembentukan biro perancang
negara yang berturut-turut dipimpin oleh Sumitro, Djuanda, dan Ali Budiardjo.
Badan ini berhasil menyusun rencana pembangunan. Untuk melaksanakan
rencana ini dibentuklah kementerian baru dengan nama Kementerian
Perencanaan Negara, dengan menteri yang ditunjuk ialah Djuanda. Akan tetapi
garis-garis besar rancangan pembangunan lima tahun (1956-1960) itu gagal,
terutama karena kebijaksanaan kabinet Ali I. Kabinet ini terlalu memperhatikan
politik luar negeri, seperti misalnya penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika
tanpa diimbangi pembangunan dalam negeri.76
Kegagalan pembangunan ekonomi sangat dirasakan oleh berbagai lapisan
dan golongan dalam masyarakat. Salah satu golongan yang merasakan kesulitan
akibat masalah ini adalah para prajurit. Tindakan-tindakan pemerintah dalam
masalah ekonomi, seperti menyalahgunakan sumber devisa, pemberian izin
istimewa kepada anggota partai penyokongnya, serta birokrasi perizinan yang
sangat berbeli-belit itu, menghambat para pedagang. Kalangan pimpinan
pasukan diberbagai wilayah pun kesal, karena alokasi keuangan bagi operasi-
operasi militer serta kesejahteraan prajurit tidak terlaksana secara normal. Oleh
karena itu mereka mencari cara sendiri dalam menghimpun dana. Cara yang
ditempuh antara lain mengekpor sendiri hasil produksi pertanian lokal tanpa

74 Ibid.., h. 333
75 Sair, Op.Cit. h. 17
76 Ibid, h. 17

Sejarah Nasional Indonesia VI 152


melalui prosedur administrasi di Jakarta. Pemerintah pusat menamakan kegiatan
para panglima tersebut sebagai “barter”.77
Selain itu ada peristiwa politik yang menyebabkan kemerosotan ekonomi
karena politisasi juga menjadikan ekonomi sangat peka terhadap pengaruh
peristiwa politik yang akibatnya tidak dapat dikendalikan. Khususnya, dua
peristiwa yang berlangsung pada tahun 1957 dan 1958 memperuncing krisis
ekonomi konflik dengan negeri Belanda mengenai Irian Barat yang antara lain,
berakibat dinasionalisasikannya perusahaan-perusahan Belanda, termasuk
perusahaan KPM yang menguasai pelayaran antarpulau, disusul dengan
pengusiran semua warga negara Belanda dari Indonesia. Manifesto politik
Pemerintah tanggal 1 November 1945 yang menerima hutang bekas Hindia-
Belanda sebagai hutang Republik Indonesia mengakui hak-hak orang Belanda
atas milik mereka. Berarti perlu suatu perundingan tentang pengambilalihan
aset-aset Belanda selama Revolusi.78
Ketika IPKI (Ikatan Pembela kemerdekaan Indonesia) didirikan pada
tanggal 20 Mei 1945, telah dikeluarkan manifesto politik yang menyatakan
bahwa meskipun kedaulatan telah tercapai dengan pengorbanan darah dan
keringat rakyat, cita-cita untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur,
sebagaimana dijanjikan dalam pembukaan UUD 1945, belum terwujud.
Masalah lain diluar negeri berupa revolusi yang belum selesai karena Irian Barat
masih dijajah oleh kekuasaan kolonial. Di dalam negeri pun revolusi juga belum
selesai karena tatanan kelembagaan rezim kolonial masih berlaku. Akibatnya
revolusi yang semestinya harus dimulai kembali. Kebijakan pemerintah dinilai
tidak mengubah semangat revolusioner menjadi program aksi konkret. Proses
pengambilalihan dimulai pada bulan Desember 1957 dengan didudukinya
beberapa perusahaan Belanda oleh buruhnya, tetapi gerakan ini dengan cepat
diambil alih oleh militer. Pengambilalihan ini pada dasarnya dimaksudkan untuk
mengubah struktur perekonomian.79
Keberangkatan beribu manajer, teknisi, dan tenaga ahli Belanda sangat
menggangu kelancaran operasi ekonomi modern. Pengambilalihan perusahaan
pelayaran KPM beberapa bulan sesudah kampanye Irian Barat mulai membawa

77 Ibid., h 18
78 Nasution, Op. cit. h 264
79 Ibid., hh. 265-266

Sejarah Nasional Indonesia VI 153


akibat yang amat penting. Seperti mengakibatkan terhentinya transportasi
antarpulau. Disamping itu produksi perkebunan dan pertambangan mengalami
kemerosotan yang cepat. Produk-produk ekspor di beberapa daerah mulai
tertumpuk karena kurangnya pengangkutan lokal. Antara tahun 1957 dan
1958, volume ekspor mengalami penurunan sampai 50%. Total volume ekspor,
termasuk perdagangan barter, pada tahun 1957 merupakan yang paling rendah
sejak tahun 1950. Misalnya, produksi karet yang sebelumnya menghasilkan
hampir 20% devisa asing turun menjadi ± 13% pada tahun 1957.80
Selain itu, pemberontakan daerah di Sumatera dan Sulawesi serta operasi
militer untuk menumpasnya menjadi beban ekonomi tambahan. Selama
ini, daerah luar Jawa merupakan penghasil pendapatan ekspor terbesar.
Penumpasan pemberontakan tersebut sangat meningkatkan pengeluaran
militer, dari kurang lebih 18 miliar rupiah pada tahun 1956 menjadi ± 30 miliar
rupiah pada tahun 1958. Defisit yang semakin besar dalam anggaran belanja
pemerintah ini menyebabkan meningkatnya persediaan uang sebagai akibat
pemerintah mencetak uang dalam jumlah yang lebih besar yang kemudian
mengakibatkan meningkatnya tingkat inflasi.81
Sementara itu pemulihan ekspor Indonesia berlangsung lambat. Minyak
adalah penghasill devisa terbesar kedua setelah karet. Memang ada peningkatan
dari produksi minyak, tetapi sebagian dari peningkatan ini hanya mampu
memenuhi konsumsi di dalam negeri. Lambanya pemulihan ekonomi dan
perluasan lapangan kerja, telah membawa ke arah penurunan sektor ekonomi
di segala bidang. Maka tidak mengherankan bahwa inflasi dari masa perang
dan revolusi terus berlanjut. Biaya hidup meningkat sekitar 100% selama tahun
1950-1957.82
Ketidakstabilan politik dalam negeri menyebabkan kabinet terlalu sering
berganti. Hal ini pula menyebabkan program-program kabinet yang telah
direncanakan tidak dapat dilaksanakan, sedangan program baru mulai dirancang
yang berimbas pula pada permasalahan dan ketidakstabilan ekonomi.83

80 Ibid., hh. 265-266


81 Ibid., hh. 265-266
82 Alian Sair. Op. cit. h. 19
83 Sudirman. Op.cit. h. 377

Sejarah Nasional Indonesia VI 154


5 Keadaan militer indonesia

a. Konflik Dalam Tubuh Angkatan Perang


1) Peristiwa 17 Oktober 1952
Setelah pengakuan kedaulatan, pimpinan Angkatan Perang khususnya
kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)
berusaha mengkonsolidasi dan memajukan TNI. Angkatan Perang akan menjadi
suatu kekuatan sosial-politik yang kompak yang dapat mengimbangi kekuasaan
partai-partai politik dan golongan politik pada umumnya. Partai-partai
menganggap usaha ini sebagai ancaman terhadap mereka.84
Sebagai KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat),
Nasution menyadari munculnya rasa ketidakpuasan
terhadap kepemimpinannya dari kalangan perwira
reminder tertentu di tubuh AD. Bahkan para perwira tersebut
Setelah pengakuan menempuh cara-cara yang dinilai melanggar
kedaulatan, pimpinan
disiplin militer dan hirarki komando yang berlaku
Angkatan Perang
khususnya kepala di tubuh AD. Salah seorang perwira itu adalah
Staf Angkatan Perang Bambang Supeno. Ia sering mengadakan audiensi
(KSAP) dan Kepala
atau pertemuan dengan Presiden Soekarno untuk
Staf Angkatan Darat
(KSAD) berusaha membicarakan berbagai ketidaksetujuannya
mengonosolidasi dan terhadap kebijakan KSAD. Pada tanggal 14 Juli 1952,
memajukan TNI. terjadi pertemuan antara Presiden Soekarno dengan
Menteri pertahanan (Menhan) Hamengkubuwono IX
dan para pejabat militer. Dalam pertemuan tersebut
Presiden mempertanyakan berbagai persoalan yang diajukan Bambang Supeno
kepada Menhan Hamengkubuwono IX, KSAP Simatupang, dan segenap kepala
staf, termasuk KASD Nasution.85
Bambang Supeno rupanya bicara soal rasionalisasi. Dia menyebut bahwa
dia mewakili banyak kalangan prajurit, perwira rendah maupun menengah,
juga mantan laskar-laskar rakyat yang terancam akan diberhentikan karena

84 Poesponegoro dan Notosusanto, Op.Cit, hh. 338-339


85 Adnan Buyung Nasution, Jendral Tanpa Pasukan Politisi Tanpa Partai, (Jakarta:PDAT dan ESAI. 1998) hh.
84-85

Sejarah Nasional Indonesia VI 155


rencana rasionalisasi dan profeional dari KSAD Nasution. sebelumnya, beberapa
tuntutan telah dikirimkan Bambang Supeno dalam surat tertanggal 13 Juli 1952
kepada pemerintah, presiden, parlemen, dan semua pejabat teras AD. Isinya
antara lain menyatakan bahwa jiwa patriotisme revolusioner meluntur akibat
rencana “perampingan” itu dimana para pejabat AD lebih mengutamakan
profesionalisme teknik kemiliteran dan menempatkan patriotisme sebagai hal
yang sekunder. Pimpinan pusat AD juga tercemar, dengan adanya pemimpinan
AD yang bermoral rendah. Juga kurangnya tunjangan ekonomi terhadap prajurit
dan perwira, dan masih adanya program Nederlandsche Militaire Missie (NMM).
Pendidikan model Belanda itu diragukan keberhasilannya untuk membentuk
karakter perwira yang nasionalistik-revolusioner.2
Pada tanggal 18 Juli 1952 KSAP mengirim surat kepada pemerintahan,
mendesak agar peristiwa tersebut diselesaikan sesuai dengan prosuder militer.
Karena tindakan Kolonel Bambang Superno dianggap melanggar disiplin.
Sementara itu, seksi-seksi pertahanan dari parlemen memberikan perhatian
yang serius terhadap masalah ini. Pembebasan tugas Kolonel Bambang
Supeno yang kemudian diajukan kepada Presiden ternyata ditolak.Selanjutnya
atas inisiatif Kolonel Djatikusumo dengan seizin KSAP diselenggarakan rapat
kolegial kepada tanggal 10 Oktober yang dihadari oleh para panglima serta
para perwira menengah yang berada di Jakarta. Pada tanggal 15 Oktober para
panglima diundang rapat lagi ke Staf Umum Angkatan Darat kerena DPR(S) akan
menyatakan keputusannya pada tanggal 16 Oktober. Dalam DPR(S) sendiri ada
tiga mosi yang mempermasalahkan Angkatan Perang, yaitu:
1. Mosi Burhanuddin sebagai mosi tidak percaya, mosi tidak percaya
ketua seksi pertahanan parlemen Zainul Baharuddin atas kebijakan
Menhan Hamengkubuwono IX untuk menyelesaikan pertikaian
ditubuh AD. Mosi “Zainul Baharuddin” itu menurut agar segera dibuat
UU pertahanan Negara.
2. Mosi Kasimo/Natsir yang menuntut peninjauan kembali susunan
Kementerian Pertahanan dan APRI. Mosi menuntut peninjauan
kembali pimpinan Angkatan Perang, yang berisi tiga Angkata perang,
serta melegalitaskan kedudukan hukumnya untuk meletakkan dasar-
dasar yang kokoh bagi Kementerian pertahanan dan Angkatan perang.

Sejarah Nasional Indonesia VI 156


Kedua, segera menghentikan program MMB (Misi Militer Belanda).
Dan tiga, untuk tugas-tugas tersebut pemerintah membentuk suatu
panitia Negara yang berasal dari anggota DPR, baik yang diangkat
presiden atas usul mengikat dari DPR, maupun anggota yang diangkat
presiden atas penunjukan pemerintah. Mosi itu diterima DPR dengan
91 suara dan 54 suara tidak setuju.
Kalangan militer menganggap sikap DPR(S) itu tidak wajar dan dirasakan
sebagai intervensi langsung dalam soal intern TNI AD. Hal tersebut telah
membangkitkan rasa tidak puas di kalangan tentara dan di kalangan masyarakat
terhadap DPRS yang sebagai kelanjutan DPR RIS banyak di antara anggotanya
adalah orang-orang Federal yang mewakili daerah/Negara bagian dalam RIS,
dan dipandang tidak mempunyai andil dalam perang kemerdekaan.86
Pada tanggal 17 Oktober 1952 terjadi demonstrasi menuntut
dibubarkannya Parlemen. Para demonstran memasuki gedung DPR(S), merusak
beberapa peralatan, dan kemudian bergerak ke Istana. Mereka mendesak
Presiden Soekarno agar membubarkan DPR(S) dan menggantinya dengan DPR
baru. 3
Di hadapan pada demonstran Presiden Soekarno menolak membubarkan
Parlemen dan menyatakan bahwa ia bukan diktator. Masalah ini akan
dibicarakannya dengan pemerintahan dan pemerintahan akan dimintanya
untuk mempercepat pemilihan umum. Di samping itu, Presiden Soekarno
juga menyatakan akan menyelidik dahulu keinginan rakyat luar di luar Jakarta.
Peristiwa ini dikenal sebagai “Peristiwa 17 Oktober”, mempunyai latar belakang
yang luas menyangkut persoalan-persoalan di dalam tubuh Angkatan Perang.87
Peristiwa ini telah mempertajam pertengan-pertengan yang ada di dalam
TNI Angkatan Darat. Di beberapa daerah terjadi pengambilalihan pimpinan
Teritorium dari Panglima yang mendukung pernyataan pimpinan Angkatan Darat
pada tanggal 17 Oktober 1952. Kolonel A.H. Nasution sebagai KSAD menyatakan
bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa tersebut, dan mengajukan
permohan berhenti kepada pemerintah.88

86 Poesponegoro dan Notosusanto, Op.Cit. hh. 338-339


87 Sudharmono, Op.Cit. h. 69
88 Ibid., h.69

Sejarah Nasional Indonesia VI 157


Pada hakikatnya peristiwa 17 Oktober 1952 mempunyai faktor-fakor
penyebab pada masa-masa sebelumnya. Setelah perang kemerdekaan berakhir,
Indonesia menghadapi banyak persoalan, antara lain:
1. Keadaan politik yang labil dengan sistem demokrasi liberal model
Eropa Barat (khususnya Belanda);
2. Keadaan sosial-ekonomi yang semakin memburuk dan korupsi yang
semakin meluas;
3. Persoalan pembebasan Irian Barat yang tidak cepat selesai;
4. Kemerosotan intergritas dan kemampuan aparatur pemerintahan
akibat pertentangan antar dan intern partai-partai serta pergolakan
intern Angkatan perang.
Akibat peristiwa 17 Oktober ini Angkatan Darat mengalami perpecahan
yang memerlukan waktu beberap tahun untuk mengatasinya.89

b. Masalah Intern Angkatan Udara


Peristiwa yang hampir serupa dengan di Angkatan Darat pada tanggal
27 Juni 1955 terjadi di Angkatan Udara. Di pangkalan Udara Cililitan (Halim
Perdanakusuma) pada tanggal 14 Desember 1955 terjadi keributan menjelang
dilantiknya Wakil Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Muda Udara Hubertus
Suyono. Akibat peristiwa tersebut, dilakukan tindakan-tindakan penangkapan
terhadap para pelaku huru-hara. Latar belakang peristiwa Halim ini sebenernya
merupakan masalah intern Angkatan Udara yang timbul sejak tahun 1950. Pada
tanggal 28-29 Januari 1950 atas inisiatif Komodor dr. Hardjolukito diadakan
rapat guna membahas masalah-masalah yang dihadapi oleh Angkatan Udara.
Sementara itu, pada tanggal 2 Juli dan 12 Juli 1952 di Pangkalan Cililitan (Halim)
diselenggarakan rapat yang membahas masalah pendidikan dan penerbangan
yang dipimpin oleh Komodor Muda Suryono. Terjadinya rentetan rapat-rapat itu
menunjukkan bahwa di kalangan perwira AURI terdapat dua kelompok, sebagai
mendukung KSAU dan sebagian lagi menentang kebijakan KSAU.
Dalam menanggapi peristiwa intern AURI ini, pada bulan Januari 1956
Kabinet Ali Sastroamidjojo menyatakan mempertahankan Surjadarma sebagai
KSAU. Kepada Suyono dan rekan-rekannya yang tidak menyetujui kebijakan

89 Marwati Djoened, Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, 2008, h. 338

Sejarah Nasional Indonesia VI 158


tersebut. Menteri pertahanan Burhanuddin mengeluarkan pengumuman bahwa
penyelesaian itu dibagi dua persoalan yang masing-masing terpisah, yaitu:
1. Masalah yang terjadi di Pangkalan Halim diselesaikan oleh Jaksa
Tentara Agung.
2. Penyempurnaan AURI dalam arti yang luas ditugaskan kepada Mayor
Jenderal A.H. Nasution. GKS diberi kebebasan untuk membentuk
panitia khusus untuk keperluan tersebut.90

2) Bentuk Kebijakan Dan Langkah Militer Dalam Mengatasi


Ketidak Stabilan Negara
a. Bangkitnya AD Sebagai Kekuatan Politik Utama Dalam Negara
Setelah peristiwa 17 Oktober 1952 Angkatan Darat mulai mengadakan
intervensi sesudah berlakukanya hukum darurat perang pada tahun 1957, dan
kemudian memainkan peran utama dalm politik nasional yang menghasilkan
dekrit Sukarno untuk kembali ke UUD 1945. Perkembangan penting dalam AD dari
tahun 1957 hingga Juli 1956 yang menjadikan AD sebagai kekuatan pendorong,
sehingga paham tersebut berhasil mengalahkan pemikiran mengenai Negara
Konstitusional yang tengah diusahkan perwujudannya oleh Konstituante.91

b. Gerakan Lubis
Gerakan ini dimulai dengan langkah Kolonel Zulkifi Lubis, Deputi Staf
Angkatan Darat, untuk melancarkan operasi pembersihan untuk memberantas
korupsi dalam pemerintahan. Dalam gerakannya Lubis menangkap beberapa
pejabat tinggi. Tetapi ketika Roeslan Abdulgani, menteri luar negeri, akan
ditangkap terjadi perpecahan di dalam AD karena Nasution turun tangan
mencegah penangkapan karena atas permohonan Menteri Ali Sastroamidjojo.
Kemudian dari kegagalan ini Lubis menuduh mereka melindungi Korupsi.
Kemudian setelah itu dalam waktu dua bulan Lubis melancarkan usaha kudeta
militer 11 Oktober 1956. Sembilan batalion AD bergerak dari markasnya di Cirebon
dan Tasikmalaya menuju Jakarta namun gagal karena dicegat oleh pasukan AD
Mayor Wiranatakusumah di Bogor. Kemudian pada tanggal 16 November 1956
melakukan percobaan kudeta dengan mengirim satuan Siliwangi dan RPKAD
90 Poesponegoro dan Notosusanto. Op.Cit. h.343
91 Nasution. Op.Cit. hh. 287-288

Sejarah Nasional Indonesia VI 159


dari komando Mayor Djuhro untuk menangkap para menteri dan tokoh-tokoh
partai di Jakarta. Namun percobaan ini juga gagal karena Djuhro tidak berhasil
menggerakan satuannya sesuai yang dijanjikan. Pada akhir bulan November,
Kolonel Lubis yang dianggap sebagai dalang di balik semua peristiwa ini, secara
resmi dituduh oleh pemerintah telah melakukan aksi menuju penggulingan
pemerintah dan kerena itu dibebastugaskan.92

c. Mendorong Kemunculan Dekrit Ke Undang-Undang Dasar 1945


Setelah menemukan pembenaran dasar hukum keterlibatan militer di
parlemen, maka yang jadi tujuan Nasution berikutnya adalah menciptakan proses
atau prakondisi bagi diakuinya kembali UUD 45. Ketika itu dewan membentuk
Badan Pekerja Panitia Perumus Demokrasi Terpimpin dimana badan tersebut
diharapkan dapat menemukan landasan hukum bagi keabsahan sistem itu
nantinya. Nasution yang melihat Soekarno masih ambivalen terhadap gagasan
untuk kembali ke UUD 45, segera melakukan pendekatan terhadap Soekarno
melalui dua anggota kabinet yang berasal dari TNI yaitu Kolonel Suprayogi dan
Kolonel Nazir.93
Pendekatan itu bagi Nasution menunjukkan padanya, bahwa Soekarno
tak menyukai cara-cara yang berkesan memojokkan diri Presiden. Langkah
Nasution lainnya adalah merangkul para perwira senior TNI. Caranya, Nasution
menggagas perlunya diselenggarakan Konferensi Panglima perang se-Indonesia
dengan tema pematangan sikap politik Angkatan Darat terhadap Demokrasi
Terpimpin dan UUD 45.94
Kemudian pada tanggal 12 November 1958 dalam kesempatan ulang
tahun pertama Akademi Militer Nasional di Magelang, Jawa Tengah, Nasution
mengusulkan supaya angkatan darat Indonesia mengambil “jalan tengah” di
antara kedua jalan tersebut, dalam pengertian bahwa Angkatan Darat tidak
akan melibatkan diri dalam urusan politik seperti kudeta, tetapi juga tidak
akan setuju kalau hanya dijadikan penonton saja. Nasution mendesak supaya
para perwira diberi kesempatan berpartisipasi dalam pemerintahan sebagai
perorangan dan di izinkan untuk ikut serta dalam menentukan kebijakan,

92 Ibid. h. 289
93 Nasution. Op.Cit. h. 117
94 Ibid. h.117

Sejarah Nasional Indonesia VI 160


ekonomi, keuangan, internasional, dan lain-lain. Dalam pertemuan dari tanggal
21 hingga 23 November, Dewan Nasional setuju untuk mengakui AD sebagai
golongan fungsional. Bagi Angkatan Darat, ini merupakan hasil yang baik. Tetapi,
masih ada lima alasan lain yang menjelaskan mengapa UUD 1945 dipakai untuk
menyelesaikan masalah golongan fungsional dalam Demokrasi Terpimpin;
1. pasal 2 UUD 1945 dapat ditafsirkan sebagai pasal yang menentukan
perwakilan golongan fungsional.
2. pasal 2 juga memberi jaminan perwakilan daerah dan karena itu dapat
memuaskan keinginan daerah.
3. Undang-undang dasar tersebut akan menjamin Negara kesatuan
untuk melawan perasaan yang semakin condong pada bentuk federasi
dalam Konstituante.
4. Nasution dan para perwira yang lain mungkin juga mendesak bahwa
dengan diterimanya UUD 1945, karena dianggap mengembalikan
semangat 1945, memberikan kesempatan bagi pemberontakan untuk
kembali ke pangkuan Negara Republik Indonesia.
5. Diterimanya UUD 1945 akan mengakhiri siding-sidang Konstituante
dan menyelesaikan pertentangan Islam-Pancasila dengan keuntungan
bagi fraksi Pancasila.95
Setelah serangkaian “gebrakan” itu. Maka Nasution bersama WKSAD
Gatot Subroto mengadakan pertemuan secara khusus dengan empat partai
besar, yaitu PNI, NU, Masyumi dan PKI. Mereka berupaya meyakinkan empat
partai tersebut agar menerima usulan kembali ke UUD 1945. Tiga partai yaitu
PNI, PKI, NU menerima baik, dan memang kecuali Masyumi yang semula ragu-
ragu dari mulai memberikan pidato pemandangan umum hingga pemungutan
suara, baik PNI mau pun PKI sudah secara tegas menyatakan persetujuannya
untuk menerima kembali UUD 1945. Syaratnya, asalkan proses itu setelah
melalui tahapan yang legal konstitusional. Masyumi akhirnya juga menerima
dengan prasyarat serupa yaitu melalui proses yang konstitusional.96

95 Nasution,. Op.Cit. hh. 298-299


96 Nasution, Op.Cit. h. 119

Sejarah Nasional Indonesia VI 161


d. Dekrit Presiden Kembali Ke Undang-Undang Dasar 1945
Dalam suasana demikian Presiden Soekarno pada tanggal 25 April 1959
menyampaikan amanat kepada Konstituante yang memuat anjuran Kepala
Negara dan Pemerintahan untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945.
Amanat Presiden tersebut diperdebatkan dalam Konstituante dan akhirnya
diputuskan untuk melakukan pemungutan suara.97
Tidak diketahui dengan jelas kapan tepatnya Presiden Sukarno menerima
usul AD untuk kembali ke UUD 1945. Seperti yang sudah diketahui bahwa ketika
usulan itu diajukan Nasution untuk pertama kalinya di depan Dewan Nasional
pada bulan Agustus 1958, Sukarno tidak memberi jawaban positif. Kemungkinan
besar ia tidak merasa sanggup menanggung beban tanggung jawab Presiden
menurut UUD 1945 atau takut kalau ia tidak sanggup menjamin stabilitas dan
mengendalikan peran Angkatan Darat.98
Pada tanggal 4 Juli 1959. Soekarno memanggil ketiga kepala Staf
Angkatan Perang, termasuk Nasution sebagai KSAD. Kemudian pada siangnya
Soekarno memanggil PM Juanda, Nasution, serta Roestan Abdulgani. Soekarno
menganggap kehadiran mereka penting bagi ide untuk kembali ke UUD 1945.
Dalam pertemuan itu. Soekarno menyatakan akan “mengumumkan dan
membuat keputusan yang maha penting esok hari”.99
Pada tanggal 5 Juli 1959 pagi Soekarno bertemu dengan kabinet inti. Dan
sorenya di hadapan ribuan massa, yang sekali lagi dikumpulkan atas “inisiatif”
Nasution. presiden Soekarno menyampaikan sebuah pidato, dimana pidatonya
ternyata adalah Dekrit Presiden untuk kembali ke UUD 1945.

97 Sudharmono. Op.Cit. h. 69
98 Nasution,. Op.Cit. h. 300
99 Ibid, hh. 123-124

Sejarah Nasional Indonesia VI 162


Gambar 4.3 Isi Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dekrit Presiden tersebut mendapat dukungan dari masyarakat KSAD


mengeluarkan perintah harian yang ditujukan kepada seluruh anggota TNI untuk
melaksanakan dan mengamankan dekrit tersebut. Mahkamah Agung kemudian
juga membenarkan Dekrit Presiden tersebut. DPR hasil pemilihan Umum dalam
sidangnya pada tanggal 22 Juli 1959 secara aklamasi menyatakan kesediaannya
untuk bekerja terus berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945.

Sejarah Nasional Indonesia VI 163


studi kasus

Uji Analisa 2 BAB 4


Analisalah setelah terjadi perubahan sistem pemerintah Republik Indonesia Serikat (K-RIS)
menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengapa pemerintah Indonesia memilih
sistem parlementer dan liberal dalam menjalankan sistem pemerintahan!
___________________________________________________________
Jawab :

Sejarah Nasional Indonesia VI 164


RANGKUMAN

Pada periode 1950-1959, penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran


menggunakan Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran Nomor 4
Tahun 1950 Republik Indonesia. Susunan sekolah tersebut adalah sekolah rakyat
6 tahun, sekolah lanjutan tingkat pertama 3 tahun, dan sekolah lanjutan tingkat
atas 3 tahun. Pada tahun 1954, didirikan lembaga pendidikan guru bertingkat
universitas yang pertama yaitu Pendidikan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di
Bandung. Selain itu pemerintah memberikan kesempatan bagi setiap golongan
masyarakat, seperti anak petani, pedagang, pegawai negeri, pengusaha dan
anggota ABRI. Mereka mendapatkan pendidikan mulai dari TK sampai Perguruan
Tinggi.
Tahun 1950-1959 merupakan periode dilaksanakannya sistem demokrasi
liberal di Indonesia dengan Undang-undang Dasar Sementara 1950 sebagai
landasan konstitusi. Periode ini dapat dikatakan keadaan yang tidak menentu baik
dari segi politik maupun ekonomi. Setelah Indonesia mendapatkan pengakuan
kedaulatan dari Belanda, Indonesia telah merdeka setidaknya dalam pengertian
hukum internasional, dan sudah saatnya menghadapi prospek guna masa depan
bangsa sendiri. Pada periode ini situasi politik, ekonomi, sosial budaya benar-
benar tidak menentu. Korupsi merajalela, kesatuan wilayah terancam bubar,
keadilan sosial belum tercapai.
Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam memperbaiki masalah ekonomi
Indonesia dalam masa Demokrasi Liberal, seperti pada masa pemerintahan
Kabinet Natsir adanya Program Benteng yang bertujuan untuk mengembangkan
usaha pribumi untuk mengambil alih peran ekonomi yang dipegang orang
Belanda dan Cina. Pengusaha-pengusaha Indonesia ternyata lamban, bahkan
ada yang menyalahgunakan maksud pemerintah. Bantuan kredit ini ternyata
tidak efektif sehingga program pemerintah tidak berhasil. Padahal pemerintah
menambah beban keuangannya sehingga menjadi salah satu sumber defisit.
Disamping itu dalam bidang militer, kondisi yang tidak baik juga terjadi
antar hubungan intern TNI dan juga TNI dengan Parlemen. Salah satu peristiwa
yang terkenal terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952 dimana ada demonstrasi

Sejarah Nasional Indonesia VI 165


menuntut dibubarkannya Parlemen. Para demonstran memasuki gedung
DPR(S), merusak beberapa peralatan, dan kemudian bergerak ke Istina. Mereka
mendesak Presiden Soekarno agar membubarkan DPR(S) dan menggantinya
dengan DPR baru.
Selama masa demokrasi liberal (sampai tahun 1959) Indonesia mengalami
berbagai hambatan baik politik, ekonomi, dan militer. Selain itu ketidakcocokan
UUDS 1950 sebagai dasar Negara mendorong Soekarno melakukan perbaikan
prinsip Negara. Dikeluarkannya dekrit presiden 5 Juli 1959 sebagai reaksi atas
berbagai permasalahan yang muncul menandakan berakhirnya masa demokrasi
liberal, dan kemudian Indonesia masuk ke era demokrasi terpimpin.

GLOSARIUM

Dekrit Perintah yang dikeluarkan oleh kepala negara maupun


pemerintahan dan memiliki kekuatan hukum.
DPRS Dewan Perwakilan Rakyat Sementara
Instabilitas Keadaan tidak stabil; ketidakstabilan; ke-tidakmantapan;
keadaan goyah; keadaan labil; keadaan rawan
(tt keamanan, politik, ekonomi, keadaan mental,
dsb): adanya keresahan di kalangan rakyat dapat
menimbulkan -- politik
Kabinet Suatu badan yang terdiri dari pejabat pemerintah
senior/level tinggi, biasanya mewakili cabang eksekutif.
Kabinet dapat pula disebut sebagai Dewan Menteri,
Dewan Eksekutif, atau Komite Eksekutif, penyebutan ini
tergantung pada sistem pemerintahannya dan diketuai
oleh presiden atau perdana menteri sebagai pimpinan
kabinet
Konstituante Lembaga negara Indonesia yang ditugaskan untuk
membentuk Undang-Undang Dasar atau konstitusi baru
untuk menggantikan UUDS 1950
KSAP Kepala Staf Angkatan Perang

Sejarah Nasional Indonesia VI 166


Maklumat Pengumuman yang dikeluarkan oleh pemerintah,
misalnya maklumat tanggal 14 November 1945 tentang
perubahan pertanggungjawaban menteri, yakni tidak
lagi kepada presiden, tetapi kepada Badan Pekerja
Komite Nasional Indonesia Pusat
UUDS Undang-undang Dasar Sementara
Mosi Tidak Sebuah prosedur parlemen yang digunakan kepada
Percaya parlemen oleh parlemen oposisi dengan harapan
mengalahkan atau mempermalukan sebuah
pemerintahan. Pemerintah seringkali menanggapi mosi
tidak percaya dengan mengusulkan mosi kepercayaan

Sejarah Nasional Indonesia VI 167


latihan

Berikut ini terdapat beberapa butir soal latihan yang perlu mahasiswa
kerjakan, dengan tujuan agar mahasiswa dapat lebih memahami dan menguasai
materi mengenai sejarah nasional Indonesia sesuai dengan materi yang telah
diberikan dan diuraikan secara ringkas dalam Bab ini. Adapun soal essay dikerjakan
pada kertas double folio dengan maksimal jawaban per soal sebanyak 500 kata,
sedangkan soal multiple choice/ pilihan ganda dapat anda jawab dengan hanya
menuliskan salah satu jawaban yang benar pada lembar kertas double folio.
Selamat mengerjakan.

ESSAY
1. Bagaimana keadaan sosial masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi
Liberal ?
2. Analisalah dan jelaskan penyebab terjadinya ketidakstabilan politik dalam
negeri Indonesia pada masa Demokrasi Liberal ?
3. Jelaskan bentuk keberhasilan bidang ekonomi pada masa demokrasi liberal ?
4. Jelaskan faktor penyebab terjadinya konflik militer dalam tubuh angkatan
darat Republik Indonesia ?
5. Jelaskan latar belakang dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 ?

PILIHAN GANDA
1. Upaya meningkatkan mutu pendidikan Indonesia melalui program mendirikan
uiversitas-universitas di tiap daerah di Indonesia salah satunya dengan
mendirikan universitas di Surabaya pada tahun 1954 yaitu universitas…
a. Airlangga c. Padjajaran
b. Brawijaya d. Pendidikan Indonesia

2. Kabinet kedua pada masa Demokrasi Liberal adalah…


a. Kabinet Natsir c. Kabinet Burhanudin Harahap
b. Kabinet Sukiman d. Kabinet WIlopo

Sejarah Nasional Indonesia VI 168


3. Tindakan memotong uang dengan memberlakukan setengahnya untuk
mata uang yang bernilai Rp2.50,00 ke atas, merupakan salah satu kebijakan
ekonomi pada masa Demokrasi Liberal yang dinamakan…
a. Devaluasi c. Ekonomi Benteng
b. Gunting Syafruddin d. Ekonomi Rasional

4. Gerakan operasi pembersihan untuk memberantas korupsi dalam


pemerintahan dengan menangkap beberapa pejabat tinggi pernah dilakukan
pada masa Demokrasi Liberal. Gerakan ini disebut…
a. Gerakan Anti Koruptor c. Gerakan Lubis
b. Gerakan Sumitro d. Gerakan Pembersihan Bersenjata

5. Salah satu penyebab dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah..


a. Mosi tidak percaya terhadap anggota dewan
b. Keadaan ekonomi Indonesia yang tak kunjung membaik
c. Kemerosotan intergritas dan kemampuan aparatur pemerintahan akibat
pertentanga antar dan intern partai-partai serta pergolakan intern
Angkatan perang.
d. menyampaikan amanat kepada Konstituante yang memuat anjuran
Kepala Negara dan Pemerintahan untuk kembali ke Undang-Undang
Dasar 1945 karena sesuai dengan jiwa bangsa dan Pancasila.

6. Perhatikan daftar berikut.


1) Meningkatkan keamanan dan kemakmuran dan pemilu segera
2) Pembebasan Irian Barat
3) Menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika
4) Politik bebas aktif dan peninjauan kembali persetujuan KMB
5) Penyelesaian pertikaian politik
Daftar di atas merupkan program kerja pada masa kabinet...
a. Kabinet Wilopo
b. Kabinet Burhanuddin Harahap
c. Kabinet Ali Sastroamijoyo I
d. Kabinet Sukiman

Sejarah Nasional Indonesia VI 169


7. Rancangan UUDS 1950 ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada
tanggal...
a. 20 Juli 1950
b. 15 Agustus 1950
c. 17 Agustus 1950
d. 19 Mei 1950
8. Pada periode 1950-1959, dasar penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran
menggunakan Undang-Undang nomor...
a. 4 Tahun 1950
b. 5 Tahun 1950
c. 6 Tahun 1950
d. 7 Tahun 1950

9. Pada tahun 1954, didirikan lembaga pendidikan guru bertingkat universitas


yang pertama yaitu...
a. Universitas Airlangga
b. PGRI
c. PTPG Bandung
d. Universita Pendidikan Indonesia
e. Universitas Indonesia

10. Kebijakan “Indonesianisasi” sistem ekonomi dalam mengembangkan usaha


pribumi untuk mengambil alih peran ekonomi yang dipegang orang Belanda
dan orang Cina dinamakan...
a. Gunting Syafruddin c. Nasionalisasi
b. Ekonomi Benteng d. Senering

Sejarah Nasional Indonesia VI 170


DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU
Bandoro, Bantarto, et.al. Refleksi Setengah Abad Kemerdekaan Indonesia.
(Jakarta: CSIS, 1995).
Basyaib, Hamid. Kemelut Demokrasi Liberal. (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia,
1992).
Moedjanto, G. Indonesia Abad ke-20 2. (Jakarta: Kanisius, 1991).
Nasution. Jenderal Tanpa Pasukan Politisi Tanpa Partai. (Jakarta: PDAT dan
ISAI, 1998).
Nasution, Adnan Buyung. Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di
Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959. (Jakarta:
Intermasa, 1995).
Noer, Deliar. Mohammad Hatta: Biografi Politik. (Jakarta: Pustaka LP3ES
Indonesia. 1991).
Oktorino, Nino, et.al. Muatan Lokal: Ensiklopedia Sejarah dan Dunia jilid 8.
(Jakarta: PT Lentera Abadi,2009).
Poesponegoro, Marwati Djoened., et.al. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI.
(Jakarta: Balai Pustaka, 2008).
Roziq Hasan., et.al. Sejarah Nasional Indonesia dan Dunia. (Surabaya: Edumedia,
1991).
Rudini. Profil Propinsi Republik Indonesia. (Jakarta: Intermasa, 1992).
Sair, Alian. Sejarah Nasional Indonesia IV. (Palembang: FKIP Universeitas
Sriwijaya, 2005).
Sudharmono. 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950-1964. (Jakarta : Persero
Gita Karya, 1985).
Sudirman, Adi. Sejarah Lengkap Indonesia. (Yogyakarta: Diva Press, 1985).
Waluyo. Dari “Pemberontak” Menjadi Pahlawan Nasional: Muhammad Natsir
dan Perjuangan Politik di Indonesia. (Yogyakarta: Ombak, 2009).

Sejarah Nasional Indonesia VI 171


Ahmad Suhelmi. Pemikiran Politik Barat : Kajian Sejarah Perkembangan
Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan. (Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama, 2007)
Magenda, Burhan. Makalah hubungan eksekutif dan legislatif yang kondusif
untuk stabilitas politik dan pembangunan nasional (kuliah dan ceramah
umum pada kursus singkat angkatan XIII LEMHANAS di Jakarta, 2005).
Syamsudin, Nazarudin Editor. Soekarno pemikiran politik kenyataan dan praktek.
(Jakarta: CV. Rajawali, 1988).

SUMBER JURNAL
Hutagaol, Novita Mandasari. 2011. Analisis dan Perbandingan Antara UUD 1945,
Konstitusi RIS, UUDS 1950 dan UUD 1945 Amandemen: Substansi,
Komparasi Dan Perubahan yang Penting (online),
(journal.unrika.ac.id/index.php/jurnaldms/article/viewFile/16/14, diakses 20
Oktober 2016)
Tanpa nama, Pengertian Demokrasi Liberal, diakses dari http://www.
pengertianpakar.com/2016/06/pengertian-demorkasi-liberal-sistem-
dan-prinsipnya.html diakses pada tanggal 2 Mei 2017

Sejarah Nasional Indonesia VI 172


5
SISTEM EKONOMI INDONESIA
1950-1965

Sejarah Nasional Indonesia VI 173


Keterangan:
11. Menjelaskan Sistem Negara
1. Memahami Materi Sejarah Nasional Kesatuan Republik Indonesia
Indonesia I 12. Kehidupan Berbangsa dan
2. Memahami Materi Sejarah Nasional Bernegara Masa RIS
Indonesia II 13. Menjelaskan Sistem Negara
3. Memahami Materi Sejarah Nasional Indonesia Berdasarkan UUDS 1950
Indonesia III 14. Menjelaskan Keadaan Sosial
4. Memahami Materi Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia Pada Masa
Indonesia IV Demokrasi Liberal
5. Memahami Materi Sejarah Nasional 15. Menjelaskan Sistem Ekonomi
Indonesia V Indonesia Masa Demokrasi Liberal
6. Menjelaskan Hasil Konferensi Meja 16. Menjelaskan Usaha Pemerintah
Bundar dan Pembentukan Republik Indonesia dalam Memperbaiki
Indonesia Serikat (RIS) Ekonomi Nasional
7. Menjelaskan Keadaan Sosial, 17. Menjelaskan Berbagai
Politik, Ekonomi, dan Hankam Masa pemberontakan di Indonesia Masa
Republik Indonesia Serikat Demokrasi Liberal dan Terpimpin
8. Menjelaskan Konsep dan Sistem 18. Menjelaskan Keadaan Militer
Pemerintahan RIS Indonesia Masa Demokrasi Liberal
9. Membandingkan Konstitusi RIS dan 19. Menjelaskan Ketidakstabilan Politik
UUD 1945 Dalam Negeri Indonesia
10. Menjelaskan Faktor Penyebab 20. Menjelaskan Pelaksanaan Pemilu I
Kembalinya RIS Menjadi NKRI Tahun 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 174


21. Menjelaskan Politik Luar Negeri 31. Menjelaskan Kebijakan Politik
Indonesia Pemerintah Indonesia Masa
22. Menjelaskan Keadaan Sosial Demokrasi Terpimpin
Ekonomi Indonesia Masa Demokrasi 32. Menjelaskan Perpolitikan PKI di
Liberal Indonesia (1960-1965)
23. Menjelaskan Kehidupan Sosial 33. Menjelaskan Politik Konfrontasi
Budaya Pada Masa Demokrasi Indonesia dengan Malaysia
Liberal 34. Menjelaskan Penyebab Keluarnya
24. Menjelaskan Keadaan Hankam Indonesia dari PBB dan Konferensi
Indonesia Masa Demokrasi Liberal Asia Afrika
25. Menjelaskan Perpolitikan Indonesia 35. Menjelaskan Upaya Pembebasan
Masa Demokrasi Liberal Irian Barat
26. Menjelaskan Keadaan Indonesia 36. Menjelaskan Peristiwa Gerakan 30
Masa Demokrasi Liberal September
27. Menjelaskan Konsepsi Soekarno 37. Menjelaskan Keadaan Indonesia
28. Menjelaskan penyebab Masa Demokrasi Terpimpin
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 38. Menjelaskan Politik Indonesia
Juli 1959 Masa Demokrasi Terpimpin
29. Berlakunya Kembali UUD 1945 39. Menjelaskan Kehidupan Berbangsa
30. Menjelaskan Deklarasi Ekonomi dan Bernegara Indonesia Masa
(DEKON) Orde Lama

Sejarah Nasional Indonesia VI 175


Pada Bab sebelumnya kita telah membahas mengenai
keadaan Indonesia pada masa Demokrasi Liberal dalam
aspek sosial budaya, ekonomi, politik, dan militer. Dalam
bab kelima ini akan dibahas mengenai sistem ekonomi
Indonesia antara tahun 1950 – 1965 yang lebih mendetail,
dimana dalam periode tahun tersebut Indonesia berada
dalam masa demokrasi liberal dan masa demokrasi
terpimpin. Pada masa tersebut keadaan ekonomi Indonesia masih belum
stabil, oleh karena itu pemerintah dengan segala upaya mengeluarkan berbagai
kebijakan ekonomi agar dapat menstabilkan ekonomi Indonesia tersebut.
Diharapkan setelah mempelajari dan membahas bab kelima ini, mahasiswa
dapat mengetahui dan memahami sistem ekonomi Indonesia selama periode
1950-1965. Adapun tujuan instruksional khusus pada bab kelima ini, sebagai
berikut:

Tujuan Instruksional Umum (TIU)

1. Menjelaskan kebijakan pemerintah Indonesia dalam mencapai


kestabilan ekonomi dalam negeri tahun 1950-1965.

Setelah mempelajari Bab V, mahasiswa diharapkan dapat:


1. Menjelaskan sistem ekonomi Indonesia pada masa Demokrasi Liberal
dan Terpimpin (1950-1965)
2. Menjelaskan usaha-usaha membentuk sistem ekonomi nasional
3. Menguraikan kebijakan-kebijakan ekonomi Indonesia selama periode
1950-1965

Sejarah Nasional Indonesia VI 176


BAGAN MATERI
PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 1950-1965

Sejarah Nasional Indonesia VI 177


1 Keadaan Ekonomi Indonesia Masa
Demokrasi Liberal (1950-1959)

Kita sudah mempelajari politik demokrasi


parlementer dan demokrasi terpimpin di bab
reminder sebelumnya. Pada bab ini kita akan membahas
Sebelum tahun 1950,
perjalanan sistem ekonomi pada masa demokrasi
pembangunan ekonomi
memfokuskan kepada perlementer dan demokrasi terpimpin. Setelah
kebutuhan pangan, berakhirnya Konferensi Meja Bundar (KMB) maka
sektor pertanian berakhir pula konflik Belanda dengan Indonesia.
mendapatkan perhatian
Selain itu, Indonesia juga mendapatkan pengakuan
lebih
resmi di dunia internasional sebagai negara
kedaulatan. Namun dibalik itu Indonesia memiliki
tantangan baru yang tak kalah rumitnya. Tantangannya yaitu bagaimana cara
mengatur dan menjalankan negara yang baru saja merdeka agar rakyatnya
sejahtera. Selain itu, Indonesia mendapatkan beban hutang luar negeri yang
tinggi sebagai akibat dari ketentuan-ketentuan KMB. Butir-butir penting dari
ketentuan itu adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan Belanda bebas beroperasi dan mentransfer semua laba
yang didapat seperti sebelum terjadinya peperangan.
2. Indonesia menanggung pembayaran utang pemerintah Hindia-Belanda
(dalam negeri dan luar negeri) sebesar USD 1,13 milyar.
3. Indonesia harus berkonsultasi kepada Belanda bahkan Indonesia harus
meminta persetujuan pemerintah Belanda dalam kebijakan tertentu.
4. Indonesia menanggung biaya 17.000 karyawan eks Belanda dan
menampung 26.000 tentara eks KNIL.1

1 Estri A Budihabsari, Ekonomi Dalam Lintasan Sejarah, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2016). h. 87.

Sejarah Nasional Indonesia VI 178


2 sistem Ekonomi Masa
pemerintahan demokrasi
liberal (parlementer)
Pada masa pemerintahan demokrasi liberal atau yang dikenal dengan
demokrasi parlementer sistem politik Indonesia tidak stabil. Pemerintah
Indonesia seringkali tidak menemukan jalan keluar dalam setiap masalah dari
segi politik ataupun ekonomi. Sehingga sering terjadi pergantian kabinet dengan
waktu yang relatif sangat singkat. Kabinet-kabinet yang memimpin Indonesia
hanya bertahan rata-rata 10 bulan 10 hari.2 Pelaksanaan ekonomi yang dirancang
untuk jangka panjang tidak pernah terlaksana dengan baik dan tuntas. Berikut
kita tinjau kembali program kerja dalam bidang ekonomi yang dibuat oleh setiap
kabinet yang memimpin pada masa demokrasi liberal, yaitu:
a. Kabinet Natsir
Kabinet Natsir adalah kabinet koalisi yang dilantik tanggal 7
september 1950 dan berakhir pada tanggal 21 Maret 1951 dengan
Mohammad Natsir yang berasal dari partai Masyumi sebagai perdana
menterinya. Program kerja dalam bidang ekonomi dari kabinet ini
adalah memperkokoh kesatuan ekonomi rakyat sebagai dasar bagi
pelaksanaan ekonomi nasional yang sehat.3

b. Kabinet Soekiman
Kabinet ini adalah kabinet koalisi antara partai Masyumi dan PNI.
Program kerjanya dalam bidang ekonomi adalah membuat dan
melaksanakan rencana kemakmuran nasional dalam jangka pendek
untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonomi rakyat dan mempercepat
usaha penempatan bekas pejuang dalam pembangunan.4

c. Kabinet Wilopo
Wilopo adalah salah satu tokoh PNI, yang kemudian ditunjuk sebagai
2 Ibid, hal 84.
3 Adi Sudirman, Sejarah Lengkap Indonesia, (Yogyakarta: Diva Press, 2014). h. 372
4 Ibid, h. 373

Sejarah Nasional Indonesia VI 179


formatur kabinet. Kabinet ini mulai memimpin dari tanggal 3 April
1952 - 3 Juni 1953. Program kabinet ini dalam bidang ekonomi adalah
meningkatkan kemakmuran rakyat dan menciptakan keamanan dalam
negeri.

d. Kabinet Ali Sastroamijoyo


Kabinet ini dipimpin oleh Mr. Ali Sastroamijoyo (tokoh PNI) dan
merupakan koalisi antara PNI dan NU. Program kerja dalam bidang
ekonomi kabinet ini juga hampir sama dengan kabinet sebelumnya.
Yakni meningkatkan keamanan dan kemakmuran dalam negeri.5

e. Kabinet Burhanuddin Harahap


Kabinet ini mulai memerintah dari tanggal 12 Agustus hingga 3 Maret
1956 dan dipimpin oleh Burhanuddin Harahap. Program kerjanya
dalam bidang ekonomi adalah menghilangkan faktor-faktor yang dapat
menyebabkan inflasi, desentralisasi, dan korupsi.

f. Kabinet Ali Sastroamijoyo II


Ali sastro kembali ditunjuk sebagai formatur kabinet pasca lengsernya
kabinet Burhanuddin. Kabinet ini dilantik oleh presiden sesuai dengan
Kepres RI No. 85 Tahun 1956, kabinet ini mulai bekerja setelah
diadakannya timbang terima antara kabinet lama dengan kabinet yang
baru. Dalam kabinet ini juga terdapat tiga menteri yang berasal dari
kabinet Buhanuddin Harahap. Mereka adalah Mr, Sunarya, K.H. Muh.
Ilya, dan Sudibyo.6

g. Kabinet Djuanda
Kabinet ini lebih dikenal dengan istilah Kabinet karya atau Pancakarya.
Mulai memerintah tanggal 9 April 1957 - 10 Juli 1959 dan dipimpin oleh
Ir. Djuanda. Kabinet ini terbentuk karena konstituante gagal menyusun
Undang-undang Dasar pengganti Undang-undang Dasar Sementara
5 Paizon Hakiki, Sistem Pemerintahan Pada Masa Demokrasi Liberal Tahun 1949-1959, (Jurnal Online
Mahasiswa, Universitas Riau, 2014). h. 8
6 Yuli Ernawati, Kondisi Sosial Politik Indonesia Pada Masa Pemerintahan Kabinet Burhanuddin Harahap
1955-1956, Skripsi tidak terbit pada jurusan sejarah, (Universitas Negeri Yogyakarta. 2014) h. 140

Sejarah Nasional Indonesia VI 180


1950. Pada masa kabinet ini dibentuklah Dewan Nasional yang
bertujuan menyalurkan aspirasi nonpartai dalam masyarakat. Sistem
perekonomian nasional bertambah parah karena terjadinya gangguan
hubungan antara pusat dengan daerah yang terus berlangsung.
Sebelum tahun 1950, pembangunan ekonomi memfokuskan kepada
kebutuhan pangan. Sektor pertanian mendapatkan perhatian lebih. Salah satunya
dengan digalak sebuah kebijakan yang dicetuskan oleh I.J. Kasimo yang bernama
Kasimo Plan (Pembangunan Kasimo). Kebijakan ini adalah sebuah rencana tiga
tahun pembangunan yang dimulai dari tahun 1948 hingga 1950 yang bertujuan
agar swasembada pangan tercapai melalui peningkatan produksi pangan
dengan ekstensifikasi dan intensifikasi pada sub sektor pangan, perkebunan,
dan peternakan. Namun karena konflik politik, masalah keamanan negara,
pergantian kabinet dalam jangka pendek, dan yang paling utama koordinasi
program antara pemerintah pusat ke pemerintah daerah tidak berjalan lancar,
rencana pembangunan ini tidak berajalan dengan baik.7

3 usaha pemerintah membentuk


ekonomi nasional

Selama masa demokrasi liberal, berbagai macam usaha dilakukan oleh


kabinet-kabinet dalam mengatasi berbagai permasalahan ekonomi yang
dihadapi oleh Indonesia, sebagai berikut:
a. Kabinet Sukiman
Kabinet Sukiman yang memiliki program kerja yang hampir sama dengan
kabinet Natsir ini memiliki hubungan militer yang kurang baik sehingga
menggoyahkan kedudukannya di parlementer Republik Indonesia. Selain dari
respon pemerintah tentang pemberontakan yang terjadi di beberapa wilayah
Indonesia yang dinilai kurang tegas, kabinet Sukiman semakin terlihat goyah
ketika kejadian pertukaran nota antara Menteri Luar Negeri Subardjo dengan
Duta Besar Amerika yaitu Merle Cochran yang meliputi bantuan ekonomi dan
militer berdasarkan ikatan Mutual Security Act (MSA) atau Undang-undang Kerja

7 Sumedi, Reformasi Kebijakan Desentralisasi Sektor Pertanian,Jurnal Online Mahasiswa, hh 324-325

Sejarah Nasional Indonesia VI 181


Sama Keamanan. Kerja sama yang dibuat oleh kabinet ini dinilai tidak konsekuen
dalam mendengungkan konsep politik bebas-aktif yang menjadi salah satu
fondasi kebijakannya.8

b. Kabinet Burhanuddin Harahap


Usaha Pemerintah untuk memperbaiki perekonomian berlanjut pada
masa kabinet Burhanuddin Harahap. Kabinet ini membuat kebijakan yang
bertujuan membangun kemajuan masyarakat desa, salah satunya dengan cara
mengganti I.G.O (Inlandsche Gemeente Ordonantie) dan I.G.O.B (Inlandsche
gemeente Ordonantie Buitengewesten) dengan Undang-undang Pokok baru. Hal
ini kemudian dilanjutkan pada masa pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjoyo I,
Kementerian Dalam Negeri merundingkan perubahan I.G.O dan I.G.O.B menjadi
Undang-Undang Pokok baru dalam sebuah konferensi para gubernur pada bulan
Januari 1955.
Masa inflasi merupakan masalah yang menjadi bahasan program kerja
utama dalam kabinet Burhanuddin Harahap. Inflasi menimbulkan tidak adilnya
pembagian pendapatan dalam bisnis dimana hanya orang tertentu saja yang
mendapatkan keuntungan. Pada sektor perdagangan terjadi penimbunan
barang-barang dan naiknya biaya-biaya kehidupan dan biaya produksi, turunnya
pendapatan dibidang ekspor yang sangat diperlukan mengingat kebutuhan
impor barang-barang konsumsi dan barang-barang modal untuk pembangunan
karena perusahaan-perusahaan ekspor tidak dapat bersaing lagi dengan dengan
luar negeri.
Perdana Menteri Burhanuddin Harahap pemimpin kabinet Burhanuddin
Harahap mengambil beberapa langkah untuk menyelesaikan dua aspek yang
diduga menyebabkan inflasi yaitu aspek kebijaksanaan keuangan negara dan
aspek ekonomi moneter. Langkah awal yang dilakukannya adalah mengadakan
penyelidikan tentang keadaan anggaran belanja tahun 1955. Kabinet Ali
Sastroamidjoyo menyatakan bahwa anggaran belanja sebesar Rp. 2,5 Milyar,
akan tetapi pada kenyataan sebenarnya anggaran mencapai Rp.3,5 Milyar.
Pemerintah dapat menekan defisit tahun 1955 menjadi Rp.3 Milyar karena
adanya tambahan dari penerimaan T.P.I berdasarkan peraturan-peraturan baru

8 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: UGM Press, 2005). hh. 366-367

Sejarah Nasional Indonesia VI 182


mengenai impor. Penerimaan T.P.I sendiri cukup besar yaitu berjumlah Rp.1,6
Milyar. Pemerintah menekan defisit tersebut menjadi Rp.2 Milyar dengan cara,
yaitu:
1. Mengadakan Penghematan keras dalam banyak pengeluaran terutama
pengeluaran rutin yang berlebihan.
2. Menyempurnakan penerimaan pajak dan memperbaiki cara-cara dan dasar
pemungutan.
3. Terus berlangsungnya serta dipegang teguhnya peraturan yang telah berjalan
mengenai pengawasan preventif oleh pihak Kementerian Keuangan.
Langkah kedua adalah rancangan anggaran belanja untuk Tahun 1956
telah dipersiapkan pemerintah. Untuk tahun 1956 defisit anggaran belanja
akan diperkecil oleh pemerintah dengan cara memperluas pajak-pajak langsung
sehingga akan tercapai anggaran negara yang seimbang.
Langkah Ketiga adalah Pemerintah melakukan penyelidikan tentang
devisen yang menghasilkan data Reserve devisen yang berjumlah Rp.1.522
Juta pada tanggal 1 Juli 1955 dan pada 1 Januari 1955 sebesar Rp.1.620 juta.
Setengah tahun pertama 1955 realisasi impor sebesar Rp.2,8 Milyar termasuk
impor pemerintah kurang lebih Rp.0,3 Milyar.9
Pada masa kabinet Ali sampai kabinet Burhanuddin Harahap, berbagai
peraturan ekspor-impor yang membingungkan menyebabkan penyebaran
barang-barang tidak merata dan terjadi ketegangan-ketegangan akibat
derasnnya arus barang-barang tersebut. Sistem dan peraturan-peraturan yang
membingungkan dan merugikan dalam segi ekonomi keuangan itu antara lain
transaksi kompensasi Hongkong, perdagangan barter, transaksi paralel, kredit-
kredit Eropa Barat, transaksi-transaksi berjangka, transaksi antara pemerintah
dengan pemerintah, pembelian-pembelian pemerintah melalui J.P.P, dan
impor bebas devisen yang sangat merugikan negara. Oleh sebab itu Perdana
Menteri Burhanuddin Harahap melaksanakan tindakan baru pada ekonomi-
moneter khususnya dalam bidang impor. Terbukti dari jumlah devisen yang
diberikan tanggal 15 September 1955 - 18 Oktober 1955 berjumlah Rp. 448 juta,
pemerintah telah memberikan devisen lebih banyak kepada importir nasional,
dan pada importir asing sebesar Rp.188 juta.

9 Ernawati, Op.Cit. hh. 83-84

Sejarah Nasional Indonesia VI 183


Selain itu kabinet Burhanuddin melakukan perlindungan pada pengusaha
dan pedagang nasional dimana pada saat itu kedudukan mereka masih lemah.
Pemerintah menyediakan impor dari negara-negara di Asia seperti Hongkong,
Jepang, Singapura, dan lain sebagainya yang dikhususkan untuk pedagang-
pedagang nasional. Hal ini sangat berpengaruh dalam bidang pelaksanaan
politik ekonomi-keuangan pemerintah. Kabinet Burhanuddin Harahap berhasil
mengadakan perbaikan ekonomi yang dapat dilihat dari index rata-rata barang
impor maupun barang sehari-hari dipasar bebas.10

Tabel 5.1 Rata-rata Barang Impor dan Barang Sehari-hari


15 Agustus 13 September 11 Oktober
Nama Barang
1955 1955 1955
Tekstil (Kain putih,
100 74 68
drill, poplin)
Pakaian jadi 100 94 83
Daging kornet, susu
kental dan susu 100 95 86
bubuk
Sayuran 100 100 94
Telur Mentah 100 95 100
Bumbu-bumbu 100 122 98
Tepung tempe,
100 112 90
Kentang, Tahu
Minyak Kelapa 100 100 99
Gula, Kopi, Teh 100 101 96
Bahan bakar
(minyak tanah, 100 148 99
arang)

c. Kabinet Karya (Djuanda)


Dalam Kabinet Karya atau dengan nama lain Kabinet Djuanda, salah satu
progam kerjanya yaitu membentuk Dewan Nasional. Dewan Nasional tersebut
memiliki tugas sebagai penampung aspirasi rakyat. Namun sistem perekonomian
Indonesia saat itu keadaannya malah semakin parah. Pemerintah mengadakan
10 Ibid, hh. 86-87

Sejarah Nasional Indonesia VI 184


Musyawarah Nasional (Munas) untuk menghadapi
pergolakan daerah. Munas di gelar pada tanggal
reminder 14 September 1957 dan pada hari itu membahas
Pada bulan Desember
pembangunan nasional dan daerah, pembangunan
1957 pemerintah
mengadakan angkatan perang serta pembagian wilayah Republik
Musyawarah Nasional Indonesia.
Pembangunan (Munap) Sebagai upaya mewujudkan keputusan
yang bertujuan
untuk merencanakan
tersebut, pada bulan Desember 1957 pemerintah
pembangunan daerah mengadakan Musyawarah Nasional Pembangunan
(Munap) yang bertujuan untuk merencanakan
pembangunan daerah. Namun upaya tersebut belum dapat direalisasikan
karena muncul peristiwa-peristiwa yang mengancam persatuan nasional seperti
percobaan pembunuhan Presiden Soekarno tanggal 30 November 1957 yang
kemudian dikenal sebaggai peristiwa Cikini.11

4 Kebijakan-kebijakan Pemerintah
dalam Bidang Ekonomi Masa
Demokrasi Liberal (Parlementer)

Selama masa demokrasi liberal Indonesia memiliki banyak tantangan


dalam bidang ekonomi, faktor-faktor yang menjadi penyebab tersendatnya
perekonomian Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Bangsa Indonesia menanggung beban ekonomi dan keuangan sesuai
dengan keputusan dalam KMB.
2. Defisit yang harus ditanggung Indonesia sebesar 5,1 Milyar.
3. Hasil bumi dalam sektor pertanian dan perkebunan merupakan satu-
satunya komoditas ekspor yang diandalkan Indonesia sehingga tutun-
naiknya permintaannya sangat berpengaruh bagi perekonomian
Indonesia.
4. Politik keuangan pemerintah Indonesia merupakan warisan Belanda.
5. Pemerintah Indonesia tidak mewarisi nilai-nilai yang cukup untuk
mengubah sistem ekonomi yang bersifat kolonial menjadi sistem
11 Paizon Hakiki, Sistem Pemerintahan Pada Masa Demokrasi Liberal Tahun 1949-1959, (Jurnal Online
Mahasiswa, Universitas Riau, 2014). h. 12

Sejarah Nasional Indonesia VI 185


perekonomian yang nasional.
6. Indonesia belum memiliki cukup dana, tenaga ahli, dan pengalaman
untuk menata ekonomi secara baik.
7. Banyaknya pemberontakan dan gerakan separatisme diberbagai
daerah yang dikarenakan tidak stabilnya situasi politik dalam negeri.
8. Pergantian kabinet yang menyebabkan program kerja yang telah
dibuat terhenti sedangkan program baru mulai dirancang.
9. Angka pertumbuhan penduduk berkembang pesat.12
Masalah jangka pendek yang harus diselesaikan Indonesia adalah
mengurangi jumlah peredaran uang, mengatasi pengeluaran tambahan
dalam APBN setiap tahunnya. Sedangkan masalah jangka panjang tentang
perkembangan pesat pertumbuhan penduduk sedangkan kesejahteraan
penduduk rendah. Dari beberapa faktor dan masalah-masalah jangka panjang
dan jangka pendek diatas pemerintah Indonesia membuat beberapa kebijakan
yang bertujuan untuk menggeser dominasi ekonomi Belanda dan meningkatkan
peran penduduk Indonesia dibidang ekonomi. Kebijakan tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Program Ekonomi Benteng
Program ini berupaya meningkatkan
peran importir penduduk asli indonesia agar
dapat bersaing dengan perusahaan impor asing reminder
Salah satu perusahaan
dan memberi kredit kepada perusahaan milik
Belanda yang di
rakyat Indonesia agar dapat berpertisipasi dalam nasionalisasi adalah
pengembangan ekonomi nasional.13 De Javasche Bank yang
kemudian menjadi Bank
2) Membentuk perusahaan milik negara
Indonesia dikukuhkan
Beberapa badan usaha milik negara dalam Peraturan
dibentuk untuk menyaingi bisnis Belanda Pemerintah Pengganti
yang mendominasi di Indonesia. Diantaranya UU No. 2/1946 tanggal 5
juli 1946. Bank Indonesia
pembentukan CTC, Usindo, BNI, Bank Industri
yang berfungsi sebagai
Negara, dan lain-lain. bank sentral dan bank
sirkulasi.

12 Sudirman, Op.Cit. hh. 376-377


13 Hakiki, Op.Cit. h. 13

Sejarah Nasional Indonesia VI 186


3) Nasionalisasi beberapa perusahaan
Ada beberapa perusahaan Belanda yang dinasionalisasikan, salah
satunya adalah nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia yang
dikukuhkan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 2/1946 tanggal 5 juli
1946. Bank Indonesia yang berfungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi.
Undang-Undang No. 24/1951 diperkuat dengan adanya Undang-Undang No.
11/1953 dan Lembaran Negara No. 40 yang menerangkan bahwa jabatan
presiden Bank Indonesia menjadi Gubernur Bank Indonesia. Selain pengalihan
De Javasche Bank, pemerintah juga mengambil alih perusahaan-perushaaan
seperti kereta api, gas, listrik, dan sejumla perusahaan utilitas publik lainnya.
Dalam Nasionalisasi gelombang kedua yaitu tahun 1958, Pemerintah
Indonesia mengambil alih perusahaan penerbangan KLM, perusahaan pelayaran
KPM, perkebunan, industri, perusahaan dagang Belanda yang dikenal dengan
The Big Five dan bank bank Belanda.
4) Gunting Sjafruddin
Menteri keuangan pada tahun 1949 yaitu reminder
Pada tahun 1949,
Sjafrudin Prawiranegara membuat kebijakan Menteri Keuangan
Guntung Sjafrudin atau Sanerring yang bertujuan Sjafrudin Prawiranegara
untuk menghapus inflasi. Rakyat diwajibkan membuat kebijakan
Gunting Sjafrudin
menggunakan uang pecahan yang bernilai Rp. atau Sanerring yang
2,50,00 dan dipotong menjadi dua potong bertujuan untuk
menghapus inflasi
dan memberlakukan setengahnya sebagai alat
dengan memotong uang
pembayaran yang sah, tetapi nilainya hanya menjadi dua, dimana
setengah dan sisi lainnya harus diserahkan kepada satu bagian menjadi
nominal berlaku, dan
pemerintah untuk diganti oleh obligasi negara yaitu bagian lainnya digunakan
tanda hutang negara. 14 untuk membeli obligasi.
5) Sistem Ekonomi Ali-Baba
Sistem ekonomi ini menggambarkan Ali sebagai pengusaha penduduk
asli Indonesia, Baba sebagai pengusaha luar. Sistem ini digagas oleh Mr. Iskak
Cokrohadisuryo. Sistem ini bertujuan agar pengusaha asing (terutama Cina)
diwajibkan memberikan latihan-latihan dalam membangun ekonomi mikro
kepada pengusaha penduduk asli. Pemerintah memberikan lisensi untuk usaha
swasta nasional.
14 Sudirman, Op.Cit. h. 378

Sejarah Nasional Indonesia VI 187


6) Pembubaran Uni Indonesia-Belanda
Pembatalan secara sepihak atas hasil-hasil keputusan Konferensi Meja
Bundar oleh Indonesia. Pembatalan itu dibuat oleh kabinet Burhanuddin
Harahap pada Februari 1956. Kesepakatan dalam Konferensi Meja Bundar telah
membebani anggaran negara selama lebih dari 5 tahun. Negara telah membayar
82% dari seluruh hutang Indonesia yang telah ditetapkan dalam Konferensi
Maja Bundar.15 Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kebijakan
pemerintah dalam bidang ekonomi berupa pembentukan Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) dan nasionalisasi dapat dibilang berhasil mengusir perusahaan
asing dari perekonomian Indonesia. Namun menimbulkan masalah baru karena
biaya dari kebijakan tersebut yang tidak sedikit, seperti kurang baiknya kinerja
BUMN yang baru.
Adapun kelebihan sistem demokrasi liberal adalah sebagai pembuat
kebijakan dapat ditangani secara cepat karena mudah terjadi penyesuaian
pendapat antara eksekusif dan legislatif. Hal ini karena kekuasaan eksekusif dan
legislatif berada pada satu patai ataua koalisi partai serta garis tanggung jawab
dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik jelas. Adanya pengawasan
yang kuat dari parlemen terhadap kabinet sehingga kabinet menjadi berhati-
hati dalam menjalankan pemerintahan, dan HAM dipegang teguh dan dijunjung
tinggi oleh negara.

Gambar 5.1 Karikatur Gunting Syafruddin untuk mengingatkan masyarakat.


Sumber: www.google.co.id/image

15 Budihabsari, Op.Cit. h.l 88

Sejarah Nasional Indonesia VI 188


Akan tetapi selain mempunyai kelebihan demokrasi terpimpin juga
mempunyai kelemahan, kedudukan badan eksekusif atau kabinet sangat
tergantung pada mayoritas dukungan parlemen. Sehingga sewaktu-waktu kabinet
dapat dijatuhkan oleh parlemen, kelangsungan kedudukan badan eksekutif
atau kabinet tidak bisa ditentukan dan berakhir sesuai dengan masa jabatanya
sebab sewaktu-waktu kabinet dapat bubar dan kabinet dapat mengendalikan
parlemen, hal itu terjadi apabila para anggota kabinet adalah anggota parlemen
dan berasal dari mayoritas karena pengaruh mereka yang besar di parlemen dan
di partai dan anggota kabinet dapat menguasai parlemen. Parlemen menjadi
tempat kaderisasi bagi jabatan-jabatan eksekutif setra adanya multi partai yang
mengakibatkan aspirasi yang belum tersalurkan seluruhnya dengan baik dan
kebebasan menegeluarkan pendapat yang terlalu bebas sehingga tidak adanya
pertanggung jawaban.16

5 Kegagalan Perekonomian masa


Demokrasi Liberal

Suasana politik, ekonomi, dan stabilitas negara yang kurang baik kemudian
menimbulkan ketidakpercayaan terhadap sistem politik yang ada di negara
Indonesia. Demokrasi parlementer dianggap telah mengalami kegagalan,
hal ini kemudian memicu Soekarno mengambil keputusan yang membawa
Indonesia beralih pada sistem demokrasi terpimpin. Adapun yang menyebabkan
kegagalannya sistem parlementer tersebut adalah :
1. Dominannya politik aliran, yang artinya berbagai golongan politik dan
partai politik sangat mementingkan kelompok atau alirannya sendiri
daripada mengutamakan kepentingan bangsa.
2. Landasan sosial ekonomi rakyat yang masih rendah.
3. Kegagalan Konstituante dalam merumuskan undang-undang dasar
baru pengganti UUDS 1950.
4. Instabilitas negara karena terlalu sering terjadi penggantian kabinet,
hal ini menjadikan pemerintah tidak berjalan secara efisien. Sehingga
perekonomian Indonesia sering jatuh dan terkena dampak inflasi

16 Sudirman, Op.Cit. h. 382

Sejarah Nasional Indonesia VI 189


selama pergantian kabinet tersebut, beberapa contoh pergantian
kabinet tersebut seperti:17
a. Kabinet pertama yaitu Kabinet Sukiman yang hanya berumur
satu tahun. Kabinet ini tidak bisa menyelesaikan permasalahan
ekonomi dengan tidak terlaksananya beberapa kebijakan yang
telah dirumuskan. Selain itu pada masa kabinet ini muncul krisis
pemerintahan, dimana Sukiman hanya pro pada kader Masyumi
saja.
b. Kabinet kedua yaitu Wilopo, dimana pada masa kabinet ini
memiliki tujuan meningkatkan anggaran berimbang dan melakukan
pengetatan impor namun mengalami hambatan karena terjadinya
peristiwa Oktober 1952 yang mengganggu stabilitas negara.
Anggaran pemerintah tetap mengalami defisit walaupun jumlahnya
tidak sebesar deficit sebelumnya.
c. Pada kabinet-kabinet selanjutnya dimulai dengan dilaksanakannya
pemilihan umum satu dan berakhir dengan diumumkannya Dekrit
Presiden tahun 1959 tentang kembalinya ke UUD 1945 yang terjadi
pada masa kabinet terakhir yaitu Kabinet Djuanda. Permasalahan
yang timbul setelah PEMILU 1955 adalah semakin besar ketimpangan
ekonomi dan permasalahan bilateral antara Indonesia-Belanda
terkait isi KMB. Selain itu pemerintah juga mulai terikat dengan
utang IMF dengan pinjaman sebesar US$ 55 juta.18
5. Timbul berbagai masalah keamanan dalam negeri dalam bentuk
pemberontakan pada hampir seluruh wilayah Indonesia, seperti
Gerakan DI/TII, Gerakan Andi Azis ,Gerakan APRA dan Gerakan RMS.
6. Hubungan tidak baik antara pemerintah dan militer, salah satunya
adalah peristiwa 17 Oktober 1952.
7. Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan untuk
mendapatkan kekuasaan.
8. Sering terjadi konflik antarpartai politik dalam pemerintahan untuk
mendapatkan kekuasaan.
9. Praktik korupsi meluas, dimana pada masa ini tindak pidana korupsi
17 Sudirman, Op.Cit. h. 383
18 Pendi Rudiana, Peranan Bank Indonesia Dalam Kehidupan Ekonomi Indonesia tahun 1953-1966, (UPI
Jurnal, 2012).

Sejarah Nasional Indonesia VI 190


tidak bisa ditangani.
10. Kesejahteraan rakyat terbengkalai karena pemerintah hanya terfokus
pada bidang politik bukan pada ekonomi.19

6 Keadaan Ekonomi Masa Demokrasi


Terpimpin (1959-1965)
Pada masa orde lama, setelah Demokrasi Liberal dianggap gagal dalam
mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada
awal kemerdekaan, maka sistem pemerintahan Indonesia beralih pada sistem
Demokrasi Terpimpin. Demokrasi Terpimpin juga disebut demokrasi terkelola,
istilah ini adalah untuk sebuah pemerintahan demokrasi dengan peningkatan
otoraksi.
Konsepsi mengenai Demokrasi Terpimpin di bidang politik selanjutnya
melahirkan turunannya di bidang ekonomi. Pada sistem ini hakikatnya bahwa
negara harus berperan untuk “memimpin” ekonomi nasional dibentuknya
melalui jalur-jalur pengaturan dan komando yang tegas terhadap sektor-sektor
ekonomi utama. Dan semuanya itu didasarkan pada satu rencana nasional
yang komprehensif. Konsepsi ini merupakan reaksi terhadap pengalaman yang
meninggalkan kesan ketidakberdayaan negara dalam mengendalikan ekonomi
nasional pada masa sebelumnya.
Demokrasi Terpimpin berjalan pada tahun 1959-1966. Dalam sistem
demokrasi ini seluruh keputusan seluruh keputusan serta pemikiran berpusat
pada pemimpin negara yang pada waktu itu dipegang oleh presiden Soekarno.
Konsep sistem Demokrasi Terpimpin pertama kali diumumkan oleh presiden
dalam pembukaan sidang konstituante pada tanggal 10 November 1956. Adapun
ciri-ciri Demokrasi Terpimpin sebagai berikut :
1. Dominasi kekuatan politik ditangan presiden. Presiden Soekarno
berperan besar dalam penyelenggaraan pemerintahan.
2. Terbatasnya kebebasan partai politik.
3. Meluasnya peran militer sebagai unsur politik (dwifungsi ABRI).
4. Berkembangnya pengaruh Partai Komunis Indonesia.

19 Sudirman, Op.Cit. h. 384

Sejarah Nasional Indonesia VI 191


Menurut pengamatan Soekarno, Demokrasi Liberal tidak semakin
mendorong Indonesia mendekati tujuan Revolusi yang dicita-citakan berupa
masyarakat adil dan makmur. Sehingga pada gilirannya pembangunan ekonomi
sulit mengalami kemajuan. Setiap pihak-pihak pegawai negeri ,parpol, maupun
militer saling berebut keuntungan dengan mengorbankan yang lain.
Demokrasi Terpimpin dilahirkan karena keinsyafan, kesadaran, dan
keyakinan terhadap keburukan yang diakibatkan oleh praktik Demokrasi
Parlementer atau Liberal yang melahirkan perpecahan dalam masyarakat baik
dalam kehidupan politik maupun dalam tatanan kehidupan ekonomi. Ungkapan
presiden Soekarno dikutip ketika memberikan amanat kepada konstituante
pada tanggal 22 April 1959 tentang pokok-pokok Demokrasi Terpimpin yang
isinya antara lain :
1. Demokrasi Terpimpin bukanlah diktator.
2. Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi yang cocok dengan kepribadian
dan dasar hidup bangsa Indonesia.
3. Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi di segala soal kenegaraan dan
kemasyarakatan yang meliputi bidang politik,ekonomi dan sosial.
4. Inti daripada pimpinan dalam Demokrasi Terpimpin adalah
permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebikjaksanaaan.
5. Oposisi dalam arti melahirkan pendapat yang sejati dan yang
membangun diharuskan dalam Demokrasi Terpimpin.
Pada dasarnya perkembangan kehidupan perekonomian Indonesia pada
masa Demokrasi Terpimpin merupakan pengembangan dari rencana-rencana
pembangunan yang telah disususun pada masa Demokrasi Parlementer. Prinsip
kehidupan ekonomi Indonesia di masa Demokrasi Terpimpin adalah pemerintah
melakukan konsep ekonomi terpimpin dengan tujuan mewujudkan masyarakat
sosialis Indonesia.
Demokrasi Terpimpin ditandai pula oleh dikeluarkannya Dekrit Presiden
1959 mengenai kembalinya RI kepada UUD 1945. Pada masa Demokrasi
Terpimpin, kepemimpinan negara berada ditangan presiden dengan dukungan
ABRI dan partai. Bagi pemerintah saat itu yang penting ialah bahwa fungsi
pengawasan parlemen terhadap jumlah sirkulasi uang harus dihapus sehingga
pemerintah dapat mencetak uang tanpa pengawasan dan tanpa batas. Laju

Sejarah Nasional Indonesia VI 192


inflasi yang sudah mulai terasa meningkat tajam pada tahun1956 yang akhirnya
mengakibatkan runtuhnya periode Demokrasi Liberal tersebut.20
Untuk merencanakan pembangunan ekonomi di bawah kabinet karya pada
tahun 1958 dibuat undang-undang mengenai pembentukkan dewan perancang
nasional yaitu UU No 80 tahun 1958 pasal 2, undang-undang ini ditugaskan
dewan perancang nasional yang isinya yaitu :
1. Pasal 2, mempersiapkan rancanan undang-undang pembangunan
nasional yang berencana
2. Pasal 3, menilai penyelenggara pembangunan yang menjadikan adanya
usaha-usaha perubahan dalam demokrasi terpimpin.21

7 Usaha- Memperbaiki Perekonomian


Masa Demokrasi Terpimpin.
Dengan adanya sistem-sistem yang telah diterapkan Indonesia diharapkan
dapat bermuara pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik
dan ekonomi. Akan tetapi nyatanya kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil
pemerintah pada masa itu belum mampu memperbaiki keadaan Indonesia.
Adapun hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan ekonomi Indonesia pada
masa demokrasi terpimpin yaitu :
a. Penurunan nilai uang.
Nilai devisa memang bertambah sesudah sistem BE diberlakukan,
jumlahnya terbanyak sejak tahun 1951 akan tetapi Hatta bergantung
pada hubungan antara ekspor dan impor. Menurut Hatta, BE merupakan
devaluasi terselubung dalam keadaan biasa dengan devaluasi
keuntungan berlipat tetapi dengan harganya naik keuntungan itu
lenyap, dan Hatta mengulangi kembali anjurannya setahun sebelumnya
kepada Menteri Perekonomian untuk memperbanyak perusahaan
niaga kepunyaan pemerintah seperti CTC (Central Trending Company)
dan yayasan koperasi dahulu. Dengan organisasi ini menurut Hatta
pemerintah akan memperoleh dolar sedangkan jika organisasi swasta

20 Rudiana, Op.Cit. h. 26
21 Nugroho Notosusanto dan Marwah Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia VI, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2011). h. 429

Sejarah Nasional Indonesia VI 193


yang mengekspor ia akan mendapat rupiah. Sementara organisasi
niaga kepunyaan pemerintah belum cukup, Hatta mengatakan bahwa
penjualan itu diserahkan pada organisasi swasta dengan memberinya
laba. Hata menambahkan sarannya ini sebelumnya disambut baik akan
tetapi tidak pernah dijalankan.
Devaluasi yang diumumkan pada tanggal 25 Agustus 1958
menurunkan nilai uang seperti uang pecahan kertas Rp 500,00 menjadi
Rp.50,00, uang kertas pecahan Rp. 1.000,00 menjadi Rp.100,00 dan
semua simpanan di bank yang melebihi Rp. 25.000,00 akan dibekukan.

b. Pembentukan Deklarasi Ekonomi.


Pembentukan Deklarasi Ekonomi atau DEKON diadakan untuk
mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara Terpimpin.
Dalam pelaksanaannya kondisi ini justru mengakibatkan stagnasi bagi
perekonomian Indonesia. Pada tahun 1961-1962 harga barang-barang
naik hingga 400%.

c. Kelanjutan Penurunan Uang Asing.

Gambar 5.2 Mata Uang Belanda yang Beredar di Indonesia


Sumber: www.google.co.id /image
Devaluasi yang dilakukan pada tanggal 13 Desember 1965
menjadikan uang senilai Rp. 100,00 menjadi Rp. 1,00. Sehingga uang
rupiah baru yang seharusnya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama.
Akan tetapi di dalam masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10
kali lipat lebih tinggi. Maka dari itu tindakan pemerintah untuk menekan
angka Inflasi ini malah menjadi meningkatkan angka inflansi.22

22 Sudirman, Op.Cit. h. 395

Sejarah Nasional Indonesia VI 194


d. Hiperinflansi
Pada tahun 1961 inflansi biasa berubah menjadi hiperinflansi yang
ditandai oleh laju inflansi yang sangat tinggi sekitar 100% atau lebih.
Tetapi ada satu ciri khas yang membedakan hiperinflansi dari inflansi
biasa selalu ditandai oleh hilangnya kepercayaan orang memegang
uang, ketika ia menerima uang segera ia belanjakan untuk membeli
barang untuk menghindari kerugian dari nilai uang yang merosot
cepat. Gejala psikologis ini sulit diukur secara langsung tetapi bisa
dideteksi dengan melihat apakah laju inflansi lebih cepat daripada laju
kenaikan jumlah uang beredar. Selain kebijakan menurunkan inflansi
juga dikeluarkan Peraturan Pemerintah penganti Undang-undang No.3
tahun 1959 tentang pembekuan sebagian simpanan pada bank-bank
yang dimaksudkan untuk mengurangi banyak uang yang beredar yang
terutama pada tahun 1957 dan 1958 sangat meningkat jumlahnya.
Pada tahun 1959 juga telah diputuskan bahwa mulai tanggal
1 januari 1960 orang-orang asing dilarang melakukan perdagangan
di daerah perdesaan, walaupun ketetapan ini mempengaruhi para
pedagang Arab dan India akan tetapi pada dasarnya ketetapan ini
merupakan suatu langkah yang didorong oleh pihak militer untuk
merugikan orang-orang cina, melemahkan persahabatan Jakarta
dengan negara Cina, dan mempersulit urusan PKI. Pada akhir tahun
1959 pihak tentara mulai memindahkan orang-orang Cina secara
paksa dari daerah-daerah pedesaan ke kota-kota, kira-kira 119.000
orang dipulangkan kembali ke Cina. Pada tahun 1960 pihak militer juga
meningkatkan pengaruh langsungnya terhadap pemerintahan sipil
ketika lima orang perwira menjadi gubernur propinsi.23

23 Budihabsari, Ekonomi Indonesia: Dalam Lintasan Sejarah, (Bandung: PT Mizan Pustaka. 2016), h. 101

Sejarah Nasional Indonesia VI 195


8 Kebijakan Ekonomi Masa
Demokrasi Terpimpin
Dekrit Presiden 5 Juli 1959 merupakan awal dari perubahan berbagai
kebijakan, termasuk di bidang ekonomi. Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli
1959, Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi
Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segalanya diatur oleh pemerintah).
Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan
persamaan dalam sosial, politik, dan ekonomi.24
Sistem ekonomi masa demokrasi terpimpin ini dibahas dalam buku
Bung Hatta yang berjudul “Ekonomi Terpimpin”, mengatakan bahwa pada masa
demokrasi terpimpin Presiden Soekarno terlihat melakukan tekanan pada sektor
ekonomi. Dengan konsep terpimpin yang diusungnya, membubarkan parlemen
dan peranan kabinet digantikan oleh peranan Presiden sebagai pemimpin negara
seutuhnya.25
Pada dasarnya, perkembangan kehidupan perekonomian Indonesia pada
masa Demokrasi Terpimpin merupakan lanjutan dari rencana pembangunan yang
telah disusun pada masa Demokrasi Liberal/Demokrasi Parlementer. Contohnya
ialah pembentukan Dewan Perancang Nasional (Depernas) yang direncanakan
pada tahun 1958 yang dibuat undang-undangnya yaitu UU No.80/1958 dan baru
dapat terealisasikan pada tanggal 15 Agustus 1959 masa Demokrasi Terpimpin.26
Dengan sistem ini diharapkan Indonesia dapat menuju pada kemakmuran
bersama dan persamaan dalam sosial, politik, dan ekonomi. Tapi, nyatanya
kebijakan yang diambil belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia
pada masa itu.27 Berikut merupakan kebijakan yang diambil pemerintah
Indonesia dalam mengatasi permasalahan ekonomi nasional, yaitu:

a. Dewan Perancang Nasional


Sesuai yang dikatakan sebelumnya bahwa Demokrasi Terpimpin dengan
sistem ekonomi etatisme/ekonomi Terpimpin merupakan lanjutan dari
24 Rowland Pasaribu, Sistem Perekonomian Indonesia, (Jakarta: Gunadarma,2010). h. 13
25 Rudiana, loc.cit.
26 Poesponegoro dan Notosoesanto. Op.Cit. h. 429.
27 Sudirman. Op.Cit. h 395

Sejarah Nasional Indonesia VI 196


program masa Demokrasi Parlementer. Salah satunya dengan pembentukan
Dewan Perancang Nasional (Depernas). Depernas ini disahkan pada tanggal 15
Agustus 1959 yang sebelumnya telah dirancang pada Januari 1958 dengan UU
No.80/1958. Ketuanya ialah Mr. Muh. Yamin dengan 80 orang wakil golongan
masyarakat dan daerah.
Tugas dari badan ini ialah untuk Mempersiapkan RUU Pembangunan
Nasional Indonesia, serta mengawasi dan menilai penyelenggaraan proses
pembangunan tersebut,28 ini sesuai dengan UU No.80/1958 di dalam pasal 2
dan pasal 3. Setelah Terbentuknya Dewan Perancang Nasional pada 15 Agustus
1959 yang diketuai oleh Mr. Muhammad Yamin tersebut berhasil menyusun
suatu “Rancangan Dasar Undang-Undang Pembangunan Nasional Sementara
Berencana Tahapan Tahun 1961-1969” pada tanggal 26 Juli 1960 dan disahkan
oleh MPRS dengan TAP No.2 MPRS/1960. Program ini lebih dikenal dengan
“Pembangunan Semesta 8 tahun”.29

b. Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon)


Setelah pembentukan Depernas beberapa
usaha-usaha dilakukan pemerintah untuk mengatasi
reminder
kesulitan ekonomi yang dihadapi Indonesia yaitu
Pembentukan
dengan melakukan devaluasi terhadap mata uang Deklarasi Ekonomi
rupiah pada tanggal 25 agustus 1959. Bentuk nyatanya atau DEKON diadakan
ialah pemerintahan Soekarno melakukan penurunan untuk mencapai tahap
ekonomi sosialis
mata uang seperti uang pecahan kertas Rp.500,00 Indonesia dengan cara
menjadi Rp.50,00, Rp.1000,00 menjadi Rp.100,00 terpimpin.
dan deposito-deposito bank yang besar jumlahnya
dibekukan. 30
Untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin,
Indonesia juga mengeluarkan kebijakan yang menopang dari Devaluasi mata
uang rupiah dengan pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) yang disampaikan
Soekarno pada Tahun 1963. Ini adalah kelanjutan dari rancangan ekonomi
komando yang telah dirancang oleh Soekarno pada tahun 1957. Deklarasi

28 Ibid, h. 396
29 Poesponegoro dan Notosoesanto. Op.Cit. h. 429
30 Rudiana, 2012, Op.Cit. hh. 40-41

Sejarah Nasional Indonesia VI 197


Ekonomi adalah sebuah konsep dan tekad dalam melaksanakan ekonomi
pasar sebagai koreksi dari pelaksanaan ekonomi terpimpin yang dilakukan oleh
Soekarno. Tekad ini dapat dilakasanaan namun Dekon ini kurang dapat dukungan
dari berbagai partai termasuk PKI.
Dekon ini erat kaitannya dengan Program Pembangunan Semesta 8
tahun. Dekon ini dijalankan sebagai dasar bagi pelaksanaan Pembangunan
Semesta 8 tahun untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang terjadi dalam
jangka pendek. Akan tetapi yang terjadi dalam pelaksanaan ekonomi komando
mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia dan mengagalkan Dekon
yang diprakarsai oleh Soekarno pada tahun 1963. Bahkan pada 1961-1962
harga barang-barang naik 400% dari kebijakan ekonomi komando31, disebabkan
inflasi dan defisit yang terjadi di Indonesia ikut menentukan pelaksanaan
Dekon tersebut. Serta tantangan yang datang dari luar negeri seperti banyak-
banyaknya perusahaan-perusahaan di Indonesia yang dikuasai oleh pihak asing
sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dan akhirnya konsep Dekon gagal
mengiringi ekonomi komando yang dijalankan Soekarno.32

c. Panitia Penampung Operasi keuangan (PPOK).


Setelah melakukan devaluasi pada 25 agusutus 1959, timbul berbagai
masalah-masalah yang justru memperparah perekonomian bangsa seperti
krisis likuiditas diberbagai sektor, baik itu pemerintah ataupun pihak swasta.
Untuk itu di bentuklah Panitia Penampung Operasi Keuangan (PPOK) yang di
bentuk sebelum tanggal 1 Juni 1960.33 Panitia Penampung Operasi Keuangan ini
tugas utamanya ialah menyelesaikan masalah krisis likuiditas yang terjadi dan
juga bertanggung jawab untuk menindak lanjuti dampak-dampak pelaksanaan
kebijakan moneter. PPOK sebagai wakil pemerintah dalam mengatasi masalah-
masalah tersebut melakukan pengetatan terhadap anggaran belanja negara,
serta mengawasi kinerja manajemen dan administrasi perusahaan swasta.
Hal ini dilakukan dengan tujuan agar aliran dana kredit rupiah dapat mengalir
secara lancar untuk membiayai usaha yang signifikan bagi kehidupan bangsa
Indonesia.34
31 Pasaribu, 2010, Op.Cit. h. 14.
32 Rudiana, 2012, Op.Cit. hh. 40-41
33 Poesponegoro dan Notosoesanto. Op.Cit. h. 430.
34 Sudirman. Op.Cit. h. 396.

Sejarah Nasional Indonesia VI 198


d. Bank Tunggal Milik Negara
Dari semua kesulitan-kesulitan ekonomi yang terjadi, seharusnya
dengan memiliki bank sentral Indonesia mampu mengatasinya atau paling tidak
mengurangi beban ekonomi yang terjadi masa itu. Indonesia yang telah memiliki
bank sentral sebelumnya yaitu dengan menasionalisasikan Bank De Javasche
Bank sebagai bank sentral pada 1 Juli 1953 dengan nama Bank Indonesia dirasa
terlalu cepat dan tanpa perencanaan yang matang dalam proses nasionalisasinya,
sehingga tugas, fungsi, dan peranannya sempat tidak berjalan dengan lancar.35
Ketidaklancaran fungsi dari bank sentral terlihat dari pemerintah
Indonesia yang terus-menerus membiayai kekurangan neraca pembayarannya
dari cadangan emas dan devisa yang terjadi pada tahun 1961. Indonesia untuk
pertama kalinya dalam sejarah moneter membelanjakan cadangan emas dan
devisanya dengan saldo negatif sebesar US$ 3 juta di akhir tahun 1965. Ini terjadi
sebagai dampak dari politik konfrontasi yang terus-menerus dilakukan dan serta
kebijakan-kebijakan ekonomi yang tidak mampu membendung lajunya inflasi.36
Ditambah dengan kelanjutan penurunan nilai uang(devaluasi) yang
dilakukan pada 13 desember 1965 menjadikan uang senilai Rp.1000,00 menjadi
Rp.1,00. Sehingga, uang rupiah baru mestinya di hargai 1000 kali lipat dari uang
Rupiah lama. Tetapi, setelah tersebar di masyarakat uang rupiah baru hanya
dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Maka tindakan yang diharapkan menekan
angka inflasi malah meningkatkan angka inflasi.37
Pada pelaksanaan ekonomi terpimpin, semua bank-bank yang pada
dasarnya diatur dan dikoordinasi oleh suatu instansi dan termasuk bank
Indonesia diatur oleh suatu instansi sehingga kurangnya wadah arus putaran
sirkulasi antar bank, tetapi oleh Presiden Soekarno dianggap perlu melakukan
integrasi semua bank negara dalam suatu organisasi bank sentral. Untuk itu,
dikeluarkan Penetapan Presiden No.7 Tahun 1965 tentang pendirian Bank
Tunggal Milik Negara. Pertimbangan pembentukannya didasari oleh UUD RI dan
doktrin-doktrin Revolusi Indonesia.
Tujuan dari kebijakan ini adalah menyediakan wadah bagi arus
perputaran sirkulasi antar bank yang telah disebutkan sebelumnya, baik itu bank
35 Rudiana., Op.Cit. h. 50.
36 Poesponegoro dan Notosoesanto. Op.Cit. h. 432.
37 Poesponegoro dan Notosoesanto., Op.Cit. h. 432

Sejarah Nasional Indonesia VI 199


sentral maupun bank umum dan tugas dari bank Tunggal ini ialah menjalankan
aktivitas-aktivitas bank sirkulasi,bank sentral, dan bank umum.
Perlu kita ketahui sebelumnya di Indonesia sampai tahun 1957 dari segi
kepemilikan terdapat 68 bank, dimana 6 bank milik negara, 54 bank swasta, dan
8 bank asing (tidak termasuk bank sentral). Adapun 6 bank milik Negara tersebut
ialah Bank Dagang Negara (BDN), Bank Pembangunan Indonesia (BAPINDO), Lalu
terdapat bank dibawah suatu dewan pembangunan yang didalamnya tergabung
Bank Koperasi Tani dan Nelayan, selanjutnya Bank Umum Negara (BUNEG), Bank
Tabungan Negara (BTN), dan Bank Negara Indonesia (BNI).38
Sebagai langkah pertama untuk menuju Bank Tunggal Milik Negara
itu pada tahap awal diadakan peleburan bank-bank negara. Diawali dengan
Bank Dagang Negara, Bank Pembangunan Indonesia, dan Bank Koperasi
Tani dan Nelayan berdasarkan Penpres No.9 tahun 1965 bank-bank tersebut
diintgerasikan kedalam Bank Indonesia. Lalu dalam Penpres No.10, No.11, dan
No.13 menetapkan Bank Umum Negara, Bank Tabungan Negara, dan Bank
Negara Indonesia turut diintegrasikan kedalam Bank Indonesia.39
Keadaan demikian itu berlangsung terus sampai bank tunggal itu
dibubarkan dengan berlakunya UU No,13 Tahun 1968. Yang mengatur kembali
struktur dan tugas/peran bank sentral ialah bank Indonesia. Satu hal lagi yang
menarik dari pembentukan bank-bank ini ialah: pengintegrasian bank-bank
negara ke dalam bank tunggal diatur melalui Penetapan Presiden, sedangkan
bank-bank bersangkutan, sebelum diintegrasikan, didirikan berdasarkan atas
UU atau peraturan pemerintah pengganti UU.40

e. Perdagangan dan Perkreditan Luar Negeri (BERDIKARI)


Setelah dekrit 5 juli 1959, Pemerintahan Soekarno dan Depernas
(berganti menjadi Badan Perancang Pembangunan Nasional disingkat Bappenas
tahun 1963) mencanangkan kebijakan pembangunan Semesta 8 Tahun yang
tujuannya adalah menciptakan kesejahteraan melalui berbagai proyek yang
diarahkan kepada perbaikan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan mendasar
lainnya (Ekonomi). Untuk itu pemerintah melakukan program peningkatan

38 Rudiana, Op.Cit. h. 52
39 Ibid., h. 52
40 Poesponegoro dan Notosoesanto. Op.Cit., hh. 432-433

Sejarah Nasional Indonesia VI 200


ekspor dan perkreditan luar negeri.41
Dalam hal ini, kebijakan politk luar negeri yang berhubungan dengan
perdagangan dan perkonomian serta perkreditan memiliki kecenderungan
pada ajaran Marxisme yang bersandar kepada prinsip realitas yang ada dalam
masyarakat dan aktivitas politiknya disesuaikan realitas yang ditemukan.42 Ini
diperkuat ketika Presiden Soekarno mencanangkan Program Berdikari pasca
presiden berselisih dengan AS karena kebijakannya dianggap terlalu Sosialis,
dan juga karena begitu banyaknya korupsi. Program Berdikari ini sangat tampak
berhaluan sosialis ketika meminta bantuan alternartif dari Uni Soviet dan Cina.
Disinilah letak sumber pengertian dan latar belakang tindakan-tindakan
pemerintahan Soekarno selama demokrasi terpimpin itu mengenai perkreditan
luar negeri dilandasi dengan konsep meng-arrangement dan readjustment
dengan negara kreditor yang berlaku secara Internasional. Namun disatu pihak
masyarakat Indonesia yang baru merasakan kemerdekaan justru dibebani
dengan utang luar negeri yang besar.43
Akibat kebijakan kredit luar negeri ini utang-utang negara semakin
meningkat, dan sebaliknya ekspor semakin menurun. Utang luar negeri dibayar
dengan kredit baru atau melalui penangguhan pembayaran. RI tidak mampu lagi
membayar tagihan-tagihan luar negeri, yang mengakibatkan adanya insolvensi
internasional. Negara menyetop pengimporan dan mengacaukan distribusi,
produksi dan perdagangan serta menimbulkan kegelisahan dikalangan
penduduk. Ditambah ekspor yang menurun karena salah satunya perdagangan
karet dengan Cina dihargai sangat rendah dengan selisih dengan harga lokal 5-6
$ sen per lbs dan semuanya diatur oleh Cina.44
Demikianlah kondisi perekonomian Indonesia pada masa Demokrasi
Terpimpin. Kebijakan ekonomi yang memiliki banyak pertentangan antara
peraturan dan UU dengan perintah presiden karena adanya wewenang presiden
yang besar dalam membuat peraturan setingkat dengan UU, kondisi ini terus
memburuk hingga tahun 1966.45

41 Nino Oktrino, et.al. Muatan Lokal, Ensiklopedia Sejarah dan Budaya Sejarah Nasional Indonesia,
(Jakarta: PT Lentera Abadi, 2009). h. 241
42 Poesponegoro dan Notosoesanto. Op.Cit. hh. 433-434.
43 Ibid. h. 434.
44 Ibid, hh.434-435.
45 Sudirman. Op.Cit. h. 397.

Sejarah Nasional Indonesia VI 201


9 Kegagalan Perekonomian Di
Masa Demokrasi Terpimpin

a. Kegagalan Berdasarkan Kebijakan


Serangkai kebijakan dan usaha dilakukan oleh pemerintahan Ir.Soekarno
dalam mengatasi kesenjangan ekonomi yang terjadi di Indonesia pada masa
itu. Namun, setiap kebijakan selalu malah memperburuk keadaan ekonomi
Indonesia. Seperti devaluasi yang dilakukan pada 25 Agustus 1959 dan 13
Desember 1965 yang diharapkan menghambat laju inflasi malah membuat
meningkatnya angka inflasi.46 Kegagalan ekonomi ini juga diperparah dengan
naiknya harga-harga barang sebesar 400 persen, ketika pelaksanaan kebijakan
Deklarasi ekonomi yang dilakukan presiden Soekarno dalam mewujudkan
tercapainya tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara Terpimpin. Stagnasi
dan buruknya kondisi perekonomian Indonesia ini terjadi antara tahun 1961-
1962.47
Sehubungan dengan kegagalan kebijakan ekonomi di dalam negeri
tersebut, kegagalan juga terjadi pada kebijakan ekonomi luar negeri terutama
pada sektor perdagangan dan perkreditan. Kebijakan Berdikari yang
dicanangkan Soekarno tidak berjalan dengan baik karena korupsi yang dilakukan
oleh beberap perusahaan, sehingga mengharuskan Indonesia mencari bantuan
alternatif diantaranya Cina. Namun perdagangan dengan Cina ini sangat
tidak menguntungkan terlihat bagaimana perdagangan karet yang harganya
ditetapkan oleh Cina yang selisihnya sangat tipis dengan harga lokal. Lalu
akibat kebijakan perkreditan luar negeri ini utang-utang luar negeri semakin
bertambah, utang luar negeri dibayar dengan kredit baru atau penangguhan
pembayaran, yang pada akhirnya Indonesia tidak mampu membayar utang
luar negeri yang mengakibatkan Insolvensi Internasional. Oleh karena itu sering
terjadi penyetopan impor barang dari berbagai negara lain.48
Kurang efektifnya kinerja dari organisasi atau suatu lembaga yang
dibentuk oleh Pemerintah dan begitu banyaknya pelanggaran dan pertentangan
46 Ibid, h. 395.
47 Lubis. Op.Cit. h. 12

48 Poesponegoro dan Notosoesanto. Op.Cit. h. 434

Sejarah Nasional Indonesia VI 202


antara ketetapan Presiden dengan Peraturan Pemerintah dan UU yang
ditetapkan, sehingga membuat keadaan semakin memburuk. seperti yang terjadi
ketika Keputusan Menteri keuangan RI No.1/M 1961 tanggal 6 Januari 1961,
yang menentukan bahwa neraca Bank Indonesia tidak boleh lagi diumumkan.
Sementara itu, keputusan Perdana menteri No.85/PM/1964 tertanggal 4 Mei
1964, Bank Indonesia diizinkan untuk mengadakan penyertaan modal dalam
perusahaan-perusahaan. Dikeluarkannya keputusan tersebut berdampak luas
terhadap masyarakat, misalnya ;
1. Bank Indonesia sebagai bank sentral tidak dapat lagi menjalankan
fungsinya sebagai pengatur peredaran uang.
2. Neraca Bank Indonesia tidak dapat diketahui oleh rakyat lagi.
3. Neraca Bank Indonesia yang tidak diumumkan itu mendorong usaha-
usaha spekulasi dalam bidang ekonomi dan perdagangan.49
Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah
karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Pada
masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah yang
terkesan hanya buang-buang anggaran saja. Disamping itu gejolak politik luar
negeri seperti politik konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat
turun berimbas pada lemahnya perekonomian Indonesia.50

b. Kegagalan Ekonomi Berdasarkan Konflik Dalam Pemerintahan


Setelah Masyumi dan PSI tersingkir dari pemerintahan, Presiden Soekarno
mulai memberi penekanan pada doktrin Nasakom. Komponen Nasakom diambil
dari 3 partai besar yang masih mendukung Presiden Soekarno, yaitu PNI (untuk
Nasionalisme), NU (untuk Agama), dan PKI (untuk Komunisme). Presiden
berharap agar ketiga partai ini bersama-sama berperan dalam pemerintahan
disegala tingkatan. Dalam struktur pemerintahan, PNI dan NU sudah terwakili
dalam Kabinet. Namun tidak demikian dengan PKI yang terhalang oleh penolakan
yang dilakukan oleh TNI-AD yang dipimpin oleh Jenderal Nasution yang anti-
Komunisme. Namun antara pemerintahan dan PKI terjalin hubungan yang baik
sebaliknya Pemerintahan Presiden Soekarno dengan TNI justru memburuk.

49 Ibid, h. 436.
50 Lubis, Op.Cit. h. 12

Sejarah Nasional Indonesia VI 203


Dalam persaingan memperebutkan kekuasaan dengan Nasution,
Soekarno menempuh 2 taktik yaitu salah satunya merangkul PKI yang
notabene merupakan partai yang kuat di Jawa dan yang kedua ialah merangkul
angkatan-angkatan bersenjata terutama angkatan udara. Kepala Staf Angkatan
Udara, Komodor Udara Surjadi Surjadarma yang dekat dengan Soekarno dan
mempunyai hubungan kurang baik dengan Nasution. Dan istrinya aktif dalam
kegiatan haluan-haluan kiri dan PKI pada tahun 1948 dan pernah ditahan atas
perintah Nasution. Angkatan Udara yang iri atas dominasi Angkatan Darat yang
meningkat pengaruhnya karena beberapa perwiranya berhasil menduduki
jabatan Gubernur di beberapa Propinsi. Kedekatan Soekarno dengan Kepala staf
Angkatan Udara tersebut membuat Angkatan Udara menjadi kekuatan militer
yang paling diandalkan oleh Soekarno.51
Hubungan antara Konflik di pemerintahan dengan perekonomian
negara sangatlah erat. Ini terlihat ketika pihak militer ikut campur dalam urusan
kegiatan ekonomi dan mengeluarkan beberapa aturan. Pada Mei 1959 militer
mengeluarkan larangan bagi orang asing untuk berdagang di daerah pedesaan
mulai 1 Januari 1960. Meski larangan ini diberlakukan bagi semua orang
asing, sasaran utamanya ialah orang Cina. Alasannya ialah untuk melemahkan
persahabatan Indonesia dengan RRC, sekaligus mempersulit gerakan dan
pengaruh PKI di Indonesia. Akhirnya timbul konflik antara TNI-AD dengan
Presiden Soekarno dan PKI yang dekat dengan golongan Cina.52
Dan pada akhir 1959 pihak militer mulai memindahkan orang-orang
Cina dari pedesaan ke kota-kota secara paksa. Pemerintah Cina melakukan
penekanan diplomatik yang sangat berat terhadap Indonesia, sementara PKI
dan Pemerintah berusaha membela orang-orang Cina setidaknya mencegah
pihak militer melakukan tindakan-tindakan yang lebih keras. Keluarnya orang-
orang Cina dari daerah pedesaan, serta adanya ketakutan umum didalam
komunitas perdagangan yang sangat penting ini mengakibatkan terjadinya
dislokasi ekonomi, penimbunan barang, dan gelombang inflasi yang semakin
serius meningkat.53

51 Ricklefs. Op.Cit. h. 405.


52 Oktrino., et.al, 2009. Op.Cit. h. 241
53 Ricklefs., Op.Cit. h. 405

Sejarah Nasional Indonesia VI 204


Berbagai kegagalan yang terjadi pada perekonomian di Indonesia
masa Demokrasi Terpimpin baik dari segi kebijakan yang diambil dan konflik
yang terjadi. Puncak keterpurukan ekonomi Indonesia dan runtuhnya rezim
Orde Lama atau Rezim Soekarno yaitu ketika terjadinya perencanaan kudeta
yang dilancarkan pada 30 september 1965. Dalam peristiwa ini, pemerintah
beranggapan bahwa PKI sebagai dalang dari semua rencana kudeta tersebut.
Sehingga keadaan politik dan keamanan negara menjadi bertambah kacau
dan itu juga sangat mempengaruhi keadaan ekonomi yang sudah mengalami
keterpurukan oleh Hyperinflasi dan stagnasi. Wibawa dan kekuasaan Presiden
Soekarno juga semakin menurun setelah upaya untuk mengadili tokoh-tokoh
yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 september 1965 tersebut tidak berhasil
dilakukan, meskipun telah dibentuk Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub).54
Keadaan ekonomi yang semakin memburuk hingga membuat inflasi
sampai angka 650% dan Kesejahteraan rakyat jauh merosot. Keadaan tersebut
terus berlangsung hingga di gantikannya Presiden Soekarno oleh Jenderal
Soeharto.

10 Tokoh-Tokoh Kebijakan Ekonomi


Masa Demokrasi Terpimpin

a. Presiden Soekarno
Ir. H. Soekarno lahir di Surabaya, Jawa
Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21
Juni 1970 pada umur 69 tahun. Beliau adalah
Presiden Indonesia pertama yang menjabat
pada periode 1945–1966. Ia memainkan
peranan penting dalam sejarah Indonesia karena
menjadi pemimpin dalam memerdekakan
bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda pada
17 Agustus 1945. Soekarno juga yang pertama
kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila
sebagai dasar negara Indonesia.
Gambar 5.3 Ir Soekarno Sumber: www.wikipedia.com
54 Sudirman., Op.Cit. h. 400

Sejarah Nasional Indonesia VI 205


Pasca dibacakannya Dekrit 5 juli 1959, Presiden Soekarno mengubah
haluan pemerintahan Indonesia dari demokrasi parlementer menjadi
demokrasi terpimpin. Pada masa Demokrasi Terpimpin ini pula sistem ekonomi
yang dijalankan oleh Soekarno adalah sistem Ekonomi Etatisme (segala diatur
pemerintah) atau Terpimpin. Dalam sistem ini pemerintah dalam kaitannya
adalah Presiden Soekarno punya kekuatan yang besar termasuk dalam bidang
perekonomian.
Peran Soekarno sangatlah besar dalam segala kebijakan yang diambil dan
juga dalam pelaksanaan perekonomian Indonesia. Adapun program-program
yang dicanangkan Soekarno ialah sebagai berikut.
1. Rancangan Ekonomi Komando tahun 1957 dan dilaksanakan setelah
Dekrit 5 Juli.55
2. Pembentukan Deklarasi Ekonomi pada tahun 1963.56
3. Pendirian Bank Tunggal Milik Negara pada tahun 196557
4. Program Berdikari (Perdagangan dan Perkreditan Luar Negeri) yang di
buat dan dilaksanakan setelah Dekrit 5 Juli.
Kebijakan-kebijakan yang disusun dan dilaksanakan Presiden Soekarno
meskipun mengalami berbagai kegagalan. Namun kegagalan ini memiliki banyak
faktor yang menyebabkannya, salah satunya ialah konflik yang terjadi di dalam
pemerintahan lebih khususnya konflik antara Pemerintahan Soekarno dan
PKI bertentangan dengan angkatan TNI-AD yang dipimpin oleh Jenderal A.H
Nasution. Puncak hancurnya ekonomi dan turunnya wibawa Soekarno ketika
terjadi Gerakan 30 september 1965, dampak ekonominya membuat terjdainya
krisis ekonomi, inflasi hingga 650%, dan merosotnya kemakmuran masyarakat.58

b. Ir. Djuanda
Ir. Raden Haji Djoeanda lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 14 Januari 1911
– meninggal di Jakarta, 7 November 1963 pada umur 52 tahun. Beliau adalah
Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Ia mulai menjabat
sebagai perdana menteri mulai dari 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia
menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I. Sumbangannya yang
55 Pasaribu, Op.Cit. h.13
56 Rudiana, Op.Cit. h. 41.
57 Poesponegoro dan Notosoesanto., Op.Cit. h. 432
58 Ibid., h. 543

Sejarah Nasional Indonesia VI 206


terbesar dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang
menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan
di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal
dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United
Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS).

Gambar 5.4 Ir Djuanda


Sumber: www.wikipedia.com
Pada masa Orde Lama ia menjadi Perdana menteri Kabinet Karya yang
menjadi Kabinet terakhir. Ia memiliki peranan dalam perekonomian komando
yang dipimpin oleh Soekarno. Adapun Kebijakan yang telah diambilnya mewakili
nama pemerintahan kabinet kerja pada saat itu ialah devaluasi (penurunan nilai
uang) pada tahun 1959, langkah tersebut merupakan usaha yang dilakukan
Kabinet Kerja di bawah Ir. Djuanda dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi
di Indonesia.59

c. Mr. Muhammad Yamin


Mohammad Yamin dilahirkan di
Talawi, Sawahlunto pada 23 Agustus 1903. Ia
merupakan putra dari pasangan Usman Baginda
Khatib dan Siti Saadah yang masing-masing
berasal dari Sawahlunto dan Padang Panjang.
Muhammad Yamin dikenal sebagai pakara hukum
ketatanegaraan pada awal Indonesia Merdeka.
Beliau aktif dalam pergerakan nasional hingga
menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam
kemerdekaan Indonesia.
Gambar 5.5 Moh Yamin
Sumber: www.google.co.id/image

59 Deliar Noer, Mohammad Hatta Biografi Politik, (Jakarta: LP3ES Anggota IKAPI, 1991). h. 561

Sejarah Nasional Indonesia VI 207


Pada masa Demokrasi Terpimpin dan kabinet Karya ia ditunjuk sebagai
Ketua Dewan Perancang Nasional (Dapernas). Selama ia menjadi ketua Dapernas
tersebut, ia dan anggotanya yang berjumlah 80 orang yang terdiri atas wakil
golongan, wakil masyarakat, dan daerah, dalam waktu kurang 1 tahun dari
pembentukkannya berhasil membuat suatu “Rancangan Dasar Undang-Undang
Pembangunan Nasional Sementara Berencana Tahapan Tahun 1961-1969” yang
lebih dikenal dengan Pembangunan Semesta 8 tahun.60

d. Jenderal A.H Nasution


Jenderal Besar TNI (Purn.) Abdul Haris Nasution (lahir di Kotanopan,
Sumatera Utara, 3 Desember 1918 – meninggal di Jakarta, 6 September 2000
pada umur 81 tahun). Beliau adalah salah satu tokoh besar, seorang pahlawan
nasional Indonesia, dan salah satu yang berjasa dalam pengembangan dinas
ketentaraan Indonesia. Di masa mudanya beliau juga turut berperang (gerilya)
untuk mempertahakan kemerdekaan.

Gambar 5.6 A.H Nasution


Sumber: www.google.co.id/image

Pada masa pemerintahan demokrasi terpimpin yang dipimpin langsung


oleh Presiden Soekarno dengan sistem ekonomi terpimpin pula, pemerintah
cenderung lebih dekat dengan paham Marxisme. Hal ini kemudian berdampak
pada kedekatan antara Presiden dengan PKI. Disamping itu konsepsi presiden
mengenai Nasakom membuat Jenderal A.H Nasution memulai sikap permusuhan
dengan Pemerintahan. Beliau dikenal sebagai salah satu perwira tinggi Abri
yang anti dengan komunisme. Pada masa Demokrasi Terpimpin ada 3 kekuataan
yang mempengaruhi Pemerintahan dan membuat konflik yang akhirnya juga
menganggu perekonomian di Indonesia pada masa itu.
Pada mei 1959 militer mengeluarkan larangan bagi orang asing untuk

60 Poesponegoro dan Notosoesanto., Op.Cit. h. 429

Sejarah Nasional Indonesia VI 208


berdagang di daerah pedesaan mulai Januari 1960. Meski larangan di berlakukan
untuk asing akan tetapi sasaran utamanya adalah Cina. Tujuannya agar untuk
melemahkan hubungan RI dan Cina dan Mempersulit gerakan PKI di Indonesia.
61

Dilanjut dengan tindakan militer yang telah mengusir orang-orang Cina


dari pedesaan ke kota-kota dan bahkan ada yang sampai keluar Indonesia pada
akhir tahun1959. Pemerintahan Cina melakukan tekanan diplomatik terhadap
Indonesia setelah kejadian itu, sementara Pemerintah dan PKI mencoba
menenangkan dan membela Cina serta mencegah tindakan yang lebih keras dari
pihak militer. Dari kejadian tersebut nampaknya jelas konflik antara Pemerintah
dan PKI berhadapan dengan Militer yang berujung dengan ketakutan umum
didalam komunitas pedagang mengakibatkan dislokasi ekonomi, penimbunan
barang, dan meningkatnya gelombang inflasi di Indonesia.62

61 Oktorino, 2009., h. 241


62 Ricklefs., Op.Cit. h. 405

Sejarah Nasional Indonesia VI 209


RANGKUMAN
Masa pemerintahan orde lama ini pembangunan ekonomi memfokuskan
kepada kebutuhan pangan. Sektor pertanian mendapatkan perhatian lebih. Ide
ini terkenal dengan istilah Kasimo Plan, kebijakan ini sendiri (Pembangunan
Kasimo) adalah rencana tiga tahun pembangunan yang dimulai dari tahun
1948 hingga 1950 yang bertujuan agar swasembada pangan tercapai melalui
peningkatan produksi pangan dengan ekstensifikasi dan intensifikasi pada sub
sektor pangan, perkebunan, dan peternakan. Namun karena konflik politik,
masalah keamanan negara, pergantian kabinet dalam jangka pendek, dan
yang paling utama koordinasi program antara pemerintah pusat ke pemerintah
daerah tidak berjalan lancar, rencana pembangunan ini tidak berajalan dengan
baik.
Adapun kelebihan Demokrasi Liberal adalah sebagai pembuat kebijakan
dapat ditangani secara cepat karena mudah terjadi penyesuaian pendapat
antara eksekusif dan legislatif. Hal ini karena kekuasaan eksekusif dan legislatif
berada pada satu patai ataua koalisi partai serta garis tanggung jawab dalam
pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik jelas. Adanya pengawasan yang
kuat dari parlemen terhadap kabinet sehinnggga kabinet menjadi berhati-hati
dalam menjalankan pemerintahan, dan HAM dipegang teguh dan dijunjung
tinggi oleh negar.
Pada dasarnya, perkembangan kehidupan perekonomian Indonesia
pada masa Demokrasi Terpimpin merupakan lanjutan dari rencana
pembangunan yang telah disusun pada masa Demokrasi Liberal/Demokrasi
Parlementer(Sudirman.395). Contohnya ialah pembentukan Dewan Perancang
Nasional (Depernas) yang di rencanakan pada tahun 1958 yang dibuat undang-
undangnya UU No.80/1958 dan baru dapat terealisasikan pada tanggal 15
Agustus 1959 masa Demokrasi Terpimpin.
Serangkai kebijakan dan usaha dilakukan pemerintahan Ir.Soekarno dan
Ir.Djuanda dalam mengatasi kesenjangan ekonomi yang terjadi di Indonesia
pada masa itu. Namun, setiap kebijakan selalu malah memperburuk keadaan
ekonomi Indonesia. Seperti Devaluasi yang dilakukan pada 25 agustus 1959 dan

Sejarah Nasional Indonesia VI 210


13 desember 1965 yang diharapkan menghambat laju inflasi malah membuat
meningkatnya angka Inflasi.
Kegagalan ekonomi ini juga diperparah dengan naiknya harga-harga barang
sebesarr 400 persen ketika pelaksanaan kebijakan Deklarasi ekonomi yang
dilakukan Presiden Soekarno dalam mewujudkan tercapainya tahap ekonomi
sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Stagnasi ini terjadi pada 1961-1962

Sejarah Nasional Indonesia VI 211


GLOSARIUM

Arrangement Perikatan
BNI Bank Negara Indonesia
CTC Central Trading Company
De Javasche Bank Bank yang didirikan tahun 1828 dalam bentuk Perseroan
Terbatas dan Nasionalisasikan menjadi Bank Indonesia
Devisa Semua benda yang bisa digunakan untuk transaksi
pembayaran dengan luar negeri yang diterima dan
diakui luas oleh dunia internasional.
Defisit Kekurangan dalam kas keuangan
Doktrin Suatu bentuk tindakan mengharuskan/memaksakan
bahwa suatu kasus harus diyakini dan dibenarkan seperti
apa yang disampaikan.
Ekonomi Sosialis Sistem perekonomian yang menghendaki kemakmuran
masyarakat secara merata dan tidak adanya penindasan
ekonomi.
Ekonomi Komando Sistem ekonomi yang segala sesuatunya tentang
ekonomi diatur oleh pemerintah pusat.
I.G.O (Inlandsche Perundangan yang dibuat Belanda berlaku untuk daerah
Gemeente Jawa dan Madura
Ordonantie)
I.G.O.B (Inlandsche Perundangan yang dibuat Belanda berlaku untuk wilayah
Gemeente luar daerah pulau Jawa dan Madura
Ordonantie)
Integrasi Sebuah sistem yang mengalami pembauran hingga
menjadi suatu kesatuan yang utuh
Inflasi Suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum
dan terus-menerus (continue)
Insolvensi Ketidakmampuan seseorang atau badan untuk
membayar utang tepat pada waktunya atau keadaan
yang menunjukkan jumlah kewajiban melebihi harta
Konfrontasi Suatu sikap permusuhan yang sering digunakan dalam
bidang politik dan militer.
KLM Koninklijke Luchtuaart Maatschappij

Sejarah Nasional Indonesia VI 212


KPM Koninklijke Pacetraat Maatschappij
Likuiditas Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dana (cash
flow) dengan segera dan dengan biaya yang sesuai.
Marxisme Sebuah paham yang berdasar pada pandangan-
pandangan Karl Marx.
MPRS Majelis Permusywaratan Rakyat Sementara
Pelni Pelayaran Nasional Indonesia
PKI Partai Komunis Indonesia
PerPres Peraturan pemerintahan
Revolusi Perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung
secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok
kehidupan masyarakat.
Realitas Yang benar-benar ada
Readjustment Pengaturan kembali
Stagnasi Terjadi ketika pertumbuhan ekonomi berjalan lambat
(biasanya diukur berdasarkan pertumbuhan GDP) pada
suatu periode tertentu.
Saldo Selisih (antara uang yang masuk dan yang keluar)
Sanering Pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan
nilai uang.
The Big Five Lima Negara anggota tetap PBB yaitu Amerika Serikat,
Inggris, Perancis, Russia, Cina
USINDO Usaha Industri Indonesia

Sejarah Nasional Indonesia VI 213


latihan

Berikut ini terdapat beberapa butir soal latihan yang perlu mahasiswa
kerjakan, dengan tujuan agar mahasiswa dapat lebih memahami dan menguasai
materi mengenai sejarah nasional Indonesia sesuai dengan materi yang telah
diberikan dan diuraikan secara ringkas dalam Bab ini. Adapun soal essay dikerjakan
pada kertas double folio dengan maksimal jawaban per soal sebanyak 500 kata,
sedangkan soal multiple choice/ pilihan ganda dapat anda jawab dengan hanya
menuliskan salah satu jawaban yang benar pada lembar kertas double folio.
Selamat mengerjakan.
ESSAY
1. Jelaskan bentuk ekonomi Indonesia masa Demokrasi Liberal.
2. Jelaskan program kerja Kabinet Natsir dalam memperbaiki kondisi ekonomi
nasional
3. Jelaskan faktor yang menyebabkan ketidakstabilan ekonomi nasional masa
Demokrasi Liberal
4. Jelaskan bentuk kebijakan ekonomi yang diambil pemerintahan pada masa
Demokrasi Liberal dan Terpimpin.
5. Jelaskan tujuan dari dilaksanakannya Musyawarah Nasional Pembangunan
pada tahun 1957.

PILIHAN GANDA
1. Menghilangkan faktor-faktor yang dapat menyebabkan inflasi, desentralisasi
dan korupsi, merupakan program kerja pada masa Kabinet...
a. Sukiman
b. Wilopo
c. Ali Sastroamijoyo
d. Burhanuddin Harahap

2. Berikut ini merupakan dampak hasil keputuan KMB dalam perekonomian


Indonesia, kecuali...

Sejarah Nasional Indonesia VI 214


a. Indonesia menanggung pembayaran utang pemerintah Hindia Belanda
(dalam negeri dan luar negeri) sebesar USD 1,13 milyar.
b. Indonesia dapat menasionalisasikan perusahaan milik Belanda
c. Indonesia harus berkonsultasi kepada Belanda bahkan Indonesia harus
meminta persetujuan pemerintah Belanda dalam kebijakan tertentu.
d. Indonesia menanggung biaya 17.000 karyawan eks Belanda dan
menampung 26.000 tentara eks KNIL.

3. Musyawarah Nasional Pembangunan pertama dilaksanakan pada tanggal...


a. 21 Agustus 1957
b. 14 September 1957
c. 21 September 1957
d. 15 Desember 1957

4. Kebijakan yang mewajibkan rakyat menggunakan uang pecahan yang


bernilai Rp. 2,50 keatas dipotong menjadi dua bagian dan memberlakukan
setengahnya sebagai alat pembayaran yang sah, serta sisi lainnya harus
diserahkan kepada pemerintah untuk diganti oleh obligasi negara yaitu...
a. Kebijakan Gunting Syafruddin
b. Kebijakan Ekonomi Benteng
c. Kebijakan Ekonomi Nasionalisasi
d. Kebijakan Ekonomi Ali-Baba

5. Masa ekonomi nasional dibentuk melalui jalur-jalur pengaturan dan komando


yang tegas terhadap sektor-sektor ekonomi utama disebut dengan...
a. Ekonomi Liberal
b. Ekonomi Ali-Baba
c. Ekonomi Terpimpin
d. Ekonomi Nasional

6. Penurunan nilai mata uang nasional (Devaluasi) masa Demokrasi Terpimpin


dilaksanakan pada tanggal...
a. 25 Agustus 1958

Sejarah Nasional Indonesia VI 215


b. 1 September 1958
c. 15 September 1958
d. 29 Desember 1958

7. Pada tanggal 1 Januari 1960, dikeluarkan keputusan pedagang asing dilarang


melakukan perdagangan di pedesaan, adapun tujuan utama dikeluarkannya
keputusan ini adalah...
a. Melemahkan Perekonomian Asing
b. Menerapkan Pengawasan Ekonomi Pada Warga Asing
c. Merugikan Pedagang Cina dan Melemahkan Kedekatan Indonesia
dengan Cina
d. Membuat Kesepakatan Ekonomi dengan Masyarakat Pedesaan.

8. Tugas mempersiapkan RUU Pembangunan Nasional Indonesia, serta


mengawasi dan menilai penyelenggaraan proses pembangunan masa
Demokrasi Terpimpin dilaksanakan oleh...
a. Kabinet yang memerintah
b. Dewan Perancang Nasional
c. Dewan Perwakilan Rakyat
d. Kementerian Perekonomian

9. Salah satu penyebab kegagalan ekonomi masa Demokrasi Terpimpin dari sisi
politik adalah...
a. Konflik TNI AD dan PKI
b. PKI menguasai perekonomian nasional
c. Mosi tidak percaya terhadap Kabinet
d. Tidak tepatnya kebijakan ekonomi yang diambil.

10. Ketua Dapernas pada masa Kabinet Karya adalah...


a. Soekarno
b. Moh Hatta
c. Djuanda
d. Moh Yamin

Sejarah Nasional Indonesia VI 216


DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU
Oktorino, Nino., et.al. Muatan Lokal Ensiklopedia Sejarah dan Budaya Sejarah
Nasional Indonesia. (Jakarta: Lentera Abadi, 2009).
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional
Indonesia VI. (Jakarta: Balai Pustaka, 2011).
Sudirman, Adi. Sejarah Lengkap Indonesia. (Yogyakarta: Jogjakarta, 2014).
Hamin, Abdul dan Guswildan Giovari. Perbandingan Perekonomian Dari Masa
Soekarno Hingga SBY (1945-2009). (Yogyakarta: Universitas Islam
Negeri).
Pasaribu, Rowland B. F. Sistem Perekonomian Indonesia. (Jakarta: Guna Darma,
2010).
Ernawati, Yulia. Kondisi Politik Indonesia Pada Masa Pemerintahan Kabinet
Burhanuddin Harahap 1955-1956. (Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta, 2014).
Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern. (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2005).
Noer, Deliar. Mohammad Hatta, Biografi Politik. (LP3ES anggota IKAPI, 1991).
Budihabsari, Esti A. Ekonomi Indonesia Dalam Lintas Sejarah. (Bandung: PT
Mizan Pustaka, 2016).

Jurnal Online dll:


Hakiki, Paizon. 2014. Sistem Pemerintahan Pada Masa Demokrasi Liberal Tahun
1949-1959. Jurnal Online Mahasiswa: Universitas Riau
Sumedi. Reformasi Kebijakan Desentralisasi Sektor Pertanian Peran Strategis
Sektor Pertanian: Masa Lalu, Kini, dan Yang Akan Datang. Jurnal Online
Mahasiswa
Rusdiana, Rendi. 2012. Peranan Bank Indonesia Dalam Kehidupan Ekonomi
Indonesia Tahun 1953-1966. Jurnal Online Mahasiswa: Universitas
Pendidikan Indonesia

Sejarah Nasional Indonesia VI 217


Sejarah Nasional Indonesia VI 218
6
POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA

Sejarah Nasional Indonesia VI 219


Keterangan:
11. Menjelaskan Sistem Negara
1. Memahami Materi Sejarah Nasional Kesatuan Republik Indonesia
Indonesia I 12. Kehidupan Berbangsa dan
2. Memahami Materi Sejarah Nasional Bernegara Masa RIS
Indonesia II 13. Menjelaskan Sistem Negara
3. Memahami Materi Sejarah Nasional Indonesia Berdasarkan UUDS 1950
Indonesia III 14. Menjelaskan Keadaan Sosial
4. Memahami Materi Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia Pada Masa
Indonesia IV Demokrasi Liberal
5. Memahami Materi Sejarah Nasional 15. Menjelaskan Sistem Ekonomi
Indonesia V Indonesia Masa Demokrasi Liberal
6. Menjelaskan Hasil Konferensi Meja 16. Menjelaskan Usaha Pemerintah
Bundar dan Pembentukan Republik Indonesia dalam Memperbaiki
Indonesia Serikat (RIS) Ekonomi Nasional
7. Menjelaskan Keadaan Sosial, 17. Menjelaskan Berbagai
Politik, Ekonomi, dan Hankam Masa pemberontakan di Indonesia Masa
Republik Indonesia Serikat Demokrasi Liberal dan Terpimpin
8. Menjelaskan Konsep dan Sistem 18. Menjelaskan Keadaan Militer
Pemerintahan RIS Indonesia Masa Demokrasi Liberal
9. Membandingkan Konstitusi RIS dan 19. Menjelaskan Ketidakstabilan Politik
UUD 1945 Dalam Negeri Indonesia
10. Menjelaskan Faktor Penyebab 20. Menjelaskan Pelaksanaan Pemilu I
Kembalinya RIS Menjadi NKRI Tahun 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 220


21. Menjelaskan Politik Luar Negeri 31. Menjelaskan Kebijakan Politik
Indonesia Pemerintah Indonesia Masa
22. Menjelaskan Keadaan Sosial Demokrasi Terpimpin
Ekonomi Indonesia Masa Demokrasi 32. Menjelaskan Perpolitikan PKI di
Liberal Indonesia (1960-1965)
23. Menjelaskan Kehidupan Sosial 33. Menjelaskan Politik Konfrontasi
Budaya Pada Masa Demokrasi Indonesia dengan Malaysia
Liberal 34. Menjelaskan Penyebab Keluarnya
24. Menjelaskan Keadaan Hankam Indonesia dari PBB dan Konferensi
Indonesia Masa Demokrasi Liberal Asia Afrika
25. Menjelaskan Perpolitikan Indonesia 35. Menjelaskan Upaya Pembebasan
Masa Demokrasi Liberal Irian Barat
26. Menjelaskan Keadaan Indonesia 36. Menjelaskan Peristiwa Gerakan 30
Masa Demokrasi Liberal September
27. Menjelaskan Konsepsi Soekarno 37. Menjelaskan Keadaan Indonesia
28. Menjelaskan penyebab Masa Demokrasi Terpimpin
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 38. Menjelaskan Politik Indonesia
Juli 1959 Masa Demokrasi Terpimpin
29. Berlakunya Kembali UUD 1945 39. Menjelaskan Kehidupan Berbangsa
30. Menjelaskan Deklarasi Ekonomi dan Bernegara Indonesia Masa
(DEKON) Orde Lama

Sejarah Nasional Indonesia VI 221


Pada bab sebelumnya kita telah membahas mengenai
sistem ekonomi Indonesia antara tahun 1950-1965, dimana
pada periode tersebut dibagi kedalam dua masa yaitu
masa Demokrasi Liberal (1950-1959) dan masa Demokrasi
Terpimpin (1959-1966), selanjutnya pada bab 6 ini akan
dibahas mengenai politik luar negeri Indonesia, bentuk
kerjasama Internasional, peta politik dunia, serta situasi indonesia dalam peta
politik dunia.
Setelah mempelajari dan membahas materi pembelajaran pada Bab
keenam ini, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami politik
luar negeri Indonesia selama tahun 1950-1966. Adapun tujuan instruksional
khusus pada bab keenam ini, sebagai berikut:

Tujuan Instruksional Umum (TIU)

1. Menganalisis politik bebas aktif indonesia selama tahun 1950

Setelah mempelajari Bab VI, mahasiswa diharapkan dapat:


1. Mendeskripsikan politik luar negeri Indonesia setelah pengakuan
kedaulatan
2. Menganalisis konstelasi politik dunia pada masa demokrasi liberal dan
Terpimpin
3. Menjelaskan sikap dan posisi Indonesia dalam situasi perang dingin
4. Menjelaskan bentuk kerjasama Indonesia dengan negara-negara lain
dalam tahun 1950-1965

Sejarah Nasional Indonesia VI 222


1 Politik Luar Negeri Indonesia
(1950-1965)

Hubungan luar negeri Indonesia yang dirintis


sejak perang kemerdekaan berkembang sesudah
reminder pengakuan kedaulutan Indonesia tahun 1949. Kabinet
Indonesia RIS dibawah perdana menteri Hatta melaksanakan
menjalankan politik
luar negeri bebas aktif
hubungan luar negeri yang dititikberatkan pada
dengan mengadakan negara-negara asia dan negara-negara barat. Hal ini
kerjasama yang tidak karena kepentingan ekonomi Indonesia yang masih
memikat.
terkait dan terpusat di Belanda dan Eropa Barat. Maka
dari itu untuk kepentingan yang sama Pemerintah
Indonesia mengirim Djuanda untuk melakukan kerjasama yang tidak mengikat
ke Amerika Serikat.1
Setelah Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan, dimasa Kabinet
Natsir (1950-1951), politik luar negeri Indonesia masih menjalankan politik luar
negeri bebas aktif dengan mengadakan kerjasama yang tidak memikat. Pada
bulan september tahun 1950 dalam Sidang Majelis Umum, PBB menerima
Indonesia menjadi Anggotanya yang ke-60. Pada tanggal 28 September diadakan
upacara pengibaran bendera Merah Putih di Markas Besar PBB disamping 59
bendera negara anggota lainnya.

Gambar 6.1 Pengibaran Bendera Merah Putih di


Markas Besar PBB
Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka

1 Marwati Djoened dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Jepang dan Zaman Republik,
(Jakarta: Balai Pustaka, 2010). h. 323

Sejarah Nasional Indonesia VI 223


Setelah Kabinet Natsir digantikan oleh Kabinet Sukiman (1951-1952) dalam
buku Marwati Djoened dan Notosusanto, kabinet ini menempuh kebijakan yang
menyimpang dari politik bebas aktif dikarenakan pada tahun 1952 Menteri Luar
Negeri Ahmad Subarjo melakukan pertukaran surat dengan Duta Besar Amerika
Serikat Merle Cochran. Nota hubungan ini terkait dengan bantuan Amerika
Serikat berdasarkan Mutual Security Act (MSA). DPRS menganggap kabinet
ini telah memasukan Indonesia kedalam bagian Blok Barat. Peristiwa tersebut
kemudian menjadi salah satu faktor jatuhnya Kabinet Sukiman.
Dasar hubungan kerjasama dengan Amerika Serikat yang dilakukan oleh
Kabinet Sukiman (Sukiman-Cochran) kemudian diteruskan dengan diubah
dalam bentuk kerjasama biasa antar bangsa “tidak lebih”. Adapun kerjasama
tersebut berisikan kerjasama ekonomi dan teknik, karena Indonesia sangat
membutuhkan kedua hal tersebut dalam upaya pembangunan negara.
Selanjutnya dalam keterangannya kepada Parlemen pada tanggal 25 Agutus
1953 Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo mengemukakan betapa pentingnya
usaha melaksanakan kerja sama antara negara-negara Asia-Afrika. Dalam
keterangannya tersebut, dikemukakan kerja sama dengan golongan Asia-Afrika
(termasuk Arab) dipandang sangat penting guna memperkuat usaha ke arah
tercapainya perdamaian dunia yang kekal.2
Selain mengadakan hubungan baik dengan negara-negara di barat, untuk
membuktikan bahwa Indonesia menganut politik luar negeri yang bersifat bebas-
aktif, pada bulan Agustus 1956 Presiden Soekarno mengunjungi Uni Soviet.
Dalam kunjungan ini Uni Soviet memberikan bantuan ekonomi tanpa ikatan
terhadap Indonesia. Pada bulan yang sama Presiden Soekarno juga melakukan
kunjungan ke Cekoslovakia dan Yugoslavia. Kemudian presiden juga melakuka
kunjungan ke RRC pada bulan Oktober di tahun yang sama.3 Kementerian Luar
Negeri Republik Indonesia memainkan peran utama dalam inisiasi dan formulasi
kebijakan politik luar negeri Indonesia.4 Landasan politik idiil PLNRI adalah dasar
negara Republik Indonesia yaitu Pancasila yang berisi pedoman dasar bagi
pelaksanaan kehidupatan berbangsa dan bernegara yang ideal dan mencakup
seluruh sendi kehidupan manusia.
2 Ibid. h. 324
3 Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV, (Jakarta: Balai Pustaka, 2011). h. 323
4 Herningtyas Ratih, Surwandono, dan Tulus Warsito. Menginisiasi Diplomatic Governance dalam
Perumusan dan Artikulasi politik luar negeri. (Jurnal politik profetif Volume 6 Nomor 2 Tahun 2015. 2015),
h. 50

Sejarah Nasional Indonesia VI 224


Sedangkan untuk landasan konstitusional PLNRI adalah UUD 1945 alinea
pertama dan alinea keempat, serta pada batang tubuh UUD 1945 pasal 11
dan pasal 13.5 Politik luar negeri dan diplomasi Indonesia dilakukan untuk
memastikan terjaminnya kepentingan nasional Indonesia, pertumbuhan
nasional, pembangunan ekonomi kesejateraan rakyat, keamanan nasional
dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, hal ini seperti yang tertuang
dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI)
tahun 1945.6 Prinsip dasar kebijakan politik luar negeri sebuah negara boleh
saja berakar pada sejarah, ideologi dan konstitusi nasional. Namun pelaksanaan
sangat dipengaruhi oleh kepentingan, kepemimpinan, dan dinamika politik
internal serta internasional tertentu.7
Politik luar negeri indonesia erat kaitannya dengan kerja sama dengan
negara lain untuk mempertahankan kepentingan nasional suatu negara.
kepentingan nasional itu dapat dicapai dalam wilayah negara itu sendiri maupun
diluar wilayah negara. Departemen luar negeri Republik Indonesia (2006)
menjelaskan bahwa politik luar negeri adalah kebijakan, sikap, dan langkah
pemerintahan RI yang diambil dalam melakukan hubungan dengan negara lain,
organisasi Internasional, dan subjek hukum Internasional lainnya dalam rangka
menghadapi masalah Internasional guna mencapai tujuan nasional.
Politik luar negeri merupakan refleksi dari kondisi dalam negeri dan pada
saat yang sama dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dinamis dari lingkungan
regional dan Internasional. hal ini juga terlihat jelas pada implementasi politik
luar negeri Indonesia yang berbeda-beda pada setiap periodenya.8 Sesuai
dengan kepentingan nasional, politik luar negeri Indonesia bersifat bebas dan
aktif tidak dibenarkan memihak pada salah satu blok ideologi yang ada. Politik
bebas dan aktif bukanlah politik netral, melainkan suatu politik luar negeri yang
tidak mengikat diri pada salah satu blok ataupun pakta militer. Tujuannya ialah
mempertahankan kebebasan Indonesia terhadap imperialisme modern dalam
segala bentuk manifestasinya. Secara konseptual, tujuan Politik luar negeri

5 Windiani Rini. Politik Luar Negeri Indonesia dan Globalisasi.


6 Noventari Widya, (tanpa tahun), Peran diplomatik Politik Luar Negeri dan Angkatan Perang dalam
Mewujudkan Stabilitas Nasional. Univeritas Gadjah Mada : Program studi ketahanan Nasional. h. 122
7 Situmorang Mangadar, (tanpa tahun), Orientasi Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia dibawah
pemerintahan Jokowi-JK. (Universitas Katolik Parahyangan : Jurusan Ilmu Hubungan Internasional) h. 67
8 Rini, Op.Cit. h.1

Sejarah Nasional Indonesia VI 225


dipahami sebagai seangkaian kepentingan dan nilai-nilai kolektif yang berkaitan
dengan perilaku negara lain.
Seringkali tujuan dalam politik luar negeri dirumuskan secara sederhana
dengan konsep kepentingan nasional. Dengan kata lain, tujuan politik luar
negeri itu merupakan fungsi dari proses-proses tujuan negara baik dalam
jangka panjang, menengah, pendek, yang di rumuskan secara konkrit dengan
mempertimbangkan situasi Internasional dan kababilitas yang di milikinya.9
Politik luar negeri bebas aktif dicetuskan pertama kali oleh Sutan Syahrir
di New delhi pada tahun 1947, pada saat Inter Asia Relations Conference. Pada
waktu itu Sjahrir mengatakan dalam buku Deplu (1996) yang dikutip oleh Agus
Heryanto (2014 : 23) :

“dunia tampaknya memaksa kita untuk membuat pilihan antara


kekuatan yang saling bermusuhan sekarang, antara Blok Anglo saxon dan
Soviet Rusia. tetapi kita secara benar menolak untuk dipaksa. kita mencari
wujud internasional, yang sesuai dengan kehidupan interen kita dan kita
tidak ingin terperangkap dalam sistem-sistem yang tidak cocok dengan
kita dan tentu saja tidak ke dalam sistem-sistem yang bermusuhan dengan
tujuan kita.”

Pernyataan Sutan Sjahrir di atas dapat disimpukan bahwa kebebasan


dalam artian menginginkan Indonesia yang lepas dari perangkap dengan sistem
yang tidak cocok atau sistem yang bermusuhanan. Dengan kata lain, Indonesia
tetap tidak memihak baik Blok Soviet maupun Sekutu.10 Disamping itu juga
pernyataan ini senada dengan pendapat Hatta mengenai politik bebas-aktif yang
disampaikan rapat KNIP, pernyataan Hatta ini kemudian lebih dikenal dalam
bukunya yaitu “Mendayung Diantara Dua Karang”.11
Prinsip bebas aktif sebagai sumber kebijakan luar negeri telah di adopsi
sejak awal kemerdekaan yaitu dalam pembukaan UUD 1945 alinea pertama,
Indonesia percaya “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala
bangsa. Dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,
karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan”. Indonesia juga

9 Agus R. Rahman, Jurnal penelitian Politik pemerintahan Sudilo Bambang Yudhoyono, (Jakarta: LIPI,
2005). h. 54.
10 Agus Heryanto. Prinsip bebas aktif dalam kebijakan luar negeri Indonesia perspektif teori peran. (Vol
IV No.II Desember 2014). h. 23
11 Michael Leifer, Politik Luar Negeri Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1986). hh. 29-30

Sejarah Nasional Indonesia VI 226


percaya, pembentukan negara ini adalah untuk “ikut melaksanaka ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.
dua prinsip tersebut ternyata kemudian menjadi semangat penggerak politik
luar negeri bebas aktif.12
Menurut Reni windiani, agar prinsip bebas aktif cepat dioperasikan, maka
setiap periode pemerintahan menetapkan landasan operasional politik luar
negeri Indonesia yang sesuai dengan kepentingan nasional. Karakter politik luar
negeri Indonesia pada masa periode pertama adalah diplomasi dan jalan perang
gerilya untuk mencapai pengakuan kemerdekaan. Perjuangan ini pada akhirnya
mencapai hasilnya yang gemilang dengan penandatanganan perjanjian KMB
(Konferensi Meja Bundar) yang memberikan pengakuan kemerdekaan dalam
bentuk negara federasi.13

Gambar 6.2 Presiden Soekarno dan Ibu Fatmawati bersama dengan Gubernur Jenderal
Pakistan Khwaja Nazamuddin dalam rangka kunjungannya ke Pakistan
Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tahun 1949,
Indonesia mulai melakukan berbagai langkah politik luar negeri guna
memperkuat posisi dan kedudukan Indonesia di mata internasional. Pada bulan
Januari 1950, Presiden Soekarno mengadakan perlawatan ke India, Pakistan, dan

12 Ibid. h. 17
13 Rahman. Op.Cit. h. 56

Sejarah Nasional Indonesia VI 227


Birma. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama kalinya Presiden Indonesia
ke luar negeri setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.14
Pada periode kedua tahun 1949-1958, politik luar negeri Indonesia
menekankan pada kelanjutan dari hasil perjuangan diplomasi pengakuan
Internasional terhadap kemerdekaan Indonesia. sebagai kelanjutan perjuangan
kemerdekaan ini, Indonesia berambisi untuk membantu negara-negara yang
masih dalam cengkraman kolonialisme negara-negara Eropa. Dalam hal ini, Eropa
lebih dianggap sebagai negara kolonialisme yang belum berniat memerdekakan
daerah-daerah jajahannya (Rahman, 2005: 56). Konferensi Asia Afrika (KAA)
adalah salah satu realisasi politik luar negeri Indonesia selepas pengakuan
kemerdekaan dari Belanda. Prinsip bebas-aktif diaplikasikan dengan menjadi
negara inisiator KAA dan GNB.15 Hal ini di anggap sebagai perolehan politik
luar negeri Indonesia yang terbesar kedua setelah pengakuan kemerdekaan
dari Belanda, ketika bentuk pemerintahan di Indonesia adalah pemerintahan
parlementer.
Pada periode kedua ini kondisi pemerintahan sesungguhnya tidaklah
stabil. Partai politik yang terkemuka masing-masing menaruh kecurigaan yang
mendalam terhadap rencana politik luar negeri setiap kabinet yang berkuasa.
Didalam negeri sendiri muncul masalah terkait separatisme seperti munculnya
RMS (Republik Maluku Selatan) Pada tahun 1950, berkat keberhasilan menumpas
pemberontakan kelompok militer di Sumatera, sentimen anti Barat dan Anti
Amerika semakin tumbuh di dalam negeri. Namun imbasnya, orientasi politik
di dalam negeri bergerak ke arah kiri (komunis) (Rahman, 2005: 56). Periode
ketiga adalah periode 1959-1965 yang dikendalikan secara penuh dan otoriter
di bawah kekuasaan presiden Soekarno.

14 Sekretaris Negara Republik Indonesia. 30 Tahun Indonesia Merdeka. h. 22-23


15 Heryanto. Op.Cit. h. 24.

Sejarah Nasional Indonesia VI 228


2 Peta Politik Dunia
(Blok Barat dan Blok Timur)

Pada masa akhir perang dunia kedua, Presiden


Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt memiliki
reminder gagasan untuk membentuk suatu kerjasama dan
Pada bulan september
hubungan komplementer bagi setiap negara dengan
tahun 1950 dalam
Sidang Majelis Umum, memposisikan negara-negara besar sebagai penjaga
PBB menerima perdamaian dunia. Gagasan Roosevelt inilah yang
Indonesia menjadi
Anggotanya yang
pada akhirnya melahirkan pembentukan organisasi
ke-60. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan
menempatkan lima Negara besar (Amerika Serikat,
Uni Soviet, Inggris, Cina, Prancis) sebagai pemegang hak veto. Namun pada
pelaksanaannya tujuan PBB tidak berjalan lancar, hal ini dikarenakan Amerika
serikat dan Uni Soviet selalu menaruh kecurigaan dan saling merasa terancam
antara satu sama lain. Permasalahan diantara kedua negara ini mengakibatkan
terjadinya perang dingin antara Amerika Serikat sebagai Blok Barat dengan Uni
Soviet sebagai Blok Timur.16

Gambar 6.3 Kunjungan Presiden Uni Soviet K.E Virosyilov sedang menyaksikan tarian-tarian
Indonesia yang disajikan di Istana Negara pada tanggal 6 Mei 1957.
Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.
16 Lilik Salama, Menijau Kembali Konflik Perang Dingin : Liberalisme VS Komunisme, (Surabaya: jurnal
Universitas Airlangga, 2007). hh. 1-2

Sejarah Nasional Indonesia VI 229


Konflik diantara kedua negara ini diperlihatkan dengan persaingan yang
dilakukan oleh keduanya dalam menanamkan pengaruh dan ideologinya. AS
menyebarkan pengaruh liberalisme dengan cara memperluas jalur perdagangan
dan memberikan bantuan ekonomi dengan dalih memperjuangkan HAM (Hak
Asasi Manusia). Sedangkan Uni Soviet menyebarkan pengaruh komunisnya
dengan memberi bantuan persenjataan serta isu perjuangan pembebasan
melawan imperialisme dan kolonialisme. Persaingan di antara kedua negara juga
di tunjukan dalam bidang militer, dimana kedua negara ini saling mengembangkan
persenjataan terutama senjata nuklir. Hal inilah yang menyebabkan negara-
negara lain yang tidak terlibat dalam perang dingin merasa khawatir.17
Menurut Robert McNamara, dikutip dari jurnal
Meninjau kembali Konflik Perang Dingin bahwasannya
terjadinya konflik perang dingin itu dikarenakan
reminder
oleh AS yang telah salah persepsi terhadap Ideologi Politik luar negeri
Komunis yang menekankan “Class Struggle”. Pertama, bebas aktif Indonesia
dicetuskan pertama
doktrin Socialism in one country, yang diartian kali oleh Sutan Syahrir
oleh pihak barat bahwa Uni Soviet ingin menjadi di New delhi pada
tahun 1947, pada saat
satu-satunya negara sosialis yang mengusai dunia.
Inter Asia Relations
Kecurigaan Amerika Serikat ini semakin membesar Conference.
karena pengaruh komunis yang semakin meluas dan
banyak negara-negara yang menjadi komunis.18
Kedua persepsi AS tersebut diperkuat dengan ditemukannya dokumen
yang membenarkan bahwa pengaruh Uni Soviet semakin meluas dan AS juga
menemukan dokumen yang menyatakan bahwa perlunya tindakan ofensif
pada negara-negara satelit di Eropa Timur, dan negara yang tidak mematuhi
komunisme di bawah Uni Soviet. AS menganggap bahwa dokumen ini benar,
hal ini didasari sikap keras Uni Soviet memboikot Dewan PBB karena tidak mau
menerima wakil rezim komunis Cina pada tahun 1950. Sejak saat itulah AS
melakukan pengekangan agar pengaruh komunis tidak menyebar.
Langkah-langkah yang dilakukan AS untuk mengekang penyebaran
pengaruh komunis yakni, secara politik menyebarkan ideologi liberal-demokrasi
sebagai ideologi yang humanis dan secara bersamaan menyampaikan bahaya
17 Ibid, h. 2
18 Salama. Op.Cit. hh. 7-11

Sejarah Nasional Indonesia VI 230


komunis. Selain itu, AS juga mengeluarkan Uni Soviet dari kelompok Eropa.
Dalam bidang ekonomi, tindakan yang dilakukan AS antara lain yakni memberi
bantuan ekonomi kepada negara- negara dunia ketiga, serta negara-negara Eropa
dengan program Marshal Plan yang digagas oleh George C Marshal. Namun
kemudian, ada beberapa negara yang menolak bantuan-bantuan tersebut, dan
menyatakan dirinya tidak termasuk dalam salah satu blok, inilah cikal-bakal
munculnya kelompok Non-Blok.19

3 Politik Indonesia dalam


Konflik Perang DIngin
Dalam peta persaingan politik dunia, Indonesia mengambil sikap netral
atau tidak memihak, dimana pada tahun 1950 dan seterusnya peta perpolitikan
dunia terbagi menjadi dua kelompok yang disebutkan sebelumnya. Meskipun
secara resmi pemerintah Indonesia mengambil sikap tidak memihak, namun
faktanya hubungan politik luar negeri Indonesia justru lebih dekat dengan
negara-negara Blok Timur (sosialis).
Politik luar negeri bebas-aktif yang dijalankan oleh Indonesia adalah
berdasarkan dari Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana yang tercantum dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu :”bahwa Pemerintah Negara
Republik Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Politik luar negeri
yang bebas-aktif juga berarti
mendukung kemerdekaan
bangsa-bangsa dari kungkungan
penjajahan, mempererat
hubungan dengan bangsa-
bangsa lain dengan sama derajat,
tegak sama tinggi dan duduk
sama rendah.20
Gambar. 6.4 Presiden Soekarno sedang menyampaikan pidatonya pada Sidan KTT Non
Blok di Beograd. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.
19 Ibid. hh. 11-14
20 Drs. A.W. Widjaja, Indonesia, Asia-Afrika, Non-Blok dan Politik Bebas Aktif, (Jakarta: Bina Aksara, 1986),
h. 14

Sejarah Nasional Indonesia VI 231


Gagasan politik luar negeri bebas aktif dicetuskan
oleh Wakil Presiden RI yang pertama, Mohammad
reminder
Pada masa Demokrasi Hatta dihadapan BPKNIP pada tanggal 2 September
Terpimpin Indonesia 1948. Selanjutnya di dalam Garis-garis Besar Haluan
di bawah Presiden
Negara disebutkan “Dalam bidang politik luar negeri
Soekarno lebih
condong bersahabat yang bebas aktif diusahakan agar Indonesia dapat
dengan negara-negara terus meningkatkan perannya dalam memberikan
komunis dan sosialis
yang menjadikan
sumbangannya untuk turut serta menciptakan
pelaksanaan politik perdamaian dunia yang abadi, adil, dan sejahtera”.21
luar negeri Indonesia Menurut Wardaya dalam jurnal Haryanto,
sangat agresif
bahwasannya sikap tegas Soekarno untuk
mengaplikasikan prinsip bebas-aktif terlihat dari
pertemuan antara Presiden Soekarno dan Presiden Kennedy pada 24 April 1961
di Washington. Dalam pertemuan tersebut, Kennedy meminta agar Indonesia
sebagai negara merdeka tidak begitu saja dikuasai oleh kekuatan komunis.
Namun Menlu Soebandrio yang turut hadir menyatakan bahwa Indonesia tidak
mau diatur-atur oleh Washington. Pernyataan Soebandrio ini senada dengan
Soekarno dalam pidatonya yang berjudul Jalannya Revolusi Kita (jarek). Dalam
pidatonya tersebut, Soekarno menyebut bahwa apa yang oleh orang luar disebut
“Policy of Neutralism” bagi politik luar negeri yang dianut oleh Indonesia adalah
salah. Indonesia kata Soekarno “tidak netral, kita tidak penonton langsung
daripada kejadian-kejadian di dunia ini, kita tidak tanpa prinsip, kita tidak tanpa
pendirian. Kita menjalankan politik bebas-aktif itu tidak sekedar secara ‘cuci
tangan’, tidak sekedar secara defensif, tidak sekedar secara apologentis.22
Dengan kata lain, politik luar negeri Indonesia pada periode ketiga
bercirikan anti kolonial dan anti barat. Bahkan, secara tidak resmi, Indonesia
di bawah Presiden Soekarno lebih condong bersahabat dengan negara-negara
komunis dan sosialis yang menjadikan pelaksanaan politik luar negeri Indonesia
sangat agresif.23

21 Ibid. h. 15
22 Heryanto. Op.Cit. h. 24
23 Rahman. Op.Cit. h. 56.

Sejarah Nasional Indonesia VI 232


studi kasus

Uji Analisa 3 BAB 6


1. Setelah Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan oleh Belanda, politik luar negeri
bebas aktif Indonesia masih terus dijalankan, akan tetapi pada kenyataannya politik luar
negeri Indonesia lebih ke arah negara-negara Komunis dan sosialis, mengapa demikian?
Berikan analisa anda.
2. Berikan analisa anda, mengapa blok barat sangat tidak menyukai ideologi komunis?
___________________________________________________________
Jawab :

Sejarah Nasional Indonesia VI 233


RANGKUMAN

Politik luar negeri indonesia erat kaitannya dengan kerja sama dengan
negara lain untuk mempertahankan kepentingan nasional suatu negara.
kepentingan nasional itu dapat dicapai dalam wilayah negara itu sendiri maupun
diluar wilayah negara. Departemen luar negeri Republik Indonesia (2006)
menjelaskan bahwa politik luar negeri adalah kebijakan, sikap dan langkah
pemerintahan RI yang diambil dalam melakukan hubungan dengan negara lain,
organisasi Internasional dan subjek hukum Internasional lainnya dalam rangka
menghadapi masalah Internasional guna mencapai tujuan nasional.
Politik luar negeri bebas-aktif pada tahun 1950-1965 yang dijalankan
oleh Indonesia adalah berdasarkan dari Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana
yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu :”bahwa
Pemerintah Negara Republik Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Politik luar
negeri yang bebas aktif juga berarti mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa
dari kungkungan penjajahan, mempererat hubungan dengan bangsa-bangsa
lain dengan sama derajat, tegak sama tinggi dan duduk sama rendah.
Selain mengadakan hubungan baik dengan negara-negara barat, untuk
membuktikan bahwa Indonesia menganut politik luar negeri yang bersifat
bebas-aktif, pada bulan Agustus 1956 Presiden Soekarno mengunjungi Uni
Soviet. Dalam kunjungan ini, Uni Soviet memberikan bantuan ekonomi tanpa
ikatan terhadap Indonesia. Pada bulan yang sama Presiden Soekarno juga
melakukan kunjungan ke Cekoslovakia, Yugoslavia dan kunjungan ke RRC pada
bulan Oktober di tahun yang sama.

Sejarah Nasional Indonesia VI 234


GLOSARIUM

Blok barat Merupakan pengelompokan Negara-negara pada masa


perang Perang dingin yang Bersekutu dengan amerika
serikat dengan paham liberal
Blok timur Merupakan pengelompokan Negara-negara pada masa
perang Perang dingin yang Bersekutu dengan amerika
serikat dengan Paham liberal
Diplomasi Merupakan kegiatan bernegosiasi yang dilakukan
seseorang yang disebut Diplomat yang biasanya
mewakili sebuah Negara atau organisasi
Integritas Adalah suatu konsep yang berkaitan dengan konsistensi
dalam tindaka-tindakan, nilai-nillai, metode-metode,
ukuran, prinsip, ekspetasi dan berbagai hal yang di
hasilkan.
Komunis Adalah sebuah paham yang menekankan kepemilikan
bersama atas alat-alat produksi (tanah, tenaga kerja,
modal) yang bertujan untuk tercapainya masyarakat
yang sejahtra, masyarakat yang tanpa kelas dan semua
orang sama.
Konfrontasi Pertentangan, permusuhan
Konfrensi Adalah kegiatan rapat atau kegiatan pertemua untuk
berunding dalam membahas suatu masalah.
Liberal Merupakan sebuah ideology, pandangan filsafat, dan
tradisi politik yang Didasari oleh pemahaman bahwa
kebebasan dan persamaan hak adalah Nilai politik
yang utama. Secara umum liberalisme mencita-citakan
masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan
berpikir bagi setiap individu.
Non-blok: Merupakan Negara-negara yang bersifat netral pada
masa perang dingin.
Pancasila Merupakan ideology dasar bagi Negara Indonesia.
Pancasila
PBB Perserikatan Bangsa Bangsa.

Sejarah Nasional Indonesia VI 235


Perang Dingin istilah bagi sebuah periode diaman terjadi konflik,
ketegangan dan kompetisi atau persaingan antara
Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok barat)
dan Uni Soviet (berserta sekutunya disebut blok timur )
RIS Singkatan dari Republik Indonesia Serikat

Sejarah Nasional Indonesia VI 236


latihan

Berikut ini terdapat beberapa butir soal latihan yang perlu mahasiswa
kerjakan, dengan tujuan agar mahasiswa dapat lebih memahami dan menguasai
materi mengenai sejarah nasional Indonesia sesuai dengan materi yang telah
diberikan dan diuraikan secara ringkas dalam Bab ini. Adapun soal essay dikerjakan
pada kertas double folio dengan maksimal jawaban per soal sebanyak 500 kata,
sedangkan soal multiple choice/ pilihan ganda dapat anda jawab dengan hanya
menuliskan salah satu jawaban yang benar pada lembar kertas double folio.
Selamat mengerjakan.

ESSAY
1. Jelaskan bentuk politik luar negeri Indonesia pada masa RIS
2. Bagaimana bentuk politik luar negeri Indonesia pada masa Demokrasi
Liberal.
3. Apa yang dimaksud dengan politik luar negeri bebas aktif.
4. Jelaskan penyebab timbulnya Blok Barat dan Blok Timur
5. Jelaskan bentuk kerjasama internasional yang dilakukan Indonesia pada
masa Orde Lama.

PILIHAN GANDA
1. Politik luar negeri Indonesia setelah pengakuan kedaulatan Indonesia
sebagian besar dititikberatkan pada negara-negara Asia dan Barat yang
bertujuan untuk...
a. Memihak pada Blok Barat
b. Kepentingan ekonomi yang berpusat di Asia
c. Kepentingan ekonomi Indonesia yang masih berpusat di Belanda dan
Eropa Barat
d. Kepentingan Politik Luar Negeri Indonesia

Sejarah Nasional Indonesia VI 237


2. “dunia tampaknya memaksa kita untuk membuat pilihan antara kekuatan
yang saling bermusuhan sekarang, antara blok Anglo saxon dan soviet
rusia. tetapi kita secara benar menolak untuk dipaksa. kita mencari wujud
internasional, yang sesuai dengan kehidupan interen kita dan kita tidak
ingin terperangkap dalam sistem-sistem yang tidak cocok dengan kita dan
tentu saja tidak ke dalam sistem-sistem yang bermusuhan dengan tujuan
kita.”Pernyataan diatas merupakan pidato yang menentukan arah politik
luar negeri Indonesia. Pidato di atas disampaikan oleh...
a. Soekarno c. Sutan Syahrir
b. Moh Yamin d. Moh. Hatta
3. Ali Sastroamijoyo mengemukakan betapa pentingnya usaha melaksanakan
kerja sama antara negara-negara Asia Afrika, hal ini bertujuan untuk...
a. Memperbaiki perekonomian Uni Indonesia-Belanda
b. Memperkuat usaha ke arah tercapainya perdamaian dunia yang kekal
c. Membentuk persekutuan di antara negara-negara Asia Afrika
d. Membentuk organisasi saingan PBB

4. Dalam melaksanakan politik luar negeri, Indonesia berlandaskan pada...


a. Pembukaan UUD Aline Pertama dan Keempat
b. Pembukaan UUD Alinea Kedua dan Keempat
c. Pembukaan UUD Alinea Pertama dan Kedua
d. Pembukaan UUD Alinea Ketiga dan Keempat

5. Peta politik dunia pada tahun 1950an terbagi menjadi dua, yaitu...
a. Blok Asia dan Blok Afrika
b. Blok Timur dan Blok Barat
c. Blok Utara dan Selatan
d. Blok Asia Afrika dan Blok Eropa

6. Peta politik blok barat dipimpin oleh...


a. Belanda
b. Jerman
c. Rusia
d. Amerika Serikat
Sejarah Nasional Indonesia VI 238
7. Gerakan politik yang tidak memihak pada blok manapun dalam perpolitikan
luar negeri suatu negara disebut dengan...
a. Ganefo c. PBB
b. Nefo d. Non Blok

8. Pada masa perang dingin, paham Komunis merupakan paham yang dianut
oleh negara...
a. Rusia, Jerman, Inggris
b. Rusia, Cina, dan Kuba
c. Rusia, Indonesia, dan Cina
d. Rusia, Kuba, dan Indonesia

9. Pada tahun 1950 dibulan September, Indonesia resmi menjadi Anggota PBB
ke...
a. 58 c. 60
b. 59 d. 61

10. Kerjasama antara Indonesia dan Amerika Serikat pada masa Kabinet Sukiman
yang kemudian dikenal dengan Sukiman-Cochran, berisikan kerjasama dalam
bidang...
a. Ekonomi dan Militer c. Ekonomi dan Kesehatan
b. Ekonomi dan Teknik d. Militer dan Teknik

Sejarah Nasional Indonesia VI 239


DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU
Heryanto, Agus. Prinsip bebas aktif dalam kebijakan luar negeri Indonesia
perspektif teori peran. (Vol IV No.II Desember 2014)
Kusumaatmadja, Mochtar. Politik Luar Negeri Indonesia dan Pelaksanaanya
Dewasa Ini. (Bandung: Alumni-Bandung, 1983).
Murtamadji. Kegagalan Perang Dingin Antar Dua Negara Adidaya: Faktor
Penyebab dan Implikasinya. (Yogyakarta: UNY, 2001).
Noventari Widya. Peran diplomatik Politik Luar Negeri dan Angkatan Perang
dalam Mewujudkan Stabilitas Nasional. (Univeritas Gadjah Mada :
Program studi ketahanan Nasional).
Oktorino, Nino. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya. (Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi,
2009).
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional
Indonesia VI. (Jakarta: Balai Pustaka, 2011).
Prawirasaputra, Sumpena. Politik Luar Negeri Republik Indonesia. (Bandung:
Remaja Karya CV, 1985).
Rahman, Agus R. Jurnal penelitian Politik pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono. (Jakarta: Lipi, 2005).
Salama, Lili. Meninjau Konflik Perang Dingin: Liberalism Vs Komunisme.
(Surabaya: Universitas Airlangga, 2007).
Sekretaris Negara Republik Indonesia. 30 Tahun Indonesia Merdeka. (Jakarta:
Citra Lemtoro Gung Persada, 1988).
Situmorang Mangadar. Orientasi Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia
dibawah pemerintahan Jokowi-JK. (Universitas Katolik Parahyangan :
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional).
SN, Arifin dan Efantino F. Ganyang Malaysia. (Yogyakarta: Bio Pustaka, 2009).
Widjaja, A.W. Indonesia Asia Afrika Non Blok Politik Bebas Aktif. (Jakarta: Bina
Aksara, 1986).
Windiani, rani. Politik luar negeri Indonesia dan Globalisasi.

Sejarah Nasional Indonesia VI 240


7
KONFERENSI ASIA AFRIKA

Sejarah Nasional Indonesia VI 241


Keterangan:
11. Menjelaskan Sistem Negara
1. Memahami Materi Sejarah Nasional Kesatuan Republik Indonesia
Indonesia I 12. Kehidupan Berbangsa dan
2. Memahami Materi Sejarah Nasional Bernegara Masa RIS
Indonesia II 13. Menjelaskan Sistem Negara
3. Memahami Materi Sejarah Nasional Indonesia Berdasarkan UUDS 1950
Indonesia III 14. Menjelaskan Keadaan Sosial
4. Memahami Materi Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia Pada Masa
Indonesia IV Demokrasi Liberal
5. Memahami Materi Sejarah Nasional 15. Menjelaskan Sistem Ekonomi
Indonesia V Indonesia Masa Demokrasi Liberal
6. Menjelaskan Hasil Konferensi Meja 16. Menjelaskan Usaha Pemerintah
Bundar dan Pembentukan Republik Indonesia dalam Memperbaiki
Indonesia Serikat (RIS) Ekonomi Nasional
7. Menjelaskan Keadaan Sosial, 17. Menjelaskan Berbagai
Politik, Ekonomi, dan Hankam Masa pemberontakan di Indonesia Masa
Republik Indonesia Serikat Demokrasi Liberal dan Terpimpin
8. Menjelaskan Konsep dan Sistem 18. Menjelaskan Keadaan Militer
Pemerintahan RIS Indonesia Masa Demokrasi Liberal
9. Membandingkan Konstitusi RIS dan 19. Menjelaskan Ketidakstabilan Politik
UUD 1945 Dalam Negeri Indonesia
10. Menjelaskan Faktor Penyebab 20. Menjelaskan Pelaksanaan Pemilu I
Kembalinya RIS Menjadi NKRI Tahun 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 242


21. Menjelaskan Politik Luar Negeri 31. Menjelaskan Kebijakan Politik
Indonesia Pemerintah Indonesia Masa
22. Menjelaskan Keadaan Sosial Demokrasi Terpimpin
Ekonomi Indonesia Masa Demokrasi 32. Menjelaskan Perpolitikan PKI di
Liberal Indonesia (1960-1965)
23. Menjelaskan Kehidupan Sosial 33. Menjelaskan Politik Konfrontasi
Budaya Pada Masa Demokrasi Indonesia dengan Malaysia
Liberal 34. Menjelaskan Penyebab Keluarnya
24. Menjelaskan Keadaan Hankam Indonesia dari PBB dan Konferensi
Indonesia Masa Demokrasi Liberal Asia Afrika
25. Menjelaskan Perpolitikan Indonesia 35. Menjelaskan Upaya Pembebasan
Masa Demokrasi Liberal Irian Barat
26. Menjelaskan Keadaan Indonesia 36. Menjelaskan Peristiwa Gerakan 30
Masa Demokrasi Liberal September
27. Menjelaskan Konsepsi Soekarno 37. Menjelaskan Keadaan Indonesia
28. Menjelaskan penyebab Masa Demokrasi Terpimpin
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 38. Menjelaskan Politik Indonesia
Juli 1959 Masa Demokrasi Terpimpin
29. Berlakunya Kembali UUD 1945 39. Menjelaskan Kehidupan Berbangsa
30. Menjelaskan Deklarasi Ekonomi dan Bernegara Indonesia Masa
(DEKON) Orde Lama

Sejarah Nasional Indonesia VI 243


Bab sebelumnya telah dibahas mengenai politik
luar negeri Indonesia selama masa demokrasi liberal dan
demokrasi terpimpin (1950-1965). Pada masa tersebut
kondisi dunia sedang dilanda Perang dingin, yaitu
ketegangan politik dan militer yang terjadi antara Amerika
Serikat dan Uni Soviet yang kemudian menjadikan peta
politik dunia terbagi menjadi dua blok yaitu blok barat yang beraliran liberal
dan blok timur yang beraliran komunis yang saling berebut pengaruh. Dalam
melaksanakan politik luar negerinya, Indonesia menerapkan politik luar negeri
bebas aktif, dengan kata lain Indonesia tidak memihak dan berat sebelah. Dalam
bab ketujuh ini akan dibahas salah satu politik luar negeri Indonesia dalam
kawasan Asia dan Afrika.
Dilaksanakannya Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955
menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pencetus perdamaian dunia
dan mencegah usaha kembalinya Imperialisme negara-negara barat terhadap
wilayah negara-negara di kawasan Asia Afrika. Diharapkan setelah membaca
dan mempelajari bab ketujuh ini mahasiswa diharapkan dapat memahami
konsep politik luar negeri Indonesia dalam kawasan Asia Afrika. Adapun tujuan
instruksional khusus pada bab ini sebagai berikut:

Tujuan Instruksional Umum (TIU)

1. Mendeskripsikan latar belakang dilaksanakannya Konferensi Asia


Afrika tahun 1955.

Setelah mempelajari Bab VII, mahasiswa diharapkan dapat:


1. Menjelaskan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA)
2. Menguraikan hasil dan tujuan KAA
3. Menyimpulkan pengaruh KAA bagi dunia
4. Menganalisis keuntungan yang diperoleh Indonesia sebagai tuan
rumah KAA

Sejarah Nasional Indonesia VI 244


1 Latar Belakang Konferensi
Asia Afrika

Ketika Indonesia merdeka, dunia terbagi kedalam


dua kubu utama yang terbentuk setelah Perang Dunia
reminder II, yaitu: blok barat yang dipimpin Amerika Serikat dan
Pada saat politik
perang dingin Blok blok timur yang berada dipimpinan Uni Soviet. Kedua
Timur dan Blog Barat, Blok terlibat dalam Perang Dingin, yaitu ketengangan
setiap negara harus
memihak ke salah satu dan persaingan untuk memperebutkan pengaruh-
blok, bagi negara- pengaruh di Dunia dengan memanfaatkan upaya
negara yang tidak
politik, ekonomi, sosial, dan budaya.1 Kedua Kekuatan
“pro” sudah di anggap
“Anti”, sedangkan bagi itu masing-masing mempunyai sistem politik dan
yang bersikap netral bentuk pemerintahan yang berbeda satu sama lain.
dikutuk. Indonesia
tetap kokoh dengan
Keduanya saling bertentangan dan berlomba-lomba
politik bebas aktifnya. menyusun dan mengembangkan kekuatannya baik
secara politis maupun militer, meliputi penyebaran
pengaruh politik dan pengembangan senjata nuklir. Tiap-tiap pihak menuntut
setiap semua negara di dunia ini menjatuhkan pilihannya kepada salah satu blok
itu. Bagi negara-negara yang tidak “pro” sudah di anggap “Anti”, sedangkan bagi
yang bersikap netral dikutuk.2

Gambar 7.1 Penaikan bendera negara-negara Peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung pada
tanggal 18 April 1955. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.
1 Nino Oktorino, Ensiklopedia Sejarah dan Budaya, (Jakarta: Lentera Abadi, 2009). h. 250
2 Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2011). h. 328

Sejarah Nasional Indonesia VI 245


Politik luar negeri sendiri adalah politik untuk mencapai tujuan nasional
dengan menggunakan segala kekuasaan dan kemampuan yang ada. Interaksi
dengan tujuan nasional dengan sumber-sumber yang digunakan adalah subjek
yang kekal dari Ilmu kenegaraan. Hubungan politik luar negeri dengan dalam
negeri terutama peristiwa-peristiwa di dalam negeri mempunyai konsekuensi-
konsekuensi Internasional, atau politik luar negeri bebas-aktif itu mempunyai
dampak-dampak domestik.3
Bebas-aktif adalah haluan politik luar negeri Indonesia, yang berdasarkan
atas Pancasila dan UUD 1945. Bebas, berarti tidak terikat oleh suatu ideologi atau
oleh politik negara asing atau blok negara-negara tertentu (umumnya negara-
negara adikuasa atau super power). Aktif, berarti melakukan sumbangan realistis
dan giat dalam mengembangkan kebebasan persahabatan dan kerja sama
Internasional dengan menghormati kedaulatan negara lain. Politik luar negeri
yang bebas-aktif mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa dari genggaman
penjajah dan mempererat hubungan dengan bangsa-bangsa lain.4
Politik luar negeri Republik Indonesia mempunyai landasan dan dasar yang
kuat karena berakar dalam falsafah Pancasila itu sendiri. Bagaimanapun kita
tidak bisa menyimpang dari falsafah tersebut dan harus tetap setia pada dasar-
dasar atau landasan pokok politik luar negeri yang oleh perintis kemerdekaan
dituangkan dalam mukadimah UUD 1945 yang mencerminkan cita-cita atau ide
bangsa Indonesia.5
Unsur-unsur politik luar negeri bebas-aktif menurut B.A.Ubani adalah
sebagai berikut :
1. Kebebasan menentukan sendiri pendirian dalam masalah-masalah
Internasional sesuai dengan kepentingan nasional.
2. Keterlepasan dari ikatan blok ideologi atau blok militer manapun.
3. Keaktifan dan kepositifan dalam mencapai perdamaian dunia
berdasarkan kemerdekaan dan persamaan bangsa-bangsa serta
keadilan sosial.
4. Perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk
dan manifestasinya.
3 Sufri Yusuf, Hubungan Internasional dan politik Luar Negeri, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998) h.
110
4 Drs. A.W. Widjaja, Indonesia Asia-Afika Non Blok, Politik Bebas Aktif, (Jakarta: Bina Aksara, 1986). h. 14
5 Mochtar Kusumaatmadja. Politik Luar Negeri Indonesia dan Pelaksanaannya Dewasa Ini,
(Bandung : Penerbit Alumni, 1983). h. 6
Sejarah Nasional Indonesia VI 246
5. Kerjasama Internasional di bidang politik, ekonomi, dan sosial yang
saling menguntungkan tanpa membeda-bedakan sistem sosial negara-
negara yang bersangkutan.
6. Hidup berdampingan secara damai dan bertetangga dengan baik.
7. Menghormati kedaulatan negara-negara lain.
8. Tidak mencampuri urusan negara lain.6
Pada masa pemerintahan kabinet Ali Sastroamidjojo, pemerintah Republik
Indonesia tidak lagi menitikberatkan hubungannya dengan Barat. Sikap anti-
kolonialisme Ali menjadikan pemerintahan Republik Indonesia lebih condong
ke negara-negara Asia-Afrika dan blok Timur. Ali merintis hubungan diplomatik
bebas-aktif yang garang untuk menggalang solidaritas negara-negara Asia dan
Afrika guna menghapuskan kolonialisme sekaligus meredakan ketegangan dunia
yang ditimbulkan oleh persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur.7
Republik Indonesia penganut politik luar negeri netral karena menolak
untuk mengaitkan dirinya kepada negara atau kekuatan manapun, betapapun
besarnya politik dan sikap Indonesia dilandaskan kepada kemerdekaan dan
bertujuan untuk memperkuat perdamaian. Terhadap dua kekuatan “raksasa”
dunia yang bertentangan itu Indonesia tidak mau memilih salah satu pihak.
Indonesia mengambil jalan sendiri dalam menghadapi masalah-masalah
Internasional, beranjak dari sinilah Indonesia akhirnya menganut istilah “Politik
Bebas Aktif”.8

2 Pertemuan dan Usulan Sebelum KAA

Konferensi Asia Afrika di cetuskan oleh Ali Sastroamidjojo yang menyarakan


agar pertemuan-pertemuan selanjutnya diperluas dengan pemimpin-pemimpin
negara-negara lainnya dari Asia-Afrika. Selanjutnya dalam akhir kunjungan
Ali Sastroamidjojo ke India pada tanggal 25 September 1954 di New Delhi,
dikeluarkan pernyataan bersama antara Indonesia-India yang menekankan
kembali perlunya diselenggarakan konferensi negara-negara Asia-Afrika

6 M. Sabir, Quo Vadis Nonblok?, (Jakarta: CV Haji Masagung, 1990). h. 2


7 Oktorino. Op.Cit. h. 250
8 Poesponegoro dan Notosusanto. Op.Cit..h. 329

Sejarah Nasional Indonesia VI 247


yang akan bermanfaat bagi usaha menunjang
perdamaian dunia serta mengadakan pendekatan-
reminder
Pada tanggal 25 September pendekatan mengenai masalah-masalah yang
1954 di New Delhi, sedang dihadapi. Setelah berkunjung ke India,
dikeluarkan pernyataan
Ali Sastroamidjojo mengunjungi Burma, dimana
bersama antara Indonesia-
India yang menekankan Perdana Menteri Burma juga menganggap bahwa
kembali perlunya Konferensi Asia Afrika perlu dan akan bermanfaat
diselenggarakan konferensi
negara-negara Asia-Afrika
bagi perdamaian dunia setelah itu diadakan
yang akan bermanfaat pertemuan kembali para Perdana Menteri
bagi usaha menunjang peserta Konferensi Kolombo di Indonesia untuk
perdamaian dunia serta
mengadakan pendekatan- membicarakan persiapan-persiapan konferensi
pendekatan mengenai negara-negara Asia-Afrika di Indonesia.9 Sebelum
masalah-masalah yang
Konferensi Asia-Afrika dilaksanakan, terlebih
sedang dihadapi negara-
negara Asia Afrika. dahulu diadakan konferensi pendahuluan sebagai
persiapan, antara lain sebagai berikut:

a. Pertemuan Colombo
Pertemuan negara-negara non-blok yang berlangsung di Colombo,
Srilanka, merupakan konferensi menyatakan diri tidak memihak sesuatu blok,
dan konferensi ini telah mengambil begitu banyak resolusi, keputusan, dan
seruan, diantaranya meliputi soal-soal kontraversil yang dituangkan dalam
deklarasi politik dan deklarasi ekonomi beserta program kerjanya.10
Konferensi Colombo menegaskan bahwa negara-negara Asia Selatan dan
Asia Tenggara mempunyai politik yang berbeda-beda dalam berbagai soal,
namun sikap politik mereka tetap satu untuk mencapai pemecahan masalah
internasional, terutama yang terjadi di Asia dan Afrika. Contohnya semua negara
itu menghendaki penyelesaian peperangan jajahan negara barat di Indo-Cina.
Mereka tidak menginginkan dalam masa gencatan senjata, satu atau kedua
belah pihak memperkuat kedudukan dan menambah senjata sehingga terjadi
lagi perang yang lebih hebat, seperti yang dirasakan Indonesia pada waktu
melakukan peperangan kemerdekaan melawan penjajahan Belanda.11

9 Ibid, h. 330
10 B. M. Diah, Arti Konferensi Bandung, (Jakarta: Penerbit Yayasan 17-8-45, 1980). h. 27
11 Ibid, h. 2

Sejarah Nasional Indonesia VI 248


Pertemuan Colombo ini atas prakarsa Sir John Kotelawala, dan diadakan
di Srilanka pada akhir bulan April 1954. Pertemuan ini dihadiri oleh Perdana
Menteri Burma, Perdana Menteri India, Perdana Menteri Pakistan, Perdana
Menteri Indonesia.12 Para Perdana Menteri tersebut bertemu di Colombo pada
tanggal 28 sampai 30 April serta di Kandy pada tanggal 1 dan 2 Mei 1954 untuk
bertukar pendapat atas kepentingan-kepentingan dan kebutuhan bersama.
Untuk pertama kalinya para perdana menteri negara-negara tersebut bertemu
bersama-sama, dan suasana Informil dan akrab terjadi dalam konferensi ini
untuk mengetahui pendapat masing-masing serta lebih mengenal satu sama
lain.13
Perdana menteri Ali Sastroamidjojo mendasarkan usulannya atas
kenyataan bahwa dalam forum PBB telah muncul konsultasi dan kejasama antar
negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka dalam menghadapi berbagai
masalah. Tetapi diluar forum PBB mesin penampung dan mesin penggeraknya
tidak ada. Itulah sebabnya maka dirasa perlu untuk memberikan bentuk yang
lebih nyata dalam konsultasi dan kerjasama itu dan konferensi yang lebih luas
antar para Perdana Menteri negara-negara Asia dan Afrika.14
Dalam pertemuan tersebut Perdana Menteri Indonesia mengusulkan
agar diadakan suatu pertemuan bangsa-bangsa Asia dan Afrika dengan tujuan
mempererat kerjasama dan meningkatkan usaha-usaha kearah pencapaian
perdamaian dunia. Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo juga mengusulkan suatu
tujuan penting dari politik luar negeri Indonesia untuk pertama kalinya yang
diucapkan dimuka umum tahun 1953.15 Langkah pertama untuk membawa
gagasan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo ini untuk lebih dekat pada
realisasinya adalah pertemuan Bogor yang diadakan pada tahun itu juga.16

b. Pertemuan Bogor
Pada tanggal 28 Desember 1954, para perdana menteri dari negara
Burma, India, Indonesia, Pakistan, dan Srilanka, bertemu di Bogor (Indonesia)

12 Roeslan Abdulgani, Sejarah, cita-cita, dan pengaruhnya (Konferensi Asia-Afrika Bandung), (Jakarta:
Idayu Press, 1977). h. 5
13 Diah. Op.Cit. h. 87
14 Abdulgani. Op.Cit. h. 7
15 Kusumaatmadja. Op.Cit. h. 88.
16 Ibid, h. 88

Sejarah Nasional Indonesia VI 249


atas undangan perdana menteri Indonesia. Hal ini dilakukan karena di Colombo
belum terdapat kesatuan pendapat mengenai baik-tidaknya diadakannya
suatu Konferensi bangsa-bangsa Asia-Afrika, maka sewaktu para Perdana
Menteri bertemu di Bogor tercapailah kesatuan pandangan untuk mengadakan
konferensi demikian. Disamping menyetujui, bahwa konferensi itu juga harus
mendapatkan dukungan bersama dalam pelaksanaannya dimana para perdana
menteri tersebut memutuskan, bahwa pertemuan akan diadakan di Indonesia.17
Para pemimpin-pemimpin politik tersebut sadar akan nasib bangsa-
bangsa yang pada waktu itu belum merdeka di Asia dan Afrika serta gangguan
terhadap perdamaian dan stabilitas politik dunia. Dengan demikian mereka
sepakat bahwa bangsa-bangsa di dunia yang baru merdeka itu, khususnya di
Asia dan Afrika perlu bekerja sama dengan erat dan memainkan peranannya
dalam usaha bersama untuk membangun dunia yang lebih baik. Semua bangsa
dapat bekerja sama untuk kesejahteraan rakyatnya dan untuk perbaikan dunia
serta umat manusia seluruhnya.18
Ditinjau dari perspektif sejarah, keputusan yang diambil di Bogor
oleh para pemimpin-pemimpin pada waktu itu telah menunjukkan suatu
ketajaman perkiraan, keluasan pandangan, keberanian, dan kenyakinan yang
luar biasa. Ketajaman perkiraan, karena mereka secara tepat berpendapat
bahwa kemerdekaan dan kebebasan bangsa-bangsa Asia dan Afrika tidak saja
merupakan hal yang tidak dapat dielakkan, akan tetapi merupakan prasyarat
mutlak bagi setiap usaha untuk merubah keadaan dunia pada waktu itu. Keluasan
Pandangan, karena keyakinan mereka tidak didasarkan atas nasionalisme yang
sempit yang berlandaskan prasangka rasial, melainkan atas dasar-dasar ko-
eksistensi yang berlaku dan yang dapat diterima secara universal. Keberanian,
karena mereka mengusulkan agar supaya bangsa-bangsa yang baru merdeka
itu mengambil tempatnya diantara bangsa-bangsa di dunia dan memainkan
peranannya dalam usaha bersama untuk membangun dunia yang lebih baik atas
dasar persamaan bersama bangsa-bangsa lain, beberapa diantaranya adalah
bekas penjajahan mereka. Keyakinan, karena mereka telah mengambil prakarsa
pada waktu keadaan di dunia nampak jauh dari pada memberi harapan baik
untuk melakukan usaha yang telah diputuskan ke lima negara ini.19
17 Ibid. hh. 89-91
18 Ibid, hh. 89-91
19 Ibid, hh. 89-91

Sejarah Nasional Indonesia VI 250


Pertemuan yang diselenggarakan di Bogor dari tanggal 28-31 Desember
1954 mengajukan rekomendasi untuk :
a) Mengadakan konferensi Asia-Afrika di Bandung dalam bulan April 1955.
b) Menetapkan kelima negara peserta Konferensi Bogor sebagai negara-
negara sponsor.
c) Menetapkan 25 negara Asia-Afrika yang akan diundang.
d) Menentukan empat tujuan pokok dari Konferensi Asia-Afrika yaitu
untuk :
1. Memajukan kemauan baik dan kerja sama antara bangsa-bangsa
Asia-Afrika dalam menjelajah dan memajukan kepentingan-
kepentingan bersama mereka serta memperkukuh hubungan
persahabatan dengan tetangga baik.
2. Mempertimbangkan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan
kebudayaan dari negara-negara yang diwakilinya.
3. Mempertimbangkan masalah-masalah kepentingan khusus dari
bangsa-bangsa Asia-Afrika, seperti masalah kedaulatan nasional,
rasionalisme, dan kolonialisme.
4. Meninjau kedudukan Asia-Afrika dan rakyatnya, serta memberikan
sumbangan yang dapat mereka berikan dalam memajukan kerja
sama dunia.20
Para perdana menteri tersebut menggunakan kesempatan pertemuan
mereka untuk meninjau secara singkat dan umum masalah-masalah yang
menjadi kepentingan serta persoalan bersama bagi mereka. Para perdana
menteri setuju supaya suatu Konferensi Asia-Afrika diadakan atas kesepakatan
mereka bersama. Konferensi akan diadakan di Indonesia dalam minggu terakhir
dari bulan April 1955. Pemerintah Indonesia telah setuju untuk mengadakan
persiapan yang diperlukan bagi Konferensi ini. Di Indonesia akan dibentuk
suatu sekretariat konferensi yang mewakili negara-negara penyelenggara. Para
perdana menteri setuju bahwa konferensi harus mempunyai dasar yang luas dan
semua negara di Asia dan Afrika yang mempunyai pemerintahan yang merdeka,
harus diundang antara lain.21

20 Poesponegoro dan Notosusanto, Op.Cit h. 330


21 Diah, Op.Cit. h. 55.

Sejarah Nasional Indonesia VI 251


Tabel 7.1 Daftar Negara Peserta KAA
1) Afganistan 14) Liberia
2) Kamboja 15) Libya
3) Federasi Afrika Tengah 16) Nepal
4) Tiongkok 17) Filipina
5) Mesir 18) Saudi Arabia
6) Ethiopia 19) Sudan
7) Pantai Emas (Gold Coast) 20) Suriah
8) Iran 21) Thailand
9) Irak 22) Turki
10) Jepang 23) Vietnam (Utara)
11) Jordania 24) Vietnam (Selatan)
12) Laos 25) Yaman
13) Libanon
Diharapkan bahwa 25 negara tersebut bersama dengan 5 negara
penyelenggara yaitu Burma, Srilangka, India, Indonesia dan Pakistan, akan ikut
serta dalam konferensi. Perwakilan dalam konferensi ini diharapkan masing-
masing akan diwakili oleh perdana menteri atau oleh menteri luar negerinya,
bersama-sama dengan wakil-wakil lainnya. Konferensi ini juga diharapkan
menciptakan beberapa poin-poin penting seperti:22
1. Perwakilan dalam Konferensi ini setingkat pertemuan antar menteri
dan diharapkan bahwa masing-masing negara yang diundang akan
diwakili oleh perdana menterinya atau menteri luar negerinya,
bersama wakil-wakil lain yang masing-masing merupakan utusan dari
pemerintah.
2. Para menteri ingin menegaskan bahwa penerimaan undangan oleh
suatu negara sekali-kali tidak akan mengakibatkan atau mengandung
suatu perubahan dalam penandatanganannya tentang status suatu
negara lainnya. Penerimaan undangan itu hanya mengandung
pengertian bahwa negara yang undang itu pada umumnya menyetujui
maksud-maksud konferensi .
3. Para perdana menteri ingin menyatakan bahwa dalam usaha mereka
untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika, mereka tidak digerakkan
oleh sesuatu keinginan untuk berpilih-pilih dalam hal keanggotaan
dari konferensi ini. Mereka pun tidak menginginkan supaya negara-
22 Ibid, h. 57

Sejarah Nasional Indonesia VI 252


negara yang ikut serta membentuk suatu blok kedaerahan untuk
mereka sendiri.
4. Para perdana menteri menyatakan kepuasan mereka terhadap hasil-
hasil dari konferensi Jenewa mengenai Indo-Cina dan penghentian
musuhan. Mereka menyatakan pengharapan mereka supaya
persetujuan-persetujuan Jenewa dihormati dan dijalankan sepenuhnya
oleh semua pihak yang bersangkutan dan tidak ada campur tangan
dari luar yang dapat mengintervensi keputusan tersebut.
5. Para perdana menteri, dalam menyikapi masalah kolonialisme juga
memperhatikan soal Irian Barat di Indonesia. Para perdana pemrakarsa
konferensi ini menyokong pendirian indonesia dalam menyelesaikan
masalah Irian Barat dengan pihak Belanda yang dianggap acuh
terhadap masalah ini.
6. Para perdana menteri menyatakan bahwa mereka akan terus
menyokong tuntutan bangsa-bangsa Tunisia dan Maroko akan
kemerdekaan nasional mereka serta hak yang sah untuk menentukan
nasib sendiri.
7. Para perdana menteri mengulangi kekhawatiran mereka akan bahaya
dari dampak nuklir dan Termo-nuklir yang seringkali digunakan
negara-negara besar dalam rangka pengujicobaan sesuatu (Senjata
umumnya). Mereka menginginkan kepada semua yang bersangkutan
supaya menghentikan percobaan-percobaan itu. Mereka juga meminta
kepada komisi perlucutan senjata untuk segera mempertimbangkan
hal ini.
8. Perkembangan Ekonomi dari negeri Asia juga harus diperhatikan agar
kemakmuran para rakyatnya segera tercipta. Hal ini terkait dengan
pengelolaan segala macam sumber daya alam yang ada di wilayah
tersebut. Kekayaan alam yang telah diselidiki dan diyakini ada tersebut
harus dimanfaat untuk kesejahteraan rakyat banyak.
9. Para perdana menteri berpendapat bahwa kerjasama dalam bidang
ekonomi terutama penyediaan lapangan kerja juga harus mendapat
perhatian pemerintah. Mereka berpendapat bahwa harus dibentuk
suatu panitia yang terdiri dari para ahli yang kompeten dibidang
ekonomi.
Sejarah Nasional Indonesia VI 253
10. Para perdana menteri yang mengadakan pertemuan tersebut,
menyatakan pengharapan mereka yang sungguh-sungguh supaya
tahun 1955 akan menyaksikan lanjutan pertumbuhan dalam kerjasama
persahabatan baik antara negeri-negeri yang di wakili dalam Konferensi
ini maupun negeri-negeri lain yang bertujuan untuk memajukan
perdamaian dunia.23

3 Pelaksanaan Konferensi Asia-


Afrika Tahun 1955

Gambar 7.2 Suasana sidang Konferensi Asia Afrika di Bandung.


Sumber: www.google.co.id/image

Setelah Konferensi Bogor dilaksanakan,


kemudian dari tanggal 18-25 April 1955
diselenggarakan Konferensi Asia-Afrika di Gedung reminder
Merdeka (Bandung) dengan dihadiri oleh 24 negara
Penyelenggaraan
undangan dan 5 negara pemrakarsa beserta para Konferensi Asia-
wakilnya yaitu : Afrika sebenarnya
telah dirintis
Indonesia : Mr. Ali Sastroamidjojo
dalam pertemuan
India : Pandit Jawaharlal Nehru lima negara Asia,
Pakistan : Mohammad Ali Jinnah pertemuan tersebut
dimulai pada tanggal
Burma : U Nu 28
Sri Langka : Sir John Kotelawala

23 Ibid. h. 58

Sejarah Nasional Indonesia VI 254


Ada tiga masalah pokok yang dibicarakan dalam konferensi ini yaitu,
kerjasama ekonomi, kebudayaan, dan politik. Dalam masalah politik juga
dibicarakan juga tentang soal hak asasi manusia, hak menentukan nasib sendiri,
kolonialisme, perlucutan senjata, dan koeleistensi secara damai.24
Sejak Konferensi Bandung, dunia mengalami perubahan-perubahan sosial
ekonomi dan politik yang merugikan kaum imperialis. Gerakan menuju sosialisme
dan keadilan sosial untuk bangsa dan rakyat dan memunculkan rakyat jajahan
sebagai faktor menentu dalam perkembang sosial budaya.25

Gambar 7.3 Presiden Soekarno sedang membuka Konferensi Asia Afrika di Bandung pada
tanggal 18 April 1955. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.
Penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika sebenarnya telah dirintis dalam
pertemuan lima negara Asia, pertemuan tersebut dimulai pada tanggal 28
Desember 1954 di Bogor atau lebih dikenal “ Konferensi Lima Negara”. Para wakil
dari lima tersebut sepakat untuk mempersiapkan pertemuan atau konferensi
yang lebih besar meliputi negara Asia-Afrika. Rencana tersebut terlaksana
dengan berlangsungnya konferensi Asia-Afrika di Bandung mulai pada tanggal
18 April 1955 yang dihadiri oleh wakil-wakil 29 negara Asia-Afrika.26 Beberapa
Anggota Delegasi R.I untuk Konferensi Asia-Afrika 1955.

24 Widjaja, Op.Cit. h. 23.


25 Diah, Op.Cit. h.4.
26 Proyek penelitian dan pencatan kebudayaan daerah, departemen pendidikan dan kebudayaan

Sejarah Nasional Indonesia VI 255


Ruslan Abdul Gani Mr. Soenaryo

Ir. Juanda Mr. Mhd. Yamin

Prof. Ir. Roosseno Mr. A. Subarjo

Sejarah Nasional Indonesia VI 256


L.N. Palar Sanusi Harjadinata
Gambar. 7.4 Anggota Delegasi Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika.
Sumber: www.google.co.id/image
Konferensi Asia-Afrika mengemukakan pernyataan bersama yang meliputi
10 pasal atau “Dasa Sila Bandung” yang isinya sebagai berikut :
a) Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas
yang termuat dalam piagam PBB.
b) Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial (keutuhan wilayah)
semua bangsa.
c) Mengakui persamaan semua rasa dan persamaan semua bangsa besar
(adi kuasa) maupun kecil.
d) Tidak melakukan intervensi atau campur tangan mengenai soal-soal
dalam negeri negara lain.
e) Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri
secara sendirian atau secara kolektif yang sesuai dengan piagam PBB.
f) 1) Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif
untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara-
negara besar.
2) Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain.
g) Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman agresi ataupun
penggunaan kekerasan terhadap integritas nasional atau kemerdekaan
politik suatu negara.

Sejarah Nasional Indonesia VI 257


h) Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai
seperti perundingan, persetujuan, arbitras (pemusatan suatu petikaian
oleh seorang penengah yang dipilih oleh pihak-pihak yang bertikai,
bersengketa) atau menyelesaikan hukum atau cara damai lainnya
menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan piagam
PBB.
i) Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
j) Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban Internasional.27

Inilah “Dasasila Bandung” yang membawa nama


Bandung dikenal ke berbagai pelosok dunia. Sepuluh
reminder sila konferensi Bandung itu pada hakekatnya berkisar
Sepuluh sila hasil kepada masalah hubungan internasional yang sifatnya
Konferensi Asia
Afrika di Bandung terletak di bidang politik. Politik tentang hak-hak
dikenal dengan istilah manusia dan kehendak mempertahankan perdamaian
Dasasila Bandung.
dunia dengan segala aspeknya, baik dilihat dari sudut
sebab maupun akibat dari sesuatu berdasarkan sikap
politik.28
Kerjasama di bidang ekonomi dirumuskan yaitu
dengan hasrat dan tujuan konferensi yang mencari dan mencapai kerjasama
di bidang ekonomi antara wilayah (regional cooperation). Dasarnya adalah
kepentingan bersama dan hormat-menghormati kedaulatan nasional masing-
masing. Walaupun ada anjuran kerjasama dibidang ekonomi diantara negara itu
yaitu penanaman modal asing itu juga termasuk kerjasama di bidang ekonomi.
Kerjasama menanam modal ini sebagai contoh yaitu perusahaan patungan yang
tidak bertentangan dengan kepentingan negara-negara tersebut. Kerjasama
itulah harus ditingkatkan dengan membuat perkembangan yang berbeda bagi
perdagangan ekspornya yang mengenai bahan baku.29
Kerajasama di bidang kebudayaan juga mendapat pengaruh dari penjajahan
maka perkembangan kebudayaan bangsa-bangsa Asia-Afrika terhalang, bahkan
ditindas oleh kaum penjajah. Sehingga mengalami stagnasi perkembangan dan
perhubungan kebudayaan dengan bangsa Asia dan Afrika.30
27 Widjaja, 1986. Op.Cit. h. 26
28 Diah, 1980. Op.Cit. h. 4.
29 Ibid, hh. 4-5
30 Ibid, hh. 4-5
Sejarah Nasional Indonesia VI 258
Gambar 7.5 Suasana sidang
Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia
merdeka.

Konferensi Asia-Afrika di Bandung memberikan pengaruh yang tidak


sedikit terhadap perkembangan solidaritas bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.
Selain itu juga banyak memberikan semangat kepada bangsa-bangsa yang
sedang berjuang untuk mencapai kemerdekaannya.31 Sedangkan tujuan
dilaksanakannya Konferensi Asia-Afrika sebagai berikut:
1. Untuk memajukan itikad baik dan kerjasama antara bangsa-bangsa Asia
dan Afrika, untuk menjajaki serta memajukan kepentingan-kepentingan
mereka, baik yang silih berganti maupun yang bersama, serta untuk
meletakkan dan memajukan persahabatan dan hubungan bertentangga
baik antar negara.
2. Untuk mempelajari masalah-masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan
negara-negara yang diwakilinya.
3. Untuk mempelajari soal-soal yang merupakan kepentingan khusus bagi
bangsa-bangsa Asia dan Afrika yaitu masalah-masalah yang mengenai
kedaulatan nasional, sosialisme, dan kolonialisme.
4. Untuk meninjau kedudukan Asia dan Afrika dan rakyat-rakyatnya di
dalam dunia dewasa ini serta sumbangan yang dapat mereka berikan
untuk memajukan perdamaian dunia dan kerjasama internasional.32
5. Untuk menggalang solidaritas negara-negara Asia-Afrika dalam rangka
menghapuskan kolonialisme dan untuk meredakan ketegangan dunia
yang ditimbulkan dari ancaman perang nuklir antara kedua negara
raksasa yaitu, Amerika Serikat dan Uni Sovyet.33
31 Widjaja, Op.Cit. h. 26
32 Kusumaatmadja. Op.Cit. h. 89.
33 Departemen pendidikan dan kebudayaan,Sejarah daerah Jawa Barat, 1973, h. 214.

Sejarah Nasional Indonesia VI 259


4 Kerjasama negara-negara
Asia-Afrika
Konferensi Asia Afrika mempertimbangkan masalah-masalah yang menjadi
perhatian dan kepentingan ngera-negara Asia-Afrika serta merundingkan cara-
cara dan upaya-upaya rakyat untuk mencapai kerjasama ekonomi, budaya, dan
politik yang lebih erat. Kerjasama tersebut antara lain:
a) Kerja sama dibidang Ekonomi
1. Konferensi Asia-Afrika menyadari pentingnya meningkatkan perkembangan
ekonomi di kawasan Asia-Afrika. Pada umumnya hasrat untuk kerjasama
di bidang Ekonomi terdapat diantara negara-negara peserta berlandaskan
minat dan hasrat untuk menghormati kedaulatan negera masing-masing.
Saran-saran mengenai kerjasama Ekonomi diantara negara-negara peserta
tidak menghalangi kebutuhan untuk bekerjasama dengan negara-negara
di luar wilayah ini, termasuk penanaman modal asing. Selanjutnya diakui,
bahwa bantuan yang diterima oleh beberapa negara peserta tertentu
di luar kawasan ini, melalui perjanjian-perjanjian internasional maupun
bilateral, merupakan sumbangan beharga bagi pelaksanaan program-
program pembangunan negara-negara tersebut.
2. Negara-negara peserta sepakat untuk saling memberikan bantuan sejauh
mungkin dilaksanakan, dalam bentuk : tenaga-tenaga ahli, para peserta
latihan, proyek-proyek pendahuluan, dan peralatan untuk keperluan
pameran atau demonstrasi, pertukaran dan pengetahuan serta pendiri
tempat-tempat latihan dan penelitian nasional, dan kalau secara wilayah
untuk menyebarkan pengetahuan dan keterampilan teknis bekerjasama
dengan lembaga-lembaga internasional yang ada.
3. Konferensi Asia-Afrika menyarankan pembentukan sendiri, mungkin
dana khusus PBB untuk pembangunan ekonomi, alokasi sebagian besar
sumber-sumber bank internasional untuk rekontrusi dan pembangunan
negara-negara Asia-Afrika, pembentukan segera lembaga keuangan
internasional yang kegiatan-kegiatannya meliputi upaya penanaman
modal yang adil dan mendorong peningkatan terbentuknya perusahaan-

Sejarah Nasional Indonesia VI 260


perusahaan patungan diantara negara-negara Asia-Afrika sendiri, sejauh
hal ini mengembangkan kepentingan mereka bersama.
4. Konferensi Asia-Afrika mengakui sangat diperlukannya kemantapan
perdagangan komoditi di kawasan ini. Menerima prinsip perluasan
cakupan perdagangan dan pembayaran multilateral. Namun demikian,
diakui juga bahwa beberapa negara karena kondisi-kondisi ekonomi yang
berlaku harus kembali mengambil langkah-langkah melalui perjanjian-
perjanjian perdagangan bilateral.
5. Konferensi Asia-Afrika menyarankan agar negara-negara peserta
mengambil langkah-langkah bersama untuk memantapkan harga-harga
internasional dan menuntut komoditi-komoditi terpilih melalui perjanjian-
perjanjian bilateral dan multilateral dan bahwa apabila dikehendaki serta
memungkinkan untuk dilakukan, negara-negara peserta seharusnya
menganut penghampiran yang seragam mengenai masalah tersebut di
komisi penasehat tetap PBB untuk perdagangan komoditi internasional
dan lembaga-lembaga internasional lainnya.
6. Konferensi Asia-Afrika selanjutnya menyarankan agar negara-negara Asia-
Afrika menganekaragamkan perdagangan ekspor mereka dengan mengolah
bahan mentah mereka sebelum dijual, sejauh itu secara ekonomis
memungkinkan, meningkatkan pekan-pekan perdagangan antara
wilayah yang mendorong pertukaran delegasi-delegasi perdagangan dan
kelompok-kelompok pengusaha, mendorong pertukaran informasi dan
contoh demi kemajuan perdagangan antara wilayah, serta memberikan
fasilitas yang wajar untuk perdanganga transit negara-negara yang tidak
memiliki pelabuhan.
7. Konferensi Asia-Afrika menganggap perkapalan itu sangat penting dan
menyatakan kecemasan, bahwa perusahaan-perusahaan perkapalan
mengubah tarif angkutan mereka dari waktu ke waktu, yang seringkali
merugikan negara-negara peserta (Konferensi Asia-Afrika). Konferensi
menganjurkan agar masalah ini dipelajari dan selanjutnya mengambil
langkah-langkah bersama untuk mempengaruhi perusahaan-perusahaan
perkapalan agar bisa mengambil sikap yang lebih wajar. Disarankan agar
masalah angkutan kereta api dikanji untuk perdagangan transit.

Sejarah Nasional Indonesia VI 261


8. Konferensi Asia-Afrika sepakat, bahwa dorongan harus diberikan untuk
pembentukan bank-bank dan perusahaan asuransi nasional dan regional.
9. Konferensi Asia-Afrika merasa, bahwa pertukaran informasi tentang hal-
hal yang berkaitan dengan minyak, seperti pembayaran keuangan dan
pajak, pada akhirnya mungkin mengarah ke pembentukan kebijakan
bersama.
10. Konferensi Asia-Afrika menekankan arti pengembangan tenaga nuklir
yang khusus untuk maksud-maksud damai bagi negara-negara Asia-Afrika.
Konferensi menyambut baik prakarsa negara-negara yang terutama
mampu menawarkan keterangan-keterangan yang mereka miliki tentang
penggunaan tenaga nuklir bagi tujuan-tujuan damai, mendesak agar
secepatnya dibentuk lembaga tenaga atau internasional, yang harus
menempatkan perwakilan yang memadai dari negara-negara Asia-Afrika
didalam kekuasaan eksekutif lembaga tersebut, dan menganjurkan kepada
semua pemerintahan Asia-Afrika untuk mempergunakan kesempatan
sebaik-baiknya fasilitas latihan dan lain-lain mengenai penggunaan damai
atom yang ditawarkan oleh negara-negara yang menjadi sponsor untuk
program-program demikian.
11. Konferensi Asia-Afrika sepakat untuk mengangkat pejabat-pejabat
penghubung ke semua negara peserta, yang diangkat oleh pemerintah
nasional masing-masing, demi kepentingan pertukaran informasi dan
gagasan mengenai hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.
Konferensi juga menganjurkan agar semua negara peserta memanfaatkan
sepenuhnya lembaga-lembaga internasional tersebut namun memenuhi
persyaratan, agar segera menjadi anggota.
12. Konferensi Asia-Afrika menganjurkan agar didalam forum-forum
internasional, negara-negara peserta sedapat mungkin dapat bertukar
pikiran terlebih dahulu, demi memajukan kepentingan bersama dibidang
ekonomi. Namun demikian, hal ini tidak berarti adanya maksud untuk
membentuk persekutuan wilayah.34

34 Drs. Rd. Sumpena Prawirasputra, Politik Luar Negeri Indonesia dan Pelaksanaannya, (Bandung: Remaja
Karya CV, 1985) h. 123

Sejarah Nasional Indonesia VI 262


b) Kerjasama di bidang kebudayaan
1. Konferensi Asia-Afrika yakin bahwa di antara usaha-usaha yang
terpenting untuk memajukan pengertian diantara bangsa-bangsa
ialah usaha memajukan kerjasama kebudayaan. Asia dan Afrika adalah
tempat lahirnya agama-agama dan kebudayaan-kebudayaan yang besar
yang telah memperkaya kebudayan-kebudayaan lain dan peradaban-
peradaban lain. Dengan begitu, maka kebudayaan-kebudayaan Asia dan
Afrika mempunyai dasar Rohani dan Universal. Tetapi negara-negara Asia
dan Afrika telah terpusat selama beberapa abad yang lalu. Bangsa-bangsa
Asia dan Afrika sedang berkehendak dengan sungguh-sunguh untuk
memperbaharui hubungan-hubungan kebudayaan mereka yang lama
dan mengembangkan hubungan-hubungan baru dalam hubungan dunia
modern sekarang. Semua negara-negara peserta Konferensi menyatakan
kehendak untuk bekerja yang lebih erat dalam kebudayaan.
2. Konferensi Asia-Afrika memperhatikan kekayaan, bahwa adanya
kolonialisme dibanyak wilayah Asia dan Afrika, dalam bentuk apapun juga,
tidak hanya menghalang-halangi kerjasama kebudayaan, tetapi menindas
pada kebudayaan nasional dari rakyat. Beberapa negara penjajah
telah mengabaikan rakyat negara-negara jajahannya, hak atas dasar
mereka dalam bidang pendidikan dan kebudayaan telah menghalang-
halangi perkembangan kepribadian mereka dan juga mencegah adanya
hubungan kebudayaan dengan bangsa-bangsa Asia dan Afrika lainnya.
Hal itu terjadi Tunisia, Aljazair, dan Marokko, dimana hak dasar rakyatnya
untuk mempelajari bahasa dan kebudayaan mereka sendiri telah ditindas.
Diskriminasi semacam ini telah dijalankan pula terhadap bangsa-bangsa
Afrika dan bangsa-bangsa Kulit berwarna di beberapa wilayah dari benua
Afrika. Konferensi merasa bahwa tindakan-tindakan ini merupakan hak-
hak atas manusia, menghalang-halangi berkembangnya kebudayaan di
daerah ini dan pula menghalang-halangi kerjasama kebudayaan dalam
lapangan internasional yang lebih luas. Konferensi dengan ini mengutuk
pelanggaran hak-hak dasar manusia dalam lapangan pendidikan dan
kebudayaan di beberapa daerah di Asia dan Afrika dan bentuk-bentuk lain
dari penindasan kebudayaan. Konferensi terutama mengutuk rasialisme

Sejarah Nasional Indonesia VI 263


sebagai alat untuk melakukan penindasan dalam kebudayaan.
3. Dalam pandangannya mengenai pengembangan kerjasama kebudayaan
diantara negara-negara Asia dan Afrika sama sekali bukanlah maksud
konferensi untuk mengecualikan atau menyaingi golongan bangsa-
bangsa dan peradaban serta kebudayaan lain. Sesuai dengan tradisi
toleransi dan Universalit negara-negara Asia dan Afrika, konferensi
berpendapat, bahwa kerjasama kebudayaan antar mereka haruslah
diperkembangkan dalam bentuk hubungan kerjasama sedunia yang
lebih luas. Berdampingan dengan pengembangan kerjasama kebudayaan
antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika negara Asia dan Afrika berkehendak
pula mengembangkan hubungan kebudayaan mereka dengan negara
lain. Hal ini mereka anggap akan dapat memperkaya kebudayaan mereka
sendiri dan memberikan sumbangan bagi tercapainya perdamaian dunia
dan saling mengerti.
4. Masih banyak negara-negara di Asia-Afrika yang belum dapat
memperkembangkan kebudayaan dirinya dalam lapangan pendidikan,
ilmu pengetahuan dan teknik. Konferensi menganjurkan supaya negara-
negara di Asia-Afrika yang dalam hal ini telah lebih beruntung beberikan
fasilitas bagi masuknya mahasiswa-mahasiswa dan orang-orang yang
hendak mengikuti latihan dari negara-negara tersebut kedalam badan-
badan pendidikan mereka. Fasilitas semacan itu hendaknya diberikan
pula kepada penduduk bangsa asia-afrika yang dewasa ini dilanggar
haknya untuk mendapatkan kesempatan menerima pendidikan yang
lebih tinggi
5. Konferensi Asia-Afrika berpendapat, bahwa usaha-usaha memajukan
kerjasama kebudayaan antara negara-negara Asia-Afrika hendaknya
ditunjukan kepada:
a. Pendapat pengetahuan tentang negara-negara satu sama lain
b. Pertukaran kebudayaan
c. Pertukaran keterangan-keterangan
6. Konferensi Asia-Afrika berpendapat, bahwa dalam tingkatan sekarang
ini hasil hasil terbaik dalam kerjasama kebudayaan akan dapat diperoleh
dengan mengadakan perjanjian-perjanjian bilateral sesuai anjuran-

Sejarah Nasional Indonesia VI 264


ajuran konferensi dan masing-masing negara dimana mungkin dapat
memberikan keuntungan, bertindak sendiri.35

c) Hak asasi manusia dan hak menentukan nasib sendiri


1. Konferensi Asia-Afrika menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap
prinsip-prinsi dasar hak-hak asasi manusia yang tercantum di dalam
piagam perserikatan bangsa-bangsa serta memperhatikan deklarasi
hak-hak azazi manusia sedunia serta petokan umum keberhasilan bagi
semua rakyat dan bangsa Konferensi menyatakan dukungan sepenuhnya
terhadap prinsip menetukan nasib sendiri segala bangsa dan rakyat
seperti yang dicantum di dalam piagam perserikatan bangsa-bangsa dan
memperhatikan resolusi-resolusi PBB dalam hal hak-hak segala rakyat dan
bangsa untuk menetukan nasibnya sendiri yang menentukan persyaratan
dalam melaksanakan hak-hak azazi manusia sepenuhnya.
2. Konferensi Asia-Afrika menyesalkan semua kebijakan dan praktek
pemisahan dan diskriminasi rasial yang merupakan landasan pemerintahan
dan hubungan-hubungan sesama manusia yang dilaksanakan di sebagian
besar wilayah di Afrika serta dibagian lainnya di Dunia. Tindakan demikian
tidak hanya sangat bertentangan dengan hak-hak manusia, akan tetapi juga
melangkahi martabat manusia. Konferensi menyampaikan rasa simpati
yang hangat dan dukungan kepada para korban diskriminasi rasial yang
melakukan perlawan yang berani terutama penduduk keturunan Afrika,
India, dan Pakistan Selatan yang menghargai mereka dan menyokong
perjuangan ini, menegaskan lagi tekad semua rakyat Asia-Afrika untuk
menghapus setiap bentuk rasialisme yang mungkin masih ada di dalam
negerinya sendiri, serta berjanji akan menggunakan segenap pengaruh
moral yang dimilikinya terhadap bahaya menjadi korban dari kejahatan
yang sama di dalam perjuangan untuk menghapuskannya.36

d) Masalah bangsa-bangsa yang belum merdeka


1. Konferensi Asia-Afrika juga telah membicarakan masalah bangsa-
bangsa yang belum merdeka, kolonialisme dan keburukan-keburukan
35 Diah.Op.Cit.. h. 97.
36 Prawirasputra. Op.Cit. h. 127

Sejarah Nasional Indonesia VI 265


yang timbul dari penjajahan serta pemerasan dari bangsa-bangsa oleh
kekuasaan asing.
Konferensi menyetujui untuk
a. Menyatakan, bahwa kolonialisme dalam bentuknya yang
bagaimanapun juga adalah sesuatu kejahatan yang harus segera
diakhiri.
b. Menegaskan bahwa dijajahnya serta dipeluasnya bangsa-bangsa
oleh kekuasaan asing merupakan pelanggaran hak-hak dasar
manusia, bertentangan dengan piagam PBB dan merupakan
penghalang bagi tercapainya perdamaian dan kerjasama dunia.
c. Menyatakan bantuannya pada perjuangan untuk memperoleh
kebebasan dan kemerdekaan bagi semua bangsa-bangsa
tersebut.
d. Menyerukan kepada negara-negara yang bersangkutan supaya
memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada bangsa-
bangsa.

e) Masalah-Masalah lainnya
1. Mengingat adanya ketegangan di Timur Tengah yang disebabkan oleh
keadaan di Palestina serta ketegangan tersebut dapat membahayakan
perdamaian dunia, Konferensi Asia-Afrika juga menyatakan dukungannya
terhadap hak-hak penduduk Arab Palestina dan menyeruhkan agar
resolusi tentang Palestina dilaksanakan serta dicapainya penyelesaian
damai persoalan Palestina.
2. Konferensi Asia-Afrika, dalam hubungan dengan sikap yang dinyatakannya
tentang penghapusan penjajahan, mendukung Indonesia dalam masalah
Irian Barat berdasarkan persetujuan-persetujuan yang berkaitan dengan
masalah tersebut antara Indonesia dan Belanda. Konferensi Asia-
Afrika mendesak agar pemerintah Belanda segera membuka kembali
perundingan-perundingan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban
mereka yang ditetapkan dalam perjanjian-perjanjian tersebut dan
dengan sepenuhnya berharap agar PBB membantu pihak-pihak yang
berkepentingan di dalam menemukan penyelesaian pertikaian itu dengan

Sejarah Nasional Indonesia VI 266


cara-cara damai.
3. Konferensi Asia-Afrika mendukung posisi Yaman dalam masalah Aden dan
bagian-bagian Selatan Yaman yang disebut Proktektorat serta mendesak
pihak-pihak yang berkepentingan menyelesaikan pertikaian ini dengan
cara-cara damai.37

f) Meningkatkan Perdamaian dan Kerjasama Dunia


1. Konferensi Asia-Afrika memperhatikan kenyataan bahwa beberapa
negara belum diterima sebagai Anggota PBB, dan menganggap bahwa
demi kerjasama yang tepat guna bagi perdamaian dunia keanggotaan
PBB seharusnya universal, menyerukan kepada Dewan Keamanan agar
mendukung penerimaan semua negara yang memenuhi persyaratan
keanggotaan seperti yang tercantum didalam piagam. Menurut
anggapan Konferensi Asia-Afrika di antara negara-negara peserta seperti
: Kamboja, Sri Langka, Jepang, Yordania, Libia, Nepal, Vietnam yang
bersatu memenuhi persyaratan tersebut. Konferensi beranggapan,
bahwa perwakilan negara-negara kawasan Asia-Afrika di dalam Dewan
Keamanan kurang memadai mengingat azas pembagian geografis yang
merata. Konferensi juga menyatakan pandangan, bahwa mengenai
pemabagian kursi non-permanen, negara-negara Asia-Afrika dirintangi
untuk dipilih menurut aturan yang tercapai di London pada tahun
1946, hendaknya diberi kesempatan untuk mengabdi di dalam Dewan
Keamanan sehingga mereka dapat memberikan sumbangan yang lebih
tepat guna untuk memelihara perdamian dan keamanan internasional.
2. Konferensi Asia-Afrika setelah memperhatikan situasi berbahaya dari
ketegangan internasional yang sedang berlangsung, dan risiko yang
dihadapi seluruh ummat manusia terhadap pecahnya perang dunia
yang mungkin menggunakan kekuatan yang menghancurkan dari segala
macam persenjataan, termasuk senjata nuklir dan termo-nuklir, meminta
perhatian segenap bangsa akan akibat-akibat yang mengerikan yang akan
terjadi, apabila perang yang seperti ini pecah. Konferensi menganggap
bahwa perlucutan senjata dan larangan pembuatan, percobaan dan

37 Ibid, h. 129

Sejarah Nasional Indonesia VI 267


penggunaan persenjataan perang nuklir dan termo-nuklir adalah
mutlak perlu untuk menyelamatkan umat manusia dan peradaban dari
ketakutan dan kemungkinan penghancuran yang menyeluruh. Konferensi
menganggap bahwa semua bangsa Asia-Afrika yang berkumpul disini
mempunyai kewajiban terhadap kemanusiaan dan peradaban untuk
menyatakan dukungan mereka terhadap perlucutan senjata serta larangan
persenjatan ini, dan menghimbau negara-negara yang berkepentingan
serta pendapat dunia agar perlucutan dan larangan persenjataan
segera diadakan. Konferensi mempertimbangkan, bahwa pengawasan
internasional yang tepat guna harus diselenggarakan dan dipertahankan
untuk melaksanakan perlucutan dan larangan larangan persenjataan
demikian, serta harus dilakukan upaya-upaya yang cepat dan tekun
untuk mencapai tujuan ini. Menjelang tercapainya larangan menyeluruh
pembembuatan persenjataan nuklir dan termo-nuklir, Konferensi ini
menghimbau semua negara yang bersangkutan agar menyetujui untuk
menangguhkan percobaan-percobaan persenjataan tersebut. Konferensi
menyatakan, bahwa perlucutan senjata sedunia merupakan persyaratan
mutlak untuk mempertahankan perdamaian dan mengusulkan kepada
PBB agar melanjutkan usaha-usahanya, serta menghimbau semua
negara yang berkepentingan agar secepatnya mengadakan peraturan,
pembatasan, pengawasan, dan pengurangan seluruh pasukan bersenjata
dan persenjataan, termasuk larangan pembuatan, percobaan dan
penggunaan semua persenjataan yang berdaya hancur menyeluruh,
serta membentuk pengawasan internasional yang tepat guna untuk
mencapai tujuan ini.38

g) Pernyataan mengenai usaha memajukan perdamaian dan


kerjasama dunia
1. Konferensi Asia-Afrika memikirkan dengan rasa khawatir soal perdamaian
dan kerjasama sedunia. Konferensi melihat dengan rasa khawatir adanya
ketegangan-ketegangan internasional dewasa ini dengan ancaman
bahaya pecahnya perang dunia dimana dipergunakan senjata-senjata

38 Ibid. h. 129.

Sejarah Nasional Indonesia VI 268


nuklir. Masalah perdamaian mempunyai sangkut-paut yang rapat dengan
masalah keamanan internasional. Dalam hubungan ini semua negara-
negara didunia hendaknya harus bekerja sama, terutama melalui PBB
dalam usaha mencapai pengurangan persenjataan dan penghapusan
senjata-senjata nuklir dibawah pengawasan internasional. Dengan jalan
ini perdamaian di dunia akan dapat dicapai dan tenaga nuklir akan dapat
dipergunakan semata-mata untuk keperluan damai. Ini akan dapat
memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari terutama Asia dan Afrika, sebab
kebutuhan mereka yang mendesak ialah kemajuan sosial dan tingkat
hidup yang lebih baik dalam kemerdekaan yang lebih luas.
2. Kemerdekaan dan perdamaian saling berhubungan. Hak untuk
menentukan nasib sendiri harus dapat dikecap semua bangsa-bangsa
dan kebebasan serta kemerdekaan haruslah diberikan dengan secepat
mungkin, kepada mereka yang belum mendapatkan kemerdekaannya.
Sesungguhnya semua bangsa-bangsa haruslah mendapat haknya untuk
memilih sendiri dengan bebas, baik itu berupa kebebasan menganut
sistem politik, ekonomi, atau cara hidup yang mana yang akan dianutnya,
yang sesuai dengan tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip yang termuat
dalam Piagam PBB.
3. Dengan bebas dari perassan curiga dan takut, dan dengan saling
mempercayai dan menunjukkan goodwill, semua bangsa-bangsa didunia
hendaknya menjalankan kerjasama dalam suasana persahabatan.
Kerjasama tersebut yaitu Konferensi asia-Afrika yang menyatakan
keyakinannya bahwa kerjasama persahabatan yang sesuai dengan
prinsip-prinsip ini akan dapat memberikan sumbangan yang efektif pada
usaha mempertahankan dan memajukan perdamaian dan keamanan
internasional, sedangkan kerjasama dalam lapangan ekonomi, sosial
dan kebudayaan akan dapat memberikan sumbangan bagi tercapainya
kemakmuran bersama.39

39 B. M. Diah, Arti Konferensi Bandung, (Jakarta: Penerbit Yayasan 17-8-45, 1980) h. 107

Sejarah Nasional Indonesia VI 269


5 Indonesia dalaM Konferensi
Asia-Afrika
Terlaksananya Konferensi Asia-Afrika tidak bisa lepas dari peran Indonesia.
Di samping sebagai salah satu pelopor dan prakarsa Konferensi Asia-Afrika,
Indonesia menyediakan diri sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Asia-
Afrika. Hal ini membuktikan prestasi Kabinet Ali Sastroamidjojo yang berhasil
menyelenggarakan suatu kegiatan yang bersifat internasional.

Gambar 7.6 Para Anggota Delegasi Negara Peserta Konferensi Asia Afrika sedang menyaksikan
senam pelajar di lapangan Tegallega di Bandung pada tanggal 18 April 1955. Sumber: Buku 30
Tahun Indonesia Merdeka.

Menurut Roeslan Abdulgani, seorang saksi sejarah dan ketua panitia


pelaksana Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955, yang juga menghadiri
Konferensi Asia-Afrika di Jakarta 2005, sejak tahun 1928 Soekarno telah
memimpikan gagasan untuk memperluas gerakan Asia-Afrika. “Bung Karno
sangat dipengaruhi konsep Lothrop Stoddard (penulis Inggris) yang dalam
bukunya The Rising Tide of Colour mengatakan bahwa gerakan Asia-Afrika secara
spiritual bergandengan tangan satu sama lain, dan semuanya termotivasi oleh
insting untuk mempertahankan diri.” Sebelum itu pada tahun 1926 di Bierville,
Perancis, sejumlah mahasiswa Asia dan Afrika yang sedang belajar di Eropa Barat
mengadakan kongres League Against Colonialism and Imperialism.

Sejarah Nasional Indonesia VI 270


Beberapa mahasiswa Indonesia ikut serta seperti; Mohammad Hatta,
Nazir Pamontjak, Achmad Subardjo, Abdul Manaf, Arnold Mononutu, dan Gatot
Tarumihardja. Para mahasiawa Asia-Afrika tersebut mengeluarkan pernyataan
yang mengecam penjajahan Eropa di dua benua tersebut. Peryataan itu cukup
berani mengingat mereka berada di tengah “kandang macan” kolonialis-
imperialis. Gagasan untuk mengadakan suatu Konferensi Asia Afrika (KAA)
diketengahkan oleh Perdana Menteri RI, Ali Sastroamidjojo pada empat rekan
lainnya, yakni para Perdana Menteri dari India, Pakistan dan Burma, yang hadir
pada Konferensi Colombo, April-Mei 1954, atas undangan Sir John Kotelawala,
Perdana Menteri Ceylon (1953-1956).40

40 Dede Yusuf,https://www.academia.edu/4582744/PERANAN_INDONESIA_DALAM_KONFERENSI_ASIA_
AFRIKA (pada tanggal 20 oktober 2016, pukul 13.35)

Sejarah Nasional Indonesia VI 271


RANGKUMAN

Perdana menteri Ali Sastroamidjojo mendasarkan usulannya atas kenyataan


bahwa dalam forum PBB telah muncul semacam konsultasi dan kerjasama antar
negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka dalam menghadapi berbagai
masalah. Tetapi diluar forum PBB mesin penampung dan mesin penggeraknya
tidak ada. Itulah sebabnya maka dirasa perlu untuk memberikan bentuk yang
lebih nyata dalam konsultasi dan kerjasama itu dan konferensi yang lebih luas
antar para Perdana Menteri negara-negara Asia dan Afrika.
Dalam pertemuan tersebut Perdana Menteri Indonesia mengusulkan
agar diadakan suatu pertemuan bangsa-bangsa Asia dan Afrika dengan tujuan
mempererat kerjasama antara mereka guna meningkatkan usaha-usaha kearah
pencapaian perdamaian dunia. Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengusulkan
suatu tujuan penting dari politik luar negeri Indonesia untuk pertama kalinya
yang diucapkan dimuka umum tahun 1953.
Setelah Konferensi Bogor, Konferensi Asia-Afrika dilaksanakan dari tanggal
18-25 April 1955 di Gedung Merdeka (Bandung) dengan dihadiri oleh 24 negara
undangan dan 5 negara pengambil prakarsa yaitu :
Indonesia : Mr. Ali Sastroamidjojo
India : Pandit Jawaharlal Nehru
Pakistan : Mohamad Ali
Burma : U Nu
Sri Langka : Sir John Kotelawala

Ada 3 masalah pokok yang dibicarakan dalam Konferensi ini yaitu, kerjasama
ekonomi, kebudayaan dan politik. Dalam masalah politik juga dibicarakan juga
tentang soal hak asasi manusia, hak menentukan nasib sendiri, kolonialisme,
perlucutan senjata, dan koeleistensi secara damai.
Sejak Konferensi Bandung Dunia mengalami perubahan-perubahan sosial
ekonomi dan politik yang merugikan kaum Imperialis, ada tantangan dari sudut
ini namun dibantu oleh kaum reaksi dalam negari, kaum feodal atau feodal baru,

Sejarah Nasional Indonesia VI 272


gerakan menjurus kemerdekaan nasional dan kemajuan sosial dalam dunia
negara yang baru saja merdeka terjadi antara tahun 1955 dan 1980. Gerakan
menuju sosialisme dan keadilan sosial untuk bangsa dan rakyat adalah rakyat
jajahan muncul sebagai faktor menentu dalam perkembang sosial budaya.

GLOSARIUM

Anti Kolonialisme Pengembangan kekuasaan sebuah negara, atas wilayah


dan manusia diluar batas negaranya
Kolonialisme Upaya penguasaan atas suatu daerah atau wilayah oleh
negara penguasa untuk memperluas daerahnya atau
kekuasaannya.
Resolusi Putusan ata kedaulatan pendapat berupa permintaan
atau tuntutan yang ditetapkan oleh rakyat ( Musyawarah
atau Sidang).
Kontraversil Bersifat menimbulkan perdebatan
Deklarasi Politik Pernyataan politik bersama beberapa partai politik,
misalnya Deklarasi Bogor.
Merdeka Bebas dari penjajahan
Kedaulatan Kekuasaan tertinggi di wilayah tertentu yang dimiliki
Nasional oleh suatu negara atau bangsa.
Rasionalisme Teori atau paham yang menganggap bahwa pikiran dan
akal merupakan satu-satunya dasar untuk memecahkan
problem (kebenaran) yang lepas dari jangkauan indra.
Proktektorat Negara atau Wilayah yang dikontrol, bukan dimilki oleh
negara lain yang lebih kuat.
Multikulturalisme Menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam
kehidupan di dunia, kebijakaan kebudayaan yang
menekankan penerimaan terhadap adanya keragaman,
serta berbagai macam budaya yang ada didalam
kehidupan masyarakat yang menyangkut nilai-nilai,
sistem budaya, kebiasaan dan politik yang dianutnya

Sejarah Nasional Indonesia VI 273


Delegasi Perwakilan atau utusan dengan proses penunjukkan
secara langsung maupun secara musyawarah untuk
mengutusnya menjadi salah satu perwakilan suatu
kelompok atau lembaga.
Eksplorasi Penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh
pengetahuan lebih banyak (tentang keadaan), terutama
sumber-sumber alam yang terdapat di tempat itu.
Nasional Hanya menyatakan ruang lingkup dalam negara saja.
Regional Menyatakan suatu kawasan yang terdiri dari beberapa
negara
Diskriminasi Rasial Pembedaan sikap dan perlakuan terhadap kelompok
masyarakat tertentu karna perbedaan warna kulit atau
ras.
Sosialisme Sistem sosial dan ekonomi yang ditandai dengan
kepemilikan sosial dari alat-alat produksi dan
manajemen koperasi ekonomi, serta teori politik dan
gerakan yang mengarah pada pembentukan sistem
tersebut.
Imperalisme Sebuah kebijakan dimana sebuah negara besar dapat
memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain
agar negara itu dapat dipelihara atau berkembang.

Sejarah Nasional Indonesia VI 274


latihan

Berikut ini terdapat beberapa butir soal latihan yang perlu mahasiswa
kerjakan, dengan tujuan agar mahasiswa dapat lebih memahami dan menguasai
materi mengenai sejarah nasional Indonesia sesuai dengan materi yang telah
diberikan dan diuraikan secara ringkas dalam Bab ini. Adapun soal essay dikerjakan
pada kertas double folio dengan maksimal jawaban per soal sebanyak 500 kata,
sedangkan soal multiple choice/ pilihan ganda dapat anda jawab dengan hanya
menuliskan salah satu jawaban yang benar pada lembar kertas double folio.
Selamat mengerjakan.
ESSAY
1. Jelaskan latar belakang dilaksanakannya Konferensi Asia - Afrika ?
2. Sebutkan negara – negara yang terlibat dalan Konferensi Asia – Afrika ?.
3. Jelaskan hasil dari Konferensi Meja Bundar.
4. Deskripsikanlah mengenai keuntungan Indonesia pada Konferensi Asia –
Afrika lalu tuliskanlah secara singkat.
5. Apa hubungan Konferensi Bogor, Konferensi Colombo dan Konferensi Asia –
Afrika ?

PILIHAN GANDA
1. Latar belakang Konferensi Asia – Afrika adalah, kecuali...
a. Bangsa-bangsa Asia - Afrika memiliki persamaan nasib dan sejarah yakni
sama-sama menjadi sasaran penjajahan bangsa-bangsa Eropa.
b. Semakin meningkatnya kesadaran bangsa-bangsa Asia - Afrika yang
masih terjajah untuk memperoleh kemerdekaan misalnya, Yaman sedang
berjuang membebaskan Aden dari kekuasaan Inggris, Rakyat Aljazair,
Tumisia, Maroko, Sudan, dan Kongo sedang membebaskan tanah airnya
dari kekuasaan bangsa Eropa, dan lain-lain.
c. Ingin menjadi negara yang kuat dan persenjataan yang ampuh.
d. Diantara bangsa-bangsa Asia yang telah merdeka masih belum terdapat
kesadaran untuk bersatu, yang kemudian Rusia dan Amerika Serikat ikut
melibatkan diri dalam masalah tersebut.
Sejarah Nasional Indonesia VI 275
2. Pada tanggal berapakah Ali Sastromijdojdo berkunjung ke India tepatnya
New Delhi untuk membicarakan KAA...
a. Pada tanggal 25 September 1954
b. Pada tanggal 25 September 1955
c. Pada tanggal 25 September 1956
d. Pada tanggal 25 September 1957
3. Berikut merupakan salah satu tujuan dari KAA, yaitu...
a. Mendapat rasa solidaritas antara negara-negara Afro-Asia yang baru
merdeka.
b. Mendapatkan kekuasaan yang tinggi
c. Atas dasar akibat dari perang dunia II
d. Untuk berpolitik dengan negara Eropa

4. Berikut merupakan salah satu keuntungan Indonesia setelah terlaksananya


KAA, yaitu...
a. Mendapatkan ekonomi yang banyak
b. Dukungan untuk merebut Irian Barat
c. Mendapat letak yang strategis
d. Mendapatkan senjata untuk perang

5. Perjanjian perpajakan antara dua negara yang diselenggarakan untuk


meminimalisir pemajakan berganda dan berbagai usaha penghindaran pajak
dinamakan...
a. Colombo
b. Bogor
c. Tax Teatry
d. Asia Country

6. Kota tempat dilaksanakanya KAA yang pertama adalah...


a. Jakarta
b. Surabaya
c. Bogor
d. Bandung

Sejarah Nasional Indonesia VI 276


7. Konferensi Bogor telah mendapatkan pengajuan rekomendasi untuk,
kecuali...
a. Mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung dalam bulan April 1955.
b. Menetapkan kelima negara peserta Konferensi bogor sebagai negara-
negara sponsor.
c. Menetapkan 25 negara-negara Asia-Afrika yang akan diundang.
d. Menetapkan pertanggung jawaban ekonomi Asia – Afrika.

8. Konferensi Colombo dilaksanakan pada tanggal...


a. Pada tanggal 25 April sampai 2 Mei 1954
b. Pada tanggal 26 April sampai 2 Mei 1954
c. Pada tanggal 27 April sampai 2 Mei 1954
d. Pada tanggal 29 April sampai 2 Mei 1954

9. Kepedulian Indonesia terhadap dinamika politik internasional tahun 1950-an


merupakan keprihatinan bersama dengan negara-negara lain, dan Indonesia
adalah pusat dari organisasi yang kemudian disebut gerakan non-blok yang
lahir dari Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat pada tahun...
a. 1993
b. 1994
c. 1996
d. 1997

10. Berikut ini merupakan tujuan pokok dari Konferensi Asia-Afrika, sebagai
berikut:
1) Memajukan kemauan baik dan kerja sama antara bangsa-bangsa Asia-
Afrika dalam menjelajah dan memajukan kepentingan-kepentingan bersama
mereka serta memperkukuh hubungan persahabatan dan tetangga baik.
2) Meninjau masalah-masalah hubungan sosial, ekonomi, dan kebudayaan
dari negara-negara yang diwakili.
3) Mempertimbangkan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan
dari negara-negara yang diwakili..
4) Mempertimbangkan masalah-masalah kepentingan khusus dari bangsa-

Sejarah Nasional Indonesia VI 277


bangsa Asia-Afrika, seperti masalah kedaulatan Nasiona, rasialisme, dan
kolonialisme.
5) Meninjau kedudukan Asia-Afrika dan rakyatnya, serta memberikan
sumbangan yang dapat mereka berikan dalam usaha memajukan
perdamaian dan kerja sama dunia.
6) Ingin membagikan ekonomi kepada negara yang kekurangan pada Asia –
Afrika.
Pernyataan di atas yang benar terdapat pada nomor...
a. 1-2-3-4-5
b. 2-3-4-5-6
c. 1-3-4-5-6
d. 2-3-4-5-6

Sejarah Nasional Indonesia VI 278


DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU
Abdulgani,Roeslan. Sejarah, Cita-Cita dan Pengaruhnya ( Konferensi Asia-Afrika
Bandung). (Jakarta: Idayu Press, 1997).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Daerah Jawa Barat. 1973.
Diah, B.M. Arti Konperensi Bandung. (Bandung: Yayasan 17-8-45, 1980).
Kusumatmadja, Mochtar. Politik Luar Negeri dan Pelaksanaannya dewasa ini.
Bandung: Penerbit Alumni, 1983).
Notosusanto, Nugroho dan Marwati Djoened. Sejarah Nasional Indonesia VI.
(Jakarta: PN. Balai Pustaka, 2011).
Oktorino, Nino., et.al. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya (Sejarah Nasional
Indonesia). (Jakarta: Lentera Abadi, 2009)
Prawirasaputra, Sumpena. Politik Luar Negeri Republik Indonesia. (Bandung:
Remaja Karya CV Bandung, 1984).
Sabir, M. Quo Vadis Non Blok?. (Jakarta: CV Haji Masagung, 1990).
Widjaja. A.W. Indonesia Asia Afrika (Non Blok politik Bebas Aktif). (Jakarta: Bina
Aksara, 1986).
Yusuf, Suffri. Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri. (Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan, 1989).

SUMBER INTERNET
(online).DedeYusuf,https://www.academia.edu/4582744/PERANAN_
INDONESIA_DALAM_KONFERENSI_ASIA_AFRIKA,diaksespada tanggal 20
Oktober 2016, pukul 13.35.pdf

Sejarah Nasional Indonesia VI 279


Sejarah Nasional Indonesia VI 280
8
PEMILIHAN UMUM I 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 281


Keterangan:
11. Menjelaskan Sistem Negara
1. Memahami Materi Sejarah Nasional Kesatuan Republik Indonesia
Indonesia I 12. Kehidupan Berbangsa dan
2. Memahami Materi Sejarah Nasional Bernegara Masa RIS
Indonesia II 13. Menjelaskan Sistem Negara
3. Memahami Materi Sejarah Nasional Indonesia Berdasarkan UUDS 1950
Indonesia III 14. Menjelaskan Keadaan Sosial
4. Memahami Materi Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia Pada Masa
Indonesia IV Demokrasi Liberal
5. Memahami Materi Sejarah Nasional 15. Menjelaskan Sistem Ekonomi
Indonesia V Indonesia Masa Demokrasi Liberal
6. Menjelaskan Hasil Konferensi Meja 16. Menjelaskan Usaha Pemerintah
Bundar dan Pembentukan Republik Indonesia dalam Memperbaiki
Indonesia Serikat (RIS) Ekonomi Nasional
7. Menjelaskan Keadaan Sosial, 17. Menjelaskan Berbagai
Politik, Ekonomi, dan Hankam Masa pemberontakan di Indonesia Masa
Republik Indonesia Serikat Demokrasi Liberal dan Terpimpin
8. Menjelaskan Konsep dan Sistem 18. Menjelaskan Keadaan Militer
Pemerintahan RIS Indonesia Masa Demokrasi Liberal
9. Membandingkan Konstitusi RIS dan 19. Menjelaskan Ketidakstabilan Politik
UUD 1945 Dalam Negeri Indonesia
10. Menjelaskan Faktor Penyebab 20. Menjelaskan Pelaksanaan Pemilu I
Kembalinya RIS Menjadi NKRI Tahun 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 282


21. Menjelaskan Politik Luar Negeri 31. Menjelaskan Kebijakan Politik
Indonesia Pemerintah Indonesia Masa
22. Menjelaskan Keadaan Sosial Demokrasi Terpimpin
Ekonomi Indonesia Masa Demokrasi 32. Menjelaskan Perpolitikan PKI di
Liberal Indonesia (1960-1965)
23. Menjelaskan Kehidupan Sosial 33. Menjelaskan Politik Konfrontasi
Budaya Pada Masa Demokrasi Indonesia dengan Malaysia
Liberal 34. Menjelaskan Penyebab Keluarnya
24. Menjelaskan Keadaan Hankam Indonesia dari PBB dan Konferensi
Indonesia Masa Demokrasi Liberal Asia Afrika
25. Menjelaskan Perpolitikan Indonesia 35. Menjelaskan Upaya Pembebasan
Masa Demokrasi Liberal Irian Barat
26. Menjelaskan Keadaan Indonesia 36. Menjelaskan Peristiwa Gerakan 30
Masa Demokrasi Liberal September
27. Menjelaskan Konsepsi Soekarno 37. Menjelaskan Keadaan Indonesia
28. Menjelaskan penyebab Masa Demokrasi Terpimpin
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 38. Menjelaskan Politik Indonesia
Juli 1959 Masa Demokrasi Terpimpin
29. Berlakunya Kembali UUD 1945 39. Menjelaskan Kehidupan Berbangsa
30. Menjelaskan Deklarasi Ekonomi dan Bernegara Indonesia Masa
(DEKON) Orde Lama

Sejarah Nasional Indonesia VI 283


Pada bab ketujuh telah dibahas mengenai kondisi
politik luar negeri Indoneisa dan pelaksanaan Konferensi
Asia-Afrika. Indonesia memiliki peran yang sangat penting
dalam perpolitikan internasional ketika itu. Konferensi Asia-
Afrika merupakan salah satu bentuk keterlibatan Indonesia
dalam percaturan politik dunia. Soekarno yang anti
imperialisme dan neokolonialisme berusaha menyampaikan ide-idenya kepada
negara-negara Asia-Afirika yang hadir dalam konferensi tersebut. Konferensi
Asia-Afrika menghasilkan berbagai keputusan yang dituangkan dalam suatu
kominek bersama yang kemudian dikenal dengan “Dasasila Bandung”. Secara
ringkas isi Dasasila Bandung yaitu setiap bangsa memiliki hak untuk merdeka
dan menentukan nasib bangsanya sendiri tanpa campur tangan dan kepentingan
negara lain.
Dalam bab kedelapan ini akan dibahas mengenai upaya mencapai kestabilan
politik dalam negeri Indonesia. Semenjak terbentuknya negara kesatuan yang
diatur dalam UUDS 1950 dengan sistem pemerintahan parlementer yang dikenal
dengan zaman pemerintahan partai-partai. Pemilihan umum (PEMILU) juga
telah dibicarakan, yang kemudian diatur dalam UU No. 7 tahun 1953 terutama
tentang pemilihan anggota Konstituante dan anggota DPR.
Pada bab ini kita akan membahas pokok materi mengenai PEMILU
seperti latar belakang dilaksanakannya pemilihan umum pertama tahun 1955,
kronologis pelaksanan pemilu tahun 1955, kemudian sidang konstituante, dan
keadaan politik pasca pemilu. Setelah proses pembelajaran bab kedelapan ini
mahasiswa diharapkan mengerti dan memahami mengenai sejarah pertama
pemilihan umum pada tahun 1955. Adapun tujuan instruksional khusus bab
ketujuh ini sebagai berikut:

Sejarah Nasional Indonesia VI 284


Tujuan Instruksional Umum(TIU)

1. Menguraikan pelaksanaan Pemilu I 1955 sebagai langkah perbaikan


politik dalam negeri Indonesia
2. Menganalisis faktor dikeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai
awal perubahan sistem ketatanegaraan Indonesia

Setelah mempelajari bab VIII, mahasiswa diharapkan dapat:


1. Menjelaskan dasar perundang-undangan pelaksanaan Pemilu tahun
1955
2. Mendeskripsikan pelaksanaan Pemilu tahun 1955
3. Menjelaskan hasil Pemilu tahun 1955 dan sidang konstituante
4. Menganalisis dampak Pemilu tahun 1955 terhadap perpolitikan
Indonesia
5. Menganalisis Konsepsi Soekarno dan dikeluarkannya Dekrit Presiden
5 Juli 1959.

Sejarah Nasional Indonesia VI 285


1 Latar Belakang Pemilu I 1955

Bentuk negara RI ialah negara kesatuan dan


bentuk pemerintahannya ialah Republik (pasal 1
reminder ayat 1 UUDS RI). Tugasnya ditetapkan dalam Pasal 1
Pemilu tahun UUDS yang menentukan bahwa RI yang merdeka dan
1955 merupakan
pemilu pertama berdaulat ialah suatu negara hukum yang demokratis
sejak Indonesia dan berbentuk kesatuan.1
merdeka. Pemilu ini
Undang-undang Dasar Negara Republik
berlangsung secara
terbuka dan relatif Indonesia tahun 1945 yang disusun oleh pendiri
adil. negara, pada prosesnya mengalami pasang surut
sesuai dengan kebijakan politik saat itu. Periodesasi
keberlakuan tersebut menggambarkan bahwa konstitusi yang menjadi dasar
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara benar-benar telah diuji dengan
berbagai peristiwa dan kondisi bangsa sesuai dengan dinamika sejarah yang
berlangsung.2
Undang-Undang Dasar 1945 pada hakikatnya adalah sebuah “konstitusi
kebebasan” (the Constitution of Liberty) yang merupakan wujud dari kehendak
bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan. Hal ini terungkap jelas dalam
rangkaian kalimat pada Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan,“Disusunlah
kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar
Negara Republik Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat”. 3
Atas desakan, tuntutan, dan kehendak rakyat negara-negara bagian untuk
kembali ke negara kesatuan, terjadilah penggabungan negara-negara bagian
tersebut ke dalam Negara RI. Sehingga pada akhirnya RIS hanya terdiri dari 3
negara bagian, yaitu: Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, dan
Negara Sumatera Timur. Maka diadakanlah perundingan antara Pemerintah RIS
dan Pemerintah RI yang menghasilkan piagam persetujuan kedua pemerintah
1 Kansil dan Christine S.T Kansil, Hukum Tata Negara Indonesia 1, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000). h. 291
2 Pimpinan MPR dan Tim kerja sosialisasi MPR periode 2009-2014, empat pilar kehidupan berbangsa dan
bernegara, h. 121
3 Aidul Fitriciada Azhary, Konstitusi dan Demokrasi, (Jurnal, 2007) h. 143

Sejarah Nasional Indonesia VI 286


pada tanggal 19 Mei 1950 dengan isi pokok antara lain persetujuan kedua
pemerintah untuk dalam waktu yang sesingkat-singkatnya bersama-sama
melaksanakan Negara Kesatuan, sebagai penjelmaan dari Negara Republik
Indonesia berdasar Proklamasi 17 Agustus 1945.4
Isi piagam persetujuan tersebut ialah sebagai berikut :
1. Konstitusi RIS akan diubah sedemikian rupa sehingga essentialia
(intisari) UUD 1945 khususnya pasal pasal 27,29, dan 33 termuat
dalam UUD yang baru itu ditambah dengan ketentuan-ketentuan dari
Konstitusi RIS yang baik dan tidak bertentangan dengan asas negara
kesatuan.
2. Dalam UUD yang baru itu harus dimuat pokok pikiran: hak milik itu
adalah suatu fungsi sosial.
3. Soekarno tetap dipertahankan sebagai presiden. Tentang soal apakah
akan diadakan jabatan wakil Presiden akan diambil keputusan
kemudian.
4. Hubungan pemerintahan dengan DPR akan disadarkan atas sistem
parlementer Eropa Barat dan bukan sistem presidensial USA.
5. Senat diharuskan, sedang DPR akan terdiri dari gabungan DPR RIS dan
Badan Pekerja KNIP .
6. Membentuk suatu Panita yang bertugas menyelenggarakan
persetujuan tersebut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.5
Pada rapat gabungan Parlemen dan Senat RIS, tanggal 15 Agustus 1950,
Presiden RIS yakni Soekarno, membacakan piagam terbentuknya Negara
Kesatuan Republik Indonesia.6 Pembubaran RIS dan bergabung dengan RI
memang dimungkinkan berdasarkan Pasal 43 Konstitusi RIS, yang menyebutkan;
“Dalam penyelesaian susunan federasi RIS yang maka berlakulah asas
pedoman, bahwa kehendak rakyatlah di daerah-daerah bersangkutan yang
dinyatakan dengan merdeka menurut jalan demokrasi, memutuskan status
yang kesudahannya akan diduduki oleh daerah-daerah tersebut dalam federasi”
keadaan ini menandakan bahwa proyek pemerintah Belanda untuk menciptakan
negara federal di Republik Indonesia telah gagal total, rakyat Indonesia kembali
ke bentuk negara kesatuan.7
4 Udiyo basuki, Quo Vadis UUD 1945 : Refleksi 67 tahun Indonesia Berkonstitusi. (Jurnal, 2012) h. 13
5 M. Solly Lubis, Ketatanegaraan Republik Indonesia, Bandung: Mandar Maju. 1993. h.50
6 Andi Setiadi Soekarno Bapak Bangsa, (Yogyakarta: Palapa, 2013). h. 74
7 Ni’matul Huda, Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Grafindo, 2005). h. 129
Sejarah Nasional Indonesia VI 287
Oleh sebab itu akhirnya pembentukan Negara Kesatuan dilakukan melalui
jalan Konstitusional, dengan melaksanakan perubahan konstitusi Republik
Indonesia Serikat melalui pasal 190 KRIS dan pasal 190 KRIS ditegaskan :
1. Perubahan konstitusi itu terjadi dengan Undang-undang Federal yang
disetujui oleh DPR dan Senat.
2. Baik DPR atupun Senat harus ber-quorum istimewa, yaitu dihadiri
2/3 dari jumlah anggota dan Undang-Undang perubahan itu harus
diterima oleh kelebihan istimewa pula, yaitu 2/3 dari jumlah anggota
yang hadir.8
Untuk melaksanakan roda pemerintahan negara menurut undang-
undang dasar sementara maka segera dibentuk alat-alat kelengkapannya.
Presiden Republik Indonesia Serikat yaitu Presiden Soekarno, menurut piagam
persetujuan pemerintahan negara Republik Indonesia Serikat dan pemerintah
negara Republik Indonesia pasal 3 sub e, adalah tetap sebagai presiden negara
kesatuan.9
Bagi negara kesatuan yang baru terbentuk, tentu diperlukan sebuah
undang-undang dasar yang baru.10 Pemilihan umum sebagai salah satu
sarana untuk melaksanakan demokrasi guna mengikutsertakan rakyat dalam
menentukan wakil dan calon pemimpinnya belum dapat diselenggarakan
ditahun awal Indonesia merdeka, karena revolusi pada saat itu diarahkan untuk
mempertahankan kemerdekaan serta membendung arus kolonial yang dengan
berbagai dalih berusaha kembali ke Indonesia. Ditambah pula dengan pertikaian
di dalam lembaga politik dan pemerintahan serta belum adanya undang-undang
yang mengatur pelaksanaan pemilihan umum, meskipun ide untuk mengadakan
pemilihan umum sudah muncul sejak Indonesia merdeka.11
Pemilihan umum sebenarnya telah lama menjadi program kerja kabinet-
kabinet yang memegang pemerintahan, akan tetapi banyak faktor yang
menghambat seperti yang telah dijelaskan. Setelah beberapa tahun lamanya
menjadi program pemerintah, persiapan-persiapan untuk melaksanakan
pemilihan umum telah dilakukan pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo.12
8 M. Solly Lubis, Op. Cit., h. 49
9 Joeniarto, Sejarah Ketatanegaraan, (Jakarta: Bima Aksara, 1984). h.86
10 Pimpinan MPR dan Tim kerja sosialisasi MPR periode 2009-2014, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa
Dan Bernegara, h.131
11 Sawitri Pri Prabawati, Partai lokal Pada pemilu 1955, h. 3
12 Sekretariat Negara Republik Indonesia, 30 Tahun Indonesia Merdeka. h. 88

Sejarah Nasional Indonesia VI 288


Gambar 8.1 Bentuk kampanye pada Pemilihan Umum 1955 yang diikuti oleh puluhan partai,
organisasi, dan perorangan. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.

Dalam upaya mempercepat pelaksanaan Pemilihan Umum 1955, pada


tanggal 31 Juli 1954 dibentuk Panitia Pemilihan Umum Pusat dengan ketuanya
Hadikusumo (PNI). Pada tanggal 16 April 1955 Hadikusumo mengumumkan
bahwa pemilihan umum untuk parlemen akan diadakan pada tanggal 29
September 1955 dan pemilihan untuk konstituante pada tanggal 15 Desember
1955. Selama proses menuju Pemilihan Umum 1955 terjadi beberapa konflik dan
ketegangan politik dalam negeri yang menyebabkan Kabinet Ali Sastroamijoyo
digantikan oleh Kabinet Burhanuddin Harahap.
Pemilihan Umum 1955, diikuti puluhan partai, organisasi masa, dan
perorangan dalam pemilihan umum pertama yang dilakukan semenjak
Indonesia merdeka. Ditinjau dari aspek politik, pelaksanaan pemilu tahun 1955
berlangsung ketika Indonesia berada pada masa yang disebut masa “percobaan
demokrasi”. Masa percobaan demokrasi merupakan suatu tahapan dimana
Indonesia masih mencari format pemerintahan dan sistem politik yang sesuai
dengan kondisi Indonesia.13

13 Santoso Minarno, Strategi PNI dalam Memenangkan Pemilu 1955 di Jawa Tengah, 2012, h. 11

Sejarah Nasional Indonesia VI 289


2 Landasan dan Tujuan
Pemilihan Umum I 1955
Sejak pemerintahan parlementer digulirkan,
isu-isu mengenai PEMILU juga telah mencuat.

reminder Pemilihan umum (PEMILU) diatur dalam UU


Tujuan No. 7 tahun 1953 tentang pemilihan anggota
dilaksanakannya Konstituante dan anggota DPR.14 Undang-undang
Pemilihan Umum I
1955, adalah untuk inilah yang menjadi payung hukum Pemilu 1955 yang
memilih anggota diselenggarakan secara langsung, umum, bebas dan
Konstituante dan
rahasia (LUBER). Dengan demikian UU No. 27 Tahun
anggota DPR. Untuk
melakukan tugas 1948 tentang Pemilu yang diubah dengan UU No. 12
dewan perwakilan tahun 1949 yang mengadopsi pemilihan bertingkat
rakyat
(tidak langsung) bagi anggota DPR tidak berlaku
lagi.15
Pemilu tahun 1955 merupakan pemilu pertama sejak Indonesia merdeka.
Pemilu ini berlangsung secara terbuka dan relatif adil.16 Pemilu pertama tahun
1955, juga didasarkan pada Pasal 135 Ayat 2 UUDS 1950 yang berbunyi:

“Menentukan bahwa anggota-anggota Konstituante dipilih oleh


warga negara Indonesia dengan dasar umum dan dengan cara bebas dan
rahasia menurut aturan yang ditetapkan dengan Undang-undang”. Dan
Pasal 57 yang menentukan bahwa anggota-anggota Dewan Perwakilan
Rakyat dipilih dalam suatu pemilihan umum oleh warga negara Indonesia
yang memenuhi syarat-syarat dan aturan-aturan yang ditetapkan dengan
Undang-undang”.17

Undang-Undang ini berisikan dua pasal, yaitu: Pertama, berisi ketentuan


perubahan Konstitusi RIS menjadi UUDS 1950. Kedua, berisi ketentuan mengenai
tanggal mulai berlakunya UUDS tahun 1950 itu menggantikan Konstitusi RIS,
yaitu tanggal 17 Agustus 1950.18 Selain itu persaingan politik pada pemilihan
umum pertama ditandai dengan terbitnya Maklumat Wakil Presiden No. X yang
14 Dasril Radjab, Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta). h. 103
15 Muh. Yahya Selma, Perjalanan Panjang pemilu Indonesia, Vol 1 No. 1 2009, h. 20
16 Jimly Ashiddiqie, Parpol dan Pemilu sebagai Instrumen Demokrasi, 2006, h. 103
17 Djohermansyah djohan dan ayi karyana, sistem kepartaian dan pemilu, ipem4318/buku ajar 1 h. 14
18 Ni’matul Huda, Hukum Tata Negara Indonesai, 2005, h. 130

Sejarah Nasional Indonesia VI 290


mana negara pada saat itu mengarah pada kegiataan ketatanegaraan yang
demokratis,19 yang berisi anjuran tentang berdirinya partai-partai politik.20
Untuk lebih jelas lagi, isi dari Maklumat Wakil Presiden No. X berbunyi
sebagai berikut :

“Bahwa Komite Nasinal Pusat, sebelum terbentuk majelis


permusyawaratan rakyat dan dewan perwakilan rakyat diserahi
kekuasaan legislatif dan menetapkan garis-garis besar haluan negara,
serta menyetujui bahwa pekerjaan Komite Nasional Indonesia Pusat
sehari-hari berhubungan dengan gentingnya keadaan dijalankan oleh
sebuah badan pekerja yang dipilih diantara mereka dan bertanggung
jawab kepada Komite Nasional Indonesia Pusat”.21

Sebetulnya sekitar tiga bulan setelah kemerdekaan diproklamasikan


oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, pemerintah waktu itu sudah
menyatakan keinginannya untuk bisa menyelenggarakan pemilu pada awal tahun
1946. Hal itu dicantumkan dalam Maklumat X, atau Maklumat Wakil Presiden
Mohammad Hatta, tanggal 3 November 1945, yang berisi anjuran tentang
pembentukan partai-partai politik.22 Tidak terlaksananya pemilu pertama pada
bulan Januari 1946 seperti yang di amanatkan oleh Maklumat 3 November 1945,
paling tidak disebabkan 2 (dua) hal :
1. Belum siapnya pemerintah baru, termasuk dalam penyusunan
perangkat UU Pemilu;
2. Belum stabilnya kondisi keamanan negara akibat konflik internal antar
kekuatan politik yang ada pada waktu itu, apalagi pada periode yang
sama gangguan dari luar juga masih mengancam. Dengan kata lain
para pemimpin lebih disibukkan oleh urusan stabilitas politik dalam
dan luar negeri.23
Adapun tujuan dilaksanakannya Pemilihan Umum I 1955, adalah untuk
memilih anggota Konstituante dan anggota DPR. Untuk melakukan tugas dewan
perwakilan rakyat maka sebelum dapat dibentuk dewan perwakilan rakyat

19 Suhartono W. Pranoto, Revolusi Agustus Nasionalisme Terpasung dan Diplomasi internasional,


(Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama, 2001). h.145
20 Moh Amirul Mukminin, avatara e-jurnal pendidikan sejarah vol. 3, no.3 (oktober 2015), h. 487
21 Joeniarto, Op.Cit. h. 50
22 Muh. Yahya Selma, Vol 1 No. 1. Op. Cit. h. 18
23 Ibid, h. 18

Sejarah Nasional Indonesia VI 291


yang dimaksud dalam pasal 56, maka berdasarkan pasal 77 untuk pertama
kali dibentuk “Dewan Perwakilan Rakyat Sementara” (DPRS) yang terdiri dari
gabungan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia Serikat dan Badan Pekerja Komite
Nasional Indonesia Pusat. Sedangkan senat dihapuskan ini sehubungan bahwa
didalam negara kesatuan (undang-undang sementara) tidak dikenal adanya
senat.

3 Pelaksanaan Pemilihan Umum I


1955

Dalam manifesto politik pemerintahan yang dikeluarkan pada tanggal 1


November 1945 sebagai tindak lanjut Maklumat No. X, makna pemilihan umum
bagi pemerintahan konstitusional secara eksplisit dijelaskan sebagai berikut:

“Sedikit lagi kita akan mengadakan pemilihan umum sebagai bukti


bahwa bagi kita, cita-cita dan dasar kerakyatan itu benar-benar dasar dan
pedoman penghidupan masyarakat dan negara kita. Mungkin sebagai
akibat pemilihan itu pemerintah akan berganti dan Undang-undang dasar
kita akan disempurnakan menurut kehendak rakyat kita terbanyak”.24

Pemilihan umum pertama pada tahun 1955 mengunakan sistem pemilihan


proposional.25 Pada sistem ini, presentase kursi di lembaga perwakilan rakyat
dibagikan kepada tiap-tiap partai politik, sesuai dengan persetase jumlah suara
yang diperoleh tiap-tiap partai politik.26

Gambar 6.2 Pemandangan di TPS Bendungan


Ilir, Jakarta dan kesibukan beberapa anggota
P3S (Penitia Pemilihan dan Pemungutan Suara).
Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.
24 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi pemerintahan konstitusional di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Utama
Grafiti, 1995). h.29
25 Kusnardi dan Bintan R. Saragih, Ilmu Negara, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000) h. 273
26 Jimly Asshiddiqie. Op.Cit. h.425

Sejarah Nasional Indonesia VI 292


Akan tetapi, sistem pemilu proporsional dalam
sistem pemerintahan parlementer telah mengurangi
reminder kedekatan anggota DPR terpilih dengan konstituen
Pemilihan umum
yang diwakilinya. Pilihan sistem Pemilu proporsional ini
pertama pada tahun
1955 mengunakan menurut Burhanudin Harahap merupakan pilihan yang
sistem pemilihan paling dirasakan demokratis karena memungkinkan
proposional
terjaminnya semua suara yang diberikan akan
memperoleh wakilnya di badan perwakilan rakyat.
Sistem proporsional yang diterapkan saat itu adalah proporsional dengan daftar
tertutup. Faktor ini telah menjauhkan elit yang duduk dalam dewan perwakilan
dengan Konstituennya. Tidak saja karena sifat dasar dari sistem pemilu
proporsional yang tidak sensitif dengan kehendak dari konstituen pemilihnya,
tapi juga sistem parlementer telah menempatkan partai sebagai pihak yang
secara signifikan berkuasa dalam pemerintahan.27

Gambar 6.3 Gambar partai/organisasi yang ikut dalam Pemilihan Umum 1955 di dalam bilik-
bilik pemungutan suara. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka

Pada pemilihan pertama tahun 1955 ini juga ada pengangkatan untuk
warga Indonesia turunan Cina, Arab, dan Eropa lebih kurang berjumlah 18
orang.28 Selain itu, PEMILU yang dilakukan pada tahun 1955 terjadi pada kurun
waktu ketika berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia berada pada
masa perkembangan tetapi masih fluktuatif.29 Pada pemilihan umum pertama
ini, partai-partai yang ikut dalam kesempatan tersebut adalah :

27 Ibid. h. 105
28 Kusnardi Saragih, 2000. Op.Cit. h. 273
29 Santoso Minarno, 2012. Op.Cit. h. 11

Sejarah Nasional Indonesia VI 293


1. Partai Nasional Indonesia (PNI)
2. Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi)
3. Nahdatul Ulama (NU)\
4. Partai Komunis Indonesia (PKI)
5. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
6. Partai Kristen Indonesia (Parkindo)
7. Partai Khatolik
8. Partai Sosialis Indonesia (PSI)
9. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)
10. Partai Islam Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah)
11. PRN
12. Partai Buruh
13. GPPS
14. PRI
15. PPPPRI
16. Partai Murba
17. Baperki
18. PIR Wongsonegoro
19. Gerinda
20. Permai
21. Persatuan Daya
22. PIR Hazairin
23. PPTI
24. AKUI
25. PRD
26. PRIM
27. Acoma
28. Partai R. Soedjono Prawiro Soedarmo.30
Didalam pelaksanaannya Indonesia dibagi dalam 16 daerah pemilihan yaitu :
1. Jawa Timur
2. Jawa Tengah (termasuk Di Yogyakarta)
3. Jawa Barat

30 Inu Kencana Syafeiie, Sistem Pemerintah Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994) h. 115

Sejarah Nasional Indonesia VI 294


4. Jakarta Raya
5. Sumatera Selatan
6. Sumatera Tengah
7. Sumatera Utara
8. Kalimanatan barat
9. Kalimantan Selatan
10. Kalimantan Timur
11. Sulawesi Utara Tengah (wilayah Sangihe Talaud, Daerah Minahasa,
Sulawesi Utara, Donggala, dan Poso)
12. Sulawesi Tenggara-Tengah (Wilayah Luwu Mandar, Pare-Pare, Makasar,
Bone, Bonthain, dan Sulawesi Tenggara)
13. Maluku
14. Sunda Kecil Timur (sekarang NTB minus Lombok dan NTT)
15. Sunda Kecil Barat (Bali dan Lombok)
16. Papua (Irian Barat)31

a. Pelaksanaan Pemilu Tahap I


Pemilihan umum tahap I untuk pemilihan
anggota DPR dilaksanakan pada tanggal 29 September
reminder 1955.32 Sedangkan panitia pemilihan umum pusat
Pemilihan umum telah dibentuk pada 31 Mei 1954, yang diketuai
tahap I untuk
oleh Hadikusumo (PNI).33 Masa jabatan anggota DPR
pemilihan anggota
DPR dilaksanakan ialah 4 tahun (pasal 59 UUDS RI) dan bagi anggota-
pada tanggal 29 anggota DPR, dilarang untuk merangkap jabatan.
September 1955 dan
pemilihan umum Hal ini terdapat dalam ketentuan pasal 61 UUDS
untuk Konstituante RI.34 Larangan merangkap jabatan bagi para anggota
diadakan pada
DPR adalah sama dengan yang ditentukan terhadap
tanggal 15 Desember
1955. para anggota senat, dengan tambahan bahwa para
anggota DPR tidak dapat merangkap anggota senat
(Pasal 102 K-RIS).35
31 Pemilihan Presiden secara langsung 2004 Dokumentasi, analisi dan kritik, h.260
32 Dasril radjab, Op. Cit. h. 104
33 Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia VI, (Jakarta: Balai Pustaka, 2011) h. 314
34 Kansil, Op.Cit. h. 294
35 Ibid. h. 289

Sejarah Nasional Indonesia VI 295


Gambar 6.4 Wakil Presiden Moh.
Hatta sedang menunggu gilirannya
untuk ikut memilih dalam Pemilu 1955.
Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia
Merdeka.
Jumlah orang yang hadir dalam pemilihan umum untuk memilih anggota-
anggota DPR pada bulan September 1955 sangat banyak.36 Pada pemilihan
umum ini lebih dari 39 juta rakyat Indonesia memberikan suaranya dikotak
suara masing-masing daerah. Hasil pemilihan umum I ini ternyata dimenangkan
oleh empat partai yaitu Masyumi, PNI, NU, dan PKI.37
Peran dari unsur-unsur diuar pemerintahan sangat besar dalam PEMILU
ini seperti: tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan lain-lain, mereka
mengkosolidasi dan menganjurkan rakyat untuk ikut serta dalam pemilihan
umum ini. Pemilihan umum tersebut menawarkan pilihan yang paling bebas
diantara sederet partai-partai yang jumlahnya tidak dibatasi yang kesemuanya
berkampanye dengan penuh semangat, oleh karena itu hasil-hasil pemilihan
umum tersebut dapat banyak menunjukan kesetian-kesetian politik pada saat
itu.38

b. Pelaksanaan Pemilu Tahap II


Pemilihan umum untuk Konstituante diadakan pada tanggal 15 Desember
1955. Suasana dalam menghadapi pemilihan ini lebih tenang dari pada ketika
menghadapai pemilihan untuk DPR. Rupanya rakyat sudah lebih berpengalaman
dan ketegangan dapat diatasi.39 Lain dari DPR, Konstituante akan terdiri dari
sejumlah anggota-anggota yang besarnya ditetapkan atas perhitungan setiap
150.000 jiwa penduduk warga negara Indonesia mempunyai seorang wakil (pasal
135 ayat 1).40 Dan hasilnya pada 10 November 1956 di Bandung, Konstituante
36 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: UGM Press. 2005). h. 376
37 Poesponegoro dan Notosoeosanto.Op.Cit. h. 317
38 M.C. Ricklefs, Op. Cit., hh.376-377
39 Poesponegoro dan Notosoeosanto, Op.Cit. h. 321
40 Kansil. Op.Cit. h. 295

Sejarah Nasional Indonesia VI 296


diresmikan.41 Seperti isi pidato Soekarno dalam pelantikan, sebagai berikut :
“Lima puluh juta rakyat pergi ke kotak pemilihan. Lima puluh juta
rakyat menentukan Konstituante sebagai yang dikehendaki oleh konstitusi
sementara 1950 pasal 134-139 itu dan saudara-saudaralah berbahagia
mendapat kehormatan dipilih oleh rakyat dalam pemilihan umum secara
langsung itu, bebas, dan rahasia. Saudara-saudara sungguh memikul
amanat yang maha bertangung jawab ! “42

Gambar 6.5 Presiden Soekarno sedang memasukan surat suaranya dalam pemilihan anggota
konstituante pada Pemilu Tahap 2 1955. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.
Konstituante dibentuk dengan jalan memperbesar DPR yang dipilih
menurut pasal 11 K-RIS dan senat baru yang ditunjuk menurut pasal 97 K-RIS
dengan anggota-anggota luar biasa sebanyak jumlah anggota majelis masing-
masing. Jadi konstituante akan terdiri dari :
1) Anggota biasa, ialah para anggota DPR dan Senat dan
2) Anggota luar biasa
Anggota luar biasa itu dipilih ataupun ditunjuk atau diangkat oleh rapat
gabungan DPR dan senat, keduanya dengan jumlah anggota dua kali lipat itulah
Konstituante. Segala ketentuan yang berlaku bagi para anggota biasa, berlaku
pula terhadap para anggota luar biasa (Pasal 188 K-RIS).43 Dalam pidatonya pada
saat pelantikan, Presiden Soekarno juga menyatakan;

“Kita bukan tidak punya konstitusi, malah dengan konstitusi yang


berlaku sekarang, kita sudah mempunyai 3 konstitusi… tapi, semua
konstittusi itu (UUD 1945, UUD RIS, dan UUDS 1950) adalah bersifat
41 Pimpinan MPR dan tim kerja sosialisasi MPR periode 2009-2014, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa
dan Bernegara, 2013, h. 132
42 Iaman Toto K. Raharjo dan Henrdianto WK, Bung Karno Wacana Konstitusi dan Demokrasi, 2001, h. 74
43 Kansil. Op.Cit. h. 289

Sejarah Nasional Indonesia VI 297


sementara. Semua konstitusi itu bukanlah hasil permusyawaratan antara
anggota-anggota suatu konstituante yang dipilih langsung oleh rakyat
dalam pemilu yang bebas dan rahasia”.44

Badan konstituante ini maksudnya ialah untuk bersama-sama Pemerintahan


menetapkan Undang-Undang Dasar yang tetap yang sedianya untuk
menggantikan Undang-Undang Sementara. Pada mulanya dengan terbentuknya
badan Konstituante dapat diharapkan segera dihasilkan sebuah Undang-undang
dasar yang dapat memberikan suatu sistem yang bisa membawakan stabilitas
politik.45

4 Hasil PEMILU Tahun 1955

Hasil PEMILU memutuskan empat partai besar yakni PNI, MASYUMI, NU,
dan, PKI, mereka yang mengumpulkan suara 75% dari keseluruhan pemilih pada
pemilihan umum tahun 1955 dan pemilihan daerah pada tahun 1957.46
Tabel 8.1 Hasil Pemilihan Umum I.47

Suara Yang Suara Yang Kursi Kursi


Partai
Sah Sah (%) Parlemen Parlemen (%)
PNI 8.434.653 22,3 57 22,2
Masyumi 7.903.886 20,9 57 22,2
NU 6.955.141 18,4 45 17,5
PKI 6.176.914 16,4 39 15,2
PSII 1.091.160 2,9 8 3,1
Parkindo 1.003.325 2,6 8 3,1
Partai Katholik 770.740 2,0 6 2,3
PSI 753.191 2,0 5 1,9
Murba 199.588 0,5 2 0,8
Lain-lain 4.496.701 12,0 30 11,7
Jumlah 37.785.299 100,0 257 100,0

44 M. Dzulfikriddin, Mohammad Natsir dalam sejarah Politik Indonesia, (Jakarta: Mizan, 2010). h. 111-
112
45 Joeniarto. Op.Cit. hh. 88-89
46 Aris Sumanto dan zulkarnain, Op.Cit. h. 3
47 Ricklefs. Op.Cit. h. 377

Sejarah Nasional Indonesia VI 298


Sebagai hasil pemilihan umum, yang khusus diselenggarakan untuk
pemilihan Konstituante, dan pelantikan Konstituante pada 10 November 1956
di Bandung. Maka pemilihan umum untuk Konstituante telah memutuskan
terpilihnya 514 anggota konstituante. Dan telah diangkat pula oleh pemerintah
30 anggota tambahan, yakni 12 anggota tambahan dari golongan warga negara
keturunan Cina, 12 anggota tambahan dari golongan warga negara keturunan
Eropa dan 6 anggota untuk mewakili daerah pemilihan Irian Barat, karena
didaerah tersebut belum dapat diselanggarakan pemilihan (mengenai Irian
Barat ini lihat pasal 134 UUD Pemilihan Umum). Dari golongan warga negara
keturunan Arab tidak ada yang diangkat lagi, karena golongan ini telah mencapai
jumlah perwakilan minimal sebagaimana yang telah ditentukan dalam UUDS RI
(pasal 135 ayat 3).48 Anggota Konstituante RI Hasil PEMILU 1955 Berdasarkan
Partai atau fraksi.49
Tabel 8.2 Blok Pancasila

No Nama Partai atau Fraksi Jumlah Kursi

1 Partai Nasiona Indonesia (PNI) 119


2 Partai Komunis Indonesia (PKI) 60
3 Fraksi Republik Proklamasi 20
4 Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 16
5 Partai Khatolik 10
6 Partai Sosialis Indonesia (PSI) 10
7 Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) 8
8 Partai Rakyat Nasional (PRN) 3
9 Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia (PPPRI) 3
10 Partai Persatuan Daya (Kalimantan) 2
11 Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai) 2
12 Gerakan Pembela Pancasila (GPPS) 2
13 Badan Perwakilan Kota Indonesia(Baperki) 2
14 Gerakan Indonesia (Gerinda) 2
15 Partai Rakyat Indonesia (PRI) 2
16 Partai Republik Indonesia Merdeka (PRIM) 2

48 Kansil dan Christine S.T Kansil, Hukum Tata Negara Republik Inddonesia 1, 2000, h. 296
49 M. Dzulfikriddin, Mohammad Natsir dalam sejarah Politik Indonesia, 2010, hh. 216-217

Sejarah Nasional Indonesia VI 299


17 Partai Indonesia Raya (PIR-Wongsonegoro) 2
18 Partai Indonesia Raya (PIR-Hazarin) 1
19 Angkatan Cominis Muda (Acoma) 1
20 R. Soedjono Prawirosoedarso 1
21 Gerakan Banteng Republik Indonesia 1
22 Partai Indonesia Raya (PIR-Nusa Tenggara Barat) 1
23 Persatuan Rakyat Desa (PDR) 1
24 Radja Keprabonan 1
15 Partai Tani Indonesia 1
Jumlah 273

Tabel 8.3 Blok Islam

No Nama Partai atau Fraksi Jumlah Kursi

1 Partai Masyumi 112


2 Nahdatul Ulama (NU) 91
3 Partai Syarikat islam Indonesia (PSII) 16
4 Partai PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) 7
5 Angkatan Kesatuan Umat Islam (AKUI-Jawa Timur) 1
6 Partai Persatuan Tarekat Islam (PPTI) 1
7 Garakan Pilihan Sunda (Jawa Barat) 1
Pusat Pergerakan Pencalonan L.E. Idrus Effendi
8 1
(Sulawesi Tenggara)
Jumlah 230

Tabel 8.4 Blok Sosial Ekonomi

No Nama Partai atau Fraksi Jumlah Kursi

1 Partai Buruh 5
2 Partai Murba 4
Jumlah 9

Sejarah Nasional Indonesia VI 300


Hasil dalam pemilu tersebut adalah Partai Nasional Indonesia mendapatkan
57 kursi DPR dan 119 kursi Konstituante (22,3%), Masyumi 57 kursi DPR dan
112 kursi Konstituante (20,9%), Nahdatul Ulama 45 kursi DPR dan 91 kursi
Konstituante (18,4%), Partai Komunis Indonesia 39 kursi DPR dan 80 kursi
Konstituante (16,4%).50 Sesuai dengan ketentuan pasal 77 UUDS RI maka DPR RI
yang pertama terdiri dari :
1. Ketua, Wakil-Wakil Ketua dan Anggota-Anggota DPR,
2. Ketua, Wakil-Ketua dan Anggota-Anggota Senat,
3. Ketua, Wakil-Wakil Ketua dan Anggota-Anggota Badan Pekerja
4. KNP dan Ketua, Wakil Ketua dan anggota DPA.51
Setelah Pemilihan Umum 1955 terlaksana,
tugas Kabinet Burhanuddin Harahap dianggap telah
reminder selesai dengan demikian perlu dibentuk kabinet baru
Setelah Pemilihan yang akan bertanggung jawab kepada parlemen
Umum 1955
terlaksana, tugas
yang baru. Selain itu, dalam pemerintahan terjadi
Kabinet Burhanuddin ketidak tenangan karena banyak mutasi dilakukan
Harahap dianggap beberapa kementerian, misalnya kementerian dalam
telah selesai dengan
demikian perlu negeri, kementerian luar negeri, dan kementerian
dibentuk kabinet perekonomian. Hal-hal tersebut di atas merupakan
baru yang akan
faktor munculnya desakan agar Burhanuddin
bertanggung jawab
kepada parlemen Harahap mengembalikan mandatnya dan pada
yang baru tanggal 3 Maret 1956 kabinet pun dibubarkan.

Gambar 6.6 Pengambilan


Sumpah Anggota DPR hasil
pemilihan umum 1955 oleh
Presiden Soekarno di Istana
Negara pada tanggal 25
Maret 1956. Sumber: Buku
30 Tahun Indonesia Merdeka.

50 Amandemen Undang-Undang dasar 1945, h. 104


51 Kansil, Op.Cit. h. 294

Sejarah Nasional Indonesia VI 301


5 Pasca Pemilu dan Ketidakstabilan
Politik
a. Sidang Konstituante
Majelis Konstituante merupakan forum bagi wakil-wakil rakyat yang dipilih
secara langsung dalam pemilu yang bebas dan rahasia dengan tujuan untuk
merancang undang-undang dasar baru. Dari Konstituante itu, banyak pihak
berharap akan lahir karya demokrasi monumental pasca UUD 45. UUD baru
diperlukan karena UUD yang telah dimiliki Indonesia sampai saat itu bersifat
sementara.52 Konstituante diatur dalam pasal 134, 136, dan 137 UUD 1950.
Pasal yang disebut pertama berbunyi sebagai berikut :
“Konstituante (sidang Pembuat Undang-Undang Dasar) bersama-
sama dengan pemerintah selekas-lekasnya menetapkan Undang-Undang
Dasar Republik Indonesia yang akan menggantikan Undang-Undang
Dasar Sementara ini”. 53
Sidang konstitusi harus diadakan sekurang-kurangnya dua kali dalam
1 tahun dan harus diadakan apabila dianggap perlu oleh panitia persiapan
konstitusi, atau atas permintaan tertulis dari sekurang-kurangnya sepersepuluh
dari jumlah anggotanya. Sidang pleno harus dinyatakan terbuka untuk umum,
kecuali apabila ketua menganggap perlu menutupnya, atau atas permintaan
sekurang-kurangnya 20 orang anggota. Semua keputusan kecuali yang dibuat
dalam sidang tertutup, harus diambil secara terbuka. Agenda sidang pleno
ditetapkan oleh panitia persiapan konstitusi tanpa mengurangi hak sidang pleno
untuk mengubahnya.54
Konstituante dipimpin oleh ketua dengan lima orang wakil ketua. Mereka
dipilih dari anggota konstituante dalam rapat terbuka yang harus dihadiri oleh
sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota konstituante dan disahkan
oleh presiden sebelum pemilihan dan pengesahan ketua, sidang akan diketuai
oleh anggota yang tertua. Salah satu organ terpenting dalam Konstituante
adalah panitia persiapan konstitusi (PPK) yang mewakili semua golongan dan
aliran pemikiran yang terdapat di dalam Konstituante.55
52 M. Dzulfikriddin. Op.Cit h. 111
53 Adnan Buyung Nasution, 1995. Op.Cit. hh. 34-35
54 Ibid, hh. 34-38
55 Ibid, hh.34-38

Sejarah Nasional Indonesia VI 302


Kemudian konstituante membahas dan menyusun PTTK, menentukan
struktur organisasi, pembagian kerja, hak-hak dan tanggung jawab anggota,
penyusunan dan perubahan agenda, serta prosedur pemungutan suara. Dengan
demikian konstituante sekligus juga menggariskan ketidak-tergantungannya
pada pemerintah dalam menyusun undang-undang dasar baru. Dalam menyusun
PTTK, Konstituante menentukan organ-organnya sebagai berikut :
1) Sidang pleno.
2) Pemimpin yakni ketua dan wakil-wakil ketua.
3) Panitia persiapan konstitusi.
4) Komisi-komisi Konstitusi.
5) Panitia musyawarah.
6) Panitia rumah tangga.
7) Panitia-panitia lain (sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 40 ayat 2
PTTK).
8) Sekertariat.56
Badan Konstituante yang telah ditentukan oleh Presiden Soekarno pada
tanggal 10 November 1956 dengan pidato pelantikannya yang terkenal dengan
judul “Susunlah Konstitusi yang benar-benar Konstitusi Republika”.57 Para
anggota Konstituante, yang berangkat mewakili partai masing-masing, lantas
terus-menerus bersidang dan berdebat selama dua setengah tahun untuk
merancang dan menyusun UUD baru yang lebih komprehensif daripada UUD
yang telah ada.
Pembahasan mengenai UUD atau Konstitusi baru itu juga mencangkup
dasar negara dan hak asasi manusia. Dari sekian banyak pokok masalah yang
dibahas untuk dimasukan ke dalam UUD baru, masalah dasar negara adalah
yang paling alot dan banyak menyita waktu. Bahkan, karena kegagalannya dalam
menetapkan dasar negara itu, konstituante dinilai gagal oleh sebagian peminat
sejarah politik Indonesia.58
Pada sidang-sidang tahun 1956, ketua dan wakil-wakil ketua dipilih menurut
prosedur yang disetujui sesudah perdebatan yang panjang lebar. Setelah
itu, dimulai diskusi mengenai peraturan tata tertib yang mencakup organisai
56 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional Indonesia, (Jakarta: Pustaka Utama
Grafiti, 2009) h. 37
57 Dasril Radjab. Op.Cit. h. 104
58 M. Dzulfikriddin. Op.Cit. h. 112

Sejarah Nasional Indonesia VI 303


Kontituante dan cara-cara kerja. Peraturan tata tertib diterapkan dalam sidang
pada semester pertama tahun 1957.59 Selama perdebatan tentang peraturan
tata tertib, partai-partai nasionalis radikal mengajukan pendapat yang secara
prinsipil bertentangan dengan pendapat mayoritas perihal dasar wewenang
konstituante dan fungsi konstituante yang, kalau diliahat dari perkembanagan
kemudian dapat dianggap sebagai indikasi campur tangan pemerintah yang
dilakukan pada tahun 1959.60
Pembicaraan tentang dasar negara berlangsung dalam dua masa
persidangan. Pertama, dari 11 November hingga 7 Desember 1957 dan kedua,
dari 22 April hingga 2 Juni 1959. Pada masa persidangan pertama, tampil 101
orang pembicara yang mengungkapkan aspirasi politik masing-masing, disertai
berbagai argumentasi, termasuk bantahan dan kritikan terhadap pandangan
kelompok lain. Akhirnya sidang pleno pada 6 Desember 1957 memutuskan
bahwa perdebatan tentang dasar negara perlu ditangguhakan untuk membentuk
Panitia Persiapan Konstitusi (PPK) yang ditugaskan untuk mempersiapkan
rumusan yang akan memungkinkan tercapainya kompromi.
Pada sidang tahun 1958, pokok-pokok pembicaraan yang penting ialah
ha-hak asasi manusia, penyempurnaan prosedur, dan asas-asas dasar kebijakan
negara. Berbeda dengan sifat pedebadan mengenai dasar negara yang cenderung
berpengaruh pada perpecahan, perdebatan tentang hak-hak asasi manusia
malah lebih mempersatukan. Ini terlihat dari adanya konsensus yang menonjol
mengenai arti penting hak-hak asasi manusia, termasuk kebebasan beragama.
Beberapa perbedaan pendapat yang ada berkisar pada kebebasan berpindah
agama yang tidak dapat diterima oleh partai-partai Islam, dan masalah-masalah
yang berkaitan dengan hak milik modal asing yang disalahgunakan untuk
memeras rakyat, serta persamaan hak bagi semua warga negara Indonesia tanpa
memandang keturunan. Pada tanggal 9 dan 11 September 1958 Kontituante
menerima 19 Pasal mengenai hak-hak asasi manusia untuk dimasukan ke dalam
Undang-Undang Dasar dan menyetujui sejumlah besar hak-hak asasi manusia
khusus untuk diteruskan kepada panitia perisapan konstitusi agar dapat
dirumuskan dalam pasal-pasal.61

59 Adnan Buyung Nasution, Op.Cit., h. 40


60 M. Dzulfikriddin. Op. Cit,. h.113
61 Adnan Buyung Nasution. Op.Cit. h. 41

Sejarah Nasional Indonesia VI 304


Gambar 6.7 Suasana pengucapan pernyataan bersama dalam Musyawarah Nasional di Jakarta
pada tanggal 14 Desember 1957. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.
Akan tetapi, meskipun telah bersidang selama kurang lebih dua setengah
tahun namun Konstituante belum bisa menyelesaikan tugasnya, situasi ditanah air
berada dalam keadaan genting, sehingga dikhawatirkan bisa timbul perpecahan
bangsa dan negara. Belum lagi konstituante selalu gagal memecahakan masalah
pokok dalam menyusun undang-undang dasar baru, karena tidak pernah
mencapai quorum 2/3 sebagaimana yang diharuskan.62
Memperhatikan lambannya perkembangan sidang konstituante yang
membahas masalah dasar negara disertai perkembangan politik di luar gedung
konstituante yang berubah sangat cepat, pihak AD yang dimotori oleh Jendaral
Abdul Haris Nasution menyatakan dalam suatu pertemuan sipil militer I pada
13 Februari 1959, bahwa TNI (AD) sedang melopori usaha untuk kembali ke
UUD proklamasi 1945. Usaha AD itu brhasil meyakinkan Presiden Soekarno
dan Kabinet Djuanda. Dalam plenonya pada 19 Februari 1959, Kabinet Djuanda
memutusakan akan melaksanakan demokrasi terpimpin dalam rangka kembali ke
UUD 1945 yang akan dilakukan secara konstitusional. Keputusan itu disampaikan
kepada Presiden Soekarno sehari kemudian dan Soekarno menerima keputusan
itu.63
Untuk mengatasi hal tersebut, akhirnya presiden pada 22 April 1959,
Presiden Soekarno menyampaikan amanat atas Pemerintah Republik Indonesia

62 Pimpinan MPR dan tim kerja sosialisai Mpr periode 2009-20014,empat pilar kehidupaan berbangsa
dan bernegara, h.132
63 M. Dzulfikriddin. Op.Cit. h.114

Sejarah Nasional Indonesia VI 305


di depan sidang pleno Konstituante agar menetapkan saja Undang-undang Dasar
Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagai Undang-undang Dasar Republik
Indonesia.64
Semua fraksi di Konstituante setuju dengan usulan pemerintah itu, kecuali
Masyumi dan fraksi-fraksi Islam lainnya. Sebagai tuntutan minimal, mereka
meminta cara dalam pembukaan UUD 1945 itu ditambahkan dengan Piagam
Jakarta dan pada Pasal 29 Ayat 1-nya diberi amandemen sehingga berbunyi
seperti yang termaktub dalam Piagam Jakarta. Oleh karena tidak ada kesepakatan
terhadap kedua usulan yaitu kembali ke UUD 1945 apa adanya seperti ditetapkan
pada 18 agustus 1945 atau kembali ke UUD 1945 dengan amandemen seperti
yang diusulkan oleh fraksi-fraksi islam, maka jalan keluarnya dilakukan voting.65
Sesudah memusyawarahkan anjuran sejak tanggal 29 April 1959, akhirnya
pada tanggal 30 Mei, 1, dan 2 Juni 1959 diselenggarakan pemungutan suara
di Konstituante (Bandung) untuk menetapkan diterima tidaknya anjuran itu.
Hasilnya sebagai berikut :
1. Pemungutan suara I, tanggal 30 Mei 1959. Hadir 478 anggota; setuju
269; tidak setuju 199. Pemungutan suara ini dilakukan secara terbuka.
2. Pemungutan suara II, tanggal 2 Juni 1959. Hadir 469 anggota; setuju
264; tidak setuju 204. Pemungutan suara ini dilakukan secara tertutup.
3. Pemungutan suara II, tanggal 2 Juni 1959. Hadir 469 anggota; setuju
263; tidak setuju 203. Pemungutan suara ini dilakukan secara terbuka.66
Selain alasan prosedural yang tidak konstitusional, ada sejumlah alasan
fundamental yang menyebabkan para anggota konstituante dari faksi nasionalis,
komunis, dan Islam menolak berlakunya kembali UUD 1945 sebagai pengganti
UUDS 1950. Tidak lain karena adanya kekurangan dan kelemahan yang terdapat di
dalam UUD 1945 itu sendiri, yakni pertama, memberi porsi kekuasaan terlampau
besar kepada eksekutif, yang memungkinakan terwujudnya pemerintahan
diktaktor. Kedua, kurang memberikan perlindungan terhadap HAM dan hak-hak
warga negara. Ketiga, begitu banyak loop holes yang terdapat dalam rumusan
pasal-pasal UUD 1945.67
64 Pimpinan MPR dan tim kerja sosialisai Mpr periode 2009-20014, empat pilar kehidupaan berbangsa
dan bernegara, hh.132-133
65 M. Dzulfikriddin.Op.Cit. hh. 114-115
66 Kansil. Op.Cit h. 297
67 Huda. Op.Cit. h. 133

Sejarah Nasional Indonesia VI 306


Setelah diadakan pembahasan, pandangan umum dan tiga kali
pemungutan suara yang tidak mencapai quorum dilanjutkan dengan absennya
anggota Konstituante sehingga tidak mungkin menyelesaikan tugas-tugasnya,
maka untuk menyelamatkan Negara Indonesia, Presiden mengeluarkan Dekrit
Presiden 5 Juli 1959.68
Ketua Mahkamah Agung pada saat itu (Dr. Wirjono Prodjodikoro, SH)
dalam suatu wawancara khusus dengan dewan redaksi seluruh Indonesia pada
tanggal 11 Juli 1959 memberikan pendapatnya mengenai dekrit presiden sebagai
berikut : “tindakan mendekrit kembali ke UUD 1945 yang dalam bahasa Belanda
dinamakan staats noodrecht. Ini berarti bahwa dalam keadaan ketatanegaraan
tertentu, kita dapat terpaksa mengadakan tindakan yang memaksa ini, dianggap
oleh presiden/panglima tertinggi angkatan perang ada dalam kita. Berdasarkan
inilah dekrit presiden tentang kembali ke UUD 1945 dikeluarkan”. 69
Padahal menurut Mr. Wilopo yang menjabat ketua Konstituante, “Majelis
ini sudah dapat menyelesaikan 90% tugasnya”. Seandainya majelis ini diberi
kesempatan beberapa bulan lagi saja, tanpa ada intervensi dari luar, niscaya
konstituante dapat menyelesaikan segenap rakyat Indonesia dengan tuntas dan
baik termasuk tentang dasar negara. Dekrit ini berarti mengakhiri hak hidup dan
keberadaan Konstituante yang dibentuk berdasarkan hasil pemilu 1955. Dekrit
itu juga menutup kesempatan bagi konstituante untuk menyelesaikan tugas-
tugas yang diamanatkan kepadanya, yakni membuat UUD baru yang lebih baik
dan lengkap bagi negara Republik Indonesia.70

68 Basuki. Op.Cit. hh. 14-15


69 Radjab,. Op.Cit. h. 107
70 Dzulfikriddin. Op.Cit. h. 115

Sejarah Nasional Indonesia VI 307


10 - 26 November 1956
Pelantikan Majelis Konstituante
Pidato Presiden tentang Undang-Undang
Dasar yang permanen

14 Mei - 6 Desember 1957


Peraturan Tata tertib Menteri dan
Sistematika UUD
Debat tentang Dasar Negara

13 Januari - 11 September 1958


Debat I tentang Hak-Hak asasi manusia
Debat II tentang Hak-Hak Asasi manusia
Campur Tangan Pemerintah yang pertama Pidato Perdana
Menteri Djuanda

22 Aprill - 2 Juli 1959


Campur tangan Pemerintah yang kedua
Amanat Presiden Soekarno tentang Usul kembali ke UUD 1945
Amandemen Konstituante
penolakan Konstituante terhadap usul kembali ke UUD 1945

5 Juli 1959
Campur tanagn Pemerintah yang ketiga
Dekrit Presiden tentang pembubaran Konstituante : Kembali Ke
UUD 1945

Skema Sidang Konstituante.71

71 Nasution. Op.Cit. h. 553

Sejarah Nasional Indonesia VI 308


b. Konsepsi Soekarno
Dalam suasana politik yang makin memburuk dengan meluasnya
pemberontakan-pemberontakan daerah dan tidak tercapainya pemerintahan
yang stabil meskipun telah dilakukan pemilihan umum, Presiden Soekarno
melontarkan suatu gagasan untuk memperbaiki keadaan pemerintahan. Di
hadapan para pemimpin partai dan tokoh masyarakat di istana merdeka pada
tanggal 21 Februari 1957 Presiden Soekarno mengemukakan konsepsinya yang
kemudian dikenal sebagai ‘Konsepsi Presiden Soekarno’ atau Konsepsi Presiden.
Konsepsi Presiden ini pada pokoknya berisi :
1. Sistem Demokrasi Parlementer secara barat tidak sesuai dengan
kepribadian Indonesia, oleh karena itu harus diganti dengan sistem
Demokrasi Terpimpin.
2. Untuk pelaksanaan sistem Demokrasi Tepimpin perlu dibentuk suatu
kabinet gotong royong yang anggotanya terdiri dari semua partai
dan organisasi berdasarkan perimbangan kekuatan yang ada dalam
masyarakat. Konsepsi Presiden ini mengetengahkan pula perlunya
pembentukan ‘kabinet kaki empat’ yang mengandung arti bahwa
keempat partai besar, yakni PNI, Masyumi, NU dan PKI, turut serta
didalamnya utuk menciptakan kegotoroyongan nasional.
3. Pembentukan dewan nasional yang terdiri dari golongan – golongan
fungsional dalam masyarakat. Tugas utama dewan nasional adalah
memberi nasihat kepada kabinet baik diminta maupun tidak diminta.
Konsepsi presiden ini menimbulkan perdebatan yang hangat dalam
masyarakat dan dalam DPR. Partai-partai seperti Masyumi, NU, PSII, Katolik,
dan PRI menolak konsepsi ini, dan berpendapat bahwa mengubah sistem
pemerintahan dan susunan ketatanegaraan secara radikal seperti itu adalah
wewenang konsituante. Suasana semakin tegang telah usaha-usaha untuk
melakukan konsepsi persiden (berpusat di kota) mendapat tantangan di daerah-
daerah, yang mengakibatkan gerakan daerah semakin memuncak dan semakin
meluas. Tidak lama kemudian pada bulan maret 1957 Perdana Menteri Ali
Sastroamidjojo mengembalikan mandatnya.

Sejarah Nasional Indonesia VI 309


Gambar 6.8 Masa rakyat yang memberikan dukungan terhadap konsepsi Presiden Soekarno di
muka Istana Merdeka Pada bulan Februari 1957. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.

Setelah peristiwa tersebut, presiden menyatakan seluruh wilayah Republik


Indonesia, termasuk semua perairan teritorialnya, dalam keadaan darurat perang.
Keadaan darurat perang tersebut kemudian ditingkatkan menjadi keadaan
bahaya tingkat keadaan perang pada tanggal 17 Desember 1957. Keadaan perang
ini telah memungkinkan angkatan perang lebih leluasa mengambil tindakan-
tindakan tegas dalam mengulangi pemberontakan-pemberontakan daerah
serta pengacauan yang dilakukan oleh gerobolan DI/TII diberbagai tempat, yang
sementara itu juga telah semaki meningkat (Sudharmono, 1986 : 109).
Presiden Soekarno kemudian menunjuk Soewirjo menjadi formatur. Dua
kali Soewirjo berusaha, tetapi gagal membentuk kabinet. Dengan gagalnya
Soewirjo, akhirnya Presiden Soekarno menunjuk dirinya sendiri sebagai formatur.
Formatur Ir. Soekarno membentuk kabinet darurat Ekstra parlementer dengan
Ir. Djuanda sebagai perdana menteri. Kabinet Djuanda ini diberi nama Kabinet
Karya dan didalamnya duduk dua orang anggota angkatan bersenjata. Progam
kabinet karya disebut pancakarya, yaitu:
1) Membentuk dewan nasional
2) Menormalisasi keadaan RI
3) Melanjutkan pembatalan KMB

Sejarah Nasional Indonesia VI 310


4) Memperjuangkan Irian Barat
5) Mempercepat pembangunan
Dalam usaha untuk mencari penyelesaian masalah-masalah daerah serta
musyawarah pada tanggal 10-14 September 1957 diselenggarakan musyawarah
nasional yang dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional baik dipusat maupun didaerah,
termasuk mantan wakil Presiden Moh. Hatta di Jakarta. Dalam musyawarah
nasional tersebut dibicarakan antara lain masalah-masalah pemerintahan, soal-
soal daerah, ekonomi keuangan, angkatan perang, kepartaian, dan juga masalah
yang menyangkut dwitunggal Soekarno-Hatta. Musyawarah nasional ini berhasil
mengambil beberapa keputusan yang mencermikan suasana saling pengertian
selama musyawarah tersebut berlangsung. Pada penutupannya pada tanggal
14 September dikeluarkan suatu pernyataan bersama yang ditandatangani oleh
Presiden Soekarno dan mantan wakil Presiden Moh. Hatta (Sudharmono, 1985
: 110).

6 Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Periode ini dimulai dengan dilaksanakannya pemilihan umum 1955 dan


berakhir dengan diumumkannya Dekrit Presiden tahun 1959 tentang kembali
ke UUD 1945.72 Setelah bersidang lebih kurang 2,5 tahun ternyata badan
Konstituante belum dapat menghasilkan suatu rancangan UUD sebagaimana
yang ditentukan oleh Pasal 134 UUDS 1950.73 Majelis Konstituante tidak atau
belum berhasil menyelesaikan tugasnya untuk menyusun UUD baru ketika
Presiden Soekarno berkesimpulan bahwa Konstituante telah gagal.
Atas dasar inilah, ia mengeluarkan Dekrit tanggal 5 Juli 1959 yang
memberlakukan kembali UUD sebagai UUD Negara Republik Indonesia.74
Dasar hukum yang dijadikan rujukan untuk mengeluarkan dekrit ini adalah
Staatsnoodrecht (hukum tata negara darurat).75 Dalam konsiderans dari Dekrit
itu, dikemukakan beberapa dasar pertimbangan bagi penetapan dekrit tersebut,
yaitu :
72 Poesponegoro dan Notosoesanto. Op.Cit. h. 316
73 Radjab., Op.Cit. h. 104
74 Huda,. Op.Cit. h .131
75 Pimpinan MPR dan tim kerja sosialisasi MPR periode 2009-20014, empat pilar kehidupaan berbangsa
dan bernegara, h. 133

Sejarah Nasional Indonesia VI 311


1. Anjuran Presiden/Pemerintah untuk kembali kepada UUD 1945,
yang disampaikan kepada segenap rakyat Indonesia dengan amanat
Presiden pada tanggal 22 April 1959, tidak memperoleh keputusan
dari Konstituante sebagaimana ditentukan dalam UUDS 1950.
2. Sebagian besar dari anggota Konstituante itu telah menyatakan
pendiriannya untuk tidak menghadiri lagi sidang Konstituante. Oleh
sebab itu Konstituante itu tidak mungkin lagi menyelesaikan tugas
yang dipercayakan rakyat kepadanya.
3. Keadaan yang demikian menimbulkan keadaan ketatanegaraan yang
membahayakan persatuan dan keselamatan Negara, Nusa, dan Bangsa
serta merintangi pembangunan semesta untuk mencapai masyarakat
adil dan makmur.
4. Dengan dukungan terbesar rakyat Indonesia dan didorong oleh
keyakinan sendiri, Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi
Angkatan Perang terpaksa menempuh satu-satunya jalan untuk
menyelamatkan negara proklamasi.
5. Presiden berkeyakinan bahwa piagam Jakarta tertanggal 22 Juni
1945 dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstituante
tersebut. Demikianlah dasar dekrit 5 Juli 1959.76
Setelah mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh politik, beberapa
menteri, dan pimpinan Angkatan Perang, pada tanggal 5 juli 1959 disusun
rumusan yang kemudian dikenal sebagai “Dekrit 5 Juli 1959”. Dekrit itu dibacakan
Presiden Soekarno tanggal 5 Juli dalam acara yang berlangsung lima belas menit
di halaaman Istana Merdeka di Jakarta yang dihadiri ribuan orang.77 Maka atas
dasar-dasar tersebut Soekarno mengatakan;
“Kami presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang,
Menetapkan pembubaran Konstituante;
Menetapakan Undang-Undang Dasar 1945 belaku lagi bagi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, terhitung mulai
hari tanggal penetapan Dekrit ini, dan tidak berlakunya kembali lagi
Undang-Undang Dasar Sementara;
Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, yang terdiri
atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditambah dengan
utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, serta
76 Kansil. Op.Cit. hh. 297-298
77 Poesponegoro dan Notosoesanto. Op.Cit. hh. 381-285

Sejarah Nasional Indonesia VI 312


pembentukan dewan pertimbangan sementara, akan diselenggarakan
dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Ditetapkan di: Jakarta


Pada tanggal: 5 juli 1959

Atas nama rakyat Indonesia


Presiden Republik Indonesia/ Panglima tertinggi angkatan perang
Soekarno”.78

Pada tanggal 9 Juli diumumkan suatu kabinet kerja baru dengan Soekarno
sebagai perdana menteri Djuanda sebagai menteri utama. Leimena, Chairil
Saleh, dan Subandio tetap berada dalam inti kabinet tersebut, tidak demikian
dengan Idhan Khailid, tetapi tokoh NU lainnya menjadi tokoh menteri agama
(kementerian yang paling diinginkan NU untuk dikuasai).79 Namun demikian,
nyatanya sejarah ketatanegaraan Indonesia telah berlangsung sedemikian rupa,
sehingga Dekrit Presiden tanggal 5 juli 1959 telah menjadi kenyataan sejarah
dan kekuatannya telah memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai UUD negara
Republik Indonesia sejak tanggal 5 juli sampai dengan sekarang.80
Pemerintahan yang terbentuk setelah Pemilu 1955 mengalami nasib yang
sama dengan pemerintahan pada masa-masa sebelumnya. Pemerintahan jatuh
bangun karena ketidakmampuan dan mosi-mosi tidak percaya. Namun demikian
hasil Pemilu 1955 menggambarkan pilihan rakyat atas partai-partai kepercayaan
mereka.81

78 Iaman Toto K. Raharjo dan henrdianto WK, Bung Karno Wacana Konstitusi dan Demokrasi, (Jakarta:
Grafindo, 2001). h. 140
79 M.C. Ricklefs., Op.Cit. hh. 402-403
80 Asshiddiqie., Op.Cit. h.40
81 Ibid. h.103

Sejarah Nasional Indonesia VI 313


studi kasus

Uji Analisa 4 BAB 8


Coba Anda analisa, mengapa Pemilu pertama baru dapat diadakan pada tahun 1955 pada
masa Kabinet Burhanuddin Harahap.
___________________________________________________________
Jawab :

Sejarah Nasional Indonesia VI 314


RANGKUMAN

Pemilihan umum pertama kali dilaksanakan pada tahun 1955. Dasar


pelaksanaan pemilu pertama tahun 1955 adalah Undang-Undang No. 7 tahun
1953 tentang pemilihan anggota Konstituante dan anggota DPR dan Maklumat
X atau Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta, tanggal 3 November
1945, yang berisi anjuran tentang pembentukan partai-partai politik. Pada
saat pemilihan pertama ini Indonesia dibagi atas 16 daerah pemilihan. Tujuan
dari pemilu pertama tahun 1955 yaitu untuk memilih wakil rakyat (DPR dan
Konstituante).
Pada pemilu pertama ini pelaksanaan dibuat menjadi 2 tahap. Tahap
pertama dilaksanakan pada 29 September 1955 untuk memilih anggota DPR
dan tahap kedua pada 15 Desember 1955 untuk memilih konstituante. Hasil
pemilihan pertama ini dimenangkan oleh empat partai, yakni PNI, Masyumi, NU,
dan PKI. Dalam sidangnya yang kurang lebih dua setengah tahun konstituante
gagal menyusun Undang-Undang dasar sehingga Presiden mengeluarakan
dekrit pada tanggal 5 Juli 1959 yang berisi, membubarkan Konstituante, belaku
kembali UUD 1945 dan UUDS dibubarkan, dan akan dibentuknya DPAS, DPRGR,
dan MPRS.

GLOSARIUM

PTTK Peraturan Tata Terib Konstituante


Pleno Rapat yang dihadiri oleh segenap anggota paripurna
yang kemudian mencapai hasil perumusan panitia ini
akan dibawa ke sidang
Konstituante Lembaga negara Indonesia yang ditugaskan untuk
membentuk Undang-Undang Dasar atau konstitusi baru
untuk menggantikan UUDS 1950
Konstitusi Sebuah norma sistem politik dan hukum bentukan pada
pemerintahan Negara biasanya dikodifikasikan sebagai
dokumen tertulis.

Sejarah Nasional Indonesia VI 315


Dekrit Perintah yang dikeluarkan oleh kepala negara maupun
pemerintahan dan memiliki kekuatan hukum. Banyak
konstitusi memungkinkan dekret dalam masalah
tertentu, seperti pada pernyataan keadaan darurat
Mosi Sebuah prosedur parlemen yang digunakan kepada
parlemen oleh parlemen oposisi dengan harapan
mengalahkan atau mempermalukan sebuah
pemerintahan
Quorum Merupakan jumlah minimal anggota yang harus hadir
dalam suatu rapat agar setiap keputusan yang diambil
bisa diakui sah
Fluktuatif Sebuah kondisi / keadaan yang tidak stabil, yang
menunjukkan gejala yang tidak tetap dan selalu
berubah-ubah.
Proporsional Suatu keadaan yang sesuai dengan proporsi yang
biasanya dikaitkan dengan takaran tertentu

Sejarah Nasional Indonesia VI 316


latihan

Berikut ini terdapat beberapa butir soal latihan yang perlu mahasiswa
kerjakan, dengan tujuan agar mahasiswa dapat lebih memahami dan menguasai
materi mengenai sejarah nasional Indonesia sesuai dengan materi yang telah
diberikan dan diuraikan secara ringkas dalam Bab ini. Adapun soal essay dikerjakan
pada kertas double folio dengan maksimal jawaban per soal sebanyak 500 kata,
sedangkan soal multiple choice/ pilihan ganda dapat anda jawab dengan hanya
menuliskan salah satu jawaban yang benar pada lembar kertas double folio.
Selamat mengerjakan.

ESSAY
1. Analisilah kekurangan serta kelebihan pada pelaksanan pemilu pertama
tahun 1955?
2. Uraikan kronologis pelaksanaan pemilu tahun 1955?
3. Bagaimana dampak yang ditimbulkan sebelum dan sesudah pemilihan
umum tahun 1955 dilaksankan ?
4. Buatlah peta konsep dari kekurangan dan kelebihan pemilu pertama tahun
1955?
5. Jelaskan latar belakang dikeluarkannya dekrit presiden yahu 1955?

PILIHAN GANDA
1. Pemilihan umum 1955 tahap pertama dilaksanakan pada tanggal...
a. 18 Agustus1955 c. 15 Desember 1955
b. 29 September 1955 d. 21 Desember 1955

2. Landasan hukum pelaksanaan Pemilu I 1955 diatur dalam undang-undang


nomor...
a. 7 Tahun 1953 c. 9 Tahun 1953
b. 27 Tahun 1948 d. 21 Tahun 1953

Sejarah Nasional Indonesia VI 317


3. Pelaksanaan Pemilu 1955 dilaksanakan pada masa pemerintahan kabinet...
a. Wilopo c. Burhanuddin Harahap
b. Ali Sastroamijoyo d. Djuanda

4. Tujuan dilaksanakannya Pemilu 1955 adalah...


a. Memilih Presiden dan Wakil Presiden
b. Memilih Anggota Konstiuante dan Anggota DPR
c. Memilih Menteri Negara
d. Memilih Anggota Kabinet
5. Sistem pemilu dimana peresentase kursi di lembaga perwakilan rakyat
dibagikan kepada tiap-tiap partai politik, sesuai dengan persetase jumlah
suara yang diperoleh tiap-tiap partai politik dinamakan...
a. Sistem Distrik c. Sistem Kombinasi
b. Sistem Proposional d. Sistem terpusat

6. Pelaksanaan Pemilu 1955 tahap 2 bertujuan untuk...


a. Memilih Anggota DPR
b. Memilih Anggota Kabinet
c. Memilih Wakil Presiden
d. Memilih Anggota Konstituante

7. Berikut ini yang merupakan urutan partai dengan suara terbanyak dalam
Pemilu 1955 adalah...
a. PNI, PKI, NU, dan Masyumi
b. NU, PNI, PKI, Masyumi
c. PNI, Masyumi, NU, dan PKI
d. Masyumi, NU, PNI, dan PKI

8. Tugas merancang dan menyusun UUD baru sebagai pengganti UUD 1950
selama masa Demokrasi Liberal merupakan tugas dari...
a. Anggota DPR
b. Presiden dan Wakil Presiden
c. Kabinet
d. Konstituante
Sejarah Nasional Indonesia VI 318
9. Latar belakang kembali diterapkannya UUD 1945 sebagai dasar negara
Republik Indonesia sebagai berikut, kecuali...
a. Ketidakmampuan Badan Konstituante menghasilkan UU yang sesuai
dengan kepribadian bangsa dalam jangka waktu yang telah ditetapkan
b. Konsepsi Soekarno mengenai kebangsaan Republik Indonesia
c. Hasil perjanjian dengan Belanda dalam KMB
d. Dekrit Presiden 5 Juli 1955
10. Berikut merupakan isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959, kecuali...
a. Membentuk Badan pengganti Konstituante
b. Membubarkan Konstituante
c. Berlakunya Kembali UUD 1945
d. Membentuk MPRS dan DPAS

Sejarah Nasional Indonesia VI 319


DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU
Dzulfikriddin, M. Mohammad Natsir Dalam Sejarah Politik Indonesia. (Bandung:
Mizan Pustaka, 2010).
Huda, Ni’Matul. Hukum Tata Negara Indonesia. (Jakarta : Raja Grafindo, 2005).
Jimly, Asshidiqie. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. (Jakarta : Raja Grafindo
Prasada, 2009).
Jimy, Asshidiqie. Konstitusi dan Kontitualisme Indonesia. (Jakarta : Sinar Grafika,
2014).
Joeniarto. Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia. (Yogyakarta. Bima
Aksara, 1984).
Kansil dan Christin S.T. Kansil. Hukum Tata Negara Republik Indonesia 1. (Jakarta
: Rineka Cipta, 2000).
Kusnadi, Moh dan Bintan R. Saragih. Ilmu Negara. (Jakarta : Gaya Media Pratama
Jakarta, 2000).
Lubis, M. Solly. Ketatanegaraan Republik Indonesia. (Bandung : Mandar Maju,
1993).
Nasution, Adnan Buyung. Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di I n d o n e s i a
Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959. (Jakarta : Pustaka Utama
Grafiti, 1995).
Nasution, Adnan Buyung. Aspirasi Pemerintahan Konstitusional Di I n d o n e s i a
Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959. (Jakarta : Pustaka Utama
Grafiti, 2009).
Pimpinan MPR dan Tim Kerja sosialis MPR Periode 2009-2014. Empat Pilar
Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. (Jakarta : Sekertariat Jenderal
MPR RI, 2013).
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho. Sejarah Nasional Indonesia VI.
(Jakarta : Balai Pustaka, 2011).
Pranoto, Suhartono W. Revolusi Agustus Nasionalisme Terpasung dan Diplomasi
Internasional. (Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2001).

Sejarah Nasional Indonesia VI 320


Radjab, Dasril. Hukum Tata Negara Indonesia. (Jakarta : Rineka Cipta, 1994).
Raharjo, Iman Toto K. dan Herdianto WK. Bung Karno Wacana Konstitusi dan
Demokrasi. (Jakarta : Grasindo, 2001).
Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern. (Gaja mada university press, 2005).
Setiadai, Andi. Soekarno Bapak Bangsa. (Jogjakarta : Palapa, 2013).
Syafiie, Inu Kencana. Sistem Pemerintahan Indonesia. (Jakarta : Rineka Cipta,
1994).

SUMBER E-BOOK:
Amandemen Undang-Undang Dasar 1945.
Pemilihan Presiden Secara langsung 2004 Dokumentas, Analisis dan Kritik.

SUMBER JURNAL :
Aidul Fitriciada Azhary, 2007, Konstitusi dan Demokrasi : Studi tentang Model
Penafsiran Konstitusi bagi Pengujian Konstitusional yang Demokratis di
Indonesia. Vol. 10 No. 2
Ashiddiqie, Jimly. 2006. Parpol dan Pemilu Sebagai Instrumen Demokrasi. Vol. 3
No. 4.
Arianto, Bismar. Analisis Penyebab Masyarakat Tidak Memilih Dalam Pemilu.
Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, Vol. 1, No. 1. 2011.
Basuki, Udiyo. Quo Vadis UUD 1945: Refleksi 67 Tahun Indonesia Berkonstitusi.
Vol.1 No.1. 2012.
Djohan, Djohermansyah dan. Ayi Karyana. Buku ajar 1 Sistem Kepartaian dan
Pemilu
Mukminin, Moh Amirul dan Sumarno. 2015.Hubungan NU dan Masyumi (1945-
1960) Konflik dan Keluarnya NU dari Masyumi. Avatara, e-Journal
Pendidikan Sejarah.
Minarno, Santso. Strategi PNI Dalam Memenangkan Pemilihan Umum di Jawa
Tengah.2012.
Prabawati, Sawitri Pri. Partai Lokal Dalam Pemilu 1955.
Sumanto, Aris dan Zulkarnain. Perkembangan Politik Partai Masyumi Pacsa
Pemilu 1955.
Selma, Muhammad Yahya. 2009. Perjalanan Panjang Pemilu Indonesia. Jurnal
Konstitusi. Vol. 1 No. 1
Sejarah Nasional Indonesia VI 321
Sejarah Nasional Indonesia VI 322
9
DEMOKRASI TERPIMPIN

Sejarah Nasional Indonesia VI 323


Keterangan:
11. Menjelaskan Sistem Negara
1. Memahami Materi Sejarah Nasional Kesatuan Republik Indonesia
Indonesia I 12. Kehidupan Berbangsa dan
2. Memahami Materi Sejarah Nasional Bernegara Masa RIS
Indonesia II 13. Menjelaskan Sistem Negara
3. Memahami Materi Sejarah Nasional Indonesia Berdasarkan UUDS 1950
Indonesia III 14. Menjelaskan Keadaan Sosial
4. Memahami Materi Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia Pada Masa
Indonesia IV Demokrasi Liberal
5. Memahami Materi Sejarah Nasional 15. Menjelaskan Sistem Ekonomi
Indonesia V Indonesia Masa Demokrasi Liberal
6. Menjelaskan Hasil Konferensi Meja 16. Menjelaskan Usaha Pemerintah
Bundar dan Pembentukan Republik Indonesia dalam Memperbaiki
Indonesia Serikat (RIS) Ekonomi Nasional
7. Menjelaskan Keadaan Sosial, 17. Menjelaskan Berbagai
Politik, Ekonomi, dan Hankam Masa pemberontakan di Indonesia Masa
Republik Indonesia Serikat Demokrasi Liberal dan Terpimpin
8. Menjelaskan Konsep dan Sistem 18. Menjelaskan Keadaan Militer
Pemerintahan RIS Indonesia Masa Demokrasi Liberal
9. Membandingkan Konstitusi RIS dan 19. Menjelaskan Ketidakstabilan Politik
UUD 1945 Dalam Negeri Indonesia
10. Menjelaskan Faktor Penyebab 20. Menjelaskan Pelaksanaan Pemilu I
Kembalinya RIS Menjadi NKRI Tahun 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 324


21. Menjelaskan Politik Luar Negeri 31. Menjelaskan Kebijakan Politik
Indonesia Pemerintah Indonesia Masa
22. Menjelaskan Keadaan Sosial Demokrasi Terpimpin
Ekonomi Indonesia Masa Demokrasi 32. Menjelaskan Perpolitikan PKI di
Liberal Indonesia (1960-1965)
23. Menjelaskan Kehidupan Sosial 33. Menjelaskan Politik Konfrontasi
Budaya Pada Masa Demokrasi Indonesia dengan Malaysia
Liberal 34. Menjelaskan Penyebab Keluarnya
24. Menjelaskan Keadaan Hankam Indonesia dari PBB dan Konferensi
Indonesia Masa Demokrasi Liberal Asia Afrika
25. Menjelaskan Perpolitikan Indonesia 35. Menjelaskan Upaya Pembebasan
Masa Demokrasi Liberal Irian Barat
26. Menjelaskan Keadaan Indonesia 36. Menjelaskan Peristiwa Gerakan 30
Masa Demokrasi Liberal September
27. Menjelaskan Konsepsi Soekarno 37. Menjelaskan Keadaan Indonesia
28. Menjelaskan penyebab Masa Demokrasi Terpimpin
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 38. Menjelaskan Politik Indonesia
Juli 1959 Masa Demokrasi Terpimpin
29. Berlakunya Kembali UUD 1945 39. Menjelaskan Kehidupan Berbangsa
30. Menjelaskan Deklarasi Ekonomi dan Bernegara Indonesia Masa
(DEKON) Orde Lama

Sejarah Nasional Indonesia VI 325


Pada bab sebelumnya telah dibahas mengenai
PEMILU I 1955 dan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dengan
dilaksanakannya PEMILU I 1955, Indonesia membuktikan
diri sebagai negara yang menjunjung nilai demokrasi.
Pasca PEMILU I 1955, kondisi Indonesia masih belum
stabil, ketegangan politik antar partai dan kabinet semakin
meningkat, Konstituante hasil PEMILU sendiri tidak kunjung selesai dalam
merancang UU baru pengganti UUD 1945 menimbulkan berbagai permasalahan
baru. Keadaan demikian mendorong Presiden Soekarno menyampaikan
gagasan untuk memperbaiki keadaan pemerintahan. Pada bulan Februari 1957,
dihadapan para pemimpin partai dan tokoh masyarakat Presiden Soekarno
menyampaikan konsepsinya yang kemudian dikenal dengan “Konsepsi Soekarno”
atau “Konsepsi Presiden” mengenai demokrasi Indonesia. Pada tahun 1959
Presiden kemudian mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli yang kemudian menjadi
permulaan Demokrasi Terpimpin.
Soekarno sebagai Presiden Indonesia yang pertama pada masa Demokrasi
Terpimpin berusaha untuk memperbaiki keadaan politik nasional melalui
pasca Dekrit Presiden. Demokrasi Terpimpin menunjukkan dominasi Soekarno
dihampir semua sisi pemerintahan, walaupun prakarsa untuk pelaksanaannya
diambilnya bersama-sama dengan pimpinan angkatan bersenjata. Setelah
mempelajari materi pada bab kesembilan ini diharapkan mahasiswa dapat
mengerti dan memahami keadaan sosial-budaya, pendidikan, ekonomi, dan
perpolitikan Indonesia masa Demokrasi Terpimpin. Adapun tujuan instruksional
khusus pada bab ini sebagai berikut:

Sejarah Nasional Indonesia VI 326


Tujuan Instruksional Umum (TIU)
1. Mendeskripsikan kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa
Demokrasi Terpimpin di Indonesia Tahun 1959-1965

Setelah mempelajari bab IX, mahasiswa diharapkan dapat:


1. Menjelaskan konsep Demokrasi Terpimpin
2. Mendeskripsikan kehidupan sosial dan pendidikan masyarakat
Indonesia masa Demokrasi Terpimpin
3. Menjelaskan kondisi politik Indonesia masa Demokrasi Terpimpin.
4. Menguraikan kebijakan politik Pemerintah Indonesia Masa Demokrasi
Terpimpin
5. Menganalisis penyimpangan yang terjadi selama masa Demokrasi
Terpimpin

Sejarah Nasional Indonesia VI 327


1 Demokrasi Terpimpin di
Indonesia 1959-1965

Ketegangan-ketegangan politik yang terjadi


pasca Pemilihan Umum 1955 membuat situasi
reminder politik di Indonesia tidak menentu. Kekacauan
politik ini berimbas pada keadaan negara menjadi
Demokrasi Terpimpin
darurat. Ditambah lagi Konstituante yang mengalami
menurut Soekarno
adalah bentuk relevan kebuntuan dalam menyusun konstitusi baru,
untuk Indonesia, membuat Negara Indonesia tidak memiliki pijakan
pondasinya sesuai
pembukaan UUD hukum yang kuat. Menurut pengamatan Soekarno,
1945 demokrasi liberal tidak semakin mendorong Indonesia
mendekati tujuan revolusi yang dicita-citakan, yakni
berupa masyarakat adil dan makmur.1
Dalam catatan Sejarah peralihan antara demokrasi parlementer ke
Demokrasi Terpimpin dituliskan sejak tahun 1959, namun istilah Demokrasi
Terpimpin sudah dinyatakan oleh Presiden Soekarno sejak tahun 1957 ketika
banyak tokoh yang mulai khawatir tentang warna demokrasi Indonesia. Dalam
pidatonya dengan judul “Republika Sekali Lagi Republika“ pada sidang Pleno
Konstituante di Bandung 22 april 1959, Soekarno menyerang Konstituante
karena mempraktikkan cara-cara demokrasi liberal, sambil menawarkan
solusi mengembalikan demokrasi Indonesia pada masa Demokarsi Terpimpin.
Demokrasi Terpimpin menurut Soekarno adalah bentuk relevan untuk Indonesia,
pondasinya sesuai pembukaan UUD 1945.2
Setelah Orde Lama menganggap demokrasi parlementer gagal dalam
mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada
awal kemerdekaan.3 Terbentuknya Demokrasi Terpimpin di Indonesia diawali
pada tahun 1959 oleh Presiden Soekarno sebagai pemegang kekuasaan penuh
pemerintahan sebagai akibat krisis politik dan kekacauan diberbagai bidang pada
1 Adi Sudirman, Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik hingga Terkini, (Yogyakarta: DIVA Press,2014).
h 386.
2 Eko Prasetyo, Demokrasi dan Problem Kepemimpinan Politik di Indonesia, (diakses pada jurnal UIN
Jakarta, 2014).
3 Sudirman, Op.Cit. h. 384

Sejarah Nasional Indonesia VI 328


periode demokrasi liberal. Awal demokrasi Terpimpin dimulai dengan adanya
Dekrit Presiden Juli 1959, pasca pembacaan dekrit ini Indonesia memasuki
periode politik yang baru.
Terjadinya sejumlah pemberontakan di dalam negeri yang semakin
manambah kekacauan bahkan menjurus gerakan separatisme juga memperparah
keadaan politik pada masa demokrasi parlementer. Banyaknya partai dalam
parlemen yang saling berbeda pendapat, dan keadaan semakin sulit untuk
menemukan solusi mempersatukan perbedaan antar partai. Masing-masing
partai politik selalu berusaha untuk menggunakan segala cara agar tujuan
partainya tercapai. Konflik antar partai politik inilah yang mengganggu stabilitas
nasional sehingga menyebabkan keterpurukan politik dalam negeri pada masa
itu.4
Soekarno sebagai presiden Indonesia yang pertama pada masa
Demokrasi Terpimpin berusaha untuk memperbaiki keadaan dan perpolitikan
secara nasional melalui Dekrit Presiden.5 Adapun ciri-ciri Demokrasi Terpimpin
sebagai berikut:
a) Dominasi presiden yang kuat, Presiden Soekarno berperan besar dalam
penyelenggaraan pemerintahan.
b) Terbatasnya peran partai politik.
c) Meluasnya peran militer sebagai unsur politik.
d) Berkembangnya pengaruh Partai Komunis Indonesia.6
Secara konseptual, Demokrasi Terpimpin memiliki kelebihan yang dapat
mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari
ungkapan Presiden Soekarno ketika memberikan amanat kepada Konstituante
tanggal 22 April 1959 tentang pokok-pokok Demokrasi Terpimpin, antara lain:
1. Demokrasi Terpimpin bukanlah diktator.
2. Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi yang cocok dengan kepribadian
dan dasar hidup bangsa Indonesia.
3. Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi di segala soal kenegaraan dan
kemasyarakatan yang meliputi bidang politik, ekonomi, dan sosial.
4. Inti daripada pimpinan dalam Demokrasi Terpimpin adalah
permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
4 Abi Sholehuddin, Jargon Politik Masa Demokrasi Terpimpin Tahun 1959-196, https://scholar.google.
co.id/scholar?hl=id&q=jurnal+demokrasi+terpimpin&btnG, (Pada tanggal 20 Oktober 2016 pukul 22:14)
5 Ibid.
6 Sudirman. Op.Cit. h. 385.
Sejarah Nasional Indonesia VI 329
5. Oposisi dalam arti melahirkan pendapat yang sejati dan yang
membangun diharuskan dalam Demokrasi Terpimpin.
Berdasarkan pokok pikiran tersebut, tampak bahwa Demokrasi
Terpimpin tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 dan budaya
bangsa Indonesia. Namun, dalam praktiknya, konsep-konsep tersebut tidak
direalisasikan sebagaimana mestinya. Sehingga, sering kali menyimpang dari
nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, dan budaya bangsa. Penyebab penyelewengan
tersebut, selain terletak pada Presiden, juga karena kelemahan legislatif sebagai
partner dan pengontrol eksekutif, serta situasi ekonomi, sosial, dan politik yang
tidak menentu saat itu.7

2 Keadaan Sosial, Ekonomi, dan


Politik Masa Demokrasi Terpimpin
a. Sosial Budaya Masyarakat
Demokrasi Terpimpin menurut Soekarno adalah suatu demokrasi
penyelenggaraan atau suatu werk democracy yakni untuk menyelenggarakan
cita-cita bangsa Indonesia, terutama sekali di bidang sosial, yaitu satu masyarakat
adil dan makmur. Masyarakat adil dan makmur, tidak lain dari pada masyarakat
teratur dan terpimpin. Untuk menyelenggarakan masyarakat yang demikian,
diperlukan suatu pola dan untuk menyelanggarakan pola itu harus dipergunakan
demokrasi terpimpin. Dengan demikian, demokrasi terpimpin pada hakikatnya
adalah demokrasi penyelenggaraan (werk democratie). Adapun perancang pola
tersebut adalah Dewan Perancang Nasional.8
1) Pendidikan dan Olahraga
Tujuan pendidikan Nasional di rumuskan dalam keputusan presiden
nomor 145 Tahun 1965. Tujuan pendidikan Nasional, baik yang diselenggarakan
oleh pihak pemerintah maupun swasta, dari pendidikan pra sekolah sampai
pendidikan tinggi, supaya melahirkan warga negara sosialis Indonesia yang
bertanggung jawab atas terselenggaranya masyarakat sosialis Indonesia adil dan
makmur baik spiritual maupun material, dan yang berjiwa pancasila.9

7 Ibid., h. 387.
8 Hamdan Zoelva, Pemakzulan Presiden di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011). h. 76.
9 Sudirman. Op.Cit. hh. 397 – 398.

Sejarah Nasional Indonesia VI 330


Pada tahun 1950-an jumlah murid-murid di sekolah lanjutan tingkat
pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas mulai melimpah dan semuanya
mengharapkan dapat menjadi mahasiswa. Universitas baru didirikan di tiap
kota provinsi, jumlah fakultas ditambah meskipun tenaga pengajarnya tidak ada
sehingga harus dirangkap oleh pejabat-pejabat pemerintah di daerah. Perguruan
tinggi swasta juga semakin banyak, terutama setelah tahun 1960. Hal ini menadai
suatu ekpansi yang sangat besar dalam pendidikan tinggi. Eksplosi pendidikan
tinggi ini disebabkan oleh meluasnya aspirasi untuk menjadi mahasiswa.10
Sistem penerimaan mahasiswa yang relatif mudah dan pembebasan
uang kuliah ikut berpengaruh dan menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah
mahasiswa. Pada tahun 1961 jumlah perguruan tinggi sebanyak 181 buah. Sejak
tahun 1962 sistem pendidikan untuk SMP dan SMA mengalami perubahan yang
mana pada 1 Agustus 1962 pembagian A dan B di SMP ditiadakan. Menariknya
lagi dalam kurikulum SMP baru ini ditambahkan pula dua mata pelajaran baru,
yakni mata pelajaran Ilmu Administrasi dan Kesejahteraan Keluarga. Sistem
pendidikan di SMA juga mendapatkan perubahan dimana hanya mempunyai
satu jenis kelas I. Hal ini dimaksudkan agar setiap pelajar mendapatkan
kesempatan untuk memilih minat.11 Keputusan Presiden Nomor 94 Tahun 1962
tanggal 7 Maret 1962, tentang Pembentukan Departemen Olahraga (Depora)
yang bertugas mengatur, mengoordinasikan, mengawasi, membimbing, dan
bila perlu menyelenggarakan kegiatan olahraga termasuk pendidikan jasmani di
sekolah sampai perguruan tinggi. Presiden Soekarno ingin menjadikan olahraga
sebagai instrumen revolusi pembangunan yang multikompleks, baik ke dalam
maupunn ke luar negeri.12
Konsep Pembelajaran pada tahun 1964 mewajibkan sekolah
membimbing anak agar mampu memikirkan sendiri pemecahan persoalan.
Rencana pendidikan 1964 melahirkan kurikulum 1964. Kurikulum 1964 adalah
alat untuk membentuk manusia Pancasilais yang sosialis Indonesia, dengan
sifat-sifat seperti pada ketetapan MPKS No. 11 tahun 1960.13

10 Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Indonesia Jilid VI Zaman Jepang
dan Zaman Republik Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2008). h. 496
11 Ibid., hh. 496-497.
12 Poesponegoro dan Notosusanto., op.cit. h. 500.
13 Sudirman. Op.Cit. h 398.

Sejarah Nasional Indonesia VI 331


2) Komunikasi Massa
Tanggal 1 November 1960 penguasa militer di Jakarta melarang surat
kabar memuat tulisan pojok, yang mengakibatkan para penguasa merasa
terganggu oleh sindiran-sindiran yang terkandung dalam pojok koran. Di awal
tahun 1961 (bulan Februari) penguasa perang di Jakarta telah melarang terbit
harian komunis, Harian Rakyat. Harian PKI itu dilarang terbit karena memuat
berbagai pidato pemimpin-pemimpin PKI yang hendak mengubah struktur dan
susunan keanggotaan kabinet, dan menyatakan pula kritik terhadap keadaan
demokrasi dan kebebasan politik.14

Gambar 9.1 Surat Kabar “Harian Rakyat”


Sumber: www.google.co.id/image

3) Kehidupan Budaya
Pada masa Demokrasi Terpimpin kehidupan politik Indonesia didominasi
oleh PKI. Sesuai dengan semboyan PKI “politik adalah panglima”, maka seluruh
kehidupan masyarakat berada di bawah dominasi politiknya. Peristiwa yang
paling diingat oleh masyarakat pada bidang budaya adalah megenai Manifes
Kebudayaan dan Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia (KKPI). Isi Manifes
Kebudayaan itu tidaklah baru atau luar biasa. Yang diungkapkan sesungguhya
adalah konsepsi humanisme universal yang timbul dalam masyarakat liberal,
di Eropa Barat yang menekankan kebebasan individu untuk berkarya secara
kreatif.15

14 Poesponegoro dan Notosusanto. Op.Cit. h. 503.


15 Poesponegoro dan Notosusanto,. Op.Cit. h. 503.

Sejarah Nasional Indonesia VI 332


Pada tanggal 8 Mei 1964, Presiden Soekarno akhirnya mengeluarkan
perintah larangan terhadap Manifes Kebudayaan, pernyataan larangan itu
sebagai berikut:
“sebab-sebab larangan itu adalah, karena Manifesto Politik Republik
Indonesia sebagai pancaran Pancasila telah menjadi garis besar haluan
negara dan tidak mungkin didampingi dengan Manifesto lain, apalagi
kalau Manifesto itu menunjukan sikap ragu-ragu terhadap revolusi dan
memberi kesan berdiri di sampingnya, padahal demi suksesnya revolusi,
maka segala usaha kita juga dalam lapangan kebudayaan, harus kita
jalankan di atas rel revolusi menurut petunjuk-petunjuk Manipol dan
bahan-bahan indoktrinasi.”
Pernyataan larangan Presiden Soekarno menganggap pendukung Manifes
Kebudayaan ragu-ragu terhadap revolusi dan mengangap Manifes Kebudayaan
bertentangan dengan Manipol adalah tuduhan yang sangat berbahaya waktu
itu. Tokoh utama Manifes Kebudayan adalah H.B. Jassin, Wiratmo Sukito,
dan Trisno Sumardjo, merasakan bahwa mereka harus membuat suatu
pernyataan berkenaan dengan perintah pelarangan dari Presiden Soekarno
untuk menjelaskan posisi Manifes Kebudayaan. Oleh karena itu tanggal 11
Mei 1964, ketiga tokoh itu menanggapi larangan Presiden Soekarno dengan
pernyataan, “... tidak ada maksud lain selain daripada membangkitkan swadaya
di bidang kebudayaan. Berhubung sesuai dengan larangan PJM Presiden/
Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno, terhadap Manifes
Kebudayaan yang tersebut demi keutuhan dan kelurusan jalannya revolusi, dan
demi kesempurnaan ketahanan bangsa, maka kami, para pendukung Manifes
Kebudayaan di Jakarta menganjurkan kepada saudara-saudara agar mematuhi/
memenuhi maksud daripada larangan tersebut. Dengan demikian kita tetap setia
di bawah pimpinan dan bimbingan Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno, justru
untuk kepetingan nasional kita sebagai salah satu golongan yang tetap setia
pada revolusi harus menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan
lainnya. Pernyataan dibuat supaya jangan banyak korban jatuh akibat dukungan
kepada Manifes Kebudayaan”…16
Pada tanggal 27 Agustus - 2 September 1964, PKI mengadakan Konferensi
Nasional Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) di Jakarta. Dengan KSSR ini PKI
ingin membuktikan bahwa suasana kebudayaan berada di bawah kekuasaan
16 Ibid., hh. 505-506.

Sejarah Nasional Indonesia VI 333


PKI. Dengan demikian, PKI berhasil memukul Manifes Kebudayaan, tetapi PKPI
tidak dapat mereka hancurkan.17

b. Keadaan Politik
Pengaruh Soekarno masa Demokrasi Terpimpin semakin besar dalam politik
Indonesia. Hal ini disebabkan ketidakmampuan partai politik membendung
pertentangan antar sesama partai yang akhirnya menimbulkan ketidakstabilan
politik. Penyebab lainnya adalah keinginan Soekarno untuk memainkan peranan
yang paling besar dan berarti dalam politik, bukan sekedar lambang seperti
dikehendaki UUDS 1950. Selain itu keinginan tokoh militer untuk berperan di
dalam politik yang disebabkan oleh semakin menurunnya kepercayaan militer
terhadap partai politik atau polisi sipil dalam menjalankan roda pemerintahan. 18
Dengan sistem Demokrasi Terpimpin, kehidupan politik mengalami
perubahan. Segala sesuatunya disesuaikan dengan norma-norma Demokrasi
Terpimpin. Demokrasi Terpimpin penafsirannya adalah bahwa segala sesuatu
haruslah dipimpin atau dikendalikan oleh pimpinan negara Presiden, bukan
dipimpin oleh norma-norma dari falsafah negara yaitu Pancasila, sebagaimana
yang berlaku dalam sistem Demokrasi Pancasila.19

Gambar 9.2 Anggota Kabinet


Karya berfoto dengan Presiden
Soekarno. Sumber; Buku 30 Tahun
Indonesia Merdeka.

Tidak ada prinsip checks and balances selama masa Demokrasi Terpimpin.
Kekuasan negara berada disatu tangan, yaitu Presiden Soekarno. Mulai akhir
tahun 1956, Soekarno melihat sumber masalah pada partai-partai politik.

17 Ibid., h. 508.
18 Arif Peremana Putra, Penyederhanaan Partai Politik di Indonesia tahun 1960, (jurnal UNS, 2009).
19 Roziq Hasa, et.al, Sejarah Nasional Indonesia dan Dunia, (Surabaya: Edumedia, 1991). h. 183.

Sejarah Nasional Indonesia VI 334


Oleh karena itu, ia meminta agar partai-partai politik dibubarkan, kemudian
memperkenalkan sebuah konsepsi baru sistem pemerintahan, yaitu “Demokrasi
Terpimpin”. Presiden Soekarno berpandangan, cara pembentukan pemerintahan
atas dasar demokrasi parlementer yang bersifat kepartaian dengan paham
politik liberal, tidak akan sanggup membawa negara kita keluar dari segala
kesulitan yang dihadapi. Oleh karena itu, Soekarno mengambil jalan luar biasa
untuk membentuk Kabinet Karya yang bersifat darurat extra parlementer.
Menurut keyakinan Soekarno, susunan ketatanegaraan yang berdasarkan
“multipartisme”, seperti dianjurkan dalam Maklumat Pemerintah 14 November
1945 itu, ternyata tidak cocok dengan cita-cita umum masyarakat karena hanya
menimbulkan politik free fight liberalism dan politik tersebut menghambat
pembangunan negara di segala lapangan.20
Pada bulan Januari 1959, Presiden
Soekarno memulai perundingan-perundingan
reminder dengan PNI, NU, dan PKI mengenai gagasan
Demokrasi Terpimpin. KSAD Harris Nasution tanggal
Pada bulan Januari
1959, Presiden Soekarno 19 Februari menyatakan, bahwa Angkatan Darat
memulai perundingan- mendukung Demokrasi Terpimpin. Dalam sidang
perundingan dengan
Konstituante di Bandung terjadi pertarungan antara
PNI, NU, dan PKI
mengenai gagasan golongan Islam dan golongan-golongan lain yang
Demokrasi Terpimpin. tidak menghandaki negara Islam. Pada tanggal
KSAD Harris Nasution
tanggal 19 Februari
23 April 1959 Soekarno menyerukan pada sidang
menyatakan, bahwa Konstituante, akhirnya Soekarno mendekritkan
Angkatan Darat kembali ke UUD 1945, sebuah tindakan yang di
mendukung Demokrasi
Terpimpin luar hukum, karena pembentukan Undang-undang
Dasar bukan wewenang seorang Presiden, tetapi
adalah wewenang sidang Konstituante. Dekrit
Soekarno juga menyatakan, bahwa UUD sementara tidak berlaku lagi. Tindakan
Soekarno ini segera disusul dengan larangan dan pembatasan kegiatan-kegiatan
politik di Jakarta.21
Dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1959 Soekarno memberikan
landasan ideologis pada gagasan Demokrasi Terpimpin, yang diberinya nama
20 Zoelva. Op.Cit. h. 75-76.
21 Mochtar Lubis, Hati Nurani melawan Kezaliman, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988). hh. 50-52.

Sejarah Nasional Indonesia VI 335


manipol atau Manifes Politik, yang mengandung lima unsur; 1) UUD 45, 2)
Sosialisme Indonesia, 3) Demokrasi Terpimpin, 4) Ekonomi Terpimpin, dan 5)
Kepribadian Indonesia dan disingkat menjadi Usdek. Dan kini pancasila-Manipol-
Usdek adalah landasan ideologis Demokrasi Terpimpin.22
Pada bulan Desember 1960 Soekarno mulai memproklamirkan
gagasannya untuk menggabung semua partai-partai politik dalam satu gabungan
besar di bawah pimpinanannya. Soekarno mengatakan, bahwa Partai Murba,
PNI, PKI, Nahdlatul Ulama berdiri di atas landasan yang sama, yaitu nasionalisme.
23

Golongan ABRI ketika itu mulai termasuk sebagai salah satu golongan
fungsional dan menjadi salah satu kekuatan sosial politik. Dengan demikian,
ABRI dapat memainkan peranannya sebagai salah satu kekuatan sosial-politik.
Demokrasi Terpimpin merupakan pembalikan total dari proses politik yang
berjalan pada masa Demokrasi Parlementer. Adapun karakteristik yang utama
dari perpolitikan pada era Demokrasi Terpimpin adalah:
1. Sistem kepartaian kabur. Kehadiran partai-partai politik bukan
untuk mempersiapkan diri dalam kerangka konstestasi politik untuk
mengisi jabatan politik di pemerintahan (karena pemilu tidak pernah
dijalankan), tetapi merupakan elemen penopang dari pihak tambang
antara Presiden Soekarno, Angkatan Darat, dan PKI.
2. Dengan terbentuknya DPR-GR, peranan lembaga legisilatif dalam
sistem politik nasional menjadi sangat lemah. Proses rekruitmer politik
untuk lembaga ini pun ditentukan oleh Presiden.

Gambar 9.3 Pelantikan Dewan


Perwakilan Rakyat Gotong Royong
Oleh Presiden Soekarno Pada
Tanggal 25 Juni 1950. Sumber: Balai
Arsip Nasional Indonesia
22 Nino Oktorino, et.al, Ensiklopedia Sejarah dan Budaya, (Jakarta: Lentera Abadi, 2009). h. 240.
23 Lubis, Op. Cit. h. 65.

Sejarah Nasional Indonesia VI 336


3. Basic human right menjadi sangat lemah. Soekarno dengan
mudah menyingkirkan lawan-lawan politik yang tidak sesuai
dengan kebijaksanaannya atau yang mempunyai keberanian untuk
menentangnya.
4. Masa Demokrasi Terpimpin adalah masa puncak dari semangat anti-
kebebasan pers. Sejumlah surat kabat dan majalah di berangus oleh
Soekarno, seperti harian Abadi dari Masyumi dan Pedoman dari PSI.
5. Sentralisasi kekuasaan semakin dominan dalam proses hubungan
antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Daerah-daerah
memiliki otonomi yang sangat terbatas. UU tentang Otonomi Daerah
NO. 1/1957 digantikan dengan penetapan Presiden, yang kemudian
dikembangkan menjadi UU No.18 tahun 1965.24

Berdasarkan Penpers No. 7 Tahun 1959 tanggal 31 Desember 1959,


kehidupan partai politik ditata dengan menetapkan syarat-syarat yang harus
dipenuhi oleh partai politik. Partai politik yang tidak memenuhi syarat dihapus,
misalnya jumlah anggotanya terlalu sedikit. Dengan dikeluarkannya Penpers
itu, partai politik yang masih dapat bertahan antara lain PNI, Partai Masyumi,
Partai NU, PKI, Partai Katolik, Parkindo, PSI, Partai Murba, Partai IPKI, PSII, dan
Partai Perti. Tindakan yang dilakukan oleh pemerintah lebih dikenal dengan
tindakan penyederhanaan kepartaian. Sementara itu, sejumlah tokoh dari partai
Masyumi dan PSI terlibat dalam gerakan PRRI-Permesta, sehingga kedua partai
ini dibubarkan oleh pemerintah.25
Dalam keadaan seperti itu, kekuatan politik yang ada pada waktu itu
adalah presiden dan ABRI serta partai-partai politik, terutama PKI. Presiden
Soekarno, dalam politiknya, selalu berusaha menjaga keseimbangan dalam
tubuh ABRI, serta antara ABRI dan partai politk. Untuk menjaga keseimbangan
itu, Presiden Soekarno memerlukan dukungan dari PKI. Namun, PKI hanya
mengutamakan kepentingan sendiri agar dapat memainkan perananya yang
dominan di bidang politik. Dominasi PKI itu ada diperoleh dengan mendukung
konsep NASAKOM Presiden Soekarno. Sementara itu, tuduhan terhadap PKI
yang bersifat internasional dan anti agama dijawab bahwa PKI menerima
24 Sudirman, Op.Cit. hh. 393-394.
25 Ibid., h. 394

Sejarah Nasional Indonesia VI 337


Manipol (Manifesto Politik) yang di dalamnya mencakup Pancasila. Ajakan
Soekarno supaya jangan takut terhadap komunis sangat mengutungkan PKI,
dan menjadikan PKI aman. PKI mendapat keuntungan dan perlindungan dari
kebijakan politik Presiden Soekarno.26

c. Kebijakan Politik Masa Demokrasi Terpimpin


Jatuhnya Kabinet Ali Sastromidjojo kedua yang disusul dengan
pemberlakuan hukum darurat perang memberi kesempatan bagi Soekarno untuk
meneruskan konsepnya mengenai Demokrasi Terpimpin. Batasan-batasan yang
menghambatnya dalam perannya sebagai presiden konstitusional yang tidak
memegang kekuasaan eksekutif ternyata telah berhasil diterobos. Sejak saat
itu, Soekarno mengabaikan prosedur konstitusional, memperkuat kekuasaan
eksekutif, dan menegakkan kembali “legislatif revolusioner”.27
Pertama-tama, Soekarno menujuk Suwirjo, ketua PNI untuk membentuk
kabinet yang sesuai dengan pemikirannya mengenai Kabinet Gotong-Royong,
yang memberi tempat bagi keempat partai terbesar, PNI, Masyumi, NU, dan PKI.
Ketika Suwirjo gagal membentuk kabinet gotong royong, Soekarno mengangkat
dirinya sendiri sebagai warga negara ”biasa” menjadi formatur untuk membentuk
kabinet kerja darurat yang ektra-parlementer dan sebagai Panglima Tertinggi
Angkatan Perang di bawah hukum darurat perang, ia mengangkat beberapa
orang yang tidak berafiliasi pada partai untuk menjadi menteri. Dalam beberapa
hari Soekarno berhasil membentuk Kabinet Gotong Royong yang diketuai
Djuanda Kartawidjaja sebagai perdana menteri. Anggotanya terdiri dari orang-
orang non-partai. Meskipun kebinet ini tidak memperoleh mosi kepercayaan dari
Parlemen, partai-partai besar mendukungnya. Hanya Masyumi, Partai Katolik,
dan Partai Rakyat Indonesia yang kecil itu yang secara terbuka menentangnya.28
Demokrasi Terpimpin diberlakukan di Indonesia sebagai usaha
untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan politik melalui pembentukan
kepemimpinan personal yang kuat. Meskipun UUD 1945 memberi peluang
seorang presiden untuk memimpin pemerintahan selama 5 tahun, ketetapan
MPRS No. III/1963 mengangkat Soekarno sebagai Presiden seumur hidup.
26 Ibid., hh. 394-395
27 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintaha Konstitusional di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Utama,
1995). h. 306.
28 Ibid., h. 307.

Sejarah Nasional Indonesia VI 338


Dengan lahirnya MPRS ini, secara otomatis telah membantalkan pembatasan
waktu lima tahun sebagaimana ketetapan UUD 1945. Kepemimpinan presiden
tanpa batas ini terbukti melahirkan tindakan dan kebijakan yang menyimpang
dari ketentuan-ketentuan UUD 1945. Misalnya, pada tahun 1960, Presiden
Soekarno membubarkan DPR hasil pemilihan umum. padahal, dalam penjelasan
UUD 1945, secara eksplisit ditentukan bahwa presiden tidak memiliki wewenang
untuk berbuat demikian. Dengan kata lain, sejak diberlakukan Dekrit Presiden
1959, telah terjadi penyimpangan konstitusi.29
Dekrit Presiden 5 Juli 1959 merupakan awal dari perubahan berbagai
kebijakan pemerintah.30 Soekarno menetapkan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Sementara (MPRS) yang beranggotakan 616 orang di mana Aidit menjadi
salah seorang wakil ketua.31 November 1960 MPRS angkatan Soekarno juga
telah mengesahkan Manifesto Politik (Manipol) sebagai haluan Negara, dan
putusan ini telah diserahkan pada Soekarno di Istana Bogor. Dengan demikian
Soekarno telah mengukuhkan kediktarorannya, yang menandai seluruh masa
kekuasaannya.32

Gambar 9.4 Presiden Soekarno Berpidato dalam Rapat Umum Memperingati Dekrit Presiden 5
Juli 1963. Sumber: www.google.co.id/image

Pada Demokrasi terpimpin yang berusaha integrasi kekuasaan yakni


memusatkan kekuasaan dalam satu tangan yaitu, Presiden sendiri. Pemusatan
kekuasaan di tangan Presiden Soekarno, sebenarnya sudah dilakukan sejak
29 Sudirman. Op.Cit. hh. 388-389.
30 Nino Oktorino et.al, Ensiklopedia Sejarah dan Budaya, (Jakarta: Lentera Abadi, 2009). h. 241.
31 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005). h. 406.
32 Mochtar Lubis, Hati Nurani melawan Kezaliman, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988). hh. 64-65.

Sejarah Nasional Indonesia VI 339


Presiden membentuk Kabinet Gotong-Royong pada tahun 1957 tanpa persetujuan
DPR hasil pemilihan umum. sejak itu terlihat kekuasaan pemerintahan negara
semakin memusat di tangan Presiden. Semua keputusan politik ditentukan
Presiden, sementara DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat- Gotong Royong)
dipaksa berperan sebagai pengabsah tindakan-tindakan Presiden. Ini merupakan
bagian dari langkah-langkah penertiban yang dilakukan oleh Presiden Soekarno,
dengan tujuan utama mengembalikan kehidupan demokrasi pada UUD 1945.33
Langkah penertiban yang lain, adalah penertiban kepartaian, dengan
memberikan pengakuan hanya kepada partai-partai yang memenuhi
ketentuan tertentu, termasuk ketentuan-ketentuan politik, bukan semata-mata
hukum. DPR hasil pemilihan umum tahun 1955 dibubarkan karena menolak
mengesahkan rancangan anggaran belanja pemerintah pada tahun 1960, dan
digantikan dengan DPR-GR yang beranggotakan orang-orang yang diangkat oleh
Presiden, termasuk dalam hal ini adalah wakil-wakil angkatan bersenjata, dan
penertiban terhadap inisiatif masyarakat seperti pembubaran Liga Demokrasi,
yaitu suatu badan yang didirikan oleh beberapa tokoh partai politik, yang melihat
perkembangan yang sangat berbahaya bagi demokrasi.34
Pada bulan Juli 1959 Dewan Nasional dibubarkan dan dibentuklah
Dewan Pertimbangan Agung yang disebut di dalam Undang-undang Dasar 1945,
seperti halnya suatu lembaga baru yang disebut Dewan Perancang Nasional
yang diketuai oleh Yamin.35 Pada tanggal 20 Januari 1961 Soekarno membentuk
Front Nasional,36 yang jelas hendak dikembangkan oleh Soekarno menjadi satu-
satunya partai politik.37
Setelah berbagai perangkat lembaga negara diciptakan, maka
beberapa kegiatan pun dilaksanakan semua itu disesuaikan dengan Demokrasi
Terpimpin, yang telah menjadi pedoman dalam menata kehidupan demokrasi
di Indonesia. Dalam proses ini PKI berhasil menempatkan diri pada posisi yang
memberikan dukungan terhadap demokrasi ini. Bahkan semakin nyata PKI karya
(kabinet Juanda) yang dibentuk berdasarkan UUDS 1950 harus diganti juga
33 Alian Syair, Sejarah Nasional Indonesia VI, (Palembang: FKIP Unsri). h. 55.
34 Ibid., h. 55
35 Ricklefs. Op.Cit. h. 403.
36 Front Nasional merupakan organisasi massa yang memperjuangkan cita-cita proklamasi dan cita-cita
yang terkandung dalam UUD 1945. Tujuannya adalah menyatukan segala bentuk potensi nasional menjadi
kekuatan untuk menyukseskan pembangunan.
37 Lubis. Op.Cit. h. 66

Sejarah Nasional Indonesia VI 340


secara otomatis. Sehari setelah dekrit itu, tanggal 6 juli 1959, Kabinet Juanda
mengembalikan mandatnya kepada Presiden. Tanggal 9 Juli 1959 terbentuklah
kabinet baru dengan nama kabinet kerja.38 Adapun program Kabinet Kerja ialah:
1. Memperlengkapi sandang pangan rakyat;
2. Menyelenggarakan keamanan rakyat dan negara;
3. Melanjutkan perjuangan menentang imprealisme ekonomi dan
imprealisme politik.39

d. Konflik Masa Demokrasi Terpimpin


Perkembangan Demokrasi Terpimpin dapat
dibagi dalam tiga tahap. Tahap pertama, dari bulan
reminder Februari 1957 hingga Juli 1958 dan mencakup
perkembangan sejak muncul sampai berakhirnya
Kebijakan otoriter
Soekarno pada masa pemberontakan daerah. Tahap kedua, dari bulan
Demokrasi Terpimpin Juli 1958 hingga November 1958, ketika diusahkan
ditentang oleh
perumusan ide dasar Demokrasi Terpimpin. Dalam
Masyumi, PSI, dan
beberapa sekutunya. tahap kedua ini pertentangan antara pendukung
Mereka lalu mendirikan dan penentang Demokrasi Terpimpin menjadi
organisasi yang disebut
Liga Demokrasi.
jelas. Masalah-masalah utamanya ialah; 1) Dasar
konstitusional bagi Demokrasi Terpimpin menjadi
jelas; 2) Kedudukan konstitusional bagi golongan
fungsional – model perwakilan rakyat di bawah pengawasan pemerintahan yang
baru dibentuk – di tengah-tengah partai-partai politik; 3) Dari bulan November
1958 hingga Juli 1959, ketika Demokrasi Terpimpin memasuki tahap pelaksanaan
melalui jalan kembali ke UUD 1945 dan perubahan seluruh sistem politik. Dalam
tahap ini Angkatan Darat memainkan peranan yang menentukan.40
Keinginan Soekarno dalam menerapkan Demokrasi Terpimpin ini telah
membuat hubungan dengan Hatta menjadi semakin tidak harmonis bahkan
cara pandang mereka dalam bidang politik menjadi pecah. Hal ini ditandai
dengan pernyataan pengunduran diri Hatta dari wakil Presiden tanggal 1
Desember 1956. Menurut Hatta, tindakan Presiden Soekarno tentang konsepsi
38 Alian Syair. Op.Cit. hh. 71-72.
39 G Moedjanto, Indonesia Abad ke-20, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1998). h. 115.
40 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Utama.
1995). h. 302.

Sejarah Nasional Indonesia VI 341


terpimpin itu adalah keliru dan institusional sebab sebagai Presiden, dia tidak
berhak mengeluarkan suatu pernyataan politik. Pengunduran diri Hatta ini telah
membuat pergolakan di daerah-daerah semakin meningkat. Pada umumnya
tokoh-tokoh di daerah menyesalkan pengunduran ini, salain itu perasaan anti
terhadap Presiden Soekarno dan Jakarta semakin meluas.41
Kebijakan otoriter Soekarno ditentang oleh Masyumi, PSI, dan beberapa
sekutunya. Mereka lalu mendirikan organisasi yang disebut Liga Demokrasi.
Bersama dengan Wali Gereja Indonesia, Liga Demokrasi menyatakan menentang
Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR). DPR-GR dibentuk Soekarno
setelah ia membubarkan DPR hasil Pemilu 1955. Alasan utama sikap oposisi ini
adalah karena meluasnya pengaruh PKI dalam DPR-GR dimana PKI menguasai
25% dari jumlah kursi yang ada.42

Gambar 9.5 Pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong oleh Presiden Soekarno di
Istana Merdeka pada tanggal 25 Juni 1960. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka

Pertengahan tahun 1958 terjadi perdebatan terbuka antara Bung Hatta dan
Bung Karno mengenai konsepsi demokrasi untuk Indonesia. Perdebatan timbul
akibat gagasan yang dilontarkan Soekarno mengenai Demokrasi Terpimpin-nya.
Bung Hatta memberi pandangannya yang diperlukan adalah demokrasi yang
bertanggung jawab. Jaksa Agung Suprapto mengeluarkan penyataan, bahwa dia
mendukung konsepsi Demokrasi Terpimpin Soekarno, dan mengatakan bahwa
Demokrasi Terpimpin cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia.43
41 Ibid., h. 58.
42 Oktorino., et.al, Op.Cit., h. 240
43 Lubis, Op. Cit. h. 57.

Sejarah Nasional Indonesia VI 342


Pada tahun 1960 perlawanan terhadap bertambahnya pengaruh PKI
masih belum hilang. Tahun 1960 juga menunjukkan konflik terbuka antara TNI
dengan PKI. Angkatan Darat melarang kegiatan PKI di beberapa daerah di luar
Pulau Jawa dan menahan serta memeriksa sejumlah tokoh-tokoh pimpinan PKI.
Tetapi Soekarno berusaha melindungi PKI, dan menggeser Nasution ke atas, jadi
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, dan kedudukannya sebagai
KSAD diganti oleh Jenderal Ahmad Yani. Dengan segera juga panglima-panglima
yang tegas-tegas dan anti-PKI digusur. Sepanjang tahun 1961 situasi umum di
Indonesia tetap ditandai oleh peperangan saudara antara pemerintah pusat
Soekarno dengan PRRI-Permesta. Beberapa tokoh dan pasukan pemerintah
pusat, antara lain Mayor Sofyan Ibrahim di Sumatra Tengah, seorang tokoh
Dewan Benteng.44
Adapun setelah Masyumi dan PSI tersingkir dari
pemerintahan, Soekarno mulai memberi penekanan
reminder pada doktrin Nasakom. Komponen Nasakom diambil
dari tiga partai besar yang masih mendukung
Komponen Nasakom
Presiden Soekarno, yaitu PNI, NU, dan PKI. Presiden
diambil dari tiga
partai besar yang mengingatkan agar ketiga partai itu bersama-sama
masih mendukung berperan dalam pemerintahan di semua tingkatan. PNI
Presiden Soekarno,
yaitu PNI, NU, dan dan NU telah terwakili dalam kabinet. Hal sebaliknya
PKI. terjadi pada AD pimpinan Jenderal Nasution yang anti-
komunis. Untuk memperkuat posisi dalam persaingan
politik melawan Nasution, Presiden Soekarno bersekutu dengan Komodor
Suryadi Surjadarma. Kepala staf AU ini diketahui memilki hubungan kurang baik
dengan Nasution. Persekutuan politik antara Soekarno dan TNI-AU semakin erat
di bawah pengganti Surjadarma, Laksamana Udara Omar Dhani.45
Perselisihan antara TNI-AD dengan PKI terus memburuk ketika tentara
menangkap semua anggota Politbiro PKI. Langkah ini dilakukan TNI sebagai
balasan karena PKI menuduh tentara bersimpati terhadap pemberontakan
PRRI/ Permesta serta Masyumi dan PSI. Presiden Soekarno kemudian mendesak
Nasution membebaskan kembali orang-orang PKI yang ditangkapnya.46

44 Ibid. hh. 65-66


45 Oktorino, et.al, Op.Cit. h. 241.
46 Ibid., h. 241.

Sejarah Nasional Indonesia VI 343


Adapun keterlibatan PKI dalam ajaran NASAKOM menimbulkan
perbedaan pemahaman mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini
berdampak pada terancamnya persatuan di Indonesia. Pada masa Demokrasi
Terpimpin, pemerintah mengambil langkah untuk menyamakan pemahaman
mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara dengan menyampaikan ajaran
NASAKOM. Bagi Presiden, NASAKOM merupakan cerminan paham berbagai
golongan dalam masyarakat. Presiden yakin bahwa dengan menerima dan
melaksanakan NASAKOM maka persatuan Indonesia akan terwujud.47
Ajaran NASAKOM mulai disebarkan pada masyarakat. Dikeluarkan
ajaran ini merupakan upaya untuk memperkuat kedudukan Presiden. Sebab jika
menolak ajaran ini sama saja dengan menolak Presiden. Kelompok yang kritis
terhadap ajaran NASAKOM adalah kalangan cendekiawan dan ABRI. Upaya
penyebarluasan ajaran NASAKOM dimanfaatkan oleh PKI dengan mengemukakan
bahwa PKI merupakan barisan terdepan pembela NASAKOM. Ajaran NASAKOM
menyimpang dari ajaran kehidupan berbangsa dan bernegara, serta menggeser
kedudukan Pancasila dan UUD 1945. PKI berhasil menyakinkan Presiden bahwa
Presiden Soekarno tanpa PKI akan menjadi lemah terhadap TNI.48
Adapun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) terdiri atas empat
angkatan, yaitu TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara,
Angkatan Kepolisian. Masing-masing angkatan dipimpin oleh Menteri Panglima
Angkatan yang kedudukannya langsung berada di bawah presiden. ABRI menjadi
salah satu golongan fungsioanal dan kekuatan sosial politik Indonesia. Besarnya
kekuasaan Presiden dalam pelaksanaan Demokrasi Terpimpin tampak dalam
beberapa hal berikut:
1. Pengangkatan ketua MPRS dirangkap oleh Wakil Perdana Menteri III,
serta pengangkatan wakil ketua MPRS yang dipilih dan dipimpin oeh
partai-partai besar serta wakil ABRI yang masing-masing berkedudukan
sebagai menteri yang tidak memimpin departemen.
2. Pidato Presiden yang berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita”
pada tanggal 17 Agustus 1959 yang dikenal dengan Manifesto Politik
Republik Indonesia (MANIPOL) ditetapkan sebagai GBHN atas usul DPA
yang bersidang tanggal 23-25 September 1959.
47 Sudirman. Op.Cit, h. 391.
48 Ibid., hh. 391-392.

Sejarah Nasional Indonesia VI 344


3. Inti MANIPOL adalah USDEK, sehingga lebih dikenal dengan MANIPOL
USDEK.
4. Pengangkatan Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi yang berarti
sebagai presiden seumur hiduup.
5. Pidato presiden yang berjudul “Berdiri di Atas Kaki Sendiri” sebagai
pedoman revolusi dan partai politik luar negeri.49
Selain itu juga, banyak di antara anggota mengecam Demokrasi Terpimpin
karena kurang bersifat demoktaris. Prawoto Mangkusasmito (Masyumi)
menegaskan bahwa definisi Demokasi Terpimpin hanya berupa slogan yang
tidak jelas. Misalnya, kepemimpinan dalam Demokrasi Terpimpin menurut
definisi dalam pidato Presiden ialah musyawarah “yang dipimpin oleh hikmah
kebijaksanaan musyawarah”, bukan oleh “perdebatan dan taktik untuk
mengakhiri pembahasan dengan cara konfrontasi antara penganut, penentang
dan menghitung suara pro atau kontra sebuah usul”. Tetapi, konfrontasi antara
penganut dan penentang yang pada akhirnya menghasilkan pemungutan
suara tidak dapat dielakkan dan umunya diterima sebagai “keburukan yang
dibutuhkan” karena tidak ada cara demokrasi lain untuk mencapai keputusan.
Kemudian ia menentang pendapat Soekarno bahwa kebebasan berpendapat
dan kebebasan berbicara di batasi dalam Demokrasi Terpimpin.
Soekarno memberi kesan bahwa demokrasi selain Demokrasi Terpimpin
tidak terbatas. Tetapi, demokrasi selalu mempunyai batas. Menurutnya, semua
ini harus ditetapkan dalam norma-norma hukum dan tidak boleh dibiarkan
dalam tangan pemimpin besar karena akan mempermudah penyalahgunaan
kekuasaan.50 Abidin (Partai Buruh) menyangkal bahwa Demokrasi Terpimpin
sesuai dengan kepribadian dan filsafat hidup bangsa Indonesia karena di
negeri ini terdapat berbagai filsafat hidup yang sangat berbeda sesuai dengan
keanekaragaman suku bangsa. Karena itu menurut Abidin, sistem pemerintahan
yang paling cocok untuk Indonesia ialah bentuk negara federasi yang di dalam
naungannya negara-negara anggota bebas untuk mengatur urusan dalam
negerinya sendiri.

49 Ibid., hh. 392-393.


50 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintaha Konstitusional di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Utama,
1995), h. 366.

Sejarah Nasional Indonesia VI 345


Gambar 9.6 Presiden Soekarno sedang berpidato dalam perayaan Kemerdekaan Indonesia
yang kemudian pidatonya pada tanggal 17 Agustus 1959 dinamakan Manfestasi Politik
Indonesia (Manipol). Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.

Sistem pemerintah menurut Demokrasi Terpimpin seperti yang


dikehendaki oleh pemerintah tidak akan berhasil di Sumatera dan Sulawesi.
Abidin menganggap pemerintahan otokrat yang tersirat dalam Demokrasi
Terpimpin sama dengan beberapa perubahan kecil dengan yang berlaku di Jawa
zaman dahulu; pejabat pemerintah akan mempunyai sifat yang sama dengan
kaum priyayi.51
Argumentasi lain, yang mendukung kekuasaan presiden yang lebih besar
dalam sistem Demokrasi Terpimpin ialah mencegah kudeta militer seperti yang
terjadi di negara-negara tetangga. Menurut Njoto (PKI), Demokrasi Terpimpin
diperlukan untuk mencegah Indonesia mengikuti contoh-contoh negara-negara
seperti Pakistan, Thailand, dan Burma (negara-negara yang mengalami kejadian
kudeta militer). Ia beranggapan bahwa Demokrasi Terpimpin merupakan lawan
atau menentang baik kediktatoran sipil maupun militer. Ia mengutip pernyataan
Perdana Menteri Djuanda, “Kita bukan hanya anti satu macam diktatur, kita anti
diktatur militer maupun diktatur sipil”. Aswanawi dan Simorangkir (Parkindo),
sementara mengakui perlunya memusatkan keadaan di tangan Presiden karena
krisis yang dihadapi Indonesia di semua sektor, tetapi menekankan bahwa
keperluan ini bersifat sementara.52

51 Ibid., h. 367.
52 Ibid., h. 369.

Sejarah Nasional Indonesia VI 346


e. Keadaan Ekonomi
Salah satu slogan dalam Demokrasi Terpimpin
reminder ialah Ekonomi Terpimpin. Dalam kenyataan yang
Dalam pidatonya dimaksud dengan ini oleh pemerintah ialah peranan
tanggal 17 Agustus pemerintah langsung dan tak langsung dalam
1959 Soekarno
ekonomi.53 Dalam pidatonya pada hari peringatan
memberikan landasan
ideologis pada hari kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945,
gagasan Demokrasi Soekarno menguraikan ideologi Demokrasi Terpimpin
Terpimpin, yang
diberinya nama
yang beberapa bulan kemudian dinamakan Manipol.
Manipol, atau Manifes Beliau menyerukan di bangkitkannya kembali
Politik semangat revolusi, keadilan sosial, dan retooling
lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi negara
demi revolusi yang berkesinambungan. Pada awal tahun 1960 keyakinan yang
samar-samar ini menjadi semakin rumit karena ditambahkannya kata USDEK,
yang berarti Undang-Undang Dasar 1945, sosialisme ala Indonesia, Demokrasi
Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia.54 Hatta dari semula,
pada saat kebijaksaan itu dikumandangkan pada prinsipnya menyetujui tetapi
secara kongkret banyak mengecamnya. Menurutnya, ekonomi terpimpin erat
sekali hubungannya dengan ekonomi berencana. Hatta mengingatkan bahwa
Ekonomi Terpimpin tetap bersandar pada prinsip ekonomi.55
Pada dasarnya, perkembangan kehidupan perekonomian indonesia
pada masa Demokrasi Terpimpin merupakan pengembangan dari rencana-
rencana pembangunan yang telah disusun pada masa Demokrasi Parlementer.
Prinsip kehidupan ekonomi Indonesia dimasa Demokrasi Terpimpin adalah
pemerintah melakukan konsep ekonomi terpimpin dengan tujuan mewujudkan
masyarakat sosialis Indonesia.56 Sebuah keputusan yang diambil Soekarno yang
mengejutkan kehidupan ekonomi rakyat adalah menurunkan nilai uang kertas
Rp 500,- menjadi Rp 50,- dan Rp 1.000,- menjadi Rp 100,- sedangkan uang kertas
Rp 100,- nilainya tetap Rp 100,-. Bung Hatta pada tanggal 5 September menulis
pula sepucuk surat kepada Soekarno. Berikut kutipan dari surat tersebut:
53 Deliar Noer, Mohammad Hatta Biografi Politik, (Jakarta: LP3ES, 1990). h. 543.
54 Ricklefs. Op.Cit.
55 Deliar Noer. Op.Cit. hh. 543 – 544.
56 Sudirman, Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik hingga Terkini, (Yogyakarta: DIVA Press, 2014). h.
395.

Sejarah Nasional Indonesia VI 347


“oleh karena saudara sendiri sekarang yang bertanggung jawab politik
dan moral tentang pemerintahan, maka perlu saya sampaikan kepada saudara
pendapat saya tentang politik keuangan yang baru-baru ini dijalankan, yaitu
mengenai pemotongan nilai uang kertas Rp 500,- dan Rp 1.000,-“.
Maka terkenalah pemotongan nilai itu terkenalah orang-orang tani
yang menjual padinya, terkena pula mereka yang berternak sapi di Madura,
di Bali dan lain-lain. Lebih terkena lagi orang-orang yang tidak memiliki
penghasilan tetap setiap bulannya seperti pengarang buku dan lain-lain.
Tanggung jawab saudara, terutama moral dalam hal ini besar sekali.
Sebab itu cabutlah muslihat keuangan yang sewenang-wenang itu, yang
tidak mempunyai dasar yang kuat, teoritis tidak, praktispun tidak.”

Namun surat tersebut tidak diindahkan oleh Soekarno. Tetapi yang


diuraikan bung Hatta adalah kenyataan dan rakyat kecil menjadi korban utama
tindakan moneter Soekarno tersebut.57 Pada akhir dasawarsa 1950-an berbagai
permasalahan di bidang ekonomi dan politik makin berat sehingga negara
terperosok ke dalam keadaan krisis. Didorong oleh Angkatan Darat, Pemerintah,
di bawah pimpinan Soekarno, ini mulai menjurus ke arah pemerintahan dengan
kekuasaan yang terpusat dari otoriter yang disebut “Demokrasi Terpimpin”.58
Sampai dengan Dekrit Presiden tentang berlakunya kembali UUD 1945, keadaan
ekonomi dan keuangan Indonesia sangat suram. Pemberontakan PRRI/Permesta
yang meminta biaya tidak sedikit, selain kemerosotan produksi di segala sektor.
Tindakan yang diambil pemerintah ialah serangkaian tindakan di bidang ekonomi
dan keuangan, antara lain ialah:
1. Pada tanggal 24 Agustus 1959 uang kertas yang bernilai Rp 500,00
didevaluasi menjadi Rp 50,00 dan yang bernilai Rp 1.000,00 menjadi
Rp 100,00. Semua simpanan dalam bank yang bernilai melebihi Rp
25.000,00 dibekukan. Tindakan pemerintah ini tidak bisa menghentikan
kemerosotan ekonomi Indonesia. Bahkan indeks biaya hidup pada
tahun 1961-1962 mengalami kenaikan 225% dari indeks tahun 1960.
2. Untuk menanggulangi keadaan ekonomi yang semakin parah ini, pada
28 Maret 1963 dikeluarkan suatu landasan ekonomi baru, yang dikenal
dengan nama “Deklarasi Ekonomi” (Dekon), dengan 14 peraturan
pokoknya. Tujuan Dekon ini ialah: “menciptakan ekonomi yang
57 Lubis. Op.Cit hh. 53 – 57.
58 Nasution. Op.Cit. h. 317.

Sejarah Nasional Indonesia VI 348


bersifat nasional demokratis dan bebas dari sia-sia imperialisme untuk
mencapai thap ekonomi sosialis – Indonesia dengan cara terpimpin.
Konsepsi Dekon ini malahan menimbulkan stagnasi bagi perekonomian
Indonesia. Pada 26 Mei 1963 dikeluarkan 14 Peraturan pokok, tetapi dalam
pelaksanaanya justru bertentangan dengan prinsip-prinsip Dekon itu sendiri.
Kesulitan ekonomi semakin meningkat, harga-harga pada 1961-1962 umumnya
naik 400 %.59

Gambar 9.7 Pidato Soekarno yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Ekonomi (Dekon) di
Istana Merdeka 28 Maret 1963. Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka
Kesukaran ekonomi belum teratasi pada saat RI mulai menggunakan
kembali UUD ’45. Salah satu tindakan untuk menyehatkan keuangan negara
yang dilanda inflasi ialah penggeribian rupiah yang diumumkan oleh pemerintah
pada tanggal 25 Agustus 1959 hingga rupiah tinggal bernilai 10%-nya saja dari
nilai nominal. Tindakan drastis ini menimbulkan pro dan kontra, tetapi sebagian
besar orang Indonesia menganggap bahwa penggeribian itu akan diikuti
oleh tindakan-tindakan pembangunan yang konkret sehingga inflansi dapat
dikendalikan. Di samping itu banyak anggota masyarakat, terutama orang kecil,
yang mengeluh karena hasil buminya, ternaknya, sawahnya yang baru saja dijual,
hanya memberikan uang yang amat kecil. Lebih celaka lagi orang-orang desa
yang terlambat mengetahui pengumuman pemerintah tentang penggebirian
uang itu. Pada saat penggeribian memang harga-harga menjadi “murah”, tetapi
tidak terbeli oleh rakyat banyak karena tak memiliki uang.60
59 Roziq Hasan, dkk, Sejarah Nasional Indonesia dan Dunia, (Surabaya: Edumedia, 1991). hh. 185-186.
60 Moedjanto. Op.Cit. h. 116.

Sejarah Nasional Indonesia VI 349


Di pelaksanaan Dekon, lebih cenderung pada unsur terpimpinnya
di bandingkan dengan asas-asas ekonomi yang demokratis, sehingga boleh
dikatakan struktur ekonomi Indonesia menjurus kepada Etatisme. Pada masa
ini pengeluaran negara bertambah besar, karena prinsip-prinsip ekonomin
diabaikan. Defisit dari tahun ke tahun terus meningkat sampai 40 kali, dari Rp
60,5 milyar menjadi sekitar Rp 2.514 milyar. Sedangkan penerimaan negara
hanya naik sekitar 17 kali pada 1965, yaitu Rp 53,6 milyar menjadi sekitar Rp
913,4 milyar.61
Pada bulan Januari – Agustus 1966 pengeluaran negara mencapai Rp 11
milyar, sedangkan penerimaan negara hanya Rp 3,5 milyar, terjadi defisit sekitar
Rp 7,5 milyar. untuk menutup defisit ini, pemerintah mencetak uang baru tanpa
mengingat cadangan emas yang ada. Sebagai akibat dari semua ini, volume uang
yang beredar bertambah besar. Sebagai contoh: pada tahun 1960 jumlah uang
yang beredar Rp 47,8 milyar, dan pada tahun 1965 menjadi Rp 27.750 milyar.
Nyatalah bahwa sistem Ekonomi Terpimpin, yang berlandaskan Dekon gagal
total dan merupakan keadaan yang paling suram sepanjang sejarah Indonesia
Merdeka. Penyebab kegagalan itu antara lain ialah:
1. Penanganan masalah ekonomi tidak rasional dan lebih bersifat politik.
2. Tidak ada pengawasan atau kontrol dari atas, sehingga mekanismenya
tidak berjalan sesuai dengan aturan.
3. Tidak ada ukuran yang objektif dalam menilai sesuatu usaha atau hasil
kerja seseorang.
4. Situasi politik, yaitu konfrontasi dengan Malaysia yang membutuhkan
biaya yang besar, berakibat semakin cepatnya kemerosotan ekonomi
Indonesia.62

Adapun alasan mengapa penggeribian mengalami kegagalan yang


pertama, penghasilan negara memang berkurang. Gangguan keamanan
akibat pergolakan derah menyebabkan ekspor menurun dan tidak segera
pulih. Kedua, pengambilalihan perusahaan Belanda nyaris mengguntungkan
kalau saja Indonesia mempunyai tenaga-tenaga manajemen yang cakap dan
berpengalaman. Ketiga, PN, PDN, PPN, yang didirikan pemerintah dengan
61 Hasan, et.al. Op. Cit. h. 186.
62 Ibid. h, 186.

Sejarah Nasional Indonesia VI 350


maksud menjadikan salah satu jalan mempercepat tercapainya Sosialisme
Indonesia, ternyata hanya menguntungkan pemimpinnya saja yang kebanyakan
lahir menjadi OKB-OKM. Keempat, Indonesia pada tahun 1962 menjadi
penyelenggara Asian Games IV. Penyelenggaran ini memerlukan persiapan
seperti pembangunan sarana pertandingan dan akomodasi yang memerlukan
biaya besar sekali, misalnya kompleks Senayan, Hotel Indonesia. Kelima, Presiden
Soekarno makin senang mengadakan perjalanan luar negeri yang menggunakan
biaya besar, yang tidak diimbangi pemasukan modal asing ke Indonesia yang
diperlukan untuk bisa membangun. Keenam, modal asing memang tidak tertarik
masuk bumi Indonesia karena iklim karena iklim politik Indonesia memang
teralulu panas untuknya. Ketujuh, RI sedang mengerahkan segala kekuatannya
untuk membebaskan Irian Barat (Irian Jaya).63
Sebelum Demokrasi Terpimpin, semangat nasionalisme Indonesia
menurun yaitu kurun waktu 1950-1957, pada masa itu, Indonesia dan motto
“Bhineka Tunggal Ika” mengalami berbagi ujian perpecahan kesatuan dengan
munculnya berbagai gerakan separatis yang bersifat kedaerahan. Kemudian
masa Demokrasi Terpimpin mucul berbagai konfrontasi, akan tetapi semangat
persatuan tumbuh dengan mengatas namakan kepentingan nasional. Masalah
pada saat Demokrasi Terpimpin selain perpecahan unsur politik dan militer
adalah keterpurukan ekonomi. Berbagai kebijakan ekonomi dilakukan meskipun
hasilnya jauh dari yang diharapkan. Soekarno memandang negara yang
masih dalam taraf membangun sebagai negara yang baru merdeka haruslah
mengedepankan kebijakan politik dan pembanguan ekonomi bukanlah suatu
bagian yang paling penting untuk proses national bulding.64

f. Penyimpangan Masa Demokrasi Terpimpin


Demokrasi Terpimpin digambarkan sebagai suatu sistem Demokrasi
murni yang berlandaskan suatu ideologi yang memimpin dengan menentukan
tujuan serta cara-cara mencapainya. Demokrasi ini merupakan keyakinan yang
dipimpin oleh ideologi negara yaitu Pancasila dan hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan untuk memufakat diantara semua golongan
progresif. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, kata terpimpin tidak
63 Ibid. hlm. 116-117.
64 Sholehuddin, Op.Cit

Sejarah Nasional Indonesia VI 351


dimaksudkan lagi ideologi melainkan wujud dari pimpinan yang berupa pribadi
seorang pemimpin.65
Konsentrasi kekuasaan yang besar ditangan presiden, dimulai dengan
pembentukan lembaga-lembaga negara, yaitu MPR, DPR, DPA, DPK, dan
pengisian pejabat-pejabatnya yang semuanya dilakukan oleh presiden. Presiden
mengeluarkan penetapan presiden yang kedudukannya sama, bahkan diatas
undang-undang karena bersumber langsung dari Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Sejak tahun 1962, Ketua MA, Ketua MPRS, ketua DPR, serta wakil Ketua
DPA semuanya merangkap sebagai menteri dan anggota kabinet. Demokrasi
terpimpin telah menempatkan presiden sebagai pusat kekuasaan negara tanpa
batas.66
Demokasi Terpimpin diberlakukan di Indonesia sebagai usaha untuk
mencari jalan keluar dari kebuntuan politik melalui pembentukan kepemimpinan
personal yang kuat. Meskipun UUD 1945 memberi peluang seorang presiden
untuk memimpim pemerintahan selama lima tahun, ketetapan MPRS No.
III/1963 mengangkat Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Dengan lahirnya
ketetapan MPRS ini, secara otomatis telah membatalkan pembatasan waktu
lima tahun sebagaimana ketetapan UUD 1945. Kepemimpinan presiden tanpa
batas ini terbukti melahirkan tindakan dan kebijakan yang menyimpang dari
ketentuan-ketentuan UUD 1945.67 Penyimpangan-penyimpangan tersebut
antara lain:
1. Penyimpangan terhadap UUD 1945, diantaranya tentang ketetapan
MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) No. III/1963 yang
mengangkat Ir. Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Padahal
Undang-Undang sebelumnya sangat jelas jika periode presiden
menjabat adalah lima tahun.
2. Tahun 1960 Ir. Soekarno sebagai presiden telah membubarkan DPR
hasil Pemilu 1955 padahal dalam UUD 1945 ditentukan bahwa presiden
tidak mempunyai wewenang untuk berbuat demikian.
3. Presiden boleh ikut campur dalam pengambilan produk ketetapan
legislatif, sesuai peraturan presiden No. 14/1960. Presiden juga

65 Syair, 2005. Op.Cit hlm 58.


66 Zoelva, 2011. Op.Cit. hlm77 – 78.
67 Sudirman, 2014. Op.Cit. hlm 388.

Sejarah Nasional Indonesia VI 352


diperbolehkan ikut campur dalam pengambilan produk ketetapan
yudikatif, sesuai UU No. 19/1964. Selain itu terbatasnya peranan partai
politik, berkembangnya pengaruh komunis dan meluasnya peranan
ABRI sebagai unsur sosial.68
4. Dibentuknya Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS)
berdasarkan penetapan presiden No. 3 tahun 1959, yang mana lembaga
ini diketuai oleh presiden. Pembentukan Front Nasional berdasarkan
Penetapan Presiden No. 13 tahun 1959. Selain itu keterlibatan PKI
dalam ajaran NASAKOM.69

68 Prasetyo. Op.Cit.
69 Adi sudirman, Op.Cit. hh. 390 – 391.

Sejarah Nasional Indonesia VI 353


RANGKUMAN

Terbentuknya Demokrasi Terpimpin di Indonesia diawali pada tahun 1959


oleh Presiden Soekarno sebagai pemegang kekuasaan penuh pemerintahan
karena pada masa Demokrasi Parlemen perpolitikan dalam negeri mengalami
krisis politik dan kekacauan di berbagai bidang. Awal Demokrasi Terpimpin dimulai
dengan adanya surat mandat Dekrit Presiden Juli 1959 akibat belum tersusunnya
Undang-undang Dasar Negara dan banyaknya kepentingan-kepentingan
politik antar partai. Terjadinya sejumlah pemberontakan di dalam negeri yang
semakin manambah kekacauan bahkan menjurus gerakan Separatisme yang
memperparah keadaan politik pada masa Parlemen. Konflik antar partai politik
inilah yang mengganggu stabilitas nasional sehingga menyebabkan keterpurukan
politik dalam negeri pada masa Demokrasi Parlemen.
Benih-benih perpecahan, pertentangan, kehancuran ekonomi indonesia,
dan kericuhan dan ketegangan politik dalam negara indonesia. Pengaruh
Soekarno masa Demokrasi Terpimpin semakin besar dalam politik Indonesia. Hal
ini disebabkan ketidakmampuan partai politik membendung pertentangan antar
sesama partai yang akhirnya menimbulkan ketidakstabilan politik. Penyebab
lainnya adalah keinginan Soekarno untuk memainkan peranan yang paling
besar dan berarti dalam politik, bukan sekedar lambang seperti dikehendaki
UUDS 1950. Selain itu keinginan tokoh militer untuk berperan di dalam politik
yang disebabkan oleh semakin menurunnya kepercayaan militer terhadap partai
politik atau polisi sipil dalam menjalankan roda pemerintahan.
Perkembangan kehidupan perekonomian indonesia pada masa
Demokrasi Terpimpin merupakan pengembangan dari rencana-rencana
pembangunan yang telah disusun pada masa Demokrasi Parlementer. Prinsip
kehidupan ekonomi Indonesia dimasa Demokrasi Terpimpin adalah pemerintah
melakukan konsep ekonomi terpimpin dengan tujuan mewujudkan masyarakat
sosialis Indonesia

Sejarah Nasional Indonesia VI 354


GLOSARIUM

ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia


DPR-GR Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong
DPA Dewan Pertimbangan Agung
EKSEKUTIF Salah satu cabang pemerintahan yang memiliki kekuasaan
dan bertanggung jawab untuk menerapkan hukum
KKPI Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia
KSSR Konferensi Nasional Sastra dam Seni Revolusioner
KSAD Kepala Staf Angkatan Darat
LEGISLATIF Badan deliberatif pemerintah dengan kuasa membuat
hukum
MANIPOL Manifesto Politik Soekarno
MPRS Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara
NASAKOM Nasionalisme, Agama, dan Komunisme
NU Nahdlatul Ulama. Organisasi islam tradisionalis yang
pada awalnya dibentuk pada tahun 1926 untuk bersaing
dengan Muhammadiyah yang reformis. Meskipun
demikian, NU bekerja sama dengan Muhammadiyah dalam
MASYUMI pada tahun1943, kemudian pada tahun 1952
mengundurkan diri dari MASYUMI dan berfungsi sebagai
partai politik terpisah.
Di dalam Konstituante, NU menjadi partai terbesar ketiga.
PKI Partai Komunis Indonesia. PKI didirikan bulan Mei 1920
di Semarang dan dinyatakan terlarang oleh pemerintah
kolonial sesudah pemberontakan Komunis pada tahun 1926.
Pada bulan Oktober 1945 PKI didirikan kembali dan dilarang
lagi sesudah pemberontakan Madiun 1948. Sesudah itu,
PKI bangkit kembali secara meyakinkan dan menjadi partai
terbesar ke-empat sesudah Pemilu 1955.

Sejarah Nasional Indonesia VI 355


PNI Partai Nasional Indonesia. Partai nasionalis ini didirkan oleh
Soekarno pada tanggal 4 Juni 1927 dengan tujuan utama:
mencapai “Indonesia merdeka”, tetapi kemudian dibubarkan
karena tekanan dari pemerintah kolonial Belanda pada
tahun 1930. PNI didirikan kembali pada bulan Januari
1946. PNI mempunyai daya tarik yang besar dikalangan
rakyat karena diangap sebagai perati Presiden, yang secara
resmi berdiri diatas semua partai. Dalam pemilu 1955, PNI
memperoleh jumlah suara terbesar.
PRRI Pemerintah Revolusioner Republik indonesia. Sebuah
pemerintahan perlawanan yang diproklamasikan oleh
gerakan-gerakan daerah pada bulan Februari 1958
di Padang, Sumatra Barat di pimpin oleh Sjafruddin
Prawiranegara ( Masyumi ) sebagai perdana menteri, yang
menuntut otonomi daerah, penegakan kembali Dwitunggal
Soekarno-Hatta, pembentukan senat, penggantian Kepala
Staf Angkatan Darat Jenderal Nasution beserta stafnya, dan
pembatasan kegiatan Komunis.
PERMESTA Pembagian pendapatan, penegakan kembali Dwitunggal
Soekrano-Hatta, pembentukan Perjuangan Rakyat Semesta.
Gerakan kedaerahan yang diproklmasikan pada tanggal 2
maret 1957 di Makassar (ujungpandang), Sulawesi Selatan
oleh pemimpinnya, Kolonel H.N.V. Sumual yang menuntut
desentralisasi pemerintahan, pemerataan kembali Dewan
Nasional menjadi pra-senat, dan mengganti kepala staf
angkatan darat jenderal Nasution beserta stafnya.
SEPARATISME Suatu gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan
memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia dari satu
sama lain atau suatu negara lain
TNI Tentara Nasional Indonesia

Sejarah Nasional Indonesia VI 356


latihan

Berikut ini terdapat beberapa butir soal latihan yang perlu mahasiswa
kerjakan, dengan tujuan agar mahasiswa dapat lebih memahami dan menguasai
materi mengenai sejarah nasional Indonesia sesuai dengan materi yang telah
diberikan dan diuraikan secara ringkas dalam Bab ini. Adapun soal essay dikerjakan
pada kertas double folio dengan maksimal jawaban per soal sebanyak 500 kata,
sedangkan soal multiple choice/ pilihan ganda dapat anda jawab dengan hanya
menuliskan salah satu jawaban yang benar pada lembar kertas double folio.
Selamat mengerjakan.

ESSAY
1. Apakah yang menyebabkan ajaran NASAKOM mendapat penolakan dari
masyarakat khususnya dari kalangan cendekiawan dan ABRI?
2. Bagaimana hubungan antara dikeluarkannya dekrit presiden Tahun 1959
terkait diberlakukannya kembali UUD 1945 dengan berlangsungnya
Demokrasi Terpimpin?
3. Jelaskan ciri-ciri Demokrasi Terpimpin.
4. Demokrasi Terpimpin yang digagas oleh Ir. Soekarno merupakan upaya untuk
persatuan bangsa baik dalam kehidupan politik maupun dalam tatanan
kehidupan ekonomi. Jika dilihat dari praktiknya, apa yang membedakan
praktik Demokrasi Terpimpin dengan pola praktik diktator?
5. Jelaskan bentuk penyimpangan politik yang terjadi selama Demokrasi
Terpimpin.

PILIHAN GANDA
1. Berikut salah satu Penetapan Presiden yang menyimpang dari ketentuan
UUD 1945, kecuali...
a. Penetapan presiden No. 13 Tahun 1959
b. Penetapan presiden No. 2 Tahun 1959
c. Penetapan presiden No. 1 Tahun 1960
d. Penetapan presiden No. 18 Tahun 1965

Sejarah Nasional Indonesia VI 357


2. Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959, memiliki ketimpangan
terhadap nilai rupiah dimasyarakat. Hal ini disebabkan..
a. Angka Inflasi yang cukup tinggi
b. Harga-harga barang yang mengalami penaikan hingga 400%
c. Pembekuan simpanan bank yang melebihi Rp 25.000,00
d. Manifesto politik

3. Berkembangnya pengaruh partai komunis Indonesia merupakan konsekuensi


dari diterimanya pemahaman ideologi dari setiap partai dalam upaya untuk
menyatukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dampak mendasar yang
muncul dari pernyataan tersebut adalah...
a. Adanya ajaran NASAKOM
b. Praktik pemerintah yang bertentangan dengan ketetapan UUD 1945
c. Kekuatan pengaruh PKI, Soekarno, dan ABRI
d. Adanya kebijakan perekonomian dengan sistem lisensi sehingga kegiatan
perekonomian dapat dilakukan apabila memiliki lisensi dari pemerintah

4. Salah satu penyebab keterpurukan politik pada masa Demokrasi Parlementer


adalah...
a. Konflik Presiden dan Wakil Presiden
b. Konflik antar partai politik
c. Konflik TNI AD dan PKI
d. Konflik intern TNI

5. Berikut ini merupakan ciri-ciri Demokrasi Terpimpin, kecuali...


a. Dominasi presiden, Presiden Soekarno berperan besar dalam
penyelenggaraan pemerintahan.
b. Terbatasnya peran partai politik.
c. Pemerintahan sepenuhnya diatur parlemen.
d. Berkembangnya pengaruh Partai Komunis Indonesia.

Sejarah Nasional Indonesia VI 358


6. Inti daripada pimpinan dalam Demokrasi Terpimpin adalah...
a. Sebagai pemegang pemerintahan secara penuh
b. Sebagai pelaksanaan Pancasila dan UUD
c. Sebagai pengontrol kekuatan partai
d. Sebagai pelaksana permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan.

7. Pembentukan Departemen Olahraga (Depora) yang bertugas mengatur,


mengoordinasikan, mengawasi, membimbing, dan menyelenggarakan
kegiatan olahraga termasuk pendidikan jasmani di sekolah sampai perguruan
tinggi pada masa Demokrasi Terpimpin untuk menjadikan olahraga sebagai
instrumen revolusi pembangunan diatur dalam...
a. Keputusan Presiden Nomor 94 Tahun 1962
b. Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 1962
c. Keputusan Presiden Nomor 54 Tahun 1962
d. Keputusan Presiden Nomor 73 Tahun 1962

8. Media massa yang yang dilarang terbit oleh Pepera Jakarta karena memuat
berbagai pidato pemimpin-pemimpin PKI yang hendak mengubah struktur
dan susunan keanggotaan kabinet, dan menyatakan kritik terhadap keadaan
demokrasi dan kebebasan politik di Indonesia, yaitu...
a. Asia Raya
b. Harian Rakyat
c. Berita Indonesia
d. Sin Po

9. Dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1959 Soekarno memberikan landasan


ideologis pada gagasan Demokrasi Terpimpin dengan nama...
a. Manifes Kebudayaan
b. Manifes Politik
c. Manifes Ideologi
d. Konsepsi Soekarno

Sejarah Nasional Indonesia VI 359


10. Ketetapan MPRS No. III/1963 menjadi salah satu penyimpangan UUD 1945
pada masa Demokrasi Terpimpin, karena...
a. Soekarno membubarkan DPR hasil Pemilu
b. Presiden dapat ikut campur dalam pengambilan ketetapan produk
legislatif
c. Pembentukan DPAS
d. Pengangkatan Soekarno menjadi Presiden seumur hidup.

Sejarah Nasional Indonesia VI 360


DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU:
Hasan, Roziq, et.al. Sejarah Nasional Indonesia dan Dunia. (Surabaya: Edumedia,
1991).
Lubis, Mochtar Lubis. Hati Nurani melawan Kezaliman, (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 1988).
Moedjanto, G. Indonesia Abad ke-20. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1988).
Nasution, Adnan Buyung. Aspirasi Pemerintahan Konstitusional Indonesia.
(Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1995).
Oktorino, Nino., et,al. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya, (Jakarta: Lentera,
2009).
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugraha Notosusanto. Sejarah Indonesia
Jilid VI Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka, 2008).
Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
2005).
Sudirman, Adi. Sejarah Lengkap Indonesia. (Jogjakarta: Diva Press, 2014).
Syair, Alian. Sejarah Nasional Indonesia VI. (FKIP: Palembang, 2005).
Zoelva, Hamdan. Pemakzulan Presiden di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika Abadi,
2011).

SUMBER JURNAL:
Sholehuddin, Abi. Jargon Politik Masa Demokrasi Terpimpin Tahun 1959-1966.
https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&q=jurnal+demokrasi+terpim
pin&btnG, (Pada tanggal 20 Oktober 2016 pukul 22:14).
Prasetyo, Eko. 2014. Demokrasi dan Problem Kepemimpinan Politik di Indonesia.
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle. (di akses pada tanggal 18
Oktober 2016).
Putra, Arif Peremana. 2009. Penyederhanaan Partai Politik di Indonesia tahun
1960. https://eprints.uns.ac.id. (Di akses pada tanggal 18 oktober 2016).

Sejarah Nasional Indonesia VI 361


Sejarah Nasional Indonesia VI 362
10
KONFRONTASI INDONESIA DAN
MALAYSIA

Sejarah Nasional Indonesia VI 363


Keterangan:
11. Menjelaskan Sistem Negara
1. Memahami Materi Sejarah Nasional Kesatuan Republik Indonesia
Indonesia I 12. Kehidupan Berbangsa dan
2. Memahami Materi Sejarah Nasional Bernegara Masa RIS
Indonesia II 13. Menjelaskan Sistem Negara
3. Memahami Materi Sejarah Nasional Indonesia Berdasarkan UUDS 1950
Indonesia III 14. Menjelaskan Keadaan Sosial
4. Memahami Materi Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia Pada Masa
Indonesia IV Demokrasi Liberal
5. Memahami Materi Sejarah Nasional 15. Menjelaskan Sistem Ekonomi
Indonesia V Indonesia Masa Demokrasi Liberal
6. Menjelaskan Hasil Konferensi Meja 16. Menjelaskan Usaha Pemerintah
Bundar dan Pembentukan Republik Indonesia dalam Memperbaiki
Indonesia Serikat (RIS) Ekonomi Nasional
7. Menjelaskan Keadaan Sosial, 17. Menjelaskan Berbagai
Politik, Ekonomi, dan Hankam Masa pemberontakan di Indonesia Masa
Republik Indonesia Serikat Demokrasi Liberal dan Terpimpin
8. Menjelaskan Konsep dan Sistem 18. Menjelaskan Keadaan Militer
Pemerintahan RIS Indonesia Masa Demokrasi Liberal
9. Membandingkan Konstitusi RIS dan 19. Menjelaskan Ketidakstabilan Politik
UUD 1945 Dalam Negeri Indonesia
10. Menjelaskan Faktor Penyebab 20. Menjelaskan Pelaksanaan Pemilu I
Kembalinya RIS Menjadi NKRI Tahun 1955

Sejarah Nasional Indonesia VI 364


21. Menjelaskan Politik Luar Negeri 31. Menjelaskan Kebijakan Politik
Indonesia Pemerintah Indonesia Masa
22. Menjelaskan Keadaan Sosial Demokrasi Terpimpin
Ekonomi Indonesia Masa Demokrasi 32. Menjelaskan Perpolitikan PKI di
Liberal Indonesia (1960-1965)
23. Menjelaskan Kehidupan Sosial 33. Menjelaskan Politik Konfrontasi
Budaya Pada Masa Demokrasi Indonesia dengan Malaysia
Liberal 34. Menjelaskan Penyebab Keluarnya
24. Menjelaskan Keadaan Hankam Indonesia dari PBB dan Konferensi
Indonesia Masa Demokrasi Liberal Asia Afrika
25. Menjelaskan Perpolitikan Indonesia 35. Menjelaskan Upaya Pembebasan
Masa Demokrasi Liberal Irian Barat
26. Menjelaskan Keadaan Indonesia 36. Menjelaskan Peristiwa Gerakan 30
Masa Demokrasi Liberal September
27. Menjelaskan Konsepsi Soekarno 37. Menjelaskan Keadaan Indonesia
28. Menjelaskan penyebab Masa Demokrasi Terpimpin
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 38. Menjelaskan Politik Indonesia
Juli 1959 Masa Demokrasi Terpimpin
29. Berlakunya Kembali UUD 1945 39. Menjelaskan Kehidupan Berbangsa
30. Menjelaskan Deklarasi Ekonomi dan Bernegara Indonesia Masa
(DEKON) Orde Lama

Sejarah Nasional Indonesia VI 365


Pada bab-bab sebelumnya kita telah membahas
mengenai politik luar negeri Indonesia dalam kurun waktu
1950-1965. Berbagai bentuk kerjasama internasional
diikuti oleh Indonesia sebagai langkah peran aktif Indonesia
dalam menciptakan perdamaian dunia. Konferensi Asia-
Afrika menjadi salah satu bentuk kerjasama Indonesia
terhadap dunia Internasional khususnya kawasan Asia
dan Afrika. Perpolitikan luar negeri Indonesia juga diwarnai dengan beberapa
konflik yang terjadi dengan negara lain. Konflik antara Indonesia dan Malaysia
menjadi salah satu permasalahan di masa Demokrasi Terpimpin. Upaya Inggris
untuk mendirikan Negara Federasi Malaysia ditentang oleh Indonesia, Presiden
Soekarno curiga atas keputusan tersebut dan menganggap upaya yang dilakukan
Inggris tersebut merupakan bentuk neo-kolonialisme yang menjadi bagian dari
gerakan pengepungan terhadap Indonesia.
Pada tanggal 8 Januari 1963, Presiden Soekarno menolak didirikannya
Negara Federasi Malaysia dan tak lama kemudian Menteri Luar Negeri Indonesia
Subandrio mengumumkan konfrontasi terhadap Malaysia yang kemudian disusul
dengan konflik militer di wilayah perbatasan (Serawak). Setelah mempelajari bab
kesepuluh ini mahasiswa diharapkan dapat mengerti dan memahami peristiwa
konfrontasi Indonesia-Malaysia pada masa Demokrasi Terpimpin. Adapun tujuan
instruksional khusus bab kesepuluh ini sebagai berikut:

Tujuan Instruksional Umum (TIU)


1. Menguraikan Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia (1963-1965)

Setelah mempelajari bab X, mahasiswa diharapkan dapat:


1. Menjelaskan latar belakang konfrontasi Indonesia dan Malaysia pada
masa Demokrasi Terpimpin
2. Menganalisis langkah Indonesia dalam upaya mencegah pembentukan
Negara Federasi Malaysia
3. Menguraikan konflik militer dan operasi Dwikora dalam upaya
konfrontasi dengan Malaysia
4. Menjelaskan alasan Indonesia keluar dari PBB
5. Menjelaskan upaya penyelesaian konflik Indonesia dengan Malaysia

Sejarah Nasional Indonesia VI 366


1 Latar Belakang Konfrontasi
Indonesia dan Malaysia

Secara geografis jelas bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia merupakan


bagian “alamiah” walaupun bukan merupakan satu-satunya faktor, kedekatan
geografis ini merupakan faktor penting yang tidak boleh dilupakan, yaitu
bahwa Indonesia dengan Malaysia telah terlahir sebagai Negara yang hidup
berdampingan. Oleh karena itu kedekatan goegrafis ini pula, maka sejak lama
terjadi kontak-kontak politik pertukaran perdagangan dan bahkan ‘perkawinan’
di antara kedua negara ini (Evantino, 2009 : 89).
Politik konfrontasi adalah sebuah era ketika
Indonesia menentang pembentukan Federasi
reminder Malaysia, pada dasarnya mencerminkan suatu
kurun waktu ketika Indonesia baru saja melepaskan
Politik konfrontasi
adalah sebuah era ketika
Irian Barat dari sisa-sisa Kolonialisme Belanda.
Indonesia menentang Indonesia merasa sedang dikepung oleh kekuatan
pembentukan Federasi neokolonisme melalui pembentukan Federasi
Malaysia, pada dasarnya
mencerminkan suatu Malaysia yang akan membahayakan stabilitas
kurun waktu ketika keamanannya. Pembentukan Malaysia dilihat
Indonesia baru saja
sebagai usaha Barat, terutama Inggris, untuk
melepaskan Irian
Barat dari sisa-sisa membentuk alat dalam melestarikan kehadiran
Kolonialisme Belanda. dan pengaruhnya di Asia Tenggara. Oleh sebab
Indonesia merasa sedang
dikepung oleh kekuatan itu, Indonesia berusaha mengerahkan segala daya
neokolonisme melalui upaya diplomatiknya untuk mempengaruhi proses
pembentukan Federasi
terwujudnya Federasi Malaysia. Tetapi Malaysia
Malaysia yang akan
membahayakan stabilitas tetap tidak dapat dicegah eksistensinya menuruti
keamanannya. kehendak persepsi Indonesia, yang segera tampak
setelah konfrontasi adalah tertanamnya kecurigaan
nyata di pihak Malaysia tehadap ambisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara,
khususnya yang berkaitan dengan hubungan keduanya(Evantino, 2009 : 90).
Malaysia mulai dikuasai Inggris sebagai akibat Konvensi London 1814 yang
salah satu isinya menukar jajahan Inggris di Bengkulu dengan jajahan Belanda

Sejarah Nasional Indonesia VI 367


di Malaka. Sejak saat itu secara adsministratif wilayah Malaya berada dalam
kekuasaan Inggris. Inggris menguasai Malaysia secara tidak langsung. Raja-raja
Malaya masih tetap berkuasa atas rakyatnya, namun harus tetap dipertanggung
jawabkan dihadapan pejabat Inggris. Kekuasaan Inggris berlangsung sampai
1942 ketika tentara Jepang berhasil mengusir Inggris dari Malaya.
Oleh sebab sama-sama dijajah negara yang sama, yaitu Jepang, pengaruh
nasionalisme dari Indonesia segera menyebar ke Malaya. Salah satu tokoh
Malaya yang terpengaruh gerakan nasionalisme Indonesia adalah Ibrahim
Yaacob pemimpin Kesatuan Melayu Muda (KMM). Disamping menjabat sebagai
ketua KMM, Ibrahim Yacoob juga merupakan perwira dengan pangkat Letnan
Kolonel (Evantino, 2009:25).
Pada bulan-bulan awal 1945, kelompok KMM yang tertarik pada
perkembangan politik di Pulau Jawa, dimana Sukarno diberi ruang gerak
lebih luas. Menyusul janji kemerdekaan oleh Perdana Menteri Koiso pada 7
September 1944 yang menghidupkan cita-cita Indonesia merdeka dan mulai
memberikan dukungan kepada gagasan Indonesia Raya. Untuk menjamin bahwa
Malaya dimasukkan ke dalam program Indonesia untuk kemerdekaan, Ibrahim
mengutus tiga wakilnya ke Jakarta untuk bertemu dengan Sukarno.
Pada 8 Agustus 1945, satu delegasi Indonesia terdiri dari Sukarno, Hatta,
dan Radjiman, pergi ke Saigon menemui Marsekal Terauchi. Dalam perjalanan
pulang ke Indonesia pada 13 Agustus, delegasi mampir tersebut ke Taiping dan
disana bertemu dengan Ibrahim Yaacob, yang memberitahukan kepada Sukarno
dan Hatta bahwa orang-orang Melayu ingin mencapai kemerdekaan bagi Malaya
(tidak termasuk Singapura) dalam kerangka Indonesia Raya. Dia mengusulkan
agar kemerdekaan Malaya juga diumumkan akhir Agustus (Evantino, 2009:26).
Soekarno terharu atas antusiasme Ibrahim lalu dijabatnya tangan Ibrahim
kemudian berkata “Mari kita ciptakan satu tanah air bagi mereka dari keturunan
Indonesia.” Ibrahim menjawab “Kami orang Melayu akan setia menciptakan
ibu negeri dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia yang merdeka. Kami
orang-orang Melayu bertekad untuk menjadi orang Indonesia.
Namun semua itu tidak sampai terjadi pasca Jepang kalah perang dan
menyerah 15 Agustus. Ibrahim diperintahkan untuk membubarkan Giyuugun
(tentara sukarelawan Melayu). Cita-cita Indonesia Raya ambruk. Tanggal 19

Sejarah Nasional Indonesia VI 368


Agustus dengan pesawat Jepang Ibrahim terbang ke Jakarta. Setibanya di Jakarta,
Sukarno mengatakan kepada Ibrahim bahwa gagasan memasukkan Malaya tidak
mudah karena kita harus berperang dengan Inggris dan Belanda, pada waktu
yang bersamaan. Tapi, Sukarno menyarankan agar Ibrahim dan rekan-rekannya
bergabung dalam perjuangan di Jawa untuk mencapai cita-cita Indonesia Raya
(Evantino,2009:27).
Setelah kalah perang, Jepang menyerahkan kembali wilayah Malaya
kepada Pemerintah Inggris. Pemerintah Inggris yang menguasai Malaya
kembali kemudian membentuk Malayan Union pada 1946. Malayan Union
kemudian diganti dengan organisasi Persekutuan Tanah Melayu pada 1948.
Hal ini dikarenakan dalam Malayan Union, Raja-raja Malaya akan kehilangan
kedaulatannya. Singapura dipisah dari organisasi Persekutuan Tanah Melayu
karena letaknya yang strategis (Evantino,2009:27).
Ketika Inggris menduduki Malaya kembali, muncullah konflik antar etnis.
Pemerintah Inggris kemudian mengeluarkan peraturan bahwa warga non-
melayu baru diakui sebagai warga negara bila sekurang-kurangnya telah tinggal
selama 15 tahun dan membuktikan kesetiaannya kepada Pemerintahan Malaya
maupun Inggris. Etnis Cina menganggap bahwa peraturan ini akan mendudukkan
etnis Cina sebagai warga negara kelas II (Evantino, 2009:28).
Peristiwa ini memicu serangkaian kekacauan yang dilakukan etnis Cina.
Kaum Cina yang telah dipengaruhi paham komunis membentuk sel-sel gerilya
di hutan untuk melakukan pembakaran di perkebunan karet disertai intimidasi
terhadap pekerja perkebunan. Pemberontakan etnis Cina di Malaya dipimpin
oleh Ching Peng. Sampai 1951, pemberontakan ini berhasil menimbulkan
kekacauan di Malaya (Evantino, 2009:28).
Pemerintah Inggris kemudian mulai mengisolasi kaum pemeberontak dari
rakyat Cina lainnya. Pemerintah Inggris juga mengajak berdialog para pemimpin
politik dan etnis untuk membicarakan kemerdekaan Malaya. Dengan adanya
janji kemerdekaan, maka para pemimpin komunis, baik dari etnis Cina maupun
Melayu bersedia berdamai. Pemerintah Inggris juga menawarkan amnesti bagi
para pemberontak yang bersedia menyerah (Evantino, 2009:28).
Janji akan adanya kemerdekaan membuat berbagai golongan di Malaya
membuat partai-partai politik. Kaum Melayu dengan dukungan para raja

Sejarah Nasional Indonesia VI 369


mendirikan UMNO (United Malaya Nations Organization). Etnis Cina mendirikan
MCA (Malaya Cina Association) dan etnis India mendirikan MIC (Malaya India
Conggres). Golongan Islam juga mendirikan PAS (Partai Islam Malaya). UMNO,
MCA, dan MIC membentuk koalisi untuk mengalahkan PAS (Evantino, 2009:28).
Pada PEMILU 1955, partai koalisi berhasil memperoleh 51 kursi sedangkan
PAS hanya memperoleh 1 kursi. Tengku Abdurrahman yang berasal dari
UMNO kemudian terpilih menjadi Perdana Menteri Malaya. Pada awal 1956
dimulailah pembicaraan antara Pemerintah Malaya, wakil Raja-Raja Malaya dan
pemerintahan Inggris di London untuk merundingkan kemerdekaan Malaya.
Perundingan ini berhasil mencapai kesepakatan bahwa pada agustus 1957,
Malaya akan menjadi negara merdeka. Pada 31 Agustus 1957, diumumkan
Proklamasi Kemerdekaan Malaya (Evantino, 2009:29).
Proklamasi Kemerdekaan Malaya sekaligus mengakhiri pemberontakan
komunis yang sudah tejadi sejak 1948. Selama 1948-1957 sebanyak 10.000
orang telah terbunuh akibat pemberontakan kaum komunis. Chin Peng yang
merasa gagal dalam memimpin pemberontakan komunis kemudian melarikan
diri ke Cina.

a. Pembentukan Federasi Malaysia


Sejak kemerdekaan Malaya pada 31 Agustus 1957, maka gagasan
pembentukan Negara Malaysia mu